Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
Laringitis merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai pada daerah laring.
Laringitis merupakan suatu proses inflamasi pada laring yang dapat terjadi, baik secara
akut maupun kronik. Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan berlangsung dalam
kurun waktu kurang dari 3 minggu. Bila gejala telah lebih dari 3 minggu dinamakan
laringitis kronis. Salah satu bentuk laringitis kronis spesifik adalah laringitis
tuberkulosis.
Laringitis tuberkulosis adalah penyakit granulomatosa yang paling umum dari
laring dan seringkali dihubungkan dengan tuberkulosis paru aktif. Laringitis
tuberkulosis merupakan salah satu komplikasi dari tuberkulosis paru. Pada awal abad
ke-!, laringitis tuberkulosis mengenai "-3!# pasien tuberkulosis paru. Sedangkan
sekarang hanya $# kasus laringitis tuberkulosis.
$
Penurunan kejadiaan laringitis
tuberkulosis ini terjadi sebagai akibat dari peningkatan perawatan kesehatan masyarakat
dan perkembangan antituberkulosis yang efektif.
Penderita dengan laringitis tuberkulosis biasanya datang dengan gejala, seperti
disfonia, odynophagia, dyspnea, odynophonia, dan batuk. %bstruksi pernafasan bisa
terjadi pada stadium lanjut penyakit. Pemahaman bahwa karsinoma laring juga sering
menunjukkan gejala serupa merupakan keharusan untuk menge&aluasi laringitis. 'ejala
pada saluran pernapasan seperti batuk kronis, hemoptisis dan gejala sistemik seperti
demam, keringat malam, dan penurunan berat badan merupakan gejala-gejala umum
yang sering dijumpai pada pasien dengan tuberkulosis.

Pada laringitis tuberkulosis proses inflamasi akan berlangsung secara progresif


dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas. (esulitan bernafas ini dapat disertai stridor,
baik pada periode inspirasi, ekspirasi atau keduanya. )ika tidak segera diobati, stenosis
dapat berkembang, sehingga diperlukan trakeostomi. *kan tetapi, sering kali setelah
diberi pengobatan, tuberkulosis parunya sembuh tetapi laringitis tuberkulosisnya
$
menetap. +al ini terjadi karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada kartilago
serta &askularisasi yang tidak sebaik di paru, sehingga bila sudah mengeni kartilago,
pengobatannya lebih lama.
3

%leh karena itu, pembahasan mengenai laringitis tuberculosis lebih lanjut
diperlukan agar dapat memberi pengetahuan mengenai cara diagnosis dan
penatalaksanaan yang tepat guna mencegah komplikasi yang akan terjadi.

BAB II
LARINGITIS TUBERKULOSA
2.1. Anatomi Laring
Laring adalah bagian dari saluran pernafasan bagian atas yang merupakan suatu
rangkaian tulang rawan yang berbentuk corong dan terletak setinggi &ertebra cer&icalis
,- . -,, dimana pada anak-anak dan wanita letaknya relatif lebih tinggi. Laring pada
umumnya selalu terbuka, hanya kadang-kadang saja tertutup bila sedang menelan
makanan.
/

Batas-batas laring berupa sebelah kranial terdapat aditus laringeus yang
berhubungan dengan hipofaring, di sebelah kaudal dibentuk oleh sisi inferior kartilago
krikoid dan berhubungan dengan trakea, di sebelah posterior dipisahkan dari &ertebra
cer&icalis oleh otot-otot pre&ertebral, dinding dan ca&um laringofaring, serta di sebelah
anterior ditutupi oleh fascia, jaringan lemak, dan kulit. Sedangkan di sebelah lateral
ditutupi oleh otot-otot sternokleidomastoideus, infrahyoid, dan lobus kelenjar tiroid.
3,/

Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid dan
beberapa buah tulang rawan. 0ulang hyoid berbentuk seperti huruf 1, yang permukaan
atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak oleh tendo dan otot-otot.
3,/,"
0ulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago krikoid,
kartilago aritenoid, kartilago kornikulata dan kartilago tiroid.
3,/,"

Pada laring terdapat dua buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi
krikoaritenoid. Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum
seratokrikoid 2anterior, lateral, dan posterior3, ligamentum krikotiroid medial,
ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hiotiroid
lateral, ligamentum hiotiroid medial, ligamentum hioepiglotika, ligamentum
3
&entrikularis, ligamentum &okal yang menghubungkan kartilago aritenoid dengan
kartilago tiroid dan ligamentum tiroepiglotika.
3,/

Laring berbentuk piramida triangular terbalik dengan dinding kartilago tiroidea
di sebelah atas dan kartilago krikoidea di sebelah bawahnya. %s +yoid dihubungkan
dengan laring oleh membrana tiroidea. 0ulang ini merupakan tempat melekatnya otot-
otot dan ligamenta serta akan mengalami osifikasi sempurna pada usia tahun.
3,/

'ambar $. *natomi Laring
Anatomi Bagian Laring Dalam
4a&um laring dapat dibagi menjadi sebagai berikut5
/
$. Supraglotis 2&estibulum superior3
6aitu ruangan diantara permukaan atas pita suara palsu dan inlet laring.
. 'lotis 2pars media3
6aitu ruangan yang terletak antara pita suara palsu dengan pita suara sejati serta
membentuk rongga yang disebut ventrikel laring Morgagni.
3. ,nfraglotis 2pars inferior3
/
Yaitu ruangan diantara pita suara sejati dengan tepi bawah kartilago
krikoidea.
Beberapa bagian penting dari dalam laring5
/

*ditus Laringeus
Pintu masuk ke dalam laring yang dibentuk di anterior oleh epiglotis, lateral oleh
plika ariepiglotika, posterior oleh ujung kartilago kornikulata dan tepi atas m.
aritenoideus.
7ima -estibuli.
8erupakan celah antara pita suara palsu.

