Anda di halaman 1dari 17

1

TES KRAEPELIN SEBAGAI ALAT/INSTRUMEN


PSIKOLOGI



(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi)


OLEH
NAMA : AYU PURWANI ASIH
NIM : PO7120213014







POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2014
2

Tes Psikologi Kraepelin

A. Pendahuluan
Kata tes berasal dari bahasa latin Testum yaitu alat untuk mengukur
tanah. Dalam bahasa Prancis kuno, kata tes berarti ukuran yang dipergunakan
untuk membedakan emas dan perak dari logam-logam yang lain. Lama kelamaan
arti tes menjadi lebih umum. Menurut Elliot (1999) tes merupakan salah satu cara
untuk mendapatkan informasi tentang tingkah laku atau hasil belajar siswa.
Pengertian tes menurut Suryabrata (1993) adalah pertanyaan-pertanyaan yang
harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan yang berdasar atas
bagaimana testee menjawab.
Anastasi (1997) mengemukakan bahwa esensi dari tes merupakan
penentuan yang obyektif dan distandardisasikan terhadap sample tingkah laku.
Pengertian tes menurut Chaplin (2001) yaitu sebarang pengukuran yang
membuahkan data kuantitatif, seperti satu tes yang tidak dibakukan dan
diterapkan dalam satu kelas di sekolah. Satu perangkat pertanyaan yang sudah
dibakukan, yang dikenakan pada seseorang dengan tujuan untuk mengukur
perolehan atau bakat pada satu bidang tertentu.
Pengertian tes di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum tes dapat
didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas, dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah. untuk dijawab dan dilaksanakan.
Hasil dari tes tersebut dapat dibandingkan. Di dalam lapangan psikologi kata tes
mula-mula digunakan oleh J. M. Cattel pada tahun 1890. Dan sejak itu makin
popular sebagai nama metode psikologi yang dipergunakan untuk menentukan
(mengukur) aspek-aspek tertentu dari pada ke pribadian.
Tes Psikologi menurut Anastasi, merupakan salah satu dari metode
psikodiagnostik. Sedangkan psikodiagnostik merupakan terjemahan dari istilah
Psichodiagnosis dalam bahasa Inggris yang dimunculkan pertama kali oleh
Herman Rorschach pada tahun 1921. Menurut Chaplin pengertian Psikodiagnostik
adalah sebarang teknik untuk mempelajari kepribadian, bertujuan untuk
3

menentukan sifat-sifat yang mendasarinya, khususnya sifat yang menentukan
kecenderungan seseorang pada penyakit mental.
Psikodiagnostik adalah teknik-teknik untuk melakukan pemeriksaan
psikologis guna menemukan sifat-sifat yang mendasari kepribadian tertentu,
terutama yang mengarah pada kelainan-kelainan tertentu. Pada hakikatnya, fungsi
tes-tes psikologi adalah untuk mengukur perbedaan-perbedaan antara individu-
individu atau antara reaksi-reaksi individu yang sama dalam situasi yang berbeda.
Di Indonesia, terdapat beragam instrumen/alat psikologi yang digunakan
berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Tes Psikologi tersebut memiliki banyak
ragam dan skor yang luas sehingga terdapat pengklasifikasian yang bertujuan
mendapatkan orientasi yang baik mengenai tes tersebut. Salah satu jenis
instrumen Psikologi tersebut yakni tes Kraepelin yang digolongkan ke dalam
Group Test di mana tester (pemberi tes) menghadapi testee (peserta tes) dan Speed
Test di mana mengutamakan kecepatan dan ketepatan kerja.

B. Sejarah Tes Kraepelin
Tes kraepelin diciptakan oleh seorang psikiater Jerman bernama Emilie
Kraepelin pada tahun 1856 1926. Emillie Kraepelin dilahirkan pada 15 Februari
1856 di Neustrelitz dan wafat pada 7 Oktober 1926 di Munich. Ia menjadi dokter
di Wurzburg tahun 1878, lalu menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich. Dari
tahun 1903 sampai meninggalnya, ia menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri
di Munich dan sekaligus menjadi direktur klinik tersebut.
Emil Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari gambaran dan
klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi dasar
penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut sebagai Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American
Psychiatric Association (APA). Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi
gejala-gejala penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi maka asal usul dan penyebab
penyakit kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti.
Kraepelin menjadi terkenal terutama karena penggolongannya mengenai
penyakit kejiwaan yang disebut psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua
golongan utama yaitu dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia
4

