Anda di halaman 1dari 18

1

Herpes Zoster Oftalmikus











NAMA : WINDY
NIM : 112012091
Pembimbing : dr.Saptoyo, Sp.M




FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
11 agustus- 13 september 2014

2

Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjantkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena berkat anugerahNya
saya dapat menyelesaikan makalah kami dengan tepat waktu. referat saya kali ini berjudul
Herpes Zoster Oftalmikus.
Pada kesempatan ini, saya juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya pada dr. Saptoyo, Sp.M yang telah yang membimbing saya dalam proses
pembuatan referat ini. Serta telah memberi saya kesempatan untuk membuat referat ini
sehingga saya dapat menambah wawasan dan pengetahuan saya khususnya dalam ilmu
penyakit mata ini.
Di dalam kamus Indonesia telah dikatakan bahwa tak ada gading yang tak retak. Saya sadar
saya dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati saya sangat
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca guna pembuatan makalah saya yang berikutnya.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih. Semoga referat ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi anda.




Ciawi , 17 Agustus 2014


Windy



3

Daftar isi
Daftar Isi..i

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang..........1
1.2 Tujuan .........1
II. PEMBAHASAN
2.1 Diagnosis.....2
2.2 Patofisiologi........4
2.3 Diagnosis Banding........................10
2.6 Pengobatan.......................12
2.9 Prognosis15

III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan......16
DAFTAR PUSTAKA..........17









4

Pendahuluan

Herpes zoster oftalmikus adalah infeksi virus herpes zoster yang menyerang bagian
ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang oftalmikus saraf trigeminus (N.V)
yang ditandai dengan erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Insidensi herpers zoster terjadi pada 20 % populasi dunia dan 10 % diantaranya
adalah herpes zoster oftalmikus.
2
Penyakit ini cukup berbahaya karena dapat menimbulkan
penurunan visus. Virus Varicella zoster dapat laten pada sel syaraf tubuh dan pada frekuensi
yang kecil di sel non-neuronal satelit dari akar dorsal, berhubung dengan saraf tengkorak dan
saraf autonomic ganglion, tanpa menyebabkan gejala apapun. Infeksi herpes zoster biasanya
terjadi pada pasien usia tua dimana specific cell mediated immunity pada umumnya menurun
seiring dengan bertambahnya usia atau pasien yang mengalami penurunan system imun
seluler. Morbiditas kebanyakan terjadi pada individu dengan imunosupresi (HIV/AIDS),
pasien yang mendapat terapi dengan imunosupresif dan pada usia tua.
Herpes

zoster oftalmik merupakan bentuk manifestasi lanjut setelah serangan
varicella.virus ini dapat menyerang saraf cranial V. Pada nervus trigeminus, bila yang
terserang antara pons dan ganglion gasseri, maka akan terjadi gangguan pada ketiga cabang
nervus V (cabang oftalmik, maksilar, mandibular) akan tetapi yang biasa terkena adalah
ganglion gasseri dan yang terganggu adalah cabang oftalmik.
Bila cabang oftalmik yang terkena, maka terjadi pembengkakan kulit di daerah dahi,
alis, dan kelopak mata disertai kemerahan yang dapat disertai vesikel, dapat mengalami
supurasi, yang bila pecah akan menimbulkan sikatriks.
4
Bila cabang nasosiliar yang terkena,
kemungkinan komplikasi pada mata sekitar 76 %. Jika saraf ini tidak terkena maka resiko
komplikasi pada mata hanya sekitar 3,4%.
Virus herpes zoster bisa dorman atau menetap (laten) pada ganglion N.V dan
reaktivasinya didahului oleh gejala prodormal seperti demam, malaise, sakit kepala dan nyeri
pada daerah saraf yang terkena tapi sebelumnya terbentuk lesi kulit. Kulit kelopak mata dan
sekitarnya berwarna merah dan bengkak diikuti terbentuknya vesikel, kemudian menjadi
pustule lalu pecah menjadi krusta. Jika krusta lepas akan meninggalkan jaringan sikatrik.
5

Manifestasi herpes zoster oftalmikus antara lain sakit mata, mata merah, penurunan
visus dan mata berair. Penegakan diagnosis sebagian besar dilihat dari manifestasi nyeri dan
gambaran ruam dermatom serta adanya riwayat menderita cacar air. Penatalaksanaan infeksi
akut herpes zoster oftalmikus yaitu antivirus, kortikosteroid sistemik, antidepresan, dan
analgesic yang adekuat. Jika terjadi komplikasi mata seperti keratitis, iritis dan iridosiklitis
dapat diberikan steroid topical dan siklopegik. Pengobatan akan optimal bila dimulai dalam
72 jam dari onset ruam kulit.





















