Anda di halaman 1dari 16

Universitas Gadjah Mada 1

KONSERVASI GIGI PADA ANAK



Pengantar Konservasi Gigi pada Anak
Maksud perawatan operatif dentistri (opdent) pada gigi desidui adalah untuk
mengembalikan bentuk, sedang tujuannya adalah : mencegah atau menghilangkan rasa
sakit, mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan gigi supaya gigi desidui tetap sehat
sampai waktunya tanggal, berfungsi pada pengunyahan untuk gigi posterior dan estetika
untuk gigi anterior.
Sebagai seorang dokter gigi harus dapat menentukan apakah gigi itu dicabut atau
dapat dirawatkan dipertahankan sampal waktunya tanggal. pada fisura dan cervic yang
banyak terdapat pada anak-anak, biasanya dapat dirawat. Pada tindakan preparasi dengan
menggunakan mesin untuk mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul dapat dilakukan
dengan menggunakan bor yang tajam dan dengan putaran cepat, misalnya dengan high
speed. High speed ialah suatu unit yang putarannya permenit melebihi putaran unit biasa.
Unit high speed harus disertai dengan suatu sistem seprotan air (water jet system), yaitu air
yang terus menerus mengalir membasahi kavitas untuk menjaga supaya jangan timbul
panas akibat dari putaran yang sangat tinggi tersebut. Tidak dibenarkan dan tidak dianjurkan
pemakaian bor-bor yang sudah tumpul, sebab dapat menambah rasa sakit waktu preparasi.
Yang utama dalam merawat gigi anak ialah kerja cepat, tepat dan rasa sakit yang timbul
diusahakan minimal.

Preparasi Kavitas pada Gigi Desidui
Perbedaan secara prinsip perawatan opdent pada gigi anak dengan perawatan pada
orang dewasa adalah:
a. Behavior anak : operator harus mampu meguasai/mengendalikan anak, sehingga anak
mengikuti instruksi anjuran operator selama perawatan.
b. Morfologi gigi desidui berbeda dengan gigi permanen dalam hal:
1. Anatomi permukaan okiusal lebih sempit (Gbr. 2-1)
2. Ruang pulpa relatif lebih lebar
3. Tanduk pulpa lebih menonjol (Gbr. 2-2)
4. Permukaan proksimal luas, teher gigi sempit, kontak proksimal berupa bidang (flat).
5. Struktur email dan dentin lebih tipis.
c. Waktunya tanggal
d. Penanganan (management) anak yang tepat dan nyaman merupakan kunci keberhasilan
perawatan opdent.
Universitas Gadjah Mada 2


Gambar. 2-1 Perbedaan anatomi oklusal gigi molar permanen dan gigi desidui.


Gambar. 2-2 Potongan sagital perbedaan morfologi gigi disidui dan permanen

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan restorasi gigi desidui
adalah : (1) Umur anak; (2) tingkat keparahan karies; (3) kondisi gigi dan tuang pendukung;
(4) faktor tanggal fisiologis; (5) pengaruhnya terhadap kesehatan anak; dan (6)
pertimbangan ruang dalam lengkung.
Pada tiap preparasi kavitas harus dipertimbangkan tahap-tahap preparasi yaitu:
a. Out line form
b. Resistence dan retention form
c. Convenience form
d. Removel of remaining caries
e. Finising wall dan toilet of the cavity

Klasifikasi preparsi kavitas pada gigi desidui didasarkan pada klasifikasi Black yang
dimodifikasi yaitu:
Kelas l : kavitas pada pit dan fissure oklusal gigi molar, pit dan fissure bukal dan lingual
gigi.
Kelas II : kavitas pada permukaan proksimal molar
Kelas Ill : kavitas pada permukaan proksimal gigi anterior tetapi belum melibatkan
permukaan incisal
Universitas Gadjah Mada 3

Kelas IV : kavitas pada permukaan proksimal gigi anterior tetapi sudah melibatkan
permukaan incisal
Kelas V : kavitas pada 1/3 gingival permukaan bukal/labial dan lingual/palatal pada
semua gigi.

