Anda di halaman 1dari 15

KERAGAMAN JENIS LABA-LABA (ARANEAE) PADA

EKOSISTEM PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L)


DI KECAMATAN DAMPAL SELATAN
KABUPATEN TOLI-TOLI


PROPOSAL PENELITIAN

SUPARDI
E 281 09 052





PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PRTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2 0 1 4

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Tanaman padi (Oryza sativa L) adalah tanaman yang benar-benar sesuai
dengan keadaan di negeri kita. Untuk hidupnya padi dapat tumbuh baik pada
iklim tropis maupun sub tropis dan untuk pertumbuhannya padi membutuhkan air
banyak terutama yang ditanam secara basah dan syarat ini dipenuhi oleh negeri
kita yang memepunyai musim hujan dan kemarau (Sumartono dalam Mangitung,
2004).
Padi termasuk golongan tanaman semusim atau tanaman yang mudah yaitu
tanaman biasa yang berumur pendek, kurang dari satu uahun dan hanya satu kali


g Selatan mulai dari daerah pantai sampai ketinggian 24000 m dpl.
Dalam pengembangan budidaya tanaman padi banyak mengalami hal-hal
yang kurang menguntungkan seperti rendahnya produktifitas dan hasil yang
diperoleh. Hal tersebut diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain adanya
gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Salah satu diantaranya adalah
hama yang menyerang tanaman padi yaitu walang sangit kepik hijau. Akibat
serangan hama tersebut dapat menurunkan hasil tanaman padi (Wardoyo, dkk.
1998).
Pemanfaatan predator merupakan salah satu alternatif yang penting
dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh hama walang
sangit dan wereng hijau, karena predator merupakan sallah satu musuh alami yang
berpotensi besar untuk dikembangkan bahkan hal ini sudah dikenal sejak dulu
dalam taktik pengendalian secara biologi.
Perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan Holarchaeidae,
dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui sepasang taringnya
kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan ribu spesies yang
ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat membahayakan manusia.
Kebanyakan laba-laba memang merupakan predator (pemangsa)
penyergap, yang menunggu mangsa lewat di dekatnya sambil bersembunyi di
balik daun, lapisan daun bunga, celah bebatuan, atau lubang di tanah yang ditutupi
kamuflase. Beberapa jenis memiliki pola warna yang menyamarkan tubuhnya di
atas tanah, batu atau pepngan pohon, sehingga tak perlu bersembunyi.
Laba-laba penenun (misalnya anggota suku araneidae) membuat jaring-
jaring sutera berbentuk kurang lebih bulat di udara, di antara dedaunan dan
ranting-ranting, di muka rekahan batu, di sudut-sudut bangunan dan lain-lain.
Jaring ini bersifat lekat, untuk menangkap serangga terbang yang menjadi
mangsanya. Begitu serangga terperangkap jaring, laba-laba segera mendekat dan
menusukkan taringnya kepada mangsa untuk melumpuhkan dan sekaligus
mengirimkan enzim pencerna ke dalam tubuh mangsanya.
Laba-laba pemburu (seperti anggota suku Lycosidae) biasanya lebih aktif.
Laba-laba jenis ini bisa menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput, atau permukaan
dinding berbatu untuk mencari mangsanya. Laba-laba ini dapat mengejar dan
melompat untuk menerkam mangsanya. Bisa yang disuntikkan laba-laba melalui
taringnya biasanya sekaligus mencerna dan menghancurkan bagian dalam tubuh
mangsa. Kemudian perlahan-lahan cairan tubuh beserta hancuran organ dalam itu
dihisap oleh sipemangsa. Berjam-jam laba-laba menyedot cairan itu hingga
bangkai mangsanya mengering. Laba-laba yang memiliki rahang (Chelicera) kuat,
bisa lebih cepat menghabiskan makanannya dengan cara merusak dan meremuk
tubuh mangsa dengan rahang dan taringnnya itu. Tinggal sisanya berupa bola-bola
kecil yang merupakan remukan tubuh mangsa yang telah mengisut.(Wekepedia
Bahasa Indonesia, 2009).

2.2 Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengidentifikasi jenis kaba-laba (Ordo
Araneae) yang berpotensial pada dua type habitat/ekosistem pertanaman padi
(habitat pertanaman dengan isektisida dan pertanaman padi tanpa insektisida) di
desa Kombo Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Toli-Toli, 2) mengetahui
indeks keragaman jenis laba-laba pada kedua type habitat tersebut.
Kegunaan dapat dipergunakan sebagai bahan informasi untuk mengetahui
individu spesies laba-laba sebagai predator serangga hama, dan dapat diketahui
status keseimbangan antara musuh alami laba-laba dengan serangga-serangga
hama pada ekosistem pertanaman padi di Desa Kombo Kecamatan Dampal
Selatan Kabupaten Toli-Toli.


