Anda di halaman 1dari 28

Peluang dan Tantangan

PELUANG DAN TANTANGAN


EKSPANSI DAKWAH ISLAM DI ERA OTONOMI DAERAH

H. Mas’oed Abidin
Ketua Badan Amil Zakat Sumbar
Wakil Ketua Dewan Dakwah Sumbar

Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang


menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung. (Ali Imran (3) : 104)

Muqaddimah
Nikmat Allah SWT yang kita peroleh dengan berbagai
kelebihan atau kekurangan adalah hasil dari pengorbanan
dan ketekunan kita secara sambung bersambung. Sebagai
buktinya adalah keterpaduan hati, tekad dan langkah yang
kita ayunkan sampai hari ini. Nikmat itu membuka banyak
kesempatan bergerak lebih leluasa dan bertanggung jawab.

Di daerah kita, Sumatra Barat tercinta ini, kini


dirasakan keterbukaan dalam bentuk lain, yakni dengan
terbukanya wacana kembali ke nagari, walaupun selama 21
tahun telah pula berkembang wacana perubahan ini. Dan hal
ini pulalah yang menjadi bukti dari demokratisasi yang
berkembang sejak lama.

Diberlakukannnya UU No.22/1999 membuka peluang


masyarakat beradat berpegang pada adat bersendi syarak

1H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
dan syarak bersendikan Kitabullah, secara lebih luas
melaksanakan otonomi di daerah Sumbar yang didukung
dengan lahirnya Perda No.9/2000 tentang Kembali Ke
Pemerintahan Nagari. Perda ini memberi keleluasaan tertib
melaksanakan kaedah adat di ranah Minang yang senyatanya
adalah kekayaan budaya paling berharga untuk mendorong
motivasi masyarakat1 di nagari-nagari dalam mendinamisir
diri membangun kampung halaman.

PROBLEMATIKA DAKWAH
Seiring dengan itu di Alaf ini telah terjadi perubahan
cepat dan transparan ditandai hubungan komunikasi,
informasi, dan transportasi serba cepat mengarah kepada
lepasnya sekatan.2

Masyarakat Sumbar mesti bersyukur kepada Allah,


yang menganugerahi rahmat besar dengan nilai tamaddun
budaya Minangkabau yang terikat kuat dengan penghayatan
Islam dan telah pula diakui sebagai salah satu puncak
kebudayaan dunia.

Namun, di sisi lain, keterpesonaan menatap budaya


lain di luar kita di tengah derasnya penetrasi budaya asing,
kerapkali mengancam generasi pengganti meluncur ke arah
degradasi akhlak yang cepat seiring terbukanya isolasi
daerah-daerah sampai ke jantung Ranah Bundo Kanduang.
Hal ini diperparah oleh kurang berperannya da’i dan imam
khatib di nagari dalam memfungsikan Surau dan Masjid
menjadi pusat pembinaan anak nagari.

1
motivation of force
2
borderless
2 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
Sementara itu, mereposisi peran elemen penentu di
tengah masyarakat di nagari tidaklah mudah. Pengalaman
tiga dasawarsa menampakkan kecenderungan orang tua
sebatas memenuhi serba kebutuhan fisik dan materi semata.
Hal ini diperparah dengan menipisnya rasa kekerabatan
keluarga. Peran du’at dan peran du’atan pun terlihat
melemah dalam membentuk watak generasi mendatang.

Fungsi ninik mamak pun terjebak sebagai pejabat


adat yang hanya diperlukan ketika upacara seremonial
keadatan. Sehingga ninikmamak kurang signifikan mewarnai
kehidupan anak kemenakannya yang pada usia muda-mudi
terbuka meniru apa saja, tanpa mengindahkan kaedah
istiadat yang menjadi rambu-rambu perjalanan hidup
bermsyarakat di Minangkabau.

Bila ditinjau lebih dalam, lapuknya pagar adat dan


syarak sebenarnya disebabkan oleh lunturnya keteladanan
yang diberikan generasi tua. Hal ini memicu mencuatnya
sikap enggan dan acuh generasi pengganti untuk menyerap
nilai-nilai utama yang pernah dimiliki generasi tua yang
sudah berprestasi. Kondisi ini boleh dibilang sangat
mengkhawatirkan bila dilihat pada kesiapan Sumatera Barat
meniti abad ke duapuluh satu yang serba transparan.
Kondisi ini pun menjadi kian parah ketika meluasnya
kemelut sosial, politik dan ekonomi yang dihadapi oleh
negara-negara di dunia – yang tidak dapat tidak ikut
mempengaruhi kondisi budaya dan kehidupan masyarakat
Sumatera Barat—yang hanya dalam hitungan detik dapat
diterima informasinya melalui berbagai media. Tentunya,
dengan kelemahan system pendidikan secular yang kita anut
sekarang, serta lemahnya pencapaian tujuan pendidikan
yang telah digariskan dan dicitakan oleh para murabbi (para

3H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
pendidik atau du’at) terhadap tatanan prilaku umat di nagari-
nagari.

Hal inilah yang mempengaruhi perjalanan serah


terima generasi di Ranah Minang, sehingga kita dihadapkan
fenomena du’atan yang amat mencemaskan. Persoalan ini
membelit remaja, umat dan anak nagari kita. Implikasi ini
jelas terlihat pada tumbuhnya kebiasaan di kalangan para
pelajar kita untuk bolos sekolah, malas belajar, suka bermain
di mall -- pasar -- disaat jam belajar di sekolah, suka berkelahi
berkelompok seperti tawuran, bahkan berani merusak kelas
belajar dan rumah sekolah dan du’at, melempar toko-toko
dan menghancurkan perpustakaan sekolah, memukul dan
menyandera du’at yang mengajar mereka dan berkembang
kepada melakukan tindakan vandalisme.
Paling menakutkan, diantaranya terjangkiti prilaku “nan ka
lamak dek salero”3 terbawa arus peristiwa keganasan yang
melanda kalangan anak muda remaja di negeri orang. Tidak
jarang mereka larut kedalam tindakan melampaui batas4
yang menyeret meruyaknya kriminalitas dan pelanggaran
norma hukum dalam bermasyarakat. Pada masa silam
keadaan tersebut jarang dan bahkan tidak didapati pada
prilaku umat di Ranah Bundo ini. Kejadian ini lazimnya sering
dikaitkan dengan kemampuan du’at dan para murabbi
mengajar umat. Mau tidak mau akan lahirkan di masa
mendatang generasi yang kurang ilmu dan lemah dalam
pemahamannya.

