Anda di halaman 1dari 9

1

Revisi Ebook TPA


Hal 60-72




TesPotensiAkademik.org

2013
TPA
BAPPENAS
OTO
TES
TERLENGKAP
MODUL
Aristo Chandra & Team
Instruktur Pelatihan PSIKOTES dan Penulis 10 Judul Buku Psikotes-TPA-CPNS Best Seller
PASCASARJANA (S2/S3)
Untuk Keperluan Tes:
TPA BEASISWA dan TPA UMUM
F
U
L
L
T
I
P
S
T
R
I
K
CD
SOFTWARE
TRY OUT
TPA Magic Sofrware
+
GRATIS
TOEFL
Score Prediction
60
60
C
Tes Perbandingan
Tes perbandingan merupakan tes kemam-
puan matematika yang berisi tentang per-
bandingan dua atau lebih suatu kuantitas.
Bentuknya dapat berupa perbandingan dua
bilangan atau perbandingan dua ukuran.
Contoh:
Jika x = 30% dari 60 dan y = 3
2
maka
a. x > 2y
b. x < y
c. x = 2y
d. x = y
2
e. x = y
Anda dapat menyelesaikan soal di atas deng-
an cara seperti berikut.
x = 30% dari 60 = = =
30 1800
60 18
100 100
y = 3
2
= 9
Dengan demikian, x = 18 dan 2y = 2(9) = 18.
Kesimpulannya adalah x = 2y. Jadi, jawaban-
nya adalah c. x = 2y.
Perbandingan adalah membandingkan suatu
besaran dari dua nilai dengan cara sederhana.
Perbandingan dapat ditulis:
A : B = C : D atau =
A C
B D
Perbandingan dua nilai:
A : B = p : q
Mencari A jika B diketahui:
=
p
A B
q
Mencari B jika A diketahui:
=
q
B A
p
Mencari nilai perbandingan jika jumlahnya (A
+ B) diketahui.
= +
+
( )
p
A A B
p q
= +
+
( )
q
B A B
p q
Mencari nilai perbandingan jika selisihnya
(A B) diketahui.
=

( )
p
A A B
p q
=

( )
q
B A B
p q
Dalam perbandingan dua nilai, tidak jarang
melibatkan satuan pengukuran. Oleh karena
itu, terdapat beberapa satuan pengukuran
yang dapat dipelajari.
1. Satuan ukuran berat
kg
hg
dag
g
dg
cg
mg
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Mencari nilai perbandingan jika selisihnya
(A B) diketahui.
=

