Anda di halaman 1dari 4

PENETAPAN KADAR THIAMIN PADA TABLET VITAMIN B1

DENGAN HPLC (High Performance Liquid Chromatography)



Muhammad Audrian
Riyadi Aditianto
Wida Maya Mustika
Ziyad Hanif Prasetyo

Kelompok: 6 Kelas: XIII-10

ABSTRAK
Tiamin dalam tablet vitamin B1 dapat dianalisis dengan menggunakan alat HPLC (High
Performance Liquid Chromatography). Deret standar tiamin yang digunakan berkonsentrasi
0-50 ppm. Sampel vitamin B1 dilarutkan dan diencerkan dengan larutan buffer fosfat pH 4,5.
Pemisahan tiamin dilakukan dengan menginjeksikan analit ke dalam instrumen HPLC.
Dengan fase gerak menggunakan campuran buffer fosfat dan metanol (55:45), dengan laju
alir 1,0 mL/menit. Detektor yang digunakan adalah detektor UV-VIS dengan panjang
gelombang 254 nm. Kadar thiamin dalam tablet vitamin B1 adalah 20,77 mg/tablet.
Kata kunci: vitamin B1, tiamin, HPLC
ABSTRACT
Thiamine vitamin B1 in tablet can be analyzed by using HPLC (High Perfomance Liquid
Chromatography). Standard thiamine sequence solutions used concentration of 0-50 ppm.
Vitamin B1 and sample diluted phosphate buffer solutions pH 4,5. Separation of thiamine is
done by injecting into HPLC instrument analytes. With phase motion using a mixture of
phosphate buffer and methanol (55:45), with a flow rate is 1,0 ml per minute. The detector
used is the the UV-VIS detector with a wavelength of 254 nm. The percentage of thiamin
vitamin B1 in tablet is 20,77 mg/tablet.
Keyword: vitamin B1, thiamine, HPLC

PENDAHULUAN
HPLC (High Performance Liquid
Chromatography) atau biasa juga disebut
dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
pertama kali diperkenalkan oleh TSWETT
pada tahun 1903 dan dikembangkan pada
akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-
an. Pada saat ini, HPLC merupakan teknik
pemisahan yang digunakan secara luas
untuk analisis bahan obat, baik dalam bulk
atau dalam sediaan farmasetik.
Kromatografi merupakan suatu
teknik pemisahan campuran bedasakan
atas perbedaan distribusi dari komponen-
komponen campuran tersebut diantara dua
fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan
fase gerak (cair atau gas). Bila fase diam
berupa zat padat yang aktif, maka disebut
dengan kromatografi penyerapan
(adsorption chromatography), sedangkan
fase diam berupa zat cair, maka teknik ini
disebut kromatografi pembagian (partition
chromatography).
Vitamin B1 (thiamyne) adalah
salah satu dari macam vitamin yang
mempunyai tingkat kestabilan yang kurang.
Berbagai operasi pengolahan makanan
dapat sangat mereduksi kandungan
vitamin B1 dalam bahan pangan. Panas,
oksigen, belerang dioksida, dan pH netral
atau basa dapat mengakibatkan perusakan
vitamin B1 ini sedangkan cahaya tidak
mengurangi vitamin ini (de Man, 1997).
Thiamin berbentuk padat,
berwarna putih, dan larut dalam air.
Thiamin ditemukan dalam semua biji-bijian
serealis. Kebanyakan thiamin terdapat
pada lembaga dan bekatul biji-bijian.
Thiamin berperan dalam oksidasi nutrien
dan pelepasan energi dalam tubuh. Di
dalam sel-sel tubuh glukosa berangsur-
angsur dipecah dalam suatu reaksi yang
melepaskan energi dalam keadaan
terkontrol. Tiap reaksi membutuhkan suatu
enzim yang khusus. Senyawa kompleks
yang mengandung thiamin bertindak
sebagai koenzim untuk dua reaksi yang
berurutan (Gaman & Sherrington, 1994).
Thiamin merupakan vitamin larut air
yang stabil pada kondisi asam dan tidak
stabil dalam kondisi netral atau basa. pH
optimumnya adalah pada 2-3. Pada kondisi
alkali, pemecahan thiamin terjadi sangat
cepat dan menghasilkan produk yang
reaktif. Thiamin juga stabil dengan cahaya,
namun tidak stabil oleh oksigen atau
udara. Thiamin mudah tereduksi akibat
panas, agen pereduksi dan ion logam
(Davidek et al., 1990).
TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip dasar HPLC adalah
pemisahan senyawa kimia dari campuran
berdasarkan sifat fisika yang berbeda.
Sampel diberikan tekanan tinggi dan
dibawa fase gerak melewati fase diamnya
berupa pori yang sangat kecil. Karena
ukuran molekul yang berbeda, maka pori
yang dilewati pun akan spesifik. Dengan
demikian, komponen di dalam sampel akan
terpisah.
Instrumentasi HPLC pada dasarnya
terdiri atas: wadah fase gerak, pompa, alat
untuk memasukkan sampel (tempat
injeksi), kolom, detektor, wadah
penampung buangan fase gerak, dan
suatu komputer atau integrator atau
perekam.Pada HPLC, pengaturan tekanan
merupakan hal yang terpenting.
1. Wadah Fase gerak dan Fase gerak
Wadah fase gerak harus bersih dan
lembap (inert). Wadah pelarut kosong
laboratorium dapat digunakan sebagai
wadah fase gerak. Fase gerak atau eluen
terdiri atas campuran pelarut yang dapat
bercampur yang secara keseluruhan
berperan dalam daya elusi dan resolusi.
Fase gerak yang paling sering digunakan
untuk pemisahan dengan fase terbalik
adalah campuran larutan buffer dengan
metanol atau campuran air dengan
asetonitril.
Untuk pemisahan dengan fase
normal, fase gerak yang paling sering
digunakan adalah campuran pelarut
hidrokarbon dengan pelarut yang
terklorisasi atau menggunakan pelarut-
pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan
fase normal ini kurang umum dibanding
dengan fase terbalik.
2. Pompa
Pompa yang cocok digunakan untuk
HPLC adalah pompa yang mempunyai
syarat sebagaimana syarat wadah pelarut
yakni: pompa harus inert terhadap fase
gerak. Bahan yang umum dipakai untuk
pompa adalah gelas, baja tahan karat,
Teflon, dan batu nilam.
Pompa yang digunakan sebaiknya
mampu memberikan tekanan sampai 5000
psi dan mampu mengalirkan fase gerak
dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Untuk
tujuan preparatif, pompa yang digunakan
harus mampu mengalirkan fase gerak
dengan kecepatan 20 mL/menit.
Ada 2 jenis pompa dalam HPLC
yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan
pompa dengan aliran fase gerak yang
konstan. Tipe pompa dengan aliran fase
gerak yang konstan sejauh ini lebih umum
dibandingkan dengan tipe pompa dengan
tekanan konstan.
3. Tempat penyuntikan sampel
Sampel-sampel cair dan larutan
disuntikkan secara langsung ke dalam fase
gerak yang mengalir di bawah tekanan
menuju kolom menggunakan alat
penyuntik yang terbuat dari tembaga tahan
karat dan katup teflon yang dilengkapi
dengan keluk sampel (sample loop)
internal atau eksternal.
4. Kolom dan Fase diam
Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu
kolom konvensional dan kolom mikrobor.
Kolom merupakan bagian HPLC yang
mana terdapat fase diam untuk
berlangsungnya proses pemisahan
solut/analit.
Kolom mikrobor mempunyai 3
keuntungan yang utama dibanding dengan
kolom konvensional, yakni:
a. Konsumsi fase gerak kolom mikrobor
lebih kecil dibanding dengan kolom
konvensional karena pada kolom
mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih
lambat (10-100 l/menit).
b. Adanya aliran fase gerak yang lebih
lambat membuat kolom mikrobor lebih
ideal jika digabung dengan
spektrometer massa.
c. Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan
karena pelarut lebih pekat.