Esensi Dakwah Illa-Allah

3
permissivisme
4
anarkisme
4 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
Dakwah usaha terus menerus para da’i (du’aat)
terhadap masyarakat yang di dakwahi (mad’uu).

Sesuai bimbingan risalah Islam yang dibawa


Muhammad Rasulullah SAW adalah untuk melakukan
perobahan. Yang di inginkan adalah, “merobah tatanan
masyarakat dzulumaat (sisi kegelapan) kepada tatanan yang
terang cahaya (an-nuur)”.5

Dakwah bertujuan memelihara keberadaan


(eksistensi) manusia yang di ciptakan Allah untuk suatu tugas
mulia dan istimewa sebagai khalifah Allah di permukaan
bumi. Karena itu, upaya-upaya dakwah tidak akan pernah
berhenti sampai berakhirnya kehidupan duniawi ini.

Secara esensial dakwah ilaa Allah memiliki sisi-sisi


mengagumkan antara lain ;

1. Dakwah adalah tugas suci (mission sacre) dalam rangkaian


melanjutkan risalah Rasul Allah melalui tabligh (balligh
maa unzila ilaika min rabbika), dalam menegakkan kalimat
tauhid sesuai yang diperintahkan Allah, dan bila dakwah
tidak ditunaikan sebagai pelanjut risalah maka dengan
tegas diingatkan (fa maa ballaghta risaalatahu), akan
berjangkit kema’shiyatan dalam kehidupan manusia, dan
kekufuran akan menjadi-jadi, bantuan dari Allah akan
terjauh.6

1. Dakwah merupakan beban setiap pribadi mukmin (fardhu


‘ain) dengan sasaran membawa manusia kepada al-khairi
5
Lihat juga QS.Al Baqarah (2) ayat 257; QS.Al Maaidah (5) ayat 16;
QS.Al Hadid (57) ayat 9; QS.Ath-Thalaq (65) ayat 11.

6
QS.Al Maidah (5) ayat 67.
5H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
(Islam). Sudah semestinya umat di sadarkan bahwa
keberadaan lembaga du’aat sesungguhnya telah
meringankan beban pribadi umat yang di bina. Secara
timbal balik umat mempunyai tanggung jawab menjaga
keberadaan lembaga du’aat (juru dakwah) sepanjang
masa.

2. Dakwah memiliki program jelas amar makruf nahi


munkar.7
Bila amar maruf nahi munkar tidak dilaksanakan terjadi
bencana.8

3. Dakwah mendapat sanjungan ahsanu qaulan (seruan


indah) karena ajakan kepada mengikuti perintah-perintah
Allah (da’aa ilallaah).

4. Realisasi dakwah senantiasa berbentuk karya nyata yang


baik (wa ‘amila shalihan), atas dasar penyerahan semata
kepada Islam (wa qaala innani minal muslimin), sebagai
bukti ketaatan Muslim yang tidak menyamaratakan yang
baik dan buruk.9

5. Dakwah mesti berlandaskan Kitabullah dan Sunnah Rasul


(dakwah salafiyah). Dakwah selalu harus menyajikan Dinul
Haq (Agama Islam) yang menjalinkan hubungan vertikal

7
QS.3:104.
8
Rasulullah mencontohkan hidup ini seperti sebuah pelayaran diatas
perahu, dengan aturan-atuiran yang terang. Tatkala seorang
penumpang mencoba melobangi dinding perahu untuk mendapatkan air
dengan cepat pada tempat duduknya, jangan dibiarkan saja perbuatan
itu. Bila orang tak mau tahu dan bersikap membiarkan perbuatan itu,
maka yang akan karam tidak hanya yang melobangi perahu semata,
tetapi yang diam melihat (artinya enggan melaksanakan peran amar
makruf) akan karam juga (Al Hadist).
9
QS.Fush-shilat (41) ayat 33.
6 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
(hablum minallah) dan hubungan horizontal (hablum
minan-naas)10

6. Rangkaian ibadah yang dilahirkan oleh dakwah ilaa Allah


ini sanggup mengetengahkan rekonstruksi alternatif untuk
kehidupan kekinian (duniawi) sejalan dengan kehidupan
kedepan (ukhrawi). Karena agama Islam sesuai wahyu
Allah merupakan ajaran yang solid (rahmatan lil ‘alamin)11

7. Solidnya ajaran Islam sesuai bimbingan Kitabullah dan


sunnah Rasul terbukti dalam beberapa hal,
 agama fithrah yang damai,
 alamiyah insaniyah, sesuai dengan zaman,
 mengajarkan hidup harmoni dan mampu berdampingan
secara damai sejahtera,
 dengan ajaran kaedah syar’I yang menaruh perhatian
mendalam terhadap kesejahteraan materiil dan
immateriil,
menyeru manusia untuk hidup secara baik (shalih) dalam
kehidupan individu, keluarga, kelompok, bangsa bahkan
dunia.

HAKIKAT DAKWAH BIL HAL

Peran da'wah di Ranah Minang sekarang ini adalah


menyadarkan umat akan peran mereka dalam membentuk
diri mereka sendiri, "Sesungguhnya Allah tidak akan
merobah nasib satu kaum, hingga kaum itu sendiri yang
berusaha merobah sikap mereka sendiri." (QS.Ar-Ra’du).

