Anda di halaman 1dari 24

1

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA



Laporan Kasus Diare Akut dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga
Puskesmas Batujaya, Kabupaten Karawang
Periode 30 Juni 26 Juli 2014

Disusun oleh :
Joshua Peterson anak Peter Legi
(112012252)

Pembimbing :
dr. Ernawaty Tamba, MKM

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Karawang, Juli 2014



2

BAB I
Pendahuluan
Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Menurut Blumkesehatan manusia
terdiri dari tiga unsur yang saling berinteraksi dan saling terkait secara hirarkis, yaitu apa yang
dinamakannya kesehatan somatik yang ditandai berlangsungnya fungsi fisiologi dan integrasi
anatomi, kesehatan psikis yang mengacu pada berbagai kemampuan seperti kemampuan
mengetahui, mengamati, menyadari, dan menanggapi keadaan sehat somatiknya sendiri; dan
kesehatan sosial yang mengacu pada kesesuaian perilaku individu dengan anggota lain dalam
keluarganya, dengan keluarganya, dan dengan sistem sosial.Blum menggambarkannya sebagai
hubungan antara 4 faktor yaitu keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan.
1

Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara
berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB
(Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.
2,3

Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat
tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5
orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek
umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena
foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp,
Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan
Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).
4,5
Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk
setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di
negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.
6

Di Indonesia dari 2.812 pasien diare yang disebabkan bakteri yang datang kerumah sakit
dari beberapa provinsi seperti Jakarta, Padang, Medan, Denpasar, Pontianak, Makasar dan Batam
yang dianalisa dari 1995 s/d 2001 penyebab terbanyak adalah Vibrio cholerae 01, diikuti dengan
Shigella spp, Salmonella spp, V. Parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter Jejuni, V.
Cholera non-01, dan Salmonella paratyphi A.
6

3

Tujuan
Dengan adanya program kunjungan ke pasien, diharapkan Puskesmas dapat mengetahui
lebih banyak dan mendalam mengenai setiap pasien yang selama ini menggunakan layanan
pengobatan di Puskesmas. Dengan demikian pula Puskesmas dapat meningkatkan kualitas hidup
pasien-pasien yang termasuk dalam ruang lingkup daerah kerja Puskesmas. Sehingga tujuan
kerja Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan menjadi semakin terpenuhi.

Metode
Program ini dilaksanakan dengan metode observasi dan survey, dikarenakan program ini
melakukan pendekatan langsung ke pasien dan mengadakan kunjungan ke rumah pasien yang
bersangkutan, serta memberikan beberapa pertanyaan yang menyangkut dengan kesehatan pasien
dan keluarganya.













4

BAB II
Laporan Hasil Kunjungan Rumah

Puskesmas : Kecamatan Batujaya
Tanggal kunjungan : 14 Juli 2014

I. Identitas Pasien :
Nama : Tn. D
Umur : 37 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SD
Alamat : Jamantri II RT 010/ RW 004 41352 Kelurahan
Segarjaya Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang

II. Riwayat Biologis Keluarga :
Keadaan kesehatan sekarang : Cukup
Kebersihan perorangan : Baik
Penyakit yang sering diderita : Mencret-mencret
Penyakit keturunan : Hipertensi
Penyakit kronis/menular : Tidak ada
Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
Pola makan : Sedang (3 kali sehari)
Jumlah anggota keluarga : 3 orang

III. Psikologis Keluarga :
Kebiasaan buruk : Jarang mencuci tangan dengan bersih
setelah BAB mahupun sebelum dan sesudah menyediakan makanan.
Pengambilan keputusan : Keputusan bersama
Ketergantungan obat : Tidak ada
5

Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas
Pola rekreasi : Berjalan pulang dari sawah