( )
p
A A B
p q
=

( )
q
B A B
p q
Dalam perbandingan dua nilai, tidak jarang
melibatkan satuan pengukuran. Oleh karena
itu, terdapat beberapa satuan pengukuran
yang dapat dipelajari.
1. Satuan ukuran berat
kg
hg
dag
g
dg
cg
mg
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ukuran berat lainnya adalah:
1 kwintal = 100 kg = 100.000 gr
1 ton = 10 kwintal = 1.000 kg
1 pon = 0,5 kg = 500 gr
1 ons = 1 hg = 0,1 kg = 100 gr
1 kg = 10 ons = 2 pon
2. Satuan ukuran panjang
km
hm
dam
m
dm
cm
mm
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dikalikan 10
Turun 1 tingkat dibagi 10
Dalam perbandingan dua nilai, tidak jarang
melibatkan satuan pengukuran. Oleh karena
itu, terdapat beberapa satuan pengukuran
yang dapat dipelajari.
1. Satuan ukuran berat
kg
hg
dag
g
dg
cg
mg
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ukuran berat lainnya adalah:
1 kwintal = 100 kg = 100.000 gr
1 ton = 10 kwintal = 1.000 kg
1 pon = 0,5 kg = 500 gr
1 ons = 1 hg = 0,1 kg = 100 gr
1 kg = 10 ons = 2 pon
2. Satuan ukuran panjang
km
hm
dam
m
dm
cm
mm
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
61
2. Satuan ukuran panjang
km
hm
dam
m
dm
cm
mm
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dikalikan 10
Turun 1 tingkat dibagi 10
3. Satuan ukuran luas
2
km
2
hm
dam
2
m
2
dm
2
cm
2
mm
2
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 100
Turun1
tingkat/tangga dikali 100
Naik 1 tingkat dibagi 100
Turun 1 tingkat dikalikan 100
Selain berbentuk persegi, terdapat pula
satuan luas yang berbentuk are.
ka
ha
daa
a
da
ca
ma
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Naik 1 tingkat dikalikan 10
Turun 1 tingkat dibagi 10
Naik 1 tingkat dikalikan 10
Turun 1 tingkat dibagi 10
Satuan ukuran panjang lainnya:
1 inci = 2,45 cm
1 kaki = 30,5 cm
1 yard = 91,4 cm
1 mikron = 0,000001 m
1 mil (di laut) = 1.851,51 m
1 mil (di darat) = 1.666 m
1 mil
(di negara Inggris) = 1.609,342 m
3. Satuan ukuran luas
2
km
2
hm
dam
2
m
2
dm
2
cm
2
mm
2
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 100
Turun1
tingkat/tangga dikali 100
Naik 1 tingkat dibagi 100
Turun 1 tingkat dikalikan 100
Selain berbentuk persegi, terdapat pula
satuan luas yang berbentuk are.
ka
ha
daa
a
da
ca
ma
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 ka = 10 ha
1 ha = 1 hm
2
1 a = 1 dam
2
1 ca = 1 m
2
3. Satuan ukuran luas
2
km
2
hm
dam
2
m
2
dm
2
cm
2
mm
2
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 100
Turun1
tingkat/tangga dikali 100
Naik 1 tingkat dibagi 100
Turun 1 tingkat dikalikan 100
Selain berbentuk persegi, terdapat pula
satuan luas yang berbentuk are.
ka
ha
daa
a
da
ca
ma
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 ka = 10 ha
1 ha = 1 hm
2
1 a = 1 dam
2
1 ca = 1 m
2
4. Satuan ukuran volume
3
km
3
hm
dam
3
m
3
dm
3
cm
3
mm
3
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 1000
Turun1
tingkat/tangga dikali 1000
Naik 1 tingkat, dibagi 1000
Turun 1 tingkat dikalikan 1000
Ingat!
1 m
3
= 1 m x 1 m x 1 m
1 km
3
= 1.000 hm
3
1 km
3
= 1.000.000 dam
3
1 mm
3
= 0,001 cm
3
1 mm
3
= 0,000001 dm
3
5. Satuan ukuran liter
kl
hl
dal
l
dl
cl
ml
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 kl = 10 hl
1 kl = 1.000 l
1 kl = 1 m
3
1 l = 1 dm
3
= 1.000 cm
3
1 cm
3
= 1 ml = 1 cc
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
4. Satuan ukuran volume
3
km
3
hm
dam
3
m
3
dm
3
cm
3
mm
3
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 1000
Turun1
tingkat/tangga dikali 1000
Naik 1 tingkat, dibagi 1000
Turun 1 tingkat dikalikan 1000
5. Satuan ukuran liter
kl
hl
dal
l
dl
cl
ml
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
1 a = 1 dam
2
1 ca = 1 m
2
4. Satuan ukuran volume
3
km
3
hm
dam
3
m
3
dm
3
cm
3
mm
3
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 1000
Turun1
tingkat/tangga dikali 1000
Naik 1 tingkat, dibagi 1000
Turun 1 tingkat dikalikan 1000
Ingat!
1 m
3
= 1 m x 1 m x 1 m
1 km
3
= 1.000 hm
3
1 km
3
= 1.000.000 dam
3
1 mm
3
= 0,001 cm
3
1 mm
3
= 0,000001 dm
3
5. Satuan ukuran liter
kl
hl
dal
l
dl
cl
ml
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 kl = 10 hl
1 kl = 1.000 l
1 kl = 1 m
3
1 l = 1 dm
3
= 1.000 cm
3
1 cm
3
= 1 ml = 1 cc
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
4. Satuan ukuran volume
3
km
3
hm
dam
3
m
3
dm
3
cm
3
mm
3
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 1000
Turun1
tingkat/tangga dikali 1000
Naik 1 tingkat, dibagi 1000
Turun 1 tingkat dikalikan 1000
1 a = 1 dam
2
1 ca = 1 m
2
4. Satuan ukuran volume
3
km
3
hm
dam
3
m
3
dm
3
cm
3
mm
3
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 1000
Turun1
tingkat/tangga dikali 1000
Naik 1 tingkat, dibagi 1000
Turun 1 tingkat dikalikan 1000
Ingat!
1 m
3
= 1 m x 1 m x 1 m
1 km
3
= 1.000 hm
3
1 km
3
