Anda di halaman 1dari 24

TUGAS MAKALAH ETIKA BISNIS &

GCG
REFORMASI CORPORATE GOVERNANCE
DI INDONESIA





Oleh :
1. Elvira Nurdiana (10)
2. Garry Akbar P (13)
3. Tanti Yuniarsih (24)

D-IV 3B
AKUNTANSI MANAJEMEN


POLITEKNIK NEGERI MALANG
Jalan Soekarno Hatta No. 9, Malang, Jawa Timur.
2014

2


KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karuniaNya, Makalah Etika Bisnis & GCG ini dapat terselesaikan dengan
baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penulisan Makalah Etika Bisnis& GCG ini
adalah untuk Memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Makalah Etika Bisnis&
GCG.
Dalam penyelesaian Makalah Etika Bisnis& GCG, kami mengalami kesulitan.
Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya Makalah Etika
Bisnis& GCG ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, kami
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Basuki , selaku dosen mata kuliah Makalah Etika Bisnis& GCG.
2. Orang Tua dan keluarga kami tercinta yang banyak memberikan motivasi dan
dorongan serta bantuan, baik secara moral maupun spiritual.
3. Seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini dan
berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data dan fakta pada laporan
ini.
Kami sadar penulisan Makalah Etika Bisnis & GCG ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang
bersifat membangun, guna penulisan makalah yang lebih baik di masa yang akan
datang.
Harapan kami, semoga Makalah Etika Bisnis & GCG ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak. Dan kami mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun
terhadap penyempurnaan laporan ini agar lebih baik kedepannya.



Tim Penyusun


3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 2
DAFTAR ISI ................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 4
1.2 Perumusan Masalah ....................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 6
2.1 Reformasi Corporate Governance di Indonesia ............................................ 6
2.2 Privatisasi BUMN dan Penerapan GCG pada BUMN / BUMD ................. 17
2.3 Contoh Kasus .............................................................................................. 21
BAB III PENUTUP ................................................................................................... 23
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 24

4

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Krisis ekonomi yang menghantam Asia telah berlalu lebih dari 8 tahun lalu
berdampak luas dalam merontokkan rezim-rezim politik yang berkuasa di tiga
negara asia, Thailand, Indonesia, Korea Selatan (The Asian Tigers). Negara-
negara tersebut harus mengakui bahwa pondasi ekonomi mereka rapuh, yang
pada akhirnya berujung pada krisis keuangan, ekonomi, dan politik.
Sekarang pertumbuhan kembali negara-negara tersebut sudah terlihat nyata.
Korea Selatan yang pernah terjangkit kejahatan finansial yang melibatkan para
eksekutif puncak perusahaan-perusahaan blue-chip, kini telah pulih. Begitu juga
dengan Thailand dan negara ASEAN lainnya. Indonesia sendiri era pasca krisis
ditandai dengan goncangan ekonomi berkelanjutan. Mulai dari konglomerat,
yang berakibat pada penurunan iklim berusaha di negara ini.
Perbaikan demi perbaikan dilakukan oleh Indonesia salah satunya dengan
mengimplementasikan GCG oleh komunitas bisnis dan publik pada umumnya.
Dalam rangka sosialisasi dan implementasi GCG, Pemerintah bergandengan
tangan dengan dua sektor penting yakni, BUMN dan Pasar Modal.
Berkaitan dengan program privatisasi melalui penawaran umum perusahaan
milik negara (BUMN) kepada publik seringkali mendatangkan gejolak
masyarakat. Namun, pelaku bisnis mau tidak mau sebagai dampak globalisasi
tidak bisa dipungkiri menghadapi persaingan yang makin ketat. Agar tetap
survive dalam persaingan tersebut dibutuhkan struktur dan bangun usaha yang
makin ramping, lincah, efisien, serta manajemen pengelolaan usaha yang
profesional. Ditambah juga kemampuan untuk tanggap terhadap kepentingan
para stakeholder.
Guna menjamin hal itu, manajemen harus terus-menerus melakukan
perubahan ke arah yang lebih baik yang harus disusun dalam tahapan yang
konsisten dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance.









5

1.2 PERUMUSAN MASALAH

1.2.1 Bagaimana Reformasi Corporate Governance di Indonesia ?
1.2.2 Bagaimana privatisasi BUMN dan penerapan GCG ?

1.3 TUJUAN

1.3.1 Mengetahui dan memahami Reformasi Corporate Governance di
Indonesia
1.3.2 Memahami dan mengetahui tentang privatisasi BUMN dan penerapan
GCG

6

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 REFORMASI CORPORATE GOVERNANCE DI INDONESIA
Kajian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menunjukkan
beberapa faktor yang memberi kontribusi pada krisis di Indonesia :
a. Konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi
b. Tidak efektifnya fungsi pengawasan Dewan Komisaris
c. Inefisiensi dan rendahnya transparansi mengenai prosedur pengendalian
merjer dan akuisisi perusahaan
d. Terlalu tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal
e. Ketidak memadainya pengawasan oleh para kreditor.
Tantangan terkini yang dihadapi yaitu masih rendahnya pemahaman secara
luas prinsip-prinsip dan praktik Good Corporate Governance (GCG) oleh komunitas
bisnis dan publik pada umumnya. Dapat dilihat dari rating implementasi GCG
Indonesia yang berada di urutan bawah :
a. Kajian Pricewaterhouse Coopers 2002 memberikan nilai 1.96 untuk
transparansi dan keterbukaan bersama China dan India.
b. Laporan oleh CLSA tahun 2003 memberikan skor 1,5 untuk masalah
penegakan hukum, 2.5 untuk mekanisme institusional dan budaya corporate
governance, dan dengan total nilai (country score) 3,2.
Faktor faktor penyebab rendahnya kinerja Indonesia adalah penegakan
hukum dan budaya corporate governance yang masih berada di titik paling rendah di
antara negara Asia lainnya. Penilaian yang dilakukan oleh CLSA didasarkan pada
60% faktor eksternal, 40% faktor internal. Fakta ini menunjukkan bahwa
implementasi good corporate governance di Indonesia membutuhkan pendekatan
yang komprehensif dan penegakkan yang lebih nyata lagi.
Sementara pembobotan tahun 2005 mengalami penurunan di bandngkan
dengan tahun 2004, tapi hal itu tidak hanya di Indonesia, melainkan merata di semua
negara kecuali Hongkong. Hal ini menunjukkan ada indikasi tumbuhnya budaya
corporate governance perusahaan-perusahaan di Indonesia yang berarti telah ada
kesadaran yang meluas dan internalisasi penerapan nilai-nilai GCG. Yang kurang
menggembirakan adalha skor yang sangat rendah dalam aspek rules & regulation
serta political & regulatory.