IV. Keadaan Rumah /lingkungan :
Jenis bangunan : Semi permanen
Lantai rumah : Tanah.
Luas rumah : 7m x 10m = 70 m
2

Penerangan : Kurang
Kebersihan : Kurang
Ventilasi : Kurang (jendela tidak banyak)
Dapur : Ada, kayu api
Jamban keluarga : Ada
Sumber air minum : Air sumur yang dimasak
Sumber pencemaran : Ada (Jamban dekat dengan sumur gali)
Sistem pembuangan air limbah : Ada
Tempat pembuangan sampah : Ada
Sanitasi lingkungan : Kurang
Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada

V. Spiritual Keluarga :
Ketaatan beribadah : Baik
Keyakinan tentang kesehatan : Kurang (penyakit diare sering kambuh)

VI. Keadaan Sosial Keluarga
Tingkat pendidikan : Kurang (pendidikan terakhir SD)
Hubungan antar aggota keluarga : Baik (tinggal bersama)
Hubungan dengan orang lain : Baik (dekat dengan tetangga)
Kegiatan organisasi sosial : Baik
Keadaan ekonomi : Kurang (pekerjaan sebagai petani)

6

VII. Kultural Keluarga
Adat yang berpengaruh : Sunda
Lain lain : Tidak ada

VIII. Daftar anggota keluarga
No Nama Hub Umur Pend Pekerjaan Agama Keadaan
kesehatan
Keadaan
gizi
Imunisasi KB Ket
1 Dollah - 37 SD Pedagang Islam Sedang Sedang Lupa
2 Fatimah Istri 31 SD Ibu RT Islam Baik Sedang Lupa - -
3 Ahmad Anak 9 SD Sekolah Islam Baik Sedang Cukup - -
4 Nengsih Anak 2 - Tidak
Bekerja
Islam Baik Sedang Cukup - -











Keterangan:
1. Tn D, 37 tahun, KK.
2. Ny. P, 31 tahun, Istri
3. An. A, 9 tahun, Anak
4. An. N, 2 tahun, Anak




3
1
4
2
7

IX. Keluhan Utama :
Mencret sejak 2 hari yang lalu.

X. Keluhan Tambahan :
Sakit perut, lemas.

XI. Riwayat Penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan mencret sejak 2 hari yang lalu, kira-kira 5 kali per hari,
gelas Aqua tiap kali BAB, berupa cairan kekuningan dengan sedikit ampas, tidak ada
lendir dan darah. Keluhan disertai dengan rasa sakit perut dan lemas. Keluhan panas
disangkal, keluhan muntah disangkal.
Pasien mengaku memiliki riwayat sering diare sejak beberapa tahun lalu, biasanya pasien
berobat di Puskesmas, tetapi kadang-kadang tidak berobat karena jarak rumahnya yang
jauh. Pasien biasanya diberi oralit dan obat Attapulgite.

XII. Riwayat penyakit dahulu :
Diare akut.

XIII. Pemeriksaan fisik :
Status Generalis
Keadaan umum : Tampak Sakit Ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Pernapasan : 20 x/menit
Nadi : 96 x/menit
Suhu : 36,7 C

Status Gizi
IMT = BB (kg) = 60 = 21,26 kg/m
2

TB (m
2
) (1,68)
2

Status gizi: normal
8


Keadaan Regional
Keadaan Regional
- Kepala : normocephali, rambut hitam keputihan, merata, tidak mudah di
cabut.
- Kulit : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), ptechiae (-), turgor kulit
menurun.
- Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung +/+, pupil bulat, isokor, tidak
cekung.
- Telinga : bentuk simetris dan tidak ada kelainan, serumen -/-, membran
timpani sulit di nilai.
- Hidung : bentuk normal, deviasi septum (-), mukosa tidak hiperemis,
sekret (-), nafas cuping hidung (-), epistaksis (-).
- Mulut : bibir tidak pucat, sianosis (-), mukosa bibir kering, lidah tidak
kotor, tremor (-)
- Tenggorokan : faring tidak hiperemis, uvula di tengah, tonsil T1-T1 tenang.
- Leher : tidak teraba kelenjar getah bening.
- Thoraks
o Paru
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, tidak ada
retraksi
Palpasi : tidak teraba massa
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-
o Jantung
Inspeksi : pulsasi iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis teraba pada ICS IV linea midclavicula sinistra,
tidak kuat angkat
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
9