= 1.000.000 dam
3
1 mm
3
= 0,001 cm
3
1 mm
3
= 0,000001 dm
3
5. Satuan ukuran liter
kl
hl
dal
l
dl
cl
ml
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 kl = 10 hl
1 kl = 1.000 l
1 kl = 1 m
3
1 l = 1 dm
3
= 1.000 cm
3
1 cm
3
= 1 ml = 1 cc
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
4. Satuan ukuran volume
3
km
3
hm
dam
3
m
3
dm
3
cm
3
mm
3
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 1000
Turun1
tingkat/tangga dikali 1000
Naik 1 tingkat, dibagi 1000
Turun 1 tingkat dikalikan 1000
Ingat!
1 m
3
= 1 m x 1 m x 1 m
1 km
3
= 1.000 hm
3
1 km
3
= 1.000.000 dam
3
1 mm
3
= 0,001 cm
3
1 mm
3
= 0,000001 dm
3
5. Satuan ukuran liter
kl
hl
dal
l
dl
cl
ml
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 kl = 10 hl
1 kl = 1.000 l
1 kl = 1 m
3
1 l = 1 dm
3
= 1.000 cm
3
1 cm
3
= 1 ml = 1 cc
5. Satuan ukuran liter
kl
hl
dal
l
dl
cl
ml
Naik 1 tingkat/tangga
dibagi 10
Turun1
tingkat/tangga dikali 10
Naik 1 tingkat dibagi 10
Turun 1 tingkat dikalikan 10
Ingat!
1 kl = 1 m
3
1 l = 1 dm
3
= 1.000 cm
3
1 cm
3
= 1 ml = 1 cc
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
menentukan volume air yang mengalir
dalam suatu satuan waktu. Satuan debit
yang sering digunakan adalah liter/de-
tik dan m
3
/detik.
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
menentukan volume air yang mengalir
dalam suatu satuan waktu. Satuan debit
yang sering digunakan adalah liter/de-
tik dan m
3
/detik.
Ingat!
1 liter = 1 dm
3
=
1
1000
m
3
Jadi,
1 liter/detik =
1
1000
m
3
/detik
7. Satuan ukuran waktu
Satuan ukuran waktu antara lain:
1 abad = 10 dasawarsa
= 100 tahun
1 dasawarsa = 10 tahun
1 windu = 8 tahun
1 lustrum = 5 tahun
1 tahun = 12 bulan = 4 minggu
= 365 hari
1 semester = 6 bulan
1 catur wulan = 4 bulan
1 minggu = 7 hari
1 hari = 24 jam
1 jam = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 jam = 60 menit = 3.600
detik
8. Satuan ukuran suhu
Suhu merupakan satuan derajat panas
suatu benda. Ada 4 jenis satuan uku-
ran suhu, yaitu Celcius (C), Reamur (R),
Fahrenheit (F), dan Kelvin (K).
Perbandingan satuan pengukuran suhu
adalah sebagai berikut.
C : R : (F 32) = 5 : 4 : 9
K = C + 273
9. Satuan ukuran jumlah
62
62
7. Satuan ukuran waktu
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
menentukan volume air yang mengalir
dalam suatu satuan waktu. Satuan debit
yang sering digunakan adalah liter/de-
tik dan m
3
/detik.
6. Satuan ukuran debit
Satuan debit biasanya digunakan untuk
menentukan volume air yang mengalir
dalam suatu satuan waktu. Satuan debit
yang sering digunakan adalah liter/de-
tik dan m
3
/detik.
Ingat!
1 liter = 1 dm
3
=
1
1000
m
3
Jadi,
1 liter/detik =
1
1000
m
3
/detik
7. Satuan ukuran waktu
Satuan ukuran waktu antara lain:
1 abad = 10 dasawarsa
= 100 tahun
1 dasawarsa = 10 tahun
1 windu = 8 tahun
1 lustrum = 5 tahun
1 tahun = 12 bulan = 4 minggu
= 365 hari
1 semester = 6 bulan
1 catur wulan = 4 bulan
1 minggu = 7 hari
1 hari = 24 jam
1 jam = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 jam = 60 menit = 3.600
detik
8. Satuan ukuran suhu
Suhu merupakan satuan derajat panas
suatu benda. Ada 4 jenis satuan uku-
ran suhu, yaitu Celcius (C), Reamur (R),
Fahrenheit (F), dan Kelvin (K).
Perbandingan satuan pengukuran suhu
adalah sebagai berikut.
C : R : (F 32) = 5 : 4 : 9
K = C + 273
9. Satuan ukuran jumlah
7. Satuan ukuran waktu
Satuan ukuran waktu antara lain:
1 abad = 10 dasawarsa
= 100 tahun
1 dasawarsa = 10 tahun
1 windu = 8 tahun
1 lustrum = 5 tahun
1 tahun = 12 bulan = 4 minggu
= 365 hari
1 semester = 6 bulan
1 catur wulan = 4 bulan
1 minggu = 7 hari
1 hari = 24 jam
1 jam = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 jam = 60 menit = 3.600
detik
8. Satuan ukuran suhu
Suhu merupakan satuan derajat panas
suatu benda. Ada 4 jenis satuan uku-
ran suhu, yaitu Celcius (C), Reamur (R),
Fahrenheit (F), dan Kelvin (K).
Perbandingan satuan pengukuran suhu
adalah sebagai berikut.
C : R : (F 32) = 5 : 4 : 9
8. Satuan ukuran suhu
Suhu merupakan satuan derajat panas
suatu benda. Ada 4 jenis satuan ukur-
an suhu, yaitu Celcius (C), Reamur (R),
Fahrenheit (F), dan Kelvin (K).
Perbandingan satuan pengukuran suhu
adalah sebagai berikut.
C : R : (F 32) = 5 : 4 : 9
K = C + 273
9. Satuan ukuran jumlah
1 gross = 12 lusin = 144 biji atau batang
1 lusin = 12 biji
1 kodi = 20 lembar
1 rim = 500 lembar
Operasi Hitung Aljabar
Dalam bentuk aljabar terdapat koefsien, kon-
stanta, dan variabel. Bentuk umumnya adalah:
ax + b
a = koefsien
x = variabel dari a
b = konstanta
Contoh:
4x + 2
4 adalah koefsien
x adalah variabel
2 adalah konstanta
Dalam bentuk aljabar terdapat pula suku-suku
bentuk aljabar. Misalnya:
5a + 4b c, suku aljabarnya ada 3 yaitu
5a, 4b, dan c.
2a
2
b, suku aljabarnya ada 2 yaitu 2a
2

