Anda di halaman 1dari 212

Gusrina

BUDIDAYA IKAN
JILID 1

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

BUDIDAYA IKAN
JILID 1
Untuk SMK
Penulis : Gusrina
Perancang Kulit : Tim

Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm

GUS GUSRINA
b Budidaya Ikan Jilid 1 untuk SMK /oleh Gusrina ---- Jakarta
: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xi. 166 hlm
Daftar Pustaka : A1-A8
Glosarium : B1-B12
ISBN : 978-602-8320-20-7

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya,
Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian
hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada
masyarakat melalui website bagi siswa SMK.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi
syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh


penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak,
dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan
yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya softcopy ini akan lebih
memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan
pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar
negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,


kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih
perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami
harapkan.

Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK

i
KATA PENGANTAR
Buku Budidaya Ikan merupakan salah satu judul buku teks kejuruan
yang akan digunakan oleh para pendidik dan peserta didik SMK dan lembaga
pendidikan dan pelatihan lainnya. Buku teks kejuruan dalam bidang budidaya
ikan saat ini belum banyak dibuat, yang beredar saat ini kebanyakan buku-
buku praktis tentang beberapa komoditas budidaya ikan. Buku Budidaya Ikan
secara menyeluruh yang beredar dimasyarakat saat ini belum memenuhi
kebutuhan sebagai bahan ajar bagi siswa SMK yang mengacu pada Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar Isi (SI), Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) dan model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) SMK.
Dengan melakukan budidaya ikan maka keberadaan ikan sebagai
bahan pangan bagi masyarakat akan berkesinambungan dan tidak akan
punah. Pada buku ini akan dibahas beberapa bab yang dapat digunakan
sebagai dasar dalam melakukan budidaya ikan. Bab pertama berisi tentang
wadah budidaya ikan, bab kedua berisi tentang media budidaya ikan, bab
ketiga berisi tentang hama dan penyakit ikan, bab keempat berisi tentang
nutrisi ikan, bab kelima berisi tentang teknologi pakan buatan, bab keenam
berisi tentang teknologi pakan alami, bab ketujuh berisi tentang
pengembangbiakan ikan dan bab kedelapan berisi tentang hama dan
penyakit ikan. Sedangkan materi penunjang seperti pemasaran, analisa
usaha budidaya ikan dan kesehatan dan keselamatan kerja terdapat pada
bab terakhir.
Agar dapat membudidayakan ikan yang berasal dari perairan tawar,
payau maupun laut ada beberapa hal yang harus dipahami antara lain adalah
memahami jenis-jenis wadah dan media budidaya ikan, pengetahuan tentang
nutrisi ikan dan jenis-jenis pakan alami yang meliputi tentang morfologi,
biologi dan kebiasaan hidup. Selain itu pengetahuan teknis lainnya yang
harus dipahami adalah tentang pengembangbiakan ikan mulai dari seleksi
induk, teknik pemijahan ikan, proses pemeliharaannya sampai pemanenen
ikan.
Akhir kata penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas
berkah dan rahmatNya sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ini
dihadapan pembaca. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada
suami dan anak-anak atas dukungan dan orang tua tercinta serta teman-
teman yang telah membantu. Selain itu kepada Direktorat Pembinaan SMK
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah yang menyediakan
anggaran untuk meyediakan sumber belajar buku teks kejuruan yang sesuai
dengan Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan SMK. Semoga buku
ini bermanfaat bagi yang membacanya dan menambah pengetahuan serta
wawasan. Dan juga kami mohon saran dan masukan yang membangun
karena keterbatasan yang dimiliki oleh penyusun.
Cianjur, November 2007
Penyusun

ii
DAFTAR ISI
BUKU JILID 1
KATA SAMBUTAN ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR .........................................................................................ii
DAFTAR ISI .....................................................................................................iii
SINOPSIS........................................................................................................ v
PETA KOMPETENSI......................................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
BAB II WADAH BUDIDAYA IKAN ................................................................ 23
2.1. JENIS-JENIS WADAH BUDIDAYA IKAN ....................................... 23
2.2. KONSTRUKSI WADAH BUDIDAYA............................................... 29
2.3. PERSIAPAN WADAH BUDIDAYA.................................................. 45
BAB III MEDIA BUDIDAYA IKAN .................................................................. 51
3.1. SUMBER AIR ..................................................................................... 52
3.2. PARAMETER KUALITAS AIR ............................................................ 54
3.3. PENGUKURAN KUALITAS AIR BUDIDAYA IKAN ........................ 69
BAB IV. PENGEMBANGBIAKAN IKAN................................................... 75
4.1. SELEKSI INDUK................................................................................. 75
4.2. TEKNIK PEMIJAHAN IKAN.............................................................. 105
4.3 PENETASAN TELUR ........................................................................ 133
4. 4. PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN ............................... 141
4.5. PEMBESARAN IKAN.................................................................... 149
4.6. PEMANENAN ................................................................................. 160

BUKU JILID 2
BAB V. NUTRISI IKAN ......................................................................... 167
5.1. ENERGI ........................................................................................... 167
5.2. PROTEIN.......................................................................................... 172
5.3. KARBOHIDRAT ............................................................................ 187
5.4. LIPID ............................................................................................. 195
5.5. VITAMIN ....................................................................................... 204
5.6. MINERAL ...................................................................................... 237
BAB VI. TEKNOLOGI PAKAN BUATAN .................................................... 249
6.1. JENIS-JENIS BAHAN BAKU ........................................................ 252
6.2. PENYUSUNAN FORMULASI PAKAN.......................................... 264
6.3 PROSEDUR PEMBUATAN PAKAN ............................................. 282
6.4. UJI COBA PAKAN IKAN............................................................... 292
6.5. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN ............................................ 315
6.6 PAKAN DAN KUALITAS AIR........................................................ 324
BAB VII. TEKNOLOGI PRODUKSI PAKAN ALAMI ................................. 329
7.1. JENIS-JENIS PAKAN ALAMI ....................................................... 329
7.2. BUDIDAYA PHYTOPLANKTON................................................... 337
7.3. BUDIDAYA ZOOPLANKTON ....................................................... 355

iii
7.4. BUDIDAYA BENTHOS ................................................................. 389
7.5. BIOENKAPSULASI......................................................................... 397

BUKU JILID 3
BAB VIII. HAMA DAN PENYAKIT IKAN .................................................... 401
8.1. JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT.......................................... 401
8.2. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN............................. 413
8.3. GEJALA SERANGAN PENYAKIT ............................................... 418
8.4. PENGOBATAN PENYAKIT IKAN................................................ 431
BAB. IX. PEMASARAN .............................................................................. 447
9.1. PENGERTIAN PEMASARAN ....................................................... 447
9.2. CIRI-CIRI PEMASARAN HASIL PERIKANAN.............................. 448
9.3. PERENCANAAN DAN TARGET PENJUALAN ............................ 450
9.4. ESTIMASI HARGA JUAL.............................................................. 452
9.5. SISTEM PENJUALAN .................................................................. 455
9.6. STRATEGI PROMOSI ................................................................... 456
BAB. X. ANALISA KELAYAKAN USAHA ................................................... 465
BUDIDAYA IKAN ..................................................................................... 465
10.1. PENGERTIAN STUDI KELAYAKAN ............................................ 465
10.2. NET PRESENT VALUE (NPV) ..................................................... 478
10.3. NET BENEFIT COST RATIO (NBC RATIO)................................. 479
10.4. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) .......................................... 479
10.5. ANALISIS BREAK EVENT POINT (BEP) ..................................... 480
10.6. APLIKASI ANALISA USAHA ........................................................ 481
BAB. XI. KESEHATAN DAN KESELAMATAN ........................................... 487
KERJA ......................................................................................................... 487
11.1. PENGERTIAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) 487
11.2. PENERAPAN KAIDAH K3 PADA DUNIA USAHA PERIKANAN
BUDIDAYA .............................................................................................. 487

