Anda di halaman 1dari 17

OLEH :

Kms. Muhammad Amin


MAHASISWA STIH SERASAN MUARA ENIM

1
BAB I
PENDAHULUAN

A Latar belakang.

Pembangunan Nasional sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan

masyarakat, dalam pelaksanaannya berdampak positif untuk meningkatkan

taraf hidup masyarakat dan mencerdasarkan kehidupan bangsa, tapi disisi lain

tidak dapat dihindari muncul kerawanan sosial sebagai akibat pengaruh

lingkungan strategis, semula kita mengenal adanya Bidan sebagai pembantu

bersalinan atau melahirkan apalagi pada zaman yang semakin maju dan

modern ini sudah banyak sekolah-sekolah khusus Kebinan baik sekolah dari

Pemerintah sendiri maupun sekolah dari pihak swasta, sudah banyak kita

temui Bidan dipedesaan apalagi sekarang pemerintah menggalakkan Bidan

Desa pada desa terpencil.

Bidan yang hanya lulusan sekolah Kebidanan sekarang sudah terjun

kelapangan dan ditempatkan di Desa-desa, tetapi jika ditinjau dari dari

Praktek para Bidan memang sudah dibekali Ilmu namun jika kita tinjau dari

sisi Hukum Bidan-Bidan masih perlu di isi dengan Ilmu dibidang Hukum.

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat

kesehatan, yang besar artinya bagi pembangunan dan pembinaan sumber

daya manusia Indonesia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan

manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat

Indonesia.

2
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus

diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. di dalam Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan :

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang

memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan

ekonomis;

2. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau

masyarakat;

3. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam

bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan

melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu

memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan;

4. Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk

menyelenggarakan upaya kesehatan;

5. Transplantasi adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan

organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang

lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan

organ dan atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik;

6 Implan adalah bahan berupa obat dan atau alat kesehatan yang

ditanamkan ke dalam jaringan tubuh untuk tujuan pemeliharaan

3
kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, pemulihan

kesehatan, dan atau kosmetika;

7. Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan

cara, obat, dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman dan

keterampilan turun temurun, dan diterapkan sesuai dengan norma

yang berlaku dalam masyarakat;

8. Kesehatan matra adalah upaya kesehatan yang dilakukan untuk

meningkatkan kemampuan fisik dan mental guna menyesuaikan diri

terhadap lingkungan yang berubah secara bermakna baik lingkungan

darat, udara, angkasa, maupun air.

9. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan

kosmetik;

10. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan

tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, seediaan sarian (galenik)

atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah

digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

11. Alat kesehatan adalah nstrument, apparatus, mesin, impian, yang tidak

mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,

menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit

sertamemulihkan kesehatan pada manusia dan atau untuk membentuk

struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.

12. Zat Adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat menimbulkan

ketergan –tungan psikis. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan

termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan

4
pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat,

pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta

pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.

14. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang

diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.. Jaminan

pemeliharaan kesehatan masyarakat adalah suatu cara

penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan

asas usaha bersama dan kekeluargaan, yang berkesinambungan dan

dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan

secara praupaya.

Masalah Tanggung jawab Bidan terhadap Pasien ini sudah terpenuhi

unsur-unsur pidana terdapat dalam Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP)

pada pasal 351.

Pasal 14

Kesehatan isteri meliputi kesehatan pada masa prakehamilan,

kehamilan, persalinan, pasca persalinan dan masa di luar kehamilan dan

persalinan.

Pasal 15 (1). Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan

jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan

medis tertentu.

(2). Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam Ayat

(1) hanya dapat dilakukan :

5
a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan

diambilnya tindakan tersebut

b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan

kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan

tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan

tim ahli.

c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau

suami atau keluarganya.

d. pada sarana kesehatan tertentu.

(3). Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu

sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dan Ayat (2)

ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Berkenaan dengan uraian dalam latar belakang tersebut penulis

berminat melakukan bahasan dalam bentuk Makalah yang berjudul :

TANGGUNG JAWAB BIDAN TERHADAP PASIEN DI DESA

SUNGAI ROTAN KABUPATEN MUARA ENIM.

B. Permasalahan.

Yang menjadi permasalahan dalam Makalah ini adalah :

1. Bagaimana tanggung Jawaban Bidan terhadap Pasien ?

2. Bagaimana tanggung Jawaban Hukum Terhadap Bidan Praktek ?

1)
DR. Andi Hamzah, S.H. Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta, Maret 2006

Halaman 137.

