Anda di halaman 1dari 4

Penjelasan dari Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia

Perbedaan Empat Sehat Lima Sempurna dengan Gizi Seimbang


http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=12&contentid=80
Melanjutkan uraian di edisi sebelumnya tentang definisi gizi seimbang, sejarahnya, windows of
opportunity", serta beban ganda masalah gizi, uraian di bawah ini akan melihat perbedaan antara
prinsip 4 sehat 5 sempurna dengan konsep gizi seimbang.
Sesuai dengan prinsip Gizi Seimbang[1], pola makan berdasarkan "Pedoman Gizi Seimbang" (PGS)
tidak dapat berlaku sama untuk setiap orang. Tiap golongan usia, status kesehatan, dan aktivitas
fisik, memerlukan PGS yang berbeda sesuai kondisi masing-masing. Hal ini berbeda dengan pola
makan berdasarkan slogan "4 sehat 5 sempurna" (4S & 5S) yang berlaku bagi semua orang di atas
dua tahun.
Tak jelas bagaimana pedoman yang mengelompokkan makanan hanya ke dalam 4 kelompok secara
kualitatif itu dapat menjadi acuan untuk memenuhi kebutuhan berbagai golongan masyarakat. Pada
saat slogan 4S5S diciptakan tahun 1950-an, diasumsikan bahwa kebiasaan makan masyarakat makin
sehat sehingga berbagai masalah kesehatan karena kekurangan dan kelebihan gizi dapat dicegah
dan dikurangi. Asumsi ini ternyata tidak terwujud, baik di Indonesia maupun negara-negara lain,
termasuk negara asal 4S5S di AS. Oleh karena itu pedoman 4S5S sejak awal tahun 1990-an secara
internasional telah digantikan oleh pedoman yang lebih rinci yang disebut PGS dengan alasan
sebagai berikut.
Pertama,
susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok ini, belum tentu sehat, bergantung apakah
porsi dan jenis zat gizinya sesuai dengan kebutuhan. Contoh, jika pola makan kita sebagian
besar porsinya terdiri atas sumber karbohidrat (nasi), sedikit sumber protein, sedikit sayur
dan buah sebagai sumber vitamin, maka pola makan tersebut tidak dapat dianggap sehat.
Sebaliknya, jika pola makan kita terlalu banyak sumber lemak dan protein seperti hidangan
yang banyak daging dan minyak atau lemak, tetapi sedikit sayur dan buah, maka pola makan
itu tak dapat dianggap sehat.
Selain jenis makanan, pola makan berdasarkan PGS menekankan pula proporsi yang berbeda
untuk setiap kelompok yang disesuaikan atau diseimbangkan dengan kebutuhan tubuh. PGS
pun memperhatikan aspek kebersihan makanan, aktivitas fisik, dan kaitannya dengan pola
hidup sehat lain.
Kedua,
susu bukan "makanan sempurna" seperti anggapan umum selama ini. Dengan anggapan itu
banyak orang, termasuk kalangan pemerintah, menganggap susu merupakan "jawaban" atas
masalah gizi. Sebenarnya, susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur,
ikan dan daging.
Oleh karena itu di dalam PGS, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber
protein hewani lain. Dari segi kualitas protein, telur dalam ilmu gizi dikenal lebih baik dari
susu karena daya cerna protein telur lebih tinqggi daripada susu.
Ketiga,
slogan 4S5S yang dipopulerkan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, di tahun
1950-an dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan iptek gizi, seperti halnya slogan
"Basic Four" di Amerika yang merupakan acuan awal 4S5S pada masa itu. "Basic Four" dari
AS yang diciptakan tahun 1940-an bertujuan mencegah pola makan orang Amerika yang
cenderung banyak lemak, tinggi gula, dan kurang serat. Namun, setelah dievaluasi tahun
1970-an, ternyata slogan tersebut tidak memperbaiki pola makan penduduk Amerika, yang
disertai dengan meningkatnya penyakit degeneratif terkait gizi. Sejak itu, slogan "Basic Four"
diperbarui dan disempurnakan menjadi "Nutrition Guide for Balance Diet" dengan visual
piramida.