dan b.
Berdasarkan jenis variabelnya, suku-suku al-
jabar dibedakan menjadi suku sejenis dan
suku tak sejenis.
Suku sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat sama.
Perbedaannya, hanya pada koefsiennya
saja. Contoh: 2a dan -3a.
Suku tak sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat berbe-
da. Contoh: 2a dan 2a
2
, 2x dan y, dan lain
sebagainya.
Operasi hitung aljabar memenuhi beberapa
sifat, yaitu sebagai berikut.
9. Satuan ukuran jumlah
C : R : (F 32) = 5 : 4 : 9
K = C + 273
9. Satuan ukuran jumlah
1 gross = 12 lusin = 144 biji atau batang
1 lusin = 12 biji
1 kodi = 20 lembar
1 rim = 500 lembar
Operasi Hitung Aljabar
Dalam bentuk aljabar terdapat koefsien, kon-
stanta, dan variabel. Bentuk umumnya adalah:
ax + b
a = koefsien
x = variabel dari a
b = konstanta
Contoh:
4x + 2
4 adalah koefsien
x adalah variabel
2 adalah konstanta
Dalam bentuk aljabar terdapat pula suku-suku
bentuk aljabar. Misalnya:
5a + 4b c, suku aljabarnya ada 3 yaitu
5a, 4b, dan c.
2a
2
b, suku aljabarnya ada 2 yaitu 2a
2