7ima glottis
9i depan merupakan celah antara pita suara sejati, di belakang antara prosesus
&okalis dan basis kartilago aritenoidea.
-allecula
0erdapat diantara permukaan anterior epiglotis dengan basis lidah, dibentuk oleh
plika glossoepiglotika medial dan lateral.
Plika *riepiglotika
9ibentuk oleh tepi atas ligamentum kuadringulare yang berjalan dari kartilago
epiglotika ke kartilago aritenoidea dan kartilago kornikulata.

Plika Pyriformis 2+ipofaring3
0erletak antara plika ariepiglotika dan permukaan dalam kartilago tiroidea.

,ncisura ,nteraritenoidea
"
Suatu lekukan atau takik diantara tuberkulum kornikulatum kanan dan kiri.

-estibulum Laring
7uangan yang dibatasi oleh epiglotis, membrana kuadringularis, kartilago
aritenoid, permukaan atas proc. &okalis kartilago aritenoidea dan m.interaritenoidea.

Plika -entrikularis 2pita suara palsu3
6aitu pita suara palsu yang bergerak bersama-sama dengan kartilago aritenoidea
untuk menutup glottis dalam keadaan terpaksa, merupakan dua lipatan tebal dari selaput
lendir dengan jaringan ikat tipis di tengahnya.

-entrikel Laring 8orgagni 2sinus laringeus3
6aitu ruangan antara pita suara palsu dan sejati. 9ekat ujung anterior dari
&entrikel terdapat suatu di&ertikulum yang meluas ke atas diantara pita suara palsu dan
permukaan dalam kartilago tiroidea, dilapisi epitel berlapis semu bersilia dengan
beberapa kelenjar seromukosa yang fungsinya untuk melicinkan pita suara sejati,
disebut appendiks atau sakulus ventrikel laring.

Plika -okalis 2pita suara sejati3
0erdapat di bagian bawah laring. 0iga per lima bagian dibentuk oleh ligamentum
&okalis dan celahnya disebut intermembranous portion, dan dua per lima belakang
dibentuk oleh prosesus &okalis dari kartilago aritenoidea dan disebut intercartilagenous
portion.
:
Persaraan
Laring dipersarafi oleh cabang ;. -agus yaitu ;n. Laringeus Superior dan ;n.
Laringeus ,nferior 2;n. Laringeus 7ekuren3 kiri dan kanan.
/,"
$. ;n. Laringeus Superior.
8eninggalkan ;. &agus tepat di bawah ganglion nodosum, melengkung ke depan
dan medial di bawah *. karotis interna dan eksterna yang kemudian akan bercabang
dua, yaitu 5 4abang ,nterna < bersifat sensoris, mempersarafi &allecula, epiglotis, sinus
pyriformis dan mukosa bagian dalam laring di atas pita suara sejati. 4abang =ksterna <
bersifat motoris, mempersarafi m. (rikotiroid dan m. (onstriktor inferior.
. ;. Laringeus ,nferior 2;. Laringeus 7ekuren3.

Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan esofagus, mencapai laring tepat di
belakang artikulasio krikotiroidea. ;. laringeus yang kiri mempunyai perjalanan yang
panjang dan dekat dengan *orta sehingga mudah terganggu. 8erupakan cabang ;.
&agus setinggi bagian proksimal *. subkla&ia dan berjalan membelok ke atas sepanjang
lekukan antara trakea dan esofagus, selanjutnya akan mencapai laring tepat di belakang
artikulasio krikotiroidea dan memberikan persarafan5
Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian atas trakea
Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali 8. (rikotiroidea
Pen!ara"an
Laring mendapat perdarahan dari cabang *. 0iroidea Superior dan ,nferior sebagai
*. Laringeus Superior dan ,nferior.
/,"
$. *rteri Laringeus Superior
Berjalan bersama ramus interna ;. Laringeus Superior menembus membrana
tirohioid menuju ke bawah diantara dinding lateral dan dasar sinus pyriformis.
. *rteri Laringeus ,nferior
Berjalan bersama ;. Laringeus ,nferior masuk ke dalam laring melalui area
Killian Jamieson yaitu celah yang berada di bawah 8. (onstriktor >aringeus ,nferior, di
?
dalam laring beranastomose dengan *. Laringeus Superior dan memperdarahi otot-otot
dan mukosa laring.
'ambar . Sistem *rteri pada Laring
9arah &ena dialirkan melalui -. Laringeus Superior dan ,nferior ke -. 0iroidea
Superior dan ,nferior yang kemudian akan bermuara ke -. )ugularis ,nterna.
'ambar 3. Sistem -ena pada Laring
Sistem Limati#
Laring mempunyai tiga sistem penyaluran limfe, yaitu5
/,"
@
$. 9aerah bagian atas pita suara sejati, pembuluh limfe berkumpul
membentuk saluran yang menembus membrana tiroidea menuju kelenjar limfe cer&ical
superior profunda. Limfe ini juga menuju ke superior dan middle jugular node.
. 9aerah bagian bawah pita suara sejati bergabung dengan sistem limfe
trakea, middle jugular node, dan inferior jugular node.
3. Bagian anterior laring berhubungan dengan kedua sistem tersebut dan
sistem limfe esofagus. Sistem limfe ini penting sehubungan dengan metastase
karsinoma laring dan menentukan terapinya.
'ambar /. Sistem Limfatik pada Laring
2.2. $isiologi Laring
Laring mempunyai 3 2tiga3 fungsi dasar yaitu fonasi, respirasi dan proteksi
disamping beberapa fungsi lainnya seperti terlihat pada uraian berikut5
3,:,?,@