praecox merupakan gejala awal dari penyakit kejiwaan yang disebut
schizophrenia. Kraepelin juga dikenal sebagai tokoh yang pertama kali
menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan psikiatri, antara lain
menggunakan test psikologi untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan
kejiwaan. Salah satu test yang diciptakannya di kenal dengan nama test Kraepelin.
Keberadaan tes Kraepelin bermula pada tahun 1880, Emile Kraepelin bekerja di
Laboratorium Wundt di daerah Leipzig dalam usaha memecahkan problem waktu
reaksi. Dia menciptakan alat tes Kraepelin yang digunakan sebagai alat bantu
untuk mendiagnosa gangguan otak yaitu alzheimer dan dementia.
Alat tes tersebut terlahir karena adanya dasar pemikiran dari faktor-faktor
yang khas pada sensori sederhana, sensori motor, perseptual dan tingkah laku. Tes
Kraepelin ini digunakan sebagai dasar psikologis untuk mengklasifikasikan
kekacauan psikiatrik. Emile Kraepelin berusaha memperluas penggunaan untuk
menyusun tipologi kepribadian manusia antara yang normal dan abnormal.
Diantara tes tersebut yang digunakan adalah Simple Arithmetic Test (Tes
Aritmatik Sederhana), yang berfungsi mengukur practice effect (kinerja
praktis), memory (ingatan) serta yang berhubungan dengan kelelahan
dan distraction (gangguan). Tes Kraepelin awalnya merupakan tes kepribadian,
namun dalam perkembangannya menjadi tes bakat dengan cara merubah tekanan
skoring dan interpretasi. Tes Kraepelin mengukur maximum performance
seseorang. Oleh karena itu tekanan skoring dan intepretasinya didasarkan pada
hasil-hasil tes secara obyektif bukan proyektif.
Satu hal yang perlu ditekankan bahwa alat tes ini mengungkap beberapa
faktor bakat diantaranya : kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan kerja di
dalam tekanan. Namun, pada periode tidak lama selanjutnya pada tahun 1938
Prof. Dr. Richard Pauli bersama Dr. Wilhelm Arnold serta Prof. Dr. Vanmethod
memperbaharui tes Kraepelin tadi sehingga dapat meningkatkan suatu check
method yang sangat menguntungkan dan dapat dipercaya. Walaupun demikian,
struktur empat komponen dasar tes Kraepelin tetap dipertahankan sesuai ciptaan
dari Kraepelin. Test Kraepelin kini banyak digunakan oleh para sarjana psikologi
di Indonesia mulai era tahun 1980an.

5

C. Aspek Aspek Tes Kraepelin
Menurut Spearman (1927) aspek-aspek yang diungkap dalam tes
Kraepelin dapat dianggap sebagai pernyataan dari energi mental (mengandung
unsur-unsur kecepatan, ketelitian,keajegan dan ketahanan kerja), sehingga
mengukur secara optimum apa yang telah dicapai individu untuk dirinya dalam
keadaan fungsi mental yang normal.
Menurut Dr. J. de Zeeuw, tes Kraepelin digolongkan dalam tes-tes yang
mengukur faktor-faktor khusus non-intelektual yaitu terhadap aspek tes
konsentrasi. Menurut Anne Anastasi (Psychological Testing), tes Kraepelin
berfokus pada salah satu aspek kemampuan mental primer yaitu faktor number,
di mana di dalamnya terdapat kecakapan untuk menghitung simple
arithmetic dengan cepat dan teliti. Menurut Anastasi juga, tes Kraepelin
merupakan sebuah Speed Test. Dengan ciri utama dari sebuah speed tes adalah
tidak adanya waktu yang cukup untuk menyelesaikan semua soal. Jadi pada tes
ini, testee memang tidak diharapkan untuk dapat menyelesaikan sepenuhnya
setiap jalur, tapi penilaian yang dilihat disini adalah bagaimana kecepatan kerja,
ketelitian, konsentrasi, stabilitas dan ketahanan yang dimiliki testee dalam kerja.
Selain kecepatan kerja, faktor-faktor lain yang diungkapkan adalah ketelitian,
konsentrasi, dan stabilitas dalam bekerja.
Selain itu, terdapat pula aspek-aspek psikologis yang berpengaruh pada tes
Kraepelin, misalnya persepsi visual, koordinasi senso-motorik, pushing power,
ketahanan, learning effect (efek pembelajaran).