6
C. Ruang Lingkup dan Tujuan Makalah

Ruang lingkup Makalah ini terutama dititik beratkan pada pasal 353,

354, 355 KUHP yang dapat dikenakan kepada pelaku Penganiayaan siswa

(pelajar), sehingga kalau dilihat dari segi hokum dapat dikata gorikan sebagai

suatu tindak pidana, sehingga para pelaku dapat dikenakan sanksi

hukumannya.

Tujuan Makalah adalah untuk mencari keselarasan guna

mengantisifasi terjadinya penganiayaan siswa (Pelajar), agar dapat

menentukan sanksi hukumannya menjadi lebih tepat dan efisien sekaligus

juga untuk melengkapi pengetahuan teoritis yang diperoleh selama mengikuti

perkuliahan pada Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Serasan Muara Enim.

Hasil Makalah ini diharapkan bermanfaat sebagai Tambahan

imformasi bagi Ilmu Pengetahuan, khususnya dunia pendidikan.

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANIAYAAN
SISWA (PELAJAR) OLEH GURU

A. Pengertian Siswa (Pelajar)

7
Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa siswa adalah
2)
Murid (pada sekolah lanjutan), misalnya perkumpulan sekolah teknik .

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat menyatakan bahwa :

“ Anak didik pada sekolah lanjutan telah berada pada umur remaja

yang sedang mengalami goncangan jiwa, karena pertumbuhan yang

cepat terjadi pada segala segi dirinya baik pertumbuhan jasmani,

kecerdasan pikiran dan tingkah laku ” 3)

B. Penganiayaan

Menurut Moch. Lukman Fatahillah Rais, Penganiayaan siswa

(pelajar) adalah :

“ Suatu perbuatan yang sangat tercela yang dilakukan oleh seorang

guru kepada siswa. Perbuatan tersebut melanggar hukum dan

diancam dengan hukuman bagi mereka yang melanggar undang-

undang ” 4)
2)
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Penerbit P.N
Balai Pustaka, 1985, halaman. 223. 813
3)
Zakaria Daradjat, Pendidikan Agama dalam Membina Mental, Penerbit
PT. Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan ke IV, Tahun 1982, halaman. 126.
4)
Moch. Lukman Fatahilah Rais, Tindakan Pidana Penganiayaan Siswa,
Penerbit Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cetakan ke I, Tahun 1997, halaman. 30.
C. Pengertian Tindak Pidana Penganiayaan Menurut KUHP.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terdapat

pembagian yaitu Hukum Pidana memberikan penjelasan tentang peraturan

umum, sedangkan Buku kedua mengenai pelanggaran (Oventredigen) pada

dasarnya pembagian tentang kejahatan dan pelanggaran dalam buku kedua

dan ketiga itu hanya didasarkan pada hal-hal yang menunjukan praktiknya

8
saja atau untuk mempermudah pengertian antara tindak kejahatan

danpelangaran didalam hukuman pidana.

Dalam hukum pidana masalah kejahatan sebagai syarat yang paling

utama adalah adanya unsure kesalahan (Schuld), hal ini karena pada

kejahatan terdapat unsure kesengajaan dan kealpaan (Culpa) dan untuk itu

unsure kesalahan haruslah dapat dibuktikan, disini kejahatan merupakan

gejala sosial yang senantiasadihadapi oleh setiap masyarakat usaha kita untuk

menghapuskan kejahatan adalah tidak mungkin, tetapi kejahatan itu hanya

dapat dikurangi intensitasnya.

Untuk lebih jelasnya, maka diuraikan pasal-pasal KUHP yang

membuat ketentuan penganiayaan sebagai berikut :

1. Pasal 351

1.1 Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua


tahun delapan bulan atau pidana denda palin banyak empat ribu lima
ratus rupiah.
1.2 Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
1.3 Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling
lama tujuh tahun.
1.4 Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
1.5 Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Dalam ayat ini terlihat bahwa ayat satu (1) yaitu penganiayaan dapat

dikenakan sanksi hukuman 2 (Dua) tahun 8 (delapan) bulan kerungan penjara

dan ayat 3 (tiga) pelaku dapat dikenakan kurungan penjara selama 7 (tujuh)

tahun, jika dalam perbuatannya untuk mengakibatkan seorang meninggal

dunia.

9
2. Pasal 352

2.1 Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan
yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan atau pencarian diancam sebagai penganiayaan ringan
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan penjara atau denda
paling banyak tiga ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga
bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang
bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.
2.2 Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Kalau dilihat pada pasal ini sanksi pidana dilakukannya tidak

menimbulkannpenyakit atau halangan pekerjaan dan lain-lainnya sehingga

diancam hukumanya yaitu 3 (tiga) bulan penjara atau denda tiga ratus rupiah.