1. >ungsi >onasi
Pembentukan suara merupakan fungsi laring yang paling kompleks. Suara
dibentuk karena adanya aliran udara respirasi yang konstan dan adanya interaksi antara
udara dan pita suara. ;ada suara dari laring diperkuat oleh adanya tekanan udara
pernafasan subglotik dan &ibrasi laring serta adanya ruangan resonansi seperti rongga
mulut, udara dalam paru-paru, trakea, faring, dan hidung. ;ada dasar yang dihasilkan
dapat dimodifikasi dengan berbagai cara. %tot intrinsik laring berperan penting dalam
A
penyesuaian tinggi nada dengan mengubah bentuk dan massa ujung-ujung bebas dan
tegangan pita suara sejati.
. >ungsi Proteksi.
Benda asing tidak dapat masuk ke dalam laring dengan adanya reflek otot-
otot yang bersifat adduksi, sehingga rima glotis tertutup. Pada waktu menelan,
pernafasan berhenti sejenak akibat adanya rangsangan terhadap reseptor yang ada pada
epiglotis, plika ariepiglotika, plika &entrikularis dan daerah interaritenoid melalui
serabut afferen ;. Laringeus Superior. Sebagai jawabannya, sfingter dan epiglotis
menutup. 'erakan laring ke atas dan ke depan menyebabkan celah proksimal laring
tertutup oleh dasar lidah. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral menjauhi aditus
dan masuk ke sinus piriformis lalu ke introitus esofagus.
3. >ungsi 7espirasi.
Pada waktu inspirasi diafragma bergerak ke bawah untuk memperbesar
rongga dada dan 8. (rikoaritenoideus Posterior terangsang sehingga kontraksinya
menyebabkan rima glotis terbuka. Proses ini dipengaruhi oleh tekanan parsial 4% dan
% arteri serta p+ darah. Bila p% tinggi akan menghambat pembukaan rima glotis,
sedangkan bila p4% tinggi akan merangsang pembukaan rima glotis. +iperkapnia dan
obstruksi laring mengakibatkan pembukaan laring secara reflektoris, sedangkan
peningkatan p% arterial dan hiper&entilasi akan menghambat pembukaan laring.
0ekanan parsial 4% darah dan p+ darah berperan dalam mengontrol posisi pita suara.
/. >ungsi Sirkulasi.
Pembukaan dan penutupan laring menyebabkan penurunan dan peninggian
tekanan intratorakal yang berpengaruh pada venous return. Perangsangan dinding laring
terutama pada bayi dapat menyebabkan bradikardi, kadang-kadang henti jantung. +al
ini dapat karena adanya reflek kardio&askuler dari laring. 7eseptor dari reflek ini adalah
baroreseptor yang terdapat di aorta. ,mpuls dikirim melalui ;. Laringeus 7ekurens dan
7amus (omunikans ;. Laringeus Superior. Bila serabut ini terangsang terutama bila
laring dilatasi, maka terjadi penurunan denyut jantung.
$!
". >ungsi >iksasi.
Berhubungan dengan mempertahankan tekanan intratorakal agar tetap tinggi,
misalnya batuk, bersin dan mengedan.
:. >ungsi 8enelan.
0erdapat 3 2tiga3 kejadian yang berhubungan dengan laring pada saat
berlangsungnya proses menelan, yaitu5 Pada waktu menelan faring bagian bawah 28.
(onstriktor >aringeus Superior, 8. Palatofaringeus dan 8. Stilofaringeus3 mengalami
kontraksi sepanjang kartilago krikoidea dan kartilago tiroidea, serta menarik laring ke
atas menuju basis lidah, kemudian makanan terdorong ke bawah dan terjadi pembukaan
faringoesofageal. Laring menutup untuk mencegah makanan atau minuman masuk ke
saluran pernafasan dengan jalan menkontraksikan orifisium dan penutupan laring oleh
epiglotis.
=piglotis menjadi lebih datar membentuk semacam papan penutup aditus
laringeus, sehingga makanan atau minuman terdorong ke lateral menjauhi aditus laring
dan maduk ke sinus piriformis lalu ke hiatus esofagus.
?. >ungsi Batuk.
Bentuk plika &okalis palsu memungkinkan laring berfungsi sebagai katup,
sehingga tekanan intratorakal meningkat. Pelepasan tekanan secara mendadak
menimbulkan batuk yang berguna untuk mempertahankan laring dari ekspansi benda
asing atau membersihkan sekret yang merangsang reseptor atau iritasi pada mukosa
laring.
@. >ungsi =kspektorasi.
9engan adanya benda asing pada laring, maka sekresi kelenjar berusaha
mengeluarkan benda asing tersebut.
A. >ungsi =mosi.
Perubahan emosi dapat menyebabkan perubahan fungsi laring, misalnya
pada waktu menangis, kesakitan, menggigit dan ketakutan.
$$
2.%. Deinisi
Laringitis merupakan suatu proses inflamasi pada laring yang dapat terjadi, baik
secara akut maupun kronik. Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan berlangsung
dalam kurun waktu kurang lebih 3 minggu. Bila gejala telah lebih dari 3 minggu
dinamakan laringitis kronis.
7adang akut laring pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis akut
2common cold3. Sedangkan laringitis kronik merupakan radang kronis laring yang dapat
disebabkan oleh sinusitis kronis, de&iasi septum yang berat, polip hidung atau bronkitis
kronis. 8ungkin juga disebabkan oelh penyalahgunaan suara 2vocal abuse3 seperti
berteriak-teriak atau biasa berbicara keras.
A
Laringitis kronis dibagi menjadi laringitis kronik non spesifik dan spesifik.
Laringitis kronik non spesifik dapat disebabkan oleh faktor eksogen 2rangsangan fisik
oleh penyalahgunaan suara, rangsangan kimia, infeksi kronik saluran napas atas atau
bawah, asap rokok3 atau faktor endogen 2bentuk tubuh, kelainan metabolik3. Sedangkan
laringitis kronik spesifik disebabkan tuberkulosis dan sifilis.
$!
Salah satu bentuk laringitis kronis spesifik adalah laringitis tuberkulosis.
Laringitis tuberkulosis adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang
terjadi dalam jangka waktu lama yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
tuberculosa.
:
2.&. E'i!emiologi
Sebagaimana insidensi dan pre&alensi tuberkulosis paru yang mengalami
penurunan, kejadian laringitis tuberkulosis juga mengalami penurunan, meskipun
kecenderungan peningkatan kejadian laringitis tuberkulosis dalam beberapa tahun
terakhir.
$$
9ulu, dinyatakan bahwa penyakit ini sering terjadi pada kelompok usia muda
yaitu ! . /! tahun. 9alam ! tahun belakangan, insidens penyakit ini pada penduduk
yang berumur lebih dari :! tahun jelas meningkat. Saat ini tuberkulosis dalam semua
bentuk dua kali lebih sering pada laki-laki dibanding dengan perempuan. 0uberkulosis
laring juga lebih sering terjadi pada laki-laki usia lanjut, terutama pasien-pasien dengan
$
keadaan ekonomi dan kesehatan yang buruk, banyak diantaranya adalah peminum
alkohol.
$
2.(. Etiologi
+ampir selalu disebabkan tuberkulosis paru. Setelah diobati biasanya
tuberkulosis paru sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap, karena struktur
mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta &askularisasi tidak sebaik paru. ,nfeksi
laring oleh Mycobacterium tuberculosa hampir selalu sebagai komplikasi tuberkulosis
paru aktif, dan ini merupakan penyakit granulomatosis laring yang paling sering.
$!,$$,$
2.). Patogenesis
Laringitis tuberkulosis umumnya merupakan sekunder dari lesi tuberkulosis paru
aktif, jarang merupakan infeksi primer dari inhalasi basil tuberkel secara
langsung.
$!,$$,$,$3
Secara umum, infeksi kuman ke laring dapat terjadi melalui udara
pernapasan, sputum yang mengandung kuman, atau penyebaran melalui darah atau
limfe.
A
Berdasarkan mekanisme terjadinya laringitis tuberkulosis dikategorikan menjadi
mekanisme, yaitu5
1. Laringitis T*+er#*losis Primer
Laringitis tuberkulosis primer jarang dilaporkan dalam literatur medis. Laringitis
tuberkulosis primer terjadi jika ditemukan infeksi Mycobacterium tuberculosa pada
laring, tanpa disertai adanya keterlibatan paru. 7ute penyebaran infeksi pada laringitis
tuberkulosis primer yang saat ini diterima adalah in&asi langsung dari basil tuberkel
melalui inhalasi.
$3,$/
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Shin dkk 2!!!3,
menyatakan bahwa sebanyak /!,:# pasien dengan laringitis tuberkulosis memiliki paru
yang normal.
$"