dan b.
Berdasarkan jenis variabelnya, suku-suku al-
jabar dibedakan menjadi suku sejenis dan
suku tak sejenis.
Suku sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat sama.
Perbedaannya, hanya pada koefsiennya
saja. Contoh: 2a dan -3a.
Suku tak sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat berbe-
da. Contoh: 2a dan 2a
2
, 2x dan y, dan lain
sebagainya.
Operasi hitung aljabar memenuhi beberapa
sifat, yaitu sebagai berikut.
9. Satuan ukuran jumlah
1 gross = 12 lusin = 144 biji atau batang
1 lusin = 12 biji
1 kodi = 20 lembar
1 rim = 500 lembar
Operasi Hitung Aljabar
Dalam bentuk aljabar terdapat koefsien, kon-
stanta, dan variabel. Bentuk umumnya adalah:
ax + b
a = koefsien
x = variabel dari a
b = konstanta
Contoh:
4x + 2
4 adalah koefsien
x adalah variabel
2 adalah konstanta
Dalam bentuk aljabar terdapat pula suku-suku
bentuk aljabar. Misalnya:
5a + 4b c, suku aljabarnya ada 3 yaitu
5a, 4b, dan c.
2a
2
b, suku aljabarnya ada 2 yaitu 2a
2

dan b.
Berdasarkan jenis variabelnya, suku-suku al-
jabar dibedakan menjadi suku sejenis dan
suku tak sejenis.
Suku sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat sama.
Perbedaannya, hanya pada koefsiennya
saja. Contoh: 2a dan -3a.
Suku tak sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat berbe-
da. Contoh: 2a dan 2a
2
, 2x dan y, dan lain
sebagainya.
Operasi Hitung Aljabar
Dalam bentuk aljabar terdapat koefsien, kon-
stanta, dan variabel. Bentuk umumnya adalah:
ax + b
a = koefsien
x = variabel dari a
b = konstanta
Contoh:
4x + 2
4 adalah koefsien
x adalah variabel
2 adalah konstanta
Dalam bentuk aljabar terdapat pula suku-suku
bentuk aljabar. Misalnya:
5a + 4b c, suku aljabarnya ada 3 yaitu
5a, 4b, dan c.
2a
2
b, suku aljabarnya ada 2 yaitu 2a
2