3. Pasal 353

3.1 Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu diancam dengan pidana


penjara paling lama 4 (empat) tahun.
3.2 Jika perbuatan membuat luka-luka berat yang bersalah dikenakan
pidana paling lama 7 (tujuh) tahun.
3.3 Jika perbuatan mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling
lama 9 (sembilan) tahun.
Jika kita lihat dalam pasal ini penerapan sanksi lebih berat lagi jika

suatu perbuatan yang mengakibatkan luka berat dapat dipidana 7 (tujuh)

tahun dan lebih berat lagi jika perbuatan tersebut mengakibatkan kematian

seseorang, dengan ancaman pidana kerungan selama 9 (sembilan) tahun.

4. Pasal 354

10
4.1 Barang siapa melukai berat orang lain diancam karena melakukan
penganiayaan berat denga pidana penjara paling lama 8 (delapan)
tahun.
4.2 Jika perbuatan mengakibatkan matinya yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Jika kita lihat dalam pasal ini, karena melakukan penganiayaan besar

dapat dipidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun. Sedangkan kalu sampai

mengakibatkan matinya yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama

10 (sepuluh) tahun.

5. Pasal 355

5.1 Penganiayaan yang berat yang dilakukan dengan rencana lebih


dahulu, diancam dengan pidana selama 12 (dua belas) tahun.
5.2 Jika perbuatan mengakibatkan kematian yang yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. 5)
Kalau kita lihat dan dikaji lebih dalam lagi, maka suatu perbuatan

yang dierncanakan lebih dahulu sehingga mengakibatkan kematian pada

seseorang, dikenakan ancaman pidana penjara yaitu paling lama 15 (lima

belas) tahun.

5)
Ibid Halaman 138.
Dengan melihat beberapa pasal yang disebutkan diatas, maka sangat

berat bagi seseorang (guru) atau yang melakukan penganiayaan sampai

terkena sanksi hukuman tersebut. Hal ini dapat menyebabkan trauma bagi

mereka dan sangat mempengaruhi jiwa perkembangan dan masa depannya.

Kalau kita perhatikan yang dimaksud pasal-pasal tersebut adalah

masuk dalam kejahatan terhadap Badan dan nyawa orang, yaitu

11
penganiayaan, tetapi didalam pasal tersebut Undang-Undang tidak

merumuskan apa yang dimaksud penganiayaan.

Menurut Yurisprudensi pengadilan yang dimaksud dengan

penganiayaan yaitu :

a. Menyebabkan perasaan tidak enak (penderita)

b. Menyebabkan rasa sakit.

c. Menyebabkan luka.

Sedangkan menurut pasal 351 ayat 4 KUHP yang disamakan

penganiayaan yaitu : sengaja merusak kesehatan orang 6)

Sedangkan menurut Undang-Undang Huku Pidana KUHP

penganiayaan dibagi 5 (lima) bagian yaitu :

a. Penganiayaan ringan (Pasal 352 KUHP)

b. Penganiayaan biasa (Pasal 351 KUHP)

c. Penganiayaan biasa yang direncanakan lebih dahulu (Pasal 353 KUHP)

d. Penganiayaan berat (Pasal 354)

e. Penganiayaan berat yang direncanakan lebih dahulu (Pasal 355 KUHP)

6)
Ibid Halaman 137.
BAB III
TANGGUNG JAWAB BIDAN TERHADAP PASIEN
BERSALIN YANG ANAKNYA MENINGGAL
AKIBAT KELALAIAN BIDAN DESA
DI DESA SUNGAI ROTAN
KABUPATEN MUARA ENIM

A Bagaimana tanggung Jawaban Bidan terhadap Pasien ?

12
Pasal 55
(1). Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
tenaga kesehatan.

(2). Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku
Pasal 55
Ayat (1)
Pemberian hak atas ganti rugi merupakan suatu upaya untuk memberikan perlindungan
bagi setiap orang atas suatu akibat yang timbul, baik fisik maupun non fisik karena
kesalahan ata kelalaian tenaga kesehatan itu mingkin dapat menyebabkan kematian atau
menimbulkan cacat yang permanent Yang dimaksud dengan kerugian fisik adalah hilangnya
atau tidak berfungsinya seluruh atau sebagaian organ tubuh, sedangkan kerugian nonfisik
berkaitan dengan martabat seseorang.

B Bagaimana tanggung Jawaban Hukum Terhadap Bidan Praktek ?