$3
2. Laringitis T*+er#*losis Se#*n!er
Laringitis tuberkulosis sekunder terjadi jika ditemukan infeksi laring akibat
Mycobacterium tuberculosa yang disertai adanya keterlibatan paru. Laringitis
tuberkulosis sekunder merupakan komplikasi dari lesi tuberkulosis paru aktif.
8ekanisme penyebaran infeksi ke laring dapat berupa penyebaran langsung di
sepanjang saluran pernapasan dari infeksi paru primer berupa sputum yang mengandung
kuman maupun penyebaran melalui sistem darah ataupun limfatik.
A

Pen,e+aran Le-at S'*t*m .Bron#ogen/
Penyebaran infeksi basil tuberkel ke laring melalui mekanisme bronkogenik
merupakan teori yang laBim dipahami. *danya bronkogen dalam hal ini, sputum yang
mengandung bakteri M. tuberculosis mendasari patogenesis terjadinya laringitis
tuberkulosis. 0erjadinya laringitis tuberkulosis dapat disebabkan oleh tersangkutnya
sputum yang mengandung basil tuberkulosis di laring, terutama pada struktur posterior
laring termasuk aritenoid, ruang interaritenoid, pita suara bagian posterior dan
permukaan epiglotis yang menghadap ke laring.
$$,$

*ntigen dari basil 0B yang berada di laring dicerna sel dendritik lalu dibawa ke
kelenjar limfe regional dan mempresentasikan antigen 8. 0uberculosis ke sel 0h$. 0h$
kemudian berproliferasi dan dapat kembali ke tempat awal infeksi. 7estimulasi oleh sel
penyaji setempat menghasilkan produksi ,>; dan mengaktifasi makrofag. Bila
eliminasi mikroorganisme ini gagal akan berlanjut pada inflamasi kronik terjadi dimana
patogen persisten di dalam tubuh, maka terjadi pengalihan respon imun berupa reaksi
hipersensitifitas tipe lambat membentuk granuloma.
$:

Setelah kontak awal dengan antigen, sel 0h disensitisasi, berproliferasi dan
berdiferensiasi menjadi sel 90+ 2delayed type hypersensiti&ity3 dimana pengerahan
makrofag yang berkelanjutan akan membentuk sel-sel epitloid berupa sel datia dalam
granuloma.
$:

0uberkel yang a&askular berisikan daerah perkijuan di tengah dikelilingi oleh sel
epiteloid dan di bagian perifer oleh sel-sel mononukleus. (emudian tuberkel-tuberkel
$/
ini bersatu membentuk nodul. (arena letaknya di subepitel, epitel yang melampisinya
mungkin hilang dan sering terjadi ulserasi dengan infeksi sekunder. Proses ini pertama
kali cenderung akan mengenai prosesus &okalis dan epiglotis.
$$,$

*danya tuberkel mungkin akan merangsang terjadinya hiperplasia epitel dan
jaringan fibrosis subepitel. +al ini mungkin bermanifestasi pada daerah interaritenoid
berupa penebalan yang menyerupai pakiderma. Prosesus &okalis mungkin di tutupi oleh
nodul yang menyerupai morbili. +al ini merupakan manifestasi dari proses perbaikan
karena hanya ditemukan sedikit perkijuan pada lesi.
$$,$

=dema jelas pada keadaan lebih lanjut dan mungkin terjadi sebagai akibat
obstruksi jaringan limfe oleh granuloma. =dema dapat timbul di fossa interaritenoid,
kemudian ke aritenoid, plika &okalis, plika &entrikularis, epiglottis serta terakhir ialah
subglotik. =piglotis dan jaringan ikat di atas aritenoid merupakan tempat yang paling
tampak edema.
A,$$,$

