Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKTIKUM

BETON


























http://www.tekniksipil.org


1

PERCOBAAN I
PEMERIKSAAN BERAT ISI AGREGAT

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan berat isi agregat halus, kasar,
atau campuran yang didefinisikan sebagai perbandingan antara berat
material kering dengan volumenya.

II. PERALATAN
a. Timbangan dengan ketelitian 0,1% berat contoh.
b. Talam berkapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat.
c. Tongkat pemadat berdiameter 15cm, panjang 60cm yang ujungnya bulat,
terbuat dari baja tahan karat.
d. Mistar perata.
e. Sekop.
f. Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder dengan alat pemegang
(bohler).

Ukuran butir
Kapasitas Diameter Tinggi maks. Agregat
(liter) (cm) (cm) (mm)
dasar sisi
2.832 152.4 2.5 154.9 2.5
5.08 2.54 12.70
9.435 152.4 2.6 292.1 2.5
5.08 2.54
25.40
14.158 152.4 2.7 279.4 2.5
5.08 3.00
38.10
28.316 152.4 2.8 284.9 2.5
5.08 3.00
101.60
Minimum
Tebal Wadah

III. BAHAN BAHAN
a. Agregat halus (pasir).
b. Agregat kasar (batu pecah dan kerikil).




2

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
Masukkan agregat ke dalam talam, sekurang kurangnya sebanyak
kapasitas wadah. Keringkan dengan oven pada suhu 110 sampai berat
menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.

1. Berat isi lepas
a. Timbang dan catat berat wadah (W
1
).
b. Masukkan benda uji dengan hati hati agar tidak terjadi
pemisahan butir butir dari ketinggian 5cm diatas wadah dengan
menggunakan sendok atau sekop sampai penuh.
c. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
d. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W
2
).
e. Hitung berat benda uji (W
3
=W
2
W
1
).

2. Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38.19mm (1.5in) dengan cara
penusukan :
a. Timbang dan catat wadah (W
1
).
b. Isi wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal.
Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusuk
tusuk sebanyak 25 kali secara merata.
c. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
d. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W
2
).
e. Hitung berat benda uji (W
3
=W
2
W
1
).

3. Berat isi untuk agregat ukuran butir 38,10 101,10mm (1,5 4in)
dengan cara penggoyangan :
a. Hitung dan catat berat wadah (W
1
).
b. Isi wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal.
c. Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang goyangkan
wadah dengan prosedur sebagai berikut :
- Letakkan wadah diatas tempat yang kokoh dan datar,
angkatlah salah satu sisinya kira jira setinggi 5cm

3

kemudian lepaskan. Ulangi hal ini pada sisi yang
berlawanan.
- Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi.
d. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata.
e. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W
2
).
f. Hitung berat benda uji (W
3
=W
2
W
1
).


PENENTUAN BERAT ISI DENGAN CARA PENUSUKAN










4

ANALISA PERCOBAAN
Dari pemeriksaan berat volume agregat halus didapatkan :
Keadaan gembur dengan cara lepas : 1361,972 kg/m
3

Keadaan padat dengan cara penusukan : 1484,013 kg/m
3
Rata rata : 1422,992 kg/m
3

Dari pemeriksaan berat volume agregat kasar didapatkan :
Keadaan gembur dengan cara lepas : 1257,017 kg/m
3

Keadaan padat dengan cara penusukan : 1422,519 kg/m
3

Rata rata : 1349,768 kg/m
3


V. DATA HASIL PERCOBAAN

1) PEMERIKSAAN VOLUME AGRAGAT HALUS.
Gembur
cara lepas Penusukan Penggoyangan
Diameter mould (cm) 15,3 15,3 15,3
Tinggi mould H (cm) 22,3 22,3 22,3
Volume mould V (m
3
) 4,097.10
-3
4,097.10
-3
4,097.10
-3
Berat mould W
1
(kg) 8,240 8,240 8,240
Berat mould +agregat (kg) 13,820 14,320 14,390
Berat agregat W
3
=W
2
- W
1
5,580 6,080 6,150
Berat volume (W3/V) kg/m3 1.361,972 1.483,013 1.501,098
rata - rata 1.422,992 kg/m
3
Metode pelaksanaan
Padat

Catatan :
V mould = 3,14 (
1
/
4
) . (15,3)
2
. (22,3) = 4097,86 cm
3

= 4,098.10
-3
m
3







5


2) PEMERIKSAAN VOLUME AGREGAT KASAR
Gembur
cara lepas Penusukan Penggoyangan
Diameter mould (cm) 15,3 15,3 15,3
Tinggi mould H (cm) 22,3 20,3 22,3
Volume mould V (m
3
) 4,097.10
-3
4,097.10
-3
4,097.10
-3
Berat mould W
1
(kg) 8,240 8,240 8,240
Berat mould +agregat (kg) 13,390 14,150 13,930
Berat agregat W
3
=W
2
- W
1
5,150 5,910 5,660
Berat volume (W3/V) kg/m3 1.257,07 1.442,519 1.381,498
rata - rata 1.349,768 kg/m
3
Metode pelaksanaan
Padat





















6

PERCOBAAN II
ANALISA SARINGAN AGREGAT KASAR DAN HALUS

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan pembagian butir (gradasi)
agregat. Data distribusi butiran pada agregat diperlukan dalam perencanaan
adukan beton. Pelaksanaan penentuan gradasi ini dilakukan pada agregat
halus dan kasar. Alat yang digunakan adalah seperangkat saringan dengan
ukuran jaring- jaring tertentu.