2.1.1 Good Corporate Governance dalam Perspektif Islam
Good Corporate Governance berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang
diriwayatkan oleh Aisyah r.a yang artinya Sesungguhnya Allah menyukai
apabila seseorang melalukan sesuatu pekerjaan dilakukan dengan baik.
7

Ada 4 prinsip yang harus dibangun dalam mewujudkan good governance :
1. Akuntabilitas (Accountability)
Dalam hal akuntabilitas, setiap umat Islam yakin bahwa akan datang hari dimana
seluruh perbuatan (baik dan buruk) kita akan diperhitungkan.
Rasululloh bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan
dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. Al-Bukhari no.
844 dan Muslim no. 1829)
2. Transparansi (Transparency)
Prinsip ini didasari oleh QS Al Baqarah ayat 282: Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar.
3. Keadilan (Fairness)
Prinsip ini didasari oleh QS An Nisa ayat 58: Sesungguhnya Allah menyuruh
kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Mengingat perusahaan adalah visi bersama dari dewan komisaris, para manajer,
dan karyawan dimana keputusan yang dihasilkan adalah hasil kolektifitas, bukan
individu, oleh karena itu seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil harus
mampu merepresentasikan prinsip keadilan.
4. Tanggung jawab (responsibility)
Prinsip ini didasari oleh QS Al Anfal ayat 27: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui.
2.1.2 Implementasi GCG
Agenda Indonesia dalam penerapan Corporate Governance ada tiga aktivitas
yang sedang dilakukan:
a. Menetapkan kebijakan nasional
Pembentukan KNKCG (Komite Nasional Kebijakan Corporate
Governance) yang sekarang berubah menjadi Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG) oleh Menko Ekouin. beranggotakan 35 orang, termasuk
penasihat dari kalangan profesional di sektor publik, sswasta, kalangan
akademis, maupun lembaga swadaya masyarakat. Pada bulan Maret 2001
telah menerbitkan pedoman Good Corporate Governance yang kemudian
disusul dengan penerbitan Pedoman GCG Perbankan Indonesia, Pedoman
untuk Komite Audit, dan Pedoman untuk Komisaris Independen di tahun
2004. Semua aplikasi ini perlu untuk memberikan acuan dalam
mengimplementasi GCG.

8

b. Menyempurnakan kerangka regulasi (regulatory framework)
Bapepam bersama dengan self-regulated organization (SRO)
didukung Bank Dunia dan ADB telah menghasilkan beberapa proyek GCG
seperti JSX Pilot Project, ACORN, ASEM, dan ROSC. Bapepam dapat
memastikan bahwa berbagai peraturan dan ketentuan yang ada, terus menerus
di sempurnakan, serta pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang terjadi
sesuai ketentuan yang berlaku.
Untuk mengkaji peraturan perundangan yang terkait dengan korporasi
dan program reformasi hukum pada umumnya, terdapat beberapa capaian
yang terkait dengan implementasi GCG seperti diberlakukannya undang-
undang tentang Bank Indonesia tahun 1998, Undang-Undang Anti Korupsi
tahun 1999, undang-undang persaingan usaha tahun 1999, undang-undang
BUMN, serta privasi BUMN tahun 2003.
Dalam pelaksanaan reformasi hukum, terdapat beberapa hal penting
yang telah diterapkan seperti pembentukan Pengadilan Niaga yang telah
dimulai tahun 1997. Bergulirnya reformasi Corporate Governance masih
menyisakan hal-hal strategis yang harus dikaji, seperti kesesuaian dan
sinkronisasi berbagai peraturan perundangan yang terkait.
c. Membangun inisiatif sektor swasta.
Inisiatif di sektor swasta terlihat pada aktivitas organisasi-organisasi
corporate governance dalam bentuk upaya-upaya sosialisai, pendidikan,
pelatihan, pembuatan rating, penelitian dan advokasi. Pendatang baru di
antara organisasi-organisasi ini adalah IKAI dan LAPPI. Prioritas
implementasi GCG adalah perusahaan-perusahaan publik, BUMN,
perbankan, dan lembaga keuangan non bank.

AGENDA NASIONAL IMPLEMENTASI CORPORATE GOVERNANCE


KEBIJAKAN
NASIONAL


KERANGKA
REGULASI




PASAR
MODAL
Gugus Kerja
Pasar Modal
GCG Project
BUMN
Kerangka Kerja
GCG menteri
BUMN
HUKUM
Kajian atas UUPT
dan undang-undang
lain
Program Reformasi
Peradilan
MENKO PEREKONOMIAN
Komite Nasional
Kebijakan Governance
Pedoman Good
Corporate Governance
FCGI, KADIN, LKDI, LAPPI
9