D. Tujuan Tes Kraepelin
Tujuan Tes Kraepelin yaitu untuk mengukur karakter seseorang pada
beberapa aspek tertentu yaitu :
a) Aspek Keuletan (daya tahan)
Pada tes ini akan di uji seberapa ulet seseorang menyelesaikan masalah rumit
dan ambigu, dalam tempo yang terbatas, dan bagaimana tingkat kestabilannya.
b) Aspek Kemauan (kehendak individu)
Tes ini akan mengukur kemauan dan motivasi seseorang saat mengerjakan
hal-hal yang pelik yang biasanya khusus untuk tes ini diilustrasikan dalam
6

bentuk angka-angka dan pola perhitungan bilangan, baik operasi bilangan
dasar, middle, sampai advance.
c) Aspek Emosi
Tes ini mengukur kemampuan seseorang dalam meredam dan mengendalikan
diri pada sat sedang ditekan dengan pekerjaan pada fase dan tahap yang cukup
pelik.
d) Aspek Penyesuaian Diri
Tes ini bisa di gunakan untuk mengukur kecepatan seseorang dalam
menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan sesuatu yang mungkin benar-benar
baru.
e) Aspek Stabilitas Diri
Mengukur tingkat kestabilan dari tingkat ke tingkat tes, karena tes Kraepelin
memiliki beberapa map dan jenis, biasanya dalam beberapa tahap tes.

E. Tes Kraepelin
Menurut versi Universitas Gajah Mada (UGM) tes Kraepelin merupakan
bentuk tes berupa satu lembar kertas dobel kuarto memanjang bolak-balik terdiri
atas 4 halaman. Halaman pertama untuk menuliskan identitas subyek dan contoh
tes. Halaman kedua dan ketiga berisi soal, dan halaman keempat untuk scoring,
grafik dan interpretasi. Lembar tes dalam bentuk terpakai habis. Tes berwujud
angka-angka sederhana yaitu 1 9. Subyek diminta untuk menjumlahkan angka-
angka secara berurutan dari bawah ke atas untuk dua angka yang berdekatan tan
pa ada angka yang dilewati. Tes ini dapat disajikan secara individual maupun
klasikal. Waktu keseluruhan yang diperlukan kurang lebih 20 menit. Perinciannya
adalah pengisian identitas subyek 4 menit, instruksi 2 menit, latihan 1 menit, dan
mengerjakan soal 12,5 menit. Setiap deret diberi waktu 15 detik, dan setiap 15
detik terdapat aba-aba untuk segera pindah mengerjakan deret yang berikutnya,
hingga 50 kali pindah deret. Sedangkan tes Kraepelin versi UI, setiap deret diberi
waktu 30 detik, dan setiap 30 detik terdapat aba-aba untuk segera pindah
mengerjakan deret yang berikutnya sampai 45 kali pindah deret. Tes ini
digunakan untuk semua kepentingan yang memerlukan pengukuran terhadap
aspek kecepatan kerja, ketelitian kerja, keajegan kerja, dan ketahanan kerja.
7

