Anda di halaman 1dari 3

PERGAULAN DALAM PANDANGAN ISLAM

Pergaulan terutama pergaulan muda_mudi adalah sebuah tema yang akan selalu actual untuk
diperbincangkan. Mungkin karena posisi dan peran mereka yang strategis yang menyebabkan besarnya
perhatian mereka.

Sebenarnya bagi kaum muslimin bukanlah hal yang sulit mencari sebuah formula mengenai pergaulan.
Islam dengan karakteristik ajarannya yang lengkap dan sempurna telah memberikan tuntunan mengenai
hal ini. Satu hal yang harus disadari oleh kita adalah Islam merupakan agama yang sesuia dengan fitrah
kemanusiaan. Batasan-batasan pergailan yang telah Allah dan Rosul terapkan bukanlah dimaksudkan
untuk menghilangkan fitrah kemanusiaan tersebut. Akan tetapi, hal tersebut dimaksudkan agar fitrah itu
dapat diarahkan dan dikendalikan hingga selaras dengan keinginan penciptanya.

Ketertarikan seseorang kepada lawan jenis adalah fitrah insani yang telah Allah berikan kepada setiap
hambaNya. Oleh karena itu, bukanlah sesuatu yang aneh apabila seorang pria menyukai seorang
wanita, atau sebaliknya.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-
wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak
dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga).” [Q.S. Ali Imran:14]

Meskipun demikian, fitrah insani akan bersifat destruktif bila tidak dibingkai dengan norma-norma
Ilahi. Dari beberapa kasus yang muncul di lapangan, kita sadari bahwa dekadensi moral para remaja
kita diakibatkan oleh dilalaikannya norma-norma Ilahi dalam kehidupan mereka. Untuk itu, dengan
ketinggian dan kemuliaan ajarannya, Islam telah membuat aturan atau norma yang berkaitan dengan
masalah pergaulan muda-mudi.

Menjaga Pandangan
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." [Q.S. An-Nur:30]
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-
putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-
putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita
islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai
keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
[Q.S. An-Nur:31]
“Tidaklah seorang muslim sedang melihat keindahan wanita kemudian ia menundukan pandangannya,
kecuali Allah akan menggantinya dengan ibadah yang ia dapatkan kemanisannya” [H.R. Ahmad]
“Semua mata pada hari kiamat akan menangis, kecuali mata yang menundukan atas apa yang
diharamkan oleh Allah, mata yang terjaga di jalan Allah dan mata yang menangis karena takut
kepada Allah” [H.R. Ibnu Abi Dunya]
Menutup Aurat
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang
mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. Al-Ahzab:59]
“Hai asma, sesungguhnya perempuan itu apabila telah sampai umur/dewasa, maka tidak patut
menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini. Rosulullah berkata sambil menunjukkan
muka dan telapak tangan hingga pergelangannya sendiri”[H.R. Abu Dawud dan Aisyah]
Dari Abu Sa’ad r.a bahwasannya Rosulullah saw. Bersabda: “Seorang laki-laki tidak boleh melihat
aurat sesame lelaki, begitu pula seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan. Seorang
laki-laki tidak boleh bersentuhan kulit sesama lelaki dalam satu selimut, begitu pula seorang
perempuan tidak boleh bersentuhan kulit dengan sesame perempuan dalam satu selimut.”[H.R.
Muslim dikutip ImamNawawi dalam terjemah Riyadhush Shalihin]

Bagi wanita diperintahkan untuk tidak berlembut-lembut suara di hadapan laki-laki bukan
mahram
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka
janganlah kamu tunduk] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam
hatinya[1214] dan ucapkanlah perkataan yang baik,” [Q.S. Al-Ahzab:32]

Dilarang bagi wanita bepergian sendiri tanpa mahramnya sejauh perjalanan satu hari
Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Rosulullah saw. Bersabda, “Tidak halal bagi seorang perempuan
yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian yang memakan waktu sehari semalam
kecuali bersama muhrimnya.” [H.R. Bukhari Muslim dikutip Imam Nawawi dalam terjemahan
Riyadhush Shalihin]

Dr. Yusup Qardhawi dalam fatwa-fatwa Kontemporer jilid 2 halaman 542 mengemukakan: “kum
muslimin memeperbolehkan wanita sekarang keluar rumah untuk belajar di sekolah, di kampus, pergi
ke pasar dan bekerja di luar rumah sebagai guru, dokter, bidan dan pekerjaan lainnya asalkan
memenuhi syarat dan mematuhi pedoman-pedoman syariyyah {menutup aurat, menjaga pandangan,
dan lain-lain}

Dilarang “berkhalwat” [ berdua-duaan antara pria dan wanita ditempat sepi ]


Dari Ibnu Abbas r.a bahwasannya Rasulullah saw. Bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang
diantara kalian bersunyi-sunyi dengan perempuan lain, kecuali disertai muhrimnya.” [H.R. Bukhari
Muslim dikutip Imam Nawawi dalam terjemahan Riyadhush Shalihin]

Laki-laki dilarang berhias menyerupai perempuan, juga sebaliknya


Dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: “Rasulullah melaknat kaum laki-laki yang suka menyerupai kaum
wanita, dan melaknat kaum wanita yang suka menyerupai kaum laki-laki.” [H.R. Bukhari Muslim
dikutip Imam Nawawi dalam terjemahan Riyadhush Shalihin]

Islam menganjurkan menikah dalam usia muda bagi yang mampu dan shaum bagi yang tidak
mampu
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang mampu nikah, maka nikahlah.
Sesungguhnya nikah itu bagimu dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan. Maka jika
kamu belum sanggup berpuasalah, sesungguhnya puasa itu sebagai prisai.” [H.R. Muttafaaqun alaihi]
Dari uraian di atas kita akan dapat mengetahui betapa Islam merupakan agama yang selalu menjaga
kesucian diri pemeluknya. Dan termasuk orang-orang yang beruntunglah mereka yang selalu menjaga
kesucian dirinya.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
dan orang-orang yang menunaikan zakat,
dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [Q.S. Al-Mu’miun:1-5]