Anda di halaman 1dari 40

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula dikatakan bahwa
semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu habitat dikatakan
akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya adalah air.
Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk
penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri,
rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk
menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat
diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang
biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna)
(ICRF,2010).
Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain
di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika
(suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen
terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan
plankton, bakteri, dan sebagainya) (Effendi, 2003).
Lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah (O-fish, 2009):
1. Rendah kadar amonia dan nitrit
2. Bersih secara kimiawi
3. Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai
4. Rendah kadar cemaran organik, dan
5. Stabil
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah
pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2
bebas, pH, Konduktivitas, Kecerahan, Alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah
pengukuran kualitas air dengan parameter biologi (Plankton dan Benthos) (Sihotang,
2006).


1.2. Tujuan Pratikum
Adapun tujuan dari praktikum Ekologi Perairan ini adalah untuk mengetahui, serta
meneliti kondisi serta keadaan lokasi penelitian yang mencakup :
I. Parameter fisika : Suhu, kecerahan, kekeruhan, kecepatan arus, Padatan
tersuspensi, serta kedalaman.
II. Parameter kimia : pH air, Oksigen terlarut, CO2 bebas, nitrat, Phospat ,serta
BOD5.
1.3. Manfaat Pratikum
Manfaat dari praktikum tentang Kualitas Air adalah agar setiap praktikan dapat mengetahui
kualitas air yang ada di suatu perairan/ekosistem dengan menggunakan parameter fisika ataupun
parameter kimia yang digunakan untuk mengukur kualitas air yang ada di perairan tersebut

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tipe Perairan
Berdasarkan habitatnya, Aquatic ecosystem atau ekologi perairan terbagi atas 3 jenis
yaitu:
a. Fresh Water Aquatic, yaitu habitat air tawar yang terdiri dari perairan mengalir
(lotic) dan perairan tergenang (lentic).
b. Marine Water Aquatic, yaitu habitat air laut yaitu suatu habitat yang
menitikberatkan pada pola hubungan antar jasad dan hubungan antara jasad dengan
laut sebagai lingkungannya.
c. Brackhis Water Aquatic, yaitu habitat air payau atau habitat eustaria yaitu suatu
habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.laut tercampur dengan air tawar
sehingga sering juga disebut daerah ekoton atau daerah peralihan (Penuntun Pratikum
Ekologi Perairan, 2012).
Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang sangat berdaya guna,yang mampu
melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari pada zat cair lainnya.Sifat-sifat ini
dapat dilihat dari banyak unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut.(Hutabarat,
2000).
2.2. Parameter yang Dipraktekkan
1. PARAMETER FISIKA
A. SUHU
Suhu Hardjojo dan Djokosetiyanto (2005) menyatakan bahwa suhu air normal adalah
suhu air yang memungkinkan makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan
berkembangbiak. Suhu merupakan faktor fisik yang sangat penting di air, karena
bersama-sama dengan zat/unsure yang terkandung didalamnya akan menentukan
massa jenis air, dan bersama-sama dengan tekanan dapat digunakan untuk
menentukan densitas air. Selanjutnya, densitas air dapat digunakan untuk menentukan
kejenuhan air. Suhu air sangat bergantung pada tempat dimana air tersebut berada.
Kenaikan suhu air di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya
akan menimbulkan akibat sebagai berikut: 1) Jumlah oksigen terlarut di dalam air
menurun; 2) Kecepatan reaksi kimia meningkat; 3) Kehidupan ikan dan hewan air
lainnya terganggu. Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, maka akan
menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati. Suhu dapat mempengaruhi fotosintesa
di laut baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung yakni
suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesa.
Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesa, sedangkan pengaruh secara
tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat
mempengaruhi distribusi fitoplankton (Tomascik et al., 1997).
Menurut Nontji (1979) menyatakan bahwa suhu air di permukaan dipengaruhi oleh
kondisi meteorologi yakni curah hujan, penguapan , kelembapan udara, suhu udara,
keceptan angin, dan intesitas radiasi matahari. Oleh sebab itu suhu di permukaan
biasanya mengikuti pada musiman.
Suhu perairan biasanya akan meningkat apabila intensitas cahaya matahari yang masuk
ke dalam perairan dalam jumlah yang besar. Menurut dahuri et el (1996) suhu perairan
dipengaruhi oleh radiasi dan posisi matahari , letak geografis, musim, kondisi awan,
proses interaksi air dengan udara seperti kenaikan panas, penguapan, dan hembusan
angin.
Pola temparatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas
cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggihan
geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang
tumbuh di tepi. Di samping itu pola temperatur perairan dapat di pengaruhi oleh faktor-
faktor anthropogen (faktor yang di akibatkan oleh aktivitas manusia) seperti limbah
panas yang berasal dari air pendingin pabrik, penggundulan DAS yang menyebabkan
hilangnya perlindungan, sehingga badan air terkena cahaya matahari secara langsung
(Barus, 2003).
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan
status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang ditandai dengan tubuh
lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan
antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat
melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung
oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan
berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut
dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Irianto, 2005).

B. KECERAHAN
(Effendi, 2003). Cahaya merupakan sumber energi utama dalam ekosistem perairan. Di
perairan, cahaya memiliki dua fungsi utama (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi,
2003) antara lain adalah: 1. Memanasi air sehingga terjadi perubahan suhu dan berat
jenis (densitas) dan selanjutnya menyebabkan terjadinya percampuran massa dan
kimia air. Perubahan suhu juga mempengaruhi tingkat kesesuaian perairan sebagai
habitat suatu organisme akuatik, karena setiap organisme akuatik memiliki kisaran suhu
minimum dan maksimum bagi kehidupannya. 2. Merupakan sumber energi bagi proses
fotosintesis algae dan tumbuhan air. Kecerahan merupakan ukuran transparansi
perairan, yang ditemukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Nilai
kecerahan dinyatakan dalam satuan meter, nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan
cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi serta ketelitian
seseorang yang melakukan pengukuran. Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan
pada saat cuaca cerah (Effendi, 2003).
Kecerahan suatu perairan menentuan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus
suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlangsung
sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggan seichi disk mencapai
20-40 cm dari permukaan. (Chakroff dalam Syukur, 2002)
C. KEDALAMAN
Arus akan dipengaruhi oleh topografi dasar perairan, oleh karena itu distribusi fraksi
sedimen sangat tergantung dari bentuk dasar peraian terutama keadaan kedalaman
karena akan mempengaruhi bentuk dan pola arus (Panggabean,1994).
Kedalaman diukur dengan menggunakan tali yang telah diberi pemberat yang alatnya
dimasukkan ke dalam perairan sampai pemberat mencapai dasar perairan.Kemudian
pengukuran dimulai dari tali dari permukaan perairan sampai pada alat pemberat
(Haslinda,1992).
2. PARAMETER KIMIA
A. pH (Power Hydrogen)
pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air,
besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Besaran pH
berkisar antara 0 14, nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam
sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH =7 disebut
sebagai netral (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005).
Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan yang sangat asam dan dapat
menyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5 merupakan perairan yang
sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas
perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam
kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas
penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang
dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken, 1992) Pescod (1973) menyatakan bahwa
toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak faktor
meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut,
adanya variasi bermcam-macam anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan
basa (7 9) merupakan perairan yang produktif dan berperan mendorong proses
perubahan bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diassimilasi
oleh fotoplankton (Suseno, 1974). pH air yang tidak optimal berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan, menyebabkan tidak efektifnya pemupukan
air di kolam dan meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S. pH
air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik,
semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula
sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3 (Cholik
et al., 2005).
Derajat keasaman (pH) adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion H
+
dan menunjukkan
suasana air tersebut apakah dalam keadaan asam atau basa. Secara alamiah oH
-
perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO
2
dan senyawa-senyawa bersifat
asam (Hasibuan, 2001).
B. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen / DO)
Kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya adalah 5 8 mg/l
(Mayunar et al., 1995; Akbar, 2001). Oksigen dapat merupakan faktor pembatas dalam
penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air. Penentuan oksigen terlarut harus
dilakukan berkali-kali di berbagai lokasi dengan tingkat kedalaman yang berbeda pada
waktu yang tidak sama (Sastrawijaya, 2000).
Oksigen terlarut adalah jumlah gas oksigen yang terlarut dalam air yang berasal dari
hasil fotosintesa oleh fitoplankton atau tanaman air lainnya atau difusi dari udara
(Penuntun Pratikum Ekologi Perairan, 2011).
C. Karbondioksida Bebas (CO
2
)
Karbondioksida yang dihasilkan oleh hewan-hewan akan diperlukan untuk fotosintesis
oleh tumbuh-tumbuhan.( Lesmana, 2001). Selanjutnya Odum (1993) menyatakan
kandungan karbondioksida bebas dalam air tidak boleh dari 25 ppm.
III. BAHAN DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum tentang Pengukuran kualitas Air dilakukan pada tangal 20 Maret 2012 pada
pukul 15.00 WIB yang mengambil lokasi di Waduk Universitas Riau untuk pengambilan
sampel dan penelitiannya dilakukan di laboratorium Laboratorium Ekologi (dan
Manajemen Lingkungan) Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Riau.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan untuk melakukan praktikum tentang pengukuran
kualitas air adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan
3.3 Metode Praktikum
Metode praktikum yang digunakan dalam praktikum tentang Pengukuran kualitas air yang
dilakukan pada tanggal 20 Maret 2012 yang bertempat di Waduk Universitas Riau adalah dengan
melakukan pengamatan langsung ke tempat penelitian dan membawa sampel ke lab untuk di teliti
lebih lanjut.

