Anda di halaman 1dari 5

Mobilisasi Dini Pada Ibu Post Sectio Caesaria

Pada dasawarsa terakhir ini, dunia internasional nampaknya benar-benar


terguncang. Jika setiap tahun hampir sekitar setengah juta warga dunia
harus menemui ajalnya karena persalinan. Dan nampaknya hal ini menarik
perhatian yang cukup besar sehingga dilakukannya berbagai usaha untuk
menanggulangi masalah kematian ibu ini. Usaha tersebut terlihat dari
beberapa program yang dilaksanakan oleh organisasi internasional misalnya
program menciptakan kehamilan yang lebih aman (making pregnancy safer
program) yang dilaksanakan oleh World Health Organization (WHO), atau
program gerakan sayang ibu (safe motherhood program) yang dilaksanakan
oleh Indonesia sebagai salah satu rekomendasi dari konferensi internasional
di Mesir, Kairo tahun 1994. Selain usaha-usaha tersebut, ada pula beberapa
konferensi internasional yang juga bertujuan untuk menurunkan Angka
Kematian Ibu (AKI) seperti International Conference on Population and
Development, di Kairo, 1994 dan The World Conference on Women, di
Beijing, 1995 (www.rahima.or.id, 2003).


Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berjumlah 307/100.000 kelahiran
hidup. Bila dibandingkan negara-negara Asean, AKI Indonesia menempati
posisi mengkhawatirkan. Yang menyebabkan AKI tinggi ada dua faktor
penyebab yaitu medis dan akses ke pelayanan kesehatan. Untuk
mendukungMaking Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan WHO,
Pemerintah melaksanakan strategi utama adalah memberi pertolongan
persalinan yang diberikan tenaga kesehatan, kedua mengupayakan
komplikasi ibu saat mengandung dan melahirkan dapat ditangani, ketiga
mengupayakan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Mengenai
target menurunkan AKI menjadi 125/100.000, agaknya sulit mencapai target
tersebut (www.depkes.go.id , 2004).

Salah satu jenis pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Sectio
Caesaria (SC), dimana SC adalah pembedahan untuk melahirkan janin
dengan membuka dinding rahim, namun pada kenyataannya masih sering
terjadi komplikasi pada ibu post partum seperti; infeksi puerperal,
perdarahan, luka pada kandung kencing, embolisme paru-paru, ruptur uteri
dan juga dapat terjadi pada bayi seperti kematian perinatal (Mansjoer,
et.all, 1999).

Menurut Jones (2005) dalam tahun 30 tahun belakangan, peristiwa operasi
caesar meningkat dengan pesat. Kebanyak beralasan. Tetapi beberapa juga
tidak mempunyai alasan yang tepat, hanya karena pasien menginginkan
operasi tersebut, atau dokter menginginkan cara yang mudah. Di Australia
dan Inggeris, operasi caesar sekitar 10 sampai 15%. Di Amerika Serikat,
sekitar 16% sampai 20%. Alasan tingginya jumlah kejadian operasi caesar di
Amerika Serikat adalah, kebanyakan ahli kebidanan.

Dari hasil laporan Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta tercatat bahwa pada
tahun 2005 jumlah persalinan dengan operasi caesar meningkat menjadi 24%
dengan jumlah 1.757 persalinan dari jumlah semula sebesar 1.389 (22,6%)
(healthsolutionlpg_2006).

Ada dua cara persalinan, yaitu persalinan lewat vagina, lebih dikenal
dengan persalinan normal atau alami dan persalinan dengan operasi caesar,
yaitu bayi dikeluarkan lewat pembedahan perut (Kasdu, 2003). Salah satu
jenis pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah Sectio
Caesaria (SC), dimana SC adalah pembedahan untuk melahirkan janin
dengan membuka dinding rahim, namun pada kenyataannya masih sering
terjadi komplikasi pada ibu post partum seperti; infeksi puerperal,
perdarahan, luka pada kandung kencing, embolisme paru-paru, ruptur uteri
dan juga dapat terjadi pada bayi seperti kematian perinatal (Mansjoer,
et.all, 1999). Persalinan melalui Sectio Caesaria tetap mengandung risiko
dan kerugian yang lebih besar seperti risiko kematian dan komplikasi yang
lebih besar seperti resiko kesakitan dan menghadapi masalah fisik pasca
operasi seperti timbulnya rasa sakit, perdarahan, infeksi, kelelahan, sakit
punggung, sembelit dan gangguan tidur juga memiliki masalah secara
psikologis karena kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan bayi
dan merawatnya (Depkes RI, 2006). Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam perawatan pasca operasi caesar adalah perawatan luka insisi, tempat
perawatan pasca operasi, pemberian cairan, diit, nyeri, mobilisasi dini,
kateterisasi, pemberian obat-obatan dan perawatan rutin (Yuni, 2008).

