Anda di halaman 1dari 150

ANALISIS METODE PENGAKUAN KEUNTUNGAN PEMBIAYAAN

MURABAHAH PADA PT BANK SYARIAH MANDIRI



SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh :
Melina Ernomo
NIM: 109082000182

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H / 2013 M
ii

ANALISIS METODE PENGAKUAN KEUNTUNGAN PEMBIAYAAN
MURABAHAH PADA PT BANK SYARIAH MANDIRI

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

Melina Ernomo
NIM: 109082000182

Di Bawah Bimbingan


Pembimbing I Pembimbing II




Prof. Dr. Ahmad Rodoni Erika Amelia, SE., M.Si
NIP. 19690203 200112 1 003 NIP. 19771109 200912 2 001



JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013


iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Selasa, 7 Mei 2013 telah dilakukan ujian komprehensif atas mahasiswi:
1. Nama : Melina Ernomo
2. NIM : 109082000182
3. Jurusan : Akuntansi
4. Judul Skripsi : Analisis Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan
Murabahah Pada PT Bank Syariah Mandiri

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang
bersangkutan selama proses ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa
mahasiswi tersebut di atas dinyatakan LULUS dan diberi kesempatan untuk
melanjutkan ke tahap Ujian Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 7 Mei 2013


iv

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Hari ini Selasa, 27 Agustus 2013 telah dilakukan Ujian Skripsi atas mahasiswi:
1. Nama : Melina Ernomo
2. NIM : 109082000182
3. Jurusan : Akuntansi
4. Judul Skripsi : Analisis Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan
Murabahah Pada PT Bank Syariah Mandiri

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang
bersangkutan selama proses ujian skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswi
tersebut di atas dinyatakan lulus dan skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 27 Agustus 2013


v

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Melina Ernomo
No. Induk Mahasiswi : 109082000182
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Jurusan : Akuntansi

Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya:
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan
mempertanggungjawabkan
2. Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli
atau tanpa ijin pemilik karya
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini

Jikalau di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah
melalui pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan di atas, maka saya siap
untuk dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Ciputat, 29 Juli 2013
Yang Menyatakan,




(Melina Ernomo)
vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Melina Ernomo
2. Tempat tanggal lahir : Jakarta, 13 Februari 1991
3. Alamat : Perumahan Graha Indah A2/16 Jatimekar
Jatiasih Bekasi 17422
4. Telepon : 0812 8157 9935
5. E-mail : melina.ernomo@gmail.com

II. PENDIDIKAN FORMAL
1. S1 Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2009-2013
2. SMA Negeri 42 Jakarta Tahun 2006-2009
3. SMP Labschool Rawamangun Jakarta Tahun 2003-2006
4. SD Islam Al-Azhar 06 Jakapermai Bekasi Tahun 1997-2003
5. TK Islam Ar-Rahman Bekasi Tahun 1995-1997

III. PENDIDIKAN NON FORMAL
1. Kursus Pajak Brevet A Tahun 2011
2. Sekolah Pasar Modal (Tingkat I) Tahun 2012

IV. LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Untung Purnomo
2. Ibu : Rosita Wardhani
3. Alamat : Perumahan Graha Indah A2/16 Jatimekar
Jatiasih Bekasi 17422





vii

V. PELATIHAN DAN SEMINAR
1. ESQ Leadership Training 2008
2. Seminar Pemberantasan Korupsi dengan KPK 2009
3. Seminar Perpajakan Indonesia dengan DitJen Pajak 2011
4. Accounting Goes to IFRS Workshop dengan IBS 2011
5. AIESEC Workshop 2012

VI. PENGALAMAN KERJA
1. Koperasi Jasa Keuangan Syariah Bhakti Pertiwi Abadi, Jakarta
Posisi : Magang sebagai Accounting Staff
Periode : Juni 2012-Juli 2012

2. Bank Indonesia, Jakarta
Posisi : Magang (Divisi Pengembangan Produk & Edukasi
Grup Penelitian, Pengembangan, dan Pengaturan
Perbankan Syariah Departemen Perbankan Syariah)
Periode : Februari 2013-Maret 2013

3. Kantor Pusat PT Bank Syariah Mandiri, Jakarta
Posisi :
Riset (Pada Accounting Division, bagian
Kebijakan Akuntansi)
Magang (Accounting Division, sebagai Staff
Akuntansi Operasional/Pembayaran)
Periode : Juni 2013 - sekarang






viii

ABSTRACT


The aim of this research is to analyze profit recognition methods that are
used on murabaha financing in PT Bank Syariah Mandiri. The analysis method
used in this research was literature review and interviews. The result of this
research showed that PT Bank Syariah Mandiri used the annuity method on profit
recognition in murabaha financing and using combination of PSAK 102, PSAK
55.

Keywords: murabaha, annuity method, PSAK 102, PSAK 55























ix

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode yang digunakan oleh
PT Bank Syariah Mandiri dalam mengakui keuntungan pembiayaan murabahah.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan
wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PT Bank Syariah Mandiri
menggunakan metode anuitas dalam mengakui keuntungan pembiayaan
murabahah dan menggunakan kombinasi PSAK 102, PSAK 55.

Kata kunci : murabahah, metode anuitas, PSAK 102, PSAK 55























x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul Analisis Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah
Pada PT Bank Syariah Mandiri dengan baik. Penyusunan skripsi ini
dimaksudkan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna mencapai gelar
Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari masih jauh dari sempurna
baik dalam proses maupun isinya. Namun berkat bantuan serta dukungan dari
berbagai pihak, Alhamdulillah skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan target
yang diharapkan.
Penulisan ini tidak dapat terselesaikan tanpa dukungan dari berbagai pihak
baik moral maupun materiil, sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan demi
terselesaikannya penulisan skripsi ini terutama kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan ridho serta rahmat-Nya sehingga skripsi
ini dapat terselesaikan.
2. Mama Rosita Wardhani yang tidak pernah letih mendoakan dan memberikan
dukungan, baik moril maupun materiil, semoga Allah SWT senantiasa
memberikan mama kesehatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
3. Almarhum Papa Untung Purnomo yang telah memberikan segala pelajaran
hidup yang tidak ternilai harganya. Skripsi ini penulis persembahkan untuk
ayahanda tercinta. Semoga Allah SWT memberikan papa kebahagiaan di
akhirat dan kelak kami dipertemukan di surga Allah SWT.
4. Segenap keluarga tercinta yang tidak pernah putus memberikan doa dan
dukungan kepada penulis, terutama Shinta Purnamasari, Rudy Ernomo,
Sulistyo Bayu Adhi, Lenny Adriaty, Destania Fatrisiany, Galan Munawar,
Tante Rina, Tante Aisyah, Om Dzulhadriansyah, Putri Gunawan, dan Mbak
Fatimah.
xi

5. Dicky Ageng. P. yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesah dan
membantu saat penulis mengalami kesulitan dalam menyelesaikan skripsi.
6. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Ibu Dr. Rini, SE, Ak, MSi, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, selaku dosen Pembimbing I skripsi, yang
telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan penulis bimbingan serta
ilmu yang bermanfaat selama penyusunan skripsi.
9. Ibu Erika Amelia, SE., M.Si, selaku dosen pembimbing II skripsi, yang telah
banyak memberikan ilmu tentang syariah kepada penulis serta membimbing
penulis selama penyusunan skripsi.
10. Ibu Rahmawati, SE., MM, yang telah memberikan penulis motivasi untuk
menyelesaikan skripsi ini.
11. Dr. Amilin, SE., Ak., M.Si, yang telah memberikan ilmu yang sangat
bermanfaat tentang metodologi penelitian.
12. Seluruh Bapak/Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah
memberikan pengetahuan yang sangat bermanfaat selama masa perkuliahan.
13. Bapak Setiawan Budi Utomo, selaku Asisten Direktur, Departemen Perbankan
Syariah, Bank Indonesia, beserta rekan-rekan kerja yang telah memberikan
penulis kesempatan untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Bank Indonesia,
serta memberikan topik penelitian untuk penulis dan ilmu yang sangat
bermanfaat tentang perbankan syariah.
14. Bapak Gadang Hernandi Santoso, selaku Kepala Cabang PT Bank Syariah
Mandiri Mataram, yang telah membantu penulis untuk melaksanakan riset dan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada Kantor Pusat PT Bank Syariah Mandiri
Jakarta.
15. Bapak Tegar Sangga Barkah, SE. Ak, selaku Kepala Bagian Kebijakan
Akuntansi PT Bank Syariah Mandiri, beserta Bapak Asrul Aminullah, SEI,
SAS., dan Ibu Winahyu Ratu Fitria, SE, selaku Staff Kebijakan Akuntansi PT
xii

Bank Syariah Mandiri yang telah mengizinkan dan membantu penulis dalam
menyelesaikan riset ini.
16. Teman-teman saat SMA yang selalu mendoakan dan mendukung penulis
(Dika, Sadam, Syasa, Astrid, Amanda, Wina, Fandry, Yuni, Nisa, Dimas,
Zakia, Yando, Jodi, Lydia, Windi, Hang, Ayie, Noven, Fitri, Anggi).
17. Teman-teman seperjuangan saat kuliah yang selalu menghibur, menemani saat
lapang maupun sempit (Fadlun Usman Al Habsyi, Meita Sagita, Nabila,
Ningga Anindiarina, Desi Riani, Erna Hadian, Vicky Amalia, Diogi Putra
Akhirra, Hanindito Tri Anggoro, Willya Randika, Heru Setiawan, Asaduddin
Wahid, Rezza Fahlevi).
18. Teman-teman akuntansi E 2009 UIN Jakarta, yang telah banyak memberikan
warna selama perkuliahan.
19. Teman-teman akuntansi 2009 UIN Jakarta yang selalu kompak.
20. Teman-teman saat PKL di Bank Indonesia (Lisa, Sela, Nung, Ridwan, Aldy,
Afifah) yang sangat memotivasi penulis dalam menulis skripsi ini.
21. Teman-teman Accounting Division PT Bank Syariah Mandiri yang telah
memberikan ilmu baru, selalu memberikan canda tawa, dan memotivasi serta
mendoakan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini (Mas Imam, Mbak Uwie,
Mas Hery, Mas Alvi, Mas Fajar, Bapak Budi, Ibu Rida, Mas Filma, Mbak
Nadia, Mas Deni, Mbak Tya, dan Mas Bayu).
22. Seluruh teman-teman lain yang memberikan semangat untuk penulis yang
tidak dapat disebutkan satu persatu.

Demikianlah beberapa pihak yang mendukung skripsi ini, terima kasih
penulis ucapkan, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, 29 Juli 2013
Penulis


Melina Ernomo
xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ............................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF .............................. iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ............................................... iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ....................... v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ vi
ABSTRACT . ..................................................................................................... viii
ABSTRAK ........................................................................................................ ix
KATA PENGANTAR ...................................................................................... x
DAFTAR ISI . xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xvi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................xviii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Perumusan Masalah ................................................................... 7
C. Tujuan dan Manfaat Peneltian .................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 9
A. Tinjauan Literatur ....................................................................... 9
1. Perbankan Syariah ................................................................ 9
a. Pengertian Bank Syariah ............................................... 9
b. Fungsi Bank Syariah ............................................. 9
c. Kegiatan Usaha Bank Syariah .. 13
2. Murabahah ........................................................................... 17
a. Pengertian Murabahah . 17
b. Ketentuan Murabahah . 18
c. Jenis-Jenis Murabahah 20
d. Rukun dan Syarat Murabahah 22
e. Metode Penentuan Harga Jual dalam Murabahah 24
xiv

f. Metode Penentuan Angsuran Pokok dan Marjin
dalam Murabahah ...27
g. Perbandingan Kredit dengan Murabahah .. 30
h. Cakupan Standar Akuntansi Murabahah ................. 32
i. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 55..43
B. Hasil Hasil Penelitian Terdahulu .......... 45
C. Kerangka Pemikiran .................................................................... 49
BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 51
A. Ruang Lingkup Penelitian .......................................................... 51
B. Metode Penelitian ........................................................... 51
1. Paradigma Penelitian .. 51
2. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data 52
a. Sumber Data ... 52
b. Teknik Pengumpulan Data ... 53
3. Instrumen Penelitian ...... 54
4. Teknik Analisis Data .. 55
a. Data Reduction 56
b. Data Display .... 56
c. Conclution Drawing atau Verification . 57
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 58
A. Gambaran Umum PT Bank Syariah Mandiri . 58
1. Sejarah Singkat . 58
2. Visi dan Misi Perusahaan.. 60
3. Dewan Komisaris . 60
4. Dewan Pengawas Syariah . 61
5. Direksi .. 61
6. Profil dan Informasi Kepemilikan Saham 61
a. Profil .. 61
b. Kepemilikan Saham 62
7. Produk dan Jasa 62
a. Pendanaan .. 62
xv

b. Pembiayaan .. 63
c. Layanan 64
8. Penghargaan 65
9. Struktur Organisasi .71
B. Kegiatan Pembiayaan Murabahah PT Bank Syariah
Mandiri ...........72
1. Persyaratan Umum .............72
2. Persyaratan Dokumen .73
3. Persyaratan Khusus .73
C. Analisis dan Pembahasan ..75
1. Angsuran Pokok dan Marjin ..76
2. Jurnal Transaksi .80
3. Perbandingan Metode Anuitas dengan Metode
Proporsional . 83
4. Standar Akuntansi .... 88
5. Jual Beli Murabahah dan Pembiayaan Murabahah 91
BAB V PENUTUP ..93
A. Kesimpulan 93
B. Implikasi 93
C. Keterbatasan ..95
D. Saran ..95
DAFTAR PUSTAKA ..97
LAMPIRAN ...101








xvi

DAFTAR TABEL

Nomor Keterangan Halaman
1.1 Komposisi Pembiayaan Pada Bank Umum Syariah
dan Unit Usaha Syariah ....... ........................................... 2
1.2 Pertumbuhan Pembiayaan Murabahah Dibandingkan
Transaksi Pembiayaan Lain .............................................. 3
2.1 Perbandingan Kredit dengan Murabahah ....................... 30
2.2 Hasil Hasil Penelitian Terdahulu ................................. 46
4.1 Daftar Penghargaan Kepada PT Bank Syariah Mandiri . 66
4.2 Persyaratan Dokumen Pembiayaan Konsumer BSM ...... 73
4.3 Skedul Angsuran Pembiayaan Konsumer BSM dengan
Metode Anuitas ................................................................... 76
4.4 Perhitungan Angsuran Pokok dan Marjin Menggunakan
Metode Anuitas 77
4.5 Sekdul Angsuran Pembiayaan Konsumer BSM dengan
Metode Proporsional ........................................................... 84
4.6 Perbandingan Perhitungan Effective Rate Menggunakan
Metode Anuitas dan Metode Proporsional ... 86
4.7 Hasil Perbandingan Metode Anuitas dengan Metode
Proporsional ....................................................................... 88











xvii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Keterangan Halaman
2.1 Murabahah Berdasarkan Pesanan ........................................... 21
2.2 Murabahah Tanpa Pesanan .................................................... 22
2.3 Skema Kerangka Pemikiran . 49
4.1 Struktur Organisasi PT Bank Syariah Mandiri Tahun 2012... 71
























xviii



DAFTAR LAMPIRAN

No. Lamp. Keterangan Halaman
I. Buletin Teknis No. 9 Ikatan Akuntan Indonesia ......................... 101
II. Fatwa DSN No. 84/DSN-MUI/XII/2012 ................................... 103
III. Surat Keterangan Riset PT Bank Syariah Mandiri ..................... 112
IV. Persyaratan Pembiayaan Konsumer BSM 113
V. Simulasi Angsuran Pembiayaan Konsumer BSM ....................... 114
VI. Surat Edaran Operasi PT Bank Syariah Mandiri ........................ 115
VII. Laporan Hasil Wawancara........................................................... 130


1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan-
kebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder, maupun
tersier. Ada kalanya masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, dalam perkembangan
perekonomian masyarakat yang semakin meningkat, muncul jasa
pembiayaan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan bank syariah dan
lembaga keuangan non bank syariah.
Indonesia merupakan negara dengan sekitar delapan puluh tujuh
persen dari 200 juta penduduknya memeluk agama Islam (Badan Pusat
Statistik dalam Laporan Tahunan Puslitbang Kehidupan Keagamaan
Indonesia, 2012:13). Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat
umum dan masyarakat muslim khususnya, terdapat keinginan untuk
melakukan transaksi utang piutang dengan prinsip syariah Islam
(Supramono, 2009:132). Hal tersebut dikarenakan Islam tidak
menghendaki riba, salah satu ayat Al-Quran yang melandasi prinsip ini
yaitu:
.....
.... Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba
(QS. Al-Baqarah: 275)

Semakin banyaknya kebutuhan akan layanan jasa perbankan yang
berprinsip syariah dan dengan dikeluarkannya UU No. 10 Tahun 1998
2

tentang perubahan undang-undang No.7 Tahun 1992 serta dikeluarkannya
Fatwa Bunga Bank Haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun
2003, banyak bank konvensional yang mendirikan biro-biro syariah
maupun pendirian bank syariah itu sendiri (Iriyadi dan Oktafiyanthi,
2007:1). Hal ini juga disebabkan karena bank syariah mampu bertahan
pada saat perbankan nasional mengalami krisis cukup parah pada tahun
1998 (Djuarni, 2011:1).
Bank syariah merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk pembiayaan atau bentuk-bentuk lainnya
berdasarkan prinsip syariah dan dalam menarik imbalan jasa berdasarkan
sistem bagi hasil. Terdapat beberapa jenis pembiayaan didalam bank
syariah, yaitu murabahah, mudharabah, musyarakah, salam, dan
istishna. Komposisi pembiayaan pada bank umum syariah dan unit usaha
syariah dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1
Komposisi Pembiayaan Pada Bank Umum Syariah dan
Unit Usaha Syariah (Milyar Rupiah)

Akad 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Mudharabah 5.578 6.205 6.597 8.631 10.229 12.023
Musyarakah 4.406 7.411 10.412 14.624 18.960 27.667
Murabahah 16.533 22.486 26.321 37.508 56.365 88.004
Salam 0 0 0 0 0 0
Istishna 351 369 423 347 326 376
Ijarah 516 765 1.305 2.341 3.839 7.345
Qardh 540 959 1.829 4.731 12.937 12.090
Lainnya 0 0 0 0 0 0
Total 27.994 38.195 46.886 68.181 102.655 147.505
Sumber: Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia
3

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pembiayaan
murabahah merupakan jenis pembiayaan dengan kontribusi terbesar dalam
komposisi pembiayaan yang diberikan oleh bank umum syariah dan unit
usaha syariah. Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan
menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati
oleh penjual dan pembeli (Widodo, 2010:19). Terkait dengan transaksi
murabahah sebagai pemberi kontribusi terbesar dalam pembiayaan, PT
Bank Syariah Mandiri merupakan salah satu bank syariah dengan jumlah
pembiayaan murabahah terbesar dibandingkan dengan pembiayaan yang
lain, meskipun jumlahnya tidak jauh berbeda dengan transaksi ijarah.
Tabel 1.2
Pertumbuhan Pembiayaan Murabahah Dibandingkan
Transaksi Pembiayaan Lain
PT Bank Syariah Mandiri

Jenis
Pembiayaan
2009 2010 2011
Piutang
murabahah
Rp 8.114.527.271.903 Rp 12.681.133.009.729 Rp 19.773.813.386.544
Piutang
Ijarah
Rp 7.822.981.065.484 Rp 12.368.814.579.379 Rp 19.336.318.545.470
Pembiayaan
mudharabah
dan
musyarakah

Rp 6.276.294.769.699

Rp 8.394.986.953.161

Rp 9.702.953.278.657
Sumber: Laporan keuangan tahunan PT Bank Syariah Mandiri
Murabahah dalam pengertiannya adalah moda jual-beli dan bukan
instrumen pembiayaan. Murabahah sebagai moda pembiayaan pada
awalnya muncul saat dipergunakan oleh Islamic Development Bank dalam
operasional usahanya pada tahun 1975 (Tariqullah Khan dalam Widodo,
4

2010:19). Meskipun banyak kritik yang diarahkan kepada praktik
murabahah di perbankan syariah, namun hal ini mengindikasikan bahwa
produk murabahah direspon secara luas (Rahmawaty, 2007:193). Pada
tataran aplikasinya, pembiayaan murabahah mengindikasikan adanya
duplikasi pinjaman atau kredit dari bank konvensional, dengan realisasi
perhitungan marjinnya mengacu ke bunga bank konvensional (Widodo,
2010:34). Hal ini diperjelas dengan adanya Fatwa No. 84/DSN-
MUI/XII/2012 yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 21 Desember 2012
mengenai metode pengakuan keuntungan tamwil bi al-murabahah. Fatwa
tersebut menyatakan bahwa pengakuan keuntungan murabahah dalam
bisnis yang dilakukan oleh para pedagang (al-tujjar) boleh dilakukan
secara proporsional (thariqah mubasyirah), yaitu telah dicantumkan dalam
Pernyataan Standar Akunntansi Keuangan (PSAK No. 102) tentang
Akuntansi Murabahah, dan anuitas (thariqah al-hisab al-
tanazuliyyah/thariqah tanaqushiyyah) selama sesuai dengan urf
(kebiasaan) yang berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah.
Selanjutnya, fatwa yang dikeluarkan oleh DSN MUI mengundang
reaksi Dewan Standar Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
untuk mengeluarkan Buletin Teknis No. 9 pada tanggal 16 Januari 2013.
Buletin teknis ini menjelaskan bahwa fatwa mengenai metode anuitas yang
dikeluarkan DSN MUI disebabkan karena pembiayaan murabahah yang
keuntungannya diakui secara anuitas didasarkan pada fakta bahwa
5

pembiayaan murabahah adalah penyediaan dana oleh lembaga keuangan
syariah yang disalurkan kepada nasabah dengan mekanisme jual-beli.
Dalam akuntansi kegiatan seperti ini secara substansi dikategorikan
sebagai kegiatan pembiayaan (financing), karena pengakuan keuntungan
dengan menggunakan metode anuitas dihitung dari outstanding pokok
pembiayaan dan bukan dari pokok pembiayaan. Menurut Widodo (2010:
44), dengan memperhatikan cara perhitungan imbalan atau return
murabahah tersebut, tampaklah secara jelas bahwa metode perhitungan
demikian telah melakukan pergeseran fondasi transaksi atau akad
murabahah yang seharusnya hakekatnya adalah jual-beli dengan objek
barang menjadi utang-piutang dengan objek uang dengan wujud yang
dinamakan pembiayaan.
Selanjutnya, buletin teknis yang dikeluarkan oleh IAI menjelaskan
bahwa akuntansi untuk pembiayaan murabahah yang substansinya
dikategorikan sebagai kegiatan pembiayaan (financing) mengacu pada
PSAK No. 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran,
PSAK No. 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian, PSAK No. 60
tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan, dan PSAK lain yang
relevan. Oleh karena itu, lembaga keuangan syariah yang menerapkan
anuitas untuk pengakuan laba transaksi pembiayaan murabahah sesuai
Fatwa DSN No.84/DSN-MUI/XII/2012 harus melakukan pengakuan,
pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pembiayaan murabahah sesuai
dengan PSAK-PSAK tersebut, termasuk akuntansi untuk penurunan nilai
6

dari pembiayaan murabahah dan pengungkapan risiko secara kualitatif
dan kuantitatif yang timbul dari pembiayaan tersebut.
Dengan fenomena di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai metode pengakuan keuntungan pembiayaan
murabahah dan pedoman PSAK yang digunakan oleh PT Bank Syariah
Mandiri dalam pencatatan akuntansinya. Keunggulan penelitian ini adalah
peneliti menganalisis metode anuitas di dalam penelitian ini dan
membandingkannya dengan metode proporsional sehingga dapat diketahui
pengakuan keuntungannya masing-masing. Berdasarkan hal tersebut,
maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul Analisis Metode
Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah Pada PT Bank
Syariah Mandiri.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan permasalahan yang
hendak diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana metode dan pencatatan akuntansi pengakuan pengakuan
keuntungan pembiayaan murabahah di PT Bank Syariah Mandiri?
2. Apakah metode tersebut telah sesuai dengan PSAK No. 102 tentang
Akuntansi Murabahah?
C. Tujuan dan Manfaat Penlitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk
menemukan bukti empiris tentang:
7

a. Metode dan pencatatan yang digunakan oleh PT Bank Syariah
Mandiri dalam mengakui keuntungan pembiayaan murabahah;
b. Kesesuaian metode yang digunakan oleh PT Bank Syariah Mandiri
dengan PSAK No. 102 tentang Akuntansi Murabahah.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi beberapa pihak, yaitu:
a. PT Bank Syariah Mandiri, penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat untuk evaluasi atas transaksi murabahah;
b. Bank Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
sebagai salah satu informasi untuk mengetahui metode yang
digunakan oleh salah satu bank syariah serta analisisnya dalam
mengakui keuntungan pembiayaan murabahah;
c. Ikatan Akuntan Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat sebagai pengembangan bidang akuntansi;
d. Mahasiswa Jurusan Akuntansi, penelitian ini bermanfaat sebagai
bahan referensi penelitian selanjutnya dan pembanding untuk
menambah ilmu pengetahuan;
e. Masyarakat, sebagai sarana informasi tentang pembiayaan
murabahah;
f. Peneliti berikutnya, sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang
akan melaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini;
8

g. Penulis, sebagai sarana untuk memperluas wawasan serta
menambah referensi mengenai perbankan, sehingga diharapkan
dapat bermanfaat bagi penulis di masa yang akan datang.




