LAMPIRAN A DAFTAR PUSTAKA


LAMPIRAN B GLOSARIUM
LAMPIRAN C DAFTAR GAMBAR, TABEL

iv
SINOPSIS

Buku teks dengan judul budidaya ikan dapat dipelajari oleh para
peserta diklat dan pendidik pada Sekolah Menengah Kejuruan yang
mengambil program studi Budidaya Ikan. Menurut SKKNI dalam program
studi Budidaya Ikan dapat dikelompokkan menjadi Budidaya Ikan Air Tawar,
Budidaya Ikan Air Laut, Budidaya Ikan Air Payau dan Budidaya Ikan Hias.
Dalam buku teks ini akan memberikan pengetahuan mendasar tentang
bagaimana membudidayakan ikan dan dapat di aplikasikan pada berbagai
habitat budidaya. Pada buku teks ini berisi tentang wadah budidaya yang
dapat digunakan dalam melakukan budidaya ikan, media yang optimal dalam
budidaya ikan agar proses budidaya dapat berlangsung sesuai dengan
kebutuhan ikan untuk hidup tumbuh dan berkembang, bagaimana melakukan
proses perkembangbiakan ikan budidaya dari sudut biologis ikan budidaya
dan aplikasi pada beberapa ikan budidaya, kebutuhan nutrisi untuk ikan yang
akan dibudidayakan, bagaimana membuat pakan ikan yang harus diberikan
pada ikan budidaya, bagaimana memproduksi pakan alami sebagai pakan
yang sangat dibutuhkan bagi larva ikan dan benih ikan budidaya, hama dan
penyakit ikan yang dapat menyerang ikan budidaya serta perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam budidaya ikan.
Budidaya ikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting saat ini
dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu
jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga
jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Dengan
mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh
karena itu kemampuan sumberdaya manusia untuk memproduksi ikan
budidaya sangat dibutuhkan. Dengan semakin bertambahnya jumlah
penduduk dan keterbatasan lahan budidaya selanjutnya, maka dibutuhkan
suatu teknologi budidaya ikan pada lahan yang terbatas dan produktivitas
tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dengan mempelajari buku teks ini
diharapkan para pembaca dapat mengaplikasikan ilmu budidaya pada
berbagai media dan teknologi budidaya.
Pengetahuan tentang wadah budidaya ikan dan media yang
dibutuhkan bagi ikan budidaya akan memberikan pemahaman tentang
investasi yang harus dipersiapkan sesuai dengan skala produksi yang akan
diterapkan. Dengan menerapkan teknologi budidaya ikan yang intensif
dibutuhkan pemahaman tentang produksi pakan buatan yang ramah
lingkungan tetapi sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya. Selain itu dalam
membudidayakan ikan sangat dibutuhkan pakan alami pada fase larva dan
benih, maka sangat dibutuhkan suatu pemahaman bagaimana
membudidayakan pakan alami yang sesuai dengan kebutuhan ikan.

v
Selain itu dalam suatu budidaya ikan maka akan ada kendala yang dialami
pembudidaya ikan yaitu adanya serangan hama dan penyakit ikan. Oleh
karen itu diperlukan pemahaman tentang jenis-jenis hama dan penyakit yang
dapat menyerang ikan budidaya serta bagaimana tindakan pencegahan dan
pengobatan yang harus dilakukan oleh para pembudidaya agar ikan yang
dibudidayakan tidak terserang hama dan penyakit.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
maka penerapan teknologi yang terkini telah merambah dalam budidaya ikan.
Pengembangbiakan ikan secara tradisional akan semakin kurang diminati
dan akan beralih kepada sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
meningkatkan produksi pada ikan budidaya. Aplikasi teknologi molekuker
dalam budidaya ikan sudah bisa diterapkan mulai dari rekayasa kromosom,
rekayasa gen dan terkini adalah rekayasa sel. Rekayasa kromosom antara
lain adalah melakukan kegiatan ginogenesis, androgenesis dan poliploidisasi
yang tujuan dari manipulasi kromosom ini untuk meningkatkan produktivitas
ikan budidaya dan memberikan nilai tambah pada pembudidaya ikan.
Sedangkan rekayasa gen dapat diterapkan jika peralatan untuk melakukan
rekayasa ini tersedia dimana dengan melakukan rekayasa gen dapat dibuat
komoditas ikan budidaya yang disisipi gen yang menguntungkan bagi
pembudidaya misalnya gen pertumbuhan, gen antibeku dan gen warna
tubuh.
Dengan mempelajari buku teks ini diharapkan dapat memahami
pengetahuan yang sangat mendasar dalam membudidayakan ikan. Dalam
buku teks ini juga dijelaskan berbagai kemampuan dasar untuk melakukan
suatu kegiatan yang langsung dapat diaplikasikan dengan menggunakan
bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh berbagai kalangan.

vi
PETA KOMPETENSI

KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI/SUB KOMPETENSI

Memenuhi persyaratan kerja di DU/DI


PBD. PL 00.001U.01 1. Menyetujui kondisi dan ketentuan ketenagakerjaan
2. Memenuhi persyaratan ketenagakerjaan
Memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan dan
lingkungan di tempat kerja
1. Mengikuti prosedur di tempat kerja untuk kesehatan
PBD. PL 00.002U.01
dan keselamatan di tempat kerja
2. Melakukan tindakan kesehatan dan keselamatan
kerja dalam kondisi bahaya/darurat
3. Memelihara insfrastruktur dan lingkungan kerja
Membina kerjasama
1. Melakukan interaksi di tempat kerja
2. Melakukan pertemuan, menyelami dan mengarahkan
PBD. PL 00.003U.01 klien dan pelanggan
3. Memelihara penampilan pribadi
Menggunakan sistem komunikasi
1. Mengumpulkan, mencatat dan mengirim data
PBD. PL 00.004U.01 2. Mengumpulkan, mencatat dan menyediakan
informasi untuk memenuhi kebutuhan tempat kerja
3. Menanggapi masalah
Membuat perencanaan kerja
PBD. PL 00.005U.01 1. Membuat jadwal kegiatan
2. Mengatur bahan, peralatan dan cara kerja
Menyiapkan peralatan
1. Mengidentifikasi jenis peralatan
PBD. PL 00. 006U. 01 2. Menentukan peralatan
3. Mengontrol cara kerja peralatan
4. Membuat laporan

vii
Mengidentifikasi parameter kualitas air
1. Menyiapkan peralatan dan bahan yang digunakan
dalam identifikasi parameter kualitas air
PBD.PL 00.007U.01 2. Mengambil sampel air di lapangan
3. Mengukur parameter kualitas air
4. Membuat laporan hasil identifikasi parameter kualitas
air

KODE UNIT JUDUL UNIT KOMPETENSI/ELEMEN KOMPETENSI


Menentukan lokasi budidaya
1. Merencanakan tahapan kegiatan penentuan lokasi
budidaya
PBD. PL00.008U. 01 2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi budidaya melalui
kegiatan survey lapangan
3. Menentukan lokasi
4. Membuat laporan
Menyiapkan wadah
1. Mengidentifikasi wadah
PBD. PL 00. 009U. 01 2. Menentukan wadah
3. Mengontrol proses penggunaan wadah
4. Membuat laporan
Mengidentifikasi hama dan penyakit ikan
1. Mengambil sampel di lapangan
PBD. PL 00. 010U. 01 2. Mengidentifikasi gejala serangan
3. Menentukan jenis parasit
4. Membuat laporan
Mengemas ikan
1. Menyiapkan teknik pengepakan
2. Menentukan jenis ikan yang dikemas
PBD. PL 00. 011U. 01
3. Melakukan pengepakan ikan
4. Membuat laporan
Memasarkan ikan
PBD. PL00.012U. 01 1. Mencari order pemasaran
2. Melaksanakan penjualan
3. Menyiapkan kuota/target
4. Mengontrol proses pemasaran

viii
Menentukan lokasi pembenihan ikan
1. Merencanakan tahapan kegiatan penentuan lokasi
PBD.PL 01.001I.01 pembenihan
2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi pembenihan ikan
3. Memilih lokasi pembenihan ikan
4. Membuat laporan
Menyiapkan media pembenihan ikan
1. Merencanakan kegiatan persiapan media
PBD.PL 01.002I.01 pembenihan
2. Menyiapkan wadah pembenihan
3. Menyiapkan air untuk pembenihan
4. Membuat laporan
Mengelola induk ikan
1. Memelihara calon induk ikan
PBD.PL 01.003I.01 2. Menyeleksi calon induk jantan dan betina
3. Melakukan pematangan gonad induk ikan
4. Menyeleksi induk siap pijah
Memijahkan induk ikan
1. Melakukan proses pemijahan ikan
PBD.PL 01.004I.01 2. Menangani telur
3. Menetaskan telur
Mengkultur pakan alami
1. Mengidentifikasi jenis-jenis pakan alami
PBD.PL 01.005I.01 2. Menyiapkan media tempat tumbuhnya pakan alami
3. Menebar bibit pakan alami
Memelihara larva ikan
1. Merawat larva ikan
2. Memberi pakan larva
PBD.PL 01.006I.01 3. Mengamati perkembangan larva
4. Menangani hama dan penyakit pada pemeliharaan
larva
5. Memantau kualitas dan kuantitas air pada
pemeliharaan larva
Memanen hasil pembenihan ikan
1. Merencanakan kegiatan pemanenan hasil
pembenihan
PBD.PL.01.007I.01 2. Melakukan pemananen benih ikan
3. Mengemas benih ikan
4. Membuat laporan