II. PERALATAN
a. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji.
b. Satu set sarungan untuk agregat kasar ukuran #67 (diameter agregat
antara 50,00 4,76mm) dengan berat minimum contoh 20kg.
c. Satu set saringan agregat halus dengan berat minimum contoh 500kg.
d. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu ubtuk pemanasan sampai
110C.
e. Alat pemisah contoh (sample splinter).
f. Talam talam.
g. Kuas, sikat kuningan, sendok, dan alat bantu lainya.

III. BAHAN - BAHAN
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh, berat dari contoh disesuaikan
dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan. Dalam
praktikum ini tidak ada agregat kasar berdiameter lebih dari 50mm, sehingga
digunakan saringan ukuran #467.

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Benda uji dikeringkan didalam oven dengan suhu 110C sampai berat
contoh tetap.
b. Contoh dicurahkan pada perangkat saringan. Susunan saringan dimulai
dari saringan yang paling besar diletakkan paling atas. Perangkat saringan

7

diguncang dengan tangan atau mesin pengguncang dengan tangan atau
mesin pengguncang selama 15 menit.

V. PERHITUNGAN
Analisa ayakan bagi butiran antara 50,0 4,76mm berat contoh 5kg dan
kategori ayakan No. 467.

VI. DATA PERHITUNGAN HASIL PERCOBAAN II

Nomor Berat % berat
Saringan tertahan % tertahan yang lolos
mm inch ( gram ) ( kumulatif )
1,5 38,1 - 0 0 99,91
5/8 15,8 - 565 26,9 73,01
5/16 7,9 - 1,367 65,28 7,73
- Pan - 162 7,73 0
total 2,094 99,91
Ukuran lubang
ayakan
ANALISIS AYAKAN AGREGAT DENGAN DIAMETER 50,0 - 4,76 mm




8




Nomor Berat % berat % berat
Saringan Ayakan tertahan % tertahan tertahan yang lolos
( mm ) ( gram ) ( kumulatif ) ( kumulatif )
16 1,18 0,3 0,03 0,03 99,956
30 0,6 169,2 17,03 17,07 82,926
60 0,25 463,1 46,66 63,73 36,266
200 0,075 328,4 33,09 96,82 3,176
- Pan 31,43 3,166 99,986 0,01
total 992,43 99,986
ANALISIS AYAKAN AGREGAT HALUS ( PASIR)


9



10

ANALISA PERCOBAAN
- Modulus kehalusan (FM) = fineness modulus diperoleh dengan
menjumlahkan prosentase komulatif pada masing masing ayakan
dibagi 100.

AGREGAT HALUS
77 , 2
100
986 , 99 82 , 98 73 , 63 07 , 17 03 , 0
=
+ + + +
= FM

AGREGAT HALUS
19 , 7
100
500 91 , 99 18 , 92 9 , 26
=
+ + +
= FM

- Agregat grafik susunan butir untuk agregat campuran.
Grafik butiran halus menempati daerah 1 dan 2.
a) Daerah tidak baik, diperlukan terlalu banyak semen dan air.
b) Daerah baiktetapi diperlukan terlalu banyak semen dan air
disbanding daerah 3.
Grafik butiran kasar menempati butir diskontinu.
c) Daerah banyak untuk susunan butir diskontinu.
d) Daerah tidak baik terlalu sulit dikerjakan.

Catatan :
untuk mencapi suatu kekuatan beton tertentu pada suatu nilai
slump tertentu, pada umumnya diperoleh penghematan semen
sebanyak 25kg/m
3
beton pada daerah 3 dibandigkan daerah 2.







11

PERCOBAAN III
PEMERIKSAAN ORGANIK DALAM AGREGAT HALUS

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan adanya bahan organic dalam
agregat halus. Kandungan bahan organic yang berlebihan pada unsure bahan
beton dapat mempengaruhi kualitas beton. Kadar oeganik adalah bahan-
bahan yang terdapat didalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap
suatu mortar atau beton.

II. PERALATAN
a. Botol gelas tembus pandang dengan penutup karet atau gelas atau bahan
penutup lainnya yang tidak beraksi terhadap NaOH volume gelas =
350ml.
b. Standard warna (organic plate).
c. Larutan NaOH 3%.

III. BAHAN BAHAN
Contoh pasir dengan volume 115ml (sepertiga volume botol).

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Contoh benda uji dimasukkan kedalam botol.
b. Tambahkan larutan NaOH 3% setelah dikocok, total volume menjadi kira
kira volume botol.
c. Botol ditutup erat erat dengan penutup dan botol dikocok kembali.
Diamkan botol selama 24 jam.
d. Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan yang terlihat dengan warna
standard No. 3 (apakah lebih tua / muda). Bila terlihat nyata warnanya
lebih muda (misalnya sesuai No.1) berarti kadar organiknya rendah.

12



V. DATA PERCOBAAN III
Tanggal percobaan 10~11 Oktober 2009
1. Pasir +NaOH 3% (kuning muda).
Pasir +NaOh 3% (kuning tua).
Di kocok.