6

BAB II
Anatomi

Anatomi Nervus Trigeminus
Fungsi nervus Trigeminus dapat dinilai melalui pemeriksaan rasa suhu, nyeri dan raba
pada daerah inervasi N. V (daerah muka dan bagian ventral calvaria), pemeriksaan refleks
kornea, dan pemeriksaan fungsi otot-otot pengunyah. Fungsi otot pengunyah dapat diperiksa,
misalnya dengan menyuruh penderita menutup kedua rahangnya dengan rapat, sehingga gigi-
gigi pada rahang bawah menekan pada gigi-gigi rahang atas, sementara m. Masseter dan m.
Temporalis dapat dipalpasi dengan mudah.
Pada kerusakan unilateral neuron motor atas, mm. Masticatores tidak mngelami
gangguan fungsi, oleh karena nucleus motorius N. V menerima fibrae corticonucleares dari
kedua belah cortex cerebri. Sebagai tambahan terhadap fungsi cutaneus, cabang maxillaris
dan mandibularis penting pada kedokteran gigi. Nervus maxillaris memberikan inervasi
sensorik ke gigi maxillaris, palatum, dan gingiva. Cabang mandibularis memberikan
persarafan sensorik ke gigi mandibularis, lidah, dan gingiva. Variasi nervus yang
memberikan persarafan ke gigi diteruskan ke alveolaris, ke soket di mana gigi tersebut
berasal nervus alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang maxillaris nervus
trigeminus. Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang mandibularis
nervus trigeminus.
Nervus trigeminus merupakan nervus cranial terbesar, sensorik pada leher dan kepala
serta merupakan nervus motorik pada otot-otot pengunyahan. Nervus trigeminus muncul dari
pons, dekat dengan batas sebelah atas dengan radiks motorik kecil yang terletak di depan dan
radiks sensorik besar yang terletak di medial.
7



Nervus trigeminus dinamai saraf tiga serangkai sebab terdiri atas tiga cabang (rami) utama
yang menyatu pada ganglion Gasseri. Ketiga cabang tersebut adalah:
1. Nervus oftalmikus, yang mensarafi dahi, mata, hidung, selaput otak, sinus paranasalis dan
sebagian dari selaput lendir hidung. Saraf ini memasuki rongga tengkorak melalui fissura
orbitalis superior. Nervus opthalmicus merupakan divisi pertama dari trigeminus dan
merupakan saraf sensorik. Cabang-cabang n. opthalmicus menginervasi kornea, badan ciliaris
dan iris, glandula lacrimalis, conjunctiva, bagian membran mukosa cavum nasal, kulit
palpebra, alis, dahi dan hidung.

Nervus opthalmicus adalah nervus terkecil dari ketiga divisi trigeminus. Nervus opthalmicus
muncul dari bagian atas ganglion semilunar sebagai berkas yang pendek dan rata kira-kira
sepanjang 2.5 cm yang melewati dinding lateral sinus cavernous, di bawah nervus
occulomotor (N III) dan nervus trochlear (N IV). Ketika memasuki cavum orbita melewati
fissura orbitalis superior, nervus opthalmicus bercabang menjadi tiga cabang: lacrimalis,
frontalis dan nasociliaris.