Restorasi Amalgam Kelas I.
a. Preparasi dibuat meluas sampai permukaan halus gigi, daerah yang rentan karies perlu
diambil atau dilibatkan, dengan menggunakan fissure bur. Kedalaman kavitas sampai
0,5 mm masuk denfin (dan dentino enamel junction). Untuk pengambilan jaringan karies
sebaiknya menggunakan bur metal dengan putaran lambat, sedang untuk tujuan preparsi
atau pengambilan jaringan gigi yang sehat menggunakan diamond bur dengan putaran
tinggi (Gbr. 2-3)
b. Sedapat mungkin jangan memotong tonjol gigi, kecuali memang tonjol gigi sudah terlibat
karies. (Gbr. 2-4)
c. Dinding preparasi agak konvergen ke arah oklusal (Gbr. 2-5)
d. Sisa jaringan karies diambil dengan bur kecepatan rendah, selanjutnya dinding preparasi
dihaluskan.

Gambar 2-3 A. Out line preparasi untuk tumpatan amalgam kelas I. B Pengambilan
jaringan karies dengan fissure bur

Gambar 2-4. Sedapat mungkit tidak memotong tonjol transversal ridge
Universitas Gadjah Mada 4

e. Isolasi gigi yang akan ditumpat dengan cotton rool, untuk rahang atas tempatkan pada
sebelah bukal, untuk rahang bawah pada sebelah bukal dan lingual (dibawah lidah)
f. Bersihkan dan keringkan kavitas, kemudian ben cavity varnish atau bahan lain seperti
semen seng phospat, semen ionomer kaca, semen polikarboksilat.
g. Pada kavitas yang dalam lindungi pulpa dengan kalsium hidrokside (Ca(OH)2).
h. Siapkan adonan amalgam yang balk.
i. Aplikasikan ke dalam kavitas dengan amalgam pistol dan padatkan dengan amalgam
condenser. Tahapan ini diulangi sampai kavitas penuh.
j. Bentuk/ukir tumpatan dengan amalgam karver sesual anatomis gigi, dan tidak traumatik
dengan gigi antagonish. Haluskan dengan borniser (Gbr. 2-6).

Gambar 2-6. Dengan menggunakan amalgam kondenser
yang kecil untuk kondensasi pada sudut-sudut preparasi. B.
Dengan menggunakan burnisher untuk menghaluskan
permukaan tumpatan amalgam.

k. Pemolishan dilakukan setelah 24 jam penumpatan urttuk netua resiko terjadinya tarnis
dan korosi pada turn patan amalgam. Pemolishan dilakukan dengan menggunakan bor
karborundum, vinir kasar, vinir halus, kemudian yang terakhir menggunakan sikat (brush)
dan fletcher kering sampai tumpatan mengkilat dan tidak ada step antara tumpatan
dengan gigi.

Restorasi Amalgam Kelas II
a. Oklusal boks: preparsi okiusal dengan menggunakan fissure bur meluas sampai pit dan
fisura, dinding preparasi konvergen ke arah okiusal. Tepi preparasi sejajar dengan ridge,
sedapat mungkin tidak memotong tonjol, kecuali memang tonjol sudah terlibat datam
karies (Gbr. 2-7)
b. Proksimal boks: kedalaman preparasi ke arah pulpa 1 - 1,5 mm.
c. Isthmus lebarnya 1/3 jarak inter tonjol (> 1,5 mm), retensi berbentuk groove pada
bukoaksial dan linguoaksial line angle (Gbr. 2-8).
Universitas Gadjah Mada 5


Gambar 2-7. Out line okiusal boks, Gambar 2-8 Bentuk preparasi proksimal
Axial wall pada preparasi kelas II boks dan lebar isthmus 1/3 inter tonjol
bentuknya mengikuti permukaan
proksimal

d. Garis sudut aksiopulpa line angle dibuat membulat (Gbr. 2-9)
e. Sisa jaringan karies diambil dengan bur kecepatan rendah, selanjutnya dinding preparasi
dihaluskan.
f. lsolasi gigi yang akan ditumpat dengan cotton root, untuk rahang atas tempatkan pada
sebelah bukal, untuk rahang bawah pada sebelah bukal dan lingual (dibawah lidah)
g. Bersihkan dan keringkan kavitas, kemudian ben cavity varnish atau bahan lain seperti
semen seng phospat, semen ionomer kaca, semen polikarboksilat
h. Pada kavitas yang dalam lindungi pulpa dengan kalsium hidrokside (Ca(OH)
2
).
i. Pasang matriks dan mahkota sampai melewati dinding gingival, pasang wedge untuk
stabilisasi matriks dan membetuk bagian proksimal (2-10).