Penyembuhan tuberkulosis laring disertai oleh pembentukan kapsul jaringan
fibrosa dan jaringan menggantikan tuberkel.
Pen,e+aran 0elal*i Limo"ematogen
Selain mekanisme bronkogenik, penyebaran M. tuberculosis pada laring dapat
juga melalui sistem limfohematogen. Penyebaran melalui sistem limfohematogen
biasanya mengenai laring anterior dan epiglotis.
$"

2.1. Gam+aran Klinis
Secara klinis manifestasi laringitis tuberkulosis terdiri dari / stadium yaitu5
A,$!,$

$. Stadium infiltrasi
. Stadium ulserasi
3. Stadium perikondritis
/. Stadium pembentukan tumor
$"
Sta!i*m Iniltrasi
8ukosa laring bagian posterior mengalami pembengkakan dan hiperemis pada
bagian posterior, kadang-kadang dapat mengenai pita suara. Pada stadium ini mukosa
laring berwarna pucat.
(emudian di daerah submukosa terbentuk tuberkel, sehingga mukosa tidak rata,
tampak bintik berwarna kebiruan. 0uberkel makin membesar dan beberapa tuberkel
yang berdekatan bersatu, sehingga mukosa diatasnya meregang. Pada suatu saat, karena
sangat meregang, maka akan pecah dan terbentuk ulkus.
Sta!i*m Ulserasi
1lkus yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. 1lkus ini dangkal,
dasarnya ditutupi perkijuan dan dirasakan sangat nyeri oleh pasien.
Sta!i*m Peri#on!ritis
1lkus makin dalam sehingga mengenai kartilago laring terutama kartilago
aritenoid dan epiglottis. 9engan demikian terjadi kerusakan tulang rawan, sehingga
terbentuk nanah yang berbau, proses ini akan melanjut dan terbentuk sekuester. Pada
stadium ini pasien sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan
maka proses penyakit berlanjut dan msuk dalam stadium terakhir yaitu
fibrotuberkulosis.
Sta!i*m $i+rot*+er#*losis
Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan
subglotik.
Berdasarkan Shin dkk 2!!!3, temuan pada laringitis tuberkulosis dapat
dikategorikan menjadi empat grup, antara lain 2a3 lesi ulserasi 2/!,A#3, 2b3 lesi
inflamasi non spesifik 2?,3#3, 2c3 lesi polipoid 2,?#3, dan 2d3 lesi massa
ulcerofungati&e 2A,$#3.
$/

$:
'ambar ". 0emuan Laringoskopi pada Laringitis 0uberkulosis, *. Lesi 1lseratif
2pada seluruh laring3, B. Lesi 'ranuloma 2pada glotis posterior3, 4. Lesi Polyploid
2pada plika &okalis palsu kanan3, 9. Lesi ;onspesifik 2pada plika &okalis kanan3
Ge2ala Klinis
0ergantung pada stadiumnya, disamping itu terdapat gejala sebagai berikut5
- 7asa kering, panas, dan tertekan di daerah laring.
- Suara parau yang berlangsung berminggu-miggu, sedangkan pada stadium lanjut
dapat timbul afoni.
- +emoptisis.
- ;yeri waktu menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena
radang lainnya, merupakan tanda yang khas.
- (eadaan umum buruk.
- Pada pemeriksaan paru 2secara klinis dan radiologis3 terdapat proses aktif
2biasanya pada stadium eksudatif atau pada pembentukan ka&erne3.
$?
2.3. Diagnosis
9iagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
$. *namnesa
Pada anamnesa dapat ditanyakan5
-(apan pertama kali timbul serta faktor yang memicu dan mengurangi gejala
-7iwayat pekerjaan, termasuk adanya kontak dengan bahan yang dapat memicu
timbulnya laringitis seperti debu, asap.
-Penggunaan suara berlebih
-Penggunaan obat-obatan seperti diuretik, antihipertensi, antihistamin yang dapat
menimbulkan kekeringan pada mukosa dan lesi pada mukosa.
-7iwayat merokok
-7iwayat makan
-Suara parau atau disfonia
-Batuk kronis terutama pada malam hari
-Stridor karena adanya laringospasme bila sekret terdapat disekitar pita suara
-9isfagia dan otalgia
. 'ejala dan Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, tampak sakit berat, demam, terdapat stridor inspirasi,
sianosis, sesak nafas yang ditandai dengan nafas cuping hidung danCatau retraksi
dinding dada, frekuensi nafas dapat meningkat, dan adanya takikardi yang tidak sesuai
dengan peningkatan suhu badan merupakan tanda hipoksia.
3. Laboratorium
- Pemeriksaan Bakteriologik
Bahan pemeriksaan
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti
yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan
bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan
$@
bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoal&eolar 2bronchoal&eolar la&ageCB*L3, urin,
faeces dan jaringan biopsi 2termasuk biopsi jarum halusCB)+3.
4ara pengumpulan dan pengiriman bahan
4ara pengambilan dahak 3 kali 2SPS35
Sewaktu C spot 2dahak sewaktu saat kunjungan3
Pagi 2keesokan harinya3
Sewaktu C spot 2pada saat mengantarkan dahak pagi3 atau setiap pagi 3 hari
berturut-turut.
- (ultur kuman
Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan 0B khususnya
untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap %*0 yang
digunakan.
/. Laringoskopi direk atau indirek
Pemeriksaan dengan laringoskop direk atau indirek dapat membantu menegakkan
diagnosis. 9ari pemeriksaan ini plika &okalis berwarna merah dan tampak edema
terutama di bagian atas dan bawah glotis.
'ambar :. Laringitis 0uberkulosis
". >oto toraks
$A
1ntuk melihat apabila terdapat pembengkakan dan adanya gambaran tuberkulosis
paru. 40 scanning dan 87, juga dapat digunakan dan memberikan hasil yang lebih
baik. 'ambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi 0B aktif 5
- Bayangan berawan C nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah.
- (a&itas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular.
'ambar ?. >oto 0oraks 0uberkulosis Paru
:. Pemeriksaan patologi anatomi
Pada gambaran makroskopi tampak permukaan selaput lendir kering dan
berbenjol-benjol sedangkan pada mikroskopik terdapat epitel permukaan menebal dan
opaDue, pembentukan granuloma, sel besar Langhans, serbukan sel radang menahun
pada lapisan submukosa.
!
'ambar @. +istopatologi Laringitis 0uberkulosis
2.4. Diagnosis Ban!ing
9iagnosis banding laringitis tuberculosis, antara lain5
A,$!,$
- Laringitis luetika
Laringitis luetika seringkali memberikan gejala yang sama dengan laringitis
tuberkulosis. *kan tetapi, radang menahun ini jarang ditemukan. Laringitis luetika
terjadi pada stadium tertier dari sifilis, yaitu stadium pembentukan guma. *pabila gma
pecah, maka timbul ulkus. 1lkus inimempunyai sifat yang khas, yaitu sangat dalam,
bertepi dengan dasar yang keras, berwarna merah tua serta mengeluarkan eksudat yang
berwarna kekuningan. 1lkus tidak menyebabkan nyeri dan menjalar sangat cepat,
sehingga bila tidak terbentuk proses ini akan menjadi perikondritis.
- (arsinoma laring
(arsinoma laring memberikan gejala yang serupa dengan laringitis tuberkulosa.
Serak adalah gejala utama karsinoma laring, namun hubungan antara serak dengan
tumor laring tergantung pada letak tumor.
2.15. Penatala#sanaan
1. Tera'i non me!i#amentosa
- 8engistirahatkan pita suara dengan cara pasien tidak banyak berbicara.
$
- 8enghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk misalnya goreng-
gorengan, makanan pedas.
- (onsumsi cairan yang banyak.
- Berhenti merokok dan konsumsi alkohol.
2. Tera'i me!i#amentosa 6 O+at antit*+er#*losis .OAT/
%bat yang digunakan untuk 0B4 digolongkan atas dua kelompok yaitu5
%bat primer5
- ,;+ 2isoniaBid3
- 7ifampisin
- =tambutol
- Streptomisin
- PiraBinamid
%bat sekunder5
- =Eionamid
- Paraaminosalisilat
- Sikloserin
- *mikasin
- (apreomisin
- (anamisin
0abel $. 9osis %bat *nti 0uberkulosis
O+at Dosis "arian
.mg7#g++7"ari/
Dosis
287mingg*
.mg7#g++7"ari/
Dosis
%87mingg*
.mg7#g++7"ari/
,;+ "-$"
2maks.3!! mg3
$"-/!
2maks.A!! mg3
$"-/!
2maks.A!! mg3
7ipampisin $!-!
2maks.:!! mg3
$!-!
2maks.:!! mg3
$"-!
2maks.:!! mg3
PiraBinamid $"-/! "!-?! $"-3!