Bahan Alat
Termometer larutan MnO(OH)
2

Secchi Disk
Mistar
Kertas Indikator Ph larutan thiosulfat (S
2
O
3
)
Tabung Erlenmeyer
Ember indikator kanji (amilum)
Botol
Pena indikator pnolpthealin (Pp),
Pensil
botol BOD larutan Na
2
CO
3.

pipet tetes
3.4 Prosedur Praktikum
1. PARAMETER FISIKA
a. Pengukuran Suhu
Praktikum pertama tentang pengukuran kulitas air dilakukan dengan menggunakan
parameter Fisika yaitu melakukan pengukuran suhu pada perairan tersebut.
Cara mengukur suhu air tersebut adalah dengan menggunakan termometer yang pada
pangkalnya di ikatkan sebuah benang dan saat melakukan pengukuran suhu,
termometer tidak boleh di pegang dengn menggunakan tangan , tetapi praktikan harus
memegang benang yang di ikatkan pada pangkal dari termometer tersebut.
b. Pengukuran Kecerahan
Pada praktikum kedua, kita di tuntut untuk mengukur tentang kecerahan yang ada
pada perairan tersebut, dan cara melakukan pengukuran kecerahan adalah sebagai
berikut :
1. Masukkan/celupkan sechi disk ke dalam perairan sampai bagian sechi disk yang
berwarna putih tidak nampak lagi dari atas.
2. Jika bagian putih dari sechi disk sudah tidak nampak, maka tandai berapa
dalamkah sechi disk tenggelam.
3. Tarik pelan-pelan sechi disk dari dasar perairan sampai bagian putih dari sechi disk
sudah nampak.
4. Tahan posisi sechi disk pada saat sechi disk sudah namapak dari atas lalu ukur
dalamnya sechi disk itu nampak dari batas persentuhan antara air dengan batang
pegangan sechi disk.
c. Pengukuran Kedalaman
Pengukuran tentang tingkat kedalaman dari waduk di ukur dengan cara
menenggelamkan mistar ke dalam air secara vertikal sampai menyentuh dasar dari
perairan tersebut, jika sudah menyentuh dasar perairan tersebut , maka di lihat berapa
dalamkah mistar tenggelam di dalam air tersebut.

2. PARAMETER KIMIA
a. Pengukuran pH
pengukuran tingkat keasaman (pH) dari perairan yang berada di Waduk dilakukan
dengan cara mencelupkan kertas indikator ke dalam perairan dan menariknya kembali,
lalu menyocokkan warna yang ada di kertas indikator dengan indikator yang telah di
sediakan sebelumnya.



b. Pengukuran Oksigen Terlarut (DO)
Pengukuran tentang Oksigen terlarut (DO) di waduk dilakukan dengan cara :
1. Tabung BOD di masukan ke dalam waduk tetapi di masukkan agak miring 30
secara perlahan-lahan karena pada saat pengambilan sampel air dengan menggunakan
tabung BOD tidak boleh adanya bubling (oksigen yang terperangkap dalam air)
2. Tabung dimasukan secara perlahanlahan apabila tidak terjadi bubbling, maka
tabung setelah masuk sekitar setengah dari ukuran tabung, tabung di
luruskan/diberdirikan dengan posisi mulut tabung rata dengan permukaan air sehinga
air dapat masuk
3. Jika tabung sudah penuh dengan air, maka tabung di tutup dan di cek apakah ada
terdapat bubling atau tidak, jika terdapat bubling maka proses di atas harus di ulangi
dari awal.
4. Tambahkan 2 ml larutan mangan sulfat di bawah permukaan, kemudian
tambahkan 2 ml larutan alkali-azida-iodida dengan pipet tetes yang lain. Botol ditutup
kembali untuk mencegah terperangkapnya udara dari luar, kemudian dikocok dengan
membalik-balikkan botol beberapa kali.
5. Biarkan gumpalan mengendap selama 10 menit. Jka proses pengendapan sudah
sempurna, maka bagian larutan yang jernih dikeluarkan dari botol dengan pipet
sebanyak 100 ml dipindahkan ke dalam erlenmeyer.
6. Tambahkan 2 ml asam sulfat pada sisa larutan yang mengendap dalam botol
dikocokdengan hati-hati hingga semua endapan larut, setelah itu larutan dipindahkan
ke dalam erlenmeyer, dan titrasi dengan thiosulfat hingga berwarna cokelat muda.
7. Tambahkan 1-2 ml indicator kanji (amilum) hingga warna biru muncul, selanjutnya
larutan tersebut dititrasi dengan larutan thiosulfat hingga warna biru tersebut hilang.

c . Pengukuran Karbondioksida Bebas
Pengukuran karbondioksida bebas juga menggunakan titrasi.
1. Air sample dimasukkan kedalam tabung elemeyer
2. kemudian ditambah dengan indikator pnolpthealin, jika berwana pink maka tidak ada
CO2.
3. jika tidak berwarna pink maka dilanjutkan dengan ditambahkan Na2CO3 samapi
berwarna pink stabil
4. Kemudian catat berapa banyak cairan yang dimasukkan.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
1. PARAMETER FISIKA AIR
a. Suhu, Kedalaman, dan Kecerahan
Jarak hilang : 50 cm
Jarak tampak : 35 cm
Rumus yang digunakan :
Transparansi air : Jarak hilang + Jarak tampak
2
50 cm + 4235 cm = 42.5 cm
2