9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Literatur
1. Perbankan Syariah
a. Pengertian Bank Syariah
Bank syariah dikenal dengan nama lain bank tanpa bunga (la
riba bank), bank Islam (Islamic bank), bank nirbunga (Nurul dan
Fitriyanti, 2010:52). Menurut Pasal 1 UU No. 21 Tahun 2008,
disebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun
dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Dilanjutkan pada Pasal 1 ayat 7 UU No. 21 Tahun 2008, bank
syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya
berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank
Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
(BPRS). Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam
kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh
lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di
bidang syariah.
b. Fungsi Bank Syariah
Berdasarkan Pasal 4 UU No. 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah, bank syariah diwajibkan untuk menjalankan
10

fungsi menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat. Di
samping itu, bank syariah juga dapat menjalankan fungsi sosial
dalam bentuk lembaga baitulmal dan menyalurkannya kepada
organisasi pengelola zakat. Bank syariah juga dapat menghimpun
dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya
kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi
wakaf (wakif).
Menurut Riza (2012:70) dalam bukunya Akuntansi Perbankan
Syariah, bank syariah dalam skema non-riba memiliki setidaknya
empat fungsi sebagai berikut:
1) Fungsi Manajer Investasi
Fungsi ini dapat dilihat dari segi penghimpunan dana oleh
bank syariah, khususnya dana mudharabah. Bank syariah
bertindak sebagai manajer investasi dari pemilik dana (shahibul
maal) dalam hal dana tersebut harus dapat disalurkan pada
penyaluran yang produktif, sehingga dana yang dihimpun dapat
menghasilkan keuntungan yang akan dibagihasilkan antara
bank syariah dan pemilik dana.
Dalam bagi hasil kepada nasabah, bank syariah
menggunakan konsep nisbah bagi hasil atau persentase
pendapatan yang diperoleh. Hal ini menyebabkan besar atau
kecilnya imbalan yang diterima oleh shahibul maal tidak hanya
ditentukan oleh besarnya porsi bagi hasil yang diterima
11

nasabah melainkan tergantung juga pada hasil penyaluran dana
yang dilakukan oleh bank syariah. Semakin baik penyaluran
dana ke arah yang produktif maka semakin besar bagi hasil
yang diterima oleh nasabah. Namun sebaliknya, apabila
penyaluran dana oleh bank syariah tidak baik maka nilai bagi
hasil yang diterima nasabah juga menjadi kecil.
2) Fungsi Investor
Dalam penyaluran dana, bank syariah berfungsi sebagai
investor (pemilik dana). Penanaman dana yang dilakukan oleh
bank syariah harus dilakukan pada sektor-sektor yang produktif
dengan risiko yang minim dan tidak melanggar ketentuan
syariah. Di samping itu, dalam menginvestasikan dananya,
bank syariah harus menggunakan produk investasi yang sesuai
dengan syariah. Produk investasi yang sesuai dengan syariah
meliputi akad jual beli (murabahah, salam, dan istishna), akad
investasi (mudharabah dan musyarakah), akad sewa-menyewa
(ijarah dan ijarah muntahiya bittamlik), dan akad lainnya yang
dibolehkan syariah.
3) Fungsi Sosial
Fungsi ini merupakan sesuatu yang melekat pada bank-
bank syariah. Ada dua instrumen yang digunakan oleh bank
syariah dalam menjalankan fungsi sosialnya, yaitu instrumen
Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) dan instrumen
12

qardhul hasan. Instrumen ZISWAF berfungsi untuk
menghimpun ZISWAF dari masyarakat, pegawai bank, serta
bank sendiri sebagai lembaga milik para investor. Instrumen
qardhul hasan berfungsi menghimpun dana dari penerimaan
yang tidak memenuhi kriteria halal serta dana infak dan
sedekah yang tidak ditentukan peruntukannya secara spesifik
oleh yang memberi.
ZISWAF yang telah dikumpulkan, selanjutnya disalurkan
kepada yang berhak dalam bentuk bantuan atau hibah untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Adapun untuk dana qardhul
hasan dapat disalurkan untuk pengadaan atau perbaikan
kualitas fasilitas sosial dan fasilitas umum masyarakat,
sumbangan atau hibah kepada yang berhak, dan pinjaman tanpa
bunga yang diprioritaskan kepada golongan ekonomi lemah.
4) Fungsi Jasa Keuangan
Fungsi jasa keuangan yang dijalankan oleh bank syariah
tidak berbeda dengan bank konvensional, seperti memberikan
layanan kliring, transfer, inkaso, pembayaran gaji, letter of
guarantee, letter of credit, dan lain sebagainya. Namun,
mekanisme untuk mendapatkan keuntungan dari transaksi
tersebut, bank syariah tetap menggunakan skema yang sesuai
dengan prinsip syariah.
13

Dengan demikian, status bank syariah selain sebagai
lembaga keuangan yang melayani jasa keuangan, tetapi juga
juga sebagai badan sosial di masyarakat. Fungsi sosial yang
dimiliki oleh bank syariah menjadi salah satu keunggulan bank
syariah dibandingkan dengan bank konvensional.
c. Kegiatan Usaha Bank Syariah
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, bank syariah
menjalankan beberapa kegiatan, yaitu:
1) Penghimpun Dana
Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), ada
dua prinsip penghimpunan dana, yaitu:
(a) Penghimpunan Dana dengan Prinsip Wadiah
Wadiah berarti titipan dari suatu pihak ke pihak lain,
baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan
dikembalikan oleh penerima titipan, kapan pun pihak yang
menitipkan menghendaki. Wadiah dibagi menjadi dua,
yaitu wadiah yad dhamanah dan wadiah yad amanah.
Wadiah yad dhamanah yaitu titipan yang selama belum
dikembalikan kepada penitip dapat dimanfaatkan oleh
penerima titipan. Adapun wadiah yad amanah adalah
penerima titipan tidak boleh memanfaatkan barang titipan
tersebut sampai pihak yang menitipkan mengambil kembali
titipannya. Prinsip wadiah yang lazim digunakan adalah
14

wadiah yad dhamanah, dapat diterapkan pada kegiatan
penghimpun dana berupa giro dan tabungan.
(b) Penghimpunan Dana dengan Prinsip Mudharabah
Mudharabah adalah perjanjian atas suatu jenis kerja
sama usaha di mana pihak pertama menyediakan dana
(shahibul maal) dan pihak kedua bertanggung jawab atas
pengelolaan usaha (mudharib). Mudharabah terbagi
menjadi tiga yaitu mudharabah muthlaqah, mudharabah
muqayyadah, dan mudharabah musyatarakah. Mudharabah
muthlaqah adalah salah satu jenis mudharabah yang
memberi kuasa kepada mudharib secara penuh untuk
menjalankan usaha tanpa batasan apapun yang berkaitan
dengan usaha tersebut. Mudharabah muqayyadah
merupakan salah satu jenis mudharabah di mana pemilik
dana memberi batasan kepada pengelola dalam pengelolaan
dana berupa jenis usaha, tempat, pemasok, maupun
konsumen. Adapun mudharabah musytarakah merupakan
bentuk mudharabah di mana pengelola dana menyertakan
modal atau dananya dalam kerjasama investasi.
2) Penyaluran Dana (Langsung dan Tidak Langsung)
Menurut Riza (2012:76) dalam penyaluran dana oleh bank
syariah, terdapat beberapa prinsip, yaitu prinsip jual beli,
prinsip investasi, dan prinsip sewa.
15

(a) Prinsip Jual Beli
Dalam melakukan jual beli, dapat digunakan tiga
skema yang meliputi jual beli dengan skema murabahah,
jual beli dengan skema salam, dan jual beli dengan skema
istishna. Jual beli dengan skema murabahah penjual
menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang
disepakati oleh penjual dan pembeli, bank syariah bertindak
sebagai penjual, sedangkan nasabah yang membutuhkan
barang bertindak sebagai pembeli. Dalam jual beli dengan
skema salam pelunasannya dilakukan terlebih dahulu oleh
pembeli sebelum barang pesanan diterima.
Adapun dalam jual beli dengan skema istishna, jual
beli didasarkan atas penugasan oleh pembeli kepada penjual
yang juga produsen untuk menyediakan barang atau suatu
produk sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan pembeli
dan menjualnya dengan harga yang disepakati.
(b) Prinsip Investasi
Dalam melakukan investasi, dapat dilakukan dengan
skema mudharabah dan skema musyarakah. Menurut
Wiyono dan Maulamin (2012:47), mudharabah adalah
persetujuan antara pemilik modal dengan seorang pekerja
untuk mengelola uang dari pemilik modal dalam
perdagangan tertentu, yang keuntungannya dibagi sesuai
16

dengan kesepakatan bersama, sedangkan kerugian yang
diderita menjadi tanggungan pemilik modal. Sedangakan
musyarakah memiliki arti secara luas sebagai akad
kerjasama atau percampuran antara dua pihak atau lebih
untuk melakukan suatu usaha tertentu yang halal dan
produktif dengan kesepakatan bahwa keuntungan akan
dibagikan sesuai dengan nisbah yang disepakati dan risiko
akan ditanggung sesuai dengan porsi kerjasama.
(c) Prinsip Sewa
Sewa secara prinsip dapat dilakukan dengan dua skema
yaitu skema ijarah dan skema ijarah muntahiya bittamlik.
Sewa dengan skema ijarah didefinisikan sebagai transaksi
perpindahan hak guna (manfaat) suatu barang dan jasa
dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah
tanpa melalui pemindahan kepemilikan. Adapun ijarah
muntahiya bittamlik merupakan kombinasi antara sewa
menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah. Dalam hal ini
pihak yang menyewakan berjanji akan menjual atau
menghibahkan barang yang disewakan pada akhir periode
sewa (Utama, 2009:46).
3) Jasa Pelayanan
Bank syariah dapat menyediakan jasa pelayanan perbankan
dengan berdasarkan akad wakalah, hawalah, kafalah, dan rahn.
17

Menurut Wiyono dan Maulamin dalam bukunya Memahami
Akuntansi Syariah di Indonesia, transaksi wakalah timbul
karena salah satu pihak memberikan suatu objek perikatan
yang berbentuk jasa atau dapat juga disebut sebagai
meminjamkan dirinya untuk melakukan sesuatu atas nama diri
pihak lain. Transaksi hawalah timbul karena salah satu pihak
meminjamkan suatu objek perikatan yang berbentuk uang
untuk mengambil alih piutang atau utang dari pihak lain.
Selanjutnya, transaksi kafalah timbul jika salah satu pihak
memberikan suatu objek yang berbentuk jaminan atas kejadian
tertentu di masa yang akan datang. Transaksi rahn timbul
karena salah satu pihak meminjamkan suatu objek perikatan
yang berbentuk uang kepada pihak lainnya yang disertai
dengan jaminan.
2. Murabahah
a. Pengertian Murabahah
Murabahah berasal dari kata Ribh yang berarti keuntungan
laba atau tambahan (Widodo, 2010:19). Murabahah didefiniskan
oleh para fuqaha sebagai penjualan barang seharga biaya atau
harga pokok (cost) barang tersebut ditambah mark up atau marjin
atau keuntungan yang disepakati. Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) No. 102 paragraf 5 tentang Murabahah
mendefinisikan murabahah sebagai akad jual beli sebesar biaya
18

perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus
mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli.
Berdasarkan definisi tersebut, murabahah merupakan transaksi jual
beli barang, di mana penjual mengungkapkan harga perolehan
kepada pembeli dan memperoleh keuntungan berdasarkan marjin
yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
b. Ketentuan Murabahah
Berikut ini adalah dalil-dalil umum dari Al-quran dan Al-
Hadis mengenai akad murabahah:
1) Al-Quran
(a) QS An-Nisa: 29


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama
suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh
dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.

(b) QS Al-Baqarah: 280

Dan jika (orang yang terutang itu) dalam kesukaran, maka
berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan
19

menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui.

(c) QS Al-Baqarah: 275

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai
kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu
adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya.

2) Al-Hadis
Beberapa dalil dari Al-Hadis adalah sebagai berikut:
(a) Dari Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama
suka. (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Majah, dan sahih menurut
Ibnu Hibban)
(b) Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga hal yang mengandung
keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah
20

(mudharabah) dan mencampur gandum dengan tepung
untuk keperluan rumah tangga bukan untuk dijual. (HR.
Ibnu Majah dari Shuhaib)
(c) Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi akan
menghapus keberkahannya. (HR. Imam Bukhari)
(d) Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang
mampu adalah suatu bentuk kezaliman. (Diriwayatkan
oleh Ash-Shahihain)
(e) Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya
di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari
kiamat dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama
ia menolong saudaranya. (HR. Imam Muslim)
(f) Allah mengasihi orang yang memberikan kemudahan bila
ia menjual dan membeli serta di dalam menagih haknya.
(Diriwayatkan dari Shahabat Abu Hurairrah
Radhiyallahuanhu)
c. Jenis-jenis Murabahah
Murabahah digolongkan menjadi dua jenis oleh Riza
(2012:145), yaitu:
1) Murabahah Berdasarkan Pesanan
Dalam murabahah jenis ini, penjual melakukan pembelian
barang setelah ada pemesanan dari pembeli. Murabahah
dengan pesanan mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk
21

membeli barang yang dipesannya. Murabahah yang bersifat
mengikat berarti pembeli harus membeli barang yang
dipesannya dan tidak dapat membatalkan pesanannya. Adapun
murabahah yang bersifat tidak mengikat bahwa walaupun telah
memesan barang tetapi pembeli tersebut tidak terikat maka
pembeli dapat menerima atau membatalkan barang tersebut.

Negosiasi dan Persyaratan
Akad


Serah terima barang
Bayar Kewajiban


Beli barang Barang dikirim
secara tunai

Gambar 2.1
Murabahah Berdasarkan Pesanan

Sumber: Riza, 2012, hlm 145

2) Murabahah Tanpa Pesanan
Murabahah ini termasuk jenis murabahah yang bersifat
tidak mengikat. Murabahah ini dilakukan tidak melihat ada
Penjual
(Bai)
Pembeli
(Musytari)
Produsen
(Supplier)
22

yang memesan atau tidak sehingga penyediaan barang
dilakukan sendiri oleh penjual.

Barang (mabi)

Akad


Cost + margin

Gambar 2.2
Murabahah Tanpa Pesanan

Sumber: Riza, 2012, hlm 146

d. Rukun dan Syarat Murabahah
Menurut Widodo (2010:25) dalam bukunya Seluk Jual Beli
Murabahah Perspektif Aplikatif, rukun murabahah dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1) Penjual (Bai)
Penjual dalam hal ini adalah Lembaga Keuangan Islam
(LKI), yaitu dapat berupa Bank Umum Syariah (BUS), Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), atau Baitul wa Tamwil
(BMT) yang disebut dengan istilah Koperasi Jasa Keuangan
Syariah (KJKS).

Penjual
(Bai)
Pembeli
(Musytari)
23

2) Pembeli (Musytari)
Pembeli dalam hal ini adalah nasabah, baik sebagai
pembeli akhir ataupun selaku pedagang. Para pihak yang
berakad dipersyaratkan harus cakap menurut hukum. Dalam
pengertian hukum syara harus sudah baligh dan dalam
kaitannya dengan hukum perdata sebagai hukum positif, yang
bersangkutan minimal harus berusia 21 tahun.
3) Barang yang Menjadi Objek Jual-Beli (Mabi)
Barang yang menjadi objek jual-beli dipersyaratkan harus
jelas dari segi sifat, jumlah, jenis yang akan diperjualbelikan
termasuk halalan thoyiban, dan tidak tergolong pada barang
yang haram atau yang mendatangkan mudharat. Selain itu, sifat
barang harus bernilai. Objek murabahah dipersyaratkan telah
menjadi milik dan dalam penguasaan penjual.
4) Harga Barang (Tsaman)
Harga barang dan keuntungan harus disebutkan secara
jelas jumlahnya dan satuan mata uangnya. Demikian juga cara
pembayarannya, yaitu secara tunai atau secara kredit (tangguh).
Jika dibayar secara kredit, waktu pembayaran dan jangka
waktunya harus jelas. Dalam konteks pembiayaan, harga jual
barang adalah batas maksimal pembiayaan yang disebut plafon
atau limit.

24

5) Kontrak atau Akad (Sighat atau Ijab-Qabul)
Dalam praktiknya, kontrak dapat dibuat secara tertulis di
bawah tangan, namun juga dapat dibuat oleh notaris.
Dibandingkan dengan perjanjian di bawah tangan, perjanjian
secara notarial adalah lebih kuat.
e. Metode Penentuan Harga Jual dalam Murabahah
Menurut Wiyono dan Maulamin (2012:135), dalam bai al-
murabahah, syariah memperbolehkan bank untuk mengambil
keuntungan atau laba atas transaksi tersebut yang disebut marjin.
Marjin adalah laba kotor atau tingkat selisih antara biaya produksi
dan harga jual di pasar (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2008:879). Dalam menentukan keuntungan ada beberapa cara,
yakni sebagai berikut:
1) Bank menentukan keuntungan dari jumlah dana yang dipinjam
oleh nasabah untuk membeli barang ke bank tersebut sebesar
yang disepakati kedua belah pihak, misalnya 20% dari pokok
pinjaman. Apabila yang ditambahkan adalah dua kali
keuntungan per tahun, maka hasilnya sama dengan 40%. Cara
seperti ini memiliki kelemahan, jika dibayar lebih dari satu
tahun maka keuntungannya ditambah sebesar keuntungan satu
tahun dikalikan dengan jumlah tahun, hal ini seolah-olah
sebagai tambahan karena meminjami yang ditentukan di muka,
sehingga mengarah kepada riba. Jika hal ini dilakukan untuk
25

menstabilkan daya beli uang yang dipinjamkan bank,
seharusnya persentase yang ditambahkan adalah sebesar
estimasi inflasi yang akan datang atau dikurangi sebesar
estimasi deflasi seandainya terjadi.
Rumus harga jual (cara pertama):

Harga jual = harga pokok aktiva murabahah
(jumlah pembiayaan) + (mark up laba x n tahun)

2) Atas dasar dana yang dipinjam oleh nasabah, bank syariah
menerapkan keuntungan transaksi misalnya 20%, jika dibayar
dalam jangka satu atau dua tahun, maka untuk menstabilkan
daya beli uang tersebut bank syariah dapat menambahkan
sejumlah dua kali inflasi dua tahun yang akan datang. Sebagai
contoh, diperkirakan inflasi 5% per tahun maka faktor
stabilizer daya beli untuk dua tahun adalah 2 x 5% = 10%. Jadi,
selama dua tahun nasabah mengangsur pokok pinjaman
ditambah keuntungan dan inflasi, yaitu 10% + 20% = 30%.
Rumus harga jual (cara kedua):

Harga jual = harga pokok aktiva murabahah
(jumlah pembiayaan) + (inflasi x n) tahun + mark up

26

3) Dalam penentuan harga jual bank, bank dapat menerapkan
metode penetapan harga jual berdasarkan cost plus mark up.
Rumus harga jual (cara ketiga):

Harga jual = harga pokok aktiva murabahah
(jumlah pembiayaan) + cost recovery + mark up

Cost recovery adalah bagian dari estimasi biaya operasi bank
syariah yang dibebankan kepada harga pokok aktiva
murabahah atau pembiayaan. Rumus perhitungan cost
recovery:

Cost recovery = (harga pokok ativa murabahah atau
pembiayaan) x estimasi biaya operasi satu tahun

Mark up atau laba ditentukan sekian persen dari harga pokok
aktiva murabahah atau pembiayaan, misalnya 10%. Untuk
menghitung marjin murabahah maka kita dapat menghitung
dengan rumus:

Marjin murabahah = (cost recovery + mark up) / harga pokok
aktiva murabahah (pembiayaan)

27


{
(

)
(

)
} Pokok Pembiayaan (k)

Menurut Muhammad dalam Anggadini (2009:190), metode
penetapan harga jual murabahah paling efisien adalah pada
metode penetapan harga jual ketiga, yaitu dengan
menambahkan cost recovery.
f. Metode Penentuan Angsuran Pokok dan Marjin dalam
Murabahah
Berdasarkan kirteria transaksi syariah yang telah ditetapkan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam Kerangka Dasar Penyajian
dan Pelaporan Keuangan (KDPPLK) bank syariah yang berlaku
mulai 1 Juni 2007, menurut Widodo (2010:37) ada beberapa
metode pricing di bawah ini yang sebagian dipraktikan oleh
Lembaga Keuangan Islam (LKI), antara lain:
1) Metode Marjin Anuitas
Metode ini merupakan modifikasi dari metode efektif. Metode
ini mengatur jumlah angsuran pokok dan marjin yang dibayar
agar sama setiap bulan. Jumlah angsuran pokok setiap bulan
akan semakin besar, sementara jumlah marjin akan semakin
kecil.
Angsuran Pokok (k) =
{
(

)
(

)
} Pokok Pembiayaan x (


Angsuran Marjin (k) =

28


{


} x Pokok Pembiayaan x (

)
Keterangan:
M: Marjin
n : Jangka waktu dalam tahun
k : Bulan cicilan ke-..
2) Metode Keuntungan Rata-Rata

Angsuran Pokok per Bulan =




Angsuran Marjin per Bulan =


Keterangan:
M: Marjin
n : Jangka waktu dalam tahun
3) Metode Effective Rate
Metode ini menghitung marjin yang harus dibayar setiap bulan
sesuai dengan saldo pokok pinjaman bulan sebelumnya.

Angsuran per bulan =

{

} (

)

Keterangan:
M: Marjin
n : Jangka waktu dalam tahun
29

4) Metode Flat Rate
Dalam metode ini, perhitungan bunga selalu menghasilkan nilai
bunga yang sama setiap bulan, karena bunga dihitung dari
persentasi bunga dikalikan pokok pinjaman awal.

Angsuran per bulan =




Keterangan:
Pokok pembiayaan : Harga Perolehan Uang Muka
MK : Marjin keuntungan
n : Jangka watu dalam tahun
5) Metode Keuntungan Menurun (Sliding Rate)
Metode keuntungan menurun atau sliding rate merupakan
kebalikan dari metode flat rate, yaitu porsi marjin dihitung
berdasarkan pokok hutang tersisa. Sehingga porsi marjin dan
pokok dalam angsuran setiap bulan akan berbeda. Dalam
metode ini, porsi marjin di masa-masa awal akan sangat besar
dalam angsuran perbulannya, sehingga pokok hutang akan
sangat sedikit berkurang. Jika hendak melakukan pelunasan
awal maka jumlah pokok hutang akan masih sangat besar
meski merasa telah membayar angsuran yang jika ditotal
jumlahnya cukup besar.

