Anda di halaman 1dari 82

1

OBSTETRI
Anatomi alat reproduksi
Ilmu kebidanan adalah bagian ilmu kedokteran yang khusus mempelajari semua hal yang berkaitan
dengan lahirnya anak.
Organ reproduksi dibagi menjadi eksterna dan interna.
Organ genitalia eksterna
Disebut juga vulva (pukas) atau pudenda : struktur eksternal yang dapat dilihat dari pubis sampai
perineum yang meliputi:
a. Mons veneris: bagian menonjol di atas simfisis dan ditutup oleh rambut kemaluan.
b. Labia mayor (bibir-bibir besar): analog dengan skrotum pada pria. Di bawah kulit ada massa
lemak yang mendapat pasokan pleksus vena, bila cedera pecah dan menjadi hematoma. Labium
mayor ke bawah dan belakang bertemu menjadi komisura posterior. Ligamentum rotundum
berakhir di batas atas labium mayor.
c. Labium minor (bibir kecil atau nymphae): ke depan (kedua bibir kecil bertemu di atas klitoris
membentuk preputium klitoridis dan di bawah klitoris membentuk frenulum klitoridis) ke
belakang (membentuk fosa navikulare). Kulit bibir kecil mengandung banyak glandula sebasea
(jar lemak) dan ujung saraf, jaringan ikat mengandung otot polos dan pembuluh darah.
d. Klitoris: terdiri dari glans klitoridis (penuh urat saraf, sangat sensitive) , korpus klotoridis, dan
dua krura yang menggantungkan klitoris ke os pubis.
e. Vestibulum: batas-batasnya (depan oleh klitoris, ka-ki oleh kedua bibir kecil, belakang oleh
perineum (fourchette). Struktur dalam vestibuli: orificium uretra, 2 ostia skene (kiri kanan bawah
dari ori uretra, saluran skene/duktus parauretra yang analog dengan duktus prostat pria), kelenjar
bartolin (kiri kanan bawah dekat fosa navikulare)
f. Bulbus vestibuli sinistra dan dekstra: daerah di bawah selaput lendir vestibulum (area tempat
berkumpulnya vena dan sebagian ditutup oleh m.iskiokavernosus dan m.konstriktor vagina).
g. Introitus vagina: ditutupi oleh selaput dara (himen), bentuk himen berbeda ada semilunar,
berlubang-lubang, atau sekat.
h. Perineum: terletak antara vulva dan anus, panjang 4 cm, jaringan pendukung perineum: diafragma
pelvis dan diafragma urogenitalis. Mendapat pasokan darah dari arteri pudenda interna dan
cabangnya. Persarafan dari nervus pudendus.
Organ genitalia interna
a. Vagina: panjang didnidng depan (6-8 cm), panjang dinding belakang (7-10 cm). Batas (sebelah
depan berhubungan uretra dan kandung kemih dipisahkan oleh jar ikat septum vesikovaginalis,
sebelah belakang antara dinding bawah vagina dgn rektum dipisahkan oleh jar ikat rektovaginalis
dan seperempat dinding atas vagina dgn rektum dipisahkan oleh kavum douglasi). Puncak vagina
dipisahkan oleh serviks membentuk forniks anterior, posterior dan lateral ka-ki, forniks posterior
lebih tinggi dari forniks anterior. (kepentingan klinik forniks: (1) organ internal pelvis dapat
dipalpasi oleh dinding forniks yang tipis (2) forniks posterior akses bedah ke rongga peritoneum
2

(3) 1,5 cm dari forniks posterior ada ureter dalam parametrium, di tempat itu ureter melintasi
arteri uterine tepat di bawahnya, jadi hati2 saat menjahit robekan serviks yang lebar dan dekat
dengan a uterine dan ureter agar tidak ikut terjahit. Vaskularisasi: 1/3 atas (a uterine), 1/3 tengah
(a vesikalis inferior), 1/3 bawah (a hemoroidalis mediana dan a pudenda interna)
b. Uterus: ukuran (panjang 7-7,5 cm, lebar di atas 5,25 cm, tebal 2,5 cm, dan tebal dinding 1,25 cm).
Berat uterus normal 70 g dan saat gravid berat uterus dapat mencapai 1100 gr. Letak fisiologis
anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina/ anterversi, sedangkan
korpus uteri ke depan dan membentuk sudut dengan serviks uteri/antefleksi). Uterus terdiri atas:
fundus uteri (TFU memperkirakan usia kehamilan), korpus uteri, serviks uteri (saluran dalam
serviks disebut kanalis servikalis, pintu saluarn serviks sebelah dalam disebut OUI dan pintu di
vagina disebut OUEpenilaian OUI dan OUE pada klinik penting untuk menilai jalannya
persalinan dan abortus. Secara histologik, dari dalam ke luar uterus dibagi menjadi: (1)
endometrium di korpus dan endoservis di serviks, (2) otor polos dengan sebelah dalam tersusun
sirkular, sebelah luar tersusun longitudinal dan di antaranya tersusun oblikpenting untuk
menjepit pembuluh darah saat post partum, (3) lapisan serosa, yakni peritoneum visceral. Uterus
terapung dalam rongga pelvis dan terfiksasi oleh ligament dan jaringan penyokong. Ligamen itu
antara lain:
1. Ligamen cardinal (Mackenrodt) kiri dan kanan, yakni ligamen yang terpenting yang
mencegah uterus tidak turun (di dalamnya ada arteri dan vena uterine).
2. Ligamen sakro-uterina kiri dan kanan, ligament yang menahan uterus supaya tidak banyak
bergerak.
3. Ligamen rotundum kiri dan kanan, ligament yang menahan uterus dalam keadaan anterfleksi
4. Ligamen latum kiri dan kanan, ligament yang meliputi tuba
5. Ligament ifundibulopelvikum kiri dan kanan, ligament yang menahan tuba falopi, di
dalamnya ditemukan urat2 saraf, saluran limfe, arteri dan vena ovarika.
Selain itu ada pula ligament ovarii propium kiri dan kanan yang menahan ovarium. Ismus adalah
bagian penyempitan antara serviks dan korpus uteri, diliputi oleh peritoneum visceral yang
mudah sekali digeser dari dasarnya atau digerakkan di daerah plika vesikouterina. Di tempat yang
longgar inilah dinding uterus dibuka jika melakukan section sesarea transperitonealis profunda.
Dinding belakang uterus seluruhnya diliputi oleh peritoneum visceral yang di bagian bawah
membentuk suatu kantong yang disebut kavum douglasi yang akan menonjol jika terdapat cairan
(darah atau ascites) atau tumor di situ.
Vaskularisasi uterus oleh: (1) arteri uterine kiri dan kanan yang terdiri atas ramus ascendens dan
descendens (kalo di sobotta ada ramus vaginalis ke vagina, ramus helicini ke dalan uterus, ramus
tubarius ke tuba dan ramus ovaricus yang anastomosie dengan arteri ovarika). Pembuluh ini
berasal dari arteri iliaka interna (disebut juga arteri hipogastrika) (2) arteri ovarika kiri dan kanan,
Arteri ovarika sinsitra berasal dari arteri ren sinistra, masuk ke dalam ovarium dan tuba melalui
lig ifundibulopelvikum dan emngadakan 2 anastomose, yang pertama melalui tuba dan yang
kedua melalui ovarium dengan ramus ascendens arteri uterine.
Aliran limfe uterus: aliran getah bening dari serviks akan mengalir ke daerah obturatorial dan
inguinal, selanjutnya ke daerah vasa iliaka. Dari korpus uteri saluran getah bening akan menuju
ke daerah paraaorta atau paravertebra dalam.
3

Inervasi uterus: sistem saraf simpatetik (masuk ke rongga panggul sebagai pleksus hipogastrikus
melalui bifurkasio aorta dan promontorium terus ke bawah menuju pleksus frankenhauser,
menimbulkan kontraksi dan vasokonstriksi), sistem saraf parasimpatik (berasal dari sacral 2,3,4
yang selanjutnya memasuki pleksus frankenhauser mencegah kontraksi dan menimbulkan
vasodilatasi).
c. Tuba falopi: terdiri atas (1) pars intersitiel yang terdapat pada dinding uterus, (2) pars ismika
bagian medial tuba yang sempit seluruhnya, (3) pars ampularis bagian yang agak lebar tempat
konsepsi terjadi, (4) ifundibulum bagian ujung tuba yang terbuka kea rah abdomen dan
mempunyai fimbrae.
d. Ovarium kiri dan kanan: ukuran (sebesar ibu jari tangan dengan panjang 4 cm, lebar dan tebal
kira2 1,5 cm). struktur terdiri atas: (1) korteks tempat folikel primordial, (2) medulla. Pada
perempuan diperkirakan ada 100.000 folikel, tiap bulan satu folikel akan keluar dan akan
mengalami perkembangan hingga menjadi folikel de graaf yang matang (terdiri atas ovum,
stratum granulosum, teka interna dan teka eksterna). Pada saat ovulasi folikel yang matang akan
mendekati permukaan ovarium yang pecah dan melepaskan ovum. Setelah ovulasi, bekas folikel
menjadi berwarna merah disebut korpus rubrum , di dalam selnya timbul pigmen kuning dan
menjadi korpus luteum. Jika ada pembuahan korpus luteum dipertahankan namun jika tidak ada
pembuahan maka korpus luteum mengalami atrofik dan menjadi korpus albikans. (lebih
jelasnya: di korpus luteum ada sel lutein yang menghasilkan progesteron dan sel teka yang
meghasilkan estrogen. Namun hormone P > dominan dari E untuk penebalan kelenjar
Endometrium, bila gak ada nidasi, maka E dan P feed back negative ke hipotalamus
sehingga FSH dan LH dihambat dan korpus luteum tidak lagi berkembang dan menjadi
korpus albikans, selain itu E dan P kemudian akan turun sehingga terjadi penyempitan
pembuluh darah endometrium terjadi iskemia, endometrium lepas dan terjadi haid.
Namun bila ada pembuahan, maka hidup korpus luteum akan diperpanjang oleh
rangsangan dari HCG yang dibuat oleh sinsisiotrofoblast yang dimulai 8 hari pasca ovulasi
hingga 9-10 minggu kehamilan, kemudian fungsi itu diambil alih oleh plasenta).
Anatomi jalan lahir
Jalan lahir dibagi atas (1) bagian tulang, terdiri atas tulang2 panggul dengan persendiannya (artikulasio),
(2) bagian lunak, terdiri atas otot, jaringan dan ligament.
Bagian keras/panggul
Panggul/pelvis terdiri dari 4 tulang yaitu: (1) sacrum (2) coccygis (3) dua tulang inominata (os coxae)
yang mrp gabungan dari ilium, ischium, dan pubis.
Secara fungsional panggul terdiri atas 2 bagian yang disebut pelvis mayor dan pelvis minor oleh bidang
aperture pelvis superior (disebut juga PAP). PAP dibentuk oleh: promontorium os sacrum di bagian
posterior, linea illiopectinea (linea terminalis dan pectin os pubis) di lateral, dan symfisis os pubis di
posterior.
a. Bagian di atas/cranial dari aperture pelvis superior disebut pelvis spurium (pelvis mayor/false
pelvis): bagian pelvis yang terletak di atas linea terminalis. Batasnya: posteriorvertebrae
4

lumbal, lateralfossa iliaka, anteriorbagian bawah dinding abdomen anterior. Makna
obstetrik: menahan uterus yang berisi fetus yang bertambahn besar.
b. Bagian di bawah/kaudal dari aperture pelvis superior disebut pelvis verum (pelvis minor/true
pelvis) : bagian pelvis yang terletak di bawah linea terminalis. Batasnya: ataspromontorium,
linea terminalis, tepi atas os pubis; bawahpintu bawah panggul. Makna obstetric: rongga
panggul yang sangat menentukan kapasitas untuk jalan lahir bayi saat persalinan.
Rongga Panggul
Jadi yang dimaksudkan sebagai rongga panggul ialah pelvis verum/pelvis minor. Bentuk pwlvis minor ini
meyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan (sumbu carus)-> sampai dekat H
III sumbu itu lurus, sejajar sacrum, untuk seterusnya melengkung ke depan.
a. PAP : pintu masuk rongga panggul. Disebut juga aperture pelvis superior. PAP dibentuk oleh:
promontorium os sacrum di bagian posterior, linea illiopectinea (linea terminalis dan pectin os
pubis) di lateral, dan pinggir atas symfisis os pubis di posterior. Terdapat 4 diameter pada PAP
yaitu: diameter anteroposterior, diameter transversa, dan 2 diameter oblikua.
1. Diameter anteroposterior (konjugata vera, panjang 11cm ): jarak antara promontorium os
sacrum sampai ke tepi atas simfisis os pubis. Tidak dapat diukur secara klinik pada
pemeriksaan fisik. Secara klinik dapat diukur konjugata diagonalis, jarak antara
promontorium os sacrum dengan tepi bawah simfisis os pubis. CV = CD-1,5. (normal
konjugata vera 10 cm) ingat bila kita tidak dapat meraba promontorium maka pasti ukuran
konjugata vera itu normal.
2. Diameter transversa: diameter terpanjang kiri-kanan PAP. (panjang 12,5-13 cm)
3. Diameter oblikua: jarak dari sendi sakroiliaka satu sisi sampai tonjolan pektineal sisi
kontralateralnya (panjang 13 cm).
Dalam obstetric dikenal 4 jenis panggul (pembagian Caldwell dan Moloy, 1933) yang
mempunyai ciri2 PAP sebagai berikut:
1. Jenis ginekoid panggul baik untuk perempuan. Ditemukan pada 45% perempuan. Panjang
diameter AP hampir sama dengan diameter transversa
2. Jenis anthropoid: Ditemukan pada 35% perempuan, Bentuk lonjong seperti telur dengan
panjang diameter AP lebih besar dari pada diameter transversa.
3. Jenis android: bentuk panggul pria. Ditemukan pada 15% perempuan. Bentuk segitiga dimana
panjang diameter AP hampir sama dengan diameter transversa, diameter transversa terbesar
terletak di posterior dekat sacrum, sedangkan bagian depannya menyempit ke depan.
4. Jenis platipeloid: ditemukan pada 5% perempuan. Panjang diameter AP lebih kecil daripada
diameter transversa.
Pelvimetri radiologic hanya dilakukan pada indikasi tertentu, misalnyaadanya dugaan ketidak
seimbangan antara janin dan panggul (fetopelvic disproportion), adanya riwayat trauma atau
penyakit tuberculosis pada tulang panggul, bekas seksio sesar yang akan direncanakan partus
pervaginam, pada janin letak sungsang, presentasi muka atau kelainan letak lainnya.
5

b. Cavum pelvis (bagian tengah panggul): seperti telah dikemukakan bahwa, ruang panggul di
bawah pintu atas panggui mempunyai ukuran paling luas.
Sementara bagian tersempit panggul terdapat pada panggul tengah dimana terdapat
penyempitan dalam ukuran melintang setinggi kedua spina iskiadika (diameter
interspinosum N 10 cm).
karena pada bagian di bawah PAP mempunyai ukuran melintang yang lebar
sementara menyempit pada bagian tengah panggul-> maka janin mengadakan
penyesuaian dengan melakukan putaran paksi dalam.
Dinding samping ruang panggui yang baik ialah yang lurus dari atas ke bawah (pada jenis
android dinding samping menyempit ke bawah).
Kemungkinan kepala janin dapat lebih mudah masuk ke ruang panggul jika sudut antara
sacrum dan lumbal (inklinasi panggul atau sudut antara bidang yang melalui aperture pelvis
superior dengan bidang horizontal) ialah normal atau lebih besar (60
0
).
Untuk menentukan sampai dimanakah bagian terendah janin turun dalam panggul selama
persalinan. Dapat digunakan bidang Hodge maupun station,
Bidang Hodge I: bidang datar yang dibentuk oleh promontorium, linea iliopectinea dan tepi atas
simfisis pubis (PAP)
Bidang H II: sejajar H I, terletak setinggi tepi bawah simfisis
Bidang H III: sejajar H I, terletak setinggi kedua spina iskiadika. Merupakan bagian tersempit.
Jadi disebut engaged atau masuk bila bagian ukuran terbesar melintang kepala janin (biparietal
diameter) telah melewati H III.
Bidang H IV: sejajar H I, terletak setinggi os koksigeus.
Station: disebut station 0 ialah H III, kepala yang berada di atas 1 cm disebut station -1 dan
sebaliknya. (ada 2 sistem classic three station-> station 03 ada pula yang ACOG cm scale)
c. Pintu bawah panggul: aperture pelvis inferior merupakan 2 segitiga yang bersekutu pada bagian
alasnya (yakni garis antara kedua tuber os ischium): (1) trigonum urogenital-> bidang yang
dibentuk oleh alas dengan puncaknya di tepi bawah simfisis pubis, (2) trigonum anale->bidang
yang dibentuk oleh alas dengan puncaknya di os koksigeus. Ukuran yang penting:
1. Sudut arkus pubis: pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah dan merupakan
sudut 90
0
atau lebih sedikit. Bila kurang, maka kepala janin akan susah dilahirkan.
2. Diameter anteroposterior PBP: jarak antara ujung os koksigeus sampai ke pinggir bawah
simfisis os pubis. (N = 9,5-11,5 cm)
3. Diameter transversa PBP (distansia intertuberosum): jarak antara kedua buah tuberositas os
ischium (N = 11 cm).
Anatomi jalan lahir lunak:
Pada kala pengeluaran (kala II), segmen bawah uterus, serviks uteri, vagina (introitus dan vulva juga) ikut
membentuk jalan lahir. Pada kehamilan 16 minggu, ismus uteri akan menjadi bagian uterus tempat janin
berkembang.
Diferensiasi aktivitas uterus: saat persalinan, uterus akan berubah menjadi dua bagian yang berbeda:
6

a. Segmen atas uterus yang berkontraksi secara aktif, mempunyai dinding yang tebal. Pada palpasi,
segemen atas teraba kencang.
b. Segmen bawah uterus yang yang relative pasif, berdinding lebih tipis. Analogkan dengan ismus
uteri yang pada umur kehamilan 16 minggu akan menjadi bagian dari uterus.
Segmen atas berkontraksi, mengalami retraksi, dan mendorong janin keluar, sedangkan segmen
bawah uterus dan serviks akan semakin lunak berdilatasi, dan dengan cara demikian membentuk
suatu saluran muskuler dan fibromuskuler yang menipis sehingga janin dapat keluar. Sebagai akibat
menipisnya segmen bawah uterus dan bersamaan dengan menebalnya segmen atas, batas antara
keduanya ditandai oleh suatu lingkaran pada permukaan dalam uterus yang disebut cincin retraksi
fisssiologik. Jika pemendekan segmen bawah uterus terlalu tipis, seperti pada partus macet, cincin ini
sangat menonjol, sehingga membentuk cincin retraksi patologik (cincin Bandl).
Ostium uteri internum (OUI) terletak di bawah segmen bawah uterus kemudian lanjut serviks uteri
dan setelah itu ada ostium uteri eksternum (OUE). Pada saat kala I maka OUI dan OUE akan akan
terbuka sehingga serviks akan menipis dan mendatar. Kalo pada primigravid OUI membuka lebih
dulu dari OUE sedangkan pada multigravid OUI dan OUE membuka bersamaan. Pertanyaannya:
bagaimana mekanisme terjadinya penipisan, pendataran dan akhirnya dilatasi serviks? Jawabannya:
saat terjadinya kontraksi uterus, maka akan terjadi tekanan pada selaput ketuban, tekanan hidrostatik
kantung amnion akan melebarkan saluran serviks. Bila selaput ketuban pecah, maka bagian terbawah
janin yang menempel pada serviks akan menjadi sama efektifnya.
Ukuran luar panggul.
a. Diameter spinarum: jarak antara kedua spina iliaka anterior superior sinistra dan dekstra (24 cm-
26 cm).
b. Diameter kristarum : jarak yang terpanjang antara dua tempat yang simetris pada Krista iliaka
sinistra dan dekstra. (28 cm-30 cm)
c. Diameter oblikua eksterna: jarak antara spina iliaka posterior sinistra dengan spina iliaka anterior
superior dekstra dan sebaliknya. (bila asimetrik maka ukuran kedua diameter oblikua akan jauh
berbeda)
d. Distansia intertrokanterika (31 cm): jarak antara kedua buah trokanter mayor
e. Konjugata eksterna (Boudeloque): jarak antara bagian atas simfisis ke prosesus spinosus L 5 (18
cm/20 cm).

Kehamilan
Kehamilan dimulai dari proses terjadinya konsepsi (menyatunya sperma dan ovum di ampula tuba ovarii).
Peristiwa dalam kehamilan:
a. Ovulasi: oogenesis dan spermatogenesis
b. Konsepsi
c. Nidasi/implantasi: baca bagian tentang pembuahan, nidasi, plasentasi
d. Embriogenesis
7

Kehamilan matur berlangsung 37-42 minggu kira2. Kehamilan premature berlangsung antara 28-36
minggu. Kehamilan post matur bila lebih dari 43 minggu. Menurut usia kehgamilan, kehamilan dibagi
menjadi: trimester pertama (0-14 minggu), trimester 2 (14-28 minggu), trimester 3 (28-42 minggu).
Kalo menurut dr Syafardi, Tanda kehamilan ada 3 :
1. Bukti presumtif kehamilan
2. Bukti kemungkinan kehamilan
3. Tanda pasti kehamilan
Bukti presumtif kehamilan:
Berhentinya menstruasi: kapan haid yang terakhir.
Mual dengan atau tanpa muntah (emesis gravidarum): normal terjadi pada trimester 1 kehamilan,
karena meningkatnya hormone estrogen dan HCG. Kalo muntah sampai uk 20 minggu kita sebut
HEG.
Merasakan gerakan janin: pada primigravida mulai 20 minggu, pada multigravida mulai 16
minggu.
Perubahan pada mammae: hormone E menyebabkan saluran hipertrofi, sedangkan hormone P dan
somatomamotropin menyebabkan sel asinus bertambah besar, pembuatan kasein, laktalbumin,
dan laktoglobulin, papilla menjadi lebih besar, areola hiperpigmentasi (kolostrum minggu ke 12).
Perubahan sirkulasi darah: (1) volume darah meningkat mulai uk 16-32 minggu->terjadi
penambahan plasma dan eritrosit, namun tidak sebanding sehingga kadar Hb bisa turun dari 15
menjadi 12,5 atau bahkan dibawah 11. Pada kehamilan lanjut, kadar Hb dibawah 11 disebut
abnormal dan biasanya lebih disebabkan karena defisiensi zat besi dibandingkan karena
hemodilusi. Sehingga penambahan asupan zat besi (tablet Fe 90 tab). Hipervolemia ini akan
menjadi normal 2-6 minggu post partum. Saat postpartum, sirkulasi uteroplasenta akan berhenti
dan menyebabkan peningkatan sirkulasi darah ibu dan beban jantung meningkat (3-5 hari post
partum) (2) peningkatan leukosit berkisar antara 5000-12.000 dan mencapai puncaknya pada saat
persalinan dan masa nifas berkisar 14.000-16.000. penyebab belum diketahui.
Perubahan sistem respirasi: sesak napas tu pada uk 32 minggu, ok desakan usus kea rah
diafragma, selain itu karena kebutuhan oksigen wanita hamil meningkat 20% maka wanita hamil
bernapas lebih dalam.
Perubahan saluran kencing: saat kehamilan awal, kepala masuk rongga panggul menyebabkan vu
tertekan oleh uterus sehingga lebih sering kencing.
Perubahan pada kulit: karena pengaruh dari melanofor stimulating hormone menyebabkan
terjadinya: (1) striae gravidarum->perubahan warna menjadi kemerahan pada primigravida, kalo
pada multi striae kemerahan warnanya berubah menjadi garis berwarna perak yg merupakan
sikatrik dari striae sebelumnya. (2) linea nigra: kulit di garis pertengahan tubuh menjadi hitam
kecokelatan, kalo timbul di pipi, hidung, dahi dan dikenal sebagai chloasma gravidarum) yang
terjadi karena pengaruh hormone plasenta yang merangsang hormone melanofor.
Epulis (hipertrofil papilla gingival)
Leukore: secret serviks meningkat karena peningkatan hormone progesterone