- Abdomen
Inspeksi : cembung, sikatriks (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium (+), hepatomegali (-),
splenomegali (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) meningkat.
- Ekstremitas : akral hangat, petekiae (-) udem (-), sianosis (-)

XIV. Diagnosis Penyakit :
Diare akut.

XV. Diagnosis keluarga :
Riwayat diare akut.

XVI. Anjuran Penatalaksanaan penyakit :
Promotif : Memberikan penyuluhan dan pengertian kepada pasien tentang cara
mencuci tangan yang benar, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun
dan menggunakan jamban sehat.
Preventif : Hindari makan makanan yang tidak bersih, menutup makanan dari
dihinggapi lalat.
Kuratif :
a. Farmakologis:
- Attapulgite 600 mg tablet 3x2 tab / hari
b. Terapi non medika mentosa :
1. Oralit 3x1 sach / hari
2. Minum banyak air putih
3. Hindari makanan dan minuman seperti kopi, asam dan pedas.
XVII. Prognosis :
Penyakit : dubia ad bonam
Keluarga : dubia ad bonam
Masyrakat : dubia ad bonam
10

XVIII. Analisa Kasus
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada tanggal 14 Juli 2014,
didapatkan bahwa pasien menderita diare akut. Pasien berusia 37 tahun. Pasien memberi
perhatian yang cukup akan keadaan kesehatan dirinya dan anggota keluarganya. Pasien
merupakan seorang petani. Pasien tinggal bersama isteri dan 2 orang anaknya.
Pasien disarankan untuk melakukan pencegahan dengan menggunakan jamban
sehat, mencuci tangan pakai sabun setiap kali selesai BAB dan sebelum dan sesudah
menyediakan makanan. Selain itu pasien juga disarankan untuk menggunakan air bersih
dan memasak air terlebih dahulu sebelum diminum.
Rumah pasien tergolong tidak sehat dilihat dari sisi penerangan, dan ventilasi
yang kurang memadai serta kebersihan yang kurang pada rumah pasien. Rumah pasien
berlantaikan tanah dan hanya dilapisi dengan tikar karet. Di dalam rumah terdapat 2
ruang tamu, 1 kamar dan 1 dapur. Pasien mengatakan yang digunakan sebagai tempat
tidur adalah ruang tamu dan kamar.Rumah pasien terutama di bagian dapur agak kotor
dan tidak sesuai untuk dijadikan tempat menyediakan makanan.Sumber minum keluarga
pasien juga tidak terjamin bersihnya karena menggunakan sumur, yang di masak. Air
sumur yang digunakan pasien juga terlihat agak keruh. Dapur masih menggunakan kayu
api. Pasien juga menggunakan air sumur untuk mencuci. Rumah pasien terdapat 1 kamar
mandi, kebersihan kamar mandi tersebut termasuk kurang. Jamban keluarga pasien
memenuhi syarat jamban yang baik. Terdapat pembuangan sistem pembuangan air
limbah dan sampah di sebelah rumah pasien. Rumah pasien terdapat pekarangan yang
tidak dimanfaatkan.
Ditinjau dari spiritual keluarga pasien merupakan keluarga yang taat beribadah
beragama Islam. Pasien kurang memiliki pengetahuan tentang penyakitnya sehingga
kurang menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat menyebabkan pasien sering terkena
penyakit diare akut yang berulang.