30

g. Perbandingan Kredit dengan Murabahah
Perbandingan dan perbedaan kredit pada bank konvensional
dengan pembiayaan murabahah dapat dilihat dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Perbandingan Kredit dengan Murabahah
No. Perihal Kredit Murabahah
1. Sumber hukum Hukum positif Hukum syara
terutama Al-Quran
dan Al-Hadist
2. Orientasi Keuntungan
finansial secara
sepihak (Lembaga
Keuangan
Konvensional) yang
sifatnya duniawi
Falah, berkah dan
mardho tillah,
dengan jangkauan
baik duniawi
maupun ukhrowi
3. Prinsip dasar Pinjam meminjam
uang (loan atau
lending)
Jual-beli
4. Obyek transaksi Uang (money) Barang (goods)
yang halal
5. Obyek transaksi
pembiayaan
atas barang
yang belum ada
Boleh

Tidak boleh
6. Jangka waktu
(tenor) transaksi
Berjangka pendek,
menengah, panjang
Berjangka pendek
dan menengah
7. Esensi Loan plus interest Cost plus margin
8. Pengertian Pinjam-meminjam
uang yang
pemberian dan
pelunasannya
dipisahkan oleh
waktu dengan
imbalan, yang
berwujud bunga
Jual-beli yang
mewajibkan
penjual
menyampaikan
harga pokok
barang kepada
pembeli ditambah
keuntungan yang
besarnya sesuai
dengan
kesepakatan para
pihak terkait
(penjual dan
pembeli)
Bersambung ke halaman selanjutnya
31

Lanjutan halaman sebelumnya
No. Perihal Kredit Murabahah
9. Imbalan (dasar) Penundaan waktu Bukan penundaan
waktu
10. Imbalan
(wujud)
Bunga Marjin
11. Imbalan
(kaitannya
dengan index)
Terkait Tidak boleh terkait
12. Imbalan
(rumusan
matematis)
Pelunasan =
Pokok + Bunga
Harga jual = Harga
pokok + Marjin
13. Imbalan (sifat) Floating rate
Penentunya adalah
LKK
Fixed rate
Penentunya para
pihak
14. Imbalan
(potongan atau
diskon)
Berlaku otomatis
dan pasti
Hak prerogatif
penjual
15. Imbalan
(berlakunya
potongan atau
diskon)
Sebatas jangka
waktu riil kredit
Nominal marjin
tidak terkait waktu
16. Imbalan
(kaitannya
dengan time
value of money)
Otomatis dan
fungsional (pasti
berlaku)
Tidak berlaku
17. Cara
pembayaran
Angsuran atau
cicilan
Tunai, angsuran
atau cicilan
18. Penggunaan
atau aplikasi
transaksi
Produktif dan
konsumtif
Produktif dan
konsumtif
19. Manfaat
pembiayaan
Modal kerja dan
investasi (jangka
panjang)
Modal kerja dan
konsumtif
20. Sifat aplikasi
kredit dan
pembiayaan
murabahah
Terdapat bentangan
waktu antara
realisasi dan
pelunasan
Terdapat
bentangan waktu
antara realisasi dan
pelunasan
21. Tujuan
pembiayaan
kredit atau
murabahah
Pembiayaan untuk
segala hal
Penggunaan modal
pembiayaan Islami
yang ideal, yaitu
mudharabah dan
musyarakah
Bersambung ke halaman selanjutnya
32

Lanjutan halaman sebelumnya
No. Perihal Kredit Murabahah
22. Keterlambatan
angsuran atau
pelunasan
Dikenakan denda Dalam Islam tidak
ada denda yang
bersifat
menghukum
23. Denda
(perlakuan
secara
akuntansi)
Diakui sebagai
pendapatan legal
LKK
Dibukukan ke
rekening Dana
Sosial yang akan
disalurkan untuk
kemaslahatan umat
(tidak terbatas pada
kalangan muslim
saja)
24. Kesimpulan Lending =/=
Murabahah
Murabahah =/=
Lending
Sumber: Widodo, 2010, hlm 113-115
h. Cakupan Standar Akuntansi Murabahah
Standar akuntansi tentang jual beli murabahah mengacu pada
Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang
Akuntansi Murabahah yang mulai berlaku secara efektif per 1
Januari 2008. PSAK No. 102 menggantikan PSAK No. 59 yang
menyangkut tentang pengakuan, pengukuran, penyajian, dan
pengungkapan murabahah. Menurut PSAK No. 102, cakupan
ketentuan akuntansi yang diatur dalam akuntansi murabahah dapat
diterapkan untuk lembaga keuangan syariah dan koperasi syariah
yang melakukan transaksi murabahah baik sebagai penjual
maupun pembeli.
Pengakuan dan Pengukuran
Pengakuan dan pengukuran murabahah telah diatur oleh PSAK
No. 102 (2007) sebagai berikut:
33

1) Pada saat perolehan, aset murabahah diakui sebagai persediaan
sebesar biaya perolehan. Dalam transaksi ini entitas syariah
akan mencatat, yakni sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Persediaan murabahah Rp xx
Kas Rp xx

2) Pengukuran persediaan murabahah setelah perolehan terbagi
dua, yaitu aktiva tersedia untuk dijual dalam murabahah
pesanan mengikat dan pesanan tidak mengikat. Adapun
pengukuran untuk aktiva tersedia untuk dijual dalam
murabahah pesanan mengikat adalah sebagai berikut:
(a) Dinilai sebesar biaya perolehan, dan
(b) Jika terjadi penurunan nilai aktiva karena usang, rusak, atau
kondisi lainnya, penurunan nilai tersebut diakui sebagai
beban dan mengurangi nilai aset. Dalam hal terjadi
penurunan nilai, maka akan dicatat yakni sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Beban penurunan nilai Rp xx
Persediaan murabahah Rp xx

Kerugian penurunan dilaporkan di laporan laba rugi sebagai
beban lain-lain dan persediaan murabahah akan berkurang
sebesar nilai kerugian tersebut.
34

Apabila dalam murabahah tanpa pesanan atau murabahah
pesanan tidak mengikat maka pengukurannya adalah
sebagai berikut:
(a) Dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang
dapat direalisasikan, mana yang lebih rendah, dan
(b) Jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari
biaya perolehan maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
Dalam hal ini entitas akan mencatat pengakuan kerugian,
yakni sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Kerugian penurunan nilai
persediaan murabahah
Rp xx
Cadangan penurunan nilai
persediaan murabahah
Rp xx


3) Diskon atau potongan pembelian dari pemasok diakui sebagai:
(a) Pengurang biaya perolehan aset murabahah, jika terjadi
sebelum akad murabahah;
(b) kewajiban kepada pembeli, jika terjadi setelah akad
murabahah dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak
pembeli;
(c) tambahan keuntungan murabahah, jika terjadi setelah akad
murabahah dan sesuai akad menjadi hak penjual;
(d) pendapatan operasi lain, jika setelah akad murabahah dan
tidak diperjanjikan dalam akad.
35

4) Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar
biaya perolehan aset murabahah ditambah keuntungan yang
disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan piutang
murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi,
yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan piutang. Pada waktu
akad, bank syariah akan mencatat sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Kas / Piutang murabahah Rp xx
Persediaan murabahah Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx

5) Keuntungan murabahah diakui:
(a) Pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan
secara tunai atau secara tangguh yang tidak melebihi satu
tahun; atau
(b) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya
untuk merealisasikan keuntungan tersebut untuk transaksi
tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini
digunakan dan dipilih sesuai dengan karakteristik risiko dan
upaya transaksi murabahah nya:
(i) Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah.
Metode ini penerapan untuk murabahah tangguh
dimana risiko penagihan kas dari piutang murabahah
dan beban pengelolaan piutang serta penagihannya
36

relatif kecil. Untuk itu, keuntungan akan dicatat dalam
jurnal sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Piutang murabahah Rp xx
Persediaan murabahah Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx

(ii) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas
yang berhasil ditagih dari piutang murabahah. Metode
ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh dimana
risiko piutang tak tertagih relatif besar dan atau beban
untuk mengelola dan menagih piutang tersebut relatif
besar juga. Untuk itu, jurnal yang harus dibuat saat
penyerahan aset murabahah adalah sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Piutang murabahah Rp xx
Persediaan murabahah Rp xx
Marjin murabahah tangguhan Rp xx

Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah dan
mengakui keuntungan murabahah secara proporsional
dengan kas yang diterimanya:
Nama Akun Debit Kredit
Kas Rp xx
Marjin murabahah tangguhan Rp xx
Piutang murabahah Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx

37

(iii) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah
berhasil ditagih. Metode ini terapan untuk transaksi
murabahah tangguh dimana risiko piutang tidak
tertagih dan beban pengelolaan piutang serta
penagihannya cukup besar. Dalam praktiknya metode
ini jarang digunakan, karena transaksi murabahah
tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada kepastian
yang memadai akan penagihan kasnya. Untuk metode
ini, jurnal yang harus dibuat pada saat penyerahan
aset adalah sebagai berikut:
Nama Akun Debit Kredit
Piutang murabahah Rp xx
Persediaan murabahah Rp xx
Marjin murabahah tangguhan Rp xx

Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah
secara keseluruhan dan mengakui keuntungan
murabahah:
Nama Akun Debit Kredit
Kas Rp xx
Marjin murabahah tangguhan Rp xx
Piutang murabahah Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx

6) Potongan pelunasan piutang murabahah yang diberikan kepada
pembeli yang melunasi secara tepat waktu atau lebih cepat dari
38

waktu yang disepakati diakui sebagai pengurang keuntungan
murabahah.
7) Potongan angsuran murabahah diakui sebagai berikut:
(a) Jika disebabkan oleh pembeli yang membayar secara tepat
waktu, maka diakui sebagai pengurang keuntungan
murabahah. Jurnal yang harus dibuat yakni:
(i) Pada saat pengakuan keuntungan murabahah:
Nama Akun Debit Kredit
Marjin murabahah tangguhan Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx

(ii) Pada saat menerima pelunasan dan mengakui potongan
angsuran sebagai pengurang keuntungan murabahah:
Nama Akun Debit Kredit
Kas Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx
Piutang murabahah Rp xx

(b) Jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran
pembeli, maka diakui sebagai beban.
Untuk potongan pelunasan dini, entitas akan mencatat
pengakuan pada saat penyelesaian dengan jurnal, yakni:
(a) Pada saat pengakuan keuntungan murabahah:
Nama Akun Debit Kredit
Marjin murabahah tangguhan Rp xx
Pendapatan marjin murabahah Rp xx


39

(b) Pada saat menerima pelunasan:
Nama Akun Debit Kredit
Kas / Rekening nasabah Rp xx
Beban lain-lain potongan
angsuran murabahah
Rp xx
Piutang murabahah Rp xx

8) Denda dikenakan apabila pembeli lalai dalam melakukan
kewajibannya sesuai dengan akad dan denda yang diterima
diakui sebagai bagian dana kebajikan (qardhul hasan). Pada
saat diterima denda diakui sebagai bagian dana sosial dan pada
saat menerima denda entitas akan mengakui adanya
penambahan sumber dana kebajikan. Jurnal yang dibuat untuk
mencatat denda:
Nama Akun Debit Kredit
Kas / Rekening pembeli Rp xx
Rekening simpanan wadiah
dana kebajikan (qardhul hasan)
Rp xx

9) Uang muka (urbun)
Pengakuan dan pengukuran uang muka adalah sebagai berikut:
(a) Uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar
jumlah yang diterima;
(b) jika barang dibeli oleh pembeli, maka uang muka diakui
sebagai pembayaran piutang (merupakan bagian pokok);
40

(c) jika barang batal dibeli oleh pembeli, maka uang muka
dikembalikan kepada pembeli setelah diperhitungkan
dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh penjual.
Atas uang muka tersebut di atas, penjual akan membuat
pencatatan, yakni:
(a) Pada saat menerima uang muka, jurnal yang dibuat:
Nama Akun Debit Kredit
Kas / Rekening pembeli Rp xx
Kewajiban lain uang muka
murabahah
Rp xx

(b) Pada saat barang dibeli oleh pembeli, jurnal yang dibuat:
Nama Akun Debit Kredit
Piutang murabahah Rp xx
Marjin murabahah tangguhan Rp xx
Persediaan murabahah Rp xx
Kewajiban lain uang muka
murabahah
Rp xx
Piutang murabahah Rp xx

(c) Jika pembeli batal membeli barang maka penjual akan
mencatat pengembalian uang muka setelah dipotong biaya
administrasi, jurnal yang dibuat:
Nama Akun Debit Kredit
Kewajiban lain uang muka
murabahah
Rp xx
Pendapatan lain-lain Rp xx
Kas / Rekening pembeli Rp xx


41

Uang muka murabahah diakui sebagai bagian dari kewajiban atau
utang di neraca, apabila sudah terjadi akad murabahah maka utang
tersebut akan menjadi nol dan piutang murabahah akan dikurangi
sebesar uang muka tersebut.
Penyajian
Penyajian transaksi murabahah di laporan keuangan bergantung
pada rekening yang terpengaruh oleh transaksi murbahah. Berikut
adalah penyajian rekening-rekening yang berkaitan dengan
transaksi murabahah:
1) Piutang Murabahah
Piutang murabahah disajikan di neraca pada bagian aset
dengan nama rekening piutang murabahah. Berdasarkan PSAK
No. 102, piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang
dapat direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi
penyisihan kerugian piutang.
2) Keuntungan Murabahah Tangguhan
Keuntungan murabahah tangguhan disajikan di neraca pada
bagian aset dengan nama keuntungan murabahah tangguhan
sebagai pengurang (contra account) piutang murabahah.
Piutang murabahah belum jatuh tempo terdiri atas piutang
murabahah lancer. Adapun piutang murabahah jatuh tempo
terdiri atas piutang murabahah dalam perlakuan khusus,
42

piutang murabahah kurang lancer, piutang murabahah
diragukan, dan piutang murabahah macet.
3) Aset Murabahah
Rekening ini disajikan di neraca pada bagian aset. Namun
demikian, dikarenakan setelah melakukan transaksi pembelian
pihak bank syariah melakukan penyerahan aset murabahah
kepada pembeli, maka rekening ini biasanya memiliki saldo
nol. Bank mendebit dan mengkredit rekening aset murabahah
secara bersamaan dengan jumlah yang sama.
4) Keuntungan Murabahah
Rekening ini disajikan di laporan laba rugi pada bagian
pendapatan dengan nama rekening keuntungan murabahah.
Rekening keuntungan murabahah merupakan gabungan total
saldo murabahah akrual dan total saldo murabahah kas. Bank
syariah pada umumnya menyampaikan laporan bagi hasil
tahunan maupun secara bulanan kepada nasabah.
Pengungkapan
Berdasarkan PSAK No. 102, bank syariah sebagai penjual harus
mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah,
tetapi tidak terbatas pada:
1) Harga perolehan aset murabahah;
2) janji pemesanan murabahah berdasarkan pesanan sebagai
kewajiban atau bukan;
43

3) pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang
Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
i. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 55
Buletin Teknis No. 9 yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia pada tanggal 16 Januari 2013 menyebutkan bahwa
lembaga keuangan syariah yang menerapkan anuitas untuk
pengakuan laba transaksi pembiayaan murabahah sesuai Fatwa
DSN No. 84/DSN-MUI/XII/2012 harus melakukan pengakuan dan
pengukuran sesuai dengan ketentuan pada PSAK No. 55, termasuk
akuntansi untuk penurunan nilai dari pembiayaan murabahah.
Pengakuan dan pengukuran ini terdapat dalam paragraf 17 sampai
paragraph 20 tentang Suku Bunga Efektif, yaitu:
1) Entitas harus memasukkan kerugian kredit yang terjadi dalam
estimasi arus kas ketika menghitung suku bunga efektif
(Paragraf 17).
2) Apabila entitas menerapkan metode suku bunga efektif, maka
entitas tersebut mengamortisasi setiap fee, poin yang
dibayarkan atau diterima, biaya transaksi, dan premium atau
diskonto lainnya yang termasuk dalam perhitungan suku bunga
efektif selama perkiraan umur instrumen tersebut (Paragraf 18).
3) Untuk aset keuangan dan liabilitas keuangan dengan suku
bunga mengambang, estimasi ulang yang dilakukan secara
berkala atas arus kas guna mencerminkan pergerakan suku
44

bunga pasar akan memengaruhi suku bunga efektifnya
(Paragraf 19).
4) Jika entitas merevisi estimasi pembayaran atau penerimaannya,
maka entitas menyesuaikan nilai tercatat aset keuangan atau
liabilitas keuangan (atau kelompok instrumen keuangan) untuk
mencerminkan arus kas aktual dan arus kas estimasi yang telah
direvisi. Entitas menghitung kembali nilai tercatat dengan
menghitung nilai kini dari estimasi arus kas masa depan
menggunakan suku bunga efektif awal dari instrumen keuangan
tersebut. Penyesuaian ini diakui sebagai pendapatan atau beban
dalam laba rugi (Paragraf 20).
Dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (2008:170)
yang dikutip oleh Febriati (2013:210), Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai (CKPN) adalah cadangan yang wajib dibentuk
bank jika terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai atas aset
keuangan atau kelompok aset keuangan sebagai akibat dari satu
atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal aset
tersebut (peristiwa yang merugikan) dan berdampak pada estimasi
arus kas masa depan. Jumlah cadangan kerugian diukur sebagai
selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini estimasi
arus kas masa depan yang didiskonto menggunakan suku bunga
efektif awal dari aset keuangan.
45

Ketentuan PSAK No. 55 mengenai pengakuan cadangan
kerugian penurunan nilai terdapat pada paragraf 102, yaitu proses
estimasi terhadap jumlah kerugian penurunan nilai dapat
menghasilkan satu nilai atau kisaran (range) nilai kerugian yang
mungkin terjadi. Dalam hal yang terakhir, entitas harus mengakui
kerugian akibat penurunan nilai sebesar estimasi terbaik dalam
kisaran tersebut dengan mempertimbangkan seluruh informasi
relevan yang tersedia sebelum laporan keuangan diterbitkan
mengenai kondisi yang terjadi pada tanggal neraca. Ketentuan
PSAK No. 55 mengenai pengukuran cadangan kerugian penurunan
nilai terdapat pada paragraf 65 yang meingindikasikan bahwa
kerugian penurunan nilai dapat dikatakan telah terjadi jika terdapat
bukti objektif penurunan nilai, yaitu jumlah kerugian penurunan
nilai untuk pinjaman yang diukur pada biaya perolehan
diamortisasi adalah selisih antara nilai tercatat pinjaman dengan
nilai kini pembayaran pokok pinjaman dan bunga di masa datang
yang didiskonto pada suku bunga efektif awal pinjaman tersebut.
B. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Adapun hasil-hasil sebelumnya dari penelitian-penelitian terdahulu
mengenai topik yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat dalam
Tabel 2.2.
46


Tabel 2.2
Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

No. Nama Peneliti Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
1. Anita
Rahmawaty
(2007)
Ekonomi Syariah:
Tinjauan Kritis
Produk
Murabahah
dalam Perbankan
Syariah di
Indonesia
Penelitian tentang
murabahah dan dilakukan
dengan studi literatur
Objek penelitian, tidak
dilakukan dengan studi
kasus pada perbankan
syariah secara langsung
Perlu adanya perbaikan dalam
pelaksanaan murabahah karena
konsep jual-beli murabahah
bergeser menjadi konsep
peminjaman uang (loan)
2. Abdul
Shomad
(2009)
Bay; Al-
Murabahah
(Deffered
Payment Sale) di
Lingkungan Bank
Syariah
Penelitian tentang
murabahah dan dilakukan
dengan studi literatur
Objek penelitian, tidak
dilakukan dengan studi
kasus pada perbankan
syariah secara langsung
Praktik murabahah di
lingkungan syariah bertindak
seperti meminjamkan uang.
Bukan seperti jual-beli
3. Sri Dewi
Anggadini
(2009)
Penerapan Margin
Pembiayaan
Murabahah Pada
BMT As-Salam
Pacet Cianjur
Penelitian tentang
murabahah dan dilakukan
dengan studi literature
dan studi kasus
Objek penelitian,
dilakukan di BMT As-
Salam Pacet Cianjur
Metode penetapan marjin yang
ideal untuk digunakan adalah
metode mark-up pricing
Bersambung ke halaman selanjutnya


47

Lanjutan halaman sebelumnya
No. Nama Peneliti Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
4. Edib Smolo
(2010)
Al-Bay Bithaman
Ajil (BBA) as
Practiced in
Malaysia: A
Critical Review
Penelitian dilakukan
dengan studi literatur dan
studi kasus
Objek penelitian,
dilakukan di Malaysia
Penggunaan kontrak BBA secara
ekstensif dan ketergantungan
bank syariah pada mode
pembiayaan berbasis utang akan
menimbulkan konvergensi bank
syariah menjadi bank
konvensional yang berbasis
bunga
5. Kurneawati
(2011)
Analisis
Perlakuan
Akuntansi
Piutang
Murabahah Pada
PT. Bank Rakyat
Indonesia KCI
Gubeng Surabaya
Penelitian tentang
murabahah dan dilakukan
dengan studi literatur,
studi kasus
Objek penelitian,
dilakukan pada PT. Bank
BRI KCI Gubeng
Suarabaya
BRI Syariah memberi kuasa
kepada nasabah untuk membeli
barang, maka dibukukan dalam
perkiraan piutang wakalah
sebesar uang yang diserahkan
kepada nasabah, sedangkan
apabila barangnya telah ada dan
telah diserahkan kepada nasabah,
baru dibukukan dalam perkiraan
piutang murabahah
6. Ekaputri
Ciptani
Febriati
(2013)
Analisis
Penerapan PSAK
55 Atas Cadangan
Kerugian
Penurunan Nilai
Penelitian dilakukan
dengan studi literatur dan
studi kasus
Tidak terdapat variabel
murabahah. Objek
penelitian, dilakukan pada
PT Bank BRI.
Proses pengakuan CKPN oleh
PT. Bank Rakyat Indonesia. Tbk
dicatat pada biaya perolehan
diamortisasi diukur
menggunakan suku bunga efektif
awal instrumen, serta
mempertimbangkan seluruh
eksposur pinjaman yang
Bersambung ke halaman selanjutnya
48



Lanjutan halaman sebelumnya
No. Nama Peneliti Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
diberikan, bukan hanya yang
berkualitas rendah dalam proses
estimasi terhadap penurunan
nilai. Sedangkan pada proses
pengukuran CKPN oleh PT.
Bank Rakyat Indonesia. Tbk,
aset keuangan dievaluasi secara
kolektif diukur berdasarkan
kerugian historis yang pernah
dialami perusahaan, yaitu
membandingkan tingkat
kerugian historis aset keuangan
tersebut dengan tingkat kerugian
historis dengan aset serupa yang
telah diobservasi.
Sumber: Diolah dari berbagai referensi
49

Metode proporsional Metode Anuitas
PSAK 102 PSAK 55
Studi kasus pada PT Bank Syariah Mandiri

C. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam
Gambar 2.3.

Metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah
(Fatwa No. 84/DSN-MUI/XII/2012 dan Buletin Teknis IAI No. 9)





Mengacu pada Mengacu pada










Bagaimana metode pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah yang
dilakukan PT Bank Syariah Mandiri?



Bersambung ke halaman selanjutnya
50


Lanjutan halaman sebelumnya




Hasil dan Pembahasan




Kesimpulan, Implikasi, Keterbatasan dan Saran


Gambar 2.3
Skema Kerangka Pemikiran















51

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Objek penelitian dilakukan pada PT Bank Syariah Mandiri, yang
berlokasi di Wisma Mandiri I Jl. MH. Thamrin No. 5 Jakarta 10340,
Indonesia pada tanggal 4 Juni 2013 s.d. 10 Juli 2013. Ruang lingkup
penelitian ini hanya mencakup atas transaksi pembiayaan murabahah yang
dilakukan oleh PT Bank Syariah Mandiri.
B. Metode Penelitian
1. Paradigma Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan
pendekatan fenomenologi dan studi kasus. Jenis penelitian ini
merupakan penelitian kualitatif. Metodologi kualitatif adalah salah satu
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan
atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati (Bodgan dan
Biklen dalam Basrowi dan Suwandi, 2008:2). Metode kualitatif
berusaha mengungkap berbagai keunikan yang terdapat dalam
individu, kelompok, masyarakat atau organisasi dalam kehidupan
sehari-hari secara menyeluruh, rinci, dalam, dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Miles dan Huberman dalam
Basrowi dan Suwandi, 2008:22)


52

2. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
a. Sumber Data
Sumber data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data
primer, yakni data yang diperoleh langsung dari informan yang
bersangkutan. Menurut Wangsa dan Ming Kuan (2011:12), Data
primer adalah data utama yang penulis peroleh dari pihak-pihak
yang bersangkutan pada perusahaan yang menjadi objek
penelitian.
Menurut Supranto dalam Farola (2005:7), Data primer
merupakan jenis data yang terhimpun dari langganan atau objek
yang diteliti dan diolah untuk pertama kalinya yang dalam konteks
ini data tersebut dikumpulkan sendiri oleh peneliti. Sedangkan
menurut Jogiyanto dalam Kwang En dan Dorothy (2011:18), Data
primer adalah data yang diperoleh melalui penelitian lapangan
secara langsung dari obyek yang diteliti.
Selain data primer, data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh
dari studi literatur, dengan mempelajari buku-buku serta majalah
dan sumber lain yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data
ini mendukung keakuratan dan kebenaran data primer (Jogiyanto
dalam Kwang En dan Dorothy, 2011:18).