8

Bukti kemungkinan hamil atau Tanda tidak pasti kehamilan:
Perubahan pada uterus:
Uterus mengalami hipertrofi karena pengaruh E dan P. Berat uterus tidak hamil 70 g dan bisa
menjadi 1100 gr bila gravis. Besar uterus dapat menentukan umur kehamilan:
a. Pada uk 8 minggu maka TFU ialah tepat di simfisis (lit bilang kalo uk<12 minggu maka
TFU belum teraba)
b. Pada uk 12 minggu TFU 3 jari di atas simfisis
c. Pada uk 16 minggu TFU setengah dari simfisis-pusat
d. Pada uk 20 minggu: TFU 2/3 jari dibawah pusat
e. Pada uk 24 minggu: TFU sepusat
f. Pada uk 28 minggu: TFU 3 jari diatas pusat
g. Pada uk 32 minggu: TFU pusat-px
h. Pada uk 36 minggu: TFU di px
i. Pada uk 40 minggu: TFU 3 jari di bawah px.
Menentukan umur kehamilan dari tinggi fundus ada beberapa cara:
a. Cara Bartholomew: antara simfisis dengan pusat dibagi 4 bagian yang sama dan setiap
kenaikan menunjukkan satu bulan. Antara pusat dengan px dibagi 4 bagian juga.
b. Cara Mc Donald: TFU pake pita pengukur, kemudian dimasukkan rumus: UK (minggu)= (8 x
TFU): 7.
c. Cara Spielberg: ???
Bandingkan UK dari TFU dengan UK dari HPHT apa sudah sesuai??? Apa lebih besar atau lebih
kecil dari umur kehamilan sesungguhnya.
Suhu basal meningkat terus : 37,2 37,8
Perubahan organ dalam pelvic:
a. Tanda Chadwick: perubahan warna menjadi kebiruan atau keunguan pada vulva, vagina, dan
serviks.
b. Tanda Goodell: perubahan konsistensi (yang dianalogikan dengan konsistensi bibir) serviks
dibandingkan dengan konsistensi kenyal (dianalogikan dengan ujung hidung) pada saat tidak
hamil.
c. Tanda Hegar: segmen bawah uterus lembek pada perabaan. Ismus uteri pada minggu pertama
mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri yang mengakibatkan ismus menjadi lebih panjang
dan lunak.
d. Tanda Piscaseck: uterus membesar ke salah satu jurusan. Di tempat dimana bagian uterus
yang mengelilingi tempat implantasi plasenta akan bertambah besar lebih cepat dibandingkan
bagian lainnya sehingga menyebabkan uterus tidak rata.
e. Tanda Braxton Hicks: peningkatan kontraktilitas uterus akibat peregangan miometrium pada
pembesarn uterus. Sejak trimester pertama kehamilan uterus akan mengalami kontraksi yang
tidak teratur dan tidak disertai nyeri. Kontraksi muncul tiba-tiba dan sporadic, intensitas
bervariasi 5-25 mmHg. Sampai bulan terakhir kehamlian biasanya kontraksi ini menjadi
jarang dan mulai meningkat satu atau dua minggu sebelum persalinan. Hal ini erat kaitannya
9

dengan meningkatnya jumlah reseptor oksitosin dan gap junction di antara sel-sel
miometrium.
f. Tes kehamilan: reaksi antigen antibody dengan HCG sebagai antigen. Hasil positif palsu pada
penyakit Trofoblas ganas. Biasanya wanita akan mengecek kehamilannya setelah 2 minggu
tidak mendapat haid. Sehingga umur kehamilannya menjadi . Minggu. Padahal HCG uda
dapat dideteksi sekitar 8 hari setelah lonjakan LH.
Tanda pasti kehamilan:
Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerak janin
Pada auskultasi terdengar bunyi jantung janin (BJJ). Dengan stetoskop LAenec terdengar pada
kehamilan 18-20 minggu, dengan alat Doppler terdengar pada kehamilan 12 minggu.
Dengan USG atau scanning dapat dilihat gambaran janin. :
a. Pulsasi jantung: 7-8 minggu
b. Pergerakan janin: 10-12 minggu.
Pemeriksaan Kehamilan
Dilakukan minimal 4 kali:
Kunjungan 1: satu kali kunjungan sampai 28 minggu
Kunjungan 2: satu kali kunjungan pada minggu ke 28-36
Kunjungan 3: dua kali pada minggu > 36
Namun idealnya ialah 15 kali:
1 x setiap 4 minggu ( sampai 28 minggu )
1 x setiap 2 minggu ( sampai 36 minggu )
1 x setiap 1 minggu ( sampai lahir )
1.a. Anamnesa umum: meliputi identitas istri dan suami:
Nama, umur, pekerjaan, agama dan status sosial lainnya
Tentang keluhan-keluhan, nafsu makan, tidur, miksi, defikasi, perkawinan dan sebagainya
1.b. Anamnesa Khusus
Perkawinan keberapa, lama perkawinan ini
Riwayat kontrasepsi
Kehamilan ke berapa
Umur anak terkecil
Riwayat persalinan yang lalu
Cara kelahiran yang lalu
Riwayat Haid: tanyakan tentang HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) untuk mendapatkan
Taksiran Tanggal Persalinan (TTP) menurut rumus Naegele: tanggal + 7, bulan 3, tahun + 1.
Inget cara penulisan diagnose kehamilan:
10

G P
apih
A
amk
gravida. Minggu (bila ada keadaan khusus dapat ditambahkan di belakang)
Contoh: G
VI
P
2103
A
101
gravida 34-36 minggu dengan letak sungsang dan bekas SC, maka cara
membacanya adalah:
G
VI
= ibu hamil ke-6
P
2103
= 2 kali melahirkan aterm, 1 kalo melahirkan premature, 0 kali imatur, 3 anak hidup
A
101
= 1 kali abortus, 0 kali mola, 1 kali KET
Saat ini hamil 34-36 minggu dengan letak sungsang dan bekas SC.
2. Pemeriksaan:
a. Pemeriksaan umum
Ukur Berat badan (normal meningkat 10-12 kg)
Ukur Tinggi Badan
Cek Vital Sign (TD, nadi, RR, suhu)
b. Pemeriksaan Khusus abdomen
b.1.Inspeksi dan perkusi: tidak terlalu memiliki arti
b.2.palpasi:
Leopold I: menentukan tinggi fundus (perkiraan usia kehamilan) dan meraba bagian janin yang di
fundus dengan kedua telapak
Tinggi fundus normalnya sesuai dengan masa kehamilan. Maka bandingkan usia kehamilan melalui
tingggi fundus dengan yang didapat melalui HPHT, bisa sesuai/lebih besar/lebih kecil dari usia kehamilan
sesungguhnya.
< 12 minggu : fundus uteri belum teraba
16 minggu: simfisis-pusat
24 minggu: setinggi pusat
28 minggu: 3 jari di atas pusat
32 minggu: pusat-px
36-40 minggu: 3-4 jari di bawah px.
Leopold II: kedua telapak tangan menekan uterus dari kiri-kanan, jari ke arah kepala pasien, mencari sisi
bagian besar (biasanya punggung) janin, atau pada letal lintang mungkin bagian keras bulat (kepala)
janin.
Leopold III: satu tangan meraba bagian janin apa yang terletak di bawah (di atas simfisis) sementara
tangan lainnya menahan fundus untuk fiksasi.
11

Leopold IV: kedua tangan menekan bagian bawah uterus dari kiri-kanan, jari ke arah kaki pasien, untuk
konfirmasi bagian terbawah janin dan menentukan apakah bagian tersebut sudah masuk/melewati
pintu atas panggul (ditentukan oleh jumlah jari yang bisa ditempatkan dibagian kepala diatas simfisis
pubis : 5/5, 4/5, 3/5, 2/5, 1/5, 0/5)
Jika memungkinkan dalam palpasi diperkirakan juga taksiran berat janin (meskipun kemungkinan
kesalahan juga masih cukup besar). Dengan menggunakan rumus Johnson-Tossec, TBJ = tinggi fundus
(cm) (11/12/13) x 155 gram. (ket: 11=bila kepala masih berada di bawah spina ischiadica; 12 = bila
kepala masih berada di atas spina ischiadica; 13= bila kepala belum melewati pintu atas panggul).
b.3. Auskultasi
Dengarkan BJJ pada daerah punggung janin dengan stetoskop monoaurel (Laenec) atau Doppler. BJJ
sudah dapat mulai terdengar pada 10-12 minggu, dengan stetoskop laenec BJJ terdengar pada kehamilan
18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler BJJ terdengar pada kehamilan 12 minggu. Normal frekuensi
BJJ ialah 120-160 x/m. takikardia menunjukkan reaksi kompensasi terhadap beban/stress pada janin (fetal
stress), bradikardia menunjukkan kegagalan kompensasi (fetal distress).
c. Pemeriksaan Khusus Genitalia
c.1. Inspeksi luar: keadaan vulva/uretra, ada tidaknya tanda radang, luka/perdarahan, dishrage. Labia
dipisahkan dengan dua jari pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas
c.2. Inspeksi dalam: dengan speculum, teknik:
labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa
alat speculum cocorbebek (cusco) dimasukkan ke vagina dengan bilah vertical kemudian di
dalam liang vagina dipuat 90
o
sehingga horizontal lalu dibuka
deskripsi keadaan: porsio serviks (permukaan, warna), keadaan ostium, ada/tidak adanya
darah/cairan/discharge di forniks, dilihat keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak ada tumor,
tanda radang atau kelainan lainnya
Spekulum ditutup horizontal, diputar vertical dan dikeluarkan dari vagina.
c.3. palpasi: colok vagina (Vaginal touch) dengan dua jari sebelah tangan dan BIMANUAL
dengan tangan lain menekan fundus dari luar abdomen. Ditentukan konsistensi,tebal, arah dan
ada/tidak adanya pembukaan serviks. Diperiksa ada/tidak kelainan uterus dan adneksa.
Ditentukan bagian terbawah (presentasi) janin, turunnya kepala pada rongga panggul ditentukan
berdasarkan bidang Hodge I-IV. Ingat KI relative dari VT ialah: (1) perdarahan pervaginam pada
kehamilan trimester ketiga, karena kemungkinan adanya plasenta previa, (2) ketuban pecah dini,
karena dapat menjadi predisposisi penjalan infeksi (korioambionitis).

Pembuahan, Nidasi dan Plasentasi
Untuk terjadi kehamilan harus ada spermatozoa, ovum, pembuahan ovum (konsepsi) dan nidasi
(implantasi) kemudian embryogenesis.
12

Taksiran kehamilan Naegel, HPHT. (Kurang tepat-selisih 2 minggu dan selisih sampai 3 minggu dari
waktu nidasi, siklus haid harus normal-28 hr)
Perubahan dalam kehamilan:
1.Pembuahan/fertilisasi/konsepsi
Adalah penyatuan ovum (oosit sekunder) dan spermatozoa yang biasanya berlangsung di ampula tuba.
Dalam beberapa jam setelah pembuahan, mulailah pembelahan zigot dan terus membelah dan setelah 3
hari hasil konsepsi berada dalam stadium morula (kelompok sel yang sama besarnya sambil berjalan
menuju rongga uterus karena adanya getaran silia dan kontraksi tuba).
2. Nidasi/implantasi
Adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Proses ini terjadi memasuki
hari ke 7/8 konsepsi, dimana hasil konsepsi berada pada stadium blastula. Blastokista ini terdiri dari 3
bagian yakni: inner cell mass yang akan menjadi janin itu sendiri, lapisan tipis trofoblas yang berfungsi
ganda dalam menyelesaikan implantasi, rongga blastokel yang akan menjadi kantung amnion (yang
mengelilingi dan menjadi bantalan janin selama kehamilan).
Ketika blastokista siap melaksanakan implantasi, permukaannya jadi lengket, Blastokista melekat ke
lapisan dalam uterus di sisi massa sel dalamnya. IMPLANTASI dimulai ketika sel2 trofoblast
mengeluarkan enzim proteolitik yang mencerna sel-sel endometrium sehingga genjel-genjel sel trofoblas
yang berbentuk seperti jari dapat menembus kedalaman endometrium. Trofoblas disini melaksanakan 2
fungsi ganda yakni: (1) menyelesaikan implantasi sewaktu membuat lubang di endometrium untuk
blastokista; (2) menyediakan bahan bakar metabolic serta bahan-bahan dasar untuk mudigah
karena sel trofoblas menguraikan jaringan endometrium yang kaya akan gizi. Dua lapisan trofoblast
yakni: sinsitio trofoblas( lapisan luar yang menghasilkan HCG) dan sitotrofoblas yakni lapisan dalam.
Sementara itu respon dari endometrium sendiri dari invasi trofoblas yakni meningkatkan kemampuan
menunjang mudigah dengan mengeluarkan prostaglandin, yang bekerja secara local untuk meningkatkan
vaskularisasi, menyebabkan edema dan meningkatkan simpanan zat gizi. Jaringan endometrium yang
mengalami perubahan itu disebut desidua.
Setelah blastokista masuk ke dalam desidua melalui aktivitas trofoblastik, terbentuk selapis sel
endometrium yang menutupi permukaan lubang, sehingga blastokista benar2 tertanam dalam
endometrium.
3.Plasentasi
Simpanan glikogen di endometrium hanya cukup untuk member makan mudigah selama minggu2
pertama. Untuk mempertahankan mudigah/janin yang sedang tumbuh selama hidup di uterus, terbentuk
plasenta, suatu organ khusus untuk pertukaran antara darah ibu dan janin. Plasenta ini berasal dari
trofoblast dan desidua.
Pada hari kedua belas, mudigah sudah terbenam seluruhnya di desidua. Saat ini lapisan trofoblastik
sudah mencapai ketebalan 2 lapisan dan disebut korion. Bagian dasar sel trofoblas akan menebal yang
disebut korion frondosum dan berkembang menjadi plasenta. Sementara itu, bagian luar yang menghadap
13

ke kavum uteri disebut korion leave yang diliputi oleh desidua kapsularis. Desidua yang menjadi tempat
implantasi plasenta disebut desidua basalis.
Karena terus mengeluarkan enzim dan meluas, korion membentuk suatu jaringan rongga2 yang meluas ke
dalam desidua. Sementara itu dinding kapiler-kapiler desidua mengalami erosi akibat ekspansi korion
sehingga rongga2 tersebut terisi oleh darah ibu, yang tidak dapat membeku oleh adanya antikoagulan
yang dihasilkan oleh korion. Terbentuk tonjolan mirip jari dari jaringan korion yang meluas ke dalam
rongga (genengan darah ibu) tersebut. Dan kemudian, mudiagh akan mengirimkan kapiler ke tonjolan2
korion untuk membentuk vilus plasenta.
VIlus plasenta-mengandung kapiler mudigah yang dikelilingi oleh selapis tipis jaringan korion , yang
memisahkan darah janin dari darah ibu di ruang antarvillus sehingga tidak terjadi pencampuran antar
darah ibu dan janin, tetapi sawar di antara keduanya sangatlah tipis. Selama kehamilan, darah janin secara
terus menerus melintasi vilus plasenta dan system sirkulasi janin melalui arteri umbilikalis dan vena
umbilikalis yang terbungkus dalam korda umbilikalis (tali pusat), pipa penghubung antara janin dan
plasenta. Sementara darah ibu di dalam plasenta terus menerus diganti oleh darah segar yang masuk
melalui arteriol-arteriol uterus, tersaring melalui ruang antarvilus, tempat darah tersebut mempertukarkan
berbagai bahan dengan darah janin di vilus sekitarnya, dan keluar melalui vena uterine.
Arus darah uteroplasenta
Janin dan plasenta dihubungkan dengan tali pusat yang berisi 2 arteri dan satu vena, vena berisi darah
penuh oksigen, sedangkan arteri yang kembali dari janin berisi darah kotor. Tali pusat berisi massa
mukopolisakarida yang disebut jeli Wharton dan bagian luar adalah epitel amnion. Panjang tali pusat
bervariasi, yaitu 30-90 cm.
Patologi pada berkurangnya arus darah uteroplasenta, missal pada preeclampsia mengakibatkan
perkembangan janin terhambat. Konsep yang diterima dimana implantasi plasenta yang terhambat
mengakibatkan remodeling arteri spiralis tidak sempurna (vasokontriksi) sehingga sirkulasi plasenta
abnormal.
Angiotensin 2 pada kadar faal, mempertahankan sirkulasi uteroplasenta, namun bila jumlah berlebih dapat
menyebabkan vasokontriksi. Oleh karena itu penggunaan ACE inhibitor merupakan kontraindikasi
selama kehamilan.
Tentang Plasenta Berdasarkan slide dokter Syafardi, judulnya faal kehamilan.
Fakta tentang plasenta:
a. Plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan kira-kira 16 minggu
b. Bentuk bunndar atau oval, diameter 15-20 cm, 15-20 kotiledon. (tp gmn caranya tau kalo
lengkap?? Apa dihitung?? Bukan, tapi dengan kasa kita bersihkan plasenta, kalo setelah
dibersihkan perdarahan masih aktif, kemungkinan masih ada sisanya)
c. Normalnya plasenta tertanam di daerah korpus uteri (depan atau belakang)
d. Terdiri dari bagian yang mengahadap ke ibu dan yang menghadap ke janin.
Fakta tentang tali pusat:
14

a. Panjang rata-rata tali pusat: 50-55 cm
b. Insersi tali pusat:
1. Insersi tali pusat yang normal: sedikit di luar titik tengah plasenta yang disebut insersio
parasentral
2. Insersi yang sedikit mendekati pinggir plasenta yang disebut insersio lateral
3. Insersi yang tepat pada pinggir plasenta yang disebut insersio marginalis (battledore placenta)
4. Insersi tali pusat pada selaput janin, dimana tali pusat dihubungkan dengan plasenta melalui
pembuluh-pembuluh darah yang berjalan dalam selaput janin disebut insersio velamentosa
5. Pada insersi velamentosa jika pembuluh darah yang menghubungkan plasenta dengan tali
pusat tersebut berjalan melintasi ostium uteri internum dan disebut vasa previa.
Fungsi plasenta :
Nutrisi ; alat pemberi makanan pada janin
Respirasi; alat penyalur zat asam dan pembuang CO2
Eksresi; alat pengeluaran sampah metabolisme
Produksi; alat yang menghasilkan hormon
Imunisasi; alat penyalur bermacam antibodi ke janin
Barier(pertehanan); alat yang meyaring obat-obat dan kuman-kuman yang bisa atau tidak
melewati plasenta
Mungkin banyak lagi fungsi-fungsi lain yang belum diketahui
Hormon plasenta
1.Human chorionic gonadotropin (hCG)
Merupakan hormone plasenta yang dihasilkan oleh sinsitiotrofoblast. Sinsitiotrofoblast diumpamakan
sebagai hipofisis yang menyekresi HCG, HPL, dan ACTH, sedangkan sitotrofoblas bertindak sbg
hipotalamus yg menyekresi GnRH dan CRH.
Karakter kimia: merupakan glikoprotein dimana HCG memiliki kesamaan struktur dgn FSH,LH,TSH.
Dan mempunyai dua subunit: alfa HCG yang hampir miri dengan LH-alpha dan FSH-alpha dan beta-
HCG yang identik dengan LH-beta.
Konsentrasi HCG dapat dideteksi dalam serum dan urine serta dapat dideteksi pada hari ke 7.5 sampai
hari 9.5 setelah lonjakan LH (kul dr Novia) atau di sarwono disebutkan bahwa HCG mulai dapat dideteksi
1 hari setelah implantasi. Di buku Sherwood mengatakan bahwa HCG di urin dideteksi sekitar 2 minggu
setelah terlambat haid. Sekresi hCG ini berfungsi:
Memperpanjang hidup korpus luteum dan menstimulasi produksi progesterone
Merangsang proses diferensiasi sitotrofoblas,
Stimulasi produksi testosterone testis janin
15

mempunyai efek imunosupresif selama kehamilan
Menstimulasi kelenjar tiroid maternal
Meningkatkan sekresi relaksin
Konsentrasi HCG ini mencapai puncaknya sekitar 8-10 minggu atau pada Literatur lain (Sherwood)
mengatakan bahwa sekresi puncak HCG berlangsung sekitar 60 hari setelah periode haid terakhir. dan
mulai menurun pada minggu 10-12 dan akan dipertahankan pada level yang rendah sampai selesai
kehamilan. Penurunan HCG terjadi pada saat korpus luteum tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan
hormon2 steroid karena plasenta sudah mulai mengeluarkan estyrogen dan progesterone dalam jumlah
bermakna.
Secara klinik, pengukuran kadar HCG umumnya digunakan untuk :
Menunjang diagnosis kehamilan
Evaluasi setelah terapi penyakit trofoblas
Evaluasi abnormalitas kehamilan (misalnya kehamilan ektopik)
Kadar HCG meningkat pada keadaan: multiple fetuses, erythroblstotic fetuses, hydatidiform mole,
choriocarcinoma, Down syndrome.
Kadar HCG rendah pada keadaan : ectopic pregnancy impending, spontaneous abortion.
2. Human Placental Lactogen (HPL)
Struktur kimia: HPL mirip dengan prolaktin (PRL)dan growth hormone (GH) hipofisis.
Konsentrasi serum: Hormon ini dihasilkan oleh sinsitiotrofoblas plasenta pada hari ke-5 sampai ke-10
setelah konsepsi. Dan dapat dideteksi mulai hari ke-12 setelah fertilisasi dan akan terus meningkat hingga
minggu ke-34- ke 36.
Efek utama HPL adalah pada insulin dan metabolism glukosa. Dimana kerja HPL sng anti insulin dan
menyebabkan lipolisis. Hal ini terlihat pada ibu hamil yang sedang berpuasa dimana, keadaan puasa akan
merangsang sekresi HPL sehingga pemakaian glukosa ibu akan menurun shg menjamin tercukupinya
energy bagi janin.
Kadar HPL tinggi ditemukan pada: kehamilan ganda dan kehamilan dengan DM.
Kadar HPL rendah ditemukan pada: pertumbuhan janin terhambat,preeclampsia dan neoplasma trofoblas.
3. Hormon protein:
1. Chorionic Adrenocorticotropin
- ACTH, lipotropin, -endorphin
2. Chorionic Thyrotropon
3. Relaxin
16

- acts on myometrial smooth muscle
to promote uterine relaxation
4. PTH-rP
5. hGH-variant
4.Hypotalamus like releasing hormone:
GnRH, Corticotropin RH, tirotropin RH, Growth hormone RH.
5. Hormon peptide:
Neuropeptida,inhibin dan aktivin, ANP
5.Hormon steroid:
Progesterone dan estrogen
Selaput dan cairan amnion
Cairan amnion (air ketuban) berada dalam suatu ruangan yang dilapisi oleh lapisan amnion dan korion
leave. Sejak awal kehamilan air ketuban ini sudah dibentuk . Asal cairan ketuban ini :
Transudasi darah ibu
Sekresi kulit, selaput amnion dan plasenta
Setelah usia 20 minggu, air ketuban berasal dari urin janin.
Volume cairan amnion 1000-1500 ml, dengan ciri2:
Warna putih keruh, bau amis, rasa manis
Terdiri dari 98 % air, sisanya albumin, urea, uric acid, kreatinin, sel-sel epitel, rambut lanugo,
verniks kaseosa dan garam an organik. Kadar protein kira-kira 2,6 gr % perliter
Bersifat netral atau agak alkalis
Berat jenis 1,008
Fungsi air ketuban:
Pelindung dan bantalan untuk proteksi janin dan menunjang metabolisme
Mencegah perlekatan janin dengan amnion
Agar janin dapat bergerak dengan bebas
Menghambat pertumbuhan bakteri karena mengandung zat seperti fosfat dan seng.
Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu
Mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau diminum yang kemudian
dikeluarkan melalui kencing janin
Meratakan tekanan intra-uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah dan
melancarkan persalinan.
17

Makna Klinik:
Polihidramnion (>2 L): diabetes atau trsomi 18
Oligohidramnion: kelainan ginjal janin, trsomi 12 atau 13, hipoksia janin.
Selain itu dari air ketuban juga ditemukan AFP yang berasal dari janin sehingga dapat ditentukan
defek pada tabung saraf.
Perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil.
SISTEM REPRODUKSI
1.Uterus
Tanda pisaseck: uterus yang tidak rata disebabkan karena bagian uterus yang mengelilingi tempat
implantasi plasenta akan bertambah besar lebih cepat dibandingkan bagian yang lainnya.
Tanda Hegar: Ismus uteri menjadi lebih panjang dan lunak karena pada ismus pada minggu pertaman
kehamilan mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri.
Kontraksi Braxton Hicks:merupakan kontraksi yang muncul tiba-tiba dan sporadic, dengan intensitas 5-25
mmHg. Kontraksi ini tidak teratur dan tidak nyeri. Mulai terjadinya: sejak trimester pertama kehamilan
berlanjut trimester kedua dan sampai bulan terakhir kehamilan biasanya kontraksi ini sangat jarang dan
meningkat pada satu atau dua minggu sebelum persalinan. Pemeriksaan dengan palpasi bimanual pada
trimester kedua.
2.Serviks
Satu bulan setelah konsepsi serviksa akan menjadi lunak dan kebiruan. Perubahan ini terjai akibat
penambahan vaskularisasi dan terjadinya edema pada seluruh servis, bersamaan dengan terjadinya
hipertrofi dan hyperplasia pada kelnejar serviks.
Relaksin suatu hormone dgn struktur kimia mirip insulin yang disekresikan oleh korpus
luteum,desidua,plasenta dan hati. Fungsinya adalah untuk proses remodeling jar ikat sal reproduksi shg
dapat mengakomodasi kehamilan dan keberhasilan proses persalinan.
3. Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan berhenti dan pematngan folikel baru juga ditunda.
4.Vagina dan perineum
Tanda Chadwick: vagina yang terlihat berwarna keunguan karena meningkatnya vaskularisasi
dan hyperemia.
Dinding vagina lebih panjang, mukosa lebih tebal dan hipertrofi otot polos.
Peningkatan sekresi vagina yang berwarna keputihan dan pH 3.5-6.
5.Kulit
Striae gravidarum:
18

striae kemerahan: perubahan warna kulit ddg perut menjadi kemerahan dan kusam.
striae perak berkilau yang merupakan sikatrik dari stria sebelumnya: banyak terjadi pada kehamilan
multipara.
Garis tengah perut (linea alba) menjadi hitam coklat (linea nigra)
Chloasma atau melasma gravidarum
Pigmentasi kulit berlebihan terutama sekiutar aerola mamae dan daerah genital.
6. Payudara