INISIATIF SEKTOR
SWASTA



2.1.3 Implementasi GCG pada BUMN
implementasi GCG didasarkan pada surat keputusan menteri BUMN no.
117/M-MBU/2002 mengenai Pengembangan Praktik Corporate Governance di
lingkungan BUMN. Bertujuan untuk mengelola tanggung jawab BUMN, dan
menjadikan GCG sebagai dasar operasional perusahaan.
Aspek baru dalam implementasi GCG di lingkungan BUMN adalah
kewajiban untuk memiliki Statement of Corporate Intent (SCI), yang merupakan
komitmen manajemen perusahaan tergadap pemegang saham dalam bentuk suatu
kontrak yang menekankan pada strategi dan upaya manajemen dan didukung dengan
Dewan Komisaris dalam mengelola Perusahaan.
Ada beberapa isu dalam kebijakan yang terkait dengan implementasi GCG di
BUMN, yakni :
1. Kebutuhan akan adanya pedoman yang terkait dengan kebijakan
pembayaran dividen yang kondusif bagi terwujudnya sustainabilitas dan
perencanaan strategik untuk perkembangan ke depan.
2. di lingkungan BUMN yang telah menjadi perusahaan publik pelaksanaan
audit eksternal sebaiknya dilakukan oleh auditor independen dan menurut
standar internasional yang berlaku.
3. adanya kebutuhan untuk merumuskan dengan jelas the reward and
punishment system dalam mengevaluasi dan mengukur kinerja manajemen.
4. berbagai BUMN strategik hendaknya tidak dijadikan perusahaan publik,
yang dengan kata lain golden shares tidak diperlukan lagi di lingkungan
perusahaan publik
5. BUMN perlu meningkatkan kesadarannya akan implementasi GCG,
hinggka kepada BUMN yang belum menerapkan GCG.
Implementasi GCG di BUMN selama ini dilakukan dengan pendekatan
bertahap. BUMN yang didahulukan adalah BUMN yang kompetitif secara industri,
sudah terbuka, dan masuk ke dalam rencana Pemerintah untuk melaksanakan
penawaran umum saham. Penerapan GCG menurut Ruru (2003) menunjukkan
bahwa : implementasi GCG akan terus berkembang dengan baik, namun perubahan
tidak dapat dilakukan dengan drastis, dan harus didukung perbaikan di sektor lain,
terutama di bidang hukum. Di samping itu penerapan GCG di BUMN akan
meningkatkan keyakinan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya serta
dapat melindungi manajemen dari tuntutan hukum. GCG penting bagi investor dalam
melakukan penilaian dan keputusan investasinya, dan yang paling penting bahwa
GCG dapat mencegah korupsi.
Pertambangan
dan Energi
Perbankan dan
Lembaga
Keuangan
Perusahaan
Terbuka
BUMN
IICG, IICD, CLDI, ISICOM, IKAI
10

2.1.4 Implementasi GCG pada Pasar Modal
Pasar Modal juga perlu menerapkan prinsip-prinsip GCG untuk perusahaan
publik. Ditunjukkan melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh BEJ, yang
menyatakan bahwa seluruh perusahaan tercatat wajib melaksanakan GCG. Guna
meningkatkan perlindungan kepentingan investor, dan mendorong tumbuhnya
mekanisme check and balance di lingkungan manajemen . di samping perlindungan
investor, regulasi mewajibkan sistem yang menjamin transparansi dan akuntabilitas
dalam transaksi bisnis antar perusahaan dalam satu grup yang berpotensi
menimbulkan benturan kepentingan.
Diperkenalkannya Komisaris Independen guna memastikan bahwa tidak
adanya afiliasi dengan pemegang saham dengan direksi dan dengan Komisaris dan
memahami regulasi Pasar Modal, Komite Audit, dan Sekretaris Perusahaan juga
menjadi fokus regulasi BEJ. Terkait dengan kewajiban untuk memiliki Direktur
Independen, dalam sistem two boards yang kita anut, justru akan lebih efektif
bilamana bursa mewajibkan perusahaan untuk memiliki Komite Nominasi dan
Remunerasi.
Upaya lain yang tengah digalakkan oleh BEJ dan Bapepam adalah
peningkatan implementasi GCG di lingkungan perusahaan publik dengan
menerbitkan Pedoman Pelaporan Perusahaan, yang berisi panduan mengenai
standarisasi pelaporan keuangan perusahaan publik berdasarkan sektor industri.
Tujuan pedoman ini adalah untuk meningkatkan kualitas disklosur perusahaan-
perusahaan publik. Diharapkan perusahaan publik akan menerapkan GCG secara
penuh. Memendeknya batas waktu penyerahan laporan tahunan dari 120 hari menjadi
90 hari sejak tutup buku mencerminkan indikasi kekonsistenan penegakan GCG oleh
Bapepam. Sebenarnya upaya-upaya ke arah implementasi GCG, telah masuk ke
dalam pengamatan BEJ dan telah pula direkomendasikan ke pihak BAPEPAM lama
sebelum penandatanganan LoI dengan IMF.
2.1.5 GCG Di Lingkungan Perbankan
2.1.5.1 Kebijakan Pengaturan Good Corporate Governance oleh Bank Indonesia
Beberapa kebijakan pengaturan GCG di perbankan Indonesia dapat
dikelompokkan menjadi :
Governance Structure terdiri atas :
a. Uji kelayakan dan kepatutan ( fit and proper test), yang mengatur perlunya
peningkatan kompetensi dan integritas manajemen perbankan melalui uji
kelayakan dan kepatutan terhadap pemilik, pemegang saham pengendali,
Dewan Komisaris, Direksi, dan pejabat eksekutif bank dalam aktivitas
pengelolaan bank.
b. Independensi manajemen bank, di mana para anggota Dewan Komisaris
dan Direksi tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan atau memiliki
hubungan finansial dengan Dewan Komisaris dan Direksi atau menjadi
pemegang saham pengendali di perusahaan lain.
c. Ketentuan bagi Direktur Kepatuhan dan peningkatan fungsi audit bank
publik. Dalam Standar Penerapan Fungsi Internal Audit Bank Publik, bank
11

diwajibkan untuk menunjuk Direktur Kepatuhan yang bertanggung jawab
atas kepatuhan bank terhadap regulasi yang ada.
Governance Process terdiri antara lain :
a. manajemen resiko & Pengendalian Intern
Implementasi manajemen risiko di lingkungan bank publik mewajibkan bank
untuk menerapkan manajemen resiko selambat-lambatnya 31 Desember
2004.
b. Strategi dan Rencana Bisnis Bank
Strategi dan rencana Bank Indonesia mewajibkan bank untuk memiliki
rencana dan anggaran jangka panjang dan menegah/ corporate plan. Yang
dimaksudkan bagi bank untuk memiliki strategi korporat dan yang tertuang
dengan jelas termasuk nilai-nilai yang harus dikomunikasikan kepada seluruh
tingkatan di dalam organisasi dan risiko-risiko pengendalian.
c. Manajemen dalam Tingkat Kesehatan Bank
Dalam rangka meningkatkan pengelolaan Bank yang sehat dan peningkatan
prinsip kehati-hatian, Bank Indonesia sejak 1993 sampai disempurnakan
terakhir tahun 2004 telah menetapkan ketentuan yang mengatur Tingkat
Kesehatan Bank dimana salah satu faktor penilaian adalah faktor Manajemen
sebagai bagian dari keseluruhan faktor CAMELS (Capital, Asset Quality,
Management, Earnings, Liquidity, Sensitivity to Market Risks).
Governance Outcome
a. Transparansi Kondisi Keuangan Bank dan Peningkatan Peran Auditor
Eksternal
Transparansi mengenai kondisi keuangan bank dan peningkatan peran auditor
eksternal. Bank diwajibkan untuk mengungkapkan non performing loans
(NPL)-nya, pemegang saham pengendali dan afiliasinya, praktik manajemen
resiko dalam pelaporan keuangan.
b. Transparansi Langkah Pengawasan Bank Indonesia
Ditetapkan pengawasan intensif dan pengawasan khusu terhadap Bank yang
mengalami permasalahan seperti Kecukupan Pemenuhan Modal Minimum
(KPMM), batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), non performing loans
(NPLs), Tingkat Kesehatan (TKS), profil resiko dan likuiditas.
2.1.5.2 Standard GCG yang efektif pada Industri Perbankan
Dalam Bassle Committee on Banking Supervision (1999) sekurang-
kurangnya ada 7 standar untuk menerapkan GCG secara efektif pada industri
perbankan, yaitu :
1. Bank harus menetapkan sasaran strategik dan serangkaian nilai-nilai
perusahaan yang dikomunikasikan kepada setiap jenjang jabatan pada
organisasi
2. Bank harus menetapkan wewenang dan tanggung jawab yang jelas pada
setiap jenjaang jabatan pada organisasi
12