dan b.
Berdasarkan jenis variabelnya, suku-suku
aljabar dibedakan menjadi suku sejenis dan
suku tak sejenis.
Suku sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat sama.
Perbedaannya, hanya pada koefsiennya
saja. Contoh: 2a dan -3a.
Suku tak sejenis adalah dua suku aljabar
yang punya variabel dan pangkat
berbeda. Contoh: 2a dan 2a
2
, 2x dan y,
dan lain sebagainya.
Operasi hitung aljabar memenuhi beberapa
sifat, yaitu sebagai berikut.
1. Sifat-sifat aljabar
a. Komutatif
Pada penjumlahan:
a + b = b + a
Pada perkalian:
a x b = b x a
68
68
D
Tes Penalaran Aritmatika
Tes penalaran aritmatika biasanya berbentuk
cerita dengan dasar matematika yaitu konsep
aljabar dan aritmatika. Dalam menyelesaikan
soal-soal tersebut, terlebih dahulu Anda hurus
memahami kemampuan dasar matematika
tersebut. Jika Anda kurang memahami dan
menguasainya, kemungkinan besar Anda
akan banyak mengalami kesulitan.
Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir den-
gan kemungkinan tersebut. Anda dapat mem-
pelajari dan mencoba berlatih dengan materi
dan soal yang akan diberikan pada bagian ini.
MATERI
1. Jarak dan Kecepatan
Kecepatan adalah besarnya jarak atau
panjang lintasan dibagi dengan waktu.
Jarak = kecepatan x waktu
Waktu = jarak : kecepatan
Kecepatan = jarak : waktu
Satuan kecepatan = km/jam
Satuan waktu = jam
Satuan jarak = km
Contoh:
1. Motor Rino melaju selama 2 jam.
Contoh:
1. Motor Rino melaju selama 2 jam.
Jika kecepatan rata-ratanya 60 km/
jam, maka jarak yang ditempuh
adalah .
Penyelesaian:
Jarak = kecepatan x waktu
= 60 km/jam x 2 jam
= 120 km
Jadi, jarak yang ditempuh adalah
120 km.
2. Jarak kota A dan kota B adalah 210
km. Jika Linda menempuhnya sela-
ma 7 jam, maka kecepatan rata-rata
Linda adalah km/jam.
Penyelesaian:
Kecepatan = jarak : waktu
= 210 km : 7 jam
= 30 km/jam
Jadi, kecepatan rata-ratanya adalah
30 km/jam.
Berpapasan dengan waktu berangkat
sama
Langkah-langkahnya:
Contoh:
1. Motor Rino melaju selama 2 jam.
Jika kecepatan rata-ratanya 60 km/
jam, maka jarak yang ditempuh
adalah .
Penyelesaian:
Jarak = kecepatan x waktu
= 60 km/jam x 2 jam
= 120 km
Jadi, jarak yang ditempuh adalah
120 km.
2. Jarak kota A dan kota B adalah 210
km. Jika Linda menempuhnya sela-
ma 7 jam, maka kecepatan rata-rata
Linda adalah km/jam.
Penyelesaian:
Kecepatan = jarak : waktu
= 210 km : 7 jam
= 30 km/jam
Jadi, kecepatan rata-ratanya adalah
30 km/jam.
Berpapasan dengan waktu berangkat
sama
Langkah-langkahnya:
Waktu berpapasan =
tan
jarak
jumlah kecepa

Berpapasan =
waktu berangkat + waktu di jalan
Jarak bertemu:
Bila dari A,
jarak = kecepatan A x waktu
Bila dari B,
jarak = kecepatan B x waktu
Contoh:
Jarak A dan B = 150 km
Arif naik bus dari A ke B dengan kecepatan
45 km/jam. Sedangkan Andi naik mobil
dari B ke A dengan kecepatan 55 km/jam.
Jika mereka berangkat berbarengan pukul
07.00, maka:
a. pukul berapa mereka berpapasan?
b. pada jarak berapa dari A mereka ber-
papasan?
Penyelesaian:
=
=
+
=
= =
tan
150
45 / 55 /
150
100 /
1, 5 1 30
jarak
Waktu
jumlah kecepa
km
km jam km jam
km
km jam
jam jam menit
Jadi, mereka berpapasan pukul 07.00 +
01.30 = 08.30 dan pada jarak dari A = ke-
cepatan Arif x waktu = 55 km/jam x 1,5
jam = 82,5 km.
Berpapasan dengan waktu berangkat
tidak sama
Langkah-langkah:
1. Mencari jarak yang telah ditempuh
orang pertama (A)
2. Mencari sisa jarak yang belum ditem-
puh, yaitu:
Sisa jarak = jarak tempuh jarak su-
dah
Contoh:
Jarak A dan B = 150 km
Arif naik bus dari A ke B dengan kecepata n
45 km/jam. Sedangkan Andi naik mobil
dari B ke A dengan kecepatan 55 km/jam.
Jika mereka berangkat berbarengan pu-
kul 07.00, maka:
a. pukul berapa mereka berpapasan?
b. pada jarak berapa dari A mereka
berpapasan?
Penyelesaian:
=
=
+
=
= =
tan
150
45 / 55 /
150
100 /
1, 5 1 30
jarak
Waktu
jumlah kecepa
km
km jam km jam
km
km jam
jam jam menit
Jadi, mereka berpapasanpukul 07.00 +
01.30 = 08.30 dan pada jarak dari
A = kecepatan Arif x waktu = 55 km/jam
x 1,5 jam = 82,5 km.
Berpapasan dengan waktu berangkat
tidak sama
Langkah-langkah:
1. Mencari jarak yang telah ditempuh
orang pertama (A)
2. Mencari sisa jarak yang belum di-
tempuh, yaitu:
Sisa jarak = jarak tempuh jarak su-
dah ditempuh
3. Mencari jumlah kecepatan, yaitu:
Kecepatan A + kecepatan B (orang
kedua)
4. Waktu berpapasan =
tan
jarak
jumlah kecepa