Siklus haid
Seorang wanita haid mulai tanggal 1-6 ( 7 hari) setelah itu saat hari ke 7-hari ke 13 merupakan awal dari
fase folikularnya dimana FSH dan LH akan meninggi bertahap dan memacu berkembangnya folike.
Folikel yang berkembang menghasilkan estrogen yang memuncak pada hari ke-13. Estrogen yang
memuncak akan mengakibatkan lonjakan LH setelah itu (adaa yg bilang 8 jam kemudian, ada juga yang
16-24 jam kemudian setelah lonjakan LH) terjadilah ovulasi(pemecahan folikel) yang terjadi pada hari
ke-14nya. Setelah itu hari ke-15 mulailah fase luteal dimana, folikel mejadi korpus luteum menghasilkan
estrogen dan progesterone bila tidak ada pembuahan maka e dan p akan menghambat FSH dan LH
sehingga korpus luteum menjadi korpus albikan yang terjadi pada hari ke -26-28 namun bila ada
pembuahan, maka korpus luteum akan dipertahankan oleh HCG dari sinsitiotrofoblas.
Masa subur wanita ialah kira2 saat pemecahan folikel (ovulasi) diperkirakan 48 jam sebelum ovulasi dan
24 jam setelah ovulasi. Ovulasi umumnya terjadi 142 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang.
Jadi misalkan bulan depan haid wanita akan datang tanggal 1 bulan april maka masa subur wanita itu
ialah tgl 15-19 maret. (31-14=17, 172. 15-19).
Fisiologi Persalinan Normal
Partus adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina atau jalan
lain.
a. Partus normal/biasa: partus per vaginam, presentasi kepala dengan penunjuk UUK, tanpa bantuan
alat/pertolongan istimewa, tidak melukai ibu maupun bayi (kec episiotomy), berlangsung < 24
jam.
b. Partus abnormal: bisa pervaginam namun dengan bantuan tindakan atau alat (ekstraksi cunam,
vakum, versi ekstraksi, dekapitasi, embriotomi) atau per abdominam (SC)
Sebab terjadinya persalinan:
Dua teori utama:
1. Corticotropin releasing hormone yang diproduksi oleh plasenta masuk ke dalan sirkulasi janin
dan menstimulasi pembentukan hormone ACTH janin, hormone ACTH menstimulasi
19

pembentukan kortisol yang berikatan dengan reseptor glukokortikoid plasenta yang akan
menghambat efek inhibisi dari hormone progesterone
2. Setengah masa pertama kehamilan, aksis hipotalamus-pituitari-adrenal dihambat karena
adanya influks kortisol dari ibu, namun pada setengah masa kedua kehamilan, terjadi
peningkatan produksi estrogen yang meningkatkan enzim plasenta 1b hidroksisteroid
dehidrogenase menyebabkan terjadinya peningkatan ACTH janin, kortisol dan DHEA sulfat
Kesimpulan: Kedua teori di atas sama-sama hasil akhirnya ialah peningkatan ACTH, kortisol,
DHEA sehingga menyebabkan peningkatan estrogen-> peningkatan prostaglandin, oksitosin,
reseptor oksitosin yang akan memicu terjadinya persalinan. Jadi sebenarnya persalinan bukan
karena hormone P dan E yang turun mendadak, bahkan sebenarnya hormone P itu baru turun
setelah plasenta lahir, jadi sebenarnya karena efek dari hormone kortisol yang menghambat efek
inhibisi dari progesterone dan hormone E justru meningkat.
Faktor utama penentu persalinan: (3P)
a. Power: kontraksi ritmis otot polos dinding uterus, dimulai dari fundus uteri (namun diperiksa di
daerah umbilical karena lebih tipis jadi memudahkan). His disebabkan karena: kerja hormone
oksitosin, regangan dinding uterus, rangsangan terhadap ganglion servikalis pleksus
frankenhauser oleh masssa konseptus. His yang baik dan ideal: berlangsung 4 kali dalam 10
menit dengan frekuensi 40-60 detik, makin lama, makin kuat, makin sering, terasa nyeri. .
Kenapa nyeri terjadi setiap saat muncul his??? Jawab: terjadi iskemia dinding korpus
menstimulasi serabut saraf pleksus hipogastrik dan dilanutkan ke pusat, peregangan vagina, jar
lunak rongga panggul merangsang nyeri, stress yang merangsang mediator prostaglandin.
b. Passage: keadaan jalan lahir.
c. Passanger: keadaan janin (letak,presentasi,berat janin, kelainan anatomic)
d. Faktor P lainnya: psikologi, physician, position.
Tanda Inpartu: kontraksi uterus yang menyebabkan perubahan serviks (minimal 2 kali dalam 10 menit),
bloody show, OUI dan OUE terbuka sehingga servis menipis dan mendatar (effacement).
Mekanisme persalinan:
Persalinan kala Satu
Dimulai: saat mulai adanya pembukaan serviks yang disebabkan oleh his
Diakhiri: pada saat pembukaan lengkap
a. Inpartu kala 1 fase laten: pembukaan 1cm-3 cm (berlangsung 8 jam)
b. Inpartu kala 1 fase aktif: pembukaan 4cm-10cm (tp kalo 10 cm uda masuk kala 2 loh)
berlangsung 6 jam
1. Fase akselerasi (2 jam): 4cm
2. Fase dilatasi maksimal (2 jam): 5cm-9cm
3. Fase deselerasi(2 jam): 9cm-10cm.
Perbedaan dalam kala 1 pada primi dan multigravida
20

Primigravida Multigravida
Penipisan serviks dulu baru disusul pembukaan Karena serviks memang sudah lunak karena
persalinan sebelumnya, maka penipisan dan
pembukaan terjadi bersamaan
OUI terbuka dulu baru disusul OUE OUI dan OUE membuka bersamaan
Waktu 20 jam (buku cakul), 12 jam (buku
obgynacea)
Waktu 14 jam (buku cakul), 8 jam (buku
obgynacea).

Persalinan kala dua
Dimulai: pembukaan lengkap (10 cm)
Diakhiri: bayi lahir lengkap
Lama kala 2 primi: 1,5 jam, pada multi: 0,5 jam.
Selaput ketuban pecah pada akhir kala 1 atau bisa juga pada awal kala 2.
His menyebabkan terjadinya penurunan kepala bayi masuk ke panggul. Disebut H I (bila kepala masih
tinggi, meski sudah masuk PAP, namun bagian terbesar kepala belum masuk PAP, kalo H III+ (kepala
dengan bagian terbesarnya sudah masuk PAP), kepala H IV (kepala di perineum uda keliatan).
Gerakan/maneuver pengeluaran janin dengan letak belakang kepala:
1. Kepala masuk PAP: sumbu kepala janin bisa tegak lurus dengan PAP (sinklitismus) atau miring
membentuk sudut dengan PAP (Asinklitismus, asinklitismus anterior menurut Naegele bila arah
sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dengan PAP, asinklitismus posterior menurut
Litzman bila keadaan sebaliknya. Keadaan asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada
yang posterior karena ruangan pelvis posterior lebih luas dari yang di anterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat: tekanan his dari fundus, tekanan cairan amnion,
mengejan (kontraksi otot dinding perut dan diafragma).
3. Fleksi: kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter
oksipito-frontale menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam): UUK berputar kearah depan, membawa kepala melewati
distansia interspinarum atau bagian tersemoit dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi: setelah kepala mencapai vulva dan oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian
posterior, kemudian lahir berturut: oksiput, bregma, dahi, mulut, hidung, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar): kepala berputar kembali sesuai sumbu rotasi tubuh, bahu
masuk PAP dengan posisi anteroposterior, lahirkan bahu depan baru bahu belakang.
7. Ekspulsi: bagian badan dan kaki.
Persalinan kala tiga
Setelah bayi lahir, karena pengaruh his menyebabkan uterus mengecil sehingga perlekatan plasenta akan
terlepas. Melepasnya plasenta dari dinding uterus ini dapat dimulai dari:
a. Tengah (sentral) menurut Schultze
b. Pinggir menurut Mathew Duncan
21

c. Kombinasi keduanya.
Lama kala tiga: 6-15 menit, TFU setelah kala tida normalnya turun menjadi 2 jari di bawah pusat.
Persalinan Kala empat:
Observasi 2 jam post partum (I jam pertama tiap 15 menit dan jam kedua tiap jam). Yang diobservasi:
TD, nadi, TFU, kontraksi u.terus, kandung kemih, perdarahan.
Kelahiran spontan (menurut Wiliams)
1. Kontraksiperineum menonjol dan vulva membuka, awal bentuk oval hingga akhirnya cincin
vulva melingkari diameter terbesar kepala janin (crowning)
2. Maneuver Ritgen: saat kepala mulai terlihat membuka perineum dan vulva, satu tangan yang
terbungkus handuk memberi penekanan ke depan pada dagu janin melalui perineum sementara
tangan yang satu memberi penekanan di atas pada oksiput. Tujuannya ialah mengendalikan
kelahiran kepala dan membantu proses ekstensi.
3. Setelah kepala lahir cek apa ada lilitan.
4. Pelahiran bahu: setelah kepala lahir, bayi mengadakan rotasi eksterna sehingga bahu melewati
PAP dengan diameter AP. Pegang kepala dengan kedua tangan lalu lakukan traksi kea rah bawah
sampai bahu anterior terlihat di bawah arkus pubis dan kemudian traksi ke atas untuk melahirkan
bahu posterior.
5. Setelah bayi sepenuhnya lahir, suntikkan oksitosin lalu suction mulut dan hidung bayi.
6. Jepit tali pusat (klem 1 pada 2-3 cm dari abdomen janin dan klem 2 pada 4-5 cm dari abdomen
janin) lalu potong di tengahnya.
7. Pada kala 3: jangan tarik tali pusat sebelum adanya tanda2 pelepasan plasenta karena bisa
terjadinya inversion uteri. Tanda pelepasan : uterus menjadi globular dan kencang, sering ada
pancaran darah mendadak, tali pusat keluar lebih panjang.
Hubungan antara fetus dengan jalan lahir
Proses akomodasi
Dengan terbentuknya segmen bawah rahim, maka pada akhir kehamilan, bentuk uterus menjadi lonjong
dengan ukuran atas bawah lebih panjang daripada ukuran melintang dan fundus uteri akan lebih lebar
daripada segmen bawah uterus. Hal ini akan mempengaruhi kedudukan janin untuk dapat
mengakomodasikan diri dengan bentuk uterus, dimana bokong dan tungkai bawah yang lebih besar
ukurannya disbanding kepala akan menempati bagian yang lebih luas yakni di fundus uteri, sehingga
presentasi kepala akan lebih banyak ditemukan.
Sikap (habitus)
Adalah hubungan bagian2 janin yang satu dengan bagian janin yang lain, biasanya terhadap tulang
punggungnya. Sikap janin yang fisiologis ialah: badan dalam keadaan kifosis sehingga punggung menjadi
konveks
PARTUS LAMA
22

Persalinan lama, disebut juga distosia.
Klasifikasi persalinan lama itu bergantung pada terjadinya kelainan pada kala dalam persalinan:
a.Kelainan pada kala 1 persalinan
Inpartu kala 1 fase laten memanjang: apabila lama fase laten > 20 jam pada primi dan > 14 jam
pada multipara (ni pengertian menurut obstetric Williams). Menurut buku obgynacea bila
pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur.
Inpartu kala 1 fase aktif memanjang: dibagi menjadi 2:
a. Protraction disorders (kelainan perlambatan): kecepatan pembukaan atau penurunan yang
lambat, untuk nulipara kecepatan pembukaan <1,2 cm/jam atau penurunan < 1cm/jam. Untuk
multipara kecepatan pembukaan <1,5cm/jam atau penurunan <2 cm/jam.
b. Arrest disorders (kelainan macet): terhentinya secara total pembukaan atau penurunan.
Kemacetan pembukaan bila tidak ada perubahan serviks dalam 2 jam
Kemacetan penurunan: bila tidak ada penurunan janin dalam 1 jam.
b.Kala II lama: bila pembukaan serviks telah lengkap, ibu ingin mengejan, sudah dipimpin (primi>2jam,
multi>1 jam) ternyata bayi belum juga lahir.
Sebab terjadinya partus lama:
a. Kelainan his
Kelainan his adalah suatu keadaan dimana his tidak normal baik dalam kekuatan maupun dalam
sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. His normal /adekuat bila 3-5x/10 detik,
lamanya 40-60 detik, dengan tekanan intrauterine 40-60 mmHg.
Klasifikasi:
1. Inersia uteri (hypotonic uterine contraction): inersia uteri primer bila kontraksi uterus lebih
aman, lebih singkat, dan jarang daripada biasa. Inersia uteri sekunder bila inersia timbul setelah
sebelumnya ada kontraksi uterus yang adekuat dan berlangsung lama. Penyebab: panggul sempit,
kelainan letak kepala, penggunaan analgesi terlalu cepat, hidramnion, gemeli, perasaan takut ibu,
salah pimpinan persalinan. Penanganannya:
Segera periksa keadaan serviks,presentasi serta posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul,
dan keadaan panggul.
Bila kemungkinan CPD/panggul sempitSC
Bila tidak ada CPD, persalinan pervaginam. Kosongkan kandung kemih,
Lakukan induksi persalinan.

AKSELERASI PERSALINAN
Sebenarnya di klinik sering salah kaprah. Induksi persalinan ialah merangsang uterus untuk
memulai terjadinya kontraksi. Sedangkan akselerasi persalinan/augmentasi ialah meningkatkan
frekuensi, lama, dan kekuatan kontraksi uterus dalam persalinan.
Syarat induksi persalinan: ukuran panggul normal, tidak ada CPD, presentasi kepala, nilai
pematangan serviks.
23

Menilai pematangan serviks dengan skor Bishop
0 1 2
1.Pembukaan serviks (cm) 0 1-2 3-4
2.Penipisan serviks 0-30% 40-50% 60-70%
3.Penurunan HII HII-HIII HIII
4.posisi serviks Posterior (belakang) Medial (kea rah
sumbu jalan lahir)
Anterior (depan)
5.Konsistensi serviks Keras Sedang lunak
Bila skor 4 maka matangkan serviks (ripening) dahulu dengan misoprostol
Skor 5 induksi dengan oksitosin.
Indikasi induksi:
a. Kehamilan serotinus
b. KPD
c. IUFD
d. PEB atau eklampsia yg tidak membaik dengan pengobatan medisininal
e. PAP yang bukan oleh PP
f. Infeksi maternal
g. Kehamilan dengan DM
h. Tanda polihidramnion
Kontraindikasi induksi:
a. Malpresentasi/malposisi janin
b. Insfufisiensi plasenta
c. Plasenta previa
d. Makrosomia
e. Hidrosefalus
f. Gawat janin
g. CPD
h. Bekas SC atau miomektomi
i. Ibu menderita penyakit jantung
j. Grandemultipara (5 anak)
k. Overdistensi uterus: gemeli dan hidramnion

Cara induksi:
1. Manipulasi/tindakan:
a. Amniotomi: penurunan kepalamenekan pleksus Frankenhauserprostaglandinhis
Cara melakukan:
jari telunjuk dan jari tengah kanan dimasukkan ke dalam jalan lahir sampai
sedalam kanalis servikalis
Posisi jari diubah sehingga telapak tangan menghadap ke atas
Tangan kiri kemudian memasukkan pengakit khusus ke dalam jalan lahir dengan
tuntunan kedua jari yang telah ada di dalam
Ujung pengait diletakkan di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan yang di
dalam.
24

Tangan yang diluar kemudian memanipulasi pengait khusus untuk dapat
menusuk dan merobek selaput ketuban.
Komplikasi amniotomi: infeksi, prolaps funikuli, gawat janin, solusio plasenta.
b. Striping of the membrane: melepaskan selaput ketuban dari bagian terbawah rahim
Cara melakukan:
Jari masuk ke dalam kanal servikalis
Melepas selaput ketuban dari dinding SBR secara menyeluruh setinggi mungkin
dan memisahkan membrane dengan susuran 360 derajat.
Diharapkan bersamaan dengan turunnya kepala dan lepasnya selaput ketuban,
selaput ini akan menonjol dan akan menekan pleksus Frankenhauser
c. Kombinasi
d. Pemakaian rangsang listrik
e. Rangsang putting susu (hipofisis posterioroksitosin)
f. Dilatasi serviks dengan batang laminaria (dilator serviks higroskopik) atau kateter foley

2. Medikasi (obat-obat uterotonika)
a. Prostaglandin E2
Sangat efektif untuk pematangan serviks. Pemberian tablet vagina (cervidil) (3 mg)
dimasukkan ke dalam forniks posterior. Dapat diulang 6 jam kemudian bila his tidak
muncul.
b. Misoprostol (prostraglandin E1)gastrul atau cytotec
Satu tablet (200mcg). Dosis pemberian 25 mcg (1/8 tab) ke dalam forniks posterior, bila
dengan dosis 2x25mcg belum terdapat kontraksi uterus, berikan ulang dengan dosis
50mcg. Pemberian misoprostol maksimum ialah 4x50 mcg (200mcg).
c. Oksitosin
Oksitosin drip. Ambil 5 IU oksitosin (1/2 amp) ke dalam D5%. Lalu mulai drip dari 8
tpm, naikkan per 15 menit/30 menit (tergantung dokter Sp.OG). sampai his adekuat dan
pertahankan (dosis maksimum 40tpm). Pengawasan cermat DJJ dan hisnya. Kemudian
bila belum his adekuat dan infuse D5 sudah habis, mulai kolf ke II dengan oksitosin 5IU
langsung 40 tpm. Bila juga masih belum adekuat, maka pasien diistirahatkan. Besoknya
mulai lagi induksi oksitosin ronde ke-2 kolf pertama, dimulai induksi dari awal. Nah
kapan dikatakan gagal induksi???
2. His yang terlampau kuat atau hypertonic uterine contraction: his yang terlampau kuat ini
dapat menyebabkan terjadinya partus presipitatus. Partus presipitatus ialah partus yang sudah
selesai kurang dari 3 jam. Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada
jalan lahir. Bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami
tekanan kuat dalam waktu yang singkat. Selain itu lingkaran retraksi patologik (lingkaran Bandl
yaitu batas antara bagian atas dan segmen bawah rahim) akan makin jelas dan meninggi,
ligament rotundum menjadi tegang, penderita merasakan nyeri. Bila tidak segera diberi
pertolongan maka regangan SBR akan melampaui kekuatan jaringan sehingga dapat
menyebabkan rupture uteri.
Penanganannya: bila penyebabnya ialah hiperstimulasi dari oksitosin (his lebih dari 60 detik dan
frekuensi >4 kali) maka berikan B2 agonis untuk relaksasi uterus: terbutalin 250 mcg IV perlahan
selama 5 menit atau salbutamol 5 mg dalam 500 mL cairan RL 10 tpm.
25

3. Incoordinate uterine action
Tidak adanya sinkronisasi bagian2 uterus saat terjadinya kontraksi. Tidak ada koordinasi bagian
atas, tengah, bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. Salah satu
akibat dari incoordinate uterine action ini ialah terjadinya distosia servikalis primer yaitu
persalinan yang tidak maju karena kelainan pada serviks yang tidak membuka dan tidak
mengadakan relaksasi akibat his yang tidak terkoordinasi. Sementara distosia servikalis sekunder
disebabkan karena kelainan organic pada serviks.

b. Kelainan janin (distosia karena kelainan janin)
Persalinan lama/distosia yang disebabkan karena kelainan presentasi, posisi, dan perkembangan janin
intrauterine.
1. Kelainan presentasi: presentasi muka dan dahi.
2. Kelainan letak: letak lintang
3. Kelainan posisi: akibat dari kegagalan putaran paksi dalam: dimana saat PPD hanya 45 derajat
sehingga terjadi posisi oksipital posterior persisten. Atau saat PPD tidak sempurna sehingga
terjadi UUK kiri atau kanan lintang (deep transverse arrest).
4. Kelainan perkembangan janin: ukuran janin (dari ukuran kepala janin dan ukuran janin yang lain
tapi hanya dengan USG, jadi biasanya menggunakan Taksiran Berat Janin).
5. Janin hidrosefalus: BPD normal pada kehamilan aterm ialah 32-38 cm, pada hidrosefalus BPD
dapat mencapai 50 cm bahkan 80 cm.
6. Pembesaran abdomen janin: karena VU penuh, pembesaran ginjal atau hepar, asites.

c. Kelainan jalan lahir
d. Kelainan penolong: salah pimpinan.

PARTUS KASEP
Partus kasep adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung
lama sehingga timbul komplikasi pada ibu dan anak. Jadi sederhananya partus kasep bila partus lama
disertai dengan penyulit.
Penyulit tersebut antara lain:
a. Kelelahan pada ibu. Tanda kelelahan dan intake yang kurang: dehidrasi, meteorismus, his
lemah/hilang, oligouria
b. Infeksi intrauterine: air ketuban keruh/hijau, suhu >37,5
c. Ruptur uteri membakat
d. Penekanan jalan lahiredema
e. Gawat janin atau kematian janin.

kelainan pada lamanya kehamilan (preterm dan postterm)
26

Persalinan preterm
Istilah:
Bayi premature: bila usia gestasinya kurang dari 37 minggu.
BBLR: bila berat badan bayi lahir 2500 gram atau kurang dari itu
KMK (kecil masa kehamilan): jika terjadi ketidaksesuaian berat badan dengan usia gestasinya,
misal akibat IUGR.
Selebihnya baca di buku kebidanan halaman 667 dan cakul FKUI halaman 120).
Kehamilan postterm
Definisi: kehamilan lebih dari 42 minggu, jadi 43 minggu udah dibilang postterm. Tapi ada buku sarwono
bilang kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama
haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata2 28 hari. (WHO 1977, FIGO 1986).
Selebihnya baca di buku sarwono halaman 685 dan cakul FKUI halaman 123.
NIFAS (FISIOLOGI DAN PATOLOGI)
Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.
Perubahan alat genital (genital interna dan eksterna) yang terjadi saat nifas disebut involusi. Hal ini
meliputi:
1. Uterus:
a. Setelah janin dilahirkan tinggi fundus uterus setinggi pusat
b. Setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat
c. Pada hari ke-5 postpartum tinggi fundus uteri 7 cm di atas simfisis
d. Pada hari ke-12 uterus tidak dapat diraba lagi di atas simfisis
e. Berat uterus gravidus aterm kira-kira 1.000 g. satu minggu pascapersalinan, menjadi kira-kira
500 g, 2 minggu pascapersalinan 300 g, dan dan setelah 6 minggu pascapersalinan 40 sampai
60 g (berat uterus normal kira-kira 30 g).
2. Serviks:
Serviks agak terbuka seperti corong pada pascapersalinan dan konsistensinya lunak. Segera
setelah melahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri, setelah dua
jam hanya dapat dimasukkan 2-3 jari, dan setelah satu minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari.
3. Endometrium:
a. Mengadakan regenerasi lengkap + 3 minggu postpartum
b. Timbul Trombosis, Degenerasi, dan nekrosis ditempat implantasi plasenta regenerasi + 6
minggu
4. Vagina:
a. Meregang terutama pada rugaae, kembali normal setelah 3 minggu.
5. Ligament, fascia, jaringan penunjang alat genital:
a. Meregang dan kembali normal setelah dilakukan latihan tertentu
6. Lokia: sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas
27

a. Hari pertama dan kedua: lokia rubra atau kruenta terdiri darah segar bercampur sisa selaput
ketuban sel-sel desidue, sisa verniks kaseose, lanugo dan mekoneum.
b. Hari ke-3 sampai ke-7: lokia sanguinolenta yang tdd darah bercampur lendir.
c. Hari 7 sampai 14; cair tidak berdarah lagi warna agak kekuningan.
d. Setelah 2 minggu: lokia alba berupa cairan putih.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada masa nifas:
1. KU ibu
2. Keadaan payudara dan putingnya
3. Ada tidaknya ASI
4. Tinggi fundus
5. Adanya lokia
6. Keadaan perineum
7. BAB (defekasi harus ada dalam 3 hari, bila tidak ada beri laksantiva) dan BAK
Perawatan masa nifas:
1. Perawatan laserasi jalan lahir/bekas episiotomy
2. Perawatan payudara (menjaga payudara tetap bersih dan kering, gunakan BH yang menyokong
payudara, bila putting lecet oleskan ASI atau kolostrum, beri parasetamol bila payudara nyeri
3. Diet makanan bergizi (cukup protein, kalori, KH).
Masalah yang terjadi pada masa nifas:
1.INFEKSI NIFAS
Definisi: infeksi pada dan melalui traktus genitalis, ditandai dengan kenaikan suhu tubuh tanpa sebab
ekstragenital (suhu 38 atau lebih yang terjadi antara hari ke-2 sampai 10 postpartum dan diukur peroral
sedikitnya 4 kali sehari.
Diagnosis febris pasca persalinan
Kemungkinan diagnosis Gejala dan tanda yang
selalu didapat
Gejala lain yang
mungkin didapat
Penatalaksanaan
Metritis
(Endometritis/Endomiot
ritis): infeksi uterus
postpartum
Nyeri perut bagian bagian
bawah
Lokhia yang purulen dan
berbau
Uterus tegang dan
subinvolusi
Perdarahan
pervaginam
Syok
Peningkatan leukosit
1.Antibiotika broad
spectrum (ampisilin,
gentamisin,
metronidazole)
2. profilaksis
antitetanus
3. evakuasi sisa hasil
konsepsi
4. pusdrainase
Abses pelvik Nyeri perut bagian bawah
Pembesaran perut bagian
bawah
Demam yang terus menerus
Dengan antibiotic
tidak membaik
Pembengkakan pada
adneksa atau kavum
Douglas
1.Kolpotomi
2.Antibiotik spectrum
luas
28

Bendungan payudara:
peningkatan aliran vena
dan limfe pada
payudara dalam rangka
mempersiapkan diri
untuk laktasi. Bukan
karena overdistensi dari
saluran laktasi
Nyeri payudara dan tegang Payudara yang
mengeras (kedua
payudara) dan
membesar. Biasanya
terjadi pada 3-5 hari
PP
1.Susukan sesering
mungkin dengan
kedua payudara
2.Kompres hangat dan
bantu dengan
pemijatan sebelum
menyusukan
3. sangga payudara
4.Kompres dingin
pada payudara di
antara waktu menyusui
5. Bila perlu beri
parasetamol 500 mg
peroral tiap 4 jam.
Mastitis Nyeri payudara dan
tegang/bengkak
Ada inflamasi yang
didahului bendungan
Kemerahan yang
batasnya jelas pada
payudara
Biasanya hanya satu
payudara
Biasanya terjadi 3-4
minggu PP
1.Beri kloksasilin 500
mg/6 jam, 10 hari.
2. Kompres dingin
3.Beri PCt tab
4.Terus susukan bayi
meski ada pus
Abses payudara Payudara yang tegang dan
padat
Kemerahan
Pembengkakan dengan
ada fluktuasi
Mengalir nanah
1.Anestesi umum
2.Insisi radial dari
tengah dekat pinggir
areola, ke pinggir
supaya tidak
memotong saluran ASI
3. Pecahkan kantung
pus dengan tissue
forceps atau jari
tangan
4. Pasang tampon dan
drain, angkat setelah
24 jam.
5. setelah itu
penanganannya sama
dengan mastitis.
Infeksi pada luka
perineal atau abdomen
(selulitis)
Nyeri pada luka/irisan dan
tegang/indurasi
Luka/irisan pada perut
dan perineal yang
mengeras/indurasi
Keluar pus
Kemerahan
Infeksi superficial
Infeksi dalam
Tromboflebitis:
perluasan infeksi nifas
berupa invasi
mikroorganisme yang
mengikuti sepanjang
aliran darah di

29

sepanjang vena dan
cabang2nya.
Ada 2 macam:
1.Pelviotromboflebitis:
mengenai vena dinding
uterus dan ligament
latum, yaitu vena
ovarika, vena uterine,
dan vena hipogastrika.
2. Tromboflebitis
femoralis: mengenai
vena-vena pada tungkai,
misalnya vena
femorlais, vena
poplitea, dan vena
safena.