11

BAB III
Tinjauan Pustaka

Definisi
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair
(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24
jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per
hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
1,2
Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14
hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan
infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare
infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit.
3


Patogenesis
Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan patofisiologis menjadi diare non
inflamasi dan diare inflamasi. Diare inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitotoksin di kolon
dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah. Gejala klinis
yang menyertai keluhan abdomen seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah,
demam, tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin secara
makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah, serta mikroskopis didapati sel leukosit
polimorfonuklear.
1,3,9,10
Pada diare non inflamasi, diare disebabkan oleh enterotoksin yang mengakibatkan diare
cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah. Keluhan abdomen biasanya minimal atau
tidak ada sama sekali, namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang
tidak mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit.
Mekanisme terjadinya diare yang akut maupun yang kronik dapat dibagi menjadi kelompok
osmotik, sekretorik, eksudatif dan gangguan motilitas. Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang
tidak dapat diserap meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma
sehingga terjadi diare. Contohnya adalah malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi laktase atau
akibat garam magnesium.
1,3,9

12

Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik absorbsi yang berkurang
ataupun sekresi yang meningkat. Hal ini dapat terjadi akibat toksin yang dikeluarkan bakteri
misalnya toksin kolera atau pengaruh garam empedu, asam lemak rantai pendek, atau laksantif
non osmotik. Beberapa hormon intestinal seperti gastrin vasoactive intestinal polypeptide (VIP)
juga dapat menyebabkan diare sekretorik.
1
Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus
maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non
infeksi seperti gluten sensitive enteropathy, inflamatory bowel disease (IBD) atau akibat radiasi.
Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu tansit usus menjadi
lebih cepat. Hal ini terjadi pada keadaan tirotoksikosis, sindroma usus iritabel atau diabetes
melitus.
1,3
Diare dapat terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Pada infeksi bakteri paling tidak ada
dua mekanisme yang bekerja peningkatan sekresi usus dan penurunan absorbsi di usus. Infeksi
bakteri menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan terjadinya diare.
Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan perdarahan atau adanya leukosit dalam feses. Pada
dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman enteropatogen meliputi penempelan bakteri
pada sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi enterotoksin
atau sitotoksin. Satu bakteri dapat menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat
mengatasi pertahanan mukosa usus.
4,5


Diagnosis
Untuk mendiagnosis pasien diare akut infeksi bakteri diperlukan pemeriksaan yang
sistematik dan cermat. Kepada pasien perlu ditanyakan riwayat penyakit, latar belakang dan
lingkungan pasien, riwayat pemakaian obat terutama antibiotik, riwayat perjalanan, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang.Pendekatan umum diare akut infeksi bakteri baik diagnosis dan
terapeutik terlihat pada gambar di bawah.
13



Diare akut karena infeksi dapat disertai keadaan muntah-muntah dan/atau demam,
tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang perut.
Diare yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat
menyebabkan kematian karena kekurangan cairan di badan yang mengakibatkan renjatan
hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena
kehilangan cairan seseorang merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah
kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala
ini disebabkan deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonas, perbandingan bikarbonas berkurang, yang mengakibatkan
penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat pernapasan sehingga frekwensi nafas
14

lebih cepat dan lebih dalam (kussmaul). Reaksi ini adalah usaha tubuh untuk mengeluarkan asam
karbonas agar pH dapat naik kembali normal. Pada keadaan asidosis metabolik yang tidak
dikompensasi, bikarbonat standard juga rendah, pCO2 normal dan base excess sangat negatif.
Gangguan kardiovaskular pada hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-
tanda denyut nadi yang cepat, tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah,
muka pucat, ujung-ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis. Karena kehilangan kalium
pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun dan akan timbul
anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul penyulit berupa nekrosis tubulus ginjal
akut, yang berarti pada saat tersebut kita menghadapi gagal ginjal akut. Bila keadaan asidosis
metabolik menjadi lebih berat, akan terjadi kepincangan pembagian darah dengan pemusatan
yang lebih banyak dalam sirkulasi paru-paru. Observasi ini penting karena dapat menyebabkan
edema paru pada pasien yang menerima rehidrasi cairan intravena tanpa alkali.