Pada umumnya, tes Kraepelin sering digunakan untuk kepentingan seleksi,
promosi dan mutasi dalam bidang kerja dan jabatan (psikologi Industri). Kadang-
kadang bidang psikologi lainnya juga menggunakan tes ini, seperti psikologi
pendidikan, klinis, dan bidang yang lain yang disesuaikan dengan
kepentingannya.
Dalam tes Kraepelin, sebenarnya testee hanya diminta untuk mengerjakan
hitungan sederhana, yaitu menjumlahkan deretan angka-angka. Namun yang
menjadi masalah adalah jumlah deretan angka yang diberikan sangat banyak
hampir sebesar lembaran koran. Sehingga tes yang juga dikenal dengan istilah
"Tes Koran". Tes ini menuntut konsentrasi, ketelitian, stabilitas emosi dan daya
tahan yang prima. Semakin banyak kesalahan yang dibuat, menunjukkan testee
adalah orang yang tidak teliti, tidak cermat, tidak hati-hati dan kurang memiliki
daya tahan yang cukup terhadap stres atau tekanan pekerjaan.
Tes Kraepelin terdiri dari 45 lajur angka satuan antara 0 hingga 9 yang
tersusun secara acak sebanyak 60 angka secara vertikal pada tiap-tiap lajur. Tugas
testee adalah setiap kali menjumlahkan 2 buah angka, mulai dari angka paling
bawah pada tiap-tiap lajur dalam batas waktu tertentu yang singkat.
5 7 6 9 2
3 8 4 0 5
9 2 4 3 7
1 8 1 2 6
0 4 7 5 1
6 3 5 4 7
4 5 3 7 4
6 9 0 5 2
2 6 9 8 9

Jadi, bila 2 dijumlahkan dengan 6 hasilnya ditulis di sebelah kanan di
antara kedua angka tersebut. Kemudian 6 dijumlahkan dengan 4, hasilnya ditulis
sebagai 0 (hanya diambil angka bagian belakang bila hasilnya > 9) di sebelah
kanan di antara kedua angka tersebut. Kemudian 4 dijumlahkan dengan 8 hasilnya
ditulis sebagai 2 di sebelah kanan di antara kedua angka tersebut, dan seterusnya.
8

Tes Kraepelin memiliki tujuan khusus di samping kecepatan dalam
menghitung. Tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
a. Tes Kraepelin sebagai tes kepribadian
Tes Kraepelin dapat digunakan untuk menentukan tipe performance seorang,
seperti :
1. Hasil penjumlahan angka yang sangat rendah, dapat mengindikasikan
gejala depresi mental.
2. Terlalu banyak salah hitung, dapat mengindikasikan adanya distraksi
mental.
3. Penurunan grafik secara tajam, dapat mengindikasikan epilepsi atau
hilangan ingatan sesaat waktu tes.
4. Rentang ritme/grafik yang terlalu besar (antara puncak tertinggi dan
terndah) dapat mengindikasikan adanya gangguan emosional.
b. Tes Kraepelin sebagai tes bakat
Sebagai tes bakat, tes Kraepelin dimaksudkan untuk mengukur maximum
performance seseorang. Oleh karenanya, tekanan skoring dan interpretasi
lebih didasarkan pada hasil tes secara obyektif bukan pada arti proyektifnya.
Dari hasil perhitungan obyektif dapat diinterpretasikan 4 hal :
1. Faktor kecepatan (speed factor)
2. Faktor ketelitian (accuracy factor)
3. Faktor keajegan (rithme factor)
4. Faktor ketahanan (ausdeur factor)
Menurut Guilford (1959), penjumlahan item yang berupa angka satuan ini,
bila ditinjau dari fungsi mental, tergolong convergent thingking. Namun jika
dilihat dari isi itemnya tergolong numerical facility, yakni kecakapan
menggunakan angka dengan cepat dan teliti. Menurut Freenab (1962), hasil tes ini
sangat dipengaruhi oleh faktor sensory perception dan motor response. Menurut
Thrustone (dalam Anastasi, 1968), item-item dalam tes Kraepelin mengandung
salah satu kemampuan mental primer yaitu faktor number, di mana di dalamnya
tercakup kemampuan menghitung simple artihmetic secara tepat dan teliti.