Suhu permukaan air : 30 C
Kedalaman air di lokasi : 0.7 meter
Kekeruhan air dengan Turbidimeter : 7 NTU
2. PARAMETER KIMIA AIR
a. Oksigen Terlarut (DO)
Rumus yang digunakan; DO = AxNx8x1000
V
Maka nilai oksigen terlarut air sampel = 2,3 x 100 x 8 x 1000
100
= 4.6 mg/L
b. Karbondioksida Bebas (CO
2
)
Hasil analisis CO
2
dengan menggunakan titrasi, dimana Nilai ml larutan Na
2
CO
3
yang
terpakai = 0,4 ml
Nilai normalitas larutan Na2CO3 = 0,0454 N
Nilai volume air yang digunakan dalam erlenmeyer = 100 ml
Rumus yang digunakan; CO
2
= AxNx22x1000
V
Maka nilai CO2 bebas air sampel = 0,4 x 0,0454 x 22 x 1000
100
= 3.96 mg/L
c. pH (Power Hydrogen)
pH perairan = 6
4.2. Pembahasan
Setelah penelitian tentang Pengukuran Kualitas Air maka didapatkan data sebagai
berikut:







No. Parameter Nilai
A. FISIKA
1 Suhu 30 C
2 Kedalaman 0.7 m
3 Kecerahan 42.5 cm
B. KIMIA
4 Oksigen Terlarut (DO) 4.6 mg/L
5 Karbondioksida Bebas 3.96 mg/L
6. pH 6
TABEL 2. Hasil pengamatan
Kualitas dari suatu perairan sangat berpengaruh pada organisme-oranisme yang berada
pada perairan tersebut, baik itu fitoplankton yang berfungsi sebagai sumber makanan
bai ikan-ikan kecil ataupun bagi ikan itu sendiri, kondisi perairan akan berpengaruh baik
pada organisme di dalamnya apabila kondisi dari perairan tersebut juga baik dan akan
berdampak buruk apabila kondisi perairan itu tidak baik.





V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil praktikum kami tentang Pengukuran kualitas Air yan dilakukan
pada tanggal 20 Maret 2012 yang bertempat di waduk Universitas Riau adalah :
1. Kecerahannya cukup baik
2. Suhunya normal
3. Kekeruhannya bagus
4. Oksigen yang terlarut di perairan waduk Universitas Riau tipis dikarenakan waktu
pengukurannya dilakukan pada sore hari.
5. Tingkat dari karbondioksidanya normal.
6. pH perairan tersebut adalah basa.

5.2. Saran
Agar pratikum Ekologi Perairan ini dapat berjalan dengan lancar dan baik maka
diharapkan bagi para asisten agar mendampingi praktikan yang akan melakukan
praktikum dan ikut membantu praktikan dalam praktikumnya.


DAFTAR PUSTAKA

http://alfian-arby92.blogspot.com/2012/01/literatur-kualitas-air.html
Anonim. 2000. Budidaya Ikan Nila ( Oreochromis niloticus). Proyek Pengembangan Ekonomi
Masyarakat Pedesaan, Bappenas. Jakarta
Boyd, C.E., 1979. Water Quality in Warm water Fish Ponds. Auburn. University. Alabama.
USA.. 1982. Water Quality for pond fish culture. Elsevier scientific publishing company.
Amsterdam the Netherland
Effendie. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan
perairan. Kanisius.Jogjakarta ,1979 Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri
Herper,b. and Y Prugnin. 1984. Commercial Fish Farming, With The Special Reference To
Fish Culture In Israel. Jhon Wiley and sons. New York Karyawan parangin
Angin.2008. Modul Pembesaran Ikan. PPPTK pertanian Cianjur
Odum,E.P. 1971. Fundamental Ecology W. B. Saunders Company. Philadelphia.
Sitohang, Clemens dkk. 2010. Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Riau. Pekanbaru.
Kasry, Adnan dkk., 2010. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 53 hal.
2010. Diktat Perkuliahan Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 100 hal.
M. Ghufra H. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan, Bhnineka Cipta.
Poernomo A.1997. Peranan Tata Ruang, Desain Interior Kawasan Pesisir Dan
PengelolaannyaTerhadap Kelestarian Budidaya Tambak. Dalam majalah Techner, No
29, tahun VI Jakarta



















I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang
diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71%
permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil) tersedia di bumi.
Untuk menentukan kualitas air, pengamatan dilakukan berdasarkan berbagai parameter air
baik fisika, kimia, dan biologinya. Dari segi parameter fisika yaitu suhu, tingkat kecerahan,
tingkat kekeruhan dan tingkat kedalaman,. Parameter kimia yaitu Ph, O
2
terlarut dan CO
2
bebas,
sedangkan untuk parameter biologi yaitu plankton dan bentos.
Pengukuran kualitas air dilakukan pada ekosistem perairan seperti kolam waduk, sungai, laut,
danau, teluk, delta, semenanjung dan perairan lainnya.
Dilakukannya pengukuran kualitas air untuk mengetahui kelayakan dari air tersebut. Dalam
praktikum ini, mengukuran kualitas air dilakukan diwaduk FAPERIKA UR dengan
menggunakan metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan dengan
memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi serta keadaan daerah pengamatan. Analisis yang
dilakukan menggunakan dua cara, yakni analisis secara insitu, yaitu analisis sampel yang
dilakukan langsung dilokasi pengamatan dan analisis secara eksitu, yaitu analisis yang dilakukan
di laboratorium namun sebelumnya sampel telah diambil dilokasi pengamatan.


1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kualitas air di waduk
FAPERIKA UR dan sebagai informasi mengenai kualitas air bagi para pembaca, khususnya
mahasiswa FAPERIKA UR juga untuk memenuhi tugas laporan hasil praktikum Ekologi
Perairan mengenai Pengukuran Kualitas Air.
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah kita dapat mengetahui seberapa layak air
yang ada diwaduk FAPERIKA UR untuk digunakan. Kita juga dapat memahami langkah-
langkah untuk mengukur kualitas air disuatu perairan sehingga juga dapat dilakukan pada area
yang lainnya. Tak hanya itu, penulisan makalah ini juga dapat menambah wawasan atau
pengetahuan kita bagaimana cara pengukuran parameter lingkungan perairan sehingga dapat
meningkatkan pemahaman praktikan tentang cara pengukuran parameter fisika dan parameter
kimia.















II. TINJAUAN PUSTAKA

Didalam manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi
lingkungan sehingga mereka berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan
pertumbuhan ikan. Di dalam usaha perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia
yang mempunyai pengaruh merugikan terhadap kualitas air dan produksi ikan (Widjanarko,
2005).
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah
pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, pH,
konduktivitas, kecerahan, alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah pengukuran kualitas air
dengan parameter biologi (plankton dan benthos) (Sihotang, 2006).
Dalam pengukuran kualitas air secara umum, menggunakan metode purposive sampling,
yaitu pengambilan sampel dilakukan dengaan memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi
serta keadaan daerah pengamatan (Fajri, 2013).
Pola temparatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya
matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggihan geografis dan juga
oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Di samping
itu pola temperatur perairan dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor anthropogen (faktor yang di
akibatkan oleh aktivitas manusia) seperti limbah panas yang berasal dari air pendingin pabrik,
penggundulan DAS yang menyebabkan hilangnya perlindungan, sehingga badan air terkena
cahaya matahari secara langsung (Barus, 2003).
Kecerahan suatu perairan menentukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus
suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlangsung sempurna.
Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggan secchi disk mencapai 20-40 cm dari
permukaan. (Chakroff dalam Syukur, 2002).
























III. METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Ekologi Perairan mengenai Pengukuran Kulitas Air dilaksanakan pada tanggal
19 Maret 2013 pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 14.30 WIB bertempat di Waduk
FAPERIKA UR dan di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Lingkungan Perairan UR,
Kampus Bina Widya KM.12,5 Simpang Baru, Panam, Pekanbaru.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air sampel, tiosulfat, amilum, MnSO
4
,
NaOHKI, H
2
SO
4
, Pnolpthealin (PP) dan Na
2
CO
3.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini seperti tabung enlemeyer, jarum suntik,
pipet tetes, meteran ( penggaris panjang), turbidimeter, secchi disk kertas lakmus, tissue,
thermometer dan wadah penampung (botol air mineral.)



3.3 Metodelogi Praktikum


Adapun metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode survey, yakni
penelitian langsung ke lokasi dengan menggunakan analisis secara in situ dan ek situ,

3.4 Prosedur Praktikum
Sebelum praktikum dimulai, asisten menjelaskan cara menggunakan alat-alat yang akan
digunakan nantinya. Asisten juga menjelasakan cara perhitungan analisis untuk masing-masing
parameter. Kemudian, asisten beserta praktikan pergi menuju waduk sambil membawa alat-alat
yang dibutuhkan untuk segera melakukan penelitian. Semua penelitian langsung di daerah
penelitian, kecuali pengukuran kekeruhan karena alat pengukur kekeruhan berada di
laboratorium.

PARAMETER FISIKA
A. Suhu
Pertama sekali siapakan alat pengukur suhu terlebih dahulu, yakni thermometer.
Kemudian tentukan lokasi air yang akan diukur suhunya. Setelah lokasi pengukuran didapatkan,
ikat bagian pangkal thermometer (bukan ujung air raksa) lalu masukkan thermometer ke air
dengan cara mencelupkan thermometer kedalam perairan kemudian gantung thermometer
tersebut pada permukaan perairan beberapa menit. Setelah thermometer menunjukkan angka
yang konstan, baca angka yang ditunjukkan thermometer lalu catat hasilnya.

B. Kecerahan
Siapkan alat-alat yang akan digunakan, seperti secchi disk dan meteran. Lalu tentukan
lokasi pengukuran kecerahan. Setelah lokasi didapatkan, turunkan secchi disk secara perlahan
hingga batas tidak tampak, yakni warna hitam pada secchi disk tidak lagi terlihat. Kemudian
ukur panjangnya dengan meteran atau penggaris panjang. Setelah itu, secara perlahan tarik
secchi disk keatas hingga warna hitam pada secchi disk tersebut kembali terlihat lalu ukur juga
berapa panjangnya, ini adalah batas tampak. Setelah nilai batas tidak tampak dan batas tampak
telah didapat, maka jumlahkan kedua nilai tersebut lalu dibagi dua. Ini merupakan nilai
kecerahan.
Untuk lebih jelasnya rumus menghitung kecerahan adalah sebagai berikut,
Kecerahan air (cm) = Jarak tidak tampak (cm) + Jarak tampak (cm)
2
C. Kekeruhan
Sediakan alat yang digunakan, yakni botol air mineral. Kemudian isi botol dengan air
sampel secukupnya lalu bawa air tersebut ke laboratorium untuk diukur kekeruhannya. Lalu air
sampel tersebut dipindahkan kedalam gelas piala dan bandingkan dengan standar air yang
menjadi patokan (standar). Masukkan air yang menjadi patokan (standar) kedalam turbidimeter
sehingga jarum turbidimeter menunjukkan angka standarnya. Setelah itu, keluarkan gelas piala
yang berisi air standar tadi lalu masukkan air sampel kedalam gelas piala lainnya dan kocok.
Setelah itu masukkan air sampel tersebut kedalam turbidimeter dan atur sehingga turbidimeter
menunjukkan angka konstan. Catat hasil yang ditunjukkan oleh jarum turbidimeter.

D. Kedalaman
Siapakan alat yang akan digunakan, yakni meteran. Tentukan lokasi perairan yang akan
diukur kedalamannya. Setelah lokasi didapatkan, masukkan meteran (dalam praktik saat ini
menggunakan penggaris panjang) kedalam perairan hingga mengenai dasar perairan. Catat
kedalaman yang diperoleh.

PARAMETER KIMIA
A. Pengukuran pH
Sediakan alat yang akan digunakan, yakni kertas pH dan pH meter. Celupkan kertas pH
kedalam perairan, setelah kertas pH basah angkat keras pH tersebut lalu tunggu beberapa saat.
Lihat perubahan warna yang terjadi pada kertas pH dan bandingkan warna tersebut dengan papan
standar nilai pH lalu catat hasilnya.

B. Oksigen Terlarut ( Disolved Oxygen-DO )
Siapkan bahan dan alat yang akan digunakan, seperti , tiosulfat, amilum, MnSO
4
,
NaOHKI, H
2
SO
4
, tabung erlenmeyer, jarum suntik, botol BOD ( botol Winkler) dan pipet tetes.
Kemudian tentukan lokasi pengambilan air sampel. Setelah itu ambil air sampal menggunakan
botol BOD namun jangan samapai terjadi gelembung udara. Caranya yaitu dengan
menenggelamkan tabung erlenmeyer secara perlahan kedalam perairan, setelah tabung terisi
penuh tutup mulut tabung dengan rapat. Lalu periksa apakah didalam tabung yang berisi air
terdapat gelembung udara atau tidak, jika ada maka ulangi kembali hingga gelembung udara
benar-benar tidak ada didalam tabung. Tapi, jika gelembung udara tidak ada maka dengan
menggunakan jarum suntik ataupun pipet tetes tamabahkan 2 ml larutan MnSO
4
, 2 ml NaOHK.
Tutup botol dengan rapat lalu kocok dengan cara membalik-balikkan botol hingga beberapa kali.
Beberapa saat kemudian akan terjadi gumpalan dan tunggu beberapa saat hingga proses
pengendapan sempurna. Setelah itu, ambil bagian larutan yang masih jernih dengan
menggunakan jarum suntik ataupun pipet tetes sebanyak 100 ml dan pindahkan kedalam tabung
erlenmeyer. Pada larutan yang tadinya terdapat endapan, tambahkan 2 ml H
2
SO
4
lalu kocok
dengan perlahan hingga semua endapan larut, lalu pindahkan larutan tersebut kedalam tabung
erlenmeyer dan titrasi dengan tiosulfat hingga larutan berwarna coklat muda. Pada larutan ini,
tambahkan amilum beberapa tetes hingga larutan berubah menjadi warna biru, kemudian titrasi
kembali dengan larutan tiosulfat hingga warna biru pada larutan tersebut hilang. Lalu catat
hasilnya dengan menggunaka rumus :
OT = a x N x 8 x 1000
V-4
Keterangan :
OT : O
2
terlarut ( mg O
2
/L )
a : volume titran Na-thiosulfat ( ml )
N : Normalitas larutan thiosulfat ( 0,025 N)
V : Volume botol Winkler ( ml )