2. Setelah 24 jam -------warna kuning muda, ke abu abuan.
Benda uji pasir
1
/
3
dari tinggi botol (350ml) ditambah, NaOH 3%
menjadi berisi dari tinggi botol (350ml).


13

Analisa Percobaan :
Warna lebih rendah dari warna standard.
Standard warna No.3 dari standard warna colour chart warna tersebut masih
sesuai untuk menentukan rendahnya kadar organic, maka agregat halus
tersebut dapat digunakan untuk pembuatan beton.








































14

PERCOBAAN IV
PEMERIKSAAN KADAR LUMPUR DALAM AGREGAT HALUS

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan prosentase kadar lumpur yang
terkandung dalm agregat halus. Kandungan lumpur kurang dari 5%
merupakan ketentuan dalam peraturan bagi penggunaan agregat halus untuk
pembuatan beton.

II. PERALATAN
a. Gelas ukur
b. Alat pengaduk

III. BAHAN BAHAN
Contoh pasir biasa dalam kondisi lapangan dengan pelarut air biasa.

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Contoh benda uji dimasukkan kedalam benda ukur.
b. Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur.
c. Gelas dikocok untuk mencuci pasir dari lumpur.
d. Simpan gelas pada tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap
setelah 24 jam.
e. Ukut tinggi pasir (V
1
) dan tinggi lumpur (V
3
).

V. PERHITUNGAN
Kadar lumpur = % 100
2 1
1
x
V V
V
+




15



VI. DATA PERCOBAAN IV

Berat agregat halus dalam keadaan alam (gr)
Tinggi pasir mula mula (ml) =300
Tinggi air +pasir (ml) =360
Tinggi pasir (V
1
) (ml) =270
Tinggi lumpur (V
2
) (ml) =7
Kadar lumpur = % 100
2 1
2
x
V V
V
+


16

Kadar lumpur = % 100
2 1
2
x
V V
V
+


% 100
7 270
7
x
+

% 53 , 2 % 100
277
7
= x

ANALISA PERCOBAAN :
Bahwa kadar agregat yang kita teliti mengandung lumpur kurang dari 5%,
maka agregat halus tersebut dapat digunakan untuk pembuatan campuran
beton.





















17

PERCOBAAN V
PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar air dengan cara
pengeringan. Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat air yang
terkandung dalam agregat dengan berat agregat dalam keadaan kering. Nilai
kadar air ini digunakan untuk korelsi tekanan air untuk adukan beton yang
disesuaikan dengan kondisi agregat lapangan.

II. PERALATAN
a. Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh.
b. Oven yang suhunya dapat diatur sampai 1105C
c. Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat
pengeringan contoh benda uji.

III. BAHAN BAHAN
Berat minimum contoh agregat tergantung pada ukuran maksimum dengan
batasan sebagai berikut :
Ukuran maksimum : 6,30mm (
1
/
4
) =0,50 kg
9,50mm (
3
/
8
) =1,50 kg
12,70mm (0,5) =2,00 kg
19,10mm (
3
/
4
) =3,00 kg
25,40mm (1,0) =4,00 kg
38,10mm (1,5) =6,00 kg
50,80mm (2,0) =8,00 kg
63,50mm (2,5) =10,00 kg
76,20mm (3,0) =13,00 kg
88,90mm (3,5) =16,00 kg
101,60mm (4,0) =25,00 kg
152,40mm (6,0) =50,00 kg


18

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Timbang dan catat berat dalam talam (W
1
).
b. Masukkan benda uji kedalam talam, kemudian berat talambenda uji
ditimbang. Catat beratnya (W
2
).
c. Hitung berat uji benda uji : W
3
=W
2
W
1.

d. Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven pada suhu
(1105)C sampai mencapai bobot tetap.
e. Setelah kering, contoh ditimbang dan dicatat berat benda uji beserta talam
(W
4
).
f. Hitunglah berat benda uji kering : W
5
=W
4
W
1


V. PERHITUNGAN
Kadar air agregat = % 100
3
5 3
x
W
W W

Dimana : W
3
=Berat contoh semula (gr).
W
5
=Berat contoh kering (gr).
























19

APARATUS UNTUK ANALISIS GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS















20

VI. DATA PERCOBAAN V

PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT HALUS
A. Berat wadah = 180 gr
B. Berat wadah dan benda uji =3.000 gr
C. Berat benda uji (B-A) =2.820 gr
D. Berat benda uji kering =2.770 gr

Kadar air = % 77 , 1 % 100
820 . 2
770 . 2 820 . 2
% 100 =

x x
C
D C


PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT KASAR
A. Berat wadah = 180 gr
B. Berat wadah dan benda uji =5.000 gr
C. Berat benda uji (B-A) =4.820 gr
D. Berat benda uji kering =4.804,5 gr

Kadar air = % 32 , 0 % 100
820 . 4
5 , 804 . 4 820 . 4
% 100 =

x x
C
D C















21

PERCOBAAN VI
ANALISIS SPECIFIC GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan bulk dan apparent specific
gravity dan penyerapan (absobsion) dari agregat kasar menurut prosedur
ASTM C127. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan besarnya komposisi
volume agregat dalam beton.