Di Indonesia "Nutrition Guide for Balance Diet" diterjemahkan menjadi PGS yang juga
menggunakan visual piramida. Berbeda dengan Nutrition Guide AS yang berlaku untuk usia
di atas 2 tahun, di Indonesia PGS berlaku sejak bayi dengan memasukkan ASI eksklusif
sebagai Gizi Seimbang.
Pada konferensi pangan sedunia yang diadakan oleh FAO tahun 1992 di Roma dan Genewa, antara
lain ditetapkan agar semua negara berkembang yang semula menggunakan slogan sejenis "Basic
Four" memperbaiki menjadi "Nutrition Guide for Balance Diet". Keputusan FAO tersebut diterapkan
di Indonesia dalam kebijakan Repelita V tahun 1995 sebagai PGS dan menjadi bagian dari program
perbaikan gizi. Namun, PGS kurang disosialisasikan sehingga terjadi pemahaman yang salah dan
masyarakat cenderung tetap menggunakan 4S5S.
Baru pada tahun 2009 secara resmi PGS diterima masyarakat, sesuai dengan Undang-Undang
Kesehatan No 36 tahun 2009 yang menyebutkan secara eksplisit "Gizi Seimbang" dalam program
perbaikan gizi.
[1] Gizi Seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau
variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal.










Lupakan 4 Sehat 5 Sempurna
http://www.sangbuahhati.com/2013/04/lupakan-4-sehat-5-sempurna.html#_
KONSEP empat sehat lima sempurna tidak lagi berlaku. Seiring kemajuan ilmu gizi, kini para ahli gizi
berpedoman pada Tumpeng Gizi Seimbang.
Untuk mengetahui mengapa konsep 4 Sehat 5 Sempurna tidak lagi relevan dan apa keistimewaan
Tumpeng Gizi Seimbang, SBH melakukan wawancara dengan Ahli Gizi Profesor Soekirman SKM MPS-
ID PhD. Berikut kutipan wawancaranya.
Mengapa Konsep 4 Sehat 5 Sempurna tidak lagi relevan?
Slogan itu sebelumnya telah dikenal di Amerika. Mereka menyebutnya dengan Basic Four.
Diciptakan pada 1940-an, bertujuan mencegah pola makan orang Amerika yang cenderung banyak
lemak, tinggi gula, dan kurang serat. Nah konsep ini kemudian diterapkan di Indonesia, namun
sekarang dianggap kurang sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi.
Sejakl 25 Januari 2011, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Kementerian Kesehatan RI,
secara resmi mengumumkan bahwa slogan Empat Sehat Lima Sempurna sudah tidak cocok lagi,
sehingga diganti dengan Nutition Guide for Balance Diet atau disingkat PGS.
Apakah PGS ini yang kemudian dikenal dengan Konsep Tumpeng Gizi Seimbang?
Visualisasi PGS di setiap negara divisualisasikan sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Di
Indonesia divisualisasikan dengan tumpeng, karenan itu sering disebut dengan TGS atau Tumpeng
Gizi Seimbang. Di Prancis pedoman gizi seimbang digambarkan dengan bentuk pizza, dii Thailand
divisualisasikan ke bentuk bendera, dan di China mengambil symbol pagoda dengan tumpukan
rantang.
Sejak usia berapa Konsep TGS bisa diterapkan?
Peraturan setiap negara berbeda-beda. Di Indonesia berlaku sejak anak dilahirkan, dengan
memasukkan pemberian ASI eksklusif sebagai bagian dari gizi seimbang. Di Amerika, berlaku sejak
anak berusia dua tahun.
Apa tujuan dari penyusunan TGS?
Tujuannta membantu setiap orang memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang tepat, sesuai
dengan berbagai kebutuhan menurut usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai
keadaan kesehatan (hamil, menyusui, aktivitas fisik, sakit).