53

b. Teknik Pengumpulan Data
Setelah penentuan sumber data dilakukan, maka selanjutnya
dilakukan teknik pengumpulan data. Dalam penelitian ini teknik
pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Wawancara
Wawancara merupakan percakapan dengan maksud
tertentu oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
sebagai pengaju atau pemberi pertanyaan dan yang
diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas itu
(Basrowi dan Suwandi, 2008:127). Teknik wawancara yang
digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara
mendalam. Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah
proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan
cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau
tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana
pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial
yang relatif lama (Saeful, 2009:6). Wawancara yang diterapkan
oleh peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara tak
terstruktur karena peneliti ingin mengetahui perspektif
partisipan mengenai metode keuntungan pembiayaan
murabahah di PT Bank Syariah Mandiri. Menurut Basrowi dan
Suwandi, wawancara tak terstruktur dilakukan apabila
54

pewawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih
mendalam pada seseorang dengan subjek tertentu.
2) Studi Literatur
Peneliti melakukan penelitian dengan cara mengumpulkan
dan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan
akuntansi perbankan syariah terutama mengenai pembiayaan
murabahah dan peraturan-peraturan pemerintah yang berkaitan
dengan hal tersebut.
3. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, menurut Sugiyono dalam Abdul
(2008:1), peneliti adalah key instrument atau alat peneliti utama.
Dalam penelitian kualitatif ini yang menjadi instrumen utama
penelitian adalah peneliti itu sendiri. Kategori instrumen yang baik
dalam penelitian kualitatif adalah instrumen yang memiliki
pemahaman yang baik dalam metodologi penelitian, penguasaan
wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan untuk memasuki
objek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Hal ini
dilakukan agar instrumen mampu menetapkan fokus penelitian,
memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data,
menilai kualitas data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas
temuannya.
Peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian akan menjadi
pihak yang terjun langsung ke lapangan serta harus berinteraksi
55

dengan orang-orang yang berkaitan langsung dengan tujuan dari
penelitian ini, dan pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan
menggunakan catatan lapangan berupa catatan tertulis juga alat
perekam atau tape recorder.
Dari sumber-sumber data terkait yang telah diuraikan pada sumber
data penelitian, diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai
metode keuntungan pembiayaan murabahah dan perlakuan
akuntansinya. Data-data yang diperoleh dari sumber data terkait,
selanjutnya akan dilakukan pencatatan ke dalam catatan lapangan
melalui media-media pendukung seperti tape recorder dan sebagainya.
4. Teknik Analisis Data
Sejumlah data tidak beraturan yang telah diperoleh oleh peneliti,
selanjutnya dapat diolah menajdi kumpulan data yang tersusun rapi.
Proses yang bermula dari pengumpulan data kemudian pengolahan
data inilah yang disebut sebagai penelitian induktif (Sundusiah,
2010:6). Menurut Mc. Millan dan Schumacher dalam Sundusiah
(2010:6), Inductive analysis means that categories and patterns
emerge from the data rather than being imposed on data prior to data
collection. Artinya, dalam penelitian induktif, data kategori yang
diperoleh ditemukan setelah dilakukan pengumpulan data terlebih
dahulu. Oleh karena itu, analisis data kualitatif merupakan proses
penelitian yang sistematis, karena dimulai dari pengumpulan data,
56

pemilihan data, pengkategorian, pembandingan, penyatuan, dan
penafsiran data.
Adapun aktivitas dalam analisis data yang peneliti lakukan adalah
sebagai berikut:
a. Data Reduction
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak,
untuk itu, maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti yang
telah dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka
jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu
perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.
Mereduksi data berarti, merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan
gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk
melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila
diperlukan.
b. Data Display
Setelah data direduksi, maka langkah berikutnya adalah
menyajikan data. Miles dan Huberman menyatakan bahwa yang
paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian
kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif, namun Miles
dan Huberman juga menyarankan selain melakukan display data
57

dengan teks yang bersifat naratif, dapat juga dengan grafik,
matriks, network dan chart.
c. Conclution Drawing atau Verification
Langkah ketiga dalam analisis kualitatif adalah penarikan
kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan
masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan
bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan
data berikutnya. Akan tetapi apabila kesimpulan yang
dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang
valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan
merupakan kesimpulan yang kredibel. Dengan demikian
kesimpulan dalam kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan
masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak,
karena seperti yang telah dikemukakan bahwa masalah dan
rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat
sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di
lapangan.





58

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum PT Bank Syariah Mandiri
1. Sejarah Singkat
Bank Syariah Mandiri (BSM) sejak tahun 1999, sesungguhnya
merupakan hikmah dari krisis yang menerpa negara ini. Sebagaimana
kita ketahui, krisis ekonomi dan moneter sejak Juli 1997, disusul
dengan krisis politik nasional, telah menimbulkan dampak negatif
yang sangat hebat terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat, tidak
terkecuali dunia usaha. Dalam kondisi tersebut, industri perbankan di
Indonesia yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami
krisis luar biasa. Pemerintah Indonesia akhirnya mengambil tindakan
dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di
Indonesia.
PT Bank Susila Bakti (BSB) yang dimiliki Yayasan Kesejahteraan
Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi
juga terkena dampak krisis. BSB berusaha keluar dari situasi tersebut
dengan melakukan upaya merger dengan beberapa bank lain serta
mengundang investor asing. Pada saat bersamaan, pemerintah tengah
melakukan merger empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi
Daya, Bank Exim, dan Bapindo) ke dalam PT Bank Mandiri (Persero)
pada tanggal 31 Juli 1999. Akibat dari merger keempat bank ke dalam
59

Bank Mandiri, PT Bank Mandiri (Persero) menjadi pemilik mayoritas
baru BSB.
Dalam proses merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi
dengan membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah.
Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan pelayanan
perbankan syariah di grup Bank Mandiri, sebagai respon atas
diberlakukannya UU No. 10 Tahun 1998, yang memberi peluang bank
umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking systems).
Dalam kondisi seperti itulah, Tim Pengembangan Perbankan
Syariah menemukan momentum yang tepat untuk melakukan konversi
PT Susila Bakti dari konvensional menjadi bank syariah. Setelah Tim
Pengembangan Perbankan Syariah mempersiapkan sistem dan
infrastrukturnya, maka kegiatan usaha BSB berubah dari bank
konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip
syariah dengan PT Bank Syariah Mandiri sebagaimana tercantum
dalam Akta Notaris: Sutjipto, SH, No. 23 tanggal 8 September 1999.
Kemudian Gubernur Bank Indonesia mengukuhkan perubahan
kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah melalui SK Gubernur
BI No. 1/24/KEP.BI/1999, 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui
Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No.
1/1/KEP.DGS/1999, Bank Indonesia menyetujui perubahan nama
menjadi PT Bank Syariah Mandiri.
60

Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999
merupakan hari pertama beroperasinya PT Bank Syariah Mandiri.
Bank ini hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha
dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara
idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu
keunggulan Bank Syariah Mandiri dengan kiprahnya di perbankan
Indonesia.
2. Visi dan Misi Perusahaan
Visi:
Menjadi bank syariah terpercaya pilihan mitra usaha.
Misi:
a. Mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang
berkesinambungan;
b. Mengutamakan penghimpunan dana konsumer dan penyaluran
pembiayaan pada segmen UMKM;
c. Merekrut dan mengembangkan pegawai profesional dalam
lingkungan kerja yang sehat;
d. Mengembangkan nilai-nilai syariah universal;
e. Menyelenggarakan operasional bank sesuai standar perbankan
yang sehat.
3. Dewan Komisaris
Komisaris Utama dan Komisaris Independen : Achmad Marzuki
Komisaris Independen : Ramzi A. Zuhdi
61

BambangWidianto
Komisaris : Agus Fuad
Sulaeman
4. Dewan Pengawas Syariah
Ketua : Prof. Dr. Komarudin Hidayat, MA
Anggota : Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec.
Drs. H. Mohamad Hidayat, MBA., MH.
5. Direksi
Direktur Utama : Yuslam Fauzi
Direktur : Hanawijaya
Amran Nasution
Zainal Fanani
Sugiharto
Achmad Syamsudin
6. Profil dan Informasi Kepemilikan Saham
a. Profil
Nama : PT Bank Syariah Mandiri
Alamat : Wisma Mandiri I
Jl. MH Thamrin No. 5 Jakarta 10340
Telepon : (62-21) 2300 509, 3983 9000 (hunting)
Faksimili : (62-21) 3983 2989
Homepage : www.syariahmandiri.co.id
Tanggal Berdiri : 25 Oktober 1999
62

Tanggal Beroperasi : 1 November 1999
Modal Dasar : Rp 2.500.000.000.000,-
Modal Disetor : Rp 1.158.243.565.000,-
Kantor Cabang :796 kantor layanan, yang tersebar di 33
provinsi di seluruh Indonesia
Jumlah Jaringan ATM : 825 ATM Syariah Mandiri, ATM Mandiri
10,361, ATM Bersama 47,669 unit
(include ATM Mandiri dan ATM BSM),
ATM Prima 50,316 unit, EDC BCA
196,870 unit, ATM BCA 10,596
dan Malaysia Electronic Payment
System (MEPS) 7,435 unit.
Jumlah Karyawan : 15.554 orang (per Mei 2013)
b. Kepemilikan Saham
1) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk : 231.648.712 lembar saham
(99,99999942%)
2) PT Mandiri Sekuritas : 1 lembar saham
(0,00000058%)
7. Produk dan Jasa
a. Pendanaan
1) BSM Tabungan
2) BSM Tabungan Berencana
3) BSM Tabungan Simpatik
63

4) BSM Tabungan Mabrur
5) BSM Tabungan Dollar
6) BSM Tabungan Investa Cendikia (TIC)
7) BSM Deposito
8) BSM Deposito Valas
9) BSM Giro
10) BSM Giro Valas
11) BSM Giro Singapore Dollar
12) BSM Giro Euro BSM
13) BSM Obligasi
14) BSM Tabungan Perusahaan
b. Pembiayaan
1) BSM Pembiayaan Mudharabah
2) BSM Pembiayaan Musyarakah
3) BSM Pembiayaan Murabahah
4) BSM Pembiayaan Talangan Haji
5) BSM Pembiayaan Istishna
6) Pembiayaan dengan Skema IMBT (Ijarah Muntahiyah
Bittamlik)
7) Pembiayaan Mudharabh Muqayyadah off Balance Sheet
8) BSM Customer Network Financing
9) BSM Pembiayaan Resi Gudang
10) BSM Pembiayaan Edukasi
64

11) PKPA
12) BSM Impian
13) Pembiayaan Dana Berputar
14) BSM Pembiayaan Pemilikan Rumah
15) BSM Optima Pembiayaan Pemilikan Rumah
16) Pembiayaan Pemilikan Rumah (PPR) Syariah Bersubsidi
17) Pembiayaan Umrah
18) BSM Pembiayan Griya DP 0%
19) BSM Sistem Pembayaran Off Line
20) Pembiayaan dengan Agunan Investasi Terikat Syariah Mandiri
21) Pembiayaan kepada Pensiunan
22) Pembiayaan Peralatan Kedokteran
c. Layanan
1) BSM Card
2) BSM Sentra Bayar
3) BSM Mobile Banking
4) BSM Net Banking
5) BSM Mobile Banking GPRS
6) PPBA (Pembayaran melalui menu Pemindahbukuan di ATM)
7) BSM Pooling Fund
8) BSM Pertukaran Valas
9) BSM Bank Garansi
10) BSM Electronic Payroll
65

11) BSM SKBDN
12) BSM Letter of Credit
13) BSM Transfer Western Union
14) BSM Kliring
15) BSM Inkaso
16) BSM Intercity Clearing
17) BSM RTGS (Real Time Gross Settlement)
18) Transfer Dalam Kota (LLG)
19) Transfer D.U.I.T. (Dana Untuk Indonesia Tercinta)
20) BSM Pajak Online
21) BSM Pajak Impor
22) BSM Referensi Bank
23) BSM Standing Order
24) BSM Autosave
25) BSM Transfer Valas
26) Reksadana Mandiri Investa Syariah Berimbang
27) Reksadana Mandiri Investa Atraktif Syariah (MITRA Syariah)
28) BSM Bancassurance
29) Layanan Penerimaan Pembayaran Premi Asuransi Takaful
8. Penghargaan
Penghargaan atas prestasi PT Bank Syariah Mandiri dapat dilihat
pada Tabel 4.1.

66

Tabel 4.1
Daftar Pengahargaan Kepada PT Bank Syariah Mandiri
Periode 2009-2011

No. Nama
Pengahargaan
Pemberi
Penghargaan
Atas Prestasi Tanggal
Penghargaan
1. The Best Outlet
Productivity
Bank Indonesia Penghargaan atas
produktivitas
outlet bank Syariah
7 Februari
2009
2. The Best Human
Resource
Development
Bank Indonesia
bekeja sama
dengan Karim
Business
Consulting
Penghargaan dari
atas
pengembangan
Sumber Daya
Manusia

7 Februari
2009
3. The Word of
Mouth
Marketing
Award 2009
(WOMMA)
Majalah
SWAsembada
Penghargaan dari
atas hasil survei
tentang marketing
produk (pemakaian
jasa & layanan
bank) berdasar
rekomendasi
konsumen



16 April
2009
4. Banking
Efficiency
Award 2009
Harian Bisnis
Indonesia
Penghargaan atas
kinerja bank yang
dinilai mampu
mengelola
kegiatannya secara
efisien


23 April
2009
5. STP Award
(Straight Trough
Processing
Award)
Citibank New
York, USA
Penghargaan atas
keberhasilan BSM
dalam melakukan
proses outgoing
transfer tanpa
adanya koreksi


7 Juli 2009
6. Bank Syariah
Terbaik
Harian Bisnis
Indonesia
Penghargaan atas
kinerja keuangan
22 Juli 2009
7. Indonesia Best
Brand Award
Majalah
SWAsembada
Penghargaan atas
brand BSM yang
dinilai sangat kuat
di masyarakat

28 Juli 2009
Bersambung ke halaman selanjutnya





67

Lanjutan halaman sebelumnya

No. Nama
Pengahargaan
Pemberi
Penghargaan
Atas Prestasi Tanggal
Penghargaan
8. Golden Trophy
Award
Majalah Infobank Penghargaan atas
kinerja BSM
dengan predikat
Sangat Bagus
selama 5 tahun
berturut-turut



30 Juli 2009
9. The Best Asset
Performing and
The Fastest
Growth
Funding Islamic
Banking
Institute
Property and Bank
Magazine
Penghargaan atas
kinerja keuangan
yang telah dicapai


14 Agustus
2009
10. Islamic Finance
Award
Karim Business
Consulting
Penghargaan atas
kinerja keuangan
dengan kategori
The Best Islamic
Fully Pledged
Bank; The Most
Expansive
Funding; Islamic
Fully Pledged
Bank; The Most
Expansive
Financing,
Islamic Fully
Pledged Bank;
The Most
Efficient Islamic
Fully Pledged
Bank







15 Agustus
2009
11. Bank Syariah
terbaik
Majalah Investor Penghargaan atas
kinerja keuangan
yang telah dicapai
2 September
2009
12. The Best
Percentage
Growth for
Category
Number Debit
Transaction
PT Rintis Sejahtera,
penyedia jasa
jaringan ATM
Prima
Persentase
pertumbuhan
transaksi debit
pada bank
pengguna
jaringan ATM
Prima



5 Desember
2009
Bersambung ke halaman selanjutnya
68

Lanjutan halaman sebelumnya

No. Nama
Pengahargaan
Pemberi
Penghargaan
Atas Prestasi Tanggal
Penghargaan
13. Rating BSM
AA (Idn)
Fitch Rating Dukungan
Permodalan dari
Bank Mandiri,
cash provision,
dan kinerja
perusahaan


27 Januari
2010
14. Top Brand
Index
Majalah Marketing
bekerjasama
dengan Frontier
Consulting Group
Sharia Banking:
Marketshare dan
Top of Mind

10 Februari
2010
15. Indonesia Bank
Loyalty Award
2010
Majalah Infobank
bekerjasama
dengan Markplus
Insight
Kategori: Saving
Account, Sharia
Banking

24 Februari
2010
16. Deals of The
Year 2009
Redmoney Group,
Islamic Finance
News Asia,
Malaysia
Islamic Bank,
Bank Syariah
Agen Penjual
Sukuk Ritel
Indonesia

3 Maret
2010
17. Souvereign
Deal of The
Year 2009
Redmoney Group,
Islamic Finance
News Asia,
Malaysia
Islamic Bank,
Bank Syariah
Agen Penjual
Sukuk Ritel
Indonesia

3 Maret
2010
18. Indonesia Deal
of The Year
Redmoney Group,
Islamic Finance
News Asia,
Malaysia
Islamic Bank,
Bank Syariah
Agen Penjual
Sukuk Ritel
Indonesia

3 Maret
2010
19. Net Promoter
Leader
Octovate/Majalah
SWA
Penghargaan
untuk loyalty
index

10 Mei 2010
20. Word of Mouth
Marketing
Award
Majalah
SWA/Onbee
Marketing
Marketing dari
nasabah ke
nasabah


9 Juni 2010
21. ABFI Institute
Award
ABFI Institute
Perbanas dan
Group Majalah
Tempo
Bank Syariah
Terbaik dengan
pengukuran
kinerja keuangan
menggunakan
metode CAMEL


7 Juli 2010
Bersambung ke halaman selanjutnya
69

Lanjutan halaman sebelumnya

No. Nama
Pengahargaan
Pemberi
Penghargaan
Atas Prestasi Tanggal
Penghargaan
22. Infobank Award Majalah Infobank Penilaian atas
rating 121 bank
menetapkan BSM
berkinerja Sangat
Bagus selama 10
Tahun Berturut-
turut.




16 Juli 2010
23. Indonesia Best
Brand Award
2010
Majalah SWA Bank dengan
brand value
terbaik untuk
kategori
perbankan
syariah. BSM
memperoleh
penghargaan
untuk yang
keempat kalinya




29 Juli 2010

24. The Best
Islamic Fully
Pledged Bank
2010
Karim Business
Consulting
Bank Syariah
dengan kinerja
terbaik dari sisi
kinerja keuangan,
SDM, ekspansi
jaringan. BSM
menjuarai overall
the best islamic
fully pledged
bank dengan
menjadi terbaik di
kategori: The
Most Efficient,
The Most
Expansive
Funding, The
Most Expansive
Financing,









6 Agustus
2010


Bersambung ke halaman selanjutnya



70

Lanjutan halaman sebelumnya

No. Nama
Pengahargaan
Pemberi
Penghargaan
Atas Prestasi Tanggal
Penghargaan
The Most
Profitable, The
Most Efficient
Expansive
Funding





25. Investor Award Majalah Investor Bank Syariah
Terbaik 2010
31 Agustus
2010
26. Annual Report
Award (ARA)
2009
Bank Indonesia,
Bapepam-LK, BEI,
Kementerian
BUMN, Komite
Nasional Kebijakan
Governance
(KNKG), Ikatan
Akuntan Indonesia,
dan Ditjen Pajak
Juara I ARA 2009
untuk kategori
Private Keuangan
Non Listed



22 September
2010
27. Banking
Efficiency
Award 2010
Harian Bisnis
Indonesia
Penghargaan atas
kinerja bank yang
dinilai mampu
mengelola
kegiatannya
secara efisien


6 Oktober
2010
28. Human
Resource
Excellence
Award 2010
Lembaga
Manajemen
Fakultas Ekonomi
Universitas
Indonesia
Penghargaan atas
strategi
pengelolaan
manajemen SDM


21 Desember
2010
29. The Most
Popular Brand
of Islamic
Banking
Markplus Insight
dan Majalah
Marketeers
Indeks brand
equity paling
tinggi yang
diukur
berdasarkan 3
(tiga) parameter
yaitu brand
awareness index,
brand image
index, dan brand
loyalty index




12 Januari
2011
Sumber: Company Profile PT Bank Syariah Mandiri 2012
71


9. Struktur Organsisasi



















Gambar 4.1








Gambar 4.1
Struktur Organisasi PT Bank Syariah Mandiri Tahun 2012
Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS)

General Meeting
Shareholders


Direktur Utama

President Director


Dewan Pengawas Syariah

Board of Sharia Supervisory


Dewan Komisaris

Board of Commissioners


Komite Audit

Audit Committee


Komite Remunerasi & Nominasi

Remuneration & Nomination
Committee


Komite Pemantau Risiko

Risk Monitoring Committee


Direktorat Pembiayaan
Mikro Kecil

Small Micro Financing
Directorate

Pembiayaan Mikro,
Kecil & Program

Small, Micro, Program
Financing

Pegadaian (Desk)

Pawnshop (Desk)

Mass Banking (Desk)

Mass Banking (Desk)

Pengembangan Bisnis &
Produk

Business & Program
Development

Pembiayaan Konsumer

Consumer Financing

Business Remittance &
Transfer (Desk)

Haji & Umrah (Desk)

Haji & Umra (Desk)


Direktorat Pembiayaan
Menengah

Medium Financing
Directorate

Pembiayaan Komersial

Commersial Financing

Restrukturisasi

Restructuring

Penyelesaian Pembiayaan

Financing Settlement

Hubungan Korporasi &
Hukum

Corporate Relation &
Legal Affairs
Sarana & Logistik

Facility & Logistics

Direktorat Pembiayaan
Korporasi & Tresuri

Corporate Financing
Directorate

Pembiayaan Korporasi &
Investasi

Corporate Financing &
Investment Directorate

Pembiayaan Khusus &
Sindikasi (Desk)

Special Financing &
Syndication (Desk)
Tresuri

Tresury

Direktorat Kepatuhan

Compliance Directorate

Kepatuhan

Compliance

Human Capital

Training (Desk)

Perencanaan,
Pengembangan &
Manajemen Kinerja

Planning, Development &
Performance Management

Jaringan

Network

Direktorat Manajemen
Risiko

Risk Management
Directorate

Manajemen Risiko

Risk Management

Sistem & Teknologi

System & Technology

Operasi

Operation

Akuntansi

Accounting

Sisdur & Pengawasan

System, Procedure &
Supervision

Alternate Channel

Kanwil I-V
Regional Office I-V
Cabang-cabang

Branchs
Audit Intern

Komite Manajemen Risiko

Risk Management
Committe
Transformation Program
Management Office
72

B. Kegiatan Pembiayaan Murabahah PT Bank Syariah Mandiri
PT Bank Syariah Mandiri memiliki beberapa jenis produk yang
ditawarkan kepada masyarakat dengan menggunakan akad murabahah,
salah satu produk yang ditawarkan oleh PT Bank Syariah Mandiri adalah
Pembiayaan Konsumer BSM. Pembiayaan Konsumer BSM adalah produk
pembiayaan yang disediakan untuk mewujudkan impian nasabah memiliki
rumah, mobil, atau melakukan renovasi rumah. Skim yang digunakan
adalah skim pembiayaan murabahah, yaitu pembiayaan dengan prinsip
jual-beli. Keunggulan Pembiayaan Konsumer BSM adalah cicilan tetap,
marjin kompetitif, proses yang mudah dan singkat, serta sesuai dengan
syariah.
1. Persyaratan Umum
Adapun persyaratan umum yang dibutuhkan untuk mengajukan
Pembiayaan Konsumer BSM adalah sebagai berikut:
a. Warga Negara Indonesia (WNI), minimal 21 tahun dan pada saat
jatuh tempo pembiayaan tidak melebihi 55 tahun;
b. Masa kerja minimal dua tahun atau telah diangkat menjadi
karyawan tetap;
c. Maksimal angsuran per bulan 40% dari take home pay;
d. Limit pembiayaan:
1) Limit pembiayaan Rp 50.000.000 s.d. Rp 500.0000.000;
2) Pemilikan atau renovasi rumah maksimal 70% dari harga beli
atau Rencana Anggaran Biaya (RAB);
73