II. TINJAUAN PUSTAKA
1.2. keanekaragaman
Keanekaragaman merupakan suatu penomena pada mahluk hidup.
Keanekaragaman tersebut mudah diamati pada penampilan luar yang merupakan
kumpulan ciri-ciri setiap mahluk hidup. Berbagai ciri penyusun
perbedaan,sementara beberapa ciri lain menunjukan persamaan ciri-ciri yang
dapat diamati mahluk hidup yang sudah dikelompokkan atas dasar sistem
klasifikasi dalam taksonomi, masih menunjukkan adanya keanekaragaman di
antara anggota populasi (sufro, 1994). Hal yang sama di ungkapkan oleh
Soegianto (1994), bahwa keanekaragaman jenis merupakan suatu karasteristik
tingkat komunitas berdasarkan organisasi biologinya.
Secara alami populasi suatu organisme di suatu ekosistem ditandai oleh
karena adanya keanekaragaman dalam komunitas, antar jenis antar komponen
ekosistem, serta keunggulan fungsional, tingkat stabilisasi suatu ekosistem
pertanian ditentukan oleh struktur jaringan trofik dan interaksi antara komponen-
komponen komunitas termasuk herbivora (hama), karnivora (predator dan
parasitoid) (Untung, 1996).
Price (1997) dalam Mahrub (1996), menyatakan bahwa tingkat
keanekaragaman dan kelimpahan organisme dalam suatu komunitas berbeda-
beda. Untuk mempelajari keanekaragaman suatu spesis dalam suatu ekosistem
telah digunakan istilah keanekaragaman, nilai keanekaragaman dapat diukur
dengan indeks keanekaragaman (H
,
), melalui tinggi jumlah spesis dalam
ekosistem, makin tinggi indeks keanekaragaman maka kondisi ekosistem mulai
stabil dan olehnya tercapai keseimbangan. Lebih lanjut Groambridge (1992)
dalam (Subagja, 1996) mengatakan bahwa ekosistem dengan jumlah spesies lebih
banyak tetapi dalam satu famili adalah kurang beranekaragaman dibandingkan
dengan ekosistem dengan jumlah lebih sedikit tetapi termasuk dalam beberapa
famili.
Keanekaragaman hayati sering di masukkan dengan keanekaragaman
spesies, yaitu sebagai kekayaan spesies. Arus spesies pada umumnya di pandang
sebagai keanekaragaman sebuah organisasi yang paling alami.
1.3. faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman laba-laba
Secara umum populasi organisme di alam berada dalam keadaan seimbang
pada jenjang populasi tertentu. (Sosromarsono dan Untung, 2000). Akan tetapi
dapat menjadi tidak stabil dengan keanekaragaman yang rendah apabila berbagai
komponen komunitas dan ekosistem telah direkayasa dan buat untuk memenuhi
kepentingan manusia (Untung,1996).
Global Biodiversity Assement (Hywood and Watsin, 1995 dalam
Untung,1996) pertanian komersial moderen telah mendatangkan dampak negatif
terhadap keanekaragaman hayati pada semua tingkat dari keanekaragaman
ekosistem, jenis dan genetik. Aktifitas pertanian mempunyai tiga bentuk dampak
terhadap keanekaragamanhayati yaitu : (1) pada keanekaragaman genetik jenis
tanaman atau hewan yang dikelola, (2) tehadap ekosistem alami di tempat
kegiatan pertanian dilakukan, dan (3) melalui pengaruh pencemaran dan
kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian seperti erosi, pupuk
buatan, pestisida kimia. Selanjutnya Odum (1994) mengatakan pengaruh aplikasi
pestisida yang akut dapat menyebabkan indeks keanekaragaman berkurang,
apabila pestisida membunuh sebagian besar serangga yang dominan
mengakibatkan tingkat kemerataan menjadi lebih tinggi bukanya rendah,
sebaliknya keanekaragaman akan berkurang.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Primack (1998), salah satu faktor yang
juga mempengaruhi keanekaragaman Arthropoda adalah kompetisi dan pemangsa.
Sering kali juga secara tidak lansung mengurangi jumlah spesies yang
dimangsanya dan menghilangkan spesies tertentu dari habitatnya pemangsa secara