Gambar 2-9 Sudut axiopulpa line Gambar 2-10 Pemasangan matriks dan
angle yang dibuat tumpul wedge untuk membentuk permukaan
proksimal dan untuk stabilisasi matriks.

j. Siapkan adonan amalgam yang balk.
k. Aplikasikan ke dalam kavitas dengan amalgam pistol, dahulukan pada bagian proksimal
kemudian baru bagian oklusal, padatkan dengan amalgam condenser. Usahakan wedge
tidak terdorong ke arah proksimal pada waktu kondensasi amalgam. Ulangi sampai
kavitas penuh.
Universitas Gadjah Mada 6

l. Gunakan eksplorer atau sonde untuk membentuk tepi permukaan proksimal, untuk
mengurangi resiko terjadinya fraktur tumpatan (Gbr 2-11)..
m. lepaskan matriks secara hati-hati agar tumpatan bagian proksimal tidak mengalami
kerusakan (Gbr 2-12)..
n. Bentuk/ukir tumpatan dengan amalgam karver sesuai anatoms gigi, dan tidak traumatik
dengan gigi antagonis. Haluskan dengan borniser.
o. Pemolishan dilakukan setelah 24 jam penumpatan, untuk mengurangi resiko terjadinya
tamis dan korosi pada tumpatan amaigarn PemoJishan dilakukan dengan menggunakan
bor karborundum, vinir kasar, vinir halus, kemudian yang terakhir menggunakan sikat
(brush) dan fletcher kering sampai tumpatan mengkilat dan tidak ada step antara
tumpatan dengan gigi.

Gambar 2-11 Dengan menggunakan Gambar 2-12 Lepaskan matrks kearah
eksplorer atau sonde untuk samping agar tidak terjadi kerusakan pada
membentuk tepi permukaan proksimal tepi permukaan proksimal.

Restorasi Kavitas Kelas Ill
a. Bila tidak ada jalan masuk, maka buka dan permukaan palatal atau lingual dengan
menggunakan round bur kecil, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk membuat dovetail.
b. Preparasi pada proksimal berbentuk segitiga dengan dasar pada gingival area dengan
menggunakan inverted cone bur atau round bur kecil (Gbr. 2-13).
c. Bentuk isthmus dan dovetail ke arah proksimal boks (Gbr. 2-14)
d. Retensi berbentuk groove pada dinding bukal dengan round bur kecil.
e. Buat bevel pada aksiopulpa line angle.
Universitas Gadjah Mada 7


Gambar 2-13 Bagian proksimal pada Gambar 2-14 Dovetail dan isthmus
preparasi kelas III, yaitu berbentuk pada permukaan lingual/palatal ke arah
segitiga, dan garis patah-patan proksimal boks.
menggambarkan retensi.

f. Sisa jaringan karies diambil dengan bur kecepatan rendah, selanjutnya dinding preparasi
dihaluskan
g. Isolasi gigi yang akan ditumpat dengan cotton rool, untuk rahang atas tempatkan pada
sebelah labial, untuk rahang bawah pada sebelah labial dan lingual (dibawah lidah)
h. Bersihkan dan keringkan kavitas, kemudian ben cavity varnish atau bahan lain seperti
semen seng phospat, semen ionomer kaca, semen polikarboksilat.
i. Pada kavitas yang dalam lindungi pulpa dengan kalsium hidrokside (Ca (OH)
2
).
j. Pasang matriks dan mahkota sampai melewati dinding gingival, pasang wedge untuk
stabilisasi matriks dan membetuk permukaan tumpatan bagian proksimal (Gbr. 2-15).