2maks. g3 2maks./g3 2maks.3g3


=tambutol $"-"
2maks.," g3
"!
2maks,"g3
$"-"
2maks. ," g3
Streptomisin $"-/!
2maks. $ g3
"-/!
2maks. $," g3
"-/!
2maks. $," g3
%. O'erati
0indakan operatif dilakukan dengan tujuan untuk pengangkatan sekuester.
0rakeostomi diindikasikan bila terjadi obstruksi laring.
Tra#eostomi
0rakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding depanCanterior trakea
untuk bernafas. 0rakeostomi dilakukan atas indikasi, berikut5
-8engatasi obstruksi laring
-8engurangi ruang rugi 2dead air space3 di saluran napas bagian atas seperti
daerah rongga mulut, sekitar lidah, dan faring.
-8empermudah penghisapan secret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat
mengeluarkan secret secara fisiologik.
-1ntuk memasang respirator 2alat bantu pernapasan3.
1ntuk menambil benda asing dari subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas
bronkoskopi.
0rakeostomi pada kasus laringitis tuberkulosis dilakukan atas indikasi yaitu jika
terjadi obstruksi laring dan mengurangi ruang rugi di saluran napas bagian atas seperti
daerah rongga mulut, sekitar lidah, dan faring.
2.11. Prognosis
0ergantung pada keadaan sosial ekonomi pasien, kebiasaan hidup sehat serta
ketekunan berobat. Bila diagnosa dapat ditegakkan pada stadium dini maka
prognosisnya baik.
/,"
2.12. Kom'li#asi
3
Pada laringitis akibat peradangan yang terjadi dari daerah lain maka dapat terjadi
inflamasi yang progresif dan dapat menyebabkan kesulitan bernafas. (esulitan bernafas
ini dapat disertai stridor baik pada periode inspirasi, ekspirasi atau keduanya. Pada
laringitis tuberkulosis dapat terjadi sekuele, di antaranya stenosis glotis posterior,
stenosis subglotis, paralisis plika &okalis, dan persisten disfonia
BAB III
/
PEN9A:IAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
;ama 5 +amdani
)enis (elamin 5 Laki-laki
1mur 5 " tahun
Pekerjaan 5 Petani
*lamat 5 Langsa
*gama 5 ,slam
0anggal masuk 7S 5 !" *gustus !$/
II. ANA0NESIS
Kel*"an Utama 5 pasien datang dengan keluhan suara serak sejak ! hari yang
lalu
Kel*"an tam+a"an 5 batuk 2F3, mata terasa gatal 2F3, telinga terasa gatal 2F3, dan
hidung terasa gatal 2F3 disertai rasa nyeri saat menelan.
Ri-a,at Pen,a#it Se#arang
0uan +amdani datang ke 7S19 Langsa dengan keluhan suara serak sejak !
hari yang lalu disertai nyeri saat menelan. Suara serak didahului dengan batuk yang
sudah dialami pasien sejak : bulan yang lalu, dahak 2-3, darah 2-3, demam 2-3, keringat
malam2-3.
Pasien juga mengeluhkan / hari sebelum ke rumah sakit suaranya hilang. Pasien
juga mengalami penurunan selera makan dan terjadi penurunan berat badan.pasien juga
mengeluhkan mata terasa gatal 2F3, telinga terasa gatal 2F3, hidung terasa gatal 2F3, dan
disertai nyeri saat menelan.
"
Ri-a,at Pen,a#it Da"*l* 6 disangkal oleh pasien
Ri-a,at Pen,a#it Kel*arga 6 disangkal oleh pasien
Ri-a,at 'ema#aian o+at 5 pasien pernah berobat ke dokter spesialis paru
dan di berikan obat anti tuberkulosis dan diberikan %*0
tetapi pasien mengaku tidak terjadi perubahan.

