Anda di halaman 1dari 6

1 | J u r n a l a n a l i t i k I I p e r c o b a a a n 2

PENENTUAN ION KLORIDA DALAM SAMPEL MAGNESIUM


KLORIDA (MgCl2) DENGAN METODE ARGENTOMETRI
(METODE MOHR)
Ira Nurpialawati (1112016200029)
Indah Desi Permana Sari, Muhammad Ikhwan Fillah, Siti Masitoh
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2014
ABSTRACT
Kebanyakan klorida larut dalam air, sehingga banyak sekali kemungkinan
limbah hasil produksi yang berupa cairan mengandung klorida, dan jika limbah ini
mengalir dan bercampur pada air sungai, danau, laut, dan meresap dalam tanah
dalam jumlah yang berlebihan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, karena
klorida mempunyai sifat yang beracun pada lingkungan. Oleh sebab itu perlu
adanya analisis klorida dengan menggunakan berbagai macam metode untuk
menentukan besarnya kadar klorida yang terkandung dalam suatu sampel. Pada
percobaan ini ditentukan kadar klorida yang terkandung dalam air yang
mengandung magnesium klorida dengan menggunakan metode argentometri.
Argentometri adalah metode dengan cara titrasi yang menggunakan AgCl 0.072 M
dan indikator yang digunakan adalah asam kromat, alasan digunakan metode ini
adalah caranya yang mudah dan memiliki ketelitian yang tinggi. Dari hasil
percobaan yang dilakukan didapatkan hasil molaritas klorida sebesar 0.0216 M.

2 | J u r n a l a n a l i t i k I I p e r c o b a a a n 2

INTRODUCTION
Sesuai dengan namanya,
penentuan kadar ini menggunakan
perak nitrat (AgNO3). Garam ini
merupakan satu-satunya garam perak
yang terlarutkan air sehingga reaksi
perak nitrat dengan garam lain akan
menghasilkan endapan. Garam-
garam, seperti natrium klorida, dan
kalium sianida dapat ditentukan
kadarnya dengan cara berikut ini
AgNO3 + NaCl AgCl (endapan) +
NaNO3
AgNO3 + KCN AgCN (endapan) +
KNO3
Sampel garam dilarutkan dalam
air dan dititrasi dengan larutan perak
nitrat standar sampai keseluruhan
garam perak mengendap. Jenis titrasi
ini dapat menunjukkan titik akhirnya
sendiri (self-indicating), tetapi
biasanya suatu indikator dipilih yang
menghasilkan endapan berwarna pada
titik akhir. Pada penetapan kadar
NaCl, kalium kromat ditambahkan ke
dalam larutan, setelah semua NaCl
bereaksi, tetesan pertama AgNO3
berlebih menghasilkan endapan perak
kromat berwarna merah yang
mengubah warna larutan menjadi
coklat merah (Donald: 2003).
Persis seperti sistem asam basa
bisa dipergunakan sebagai indikator
untuk sebuah titrasi asan basa,
pembentukan suatu endapan lain
dapat dipergunakan untuk
mengindikasikan selesainya sebuah
titrasi pengendapan. Contoh yang
paling terkenal dari kasus ini adalah
yang disebut titrasi Mohr klorida
dengan ion perak, di mana ion kromat
dipergunakan sebagi indikator.
Kemunculan awal endapan perak
kromat berwarna kemerah-merahan
diambil sebagai titik akhir dari titrasi
(Underwood: 1998).
Tentu saja penting bahwa
pengendapan indikator terjadi pada
titik ekivalen atau didekat titik
ekivalen dari titrasi tersebut. Perak
kromat lebih mudah larut dari pada
perak klorida. Jika ion-ion perak
ditambahkan dalam suatu larutan
yang mengandung ion klorida dengan
konsentrasi besar dan ion kromat
dengan konsentrasi kecil, perak
klorida akan mengendap terlebih

3 | J u r n a l a n a l i t i k I I p e r c o b a a a n 2

dahulu, perak kromat tidak terbentuk
sebelum konsentrasi ion perak
meningkat sampai nilai yang cukup
besar untuk melebihi Ksp dari perak
kromat. Titrasi Mohr terbatas pada
larutan-larutan dengan nilai pH
sekitar 6 sampai 10. Dalam larutan-
larutan yang lebih alkalin, perak
oksida mengendap. Dalam larutan-
larutan asam, konsentrasi kromat
secara besar-besaran menurun
(Underwood: 1998).
Metode Mohr dapat pula
diaplikasikan dalam titrasi dengan ion
bromida dengan perak, dan juga ion
sianida dalam larutan-larutan yang
sedikit alkalin. Efek-efek adsorbsi
membuat titrasi dari ion-ion iodida
dan tiosianat tidak memungkinkan.
Perak tidak dapat dititrasi secara
langsung dengan klorida
menggunakan indikator kromat.
Perak kromat mengendap, terlihat
secara sekilas, terurai kembali secara
lambat saat dekat dengan titik
ekivalen. Bagaimanapun juga orang
dapat menambahkan larutan klorida
standar lebih dan kemudian
melakukan titrasi mundur dengan
menggunakn indikator kromat
(Underwood: 1998).