Kelainan pada masa nifas yang lain:
Masalah pada post anestesi
Perdarahan post partum
Eklampsia dan pre eklampsia (PE)
Infeksi nifas pada Genitalia
Kelainan tromboemboli
Kelainan pada Traktus Urinarius
Kelainan & penyakit lain dalam nifas
Premature aterm postmature


Dari tabel dapat dilihat:
a. Premature: 20 minggu 37 minggu
b. Aterm: 37 minggu lebih 1 hari 41 minggu lebih 6 hari
c. Postmature: 42 minggu sampai seterusnya
PERSALINAN PRETERM
Persalinan premature merupakan persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan 20-37 minggu
dihitung dari HPHT.
20 37 42
30

Kesulitan dari persalinan premature ini ialah tingginya angka morbiditas dan mortalitas dari bayi yang
dilahirkannya. Makin kecil uk dan makin kecil BBL maka resiko semakin meningkat.
Penyebabnya: bisa karena perdarahan kehamilan muda maupun kehamilan lanjut, KPD, overdistensi pada
gemeli dan polihidramnion, kondisi ibu (preklampsia, infeksi, stress, trauma dll)
Kriteria diagnosis:
1. Kontraksi yang berulang2-3 kali dalam 10 menit
2. Ada pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50-80%.
3. Blood slym
4. Pecahnya ketuban
Penatalaksanaan:
Memperhatikan untung dan rugi, apa kehamilan akan dipertahankan atau tidak.
Menghambat persalinan untuk memperpanjang kehamilan dan menunda persalinan hingga
atermpemberian tokolitik
Menghambat persalinan selama 48-72 jam dan mencoba mempercepat kematangan paru janin
agar risiko sindrom gawat napas dapat dikurangi beri injeksi kortikosteroid 2 x 2ampul IM
Membiarkan persalinan berlangsung dengan anggapan bahwa terapi tokolisis tidak berguna bagi
ibu dan janin yang akan lahir, atau karena ada indikasi kontra terhadap obat tokolisis.
TOKOLISIS
Adalah obat penghambat kontraksi uterus yang digunakan untuk menunda persalinan premature.
Jenis tokolitik yang dapat digunakan:
a. Magnesium sulfat
b. Golongan B mimetic (B2 agonis): terbutalin, salbutamol
c. Antiprostaglandin: intometasin
d. Duvadilan (isoxsuprine Hcl): juga termasuk B agonis adrenergic. (kalo di buku PDTduvadilan
4 ampul dalam D5%, mulai 10 tpm, naikkan 10tetes/menit maksimum 50 tpm. Tapi ada juga yg
bila mulai 12 tpm, naikan 4 tpm, maksimum 40 tpm).
e. Allylestrenol (pregtenol, premastone): meningkatkan kadar hormone progesterone,
f. Sintetik hormone progesterone: duphaston dan cygest
g. Nifedipin: 3x30 mg (hari 1), 3x20 mg (hari 2), 3x10 mg selanjutnya
Kontraindikasi tokolisis:
a. Infeksi intrauterine
b. Solusio plasenta
c. Lethal fetal malformasi
d. IUFD

31

KEHAMILAN POSTTERM
Definisi: lama kehamilan yang berlangsung 42 minggu lengkap atau lebih.
Patofisiologi:
Fungsi plasenta mencapai puncak pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama
setelah 42 minggu . Hal ini dibuktikan dari penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Hal ini
menyebabkan perubahan pada plasenta:
Penurunan diameter dan panjang vili korialis
Nekrosis fibrinoid
Arterosis pembuluh darah desidua dan korion.
Penimbunan kalsium
Infark.
Efeknya penurunan fungsi plasenta pada janin:
Janin kekurangan nutrisi/oksigen
Sindroma postmaturitas: ada 3 stadium:
Stadium 1: kulit kering keriput, kuku tangan dan kaki panjang, hilang verniks kaseosa dan
lanugo, maserasi pada lipat paha dan genital luar, rambut tebal.
Stadium 2: gejala di atas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit
Stadium 3: disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit, tali pusat.
Gawat janin atau kematian perinatal: dapat disebabkan karena makrosomia (akibat distosia saat
persalinan), oligohidramnion (terjadi penekanan tali pusat).
Diagnosis dan pemeriksaan:
1.Pemeriksaan umur kehamilan
Riwayat mestruasi (HPHT)
Riwayat pemeriksaan antenatal:
Biasanya pasien akan melakukan tes imunologik apabila telah terlambat 2 minggu, sehingga uk
ialah 6 minggu saat itu. Jadi bisa dikatakan posterm bila telah lewat 36 minggu sejak tes
kehamilan positif.
Gerak janin (quickening): umumnya ibu merasakan gerakan janin pertama kali pada uk 18-20
minggu. Pada primi (18 minggu) dan multi (16 minggu). Jadi penunjuk postterm bila telah lewat
24 minggu pada primi dan 26 minggu pada multi.
DJJ: dengan stetoskop Laenec, DJJ dapat didengar pad auk 18-20 minggu, dengan Doppler
dapat terdengar pad auk 10-12 minggu.
pemeriksaan USG: pada trimester pertama (periksa CRLketepatan 4 hari dari TP), pada
minggu 16-26 (BPD dan FLketepatan 7 hari dari TP), trimester ketiga (uda gak akurat untuk
menentukan TP, lebih digunakan utk menentukan berat janin, keadaan air ketuban, atau keadaan
plasenta)
2. Penentuan fungsi plasenta atau keadaan janin. Cara: pantau DJJ dengan NST dan OCT
32

Penatalaksanaan:
1. Setelah diagnosis ditegakkan, pantau kesejahteraan janin melalui pemeriksaan NST maupun
OCT.
2. Pemeriksaan USG untuk menentukan besar janin, DJJ, gangguan pertumbuhan janin, keadaan dan
derajat kematangan plasenta, jumlah (indeks cairan amnion) dan kualiutas air ketuban.n
3. Pada dasarnya penatalaksanaan kehamilan serotinus adalah merencanakan pengakhiran
kehamilan.
4. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari kesejahteraan janin dan skor pelvic:
a. Bila NST reaktif
PS 5 drip oksitosin
PS <5 matangkan serviks dengan misoprostol
b. Bila NST tidak reaktif (ada tanda insufisiensi plasenta)SC
Persalinan sungsang
Jenis pimpinan persalinan sungsang:
a. Persalinan pervaginam. Berdasarkan tenaga yang dipakai, persalinan dibagi 3:
1. Persalinan spontandengan tenaga ibu sendiri (cara Bracht)
2. Manual aid (partial breech extraction)sebagian dengan tenaga ibu dan sebagian dengan
tenaga penolong
3. Ekstraksi sungsang (total breech extraction)seluruhnya dengan tenaga penolong
b. Persalinan perabdominam
Persalinan Spontan (Bracht)
A.Tahapan
Tahap pertama (fase lambat): mulai lahirnya bokong sampai pusar (scapula depan)
Tahap kedua (fase cepat): mulai dari lahirnya pusar sampai mulut. Disebut fase cepat karena pada
fase ini kepala mulai masuk ke PAP, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. Oleh karena itu
fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat segera dilonggarkan.
Tahap ketiga (fase lambat): mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala lahir. Disebut fase lambat
karena kepala akan keluar dari uterus yang bertekanan tinggi de dunia luar yg bertekanan rendah,
shg kepala harus dilahirkan secara perlahan utk mencegah terjadinya perd intracranial (rupture
tentorium serebeli).
B. Teknik:
Ibu posisi litotomi, ketika bokong mulai membuka vulva (crowning) dapat dilakukan episiotomy.
Segera setelah bokong lahir (margo inferior scapula), bokong dicengkram secara Bracht, yaitu
kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha, sedangkan jari-jari lain memegang panggul.
Pada setiap his ibu diminta mengejan
Pada waktu tali pusat lahir, regangkan dulu tali pusat
Penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin guna mengikuti gerakan rotasi anterior, yaitu
punggung janin didekatkan ke perut ibu. Inget penolong tidak melakukan tarikan, hanya
33

disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan gerakan hiperlordosis, seorang
asisten melakukan ekspresi kristeller (pada fundus uteri, sesuai dengan sumbu panggul). Tujuan
kristeller: tenaga mengejan lebih kuat, kepala janin tetap fleksi, menghindari ruang kosong antara
fundus dengan kepala sehingga lengan tidak menjungkit.
Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut lahir, pusar, perut, bahu, dan lengan, dagu, mulut, dan
akhirnya seluruh kepala.
Janin yang baru lahir segera diletakkan di perut ibu, seorang asisten menghisap lendir dan
bersamaan itu penolong memotong tali pusat.
C.Keuntungan: tengan penolong tidak masuk (risiko infeksi), cara yang paling mendekati persalinan
fisiologik (mengurangi trauma janin)
D. Kerugian: 5-10% persalinan cara Bracht mengalami kegagalan. Kegagalan karena: panggul sempit,
janin besar, jalan lahir kaku pada primi, lengan menjungkit.
Prosedur Manual Aid (Partial Breech Extraction)
A,Indikasi: bila persalinan secara Bracht gagal waktu melahirkan bahu atau kepala
B. Tahapan:
Tahap pertama: lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan kekuatan tenaga ibu
sendiri
Tahap kedua: lahirnya bahu dan lengan memakai tenaga penolong.
Tahap ketiga: lahirnya kepala.
C.Teknik Melahirkan Bahu dan Lengan:
Klasik (Deventer)
Mueler
Lovset
Bickenbach
C.1. Teknik Klasik:
Prinsip: melahirkan lengan belakang lebih dahulu, karena lengan belakang berada di
ruanagn yang lebih luas, baru kemudian melahirkan lengan depan.
Kedua kaki janin dibawa ke atas perut ibu untuk melahirkan lengan belakang, kemudian
masukkan tangan kiri untuk mengambil lengan bawahnya
Kedua kaki janin didekatkan ke arah punggung ibu untuk melahirkan lengan depan, kemudian
masukkan tangan kiri untuk mengambil lengan bawahnya.
C.2. Teknik Mueler:
Prinsip melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan ekstraksi, baru kemudian
melahirkan bahu dan lengan belakang.
34

Pegang bokong janin secara femuro-pelviks (duimbekken greep) yaitu kedua ibu jari penolong
diletakkan sejajar spina sakralis media dan jari telunjuk pada Krista iliaka dan jari-jari lain
mencengkam paha bagian depan. Dengan pegangan ini, badan janin ditarik ke bawah sejauh
mungkin sampai bahu depan tempak di bawah simfisis, dan lengan depan dilahirkan dengan
mengait lengan bawahnya
Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan janin yang masih dipegang secara
femuro-pelviks ditarik ke atas, sampai bahu belakang lahir, kemudian lengan belakang
dilahiurkan dengan mengait lengan bawahnya.
Keuntungan: tangan penolong tidak masuk ke jalan lahir.

C.3. Teknik Lovset:
Prinsip memutar badan janin dalam setengah lingkaran bolak balik.
Badan janin dipegang secara femuropelviks dan sambil dilakukan traksi curam ke bawah, badan
janin diputar setengah lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi bahu depan. Kemudian sambil
dilakukan traksi, badan janin diputar kembali ke arah yang berlawanan setengah lingkaran,
demikian seterusnya bolak-balik sehingga bahu belakang tampak di bawah simfisis dan lengan
dapat dilahirkan.
Keuntungan: teknik sederhana, jarang gagal, dapat diterapkan pada segala macam letak sungsang,
tangan tidak masuk ke dalam jalan lahir.
C.4. Teknik Bickenbachs:
Kombinasi antara cara Mueler dan cara Klasik.
D.Teknik melahirkan kepala yang menyusul (after coming head)
Mauriceau (Veit-Smellie)
Najouks
Wigand Martin-Winckel
Prague terbalik
Cunam Piper
D.1. Teknik Mauriceau
Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam jalan lahir.
Jari tengah dan jari telunjuk dimasukkan ke dalam mulut, jari keempat mencengkram
fossankanina, sedang jari lain mencengkram leher.
Badan anak diposisikan di atas lengan bawah penolong (janin menunggang kuda)
Dengan jari telunjuk dan jari ketiga tangan penolong yang lain mencengkram leher janin dari arah
punggung.
Kemudian, kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah, tenaga tarikan teutama
oleh tangan yang mencengkram leher dari punggung.
35

Bila suboksiput tampak di bawah simfisis, kepala janin dielevasi ke atas, dengan suboksiput
sebagai hipomoklion sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, UUB, dan
akhirnya seluruh kepala.
D.2. Teknik Naujoks:
Teknik ini dilakukan bila kepala masih tinggi, shg jari penolong tidak dapat dimasukkan ke dalam
mulut janin.
Kedua tangan penolong menarik bahu curam ke bawah. Sementara salah seorang asisten
melakukan dorongan kepala janin ke bawah.
Cara ini tidak lg dianjurkan, bahaya trauma pd sutul daerah leher.
D.3. Teknik Prague terbalik:
Teknik ini dipakai bila oksiput dan UUK berada di belakang dekat sacrum dan muka janin
menghadap simfisis.
Tangan kanan mencengkram leher dari bawah sementara punggung janin pada telapak tangan
kanan.
Tangan kiri memegang kedua pergelangan kaki.
Kaki janin ditarik ke atas bersamaan dengan tarikan pada bahu janin, sehingga perut janin
mendekati perut ibu.
Dengan laring sebagai hipomoklion, kepala janin dapat dilahirkan.
D.4. Teknik dengan cunam piper

CPD
Sebenarnya ada 2 macam disproporsi, yg sebenarnya sih, kurang lebih saja:
a. Disproporsi sefalopelvik (CPD) yang merupakan ketidaksesuaian antara ukuran panggul dengan
ukuran kepala janin
b. Disproporsi fetopelvik (FPD) yang merupakan ketidaksesuaian antara ukuran panggul dengan
ukuran janin.
Antropometri janin
a. kepala janin: bagian tubuh yang paling besar dan paling keras yang akan dilahirkan. Besar dan
posisi kepala janin akan sangat menentukan dan mempengaruhi jalannya persalinan. Kepala
secara garis besar dapat dibagi menjadi tulang tengkorak (cranium), tulang dasar tengkorak (basis
kranii) dan tulang muka. Ukuran diameter kepala bayi yang menentukan di antaranya:
1. suboksipito-bregmatikus (9,5 cm): pada presentasi belakang kepala.
2. Oksipito-frontalis (11,75 cm): pada presentasi puncak kepala
3. Oksipito mentalis (13,5 cm): pada presentasi dahi
4. Submento-bregmatikus (9,5 cm): pada presentasi muka
36

5. Biparietalis (9,5 cm): ukuran terbesar melintang dari kepala
6. Bitemporalis (8 cm): ukuran antara os temporal kiri dan kanan
b. Bagian tubuh janin yang lain: lebar bahu (diameter biacromialis): 12 cm, lingkaran bahu: 34 cm,
lebar bokong (diameter intertrokanterika): 12 cm, lingkar bokong: 27 cm.
Pemeriksaan janin: kalo di klinik karena diameter terbesar kepala janin yang PASTI hanya dapat
diperiksa dengan USG padahal sering tidak ada USG di klinik/puskesmas, maka yang digunakan
untuk menentukan perkiraan imbang fetopelvik dengan berdasarkan nilai TBJ (salah kaprah)
Panggul
Ukuran panggul sebenarnya ada 2 yakni:
a. Ukuran panggul dalam
Seperti sudah dijelaskan pad anatomi panggul, maka dilakukan pemeriksaan pelvimetri klinik untuk
menetukan ukuran rata2 panggul normal dari:
PAP: menentukan konjugata vera
PTP: menentukan diameter interspina
PBP: menentukan diameter intertuber

b. Ukuran panggul luar
Yang diukur sebagai berikut:
Distansia spinarum (24 cm-26cm): jarak antara kedua spina iliaka anterior superior (SIAS)
sinistra dan dekstra
Distansia kristarum (28 cm-30 cm): jarak yang terpanjang antara 2 tempat yang simetris
pada Krista iliaka sinistra dan dekstra.
Distansia oblikua eksterna (ukuran miring luar): jarak antara spina iliaka posterior sinistra ke
spina iliaka anterior superior (SIAS) dekstra dan sebaliknya jarak antara spina iliaka posterior
dekstra ke SIAS sinistra. Keduanya saling bersilang, dan pada panggul normal ukuran
keduanya tidak jauh berbeda.
Distansia intertrokanterika: jarak antara kedua trokanter mayor.
Konjugata eksterna (Boudeloque) 18 cm: jarak antara bagian atas simfisis ke prosesus
spinosus lumbal 5.
Distansia tuberum ( 10 cm): jarak antara tuber iskii kanan dan kiri. Pakai jangka OSeander.
Bila jarak ini kurang dari normal, maka arkus pubis < 90 derajat.
Nah, setelah tau ada 2 ukuran panggul, kita akan berbicara tentang panggul sempit:



37

PANGGUL SEMPIT
Panggul sempit adalah setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul,
sehingga dapat menyebabkan distosia pada persalinan.
Klasifikasi panggul sempit:
a. Kesempitan pada PAP: bila diameter antero-posterior <10 cm atau diameter transversal <12 cm
b. Kesempitan PTP: bila diameter interspina <10 cm atau jumlah diameter interspina ditambah
diameter sagital posterior posterior panggul tengah <13,5 cm (biasanya 10,5+ 5cm)
c. Kesempitan pada PBP: diameter intertuber <10 cm.
d. Kesempitan panggul menyeluruh: kesempitan melalui semua bagian jalan lahir.
Penanganan:
a. Kesempitan PAP dan PTP: SC
b. Kesempitan PBP: episiotomy

Penilaian kapasitas panggul terhadap berat janin lebih tepat disebut sebagai daya akomodasi panggul,
yaitu volume bayi terbesar yang masih dapat dilahirkan spontan dan normal melalui panggul tersebut,
dalam konversinya terhadap gram berat badan.
Normal BB bayi yang dilahirkan seorang ibu adalah antara 2500-4000 gr. >4000 disebut makrosomia dan
<2500 disebut BBLR.
Tinggi ibu juga menentukan (kalo <145 cmkemungkinan bisa terjadi CPD menurut dr Handi.
Jadi kemungkinan diagnosis yang dibuat:
1. Imbang fetopelvik baik: rencana partus pervaginam
2. CPD: SC
3. Suspect CPD: lakukan pendekatan lain misal dengan pemeriksaan radiologic (foto PAP dan foto
lateral) atau dengan partus percobaan.
EKLAMPSIA
Definisi: preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/koma
Eklampsia dapat terjadi pada saat:
a. Eklampsia gravidarum
b. Eklampsia parturuentum
c. Eklampsia puerpuralis (sampai 6 minggu PP, namun umumnya hanya terjadi dalam 24 jam
pertama PP)
Diagnosis:
1. Gejala klinik:
38

Kejang tonik yang berlangsung 15-30 detik pertama (dimulai twitching dari otot muka, otot tubuh
menegang, tubuh menjadi kaku), lalu kejang klonik selama 1 menit (terbuka tertutupnya rahang
dan kelopak mata, kontraksi otot-otot tubuh sehingga penderita dapat jatuh dari bed, mulut
berbusa), kontraksi melemah, penderita koma. Saat kejang TD sangat meningkat, suhu badan
meningkat. Pasien kemudian sadar dan kemudian menjadi gelisah.
2. Lab:
Proteinuria
Fungsi organ hepar, ginjal, jantung.
3. Konsul dengan disiplin lain: meuro, kardio, ophtalmolog.
DD:
1. Febrile convulsion
2. Epilepsi
3. Tetanus
4. Meningitis
Penatalaksanaan:
Prinsip pengobatan:
1. Menghentikan kejang yang terjadi dan mencegah kejang ulangan
2. Mencegah dan mengatasi komplikasi
3. Memperbaiki KU ibu maupun anak seoptimal mungkin
4. Pengakhiran kehamilan/persalinan mempertimbangkan keadaan ibu
Cara penatalaksanaan untuk mengatasi kejang:
a. Untuk mencegah kejang berikan protap MgSO4 seperti pada PEB
b. Bila terjadi kejang ulangan: boluskan iv MgSO4 40% , 2 g (ambil 5 cc) diencerkan 10 cc.
suntikan 5 menit.
c. Bila kejang lagi, berikan pentotal 5 mg/kgBB iv pelan2.
Cara penatalaksanaan untuk mencegah komplikasi:
a. Obat obat antihipertensi (sesuai PEB)
b. Diuretika, hanya atas indikasi:
Edema paru
Kelainan fungsi ginjal (bila faktor pre renal sudah teratasi) diberikan furosemid injeksi 40 mg/im
c. Kardiotonika, hanya atas indikasi:
Ada tanda payah jantung
Edema paru
d. Antibiotika
e. Antipiretika
Xilomidon 2cc/im atau kompres dingin
Cara penatalaksanaan perbaikan KU ibu;
39

a. Obat antihipertensi
b. Bila ada indikasi, pasang CVP untuk pantau keseimbangan cairan, pemberian kalori, koreksi
keseimbangan asam basa.
Cara penatalaksanaan persalinan:
a. Prinsip: semua kehamilan dengan eklampsia harus diterminasi tanpoa memandang kehamilan dan
keadaan janin. Kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi/pemulihan hemodinamik dan
metabolism ibu.
b. Stabilisasi: selambatnya dalam 4-8 jam setelah keadaan berikut:
Setelah pemberian obat anti kejang terakhir
Setelah kejang terakhir
Setelah pemberian obat antihipertensi terakhir
Penderita mulai sadar
Kemudian dilakukan penilaian vital signdapat sistem skormenentukan saat dilakukannya
terminasi.
1.Tekanan darah
Skor 1 (berat)
Skor 2 (sedang)
Skor 3 (ringan)
Sistole
200 atau < 100
140-200
100-140
Diastole
110 atau <50
90-110
50-90
2.Nadi
Skor 1
Skor 2
Skor 3

120 x/m
100-120
80-100

3.Suhu
Skor 1
Skor 2
Skor 3

40
38,5-40
38,5

4.pernapasan
Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 4

40x/m atau <16x/m
Irregular atau abnormal
29-40
16-28

Tingkat kesadaran
Skor 1
Skor 2
Skor 3

GCS 3-4
GCS 5-7
GCS 8

Bila skor total 10segera
terminasi
Bila skor <10tunda persalinan,
tunggu 4 jam, bila gak ada
perbaikan terminasi


Cara penatalaksanaan Terminasi:
a. Pervaginam: induksi bila hasil KTG normal, PS 5
b. SC, atas indikasi:
40