2. Nervus maksilaris, yang mensarafi rahang atas serta gigi-gigi rahang atas, bibir atas, pipi,
palatum durum, sinus maxillaries dan selaput lendir hidung.Saraf ini memasuki rongga
tengkorak melalui foramen rotundum.
8

Nervus maxillaris merupakan divisi dua dan merupakan nervus sensorik. Ukuran dan
posisinya berada di tengah-tengah nervus opthalmicus dan mandibularis. N. maxillaris
bermula dari pertengahan ganglion semilunar sebagai berkas berbentuk pleksus dan datar dan
berjalan horizontal ke depan keluar dari cranium menuju foramen rotundum yang kemudian
bentuknya menjadi lebih silindris dan teksturnya menjadi lebih keras. N. maxillaris lalu
melewati fossa pterygopalatina, menuruni dinding lateral maxilla dan memasuki cavum
orbital lewat fissure orbitalisinferior. Lalu melintasi fissure dan canalis infraorbitalis dan
muncul di foramen infraorbital. Akhiran sarafnya terletak di bawah musculus quadratus labii
superioris dan terbagi menjadi serabut yang lebih kecil yang mengincervasi hidung, palpebra
bagian bawah dan bibir superior bersatu dengan serabut nervus facial.




Cabang-cabang cabang-cabang n. maxillaris terbagi menjadi empat bagian yang
dipercabangkan di cranium, fossa pterygopalatina, canalis infraorbitalis dan pada wajah.
6


3. Nervus mandibularis, yang mensarafi rahang bawah, bibir bawah, mukosa pipi, lidah,
sebagian dari meatus accusticus externus, meatus accusticus internus dan selaput otak. Saraf
ini memasuki rongga tengkorak melalui foramen ovale.
Ketiga nervi (rami) ini bertemu di ganglion semilunare Gasseri. Dalam ganglion semilunar
Gasseri terdapat sel-sel ganglion unipolar.
9

Nervus mandibularis disebut juga nervus maxillaris inferior, mengincervasi gigi dan gingiva
rahang bawah, kulit pada regio temporal, auricular, bibir bagian bawah, bagian bawah wajah,
musculus mastikasi, dan membran mukosa lidah 2/3 anterior. Nervus mandibularis adalah
nervus terbesar dari ketiga divisi dan terdiri atas dua radiks: mayor, radiks sensorik keluar
dari sudut inferior ganglion semilunar dan radiks motorik minor (bagian motorik dari
trigeminus) yang melewati di bawah ganglion dan bersatu dengan radiks sensorik, langsung
setelah keluar dari foramen ovale. Selanjutnya, di bawah basis cranium, nervus tersebut
mengeluarkan dari sisi medial cabang recurrent (nervus spinosus) dan nervus yang
mempersarafi pterygoideus internus dan kemudian terbagi menjadi dua cabang : anterior dan
posterior.











10

BAB III
Herpes Zoster Oftalmikus

Definisi

Herpes zoster merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh Human Herpes Virus 3
(Varisela Zoster Virus), virus yang sama menyebabkan varisela (chicken pox). Virus ini
termasuk dalam famili Herpes viridae, seperti Herpes Simplex, Epstein Barr Virus, dan
Cytomegalovirus.


Herpes Zoster Oftalmikus (HZO) merupakan hasil reaktivasi dari Varisela Zoster Virus
(VZV) pada Nervus Trigeminal (N.V). Semua cabang dari nervus tersebut bisa terpengaruh,
dan cabang frontal divisi pertama N.V merupakan yang paling umum terlibat. Cabang ini
menginervasi hampir semua struktur okular dan periokular.

Blefarokonjungtivitis pada HZO ditandai dengan hiperemis dan konjungtivitis infiltratif
disertai dengan erupsi vesikuler yang khas sepanjang penyebaran dermatom N.V cabang
oftalmikus. Konjungtivitis biasanya papiler, tetapi pernah ditemukan folikel,
pseudomembran, dan vesikel temporer, yang kemudian berulserasi. Lesi palpebra mirip lesi
kulit di tempat lain, bisa timbul di tepi palpebra ataupun palpebra secara keseluruhan, dan
sering menimbulkan parut.

Lesi kornea pada HZO sering disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya, sesuai dengan
status kekebalan pasien. Keratouveitis pada anak umumnya tergolong jinak, pada orang
dewasa tergolong penyakit berat, dan kadang-kadang berakibat kebutaan.



Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster yang laten di dalam
ganglion posterior atau ganglion intrakranial. Virus dibawa melalui sternus sensory ke tepi
11

ganglia spinal atau ganglia trigeminal kemudian menjadi laten. Varicella zoster, yaitu suatu
virus rantai ganda DNA anggota famili virus herpes yang tergolong virus neuropatik atau
neuroder-matotropik. Reaktivasi virus varicella zoster dipicu oleh berbagai macam
rangsangan seperti pembedahan, penyinaran, penderita lanjut usia, dan keadaan tubuh yang
lemah meliputi malnutrisi, seorang yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka
panjang, atau menderita penyakit sistemik. Apabila terdapat rangsangan tersebut, virus
varicella zoster aktif kembali dan terjadi ganglionitis. Virus tersebut bergerak melewati saraf
sensorik menuju ujung-ujung saraf pada kulit atau mukosa mulut dan mengadakan replikasi
setempat dengan membentuk sekumpulan vesikel.
Morfologi
Menurut Morfology Herpes Zoster, dapat berbiak dalam bahan jaringan embrional
manusia. Virus yang infektif mudah dipindahkan oleh sel-sel yang sakit. Virus ini tidak
berbiak dalam binatang laboratorium. Pada cairan dalam vesikel penderita, virus ini juga
dapat ditemukan. Antibodi yang dibentuk tubuh terhadap virus ini dapat diukur dengan tes
ikatan komplemen, presipitasi gel, netralisasi atau imunofluoresensi tidak langsung terhadap
antigen selaput yang disebabkan oleh virus.


Epidemiologi
Penyebarannya sama seperti varisela. Penyakit ini, seperti yang diterangkan dalam definisi,
merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah penderita mendapat varisela. Kadang-kadang
varisela ini berlangsung subklinis. Tetapi ada pendapat yang menyatakan kemungkinan
transmisi virus secara aerogen dari pasien yang sedang menderita varisela atau herpes zoster.
Lebih dari 90% dari dewasa di Amerika Serikat mempunyai bukti serologik mengenai infeksi
VZV dan merupakan resiko untuk HZ. Laporan tahunan insidens HZ bervariasi daripada 1.5
3.4 kasus per 1000 orang.

Faktor resiko untuk perkembangan HZ ini ialah kekebalan imun
sistem yang rendah berasosiasi juga dengan proses penuaan yang normal. Bagaimanapun,
insidens ini terjadi pada individu berusia di atas 75 tahun rata ratanya iaitu 10 kasus per
1000 orang.

12

HZO khas mempengaruhi 10-20 % populasi. HZO biasanya berpengaruh pada usia tua
dengan meningkatnya pertambahan usia. Dari data insiden terjadinya HZO pada populasi
Caucasian adalah 131 : 100.000. Populasi American-Afrika mempunyai insiden 50 % dari
Caucasian. Alasan untuk perbedaan ini tidak sepenuhnya dipahami. Kebanyakan kasus HZO
disebabkan reaktivasi dari virus laten.


Lebih dari 90 % dewasa di Amerika terbukti mempunyai serologi yang terinfeksi VZV. Dari
hasil tahunan, insiden dari herpes zoster bervariasi, dari 1,5 3, 4 kasus per 1000 orang.
Faktor resiko dari perkembangan oleh herpes zoster adalah menyusutnya sel mediated dari
sistem imun yang berhubungan dengan perkembangan usia. Insiden HZO pada usia 75 tahun
ke atas melebihi 10 kasus per 1.000 orang per tahun, dan risiko seumur hidup diperkirakan
10-20 %.


Faktor risiko lain untuk herpes zoster diperoleh dari hambatan respon sel mediated imun,
seperti pada pasien dengan obat imunosupresif dan HIV, dan yang lebih spesifik dengan
AIDS. Pada kenyataannya, risiko relatif dari herper zoster sedikitnya 15x lebih besar dengan
HIV dibandingkan tanpa HIV. HZO terdapat 10-25 % dari semua kasus herpes zoster. Resiko
komplikasi oftalmik pada pasien herpes zoster tidak terlihat berhubungan dengan umur, jenis
kelamin, atau keganasan dari ruam kulit.


Insidensi
Insidensi herpers zoster terjadi pada 20 % populasi dunia dan 10 % diantaranya
adalah herpes zoster oftalmikus.







13

Patofisiologi
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kraniali.
Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah persarafan dang
ganglion tersebut. Kadang-kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior, bagian
motorik kranialis sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motorik.