C. Karbondioksida Bebas
Siapakan bahan dan alat yang akan digunakan seperti PP, NA
2
CO
3
, tabung erlenmeyer,
dan pipet tetes atau jarum suntik. Ambil sampel air yang akan diuji namun usahakan agar air
sampel terhindar kontak dengan udara. Dengan menggunakan pipet tetes masukkan air sampel
kedalam tabung erlenmeyer secara perlahan agar pengaruh aerasi tidak begitu besar. Kemudian
tambahkan PP sebanyak 3-4 tetes. Jika larutan berwarna pink berarti tidak ada CO
2
dan segera
titrasi dengan Na
2
CO
3
0,0454 N sampai warna pink stabil. Lalu catat hasilnya dengan
menggunakan rumus Alaert dan Santika
CO
2
= A x N x 22 x 1000
V
Keterangan :
A : volume titran Na2CO3 yang terpakai ( ml )
N : normalitas larutan ( 0,0454 N )
V : Volume sampel
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Adapun hasil dari praktikum pengukuran kualitas air adalah sebagai berikut,
No Parameter Satuan Hasil Analisis Keterangan
1 Suhu C 32 Insitu
2 Kecerahan cm 70,5 Insitu
3 Kekeruhan NTU 5 Exsitu
4 Kedalaman cm 165 Insitu
5 pH 6 Insitu
6 O
2
terlarut mg/L 8,33 Insitu
7 CO
2
bebas mg/L 9.988 Insitu


4.2 Pembahasan
Pengukuran suhu permukan perairan diwaduk FAPERIKA UR dilakukan dengan
menggunakan thermometer dengan cara mencelupkan thermometer kedalam perairan. Setelah
thermometer menunjukkan angka yang konstan, maka baca hasilnya. Dalam praktikum ini
menghasilkan suhu permukaan air di waduk adalah 32
0
C dan suhu udara sebesar 28
0
C.
Dalam pengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan secchi disk dengan cara
menurunkan secchi disk secara perlahan hingga batas tidak tampak, yakni warna hitam pada
secchi disk tidak lagi terlihat. Kemudian ukur panjangnya dengan meteran atau penggaris
panjang, dalam praktik ini batas tidak tampak yang dihasilkan adalah 88 cm . Setelah itu, secara
perlahan tarik secchi disk keatas hingga warna hitam pada secchi disk tersebut kembali terlihat
lalu ukur juga berapa panjangnya, ini adalah batas tampak. Dalam praktikum ini menghasilkan
batas tampak sebesar 53 cm. Setelah nilai batas tampak dan nilai batas tidak tamapak telah
diperoleh, maka hasil tersebut diamasukkan kedalam rumus untuk menghitung kecerahannya,
yakni sebagi berikut
Kecerahan air (cm) = Jarak tidak tampak (cm) + Jarak tampak (cm)
2
Kecerahan air (cm) = 88 + 53
2
= 70,5 cm
Ini artinya kecerahan di perairan waduk FAPERIKA sesuai dengan baku mutu.
Pada pengukuran kekeruhan menggunakan turbidimeter. Air sampel dia ambil dari
waduk kemudian dibawa ke laboratorium untuk diukur kekeruhannya. Pada praktikum ini
mengahasilkan kekeruhan air sebesar 5 NTU. Ini artinya kekeruhan air di waduk FAPERIKA
masih sesuai dengan baku mutu.
Pada pengukuran kedalam biasanya dilakukan dengan menggunakan meteran yang diberi
pemberat lalu dimasukkan kedalama air, namun praktikum kali ini dilakukan dengan
menggunakan penggaris panjang lalu dimasukkan kedalam perairan hingga mengenai dasar
perairan tersebut. Dalam praktikum ini kedalaman yang diperoleh adalah 165 cm.
Dalam pengukuran pH perairan menggunakan kertas pH dan pH meter dengan cara
mencelupkan kertas pH kedalam perairan lalu amati perubahan yang terjadi pada kertas tersebut
dan sesuaikan dengan menggunakan pH meter. Adapun pH perairan yang diperoleh adalah 6. Ini
artinya pH perairan waduk FAPERIKA adalah normal, tidak asam dan juga tidak basa.
Pada pengukuran O
2
terlarut (DO) menggunakan larutan tiosulfat dan air didalam tabung
enlemeyer dengan cara titrasi. Pada praktikum ini larutan tiosulfat yang digunakan adalah
sebanyak 4 ml dan volume air adalah 100 ml. untuk menghitung DO digunakan rumus sebagai
berikut
OT = a x N x 8 x 1000
V-4
= 4 x 0,025 x 8 x 1000
100-4
= 8,33 mg/L
Ini berarti DO diperairan waduk sesuai dengan baku mutu
Pada pengukuran CO
2
bebas menggunakan larutan Na
2
CO
3
dan air didalam tabung
enlemeyer dengan cara titrasi. Pada praktikum ini larutan Na
2
CO
3
yang digunakan adalah
sebanyak 1 ml dan volume air adalah 100 ml. untuk menghitung CO
2
bebas digunakan rumus
sebagi berikut
CO
2
= A x N x 22 x 1000
V

= 1 x 0,0454 x 22 x 1000
100
= 9,988 mg/L
Ini artinya CO
2
bebas diwaduk FAPERIKA sesuai dengan baku mutu.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Setelah diadakannya praktikum pengukuran kualitas air di waduk FAPERIKA UR,
didapatkan hasil bahwa suhu dipermukaan air waduk adalah 3C, kecerahan 70,5 cm, kekeruhan
5 NTU, kedalaman 165 cm, pH 6, DO 8,33 mg/L dan CO
2
bebas 9,988 mg/L. Maka, dapat
disimpulkan bahwa kualitas air di waduk FAPERIKA UR adalah baik.
5.2 Saran
Demi menjaga kualitas air di waduk FAPERIKA UR, diharapkan kepada semua pihak
agar tidak mencemari air yang ada diwaduk tersebut. Kualitas air diwaduk saat ini adalah baik,
namun apabila tidak dijaga akan berkurang kualitasnya. Maka, marilah bersama-sama kita jaga
agar air di waduk tersebut tetap sesuai dengan baku mutu yang ditentukan dan tidak tercemar.














Daftar Pustaka

Widjanarko., 2005. Tingkat Kesuburan Perairan. Kendari.
Barus, T. A, 2003. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi FMIPA USU. Medan
Syukur, A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk Uwai. Skripsi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 51 hal. (tidak diterbitkan).
Sihotang,C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan UR. Pekanbaru.
Fajri, Nur El dan Agustina. 2013. Penuntun Praktikum dan Lembar Kerja Praktikum Ekologi
Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UR. Pekanbaru.






















I. PENDAHULUAN

1.2 LATAR BELAKANG

Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu,
baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai
maupunstatis (tergenang) seperti danau. Perairan ini dapat merupakan
perairan tawar,payau, maupun asin (laut). Ekologi adalah ilmu mengenai
hubungan organisme dengan lingkungannya, mempelajari hubungan antara
tempat hidup organisme dan interaksi mereka dengan lingkungan secara
alami atau linkungan yang sedang berkembang. Ekologi perairan adalah ilmu
yang mempelajari hubungan organime dengan lingkungan perairan.
Kualitas air adalah mutu air yang memenuhi standar untuk tujuan
tertentu. Syarat yang ditetapkan sebagai standar mutu air berbeda-beda,
tergantung tujuan penggunaan. Kualitas air dapat diketahui nilainya dengan
mengukur parameter fisika dan parameter kimia.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum mengenai pengukuran kualitas air adalah supaya
mengetahui bagaimana kualitas air pada suatu perairan.
1.3. MANFAAT PRAKTIKUM
Manfaat praktikum ini adalah supaya mengetahui kualitas air apakah
berkondisi baik atau buruk terutama pada perairan yang dijadikan objek
praktikum.