69
Lalu, ditambahkan waktu berangkat
orang kedua.
Contoh:
Jarak kota M ke kota N adalah 85 km.
Dina berangkat dari kota M ke kota N
pukul 07.00 dengan sepeda motor yang
berkecepatan 40 km/jam. Dila berangkat
dari kota N ke kota M pukul 07.30 dengan
bus yang berkecepatan 60 km/jam.
a. Pukul berapa mereka berpapasan di
jalan?
b. Pada km ke berapa dari kota M
mere ka bertemu?
Penyelesaian:
Jarak yang telah ditempuh Dina
= (07.30 07.00) x 40 km/jam
= 30 menit x 40 km/jam
= 0,5 jam x 40 km/jam
= 20 km
Sisa jarak = 85 km 20 km = 65 km
Jumlah kecepatan
= 40 km/jam + 60 km/jam
= 100 km/jam
=
=
+
=
= =
tan
65
40 / 60 /
65
100 /
0, 65 39
jarak
Waktu berpapasan
jumlah kecepa
km
km jam km jam
km
km jam
jam menit
Jadi, mereka berpapasan pukul 07.30 +
00.39 = 08.09 dan jarak dari kota
M = (0,65 jam x 40 km/jam) + 20 km =
26 km + 20 km = 46 km.
Susul Menyusul
Langkah-langkah:
1. Mencari selisih waktu berangkat orang
pertama (A) dan orang kedua (B)
2. Mencari jarak yang telah ditempuh A
3. Mencari selisih kecepatan
4. Mencari lama di jalan
=
tan
jarak yang telah ditempuh A
selisih kecepa
5. Menyusul = waktu berangkat B +
lama di jalan
Contoh:
Andika naik motor dari kota A ke kota B.
Ia berangkat pukul 07.00 dengan kecepa-
tan 50 km/jam. Dari kota A, Dani menyu-
sul dengan kecepatan 70 km/jam pada
pukul 07.30. Pukul berapa Dani menyusul
Andika?
Penyelesaian:
Selisih berangkat = 07.30 07.00 =
30 menit = jam.
Jarak yang sudah ditempuh Andika:
= jam x 50 km/jam = 25 km
Selisih kecepatan = 70 km/jam 50 km/
jam = 20 km/jam.
Lama di jalan:
=
=
25
20 /
1, 25
km
km jam
jam
= 1 jam 15 menit
Jadi, Dani menyusul Andika pukul = 07.30
+ 01.15 = 08.45.
3. Bangun Datar
Susul Menyusul
Langkah-langkah:
1. Mencari selisih waktu berangkat
orang pertama (A) dan orang kedua
(B)
2. Mencari jarak yang telah ditempuh
A
3. Mencari selisih kecepatan
4. Mencari lama di jalan
=
tan
jarak yang telah ditempuh A
selisih kecepa
5. Menyusul = waktu berangkat B +
lama di jalan
Contoh:
Andika naik motor dari kota A ke kota B.
Ia berangkat pukul 07.00 dengan kecepa-
tan 50 km/jam. Dari kota A, Dani menyu-
sul dengan kecepatan 70 km/jam pada
pukul 07.30. Pukul berapa Dani menyusul
Andika?
Penyelesaian:
Selisih berangkat = 07.30 07.00 =
30 menit = jam.
Jarak yang sudah ditempuh Andika:
= jam x 50 km/jam = 25 km
Selisih kecepatan = 70 km/jam 50 km/
jam = 20 km/jam.
Lama di jalan:
=
=
25
20 /
1, 25
km
km jam
jam
= 1 jam 15 menit
Jadi, Dani menyusul Andika pukul = 07.30
+ 01.15 = 08.45.
3. Bangun Datar
Rumus keliling dan luas bangun datar:
a. Persegi atau bujur sangkar
Luas = sisi x sisi
Keliling = 4 x sisi
b. Persegi panjang
Luas = panjang x lebar
Keliling = 2 x (panjang + lebar)
c. Segitiga
Luas = x alas x tinggi
Keliling = jumlah panjang tiga
sisinya
71
Contoh:
Seorang pedagang membeli 40 kg beras
dengan harga seluruhnya Rp200.000,00.
Kemudian, pedagang itu menjual
kembali dengan harga Rp5.500 per kg.
Berapa persen keuntungannya?
Penyelesaian:
Untung = harga penjualan harga
pembeli an
Total harga penjualan = Rp5.500,00 x 40
= Rp220.000,00
Harga beli = Rp200.000,00 < harga jual =
Rp220.000,00
Jadi, pedagang tersebut memperoleh
keuntungan.
Besarnya keuntungan:
= Rp220.000,00 Rp200.000,00
= Rp20.000,00
Persentase keuntungannya:
=
=
=
100%
arg
20.000
100%
200.000
10%
untung
h a beli
Jadi, persentase keuntungan pedagang
adalah 10%.
6. Perbandingan
Perbandingan ada dua macam, yaitu
perbandingan senilai dan perbandingan
berbalik nilai.
Perbandingan senilai adalah perbanding-
an yang apabila nilai awalnya diperbesa r
maka nilai akhir juga semakin besar, se-
dangkan jika nilai awal diperkeci l maka
nilai akhir juga menjadi kecil.
Perbandingan senilai adalah perbandin-
gan yang apabila nilai awalnya diperbe-
sar maka nilai akhir juga semakin besar,
sedangkan jika nilai awal diperkecil maka
nilai akhir juga menjadi kecil.
Rumusnnya:
=
x a
y b
Contoh:
Sebuah tongkat A sepanjang 40 cm mempu-
nyai bayangan 20 cm di lapangan terbuka.
Jika di tempat yang sama diletakkan tongkat
B sepanjang 50 cm, maka bayangan tongkat
B adalah .
Penyelesaian:
Perbandingan senilai
=
=
=
= =
40 20
50
40 20 50
40 1000
1000
25
40
b
b
b
cm
Jadi, panjang banyangan tongkat B adalah 25
cm.
Perbandingan berbalik nilai adalah per-
bandingan dua nilai jika nilai awal diperbesar
maka nilai akhir menjadi kecil dan jika nilai
awal diperkecil maka nilai akhir menjadi besar.
Rumusnya:
=
x a
b y
Contoh:
Sebuah tongkat A sepanjang 40 cm
mempunyai bayangan 20 cm di lapang-
an terbuka. Jika di tempat yang sama
diletakkan tongkat B sepanjang 50 cm,
maka bayangan tongkat B adalah .
Penyelesaian:
Perbandingan senilai
=
=
=
= =
40 20
50
40 20 50
40 1000
1000
25
40
b
b
b
cm
Jadi, panjang banyangan tongkat B
adalah 25 cm.
Perbandingan berbalik nilai adalah per-
bandingan dua nilai jika nilai awal diper-