9

F. Administrasi Pelaksanaan Tes Kraepelin
Dalam pelaksanaan tes Kraepelin, terdapat beberapa kelengkapan yang
diperlukan antara lain sebagai berikut.
1. Lembar soal tes Kraepelin, tes ini terdiri dari 45 jalur angka, namun yang
biasanya dikerjakan 40 jalur angka.
2. Stopwatch
3. Pensil (disarankan ada cadangan)
4. Meja yang cukup luas supaya testee dimungkinkan membuka lebar-lebar
lipatan soal tes Kraepelin dan kursi.
5. Papan tulis dan kapur tulis atau flipchart untuk menjelaskan cara pengerjaan
tes.
Adapun prosedur pelaksaan tes Kraepelin terdiri dari beberapa langkah
sederhana, antara lain sebagai berikut.
1. Membagikan lembar soal kepada testee
2. Testee diminta mengisi identitas pribadi secara lengkap pada tempatnya di
halaman depan dan tidak diperkenankan membuka lembaran tes sebelum
diperintahkan.
3. Pada saat testee mengisi identitas, diperkenankan mengutip contoh soal tes
Kraepelin di papan tulis sebagai gambaran dalam pengerjaan.
4. Intruksi. Dalam tes ini akan tertera kolom-kolom dari angka-angka pada soal.
Tugas testee adalah :
a) Menjumlahkan tiap-tiap dengan satu angka di atasnya dan penjumlahan
dimuali dari bawah ke atas.
b) Dari hasil penjumlahan, testee hanya menuliskan angka satuannya saja.
Misalnya penjumlahan 5 dan 9 adalah 14, maka yang ditulis cukup angka
4-nya saja. Angka satuan ditulis di sebalah kanan, tepat di antara kedua
angka yang dijumlahkan.
c) Bila testee membuat kesalahan dalam menjumlahkan atau menulis,
misalnya seharusnya 9 kemudian ditulis 6, maka testee tidak perlu
menghapus angka yang salah itu. Testee hanya perlu mencoret angka yang
salah dan menulis angka yang benar disampingnya.
10

d) Setiap beberapa saat akan terdengar bunyi ketukan yang berarti waktu
penghitungan dan penulisan di kolom pertama dihentikan kemudian
dilanjutkan ke kolom sebelahnya. Penulisan kolom yang lain dilakukan
pula dari bawah ke atas.
e) Dalam pengerjaannya, sangat diperlukan teknik pekerjaan secepat dan
seteliti mungkin.

G. Skoring dan Analisis Tes Kraepelin
Terdapat beberapa tahapan dalam melakukan proses skoring tes Kraepelin
yakni :
a) Memeriksa seluruh hasil penjumlahan yang telah dikerjakan testee, caranya
hitung jumlah yang benar dari penjumlahan se tiap dua angka yang berurutan
pada setiap lajur, tuliskan jumlahnya di bagian bawah tiap lajur. Memberikan
tanda pada setiap hasil penjumlahan yang salah, kemudian hitung jumlah
kesalahannya. Memberikan tanda pada setiap deret yang terlampaui, kemudian
dijumlahkan untuk mengetahui berapa banyak testee melompati deret angka
yang sebenarnya harus dihitung.
b) Menuliskan jumlah kesalahan yang telah dibuat testee dan menulis jumlah
lompatan yang dibuat testee.
c) Menjumlahkan jumlah kesalahan dan jumlah lompatan. Kemu dian hasilnya
dikonsultasikan dengan norma sehingga diperoleh skor ketelitian kerja
(tianker).
d) Mencari skor kecepatan kerja (panker) dengan cara mencari rerata atau mean
dari distribusi skor yang diperoleh testee pada ke 45 lajur (versi UI) atau ke 50
lajur (versi UGM). Rumus untuk kecepatan kerja ialah :
Mean = fy/45 atau 50
e) Mencari skor keajegan kerja (janker) bisa dilakukan dengan cara : a) berdasar
range yaitu dengan mengetahui jarak atau se lisih antara penjumlahan yang
tertinggi dengan hasil penjum lahan yang terendah Yt Yr, b). Berdasarkan
average deviation, keajegan kerja dapat dicari setelah kita membuat table
distribusi frekuensi dan telah menghitung reratanya. Setelah itu skor keajegan
kerja dapat dicari dengan rumus Av.
11