3) Limit pembiayaan pemilikan kendaraan baru maksimal 80%
dari harga beli.
2. Persyaratan Dokumen
Adapun persyaratan dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan
Pembiayaan Konsumer BSM adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2.
Persyaratan Dokumen Pembiayaan Konsumer BSM



3. Persyaratan Khusus
Adapun persyaratan khusus yang dibutuhkan untuk mengajukan
Pembiayaan Konsumer BSM adalah sebagai berikut:
a. Pembiayaan pemilikan rumah baru (dari developer)
1) Jangka waktu maksimal 15 tahun;
2) Sertifikat pecah per kavling (bukan induk);
3) Memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
Dokumen Karyawan Wiraswasta
Aplikasi permohonan X X
Copy KTP suami/isteri/penjamin X X
Copy KK dan surat nikah X X
Surat keterangan kerja X
Copy SK pengangkatan terakhir X
Copy ID Card pegawai (jika ada) X
Slip gaji tiga bulan terakhir X
Copy NPWP (pembiayaan > Rp 50 juta) X X
Copy rekening tabungan/giro enam bulan terakhir X X
Akta pendirian, SIUP, TDP, SKDP X
Laporan keuangan minimal dua tahun terakhir X
74

4) Copy tanda jadi atau down payment (jika ada);
5) Copy brosur dan daftar harga dari developer;
6) Denah lokasi rumah.
b. Pembiayaan pemilikan rumah bekas (dari perorangan)
1) Copy sertifikat surat hak guna bangunan;
2) Copy surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
3) Copy Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terakhir;
4) Surat penawaran dari penjual;
5) Denah lokasi rumah;
6) Rumah dapat dilewati kendaraan roda empat.
c. Pembiayaan renovasi rumah
1) Copy sertifikat surat hak guna bangunan;
2) Copy surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
3) Copy Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) terakhir;
4) Denah lokasi rumah;
5) Rencana Anggaran Biaya (RAB);
6) Jangka waktu maksimal lima tahun.
d. Pembiayaan pemilikan mobil baru
1) Copy surat pesanan (pre order) kepada dealer;
2) Jangka waktu maksimal lima tahun;
e. Pembiayaan pemilikan mobil bekas
1) Copy BPKB, faktur, dan STNK;
2) Surat penawaran dari penjual;
75

3) Jangka waktu maksimal lima tahun;
4) Maksimal usia kendaraan diakhir masa pembiayaan adalah 10
tahun.
C. Analisis dan Pembahasan
Untuk melakukan analisis dan pembahasan dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan simulasi atas salah satu jenis pembiayaan yang
menggunakan akad murabahah. Hal ini dilakukan peneliti untuk membuat
ilustrasi atas pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah yang
dilakukan oleh PT Bank Syariah Mandiri, sehingga dapat diketahui
pedoman standar akuntansi dan metode pengakuan yang digunakan oleh
PT Bank Syariah Mandiri dalam transaksi pembiayaan murabahah.
Berikut ini adalah contoh simulasi pembiayaan murabahah yang dilakukan
oleh PT Bank Syariah Mandiri.
Simulasi Pembiayaan Murabahah
Untung Purnomo
Pokok Pembiayaan: Rp 180.000.000
Tujuan pembiayaan : Pembelian satu unit Toyota Innova, Type G, Black
dari dealer resmi Astra 2000 Toyota
Harga mobil : Rp 257.143.000
Plafon pembiayaan : 30% dari nasabah dan 70% dari bank
Jangka waktu : 12 bulan, angsuran dibayar setiap tanggal 5 setiap
bulan (Januari 2012-Desember 2012)
Marjin efektif : 12% atau ekivalen flat 6,62%
Penalty : 0,0162% x tunggakan x jumlah hari
76

Berikut analisis dan pembahasan mengenai simulasi metode pengakuan
keuntungan pembiayaan murabahah yang dilakukan oleh PT Bank Syariah
Mandiri:
1. Angsuran Pokok dan Marjin
Dalam menghitung angsuran pokok dan marjin untuk pembiayaan
murabahah, PT Bank Syariah Mandiri menggunakan metode anuitas
(Ratu, 2013). Berikut adalah tabel angsuran pembiayaan konsumer
sebesar Rp 180.000.000.
Tabel 4.3
Skedul Angsuran Pembiayaan Konsumer BSM
(Pengakuan Pendapatan Marjin Murabahah Dilakukan
Menggunakan Metode Anuitas)

Angsuran
Ke
Porsi Pokok
(Rp)
Porsi Marjin
(Rp)
Angsuran
per bulan
(Rp)
Outstanding
Pokok (Rp)

ER
0 180.000.000
1 14.192.781,98 1.800.000 15.992.782 165.807.218 12%
2 14.334.709,8 1.658.072,181 15.992.782 151.472.508,2 12%
3 14.478.056,89 1.514.725,082 15.992.782 136.994.451,3 12%
4 14.622.837,46 1.369.944,513 15.992.782 122.371.613,9 12%
5 14.769.065,84 1.223.716,139 15.992.782 107.602.548 12%
6 14.916.756,5 1.076.025,482 15.992.782 92.685.791,53 12%
7 15.065.924,07 926.857,9099 15.992.782 77.619.867,46 12%
8 15.216.583,3 776.198,6762 15.992.782 62.403.284,16 12%
9 15.368.749,14 624.032,8364 15.992.782 47.034.535,02 12%
10 15.522.436,63 470.345,3458 15.992.782 31.512.098,39 12%
11 15.677.660,99 315.120,99 15.992.782 15.834.437 12%
12 15.834.437 158.344,3695 15.992.782 0
Jumlah 180.000.000 11.913.384 191.913.384
Sumber: Data diolah dari tabel simulasi angsuran pembiayaan konsumer BSM

Untuk mengetahui perhitungan secara rinci terhadap angsuran pokok dan
marjin pada Tabel 4.3. diatas, berikut adalah perhitungannya:

77




Rumus Anuitas:
Angsuran Pokok (k) =
{
(

)
(

)
} Pokok Pembiayaan x (


Angsuran Marjin (k) =
{
(

)
(

)
} Pokok Pembiayaan (k)

Tabel 4.4
Perhitungan Angsuran Pokok dan Marjin
Menggunakan Metode Anuitas

Bulan Angsuran Pokok Marjin
1

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 14.192.781,98

x Rp 14.192.781,98
= [

x Rp 14.192.781,98
= Rp 1.800.000
Total angsuran bulan ke-1: Rp 14.192.781,98 + Rp 1.800.000
= Rp 15.992.782
2

[
(

] x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 14.334.709,8

x Rp 14.334.709,8
= [

x Rp 14.334.709,9
= Rp 1.658.072,181

Total angsuran bulan ke-2: Rp 14.334.709,8 + Rp 1.658.072,181
= Rp 15.992.782
Bersambung ke halaman selanjutnya
78

Lanjutan halaman sebelumnya

Bulan Angsuran Pokok Marjin
3

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 14.478.056,89

x Rp 14.478.056,89
= [

x Rp 14.478.056,89
= Rp 1.514.725,082
Total angsuran bulan ke-3: Rp 14.478.056,89 + Rp 1.514.725,082
= Rp 15.992.782
4

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 14.622.837,46

x Rp 14.622.837,46
= [

x Rp 14.622.837,46
= Rp 1.369.944,513
Total angsuran bulan ke-4: Rp 14.622.837,46 + Rp 1.369.944,513
= Rp 15.992.782
5

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 14.769.065,84

x Rp 14.769.065,84
= [

x Rp 14.769.065,84
= Rp 1.223.716,139
Total angsuran bulan ke-5: Rp 14.769.065,84 + Rp 1.223.716,139
= Rp 15.992.782
6

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 14.916.756,5

x Rp 14.916.756,5
= [

x Rp 14.916.756,5
= Rp 1.076.025,482
Total angsuran bulan ke-6: Rp 14.916.756,5 + Rp 1.076.025,482
= Rp 15.992.782
Bersambung ke halaman selanjutnya
79

Lanjutan halaman sebelumnya

Bulan Angsuran Pokok Marjin
7

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 15.065.924,07

x Rp 15.065.924,07
= [

x Rp 15.065.924,07
= Rp 926.857,9099
Total angsuran bulan ke-7: Rp 15.065.924,07 + Rp 926.857,9099
= Rp 15.992.782
8

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 15.216.583,3

x Rp 15.216.583,3
= [

x Rp 15.216.583,3
= Rp 776.198,6762
Total angsuran bulan ke-8: Rp 15.216.583,3 + Rp 776.198,6762
= Rp 15.992.782
9

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 15.368.749,14

x Rp 15.368.749,14
= [

x Rp 15.368.749,14
= Rp 624.032,8364
Total angsuran bulan ke-9: Rp 15.368.749,14 + Rp 624.032,8364
= Rp 15.992.782
10

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 15.522.436,63

x Rp 15.522.436,63
= [

x Rp 15.522.436,63
= Rp 470.345,3458
Total angsuran bulan ke-10: Rp 15.522.436,63 + Rp 470.345,3458
= Rp 15.992.782
Bersambung ke halaman selanjutnya
80

Lanjutan halaman sebelumnya
Bulan Angsuran Pokok Marjin
11

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 15.677.660,99

x Rp 15.677.660,99
= [

x Rp 15.677.660,99
= Rp 315.120,99
Total angsuran bulan ke-11: Rp 15.677.660,99 + Rp 315.120,99
= Rp 15.992.782
12

x Rp 180.000.000 x [

x Rp 180.000.000 x 0,01
= Rp 15.834.437,61

x Rp 15.834.437,61
= [

x Rp 15.834.437,61
= Rp 158.344,3695
Total angsuran bulan ke-12: Rp 15.834.437,61 + Rp 158.344,3695
= Rp 15.992.782

2. Jurnal Transkasi
Berdasarkan Surat Edaran Operasi PT Bank Syariah Mandiri No.
6/044/OPS Tanggal 15-12-2004 perihal Akuntansi Murabahah,
Berikut adalah jurnal pencatatan atas simulasi transaksi diatas:
a. Pada saat penjualan aktiva murabahah kepada nasabah:
Rekening Debit Kredit
Piutang Murabahah Rp 191.913.384
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 11.913.384
Kas Rp 180.000.000


81


b. Pada saat nasabah mengangsur cicilan piutang murabahah:
Rekening Debit Kredit
Kas Rp 15.992.782
Piutang Murabahah Rp 15.992.782
(Untuk mencatat penerimaan cicilan piutang murabahah dari nasabah
setiap bulan)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 1.800.000
Margin Murabahah Rp 1.800.000
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-1)
Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 1.658.072,181
Margin Murabahah Rp 1.658.072,181
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-2)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 1.514.725,082
Margin Murabahah Rp 1.514.725,082
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-3)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 1.369.944,513
Margin Murabahah Rp 1.369.944,513
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-4)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 1.223.716,139
Margin Murabahah Rp 1.223.716,139
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-5)



82

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 1.076.025,482
Margin Murabahah Rp 1.076.025,482
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-6)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 926.857,9099
Margin Murabahah Rp 926.857,9099
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-7)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 776.198,6762
Margin Murabahah Rp 776.198,6762
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-8)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 624.032,8364
Margin Murabahah Rp 624.032,8364
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-9)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 470.345,2458
Margin Murabahah Rp 470.345,3458
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-10)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 315.120,99
Margin Murabahah Rp 315.120,99
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-11)

Rekening Debit Kredit
Margin Murabahah
Ditangguhkan
Rp 158.344,3695
Margin Murabahah Rp 158.344,3695
(Untuk mencatat margin murabahah bulan ke-12)
83

c. Pada saat menerima denda dari nasabah karena terlambat membayar,
misalnya pada bulan ke-7, nasabah membayar tanggal 10:
Rekening Debit Kredit
Kas/Rekening Rp 12.954,15*
Dana Sosial Ex Penalty Rp 12.954,15
*(0,0162% x Rp 15.992.782 x 5 hari)
3. Perbandingan Metode Anuitas dengan Metode Proporsional
Dalam mengakui keuntungan murabahah, Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang Akuntansi Murabahah
dalam paragraf 23 menyatakan bahwa keuntungan murabahah diakui
proporsional dengan besaran kas yang berhasil ditagih dari piutang
murabahah. Pengakuan dengan metode proporsional dapat dilakukan
dengan mengalikan persentase keuntungan terhadap jumlah piutang
yang berhasil ditagih. Persentase keuntungan dihitung dengan
perbandingan antara marjin dan biaya perolehan aset murabahah.
Terkait dengan metode anuitas yang digunakan oleh PT Bank
Syariah Mandiri, PT Bank Syariah Mandiri memiliki alasan terhadap
pemilihan metode anuitas untuk transaksi murabahah. Untuk
memahami alasan pemilihan metode tersebut, peneliti membuat
simulasi skedul pembayaran angsuran nasabah yang keuntungannya
diakui secara proporsional pada Tabel 4.5, sehingga dapat
dibandingkan jumlah angsuran dan marjin yang harus dibayar oleh
nasabah antara metode proporsional dengan menggunakan metode
anuitas pada Tabel 4.3.
84

Simulasi Pembiayaan Murabahah
Untung Purnomo
Pokok Pembiayaan: Rp 180.000.000
Tujuan pembiayaan : Pembelian satu unit Toyota Innova, Type
G, Black dari dealer resmi Astra 2000
Toyota
Harga mobil : Rp 257.143.000
Plafon pembiayaan : 30% dari nasabah dan 70% dari bank
Marjin efektif per tahun : 12% atau ekivalen flat 6,62%
Marjin per bulan : Rp 992.782
Jangka waktu : 12 bulan
Marjin per tahun : Rp 11.913.384
Pembayaran tangguh : Rp 191.913.384
Angsuran per bulan : Rp 15.992.782
Persentase marjin terhadap total piutang murabahah: 6,207687943%
Tabel 4.5
Skedul Angsuran Pembiayaan Konsumer BSM
(Pengakuan Pendapatan Marjin Murabahah Dilakukan
Menggunakan Metode Proporsional)

Angsuran
Ke
Porsi Pokok
93,79231206%
(Rp)
Porsi Marjin
6,207687943%
(Rp)
Angsuran
per bulan
100% (Rp)
Outstanding
Pokok
(Rp)

ER
0 180.000.000
1 15.000.000 992.782 15.992.782 165.000.000 6,62%
2 15.000.000 992.782 15.992.782 150.000.000 7,22%
3 15.000.000 992.782 15.992.782 135.000.000 7,94%
4 15.000.000 992.782 15.992.782 120.000.000 8,82%
5 15.000.000 992.782 15.992.782 105.000.000 9,93%
6 15.000.000 992.782 15.992.782 90.000.000 11,35%
Bersambung ke halaman selanjutnya
85

Lanjutan dari halaman sebelumnya
Angsuran
Ke
Porsi Pokok
93,79231206%
(Rp)
Porsi Marjin
6,207687943%
(Rp)
Angsuran
per bulan
100% (Rp)
Outstanding
Pokok
(Rp)

ER
7 15.000.000 992.782 15.992.782 75.000.000 13,24%
8 15.000.000 992.782 15.992.782 60.000.000 15,88%
9 15.000.000 992.782 15.992.782 45.000.000 19,86%
10 15.000.000 992.782 15.992.782 30.000.000 26,47%
11 15.000.000 992.782 15.992.782 15.000.000 39,71%
12 15.000.000 992.782 15.992.782 0 79,42%
Jumlah 180.000.000 11.913.384 191.913.384
Sumber: Data diolah dari tabel simulasi angsuran pembiayaan konsumer BSM

Untuk menghitung angsuran pokok yang harus dibayar oleh
nasabah setiap bulan pada Tabel 4.5 di atas, maka cara yang digunakan
adalah dengan mengalikan marjin sebesar 6,207687943% dengan total
angsuran yang harus dibayar oleh nasabah setiap bulan, yaitu Rp
15.992.782. Sehingga mendapatkan marjin yang harus dibayar sebesar
Rp 992.782 per bulan. Sedangkan untuk menghitung angsuran pokok
setiap bulan dapat dilakukan dengan menggunakan cara (100% -
6,207687943%) x total angsuran yang harus dibayar oleh nasabah
setiap bulan, yaitu Rp 15.992.782. Sehingga mendapatkan angsuran
pokok yang harus dibayar sebesar Rp 15.000.000 per bulan.
Berdasarkan simulasi pembiayaan murabahah pada Tabel 4.3 dan
Tabel 4.5 di atas, dapat diketahui bahwa metode anuitas memiliki
kestabilan pada persentase Effective Rate (ER) setiap bulan
(Aminullah, 2013). Untuk mengetahui hal tersebut, peneliti
menganalisis ER atas simulasi pembiayaan murabahah pada Tabel 4.3
dan Tabel 4.5. Adapun rumus persentase ER dan perhitungannya dapat
dilihat pada Tabel 4.6.
86



ER =


x 12

Tabel 4.6
Perbandingan Perhitungan Effective Rate
Menggunakan Metode Anuitas dan Metode Proporsional

Bulan Metode Anuitas Metode Proporsional
1


x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 6,62%
2



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 7,22%
3



x 100% x 12= 12%




x 100% x 12 = 7,94%
4



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 8,82%
5



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 9,93%
6



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 11,35%
7



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 13,24%
8



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 15,88%
9



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 19,86%
Bersambung ke halaman selanjutnya

87

Lanjutan halaman sebelumnya

Bulan Metode Anuitas Metode Proporsional
10



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 26,47%
11



x 100% x 12 = 12%




x 100% x 12 = 39,71%
12



x 100% x 12 = 12%



x 100% x 12 = 79,42%


Berdasarkan perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan metode anuitas, ER setiap bulan stabil, yaitu sebesar
12%. Sehingga hal ini merupakan alasan PT Bank Syariah Mandiri
memilih untuk menggunakan metode anuitas dalam transaksi
pembiayaan murabahah.
Berdasarkan pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.5, maka peneliti membuat
analisis terhadap perbandingan tabel tersebut, antara lain:
a. Pada Tabel 4.3, yaitu dengan menggunakan metode anuitas, dapat
dilihat bahwa jumlah angsuran pokok yang harus dibayar oleh
nasabah setiap bulan semakin besar, sedangkan jumlah marjin yang
harus dibayar oleh nasabah setiap bulan semakin kecil.
b. Pada Tabel 4.3, yaitu dengan menggunakan metode anuitas, dapat
dilihat bahwa perhitungan marjin atau keuntungan bank
diperhitungkan dari jumlah outstanding porsi pokok, tidak
diperhitungkan dari pokok pembiayaan murabahah.
88

c. Pada Tabel 4.5, yaitu dengan menggunakan metode proporsional,
dapat dilihat bahwa jumlah angsuran pokok dan marjin yang harus
dibayar oleh nasabah setiap bulan adalah sama.
d. Pada Tabel 4.5, yaitu dengan menggunakan metode proporsional,
dapat dilihat bahwa perhitungan marjin atau keuntungan bank
diperhitungkan dari pokok pembiayaan murabahah, tidak
diperhitungkan dari outstanding porsi pokok.
Tabel 4.7
Hasil Perbandingan Metode Anuitas dengan
Metode Proporsional

Perbedaan Metode Anuitas Metode Proporsional
Jumlah angsuran
pokok
Bertambah besar setiap
bulan
Sama setiap bulan
Jumlah marjin Bertambah kecil setiap
bulan
Sama setiap bulan
Cara perhitungan
marjin

Dihitung dari outstanding
angsuran pokok
Dihitung dari pokok
pembiayaan murabahah

4. Standar Akuntansi
Diterbitkannya Buletin Teknis No. 9 oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) pada tanggal 16 Januari 2013 tentang Penerapan
Metode Anuitas Dalam Murabahah, disebutkan didalamnya bahwa
lembaga keuangan syariah yang menerapkan anuitas untuk pengakuan
laba transaksi pembiayaan murabahah sesuai Fatwa DSN No.84/DSN-
MUI/XII/2012 harus melakukan pengakuan, pengukuran, penyajian,
dan pengungkapan sesuai dengan ketentuan pada PSAK No. 55
tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, PSAK No.
89

50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian, dan PSAK No. 60 tentang
Instrumen Keuangan: Pengungkapan. Hal tersebut ditetapkan karena
pembiayaan murabahah yang keuntungannya diakui secara anuitas
didasarkan pada fakta bahwa pembiayaan murabahah adalah
penyediaan dana oleh lembaga keuangan syariah yang disalurkan
kepada nasabah dengan mekanisme jual-beli. Dalam akuntansi
kegiatan seperti ini secara substansi dikategorikan sebagai kegiatan
pembiayaan (financing).
Dalam aplikasi praktik pembiayaan murabahah, PT Bank Syariah
Mandiri tidak sepenuhnya mengaplikasikan PSAK No. 102 tentang
Akuntansi Murabahah, namun tidak sepenuhnya mengaplikasikan
PSAK No. 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran. Hal ini dapat diketahui berdasarkan Surat Edaran Operasi
PT Bank Syariah Mandiri No. 6/044/OPS tanggal 15 Desember 2004,
hasil wawancara peneliti dengan Staff Kebijakan Akuntansi PT Bank
Syariah Mandiri, serta simulasi pembiayaan yang dibuat oleh peneliti
pada Tabel 4.3 dan Tabel 4.5, bahwa pencatatan atas jurnal transaksi
pembiayaaan murabahah mengacu pada PSAK No. 102, sedangkan
perhitungan keuntungan transaksi pembiayaan murabahah mengacu
pada PSAK No. 55, yaitu penggunaan metode anuitas sebagai
modifikasi dari metode suku bunga efektif. Selain itu, PT Bank
Syariah Mandiri juga melakukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
90

Produktif (PPAP) pada saat terjadinya akad, yaitu sebesar 1% untuk
Kol (1) dan 5% untuk Kol (2) dari total pokok pembiayaan.
Terkait dengan diterbitkannya Buletin Teknis No. 9 oleh IAI
sesuai dengan Fatwa DSN No.84/DSN-MUI/XII/2012, PT Bank
Syariah Mandiri tetap menjalankan kombinasi antara PSAK No. 102
dengan PSAK No. 55 hingga sekarang. Hal ini dilatarbelakangi oleh
(Aminullah, 2013):
a. Sistem dan persiapan yang cukup lama dan mahal untuk penerapan
PSAK No. 55.
b. Sumber daya manusia yang menguasai PSAK No. 55 terbatas,
sehingga akan menambah masalah bagi perbankan syariah untuk
penerapan PSAK ini.
c. Jika menggunakan PSAK No. 55, PT Bank Syariah Mandiri harus
membuat Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), yaitu
dilakukan melalui evaluasi individual yakni sebesar selisih antara
nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini estimasi arus kas
masa depan yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal
dari aset keuangan tersebut. Hal ini akan membuat akad
murabahah menjadi tidak sesuai dengan syariah karena
mengandung konsep nilai waktu dari uang (time value of money).
Mengingat didalam akad murabahah, nominal tidak diperkenankan
berubah selama periode akad. Oleh karena itu, dalam
mencadangkan kerugian atas piutang tak tertagih, PT Bank Syariah
91

Mandiri mengacu pada PSAK No. 102, yaitu dengan membuat
PPAP pada saat terjadinya akad.
Berdasakan hal-hal tersebut, maka PT Bank Syariah Mandiri
menggunakan kombinasi PSAK No. 102 dan PSAK No.55 dalam
transaksi pembiayaan murabahah.
5. Jual Beli Murabahah dan Pembiayaan Murabahah
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, murabahah
merupakan transaksi jual beli barang, di mana penjual mengungkapkan
harga perolehan kepada pembeli dan memperoleh keuntungan
berdasarkan marjin yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Namun yang terjadi dalam praktik PT Bank Syariah Mandiri adalah
pembiayaan murabahah, bukan jual-beli. Dalam pembiayaan
murabahah di PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Syariah Mandiri
sebagai penjual tidak memiliki persediaan aktiva murabahah.
Sedangkan dalam rukun dan syarat akad murabahah, objek
murabahah dipersyaratkan harus menjadi milik dan dalam penguasaan
penjual.
Akad murabahah merupakan akad jual-beli dan biasanya
digunakan untuk jangka pendek sampai menengah. Namun dalam
praktik pembiayaan murabahah di PT Bank Syariah Mandiri, jangka
waktu dalam akad murabahah dapat mencapai belasan tahun. Selain
itu, perhitungan atas marjin keuntungan jual beli dengan akad
murabahah, berdasarkan PSAK No. 102 dilakukan secara
92

proporsional. Sedangkan dalam praktik pembiayaan murabahah di PT
Bank Syariah Mandiri dilakukan secara anuitas, di mana marjin
murabahah dihitung dari outstanding porsi pokok utang.
Berdasarkan hal-hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
praktik akad murabahah dalam PT Bank Syariah Mandiri merupakan
ketegori pembiayaan dan bukan jual beli. di mana bank sebagai
penjual seharusnya telah memiliki dan menguasai objek murabahah,
namun yang terjadi adalah PT Bank Syariah Mandiri tidak memiliki
persediaan objek murabahah dan menjadi menyediakan dana untuk
nasabah.