Apa kelebihan Konsep TGS dengan konsep sebelumnya?
Nutrition Guide for Balance Diet (PGS) atau TGS tidak hanya mencakup asupan makanan, tetapi juga
gaya hidup. Ada empat prinsip utama yang dianut, pertama adalah variasi makanan, kedua
pentingnya pola hidup bersih seperti menyajikan makanan dalam keadaan tertutup dan mencuci
tangan sebelum makan, ketiga pola hidup aktif dan olahraga, terkahir memantau berat badan ideal.
Jadi, hal-hal yang selama ini tidak diperhitungkan, sekarang masuk dalam susunan yang membentuk
kesehatan manusia.
Selain itu, penerapan PGS juga disesuaikan dengan golongan usia, jenis kelamin, kesehatan, dan
aktivitas fisik. Konsep ini sangat berbeda dengan 4 Sehat 5 Sempurna yang menyamaratakan
proporsi gizi setiap orang.
Saya lihat, air putih masuk dalam TGS?
Benar, air putih kini dipandang sebagai zat gizi esensial yang wajib terpenuhi dan menempati posisi
terbesar dalam asupan gizi. Air berperan penting dalam proses metabolism tubuh. Sebaik apapun
pola makan kita, jika tubuh kekurangan air, metabolisme akan terganggu.
Unsur apalagi yang perlu diketahui berkaitan dengan TGS?
Jika susu selama ini dianggap oleh awan dan pemerintah sebagai makanan penyempurna dan
kemudian menjadi jawaban atas masalah gizi, sebenernya tidak mutlak benar. Sebab susu sebagai
sumber protein hewani juga terdapat pada telur, daging, dan ikan. Bahkan dari kualitas protein, susu
kalah dibandingkan dengan telur.
Penggambaran kebutuhan gizi lewat simbol tumpeng, apakah sudah benar?
Ilmu pengetahuan terus berkembang. Dr Walter Willet, ilmuwan dari Harvard School of Public Health
mengatakan bahwa kebutuhan gizi dengan simbol piramida (tumpeng) masih rentan disalah pahami.
Penggolongan komponen makanan yang hanya berdasarkan pada proporsi akan menimbulkan
anggapan bahwa semua jenis karbohidrat, protein, dan produk susu itu baik, sehingga cenderung
dikonsumsi berlebihan. Sebaliknya, semua jenis lemak dan minyak akan dikira jahat sehingga harus
dihindari. Padahal, minyak, gula dan garam yang menempati puncak tumpeng dalam potongan yang
sangat kecil berarti dianjurkan dikonsumsi seperlunya saja, tidak boleh berlebihan.
Berarti makna dari TGS masih perlu terus disosialisasikan?
Benar. Banyak pengetahuan tentang gizi di TGS yang perlu diketahui masyarakat. Misalnya, kami
menganjurkan adanya pemisahan karbohidrat kompleks dan sederhana. Karbohidrat sederhana
seperti nasi, mi, roti, dan sejenisnya, dengan cepat akan melonjakkan kadar gula dalam darah dan
mengakibatkan meroketnya insulin.
Perlu pula diketahui, tidak semua makanan sumber protein layak dikonsumsi setiap hari. Sebagai
contoh, daging merah memang kaya protein, namun juga mengandung lemak jenuh dan kolesterol
tinggi sehingga harus dibatasi. Sumber protein lain seperti ikan, ayam, kacang-kacangan, dan biji-
bijian justru lebih baik dan bisa dikonsumsi lebih sering.
Lemak bersifat jenuh yang terdapat dalam minyak goreng, mentega, dan margarin, tidak baik terlalu
baik dikonsumsi. Namu, lemak yang berasal dari biji-bijian seperti kemiri, kacang mete, alpukat,
serta minyak zaitun, sejauh tidak digoreng merupakan sumber lemak yang bagus. Hal-hal seperti ini
juga perlu terus disosialisasikan pada masyarakat.