5. Detektor HPLC
Detektor pada HPLC dikelompokkan
menjadi 2 golongan yaitu detektor
universal (yang mampu mendeteksi zat
secara umum, tidak bersifat spesifik, dan
tidak bersifat selektif) dan golongan
detektor yang spesifik yang hanya akan
mendeteksi analit secara spesifik dan
selektif..
Idealnya, suatu detektor harus
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Mempunyai respon terhadap solut yang
cepat dan reprodusibel.
b. Mempunyai sensitifitas yang tinggi,
yakni mampu mendeteksi solut pada
kadar yang sangat kecil.
c. Stabil dalam pengopersiannya.
d. Mempunyai sel volume yang kecil
sehingga mampu meminimalkan
pelebaran pita.
e. Signal yang dihasilkan berbanding lurus
dengan konsentrasi solut pada kisaran
yang luas (kisaran dinamis linier).
f. Tidak peka terhadap perubahan suhu
dan kecepatan alir fase gerak
METODE PENELITIAN
Praktikum penetapan kadar thiamina
pada tablet vitamin B1 dengan HPLC
dilakukan di laboratorium Analisis
Instrumen-3 (AI-3) SMK SMAK Bogor pada
tanggal 15 Agustus 2014.
Alat-alat yang digunakan ialah:
1. Tabung vial
2. Buret 50ml
3. Statif
4. Piala gelas 400 ml
5. Piala gelas 800ml
6. Labu ukur 100ml
7. Syringe
8. Pipet tetes
9. Alat HPLC Agilent 1100

Bahan-bahan yang digunakan ialah:
1. Buffer Fosfat 0,04M
2. Aquadest
3. Sampel vitamin B1
4. Standar thiamin 1000ppm
5. Air Suling
6. Kertas Saring
7. Tissue

Sumber sampel merupakan sampel
vitamin B1 pada labu ukur 100 ml.
Pertama, dibuat buffer fosfat pada labu
ukur 1000 ml sebagai pelarut. Lalu masing-
masing standar dan sampel dimasukkan ke
dalam tabung vial. Kemudian, standar dan
sampel diinjeksikan. Syringe sebelumnya
harus dibilas sebanyak 15 kali dengan
larutan yang akan digunakan. Kemudian
alat HPLC akan mendeteksi secara
otomatis puncak thiamin. Tunggu hingga
muncul kromatogram di komputer, lalu print
kromatogram tersebut.

No
Standar
(ppm)
Waktu
(menit)
Area Ket
1 0 0 0,00000
2 5 2,497 73,03531
3 10 2,487 107,25530
4 15 2,478 179,94810
5 20 2,467 319,05090
6 30 2,463 460,26936
7 50 2,449 665,67329
8 Sampel 2,469 279,98853
Tabel 1. Data Pengamatan

Bobot rata-rata tablet : 0,2073 gram
Bobot sampel : 0,2013 gram
Intersep : 0,20058
Slope : 13,8756
Regresi : 0,99077
FP : 10x
PERHITUNGAN



KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum penetapan
kadar thiamin dalam vitamin B1 secara
HPLC dengan alat HPLC Agilent 1100
diperoleh hasil kadar thiamin rata-rata per
tablet 20,77 mg/tablet.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi (KCKT). Bogor: SMK SMAK Bogor
Juwita. Laporan Praktikum HPLC: Analisa
Tablet Vitamin C.