93

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode pengakuan
keuntungan pembiayaan murabahah, pencatatan akuntansi atas transaksi
murabahah, dan metode yang sesuai untuk digunakan dalam akad
murabahah. Penelitian ini dilakukan dengan satu objek penelitian yaitu PT
Bank Syariah Mandiri dengan metode kualitatif deskriptif dengan
pendekatan fenomenologi dan studi kasus. Berdasarkan pada data yang
telah diperoleh dan hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti dengan
membandingkan antara teori dan praktik, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. PT Bank Syariah Mandiri menggunakan metode anuitas dalam
mengakui keuntungan pembiayaan murabahah. Pencatatan atas
transaksi pembiayaan murabahah mengacu pada PSAK No. 102 dan
PSAK No. 55.
2. Metode anuitas yang digunakan oleh PT Bank Syariah Mandiri dalam
mengakui keuntungan pembiayaan murabahah tidak sesuai dengan
PSAK No. 102.
B. Implikasi
Dari kesimpulan di atas dan beberapa pembahasan yang telah
dipaparkan dalam bab empat, maka implikasi penelitian ini adalah sebagai
berikut:
94

1. Bagi PT Bank Syariah Mandiri
Adanya Buletin Teknis No. 9 yang diterbitkan oleh IAI, PT Bank
Syariah Mandiri perlu menetapkan metode pengakuan keuntungan
yang akan digunakan dalam murabahah di kemudian hari dan
menyiapkan perubahan sistem jika memilih metode anuitas karena
harus mengacu pada PSAK No. 50, 55, dan 60.
2. Bagi Ikatan Akuntan Indonesia
Adanya dua metode dalam pengakuan keuntungan murabahah,
yaitu proporsional dan anuitas, diharapkan Ikatan Akuntan Indonesia
dapat mengkaji lebih lanjut tentang metode anuitas yang harus
digunakan oleh bank syariah dalam mengakui keuntungan murabahah,
mengingat hal tersebut tidak tercantum dalam PSAK No. 102 tentang
Akuntansi Murabahah dan pengukuran nilai wajar yang terdapat
dalam PSAK No. 50, 55, dan 60 mengandung time value of money
apakah masih relevan untuk diadopsi oleh entitas syariah.
3. Bagi Kantor Akuntan Publik
Adanya dua metode yang digunakan dalam pengakuan keuntungan
pembiayaan murabahah, yaitu proporsional dan anuitas, kantor
akuntan publik diharapkan dapat memahami hal ini karena akan
mempengaruhi opini yang akan diberikan kepada entitas syariah atas
penyajian laporan keuangan.


95

C. Keterbatasan
Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan yang mungkin dapat
melemahkan hasilnya. Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini hanya pada sebatas
salah satu entitas syariah, sehingga belum dapat digeneralisasi dengan
objek penelitian yang lain.
2. Analisis yang digunakan hanya sebatas berasal dari teori yang dipahami
peneliti sendiri.
D. Saran
Penelitian ini di masa mendatang diharapkan dapat menyajikan hasil
penelitian yang lebih berkualitas dengan adanya beberapa masukan
mengenai beberapa hal diantaranya:
1. PT Bank Syariah Mandiri, disarankan untuk menetapkan metode dan
standar akuntansi yang konsisten di kemudian hari dalam transaksi
pembiayaan murabahah.
2. Ikatan Akuntan Indonesia, sebagai regulator dan pembuat standar
akuntansi di Indonesia disarankan untuk mengkaji lebih lanjut
mengenai standar akuntansi murabahah, terkait adanya dua metode
dalam mengakui keuntungan pembiayaan murabahah,
3. Bank Indonesia sebagai bank sentral disarankan untuk menetapkan
regulasi tentang metode yang relevan untuk dipakai oleh bank syariah
dalam mengakui keuntungan pembiayaan murabahah.
96

4. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian ini pada
objek penelitian yang lain sehingga dapat diperbadingkan hasilnya.





















97

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Jabar, Cepi Safrudin. "Human Instrument Dalam Penelitian Kualitatif :
Sebuah Konsep", Equilibrium, Yogyakarta, 2008.

Al-Quran dan Terjemah, Departemen Agama, 2012.

Aminullah, Asrul. Wawancara. PT Bank Syariah Mandiri. 11 Juni 2013.

Anggadini, Sri Dewi."Penerapan Margin Pembiayaan Murabahah Pada BMT As-
Salam Pacet Cianjur", Majalah Ilmiah UNIKOM Vol. 9 No. 2, Bandung,
2009.

Bank Indonesia. Statistik Perbankan Indonesia, artikel diakses tanggal 13
Februari 2013, dari http://www.bi.go.id/web/ Statistik/Statistik+Perbankan
/Statistik+Perbankan+Indonesia/

Basrowi dan Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif. Rineka Cipta, Jakarta,
2008.

Ciptani Febriati, Ekaputri. Analisis Penerapan PSAK 55 Atas Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai. Jurnal EMBA Vol. 1 No. 3, Universitas Sam
Ratulangi, Manado, 2013.

Company Profile. PT Bank Syariah Mandiri, Jakarta, 2012.

Dewan Syariah Nasional. Fatwa Dewan Syariah Nasional Metode Pengakuan
Keuntungan Tanwil Bi Al-Murabahah Di Lembaga Keuangan Syariah,
Fatwa DSN-MUI, Jakarta, 2012.

Djuarni, Wenny. "Analisis Perbandingan Metode Pemberian Kredit di Bank
Konvensional dengan Pembiayaan Musyarakah di Bank Syariah Pada PT
Bank Jabar Banten dan PT Bank Syariah Tbk", Jurnal Ekonomi Vol. 2 No.
1, Universitas Putra Indonesia, Cianjur, 2011.

Farola Bram, Yudi. "Analisis Efektivitas Iklan Sebagai Salah Satu Strategi
Pemasaran Perusahaan Percetakan Dan Penerbitan PT Rambang Dengan
Menggunakan Metode EPIC Model" , Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya
Vol. 3 No. 6 , Universitas Sriwijaya, Palembang , 2005.

Ikatan Akuntan Indonesia. Bultek 9 Penerapan Metode Anuitas Dalam
Murabahah, artikel diakses tanggal 23 Januari 2013, dari
http://www.iaiglobal.or.id/v02/prinsip_ akuntansi/ standar.php?cat=SAK%
20Syariah&id=82

98

Iriyadi dan Oktafiyanthi, Arinta, "Pengakuan Pendapatan: Studi Komparasi Pada
Bank Konvensional dan Bank Syariah (Studi Kasus Pada PT Bank Jabar
Bogor)", Jurnal Ilmiah Ranggagading Vol. 7, Bogor, 2007.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2008.

Kurneawati, Analisis Perlakuan Piutang Murabahah Pada PT Bank Rakyat
Indonesia KCI Gbeng Surabaya, Jurnal Keuangan dan Perbankan Vol. 16
No. 1, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, Surabaya, 2011.

Kwang En, Tan dan Dorothy, Jane. "Peranan Sistem Informasi Akuntansi
Penjualan Untuk Meminimalisasi Piutang Tak Tertagih (Studi Kasus Pada
Perusahaan Sepatu X)" , Jurnal Ilmiah Akuntansi No. 5, Universitas
Kristen Maranatha, Bandung, 2011.

Laporan Keuangan tahunan PT Bank Syariah Mandiri tahun 2009-2012. Diakses
tanggal 13 februari 2013, dari http://www.syariahmandiri.co.id/en/
category/investor-relation/laporan-tahunan/

Laporan Tahunan Puslitbang Kehidupan Keagamaan Indonesia Tahun 2012.
Diakses tanggal 29 Agustus 2013, dari http://puslitbang1.balitbangdiklat.
kemenag.go.id/

Nurul Musjtari, Dewi dan Fitriyanti, Fadia. Hukum Perbankan Syariah dan
Takaful, Lab Hukum Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah,
Malang, 2010.

Rahmat, Pupu Saeful. "Penelitian Kualitatif", Equilibrium Vol. 5 No. 9 , 2009.

Rahmawaty, Anita. "Ekonomi Syariah : Tinjauan Kritis Produk Murabahah
Dalam Perbankan Syariah Di Indonesia", Jurnal Ekonomi Islam La Riba
Vol. 1 No. 2 , Jakarta , 2007.

Ratu Fitria, Winahyu. Wawancara. PT Bank Syariah Mandiri. 4 Juni 2013.

Riza Salman, Kautsar. "Akuntansi Perbankan Syariah Berbasis PSAK Syariah",
Akademia Permata, Padang, 2012.

Rodoni, Ahmad. Investasi Syariah, Lembaga Penelitian UIN Syarif
Hidayatullah, Jakarta, 2009.

Saeful Rahmat, Pupu. Penelitian Kualitatif, Equilibrium Vol. 5 No. 9, 2009.

Shomad, Abdul. Bay Al-Murabahah (Deffered Payment Sale) di Lingkungan
Bank Syariah, Jurnal Ekonomi Syariah Vol. 24 No. 1, Surabaya, 2009.

99


Smolo, Edib. Al-Bay Bithaman Ajil (BBA) as Practiced in Malaysia: a Critical
Review, Journal of Islamic Banking and Finance, Malaysia, 2010.

Sundusiah, Suci. Analisis Data Kualitatif. makalah, Universitas Pendidikan
Indonesia, Bandung, 2010.

Supramono, Gatot. " Perbankan dan Masalah Kredit Suatu Tinjauan di Bidang
Yuridis". Rineka Cipta, Jakarta , 2009.

Utama, Chandra. "Pengenalan Produk dan Akad Murabahah dalam Perbankan
Syariah", Bina Ekonomi Majalah Ilmiah Fakultas Ekonomi Unpar,
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 2009.

Wangsa, Sugianto dan Ming Kuang, Tan. Analisis Pengukuran ,
Pengklasifikasian , dan Pengakuan Pendapatan Pada Bank Konvensional
dan Bank Syariah, Akurat Jurnal Ilmiah Akuntansi No.6, Bandung, 2011.

Widodo, Sugeng. "Seluk Beluk Jual Beli Murabahah Perspektif Aplikatif", Asgard
Chapter, Yogyakarta 2010.

Wiyono, Slamet dan Maulamin, Taufan. "Memahami Akuntansi Syariah di
Indonesia", Mitra Wacana Media, Jakarta, 2012.












BULETIN TEKNIS 9 PENERAPAN METODE ANUITAS DALAM
MURABAHAH

DIKELUARKAN OLEH DEWAN STANDAR AKUNTANSI SYARIAH
IKATAN AKUNTAN INDONESIA

TANGGAL 16 JANUARI 2013

Buletin Teknis ini bukan bagian dari Standar Akuntansi Keuangan.




PENDAHULUAN

01. Dalam PSAK 102: Akuntansi Murabahah paragraf 23 mengatur bahwa pengakuan
keuntungan murabahah diakui:
(a) pada saat terjadinya penyerahan barang jika dilakukan secara tunai atau secara tangguh yang
tidak melebihi satu tahun; atau
(b) selama periode akad sesuai dengan tingkat risiko dan upaya untuk merealisasikan keuntungan
tersebut untuk transaksi tangguh lebih dari satu tahun. Metode-metode berikut ini digunakan,
dan dipilih yang paling sesuai dengan karakteristik risiko dan upaya transaksi murabahah-
nya:
(i) Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah. Metode ini terapan untuk
murabahah tangguh di mana risiko penagihan kas dari piutang murabahah dan beban
pengelolaan piutang serta penagihannya relatif kecil.
(ii) Keuntungan diakui proporsional dengan besaran kas yang berhasih ditagih dari piutang
murabahah. Metode ini terapan untuk transaksi murabahah tangguh di mana risiko
piutang tidak tertagih relatif besar dan/atau beban untuk mengelola dan menagih piutang
tersebut relatif besar juga.
(iii) Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih. Metode ini terapan
untuk transaksi murabahah tangguh di mana risiko piutang tidak tertagih dan beban
pengelolaan piutang serta penagihannya cukup besar. Dalam praktik, metode ini jarang
dipakai, karena transaksi murabahah tangguh mungkin tidak terjadi bila tidak ada
kepastian yang memadai akan penagihan kasnya.

02. Pada tanggal 21 Desember 2012 Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia
(DSN MUI) mengeluarkan Fatwa No.84/DSN-MUI/XII/2012 tentang Metode Pengakuan
Keuntungan Tamwil Bi Al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) di Lembaga Keuangan Syariah.
Fatwa tersebut mengatur bahwa pengakuan keuntungan murabahah dalam bisnis yang dilakukan
oleh para pedagang (al-tujjar), yaitu secara proporsional boleh dilakukan selama sesuai dengan urf
(kebiasaan) yang berlaku di kalangan para pedagang (al-tujjar); dan pengakuan keuntungan al-
tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) dalam bisnis yang dilakukan oleh lembaga
keuangan syariah, boleh dilakukan secara proporsional (thariqah mubasyirah) dan secara anuitas
(thariqah al-hisab al-tanazuliyyah/thariqah tanaqushiyyah) selama sesuai dengan urf (kebiasaan)
yang berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah.

03. Keluarnya fatwa tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana menerapkan pengakuan
keuntungan pembiayaan murabahah secara anuitas oleh lembaga keuangan syariah mengingat hal
ini tidak diatur dalam PSAK 102: Akuntansi Murabahah.




101
LAMPIRAN I
04. Kondisi ini menjadi pertimbangan bagi DSAS IAI dalam menerbitkan Buletin Teknis
ini dengan tujuan agar tercapai kesesuaian dan keseragaman penerapan anuitas untuk pembiayaan
murabahah.

PERMASALAHAN

05. Buletin Teknis ini membahas akuntansi untuk pembiayaan murabahah oleh lembaga
keuangan syariah yang keuntungannya diakui secara anuitas.

AKUNTANSI PEMBIAYAAN MURABAHAH SECARA ANUITAS

06. Pembiayaan murabahah yang keuntungannya diakui secara anuitas didasarkan pada
fakta bahwa pembiayaan murabahah adalah penyediaan dana oleh lembaga keuangan syariah yang
disalurkan kepada nasabah dengan mekanisme jual-beli. Dalam akuntansi kegiatan seperti ini secara
substansi dikategorikan sebagai kegiatan pembiayaan (financing).

07. Akuntansi untuk pembiayaan murabahah yang substansinya dikategorikan sebagai
kegiatan pembiayaan (financing) mengacu pada PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran, PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian, PSAK 60: Instrumen Keuangan:
Pengungkapan dan PSAK lain yang relevan. Oleh karena itu, lembaga keuangan syariah yang
menerapkan anuitas untuk pengakuan laba transaksi pembiayaan murabahah sesuai Fatwa
No.84/DSN-MUI/XII/2012 harus melakukan pengakuan, pengukuran, penyajian, dan
pengungkapan pembiayaan murabahah sesuai dengan ketentuan dalam PSAKPSAK tersebut,
termasuk akuntansi untuk penurunan nilai dari pembiayaan murabahah dan pengungkapan risiko
secara kualitatif dan kuantitatif yang timbul dari pembiayaan murabahah tersebut.