Syarat drip oksi tidak terpenuhi atau ada KI drip
Penderita belum inpartu, PS <5
12 jam sejak dimulai drip oksi, belum masuk fase aktif
Hasil KTG abnormal
Cara perawatan pasca persalinan:
a. Persalinan pervaginam, monitoring TTV seperti biasa
b. Persalinan SC, monitoring TTV di ICU, observasi tingkat kesadaran perjam.
Prognosa (menurut kriteria EDEN)
Koma yang lama, nadi diatas 120, suu diatas 103 F, TD sistolik >200, kejang .10x, priteinuria >10g/L,
tidak ada edema. (bila ada 2 atau lebih gejala tersebut, maka prognosa ibu buruk).
Gawat janin dalam persalinan
Definisi: keadaan / reaksi ketika janin tidak memperoleh oksigen yang cukup (hipoksia). Keadaan
hipoksia ini dapat disebabkan karena:
a. Faktor ibu:
1. Hipoksia ibu: karena pemberian analgetika maupun anesthesia
2. Persalinan yang lama mis kala II memanjang.
b. Faktor plasenta:
1. Insufisiensi uteroplasenta: postterm (penimbunan kalsium/pengapuran plasenta),
preeklampsia, ibu diabetes mellitus.
2. Perdarahan karena solusio plasenta, maupun karena plasenta previa
c. Faktor janin:
1. Kompresi tali pusat oleh janin pada keadaan: tali pusat menumbung, lilitan tali pusat,
oligohidramnion, ketuban pecah dini.
Patogenesis:
a. Bila janin kekurangan oksigen maka akan merangsang nervus vagus sehingga jantung janin lebih
lambat. Bila kekurangan oksigen terus berlangsung, n vagus tidak lagi dipengaruhi. Selanjutnya
persarafan simpatis akan terangsang sehingga menyebabkan DJJ
meningkatiregularmenghilang.
b. Kekurangan oksigen juga merangsang usus, sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin dalam
keadaan hipoksia
c. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterine dan bila kita periksa kemudian, terdapat banyak
air ketuban dan mekonium dalam paru. Bronkus tersumbat dan terjadi atelekrasis bila janin lahir
alvedi tidak berkembang
Diagnosis:
1. DJJ yang abnormal: >160x/m atau <100x/m
2. Terdapat mekonium dalam air ketuban (letak kepala) karena terjadi rangsangan nervus x,
sehingga peristalktik usus meningkat dan sfingter ani terbuka
41

3. Analisis air ketuban / amnioskopi
4. Pemeriksaan pH darah janin:
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit
kepala janin. Darah ini diperiksa pH-nya adanya asidosis menyebabkan turunnya pH, apabila pH
itu turun dibawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya
5. KTG
6. USG
Penatalaksanaan:
1. Lakukanh resusitasi intrauterine (selama 20 menit): pasien dimiringkan ke sebelah kiri, beri
oksigen dengan menggunakan masker, hentikan pemberian oksitosin, beri tokolitik bila terjadi
hiperstimulasi, pemberian cairan intravena.
2. Segera lakukan terminasi dengan SC.
HEG
Definisi: muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampau umur kehamilan 20 minggumuntah
berlebihan yang mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, BB menurun,
dehidrasi, dan terdapat aseton dalam urin, bahkan dapat seperti gejala penyakit apendisitis,pielitis, dan
sebagainya.
Normalnya, emesis gravidarum terjadi pada trimester awal kehamilan, karena pengaruh kadar estrogen
danm HCG yang meningkat.
Penyebab: secara pasti belum diketahui, namun adanya :
1. faktor predisposisi misal pada mola adanya peningkatan HCG
2. faktor organic: masuknya vili korealis dalam sirk maternal
3. alergi
4. faktor psikologik: masalah rumah tangga.
Klasifikasi HEG dibagi 3 tingkatan berdasarkan gejala yang timbul:
HEG Tingkat 1 HEG tingkat 2 HEG tingkat 3
1 Muntah terus menerus, timbul
intoleransi pada makanan dan
minuman yg masuk
Gejala muntah lebih berat,
segala yang dimakan dan
diminum dimuntahkan
Keluhan muntah berhenti
2 KU pasien lemah KU pasien lebih lemah - apatis KU somnolen-koma
3 BB turun BB sangat menurun BB makin menurun
4 TD systole turun, nadi
meningkat (100x/m)
TD systole sangat menurun,
nadi ceoat (100-140x/m)
TD makin menurun, nadi makin
meningkat
5 Tanda dehidrasi: mata cekung,
turgor kulit menurun, lidah
kering.
Mata cekung, turgor kulit
<menurun, lidah kering,

6 Urine normal oligouria oliugouria
7 Ikterik (-) Ikterik (+/-) Ikterik (+)
8 Napas bau aseton (+)
42

9 Proteinuria (+)
10 Ensefalopati wernicke:
nistagmus, diplopia

Penatalaksanaan:
1. Non farmakologik:
a. Beritahu bahwa muntah akan mulai berkurang pada minggu keempat
b. Makan porsi kecil tapi sering
c. Makan makanan yang manis dan minum minuman yang hangat atau sangat dingin
d. Hindari makanan yang berminyak dan berbau merangsang
2. Farmakolgik:
a. HEG berat hendaknya masuk RS
b. Medikamentosa: obat anti muntah (metoclopramide/tomit), vitamin B1 dan B6, antasida
c. Isolasi: kamar tenang,cerah,peredaran udara baik
d. Psikologi
e. Cairan infuse D5%
f. Cek urine : protein dan aseton
g. Diet KH dan protein
Hipertensi dalam Kehamilan
Hipertensi gestasional
TD140/90 untuk pertama kali selama kehamilan
Proteinuria(-)
Mungkin memperlihatkan tanda preeclampsia spt: nyeri kepala, nyeri epigastrium, atau
trombositopenia.
Disebut juga hipertensi transien bila tidak terjadi preeclampsia dan TD kembali normal dalam 12
minggu postpartum. Diagnosis akhir hanya dapat dibuat saat postpartum
Preeklampsia
TD140/90 setelah gestasi 20 minggu
Proteinuria (+)300 mg/24 jam atau +1 pada dipstick
Eklampsia
Kejang yang tidak disebabkan oleh hal lain pada seorang wanita dengan preeclampsia
Hipertensi kronik
TD140/90 sebelum kehamilan atau didiagnosis sebelum gestasi 20 minggu
Atau bila didiagnosis setelah kehamilan 20 minggu, hipertensi kronik menetap setelah 12 minggu
postpartum
Proteinuria (-)
43

Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia
Wanita pengidap hipertensi dengan proteinuria (-) sebelum gestasi 20 minggu, dan kemudian
setelah itu mengalami proteinuria awitan baru 300 mg/24 jam
Wanita pengidap hipertensi dengan proteinuria (+) sebelum gestasi 20 minggu, dan kemudian
terjadi peningkatan proteinuria atau TD atau hitung trombosit < 100.000 mm3 secara mendadak.
Faktor resiko:
Primigravida: karena pertama kali terpapar oleh vili chorealis
Hiperplasentosis: misalnya pada mola hidatidosa, kehamilan multipel, diabetes mellitus, hidrops fetaliss,
bayi besar
Umur yang ekstrim ( 15 atau 35 tahun)
Riwayat keluarga pernah mengalami preeclampsia / eklampsia
Penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil.
Obesitas
Patologi (perubahan sistem organ pada preeclampsia)
Volume plasma: terjadi hipovolemia (sebab unknown). Volume plasma yang menurun berdampak besar
bagi organ lain. Oleh karena itu penting diberikan terapi cairan untuk mengembalikan volume plasma.
(preeclampsia sangat peka terhadap pemberian terapi cairan yang agresif sebagai usaha untuk
mengembalikan volume darah, namun juga peka terhadap kehilangan darah yang normal waktu
melahirkan. Sehingga observasi cairan masuk keluarnya harus ketat).
Hematologik: peningkatan hematokrit (krn hipovolemia), gangguan koagulasi (trombositopenia,
penurunan AT III), fibrinolisis (peningkatan FDP), peningkatan viskositas darah, hemolisis
mikroangiopatik (destruksi eritrosit karena spasme arteriol).
Ginjal: terjadi glomerulosklerosis dan glomerular capillary endotheliosis menyebabkan meningkatnya
pemeabilitas membrane basalisbocor dan terjadi proteinuria, peningkatan kadar asam urat dan kreatinin
(krn hipovolemia) dan oligouria.
Neurologik: nyeri kepala (disebabkan hiperperfusi otakvasogenik edema), gangguan visus berupa:
pandangan kabur, skotomata, amaurosis yaitu kebutaan tanpa jelas adanya kelainan dab ablasio retina
(karena spasme arteri retina dan edema retina), kejang eklamptik (faktor risiko: edema serebri,
vasospasme serebri dan iskemia serebri).
Hepar: akibat vasospasme, iskemia dan perdarahan pada heparnekrosis sel hepar dan peningkatan
enzim hepar.
Paru: edema paru karena payah jantung kiri, rusak sel endotel pada pembuluh darah kapiler paru,
menurunnya diuresis.
44

Janin: disebabkan karena menurunnya perfusi utero plasenta, hipovolemia, vasospasme, dan kerusakan sel
endotel pembuluh darah plasenta. Dampak berupa: IUGR (intrauterine Growth Restriction) dan
oligohidramnion.
Preeklampsia ringan
Diagnosis:
Kehamilan 20 minggu
TD140/90 mmHg
Proteinuria +1 dgn dipstick atau 300mg/24 jam.
Dgn atau tanpa edema
Penatalaksanaan terhadap penyakitnya:
a. Rawat jalan
Bedrest
Medikamentosa: vitamin E 1x400iu/hr, kalsium 3x 500 mg/hr
Diet cukup protein, rendah karbohidrat, garam secukupnya (4-6 gr)
Tidak diberika obat antihipertensi.
Dilakukan pemeriksaan Hb, hematokrit, fungsi hati, UL, dan fungsi ginjal.
Kunjungan ulang setiap 1 minggu, setiap kali kunjungan diperiksa labnya dan apabila UK 37
minggu dilakukan pemeriksaan kesejahteraan janin (USG dan Doppler) dan NST.
b. Rawat inap
Indikasi: bila hipertensi dan proteinuria yang menetap (tidak membaik) selama 2 kali kunjungan/
2 minggu, kecenderungan menjadi PEB, hasil penilaian kesejahteraan janin jelek, hasil tes lab
yang abnormal.
Bedrest, obat (vitamin E 2x200 mg dan kalsium 3x500 mg), pemeriksaan lab. Pemeriksaan serial
USG bertujuan untuk evaluasi pertumbuhan janin dan jumlah cairan amnion. (kalo gak ada USG
liat aja dari TFU yang gak sesuai dengan UK). Pemeriksaan NST.
c. Evaluasi hasil pengobatan
Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda preeclampsia rawat 3 hari lagi lalu pulangkan. Ingatr
suruh kontrol tiap minggu,
Bila PER tetapi menunjukkan keluhan subjektif PEB (nyeri uluhati, mata berkunang, dll) maka
dirawat sbg PEB.
Penatalaksanaan terhadap kehamilannya:
a. Bila UK 37 minggu dan gejala tidak memburuk, kehamilan dipertahankan aterm.
b. Bila UK37 minggu, kehamilan dipertahankan sampai onset persalinan
Preeklampsia berat
Diagnosis:
Kehamilan 20 minggu
45

TD160/100 mmHg
proteinuria >5gr/24 jam
Pembagian PEB:
PEB tanpa impending eklampsia
PEB dengan impending eklampsia: bila disertai dengan keluhan subjektif: nyeri kepala hebat,
gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan darah.
Penatalaksanaan
1.Perawatan aktif: sambil memberi pengobatan, kehamilan diterminasi setiap saat bila hemodinamika
stabil. indikasi ibu: UK 37 minggu, tanda impending eklampsia, perawatan konservatif gagal (keadaan
klinik dan lab memburuk), hasil pemeriksaan kesejahteraan jani buruk, muncul sindroma HELLP.
Indikasi janin: fetal distress, tanda IUGR, NST non reaktif dengan profil biofisik abnormal, terjadinya
oligohidramnion.
Bedrest
Infuse D5
Beri anti kejang: MgSO4 (kompetitif inhibisi terhadap ion kalsium). Dosis awal: drip MgSO4
40% 4 gram (10 cc) diencerkan menjadi 20cc suntikan IV selama 5 menit dan dilanjutkan drip
MgSO4 40% 10 gr (25cc) dalam 500 cc D5, 28 tpm. Dosis pemeliharaan: drip MgSO4 40% 6g
(15cc) dalam 500 cc D5 28 tpm sampai dengan 24 jam postpartum. Syarat pemberian dosis
ulangan: ref patella (+), RR16x/m, prod urin sekurangnya 150cc/6jam, kalsium glukonas sbg
antidotumnyan(igr iv diberikan pelan2 bila ada intoksikasi)
Beri obat antihipertensi: bila TD180/110drip klonidin (catapress) 1 ampul/500cc cairan, 14
tpm, bila TD160/110 namun <180/110 berikan nifedipin 3x10 mg atau metildopa 3x250 mg.
(kalau selama jaga diberikan nifedipin saja sih dosis nifedipin 10-20 mg oral, diulangi setelah
30 menit; maksimum 120 mg/24 jam), turunkan TD secara bertahap, yaitu penurunan awal 25%
dari TDS dan TD diturunkan mencapai <160/105.
Dilakukan pemeriksaan kesejahteraan janin
Terminasi dengan SC bila: hasil kesejahteraan janin jelek misal NST patologis segera SC,
penderita belum inpartu dengan PS jelek<5 dan gagal drip oksitosin (gagal induksi) .
Terminasi normal dengan induksi oksitosin: bila NST baik dan PS baik.
2. Perawatan konservatif: indikasi bila umur kehamilan <37 minggu, tanpa adanya impending eklampsia,
dengan keadaan janin yang baik.
Bedrest
Infuse D5
Beri anti kejang: drip MgSO4 40% 10 gram (25cc) dalam 500 cc D5 28 tpm sampai dengan 24
jam.
Beri obat AH: sama seperti perawatan aktif
Lakukan pemeriksaan lab: Hb, PCV, leuko, trombo, asam urat darah, fungsi ginjal, hati, UL,
produksi urine 24 jam, dan penimbangan BB setiap hari (kenaikan BB > 0,57 kg/minggu).
46

Pemeriksaan kesejahteraan janin (USG, NST).
Perawatan konservatif gagal bila: muncul tanda impending eklampsia, kenaikan progresif TD, lab
memburuk, sindroma HELLP, penilaian kesejahteraan janin jelek.
Penderita boleh pulang bila sudah mencapai preeclampsia ringan (keluhan membaik), periksa lab
lihat apa ada perbaikan proteinuria, pulangkan lalu kontrol setiap hari timbang BB dan periksa
dipstick proteinuria, lalu setiap seminggu sekali cek lab DL dan UL.

KETUBAN PECAH DINI
Definisi: pecahnya selaput ketuban secara spontan pada saat belum inpartu tanpa memperhatikan umur
kehamilan, atau bila diikuti satu jam kemudian tidak timbul tanda-tanda awal persalinan.
Bila KPD terjadi sebelum UK 37 minggu disebut KPD premature.
Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan proses yang fisiologis. Mengapa dapat terjadi
pecahnya selaput ketuban?? Hal ini dikarenakan pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia pada
selaput ketuban. Terjadinya degradasi proteolitik kolagen yang dimediasi oleh matriks metalloproteinase
(MMP), sehingga menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh. Selaput ketuban inferior yang mudah
rapuh ini dapat pecah akibat pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin.
Faktor risiko terjadinya KPD:
a. Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen
b. Kekurangan tembaga
KPD premature disebabkan karena faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. KPD
premature sering terjadi pada polihidramnion, inkompeten serviks, solusio plasenta.
Diagnosis:
1. Anamnesis:
kapan keluarnya cairan, warna, bau (amis)
2. Pemeriksaan inspekulo:
pengeluaran cairan ketuban dalam kavum uteri/dari OUI, yang terkumpul di daerah forniks
posterior. Atau bisa juga dengan meminta pasien batuk untuk menlihat adanya pengeluaran
cairan.
3. Pemeriksaan dalam:
cairan dalam vagina dan selaput ketuban yang sudah pecah
4. Pemeriksaan lab:
pemeriksaan Nitrazin test (test lakmus) merah berubah menjadi biru (basa). pH vagina 4,5,
sementara pH cairan ketuban 7,1-7,3.
mikroskopis: tampak lanugo atau vernik kaseosa.
Penatalaksanaan:
47

Prinspinya ialah memperpanjang kehamilan sampai paru-paru janin matang atau sampai
dicurigai/terdiagnosis korioamnionitis.
KPD bila kehamilan aterm (prinsip segera terminasi)
a. Periksa Darah Lengkap (khusunya leukosit)
b. Periksa NST, bila hasilnya patologis segera terminasi, bila hasil baik observasi 12 jam lagi.
c. Observasi temperature rectal tiap 3 jam, bila kecenderungan > 37,5 maka segera terminasi
d. Berikan antibiotic injeksi cefo 3 x 1 gr
e. Misalnya pasien datang pukul 05.00 dan ternyata dari anamneses ketuban pecah pukul 03.00 dan
saat di VT belum ada tanda inpartu. Maka pasien cukup diobservasi selama 12 jam dari saat
ketuban pecah tanpa di apa-apakan dulu. Bila setelah 12 jam ketuban pecah dan belum ada tanda
persalinan segera lakukan terminasi kehamilan. Terminasi kehamilan:
Dengan induksi persalinan dengan drip oksitosin bila PS 5. Bila PS < 5, pematangan serviks
dengan misoprostol. Disebut GAGAL INDUKSI bila dalam 24 jam setelah mulai induksi belum
ada tanda inpartu. Dan segera terminasi kehamilan dengan SC.
Segera terminasi secara SC bila syarat drip oksitosin tidak terpenuhi atau gagal induksi.
f. INGET PALING LAMA KETUBAN PECAH dalam 2x24 JAM HARUS SUDAH HARUS
PARTUS
KPD dengan kehamilan preterm (prinsip konservatif sampai janin seaterm mungkin)
a. Periksa darah lengkap
b. Beri antibiotika
c. Bila UK 34 minggu, rangsang maturasi paru dengan injeksi deksametason 2x16 mg selama
selama 2 hari.
d. Bila dalam observasi 2 x 24 jam air ketuban tidak keluar lagi, lakukan pemeriksaan USG untuk
menilai air ketuban:
bila ketuban cukup, kehamilan diteruskan, pasien dapat dipulangkan.
bila ketuban kurang (oligo, AFI <5), dipertimbangkan terminasi kehamilan
e. Bila KPD preterm dan sudah inpartu (misal UK 35 minggu) ya diterminasi saja ya
INFEKSI INTRAPARTUM
Adalah infeksi yang terjadi pada masa persalinan/inpartu. Disebut juga korioamnionitis, karena infeksi ini
melibatkan selaput janin.
Diagnosis infeksi intrapartum:
1. Febris di atas 38 derajat
2. Takikardia ibu (>100 dpm)
3. Takikardia janin (>160x/m)
4. Nyeri abdomen,nyeri tekan uterus
5. Cairan amnion warna keruh/hijau dan berbau
6. Leukositosis (>10.000)
48

Penanganannya bila KPD disertai dengan tanda infeksi ini maka segera upayakan terminasi
kehamilandengan SC, sebelumnya diberikan antibiotik..
Namun bila janin sudah meninggalpersalinan dilakukan pervaginam, karena bila perabdominam dapat
menyebabkan sepsis ibu.
PERDARAHAN ANTE PARTUM
Definisi: perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu (ada pula yang bilang setelah kehamilan
20 minggu).
Klasifikasi:
1. Plasenta previa
2. Solusio plasenta
3. Vasa previa
1.PLASENTA PREVIA
Definisi: plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa shg menutupi seluruh
atau sebagian ostium uteri internum.
Klasifikasi PP:
1. PP totalis: plasenta menutup seluruh OUI
2. PP parsialis: plasenta menutupi sebagian OUI
3. PP marginalis: pinggir plasenta berada pada pinggir OUI
4. Plasenta letak rendah: buku sarwono (plasenta yang tepi bawahnya berada pada jarak krg lebih 2
cm dari OUI; kalo >2 cm dikatakan normal), buku PDT (plasenta yang tepi bawahnya berada
pada jarak 3-4 cm dari OUI)
Etiologi:
Etiologi:
Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui pasti. Namun teori
yg ada mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai
akibat proses radang/ atrofi. Beberapa factor resiko seperti: paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim missal
bekas bedah sesar,kerokan, miomektomi. Merokok dapat menyebabkan plasenta hipertrofi sbg upaya
kompensasi akibat hipoksemia, plasenta yang terlalu besar pada kehamilan ganda dan eritoblastosis fetalis
juga dapat menyebabkan plasenta previa.
Patofaal:
Mekanisme mengapa terjadi perdarahan pada plasenta yang terletak di segmen bawah rahim:
1. Pelebaran isthmus uteri menjadi segmen bawah rahimlaserasi dan pelepasan plasenta
2. Serat miometrium yang kurang pada segmen bawah dan serviksuterus tidak mampu
berkontraksi kuat untuk menjepit pembuluh darah yang robek.
49

3. Saat serviks mendatar dan membukabagian plasenta yang lepas.
Diagnosis:
1. Gejala klinis:
Hamil 28 minggu atau lebih dengan perdarahan pervaginam yang sifatnya tidak nyeri, darah
segar
KU sesuai dengan banyaknya perdarahan
Janin: kelainan letak, bagian terendah yang masih tinggi/tdk masuk PAP.
2. Menentukan letak plasenta:
USG: diagnosis pasti
VT: tidak boleh dilakukan. Yang boleh ialah Double Set UP (DSU) yaitu VT di kamar
operasi dengan persiapan SC. Hal ini hanya dilakukan bila tidak tersedia USG.
Penatalaksanaan:
1. Penanganan Konservatif
Syarat :
a. Kehamilan premature < 37 minggu, dengan taksiran berat janin < 2000 gr
b. Perdarahan sedikit/berhenti (Hb dbN)
c. Tempat tinggal dekat.
Yang dilakukan saat penderita MRS:
a. Tirah baring, observasi di kamar bersalin 24 jam
b. perbaikan KU, beri transfuse sampai Hb >10
c. Berikan deksametason 16 mg, 2x24 jam. utk pematangan paru (jaga2 siapa tau konservatif gagal)
d. Bila perdarahan stop, pindahkan pasien ke ruangan, tirah baring 2 hari, kemudian mobilisasi
e. Observasi Hb setiap hari, TTV, DJJ, perdarahan setiap 6 jam
f. Lakukan pemeriksaan USG, berdasarkan hasil USG maka persalinan dapat direncanakan sbb:
Bila plasenta menutupi OUI, tunggu sampai aterm kemudian USG lagi, bila hasil tetap sama
segera SC. Namun bila hasilnya kemudian plasenta di SBR, selama tidak menutupi OUI, tunggu
inpartu. Bila plasenta letaknya normal, pervaginam.
g. Perawatan konservatif gagal bila terjadi perdarahan berulang
h. Bila berhasil konservatif, pulangkan dan beri nasihat: istirahat, dilarang koitus, MRS bila terjadi
perdarahan lagi, ANC 1 minggu kemudian.