II. PERALATAN
a. Timbangan dengan ketelitian 0,5gr yang mempunyai kapasitas 5kg.
b. Keranjang besi diameter 203.2 (b) dan tinggi 63,5mm (2,5).
c. Alat penggantung keranjang.
d. Oven.
e. Handuk.

III. BAHAN BAHAN
Bahan contoh agregat disiapkan sebanyak 11 liter dalam keadaan kering
muka (SSD =Surface Saturated Dry). Contoh diperoleh dari bahan yang
diproses melalui alat pemisah atau dengan cara perempatan. Butiran agregat
lolos saringan no. 4 tidak dapat.

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Benda uji direndam selama 24 jam.
b. Benda uji dikering mukakan (kondisi SSD) dengan menggulungkan
handuk pada butiran agregat.
c. Timbang contoh. Hitung berat contoh kondisi SSD =A.
d. Contoh benda uji dimasukkan kekeranjang dan direndam kembali didalam
air. Temperature air dijaga (73.43)F,dan kemudian ditimbang, setelah
ditimbang keranjang digoyang goyangkan dalam air untuk melepaskan
udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh =B.

22

e. Contoh dikeringkan pada temperatur (212 230)F. Setelah didinginkan
kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering =C.


APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR









23

V. DATA DAN PERHITUNGAN
A. Berat contoh SSD =6.928gr
B. Berat keranjang dalam air = 779gr
C. Berat contoh +keranjang dalam air =4.962gr
D. Berat contoh dalam air =4.183gr
E. Berat contoh kering sesudah di oven =6.666,4gr

Apparent Spesific Grafity = 4 684 , 2
183 . 4 4 , 666 . 6
4 , 666 . 6
=

=
D E
E

Bulk SG kondisi kering = 4286 , 2
183 . 4 928 . 6
4 , 666 . 6
D - A
E
=

=
Bulk SG kondisi SSG = 524 , 2
4183 928 . 6
928 . 6
=

=
D A
A

Prosentase Absorpsi Air = % 100 x
E
E A

% 924 , 3 % 100
4 , 666 . 6
4 , 666 . 6 928 . 6
=

x
Berat tali = 29,5gr
Berat keranjang = 804gr
Agregat +keranjang =7.769gr
Besi +rafia = 912gr

ANALISA PERCOBAAN
Dari analisa specific gravity agregat kasar dapat diketahui nilai :
APPARENT S.G =2,6844
BULK S.G KONDISI KERING =2,4286
BULK S.G KONDISI SSD =2,524
ABSORPSI AIR =3,924%






24

PERCOBAAN VII
ANALISIS SPECIFIC GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan bulk dan apparent specific
gravity dan penyerapan (absobsion) dari agregat halus menurut prosedur
ASTM C128. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan besarnya komposisi
volume agregat dalam adukan beton.

II. PERALATAN
a. Timbangan dengan ketelitian 0,5gr yang mempunyai kapasitas minimum
1kg.
b. Piknometer dengan kapasitas 500gr.
c. Cetakan kerucut pasir.
d. Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir.

III. BAHAN BAHAN
Bahan contoh agregat halus disiapkan sebanyak 1000gr. Contoh diperoleh
dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau cara perempatan.

IV. PROSEDUR PRAKTIKUM
a. Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering
dengan indikasi contoh tercurah dengan baik.
b. Sebagian dari contoh dimasukkan pada metal sand cone mold. Benda uji
dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). J umlah tumbukan adalah
25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat butiran butiran
pasir longsor / runtuh.
c. Contoh agregat halus seberat 500gr dimasukkan kedalam piknometer
dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung gelembung udara
dengan cara menggoyang goyangkan piknometer. Rendamlah

25

piknometer dengan suhu (73,4 3)F selama 24 jam. Timbang berat
piknometer yang berisi contoh dan air.
d. Pisahkan contoh benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213
230)F. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari).
e. Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kalibrasi pada
temperatur (73,4 3)F dengan ketelitian 0,1 gram.

V. DATA DAN PERHITUNGAN PERCOBAAN VII
A. Berat piknometer =140,55gr
B. Berat contoh kondisi SSD =500gr
C. Berat piknometer +air =653,25gr
D. Berat piknometer +contoh SSD +air =939,6gr
E. Berat contoh kering sesudah di oven =480,4gr
Apparent S.G = 475 , 2
) (
=
C D E
E

Bulk S.G kondisi kering = 248 , 2
) (
=
C D B
E


Bulk S.G kondisi SSD = 340 , 2
) (
=
C D B
B

Prosentase Absorpsi air = % 08 , 4 % 100 =

x
E
E B


Volume air 400 ml --- sisa 95 ml --- yang terpakai 400 95 =305 ml, berat
contoh 500 gram, berat contoh oven +cawan =544,6 dan berat cawan 64,2
gram.
J adi, berat contoh setelah di oven : 544,6 64,2 =480,4gr.







26

ANALISA PERCOBAAN
Dari analisa specific gravity agregat halus dapat diketahui nilai :
APPARENT S.G =2,475
BULK S.G KONDISI KERING =2,248
BULK S.G KONDISI SSD =2,340
ABSORPSI AIR =4,08%


APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR





27

PERCOBAAN VIII
PERENCANAAN CAMPURAN BETON

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan komposisi atau unsure beton
basah dengan ketentuan kekuatan tekan karakteristik dan SLUMP rencana.