Pemeriksaan Laboratorium
Evaluasi laboratorium pasien tersangka diare infeksi dimulai dari pemeriksaan feses adanya
leukosit. Kotoran biasanya tidak mengandung leukosit, jika ada itu dianggap sebagai penanda
inflamasi kolon baik infeksi maupun non infeksi. Karena netrofil akan berubah, sampel harus
diperiksa sesegera mungkin. Sensitifitas lekosit feses terhadap inflamasi patogen (Salmonella,
Shigella dan Campylobacter) yang dideteksi dengan kultur feses bervariasi dari 45% - 95%
tergantung dari jenis patogennya.
3

Penanda yang lebih stabil untuk inflamasi intestinal adalah laktoferin. Laktoferin adalah
glikoprotein bersalut besi yang dilepaskan netrofil, keberadaannya dalam feses menunjukkan
inflamasi kolon. Positip palsu dapat terjadi pada bayi yang minum ASI. Pada suatu studi,
laktoferin feses, dideteksi dengan menggunakan uji agglutinasi lateks yang tersedia secara
komersial, sensitifitas 83 93 % dan spesifisitas 61 100 % terhadap pasien dengan
Salmonella,Campilobakter, atau Shigella spp, yang dideteksi dengan biakan kotoran.
Biakan kotoran harus dilakukan setiap pasien tersangka atau menderita diare inflammasi
berdasarkan klinis dan epidemiologis, test lekosit feses atau latoferin positip, atau keduanya.
Pasien dengan diare berdarah yang nyata harus dilakukan kultur feses untuk EHEC O157 : H7.
1

15

Pasien dengan diare berat, demam, nyeri abdomen, atau kehilangan cairan harus diperiksa kimia
darah, natrium, kalium, klorida, ureum, kreatinin, analisa gas darah dan pemeriksaan darah
lengkap
5,8,10,14


Penatalaksanaan
A. Penggantian Cairan dan Elektrolit
Aspek paling penting dari terapi diare adalah untuk menjaga hidrasi yang adekuat dan
keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan dengan rehidrasi oral, dimana harus
dilakukan pada semua pasien kecuali yang tidak dapat minum atau yang terkena diare hebat yang
memerlukan hidrasi intavena yang membahayakan jiwa.Idealnya, cairan rehidrasi oral harus terdiri
dari 3,5 g Natrium klorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, dan 20 g glukosa per
liter air.
2,4
Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam paket-paket yang mudah disiapkan
dengan mencampurkan dengan air.
Jika sediaan secara komersial tidak ada, cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan
menambahkan sendok teh garam, sendok teh baking soda, dan 2 4 sendok makan gula per liter
air. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium.. Pasien harus minum
cairan tersebut sebanyak mungkin sejak mereka merasa haus pertama kalinya.
3

Jika terapi intra vena diperlukan, cairan normotonik seperti cairan saline normal atau
laktat Ringer harus diberikan dengan suplementasi kalium sebagaimana panduan kimia darah.
Status hidrasi harus dimonitor dengan baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital, pernapasan,
dan urin, dan penyesuaian infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi oral
sesegera mungkin.
Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan.
Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai cara :
1. BD plasma, dengan memakai rumus :
Kebutuhan cairan = BD Plasma 1,025 X Berat badan (Kg) X 4 ml
0,001
2. Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis :
- Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X KgBB
16

- Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X KgBB
- Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X KgBB

3. Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberi penilaian/skor (tabel 1)


Kebutuhan cairan = Skor X 10% X KgBB X 1 liter
15
4. Goldbeger (1980) mengemukakan beberapa cara menghitung kebutuhan cairan :
Cara I :
- Jika ada rasa haus dan tidak ada tanda-tanda klinis dehidrasi lainnya, maka
kehilangan cairan kira-kira 2% dari berat badan pada waktu itu.
- Bila disertai mulut kering, oliguri, maka defisit cairan sekitar 6% dari berat
badan saat itu.
- Bila ada tanda-tanda diatas disertai kelemahan fisik yang jelas, perubahan
mental seperti bingung atau delirium, maka defisit cairan sekitar 7 -14% atau
sekitar 3,5 7 liter pada orang dewasa dengan berat badan 50 Kg.