10
QS.Ali Imran (3) ayat 112.
11
QS.Al Anbiya’ (21) ayat 107.
7H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
Kenyataan sosial terhadap penduduk anak nagari
harus di awali dengan mengakui keberadaan mereka,
menjunjung tinggi puncak-puncak kebudayaan mereka,
menyadarkan mereka akan potensi besar yang mereka miliki,
mendorong mereka kepada satu bentuk kehidupan yang
bertanggung jawab. Inilah tuntutan Da'wah Ila-Allah.

Da'wah adalah satu kata, di dalam Al-Qur'an,


bermakna ajakan atau seruan.

Maka seruan atau ajakan itu, tidak lain adalah seruan


kepada Islam. Yaitu agama yang diberikan Khaliq untuk
manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu.
Islam adalah agama Risalah, yang ditugaskan kepada Rasul,
dan penyebaran serta penyiarannya dilanjutkan oleh da'wah,
untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia. Dalam
rentangan sejarah perjalanannya tercatat "Risalah merintis,
da'wah melanjutkan"

Risalah yang menjadi tugas rasul itu, berisi khabar


gembira dan peringatan. Ditujukan untuk seluruh umat
manusia. Risalah itu cocok untuk semua zaman. Maksudnya
untuk Rahmat seluruh alam. Dan Nabi Muhammad
Rasulullah S.A.W, adalah da'i pertama yang ditetapkan oleh
Allah (QS. Saba’, 34 : 28), mengajak manusia dengan ilmu,
hikmah dan akhlaq. Perintah untuk melaksanakan tugas-
tugas da'wah itu, secara kontinyu diturunkan oleh Allah SWT
seperti,
a) Supaya menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus
(QS.Al-Ahzab, 33 : 45-46).
b) Seruan untuk menyembah Allah, kepada seluruh manusia .
Perintah untuk menyembah Allah, tidak boleh musyrik,

8 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
agar hanya meminta kepadaNya dan mempersiapkan diri
untuk kembali kepadaNya (QS.Al Qashash, 28 : 87).

Tugas ini menjadi tugas para Rasul sebelumnya.


Menjadi sempurna dan lengkap dengan keutusan
Muhammad. Maka, manusia (umat) sekarang menjadi
penerus dan pelaksana da'wah itu terus menerus sepanjang
masa (QS. Ar-Ra’d, 13 : 35). Ditegaskan dalam kalimat
sederhana tapi padat, bahwa da'wah kita adalah Da'wah Ila-
Allah (QS. Ali Imran, 3 : 104). Manhaj-nya adalah Alquran dan
Sunnah Rasul, dan pelaksananya setiap muslim, setiap
mukmin adalah umat da'wah pelanjut Risalah Rasulullah
yakni Risalah Islam. Terlaksananya tugas-tugas da’wah
dengan baik akan menjadikan umat Islam mampu menjawab
harapan masyarakat dunia.12 Maka perlu setiap Da'i – Imam,
Khatib, Urang Siak, Tuanku, alim ulama suluah bendang di
nagari-nagari -- meneladani pribadi Muhammad SAW dalam
membentuk effectif leader di Medan Da'wah. Da'wah itu,
menuju kepada inti dan isi Agama Islam (QS. Al Ahzab, 33 :
21).

Inti agama Islam adalah tauhid. Implementasinya


adalah Akhlaq. Umat masa kini hanya akan menjadi baik dan
kembali berjaya, bila sebab-sebab kejayaan umat terdahulu
di kembalikan. Kita semestinya bertindak atas dasar syara’
itu, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. "Memulai
dari diri da'i, mencontohkannya kepada masyarakat lain", (Al
Hadist). Inilah cara yang tepat. Keberhasilan suatu upaya

12 Diperlukan watak-watak, yang ditunjukkan oleh penda'wah pertama,

Rasulullah SAW (Mohammad Natsir, Tausiyah 24 tahun Dewan Da’wah,


Media Da’wah, Jakarta 1992, Da'wah kita adalah Da'wah Ila-Allah).

9H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
da'wah (gerak da'wah) memerlukan pengorganisasian
(nidzam).

Perangkat dalam organisasi surau, selain orang-


orang, adalah juga peralatan da'wah yaitu penguasaan
kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat
pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta
da'wah (Yusuf Qardhawi, 1990). Peta da'wah, bagaimanapun
kecilnya, memuat data-data tentang keadaan umat yang akan
di ajak tersebut. Bimbingan syara’ mengatakan bahwa al
haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam
bermakna bahwa yang hak sekalipun, tetapi tidak
mengindahkan pengaturan (organisasi) senantiasa akan di
kalahkan oleh yang bathil tetapi dijalankan terorganisir. Allah
menghendaki kelestarian Agama dengan kemampuan
mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku
bersitegang.

BAHASA DAKWAH ADALAH BAHASA KEHIDUPAN

Peta da'wah, akan berhasil digunakan di nagari


dengan kesepakatan pelaksana-pelaksananya dalam
menggalang saling pengertian. Koordinasi sesamanya akan
mempertajam faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu
dialog persaudaraan (hiwar akhawi). Kaedah syara’ akan
menjadi pendorong dan anak kunci keberhasilan da'wah
untuk menghidupkan adagium adat basandi syara’ syara;
basandi Kitabullah.

Aktualisasi dari Kitabullah (nilai-nilai Al-Qur'an) hanya


dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang
berkesinambungan (kontinyu), dan terkait dengan seluruh

10 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
segi dari aktivitas kehidupan manusia, -- seperti, kemampuan
bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak
(da'wah), merapatkan potensi barisan (shaff) dalam
mengerjakan amal-amal Islami secara bersama-sama
(jamaah) --, sehinga membuahkan agama yang mendunia.