tidak lansung menambah keanekaragaman dalam satu komunitas, karena beberapa
kepadatan spesies mangsa terjadi. Jumlah suatu spesies populasi bisa di bawa
daya dukung jika keseimbangan dijaga oleh pemangsa.
Ketersediaan makanan dapat mempengaruhi keanekaragaman Arthropoda
yang terdapat dalam ekosistem. Riyanto (1985), menyatakan bahwa
keanekaragaman yang tinggi dapat terjadi karena rantai makanan yang lebih
panjang dan banyak kasus seperti mutualisme, parasitisme dan komensalisme.
Sugianto (1994), menyatakan bahwa keadaan lingkungan hidup mempengaruhi
keanekaragaman bentuk-bentuk hayati dan banyaknya jenis mahluk hidup dan dan
sebaliknya keanekaragaman dan banyaknya individu juga menentukan keadaan
lingkungan.
1.4. Arthropoda
Arthropoda merupakan filum yang terbesar dalam masyarakat binatang
dan juga merupakan filum yang terpenting dalam kehidupan manusia. Dalam
filum Arthropoda kelas insekta (Heksapoda) yang paling berperan (Borror, dkk.,
1996).
Dari sekian banyak spesies hewan yang ada di permukaan bumi terdapat
bagian adalah serangga. Dari jumlah tersebut, lebih 750.000 spesies telah berhasil
diketahui dan diberi nama. Jumlah tersebut merupakan 80% dari anggota filum
Arthropoda (Jumar, 2000).
Ciri-ciri filum Arthropoda yaitu tubuh beruas-ruas, kaki beruas-ruas,
eksokeleton (dinding tubuh) berkiting dan beruas-ruas, alat mulut beruas-ruas,
rongga tulung merupakan rongga darah, bernafas dengan permukaan tubuh, alat
pencernaan makanan berbentuk tulang terletak disepanjang tubuh dan alat
pembuangnya melalui pipa panjang pada rongga tubuh (Jumar, 2000).
Pada filum Arthropoda terdapat dua kelas yang mempunyai peranan besar,
yaitu pada kelas Arachinida dan kelas Insekta. Selama ini Arachinida merupakan
kelas yang paling penting dan terbesar kira-kira 65.000 jenis yang diuraikan
(Borror, dkk., 1996).
Ciri-ciri khas dari ordo Arachinida yaitu tubuh terbagi menjadi dua daerah
yaitu sefalotoraks terdapat mata, bagian mulut dan tungkai pada abdomen terdapat
struktur alat kelamin, spirakel, dubur, dan alat benang (Siwi, 1992). Banyak
spesies laba-laba (Araneida) hidup sebagai predator, memangsa kelompok sendiri,
atau serangga. Kelompok laba-laba (Araneidae) terbagi dalam 60 famili, beberapa
filum diantaranya dianggap penting sebagai predator serangga hama. Meskipun
laba-laba umumnya predator generalis, namun mereka menunjukkan kekhususan
habitat, oleh karena itu dapat dimanfaatkan dalam pengendalian serangga hama
pertanian dengan konservasi jenis laba-laba lokal melalui konsevasi habitatnya di
ekosistem pertanian (Untung, 1996).
Sosromarsono dan Untung (2000) menyebutkan 8 spesies laba-laba
predator yang umum ditemukan di ekosistem persawahan. Mereka tergolong
dalam genus Pardosa (Lycosa) (Lycosidae) (1 spesies), Oxyopes (Oxyopidae) (2
spesies), Phidippus (Salticidae) (1 spesies), Atypena (Linyphiidea) (1 spesies).
Namun Barrion dan Litsinger (1995) dalam Sosromarsono dan Untung (2000),
setidaknya dapat mengoleksi dan mengindentifikasi 342 spesies laba-laba dari
ekosistem persawahan di Asia Tenggara, yang tergolong dalam 132 genus dan 26
famili.
Serangga adalah salah satu kelompok dalam filum Arthropoda yang
mendominasi filum tersebut. Jumlah spesies serangga sebelas kali lebih besar dari
jumlah spesies Arthropoda kelompok lain. Banyak tafsiran jumlah spesies
serangga yang digunakan oleh berbagai ilmuan, salah satu tafsiran menyatakan
bahwa serangga yang sudah di deskripsi adalah lebih kurang 950.000 spesies dan
Arthropoda lain bukan serangga lebih kurang 125.000 spesies jumlah total spesies
semua organisme yang sudah di deskripsi kurang lebih 1.956.000 (Sosromarsono
dan Untung 2000).


