Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM VI

PENENTUAN PROTEIN DALAM URIN



I. TUJUAN
Mahasiswa mampu memahami prinsip penentuan protein dalam urin
sebagai salah satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia klinik.
II. PRINSIP KERJA
Protein akan membentuk endapan/menggumpal bila dipanaskan dalam
suasana asam.
III. DASAR TEORI
Urin dibentuk oleh ginjal. Ginjal merupakan organ yang sangat khusus
dengan 2 fungsi utama yaitu mengeliminasi sisa-sisa metabolisme dalam bentuk
larutan serta mempertahankan homeostatis cairan tubuh.
Dalam keadaan normal pada orang dewasa akan dibentuk 1200 1500 ml
urin dalam satu hari. Secara fisiologis maupun patologis volume urin dapat
bervariasi. Pembentukan urine dipengaruhi oleh cairan yang masuk dan jenis
makanan. Diet tinggi protein akan meningkatkan pembentukan urin sebab urea
yang terbentuk pada proses metabolisme protein mempunyai efek diuretik. Pada
suhu lingkungan tinggi, volume urine berkembang. Volume urine yang diperlukan
untuk mengekskresi produk metabolisme tubuh adalah 500 ml.
Oligouria (volume urin berkurang) ditemukan pada berbagai keadaan
demam, nefritis akut, glomerulonefritis kritis, gangguan hati akut, diare dan gagal
jantung. Anuri (tidak berbentuk urin) pada suatu periode tertentu dapat terjadi
pada keadaan syok, nefritis akut, keracunan air raksa atau batu ginjal.
Poliuria (volume urin meningkat) ditemukan pada berbagai keadaan. Pada
diabetes inpidus, akibat tidak adanya hormon anti diuretik, volume urin setiap hari
dapat mencapai 10-20 L. Pada diebetes melitus, volume urin dapat mencapai 5-6
L dalam 1 hari.
Rasio antara urin siang hari (pukul 08.00 20.00) dan urin malam hari
(pukul 20.00 08.00) adalah 2 : 1, kadang kadang 3 : 1. Pada kelainan ginjal
rasio ini dapat berubah atau bahkan terbalik.
Pada keadaan normal, urin yang dibentuk berwarna kuning muda dan
jernih dengan berbau khas dan juga turut dipengaruhi oleh jenis makanan. Berat
jenis urin 24 jam adalah 1,003 1,030. pH bersifat (pH 6,0) dan sangat bervariasi
antara 4,9 sampai 8,0.
Kandungan zat padat dalam urin 24 jam adalah sebagai berikut :
Klorida sebagai NaCl = 100 gr
Ca2+, Mg2+ dan iodium = sedikit
Urea = 20 30 gr
Kreatinin = 1,5 gr
Amonia = 0,7 gr
Asam Urat = 0,7 gr
Selain itu juga ditemukan sulfat, fosfat, oksalat, asam amino, vitamin, hormon dan
enzim.
Pada keadaan abnormal dapat ditemukan glukosa, asam amino, protein
dan berbagai senyawa lain seperti pigmen empedu, darah dan porifirin yang dapat
digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa penyakit tertentu.
Dalam saluran kemih dapat terjadi pembentukan batu sebagai akibat
menurunnya kelarutan senyawa tertentu dalam urin. Kira kira satu per tiga batu
saluran kemih terdiri dari Ca-fosfat, Ca-karbonat dan Mg aluminium fosfat.
Pembentukan batu terjadi akibat peningkatan eskresi kalsium , infeksi dan
peningkatan pH. Dalam urin juga dapat ditemukan batu oksalat dan batu asam
urat. (Hafiez Soewoto,2001)
Urine atau air seni atau air kencing merupakan cairan sisa yang
diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses
urinasi. Ekskresi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam
darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih,
akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Urine normal biasanya berwarna
kuning, berbau khas jika didiamkan berbau ammoniak, pH berkisar 4,8 7,5 dan
biasanya 6 atau 7. Berat jenis urine 1,002 1,035. Volume normal perhari 900
1400 ml. (Askandar Tjokoprawiro, 2006)
Proteinuria yaitu urin manusia yang terdapat protein yang melebihi nilai
normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada anak-anak lebih dari 140
mg/m2. Dalam keadaan normal, protein didalam urin sampai sejumlah tertentu
masih dianggap fungsional. Sejumlah protein ditemukan pada pemeriksaan urin
rutin, baik tanpa gejala, ataupun dapat menjadi gejala awal dan mungkin suatu
bukti adanya penyakit ginjal yang serius. Adanya protein di dalam urin sangatlah
penting, dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan adanya
penyebab/penyakit dasarnya. Adapun proteinuria yang ditemukan saat
pemeriksaan penyaring rutin pada orang sehat sekitar 3,5%. Jadi proteinuria tidak
selalu merupakan manifestasi kelainan ginjal. Biasanya proteinuria baru dikatakan
patologis bila kadarnya diatas 200mg/hari pada beberapa kali pemeriksaan dalam
waktu yang berbeda. Ada yang mengatakan proteinuria persisten jika protein urin
telah menetap selama 3 bulan atau lebih dan jumlahnya biasanya hanya sedikit
diatas nilai normal. Dikatakan proteinuria massif bila terdapat protein di urin
melebihi 3500 mg/hari dan biasanya mayoritas terdiri atas albumin. Dalam
keadaan normal, walaupun terdapat sejumlah protein yang cukup besar atau
beberapa gram protein plasma yang melalui nefron setiap hari, hanya sedikit yang
muncul didalam urin. Ini disebabkan 2 faktor utama yang berperan yaitu: Filtrasi
glomerulus dan Reabsorbsi protein tubulus. (Lehninger,1982)