Manifestasi klinik
Biasanya penderita herpes zoster oftalmik pernah mengalami penyakit varisela
beberapa waktu sebelumnya. Dapat terjadi demam atau malaise dan rasa nyeri yang biasanya
berkurang setelah timbulnya erupsi kulit, tetapi rasa nyeri ini kadang-kadang dapt berlangung
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Lesi Herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun membran mukosa. Herpes
zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-4 hari, yaitu rasa gatal, sakit
yang menusuk, parastesi dan gejala-gejala terbakar serta sensitivitas muncul di sepanjang
lintasan syaraf yang terkena.


1. Kulit
Herpes zoster dikarakteristik oleh sakit dan sensasi lokal kulit lain (seperti terbakar, geli, dan
gatal), sakit kepala, tidak enak badan dan (paling sering) demam, biasanya muncul ruam
zoster (23 hari). Ruam menyebar ke seluruh kulit yang terkena, berkembang menjadi
papula, vesikel (3-5 hari) dan tahap krusta (7-10 hari), memerlukan 2-4 minggu untuk
sembuh. Lesi baru berlanjut muncul untuk beberapa hari. Kelainan kulit hanya setempat dan
hanya mengenai sebelah bagian tubuh saja, yaitu terbatas hanya pada daerah kulit yang
dipersyarafi oleh satu syaraf sensorik. Syaraf yang paling sering terkena adalah C3, T5, L1,
dan L2, dan syaraf trigeminal.
1,4,12,17
2. Rongga Mulut
Sebelum lesi di rongga mulut muncul, pasien akan mengeluhkan rasa nyeri yang hebat,
kadang-kadang rasa sakitnya seperti rasa sakit pulpitis sehingga sering salah diagnosa. Lesi
diawali oleh vesikel unilateral yang kemudian dengan cepat pecah membentuk erosi atau
ulserasi dengan bentuk yang tidak teratur.
4
Pada mukosa rongga mulut, vesikel hanya
terdapat pada satu dari divisi nervus trigeminus. Vesikel unilateral tersebut dikelompokkan
dengan area sekitar eritema, akhiran yang kasar pada midline. Vesikel bernanah dan bentuk
14

pustula selama 3 sampai 4 hari.

Apabila cabang kedua dan ketiga nervus trigeminal terlibat,
maka akan muncul lesi-lesi di rongga mulut secara unilateral. Jika cabang kedua (nervus
maksilaris) terlibat maka lokasi yang dikenai adalah palatum, bibir dan mukosa bibir atas.
Jika cabang ketiga (nervus mandibula) terlibat, lokasi yang dikenai adalah lidah, mukosa pipi,
bibir dan mukosa bibir bawah. Lesi-lesi intraoral adalah vesikuler dan ulseratif dengan tepi
meradang dan merah sekali. Perdarahan adalah biasa. Bibir, lidah, dan mukosa pipi dapat
terkena lesi ulseratif unilateral jika mengenai cabang mandibuler dari saraf trigeminus.
Keterlibatan divisi kedua dari saraf trigeminus secara khas akan mengakibatkan ulserasi
palatum unilateral yang meluas ke atas, tetapi tidak keluar dari raphe palatum.



Secara subyektif biasanya penderita datang dengan rasa nyeri serta edema kulit yang tampak
kemerahan pada daerah dahi, alis dan kelopak atas serta sudah disertai dengan vesikel. Secara
obyektif tampak erupsi kulit pada daerah yang dipersarafi cabang oftalmik
nervus trigeminus. Erupsi ini unilateral dan tidak melewati garis median. Rima palpebra
tampak menyempit bila kelopak atas mata mengalami pembengkakan. Bila cabang nasosiliar
nervus trigeminus yang terkena , maka erupsi kulit terjadi pada daerah hidung dan rima
palpebra biasanya tertutup rapat. Bila kornea atau jaringan yang lebih dalam terkena maka
timbul lakrimasi, mata silau dan sakit dan penderita tampak kesakitan yang parah. Kelainan
mata berupa bercak-bercak atau bintik-bintik putih kecil yang tersebar di epitel kornea yang
dengan cepat sekali melibatkan stroma. Bila infeksi mengenai jaringan mata yang lebih
dalam dapt menimbulkan iridosiklitis disertai sinekia iris serta menimbulkan glaucoma
sekunder. Komplikasi lain adalah paresis otot penggerak mata serta neurirtis optic.
2,4,5


15

Diagnosis banding
Diagnosis banding herpes zoster oftalmikus antara lain bells palsy, luka bakar,
episkliritis, erosi kornea persisten pada herpes simpleks.