Hukum pidana adalah hukum publik (Publiekrecht), hal ini berarti

bahwa hukum pidana mengatur hubungan individu-individu dalam

masyarakat atau dengan Negara, disini pelaksanaan hukum pidana didasarkan

semata-mata untuk kepentingan umum pada buku kedua KUHP yang

berjudul tentang kejahatan, demikian syarat yang paling utama didalam

kejahatan adalah dengan adanya unsur kesalahan (Schuld), hal ini

dikarenakan bahwa didalam kejahatan terdapat unsur kejahatan terhdap unsur

kesengajaan dan unsur kealpaan oleh karena itu unsur kesalahan haruslah

dapat dibuktikan.

Terhadap kejahatan atau pelangaran yang dilakukan oleh siswa,

hukuman pidana telah mengatur sedemikian rupa, sehingga didalam peraturan

pelaksanaanya dituntut kejelian seorang hakim didalam menentukan

hukumannya ini tidak lepas dari peraturan-peraturan yang ada dimana

berdasarkan batasan umur terhadap seorang yang dihukum sampai batas 16

tahun, sampai sebatas usia tersebut seorang anak telah melakukan suatu

13
kejahatan atau pelanggaran maka dapatlah seprang hakim menentukannya ke

dalam tiga kemungkinan sebagai pendidikannya yaitu :

1. Menyerahkan atau mengembalikan sianak yang telah melakukan


kejahatan tersebut kepada orang tuanya dengan tidak dijatuhi hukuman
apapun, atau kepada orang lain yang dianggap mampu untuk itu.
2. Menyerahkan kepada Negara, atau pada lembega-lembaga sosial yang
ada atau yang telah ditunjuk untuk itu.
3. Menjatuhi hukaman kepadanya.
Namun demikian, sebelum seorang hakim memutuskan hukuman apa

yang sebaiknya dijatuhkan kepada seorang anak atau siswa yang telah

melakukan suatu kejahatan atau pelanggaran, perlu dipertimbangkan pula hal-

hal sebagai berikut :

1. Sifat kejahatan yang dilakukannya.


2. Perkembangan jiwa anak
3. Tempat dimana ia akan menjalani hukuman.

BAB IV
PENUTUP

Berdasarkan uraian-uraian pada bab-bab terdahulu terutama yang

bersangkutan dengan permasalahan, dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan dan saran-

saran sebagai berikut :

A. Kesimpulan.

1. Faktor penyebab penganiayaan siswa (pelajar) oleh guru adalah

14
a. Tidak mematuhi peraturan disekolah dan tidak menjalankan
tugas yang diberikan oleh guru misalnya membuat pekerjaan
rumah (PR)
b. Tidak masuk pada jam pelajaran tanpa ada surat keterangdan
tidak memakai atribut sekolah dan baju seragam olah raga.
c. Berkelahi Sesama siswa
d. Masalah dirumah Terbawa disekolah dalam hal ini adalah
seorang guru.

2. Tanggung jawab pidana terhadap penganiayaan siswa (pelajar)

dilakuan oleh guru SMU Negeri 3 Muara Enim, yang usianya

dibawah 17 tahun pada umumnya dikenakan pasal 45 KUHP :

a. Menyerahkan atau mengembalikan sianak yang telah


melakukan kejahatan tersebut kepada orang tuanya dengan tidak dijatuhi hukuman
apapun, atau kepada orang lain yang dianggap mampu untuk itu.
b. Menyerahkan kepada Negara, atau pada lembega-lembaga
sosial yang ada atau yang telah ditunjuk untuk itu.
c. Menjatuhi hukaman kepadanya.

3. Saran-saran

1. Diperlukan penghayatan dan pedoman lebih mendalam bagi guru dan

siswa tentang agama yang dianut.

2. Peraturan yang jelas diatas harus disosialisasikan kepada mereka yang

terkena dan melaksanakan peraturan tersebut.

3. Pemerintah hendaknya memberikan pengarahan tentang hokum yang

berkaitan dengan dengan kejahatan dan penganiayaan.

15
DAFTAR PUSTAKA

16
DR. Andi Hamzah, S.H. Undang-Undang Hukum Pidana, Jakarta, Maret 2006

Moch. Lukman Fatahilah Rais, Tindakan Pidana Penganiayaan Siswa, Penerbit

Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Tahun 1997

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Penerbit P.N Balai

Pustaka, 1985

Zakaria Daradjat, Pendidikan Agama dalam Membina Mental, Penerbit PT. Bulan

Bintang, Jakarta Tahun 1982

17