ix
Memasarkan hasil pembenihan ikan
1. Mengidentifikasi calon pembeli
PBD.PL.01.008I.01 2. Membuat kesepakatan
3. Melakukan transaksi
4. Melakukan perhitungan laba rugi
5. Membuat laporan
Menentukan lokasi pendederan ikan
1. Merencanakan tahapan kegiatan penentuan lokasi
PBD.PL 02.009I.01 pendederan ikan
2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi pendederan ikan
3. Memilih lokasi pendederan
4. Membuat laporan
Menyiapkan media pendederan ikan
1. Merencanakan kegiatan persiapan pendederan ikan
PBD.PL 02.010I.01 2. Menyiapkan wadah pendederan ikan
3. Menyiapkan air untuk pendederan ikan
4. Membuat laporan
Menebar benih ikan pada pendederan
PBD.PL 02.011I.01 1. Merencanakan kegiatan penebaran benih ikan
2. Menebar benih ikan
3. Membuat laporan
Memantau pertumbuhan benih ikan pada pendederan
1. Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan
PBD.PL 02.012I.01 benih ikan
2. Mengambil sampel untuk menduga pertumbuhan
benih ikan
3. Melakukan sortasi
4. Membuat laporan
Mengelola pakan benih ikan pada pendederan
1. Mengidentifikasi jenis-jenis pakan untuk benih ikan
PBD.PL 02.013I.01 2. Merencanakan kegiatan pengelolaan pakan benih
ikan
3. Menentukan jumlah, waktu dan frekuensi pemberian
pakan
4. Membuat laporan

x
Mengelola kualitas dan kuantitas air pada
pendederan ikan
PBD.PL 02.014I.01 1. Merencanakan kegiatan pengelolaan kualitas dan
kuantitas air
2. Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas air pada
pendederan ikan
3. Mengelola kualitas dan kuantitas air pada
pendederan ikan
4. Membuat laporan
Mengendalikan hama dan penyakit pada pendederan
ikan
1. Merencanakan kegiatan monitoring hama dan
PBD.PL 02.015I.01 penyakit
2. Mengidentifikasi hama dan penyakit
3. Melakukan pengobatan ikan
4. Mencatat kejadian serangan penyakit
5. Membuat laporan
Memanen hasil pendederan ikan
1 Merencanakan kegiatan pemanenan hasil
PBD.PL 02.016I.01 pendederan ikan
2. Memanen benih ikan
3. Membuat laporan
Memasarkan hasil pendederan ikan
1. Mengidentifikasi calon pembeli
PBD.PL 02.017I.01 2. Membuat kesepakatan
3. Melakukan transaksi
4. Melakukan perhitungan laba rugi
5. Membuat laporan
Menentukan lokasi pembesaran ikan
1. Merencanakan tahapan kegiatan pemilihan lokasi
PBD.PL 03.018I.01 2. Mengidentifikasi persyaratan lokasi pembesaran
ikan
3. Memilih lokasi pembesaran ikan
4. Membuat laporan
Menyiapkan media pembesaran ikan
1. Merencanakan kegiatan persiapan pembesaran
PBD.PL 03.019I.01 ikan
2. Menyiapkan wadah pembesaran ikan
3. Menyiapkan media pembesaran ikan
4. Membuat laporan

xi
Menebar benih ikan pada pembesaran
PBD.PL 03.020I.01 1. Merencanakan kegiatan penebaran benih ikan
2. Menebar benih ikan
3. Membuat laporan
Memantau pertumbuhan ikan pada pembesaran
1. Merencanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan
PBD.PL 03.021I.01 ikan
2. Mengambil sampel untuk menduga pertumbuhan
ikan
3. Melakukan sortasi
4. Membuat laporan
Mengelola pakan pembesaran ikan
1. Mengidentifikasi jenis-jenis pakan untuk
PBD.PL 03.022I.01 pembesaran ikan
2. Merencanakan kegiatan pengelolaan pakan
pembesaran ikan
3. Menentukan jumlah, waktu dan frekuensi pemberian
pakan
4. Membuat laporan
Mengendalikan hama dan penyakit pada pembesaran
ikan
1. Merencanakan kegiatan monitoring hama dan
PBD.PL 03.023I.01 penyakit
2. Mengidentifikasi hama dan penyakit pada
pembesaran ikan
3. Melakukan pengobatan ikan
4. Mencatat kejadian serangan penyakit
5. Membuat laporan
Memanen hasil pembesaran ikan
1. Merencanakan kegiatan pemanenan ikan hasil
PBD.PL 03.024I.01 pembesaran
2. Melakukan pemanenan
3. Mengemas ikan hasil pembesaran
4. Membuat laporan
Memasarkan hasil pembesaran ikan
1. Mengidentifikasi calon pembeli ikan
2. Melakukan kesepakatan
PBD.PL 03.025I.01 3. Melakukan transaksi
4. Melakukan penghitungan laba rugi
5. Membuat laporan

xii
BAB I PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu


nasional produksi perikanan
budidaya baru mencapai 1,48 juta
ton. Oleh karena itu, untuk tahun
negara dengan luas perairan hampir
2006 Departemen Kelautan dan
dua pertiga dari luas wilayahnya
yaitu sekitar 70%. Wilayah perairan
di Indonesia berdasarkan kandungan
kadar garamnya atau salinitas dapat
dikelompokkan menjadi tiga jenis Perikanan Republik Indonesia,
perairan yaitu perairan tawar, menurut Freddy Numberi (2006),
perairan payau dan perairan laut. akan menargetkan produksi
Dari ketiga jenis perairan tersebut perikanan pada tahun 2006
dapat dihasilkan suatu produksi mencapai 7,7 juta ton atau
perikanan yang memberikan nilai meningkat sebesar 13%, yang terdiri
tambah bagi pertumbuhan ekonomi dari produksi perikanan tangkap
nasional yang dapat meningkatkan sebesar 5,1 juta ton dan produksi
kesejahteraan masyarakat Indonesia. perikanan budidaya sebesar 2,6 juta
ton, serta konsumsi ikan menjadi
28kg/kapita/tahun.
Potensi perikanan budidaya secara
nasional diperkirakan sebesar 15,59
juta hektar (Ha) yang terdiri dari Berdasarkan target produksi
potensi air tawar 2,23 juta ha, air perikanan budidaya yang telah
payau 1,22 juta ha dan budidaya laut ditetapkan oleh Departemen
12,14 juta ha. Pemanfaatannya Kelautan dan Perikanan maka
hingga saat ini masing-masing baru Departemen Pendidikan Nasional
10,1 persen untuk budidaya ikan air sebagai departemen yang akan
tawar, 40 persen pada budidaya air menciptakan sumber daya manusia
payau dan 0,01 persen untuk yang bergelut dibidang kelautan dan
budidaya laut, sehingga secara perikanan untuk membuat suatu

1
perangkat pendidikan agar dihasilkan Buku teks yang akan dipergunakan
sumber daya manusia yang untuk kegiatan pembelajaran di SMK
kompeten sesuai dengan tuntutan bagi bidang keahlian Budidaya Air
perkembangan ilmu pengetahuan tawar, Budidaya Air Payau dan
dan teknologi yang berkembang saat Budidaya Air laut ini diberi judul
ini. Budidaya Ikan. Dalam buku
Budidaya Ikan ini akan dibahas
tentang berbagai topik yang sangat
Perikanan budidaya baik perikanan mendukung pemahaman tentang
air tawar, air payau dan air laut bagaimana cara melakukan
sangat potensial untuk budidaya ikan sesuai dengan kaidah-
dikembangkan di Indonesia. Sekolah kaidah dalam melakukan kegiatan
Menengah Kejuruan merupakan produksi budidaya ikan. Topik-topik
salah satu jenjang pendidikan yang pembelajaran ini dikelompokkan
akan menciptakan sumberdaya dalam beberapa bab yaitu wadah
manusia tingkat menengah yang budidaya ikan, media budidaya ikan,
trampil dan kompenten sesuai pengembangbiakan ikan, nutrisi ikan,
dengan bidang keahliannya masing- teknologi pakan buatan, teknologi
masing. Salah satu bidang keahlian produksi pakan alami, hama penyakit
yang ada pada SMK ini adalah ikan dan genetika ikan.
Budidaya Ikan/Budidaya Perairan.
Dalam bidang keahlian ini akan
dipelajari berbagai macam hal
tentang budidaya ikan dari berbagai
macam perairan baik tawar, payau Wadah budidaya ikan
dan laut, yang dalam kegiatan
produksi akuakultur dikenal sebagai
budidaya air tawar (freshwater Dalam bab ini akan dibahas tentang
culture), budidaya air payau berbagai macam wadah yang dapat
(brackishwater culture) dan budidaya dipergunakan untuk melakukan
laut (mariculture). Salah satu alat kegiatan budidaya ikan antara lain
bantu yang dapat membantu dalam adalah kolam/tambak, bak, akuarium
kegiatan belajar mengajar di SMK dan karamba jaring terapung. Selain
adalah buku. Saat ini ketersediaan itu juga akan dibahas tentang
buku teks tentang budidaya ikan di bagaimana konstruksi dari setiap
Indonesia masih sangat terbatas. wadah yang akan dipergunakan
Oleh karena itu Departemen untuk melakukan kegiatan budidaya
Pendidikan Nasional melalui ikan yang sesuai dengan
Direktorat Pembinaan SMK, Dirjen tingkat/level produksi yang
Mandikdasmen mengadakan diterapkan. Dan juga akan dibahas
kegiatan penulisan buku teks yang tentang bagaimana menyiapkan
dapat digunakan bagi semua wadah budidaya ikan yang akan
kalangan pendidik dan tenaga dipergunakan untuk kegiatan
kependidikan yang ada di SMK. budidaya sesuai dengan kaidah-
kaidah dalam melakukan kegiatan
budidaya.