Penegakan diagnosis
Penegakan diagnosis sebagian besar dilihat dari adanya riwayat menderita cacar air,
manifestasi nyeri dan gambaran ruam kulit seperti vesikel dengan karakteristik distribusi
sesuai dermatom. Jika gambaran lesi kulit tidak begitu jelas maka dibutuhkan pemeriksaan
penunjang laboratorium. Tekhnik polymerase chain reaction (PCR) adalah tekhnik
pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik karena dapat mendeteksi varicella-zoster
virus DNA yang terdapat dalam cairan vesikel. Kultur virus juga dapat dilakukan namun
sensitifitasnya rendah. Pemeriksaan lain yaitu direct immunofluorescence assay.

Penatalaksanaan
Strategi pengobatan pada infeksi akut herpes zoster oftalmikus yaitu antivirus,
kortikosteroid sistemik, antidepresan, dan analgesic yang adekuat. Jika tidak diobati dengan
adekuat dapat terjadi kerusakan permanen pada mata termasuk inflamasi yang kronik, nyeri
yang mengganggu (neuralgia pasca herpes) dan hilangnya tajam pengelihatan.
1. Obat antivirus diindikasikan dalam pengobatan herpes zoster yang akut. Yang
termasuk antivirus adalah famsiklovir, acyclovir. Obat ini signifikan untuk
menurunkan nyeri akut, menghentikan progresi virus dan pembentukan vesikel,
mengurangi insiden episkleritis rekuren, keratitis, iritis dan mengurangi neuralgia
pasca herpetic jika dimulai dalam 72 jam onset ruam. Yang sering digunakan adalah
asiklovir 5x800 mg perhari selama 7 hari diikuti 2-3 minggu kemudian. Jika kondisi
pasien berat dianjurkan dirawat dan diberikan terapi asiklovir 5-10 mg/kgBB IV 8 jam
selama 8-10 hari.
2. Lesi kulit dapat diobati dengan kompres hangat dan salep antibiotic. Terapi local
untuk lesi pada mata seperti keratitis, iridosiklitis, dan skleritis dapat digunakan
16

steroid topical dan siklopegik. Untuk mencegah infeksi sekunder dapat digunakan
antibiotic tetes atau salep.
3. Pemberian kortikosteroid diberikan sebagai pencegahan komplikasi-komplikasi di
mata. Pada semua jenis herpes zoster diberikan kortikosteroid sistemik untuk
mengurangi neuralgia, juga neuralgia post herpetikum. Obat yang sering digunakan
adalah prednisone dengan dosis 20-60 mg per hari dalam dosis tebagi 2-4 selama 2-3
minggu dan dilakukan tapering off bila gejala berkurang terutama pada pasien dengan
umur lebih dari 60 tahun.
4. Analgesik seperti asetaminopen, asam menefenamat, aspirin dan NSAID untuk
mengontrol rasa nyeri. Artifial tears untuk lubrikasi kornea dan konjungtiva terutama
pada neurotrodik keratopati dan defek epithelial persisten. Pada pasien dengan
sikatrik kornea yang luas mungkin diperlukan tindakan keratoplasti.


Komplikasi
1. Myelitis. Merupakan komplikasi di luar mata yang pernah dilaporkan oleh Gordon dan
Tucker, demikian juga encephalitis dan hemiplegi walaupun jarang ditemukan tetapi pernah
dilaporkan. Hal ini diperkirakan karena penjalaran virus ke otak.
2. Konjungtiva. Pada mata komplikasi yang dapat timbul adalah kemosis yang ada hubungannya
dengan pembengkakan palpebra. Pada saat ini biasanya disertai dengan penurunan
sensibilitas kornea dan kadang-kadang oedema kornea yang ringan. Dapat juga timbul
vesikel-vesikel di conjunctiva tetapi jarang terjadi ulserasi. Pernah dilaporkan adanya
kanaliculitis yang ada hubungannya dengan zoster.
3. Kornea. Bila comea terkena maka akan timbul infiltrat yang berbentuk tidak khas dengan
batas yang tidak tegas , tetapi kadang-kadang infiltratnya dapat menyerupai herpes simplex.
Proses yang terjadi pada dasamya berupa keratitis profunda yang bersifat khronis dan dapat
bertahan beberapa minggu setelah kelainan kulit sembuh. Akibat kekeruhan comea yang
terjadi maka visus akan menurun.
4. Iris. Adanya laesi diujung hidung sangat penting untuk diperhatikan karena kemungkinan
besar iris akan ikut terkena mengingat n. nasociliaris merupakan cabang dari n.ophthalmicus
17