Usaha inilah yang akan menjadi gerakan antisipatif


terhadap arus globalisasi negatif pada abad-abad sekarang,
dan sudah semestinya menjadi visi kembali ke surau .
Kitabullah (Al-Qur'an) telah mendeskripsikan peran agama
Allah (Islam) sebagai agama yang kamal (sempurna) dan
nikmat yang utuh, serta agama yang di ridhai (QS.Al Maidah,
5 : 3), dan menjadi satu-satunya Agama yang diterima di sisi
Allah,yaitu Agama Islam (QS. Ali Imran, 3 : 19).
Konsekuensinya adalah yang mencari manhaj atau tatanan
selain Islam, tidak akan di ridhai ( QS. Ali Imran, 3 : 85). Tidak
ada pilihan lain hanya Islam, "Dan siapakah yang lebih baik
agamanya dari pada orang yang menyerahkan dirinya
kepada Allah secara ikhlas, yakni orang Muslim, merekapun
mengerjakan kebaikan-kebaikan" (QS. An Nisak, 4 : 125).
Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah (Al Qur'an) wajib
mengemban missi yang berat dan mulia yaitu merombak
kekeliruan ke arah kebenaran. Inilah yang di maksud secara
hakiki "perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah,
modernitas)".

Masalah Dakwah Kedepan

1. Kehidupan pra-globalisasi
Kondisi yang terlihat menggejala di tengah kehidupan
masyarakat adalah penerapan pola hidup materialistik
dan individualis. Sajian pola kehidupan seperti ini tampak

11
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
nyata dengan hilangnya tatanan bermasyarakat
kebersamaan (kurang bersilaturrahmi).
Akibat nyata yang terasakan ditengah kehidupan
bermasyarakat ialah ;
 mulai merenggangnya hubungan kekerabatan,
 hilangnya rasa tanggung jawab bersama,
 pudarnya kegotong royongan, yang selama ini adalah ciri
khas budaya bangsa.

1. Kehidupan kaula muda


Tendensi lahirnya generasi yang lemah iman (dhi’aa-fan)
berupa hilangnya tamaddun (terlihat pada kebiasaan
hidup tak berbudaya). Kaula muda seperti itu cendrungan
menjadi “X-Generation”, yakni generasi yang tercerabut
dari akar budayanya.
Kondisi ini terlihat nyata pada ;
 kesukaan meniru budaya asing,
 cinta mode barat,
 sering melakukan penggunaan obat terlarang, yang
sangat erat kaitannya dengan kebebasan seks
 suka minuman keras dan perjudian,
 budaya sunset, budaya lepak, bolos sekolah,
 suka mengganggu ketenteraman dengan bersikap negatif,
 berkembangnya upaya-upaya pemurtadan terhadap umat
yang telah menganut agama Islam, terutama terhadap
generasi muda, dengan dalih hak asasi manusia,
kebebasan memilih keyakinan, atau upaya terselubung
lainnya berbentuk pemberian, hadiah, bantuan LSM, bea
siswa

Sepuluh tahun sebelumnya gejala-gejala ini tidak jelas


terlihat. Kondisi separah ini merupakan bias dari kemajuan
teknologi informasi (IT) disertai melemahnya saringan

12 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
(filter) di kalangan rumah tangga dan keluarga (tidak
berfungsi).
2. Penolakan asas Agama
Dalam kehidupan keyakinan dan faham keagamaan
mulai tercemari paham sekularisme dan penerapan
paham persamaan hak yang kurang tepat dengan
kemasan Hak Asasi Manusia.
Paham persamaan segala manusia dan hak-hak
kemerdekaannya memang berasal dari ajaran Agama.
Tetapi oleh karena kepentingan pihak-pihak imperium
feodal, sejak Romawi hingga revolusi Perancis, sampai
reformasi demokratisasi dan humanisasi melanda
belahan bumi.
Perang paham ini senantiasa berujung kepada penolakan
asas agama.

3. Konspirasi internasional.
Asas agama sering dijadikan salah satu ujud sasaran
tembak dalam pertentangan-pertentangan di antara
pemegang kekuasaan dunia, percaturan politik sejagat
yang mengarah persekongkolan kekuatan- kekuatan anti
agama (persekongkolan kekuatan ini sering bergulir
menjadi konspirasi internasional).

Kebenaran bimbingan wahyu Allah dapat disimak dengan


sangat jelas dalam percaturan memperebutkan umat
diantara kalangan Salibiyah (Christ society) dan Yahudiyah
(Lobi Zionis Internasional). Dua kelompok yang tidak
pernah berdiam diri, untuk mempengaruhi paham dan
pikiran manusia, sampai semua orang bisa mengikuti
ajaran (millah) nya.

13
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
Sasaran utama lebih di arahkan kepada kelompok-
kelompok Muslim sejagat persada. Sasaran utamanya
adalah melumpuhkan kekuatan Islam secara sistematik.
Berkembangnya citra (imaj) bahwa paham-ajaran Islam
adalah musuh bagi kehidupan manusia dan tatanan
dunia, merupakan bukti dari hasil uopaya gerakan Salibiy
Yahudi ini.

Penerapannya dalam pertentangan-pertentangan


kekuatan dunia sering terlihat dengan bingkai ethnic
cleansing, penempelan label teroris terhadap gerakan-
gerakan dakwah Islam, fundamentalis, radikalisme,
keterbelakangan, kurang dapat menyesuaikan gerak
dengan kemajuan, adalah merek yang dikenakan
terhadap organisasi-organisasi Islam lokal maupun dunia.
Pada akhirnya umat Islam menjadi enggan menerima
ajaran Islam dalam kehidupan kesehariannya.

Konsepsi Islam dipandang hanya sebatas ritual dan


seremonial. Peran konsepsi ajaran Islam dianggap tidak
cocok untuk menata kehidupan sosial ekonomi dan
politik. bangsa-bangsa. Hubungan manusia secara
internasional dinilai tidak pantas di kover oleh ajaran
agama Islam.

Adanya pemahaman bahwa ajaran agama hanya bisa di


terapkan untuk kehidupan akhirat, bukan untuk tatanan
masa kini, merupakan gejala lain dari kehidupan sekuler
materialisma. Begitulah suatu warning (peringatan)
wahyu, bila mampu dipahami secara jelas tertera dalam
Al Quran.13.
4. Diniyah atau laa diniyah.