2
Pada masyarakat yang hidup di
daerah pantai dimana pantainya
Dengan memahami berbagai macam
mempunyai perairan laut yang
wadah budidaya, konstruksi wadah
terlindung dari ombak dan badai
budidaya dan persiapan wadah
seperti teluk, selat dan perairan
budidaya ikan yang akan
dangkal yang terlindung dapat
dipergunakan untuk kegiatan
melakukan kegiatan budidaya ikan.
budidaya maka akan diperoleh
Berdasarkan lokasi budidaya ikan
peningkatan produktivitas dalam
tersebut dapat dilakukan pemilihan
budidaya ikan. Berdasarkan
terhadap wadah budidaya ikan yang
keberadaan dan lokasi perairan
sesuai dengan karakteristik setiap
yang ada di Indonesia maka kegiatan
lokasi budidaya. Berdasarkan jenis
budidaya ikan air tawar akan lebih
wadah budidaya ikan yang dipilih
banyak dilakukan pada masyarakat
oleh para pembudidaya ikan di
yang tinggal di daerah dataran
Indonesia,menurut Effendi (2004),
rendah atau dataran tinggi,
sistem budidaya ikan dan beberapa
sedangkan budidaya ikan air payau
komoditas yang sudah lazim
dapat dilakukan pada masyarakat
dibudidayakan di Indonesia dapat
Indonesia yang tinggal di daerah
dilihat pada Tabel 1.1. dan Gambar
sekitar pantai, muara sungai atau
1.1 – 1.20 Berbagai macam
rawa payau.
komoditas ikan budidaya.

Tabel 1.1. Komoditas akuakultur yang sudah lazim dibudidayakan dalam


sistem budidaya di Indonesia.

Sistem Komoditas

Kolam air tenang Ikan mas, nila, gurami, udang galah, patin, bawal,
tawes, ikan hias, tambakan, sepat, kowan, mola,
sidat, pakan alami

Ikan mas
Kolam air deras
Udang windu, bandeng, belanak, mujair, nila,
Tambak kakap putih, kerapu, rumput laut, kepiting bakau,
udang galah

Kerapu, kakap, udang windu, bandeng, samadar,


ikan hias laut, ikan mas, nila, mujair, gurami, patin,
Jaring apung

3
bawal, sidat, ikan hias air tawar.

Kerapu, kakap, udang windu, bandeng, samadar,


ikan hias laut, ikan mas, nila, mujair, gurami, patin,
Jaring tancap
bawal, sidat, ikan hias air tawar

Ikan mas, nila, mujair, patin, gurami, betutu

Keramba Ikan mas, ikan nila

Kombongan Ikan hias, benih ikan konsumsi, plankton pakan


alami
Akuarium/tangki/bak

Gambar 1.1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

4
Gambar 1.2. Ikan Nila (Oreochromis Gambar 1.4. Udang galah
niloticus) (Macrobrachium rosenbergii)

Gambar 1.3. Ikan Gurami Gambar 1.5. Ikan Patin (Pangasius


(Osphronemus Gouramy) hiphothalamus)

5
Gambar 1.6. Ikan bawal (Colosoma Gambar 1.9. Ikan sepat
brachyponum) (Trichogaster pectolaris )

Gambar 1.10. Ikan kowan


(Ctenopharyngodon idella)
Gambar 1.7. Ikan tawes ( Puntius
gonionotus)

Gambar 1.11. Ikan lele (Clarias sp)


Gambar 1.8. Ikan tambakan
(Helestoma temmincki)

6
Gambar 1.15. Kerapu merah
(Plectropomus maculatus)

Gambar 1.12. Ikan sidat


(Anguilla sp.)

Gambar 1.16. Ikan kakap putih


(Lates calcariver)
Gambar 1.13. Udang Vanamei
(Penaeus vannamei)

Gambar 1.17. Ikan kerapu


(Chromileptes altivelis)
Gambar 1.14. Ikan bandeng (Chanos
chanos)

7
dipergunakan untuk kegiatan
budidaya ikan diperairan umum
antara lain adalah jaring apung,
jaring tancap, karamba dan
kombongan. Pada kegiatan budidaya
ikan air tawar, payau ataupun laut
dibutuhkan benih ikan dan induk ikan
Gambar 1.18. Ikan betutu
yang dapat menggunakan jenis
(Oxyeleotris marmorata)
wadah budidaya antara lain adalah
bak,tangki dari bahan serat fiber dan
akuarium. Oleh karena itu dalam
buku teks ini akan dibahas tentang
berbagai macam wadah budidaya
ikan antara lain adalah kolam/
tambak, bak, akuarium dan karamba
jaring terapung.

Gambar 1.19. Lobster Air tawar


(Cherax Quadricarinatus) Media Budidaya Ikan

Ikan sebagai salah satu jenis


organisme yang hidup pada suatu
perairan, jika manusia melakukan
kegiatan budidaya yaitu
memproduksi organisme tersebut
dalam suatu lingkungan perairan
yang terbatas dan terkontrol dengan
baik maka manusia harus
Gambar 1.20. Ikan Beronang Lada memahami tentang lingkungan
(Siganus gutatus) perairan dimana ikan tersebut dapat
tumbuh dan berkembangbiak seperti
di habitat aslinya. Lingkungan
Berdasarkan sistem budidaya ikan perairan tempat ikan yang
tersebut maka dapat dipilih beberapa dibudidayakan tumbuh dan
wadah budidaya ikan yang akan berkembang biasa disebut dengan
dipergunakan untuk melakukan media. Media yang dapat
kegiatan budidaya yaitu kolam yang dipergunakan untuk melakukan
dapat dikelompokkan menjadi kolam kegiatan budidaya ikan ada
air deras dan kolam air tenang beberapa persyaratan-persyaratan
berdasarkan sumber air yang agar ikan dapat tumbuh dan
dipergunakan dalam kegiatan berkembangbiak pada wadah yang
budidaya. Sedangkan beberapa jenis terbatas tersebut. Dalam buku teks
wadah budidaya ikan yang dapat ini akan dibahas tentang berbagai