yang juga menginervasi daerah iris, corpus ciliaze dan cornea. Iritis/iridocyclitis dapat
merupakan penjalaran dari keratitis ataupun berdiri sendiri. Iritis biasanya ringan,jarang
menimbulkan eksudat, pada yang berat kadang-kadang disertai dengan hypopion atau
secundair glaucoma. Akibat dari iritis ini sering timbul sequele berupa iris atropi yang
biasanya sektoral. Pada beberapa kasus dapat disertai massive iris atropi dengan kerusakan
sphincter pupillae.
5. Sklera. Skleritis merupakan komplikasi yang jarang ditemukan, biasanya merupakan
lanjutan dari iridocyclitis. Pada sclera akan terlihat nodulus dengan injeksi lokal yang dapat
timbul beberapa bulan sesudah sembuhnya laesi di kulit. Nodulusnya bersifat khronis, dapat
bertahan beberapa bulan, bila sembuh akan meninggalkan sikatrik dengan hyperpigmentasi.
Skleritis ini dapat kambuh lagi.
6. Ocular palsy. Dapat timbul bila mengenai N III, N IV, N V1, N III dan N IV dapat
sekaligus terkena. Pernah pula dilaporkan timbulnya ophthalmoplegi totalis dua bulan setelah
menderita herpes zoster ophthalmicus. Paralyse dari otot-otot extra-oculer ini mungkin
karena perluasan peradangan dari N Trigeminus di daerah sinus cavemosus. Timbulnya
paralyse biasanya dua sampai tiga minggu setelah gejala permulaan dari zoster dirasakan,
walaupun ada juga yang timbul sebelumnya. Prognosa otot-otot yang pazalyse pada
umumnya baik dan akan kembali normal kira-kira dua bulan kemudian.
7. Retina. Kelainan retina yang ada hubungannya dengan zoster jarang ditemukan. Kelainan
tersebut berupa choroiditis dan perdazahan retina, yang umumnya disebabkan adanya retinal
vasculitis.
8. Neuritis optik. Neuritis optik juga jarang ditemukan; tetapi bila ada dapat menyebabkan
kebutaan karena timbulnya atropi n. opticus. Gejalanya berupa skotoma sentral yang dalam
beberapa minggu akan terjadi penurunan visus sampai menjadi buta.

Prognosis
Prognosis pada umumnya baik bila ditatalaksana secara cepat dan adekuat juga bergantung
pada tindakan perawatan secara dini.
18

Daftar Pustaka

1. Siregar RS.Penyakit Virus. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC, 2005;84-7.
2. Herpes zoster from http://www.emedicine.com/oph[disc257.htm,2006
3. Herpes zoster from www.optometry.co.uk
4. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2000
5. Khurana AK. Comprehensive Ophtalmology. Fourth edition, India; 2007:103-106
6. Trigeminal Nerve fromhttp://www.gudangmateri.com/2010/03/trigeminal-nerve.html
7. Roxas M,ND.Herpes zoster and Post Herpetic Nauralgia: Diagnosis and Therapeutic
Consideration
8. Herpes Zoster Information from http://www.emedicinehealth.com/articles
9. Saad Shakh MD, Christopher NTAMD, Evaluation and Management of Herpes Zoster
Ophthalmicus from http://www.aafp.org/afp/contents.html
10. Herpes Zoster Ophthalmicus in handbook of Ocular Disease Management
fromhttp://www.revotom.com/handbook/hbhome.html
11. Hodge, W. G., 2000, Penyakit Virus, dalam Vaughan, D. G., Asbury, T. dan Riodan, P.,
Oftalmologi Umum, Widya Medika, Jakarta : 336.