Cara II :
Jika penderita dapat ditimbang tiap hari, maka kehilangan berat badan 4 Kg pada
fase akut sama dengan defisit air sebanyak 4 liter.

17

Cara III :
Dengan menggunakan rumus :
Na
2
X BW
2
= Na
1
X BW
1,
dimana :
Na
1
= Kadar Natrium plasma normal; BW
1
= Volume air badan normal, biasanya
60% dari berat badan untuk pria dan 50% untuk wanita ; Na
2
= Kadar natrium
plasma sekarang ; BW
2
= volume air badan sekarang

B. Antibiotik
Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40%
kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian anti biotik. Pemberian antibiotik
diindikasikan pada : Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah,,
leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau
penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien immunocompromised.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan, tetapi terapi antibiotik spesifik diberikan
berdasarkan kultur dan resistensi kuman.
1,5,9

C. Obat anti diare
Kelompok antisekresi selektif
Terobosan terbaru dalam milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas racecadotril yang
bermanfaat sekali sebagai penghambat enzim enkephalinase sehingga enkephalin dapat bekerja
kembali secara normal. Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga
keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal. Di Indonesia saat ini tersedia di bawah
nama hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti diare yang dapat pula digunakan
lebih aman pada anak.
10

Kelompok opiat
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid HCl serta kombinasi difenoksilat dan
atropin sulfat (lomotil). Penggunaan kodein adalah 15-60mg 3x sehari, loperamid 2 4 mg/ 3
4x sehari dan lomotil 5mg 3 4 x sehari. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan
propulsi, peningkatan absorbsi cairan sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan
mengurangi frekwensi diare.Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan
18

dapat mengurangi frekwensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala demam dan
sindrom disentri obat ini tidak dianjurkan.
10,11

Kelompok absorbent
Arang aktif, attapulgit aktif, bismut subsalisilat, pektin, kaolin, atau smektit diberikan atas dasar
argumentasi bahwa zat ini dapat menyeap bahan infeksius atau toksin-toksin. Melalui efek
tersebut maka sel mukosa usus terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang
sekresi elektrolit.
9
Zat Hidrofilik
Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta, Psyllium, Karaya (Strerculia),
Ispraghulla, Coptidis dan Catechu dapat membentuk kolloid dengan cairan dalam lumen usus
dan akan mengurangi frekwensi dan konsistensi feses tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan
cairan dan elektrolit. Pemakaiannya adalah 5-10 cc/ 2x sehari dilarutkan dalam air atau diberikan
dalam bentuk kapsul atau tablet.
9

Probiotik
Kelompok probiotik yang terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau Saccharomyces
boulardii, bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek yang
positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. Syarat penggunaan dan
keberhasilan mengurangi/menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat.
3,7


Komplikasi
Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama, terutama pada
usia lanjut dan anak-anak. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara mendadak
sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial
mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolik.
1,8

Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis, sehingga syok
hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis
Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. Komplikasi ini dapat juga terjadi
bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai rehidrasi yang
optimal.
9,10