*****



































102

r
~
~.)-~~v~~'.: .....
",. ..,.. r-
~ ;; . . . . .
. . .
DEWAN SYARIAH NASIONAL MUI
National Sharia Board - Indonesian Council of Ulama
Sekr etar iat: J I. Dempo No. 19 Pegangsaan-J akarta Pusat 10320 Telp. : (021)3904146 Fax. :(021) 31903288
FATWA
DEWAN SYARIAH NASIONAL
NO: 84/DSN-MUIIXII/2012
Tentang
MET ODE PENGAKUAN KEUNTUNGAN Al-TAMWIL BI AL-MURABAHAH
(PEMBIAYAAN MURABAHAH) DI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) setelah:
Menimbang : a. bahwa dalam pengakuan keuntungan pembiayaan murabahah yang
diaplikasikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dikenal
antara lain dua metode, yaitu metode proporsional dan metode
anuitas;
b. bahwa penerapan salah satu dari dua metode pengakuan keuntungan
pembiayaan murabahah tersebut menimbulkan permasalahan bagi
kalangan industri dan masyarakat, sehingga memerlukan kejelasan
dari aspek syariah mengenai kedua metode pengakuan keuntungan
pembiayaan murabahah tersebut;
c. bahwa Lembaga Keuangan Syariah memerlukan metode pengakuan
keuntungan pembiayaan murabahah yang dapat mendorong
pertumbuhan Lembaga Keuangan Syariah yang sehat;
d. bahwa atas dasar pertimbangan huruf a b, dan c, Dewan Syariah
Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) memandang perlu
untuk menetapkan fatwa tentang metode pengakuan keuntungan
pembiayaan murabahah di Lembaga Keuangan Syariah untuk
dijadikan pedoman.
Mengingat 1. Firman Allah s.w.t., antara lain:
a. QS. al-Nisa' [4]: 29:
'" .J . 0 " " {jj 0 J J -'" '" .J .J 2 " ,. ~ M
e C'::' i ~I IL. LJ L, e c:<1(Oi (I("'\J ~ (~/T ~jJ I 1/.' 1S
U~ U ~ If'" . . r -'~r -''''' .r" y-- yJ . . ~ -
", ,. . " ", "'"
J "
... ~ uP1) 0P oJ b;
'" ~ "'"
"Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan
(mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di
antaramu ... "
Dewan Syariah Nasiona.l - Majelis Ulama Indonesia
103
LAMPIRAN II
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 2
b. QS. al-Ma'idah [5]: 1:
"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu .... "
c. QS. al-Ma'idah [5]: 2:
~ljUlj ~yi ~ Ijj~ ~j l>~lj 11~ Ijj~j . . .
0 :;J tfJ ~ "
. ylkJ I ~.G. aJ I01aJ I1~lj
"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam
berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. "
d. QS. al-Baqarah [2]: 283:
..-: " " ..-: 0 'f. ; 1J ~ 0..... J .. 0 ..
. . . ~~~I pj ,~~I ~jl l>~1~~ \~~!~ ~i 0~. .
"...Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,
hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya ... ".
2. Hadis Nabi s.a.w., antara lain:
a. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari 'Ubadah bin Shamit,
riwayat Ahmad dari Ibnu 'Abbas, dan riwayat Imam Malik dari
Yahya:
,. .... 0/ ,.:/1 .... ;1J :; I ;1J..... $1/
~I~ ~j ~~~0i ~ (. Lj~ ill1~ ~I J ~~ 0i
:yL. J I/ ~ cj ~L,a. . . . . J I J . O~~ tY' <t;>,-L. J . I <t;>,-.r:-i)
:~. 1J I ~j 'Oj~ ~L. ~ cj ls-! o" :yl)1 'i~~1
(~ tY' ~L. J 'd~ J . I tY' -Lr i olJ jJ .r ii'
"Rasulullab s.a.w. menetapkan: Tidak boleh membahayakan/
merugikan orang lain dan tidak boleh (pula) membalas bahaya
(kerugian yang ditimbulkan oleh orang lain) dengan bahaya
(perbuatan yang merugikannya). " (HR. Ibnu Majah dari Ubadah
bin Shamit dalam Kitab Sunan al-Tirmidzi, Kitab: Ahkam, bab
man bana fi haqqihi ma yadhurru bi jarihi, No: 2331; HR.
Ahmad dari Ibnu Abbas dan HR Malik dari Yahya)
b. Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Kitab Ahkam,
bab: ma dzukira 'an Rasulillah, No:<1272:
tJj "... .p.", /. o; 1J 0 0, ",-
~In l~i0i ~yG.../ ./ ~ ~I /. ~o :11/. 0/ " ~ :"'1'"",\1
?.r: J i? ~U'"u ~ ~ C-'-
I~I// "'\~'I 0'I~r ~l//r;./ If 0/, ~r l~. t, n, I;". ~ } 1
0
} il/
.1...4 .r" u- J LJ I.:>- i?W.r" l ~~ J r cs:" U. J "~~. . ~. J
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
104
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 3
"Perdamaian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali
perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan
yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat
mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram. "
c. Hadis Mauquflbnu Mas'ud:
~~,.. ~\ ,..~ ,.. J : \: ~:..~0 J 1
0
J \\ ~-\" I"
. ~ . ul ~ ~ uy>- . . . ~ 0) \.,4
"Apa yang dipandang baik c:leh umat Islam, baik pula di sisi
Allah." (HR Ahmad, Musnad Ibn Hanbal, kitab: al-Muktsirin
min al-Shabahah, bab: Musnad Abdullah Ibnu Mas'ud, No.
3418; Radd al-Muhtar 'ala Dur al-Mukhtar, Ibnu 'Abidin, Dar
al-Kutub al-Tlmiyah, hlm, 52)
3. Kaidah fikih, antara lain:
...-: ,.. ~ :ii o/:$J J 0 0 J " " '''
0 ~ ~q I~ 10\~ J J .s :Ii "\ h-\S't\ W f..t\ . 1
0
_f..t\
~~ ~ u- - v l. . t ~ _ l -.I U- l
// ;' """,. ,. . . . ;'
"Pada dasarnya, segala bentuk mu 'amalat boleh dilakukan
kecuali ada dalil yang mengharamkannya. " (al-Asybah wa al-
Nazha 'ir fi Qawa'id wa Furu' Fiqh al-Syafi'iyyah, J alal al-Din
Abd al-Rahman Ibnu Abi Bakr al-Suyuthi, Beirut: Dar al-Kitab
aI-'Arabi. 1987, hlm. 133).
"'" (/J 0 J . ,.
'~\J ~ ~'J ~~\)\ ~ 'J ~ .Y
"Jika sebuah kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan
sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya." (Irsyad al-
Fuhul, Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad al-Syaukani, Beirut:
Dar al-Fikr. 1992, juz 1, hlm, 411).
,. 0.... /. /. 0 J ..
~~ . k:;~) ~ r ~Y \ ~~ .w
"Keputusan/kebijakan/tindakan pemegang otoritas terhadap
rakyat harus mempertimbangkan mashlahat. " (al-Asybah wa al-
Nazha 'ir fi Qawa'id wa Furu' Fiqh al-Syafi'iyyah, J aial aI-Din
Abd al-Rahman Ibnu Abi Bakr al-Suyuthi, Dar Saa, Kairo 2004,
cet. II, Vol. I, hlm, 276).
"Adat (dapat) dijadikan pertimbangan dalam penetapan
hukum." (Durar al-Hukkam fi Syarh Majallat al-Ahkam, Ali
Haidar, Dar aI-J iI, pasal 812, hlm. 351).
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
105
1-
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 4
.ti,:?.1)~\:itS--li:; ~);:.J \ .~
/
"Sesuatu yang diketahui (berlaku) secara adat (berdasarkan
kebiasaan) sama statusnya dengan sesuatu yang ditetapkan
sebagai syarat." (Durar al-Hukkam fi Syarh Majallat al-
Ahkam, Ali Haidar, Dar aI-J ail, pasal251, him. 233).
.: ~ ':0/ . 1
0
~~ J tS-- G:j\ ~0/ ~o ;J \
~/J ! ~ J C
"Sesuatu yang diketahui (berlaku) secara adat (berdasarkan
kebiasaan) di antara sesama pedagang sama statusnya dengan
sesuatu yang ditetapkan sebagai syarat di antara mereka."
(Syarh al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, Ahmad Ibn al-Syaikh
Muhammad al-Zarqa, Damaskus: Dar al-Qalam, 1989, hIm. 237;
al-Qawaid al-Fiqhiyyah: Mafhumuha, Nasy'atuha,
Tathawwuruha, Dirasat Mu 'allafatuha, Adillatuha,
Muhimmatuha, Tathbiqatuha, Ali Ahmad al-Nadawi,
Damaskus: Dar al-Qalam, 1994, hlm. 65; dan al-Wajiz fi Idhah
al-Fiqh al-Kuliyyah, Muhammad Shidqi Ibn al-Burnu, Beirut:
Mu'assasah al-Risalah, 1983, hlm. 79).
.~~ ~8tS--J ~~ ~8\ .t
"Sesuatu yang tetap (berlaku) berdasarkan kebiasaan sama
statusnya dengan sesuatu yang ditetapkan dengan nash." (al-
Qawa'id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Atsaruha fi al-Mu'amalat
al-Maliyah, Umar Abdullah Kahil, Kairo: Universitas al-Azhar.
t.th, hlm. 160).
.~~\ ~~ ~~~\ ~G ~ ~W\ ~ . ~
"Keputusan pemerintah (pemegang otoritas) dalam masalah
ijtihad menghilangkan ikhtilaf" (al-Furuq, Syihab al-Din al-
Qurafi, Beirut: 'Alam al-Kutub, t.th., juz II, hIm. 103).
'~~\~J~W\~ )
"Keputusan pemerintah (pemegang otoritas) menghilangkan
ikhtilaf" (I'anat al-Thalibin, Sayyid al-Bakri Muhammad
Syatha al-Dimyathi, Beirut: Dar al-Fikr. t.th., juz III, hlm. 303;
Hasiyah Ibn Abidin, Muhammad Amin, Beirut: Dar al-Fikr.
1386 H, juz III, hlm. 412; dan Hasiyah al-Dasuqi, Muhammad
al-Dasuqi, Beirut: Dar al-Fikr. t.th., juz IV, hlm. 79, 147, dan
158).
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
106
i-------
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 5
Memperhatikan 1. Pendapat para ulama, antara lain:
a. Dr. Wahbah al-Zuhaili:
"" '" /. /. " ; J j oJ /. ~O" 0 0
. . \kJ I~lkJ I ~~ ~I;~ t;J T ~ ~~I . . \kJ I~j
" " " " ,." ., /t- //" ., " " " " " ,.
o J ..... " 0 J " ,;' /. " ,
,~j:WJ ~I J ;;::~f~ ~I ~tkJ I ~~ . . . ~
" , ;" '" "" "~-. -;",. . ,,. . , "" ;'
J 0 ;' 't //
. ~~I r ~1 ~G I~j
Akibat hukum utama akad (tujuan akad, ghayah) terjadi seketika
--berdasarkan ketentuan syara '-- hanya dengan terjadinya akad
yang sah (memenuhi rukun dan syarat-syaratnya) ... dengan
terjadinya akad jual beli yang sah, beralihlah kepemilikan
(barang) kepada pembeli; demikian pula akibat hukum akad
lainnya (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Wahbah al-Zuhaili,
Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'ashir. 2006. juz IV, hlm. 3084)
b. Pendapat fuqaha dalam al-Mausu'atu al-Fiqhiyah al-
Kuwaitiyah:
o oj) :; I 0 0 0
~_ /~. :l\ ~ 0~j ,~I 2W
1
~j 'C;. ":l\~j\:J I ~
;'" .. ;'...,;' ;'
//. "" (J j" /. 0" /. 0
. . . 'lA:J I \;",' . -/::/ ~/ ,~'" 1~/I ~ ~"'/. ' .:11
. ~ ~ ~~ J - _ . ~ r . :::;:--
". . " ,. '" . . . . //
Dalam jual-beli, obyek (mabi') menjadi milik pembeli dan uang
(tsaman) menjadi milik penjual; pembeli menjadi pemilik obyek
(mabi') dengan terjadinya akad jual-beli yang sah, tanpa
disyaratkan adanya penguasaan (qabdh) (al-Mausu'atu al-
Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, Wizaratul Auqaf al-Kuwaitiyah, juz
9, hIm. 37.)
2. Keputusan AAOFI, dalam al-Ma'ayir al-Syar'iyyah:
,." . /0 //...:/J ;:" 0 ........
4#- J ~~ ~?dj~ ~;, ~i ~j:J I r ~ 0i ~~ 'J
~ ~ ~" " ,;,
; $I ""'" ; ' Jo /. /. '" ~ oJ I.
~ :. ?I y~1 ~;, ~ 'J ~I ;~ ~ ~~ ~:)Iy~
". . -",. ,,;' " ". . ,. . . "" "'" '" '" ~ "" ,. ""
" , /.0 ,... ~ /0 . " ...,:; o;J " .,
:,i ,;:WI ~\.SJ ~. ?~I ~t5" ~ ~ ~:)I. . 4. . G. J ~
,. . . "". ". ",. . "" ~-'---,. ,. . . . ~ ;" " ..
~ 0 0,.. o;J J /. /. 0 ... /
. ~(;;/:::l\~GJ I \;",' :)1 ~ ~ aJ " G]1 ,--,~I a..;;.;L
~ -' . ~ L1 . - - - ). -f"
/// ,. . . // ;' '" " ,.-
o " ,.,. J 0,/ // 0/ 0 0 /.
~I ~ 0~ 0i ~?J :,w'J I J jh~ ~w~l\ ~~
.d~: \~~ ~c,. ~i
/ / /
Lembaga Keuangan Syariah tidak dilarang untuk menggunakan
metode yang diterima (dibolehkan) oleh syariah dan 'urf dalam
menghitung keuntungan (murabahah) sesuai jangka waktu
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
107
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 6
pembiayaan, antara lain metode penghitungan keuntungan
berdasarkan prosentase atas jumlah total harga/pembiayaan dalam
satu tahun, selama jangka waktu pembiayaan (thariqah al-hisab
allati ta'tamidu 'ala tahdid al-ribh nisbatan 'ala kamil al-mablagh
sanawiyan li kamil al-muddah), atau metode penghitungan secara
menurun (thariqah al-hisab al-tanazuliyah), yaitu penghitungan
keuntungan berdasarkan sisa pembiayaan yang menjadi
tanggungjawab nasabah sesuai dengan jadual angsuran. Dalam
kedua metode terse but, pada saat akad total harga jual harus
disebutkan dalam bentuk nominal. (al-Ma 'ayir al-Syar'iyah li al-
Muraja 'ah al-Islamiyah, Mi'yar No. 47, Hai'ah al-Muraja'ah wa al-
Muhasabah al-Islamiyah, Bahrain, hlm. 63).
'" """, 0.....,;' ....".. ", 0 0 ..... 0
4C. ;. ('; ~ ~jJ . bwi ~ ~ ~J .;ji 4W\ 4L:J \ o~\
~/ ~ ~ // // '"
:0:::~~j t>:b-l i\~~ ~ ~ o;~
/.... // . . . /~ . . . . ~
~~r !
"Pengakuan keuntungan jual-beli tangguh yang harganya dibayar
sekaligus setelah periode buku berjalan atau dibayar secara
angsuran dalam beberapa peri ode buku berikutnya, dilakukan
dengan salah satu dari dua metode berikut:
(1) Pengakuan keuntungan disebar ke dalam beberapa periode
buku yang akan datang sampai dengan jatuh tempo; dalam arti
untuk setiap periode buku ada bagian keuntungan yang
ditentukan, baik pembayaran harga terse but diterima atau
tidak. Inilah metode yang lebih disukai;
(2) Pengakuan keuntungan dilakukan ketika setiap angsuran
bayaran harga diterima, apabila dewan pengawas syariah
LKS/bank membolehkannya atau apabila otoritas pengawas
mengharuskan demikian. (Ma' ayir al-Muhasabah wa al-
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
108
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 7
Muraja'ah wa al-Dhioabitn li al-Mu'assasat al-Maliyah al-
Islamiyah, Mi'yar no 2, AAOIFI Bahrain, 2004, hIm. 142).
3. Pendapat Dr. 'Isham Abdul Hadi Abu Nashr:
I/J 0 0..... 0 /0J . ".. 0 J J 'J J ,; ./
(:(:::11 . bUUI~ ~ <Q j ~:a; yjLi ~';" Jjt. d~i
"" ". "" "" ~ "" ~ ,. , ;,-",. ,
" " 0 0lolo! ,.. ...
:,i ~~I ~I ~~ ~; J ;" j ~;, ~ ~~I ~Iy d
,.; ,/ ,/,/ // ,/. . . . . ,/,...... . . . . . . . .
:J j ~,.. 0,.. % "" ,. ,
~I)I ,?y ~~ ~ ~y,:;J I~ ~ ~ ~UUI :1(:0wI:' ~?-
J I?UI J >-. 8 t~J ;,.:,i u {f~~ILJ IJ (~.i~~~;~:. J I)
;' ///// //,., //;'" .
. ~I ~~I f 1 ..~:: . 0~1 0)" L
/ / ':'/ !~ ~~ :
(dalam murabahah tangguh atau cicilan) ketika ada skema yang
memberikan jaminan kepada penjual bahwa penagihan angsuran
yang masih tersisa akan berhasil tepat waktu, karena ada jaminan
(rahn) berupa barang yang menjadi obyek jual atau lainnya, dan
angsuran bisa diambil/dipenuhi dari harga penjualan marhun pada
saat terjadi kemaeetan pembayaran dari pembeli, maka tidak ada
alasan untuk menunda pengakuan keuntungan murabahah sampai
dengan angsuran tertagih atau telah jatuh tempo (al-Mu' alajah al-
Muhasabiyah li 'Amaliyat al-Bai' bi al-Taqsith, Muhasaba fi Dhai
ahkamal-Fiqh al-Islami, haI9, haIll).
4. Substansi Fatwa DSN-MUI No. 04IDSN-MUIIIV /2000 tentang
Murabahah;
5. Surat Dewan Standard Akuntansi Syariah Nomor 0700/DSAS-
IAI/2012, tanggal10 Oktober 2012;
6. Surat Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Nomor
234/APPI/WKU-ESI/XI/12, tangga122 November 2012;
7. Surat Asosiasi bank Syariah Indonesia Nomor 21/042-2/2012,
tanggal23 November 2012;
8. Rekomendasi Ijtima' Sanawi (Annual Meeting) Dewan Pengawas
Syariah VIII, Tahun 2012 tanggal 2-5 Desember 2012;
9. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN-MUI pada hari J umat, tanggal
07 Shafar 1433/21 Desember 2012.
MEMUTUSKAN
Menetapkan Metode Pengakuan Keuntungan Tamwil Bi Al-Murabahak
(Pembiayaan Murabahah) di Lembaga Keuangan Syariah
Pertama Ketentuan Umum
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
109
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 8
Dalamfatwaini yangdimaksuddengan:
1. Metode Proporsional (Thariqah Mubasyirah) adalah pengakuan
keuntungan yang dilakukan secara proporsional atas jumlah
piutang (harga jual, tsaman) yang berhasil ditagih dengan
mengalikan persentase keuntungan terhadap jumlah piutang yang
berhasil ditagih(al-atsman al-muhashshalah);
2. Metode Anuitas (Thariqah al-Hisab al-Tanazuliyyah/Thariqah al-
Tanaqushiyyah) adalah pengakuan keuntungan yang dilakukan
secara proporsional atas jumlah sisa harga pokok yang belum
ditagihdenganmengalikanpersentasekeuntunganterhadapjumlah
sisahargapokok yangbelumditagih(al-atsman al-mutabaqqiyah);
3. Murabahah adalah akad jual-beli dengan menegaskan harga
belinya kepada pembeli dan pembeli membayamya dengan harga
yanglebihsebagai keuntungan;
4. At-Tamwil bi al-Murabahah (Pembiayaan Murabahah) adalah
murabahah di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dengan cara
LKS membelikan barang sesuai dengan pesanan nasabah,
kemudian LKS menjualnya kepada nasabah --setelah barang
menjadi milik LKS-- denganpembayaransecaraangsuran;
5. HargaJ ual (tsaman) adalahhargapokok ditambahkeuntungan;
6. Al-Mashlahah (ashlah) adalah suatu keadaan yang dianggap
paling banyak mendatangkanmanfaat bagi pertumbuhan Lembaga
KeuanganSyariahyangsehat.
Kedua Ketentuan Hukum
Metode pengakuan keuntungan Murabahah dan Pembiayaan
Murabahah boleh dilakukan secara proporsional dan secara anuitas
denganmengikuti ketentuan-ketentuandalamfatwaini.
Ketiga Ketentuan Khusus
1. Pengakuan keuntungan murabahah dalam bisnis yang dilakukan
oleh para pedagang (al-tujjar), yaitu secara proporsional boleh
dilakukan selamasesuai dengan 'urf (kebiasaan) yang berlaku di
kalanganparapedagang;
2. Pengakuankeuntungan al-Tamwil bi al-Murabahah dalambisnis
yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) boleh
dilakukan secara Proporsional dan secara Anuitas selama sesuai
dengan 'urf(kebiasaan) yangberlakudi kalanganLKS;
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
110
84 Metode Pengakuan Keuntungan Pembiayaan Murabahah 9
3. Pemilihan metode pengakuan keuntungan al-Tamwil bi al-
Murabahah padaLKS harus memperhatikan mashlahah LKS bagi
pertumbuhanLKSyangsehat;
4. Metode pengakuan keuntungan at-Tamwil bi al-Murabahah yang
ashlah dalammasapertumbuhanLKSadalahmetodeAnuitas;
5. Dalamhal LKS menggunakan metode pengakuan keuntungan at-
Tamwil bi al-Murabahah secara anuitas, porsi keuntungan barus
ada selamajangka waktu angsuran; keuntungan at-tamwil bi al-
murabahah (pembiayaan murabahah) tidak boleh diakui
seluruhnyasebelumpengembalianpiutangpembiayaanmurabahah
berakhir/lunasdibayar.
Keempat Penutup
Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di
kemudian hari temyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan
disempumakan sebagaimanamestinya.
Ditetapkandi
Padatanggal
J akarta
07 Shafar 1433 H
21Desember 2012 M
DEWAN SYARIAH NASIONAL
MAJ ELIS ULAMA INDONESIA
Ketua,
DR. K.H. M.A. SAHAL MAHFUDH
Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
111
LAMPIRAN III
112


115

LAMPIRAN VI

SURAT EDARAN OPERASI
No. 6/044/OPS Tanggal 15-12-2004

PERIHAL : AKUNTANSI MURABAHAH

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembiayaan Murabahah merupakan pembiayaan terbesar yang dilakukan
oleh PT Bank Syariah Mandiri. Dalam pelaksanaan akuntansinya, PT Bank
Syariah Mandiri menunjuk pada PAPSI 2003 dan PSAK No 59: Akuntansi
Perbankan Syariah. Untuk memastikan, bahwa pelaksanaan akuntansi
murabahah di seluruh cabang dilaksanakan sesuai standar yang berlaku,
maka perlu disusun SE tentang Akuntansi Murabahah.

B. Maksud dan Tujuan

1) Agar perlakuan akuntansi Murabahah dalam laporan keuangan BSM
sesuai dengan standar yang berlaku (PSAK/PAPSI).
2) Agar memiliki persepsi / pemahaman yang sama mengenai akuntansi
murabahah.

C. Istilah

1) Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga
perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan
pembeli. (PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 52)

2) Keuntungan / margin Murabahah adalah Keuntungan / margin bank
yang diakui secara proporsional atas penyerahan/penjualan aktiva
murabahah, dimana pengakuannya dapat dilakukan dengan dasar kas
maupun dasar akrual.

3) Keuntungan / margin Murabahah kas adalah Keuntungan / margin
bank yang diakui secara proporsional atas pembiayaan / penjualan aktiva
murabahah, dimana pengakuan keuntungan tersebut dilakukan atas
dasar angsuran benar-benar telah diterima (kas/rekening/kliring) oleh
Bank dari nasabah.

4) Keuntungan / margin Murabahah akrual adalah keuntungan / margin
bank yang diakui secara proporsional atas pembiayaan / penjualan aktiva
murabahah, dimana pengakuan keuntungan tersebut dilakukan atas
proporsi angsuran belum diterima oleh Bank namun sudah menjadi
hak/bagian bank.
116


5) Keuntungan / margin murabahah proporsional adalah keuntungan dari
transaksi / pembiayaan murabahah yang pembayarannya dilakukan
secara angsuran atau tangguh dan pengakuan porsi pokok dan
keuntungannya dilakukan secara merata dan tetap selama jangka waktu
angsuran.

6) Margin Murabahah Ditangguhkan adalah bagian keuntungan / margin
dari pembiayaan murabahah yang belum dapat diakui sebagai
keuntungan murabahah.

7) Urbun adalah uang muka yang dibayarkan oleh nasabah dalam
pembiayaan. Urbun ini mengurangi piutang murabahah.

D. Dasar Hukum

1) PSAK No. 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah
2) PAPSI 2003 tentang Murabahah.

II. KETENTUAN UMUM

A. Aktiva Murabahah

1) Murabahah dapat dilakukan dengan pesanan atau tanpa pesanan. Dalam
murabahah berdasarkan pesanan, bank melakukan pembelian barang
setelah ada pesanan dari nasabah. (PSAK 59: Akuntansi Perbankan
Syariah, paragraph 53)

2) Murabahah berdasarkan pesanan dapat mengikat atau tidak mengikat
nasabah untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam murabahah
pesanan mengikat pembeli tidak dapat membatalkan pesanannya.
Apabila aktiva murabahah yang telah dibeli bank (sebagai penjual) dalam
murabahah pesanan mengikat mengalami penuruna nilai sebelum
diserahkan kepada pembeli maka penurunan nilai tersebut akan menjadi
beban penjual (bank) dan penjual (bank) akan mengurangi nilai akad.
(PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, paraghraph 54)

3) Pada saat perolehan, aktiva murabahah yang diperoleh untuk dijual
kembali diakui sebagai aktiva murabahah sebesar biaya perolehan.
(PSAK 59: Akutansi Perbankan Syariah, paragraph 61)

4) Jika terjadi penurunan nilai setelah perolehan untuk aktiva dalam
murabahah pesanan mengikat, maka penurunan nilai tersebut diakui
sebagai beban dan mengurangi nilai aktiva (PSAK 59: Akuntansi
Perbankan Syariah, paragraph 62)

5) Jika pembeli batal melakukan transaksi dalam murabahah pesanan tidak
mengikat, maka aktiva murabahah dinilai berdasarkan biaya perolehan
117

atau nilai bersih yang dapat direalisasi, mana yang lebih rendah. (PSAK
59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 62)

B. Pembayaran Murabahah

1) Pembayaran murabahah dappat dilakukan secara tunai atau cicilan.
Diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara
pembayaran yang berbeda. Bank juga dapat memberikan potongan
apabila nasabah:
a) mempercepat pembayaran cicilan; atau
b) melunasi piutang murabahah sebelum jatuh tempo
(PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 55-56)

2) Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual sedangkan
harga beli harus diberitahukan. Jika bank mendapat potongan
(muqoshah) dari pemasok, maka potongan itu merupakan hak nasabah.
Apabila potongan tersebut terjadi setelah akad maka pembagian
potongan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian yang dimuat akad.
(PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 57)

C. Urbun

1) Bank dapat meminta kepada nasabah urbun (uang muka) pembelian
pada saat akad apabila kedua belah pihak bersepakat. Urbun menjadi
bagian pelunasan piutang murabahah apabila murabahah jadi
dilaksanakan.Tetapi bila murabahah batal, urbun dikembalikan kepada
nasabah setelah dikurangi kerugian sesuai kesepakatan. (PSAK 59:
Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 57)

2) Urbun diakui sebagai uang muka sebesar jumlah yang diterima oleh
bank. Pada saat aktiva murabahah dibeli oleh nasabah, maka urbun
diakui sebagai pembayaran piutang.Sedangkan jika barang batal dibeli
oleh nasabah, maka urbun dikembalikan kepada nasabah setelah
diperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan bank. (PSAK
59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 68). Urbun dikembalikan
kepada nasabah setelah dikurangi kerugian, seperti:
a) Potongan urbun oleh pemasok
b) Biaya administrasi
c) Biaya lain yang dikeluarkan dalam proses pengadaan.

D. Piutang Murabahah dan Keuntungan Murabahah

1) Pada saat akad murabahah, piutang murabahah diakui sebesar biaya
perolehan aktiva murabahah ditambah keuntungan yang disepakati.
(PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 64)

2) Keuntungan murabahah diakui pada periode terjadinya, apabila akad
berakhir pada laporan keuangan yang sama; atau

118

3) Keuntungan murabahah diakui selama periode akad secara proporsional,
apabila transaksi murabahah pembayarannya dilakukan secara angsuran
atau tangguh. Pengakuan porsi pokok dan keuntungan dilakukan secara
merata dan tetap selama jangka waktu angsuran.

4) Keuntungan / margin murabahah dapat diakui dengan dasar kas maupun
dasar akrual.

5) Keuntungan / margin murabahah kas diakui pada saat diterimanya
angsuran dari nasabah.

6) Keuntungan / margin murabahah akrual atas margin murabahah yang
akan diterima pada angsuran berikutnya untuk piutang murabahah
dengan kategori performing (Lancar dan Dalam Perhatian Khusus),
dilakukan pada setiap akhir bulan.

7) Keuntungan / margin murabahah akrual atas tunggakan angsuran
dengan kategori kol 2 (dua) atau Dalam Perhatian Khusus (DPK) diakui
pada setiap akhir hari tanggal jatuh tempo (due date) angsuran dan akhir
bulan (end of month), dengan ketentuan dapat diakui maksimal 3 (tiga)
tunggakan berturut-turut atau selama 90 (Sembilan puluh) hari.

8) Metoda penghitungan keuntungan / margin murabahah akrual untuk
murabahah kategori lancer (kol 1) sebagaimana butir 6 (enam) diatas
hanya dilakukan pada setiap akhir bulan dapat dihitung dengan
formula sebagai berikut:

V=
()



Keterangan:
V: Keuntungan murabahah Kol 1
P: Tanggal akhir bulan
Q: Tanggal angsur
R: Jumlah hari dalam satu bulan, yaitu 30 hari
S:Keuntungan / margin murabahah yang akan diterima pada angsuran
berikutnya

9) Metoda penghitungan keuntunan pembiayaan murabahah akrual untuk
murabahah kategori Dalam Perhatian Khusus (kol 2) terdapat 2 (dua) kali
perhitungan akru, yaitu:

1. Pada saat nasabah menunggak angsuran, keuntungan diakru pada
setiap akhir hatri tanggal jatuh tempo angsuran (sesuai butir 7 (tujuh)
diatas) dan dapat dihitung dengan formula:

W1 = T

119

2. Pada saat akhir bulan untuk akrual keuntungan yang akan diterima
pada angsuran berikutnya (sesuai butir 6 (enam) diatas, dan dapat
dihitung dengan menggunakan formula:


W2=
()



Keterangan:
W1: Keuntungan murabahah Kol 2 pada saat tanggal angsuran
W2: Keuntungan murabahah Kol 2 pada saat tanggal akhir bulan
P: Tanggal akhir bulan
Q: Tanggal angsuran
R: Jumlah hari dalam satu bulan, yaitu 30 hari
S: Keuntungan / margin murabahah yang akan diterima pada angsuran
berikutnya
T: Jumlah angsuran margin murabahah tertunggak

10) Keuntungan / margin murabahah yang telah diakru untuk kategori
performing (kol 1 (satu) dan 2 (dua) yang telah dilakukan atas proporsi
akru margin angsuran berikutnya (sesuai butir 8 dan 9.2) diatas, direverse
pada setiap tanggal jatuh tempo angsuran.

11) Akru yang dilakukan karena nasabah menunggak (sesuai butir 9.a)
diatas, direverse pada saat nasabah melunasi tunggakan atau pada saat
piutang murabahah berubah menjadi non performing.

E. Potongan (Muqasah) Pelunasan Dini

Potongan pelunasan dini diakui dengan menggunakan satu metode berikut:

1) jika potongan pelunasan dilakukan pada saat penyelesaian, potongan
mengurangi piutang murabahah dan keuntungan murabahah; atau
2) jika potongan pelunasan diberikan setelah penyelesaian, bank terlebih
dahulu menerima pelunasan piutang murabahah dari nasabah, kemudian
bank membayar potongan pelunasan dengan mengurangi keuntungan
murabahah. (PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, paragraph 66)

F. Denda

Denda dapat dikenakan apabila nasabah lalai memenuhi kewajibannya
sesuai akad melanggar perjanjian dari segi waktu. Denda ini dicatat bukan
sebagai penghasilan, tetapi sebagai dana kebajikan. (PSAK 59: Akuntansi
Perbankan Syariah, paragraph 67). Denda diakui pada saat diterina.