13
(lihat QS. Al-Baqarah 120)
14 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
Pertentangan pemahaman menerapkan ajaran Islam,
akan bermuara kepada memecah umat manusia (firaq)
yang pada mulanya telah di ikat oleh kewajiban kerja
sama (ta’awun) menjadi dua pihak (diniyah dan laa
diniyah).

Satu sama lain, atau kedua-duanya seakan harus


berhadapan dalam satu satuan perang yang
dipertentangkan secara bengis dan ganas, penuh
kecurigaan dan intimidasi, akhirnya memungkiri segala
keuatamaan budi manusia.

Bertalian dengan agama lain, semestinya pula umat Islam


berpedoman kepada (QS.al-Baqarah 256). Bahwa tidak
ada paksaan dalam agama. Iman diperoleh sebagai
rahmat dan karunia Ilahi bukan melalui pemaksaan.

Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman kepada


adanya permusuhan antara golongan dalam masyarakat
yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah.

5. Hak asasi manusia.


Dalam pergaulan hidup serta tatanan bernegara harus
diakui kemerdekaan beragama merupakan hak asasi tiap-
tiap orang. Hak asasi ini akan selalu terpelihara dan
terjamin, selagi kemerdekaan itu selalu bertumpu kepada
terpeliharanya kesopanan umum dan ketertiban negeri.

Hak asasi manusia secara pribadi tetap akan terlindungi


adanya dikala setiap pribadi memandang dengan
keyakinan sadar bahwa setiap orang memiliki hak untuk
tidak berbuat sesuka hati.

15
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
Tatkala sesorang dalam mempertahankan hak asasinya
mulai bertindak laku dengan tidak mengindahkan hak-
hak azasi orang lain disampingnya, maka pada saat yang
sama semua hak asasi itu tidak terl;indungi lagi.

Kewajiban asasi untuk tidak melanggar kehormatan orang


lain serta kewajiban asasi untuk secara sadar (buikan
dengan paksaan) untuk memberikan penghormatan
kepada kemerdekaan orang lain, senyatanya adalah
bingkai dari hak asasi manusia yang sebenarnya.

Agama Islam yang sangat berperangaruh terhadap budi


pekerti dan memberikan semangat kepada segenap
bangsa. Kembali kepada “kalimatin sawaa’ antara
sesama kita, yaitu tidak akan ada diantara kita yang mau
meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Maha
Esa.

Bagi bangsa Indonesia, telah terbukti mampu untuk


menghidupkan kesadaran akan rasa persamaan dan
persaudaraan dalam satu batas kesatuan wilayah
Republik Indonesia.14
14
Maka umat Islam di Indonesia mempunyai tugas sebagai
pendukung risalah yang patut dan pantas dengan membulatkan
semua tenaga, mengerahkan semua benda, menyatukan
pemikiran untuk kemashalahatan umat banyak.
Bagi perjuangan politik dari kebanyakan partai politik di
Indonesia yang tidak berdasarkan agama, sebenarnya selalu
berisikan segmen keanggotaannya adalah penganut agama Islam
juga.
Secara pasti penganut agama Islam dalam partai-partai yang
tidak berdasarkan agama itu, tentulah akan selalu bersetuju
melaksanakan perintah-aturan agamannya. Karena dalam
kenyataannya, tidak akan pernah di temui adanya satu nilai yang
mampu di letakkan diluar asas ajaran agama dalam melalui siklus
kehidupan sehari-hari..
Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus
1945 wajib dipertahankan oleh setiap warga negara Indonesia
16 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan

Umat Islam berkewajiban memelihara hubungan


horizontal, dalam bentuk pemeliharaan solidaritas
sesama manusia.

Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia adalah


keluarga Allah. “Yang paling disayangi Allah adalah yang
paling bermanfaat sesama hidup diantara manusia itu”
15
.

Dalam kaedah tatanan bermasyarakat, Islam menetapkan


setiap diri wajib memelihara kerukunan serta
mempertahankan damai dalam suasana kedamaian.
Umat Islam diperintah untuk selalu membukakan pintu
penyelesaian permasalahan sengketa secara damai pula.

Dari itu jangan salah mendasarkan sikap.

Bahwa umat Islam telah dipilih dan dijadikan sebagai


umat pertengahan (ummatan wasathan), yang memiliki
kewajiban terhadap persatuan dan persaudaraan dunia
serta perikemanusiaan.
Karena itu, umat Islam memiliki kewajiban terlebih
dahulu untuk menciptakannya dengan memulai dari diri
sendiri.

Kewajiban mesti harus lebih dahulu di tunaikan sebelum


hak menjadi tuntutan.

dengan kesadaran mendalam.


Kemerdekaan negara kesatuan ini adalah merupakan rahmat dan
karunia Allah atas dasar “kalimatin sawa”, kata persamaan untuk
segenap golongan bangsa.

15
Al Hadist asy-Syarif.
17
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
Pokok-pokok pemahaman ini menjadi landasan dari hasil
penerapan ajaran agama Islam untuk bisa terpeliharanya
dan terlaksananya penghormatan terhadap hak-hak
asasi manusia.

6. Kehidupan konsumerisme
Berbelanja tanpa takaran selalu memancing keluarga,
terutama masyarakat lapis bawah yang adalah grass root
dan menjadi akar serabut masyarakat kepada pemborosan
yang pada gilirannya terlihat pada ;
 terikat kepada hutang (kredit lunak berbunga besar)
 rusak kerukunan bermasyarakat,
 hilangnya ketenteraman,
 timbulnya penipuan, pemalsuan, perampokan,
pembunuhan, dan,
 berbagai tindakan kriminal.
 pemurtadan aqidah, karena yang kuat akan selalu
memakan yang lemah, pada akhirnya patriotisme
berbangsa dan bernegara mulai terasa hilang.
 Agama Islam menyebutkan bahwa “kekafiran itu seringkali
datang karena kefakiran”.
 krisis akhlaq mulai menjangkiti masyarakat desa, tersebab
mulai menjauhnya umat dari bimbingan agama,
melemahnya tabligh, pengajian, majlis ta’lim, dan mulai
lengangnya masjid dan langgar, orang tua enggan
memasukkan anak-anaknya kesekolah-sekolah agama.
7. Proyek modernisasi barat
Akibat dari runtuhnya kekuasaan gereja, terutama di
belahan dunia barat, telah menggeser pandangan
masyarakat yang semula akrab dengan perpegangan
agama menjadi condong kearah pengkejaran kepada
memenuhi keperluan-keperluan lahiriah dengan
mengabaikan kebutuhan rohaniah melalui tindakan-