3. Bank harus memastikan bahwa pengurus Bank memiliki kompetensi yang
memadai dan integritas yang tinggi serta memahami peranannya dalam
pengelolaan Bank yang sehat, dan independen terhadap pengaruh atau
pengendalian pihak eksternal.
4. Bank harus memastikan keberadaan pengawasan yang tepat oleh Direksi
5. Bank harus mengoptimalkan efektivitas peranan dan fungsi auditor
eksternal (akuntan publik) dan satuan kerja audit intern
6. bank harus memastikan bahwa kebijakan remunerasi telah konsisten
dengan nilai etik, sasaran, strategi dan lingkungan pengendalian Bank.
7. Bank harus menerapkan praktek-praktek transparansi kondisi keuangan
dan non keuangan kepada publik.
Pada tanggal 30 Januari 2006, Bank Indonesia mengeluarkan PBI 8/4/PBI/2006
tentang pelaksanaan GCG bagi Bank Umum. Secara keseluruhan PBI mengatur
berbagai aspek yang terkait dengan fungsi peran dan kriteria Komisaris Independen,
Komposisi dan kriteria Dewan Komisaris, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris, Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, komite komite,
laporan pelaksanaan GCG dan fungsi kepatuhan, internal audit, dan eksternal audit.
Secara menyeluruh, apresiasi patut diberikan kepada PBI ini karena berbeda
dengan perangkat peraturan sektor lainnya seperti BUMN dan Pasar Modal, PBI
telah memberikan acuan implementasi yang cukup rinci dan jelas, juga menyertakan
ketentuan mengenai sangsi yang dikenakan apabila sektor perbankan gagal
menerapkan ketentuan yang ada.
2.1.6 Peran Badan pengawas Pasar Modal
2.1.6.1 Peraturan BAPEPAM Terkait GCG (Good Corporate Governance):
Transparansi
A. Keterbukaan Penawaran Umum
1. Peraturan No. IX.C.1 Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan
Pendaftaran Dalam Rangka Penawaran Umum
2. Peraturan No. IX.C.2 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi
Prospektus Dalam Rangka penawaran Umum
3. Peraturan No. IX.C.3 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi
Prospektus Ringkas Dalam Rangka Penawaran Umum
B. Keterbukaan Setelah Penawaran Umum
a). Keterbukaan Berkala
1. Peraturan No. X.K.2 tentang Penyampaian Laporan Keuangan
Berkala Emiten Atau Perusahaan Publik
2. Peraturan No. X.K.6tentang Kewajiban Penyampaian Laporan
Tahunan bagi Emiten dan Perusahaan Publik
3. Peraturan No. X.K.4 tentang Laporan Realisasi Penggunaan Dana
Hasil Penawaran Umum
b). Keterbukaan Insidentil
13

1. Peraturan No. X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi Yang Harus
Segera Diumumkan Kepada Publik
2. Peraturan No. X.K.5 tentang Keterbukaan Informasi Bagi Emiten
Atau Perusahaan Publik Yang Dimohonkan Pailit
c). Keterbukaan Aksi Korporasi
1. Peraturan No. IX.D.5 tentang Saham Bonus
2. Peraturan No. IX.E.1 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan
Kepentingan Transaksi Tertentu
3. Peraturan No. IX.E.2Transaksi Material & Perubahan Kegiatan
Usaha Utama
4. Peraturan No. IX.F.1 tentang Penawaran Tender Sukarela
5. Peraturan No. IX.G.1 tentang Peleburan Usaha Atau Penggabungan
Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten
6. Peraturan No. IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka
7. Peraturan No. IX.L.1 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kuasi
Reorganisasi
Akuntabilitas
1. Peraturan No. IX.J.1 tentang Pokok-pokok Anggaran Dasar Perseroan
Yang Melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas Dan Perusahaan
Publik
2. Peraturan No. X.K.6 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan
bagi Emiten dan Perusahaan Publik
3. Peraturan No. IX.I.5 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan
Kerja Komite Audit
4. Peraturan No IX.I.7 tentang Pembentukan dan Pedoman Penyusunan
Piagam Unit Audit Internal

Responsibilitas
1. Seluruh peraturan perundangan di bidang Pasar Modal
2. Peraturan No. IX.I.4 tentang Pembentukan Sekretaris Perusahaan

2.1.6.2 Kualitas Penerapan Prinsip GCG oleh Emiten di Pasar Modal Indonesia
Pedoman Umum Good Corporate Governance di Indonesiakan disusun
oleh Komite Nasional Kebijakan Governance. Pedoman yang diterbitkan pada
tahun 2006 ini merupakan revisi atas Pedoman Good Corporate Governance yang
diterbitkan pada tahun 2001. Meskipun Pedoman Umum Good Corporate
Governance Indonesia 2006 ini tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat,
namun dapat menjadi rujukan bagi dunia usaha dalam menerapkan Good
Corporate Governance.
14