G. PPAP

Penghitungan PPAP untuk piutang murabahah merujuk pada Peraturan Bank
Indonesia nomor 5/9/PBI/2003 tentang Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif bagi Bank Syariah dan SE Operasi BSM Np. 5/026/OPS tentang
120

Desentralisasi Pembukuan Beban Biaya Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif dari Kantor Pusat ke Kantor Cabang.

III. KETENTUAN PELAKSANAAN

A. Penyajian

Penialian piutang murabahah pada akhir periode akuntansi:
1) Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat
direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi penyisihan
kerugian piutang.
2) Margin murabahah ditangguhkan disajikan disajikan sebagai pos lawan
piutang murabahah.

B. Jurnal

1) Pada saat Bank menerima Urbun sebagai uang muka dari nasabah:
Db. Kas/Rekening
Kr. KRR Pembiayaan

2) Pada saat Bank mengembalikan urbun kepada nasabah karena
pembatalan pesanan:
Db. KRR Pembiayaan
Kr. Pendapatan operasional
Kr. Kas/Rekening

3) Pada saat pesanan murabahah jadi dilaksanakan dan urbun dibukukan
sebagai pengurang piutang murabahah:
Db. KRR Pembiayaan
Kr. Piutang Murabahah

4) Pada saat perolehan aktiva murabahah:
Db. Persediaan murabahah
Kr. Kas/Rekening Pemasok/Kliring

5) Pada saat penjualan aktiva murabahah kepada nasabah:
Db. Piutang Murabahah
Kr. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Persediaan/aktiva murabahah

6) Pada saat nasabah mengangsur cicilan piutang murabahah:
Db. Kas/Rekening
Kr. Piutang murabahah

Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah
(Margin dan pokok murabahah diakui secara proporsional)

7) Pada saat nasabah menunggak cicilan piutang murabahah, kol piutang
murabahah menurun dari kol 1 (satu) menjadi kol 2 (dua) dan BSM
121

mengakui keuntungan / margin murabahah akrual kol 2 (dua) atas
tunggakan angsuran pada akhir hari tanggal jatuh tempo angsuran;
Db. Piutang murabahah jatuh waktu*)
Kr. Piutang murabahah

Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah akrual

*) dibukukan sebesar angsuran tertunggak

8) Pada saat mengakui keuntungan / margin murabahah kol 1 (satu)
atas proporsi angsuran yang akan diterima pada angsuran berikutnya
pada setiap akhir bulan (end of month):
Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah akrual

9) Pada saat mengakui keuntungan / margin murabahah akrual kol 2
atas proporsi angsuran yang akan diterima pada angsuran
berikutnya pada setiap akhir bulan (end of month):
Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah akrual

10) Pada saat pembentukan cadangan umum PPAP pada setiap akhir bulan:
Kantor Cabang
Db. Beban PPAP
Kr. RAK Kantor Pusat

Kantor Pusat
Dr. RAK Kantor Cabang
Db. Cadangan PPAP

11) Pada saat mereverse keuntungan / margin murabahah akrual kol 1
(jurnal butir 8) pada awal hari (beginning of day) tanggal jatuh tempo
(due date) angsuran bulan berikutnya:
Db. Keuntungan / margin murabahah akrual
Kr. Margin murabahah ditangguhkan

12) Pada saat mereverse keuntungan / margin murabahah akrual kol 2
(jurnal butir 9) pada awal hari (beginning of day) tanggal jatuh tempo
(due date) angsuran bulan berikutnya:
Db. Keuntungan / margin murabahah akrual
Kr. Margin murabahah ditangguhkan

13) Pada saat nasabah membayar tunggakan angsuran atas piutang
murabahah kol 2:
Db. Kas/Rekening
Kr. Piutang murabahah jatuh waktu

Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah kas
122


14) Pada saat piutang murabahah menjadi non performing (kol 3 s.d. 5):
Db. Keuntungan / margin murabahah akrual
Kr. Margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu

Pada saat bersamaan dibukukan dalam rekening administrative
sebesar margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu sesuai butir
14 sebagai berikut:
Db. Tagihan kontinjensi kenuntungan murabahah dalam penyelesaian
Kr. Kontra keuntungan murabahah dalam penyelesaian

15) Pada saat pembentukan PPAP tambahan karena penambahan piutang
murabahah menjadi non performing:

Kantor Cabang
Db. Beban PPAP
Kr. RAK Kantor Pusat

Kantor Pusat
Dr. RAK Cabang
Kr. Cadangan PPAP

16) Pada saat menerima angsuran tunggakan dari nasabah atas murabahah
non performing:
Db. Kas/Rekening
Kr. Piutang murabahah jatuh waktu

Db. Margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu
Kr. Keuntungan margin murabahah

Pada saat bersamaan dibukukan dalam rekening administrative
sebesar porsi keuntungan margin murabahah (sesuai butir 16
diatas) sebagai berikut:
Db. Kontra keuntungan murabahah dalam penyelesaian
Kr. Tagihan kontinjensi keuntungan murabahahdalam penyelesaian

17) Pada saat pelunasan dini dan nasabah diberikan potongan. Pelunasan
dini dapat dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) metode berikut ini:

a) Apabila dilakukan pada saat penyelesaian, bank mengurangi piutang
murabahah dan keuntungan murabahah.
Db. Kas/Rekening
Kr. Piutang murabahah

Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah

b) Apabila dilakukan setelah penyelesaian

Pada saat menerima pelunasan piutang murabahah dari nasabah
123

Db. Kas/Rekening
Kr. Piutang murabahah

Db. Margin murabahah ditangguhkan
Kr. Keuntungan / margin murabahah

Pada saat membayar potongan pelunasan dini kepada nasabah
dengan mengurangi keuntungan murabahah.
Db. Beban Potongan pelunasan dini murabahah
Kr. Kas/rekening nasabah

18) Pada saat menerima denda dari nasabah
Db. Kas/Rekening
Kr. Dana sosial Ex Penalty

IV. PENUTUP

Dengan berlakunya SE ini, maka seluruh peraturan mengenai cara
pembukuan pembiayaan murabahah yang tekah diatur sebelumnya yang
bertentangan dengan SE ini dinyatakan tidak berlaku lagi dan harus
dilakukan penyesuaian perlakuan akuntansi sesuai ketentuan yang berlaku.
Lampiran-lampiran merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari SE
ini.

Petunjuk pelaksanaan ini berlaku sejak tanggal dikeluarkan dan apabila
terdapat hal-hal yang belum diatur dalam petunjuk ini akan ditetapkan
kemudian.

Demikian kami sampaikan untuk Saudara laksanakan dengan tertib dan
penuh tanggung jawab. Apabila terdapat hal-hal yang kurang jelas, harap
hubungi Kantor Pusat PT Bank Syariah Mandiri Divisi Operasi dan Akuntansi.




D I R E K S I






Iskandar Z. Rangkuti Nana M. Somantri
Direktur Direktur






124

ILUSTRASI
SURAT EDARAN OPERASI
No. 6/044/OPS Tanggal 15-12-2004

PERIHAL : AKUNTANSI MURABAHAH

A. Pembukuan dengan pembayaran jumlah angsuran per bulan tetap

BSM menjual 1 (satu) unit Toyota Kijang dengan akad murabahah kepada
Bapak Achmad dengan data sebagai berikut:

Harga perolehan : Rp 150.000.000
Margin : Rp 29.726.767 +
Harga Jual : Rp 179.726.767
Urbun : Rp 30.000.000
Piutang Murabahah : Rp 149.726.767
Periode murabahah : 24 bulan
Angsuran per bulan : Rp 6.238.615,30

Perolehan aktiva murabahah & penjualan kepada nasabah: 15 Februari
2005
Margin murabahah: Rp 29.726.767 (eq.18%)
Pembayaran angsuran: setiap tangga; 10 (Maret 2005 s /d Februari 2007)
Urbun: sebesar Rp 30.000.000, dibayarkan oleh nasabah tanggal 10
Februari 2005
Ilustrasi, perhitungan dan skedul angsuran dapar dilihat di tabel 1

B. Jurnal

a) 10 Februari 2005, pada saat menerima urbun sebagai uang muka dari
nasabah:
Db. Kas/rekening 30.000.000
Kr. KRR Pembiayaan 30.000.000

125

b) 15 Februari 2005, pada saat perolehan aktiva murabahah:
Db. Persediaan aktiva murabahah 150.000.000
Kr. Kas/Rekening Pemasok/Kliring 150.000.000

c) 15 Februari 2005, pada saat penjualan aktiva murabahah kepada
nasabah:
Db. Piutang Murabahah 179.726.767
Kr. Margin murabahah ditangguhkan 29.726.767
Kr. Persediaan aktiva murabahah 150.000.000

d) 15 Februari 2005, pada saat pesanan murabahah jadi dilaksanakan dan
urbun dibukukan sebagai pengurang piutang murabahah:
Db. KRR Pembiayaan 30.000.000
Kr. Piutang murabahah 30.000.000

e) 15 Februari 2005, pada saat bank mengembalikan urbun kepada
nasabah karena pembatalan pesanan (jika pesanan murabahah tidak jadi
dilaksanakan) dengan bank mengenakan biaya administrasi, misal
sebesar Rp 1.000.000:
Db. KRR Pembiayaan 30.000.000
Kr. Pendapatan potongan murabahah 1.000.000
Kr. Kas/Rekening 29.000.000

f) Pada tanggal 10 setiap bulan (bulan Maret 2005 s/d Februari 2007):
Pada saat nasabah mengangsur dan menunggak cicilan piutang
murabahah, misal transaksi pada bulan Juni dan Juli 2005:

1) 10 Juni 2005, jika pembayaran dilakukan tepat waktu*)
Db. Kas/Rekening 6.238.615,30
Kr. Piutang Murabahah 6.238.615,30

Db. Margin murabahah ditangguhkan 1.031.858,57
Kr. PBH & M Pembiayaan murabahah 1.031.858,57

126

*) Bank mengakui angsuran pokok dan keuntungan / margin
murabahah secara proporsional.

2) 10 Juni 2005, jika nasabah menunggak angsuran (pembayaran
dilakukan tidak tepat waktu / lewat dari tanggal 10 setiap bulannya),
piutang murabahah menjadi turun kol, dari kol 1 (satu) menjadi 2
(dua) dan BSM mengakui keuntungan / margin murabahah
akrual kol 2 (dua) atas tunggakan angsuran pada akhir hari tanggal
jatuh tempo angsuran:

Db. Piutang murabahah jatuh waktu 6.238.615,30
Kr. Piutang murabahah 6.238.615,30

Db. Margin murabahah ditangguhkan 1.031.865,57
Kr. Margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu 1.031.865,57

3) 10 Juli 2005, pada saat mereverse keuntungan / margin murabahah
akrual kol 2 pada awal hari (beginning of day) tanggal jatuh tempo
(due date) angsuran:

Db. Keuntungan / margin murabahah akrual
Kr. Margin murabahah ditangguhkan

4) 10 Juli 2005, pada saat nasabah membayar tunggakan angsuran
atas piutang murabahah kol 2 (dua):

Db. Kas/Rekening 6.238.615,30
Kr. Piutang murabahah jatuh waktu 6.238.615,30

Db. Keuntungan / margin murabahah Akrual 1.031.865,57
Kr. Keuntungan / margin murabahah Kas 1.031.865,57

g) Pada setiap tanggal akhir bulan bulan Maret 2005 s/d Februari 2007,
pada saat mengakui keuntungan / margin murabahah akrual kol 1 (satu)
127

dan 2 (dua) atas proporsi angsuran yang akan diterima pada angsuran
berikutnya pada setiap akhir bulan (end of month):

1) Pengakuan keuntungan margin murabahah akrual kol 1 (satu) pada
akhir bulan, 30 Juni 2005.

W1=
()




Keterangan:
W1: Keuntungan murabahah akrual Kol 1 pada saat tanggal akhir bulan
P: Tanggal akhir bulan ; 30 Juni 2005
Q: Tanggal Angsuran ; 10 Juni 2005
R: Jumlah hari dalam satu tahun, yaitu 30 hari
S: Keuntungan / margin murabahah yang akan diterima pada angsuran
berikutnya; Rp 1.031.865,57
P-Q: 20 hari

W1: Keuntungan murabahah akrual Kol 1 pada saat tanggal akhir
bulan *)
20 x Rp 1.031.865,57 = Rp 687.910,38
30

*) Akrual setiap bulan dapat dilihat pada tabel 3 lampiran

30 Juni 2005, Jurnal :

Db. Margin murabahah ditangguhkan 687.910,38
Kr. Pendapatan margin murabahah akrual 687.910,38

2) Pengakuan keuntungan / margin murabahah akrual kol 2 (dua) pada
akhir bulan, 30 Juni 2005.

W2=
()




W2: Keuntungan murabahah akrual Kol 2 pada saat tanggal akhir bulan
P: Tanggal akhir bulan ; 30 Juni 2005
Q: Tanggal Angsuran ; 10 Juni 2005
R: Jumlah hari dalam satu tahun, yaitu 30 hari
S: Keuntungan / margin murabahah yang akan diterima pada angsuran
berikutnya; Rp 1.031.865,57
P-Q: 20 hari

W1: Keuntungan murabahah akrual Kol 1 pada saat tanggal akhir
bulan *)
128

20 x Rp 1.031.865,57 = Rp 687.910,38
30

*) Akrual setiap bulan dapat dilihat pada tabel 3 lampiran


30 Juni 2005, Jurnal :

Db. Margin murabahah ditangguhkan 687.910,38
Kr. Pendapatan margin murabahah akrual 687.910,38

h) Pada setiap tanggal 1 (satu) / awal bulan Maret 2005 s/d Februari 2007
pada saat mereverse keuntungan / margin murabahah kol 1 (jurnal butir
g.1):

1 Juli 2005, Jurnal
Db. Keuntungan / margin murabahah akrual 687.910,38
Kr. Margin / murabahah ditangguhkan 687.910,38

i) Pada setiap 1 (satu) / awal bulan Maret 2005 s/d Februari 2007 pada saat
mereverse keuntungan / margin murabahah akrual kol 2 (dua) (jurnal butir
g.2) ):

1 Juli 2005, Jurnal
Db. Keuntungan / margin murabahah akrual 687.910,38
Kr. Margin / murabahah ditangguhkan 687.910,38

j) 10 Agustus 2005, pada saat piutang murabahah menjadi non performing
(kol 3 s.d. 5)
Db. Keuntungan margin murabahah akrual 1.031.865,57
Kr. Margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu 1.031.865,57

Pada saat bersamaan dibukukan dalam rekening administrative
sebesar margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu sesuai butir j)
sebagai berikut:

Db. Pendapatan murabahah dalam penyelesaian 1.031.865,57
Kr. Kontra Pendapatan murabahah dalam penyelesaian 1.031.865,57

k) 22 Agustus 2005, pada saat menerima angsuran tunggakan dari nasabah
atas murabahah non perforoming:
Db. Kas/Rekening 6.238.615,30
Kr. Piutang murabahah jatuh waktu 6.238.615,30

Db. Margin murabahah ditangguhkan jatuh waktu 1.031.865,57
Kr. Pendapatan margin murabahah 1.031.865,57

Pada saat bersamaan dibukukan dalam rekening administrative
sebesar porsi keuntungan margin murabahah (sesuai butir k) diatas)
sebagai berikut:
129

Db. Kontra keuntungan murabahah dalam penyelesaian
Kr. Tagihan kontinjensi keuntungan murabahah dalam penyelesaian

l) Pada bulan April 2005 nasabah melakukan pelunasan dipercepat. Pada
saat pelunasan dini, nasabah diberikan potongan. Pelunasan dini dapat
dilakukan dengan dengan menggunakan 2 (tiga) metode berikut ini:

c) Jika dilakukan pada saat penyelesaian, bank tidak memberikan
diskon.
Db. Kas/Rekening 56.147.537
Kr. Piutang murabahah 56.147.537

Db. Margin murabahah ditangguhkan 9.286.790
Kr. Pendapatan margin murabahah 9.286.790

d) Jika dilakukan pada saat penyelesaian, bank memberikan diskon
sebesar 50% dari margin yang ditangguhkan bank mengurangi
piutang murabahah dan keuntungan murabahah.
Db. Kas/Rekening 51.504.142
Kr. Piutang Murabahah 9.286.790

Db. Margin murabahah ditangguhkan 56.147.537
Kr. Pendapatan margin murabahah 4.643.395

Perhitungan:
50% dari margin yang ditangguhkan = Rp 4.643.395,09 (Rp 9.286.790,17
x 50%)

e) Jika bank memberikan diskon sebesar 50% dari margin yang
ditangguhkan dilakukan setelah penyelesaian:

Pada saat penyelesaian bank menerima pelunasan piutang
murabahah dari nasabah
Db. Kas/Rekening 56.147.538
Kr. Piutang murabahah 56.147.538

Db. Margin murabahah ditangguhkan 9.286.790
Kr. Pendapatan margin murabahah 9.286.790

Pada saat membayar potongan pelunasan dini kepada nasabah
dengan mengurangi keuntungan murabahah
Db. Beban potongan pelunasan dini murabahah 4.643.395
Kr. Kas/rekening nasabah 4.643.395

m) Pada saat menerima denda dari nasabah, misalkan jika nasabah telat 2
hari membayar angsuran sehingga bank mengenakan denda sebesar Rp
8.609,29:

Db. Kas/Rekening 8.609,29
Kr. Dana Sosial Ex Penalty 8.609,29
130


LAMPIRAN VII

LAPORAN HASIL WAWANCARA

Hari / Tanggal Pelaksanaan : Selasa, 4 Juni 2013
Tempat Pelaksanaan : Accounting Division, PT Bank Syariah Mandiri,
Wisma Mandiri I, Lantai 8, Jl. MH. Thamrin No.
5 Jakarta 10340, Indonesia
Waktu Pelaksanaan : 16.45 17.30
Narasumber : Winahyu Ratu Fitria (Staff Kebijakan Akuntansi PT
Bank Syariah Mandiri)
Pewawancara : Melina Ernomo
Hasil wawancara :

Pada hari Selasa, 4 Juni 2013 pukul 16.45 17.30, peneliti melaksanakan
wawancara dengan salah satu staff kebijakan akuntansi PT Bank Syariah Mandiri,
Winahyu Ratu Fitria, bertempat di Accounting Division PT Bank Syariah Mandiri,
Wisma Mandiri I, Lantai 8, Jl. M. Thamrin No. 5 Jakarta. Wawancara ini
dilakukan untuk mengetahui metode pengakuan keuntungan pembiayaan
murabahah yang dilakukan oleh PT Bank Syariah Mandiri serta pencatatan
akuntansi dan acuan standar akuntansi yang digunakan dalam transaksi
pembiayaan murabahah.
Dalam transaksi murabahah, PT Bank Syariah Mandiri menggunakan
empat metode dalam perhitungan marjin dan angsuran pokok, yaitu flat rate,
sliding rate, anuitas, dan anuitas ulang tahun. Dalam mengakui keuntungannya,
PT Bank Syariah Mandiri menggunakan metode anuitas. Untuk pencatatan
akuntansinya, PT Bank Syariah Mandiri berpedoman pada PSAK No. 102 tentang
Akuntansi Murabahah, sementara untuk marjin anuitasnya, mengacu pada PSAK
No. 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. Dalam
menjalankan operasionalnya, PT Bank Syariah Mandiri tidak sepenuhnya dapat
131

mengaplikasikan PSAK No. 102 dalam pembiayaan murabahah dikarenakan
metode pengakuan keuntungan yang terdapat dalam PSAK No. 102 adalah
proporsional, sedangkan PT Bank Syariah Mandiri menggunakan metode anuitas,
hanya saja pencatatan akuntansinya yang sesuai dengan PSAK No. 102. Namun,
PT Bank Syariah Mandiri tidak dapat mengaplikasikan PSAK No, 55 sepenuhnya
pula dalam transaksi murabahah. Hal ini dikarenakan PT Bank Syariah Mandiri
merupakan lembaga keuangan syariah, sementara PSAK No. 55 digunakan untuk
lembaga keuangan konvensional.























132

LAPORAN HASIL WAWANCARA

Hari / Tanggal Pelaksanaan : Selasa, 11 Juni 2013
Tempat Pelaksanaan : Accounting Division, PT Bank Syariah Mandiri, Wisma
Mandiri I, Lantai 8, Jl. MH. Thamrin No. 5 Jakarta
10340, Indonesia
Waktu Pelaksanaan : 17.30-18.30
Narasumber : Asrul Aminullah (Staff Kebijakan Akuntansi PT Bank
Syariah Mandiri)
Pewawancara : Melina Ernomo
Hasil wawancara :

Pada hari Selasa, 11 Juni 2013 pukul 17.30-18.30, peneliti melaksanakan
wawancara dengan salah satu staff kebijakan akuntansi PT Bank Syariah Mandiri,
Asrul Aminullah, bertempat di Accounting Division PT Bank Syariah Mandiri,
Wisma Mandiri I, Lantai 8, Jl. M. Thamrin No. 5 Jakarta. Wawancara ini
dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut hasil wawancara yang dilakukan dengan
Winahyu Ratu Fitria tentang metode pengakuan keuntungan pembiayaan
murabahah yang dilakukan oleh PT Bank Syariah Mandiri serta pencatatan
akuntansi dan acuan standar akuntansi yang digunakan dalam transaksi
pembiayaan murabahah.
Terkait dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan Winahyu Ratu
Fitria, pada wawancara kali ini peneliti melakukan analisis lebih lanjut mengenai
alasan PT Bank Syariah Mandiri dalam menggunakan metode anuitas dalam
mengakui keuntungan pembiayaan murabahah. Saat diwawancarai, narasumber
mengungkapkan alasan penggunaan metode anuitas yang digunakan oleh PT
Bank Syariah Mandiri, yaitu effective rate metode anuitas yang konsisten dan
stabil. Jika dihitung setiap bulannya dengan membagai marjin dengan debet
dikalikan 100%, maka akan menghasilkan effective rate yang stabil. Buletin
Teknis No. 9 yang dikeluarkan oleh IAI, yang mengungkapkan bahwa entitas
syariah yang menggunakan metode anuitas dalam pembiayaan murabahah harus
133

mengacu pada PSAK No. 50, 55, dan 60, maka PT Bank Syariah Mandiri
memiliki alasan untuk tetap menggunakan kombinasi PSAK No. 102 dengan
PSAK No. 55. Hal ini dilatarbelakangi oleh hal-hal berikut:
a. Sistem dan persiapan yang cukup lama dan mahal untuk penerapan PSAK
No. 55.
b. Sumber daya manusia yang menguasai PSAK No. 55 terbatas, sehingga akan
menambah masalah bagi perbankan syariah untuk penerapan PSAK ini.
c. Jika menggunakan PSAK No. 55, PT Bank Syariah Mandiri harus membuat
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), yaitu dilakukan melalui
evaluasi individual yakni sebesar selisih antara nilai tercatat aset keuangan
dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang didiskonto
menggunakan suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Hal ini
akan membuat akad murabahah menjadi tidak sesuai dengan syariah karena
mengandung konsep nilai waktu dari uang (time value of money). Mengingat
didalam akad murabahah, nominal tidak diperkenankan berubah selama
periode akad. Oleh karena itu, dalam mencadangkan kerugian atas piutang
tak tertagih, PT Bank Syariah Mandiri mengacu pada PSAK No. 102, yaitu
dengan membuat PPAP pada saat terjadinya akad. PPAP dibuat sebesar 1%
untuk Kol (1) dan 5% untuk Kol (2).
Dalam menentukan besarnya marjin, terdapat beberapa hal yang menjadi
menjadi dasar penetapan, diantaranya adalah biaya overhead selama pembiayaan
murabahah, risiko yang akan timbul, dan return yang diinginkan oleh PT Bank
Syariah Mandiri. Penentuan besarnya penalty ketika ada nasabah yang
menunggak adalah sebesar 0,0162% x tunggakan x jumlah hari dan dimasukkan
ke dalam akun dana sosial.