18 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
tindakan pengabaian prinsip-prinsip moral yang lazim
berlaku, dan acapkali berakhir dengan lenyapnya
kebahagiaan atau lumpuhnya pertumbuhan jiwa
manusia.
Kehilangan perpegangan kepada ajaran agam tambah
diperburuk setelah Komunis runtuh di Rusia (1990), Krisis
Rohani Barat ber gerak cepat dengan melakukan
perubahan berupa "proyek Modernisasi". Pakar Teoritis
Barat mulai ragu dengan hipotesa-hipotesa mereka.
Barat sedang di jangkiti keimanan terhadap tuhan baru
"developmentalisme" yang berkembang terus subur.
Keperluan manusia kepada tuhan menyebabkan mereka
mencari-cari tuhan kemana saja, padahal pemikian
menafikan tuhan adalah sama dengan meniadakan
keberadaan manusia dan alam kehidupan manusia.
"Hingga batas manapun pemikiran tidak adanya tuhan
tidak dapat diterima"16.

Menjauh dari ajaran agama menampilkan keganjilan-


keganjilan dalam tingkah laku manusia, seperti terlihat
pada (a). Mencari agama khusus di supermarket, (b).
Memperturutkan kehendak hawa nafsu merebut
kelezatan hidup (hedonistik), (c). Neo paganisma,
skeptisme, atheisme, rasialisme, penyembahan berhala
baru berupa kokain, materialisme, dan konsumerisme
total, (d).Menciptakan kemajuan yang dibangun diatas
perbedaan ras, dan kelas penguasa, (e). Mayoritas
penduduk dunia, mulai membatasi pandangan hakikat
permasaalah sebatas pencapaian panca indera. (f).
Agama dalam pandangan kalangan materialistik adalah
khurafat, opium bangsa, bahaya persatuan, tanda
penipuan diri, kelemahan logika (= politik atheisme aktif).

16
Richard Swanburn, Oxford,Wujud Allah, 1979
19
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi

Bila umat Islam terbias oleh pandangan proyek


modernisasi barat dengan meninggalkan pemahaman
ajaran Islam yang dianut selama ini, maka ucapan
Mohammad Abduh "Islam telah meninggalkan dunia
Islam, karena walaupun ditemui banyak umat Islam,
tetapi hanya sedikit di dapati pengamal agama (syari'at)
Islam", tentu akan menjadi kenyataan.

9. Dekandensi Moral
Krisis dekadensi moral yang melanda tatanan pergaulan
dunia berbentuk meningkatnya tindak krimanilitas,
kecanduan alkohol, obat bius, penyimpangan-
penyimpangan hubungan sexual, perlakuan buruk
terhadap anak-anak, naiknya tingkat perceraian, free-will,
penghormatan terhadap nilai orang tua sangat merosot,
semuanya itu pasti berpengaruh besar kedepan.
Krisis moral ini akan menjadi kerugian generasi
mendatang.

Krisis ini diperparah oleh jiwa skeptis, blok-blok


rasialisme. Chauvinisme abad XIX mulai berkembang
kembali. Penghancuran manusia melalui peperangan dan
percobaan nuklir, dan penggunaan bahan bakar yang
berlebihan, telah merampas kenikmatan dan
kenyamanan hidup di dunia.

Nafsu hedonisme pada akhirnya menjadikan dekadensi


moral menguras kekuatan, dan tidak mungkin
memberikan nilai-nilai komprehensif kepada manusia.

20 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan

Memperkuat Posisi Nagari


Tugas kembali kenagari, sesungguhnya adalah
menggali kembali potensi dan asset nagari – yang terdiri dari
budaya, harta, manusia, dan agama anutan anak nagari --,
karena apabila tidak digali, akan mendatangkan
kesengsaraan baru bagi masyarakat nagari itu. Dimulai
dengan memanggil potensi yang ada dalam unsur manusia,
masyarakat nagari.
Kesadaran akan benih-benih kekuatan yang ada
dalam diri masing-masing, untuk kemudian observasinya
dipertajam, daya pikirnya ditingkatkan, daya geraknya
didinamiskan , daya ciptanya diperhalus, daya kemauannya
dibangkitkan, dengan menumbuhkan atau mengembalikan
kepercayaan kepada diri sendiri. “Handak kayo badikik-dikik,
Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji,
Handak luruih rantangkan tali, Handak buliah kuat mancari,
Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.
Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju,
Dek ameh mangkonyo kameh, Dek padi mangkonyo
manjadi.”. Tujuannya sampai kepada taraf yang memungkinkan
untuk mampu berdiri sendiri dan membantu nagari tetangga
secara selfless help, dengan memberikan bantuan dari rezeki
yang telah kita dapatkan tanpa mengharap balas jasa, "Pada
hal tidak ada padanya budi seseorang yang patut dibalas,
tetapi karena hendak mencapai keredhaan Tuhan-Nya Yang
Maha Tinggi". (Q.S. Al Lail, 19 - 20). Walaupun di depan
terpampang kendala-kendala, namun optimisme banagari
mesti selalu dipelihara, “Alah bakarih samporono, Bingkisan
rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang
di nan rumik”.