II. PERALATAN
a. Timbangan.
b. Peralatan membuat adukan :
Wadah
Sendok semen
Peralatan pengukur SLUMP
Peralatan pengukur berat volume

III. BAHAN BAHAN
Unsur beton :
Air
Semen
Agregat halus
Agregat kasar
Yang mempunyai syarat atau ketentuan











28

IV. PERENCANAAN CAMPURAN BETON (CONCRETE MIX DESIGN)

1 Kategori jenis struktur : Tabel I Balok
2 Rencana Slump : Tabel III 7,5 - 10 cm
2
3 Rencana kuat tekan beton : Tabel II 350 kg/cm
2
4 Modulus kehalusan agregat halus 2,77
5 Ukuran maksimum agregat kasar : Tabel IV 4 cm
6 Spesific grafity agregat kasar kondisi SSD 2,62
7 Spesific grafity agregat halus kondisi SSD 2,40
8 Berat volume agregat kasar 1394,11 kg/m
3
9 Rencana air adukan untuk 1m beton 185 kg
10 Prosentase udara yang terperangkap : Tabel A 1%
11 W/C ratio berdasarkan grafik 2 / Tabel II 0,535
12 W/C ratio maksimum berdasrkan Table I 0,53
13 Berat semen yang diperlukan : (9) / (11) 349,05 kg
14 Volume Agregat kasar perlu m beton : Table B 71%
15 Berat agregat kasar perlu : (14) x (8) 989,84 kg
16 Volume semen : 0,001 x (13) / 3,15 0,011 m
3
17 Volume air : 0,001 x (9) 0,185 kg
18 Volume agregat kasar : 0,001 x (15) / (6) 0,377 m
3
19 Volume udara : (10) 0,01 m
3
Volume agregat halus / m3 beton :
1m
3
- { (16) + (17) + (18) + (19) } m
3
No. PENETAPAN VARIABEL PERENCANAAN
0,417 m
3
PERHITUNGAN KOMPOSISI UNSUR BETON



29

20 Semen : (13) 349,85 kg
21 Air : (9) 185 kg
22 Agregat kasar kondisi SSD : (15) 989,81 kg
23 Agregat halus kondisi SSD : (20) x (7) x 1000 1000,8 kg
24 Faktor semen : (21) / 40 (1 zak =40kg) 8,746 kg
25 Kadar air asli / kelembaban agregat kasar : mk 2,58 %
26 Penyerapan air kondisi SSD agregat kasar : ak
3,924 %
27 Kadar air asli / kelembaban agregat halus : mh 6,021 %
28 Penyerapan air kondisi SSD agregat halus : ah 4,08 %
29 Tambahan air adukan dari kondisi agregat kasar 13,65 kg
(23) x { (ak - mk ) / (1 - mk) }
30 Tambahan agr. Kasar untuk kondisi lapangan -13,65 kg
(23) x { (mk - ak ) / (1 - mk) }
31 Tambahan air adukan dari kondisi agregat halus -20,87 kg
(23) x { (ah - mh ) / (1 - mh) }
32 Tambahan agregat halus untuk kondisi lapangan 20,87 kg
(23) x { (mh - ah ) / (1 - mh) }
33 Semen : (13) 389,85 kg
34 Air : (22) +(30) +(32) 1177,78 kg
35 Agregat kasar kondisi lapangan : (23) +(31) 976,16 kg
36 Agregat halus kondisi lapangan : (24) +(33) 1021,67 kg
KOREKSI JUMLAH AIR DAN BERAT UNSUR PERENCANAAN
LAPANGAN
KOMPOSISI AKHIR UNSUR UNTUK PERENCANAAN
LAPANGAN / M
3
BETON
KOMPOSISI BERAT UNSUR ADUKAN / M
3
BETON



30


37 Semen 11,69 kg
38 Air 5,33 kg
39 Agregat kasar kondisi lapangan 29,28 kg
40 Agregat halus kondisi lapangan 30,65 kg
41 Sisa air campuran ( jika ada ) -
42 Tambahan air selama pengadukan ( jika ada ) 2,6 kg
43 Jumlah air sesungguhnya yang digunakan 11,89 kg
44 Nilai SLUMP hasil pengukuran 7,93 kg
45 Berat isi beton basah waktu pelaksanaan -
KOMPOSISI UNSUR CAMPURAN BETON / KAPASITAS
MESIN MOLEN
DATA - DATA SETELAH PENGADUKAN / PELAKSANAAN


















31

TABEL I
W/C RATIO BERDASARKAN JENIS KONSTRUKSI DAN KONDISI
LINGKUNGAN

BASAH DAPAT PENGARUH
KERING SULFAT
BERGANTI - AIR LAUT
GANTI
Konst. Lansing / hanya
punya penutup tulangan
kurang dari 2,50 cm.
Struktur dinding
penahan tanah, pilar,
balok abutmen
Beton yang tertanam
dalamair, pilar, balok
Struktur lantai beton
diatas tanah
Beton yang terlindung
dari perubahan udara
( konstruksi interior
bangunan)
KONDISI LINGKUNGAN
PEKERJAAN
JENIS KONSTRUKSI
NORMAL
0,53 0,59 0,40
- 0,53 0,44
- 0,44 0,44
- - -
- - -