Gambar 2-15. Pemasangan matrik dan wedge pata restorasi kelas III
k. Siapkan adonan amalgam yang balk.
l. Aplikasikan ke dalam kavitas dengan amalgam pistol, dahulukan pada bagian proksimal
kemudian barn bagian lingual/palatal, padatkan dengan amalgam condenser. Usahakan
wedge tidak terdorong ke arah proksima) pada waktu kondensasi amalgam. Ulangi
Universitas Gadjah Mada 8

sampai kavitas penuh. lepaskn matriks secara hati-hati agar tumpatan bagian proksimal
tidak mengalami kerusakan.
m. Bentuk/ukir tumpatan dengan amalgam karver sesuai anatomis gigi, dan tidak traumatik
dengan gigi antagonis. Haluskan dengan bomiser. Pemolishan dilakukan setelah 24 jam
penumpatan, untuk mengurangi resiko terjadinya tamis dan korosi pada tumpatan
amalgam. Pemolishan dilakukan dengan menggunakan bor karborundum, vinir kasar,
vinir halus, kemudian yang terakhir menggunakan sikat dan fletcher kering sampai
tumpatan mengkilat dan tidak ada step antara tumpatan dengan gigi.

Restorasi Amalgam Kelas V
a. Kedalaman preparasi 0,5 mm ke dalam dentin.
b. Retensi: dinding sedikit konvergen ke arah permukaan, dibuat undercut pada
gingivoaksial line angle dan oklusoaksial line angle (dengan round bur) sehingga akan
didapat retensi seperti ditunjuk pada gambar dengan garis patah-patah (Gbr 2-16 A)
c. Sisa jaringan karies diambil dengan bur kecepatan rendah, selanjutnya dinding preparasi
dihaluskan.
d. Isolasi gigi yang akan ditumpat dengan cotton rool, untuk rahang atas tempatkan pada
sebelah bukal, untuk rahang bawah pada sebelah bukal dan lingual (dibawah lidah)

Gambar 2-16 A, Bentuk preparasi kelas
V, dinding konvergen sehingga terbetuk
retensi ditunjukkan seperti pada garis
patah-patah.

e. Bersihkan dan keringkan kavitas, kemudian beri cavity varnish atau bahan lain seperti
semen seng phospat, semen ionomer kaca, semen polikarboksilat.
f. Pada kavitas yang dalam lindungi pulpa dengan kalsium hidrokside (Ca(OH)2).
g. Siapkan adonan amalgam yang baik.
h. Aplikasikan ke dalam kavitas dengan amalgam pistol dan padatkan dengan amalgam
condenser. Tahapan ini diulangi sampai kavitas penuh.
Gambar 2-16 B Pengukiran dan
pembentukan permukaan tumpatan
sesuai dengan anatomi permukaan gigi.
Universitas Gadjah Mada 9

i. Bentuk/ukir tumpatan dengan amalgam karver sesuai anatomis gigi. (Gbr. 2-1 6-B).
j. Pemolishan dilakukan setelah 24 jam penumpatan, untuk mengurangi resiko terjadinya
tarnis dan korosi pada tumpatan amalgam. Pemolishan dilakukan dengan menggunakan
bor karborundum untuk membentuk permukaan tumpatan sesual dengan anatomis gigi,
vinir kasar, vinir halus. Pada penggunaan vinir kasar diusahakan tidak terlalu menekan,
sedangkan pada penggunaan vinir halus agak ditekan. Tahap selanjutnya atau yang
terakhir adalah menggunakan sikat (brush) dan fletcher kering sampal tumpatan
mengkilat dan tidak ada step antara tumpatan dengan gigi.

1. Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Perawatan Opdent Pada Gigi Desidui Dengan
Tumpatan Amalgam.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan restorasi atau perawatan
opdent pada gigi desidui dengan bahan amalgam yaitu:
a. Fraktur pada struktur gigi
Ketebalan struktur jaringan email gigi desidui lebih tipis dibanding gigi
permanen, sehingga bila terdapat lapisan email yang tidak didukung oleh dentin yang
sehat menjadi mudah patah/fraktur setelah dilakukan restorasi, walau proses
penumpatan dilakukan dengan baik. Dengan patahnya jaringan email pada tepi
restorasi maka akan memudahkan berkembangnya karies sekunder, yang akhirnya
nanti tumpatan menjadi lepas.
b. Fraktur restorasi amalgam.
Fraktur pada tumpatan amalgam dapat terjadi karena beberapa hal antara
lain:
1) Sudut axiopulpa line angle runcing,
2) Ketebalan amalgam yang kurang, sehingga tidak mampu menahan tekanan
penguntahan. Hal ini dapat terjadi karena kedalaman prepararasi yang kurang,
kedalaman preparasi cukup tetapi liner yang terlalu tebal, over contunng.
3) Preparasi yang terlalu sempit dapat mempengaruhi kondensasi amalgam. Jika
lebar preparasi tertalu sempit maka amalgam kodenser tidak mampi menjangkau
daerah yang sempit tersebut, sehingga menghasilkan kekuatan tekan dan tarik
yang lebih rendah. Kondisi seperti ini sering terjadi didaerah isthmus pada
restorasi kelas II amalgam terutama pada gigi molar satu desidui baik rahang atas
maupun rahang bawah.
4) Traumatik okiusi. Hal ini dapat terjadi karena adanya penumpatan yang terlalu
tinggi. Pada saat karving yang kurang memperhatikan bentuk anatomis mahkota
gigi yang ditumpat maupun oklusi dengan gigi antagonis menyebabkan bagian
tertentu mendapat tekanan yang berlebuhan pada saat proses pengunyahan.
Universitas Gadjah Mada 10