II.TINJAUAN PUSTAKA

Air merupakan media hidup bagi iksan dan beberapa organisme kecil
lainnya sebagai makanannya sehingga tanpa air tidak mungkin suatu usaha
perikanan akan berjalan. Namun , dalam usaha perikanan tentunya
diperlukan air yang memiliki kualitas baik dengan kriteria tertentu untuk
dapat mendukung usaha perikanan tersebut. (Purnama dan Hanafi, 2002)
Suatu perairan yang ideal bagi kehidupan ikan adalah perairan yang
sangat mendukung kehidupan ikan dalam menyelesaikan segala proses
hidupnya serta mendukung kehidupan organisme-organisme makanan ikan
yang diperlukan pada setiap lingkungan dan daur hidup ikan tersebut. Untuk
dapat mengelola sumberdaya perikanan dengan baik , faktor yang perlu
diperhatikan adalah kualitas air , baik secara fisika maupun kimia.
Adapun parameter yang diperlukan oleh organism antara lain suhu,
kecerahan, kekeruhan, pH, DO dan CO2.

2.1. Parameter Kualitas Air
Menurut jenisnya, kualitas air dibagi menjadi kualitas fisika, kimia dan
biologi. Parameter fisika yang dibutuhkan oleh organism antara lain suhu,
kecerahan, kekeruhan. Parameter kimia antara lain pH, DO, CO2. Sedangkan
parameter biologi adalah plankton dan benthos.

2.1.1.Suhu
Boyd (2003), didaerah tropis suhu perairan berkisar 25-32C dan masih
layak untuk kehidupan organisme perairan. Suhu perairan dipengaruhi oleh
berbagai faktor antara lain zona iklim, altitude, suhu udara, musim dan
pemasukan aliran sungai.

2.1.2. Kecerahan
Birowo (2000), menyatakan bahwa perairan laut yang nilai
kecerahannya kurang dari satu meter dapat dikatakan rendah.
Suman Widjaya (2000), kecerahan adalah suatu ukuran untuk
menentukan daya penetrasi cahay matahari yang masuk kedalam perairan.
Nilai ini berbanding terbalik dengan kekeruhan. Kecerahan yang produktif
adalah 20-40 cm dari permukaan air. Tingkat kecerahan perairan
mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton.

2.1.3. Derajat keasaman (pH)
Tambunan dalam laporan praktikum umum (2006), pH adalah ukuran
tingkat keasaman dari air atau besarnya konsentrasi ion H dalam air dan
merupakan gambaran keseimbangan antara asam (H
+
) dan basa(H
-
) dalam air.
Nilai sangat dipengaruhi oleh daya produktifitas suatu perairan.
Fardiez (2000), nilai pH yang normal adalah sekitar antara 6-8.
O2terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan hewan dan tanaman
dalam air. Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh yang besar terhadap
biota air sehingga sering digunakan sebagai parameter atau sebagai petunjuk
untuk menyatakan baik buruknya keadaan perairan sebagai lingkungan hidup.

2.1.4. Oksigen terlarut (DO)
Fauzi et al (2003), oksigen terlarut (DO-Dissolved Oxygen) adalah
jumlah oksigen terlarut yang digunakan dalam air. Oksigen terlarut dalam air
dapat berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air
lainya dan difusi dari udara.
Kristanto (2002), DO (Dissolved Oxygen), adalah gas yang tidak berbau,
tidak berasa dan hanya sedikit larut dalam air. untuk mempertahankan
hidupnya,mahkluk hidup yang hidup di dalam air,baik tumbuhan maupun
hewan bergantung pada oksigen yang terlarut ini. Jadi, kadar oksigen terlarut
dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas air.Konsentrasi oksigen
terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 mg/l.

2.1.5. Karbondioksida bebas (CO2)
Kordi (2004), karbondioksida bebas merupakan gas yang juga
dibutuhkan oleh tumbuhan air (phytoplankton), maupun tumbuhan air
tingkat tinggi, untuk melakukan proses fotosintesis. Konsentrasi
karbondioksida yang baik adalah kurang dari 25 ppm dan tidak boleh kurang
dari 10 ppm.
Pamungkas (2002), karbondioksida yang berada dalam bentuk gas yang
terkandung dalam air. kandungan CO2 bebas diudara adlah berkisar 0,03%.
Kandungan CO2 dalam air murni pada tekanan 1 atm dan temperatur
25

C adalah sekitar 0,4 ppm.


Kristanto (2002), karbondioksida dapat juga terbentuk dari hasil
metabolisme. pada proses fotosintesis CO2 lebih banyak digunakan san O2lebih
banyak dihasilkan. Hal ini akan mempengaruhi konsentrasi CO2 dalam air
yang bergantung pada kedalaman air tersebut. Respirasi oleh hewan dan
tumbuhan akan menghasilkan CO2.




III. BAHAN DAN METODE
3.1. WAKTU DAN TEMPAT
Waktu pelaksanaan praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu,
tanggal 20 Maret 2013 pukul 13.20-15.00 WIB yang membahas mengenai
Pengukuran Kualitas Air, bertempatdi Laboratorium Ekologi (Dan
Mananjemen Lingkungan) Perairan Jurusan Sumberdaya Perairan dan
Waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
3.2. BAHAN DAN ALAT
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Air sampel,
Indikator Penolphtaelin, larutan Na2CO3 0,454 N, Kertas pH indikator, larutan
tiosulfat (Na2S2O7) 0,025 N dan larutan standar.
Sedangkan Alat yang digunakan pada praktikum adalah Termometer
Raksa digunakan untuk mengetahui parameter suhu, Secchi Disk dan rol
ukurdigunakan untuk mengetahui parameter kecerahan, Meteran atau rol
ukurdigunakan untuk mengetahui parameter kedalaman, Botol sampel, Gelas
Piala, Turbidimeter, kertas tissue digunakan untuk mengetahui parameter
kekeruhan, DO meter (hanya untuk DO hari ke 5, bukan BOD5 langsung),
Tabung erlenmeyer, Buret, statif, pipet tetes digunakan untuk mengetahui
parameter oksigen terlarut, Botol BOD, Tabung erlenmeyer, Buret, statif, pipet
tetes digunakan untuk mengetahui parameter karbondioksida bebas,
bukulembar kerja digunakan untuk tempat menulis hasil praktikum dan buku
penuntun praktikum digunakan untuk membantu mempermudah praktikum.