8
macam sumber air yang dapat Pada topik tentang parameter
dipergunakan untuk kegiatan kualitas air akan dibahas tentang
budidaya ikan, berbagai macam beberapa parameter kualitas air dari
parameter kualitas air yang akan berbagai aspek antara lain adalah
mendukung kegiatan budidaya ikan aspek fisik, aspek kimia dan aspek
dan bagaimana kita melakukan biologi. Dari aspek fisik akan dibahas
pengukuran terhadap beberapa secara detail tentang beberapa
parameter kualitas air yang sangat parameter fisik dari suatu perairan
diperlukan untuk kelangsungan hidup yang sangat berpengaruh dalam
oragnisme air yang akan melakukan kegiatan budidaya ikan
dibudidayakan. antara lain adalah kepadatan/berat
jenis air, kekentalan/viscosity,
tegangan permukaan, suhu air,
Dalam bahasan sumber air berisi kecerahan dan kekeruhan air serta
tentang sumber air yang dapat salinitas. Pada aspek secara kimia
digunakan untuk kegiatan budidaya akan dibahas secara detail tentang
ikan ada beberapa macam. beberapa parameter kimia yang
Berdasarkan asalnya sumber air sangat berpengaruh pada media
yang dapat digunakan untuk budidaya ikan antara lain adalah
kegiatan budidaya ikan dapat oksigen, karbondioksida, pH, bahan
dikelompokkan menjadi dua yaitu air organik dan garam mineral, nitrogen,
permukaan dan air tanah. Air alkalinitas dan kesadahan.
permukaan yaitu air hujan yang Sedangkan pada aspek secara
mengalami limpasan/berakumulasi biologi akan dibahas tentang
sementara ditempat-tempat rendah kepadatan dan kelimpahan plankton
misalnya : air sungai, waduk, danau pada suatu wadah budidaya ikan
dan rawa. Selain itu air permukaan yang sesuai untuk media budidaya
dapat juga didefenisikan sebagai air ikan.
yang berada disungai, danau, waduk, Pada topik pengukuran parameter
rawa dan badan air lainnya yang kualitas air akan dibahas beberapa
tidak mengalami infiltrasi kedalam. parameter kualitas air dari aspek fisik,
Sumber air permukaan tersebut kimia dan biologi dengan
sudah banyak dipergunakan untuk menggunakan beberapa peralatan
kegiatan budidaya ikan. Sedangkan pengukuran kualitas air yang sangat
air tanah yaitu air hujan yang mudah pengoperasionalan alatnya
mengendap atau air yang berada dan tersedia dibeberapa tempat
dibawah permukaan tanah. Air tanah budidaya. Dengan mengetahui nilai
yang saat ini digunakan untuk parameter kualitas air pada suatu
kegiatan budidaya dapat diperoleh media budidaya maka akan dapat
melalui cara pengeboran air tanah dicegah suatu kejadian yang dapat
dengan kedalaman tertentu sampai merugikan bagi organisme air yang
diperoleh titik sumber air yang akan dibudidayakan sehingga tidak
keluar dan dapat dipergunakan untuk merugikan manusia. Seperti
kegiatan budidaya. diketahui bahwa organisme air yang
dipelihara dalam suatu wadah
budidaya mempunyai kemampuan

9
untuk beradaptasi dengan media program pengembangbiakan ikan
dimana ikan itu hidup, sehingga jika budidaya.
terjadi fluktuasi terhadap beberapa
parameter kualitas air pada suatu Ikan yang akan dibudidayakan
lingkungan budidaya segera adalah ikan yang telah mengalami
dilakukan penanganan dengan domestikasi dalam lingkungan
memberikan perlakuan khusus pada budidaya. Domestikasi adalah
media budidaya. pemindahan suatu organisme dari
habitat lama ke habitat baru dalam
hal ini manusia biasa memperoleh
Pengembangbiakan ikan ikan dengan cara mengambil dari
alam kemudian dipelihara dalam
Ikan sebagai salah satu jenis suatu lingkungan yang terbatas yaitu
organisme perairan yang sudah kolam pemeliharaan. Suatu jenis
dapat dibudidayakan oleh manusia. ikan dalam sistem budidaya ikan
Dengan melakukan kegiatan dapat dikelompokkan berdasarkan
budidaya maka kebutuhan manusia tingkat domestikasinya menjadi
akan ikan akan selalu tersedia empat tingkat yaitu :
sesuai dengan permintaan. Dalam 1. Domestikasi sempurna, yaitu
melakukan kegiatan budidaya ikan apabila seluruh siklus hidup ikan
untuk memperoleh hasil produksi sudah dapat dipelihara di dalam
yang maksimal dilakukan suatu sistem budidaya. Contoh
program pengembangbiakan beberapa jenis ikan asli
terhadap ikan yang akan Indonesia yang sudah
dibudidayakan. Ilmu yang mendasari terdomestikasi sempurna antara
dalam program pengembangbiakan lain adalah ikan gurame, ikan
ikan adalah tentang biologi ikan, baung dan bandeng.
fisiologi ikan, kebiasaan hidup ikan, 2. Domestikasi dikatakan hampir
reproduksi ikan dan berbagai ilmu sempurna apabila seluruh siklus
tentang rekayasa siklus reproduksi hidupnya sudah dapat dipelihara
ikan. Ikan yang akan dibudidayakan di dalam sistem budidaya, tetapi
harus dikelola dengan baik tentang keberhasilannya masih rendah.
persediaan induk ikan yang akan Ikan asli Indonesia yang
dibudidayakan. Pengembangbiakan terdomestikasi hampir sempurna
ikan peliharaan akan berhasil jika antara lain adalah ikan betutu,
tersedia induk yang baik. balashark dan arwana.
Ketersediaan induk ikan budidaya 3. Domestikasi belum sempurna
harus dikelola dengan baik untuk apabila baru sebagian siklus
memperoleh benih ikan yang tepat hidupnya yang dapat dipelihara
waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, di dalam sistem budidaya.
tepat jenis dan tepat harga. Oleh Contohnya antara lain adalah
karena itu dalam buku ini akan ikan Napoleon, ikan hias laut,
dibahas tentang beberapa hal yang ikan tuna.
berperan penting dalam melakukan 4. Belum terdomestikasi apabila
seluruh siklus hidupnya belum

10
dapat dipelihara di dalam sistem Nila, ikan Bandeng, ikan Kerapu,
budidaya. ikan Kakap, ikan Gurame, ikan
Baung, ikan Lele. Pemijahan ikan
Jenis-jenis ikan yang sudah dapat secara semi intensif adalah
dibudidayakan di Indonesia sangat pemijahan ikan yang terjadi dengan
banyak jumlahnya ada yang berasal memberikan rangsangan hormon
dari perairan Indonesia asli atau untuk mempercepat kematangan
diintroduksi dari negara lain.Jenis gonad, tetapi proses ovulasinya
ikan introduksi yang sudah terjadi secara alamiah di kolam.
terdomestikasi secara sempurna di Jenis ikan yang sudah dapat
Indonesia adalah ikan Mas dan ikan dilakukan pemijahan secara semi
Nila. Dengan banyaknya jenis ikan buatan antara lain adalah ikan Bawal,
yang sudah terdomestikasi secara ikan Lele, ikan Kakap, ikan Kerapu.
sempurna akan memudahkan Pemijahan ikan secara buatan
manusia untuk melakukan kegiatan adalah pemijahan ikan yang terjadi
pengembangbiakan. dengan memberikan rangsangan
Pengembangbiakan ikan budidaya hormon untuk mempercepat
dapat dilakukan dengan cara kematangan gonad serta proses
tradisional, semi intensif ataupun ovulasinya dilakukan secara buatan
intensif. Dengan melakukan dengan teknik stripping/pengurutan.
pengembangbiakan ikan maka Jenis ikan yang sudah dapat
ketersediaan benih ikan secara dilakukan pemijahan secara buatan
kualitas dan kuantitas akan memadai. antara lain adalah ikan Patin, ikan
Penyediaan benih ikan budidaya Mas, ikan Lele.
saat ini dapat dilakukan oleh
masyarakat dengan cara menangkap Dalam buku ini akan dibahas tentang
benih ikan dari alam (sungai, danau, bagaimana cara melakukan kegiatan
laut dan sebagainya) atau dengan produksi budidaya ikan mulai dari
cara melakukan proses pemijahan kegiatan pembenihan ikan, kegiatan
ikan di dalam wadah budidaya. pendederan ikan, kegiatan
Pemijahan ikan budidaya di dalam pembesaran ikan dan kegiatan
wadah budidaya dapat dilakukan pemanenan ikan. Kegiatan
dengan tiga metode yaitu pemijahan pembenihan ikan merupakan suatu
ikan secara alami, pemijahan ikan kegiatan budidaya yang
secara semi buatan dan pemijahan menghasilkan benih ikan. Benih ikan
ikan secara buatan. dalam budidaya ikan diperoleh dari
induk ikan, oleh karena itu sebelum
Pemijahan ikan secara alami adalah melakukan kegiatan pembenihan
pemijahan ikan tanpa campur ikan harus dipahami terlebih dahulu
tangan manusia, terjadi secara tentang teknik seleksi induk ikan,
alamiah (tanpa pemberian karena benih ikan yang unggul
rangsangan hormon) di dalam wadah diperoleh dari induk yang unggul.
budidaya. Jenis ikan yang sudah Jika dalam melakukan kegiatan
dapat dilakukan pemijahan secara pembenihan ikan tidak
alami didalam wadah budidaya memperhatikan tentang seleksi induk
antara lain adalah ikan Mas, ikan yang baik maka akan memperoleh