Dev. = fd/N, di mana d = deviasi nilai dari mean dalam harga mutlak.
f) Mencari skor ketahanan kerja (hanker) dapat digunakan rumus persamaan
linier.
y = a + bx
a = y bx
b = N. xy ( x) ( y) : N. x2 (x)2
Dari rumus tersebut lalu dicari selisih antara y 45 atau 50 y 0 yang
merupakan nilai ketahanan kerja. Apabila selisih itu bertanda negatif (-)
berarti ketahanan kerja menurun, tetapi apabila selisih ini bilangan yang
bertanda (+) berarti ketahanan kerjanya meningkat.
g) Konsultasikan pada norma menurut kategorinya.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam scoring atau memberi skor
pada pengerjaan tes Kraepelin.
1. Menyambung/membuat garis dari puncak-puncak tertinggi sehingga
membentuk grafik.
2. Garis timbang :
Puncak tertinggi + puncak terendah : 2
3. Kecepatan siswa mengerjakan lajur tiap menit :
2 (jumlah angka di atas garis timbang di bawah garis timbang) : 40
4. Ketelitian :
Jumlah kesalahan 15 lajur (5 lajur bagian depan, 5 lajur bagian tengah, dan 5
lajur bagian akhir)
Selain skoring, terdapat beberapa analisis yang perlu dipertimbangkan dari
segi analisis aspek-aspek yang berpengaruh pada tes Kraepelin, antara lain
sebagai berikut.
1. Aspek kecepatan (Panker)
a. Cara menskor adalah menjumlahkan deret-deret yang telah dikerjakan oleh
testee (dari deret ke 1-50) lalu di bagi sehingga ditemukan rata-ratanya.
Rumus yang digunakan adalah : M =



M = Rata-rata
N = Jumlah deret, x = Jumlah kerja jawaban
12

b. Cara menganalisa adalah skor transfer ke PP (persentil Point)
2. Aspek ketelitian kerja (Tinker)
a. Cara menskor adalah menjumlahkan kesalahan menghitung dan loncatan.
b. Cara menganalisa adalah skor ditransfer ke PP (Persentil Poin)
3. Aspek keajegan / kestabilan kerja (Janker)
a. Cara menskor adalah deret yang tertinggi yand dikerjakan dikurangi deret
terendah yang di kerjakan.
Rumusnya adalah : X = Dt Dr
b. Cara menganalisa adalah skor transfer ke PP (Persentil Poin)
4. Aspek ketahanan kerja (Hanker)
a. Cara menskor adalah membuat titik setiap pekerjan yang diselesaikan
kemudian digaris penghubung antara titikderet 1-50 sehingga terbentuk
grafik.
b. Cara analisa dengan melihat bentuk grafik
Namun, dalam kegiatan scoring, lama tidaknya penghitungan skor dapat
dipercepat dengan software yang dibuat khusus untuk tahapan skoring. Software
tersebut berfungsi melakukan proses skoring dengan cepat dan otomatis dengan
menghasilkan data analisis berupa grafik. Ada beberapa langkah di bawah ini
yang perlu dilakukan dalam penggunaan software otomatis penghitung skor tes
Kraepelin.
1. Menginputkan jawaban testee ke dalam software koreksi Krapelin.

13

2. Untuk selanjutnya hasil akan keluar secara otomatis dengan hanya mengklik
satu tombol yang bernama Tekan untuk menampilkan hasil analisis.

3. Hasil skoring Tes Kraepelin akan muncul secara otomatis beserta grafiknya.



H. Skor dan Persentil Poin (PP)
Menurut Firdausia (2013), berikut adalah angka pengklasifikasian skor
dan Persentil Poin (PP) dari hasil tes Kraepelin.
14

a) Ketelitian Kerja
Salah PERSENTIL POIN KLASIFIKASI
0 99 Tinggi
1-2 95 Tinggi
3-5 90 Tinggi
6-11 75 Sedang
12-22 50 Sedang
23-30 25 Rendah
31 10 Rendah

b) Kestabilan

Skor PERSENTIL POIN KLASIFIKASI
4 99 Tinggi
5-6 95 Tinggi
7-8 90 Tinggi
9-10 75 Sedang
11-12 50 Sedang
13-14 25 Rendah
15 10 Rendah

c) Kecepatan

Skor PERSENTIL POIN KLASIFIKASI
8 10 Rendah
9-10 25 Rendah
11-12 50 Sedang
13-14 75 Sedang
15

