Anda di halaman 1dari 4

APENDISITIS AKUT

1.1 Defenisi
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua uur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10-30 tahun.
1.2 Epidemiologi
Insidens apendisitis akut di Negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang.
Hal ini mungkin di kaitkan dengan pola makanan sehari- hari. Apendisitis dapat di temukan
pada semua umur, hanya pada anak kurang dari 1 tahun jarang di laporkan . insidens tertinggi
pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada laki-laki dan
perempuan umumya sebanding.
(1)
1.3 Etiologi
Apendisitis merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai factor pencetusnya.
Sumbatan lumen apendiks merupakan factor yang di ajukan sebagai factor pecetus.
Disamping hipeplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula
menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang di duga dapat menimbulkan apendisitis adalah
erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti E.hystolitica.
(1)
penelitian epidemiologi menunjukan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis
akut.
(1)
1.4 Patologi
Patologi apendisitis dapat dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan
dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Upaya pertahanan tubuh berusaha
membatasi proses radang ini dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau
adneksa sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah
infiltrate apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat
mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa
periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.
(1)

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi membentuk
jaringan parut yang melengket dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat
menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Suatu saat, organ ini dapat meradang
akut lagi dan di nyatakan mengalami eksaserbasi akut.
(1)
1.5 Diagnosis
Pasien apendisitis akut tampil dengan nyeri abdomen serta lokasi nyeri tergantung
atas stadium penyakit dan lokasi apendiks vermiformis. Apendisitis khas tampil dengan
riwayat nyeri epigatrium atau periumbilikal tumpul samar-samar yang disertai oleh
anoreksia (90%), mual (80%), muntah (65%). Demam biasanya ringan dengan suhu
sekitar 37,5-38,5
o
C. bila suhu lebih tingi, mungkin sudah terjadi perforasi. Bias terdapt
perbedaan suhu aksilar dan rectal sampai 1
o
C . Insidens kompleks gejala ini hampir
identik dalam apendisitis akut, adenitis mesenterika, gastroenteritis dan nyeri abdomen
yang sebabnya tidak di ketahui. Diagnosis apendisitis pada stadium apendisitis fokal akut
ini sulit di tegakan. Karena penyakit ini berlanjut dari apendisitis folal akut ke apenisitis
supuratif akut, maka khas nyeri terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah. Tetapi jika
apendiks vermiformis terletak retrocaecum, maka nyeri terlokalisasi dalam flank kanan,
yang meniru kolik ginjal.
(1,2)

Pada inspeksi perut, tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat
pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat
pada massa atau abses periaendikuler. Pada palpasi, di dapatkan nyeri yang terbatas pada
region iliaka kanan, bias disertai nyeri lepas. Defans muscular menunjukan adanya
rangsangan peritoneum parietal. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci
diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah, akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah
yang di sebut Rovsing. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal, diperlukan palpasi
dalam untuk menetukan adanya rasa nyeri.
(1)

Peristaltik usus sering normal tetapi juga dapat menghilang akibat adanya ileus
paralitik pada peritonitis generalisata yang di sebabkan oleh apendisitis perforata.
Pemeriksaan clok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat di capai dengan jari
telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika. Pada apendisitis pelvika, tanda perut sering
meragukan, maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu di lakukan colok dubur.
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih di tujukan
untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas
lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian
paha kanan di tahan. Bila apendiks yang meradang menempel di otot psoas mayor,
tindakan tersebut akan meninbulkan nyeri. Uji obturator di gunakan untuk melihat
bilamana apendiks yang meradang bersentuhan dengan otot obturator internus yang
merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada
posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.
(1)

Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakan diagnosa paendisitis akut.
Pada kebanyakan kasus terdapat leukositosis , terlebih pada kasus dengan komplikasi.
Hampir tiga perempat pasien apendisit akut tampil dengan hitung leukosit lebih dari
10.000. hitng leukosit medium sekitar 12.000, tetapi hitung leukosit lebih dari 20.000
menyebabkan reevaluasi diagnosis. Kurang dari 4 % pasien pendisitis akut mempunyai
hitung jenis normal dan hitung totl leukosit normal. Pemeriksaan urin bermanfaat dalam
menyingkirkan sebab lain nyeri kuadran kanan bawah. Adanya bakteri atau hematuria
bermakana menggambarkan etiologi urin umum untuk nyeri. Tetapi pria muda dalam
jumlah bermakna dengan apendisitis akan tampil dengan kadang-kadang leukosit dalam
urin.
(1,2)

1.6 diagnosa banding
Gatroenteritis
Demam dengue
Limfadenitis mesenterika
Kelainan ovulasi
Infeksi panggul
Kehamilan di luar kandungan
Kista ovarium terpuntir
Penyakit saluran cerna lainya (perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis
akut, pancreatitis, dll)
(1)

1.7 Tatalaksana
Bila diagnosa klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satu-
satunya pilihan yang baik adalah apenektomi. Pada apendisitis tanpa komplikasi,
biasanya tidak perlu di berikan antibiotic, kecuali pada apendisitis ganggrenosa atau
apendisitis perforata. Penudaan tindak bedah sambil memberikan antibiotic dapat
mengakibatkan abses atau perforasi.
(1)

Apendektomi bias dilakukan secara terbuka, insisi mcBurney paling banyak di
pilih oleh ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas, sebaiknya dilakukan
observasi terlebih dahulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi dapat dilakukan
bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila tersedia laparaskopi diagnosis pada
kasus meragukan dapat segera menetukan akan dilakukan operasi atau tidak.
(1)


















Bagan 1: Pengelolaan pasien dengan apendisitis akut
Kecurigaan
apendisitis akut
Tidak jelas
Observasi
aktif
apendisitis
apendektomi
Penyakit
lain
Tindakan
yang sesuai
Tidak jelas
USG dan lab