11
benih ikan yang tidak bermutu. Benih tumbuh dan berkembang meliputi
ikan yang diperoleh dari hasil tentang kandungan protein,
pembenihan ikan akan dilakukan karbohidrat, lemak, vitamin dan
tahapan pemeliharaan yang disebut mineral. Zat gizi tersebut pada setiap
dengan kegiatan pendederan. jenis ikan mempunyai kebutuhan
Pendederan adalah kegiatan yang berbeda-beda. Oleh karena itu
pemeliharaan ikan untuk sangat diperlukan pengetahuan
menghasilkan benih yang siap tentang kebutuhan zat gizi tersebut
ditebarkan pada kegiatan bagi setiap jenis ikan yang akan
pembesaran ikan. Pada beberapa dibudidayakan. Dalam kegiatan
jenis ikan air tawar ada beberapa budidaya ikan biasanya para petani
tahapan kegiatan pendederan ikan ikan sangat membutuhkan pakan
untuk mempercepat siklus yang akan diberikan pada ikan yang
perputaran produksi, seperti pada dibudidayakan pada wadah budidaya.
budidaya ikan mas ada beberapa Pakan yang diberikan ada dua jenis
tahapan pendederan, misalnya yaitu pakan alami dan pakan buatan.
pendederan pertama menghasilkan Pakan alami adalah jasad hidup
benih ikan berukuran 2 – 3 cm, yang diberikan sebagai pakan pada
pendederan kedua menghasilkan organisme air. Sedangkan pakan
benih ikan berukuran 5 – 8 cm. Baru buatan adalah pakan yang dibuat
kemudian berlanjut pada kegiatan dari berbagai macam bahan baku
produksi selanjutnya yaitu hewani dan nabati dengan
pembesaran ikan. Kegiatan memperhatikan kandungan gizi, sifat
pembesaran ikan merupakan dan ukuran ikan yang akan
kegiatan budidaya yang memelihara mengkonsumsi pakan tersebut
benih ikan sampai berukuran dengan cara dibuat oleh manusia
konsumsi. Dengan melakukan dengan bantuan peralatan pakan.
seluruh kegiatan budidaya ikan mulai Pada pakan alami dan pakan buatan
dari pembenihan sampai harus diperhatikan tentang
pembesaran ikan maka kegiatan kandungan zat gizinya agar ikan
pengembangbiakan ikan budidaya yang diberi pakan tersebut dapat
telah dilakukan untuk memenuhi tumbuh dan berkembang.
kebutuhan manusia akan sumber
pangan dan non pangan yang relatif Dengan memahami kebutuhan
murah. nutrisi setiap ikan yang
dibudidayakan maka kebutuhan zat
gizi ikan akan terpenuhi. Seperti
Nutrisi ikan diketahui pakan atau makanan yang
dikonsumsi oleh ikan melupakan
Kajian tentang nutrisi ikan sangat sumber energi utama dalam tubuh
diperlukan untuk memahami ikan. Makanan yang masuk kedalam
kebutuhan ikan akan zat gizi yang tubuh ikan akan diubah menjadi
dibutuhkan ikan agar tumbuh dan energi kimia dan disimpan oleh tubuh
berkembang. Zat gizi yang dalam bentuk ATP (Adenosin
dibutuhkan oleh ikan agar dapat triphosphat). Energi yang diperoleh
dari makanan itu yang akan

12
digunakan oleh ikan untuk jaringan yang rusak. Protein sangat
kegiatannya. Dalam buku ini akan dibutuhkan oleh ikan sebagai sumber
dibahas tentang penggunaan energi utama energi dan pada ikan
yang berasal dari pakan oleh ikan kebutuhan protein ini bervariasi
dan bagaimana penyebarannya bergantung pada jenis ikan yang
dalam proses metabolisme ikan. dibudidayakan. Kebutuhan ikan akan
Energi yang diperoleh dari makanan protein ini berkisar antara 20 – 60%
akan dapat memberikan dan kebutuhan protein ini sudah
pertumbuhan dan perkembangan sampai pada kebutuhan asam amino
ikan budidaya jika makanan yang setiap jenis ikan dimana setiap jenis
diberikan mempunyai kandungan ikan kebutuhannnya akan asam
nutrisi yang cukup untuk setiap jenis amino sangat spesifik. Protein yang
ikan. Oleh karena itu sangat penting diberikan pada ikan budidaya tidak
mengetahui kebutuhan energi untuk boleh berlebih ataupun kekurangan
setiap jenis ikan. Seperti diketahui harus tepat karena kalau berlebih
bahwa pakan buatan harus ataupun kekurangan akan
mengandung energi lebih dari 3000 memberikan pertumbuhan yang
kilokalori agar dapat memberikan negatif. Kelebihan protein dalam
pertumbuhan yang baik bagi ikan pakan akan mengakibatkan ikan
budidaya. memerlukan energi ekstra untuk
melakukan proses deaminasi dan
Setelah memahami tentang energi mengeluarkan amoniak sebagai
yang dibutuhkan oleh setiap jenis senyawa yang bersifat racun
ikan maka pengetahuan tentang sehingga energi yang digunakan
sumber nutrien utama sebagai untuk pertumbuhan akan berkurang.
sumber energi yaitu protein, lemak Kekurangan protein dalam pakan
dan karbohidrat serta vitamin dan jelas akan mengakibatkan
mineral harus dipelajari agar pertumbuhan yang negatif karena
kebutuhan ikan akan nutrisi tercukupi. protein yang disimpan didalam
Protein adalah suatu molekul jaringan otot akan dirombak menjadi
komplek yang besar (makromolekul), sumber energi sehingga
yang terbentuk dari molekul asam pertumbuhan menjadi terhambat.
amino (20 macam), dimana asam
amino satu sama lain berhubungan Pengetahuan nutrisi ikan selanjutnya
dengan ikatan peptida. Protein adalah karbohidrat, karbohidrat
merupakan nutrisi utama yang adalah senyawa organik yang terdiri
mengandung nitrogen dan dari unsur karbon, hidrogen dan
merupakan unsur utama dari oksigen dalam perbandingan yang
jaringan dan organ tubuh hewan dan berbeda-beda. Karbohidrat adalah
juga senyawa nitrogen lainnya sumber energi yang murah dan
seperti asam nukleat, enzim, hormon, dapat menggantikan protein yang
vitamin dan lain-lain. Protein mahal sebagai sumber energi.
dibutuhkan sebagai sumber energi Karbohidrat pada manusia dan
utama karena protein ini terus hewan darat merupakan sumber
menerus diperlukan dalam makanan energi utama sedangkan pada ikan
untuk pertumbuhan dan perbaikan karbohidrat merupakan sumber

13
energi yang disebut dengan Protein diserap didalam sel pada ikan
Sparring Effect yaitu karbohidrat herbivora dan omnivora lebih besar
dapat digunakan sebagai sumber dibandingkan dengan ikan karnivora.
energi pengganti bagi protein , Pengetahuan tentang kebutuhan
karbohidrat sebagai mitra protein jika karbohidrat pada komposisi nutrisi
tubuh kekurangan protein maka pakan setiap jenis ikan perlu
karbohidrat akan dipecah sebagai dipelajari agar dapat menyusun
pengganti energi yang berasal dari kebutuhan nutrisi ikan yang tepat
protein. Dengan menggunakan dan murah.
karbohidrat dan lemak sebagai
sumber bahan baku maka hal ini Kebutuhan nutrien ikan selanjutnya
dapat mengurangi harga pakan. adalah lemak. Lemak sebenarnya
Pemanfaatan karbohidrat sebagai adalah bagian dari lipid. Lipid adalah
sumber energi dalam tubuh dapat senyawa organik yang tidak larut
juga dipengaruhi oleh aktivitas enzim dalam air tapi dapat diekstraksi
dan hormon. Enzim dan hormon ini dengan pelarut nonpolar seperti
penting untuk proses metabolisme kloroform, eter dan benzena. Lipid itu
karbohidrat dalam tubuh seperti terdiri dari lemak, minyak, malam
glikolisis, siklus asam trikarboksilat, dan senyawa-senyawa lain yang ada
jalur pentosa fosfat, glukoneogenesis hubungannya. Perbedaan lemak dan
dan glikogenesis. Selain itu dalam minyak adalah pada titik cairnya
aplikasi pembuatan pakan dimana lemak cenderung lebih tinggi
karbohidrat seperti zat tepung, agar- titik cairnya karena molekulnya lebih
agar, alga, dan getah dapat juga berat dan rantai molekulnya lebih
digunakan sebagai pengikat panjang. Kebutuhan ikan akan lemak
makanan (binder) untuk juga bervariasi antara 4 – 18% dan
meningkatkan kestabilan pakan setiap jenis ikan mempunyai
dalam air pada pakan ikan dan kebutuhan yang spesifik.
udang.
Nutrien yang digunakan oleh ikan
Kemampuan setiap jenis ikan dalam sebagai katalisator (pemacu)
memanfaatkan karbohidrat berbeda- terjadinya proses metabolisme di
beda, kebutuhan karbohidrat bagi dalam tubuh ikan adalah vitamin.
ikan budidaya berkisar antara 20 – Vitamin merupakan salah satu
40%. Hal ini dikarenakan enzim yang nutrien yang bukan merupakan
mencerna karbohidrat yaitu amilase sumber tenaga tetapi sangat
pada ikan omnivora dan herbivora dibutuhkan untuk kelangsungan
aktivitasnya lebih tinggi dibandingkan semua proses di dalam tubuh.
dengan ikan karnivora, oleh karena Vitamin merupakan senyawa organik
itu pada pencernaan karbohidrat dan biasa disebut dietary essensial
pada ikan karnivora lebih rendah yaitu harus diberikan dari luar tubuh
dibandingkan dengan ikan herbivora karena tubuh tidak dapat mensintesis
dan omnivora. Selain itu kemampuan sendiri, kecuali beberapa vitamin
sel memanfaatkan glukosa sebagai misalnya vitamin C pada ayam dan
bentuk sederhana dari karbohidrat vitamin B pada ruminansia. Menurut
dan sumber energi yang paling cepat Steffens (1989) vitamin adalah