2.1.6.3 Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Pelaksanaan Pedoman Umum Good Corporate Governance oleh
perusahaan-perusahaan di Indonesia baik perusahaan terbuka (Emiten/Perusahaan
Publik) maupun perusahaan tertutup pada dasarnya bersifat comply and explain. Di
mana perusahaan diharapkan menerapkan seluruh aspek Pedoman Good
Corporate Governance ini.
Apabila belum seluruh aspek pedoman ini dilaksanakan maka
perusahaan harus mengungkapkan aspek yang belum dilaksanakan tersebut
beserta alasannya dalam laporan tahunan. Namun demikian mengingat Pedoman
ini hanya merupakan acuan sedangkan pelaksanaannya diharapkan diatur lebih
lanjut oleh otoritas masing-masing.
2.1.6.4 Trend Penerapan GCG di Kawasan ASIA
Bagi sebagian besar Negara Asia yang sedang mengalami transisi dari
ekonomi Negara berkembang (GNP US $700 - US$1500) Menjadi Negara industry
maju (GNP diatas US $5000) Jika melihat perkembangan tersebut, tanpa harus
menilai apakah kita semua telah menjalankan fungsinya dengan benar, maka dapat
dikatakan ada kemajuan yang cukup signifikan. Terlebih lagi prosentase tersebut
dapat dicapai tanpa adanya ancaman pengenaan sanksi. Namun mengapa belum
satupun dari lembaga-lembaga rating menilai bahwa penerapan GCG di Indonesia
telah mengalami kemajuan yang berarti?
Persoalannya adalah, pertama bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia
mempunyai latar belakang social politik yang berbeda dibandingkan dengan negara-
negara lain. Seperti telah diungkapkan terdahulu sejarah perusahaan-perusahaan di
Indonesia berasal dari perusahaan keluarga yang kemudian berkembang menjadi
konglomerasi. Ditambah lagi dalam kurun waktu 10-15 tahun belakangan praktik
KKN sudah sedemikian menjamur dan berakar. Pemilu yang lalu juga tidak
menghasilkan partai pemenang mutlak, akibatnya banyak terjadi kebijakan
Pemerintah yang kompromistis. Semua ini jelas, kurang mendukung percepatan
pelaksanaan GCG di Indonesia, berbeda dengan di negara-negara lain di kawasan
Asia, sehingga kemajuan pelaksanaan GCG mereka melaju lebih cepat dibandingkan
kita. Sebagai contoh, salah satu obat mujarab di dalam menerapkan GCG adalah
memperluas kepemilikan saham perusahaan kepada publik.
Seperti kita ketahui, pada pasca krisis banyak konglomerat berjatuhan dan
sebagian besar aset-asetnya dikuasai oleh BPPN. Jika saja aset perusahaan baik yang
berada dalam kewenangan BPPN maupun Kementrian BUMN dijual dan disebarkan
kepemilikannya melalui pasar modal, hal ini akan memberikan dampak positif
terhadap upaya penerapan GCG. Tentu, kebijakan seperti ini harus dipikirkan secara
totalitas, agar penjualan tersebut mendapatkan harga terbaik. Misalnya, Pemerintah
juga memberikan perhatian terhadap pasar modal dalam rangka membangun pasar
yang efisien. Sampai sejauh ini boleh dikatakan industri pasar modal dianak tirikan
oleh Pemerintah,
Kontribusi Pemerintah yang strategis adalah pembebasan pajak pada
reksadana dan pajak final pada transaksi di Bursa Efek. Padahal di samping fasilitas
pajak, bantuan yang sangat dibutuhkan adalah kegiatan edukasi dan kampanye pasar
15

modal serta penegakan hokum yang konsisten di Pasar Modal. Tidak seberapa bila
dibandingkan biaya rekapitalisasi perbankan yang mencapai ratusan triliun rupiah.
Kedua, upaya pemberdayaan stakeholder perusahaan masih dirasakan lemah.
Nuansa ini terlihat dengan jelas bilamana kita mengikuti RUPS dari perusahaan
publik. Pemegang saham publik sering kali dalam posisi lemah, tidak saja kurang
memiliki informasi yang cukup, namun juga kurangnya kemampuan untuk meramu
informasi sekaligus memainkan ketentuan hukum yang relevan. Mencontoh dari
Negara Korea Selatan, perlu dikembangkan semacam pressure group,tahap awal kita
berdayakan dulu para pemegang saham publik agar dapat melaksanakan kontrol
sosial terhadap pengurus perusahaan.
Sampai sejauh ini sudah ada inisiatif dari Asosiasi Dana Pensiun , Dewan
Asuransi Indonesia, Asosiasi Reksadana Indonesia, dan sejenisnya untuk mendirikan
Lembaga Advokasi dan Proteksi Investor, namun sampai saat ini belum bisa
dibentuk. Belum ada dukungan penuh untuk mewujudkan lembaga ini. Masih ada
kekhawatiran lembaga ini disalahgunakan untuk memeras emiten, padahal justru
akan membangun kepercayaan di pasar modal.
Dengan organisasi yang baik kekhawatiran tersebut tidak beralasan. Terbukti
di Korea Selatan lembaga sejenis ini bisa memenangkan kasus penyimpangan
corporate governance di pengadilan, yang berdampak pada berkembangnya pasar
modal yang sehat. Tahap berikutnya kita juga perlu mengikutsertakan serikat pekerja
di dalam memantau pelaksanaan GCG di masing-masing perusahaan.
Memang nampaknya implementasi GCG masih harus menghadapi tantangan
yang besar. Masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk perubahan kultur
perusahaan di kalangan dunia bisnis. Untuk merubah itu, tentu pengalaman menjadi
guru yang terbaik, dan pengalaman itu diukir dari perjalanan waktu.
Maksud dan Tujuan Pedoman :
Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan
yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas,
independensi serta kewajaran dan kesetaraan.
Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ
perusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang
Saham.
Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota
Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya
dilandasioleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan.
Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar
perusahaan.
Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap
memperhatikan pemangku kepentingan lainnya.
Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun
internasional , sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat
mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang
berkesinambungan.
16

Pedoman GCG ini dikeluarkan bagi semua perusahaan di Indonesia termasuk
perusahaan yang beroperasi atas dasar prinsip syariah. Pedoman GCG ini, yang
memuat prinsip dasar dan pedoman pokok pelaksanaan GCG, merupakan standar
minimal yang akan ditindaklanjuti dan dirinci dalam Pedoman Sektoral yang
dikeluarkan oleh KNKG. Berdasarkan pedoman tersebut, masing-masing
perusahaan perlu membuat manual yang lebih operasional.
Perusahaan yang sahamnya telah tercatat di bursa efek, perusahaan negara,
perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, dan perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh
masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap
kelestarian lingkungan, diharapkan menjadi pelopor dalam penerapan Pedoman GCG
ini. Regulator juga diharapkan dapat menggunakan Pedoman GCG ini sebagai acuan
dalam menyusun peraturan terkait serta sanksi yang perlu dikenakan.