MATERIAL AND METHODS
Alat dan bahan
Pada percobaan ini alat dan
bahan yang digunakan adalah statif,
buret, corong, erlenmeyer, gelas ukur
ukuran 10 mL, gelas beaker, pipet
tetes, larutan MgCl2, asam kromat
(K2CrO4), AgNO3 1.5M
Metode
Metode argentometri di
dasarkan pada titrasi pengendapan
dalam larutan perak yang dilepaskan
dari buret pada sampel air yang
tercampur dengan ion klorida dan
indikator. Pada percobaan ini mula-
mula mengisi buret dengan larutan
AgCl yang sebelumnya buret telah
dibersihkan dan dicek dengan
menggunakan air untuk memastikan
buret yang digunakan terdapat
kebocoran atau tidak. Mengambil 10
mL larutan MgCl2 dengan gelas ukur
dalam erlenmeyer dan menambahkan
10 tetes indikator asam kromat
(K2CrO4), melakukan titrasi pada

4 | J u r n a l a n a l i t i k I I p e r c o b a a a n 2

larutan MgCl2 dengan AgCl sampai
terjadi perubahan warna ungu muda
atau warna abu-abu yang mendekati
ungu dan menyimpan hasil
praktikum.
RESULTS AND DISCUSSION
Titrasi argentometri didasarkan
pada reaksi AgNO3 + Cl
-
AgCl(s) +
NO3
-
. kalium kromat dapat digunakan
sebagai suatu indikator, menghasikan
warna merah dengan kelebihan ion
Ag
+
, titrasi yang lebih banyak dapat
digunakan adalah metode titrasi balik.
Titrasi argenometri digunakan pada
penetapan kadar dalam farmakope
untuk tablet natrium dan kalium
klorida, tiamin hidroksida, musti
klorida dan karbromal (David: 2005).
Percobaan ini dilakukan untuk
menentukan kadar klorida dari
senyawa MgCl2 dan asam kromat
sebagai katalis. Pada titrasi
argentometri, zat yang sudah
dicampur dengan indikator dititrasi
dengan perak klorida dan dengan
mengukur volume larutan standar
yang digunakan sehingga seluruh ion
Ag
+
dapat tepat diendapkan, kadar
garam dalam larutan MgCl2 dapat
ditentukan. Yang digunakan sebagai
indikator adalah K2CrO4 karena
suasana sistem cenderung netral.
Kalium kromat hanya bisa digunakan
dalam suasana netral. Jika kalium
kromat pada reaksi dengan suasana
asam, maka ion kromat menjadi ion
bikromat dengan reaksi :
2CrO4
2-
+ 2H
+
Cr2O7
2-
+ H2O.
Sedangkan dalam suasana basa, ion
Ag
+
akan bereaksi dengan OH
-
dari
basa dan membentuk endapan
Ag(OH). Molaritas garam yang
dihasilkan dalam percobaan ini adalah
sebagi berikut:
Mencari Molaritas MgCl2
Diketahui :
Molaritas AgCl = 0.072 M
Volume AgCl = 3 mL
Volume MgCl2 = 10 mL
M1 x V1 = M2 x V2
0.072 M x 3 mL = M2 x 10 mL
0.216 MmL = 10 M2mL

5 | J u r n a l a n a l i t i k I I p e r c o b a a a n 2

M=
.6

= 0,0216 M
Molaritas MgCl2 = 0,0216 M
Berdasarkan data yang telah
diperoleh dari percobaan dapat
diketahui molaritas MgCl2 sebesar
0.0216 M. Molaritas dari MgCl2 ini
dapat ditentukan dari volume AgCl
yang diketahui pada saat titrasi yaitu
3mL. Titrasi dilakukan hingga
mencapai titik ekivalen, titik ekivalen
adalah titik dimana larutan standar
tepat habis berreaksi dengan sampel.
Titik ekivalen pada titrasi kali ini
yaitu ditandai dengan adanya
perubahan warna pada sampel dari
bening tak berwarna menjadi warna
keunguan atau warna yang mendekati
ungu, serta munculnya endapan yang
permanen.
Reaksi yang terjadi adalah
Cl
-
+ Ag
+
AgCl
endapan perak klorida yang seperti
dadih dan putih. Ia tidak larut dalam
air dan dalam asam nitrat encer, tetapi
larut dalam larutan amonia encer dan
dalam larutan-larutan kalium sianida
dan tiosulfat, jika endapan ini disaring
dan dicuci dengan air suling dan lalu
dikocok dengan larutan natriun
atsenit, endapan diubah menjadi perak
arsenit yang kuning. Reaksi ini boleh
dipakai untuk sebagai uji pemastian
terhadap klorida (Vogel II: 1985).
CONCLUSION
Metode argentometri di
dasarkan pada titrasi pengendapan
dalam larutan perak yang dilepaskan
dari buret pada sampel air yang
tercampur dengan ion klorida dan
indikator. Titrasi dilakukan hingga
mencapai titik ekivalen, titik ekivalen
adalah titik dimana larutan standar
tepat habis berreaksi dengan sampel.
Dipilih indikator K2CrO4 karena
suasana sistem cenderung netral. Dari
0.072 M AgCl 3 mL yang digunakan
untuk menitrasi 10 mL MgCl2 di
dapatkan konsentrasi MgCl2 sebesar
0.0216 M.




6 | J u r n a l a n a l i t i k I I p e r c o b a a a n 2

REFERENCE
Cairns, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Svehla, G. 1985. Vogel II: Buku Teks AnalisisAnorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro
Edisi Ke Lima. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka
Underwood, A.L., 1980. Analisa Kimia kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Watson, David G. 2007. Analisi Farmasi Untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi
Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.