14
senyawa organik dengan berat vitamin yang larut dalam lemak.
molekul rendah dengan komposisi Kelompok vitamin yang larut dalam
dan fungsi yang beragam dimana lemak mempunyai sifat dapat
sangat penting untuk kehidupan disimpan dalam hati dan jaringan-
tetapi tidak dapat disintesis (atau jaringan lemak, tidak larut dalam air
hanya disintesis dalam kuantitas maka vitamin ini tidak dapat
yang tidak cukup/terbatas) oleh dikeluarkan atau dieksresikan
hewan tingkat tinggi dan oleh sebab akibatnya vitamin ini dapat ditimbun
itu harus disuplai dari makanan. dalam tubuh jika dikonsumsi dalam
Vitamin dibutuhkan oleh ikan dalam jumlah banyak. Kelompok vitamin ini
jumlah yang tidak banyak tetapi terdiri dari vitamin A, vitamin D,
kekurangan vitamin dalam komposisi vitamin E dan vitamin K.
pakan akan membawa dampak
negatif bagi ikan budidaya. Pada Kebutuhan ikan akan vitamin sangat
buku teks ini akan dibahas tentang ditentukan oleh ukuran atau umur
berbagai macam vitamin, fungsi dan ikan, kandungan nutrien pakan, laju
peranannya, kebutuhan berbagai pertumbuhan dan lingkungan dimana
jenis ikan akan vitamin dan dampak ikan itu hidup. Vitamin merupakan
yang diakibatkan jika dalam koenzim yang sangat diperlukan
komposisi pakan kekurangan dalam metabolisme tubuh. Bila
vitamin. Vitamin berdasarkan kekurangan vitamin maka ikan akan
klasifikasinya dikelompokkan memberikan gejala-gejala yang
menjadi dua yaitu vitamin yang larut spesifik untuk setiap jenis vitamin.
dalam air dan vitamin yang larut Penggunaan vitamin dalam pakan
dalam lemak. Vitamin yang larut ikan biasanya memakai vitamin yang
dalam air mempunyai sifat bergerak sintetik karena ikan tidak dapat
bebas didalam badan, darah dan menggunakan bahan makanan yang
limpa, mudah rusak dalam segar, kecuali pada beberapa jenis
pengolahan, mudah hilang karena ikan herbivora yang dapat
tercuci atau terlarut oleh air keluar memanfaatkan vitamin dari daun.
dari bahan, tidak stabil dalam Pada proses pembuatan pakan ikan,
penyimpanan, kecuali vitamin B12 kehilangan vitamin tidak dapat
dapat disimpan dalam hati selama dihindarkan karena sifat vitamin
beberapa tahun, berfungsi sebagai tersebut. Oleh karena itu perlu
koenzim atau kofaktor dalam reaksi diperhitungkan kandungan vitamin
enzimatik, kecuali vitamin C dan yang tepat pada waktu menyusun
kelebihan vitamin ini di dalam tubuh formulasi pakan.
akan dieksresikan ke dalam urin.
Jenis vitamin yang larut dalam air Nutrien selanjutnya yang bukan
adalah vitamin B1 (Tiamin), vitamin merupakan sumber energi tetapi
B2 (Riboflavin), vitamin B3 (Niasin), berperan sebagai kofaktor dalam
vitamin B5 (Asam pantotenat), setiap proses metabolisme adalah
vitamin B6 (Piridoksin), vitamin B12 mineral. Mineral merupakan unsur
(Kobalamin), biotin, asam folat, anorganik yang dibutuhkan oleh
inositol, kolin dan vitamin C. organisme perairan (ikan) untuk
Kelompok yang kedua adalah proses hidupnya secara normal. Ikan

15
sebagai organisme air mempunyai Fluorinr (F), Yodium (I), Nickel (Ni)
kemampuan untuk menyerap dan lain-lain.
beberapa unsur anorganik ini tidak
hanya dari makanannya saja tetapi
juga dari lingkungannya. Jumlah Teknologi pakan buatan
mineral yang dibutuhkan oleh ikan
dalam jumlah yang sedikit tetapi Dalam buku teks ini akan diuraikan
mempunyai fungsi yang sangat secara jelas tentang berbagai kajian
penting. Dalam penyusunan pakan yang mendukung dalam membuat
buatan mineral mix biasanya suatu rekayasa dalam membuat
ditambahkan berkisar antara 2 – 5 % pakan ikan. Beberapa subtopik akan
dari total jumlah bahan dan dibahas antara lain adalah jenis-jenis
bergantung pada jenis ikan yang bahan baku, bagaimana cara
akan mengkonsumsinya. Walaupun menyusun formulasi pakan ikan dari
sangat sedikit yang dibutuhkan oleh yang sangat sederhana sampai
ikan mineral mempunyai fungsi yang teknologi komputer, bagaimana
sangat utama dalam tubuh ikan. prosedur pembuatan pakan dari
Dalam buku teks ini akan dijelaskan skala rumah tangga sampai pabrikasi,
secara detail tentang kebutuhan dan bagaimana melakukan
mineral pada ikan yang pengelolaan terhadap pakan yang
dibudidayakan serta dampak yang sangat membutuhkan keahlian
diakibatkan jika ikan kekurangan tersendiri agar dalam melakukan
mineral dalam komposisi pakannya. suatu usaha budidaya ikan
menguntungkan. Dimana kita tahu
Mineral berdasarkan konsentrasinya bahwa pakan buatan merupakan
di dalam tubuh hewan dikelompok- biaya operasional tertinggi kurang
kan menjadi dua kelompok, lebih 60% dari total biaya produksi,
kelompok pertama adalah mineral jika kita dapat mengelola dengan
makro yaitu mineral yang baik penggunaan pakan buatan
konsentrasinya dalam tubuh dalam suatu uasaha budidaya ikan
organisme dibutuhkan dalam jumlah maka biaya pakan akan dapat
besar (lebih dari 100 mg/kg pakan dikurangi dan pertumbuhan ikan
kering) terdiri dari Calsium (Ca), terjadi secara optimal sehingga
Magnesium (Mg), Sodium (Na), keuntungan produksi meningkat.
Potassium (K), Phosphorus (P), Selain itu dalam proses pemberian
Clorine (Cl) dan Sulphur (S). pakan pada ikan sebagai organisme
air yang hidup dalam media air maka
Kelompok yang kedua adalah harus diketahui juga tentang kaitan
mineral mikro yaitu mineral yang antara pakan ikan dan kualitas air,
konsentrasinya dalam tubuh setiap sehingga pakan yang diberikan
organisme dibutuhkan dalam jumlah selama proses budidaya ikan
sedikit (kurang dari 100 mg/kg pakan berlangsung tidak memberikan
kering) terdiri dari Besi (Fe), dampak negatif terhadap media
Tembaga (Cu), Mangan (Mn), Seng budidaya.
(Zn), Cobalt (Co), Molybdenum (Mo),
Cromium (Cr), Selenium (Se),