IV. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan :
1. Beacker glass
2. Gelas ukur
3. Penangas air
4. Pipet tetes
5. Tabung reaksi
Bahan yang digunakan :
1. Urin
2. Aquadest
3. Asam asetat 10 %
4. Reagen bang












V. CARA KERJA
1. Tes Pemanasan dengan Asam Asetat










2. Pemeriksaan secara Bang



















Tabung diisi dengan urin sebanyak nya
Didihkan selama 1-2 menit
Kekeruhan yang terjadi disebabkan oleh fosfat, karbonat, atau
albumin

Tambahkan 3 tetes asam aetat 10% dalam keadaan mendidih. Kekeruhan
yang disebabkan oleh karbonat dan fosfat akan hilang
5 ml urin ditambah 0,5 ml reagen bang
Panaskan dalam air mendidih selama 5 menit

VI. HASIL PENGAMATAN

NO. REAKSI HASIL
1. Pemeriksaan secara Bang


Urin + reagen bang
Dipanaskan 5 menit

Warna tetap yaitu kuning pekat
Warna tidak berubah
2. Pemanasan dengan Asam
Asetat 10 %

Urin tabung
dipanaskan 1-2 menit

+ 3 tetes asam asetat 10 %
Warna agak keruh
Warna menjadi lebih keruh dari
sebelumnya
Warna sedikit lebih pucat dan bening
dari sebelumnya, tetapi kekeruhan
tidak hilang