2. Penanganan Aktif
Prinsip: segera melahirkan anak/terminasi (SC)
Syarat:
a. Aterm 37 minggu, dengan TBJ >2000 gr
b. Perdarahan banyak, tanpa memandang usia kehamilan.
c. Tanda gawat janin
Cara:
a. Kalau perdarahan aktif dan diagnosis PP sudah tegak, segera lakukan SC tanpa DSU
50

b. Perbaikan KU ibu sambil menunggu operasi: stabilitas hemodinamik, resusitasi cairan.
Solusio Plasenta
Adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal plasenta dari tempat impantasinya yang
normal pada lapisan desidua endometrium sebelum waktunya yakni sebelum anak lahir
Patofisiologi:
Plasenta dapat terlepas hanya pada pinggir saja (rupture sinus marginalis), dapat pula terlepas lebih luas
(solusio plasenta parsialis), atau bisa seluruh permukaan maternal plasenta terlepas (solusio plasenta
totalis).
Beberapa jenis perdarahan akibat solusio plasenta biasanye merembes di antara selaput ketuban dan
uterus , dan kemudian lolos keluar melalui serviks, menyebabkan perdarahan eksternal. Yang lebih
jarang, darah tidakkeluar dari tubuh tetapi tertahan di antara plasenta yang terlepas dan uterus sehingga
menyebabkan perdarahan tersembunyi.
Klasifikasi SP berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta:
SP ringan SP sedang SP berat
Perdarahan <200 cc Perdarahan 200-1000 cc Perdarahan >1000cc
Uterus tidak tegang Uterus tegang Uterus tegang dan kontraksi
tetanik
Belum ada tanda renjatan Tanda pre renjatan Tanda renjatan
Janin hidup Gawat janin/janin mati Janin mati
Pelepasan plasenta <1/6 bagian Pelepasan plasenta -2/3 bagian Pelepasan plasenta >2/3 bagian
Kadar fibrinogen >120 mg% Kadar fibrinogen 120-150 mg%

Diagnosis:
1. Gejala klinik:
a. Perdarahan per vaginam tanpa rasa nyeri
b. Uterus: nyeri tekan, iritabel, hiperkontraksi, hipertonus, tetanik.
c. Status hemodinamik mungkin tidak berhubungan dengan jumlah perdarahan pervaginam
(pada jenis concelead)
d. Mungkin dapat terjadi gawat janin
2. USG: membedakan dengan PP
3. Definitif: setelah partus, adanya hematoma retroplasenta
Penatalaksanaan:
1. MRS, tirah baring
2. Stabilisasi hemodinamik: resusitasi cairan, transfuse.
3. Periksa kadar Hb, hematokrit, BT, CT
Khusus:
51

1. Janin hidup, cukup bulan, tanpa gawat janinterminasi kehamilan per vaginam. Biasanya pada
SP yang ringan. Bila belum ada tanda inpartu: induksi persalinan dengan drip oksitosin, dan
percepat dengan amniotomi. Amniotomi pada SP bertujuan untuk mengurangi regangan pada
dinding uterus.
2. Janin hidup, cukup bulam, gawat janinterminasi SC
3. Janin hidup, belum cukup bulan, tanpa gawat janinmatangkan paru, bila KU baik bisa
manajemen ekspektatif. Tanpa memberikan tokolitik karena merupakan KI. Biasanya sering
terjadi persalinan premature.
4. Janin hidup, belum cukup bulan, gawat janinSC
5. Janin matipervaginam
6. Perdarahan aktif, pemberian transfuse gagal, KU memburuktanpa memandang janin
hidup/matisegera SC
Komplikasi solusio plasenta: berasal dari perdarahan retroplasenta yang terus berkembang dan
meimbulkan berbagai akibat pada ibu seperti anemia, syok hipvolemik, insufisiensi fungsi plasenta,
gangguan pembekuan darah, gagal ginjal mendadak, dan uterus couvelaire. Di samping itukomplikasi
sindroma insufisiensi fungsi plasenta pada janin juga ditemukan.
Penjelasan komplikasi gangguan pembekuan darah: akibat dari hematom retroplasenta terjadi pelepasan
tromboplastin yg menyebabkan perombakan protrombin jd thrombin, dan kemuadian thrombin mengubah
fibrinogen menjadi fibrin yang membentuk bekuan darahDIC.. namun disamping itu, akibat dari DIC
terbentuk plasmin dari plasminogen yang yang menghancurkan bekuan darah sehingga fibrinogen akan
dirombak menjadi fibrin lebih banyak lagi sehingga terjadi hipofibrinogenemiakeadaan gangguan
pembekuan darah (consumptive coagulopathy) yg secara laboratories terlihat pada memanjangnya waktu
pembekuan darah melebihi 6 menit dan bekuan darah yang telah terbentuk mencair kembali.
Oleh karena itu risiko SC pada SP ialah perdarahan yang hebat karena terjadi koagulopati. (Cek dulu BT
dan CT nya).
3.Vasa Previa
Adalah keadaan dengan pembuluh2 janin berjalan melewati selaput ketuban dan terdapat di os
interna.Keadaan ini terjadi pada insersi velamentosa apabila sebagian dari pembulih janin di selaput
ketuban dan menempati posisi di depan bagian terbawah janin.
Pada vasa previa, terdapat bahaya yang sangat besar bagi janin karena pecahnya ketuban dapat disertai
oleh rupture pembuluh darah yang menyebabkan kehilangan banyak darah.
Penting untuk diagnosis antenatal pada kasus vasa previa pada wanita dengan factor resiko plasenta letak
rendah melalui pemeriksaan USG transvagina dengan Doppler berwarna. Pada vasa previa darah yg
keluar ialah darah janin sehingga untuk mendeteksi dengan apt test-kleihauer test (wanai apusan darah
pada kaca objek dengan wright dan kemudian periksa apa ada sel darah merah yang berinti yang berasal
dari talipusat janin). Selain itu diagnose juga dari gejala bradikardia janin (terminal) yang diawali dari
takikardi atau sinusoidal.
Kompliksasi: ex-sanguinasi setelah amniotomi.
52

Kondisi ini merupakan penyebab perdarah antepartum yang jarang dan memiliki angka kematian yang
tinggi.( mortalitas 50-70%)
Perbedaan klinis PP dan SP
Klinis PP SP
1.Perdarahan dengan nyeri Tidak Ya
2.Perdarahan berulang Ya Tidak
3.warna merah Merah segar Merah tua/coklat
4.Anemia/renjatan Sesuai darah yang keluar Tidak sesuai
5.Timbulnya Perlahan Tiba-tiba
6.Terjadinya Sewaktu kehamilan Sewaktu kehamilan, saat inpartu
7.His Biasanya tidak ada Ada
8.Palpasi Abdomen biasa Abdomen tegang
9.DJJ Ada Ada/tidak adaSP sedang-berat
10.Periksa dalam vagina Jaringan plasenta Ketuban tegang
11.Penurunan Tidak masuk PAP Dapat masuk PAP
12.Presentasi Mungkin abnormal Tidak ada hubungan

Perdarahan hamil muda
Artinya: perdarahan yang terjadi pada umur kehamilan 28 minggu.
Ada 3 macam perdarahan pada hamil muda yakni: abortus, KET, dan mola hidatidosa.
ABORTUS
Definisi: Berakhirnya kehamilan sebelum janin mencapai viabilitasnya. Kalo depkes (uk 28 minggu
atau berat janin 1000 gram ), kalo WHO (uk 20 minggu, berat 500 gram), kalo dr AM (uk 22
minggu, berat 500 gram).
Pembagian abortus ada 2 macam: menurut macamnya dan menurut derajatnya.
Menurut macamnya, abortus dibedakan menjadi:
a. Abortus spontan
b. Abortus provocatus/disengaja: terapeutik (ada indikasi medis dan benar sesuai hukum) dan
criminalis (bukan karena indikasi medis).
Menurut derajatnya, abortus dibedakan menjadi:
Definisi Diagnosis Penatalaksanaan
Abortus
iminens
Abortus tingkat
pemulaan, ditandai
perdarahan
pervaginam, OUI
tertutup, hasil
konsepsi masih
1. Amenorea atau
riwayat plano test (+)
2. Perdarahan bercak
hingga sedang
3. Kram perut di atas
simfisis
Prinsip: tidak perlu pengobatan
khusus, cukup tirah baring total.
Jangan melakukan aktivitas fisik
berlebihan dan jangan melakukan
hubungan seksual. Terapi
hormonal dan tokolitik tidak
53

baik dlm
kandungan.
4. Servikstertutup/
ada bukaan 1 jari
5. Besar uterus sesuai
dengan usia gestasi
diperlukan karena secara statistik
kegunaanya tidak terlalu
bermakna.
Jadi pengobatan sifatnya hanya
untuk efek psikologik ibu.
Beberapa obat yg bisa diberikan:
1. Tokolitik: duvadilan (drips
maupun oral)
Duvadilan 4 ampul dalam
D5%-->12 tpm lalu dinaikkan 4
tpm apabila masih perdarahan,
maksimal 40 tpm (ingat tidak
boleh sampai jantung berdebar)
Duvadilan tablet 3 x 10 mg, po
5 hari
2. Hormon progesterone
sintetik: duphaston, cygest.
3. Premastone, pregtenol
(Allylestrenol)
4. Prostaglandin sintetase
inhibitor: Asam mefenamat 3
x 500 mg, po 5 hari.
Abortus
komplet
Seluruh hasil
konsepsi telah
keluar dari kavum
uteri
1. Perdarahan bercak
hingga sedang
2. Riwayat keluar hasil
konsepsi
3. Sedikit/tanpa nyeri
perut bawah
4. Serviks tertutup
5. Besar uterus tidak
sesuai dengan uk
1. Tidak diperlukan evakuasi bila
yakin komplit. Bila tidak
dapat diUSG
2. Observasi perdarahan, bila
anemia sedang beri tablet SF
600 mg/hari atau bila berat
beri transfuse
3. Bila tidak ada tanda
infeksigak perlu antibiotik

Abortus
insipiens
Abortus
mengancam,
dimana serviks
mendatar, ostium
membuka, tapi
hasil konsepsi
masih didalam
kavum uteri
1. Perdarahan
sedang hingga
massif
2. Belum ada
riwayat keluar
hasil konsepsi
3. Nyeri atau kram
perut bawah
4. Serviks terbuka
5. Besar uterus
sesuai uk

1. Uk 16 minggu: evakuasi
dengan aspirasi vakum manual
2. Uk > 16 minggu: tunggu
ekspulsi spontan, atau bila gak
keluar spontan evakuasi
digital, bila perlu induksi dgn
oksitosin 20 IU/ 500 cc RL
(mulai 8 tpm40 tpm).

Inget setelah evakuasi berhasil,
harus dilanjutkan dengan
tindakan kuretase untuk meyakini
seluruh sisa konsepsi telah keluar.
Setelah itu perbaiki KU, beri
uterotonika (misal
metilergometrin 3 x 500 mg po),
dan antibiotic profilaksis.
Abortus
inkomplet
Sebagian hasil
konsepsi telah
1. Perdarahan sedang
hingga massifsyok
1. Uk 16 minggu dan
perdarahan tak banyak:
54

keluar dari kavum
uteri dan masih ada
yang tertinggal.
2. Riwayat pengeluaran
jaringan
3. Nyeri perut bawah
4. Serviks terbuka
5. Besar uterus < uk

evakuasi digital
2. Uk 16 minggu dan
perdarahan banyak: evakuasi
dengan AVM
3. Uk > 16 minggu: evakuasi
digital, bila perlu induksi
oksitosin.
Setelah itu dilakukan kuretase
untuk memastikan tidak ada yang
tertinggal.
Pasca tindakan: perbaikan KU,
beri uterotonika (metilergometrin
3 x 500 mg po 5 hari) dan
antibiotika (amoksisilin 5 hari)
Abortus
habitualis
Abortus spontan 3x
/ lebih secara
berturut-turut.
Penyebab: faktor
anatomis, reaksi
imunologik yaitu
kegagalan reaksi terhadap
antigen limfosit
trofoblascross reactive
(TLX). Penyebab
tersering lainnya:
inkompeten serviks.
Bila penyebab karena inkompeten
serviks maka dilakukan tindakan
untuk memfiksasi agar dapat
menerima beban dengan
berkembangnya uk. Operasi
dilakukan pada UK 12-14 minggu
dengan cara SHIRODKAR atau
MCDONALD.
Abortus
infeksiosus
Abortus yang
disertai infeksi
pada alat genitalia
Merupakan salah satu
komplikasi dari tindakan
abortus yang disebabkan
krn

Abortus septic Abortus yang
disertai penyebaran
infeksi pada
peredaran darah
tubuh atau
peritoneum
(septicemia atau
peritonitis).
Kurang memperhatikan
tindakan asepsis dan
antisepsis.

Diagnosis:
Ax:
1. Upaya tindakan
abortus dengan
alat yg asepsis
PF:
1. Febris
2. Takikardia
3. Perdarahan
pervaginam
berbau
4. Bila sampai
sepsis dan syok:
panas tinggi,
menggigil, TD
turun
PL: leukositosis
Pemberian infuse, antibiotika,
antipiretika. Tindakan kuretase
bila keadaan tubuh sdh baik min 6
jam stlh antibiotic diberikan.
Missed abortion Tertahannya hasil
konsepsi yang
Ax:
1. Merasakan
Inget, missed abortion bila
berlangsung > 4 minggu dapat tjd
55

sudah mati dalam
rahim selama 8
minggu
pertumbuhan
kehamilan tidak
sesuai dengan yg
diharap
PF:
1. Fundus uteri
menetap atau
mengecil tidak
sesuai dengan UK
2. Awal ada
perdarahan
pervaginam (ab
iminens)
dirasakan sembuh
tapi ternyata janin
sudah mati
PP:
1. TEs urin (-) satu
minggu stlh janin
mati
2. USG: uterus
mengecil,
kantung gestasi
mengecil, bentuk
tidak beraturan.
gangguan pembekuan akibat
hipofibrinogenemia sehingga
perlu dicek waktu koagulasi
sebelum dilakukan tindakan
evakuasi dan kuretase.

UK <12 m: evakuasi dengan
dilatasi dan kuretase
UK > 12 m: karena serviks kaku,
maka unntuk evakuasi perlu
induksi baik dengan oksitosin drip
maupun dengan prostaglandin
sintetis misoprostol lalu setelah
keluar dilakukan kuretase sebersih
mungkin.
Blighted ovum Kehamilan
anembrionik
dimana mudigah
dan yolk sac tidak
terbentuk,
sedangkan kantung
gestasi tetap
terbntuk
Diagnosis hanya melalui
USG yang ditegakkan
pada UK 7-8 minggu bila
pada pem USG kantung
USG tidak berkembang
yang pada ukuran 25 mm
tidak ditemukan mudigah
maupun yolk sac.
Dilatasi dan kuretase.

Kehamilan Ektopik (hasil konsepsi berimplantasi di luar tempat yang normal (endometrium
rongga rahim)
Lokasi:
a. Kehamilan tuba (> 95%): pars ampularis (55%), pars ismika (25%), pars fimbrae (17%), pars
intersisiel (2%)
b. KE pada uterus: kehamilan servikalis dan kehamilan kornual
c. Kehamilan ovarium
d. Kehamilan intraligamen
e. Kehamilan abdominal
f. Kehamilan kombinasi: kehamilan ektopik dan kehamilan dalam rahim ditemukan bersamaan.
Etiologi:
56

1. Faktor tuba:
a. Peradangan atau infeksi tuba
b. Saluran tuba berkelok dengan fungsi silia tuba yg tidak berfungsi baik
c. Pasca op rekanalisasi tuba
d. Endometriosis tuba
e. Divertikel tuba
f. Mioma uteri ataupun tumor ovarium yang besarnya mengganggu bentuk dan patensi tuba
2. Faktor zigot: tumbuh terlalu cepat dan besar
3. Faktor ovarium: ovarium menghasilkan ovum yang ditangkap oleh tuba kontralateral
4. Faktor hormonal: pil KB yg mengandung progesterone dapat mengakibatkan gerakan tuba
melambat
Patologi:
1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
2. Abortus dalam lumen tuba
3. Ruptur dinding tuba
Gambaran klinik: terutama bila sudah terjadi Kehamilan ektopik terganggu. Gejala dan tanda bergantung
pada lamanya kehamilan KET, abortus atau rupture tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang
terjadi. Trias klasik:
a. Nyeri perut:
Merupakan tanda penting pertama. Nyeri bisa dirasakan bilateral atau unilateral atau hanya pada
perut bagian bawah. Berat ringannya nyeri bergantung pada jumlah darah yang terkumpul pada
peritoneum. Darah dalam rongga perut dapat merangsang diafragma sehingga menyebabkan nyeri
bahu dan bila membentuk hematokel rektouterina, menyebabkan defekasi nyeri. Nyeri perut
dibagi 2: bila dirasakan tiba-tiba dan terus menerusKET dengan rupture tuba, sedangkan bila
nyeri perut tidak terlalu dan tidak terus menerusKET dengan abortus tuba.
b. Perdarahan pervaginam berupa bercak.
Merupakan tanda penting kedua.
c. Amenorea:
Terlambat haid yang menjadi tanda kehamilan. Namun kehamilan ektopik dapat juga terjadi
meskipun terjadi haid. Inget kehamilan nidasi terjadi pada hr ke-21-23 beberapa hari sebelum
haid yang akan datang. Jadi bisa saja dia haid padahal sebelumnya sudah terjadi kehamilan
ektopik.
Diagnosis :
Dari trias gejala klasik di atas ditambah:
1. Pemeriksaan fisik: Tanda syok hipovolemi: hipotensi, takikardi, pucat, ekstremitas dingin. Tanda
akut abdomen: perut bagian bawah tegang, nyeri tekan lepas
2. Pemeriksaan ginekologik: serviks lunak, nyeri goyang serviks (slinger pain) +, adneksa nyeri dan
teraba massa, kavum douglasi menonjol dan nyeri perabaan karena terisi darah.
3. PP:
57

a. USG: tidak ada kantung gestasi dalam kavum uteri dan kantung gestasi berisi mudigah di luar
kavum uteri. Bila sudah terganggu maka gambaran kabtung gestasi sudah tidak jelas, massa
hiperekoik yang tidak beraturan, tidak berbatas tegas, dan dijumpai caitan bebas. Namun
cairan bebas ini tidak dapat dibedakan antara darah atau yang lain.
b. Kuidosentesis: pada daerah tanpa fasilitas USG atau bila dengan USG hasil meragukan maka
dilakukan punksi kavum douglasi. Caranya: dengan tenakulum jepit porsio bagian baawah
sehingga terlihat forniks posterior lalu dipunksi dengan jarum spinal no 18 dan spuit 10 cc
lalu dihisap. Semprotkan ke kain kasa dan lihat:
1. Bila darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan membeku, darah
berasal dari arteri atau vena yang tertusuk
2. Bila darah tua berwarna cokelat sampai hitam yang tidak membeku, atau yang berupa
bekuan kecil-kecil, menunjukkan darah hematokel rektouterina.]
c. Lab: Hb (pemeriksaan Hb dan HT dapat dilakukan secara serial dengan jarak 1 jam selama 3
x berturut-turut. Penurunan Hb dapat menunjang diagnosis KET), PPT positif,
d. Laparoskopi diagnostic: bila dengan semua PP yang lain masih meragukan.
Penatalaksanaan:
a. Perbaikan KU
b. Bila diagnosis pasti (anamnesis, GK, PP)laparotomi
c. Bila curiga kehamilan ektopik, lakukan USG bila hasil meragukan bisa melakukan laparoskopi
atau kuidosentesis.
d. Siapkan darah untuk transfusi bila perlu.
e. Laparotomi:
1. Kehamilan tuba: salpingektomi
2. Kehamilan ovarium: ovarial kistektomi
3. Kehamilan abdominal: keluarkan anak saja dan plasenta ditinggalkan
4. Kehamilan serviks: kuret, tampon atau ligasi artei hipogastrika, bila anak cukup histerektomi
total.
f. Beri antibiotikamengingat kejadian KE berkaitan dengan gangguan fungsi transport tuba oleh
infeksi
Diagnosis banding:
1. PID
2. Apendisitis
3. Abortus iminens
4. Kista ovarii terpeluntir
(ada yang disebut kehamilan ektopik kronikistilah ini untuk KE tuba yang rupture atau abortus
sehingga menjadi KE abdominal dan kehamilan ini terus berlanjut. Inget meskipun KE abdominal dapat
berlanjut, namun lebih baik segera diterminasi saja).


58

Mola Hidatidosa
Definisi: neoplasma jinak dari sel trofoblas, terjadi kegagalan pembentukan plasenta atau fetus, dan
hampir seluruh vili korealis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik.
Patofisiologi:
1. Teori missed abortion: mudigah mati (uk 3-5 minggu)gangguan peredaran darahpenimbunan
cairan dalam jaringan mesenkim dari viliterbentuk gelembung2.
2. Teori neoplasma dari Park: adanya sel-sel trofoblas abnormal yang mempunyai fungsi
abnormalterjadi resorbsi cairan berlebihan dalam vili timbul gelembung2mudigah mati
Gambaran histoPA khas:
1. Edema stroma vili
2. Tidak ada pembulih darah pada vili/denerasi hidropik
3. Proliferasi sel trofoblas
Diagnosis:
1. Tanda dan gejala klinik:
a. Amenorea
b. Perdarahan yang bersifat intermiten, sedikit-sedikit, atau sekaligus banyak hingga
menyebabkan syok atau kematian.
c. Besar uterus > UK. Namun pada bbrp kasus besar uterus sama atau lebih kecil dari Uk (jenis
dying mole)
d. Tanda kehamilan pasti tidak ada: balotemen(-), DJJ (-).
e. Hiperemesis gravidarumberhub dengan HCG
f. Tanda preklampsia pada trimester 1 dan tanda tirotoksikosis
g. Kista lutein unilateral/bilateral
2. Pemeriksaan lab: kadar HCG meningkat.
3. USG: gambaran khas badai salju (snow flake pattern) atau sarang lebah (honey combs)
4. Diagnosis pasti ditegakkan bila ada pengeluaran gelembung mola
5. Disebut mola parsialis bila: jaringan mola memenuhi sebagian kavum uteri dan sebagian berisi
janin yang ukurannya relative kecil dari UK.
Komplikasi: perdarahan, perforasi, emboli sel trofoblas, keganasan, tirotoksikosis.
Penatalaksanaan:
1. Perbaikan KU: koreksi dehidrasi dan transfuse bila Hb 8.
2. Evakuasi mola:
a. Siapkan PRC
b. Evakuasi kuret dilakukan 2 kali selang waktu 1 minggu (dengan kuret isap/ vakum kuret lalu
dengan kuret tumpul dan kuret tajam).
c. Hasil evakuasi 1 dan 2 diPA kan
59

d. Dipilih evakuasi langsung dengan histerektomi bila: cukup umun (35 tahun) dan cukup anak
(> 3).
3. Pasca evakuasi:

PERDARAHAN POST PARTUM
Definisi
Secara tradisional adalah hilangnya darah 500 mL atau lebih setelah bayi lahir secara pervaginam atau
hilangnya darah 1000 mL atau lebih secara SC. Secara fungsional disefinisikan sebagai kehilangan darah
yang potensial mengakibatkan ketidakstabilan hemodinamik.
Penyebabnya adalah 4 T: Tonus, Tissue, Trauma, Trombokoagulopati
1.Tonus Atonia uteri
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu
menutu
Faktor predisposisi:
1. Regangan rahim berlebihan karena kehamilan gemeli, polihidramnion, atau anak terlalu besar
2. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep
3. Kehamilan grandemultipara
4. Mioma uteri yg mengganggu kontraksi rahim
5. Infeksi intrauterine (korioamnionitis)
Penatalaksanaan:
1. Masase uterus segera setelah plasenta lahir (maksimal 15 detik)
2. Bila uterus tidak berkontraksi
3. Bersihkan bekuan darah/selaput ketuban dari vagina dan lubang serviks
4. Pastikan kandung kemih kosong
5. Lakukan KBI, bila uterus masih tidak kontraksi, anjurkan keluarga untuk KBE
6. Keluarkan tangan perlahan, beri suntikan ergometrin 0,2 mg IM (KI hipertensi)
7. Pasang infuse dan drip oksitosin 20iU dalam 500 cc RL
8. Ulang KBI dan rujuk
9. Bila semua tindakan gagal. Maka lakukan tindakan alternative berupa:
a. Ligasi arteri uterine atau ovarika
b. Operasi ransel B Lynch
c. Histerektomi
(Kalo menurut dokter Yasmin, bisa diberikan misoprostol per rektal untuk menghentikan perdarahan.
Maksimal dosis 1200 mcg atau 6 tab)
2. Tissue (retensio plasenta):
60

Retensio plasenta bila plasenta tidak lahir dalam jam. Normalnya kala 3 pengeluaran URI ialah 15
menit. Rest plasenta bila sebagian kecil dari plasenta masih tertinggal dalam uterus baik itu selaputnya
(fleece) maupun sisa kotiledon.
Macam2 retensio plasenta:
a. Plasenta akreta bila implantasi menembus desidua basalis dan Nitabuch layer
b. Plasenta inkreta bila menembus miometrium
c. Plasenta perkreta bila vili korialis sampai menembus perimetrium
Melepasnya plasenta dari dinding uterus ini dapat dimulai dari: (1) tengah (sentral menurut Schultze), (2)
pinggir (marginal Mathew-Duncan)
Penatalaksanaan:
1. Setelah bayi lahir injeksi oksitosin 10 iU IM
2. Lahirkan plasenta
3. 15 menit plasenta tidak lahir, injeksi oksitosin 10 IU IM yang kedua
4. Bila setelah 15 menit kemudian plasenta juga tidak lahir (retensio plasenta).
5. Prinsipnya selama plasenta belum terlepas tidak akan menimbulkan perdarahan. Namun bila
plasenta sudah mulai terlepas sebagian, akan timbul perdarahan.
6. Drip oksitosin 20 IU sambil melakukan manual plasenta
7. Cara melakukan manual plasenta: satu tangan memegang tali pusat sementara tangan kanan
dengan posisi kodok menyusuri tali pusat masuk ke dalam vagina , serviks dan ke uterus. Minta
salah satu asisten untuk memegang tali pusat sementara tanag kiri pindah ke fundus dan menekan
ke bawah (prinsipnya mendekatkan fundus ke bawah). Setelah itu dengan gerakan menyusur
untuk melepaskan plasenta. Pastikan bahwa seluruh plasenta telah terlepas (bila tidak maka saat
kita menarik, dapat terjadi inversion uteri). Setelah itu keluarkan plasenta secara perlahan.
Pastikan bahwa tidak ada sisa selaput atau kotiledon yang ketinggalan dengan sebelumnya
melakukan eksplorasi digital sekali lagi.
8. Bila ternyata pasien datang ke tempat kita dengan perdarahan karena sisa plasenta, dan dicoba
manual plasenta gagal. Maka segera rujuk dan biasanta di USG bila benar ada sisa, maka
dilakukan kuretase.
3.Trauma (laserasi, rupture, inversio uteri)
3.1. Rupture uteri
Definisi: robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya
perioneum visceral.
Klasifikasi:
Menurut waktu terjadinya:
a.RU gravidarum
b.RU durante partum
Menurut lokasi terjadinya:
a.Korpus uteri: biasanya terjadi pada rahim yang post SC klasik (corporal)
61

b.SBR: ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama tidak maju, SBR tambah lama tambah
regang dan tipis (rupture uteri iminens/terancam) dan akhirnya terjadilah ruptur uteri yang
sebenarnya
c.Serviks: saat melakukan persalinan dengan ekstraksi forsep maupun vakum sementara pembukaan
serviks belum lengkap
Menurut robeknya peritoneum:
a.RU komplit: peritoneum visceral ikut robek shg ada hubungan langsung antara rongga amnion dan
rongga peritoneum.
b.TU inkomplet: hubungan kedua rongga masih dibatasi oleh peritoneum visceral.
Menurut etiologi:
a.RU spontanea: karena dinding rahim yang cacat (post SC/miomektomi, perforasi saat kuretase,
manual plasenta) atau karena peregangan luar biasa dinding rahim (panggul sempit, janin besar,
gelemi, hidramnion, kelainan letak janin, grande multipara dengan perut gantung/pendulum)
b.RU violent: karena trauma (ekspresi kristeller/crede, ekstraksi forsep/vakum).
Menurut symptom klinik:
a.RU iminens: ancaman bakal terjadi rupture uteri
b.RU (sebenarnya)

kita perlu membedakan antara rupture uteri dengan dehisens. Dehisens merupakan terlepasnya jaringan
parut seksio sesarea
Ruptur uteri Dehisens
Selaput ketuban ikut robek, janin menonjol ke
rongga peritoneum, perdarahan bermakna
selaput amnion tidak ikut robek , janin tidak
menonjol ke rongga peritoneum, perdarahan tidak
ada/minimal.