III. PE0ERIKSAAN $ISIK
STATUS LOKALIS
Telinga
Ins'e#si; Pal'asi
Telinga #anan Telinga #iri
A*ri#*la +iperemis 5 -
=dema 5 -
8assa 5 -
+iperemis 5 -
=dema 5 -
8assa 5 -
Prea*ri#*la +iperemis 5 - >istula 5 -
=dema 5 -
8assa 5 -
+iperemis 5 - >istula 5 -
=dema 5 -
8assa 5 -
Retroa*ri#*la +iperemis 5 - >istula 5 -
=dema 5 -
8assa 5 -
+iperemis 5 - >istula 5 -
=dema 5 -
8assa 5 -
Pal'asi ;yeri pergerakan 5 -
;yeri tekan tragus 5 -
;yeri pergerakan 5 -
;yeri tekan tragus 5 -
:
;yeri tekan aurikula 5 - ;yeri tekan aurikula 5 -
Otos#o'i 6
Telinga #anan Telinga #iri
0AE =dema 5 -
+iperemis 5 -
8assa 5 -
>urunkel 5 -
Sekret 5 -
Serumen 5 -
=dema 5 -
+iperemis 5 -
8assa 5 -
>urunkel 5 -
Sekret 5 -
Serumen 5 -
0em+ran
Tim'ani
Perforasi 5 -
Garna 5 -
+iperemis 5 -
7efleks 4ahaya 5 F
Perforasi 5 -
Garna 5 -
+iperemis 5 -
7efleks 4ahaya 5 F
Hi!*ng !an Sin*s Paranasal
Ins'e#si; Pal'asi 6
- (emerahan pada daerah hidung 2-3
- 9e&iasi tulang hidung 2-3
- Bengkak daerah hidung 2-3 dan sinus paranasal 2-3
- (repitasi tulang hidung 2-3
- nyeri tekan hidung 2-3
?
Rinos#o'i Anterior 6
Rinos#o'i anterior <a=*m nasi !e8tra <a=*m nasi sinistra
8ukosa hidung +iperemis 5 -
8assa 5 -
Sekret 5 -
*trofi 5 -
8ukus 5 -
Pucat 5 -
+iperemis 5 -
8assa 5 -
Sekret 5 -
*trofi 5 -
8ukus 5 -
Pucat 5 -
Septum 9e&iasi 5 -
9islokasi 5 -
9e&iasi 5 -
9islokasi 5 -
(onka inferior dan
media
+ipertrofi 5 -
*trofi 5 -
Sekret 5 -
+ipertrofi 5 -
*trofi 5 -
Sekret 5
Meatus inferior
dan media
Sekret : -
Polip : -
Sekret : -
Polip : -
Rinoskopi Posterior : -
Tenggorokan
Inspeksi, Palpasi :
Mukosa Orofaring : -
Hiperemis :
@
Massa : -
!"eri :
Tonsil #$ % #$
Laringoskopi Indirek : 9ari pemeriksaan ini plika &okalis berwarna merah dan
tampak edema terutama di bagian atas dan bawah glotis.
I>. PE0ERIKSAAN PENUN:ANG
&oto thora'
(arah rutin
>. DIAGNOSIS BANDING
$. Laringitis 0B
. Laringitis luetika
3. (arsinoma laring
>I. DIAGNOSA KERA
)aringitis #*
>II. TATALAKSANA
Non Medika!entosa :
+stirahat pita suara
Hindari iritan
,onsumsi -airan "ang ban"ak
*erhenti merokok dan konsumsi alkohol
A
Medika!entosa
%bat primer5
- ,;+ 2isoniaBid3
- 7ifampisin
- =tambutol
- Streptomisin
- PiraBinamid
%bat sekunder5
- =Eionamid
- Paraaminosalisilat
- Sikloserin
- *mikasin
- (apreomisin
- (anamisin
>III. PROGNOSIS
dubia ad malam
$OLLO? UP PASIEN
+ari C tanggal ;ama (eluhan 9iagnosa Pemeriksaan anjuran
!"C!@C!$/ +amdani -(u5 compos
mentis
-0d 5 $3!C@!
-775 / kaliCi
-0emp5 3:,:
-Pols5 @! kaliCi
(eluhan5
@ laringitis 0B
- Laringitis
,uetika
- karsinoma
laring
@ foto toraks
- cek darah rutin
3!
-suara serak
-;yeri
menelan
-Batuk
-8ata terasa
gata
-0elinga gatal
-+idung
terasa gatal
BAB I>
HASIL DISKUSI LAPORAN KASUS
Pasien ini diduga mengalami Laringitis 0B , karena sesuai dgn gejala yang
dikeluhkan , yaitu disfonia yang berlangsung berminggu - minggu hingga afonia , batuk
lebih kurang : bulan dan keluhan nyeri ketika menelan . serta pada pemeriksaan
laringoskopi indirect di dapatkan plika &okalis berwarna merah dan tampak edema terutama
di bagian atas dan bawah glotis. 9isfonia hingga afonia terjadi karena adanya tuberkel .
tuberkel yang merangsang terjadinya hiperplasia epitel dan jaringan fibrosis subepitel yang akan
3$
membentuk nodul yang akhirnya menutupi prosesus &okalis hingga terjadilah disfonia hingga
afonia. Batuk berbulan . bulan terjadi karena ditemukan infeksi Mycobacterium tuberculosa
yang di curigai juga menyerang bagian paru pasien. (eluhan nyeri ketika menelan timbul akibat
adanya peradangan hebat pada laring dan juga dicurigai karena adanya ulkus yang dangkal yang
dasarnya ditutupi oleh perkijuan. Plika &okalis berwarna merah dan tampak edema terutama
dibagian atas dan bawah glotis karena terjadi peradangan yang hebat pada daerah laring serta
akibat obstruksi jaringan limfe oleh granuloma.
Pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan.
Pemeriksaan laboratorium 2bakteriologik dan kultur kuman3
Laringoskopi indirect
>oto toraks
Pemeriksaan patologi anatomi
BAB >
KESI0PULAN
0uberkulosa laring hampir selalu disebabkan tuberkulosis paru. Setelah diobati biasanya