21
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat
bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah,
maka kaedah-kaedah adat dipertajam makna dan fungsinya
oleh kuatnya peran surau yang memberikan pelajaran-
pelajaran sesuai dengan syara’ itu, antara lain dapat di
ketengahkan ;
1. Mengutamakan prinsip hidup berkeseimbangan
Karena ni’mat Allah, sangat banyak. “Dan jika kamu
menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak
dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-
benar Maha Pengampun lagi maha Penyayang” (QS.16,
An Nahl : 18). Hukum Syara’ menghendaki
keseimbangan antara perkembangan hidup rohani dan
jasmani ; "Sesungguhnya jiwamu (rohani-mu) berhak atas
kamu (supaya kamu pelihara) dan badanmu (jasmanimu)
pun berhak atasmu supaya kamu pelihara" (Hadist).
Keseimbangan tampak dalam mewujudkan kemakmuran
di ranah ini, “Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang
baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja, Sabuah si
bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu, Sabuah si
Tinjau lauik, Birawati lumbuang nan banyak, Makanan
anak kamanakan. Manjilih ditapi aie, Mardeso di paruik
kanyang.

Sesuai bimbingan syara’, "Berbuatlah untuk hidup


akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok dan
berbuatlah untuk hidup duniamu, seolah-olah akan hidup
selama-lamanya" (Hadist).
2. Kesadaran kepada luasnya bumi Allah, merantaulah !
Allah telah menjadikan bumi mudah untuk digunakan.
Maka berjalanlah di atas permukaan bumi, dan makanlah
dari rezekiNya dan kepada Nya lah tempat kamu kembali.
22 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
“Maka berpencarlah kamu diatas bumi, dan carilah
karunia Allah dan (di samping itu) banyaklah ingat akan
Allah, supaya kamu mencapai kejayaan", (QS.62, Al
Jumu’ah : 10). Agar supaya “jangan tetap tertinggal dan
terkurung dalam lingkungan yang kecil”, dan sempit
(QS.4, An Nisak : 97). Karatau madang di hulu babuah
babungo balun. Marantau buyuang dahulu di rumah
paguno balun.
Ditanamkan pentingnya kehati-hatian, “Ingek sa-balun
kanai, Kulimek sa-balun abih, Ingek-ingek nan ka-pai,
Agak-agak nan ka-tingga”.
3. Mencari nafkah dengan "usaha sendiri"
Memiliki jati diri, self help dengan tulang delapan kerat
dengan cara amat sederhana sekalipun "lebih terhormat",
daripada meminta-minta dan menjadi beban orang lain,
"Kamu ambil seutas tali, dan dengan itu kamu pergi
kehutan belukar mencari kayu bakar untuk dijual
pencukupkan nafkah bagi keluargamu, itu adalah lebih
baik bagimu dari pada berkeliling meminta-minta".
(Hadist).
Membiarkan diri hidup dalam kemiskinan tanpa berupaya
adalah salah , "Kefakiran (kemiskinan) membawa orang
kepada kekufuran (ke-engkaran)" (Hadist).
4. Tawakkal dengan bekerja dan tidak boros.
Tawakkal, bukan "hanya menyerahkan nasib" dengan
tidak berbuat apa-apa, "Bertawakkal lah kamu, seperti
burung itu bertawakkal" (Atsar dari Shahabat). Tak ada
kebun tempat bertanam, tak ada pasar tempat
berdagang. Tak kurang, setiap pagi terbang
meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan
setiap sore kembali dalam keadaan "kenyang".
23
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
5. Kesadaran kepada ruang dan waktu
Peredaran bumi, bulan dan matahari, pertukaran malam
dan siang, menjadi bertukar musim berganti bulan dan
tahun, "Kami jadikan malam menyelimuti kamu (untuk
beristirahat), dan kami jadikan siang untuk kamu
mencari nafkah hidup". (QS.78, An Naba’ : 10-11),
menanamkan kearifan akan adanya perubahan-
perubahan.
Yang perlu dijaga ialah supaya dalam segala sesuatu
harus pandai mengendalikan diri, agar jangan melewati
batas, dan berlebihan,
“Ka lauik riak mahampeh, Ka karang rancam ma-aruih,
Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-
kameh, Jiko mencancang, putuih – putuih, Lah salasai
mangko-nyo sudah”. Artinya bekerja sepenuh hati,
dengan mengerahkan semua potensi yang ada, dengan
tidak menyisakan kelalaian ataupun ke-engganan. Tidak
berhenti sebelum sampai, dan tidak berakhir sebelum
benar-benar sudah.

KONSEP TATA RUANG YANG JELAS

Nagari di Minangkabau berada di dalam konsep tata


ruang yang jelas, Basasok bajarami, Bapandam
bapakuburan, Balabuah batapian, Barumah batanggo,
Bakorong bakampuang, Basawah baladang, Babalai
bamusajik. Ba-balai (balairuang atau balai-balai adat) tempat
musyawarah dan menetapkan hukum dan aturan,
“Balairuang tampek manghukum, ba-aie janieh basayak
landai, aie janiah ikan-nyo jinak, hukum adie katonyo bana,

24 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
dandam agiae kasumaik putuih, hukum jatuah sangketo
sudah”.

Ba-musajik atau ba-surau tempat beribadah,


“Musajik tampek ba ibadah,tampek balapa ba ma’ana,
tampek balaja al Quran 30 juz, tampek mangaji sah jo
batal”17, artinya menjadi pusat pembinaan umat untuk
menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-
naas) dan terjaminya pemeliharaan ibadah dengan Khalik
(hablum minallah), maka adanya balairuang dan musajik
(surau) ini menjadi lambang utama terlaksananya hukum18
dalam “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah.,
syara’ mangato adat nan kawi syara’ nan lazim”.

Kedua lembaga ini – balai adat dan surau –


keberadaannya tidak dapat dipisah dan dibeda-bedakan,
karena “Pariangan manjadi tampuak tangkai, pagarruyuang
pusek Tanah Data, Tigo luhak rang mangatokan. Adat jo
syara’ jiko bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek
bapijak nan lah taban”. Apabila kedua sarana ini telah
berperan sempurna, maka akan ditemui di kelilingnya tampil
kehidupan masyarakat yang memiliki akhlaq perangai yang
terpuji, dan mulia (akhlaqul-karimah) itu, “Tasindorong jajak
manurun, tatukiak jajak mandaki, adaik jo syara’ kok
tasusun, bumi sanang padi manjadi”.