17

2.2 PRIVATISASI BUMN DAN PENERAPAN GCG PADA BUMN / BUMD

Program privatisasi melalui penawaran umum perusahaan milik negara
(BUMN) kepada publik sering kali mendatangkan gejolak masyarakat.
Terdapat beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam menjalankan
privatisasi BUMN, misalnya soal kondisi ekonomi dan pasar, resistensi pemangku
kepentingan (khususnya masyarakat), lingkungan industri, pola privatisasi, serta
landasan hukum dan kebijakan.
Pengelolaan BUMN secara empiris dilakukan dengan dua pendekatan yakni
property right approach dan public service approach. property right approach hanya
memiliki satu motivasi , yakni BUMN harus mencapai keuntungan maksimum untuk
kemidian dibagikan kepada pemilik. Pendekatan kedua public service approach,
motivasi pemerintah tidak semata-mata keuntungan maksimum tetapi selaku BUMN,
mengendalikan dan melaksanakan fungsi-fungsi BUMN di sektor-sektor yang
menyangkut pelayanan publik.
2.2.1 Pro Dan Kontra Seputar Privatisasi
Gelombang privatisasi diawali di Inggris tahun 1980, ketika PM Margareth
Thatcher mencoba membalik arah sosialisme Inggris melalui program
privatisasi.Setalah itu langkah Inggris diikuti oleh lebih 100 negara, mulai dari Chili
sampai Turk, dari Amerika Serikat sampai Bangladesh, dan dari Perancis samapi
Tanzania.
Konsekuensi terburuk dari privatisasi adalah pergeseran monopoli milik
negara yang kurang responsif ke monopoli swasta yang lebih responsif terhadapa
lingkungan. Sedangkan dampak positifnya privatisasi akan dapat menciptakan dan
sekaligus meningkatkan daya saing, efisiensi, dan pada gilirannya mengangkat
pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Dalam buku The New Realities ,peter F. Drucker tahun 1990 mengutarakan
ada 3 faktor utama dibalik langkah privatisasi di seluruh dunia, pertama kegagalan
program-program pemerintah sejak Perang Dunai II, kedua keterbatasan pajak serta
pengeluaran yang dihadapi pemerintah untuk mencapai tujuan yang sudah digariskan
, dan adanya keterbatasan pemerintah untuk menngkatkan pendapatan.
Ketiga faktor itu sejajar dengan argumentasi pendukung privatisasi BMN di
Indonesia. Sedikit empat alasan mengapa reformasi BUMN sudah sangat mendesak
untk dilakukan. Pertama , pencepatan privatisasi sangat mendesak untuk membantu
menurunkan defisit APBN sekaligus mengurangi beban negara. Kedua meningkatkan
penerapan Good Corporate Governance. Ketga memperbaiki kinerja bumn, dan
keempat mengurangi campur tangan pemerintah dan kepentingan-kepentingan politis
dan mendorong kepemilikan swasta.
Dua dimensi utama dalam reformai BUMN adalah internal korporat BUMN
sendiri, dan penempatan posisi BUMN dalam konfigurasi sistem perekonomian
nasional.Meliputi langkah restrukturisasi, emergency, hands-off. Restrukturisasi
merupakan perubahan strategis mencakup perampingan organiasasi, peningkatan
daya saing, dan perbaikan kinerja pada umumnya.
18

Strategi emergency dilakukan pada BUMN yang tidak sehat atau menderita
sakit parah. Dalam strategi hands-off, BUMN relatif harus bersih dari kepentingan-
kepentingan politik, kelompok atau vested interest yang lain.BUMN jug aharus
menarik diri dari budang usaha yang bukan core competence-nya. Ketiga strategi ini
harus dilaksanakan bersama-sama sesuai kondisi yang dihadapi masing-masing
BUMN. Secara teoritis keberhasilan pelaksanaan ketiga strategi ini kan
meningkatkan stakeholder value, artinya nilai perusahaan akan meningkat.
Dalam kondisi cateris paribus, privatisasi diharapkan meningkatkan
efisisensi, baik efisiensiinternal maupun eksternal. Secara normatif sudah menjadi
keyakinan umum, perusahaan yang dipegang swasta umumnya lebih efisien dengan
pelayanan lebih baikdan nilai perusahaan lebih tinggi. Efisieinsi internal berupa
penghematan berbagai biaya (cost), baik biaya manufaktur, pemasaran,
administrasidan umum, maupun biaya pendanaan.
Efisiensi eksternal juga akan memberikan manfaat bagi publik secara lebih
luas. Misalnya , melalui jumlah investasi yang lebih rendah di sektor
ketenagakerjaan, publik maupun industri akan memperoleh manfaat lebih besar
dengan peningkatan produktivitas, penekanan biaya serta kemampuan menghasilakn
produk dengan biaya yang lebih rendah. Dengan kata lain efisiensi melalui
privatisasi akan mampu meningkatkan pendapatan dan profit yang pada giliranya
akan memberikan tambahan pendapatan yang lebih besar bagi negara melalui
berbagai pajak.
Privatisasi membawa konsekuensi berupa terlepasnya campur tangan
pemerintah di bidang ekonomi dan bisnis, dan dialihkan kepada sektor swasta.
Harapan dari pengalihan ini , pemerintah bisa lebih berkonsentrasi pada wilayah
pelayanan publik, semsntara itu wilayah bisnis biar dikelola lebih profesional oleh
kalangan swasta.
2.2.2 Pengaruh Privatisasi Bagi Perkembangan Bisnis
Terlepas dari berbagai kendaladan tantangan, privatisasi merupakan pilihan
kebijakan strategik yang sangat penting bagi perkembangan dunia bisnis dan
perusahaan nasional serta untuk meningkatkan efektifitas penerapan GCG.
Bila ditilik lebih jauh , tindakan privatisasi di berbagai negara banyak
mendapat tentangan dan kecaman. Privatisasi yang dilakukan di Inggris thaun 1979,
misalnya ketika PM Margareth Thatcher pertama kalimenggulirkan wacana privatissi
ini langsung mendapat perlawanan luas di berbagai kalangan , baik masyarakat
maupun kalangan parlemen. Ketika itu alasan utama pemerintah Inggris
memprivatisasi BUMN disebabkan pemerintah dalam kondisi tidak mampu lagi
mensubsidi anggaran operasioanl BUMN.
Melihat pengalaman di berbagai negara majudanberkembang, BUMN pada
umumnya dikelola dengan kinerj ayangs emakin buruk dari waktu ke waktu. Prinsip-
prinsip GCG seringkali diabaikan. Jabatan direksi seringkali merupakan keputusan
politis ketimbang atas dasar kemampuan profesional. Tekanan politik seringkali
membuat peneentuan harag jasa publik lebih rendah dari harag pasar yang pada
akhirnya sangat memberatkan anggaran pemerintah untuk mensubsidinya.
2.2.3 Hubungan Positif Privatisasi Dengan Kinerja Bumn
19