Tekanan yang lebih dan yang seharusnya sering kali menyebabkan tumpatan
fraktur pada bagian tersebut.
c. Karies yang timbul kemball.
Karies disekitar tumpatan amalgam biasanya terjadi karena adanya preparasi
yang kurang baik, daerah yang rentan terhadap karies yaitu pit dan fisura tidak
dilibatkan dalam out line form. Kadang kadang juga dapat timbul akibat adanya
kondensasi yang kurang sempuma terutama restorasi daerah mnterproksimal.
d. Retensi yang kurang.
Struktur jaringan keras gigi desidui ( email dan dentin ) yang tipis. dan
anatomis mahkota gigi yang re!atif kecil menyulitkan pembuatan retensi, terutama
pada gigi yang sudah mngalami karies yang luas. Sehingga pada preparasi yang
retensinya kurang sempurna memudahkan tumpatan amalgam lepas.

Universitas Gadjah Mada 11

Restorasi Stainless Steel Crown (SSC)
StanIess Steel Crown atau yang sering disingkat SSC, merupakan restorasi untuk
gigi molar desidui atau permanen muda yang sudah tidak memungkinkan dirawat dengan
restorasi amalgam.

Indikasi SSC
1. Gigi molar desidui atau permanen muda yang sudah mengalami karies yang luas.
2. Karies proksimal yang memerlukan preparasi sampai permukaan bukal dan atau atau
lingual
3. Gigi yang sudah mengalami perawatan endodontik misalnya pulpotomy atau pulpectomy.
Karena gigi yang sudah mengalami perawatan endodontik, struktumya menjadi rapuh,
mudah patah sehingga perlu dilindungi.
4. Gigi yang mengalami malformasi, mIsalnya hipoplasia, hipokalsifikasi, dentinogenesis/
amelogenesis imperfekta.
5. Gigi molar yang fraktur
6. Pasien-pasien yang tidak dapat mengontrol kebersihan mulut, misalnya pasien disable
(handicaped).
7. Sebagai attachment pada perawatan space maintainer atau sebagai retensi alat pada
pararatan dengan alat orthodonsi lepasan.

Teknik atau cara:
1. Dilakukan anesthesi lokal, untuk gigi yar)g masih vital]
2. Kurangi permukaan oklusal dengan bur fissure. Pehgurangan dimulai dan daerah grove
1-1,5 mm. Diratakan, sehinga semua kedatamannya sama (Gbr. 2-17A).
3. Kurangi permukaan proksimal, sehingga tidak ada kontak dengan gigi sebelahnya.
Gunakan fissure bur kecil,. Dinding paralel atau sedikit konvergen terhadap axis gigi,
dimulai dari oklusal ke arah gingival. Jangan sampai ada ledge (Gbr2-17B).
4. Kurangi permukaan bukal sampai 1 mm subgingival. (Gbr. 2-17C)
5. Tumpulkan sudut-sudut yang tajam (Gbr 2-17D).
6. Ambil jaringan karies dengan round bur kecepatan rendah.
Universitas Gadjah Mada 12


Gambar 2-17. A Pengurangan permukaan okiusal sedalam 1 - 1,5 mm secara merata pada
semua penrnikaan, B. Pengurangan permukaan probimal dengan fissure bur kecil, C.
Pengurangan permukaan buka sampai 1 mm subgingiva, 0 Sudat yang tajam ditumpulkan.