17
Memang di surau tidak ada yang dapat di cari benda-benda (materi),
kecuali hanya bekal ilmu, hikmah dan kepandaian-kepandaian untuk
mengharungi hidup di dunia ini, dan dalam mempersiapkan hidup di
akhirat. Sebagai terungkap di dalam Peribahasa Minangkabau, “bak
batandang ka surau”, karena memang surau tak berdapur (Anas Nafis,
1996:464 -Surau-2).
18
Oleh H.Idrus Hakimy Dt. Rajo Pengulu dalam Rangkaian Mustika Adat
Basandi Syarak di Minangkabau, menyebutkan kedua lembaga –
balairung dan mesjid – ini merupakan dua badan hukum yang disebut
dalam pepatah : “Camin nan tidak kabuah, palito nan tidak padam”
(Dt.Rajo Pengulu, 1994 : 62).
25
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
Konsep tata-ruang ini adalah salah satu kekayaan
budaya yang sangat berharga di nagari dan bukti idealisme
nilai budaya di Minangkabau, termasuk di dalam mengelola
kekayaan alam dan pemanfaatan tanah ulayatnya, “Nan
lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan
du’atn buek kaparak, Nan bancah jadikan sawah, Nan
munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan
padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak”. Tata
ruang yang jelas memberikan posisi peran pengatur,
pemelihara dan pendukung sistim banagari yang terdiri dari
orang ampek jinih (ninik mamak19, alim ulama20, cerdik
pandai21, urang mudo22, bundo kanduang23).

Dengan demikian, terlihat bahwa nagari di


Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum
adat namun yang lebih mengedepan dan paling utama
adalah wilayah kesepakatan antar berbagai komponen
masyarakat di dalam nagari dengan spiritnya adalah ;
a. kebersamaan (sa-ciok bak ayam sa-danciang bak
basi), ditemukan dalam pepatah “Anggang jo kekek
19
Penghulu pada setiap suku, yang sering juga disebut ninik mamak nan
gadang basa batuah, atau nan di amba gadang, nan di junjung tinggi,
sebagai suatu legitimasi masyarakat nan di lewakan.
20
Bisa juga disebut dengan panggilan urang siak, tuanku, bilal, katib
nagari atau imam suku, dll dalam peran dan fungsinya sebagai urang
surau pemimpin agama Islam. Gelaran ini lebih menekankan kepada
pemeranan fungsi ditengah denyut nadi kehidupan masyarakat (anak
nagari).
21
Bisa saja terdiri dari anak nagari yang menjabat jabatan pemerintahan,
para ilmuan, perdu’atan tinggi, hartawan, dermawan.
22
Para remaja, angkatan muda, yang dijuluki dengan nan capek kaki
ringan tangan, nan ka disuruah di sarayo.
23
Kalangan ibu-ibu, yang sesungguhnya ditangan mereka terletak garis
keturunan dalam sistim matrilinineal dan masih berlaku hingga saat ini,
lebih jelasnya di ungkap di dalam Pegangan Penghulu, Bundo Kanduang
di Minangkabau, adalah menjadi “limpapeh rumah nan gadang,umbun
puruak pegangan kunci, pusek jalo kumpulan tali, sumarak dalam nagari,
nan gadang basa batuah” (Idrus Hakimy, 1997 : 69 – 116)
26 H. Mas’oed Abidin
Peluang dan Tantangan
cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo
singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito.”
b. keterpaduan (barek sa-pikua ringan sa-jinjiang) atau
“Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak
man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak
salang ma-nyalang”. Basalang tenggang, artinya
saling meringankan dengan kesediaan memberikan
pinjaman atau dukungan terhadap kehidupan dan
“Karajo baiak ba-imbau-an, Karajo buruak
bahambau-an”.
c. musyawarah (bulek aie dek pambuluah, bulek kato
dek mupakat), dalam kerangka “Senteng ba-bilai,
Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo”
d. keimanan kepada Allah SWT menjadi pengikat spirit
yang menjiwai sunnatullah dalam setiap gerak
mengenal alam keliling, “Panggiriak pisau sirauik,
Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik,
Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan
du’at ”. Alam di tengah-tengah mana manusia berada
ini, telah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan
terkandung padanya faedah-faedah kekuatan, dan
khasiat-khasiat yang diperlukan untuk
memperkembang dan mempertinggi mutu hidup
jasmani manusia, dengan keharusan berusaha
membanting tulang dan memeras otak untuk
mengambil sebanyak-banyak faedah dari alam
sekelilingnya itu, menikmatinya, sambil mensyukurinya,
dan beribadah kepada Ilahi.
e. kecintaan kenagari adalah perekat yang sudah
dibentuk oleh perjalanan waktu dan pengalaman

27
H.Mas’oed Abidin
Ekspansi Dakwah Islam di Era Otonomi
sejarah.24 Menjaga dari pada melewati batas-batas
yang patut dan pantas, jangan terbawa hanyut materi
dan hawa nafsu yang merusak. Suatu bentuk
persembahan manusia kepada Maha Pencipta,
menghendaki keseimbangan antara kemajuan dibidang
rohani dan jasmani. “Jiko mangaji dari alif, Jiko
babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun
dari tango”.
Sikap hidup (attitude towards life) sedemikian,
menjadi sumber pendorong kegiatan penganutnya, juga di
bidang ekonomi, dengan tujuan terutama untuk keperluan-
keperluan jasmani (material needs). Hasilnya tergantung
kepada dalam atau dangkalnya sikap hidup tersebut berurat
dalam jiwa masyarakat nagari dan kepada tingkat kecerdasan
yang telah dicapai.

24
Bukti kecintaan kenagari ini banyak terbaca dalam ungkapan-ungkapan
pepatah hujan ameh dirantau urang hujang batu dinagari awak,
tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo mahiruik ambun.
28 H. Mas’oed Abidin

Anda mungkin juga menyukai