19

Haemolityc Uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh
EHEC. Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal, anemia hemolisis, dan trombositopeni 12-14
hari setelah diare. Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat
anti diare, tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS masih kontroversi.
Sindrom GuillainBarre, suatu demielinasi polineuropati akut, adalah merupakan
komplikasi potensial lainnya dari infeksi enterik, khususnya setelah infeksi C. jejuni. Dari pasien
dengan Guillain Barre, 20 40 % nya menderita infeksi C. jejuni beberapa minggu
sebelumnya. Biasanya pasien menderita kelemahan motorik dan memerlukan ventilasi mekanis
untuk mengaktifkan otot pernafasan. Mekanisme dimana infeksi menyebabkan Sindrom Guillain
Barre tetap belum diketahui.
Artritis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena
Campylobakter, Shigella, Salmonella, atau Yersinia spp.
1


Prognosis
Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang mendukung, dan terapi
antimikrobial jika diindikasikan, prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik dengan
morbiditas dan mortalitas yang minimal. Seperti kebanyakan penyakit, morbiditas dan mortalitas
ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia. Di Amerika Serikat, mortalits berhubungan
dengan diare infeksius < 1,0 %. Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1,2 %
yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik.
1


Pencegahan
1,3

Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat dicegah
dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering mencuci tangan setelah keluar
dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. Kotoran manusia harus diasingkan dari
daerah pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia.
Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan perhatian
khusus. Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan makanan, atau air yang digunakan
untuk memasak harus disaring dan diklorinasi. Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air
yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu beberapa menit
20

sebelum dikonsumsi. Ketika berenang di danau atau sungai, harus diperingatkan untuk tidak
menelan air.
Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air
rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi. Limbah manusia atau hewan yang tidak
diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan sayuran. Semua daging dan
makanan laut harus dimasak. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh
dikonsumsi. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak
dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak.
Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan
ketersediaan vaksin sangat terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera,
dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan
untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang.
Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping.
Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan
memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan
1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin
lainnya.











21

Bab IV
Pembahasan

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien ini sewaktu
melakukan kunjungan rumah, didapatkan bahwa pasien menghidapi penyakit diare akut. Dalam
tinjauan pustaka pada bab sebelumnya, telah dijelaskan beberapa penyebab penyakit diare akut
dan penyebab tersering adalah karena infeksi bakteri, virus atau parasit. Berdasarkan pendekatan
dokter keluarga yang dilakukan, telah ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan pasien ini
dan ahli keluarga yang tinggal serumah dengannya rentan untuk terkena penyakit ini. Terdapat 2
hal penting yang harus diubah pada keluarga ini yaitu berkenaan dengan perilaku dan lingkungan
bagi meningkatkan derajat kesehatan keluarga ini. Perilaku gaya hidup bersih sehat dapat
mencegah keluarga ini untuk terkena penyakit ini. Pasien dan keluarganya disarankan untuk
mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun setelah BAB, sebelum makan dan setiap
kali setelah bekerja. Selain itu, keluarga ini disarankan untuk mengunakan air bersih dan tidak
lagi meminum air sumur yang dimasak karena sumber air tersebut sudah tercemar dalam
mengandung agen penyebab diare yaitu bakteri, virus dan parasit.
Lingkungan juga berperanan penting dalam kesehatan keluarga ini, sehingga terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan supaya lingkungan rumah keluarga ini baik bagi
meningkatkan derajat kesehatan keluarga ini. Rumah pasien tergolong tidak sehat dilihat dari sisi
penerangan, dan ventilasi yang kurang memadai serta kebersihan yang kurang pada rumah
pasien. Rumah pasien berlantaikan tanah dan hanya dilapisi dengan tikar karet. Di dalam rumah
terdapat 2 ruang tamu, 1 kamar dan 1 dapur. Pasien mengatakan yang digunakan sebagai tempat
tidur adalah ruang tamu dan kamar.Rumah pasien terutama di bagian dapur agak kotor dan tidak
sesuai untuk dijadikan tempat menyediakan makanan.Sumber minum keluarga pasien juga tidak
terjamin bersihnya karena menggunakan sumur, yang di masak. Air sumur yang digunakan
pasien juga terlihat agak keruh. Dapur masih menggunakan kayu api. Pasien juga menggunakan
air sumur untuk mencuci. Rumah pasien terdapat 1 kamar mandi, kebersihan kamar mandi
tersebut termasuk kurang. Jamban keluarga pasien memenuhi syarat jamban yang baik. Terdapat
pembuangan sistem pembuangan air limbah dan sampah di sebelah rumah pasien. Rumah pasien
terdapat pekarangan yang tidak dimanfaatkan.