Seleksi dan adaptasi crown
1. Ukur jarak/ruang mesiodistal gigi dengan caliper
2. Pilih crown dengan lebar mesodistal yang sesuai
3. Letekkan SSC pada preparasi gi. Ben tanda pada permukan bukal dan llngul pada free
gingival margin (Gbr. 2-18A). Kurangi baian dibawah tanda 0,5 1 mm. Dengan
gunting, sehingga crown masuk ke sulcus gingiva 1 mm.
4. Haluskan permukaan crown dengan stone bur dan rubber wheel polish (Gbr. 2-18B)
5. Crimping pada tepi-tepi SSC (Gbr. 2-18C)
6. Pasang, lihal tepi-tepi gingival, bila sudah pas, ambil SSC dan lakukan sementasi.
7. Cek dengan artikulating paper, untuk belihat bila terdapat traumatik oklusi.
8. Bersihkan ekses/kelebihan semen pada margin dengan sonde dan dental floss (Gbr. 2-
18D)
Universitas Gadjah Mada 13


Gambar 2-18. A. Penyesuaian crown . B. penghalusan crown pada bagian bekas
pemotongan emnggunakan stone bur dan rubber wheel polish C.Crimping pada tepi
gingival. D. Pengambilan kelebihan/ekses semen pada gingival dengan sonde dan dental
floss.


Universitas Gadjah Mada 14

Restorasi Polycarbonate Crown (PCC)
Merupakan restorasi untuk ggi anterior desidui, bia dengan resin tidak ada retensi.
Polycarbonate crown mempunyai estetis yang baik, sehingga dapat juga dipergunakan
sebagai restorasi sementara pada gigi anterior permanen. Secara kilnis indikasi
Polycarbonate crown (PCC) sama dengan ssc (Gbr. 2-19)

Gbr. 2-19. Salah satu indikasi untuk restorasi dengan polycarbonate crown, yaitu gigi
anterior yang sudah mengalami kerusakan pada beberapa permukaan.

Cara atau teknik
1. Anesthesi lokal, secara infiltrasi pada bagian labial dan palatal.
2. Ambil jaringan karies dengan round bur (gbr 2-20A)
3. Kurangi permukaan mesil dan distal dengan flame/fissure bur, paralel dengan axis
panjang gigi 1 - 1,5 mm sampai subgingival
4. Kurangi permukaan labial dan palatal, 1 - 1,5 mm subgongival (gbr. 2-208).
5. Incisal dikurangi 1 - 1,5 mm
6. Retensi
Dengan menggunakan inverted done bur dbuat artifisial groove ( 0,25 mm) didaerah
1/3 gingival, mengelilingi gigi (gbr,. 2-20C). bila sudah terdapat kavitas disebelah mesial
dan distal, maka retensi groe tidak diperlukan.
Universitas Gadjah Mada 15


Gambar 2-20. A. Pengambilan jaringan karies dengan round bur, B. Pengurangan
permukaan labial dan palatas. C. Pembuatan artifisial groove pada 1/3 ginival mengelilingi
gigi menggunakan inverted cone bur.

Menyiapkan crown dan pemasangan
1. Crown dibuat dengan bermacam-macam ukuran derigan bentuk yang spesifik untuk
masing-masing PiIih ukuran yang sesuai
2. Buat 2 lubang pada sisi lingual atau paIataI (Gbr 2-21A)
3. Permukaan dalam crown dibuat kasar, sebagai tambahan retefisi mekanik bagi semen.
4. Kontrol perdarahannya sebelum dilakukan penyemenan
5. Aduk semen, masukkan ke dalam crown dan pada gigi, pasang crown, tekan dengan jan
(Gbr. 2-21 B-C)
6. Kelebihan/ekses semen dibersihkan dengan sonde (Gbr 2-21 D)
Universitas Gadjah Mada 16


Gambar 2-21. A. Pembuatan dua buah lubang pada permukaan lingual/palatal. B.
Semen setelah diaduk dimasukkan dalam crown. C pemasangan crown pada gigi setelah
diisi semen dan ditekan dengan jari. D Pengambilan ekses semen pada daerah sekitar
gingival.