Hal hal penting yang dapat diambil pelajaran dari privatisasi :
Output, profitabilitas dan efisiensi meningkat secara berarti pada tahun tahun
setelah perusahaan diprivatisasi
Minat investasi melonjak setelah program privatisasi dilakukan dengan sukses.
Ada tiga faktor utama yang mendorong lonjakan minat investasi :
Pertama, perusahaan yang telah diprivatisasi tidak lagi diharuskan memnijam
dari lembaga keuangan pemerintah, tetapi kini mereka bebas meminjam dari
berbagai lembaga keunagan lain baik domstik maupun mancanegara.
Kedua, setelah diprivatisasi pertumbuahn bisnis perusahaan biasanya diikuti
oleh investasi modaldi pabrik dan pembelian prasaranainfrastruktur dan
peralatan kerja baru sesuai dinamika dan permintaan pasar yang berkembang
Ketiga, privatisasi telah mampu memnidahkan wewenang untuk pengambilan
keputusan dari para pejabat publik kepada para pemegang saham.
Privatisasi dapat menyerap tenaga kerja baru .
Pekerjaan di perusahaan yang baru diprivatisasi ng pada umumnya meningkat
setelah program privatisasi tersebut dilakukan . jadi ketakutan yang tak
berdasar bahwa pasca privatisasi akan ada pemutusan hubungan kerja massal
tidak sepenuhnya terbukti.

2.2.4 Manfaat Privatisasi
Melalui privatisasi dimungkinkan perusahaan terbebas dari kendali
pemerintah sehingga dapat bersaing secara fair dan bebas untuk menghasilkan
barang dan jasa yang diperlukan konsumen luas dengan harga yang lebih murah,
waktu yang lebih tepat, bentuk dan formula serta kemasan yang lebih trendi, serta
kualitas yang lebih memadai.
Privatisasi amat diharapkan dapat memajukan pasar modal domestik, selain
itu melalui privatisasi memungkinkan penjualan saham kepada publik sehingga
menciptakan perluasan kepemilikan saham, perusahaan baru masuk ke pasar modal,
dan mengembangkan reksa dana. Karena itu prioritas BUMN yang diprivatisasi
seharusnya yang dapat meningkatkan likuiditas pasar modal.
Adapun beberapa tantangan dari program privatisasi dengan menggunakan
metode penawaran umum (IPO). Pertama memerluka serangkaian thapan yang
panjang serta melibtkan lebih banyak pihak untuk menentukan keberhasilanprogram
privatisasi. Kedua, keberhasilan program privatisasi akan sangat tergantung pada
kondisi pasar itu sendiri. Ketiga, karakteristik dan strategi terkait dengan pemodal
yang melakukan pembelian saham tersebut juga sering tidak selaras dengan
kebijakan privatisasi.
Metode privatisasi yang tepat perlu dikaji kasus per kasus dengan
mempertimbangkan faktor budaya,sejarah,demoografi dan pendapatan masyarakat
setempat untuk mendapatkan hasil yang optimal dari kegiatan ini.
2.2.5 Privatisasi Melalui Penawaran Umum
Privatisasi pada umumnya merupakan sebuah kebijakan yang dilakukan di
negara-negara yang sedang mengalami proses transisi ekonomi. Privatisasi tidak
hanya sekedar proses pengalihan hak atau pengalihan pengendalian perusahaan
negara namun juga mengandung konsep sosial.
20

Privatisasi sebagai sebuah konsep penyehatan BUMN bertujuan agar entitas
ekonomi tersebut mampu menjadi pelaku bisnis yang kompetitif dan efisien.
Sebelum krisis ekonomi di Indonesia, sejumlah BUMN, seperti PT Semen gresik
Tbk, PT Indosat Tbk, PT Telkom Tbk, PT bank Negara Indonesia Tbk, PT Aneka
Tambang Tbk merupakan BUMN yng model privatisasinya dilkukan dengan
mekanisme pasar modal. Mekanisme privatisasi yang terkait dengan kegiatan pasar
modal telah ditandai sebagai isyarat pasar dimana pemerintah ingin mengejar
kebijakan yang lebih berorientasi menjual, untuk mengurangi intervensi publik dan
menyokong fiskal dan stabilisasi keuangan.
Pemerintah dapat melihat keuntungan dan kerugian program privatisasi
BUMN dengan mempergunakan mekanisme penawaran umum (initial public
offering).
2.2.6 Strategi Privatisasi Bumn Di Indonesia
Konsep dan strategi privatisasi di Indonesia berpedoman pada tiga kriteria.
Pertama, privatisai ini akan dilakukan terhadap BUMN yang industrinya memang
sangat kompetitif, misalnya telekomunikasi. Kedua, privatisasi akan dilakukan pada
BUMN yang berbasis teknologi yang cepat usang, dan ketiga, privatisasi akan
dilakukan pada BUMN di mana pemerintah hanya sebagai pemegang saham
minoritas.
Dibawah kementrian BUMN saat ini, privatisasi yang akan dikembangkan
adalah privatisasi dalam arti luas, yang berarti tidak hanya berupa transformasi
kepemilikan tetapi juga mencakup transformasi organisasi, fungsi aatu aktivitas
BUMN kepada swasta, konsensi, sewa menyewa, kontrak manajemen, dan beberapa
instrumen khusus lainnya seperti perjanjian BOOT (build-own-operate-transfer).
Kebijakan restrukturisasi BUMN yang dilakukan melalui privatisasi ini pada
umumnya bertujuan untuk :
Menyehatkan keuangan perusahaan negara
Meningkatkan pengelolaan dan pengawasan perusahaan negara
Mengembangkan peluang kerja operasional dalam rangka merivitalisasi
perusahaan negara yang strategis yang berada dalam kondisi kurang sehat.
Secara bertahap menghilangkan preferensi dan perlindungan yang diberikan
pada BUMN yang diprivatisasi, pembatasan anggaran yang bersifat subsidi
dan tambahn modal baru.
Mendorong hubungan kemitraan antara BUMN dan usaha-usaha lainnya.
Mendorong pembentukan unit trust untuk meningkatkan kepemilikan
masyarakat terhadap saham-saham BUMN di pasar modal.