22

Bab V
Penutup

Kesimpulan
Dalam epidemiologi pengertian penyebab timbulnya penyakit adalah suatu proses
interaksi antara:pejamu (host),penyebab (agent), dan lingkungan (environment).Segitiga
epidemiologi (John Gordon) menggambarkan hubungan tiga komponen penyebab penyakit
seperti penjamu, agent dan lingkungan. Sedangkan Hendrik L. Blum, menggambarkannya
sebagai hubungan antara 4 faktor yaitu keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan
kesehatan.
1,2
Diare akut merupakan masalah yang sering terjadi baik di negara berkembang maupun
negara maju. Sebagian besar bersifat self limiting sehingga hanya perlu diperhatikan keseimbangan
cairan dan elektrolit. Bila ada tanda dan gejala diare akut karena infeksi bakteri dapat diberikan terapi
antimikrobial secara empirik, yang kemudian dapat dilanjutkan dengan terapi spesifik sesuai dengan
hasil kultur. Pengobatan simtomatik dapat diberikan karena efektif dan cukup aman bila diberikan
sesuai dengan aturan. Prognosis diare akut infeksi bakteri baik, dengan morbiditas dan mortalitas
yang minimal. Dengan higiene dan sanitasi yang baik merupakan pencegahan untuk penularan diare
infeksi bakteri.









23


DAFTAR PUSTAKA

1. Ciesla WP, Guerrant RL. Infectious Diarrhea. In: Wilson WR, Drew WL, Henry NK, et al
editors. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. New York: Lange Medical
Books, 2003. 225 - 68.
2. Guerrant RL, Gilder TV, Steiner TS, et al. Practice Guidelines for the Management of
Infectious Diarrhea. Clinical Infectious Diseases 2001;32:331-51.
3. Lung E, Acute Diarrheal Disease. In: Friedman SL, McQuaid KR, Grendell JH, editors.
Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology. 2
nd
edition. New York: Lange Medical
Books, 2003. 131 - 50.
4. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Mentri Kesehatan Republik Indonesia. Available
from : http://www.depkes.go.id/downloads/SK1216-01.pdf
5. Manatsathit S, Dupont HL, Farthing MJG, et al. Guideline for the Management of acute
diarrhea in adults. Journal of Gastroenterology and Hepatology 2002;17: S54-S71.
6. Tjaniadi P, Lesmana M, Subekti D, et al. Antimicrobial Resistance of Bacterial Pathogens
Associated with Diarrheal Patiens in Indonesia. Am J Trop Med Hyg 2003; 68(6): 666-10.
7. Hendarwanto. Diare akut Karena Infeksi, Dalam: Waspadji S, Rachman AM, Lesmana LA,
dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I.
8. Edisi ketiga. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI ;1996.
451-57.
9. Soewondo ES. Penatalaksanaan diare akut akibat infeksi (Infectious Diarrhoea). Dalam :
Suharto, Hadi U, Nasronudin, editor. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini
Dalam Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi. Surabaya : Airlangga University
Press, 2002. 34 40.
10. Rani HAA. Masalah Dalam Penatalaksanaan Diare Akut pada Orang Dewasa. Dalam: Setiati
S, Alwi I, Kasjmir YI, dkk, Editor. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine
2002. Jakarta: Pusat Informasi Penerbitan Bagian Penyakit Dalam FK UI, 2002. 49-56.
11. Tatalaksana Penderita Diare. Available from : http://www.depkes.go.id/downloads/diare.pdf.

24


LAMPIRAN