tuberkulosis paru sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap, karena struktur
mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta &askularisasi tidak sebaik paru, sehingga
bila sudah mengenai kartilago, pengobatannya lebih lama.
3
Secara klinis tuberkulosa laring terdiri dari / stadium, yaitu 5 stadium infiltrasi, stadium
ulserasi, stadium perikondritis, stadium pembentukan tumor 2fibrotuberkulosis3.
9iagnosa laringitis tuberculosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, gejala dan
pemeriksaan fisik, laringoskopi direct dan indirect, laboratorium, foto toraks, dan
pemeriksaan patologi anatomi.
0erapinya dibagi menjadi medikamentosa dan pembedahan. 0erapi non medikamentosa
yaitu mengistirahatkan pita suara dengan cara pasien tidak banyak berbicara,
menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk misalnya goreng-
gorengan, makanan pedas, konsumsi cairan yang banyak, berhenti merokok dan
konsumsi alkohol. Sedangkan terapi medikamentosa adalah %*0 2%bat *nti
0uberkulosis3. 0erapi pembedahannya pengangkatan sekuester dan trakeostomi bila
terjadi obstruksi laring.
Prognosisnya tergantung pada keadaan sosial ekonomi pasien, kebiasaan hidup
sehat serta ketekunan berobat. Bila diagnosa dapat ditegakkan pada stadium dini maka
prognosisnya baik.
DA$TAR PUSTAKA
$. 6&ette = Smulders, dkk. Laryngeal tuberculosis presenting as a supraglottic
carcinoma: a case report and review of the literature. Smulders et al< licensee Bio8ed
4entral Ltd. !!A H9iakses tanggal @ *pril !$I. 9idapatkan dari5
http5CCwww.jmedicalcasereports.comCcontentC3C$CA@@
33
. 'upta, Summer (, 'regory ;. Postma, )amie *. (oufman. Laryngitis. 9alam5
Bailey, Byron, )ohnson, )onas 0. editor. ead ! "eck Surgery # $tolaryngology, edisi
ke-/. ;ewlands5 Lippincott Gilliam J Gilkins< !!:. +al @3$-@3.
3. Soepardi =*, ,skandar ;. Buku *jar ,lmu (esehatan 0elinga +idung 0enggorokan
(epala Leher5 9isfonia. =disi (eenam. )akarta5 Penerbit >akultas (edokteran
1ni&ersitas ,ndonesia< !!@. +al 3$-3/
/. Ballenger, ).). %natomy of the laryn&. ,n 5 'iseases of the nose( throat( ear( head and
neck. $3th ed. Philadelphia5 Lea J >ebiger< $AA3.
". Snell, 7ichard S. *natomi (linik untuk 8ahasiswa (edokteran5 *natomi Laring.
=disi keenam. )akarta5 ='4< !!:. +al @!"-@$3.
:. *dam 'L, Boies L7, +igler P*. Boies Buku *jar Pentakit 0+0, =disi keenam.
)akarta5 ='4< $AAA. +al 3:A-3??
?. Lee, (.). )ancer of the Laryn&. ,n< *ssential $tolaryngology ead and "eck
Surgery . =ight edition. 4onnecticut5 8c'raw-+ill< !!3. +al ?/-?3:, ?/?, ?""-?:!.
@. Goodson, '.=. +pper airway anatomy and function. ,n 5 Byron ). Bailey. ead and
"eck Surgery,$tolaryngology. 0hird edition. -olume $. Philadelphia5 Lippincot
Gilliams and Gilkins< !!$. +al /?A-/@:.
A. Soepardi =*, ,skandar ;. Buku *jar ,lmu (esehatan 0elinga +idung 0eggorok
(epala Leher 5 (elainan Laring, =disi keenam. )akarta5 Penerbit >akultas (edokteran
1ni&ersitas ,ndonesia< !!@. +al 3@-/$
$!. 8ansjoer *, (apita Selekta (edokteran, Laringitis, =disi (etiga. )akarta5 Penerbit
8edia *esculapius< !!:. +al $:-$?
$$. Probst, 7udolf, 'erhard 're&ers, +einrich ,ro. -asic $torhinolaryngology :
.nfectious 'isease of Laryn& and /rachea. ;ew 6ork5 0hieme< !!:. +al 3"/-3:$
3/
$. Ballenger )), Penyakit 0elinga +idung, 0enggorok (epala dan Leher, Penyakit
'ranulomatosis (ronik Laring, =disi ketigabelas. )akarta5 Penerbit Binarupa *ksara<
hal "/?-""@
$3. (ey&an (iakojuri, 8ohammad 7eBa +asanjani 7oushan. Laryngeal tuberculosis
without pulmonary involvement. 4aspian ) ,ntern 8ed 32$35 Ginter !$5 32$35 3A?-
3AA.
$/. 8ehndirattan, *nil, Pra&in Bhatn, Lamartine 9K4osta. Primary tuberculosis of
LarynE. ,nd ) tub $AA?. //.$$. 9idapat dari5 http5CClrsitbrd.nic.inC,)0BC6ear
#!$AA?C%ctuber#!$AA?C%40$AA?#!).pdf
$". Shin )=, ;am S6, 6oo S), (im S6. )hanging trends in clinical manifestations of
laryngeal tuberculosis. Laryngoscope !!!< $$!5 $A"!-$A"3s.
$:. Baratawijdaja ('. ,munologi 9asar =disi ?. Balai penerbit >( 1,. )akarta. !!:< h.
$/", $?!-$?3.
3"