W/C ratio ditentukan berdasarkan persyaratan kekuatan tekan rencana
Tabel II atau grafik 2.
Disamping factor semen berdasarkan Tabel I, unsure lain penentu factor
air semen ditetapkan atas kekuatan rencana tekan beton, yang dinyatakan
sbb :



32

TABEL II
HUBUNGAN ANTARA W/C RASIO DENGAN KEKUATAN TEKAN
BETON

Kekuatan tekan beton umur 28 hari (kg/cm
2
)
Nilai rata - rata W/C
420 0,44
350 0,53
280 0,62
210 0,73
140 0,89

Nilai pada Tabel II berdasarkan atas ukuran terbesar agregat kasar diameter
2,5 cm. Bagi W/C ratio yang sama dengan ukuran agregat lebih besar,
kekuatan tekan beton akan lebih rendah.

TABEL III
UKURAN SLUMP YANG DIANJURKAN BAGI BERBAGAI KONSTRUKSI

Maksimum Minimum
1. Dinding, plat pondasi, dan pondasi 8,00 2,50
telapak bertulang
2. Pondasi telapak tidak bertulang, 8,00 2,50
kaison, dan konstruksi dibawah tanah
3. Pelat, balok, kolom, dan dinding
10,00 2,50
4. Perkerasan jalan
8,00 2,50
5. Pembetonan masal 5,00 2,50
Slump (cm)
Uraian




33

Catatan :
Nilai pada Tabel III ini berlaku untuk pemadatan menggunakan alat
penggetar. Untuk cara yang lain , nilai slump dapat dinaikkan 2,50cm lebih
besar.

TABEL IV
UKURAN MAKSIMUM AGREGAT

Ukuran maksimum agregat yang digunakan harus memenuhi ketentuan :
1.
1
/
5
lebih kecil atau sama dari ukuran terkecil dimensi struktur.
2.
1
/
3
lebih kecil atau sama dari tebal plat lantai.
3. lebih kecil atau sama dari jarak bersih tulangan, berkas tulangan atau
berkas kabel pratekan.


TABEL A
J UMLAH BERAT AIR PERLU UNTUK SETIAP M3 BETON DAN UDARA
YANG TERPERANGKAP UNTUK BERBAGAI SLUMP DAN UKURAN
MAKSIMUM AGREGAT

SLUMP
(cm) 10 mm 12,5 mm 20 mm 25 mm 38 mm 50 mm 75 mm 150 mm
2,5 - 5 208 199 187 179 163 154 142 125
7,5 - 10 228 217 202 193 179 169 157 136
15 - 17 243 228 214 202 187 178 169 -
3 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,3 0,2
Berat air (kg/m3) betomuntuk ukuran agregat berbeda
Prosentase udara (%) yang ada dalamunit beton




34

TABEL B
PROSENTASE VOLUME AGREGAT KASAR / SATUAN VOLUME BETON

Ukuran
maksimum
agregat kasar
(mm) 2,40 2,60 2,80 3,00
10,0 50 48 46 44
12,5 59 57 55 53
20,0 66 64 62 60
25,0 71 69 67 65
37,5 75 73 71 69
50,0 78 76 74 72
75,0 82 80 78 76
150 87 85 83 81
Prosentase volume agregat kasar dibandingkan dengan
satuan volume beton untuk fineness moduli agregat
halus ( pasir ) tertentu

CATATAN :
Volume pada Tabel B berdasarkan kondisi agregat kering muka atau dry
rodded. Nilai dalam table dipilih dari hubungan empiris untuk bisa
mendapatkan beton dengan tingkat kekenyalan umum. Untuk beton yang
kurang kenyal bagi pekerjaan jalan, harga didalam table bisa dinaikkan
sebanyak 10% untuk lebih kenyal, seperti beton yang ditempatkan melalui
sistem pompa, nilai pada table dikurangi sampai 10%.










35



36

PERCOBAAN IX
PELAKSANAAN CAMPURAN

Setelah ditetapkan unsure unsur campuran, prosedur praktikum untuk
pelaksanaan campuran beton adalah sebagai berikut :
1. Mempersiapkan bahan campuran sesuai dengan rencana berat pada
wadah yang terpisah.
2. Mempersiapkan wadah yang cukup menampung volume beton basah
rencana.
3. Memasukkan agregat kasar dan halus dalam wadah.
4. Mencampurkan agregat dengan menggunakan sekop atau alat pengaduk.
5. Menambahkan pada agregat campuran dan mengulangi proses
pencampuran sehingga diperoleh adukan kering agregat dan semen
merata.
6. Menambahkan 1/3 jumlah air total kedalam wadah, dan lakukan
pencampuran sampai terlihat konsistensi adukan merata.
7. Menambahkan kembali 1/3 jumlah air kedalam wadah dan mengulangi
proses untuk mendapatkan konsistensi adukan.
8. Melakukan pemeriksaan SLUMP.
9. Apabila nilai SLUMP sudah mencapai nilai rencana, lakukan perbuatan
benda uji silender beton dan kubus. J ika belum tercapai SLUMP yang
diinginkan, tambahkan sisa air dan lakukan pengadukan kembali.
10. Menghitung berat jenis beton.
11. Membuat empat benda uji silinder dan empat benda uji kubus sesuai
petunjuk.
12. Mencatat hal hal yang menyimpang dari perencanaan, terutama jumlah
air dan nilai SLUMP.