3.3. METODE PRAKTIKUM
Praktikum ini menggunakan metode pengamatan secara langsung.
Dimana data dan informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan cara
mengamati secara langsung di Laboratorium dan Waduk, sehingga dapat
memberikan gambaran mengenai kualitas air pada suatu perairan, terutama
air perairan yang dijadikan objek praktikum.
3.4. PROSEDUR PRAKTIKUM
Sebelum praktikum dilaksanakan, semua prakitan terlebih dahulu
mengikuti kuis. Setelah kuis selesai, selanjutnya yaitu mendengarkan
penjelasan materi yang akan di praktikumkan yang disampaikan oleh asiten
praktikum. Setelah penjelasan materi telah selesai disampaikan, semua
prakitan memulai praktikum dan menuliskan hasil praktikum tersebut pada
buku lembar kerja. Setelah praktikum selesai, peralatan dan tempat
praktikum dibersihkan serta dirapikan seperti semula ketika hendak memulai
praktikum. Dan yang terakhir yaitu membuat laporan praktikum tentang apa
yang telah di praktikumkan serta dikumpulkan pada praktikum berikutnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
Setiap objek perairan yang dijadikan tempat praktium, harus mengetahui
keadaan objek perairan tersebut. Ada pun objek perairan yang dijadikan
tempat praktikum adalah daerah inlet (lokasi masuknya air) di Waduk
Faperika Universitas Riau.
Berikut ini merupakan hasil praktikum dari perairan yang telah
dijadikan objek, kemudian dapat ditulis parameter, satuan, hasil analisis dan
keterangannya sebagai berikut :
NO Parameter Satuan Hasil Analisis Keterangan
1. Suhu
Celcius (
0
C)
35
Insitu (Tidak
Normal)
2. Kedalaman
Meter (m)
0,9
Insitu
3. Kekeruhan
Nephelomatic
Turbidity Unit
(NTU)
20
Exsitu (Normal)
4. Kecerahan
Centimeter
(cm)
57.5
Insitu (Tidak
Normal)
5. Karbondioksida
bebas
mg/L
52
Insitu (Tidak Bagus)
6. Oksigen terlarut
mg/L
10,2
Insitu (Buruk)
7. Derajat keasaman
(pH)
-
6
Asam
Tabel Parameter, Satuan, Hasil Analisis dan Keterangan
Keterangan :
Insitu : Analisis yang dilakukan di lokasi pengamatan.
Exsitu : Sampel yang di ambil di lokasi pengamatan akan di analisis di
Laboratorium Ekologi Perairan atau labor lain.
4.2. PEMBAHASAN
Untuk menegetahui apakah suatu perairan tersebut mempunyai kualitas
air yang baik dan bagus, maka kita harus mengukur parameternya. Berikut
merupakan pembahasan mengenai pengukuran kualitas air pada suatu
perairan terutama perairan yang di jadkan objek praktikum.
4.2.1. SUHU
Pengukuran suhu dilakukan dengan cara mencelupkan thermometer
kedalam perairan. Thermometer diikat pada bagian pangkal (bukan ujung air
raksa), kemudian thermometer digantung pada permukaan perairan beberapa
menit dan suhu dibaca setelah thermometer menunjukkan angka konstan.
Adapun suhu pada perairan yang dijadikan objek praktikum yaitu suhu
permukaan airnya 35
0
C dan suhu udaranya 33
0
C.
4.2.2. KEDALAMAN
Kedalaman diukur dengan menenggelamkan tali meteran (yang diberi
pemberat) hingga kedasar perairan. Kemudian dicatat berapa kedalaman yang
diperoleh. Kedalaman di ukur dengan menggunakan meteran dengan
pemberat atau rol ukur. Kedalaman pada perairan yang dijadikan objek
praktikum adalah 0,9 m.

4.2.3. KECERAHAN
Kecerahan adalah ukuran tranparasi perairan yang diamati secara
visual. Pengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan Secchi
Disk.Prosedur pengukuruan kecerahan yaitu secchi disk diturunkan kedalam
perairan sampai tidak kelihatan, dicatat berapa jarak dari permukaan
perairan sampai secchi disk tidak terlihat dikurangi jarak mata peneliti
dengan permukaan perairan (ini dinamakan jarak hilang). Kemudian secchi
disk ditarik sampai kelihatan jaraknya (jarak tampak). Kemudian nilai jarak
tampak ditambah nilai jarak hlang dibagi dua. Rata-rata pengukuran kedua
jarak tersebut merupakan nlai kecerahan, dinyatakan dalam satuan
centimeter. Untuk lebih jelasnya rumus menghitung kecerahan :
Kecerahan air (cm) = Jarak hilang (cm) + Jarak tampak (cm)
2
Kecerahan perairan yang dijadikan objek praktikum telah diketahui jarak
hilangnya sebesar 55 cm dan jarak tampaknya 33 cm, maka dapat dinyatakan :
Kecerahan air (cm) = Jarak hilang (cm) + Jarak tampak (cm)
2
Kecerahan air = 65 cm + 50 cm
2
= 57,5 cm
Maka kecerahan air pada perairan yang dijadikan objek praktikum adalah
sebesar 57,5 cm.

4.2.4. KEKERUHAN
Kekeruhan (turbidity) adalah gambaran sifat optik air dari suatu perairan
yang ditntukan berdasarkan banyaknya sinar (cahaya) yang di pancarkan dan
di serap oleh partikel-partikel yang ada dalm air tersebut. Kekeruhan dapat
diukur dengan menggunakan turbidimeter.
Cara menggunakan turbidimeter adalah sampel air yang sudah didapat
dari lapangan dibawa ke laboratorium untuk dukur kadarnya. Di labor,
kemudian air sampel tersebut dipindahkan dari botol sampel lalu di masukkan
kedalam gelas piala yang tersedia , kemudain bandingkan dengan standar air
yang tersedia. Masukkan standar air yang telah dikocok dengan sampel air
kedalam turbidimeter, kemudian di stabilkan sesuai dengan standar sehingga
jarum turbidimeter menunjukkan angka standarnya. Setelah stabil,
keluarakan standar tersebut lalu masukkan sampel air kemudian catat hasil
yang ditunjukkan oleh jarum turbidimeter dan dinyatakan dalam satuan NTU
(Nephelomethric Turbidity Unit).
Ada pun kekeruhan pada perairan yang dijadikan objek praktikum setelah
di ukur dengan menggunakan turbidimeter adalah sebesar 20 NTU.
4.2.5. PENGUKURAN pH
Pengukuran pH perairan dilakukan dengan menggunakan kertas pH.
Pengukuran dilakukan dengan mencelupkan kertas pH tersebut kedalam
sampel air dan dilihat perubahan warna yang terjadi, kemudian bandingkan
dengan papan standar nilai. Ada pun ukuran pH pada perairan yang dijadikan
objek praktikum yaitu sebesar 6 dengan keadaan asam.
4.2.6. OKSIGEN TERLARUT (DO)
Oksigen terlarut (DO : Dissolved Oxygen) adalah jumlah gas oksigen yang
terlarut dalam air. Oksigen ini dapat berasal dari hasil fotosintesa oleh
phytoplankton atau tanaman air lainnya atau difusi dari udara.
Kadar oksigen dalam air dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu dengan
cara titrasi (Modifikasi Winkler) dan dengan penggunaan alat ukur digital
yang disebut DO meter.
Pengukuran DO melalui titrasi berpatokan pada metode standar Winkler
(IPB, 1992), dengan prosedur kerja sebagai berikut :
Air sampel diambil dengan menggunakan botol BOD tanpa terdapat
gelembung udara.
Tambahkan 2 ml larutan mangan sulfat dibawah permukaan, kemudian
tambahkan 2 ml larutan alkali-azida-iodida dengan pipet yang lain. Botol
ditutup kembali untuk mencegah terperangkapnya udara dari luar, kemudian
dikocok dengan membalik-balikan botol beberapa kali.
Biarkan gumpalan mengendap selama + 10 menit, bila proses pengendapan
sudah sempurna, maka bagian larutan yang jernih dikeluarkan dari botol
dengan pipet sebanyak 100 ml dipindahkan ke erlemeyer.
Tambahkan 2 ml asam sulfat pada sisa larutan yang mengendap dalam botol
winkler, dikocok hati-hati hingga semua endapan larut, setelah itu larutan
dipindahkan kedalam erlemeyer, dan titrasi dengan tiosulfat hingga terjadi
coklat muda.
Tambahkan 1-2 ml indikator kanji (amilum) hingga warna biru muncul,
selanjutnya larutan tersebut dititrasi dengan larutan tiosulfat hingga warna
biru tersebut hilang. Rumus perhitungan oksigen terlarut sebagai berikut :
CO2 = a x N x 8 x 1000
V
Dimana :
OT = Oksigen terlarut (mg O2/l)
a = Volume titiran Na-thiosulfat (ml)
N = Noramalitas larutan thiosulfat(0,025 N)
V = Volume botol Winkler (ml)
Ada pun oksigen terlarut pada perairan yang dijadikan objek praktikum dari
hasil analisis O2 dengan menggunakan titirasi, dimana :
Nilai mililiter larutan Na2S2O7 yang terpakai : 2,55 ml (A)
Nilai normalitas larutan tiosulfat : 0,025 N (N)
Nilai volume air yang digunakan dalam Erlemeyer : 50 ml (V)
Maka dapat dinyatakan :
O2 = A x N x 8 x 1000
V