Gejala:
Perdarahan intraperitoneum maupun perdarahan eksternalsyok (takikardia, hipotensi)
Nyeri perut/akut abdomen.
Ditemukannya tanda ekstrusi janin ke rongga abdomen (bagian janin teraba di rongga abdomen)
DJJ hilang, janin meninggal.
Periksa dalam: jari tangan dapat meraba robekan uterus, jari meraba usus dan omentum, jari dapat
bebas digerakkan.
Menemukan lingkaran retraksi patologis (Van Bandl Ring) akibat terdorongnya SBR ke arah
proksimal.
Penatalaksanaan:
Resusitasi untuk keadaan syok: pemberian cairan kristaloid dan transfuse darah
Antibiotika
Laparatomi: histerektomi. Atau husterorafi bila luka robekan sedikit dan masih dapat dijahit
3.2.Inversio uteri
62

Definisi: keadaan dimana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat OUE, yang dapat
bersifat komplit ataupun inkomplit.
Etiologi:
1. Atonia uteri (traksi umbilicus dengan uterus yang masih atonia)
2. Kekuatan yangmenariuk fundus ke bawah (plasenta akreta,inkreta,perkreta)
3. Ekspresi kristeller/crede
4. Tekanan intraabdominal ygt keras dan tiba2 (batuk keras)
Gejala:
1. Syok karena kesakitan
2. Perdarahan banyak bergumpal
3. Di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih melekat
4. Bila inversion lama terjadi, jepitan serviks akan mengeciluterus terjepitnekrosis.
Tindakan:
1. Memasang infuse untuk mengganti kehilangan cairan/darah
2. Dapat memberikan tokolitik / MgSO4 untuk melemaskan uterus
3. Lakukan reposisi manual (mendorong endometrium ke atas, masuk ke dalam vagina dan terus
melewati serviks sampai tangan masuk ke dalam uterus pada posisi normalnya.
4. Dalam uterus, plasenta dilepaskan secara manual
5. Tangan tetap dipertahankan dalam uterus, berikan uterotonika agar konfigurasi uterus kembali
normal.
3.3. Laserasi jalan lahir
4.Trombinkoagulopati konsumtif
Kausal PPP karena gangguan pembekuan darah baru dicurigai bila penyebab lain dapat disingkirkan
apalagi setelah ada riwayat pernah mengalami hal yg sama pada persalinan sebelumnya.
Gejala: tendensi mudah terjadi perdarahan setiap dilakukan penjahitan, dan perdarahan akan merembes
atau timbul hematoma pada bekas jahitan,suntikan, perdarahan gusi dll.
Pemeriksaan penunjang berupa faal hemostasis yang abnormal:
Waktu perdarahan dan pembekuan yang memanjang
Trombositopenia
Hipofibrinpgenemia
FDP yg meningkat
PT (protrombin time) dan PTT (partial tromboplastin time) yang memanjang.
Faktor predisposisi:
1.Solusio plasenta
63

akibat dari hematom retroplasenta terjadi pelepasan tromboplastin yg menyebabkan perombakan
protrombin jd thrombin, dan kemuadian thrombin mengubah fibrinogen menjadi fibrin yang membentuk
bekuan darahDIC.. namun disamping itu, akibat dari DIC terbentuk plasmin dari plasminogen yang
yang menghancurkan bekuan darah sehingga fibrinogen akan dirombak menjadi fibrin lebih banyak lagi
sehingga terjadi hipofibrinogenemiakeadaan gangguan pembekuan darah (consumptive coagulopathy)
yg secara laboratories terlihat pada memanjangnya waktu pembekuan darah melebihi 6 menit dan bekuan
darah yang telah terbentuk mencair kembali.
2.Kematian janin dan pelahiran hasil konsepsi mati yang tertunda
Biasanya terjadi koagulopati kalo janin yang mati tidak dilahirkan lebih dari 1 bulan. Penyebab
koagulopati ini ialah adanya tromboplastin (dari destruksi jaringan) yang berasal dari produk konsepsi
mati.
3.Emboli cairan amnion
Masuknya air ketuban melalui vena endoserviks atau sinus vena
Menyumbat pembuluh2 kapiler dlm paru2 ibu
Reaksi anafilaksis keras
Gangguan pembekuan darah
Aktivasi langsung faktor X oleh protease yang terdapat pada musin dalam cairan amnion
sehingga menyebabkan defibrinasi yang cepat.
Edema paru2 luas, gagal & payah jantung kanan
Gejala dan tanda:
Gelisah, mual/muntah, takikardi & takipnea
Dispnea & sianosis
Tekanan darah menurun, nadi cepat & lemah
Kesadaran turun, nistagmus, kadang2 timbul kejang tonik klonik
Gangguan pembekuan darah (hipo/afibrinogenemia)
Mortalitas sangat tinggi (50 % dlm 60 pertama)
4.Sepsis
Infeksi yang menyebabkan bakteremia dan syok sepsis di bidang obstetric paling sering disebabkan oleh
abortus septic, pielonefritis antepartum, atau sepsis puerperium.
Patofaal: endotoksin bakteri mengaktifkan mekanisme pembekuan ekstrinsik melalui ekspresi factor
jaringan di permukaan monosit aktif yang dipicu oleh sitokin. Jalur intrinsic tidak begitu penting
64

KI heparin untuk sepsis.
5.Eklampsia

Terapi untuk koagulopati konsumtif:
1. ABC
2. Resusitasi
3. Transfusi darah dan produknya spt FFP, trombosit,fibrinogen (lebih baik) dan heparinisasi atau
pemberian EACA (asam epsilon-aminokaproat untuk menghambat plasminogen menjadi plasmin
namun pemakian untuk sebagian kasus koagulopati obstetric tidak dianjurkan).
PROLAPS TALI PUSAT
Prolaps tali pusat dapat diklasifikasikan sbb:
a. Tali pusat terkemuka: tali pusat berada di bagian terendah janin dan ketuban masih intak
b. Tali pusat menumbung: tali pusat keluar melalui ketuban yang sudah pecah, ke serviks, dan turun
ke vagina.
c. Occult prolapse (tersembunyi): bila tali pusat berada di samping bagian terendah janin turun ke
vagina. Tali pusat dapat teraba atau tidak, ketuban dapat pecah atau tidak.
Penyebabnya karena tidak terisinya secara penuh pintu atas panggul dan serviks oleh bagian terndah
janin. Bisa disebabkan karena:
a. Malpresentasi: letak lintang atau sungsang, terutama presentasi kaki
b. Bayi premature
c. Polihidramnion
d. Tumor di panggul yang mengganggu masuknya bagian terendah janin
e. Tali pusat abnormal (panjang >75cm)
f. Plasenta letak rendah
g. KPD
h. Tindakan amniotomi
Komplikasi: gawat janin bahkan kematian janin (akibat obstruksi tali pusat oleh bagian terendah janin)
Diagnosis:
1. Melihat tali pusat keluar dari introitus vagina
2. VT: bagian terbawah ialah tali pusat
3. DJJ: ireguler, bradikardia janin akibat obstruksi tali pusat saat kontraksi uterus
4. Adanya deselerasi variabel
Penatalaksanaan:
1. Bila gawat janin: segera beri oksigen 4-6 L/m
2. Bila janin matilahirkan pervaginam
65

3. Bila janin hidupsiapkan untuk di SC, sambil menunggu SC:ibu dilarang mengedan, posisikan
ibu Trendelenburg positionposisi berbaring dimana kaki lebih tinggi dari kepala.
4. Persalinan pervaginam dapat dilakukan bila pembukaan lengkap, bagian terendah janin sudah
masuk panggul, tidak ada CPD reposisi tali pusat bila berhasil dapat partus spontan. Tapi bila
tidak, SC.
5. Inget pada kasus ini pasien jangan didrip oksitosin.
Penapisan kehamilan resiko tinggi
Kematian maternal adalah kematian ibu sewaktu hamil, melahirkan, atau dalam 42 hari sesudah
berakhirnya kehamilan.
Kematian maternal dapat digolongkan:
1. Kematian obstetric langsung: disebabkan langsung oleh komplikasi kehamilan, persalinan, nifas
atau penanganannya. Penyebabnya: perdarahan, infeksi, gestosid, abortus.
2. Kematian obstetric tidak langsung: disebabkan karena penyakit yang sudah diderita sebelum
kehamilan atau persalinan, misal: hipertensi, penyakit jantung, hepatitis, anemia, dan malaria.
Beberapa definisi:
1. Wanita resiko tinggi: wanita yang dalam lingkaran kehidupannya dapat terancam kesehatan dan
jiwanya oleh karena penyakit atau kehamilan, persalinan dan nifas.
2. Ibu resiko tinggi: faktor ibu yang dapat mempertinggi risiko kematian ibu.
3. Kehamilan risiko tinggi: suatu kehamilan dimana jiwa dan kesehatan ibu dan atau bayinya
terancam.
Faktor resiko tinggi:
a. Faktor non medis: Kemiskinan, ketidaktauan, adat, tradisi, kepercayaan, status gizi buruk, sosial
ekonomi rendah, kebersihan lingkungan, kesadaran ANC, fasilitas dan sarana kurang. Banyak
terjadi di negara berkembang
b. Faktor medis: Penyakit ibu dan janin, kelainan obstetri, gangguan plasenta, gangguan tali pusat,
komplikasi persalinan, penyakit neonatus, dan kelainan genetic
Ada 2 cara untuk menentukan kehamilan resiko tinggi:
1. Kriteria rohayati, dkk:
Primi tua
Primi muda
Primi tua sekunder (batas waktu 10 tahun baru bisa dapat anak lagi)
Umur 35 tahun atau lebih
Tinggi badan 145 atau kurang
Grandemulti (5 anak)
Riwayat persalinan buruk
Bekas SC
Pre eklampsi
66

Hamil serotinus
Perdarahan ante partum
Kelainan letak
Kelainan medis,dll
2. Cara skor
Penapisan kehamilan Resiko tinggi
Adalah deteksi aktif dan pengenalan dini adanya faktor resiko dalam kehamilan dan persalinan baik dari
pihak ibu maupun janin yang berpengaruh buruk terhadap kehamilan dan persalinan.
Metode penapisan:
1. Tes skrining I: Dilakukan untuk memisahkan ibu hamil tanpa faktor resiko dengan kelompok
dengan faktor resiko
2. Tes skrining II: Dilakukan untuk memisahkan kelompok ibu hamil dengan faktor resiko tinggi
yang butuh konsultasi dan penanganan lebih lanjut. Pemeriksaan yang diperlukan:
a.NST
adalah cara pemeriksaan kesejagteraan janin dengan menggunakan kardiotokografi untuk menilai
gambaran denyut jantung janin dalam hubungannya dengan gerakan/aktivitas janin.
Indikasi dilakukannya pemeriksaan NST ialah khususnya pada kasus2 dengan faktor resiko untuk
terjadinya gangguan kesejahteraan janin (hipoksia) dalam rahim seperti:
Hipertensi dalam kehamilan
Kehamilan dengan diabetes mellitus
Kehamilan post term
Pertumbuhan janin dalam rahim terhambat
Ketuban pecah premature
Gerakan janin berkurang
Kehamilan dengan anemia
Kehamilan ganda
Oligohidramnion
Polihidramnion
Riwayat obstetric buruk
Kehamilan dengan penyakit ibu
Ada 4 variabel yang diukur pada NST:
1. Baseline rate: garis rata2 dari dasarnya, normal 120-160x/m
2. Variabilitas: naik turunnya detak jantung yang tidak memenuhi syarat sebagai akselerasi ataupun
deselerasi
3. Akselerasi: peningkatan DJJ dari baseline rate15 dpm selama 15 detik. Akselerasi merupakan
respon simpatetik dimana terjadi peningkatan frekuensi DJJ sesuai dengan kontraksi uterus
maupun sesuai dengan gerak atau rangsang pada janin.
67

4. Deselerasi: penurunan DJJ dari baseline rate 15 dpm selama 15 detik.
a. Early deselerasi: deselerasi terjadi bersamaan dengan kontraksi uterus. Normal pada
persalinan karena saat terjadinya kontraksi->penekanan kepala janin oleh jalan lahir yang
mengakibatkan hipoksia dan merangsang refleks vagal.
b. Late deselerasi: deselerasi yang muncul setelah terjadinya kontraksi.


GINEKOLOGI
ENDOMETRIOSIS
Definisi: jaringan endometrium yang ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium.
Lokasi:
1. Endometriosis Ovariumkista coklat
2. Endometriosis Tuba
3. Endometriosis Vagina
4. Endometriosis Rektoservikalis (kavum douglasi)
5. Endometriosis ekstravaginal (usus,VU, paru,umbilicus)
Patologi:
Endometriosis ovarium seringkali ditemukan, dan biasanya didapati pada kedua ovarium. Pada ovarium
tampak kista-kista biru kecil sampai kista besar, berisi darah tua menyerupai coklat (kista coklat atau
endometrioma)akibat:
a. Darah tua mengalir sedikit2 dari ddg kistaperlekatan permukaan ovarium dgn
uterus,sigmoid,ddg pelvis
b. Darah mengalir dalam jumlah banyak karena robekan ddg kistaacute abdomen
Gejala:
a. Dismenorea: nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama haid.
Sebab: vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa
haid.
b. Dispareunia: endometriosis di kavum douglasi
c. Nyeri waktu defekasi, khususnya pada waktu haid: endometriosis di dinding rektosigmoid
d. Gangguan miksi dan hematuria saat haid: endometriosis di VU
e. Infertilitas: faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis ialah apabila
motilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlengketan jar sekitarnya.
Diagnosis:
a. Berdasar anamnesis : gejala
68

b. Pemeriksaan fisik: VT ataupun RTnodul pada daerah kavum douglasi.
c. Laparaskopi: diagnosis pasti endometriosis di rongga pelvic. Tampak semua lesi endometritik
termasuk lesi minimal.
Penatalaksanaan:
a. Pencegahan: dengan hamil.
b. Pengawasan: dilakukan bila keluhan ringan, wanita sudah agak berumur dan sebentar lagi akan
menopause. Pada tahap ini diberikan analgetika
c. Pemberian obat hormonal: Dasar terapihormone estrogen merangsang pertumbuhan jaringan
endometrium, androgen menyebabkan atrofi, progesterone menghambat pertumbuhan
endometrium.
1. Pil kombinasi: pil kombinasi yang dipilih hendaknya mengandung estrogen rendah dan
mengandung progesterone yang kuat dan efek androgenic yang kuat (contohnya norgestrel
mempunyai efek progesterone dan androgenic yang plg kuat). Cara: 0.03 mg etinilestradiol
+ 0,3 mg norgestrel. Pemberian terus menerus tiap hari selama 6-9 bulan/ bahkan sampai 1
tahun.
2. Pil progestagen: ada 3 jenis progestagen :
1.Pregnan MPA (provera)
Dihidrogesteron (duphaston)
2. Estran Linestrenol
Norelisteron
3. Gonan Norgestrel
Desogestrel
Jadi bisa pake tablet MPA 30-50 mg per hari selama 6-9 bulan atau sampai 12 bulan.

3. Danazol: turunan isoksazol dari 17 alfa etiniltestosteron. Mekanisme kerja:
a. Meningkatkan androgen: karena danazol merupakan agonis androgen yang mendesak
testosterone sehingga terlepas dari ikatannya dengan SHGB, shg kadar testosterone bebas
meningkat.
b. Menurunkan kadar estrogen: (1) menekan sekresi GnRH, LH,FSH (2) menghambat kerja
enzim steroidogenesis di folikel ovarium shg produksi estrogen menurun.
Cara pakaiL Danazol pada endometriosis ringan dan sedang (stad 2-3) diberikan 400 mg/hari
bila endometriosis berat (stad 4) diberikan 800 mg.hari, selama 6 bulan.
d. Pengobatan bedah:
Bedah konservatif: pengobatan bedah dengan mempertahankan fungsi reproduksi. Sarang-
sarang endometriosis diangkat dengan meninggalkan uterus dan jaringan ovarium yang sehat,
dan perlekatan sedapatnya dilepaskan.
Bedah definitive/radikal: indikasinya bila dengan bedah konservatif dan terapi hormonal gagal
atau bila wanita endometriosis berumur >40 tahun, endometriosis yang luas dan banyak
keluhan. Lakukan TAH-BSO +pengangkatan sarang endometriosis yang ditemukan.
69

Jenis teknik pembedahan: laparaskopi atau dengan laparatomi. (kalau kista coklat
endometriosisdilakukan laparatomi. kalo operasi dr Handikista cokelat dipecahkan
dahulu)
ADENOMIOSIS
Definisi: jaringan endometrium berada di dalam miometrium.
Gambaran klinik: menoragia, dismenorea sekunder, dan uterus yang makin membesar simetrik dan
berkonsistensi padat. Kadang-kadang juga terdapat dispareunia, dan rasa berat di perut bawah terutama
dalam masa prahaid.
Gambaran mikroskopik: ditemukannya pulau-pulau jaringan endometrium di tengah2 otot uterus.
Pengobatan: karena sering terjadi pada wanita yang berumur lanjut dan sudah memiliki banyak anak,
maka dapat dilakukan histerektomi. Namun bila pada wanita muda yang masih ingin mempunyai banyak
anak, maka sulit untuk melakukan pengobatan karena terapi hormonal tidak banyak gunanya.

Infertilitas
Definisi:
a. American Fertility Society: pasutri tidak mampu menghasilkan kehamilan setelah 1 tahun
pernikahan.
b. WHO: pasutri tidak mampu menghasilkan kehamilan setelah 2 tahun pernikahan.
Klasifikasi:
a. Infertilitas primer: istri belum pernah hamil walau bersenggama dan dihadapkan pd kemungkinan
kehamilan selama 12 bln.
b. Infertilitas sekunder: Istri pernah hamil, tapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walau
bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bln.
Beberapa istilah lain:
a. Fekunditas: kemampuan pasutri untuk melahirkan anak hidup.
b. Infekunditas: Ketidakmampuan pasutri untuk melahirkan anak hidup
c. Fertilitas: kemampuan untuk hamil dan melahirkan anak hidup
d. Subfertil: kesulitan hamil
e. Infertilitas: ketidakmampuan hamil dan melahirkan anak hidup dlm kurun waktu ttt.
f. Sterilitas: ketidakmampuan hamil sama sekali.
Syarat Kehamilan normal: testis menghasilkan sperma, ovarium menghasilkan ovum, tuba falopi paten,
endometrium/uterus mampu menunjang kehamilan, lendir serviks normal.
Insidensi infertilitas: sama antara pria maupun wanita yaitu 40%:40%.
70

Etiologi:
1. Faktor pria (25-30% kasus infertilitas)
Karena kelainan: infeksi, congenital,hormonal,autoimun,varikokel.
2. Faktor ovulasi (anovulasi 15-20%):
Karena: kelainan genetic, hiperprolaktinemia, hipo/hipertiroid, stress, gemuk, penyakit ovarium
polikistik.
Penjelasan: Orang hipotiroid (hormone T3 dan T4 rendah) memiliki TRH dan TSH yang tinggi yg
bertujuan untuk memicu sekresi T3 dan T4 namnun TRH juga memicu sekresi
prolaktinhiperprolaktinemia yg akan menekan sekresi FSH dan LH sgh terjadi gangguan pematangan
folikel. Selain itu prolaktin yg tinggi juga memicu peningkatan sekresi androgen adrenal yg menempati
reseptor di folikel shg menghambat pematangan folikel juga.
Orang gemuk: lemak banyakaktivitas adrenal meningkatandrogen meningkat (efek sentral menekan
GnRH hipotalamus; efek perifer menempati reseptor folikel shg folikel ovarium mjd resisten thd
rangsanagan gonadotropinmenghambat perkembangan folikel.
3. Faktor serviks (2-5%):
Fungsi serviks: filter (bakteri dan spermatozoa yg kurang baik) dan reservoir (spermatozoa hidup
2 hr). etiologi kelainan fungsi serviks: anatomi (posisi retroversi, serviks panjang), infeksi kronis
(gangguan produksi lendir serviks), imunologi (anti sperma antibody).
Kalo menurut buku sarwono, infertilitas yg berhubungan dengan factor serviks dapat disebabkan
oleh: sumbatan kanalis servikalis, lendir serviks yg abnormal, malposisi dari serviks. Sementara
kelainan anatomi serviks yg dapat berkaitan dengan infertilitas yaitu: cacat bawaan (atresia),
polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan (servisitis menahun), sinekia.
4. Faktor tuba (25-40%):
Fungsi tuba: pengangkutan ovum, transportasi sperma, hasil fertilisasi dan zigot. Etiolgi kelainan
fungsi tuba: infeksi (salpingitis dan hidrosalping), perlengketan peritubal dan periovarium,
endometriosis dan kelainan congenital.
5. Faktor uterus (5-10%):
Fungsi uterus: transportasi sperna, transplantasi dan nidasi, pemeliharaan hasil kehamilan.
Etiologi: antomi (congenital, adhesi intrauteri,mioma uteri, kerusakan endometrium), polip dan
hyperplasia endometrium.
Penjelasan: spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba falopi manusia secepat 5 menit sesduah inseminasi.
Migrasi spermatozoa ini dibantu oleh kontraksi vagina dan uterus ini. Prostaglandin dalam air mani dapat
membuat uterus berkontraksi secara ritmik. Oleh krn itu kurang prostaglandin dlm air mani dpt
menyebabkan infertilitas.
6. Faktor peritoneum / endometrium:
Infertilitas yg tidak diketahui penyebabnya70-80% karena endometriosis. Endometriosis terjadi
pada 15-25% wanita yg infertile.
7. Faktor idiopatik (10-15%): tidak diketahui etiolginya dan semua pem infertilitas normal.
Pemeriksaan
71

Urutan pemeriksaan: sederhana,mudah,murahkompleks,mahal,sulit,beresiko.
1.Anamnesa
2.Pemeriksaan fisik/ginekologi:
Hirsustisme/jerawat: hirsustisme dengan penyebab ovarium (kelebihan hormone androh=gen dengan
gambaranb klinis: anovulasi,amenore,infertilitas) atau hirsustisme karena penyebab adrenal.
Pembesaran kel tiroid:
Galaktorea: disebabkan karena hiperprolaktinemia. (kita tau bhw hiperprolaktinemiinfertilitas).
Inspeksi lendir serviks: kualitas mucus.
PDV: tumor uterus/adneksa.
3.pemeriksaan penunjang:
Analisis sperma: jumlah > 20 juta/mL, morfologi >40%, motilitas > 60%

LESI PRAKANKER SERVIKS
Disebut juga neoplasia intraepithelial serviks (NIS). Terjadi perubahan atipik dari proses diferensiasi
bertahap epitel kolumner dari skuamosa serviks.
Patofaal: serviks punya dua jenis epitel: epitel kolumner (melapisi ekstoserviks/porsio) dan epitel
skuamosa (melapisi endoserviks kanalis servikali) yang saling bertemu di SquamoColumnar Junction
(SCJ). Pada wanita muda SCJ berada di luar OUE, sedang pada wanita >35 tahun SCJ berada di dalam
kanalis serviks. Pada proses metaplasia epitel kolumner akan digantikan oleh epitel skuamosa yang baru.
Proses metaplasia dibagi menjadi 2: masa dinamik (masa saat epitel kolumner digantikan oleh epitel
skuamos) dan masa maturasi (pematangan sel yang sudah mengalami masa dinamis). Nah pada masa
dinamik inilah dengan adanya faktor pencetus dapat terjadi perubahan atipik, yang secara klinis disebut
NIS. Faktor pencetus antara lain: peradangan kronis (klamidia, mikoplasma, HSV tipe 2, virus papiloma,
Trikomonas vaginalis), kawin pada usia muda, hubungan seksual pada usia muda, gonta ganti
mitraseksual, perokok, sperma suami yang mengandung histone.
Pembagian lesi prakanker:
1. NIS I (displasia ringan)gangguan polaritas sel dan atipia ringan inti sel terdapat pada 1/3 tebal
epitel
2. NIS II (displasia sedang) gangguan polaritas sel dan atipia sedang inti sel terdapat pada 1/3-2/3
tebal epitel
3. NIS III (displasia berat)polaritas sel sudah terganggu pada seluruh tebal epitel dan ditemukan
atipia berat pada inti sel.
72