37

PERCOBAAN X
MENENTUKAN SLUMP BETON

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan konsistensi suatu campuran beton
berdasarkan satuan SLUMP. Suatu campuran beton memiliki konsistensi
yang berbeda beda sesuai kebutuhan suatu bangunanyang akan di beton.
Konsistensi itu dapat sangat kering, kering, plastis, plastis cair, cair, dan
sebagainya.

II. PERALATAN
1. Apparatus bagi pemeriksaan SLUMP yang terdiri dari :
Cetakan
Timbangan
Alat ukur
2. Tongkat pemadat dengan diameter 10mm, panjang )cm.
Ujung dibulatkan dan sebaiknya dari bahan baja anti karat.
3. Pelat logam dengan permukaan rata dan kedap air.
4. Sendok cekung.

III. BAHAN - BAHAN
Contoh beton segar sesuai dengan isi cetakan.

IV. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Cetakan dan pelat dibasahi dengan kain basah.
2. Letakkan cetakan diatas pelat.
3. Isi cetakan dengan beton segar sampai penuh dalam tiga lapis. Tiap kira-
kira 1/3 isi cetakan. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat
sebanyak 25 kali tusukan secara merata. Tongkat pemadat harus masuk
tepat sampai lapisan bagian bawah tiap tiap lapisan. Pada bagian
bawah atau lapisan pertama, penusukan bagian tepi dilakukan dengan
tongkat dimiringkan sesuai dengan kemiringan dinding cetakan.

38

4. Setelah selesai pemadatan, ratakan permukaan benda uji dengan tongkat,
tunggu selama menit dan dalam jangka waktu ini, semua lapisan
kelebihan beton segar disekitar cetakan harus dibersihkan.
5. Cetakan diangkat perlahan lahan tegak lurus keatas.
6. Balikkan cetakan dan letakkan disamping benda uji.
7. Ukur SLUMP yang terjadi dengan menggunakan perbedaan tinggi
cetakan dengan tinggi rata rata dari benda uji.

V. PERHITUNGAN
Nilai SLUMP =Tinggi cetakan Tinggi rata rata benda uji

































39

APARATUS UNTUK PEMERIKSAAN SLUMP











40

APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS








41

APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY
DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS




J enis adukan dengan ekivalen yang berbeda. Contoh ini merupakan contoh
adukan dengan bahan bahan yang tepat komposisinya, tidak terjadi
segregasi walaupun nilai SLUMPnya tinggi.







42

PERCOBAAN XI
PEMBUATAN DAN PERSIAPAN BENDA UJI

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan beton yang keras dalam bentuk
kubus dan silinder ( masing masing empat buah ), yang akan digunakan
sebagai benda uji dalam pemeriksaan kekuatan tekan beton.

II. PERALATAN
1. Cetakan dari baja berbentuk kubus dan silinder masing masing 4 buah.
2. Meja penggetar.
3. Pisau perata.
4. Sendok.
5. Bak perendam atau karung basah.

III. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Cetakan dibersihkan dan dilumasi dengan minyak.
2. Adukan dimasuukan kedalm cetakan dengan menggunakan sendok
semen, dan dipadatkan dengan meletakkan cetakan diatas meja
penggetar sampai permukaan adukan beton terlihat basah dan tidak ada
gelembung udara yang naik kepermukaan.
3. Permukaan adukan diratakan dengan menggunakan pisau perata.
4. Setelah itu setiap cetakan diberi tanda ( nomor kelompok dan group )
serta dicatat tanggal percobaannya.




43









44

PERCOBAAN XII
PEMERIKSAAN KEKUATAN TEKAN BETON

I. TUJUAN PERCOBAAN
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk
kubus dan silinder dibuat dan dirawat (cured) di laboratorium. Kekuatan
tekan beton adalah beban persatuan luas yang menyebabkan beton hancur.

II. PERALATAN
Mesin penguji tekanan beton.

III. PROSEDUR PENGUJIAN
1. Ambil benda uji yang akan ditentukan kekutan tekanan dari bak
perendam, kemudian bersihkan dari kotoran yang menempel dengan kain
pelembab.
2. Tentukan berat dan ukuran benda uji.
3. Letakkan benda uji pada mesin secara sentries.
4. J alankan benda uji atau mesin tekan dengan penambahan beban konstan
berdasar 2 sampai 4 kg/cm
2
per detik.
5. Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah
beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.