VII. PEMBAHASAN
Proses terbentuknya urine dimulai dari penyaringan darah pada ginjal lalu
terjadilah urine. Darah masuk ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Ketika berada
di dalam membrane glomenulus, zat-zat yang terdapat dalam darah (air, gula,
asam amino dan urea) merembes keluar dari pembuluh darah kemudian masuk ke
dalam simpai/kapsul bowman dan menjadi urine primer. Proses ini disebut filtrasi.
Urine primer dari kapsul bowman mengalir melalui saluran-saluran halus (tubulus
kontortokus proksimal). Di saluran-saluran ini zat-zat yang masih berguna,
misalnya gula, akan diserap kembali oleh darah melalui pembuluh darah yang
mengelilingi saluran tersebut sehingga terbentuk urine sekunder. Proses ini
disebut reabsorpsi.
Urine sekunder yang terbentuk kemudian masuk tubulus kotortokus distal
dan mengalami penambahan zat sisa metabolisme maupun zat yang tidak mampu
disimpan dan akhirnya terbentuklah urine sesungguhnya yang dialirkan ke
kandung kemih melalui ureter. Proses ini disebut augmentasi. Apabila kandung
kemih telah penuh dengan urine, tekanan urine pada dinding kandung kemih akan
menimbulkan rasa ingin buang air kecil atau kencing. Banyaknya urine yang
dikeluarkan dari dalam tubuh seseorang yang normal sekitar 5 liter setiap hari.
Faktor yang mempengaruhi pengeluaran urine dari dalam tubuh tergantung dari
banyaknya air yang diminum dan keadaan suhu apabila suhu udara, udara dingin
membuat pembentukan urine meningkat sedangkan jika suhu panas pembentukan
urine sedikit. Pada saat minum banyak air, kelebihan air akan dibuang melalui
ginjal. Oleh karena itu jika banyak minum akan banyak mengeluarkan urine.
Warna urine setiap orang berbeda-beda. Warna urine biasanya dipengaruhi oleh
jenis makanan yang dimakan, jenis kegiatan atau dapat pula disebabkan oleh
penyakit. Namun biasanya warna urine normal berkisar dari warna bening sampai
warna kuning pucat.
Proteinuria yaitu urin manusia yang terdapat protein yang melebihi nilai
normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada anak-anak lebih dari 140
mg/24 jam. Dalam keadaan normal, protein di dalam urin sampai sejumlah
tertentu masih dianggap fungsional. Sejumlah protein ditemukan pada
pemeriksaan urin rutin, baik tanpa gejala, ataupun dapat menjadi gejala awal dan
mungkin suatu bukti adanya penyakit ginjal yang serius.Walaupun penyakit ginjal
yang penting jarang tanpa adanya proteinuria, kebanyakan kasus proteinuria
biasanya bersifat sementara, tidak penting atau merupakan penyakit ginjal yang
tidak progresif. Lagipula protein dikeluarkan urin dalam jumlah yang bervariasi
sedikit dan secara langsung bertanggung jawab untuk metabolisme yang serius.
Adanya protein di dalam urin sangatlah penting, dan memerlukan penelitian lebih
lanjut untuk menentukan adanya penyebab/penyakit dasarnya. Adapun proteinuria
yang ditemukan saat pemeriksaan penyaring rutin pada orang sehat sekitar 3,5%.
Jadi proteinuria tidak selalu merupakan manifestasi kelainan ginjal.
Biasanya proteinuria baru dikatakan patologis bila kadarnya diatas 200 mg/hari
pada beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang berbeda. Ada yang
mengatakan proteinuria persisten jika protein urin telah menetap selama 3 bulan
atau lebih dan jumlahnya biasanya hanya sedikit diatas nilai normal. Dikatakan
proteinuria massif bila terdapat protein di urin melebihi 3500 mg/hari dan
biasanya mayoritas terdiri atas albumin. Dalam keadaan normal, walaupun
terdapat sejumlah protein yang cukup besar atau beberapa gram protein plasma
yang melalui nefron setiap hari, hanya sedikit yang muncul didalam urin.
Ini disebabkan 2 faktor utama yang berperan yaitu: Filtrasi glomerulus dan
Reabsorbsi protein tubulus.
Fungsi ginjal yaitu untuk membuang sisa metabolisme yang tidak
diperlukan oleh tubuh dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh.
Setiap saat, secara teratur, darah yang beredar di tubuh kita akan melewati ginjal
untuk menjalani proses filtrasi di ginjal. Proses filtrasi tersebut akan menghasilkan
urin yang membawa serta sisa metabolisme tubuh yang tidak diperlukan lagi.
Sedangkan zat-zat yang berguna bagi tubuh, seperti protein, tidak terfiltrasi dan
tidak keluar di urin.
Proses metabolisme protein di dalam sistem pencernaan akan
menghasilkan asam amino yang kemudian ikut dalam peredaran darah. Di dalam
sel akan disintesa dan sebagai hasil akhir adalah asam urat. Asam urat merupakan
suatu zat racun jika ada di dalam tubuh maka hepar akan dirombak sedikit demi
sedikit menjadi urea dan dikeluarkan melalui ginjal. Jika urine mengandung
protein biasanya berupa asam amino. Keadaan demikian merupakan kelainan pada
hepar dan ginjal.
Urine yang terdapat atau ditemukan protein disebut proteinuria.
Proteinuria ini ditandai dengan adanya kekeruhan setelah diuji dengan suatu
metode. Proteinuria ditentukan dengan berbagai cara yaitu: asam sulfosalisilat,
pemanasan dengan asam asetat, carik celup (hanya sensitif terhadap albumin).
Pada praktikum ini kita melakukan dengan metode pemanasan asama asetat dan
reagen bang. Pada metode pemanasan dengan asam asetat dan metode bang ini
terbentuknya protein disebabkan sifat asam atau suasana asam.
Setelah diuji diperoleh hasil yang negatif yaitu dengan melihat ada atau tidak
adanya kekeruhan. Seperti pada gambar di samping,
pemanasan dengan reagen bang, setelah dipanaskan tidak
terbentuk kekeruhan, artinya urin tidak mengandung protein.
Begitu juga pada Berarti fungsi renal bekerja dengan baik
dan tidak ada indikasi kelainan.
Sedangkan pada pemanasan dengan asam atetat, dari
awal pemanasan, urin memang sudah keruh, setelah
dipanaskan kekeruhan tetap tak ada perubahan. Berdasarkan
literatur, seharusnya apabila urin telah keruh dari awal, harus
dilakukan sentrifugasi dan diambil supernatannya. Tetapi saat
praktikum tidak dilakukan sentrifugasi, sehingga hasil
pemeriksaan urin dengan reagen bang yang diperoleh tidak
tepat.
Protein dalam urin akan membentuk kekeruhan atau gumpalan oleh asam
karena mendekati titik isoelektrik protein dibantu dengan pemanasan, sehingga
terbentuk kekeruhan, butiran, kepingan, atau gumpalan sesuai dengan banyaknya
kandungan protein dalam urin.


VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Fungsi ginjal yaitu untuk membuang sisa metabolisme yang tidak
diperlukan oleh tubuh dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit
tubuh.
2. Proses pembentukan urin melaui 3 tahap di ginjal yaitu filtrasi, reabsorpsi,
dan augmentasi.
3. Urine yang terdapat atau ditemukan protein disebut proteinuria. Penemuan
protein di dalam urin ini dapat mengindikasikan kelainan hati ataupun
ginjal.
4. Setelah diuji diperoleh hasil yang negatif yaitu dengan melihat ada atau
tidak adanya kekeruhan.
5. Pada pemanasan dengan reagen bang, setelah dipanaskan tidak terbentuk
kekeruhan, artinya urin tidak mengandung protein.
6. Pada pemanasan dengan asam atetat, dari awal pemanasan, urin memang
sudah keruh, setelah dipanaskan kekeruhan tetap tak ada perubahan.
7. Berdasarkan literatur, seharusnya apabila urin telah keruh dari awal, harus
dilakukan sentrifugasi dan diambil supernatannya. Tetapi saat praktikum
tidak dilakukan sentrifugasi, sehingga hasil pemeriksaan urin dengan
reagen bang yang diperoleh tidak tepat.











DAFTAR PUSTAKA

Arvin, Behrman Kliegma. 1996. NELSON Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Brunner & Suddarth. 1997. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 2. Jakarta :
EGC.
Ganong W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Lehninger, Albert L.1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga
Murray, Robert K. 2009. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Poedjiadji, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia
Soewoto, Hafiz. 2001. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Jakarta :UI Press.
Underwood, A.L; Day, R.A. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.