Mobilisasi dini sebagai suatu usaha untuk mempercepat penyembuhan dari
suatu injuri atau penyakit tertentu yang telah merubah cara hidupnya yang
normal. Mobilisasi secara bertahap sangat berguna membantu jalannya
penyembuhan luka penderita. Miring ke kanan dan ke kiri sudah dapat
dimulai setelah 6-10 jam (Suzanne, 1999). Menurut Novaria (2000), salah
satu pra kondisi yang menyebabkan rendahnya mobilisasi dini ibu bersalin
adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat di bidang kesehatan.
Khususnya ibu-ibu post partum yang bersalin dengan operasi caesar.

Pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: Pendidikan,
menurut Suwarno (1992) dalam buku Nursalam (2001) pendidikan berarti
bimbingan yang diberikan oleh sesorang terhadap orang lain menuju kearah
suatu cita-cita tertentu, semakin tinggi pendidikan orang semakin tinggi
tingkat pengetahuanya. Pekerjaan, menurut Thomas (1996) dalam buku
Nusalam (2001) pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama
untuk menunjang kehidupanya dan kehidupan keluarganya. Keluarga
dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding dengan
keluarga dengan status ekonomi rendah, hal ini akan mempengaruhi
kebutuhan akan informasi termasuk kebutuhan sekunder, jadi dapat
disimpulkan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang
tentang berbagai hal.(Wawan & Dewi, 2010)Umur, menurut Elisabeth. B.H
(1995) dalam buku Nursalam(2001) usia individu yang dihitung mulai saat
dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan
bekerja (Huclok, 1998)3 Masalah AKI dipengaruhi oleh pengetahuan ibu
tentang kebutuhan masa nifas khusunya perawatan tentang ambulasi dini.
Sementara pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh
pendidikan, pekerjaan dan umur (Notoatmodjo, 2003).
Umur mempengaruhi bagaimana ibu bersalin caesar mengambil keputusan
dalam mobilisasi dini, semakin bertambah umur (tua) maka pengalaman dan
pengetahuan semakin bertambah. (Notoatmodjo, 2003). Dalam proses
persalinan, ibu yang Menurut Perinansia (2003), paritas adalah pengalaman
perawatan pasca persalinan, pengalaman pasca persalinan pada kelahiran
anak sebelumnya, kebiasaan mobilisasi dini dalam keluarga serta
pengetahuan tentang manfaat mobilisasi dini berpengaruh terhadap
keputusan ibu untuk mobilisasi dini atau tidak. Dukungan dokter,
bidan/petugas kesehatan lainnya atau kerabat dekat sangat dibutuhkan
terutama untuk ibu yang pertama kali operasi caesar. pertama kali operasi
caesar pengetahuan terhadap mobilisasi dini masih awam dibandingkan
dengan mobilisasi dini pada persalinan normal. Pekerjaan ibu juga
diperkirakan dapat mempengaruhi pengetahuan dalam hal mobilisasi dini
pasca caesar. Pengetahuan responden yang bekerja lebih baik bila
dibandingkan dengan pengetahuan responden yang tidak bekerja. Semua ini
disebabkan karena ibu yang bekerja di luar rumah (sektor formal) memiliki
akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi, termasuk mendapatkan
informasi tentang arti penting mobilisasi dini pasca persalinan. Demikian
juga dengan pendidikan dimana pendidikan berarti bimbingan yang
diberikan oleh sesorang terhadap orang lain menuju kearah suatu cita-cita
tertentu, semakin tinggi pendidikan orang semakin tinggi tingkat
pengetahuanya, dengan demikian ibu yang mempunyai latar belakang
pendidikan yang tinggi cenderung lebih memahami akan pentingnya
mobilisasi dini setelah dilakukannya sectio caesaria. tingkat pendidikan
turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami
pengetahuan mobilisasi dini yang mereka peroleh. Dari kepentingan
keluarga pendidikan itu sendiri sangat diperlukan agar lebih tanggap
terhadap adanya perilaku mobilisasi dini dan bisa mengambil tindakan
secepatnya.