IV. PERHITUNGAN
Kekuatan tekan beton =P/A (kg/cm
2
)
Dimana :
P =Beban maksimum (kg)
A =Luas penampang benda uji (cm
2
)






45

PERCOBAAN UJ I TEKAN BETON





46

V. DATA DATA PERCOBAAN XII

Umur Berat Luas bidang Volume Berat isi
( hari ) ( kg ) Tekan ( cm
2
) ( cm
3
) ( kg/lt )
1 Kubus 3 7,125 222,01 3352,351
2 Silinder 3 11,625 177,804 5423,036
3 Kubus 7 7,256 225 3341,25
4 Silinder 7 11,553 181,27 5441,1
5 Kubus 16 7,09 225 3375
6 Silinder 16 11,458 176,625 5298,75
7 Kubus 28 7,280 225 3375
8 Silinder 28 11,640 181,36 5531,48
No Kode


Umur Beban Max
( hari ) ( kg ) b b = 28 hari
1 Kubus 3 73.006,8 328,84 724,96
2 Silinder 3 31.730,20 178,46 326,55
3 Kubus 7 12.988,03 368,84 813,14
4 Silinder 7 48.514,10 267,63 489,71
5 Kubus 16 108.966,00 484,43 1.067,97
6 Silinder 16 63.930,80 361,96 662,32
7 Kubus 28 113.370,20 503,87 1.110,82
8 Silinder 28 54.370,20 300,02 548,98
= 5.744,45
= P/A (kg/cm
2
)
No. kode

1 pound ( Lb ) =0,4536 kg
Kubus = b = 28 hari b x
4536 , 0
1

Silinder = b = 28 hari 83 , 0
4536 , 0
1
bx x


47

PERCOBAAN XIII
ANALISIS KEKUATAN TEKAN BETON KARAKTERISTIK

I. TUJUAN PERCOBAAN
Dari hasil pengumpulan data kekuatan hancur tekan beton, dilakukan
penentuan tegangan tekanan karakteristik beton. Tegangan tekan
karakteristik beton ini diperoleh dengan menggunakan rumusan statistik
sebagai berikut :

a. Menentukan deviasi standar benda uji :
s = ) 1 /( 2 ) ( H bm b
Dimana :
s =deviasi standar
b =kekuatan tekan beton yang didapat dari masing
masing masing benda uji ( kg/cm
2
)
bm =kekuatan tekan beton rata rata ( kg/cm
2
)
bm =
N
b
N
.

N =jumlah seluruh nilai hasil pemeriksaan

b. Menghitung nilai kekuatan beton karakteristik dengan 5% kemungkinan
adanya kekuatan yang tidak memenuhi syarat

s bm bk 64 . 1 =

c. Nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang diperoleh pada langkah (b)
dibandingkan dengan nilai rencana. Disebut benda uji mempunyai /
memenuhi persyaratan mutu kekuatan, bila nilai ada lebih besar dari
rencana. Benda uji tidak memenuhi rencana atau syarat, bila mutu
kekuatan yang ada kurangdari nilai rencana.


48

II. PERHITUNGAN
Kekuatan tekan rata rata :

N
b
N
bm

.
=
N b
N
bm / . =

No. b 28 hari (b - bm) (b - bm)
2
1 364,75 56,56 3199,0036
2 266,202 - 41,988 1762,992
3 294,56 - 13,63 185,7769
4 253,80 - 54,39 2958,2721
5 282,87 - 25,32 641,1324
6 266,26 - 41,93 1758,1249
7 428,95 120,76 145,829,776
8 - - -
=2157,392 =25088,2795

J adi nilai :
199 , 308
7
392 , 2157
/ . = = = N b
N
bm

Standard deviasi :
399 , 26
) 1 7 (
2795 , 25088
) 1 7 (
) (
2
=


=
bm b
s


90 , 264 399 , 26 ) 64 , 1 ( 19 , 308 . 64 , 1 = = = s bm bk






49

Dari hasil percobaan diatas didapatkan nilai kekuatan beton karakteristik
lebih rendah dari yang direncanakan :
2649 <350 hal ini disebabkan :
Pengadukan tidak merata (manual).
Penambahan air yang berlebihan sehingga mempengaruhi mutu
kekuatan beton.
Susunan butiran agregat kurang bagus, hal ini dapat diketahui dari
grafik sieve analis.
Mutu semen rendah (menggumpal).
Di adakan mix design ulang karena kekuatan beton karakteristik
kurang dari kekuatan beton rencana.






















50

KESIMPULAN AKHIR

Setelah diadakan beberapa kali percobaan dalam suatu proses untuk pembuatan
campuran beton yang dimulai dari pemeriksaan bahan / agregat sampai dengan
pembuatan mix design, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Modulus agregat halus diambil antara 2,56.
Modulus agregat kasar diambil antara 3,8 cm.
Untuk agregat halus, kadar lumpur yang terkandung maximum 5%.
Untuk agregat kasar, kadar lumpur yang terkandung maximum 1%.
Kemudian setelah dihitung seluruh kebutuhan material yang akan dipergunakan
dalam pembuatan campuran beton dan adanya koreksi tentang kebutuhan jumlah
air yang dibutuhkan untuk mendapatkan perencanaan beton dengan

bk
=550 kg/cm
2
dengan slump test =0,2 cm.
Dari hasil test kekuatan beton pada umur 28 hari didapatkan :

bm
=521,6 kg/cm
2

bm
=kekuatan beton rata rata
Karena didalam pelaksanaan pembuatan beton memungkinkan terdapat
kekuatan yang tidak memenuhi syarat, yang besarnya diperhitungkan sebesar
5%, maka kekuatan beton karakteristik menjadi :

bk
=
bm
1,64 s
=521,6 1,64 (69,03)
=408,391 kg/cm
2

bk
= nilai kekuatan beton karakteristik dengan 5% kemungkinan tidak
memenuhi syarat.

bm
=kekuatan beton rata rata (kg/cm
2
)
s =standar deviasi.