2.4 Insektisida
Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk
membunuh serangga. Isektisida dapat mengurangi pertumbuhan, perkembangan,
tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan,
serta aktivitas biologis lainnya hingga berunjung pada kematian serangga
pengganggu tanaman (Subagya, 2006).
2.5 Hipotesis









III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei yang bertempat
di Desa Kombo Kecamatan Dampal Selatan Kabupaten Toli-Toli dan kegiatan
identifikasi Arthrpodadilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit
Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, tanaman padi, alkohol
70%, label dan isektisida. Sedangkan ala-alat yang digunakan adalah jaring
serangga (Sweep net), perangkap jebakan (Pitt fall trap), botol koleksi, alat
sempreot, ember, kuas kecil, mikroskop binokuler, kaca pembesar dan karung
nilon sebagai barier.
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu semi eksperimental. Pengambilan
sampel dengan menggunakan alat perangkap yang digunakan pada dua hamparan
partanaman yaitu hamparan pertanaman padi yang diaplikasi insektisida dan yang
tidak diaplikasi insektisida.
3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Persiapan Lahan
Persiapan lahan dalam sistem budidaya, dimulai dengan pembibitan,
pengolahan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman yang terdiri dari
penyiangan, pemupukan dan penyiraman. Khususnya untuk pengendalian hama
menggunakan insektisida yang dilakukan pada hamparan penelitian yang
diaplikasikan dengan isektisida.
Lahan pertanaman padi seluas 1000 m yang dibagi dalam 2 hamparan
pertanaman, yaitu pertanaman padi yang diaplikasikan dengan insektisida dan
hamparan untuk lahan pertanaman padi yang tanpa aplikasi insektisida.
3.4.2 Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan sebnyak 5 kali, dimulai pada tanaman padi
berumur 1 bulan setelah tanam (hst) dan aplikasi dimulai pada umur 28 hari
setelah tanam (hst) dengan interval waktu pengamatan sekali seminggu selama 6
minngu yang menggunakan 2 teknik pengambilan sampel yaitu:
1. Teknik Jaring Serangga (Sweep Net)
2. Teknik Jebakan (Pitt Fall Trap)
3.4.3 Identifikasi Arthropoda
Arthropoda yang tertangkap dikelolah sebagai koleksi kering atau basah
dalam alkohol 70%. Arthropoda dilakukan terbatas pada ordo dan famili.


3.4.4 Variabel Pengamatan
3.4.5 Analisis Data
1. Keanekaragaman Jenis
2. Kemelimpahan
3. Kemerataan
4. Uji t



















DAFTAR PUSTAKA
Borror, D.J., Triplehorn, C.A. dan Johnson, F.N., 1996. Pengenalan Serangga.
Penerjemah drh. Soetiyono Partosoedjono, M.Sc. Gadja Mada University
Perss, Yogyakarta.
Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta, Jakarta.
Mahrub, E. 1996. Struktur Komunitas Arthropoda Pada Ekosistem Padi Tanpa
Perlakuan Insektisida. Jurnal Ecology Vol. 77 No. 7
Mangitung, N., 2004. Pengaruh Penerapan Teknologi Usahatani Terhadap
Produksi Padi Sawah di Desa Ranteleda Kecamatan Palolo Kabupaten
Donggala. Skripsi. Universitas Tadulako, Palu.
Odum, E.P., 1994. Dasar-Dasar Ekologi, Penerjemah Ir. Tjahjono Saingan, M.Sc.
Gadjah Madaa University Perss. Yokyakarta.
Primack. R.B., 1998. Biologi Konsevasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Riyanto, 1985. Ekologi Dasar. Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negri
Indonesia Bagian Timur, Ujung Pandang.
Sofro, M., 1994. Keanekaragaman Genetik. Andi Offset. Yogyakarta.
Sosromarsono, S.dan Untung, K., 2000. Keanekaragaman Hayati Arthropoda,
Predator Dan Parasit di Indonesia dan Pemanfaatannya. Perhimpunan
Entomologi Indonesia (PEI).
Sgianto, A., 1994. Ekologi Kuantatif Metode Analisis Populasi Komunitas. Usaha
Nasional, Surabaya.
Siwi, S.S., 1992. Kunci Determinasi Serangga. Kanisius, Yogyakarta.
Subagja, J., 1996. Prinsip Keanekaragaman Hayati dalam Ekosistem. Prosidin
Makalah Utama Seminar Nasional Pengendalian Hayati (SNPH),
Yogyakarta.
Untung, K., 1996. Pengendalian Hayati Dalam Kerangka Konsensi
Keanekaragaman Hayati.Prosidin Makalah Utama Seminar Nasional
Pengendalian Hayati SNOH. Yogyakarta.