4. Karsinoma In situ (KIS)gangguan polaritas sel dan inti yang atipik pada seluruh ketebalan
epitel skuamosa, sel menyerupai sel carcinoma invasive, namun selaput basal tetap utuh, dengan
atau tanpa lesi kelenjar.
60% displasia ringan dan sedangca invasive
75% displasia berat dan KIS ca invasive
Displasia ringan Ca insitu (5 tahun)
Displasia sedangCa insitu (3 tahun)
Displasia beratCa insitu (1 tahun)
Ca insituca invasive (perlu waktu 3-10 tahun)
Gejala Klinis:
Pada tahap pra kanker dapat tidak ditemukan gejala sama sekali., kadang hanya keputihan atau gejala
peradangan lazimnya.
Deteksi dini prakanker:
1. Sitologi: pap smear.
Pap smear dilakukan kapan saja, ketika tidak terdapat darah haid. Waktu optimal: pertengahan
siklus, tidak melakukan hubungan seksual dalam 24 jam sebelumnya, tidak ada benda
dalam vagina dalam 48 jam sebelumnya, tidak perlu dicuci (douching).
2. Visualisasi:
IVA (inspeksi visualiasi dengan aplikasi asam asetat)
Servikografi
Spekuloskopi
Kolposkopi
3. Non visualisasi:
HPV DNA
TruScan (The Polar Probe)
Jadi alur diagnosisnya: lakukan tes PAP (skrining) kalo hasil abnormal, lakukan kolposkopi dan biopsy
lesi nah biopsy ini bisa dengan bantuan asam asetat / IVA.
Bagaimana melakukan IVA:
Persiapan alat: meja ginek, lampu sorot, speculum, asam asetat 3-5%, kapas lidi.
Cara melakukan: asam asetat 3-5%-->epitel serviks abnormal (terjadi perubahan osmotic, ekstrasel
menjadi hi[ertonik, membrane kolaps sehingga DNA keluar)epitel akan terlihat berwarna putih
(asetowhite). Nah epitel ini kemudian diambil/biopsy untuk kemudian di PA kan.
Penatalaksanaan untuk lesi prakanker serviks:
1. NIS I: observasi/ terapi seperti NIS II
2. NIS II: terapi laser vaporasi/loop eksisi
73

3. NIS III : Terapi laser vaporasi/loop eksisi, konisasi.
Pencegahan HPV : Vaksin Gardasil (6,11,16,18): diberikan 3 kali (bulan 0,2,6).
Kanker serviks
Penyebab:
Menurut WHO ada hubungan yang erat antara kanker serviks dan HPV99%. 120 tipe HPV telah
diketahui, dan 30-40 tipe HPV menyerang anogenital. HPV dibagi 2:
1. Low risk type (HPV 6 dan 11)tidak menyebabkan kanker, namun menyebabkan kutil
anogenital (kondiloma akuminata)
2. High risk type (HPV 16 dan 18)menyebabkan kanker serviks
Gejala klinis:
1. Keputihan
2. Post coital bleeding: perdarahan yg terjadi awalnya sedikit saja, bahkan hanya bercak merah pada
celana.
3. Jika terjadi perdarahan maka terjadi kerusakan pada pembuluh darah dan gejala tersebut terjadi
pada penyakit yang sudah lenjut.
4. Jika terjadi nekrosis dan infeksi maka secret encer dari vagina akan berbau busuk.
5. Kalo dari PDT: eriplakia yg mudah berdarah, ulkus/perlukaan porsio, pada tingkat lanjut: fistel
rektovaginal maupun visovaginal, metastasis jauh
6. Penyebaran secara limfogen: lig latum, daerah iliaka, obturator, prasakral, paraaortik
7. Penyebaran langsung (perkontinuitatum): corpus uteri, vagina, rektum, VU.
Stadium kanker:
0 : Karsinoma in situ, NIS III
I : Proses terbatas pada serviks
A : Ka invasif preklinik, diagnosis ditegakkan dengan mikroskop
A1: Invasi ke stroma 3 mm dan lebar 7 mm
A2: Invasi ke stroma antara 3 mm dan 5 mm dan lebar 7 mm
B : Secara klinik lesi jelas terlihat pada serviks
B1: Diameter lesi kurang dari 4 cm
B2: Diameter lesi lebih dari 4 cm
II : Proses keluar dari serviks dan menyebar ke vaginaatau parametrium tetapi belum mencapai1/3 distal
vagina dan tidak sampai ke dinding pelvis
A : Penyebaran belum mencapai parametrium
B : Penyebaran sudah sampai ke parametrium
74

III : Penyebaran mencapai 1/3 distal vagina dan dinding pelvis. Terjadi hidronefrosis dan afungsi ginjal
A : Penyebaran ke 1/3 distal vagina, dinding pelvis (-)
B : Meluas sampai ke dinding pelvis atau terjadi hidronefrosis dan afungsi ginjal
IV : Tumor mencapai mukosa vesika urinaria dan rektum atau meluas ke pelvis
A : Penyebaran ke organ sekitar
B : Metastasis jauh
Diagnosis kanker serviks:
a. Gejala klinis: umur 35 tahun dengan keluhan: keputihan, post coital bleeding, gangguan
BAK dan BAB, nyeri daerah pelvis-pinggang-tungkai.
b. Pemeriksaan fisik:
Pembesaran kelenjar limfe supraklavikula, pembesaran organ hati, dll.
c. Pemeriksaan ginekologi:
VT: vagina(fluor,fluksus/perdarahan,infiltrasi tumor di vagina), portio (massa yang berdungkul,
padat, rapuh), adneksa parametrium (tanda penyebaran tumor, teraba padat, kaku).
RT: menilai penyebaran ke arah samping dinding pelvis. CFS (cancer Free Space: daerah
bebas antara serviks-dinding pelvis). Bila CFS 100% belum ada tanda penyebaran, CFS 0%
penyebaran mencapai dinding pelvis, dan bila diantaranya maka dikatakan ada penyebaran, tapi
belum mencapai dinding pelvis.
d. Pemeriksaan penunjang:
1. Pap smear
2. Biopsi dengan/tanpa tuntunan kolposkopi
3. Konisasi
4. Tes fungsi ginjal
5. Pemeriksaan lain sesuai keperluan (foto toraks,USG ginjal/abdomen,IVP,
rektoskopi,sistoskopi)
Penatalaksanaan:
Ka insitu: konisasi, histerektomi (bila anak cukup)
Stadium I A : konisasi, histerektomi ekstrafasial, radiasi
Stadium I B - II A : Histerektomi radikal, radiasi
Stadium II B - IV : radiasi, kemoterapi
MIOMA UTERI
Definisi: suatu tumor jinak dari lapisan miometrium rahim, dengan sifat: konsistensi padat kenyal, batas
jelas, berdungkul,tidak nyeri, bisa soliter atau multipel.
Lokasi mioma:
1. Serviks uteri: 1-3%
2. Korpus uteri : 97%
75

a. Mioma submukosum: berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga
uterus. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan
melalui saluran serviks (myomgeburt).
b. Mioma intramural: mioma terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium
c. Mioma subserosum: apabila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada
permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat tumbuh di antara kedua
lapisan depan dan belakang ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter. Mioma
subserosum juga dapat tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke ligamentum atau
omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut
wandering/parasitic fibroid.
Patofisiologi:
Berasal dari totipotential primitive cells atau immature muscle cell nest dalam miometrium, yang
berproliferasi akibat rangsangan terus menerus oleh hormone estrogen, sehingga terbentuk tumor yang
terdiri dari jaringan otot, jaringan ikat fibrous dan banyak pembuluh darah.
Tumor sering ditemukan pada wanita masa reproduksi, terutama 40-50 tahun, jarang ditemukan sebelum
menarche dan akan mengalami regresi setelah menopause.
Tumor bertambah besar pada kehamilan dan pada pemberian hormone estrogen.
Perubahan sekunder pada mioma:
a. Atrofi: saat menopause
b. Degenerasi hialin: saat usia lanjut, tumor kehilangan struktir aslinya, serabut otot yg satu terpisah
dengan yang lain.
c. Degenerasi kistik: sebagian mioma menjadi cair, sehingga konsistensi jadi lunak,
d. Degenerasi membatu: saat usia lanjut. Terjadi pengendapan garam kapur pada miomamioma
menjadi keras.
e. Degenerasi merah: saat hamil dan nifas. Karena terjadi suatu nekrosis subakut sebagai gangguan
vaskularisasi.
f. Degenerasi lemak: jarang terjadi dan kelanjutan dari degenerasi hialin.
Gejala Klinis:
Perdarahan Uterus Abnormal: bisa berupa hipermenore, menoragia, atau metroragia. Disebabkan
karena permukaan endometrium yg lebih luas, miometrium tdk dapat berkontraksi optimal untuk
menjepit pembuluh darah.
Nyeri haid/dismenore.
Gejala dan tanda penekanan: VU (poliuria), uretra (retensio urin), ureter
(hidroureter,hidronefrosis),rektum (obstipasi), PD dan Plimfe (edema dan varises).
Mioma uteri dan kehamilan:
Efek mioma uteri terhadap kehamilan: (1) Infertilitas: sarang mioma menutup atau menekan pars
intersitiel tuba, (2) Abortus: mioma sumbukosum menyebabkan distorsi rongga uterus, (3) letak janin, (4)
76

menghalangi kemajuan persalinan karena letaknya pada serviks uteri, (5) terjadinya inersia uteri dan
atonia uteriHPP, (6) plasenta sukar lepas, (7) mengganggu proses involusi nifas.
Efek kehamilan pada mioma:
Tumor membesar pada bulan2 pertama kehamilan karena pengaruh estrogen yg kadarnya
meningkat
Terjadi degenerasi merah,
Torsi dari mioma uteri bertangkai.
Diagnosis:
Anamnesis
Pemeriksaan abdomen: benjolan mioma (sifat padat kenyal, batas tegas, berdungkul, gak nyeri,
mobile)
Pemeriksaan bimanual (dalam + luar): korpus uteri membesar, antefleksi dengan ukuran 10-12
minggu (analogikan dengan usia kehamilan).
USG
Pemeriksaan PA bahan operasi.
DD: tumor ovarium, adenomiosis, kehamilan, tumor solid rongga pelvis
Penatalaksanaan:
Prinsip penatalaksanaan tergantung kepada:
a. Besar kecilnya tumor
b. Ada tidaknya keluhan atau komplikasi
c. Umur dan paritas penderita










Bila besar tumor < rahim gravid 12
minggu:

b. Tanpa keluhan/komplikasi: tidak
perlu tergantung pada umur dan
paritas, cukup dilakukan
pengawasan dengan pemeriksaan
berkala setiap 3 bulan sekali. Apabila
terjadi pembesaran atau timbul
komplikasi dipertimbangkan
operatif.

a. Dengan keluhan/komplikasi perdarahan,
dilakukan:
Koreksi anemia dengan tranfusi darah bila Hb
8 gr/dL
Kuret dikerjakan bila Hb 8, kecuali pada
perdarahan profus. Tujuan kuret:
menghentikan perdarahan dan melakukan
pemeriksaan PA untuk menyingkirkan
kemungkinan keganasan atau penyakit lain.

77











Bila besar tumor > rahim gravid 12 minggu: dengan atau tanpa keluhan/ komplikasi, dilakukan tindakan
operatif. Bila perdarahan, dilakukan kuret dulu untuk menghentikan perdarahan dan pemeriksaan PA
setelah anemia dikoreksi.
Jenis penatalaksanaan:
1. Konservatif: pemberian preparat besi, vitamin/roborantia, makanan TKTP,pemberian hormone
bila hasil PA menunjukkan adanya gangguan hormonal, pengawasan lanjut.
2. Operatif:
Preop: dengan mengecilkan mioma uteri dahulu dengan analog GnRH
Tindakan:
a. Miomektomi: pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Dikerjakan pada
mioma submukosum dan mioma geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina.
b. Histerektomi:
Ada tiga macam tipe histerektomi:
(1) Total abdominal histerektomi: uterus bersama serviks diangkat, tujuanx mencegah kanker
serviks, (2) subtotal abdominal histerektomi (supravaginal/supraservikal): hanya uterus yang
diangkat, serviks ditinggal, hanya dilakukan bila ada kesukaran teknis untuk mengangkat
uterus keseluruhan, (3) histerektomi radikal: uterus, serviks, bagian atas vagina, dan jaringan
oenyangga yang ada di sekitarnya semuanya diangkat.
Sedangkan cara operasi histerektomi juga terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Histerektomi abdominal, dimana pengangkatan kandungan dilakukan melalui irisan pada perut,
baik irisan vertikal maupun horisontal (Pfanenstiel). Keuntungan teknik ini adalah dokter yang
melakukan operasi dapat melihat dengan leluasa uterus dan jaringan sekitarnya dan mempunyai
cukup ruang untuk melakukan pengangkatan uterus. Cara ini biasanya dilakukan pada mioma
yang berukuran besar atau terdapat kanker pada uterus. Kekurangannya, teknik ini biasanya
Setelah kuret, tindakan selanjutnya tergantung
umur dan paritas
Umur < 35 tahun dan masih mau
punya anak: terapi monservatif. Bila
gagal, lakukan operatif.
Umur 35 tahun dengan
jumlah anak cukup: tindakan
operatif
78

menimbulkan rasa nyeri yang lebih berat, menyebabkan masa pemulihan yang lebih panjang,
serta menimbulkan jaringan parut yang lebih banyak.
2. Histerektomi vaginal, dilakukan melalui irisan kecil pada bagian atas vagina. Melalui irisan
tersebut, uterus (dan mulut rahim) dipisahkan dari jaringan dan pembuluh darah di sekitarnya
kemudian dikeluarkan melalui vagina. Prosedur ini biasanya digunakan pada prolapsus uteri.
Kelebihan tindakan ini adalah kesembuhan lebih cepat, sedikit nyeri, dan tidak ada jaringan parut
yang tampak.
3. Histerektomi laparoskopi. Teknik ini ada dua macam yaitu histeroktomi vagina yang dibantu
laparoskop (laparoscopically assisted vaginal hysterectomy, LAVH) dan histerektomi
supraservikal laparoskopi (laparoscopic supracervical hysterectomy, LSH). LAVH mirip dengan
histerektomi vagnal, hanya saja dibantu oleh laparoskop yang dimasukkan melalui irisan kecil di
perut untuk melihat uterus dan jaringan sekitarnya serta untuk membebaskan uterus dari jaringan
sekitarnya. LSH tidak menggunakan irisan pada bagian atas vagina, tetapi hanya irisan pada
perut. Melalui irisan tersebut laparoskop dimasukkan. Uterus kemudian dipotong-potong menjadi
bagian kecil agar dapat keluar melalui lubang laparoskop. Kedua teknik ini hanya menimbulkan
sedikit nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta sedikit jaringan parut.
PENYAKIT RADANG PANGGUL DAN TOA
PID
Definisi: penyakit/keradangan dari saluran genitalia wanita bagian atas, yaitu: endometrium, tuba,
ovarium, dan parametrium.
Etiologi:
1. Eksogen: mikroorganisme yang ditularkan melalui hubungan seksual, contoh: Neisseria
gonorrhoe, C trachomatis, micoplasma hominis, ureaplasma.
2. Endogen: mikroorganisme dari vagina: aerob (streptococcus, staphilococus, e coli) atau anaerob
(bacteroides,clostridium,actinomyces).
Diagnosis:
1. Anamnesa:
Nyeri perut bagian bawah dan daerah pelvic, bisa bilateral atau unilateral
Fluor albus yang purulen, dapat disertai perdarahan ringan di luar waktu haid.
Gangguan urogenital berupa dispareunia, disuria, poliuria.
Riwayat gonta ganti pasangan]Pemakai AKDR

2. Pemeriksaan fisik:
Febris, sakit kepala, malaise
Nyeri tekan perut bagian bawah
nyeri tekan dan goyang serviks
Daerah adneksa teraba kaku dan nyeri
Mungkin teraba masa dan fluktuasi pada kavum Douglasi

3. Pemeriksaan laboratorium: leukositosis
79

Jadi didiagnosis menurut kriteria Infection Disease Society for Obstetrics and Gynecology USA:
Kriteria mayor: nyeri tekan pada perut bawah + nyeri goyang serviks + nyeri adneksa ditambah dengan
satu atau lebih kriteria berikut: mikroorganisme patologis pada secret endoserviks, suhu rectal > 38
derajat, leukosit >10.000, pus dlam kavum peritoneum didapat dengan kuidosentesis atau laparoskopi,
abses pada pemeriksaan bimanual atau USG.
Pembagian:
1. Derajat 1: radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba dan ovarium) dengan atau tanpa
pelvio-peritonitis.
2. Derajat 2: radang panggul dengan penyulit (didapatkan massa radang atau abses pada kedua tuba
dan ovarium) dengan atau tanpa pelvio-peritonitis.
3. Derajat 3: radang panggul dengan penyebaran di luar organ-organ pelvic.
Penatalaksanaan:
1. Rawat jalan: bila PID derajat 1 dengan KU yang masih baik. Terapi: antibiotic, analgetik
2. Rawat inap: bila PID derajat 2-3, dengan KU yang buruk, suhu >39, tanda peritoninits. Terapi:
a. Tirah baring total
b. Bila perut gembung/adanya tanda-tanda ileus, pasang nasogastic tube, pasang infuse, dan
batasi makanan peroral.
c. Dilakukan kolpotomi dan drainase pada kavum douglasi bila terisi pus dan fluktuasi (+)
d. Bila terjadi TOA, terapi konservatif dulu dengan antibiotic spectrum luas dosis tinggi selama
3 hari atau sampai keadaan baik kemudian lakukan laparatomi.
e. Berikan antibiotic dan analgetik.
TOA
Definisi: radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan atau tuba falopi pada satu atau dua sisi adneksa.
Etiologi:
Dimulai dari salpingitis dan atau oophoritis yang berasal dari vagina ke uterus ke tuba dan ovarium. Bisa
dari pasca persalinan, pasca abortus, tindakan ginek lainnya.
TOA bisa berasal dari adneksitis akut sebelumnya. Penyebaran bakteri dari vagina ke uterus dan tuba
atau parametrium melalui salphingitis dengan atau tanpa oophotiris.
Gejala klinis:
Umumnya tidak menimbulkan keluhan, sampai TOA pecah dan menimbulkan gejala:
a. akut abdomen
b. Nyeri perut
c. Mual muntah
d. Syok sepsis
e. Ileus
80

f. Cav douglas menonjol karena penumpukan pus
Pemeriksaan:
a. Lab: leukositosis
b. USG: mendeteksi massa adneksa, melihat ada tidaknya pembentukan kantung pus dab untuk
evaluasi kemajuan terapi.
c. Kuldosentesis: pus
Gejala Dd Komplikasi Penatalaksanaan
TOA utuh Akibat
penekanan
struktur
sekitar
kista ovarium,
tumor ovarium,
Kehamilan
ektopik, abses
peri
apendikuler,
mioma uteri

Pecah sampai
sepsis, ileus,infertile

1.MRS
2.Tirah baring
3.Observasi TTV dan produksi
urine
4.Abtibiotika: kombinasi
sefalospotin dan metronidazole
5.bila msa tidak mengecil
dalam 7 hari, atau makin
membesar, lakukan laparatomi
(salpingooforektomi).
TOA pecah Syok perforasi
apendiks,
perforasi ulkus
peptikum.
Syok sepsis, abses
intraabdomen,abses
paru.
1.Laparatomi
(salfinoooforektomi), kultur
pus, cuci kavum abdomen,
pasang drain
Antibiotika: kombinasi
sefalosporin dan
metronidazole.

PENYAKIT TROFOBLAS GANAS
Definisi: tumor ganas yang berasal dari trofoblas
Definisi buku merah: penyakit trofoblastik yang memmpunyai tendensi neoplastik, termasuk : mola
invasive, koriokarsinoma, dan plasental site trophoblastic tumor
Golongan PTG (slide dan buku biru)
1. PTG jenis non vilosum
2. PTG jenis vilosum
3. PTG yang jenisnya tidak jelas
PTG jenis vilosum
Untuk keperluan diagnosis, dilakukan pengerokan, hasil kerokannya ditemukan vilus-vilus. Jenis PTG
vilosum penyebaran tumor hanya sampai pada miometrium, tapi tetap ada kemungkinan di pelvis,vagina,
atau paru.
PTG jenis non vilosum/koriokarsinoma, dibagi menjadi 2:
81

a. Risiko rendah: metastasis di paru dan atau alat genital
b. Risiko tinggi: metastasis di otak, hepar, traktus digestivus.
c. Koriokarsinoma didahului oleh mola (50%), kehamilan aterm (25%), dan sisanya abortus dan
kehamilan ektopik (sisanya).
Golongan PTG (buku merah, berdasarkan ada tidaknya perluasan PTG di luar rahim):
a. PTG non metastatic: PTG terbatas pada uterus. Gambaran histoPA (gambaran mola hidatidosa
atau koriokarsinoma yg tdd sel sito dan sinsitio trofoblas yang anaplastik dengan tanpa
pembentukan vili korialis. Dapat pula bentukan lainL plasental site trofoblastik tumor (PA
predominan sel trofoblass intermediet).
b. PTG metastatic: perluasan penyakit di luar rahim. Bentuk ini umumnya adalah koriokarsinoma
yang sejak awal punya tendensi untuk menginvasi pembuluh darah shg metastasis jauh.
Diagnosis dibuat berdasarkan:
1. Anamnesis: perdarahan yang terus menerus setelah evakuasi mola/persalinan/abortus. Keluhan
sesuai tempat metasstasisnya (hemoptoe, melena, sakit kepala, kejang).
Intinya HBES: H (histori: post mola,post partum,post abortum, post KET); B
(Bleeding:perdarahan pervaginam terus menerus tidak teratur); E (enlargement: uterus
tetap membesar); S (softness: uterus lunak).
2. Pemeriksaan fisik: pembesaran uterus, adneksa, vagina, atau daerah metastasis lain. Dapat
ditemukan juga kistra teka lutein uni/bilateral.
3. Pemeriksaan penunjang:
Laboratorium: kadar B HCG yang tinggi, atau sesuai dengan hasil pematauan pasca evakuasi
mola, Darah lengkap, tes fungsi hati (SGOT,SGPT), Biopsy (histoPA)
foto toraks
USG pelvis, abdomen
CT scan.
Stadium (berdasar anatomic, menurit Federation International Obstetric Gyenologic):
1. Penyakit terbatas di uterus
2. Penyakit menyebar ke vagina dan/ pelvis
3. Penyakit menyebar ke paru dengan/ tanpa adanya penyakit pada uterus, vagina, atau pelvis.
4. Penyakit menyebar ke otak, hati, ginjal, saluran cerna.
Sistem skor menurut WHO: (baca di buku merah)
Penatalaksanaan: juga baca di buku merah.
TUMOR JINAK OVARIUM
Definisi: suatu masa berupa pembesaran dari jaringan ovarium normal tanpa menunjukkan tanda
perubahan ke arah keganasan.
Klasifikasi:
82

1. Tumor ovarium non neoplastik:
a. Kista folikel
b. Kista korpus luteum
c. Kista lutein
d. Kista inklusi germinal
e. Kista endometrium
f. Kista Stein Leventhal
2. Tumor neoplastik:
a. Kistik:
1. Kista ovarium simpleks
2. Kista ovarium serosum
3. Kista ovarium musinosum
4. Kista endometroid
5. Kista dermoid
b. Solid:
1. Fibroma, leomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, limfangioma
2. Tumor Brenner
3. Tumor sisa adrenal (maskulinovo-blastoma)
Gejala Klinik: Kebanyakan tumor tidak bergejala, sebagian besar gejala adalah akibat dari partumbuhan,
aktivitas endokrin atau komplikasi tumor, berupa:
1. Penonjolan perut, penekanan kandung kencing sehingga menimbulkan gangguan miksi
2. Kolik (akut abdomen) untuk torsi kista ovarium
3. Tumor ovarium yang besar: menimbulkan rasa di perut obstipasi, edema tungkai dan nafsu makan
menurun, sesak
4. Fibroma ovatii: 40% ditemukan asites + hidrotoraks
Pemeriksaan penunjang:
Lakukan USG untuk menentukan letak, batas, permukaan tumor.
Penanganan:
1. Konservatif: bila tumor tidak memberikan gejala atau keluhan dan besar diameter < 5 cm
kemungkinan adalah kista folikel atau kista korpus luteumdapat mengecil spontan, tunggu 2-3
bulan lalu kontrol ulang. Bila terjadi pembesaran pertimbangkan operatif
2. Operatif: pengangkatan dengan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Inget pada
wanita usia subur penting untuk menyisakan jaringan ovarium yang adekuat. Jika tumor besar dan
komplikasi, lakukan pengangkatan tuba dan ovarium (salpingooforektomi).
3. Pengangkatan ovarium saat operasi harus diperiksa untuk menentukan ganas atau tidak, jika
meragukan lakukan frozen section. Bila ganas sesuai tindakan kanker ovarium.