15 90 Tinggi
16 95 Tinggi
17 99 Tinggi

I. Interpretasi Tes Kraepelin
Interpretasi hasil dapat mencangkup :
1. Kecepatan, bisa mengindikasikan tempo kerja
2. Ketelitian, bisa mengindikasikan konsentrasi kerja
3. Keajekan/keajegan, bisa mengindikasikan stabilitas emosi
4. Ketahanan, bisa mengindikasikan daya tahan terhadap situasi menekan
Individu dikatakan memiliki performance kerja yang baik jika dalam
rentang waktu yang lama, dalam situasi menekan (stressful) mampu menampilan
unjuk kerja yang ce[at, teliti, dan stabil. Berikut ini beberapa intepretasi yang
dapat digambarkan bila dikaitkan dengan arah pekerjaan.
1. Kecepatan bisa mengindikasikan tempo kerja.
Seberapa aktif testee melakukan kegiatan apakah lambat, sedang atau
keras. Dalam melakukan kegiatan ini harus penuh pertimbangan, hati-hati,
teliti dan akurat, serius, tenang, stabil namun sensitif, ramah, perhatian pada
perasaan dan kebutuhan orang lain, setia, kooperatif, serta pendengar yang
baik. Sangat baik dalam keadaan yang membutuhkan common sense, tindakan
cepat dan ketrampilan praktis. Gesit, kreatif, inovatif, cerdik, logis, baik dalam
banyak hal, punya kemampuan mengorganisasi, detail, teliti, sangat
bertanggung jawab dan bisa diandalkan.
Contoh Profesi : Architect, Interior Designer, Perawat, Administratif,
Designer, Child Care, Konselor, Back Office Manager, Penjaga Toko/
Perpustakaan, Dunia Perhotelan.
2. Ketelitian bisa mengindikasikan konsentrasi kerja.
Seberapa besar kita bisa fokus terhadap pekerjaan yang sedang
dihadapi. Tenang, hati-hati, penuh pertimbangan, logis, rasional, kritis,
16

obyektif, mampu mengesampingkan perasaan.. Mampu menganalisa,
mengorganisir, dan mendelegasikan.
Contoh Profesi : Bidang Manajemen, Intelijen, Hakim, Pengacara,
Dokter, Akuntan (Staf Keuangan), Programmer atau yang berhubungan
dengan IT, System Analys/Analyst, Teknisi, Insinyur, Mekanik.
3. Kestabilan/ Keajegan, bisa mengindikasikan kestabilan atau kemampuan
mengolah emosi pada saat bekerja.
Kemampuan mempertahankan emosi dan tidak mudah terpengaruh
oleh hal disekitar yang mengganggu. Mampu menghadapi perubahan
mendadak dengan cepat dan tenang, percaya diri, tegas serta mampu
menghadapi perbedaan maupun kritik.
Contoh Profesi : Polisi, Ahli Forensik, Programmer, Ahli Komputer,
System Analyst, Teknisi, Insinyur, Mekanik, Pilot, Atlit, Entrepreneur.
4. Ketahanan bisa mengindikasikan daya tahan terhadap situasi keadaan
menekan.
Ketahanan menggambarkan seseorang dapat diandalkan dan
bertanggung jawab, memegang aturan, standar dan prosedur dengan teguh.
Contoh Profesi: Polisi, Intelijen, Hakim, Pengacara, Pemimpin Militer, Atlit









17

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Tes Kraepelin. Terdapat dalam
http://www.masbow.com/2009/07/tes-kraepelin.html. Diakses pada 2
April 2014
Behi, Zaenul. 2013. Laporan Hasil Tes Kraepelin. Terdapat dalam
http://zaenulbehi.blogspot.com/2013/05/laporan-hasil-tes-kraeplin_6.html.
Diakses pada 2 April 2014
Firdausa, Firna. 2013. Tes Kraepelin. Terdapat dalam
http://firnafirdausia.blogspot.com/2013/04/tes-kraeplin.html. Diakses pada
2 April 2014
Lukman. 2014. Psikotes Kraepelin. Terdapat dalam
http://psikoteskraepelin.blogspot.com/2013/12/psikoteskraepelin.html.
Diakses pada 2 April 2014
Muzani, Zaldi. 2014. Tes Kraepelin. Terdapat dalam http://zaldi-tes-Kraepelin-
woyoooo.blogspot.com/. Diakses pada 2 April 2014
Saryono, Hari. 2013. Latihan Tes Kraepelin. Terdapat dalam
http://harisaryono.com/tag/test-kraepelin/. Diakses pada 2 April 2014
Usber. 2011. Tes Kraepelin. Terdapat dalam
http://usberstop.wordpress.com/2011/03/30/tes-kraepelin/. Diakses pada 2
April 2014