O2 = 2,55 x 0,025 x 22 x 1000
50

O2 = 10,2 mg/l
Berarti pada perairan tersebut terdapat oksigen terlarut sebesar 3,4 mg/l.
Sedangkan cara DO meter adalah dengan menggunakan elektroda cukup
jauh kedalam air sampel hingga sensor suhu juga trendam. Kemudian bacalah
hasil penentuan sebagai mg/l atau % kejenuhan.
4.2.7. KARBONDIOKSIDA BEBAS (CO2)
Karbondioksida bebas yang dianalisa adalah karbondioksida yamg berada
dalam bentuk gas yang terkandung dalam air. Kandungan CO2 bebas di udara
adalah sekitar 0,03%. Kandungan CO2 dalam air murni pada tekanan 1 atm
dan temperatur 25
0
C adalah sekitar 0,4 ppm. Karbondioksida yang terdapat di
dalam air merupakan hasil proses difusi CO2 juga dihasilkan oleh proses
dekomposisi.
Prosedur pengukuran karbondioksida dapat dilakukan sebagai berikut :
Pengambilan air contoh harus di usahakan sedemikian rupa sehingga
terhindar dari kontak antara air sampel dengan udara.
Pipet 25 ml air sampel dan masukkan kedalam erlemeyer dengan hati-hati,
sedapat mungkin kurangi pengaruh aerasi.
Tambahkan 3-4 tetes indikator pnolpthealin, jika berwarna pink berarti tidak
ada CO2, jika tidak berwarna berarti ada CO2.
Titrasi segera dengan Na2CO3 0,0454 N sampai warna pink stabil. Untuk
perhitungan digunakan rumus Alaert dan Santika (1984) sebagai berikut :

CO2 = A x N x 22 x 1000
V
Dimana :
A = Volume titiran Na2CO3 yang terpakai (ml)
N = Noramalitas larutan (0,0454 N)
V = Volume sampel
Ada pun karbondioksida bebas pada perairan yang dijadikan objek
praktikum dari hasil analisis CO2 dengan menggunakan titrasi, dimana :
Nilai mililiter larutan Na2CO3 yang terpakai : 2,6 ml (A)
Nilai normalitas larutan Na2CO3 : 0,0454 N (N)
Nilai volume air yang digunakan dalam Erlemeyer : 50 ml (V)
Maka dapat dinyatakan :
CO2 = A x N x 8 x 1000
V

CO2 = 2,6 x 0,0454 x 22 x 1000
50

CO2 = 5,2 mg/l
V)












V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
Dari pengamatan hasil kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan, maka
disini dapat disimpulkan bahwa perairan yang dijadikan objek praktikum
mempunyai oksigen terlarut yang buruk dan karbondioksida yang tidak bagus.
Untuk itu, apabila hendak mengetahui kualitas air pada suatu perairan
apakah berkondisi bagus atau tidak, dapat dilakukan dengan melakukan
pengukuran parameter secara fisika yang membahas mengenai suhu,
kedalaman, kecerahan dan kekeruhan air dan pengukuran parameter secara
kimia yang membahas mengenai oksigen terlarut (DO Dissolved Oxygen),
karbondioksida bebas (CO2) dan derajat keasaman (pH).
- Suhu tinggi dikarenakan praktikum dilakukan pada jam 13.00 dengan cuaca
yang cerah dan panas dan pengambilan sampel dilakukan pada waktu yang
sama
- Kedalaman lokasi rendah dan lokasi merupakan waduk yang dangkal.
- Kecerahan sangat baik dikarenakan nilai transparasi diatas baku mutu.
- Kekeruhan tinggi dikarenakan pengukuran dilakukan pada tempat masuknya
air (Inlet), dan dilokasi ditemukan banyak sampah organik dan lumpur.
- Nilai DO (Dissolved Oxygen) / Oksigen Terlarut sangat baik karena nilainya
diatas dari baku mutu ( 4 ).
- Nilai CO2 (Karbondioksida Bebas) sangat tinggi di perairan karena lokasi
pengambilan sampel berada di tempat masuknya air (inlet).
- Nilai Derajat Keasaman Air (pH air) sesuai baku mutu.

5.2. SARAN
Agar kegiatan praktikum berjalan dengan lancar dan baik, adakala
waktunya jangan terlalu begitu cepat, supaya kegiatan praktikum tersebut bisa
di mengerti dengan sepenuhnya atau berjalan sesuai yang di inginkan. Dalam
hal ini juga diharapkan kepada asisten lebih sabar dan tekun dalam
menghadapi para mahasiswa yang lemah pola pemikirannya karena setiap
orang memiliki pola pikir yang berbeda, dan itu semua butuh proses. Selain itu
diharapkan agar sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan praktikum
tersebut lebih di tingkatkan lagi atau cukup memadai sehingga memudahkan
objek yang akan kita teliti dalam kegiatan praktikum tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Penuntun Praktimum EKOLOGI PERAIRAN 2012. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Universitas Riau.

Alaerts , G. dan S.S. Santika, 2003. Metode Pengukuran Kualitas Air. Usaha Nasional.
Surabaya.

Standar Nasional Indonesia. 2000. Pengujian Kualitas Sumber Air dan Limbah Cair.
Direktorat Pengembangan Laboratorium Rujukan dan Pengolahan Data.
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Jakarta

Institut Pertanian Bogor, 2002. Limnologi Metoda Analisis Kualitas Air. Edisi I.
Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. 120 hal.

Kasry, A., N,E, Fajri, E.Sumiarsih, dan Yuliati. 2012. Ekologi Perairan. Laboratorium
Ekologi (dan Manajemen Lingkungan) Perairan. Faperika Universitas Riau,
Pekanbaru 104 hal.

Djuhanda,t,2003.Dunia Ikan. Armico,Bandung.190 hal.

Riswandi.2002. Studi Jenis Dan Kelimpahan Ikan Hias Laut di Perairan Desa
Mantang Baru Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Kepulauan Riau
Propinsi Riau.Skripsi.65(tidak diterbitkan)




LAMPIRAN

PERALATAN YANG DIGUNKAN DALAM PRAKTIKUM
Secchi Disk Jarum Suntik

Kertas Ph Meteran

Kalkulator Termometer



Turbidimeter Gelas Ukur, Tabung reaksi

Penuntun Praktikum





Buku Lembar Kerja