21

2.2.7 CONTOH KASUS
Kasus Privatisasi PT. Indosat

Dalam perjalanannya, privatisasi BUMN di Indonesia selalu mengundang
pertentangan dan perdebatan yang panjang. Hal tersebut tidak terlepas dari segala
kecurangan dan kurangnya transparasi dalam proses dan pelaksanaannya. Salah satu
contoh yang masih hangat adalah kasus divestasi PT Indosat. Proses divestasi
tersebut tidak saja kurang transparan, tetapi juga berbau kecurangan di sana sini, baik
berkaitan dengan teknis proses tender maupun dalam penentuan harga jual yang tidak
realistis.
PT. Indosat didirikan pada tahun 1967 sebagai perusahaan asing yang
menyediakan layanan telekomunikasi internasional di Indonesia. Pada tahun 1980,
pemerintah mengambil alih kepemilikan PT. Indosat dan menjadikan Indosat sebagai
sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pada tahun 1994 Indosat menjadi
perusahaan publik dengan mendaftarkan sahamnya pada Bursa Efek Jakarta (JSX:
ISAT), Bursa Efek Surabaya, dan pada New York Stock Exchange melalui American
Depositary Receipts (NYSE: IIT). Pada tahun 2001, dibangun PT Indosat Multi
Media Mobile (IM3), diikuti dengan perolehan pengawasan penuh dari PT. Satelit
Palapa Indonesia, hingga membuat Indosat Group sebagai operator seluler terbesar
kedua di Indonesia.
Pada bulan Maret 2002 pemerintah masih menguasai 65% saham Indosat dan
35% dimiliki oleh publik, namun pada akhir tahun 2002 pemerintah Indonesia
melakukan privatisasi terhadap PT. Indosat Tbk dengan melepaskan saham sebesar
41,94% untuk membantu memenuhi komitmen anggaran tahun 2002.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara menetapkan Singapore
Technologies Telemedia Pte Ltd (STT) sebagai pemenang divestasi (pelepasan)
434.250.000 saham Seri B Persero PT Indonesian Satellite Corporation Tbk (Indosat)
yang merupakan 41,94 persen dari modal yang telah ditempatkan dan disetorkan
penuh dalam Indosat.
Indosat mengalami penurunan yang signifikan sejak terjadinya privatisasi
pada akhir tahun 2002. Pada tahun 2002 pemerintah Indonesia masih memiliki 65%
kepemilikan terhadap Indosat, tetapi mulai pada awal tahun 2003 pemerintah
Indonesia hanya memiliki 15% kepemilikan terhadap Indosat. Jumlah kepemilikan
terhadap Indosat lebih didominasi oleh perusahaan perusahaan asing dan publik
Kebijakan privatisasi terhadap PT. Indosat Tbk. tidak hanya dilakukan oleh
pemerintahan Megawati Soekarnoputri, namun sudah dilakukan sejak pemerintahan
Orde Baru (1994); kemudian oleh pemerintahan transisi BJ. Habibie (1998) dan
Abdurrahman Wahid. Muncul perbedaan yang sangat mencolok antara periode
sebelum tahun 2002 dengan sesudahnya, khususnya reaksi pro dan kontra yang
dilakukan oleh berbagai pihak terhadap kebijakan itu. Pada masa Orde baru hingga
pemerintahan transisi Abdurrahman Wahid, tidak muncul penolakan yang berarti
atas privatisasi PT. Indosat Tbk. Malah di antara eksekutif dan legeslatif saling
mendukung. Namun berbeda reaksi yang muncul pada saat pemerintahan
Megawati Soekarnoputri mengeluarkan kebijakan privatisasi terhadap perusahaan
yang sangat strategis danmenguntungkan itu. Penolakan muncul dari banyak
22

kalangan misalnya para karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Indosat
(SPI), Anggota Dewan (khususnya Fraksi Reformasi), Ketua MPR; KPPU:
Iluni Jakarta serta ormas dan tokoh masyarakat.
Dalam kasus divestasi 41,94 persen saham pemerintah di Indosat dibeli oleh
Singapore Technologies Telemedia (STT), ada kemungkinan untuk dibatalkan jika
ada bukti-bukti formal yang menunjukkan telah terjadi persaingan tidak sehat dalam
prosesnya. Selain itu, jika nantinya terbukti ada pelanggaran terhadap Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan
Tidak Sehat, maka KPPU berhak untuk membatalkannya.


23

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Faktor faktor penyebab rendahnya kinerja Indonesia adalah penegakan hukum
dan budaya corporate governance yang masih berada di titik paling rendah di antara
negara Asia lainnya.
Guna menjamin hal itu, manajemen harus terus-menerus melakukan perubahan
ke arah yang lebih baik yang harus disusun dalam tahapan yang konsisten dan
berkelanjutan sesuai dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Melalui privatisasi perusahaan terbebas dari kendali pemerintah sehingga dapat
bersaing secara fair dan bebas untuk menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan
konsumen luas dengan harga yang lebih murah, waktu yang lebih tepat, bentuk dan
formula serta kemasan yang lebih trendi, serta kualitas yang lebih memadai.
Banyak strategi privatisasi di Indonesia, salah satunya adalah IPO (initial public
offering) yang dapat meningkatkan efektivitas implementasi GCG.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Daniri, MA (2006) Good Corporate Governance: konsep dan penerapannya
dalam konteks Indonesia, Edisi kedua, Ray Indonesia 2006.
2. http://susanto-edogawa.blogspot.com/2013/05/gcg-menurut-perspektif-
islam.html
3. http://harymawan-feb.web.unair.ac.id/
4. Alquran dan Terjemahnya.
5. Hadits