besar maka nilai akhir menjadi kecil dan
jika nilai awal diperkecil maka nilai akhir
menjadi besar.
Perbandingan senilai adalah perbandin-
gan yang apabila nilai awalnya diperbe-
sar maka nilai akhir juga semakin besar,
sedangkan jika nilai awal diperkecil maka
nilai akhir juga menjadi kecil.
Perbandingan senilai adalah perbandin-
gan yang apabila nilai awalnya diperbe-
sar maka nilai akhir juga semakin besar,
sedangkan jika nilai awal diperkecil maka
nilai akhir juga menjadi kecil.
Rumusnnya:
=
x a
y b
Contoh:
Sebuah tongkat A sepanjang 40 cm mempu-
nyai bayangan 20 cm di lapangan terbuka.
Jika di tempat yang sama diletakkan tongkat
B sepanjang 50 cm, maka bayangan tongkat
B adalah .
Penyelesaian:
Perbandingan senilai
=
=
=
= =
40 20
50
40 20 50
40 1000
1000
25
40
b
b
b
cm
Jadi, panjang banyangan tongkat B adalah 25
cm.
Perbandingan berbalik nilai adalah per-
bandingan dua nilai jika nilai awal diperbesar
maka nilai akhir menjadi kecil dan jika nilai
awal diperkecil maka nilai akhir menjadi besar.
Rumusnya:
=
x a
b y
Contoh:
Sebuah tongkat A sepanjang 40 cm
mempunyai bayangan 20 cm di lapan-
gan terbuka. Jika di tempat yang sama
diletakkan tongkat B sepanjang 50 cm,
maka bayangan tongkat B adalah .
Penyelesaian:
Perbandingan senilai
=
=
=
= =
40 20
50
40 20 50
40 1000
1000
25
40
b
b
b
cm
Jadi, panjang banyangan tongkat B
adalah 25 cm.
Perbandingan berbalik nilai adalah per-
bandingan dua nilai jika nilai awal diper-
besar maka nilai akhir menjadi kecil dan
jika nilai awal diperkecil maka nilai akhir
menjadi besar.
Rumusnya:
=
x a
b y
Contoh:
Sebungkus cokelat akan dibagikan kepa-
da 24 anak, setiap anak akan mendapat
8 cokelat. Jika cokelat itu dibagikan ke-
pada 16 anak, maka banyak cokelat yang
diperoleh setiap anak adalah .
Penyelesaian:
24 anak 8 cokelat
16 anak x cokelat
Semakin banyak anak yang ada maka
semakin sedikit banyak cokelat yang di-
dapat setiap anak. Artinya, perbandinga n
berbalik nilai.
72
72
=
=
=
= =
24
8 16
16 24 8
16 192
192
12
16
x
x
b
Jadi, setiap anak mendapatkan 12
cokelat.
7. Jumlah Anggota Himpunan
Himpunan adalah kumpulan obyek-
obyek yang dinyatakan dengan jelas.
Notasi himpunan biasanya huruf kapital
dan anggotanya ditulis dalam kurung
kurawal { }.
Contoh:
Himpunan A adalah himpunan bilangan
bulat lebih besar sama dengan 1 , maka:
A = {1, 2, 3, }.
Untuk menyatakan keanggotaan suatu
himpunan maka digunakan notasi
dan jika bukan dinotasikan dengan .
Contohnya pada himpunan A di atas, yaitu
1 A dan 0 A.
Adapun banyaknya anggota himpunan
A dituliskan dengan n (A). Pada contoh di
atas, n(A) = tak hingga banyaknya.
Untuk mengetahui jumlah anggota
himpunan, maka dapat menggunakan
hubungan berikut.
= + ( ) ( ) ( ) ( ) n A B n A n B n A B
Keterangan:
A B = A union B atau gabungan
dari himpunan A dan
himpunan B.
A B = A irisan B atau irisan dari
himpunan A dan himpunan B.
Contoh:
Dalam suatu kelas terdapat 47 siswa,
setelah dicatat terdapat 38 anak senang
berolahraga, 36 anak senang membac a
dan 5 anak tidak senang keduanya.
Banyak anak yang senang olahraga dan
senang membaca adalah .
Penyelesaian:
Jumlah siswa yang senang berolahraga
atau membaca adalah 47 5 = 42 siswa.
Banyak siswa yang senang berolah-
raga dan senang membaca (misalnya x)
adalah:
= + ( ) ( ) ( ) ( ) n A B n A n B n A B
42 = 38 + 36 x
42 = 74 x
x = 74 42 = 32 siswa
8. Menentukan Rata-rata (Mean)
Mean atau rata-rata hitung adalah jum-
lah semua data atau nilai dibagi dengan
banyaknya data.
Adapun banyaknya anggota himpunan
A dituliskan dengan n (A). Pada contoh di
atas, n(A) = tak hingga banyaknya.
Untuk mengetahui jumlah anggota
himpunan, maka dapat menggunakan
hubungan berikut.
= + ( ) ( ) ( ) ( ) n A B n A n B n A B
Keterangan:
A B = A union B atau gabungan
dari himpunan A dan
himpunan B.
A B = A irisan B atau irisan dari
himpunan A dan himpunan
B.
Contoh:
Dalam suatu kelas terdapat 47 siswa,
setelah dicatat terdapat 38 anak senang
berolahraga, 36 anak senang memba-
ca dan 5 anak tidak senang keduanya.
Banyak anak yang senang olahraga dan
senang membaca adalah .
Penyelesaian:
Jumlah siswa yang senang berolahraga
atau membaca adalah 47 5 = 42 siswa.
Banyak siswa yang senang berolah-
raga dan senang membaca (misalnya x)
adalah:
= + ( ) ( ) ( ) ( ) n A B n A n B n A B
42 = 38 + 36 x
42 = 74 x
x = 74 42 = 32 siswa
8. Menentukan Rata-rata (Mean)
Mean atau rata-rata hitung adalah jum-
lah semua data atau nilai dibagi dengan
banyaknya data.
Rumusnya:

=
i
x
x
n

Keterangan:
x = rata-rata hitung atau mean

i
x = (dibaca sigma) jumlah semua
data
n = banyaknya data
Contoh:
1. Nilai rapor Ardan pada semester 1
adalah 7, 6, 7, 8, 9, 6, 7, dan 8. Rata-
rata nilai Budi pada semester itu
adalah .
Penyelesaian:
n = 8
Rata-rata nilai = (7 + 6 + 7 + 8 + 9 +
6 + 7 + 8) : 8
= 58 : 8 = 7,25