16
Jenis-jenis bahan baku yang dapat dilakukan dengan cara mencoba
digunakan untuk membuat pakan berbagai bahan dengan komposisi
ikan dapat dikelompokkan kedalam disesuaikan dengan kandungan gizi
bahan baku hewani yaitu jenis-jenis setiap bahan baku dan merupakan
bahan baku yang berasal dari hewan, kelanjutan dari metode segiempat.
bahan baku nabati yaitu jenis-jenis Metode selanjutnya adalah metode
bahan baku yang berasal dari aljabar merupakan suatu metode
tumbuh-tumbuhan dan bahan baku penyusunan formulasi pakan ikan
limbah industri yaitu bahan baku dengan menggunakan persamaan
yang berasal dari hasil pengolahan matematika yaitu persamaan aljabar
industri pertanian, perikanan yang dan keempat juga menggunakan
sudah tidak digunakan tetapi masih persamaan matematika yaitu
dapat diolah untuk sumber bahan persamaan linier. Penyusunan
baku pakan. formulasi pakan dengan
menggunakan persamaan
Penyusunan formulasi pakan matematika dapat menggunakan alat
merupakan suatu kompetensi yang bantu komputer apabila anda bisa
harus dimiliki oleh para pembudidaya membuat program matematika
ikan yang akan membuat pakan ikan tersebut dalam komputer. Selain itu
sendiri karena pakan ikan yang ada juga yang menyusun formulasi
dibuat sendiri mempunyai pakan ikan dengan metode
keuntungan yang lebih baik worksheet yang prinsipnya hampir
dibandingkan dengan membeli sama dengan persamaan
dipasar. Pakan ikan yang dibuat sebelumnya, perbedaannya hanya
sendiri mempunyai formulasi sesuai menggunakan lembar kerja setiap
dengan kebutuhan ikan yang akan langkah untuk memudahkan dalam
mengkonsumsi pakan tersebut. penyusunan formulasi.
Karena setiap jenis ikan mempunyai
kebutuhan kandungan nutrien/zat Pakan ikan dibuat oleh para
gizi yang spesifik. Oleh karena itu produsen untuk memenuhi
dalam menyusun formulasi pakan kebutuhan produksi budidaya ikan.
harus dibuat perencanaan yang tepat Jika para pembudidaya ikan dapat
tentang peruntukkannya jenis dan membuat pakan ikan sendiri akan
umur ikan yang akan sangat menguntungkan apabila
mengkonsumsinya. Dalam dipahami prosedur pembuatan pakan
menyusun formulasi pakan ada ikan yang benar. Pakan ikan dapat
beberapa metode yang dapat dibuat secara skala rumahtangga
digunakan antara lain adalah metode maupun secara pabrikasi. Prinsip
segiempat/square methods dalam pembuatan pakan ikan yang
merupakan metode penyusunan harus dipahami adalah bagaimana
formulasi pakan yang paling lama prosedur yang benar dalam
sebagai dasar utama dalam membuat pakan ikan. Pakan ikan
menyusun formulasi pakan, berbeda dengan pakan ternak,
selanjutnya adalah metode coba- pakan ikan dibuat untuk dikonsumsi
coba/trial and error yaitu metode oleh ikan yang hidup diair,
penyusunan formulasi pakan yang mempunyai ukuran lambung yang

17
pendek, dan tidak langsung dapat pengemasan dan pengangkutan
dikonsumsi ikan tetapi berhubungan pakan kepada para konsumen.
dengan media air dimana ikan hidup.
Oleh karena itu dalam prosedur Pakan dibutuhkan dalam suatu
pembuatan pakan harus diperhatikan usaha budidaya ikan dapat berasal
dengan benar tentang komposisi dari pakan alami dan pakan buatan.
bahan baku yang akan digunakan Pada usaha budidaya ikan yang
dalam membuat pakan ikan, bentuk intensif pakan yang digunakan dalam
bahan baku yang akan digunakan usaha tersebut adalah pakan buatan.
harus dalam bentuk tepung. Oleh Oleh karena itu harus dibuat suatu
karena itu tahapan pertama dalam manejemen pakan yang baik agar
prosedur pembuatan pakan adalah pakan yang digunakan benar efisien
membuat tepung semua bahan baku dan efektif. Penggunaan pakan yang
yang disebut dengan milling. benar dalam proses budidaya akan
Peralatan yang dapat digunakan sangat menguntungkan para
untuk melakukan penepungan bahan pembudidaya.
baku ada berbagai macam Selain itu ikan sebagai organisme air
bergantung pada kapasitas bahan maka habitatnya selalu berada
baku yang akan ditepung mulai dari didalam air. Oleh karena itu
disc mill, hammer mill dan lain-lain. bagaimana para pembudidaya ikan
Prosedur selanjutnya setelah bahan harus memahami keterkaitan antara
baku ditepung adalah melakukan pakan ikan dan kualitas air yang
penimbangan bahan baku jika sesuai dengan kebutuhan ikan. Saat
proses pembuatan pakan dilakukan ini telah ditemukan tentang
secara skala rumah tangga, tetapi formulasi pakan ikan yang ramah
jika pembuatan pakan dilakukan lingkungan yang memperhatikan
secara pabrikasi maka langkah kandungan gizi pakan dengan
selanjutnya adalah pencampuran dampaknya terhadap kualitas air
atau mixing. Setelah dilakukan sebagai media budidaya ikan.
pencampuran langkah selanjutnya
adalah pembuatan adonan sampai
benar-benar tercampur secara Teknologi pakan alami
sempurna, kemudian pencetakan
pakan buatan atau pelleting. Pakan Pada bab sebelumnya telah dibahas
yang telah terbentuk sesuai dengan tentang pakan buatan, pada bab ini
keinginan pembuat jika dilakukan akan dibahas tentang jenis-jenis
secara skala rumah tangga maka pakan alami yang dapat digunakan
pakan tersebut harus dilakukan dalam budidaya ikan, bagaimana
pengeringan atau drying, tetapi jika melakukan budidaya berbagai jenis
dilakukan secara pabrikasi dimana pakan alami yang dapat dikonsumsi
peralatan pembuatan pakannya telah oleh ikan terdiri dari phytoplankton,
dilengkapi dengan peralatan steam zooplankton dan bentos. Plankton
untuk mengeringkan pakan sehingga adalah organisme renik yang hidup
tidak dibutuhkan proses pengeringan melayang-layang mengikuti
pakan. Langkah terakhir dalam pergerakan air. Plankton didalam
proses pembuatan pakan adalah

18
perairan dapat dikelompokkan Hama dan penyakit ikan
menjadi dua yaitu phytoplankton dan
zooplankton. Phytoplankton adalah Pada setiap kegiatan budidaya ikan
organisme renik yang hidup pasti akan terdapat kendala yang
melayang-layang mengikuti dapat menyebabkan berkurangnya
pergerakan air yang berasal dari produktivitas dalam suatu usaha.
jasad nabati sedangkan zooplankton Penyebab utama terjadinya
adalah organisme renik yang hidup kegagalan produksi ikan budidaya
melayang-layang mengikuti biasanya disebabkan oleh karena
pergerakan air yang berasal dari adanya hama dan penyakit yang
jasad hewani. Sedangkan bentos menyerang dalam wadah budidaya
adalah organisme air yang hidup ikan. Karena ikan yang sakit tidak
didasar perairan . akan mengalami pertumbuhan berat
badan yang optimal dan hal ini
Jenis-jenis phytoplankton dan sangat merugikan bagi para
zooplankton yang dapat pembudidaya. Agar tidak terjadi
dibudidayakan dapat dikelompokkan serangan hama dan penyakit ikan
berdasarkan habitatnya adalah dalam wadah budidaya maka
plankton air tawar dan plankton air sebelum dilakukan kegiatan
laut. Plankton air tawar digunakan budidaya harus dilakukan treatment
untuk ikan-ikan air tawar dan pada wadah yang akan digunakan
plankton air laut digunakan untuk seperti membersihkan wadah
ikan-ikan air laut. Begitu juga dengan budidaya, penggunaan air yang baik
benthos disesuaikan dengan secara kualitas dan kuantitas,
habitatnya tetapi benthos yang peralatan yang akan digunakan
sudah dapat dibudidayakan pada untuk kegiatan budidaya telah
umumnya adalah yang berasal dari disucihamakan, jangan memelihara
air tawar. ikan yang sakit dengan ikan yang
sehat secara bersamaan, membuang
Untuk meningkatkan mutu dari pakan segera ikan yang sakit. Jika ikan
alami saat ini sudah dapat dilakukan telah terserang hama dan penyakit
tenkologi bioenkapsulasi yaitu proses ikan maka langkah yang harus
peningkatan mutu dari zooplankton dilakukan adalah melakukan
yang telah dibudidayakan untuk pengobatan terhadap ikan yang sakit.
meningkatkan kelangsungan hidup
larva yang mengkonsumsi pakan Dalam buku teks ini akan dibahas
alami tersebut. Ada berbagai macam tentang jenis-jenis hama dan
bahan yang dapat digunakan untuk penyakit yang biasa menyerang ikan
meningkatkan mutu dari zooplankton budidaya, beberapa kegiatan
tersebut. Dalam buku teks ini akan pengendalian terhadap serangan
dibahas berbagai cara dan bahan hama dan penyakit ikan serta cara
yang dapat digunakan untuk melakukan pengobatan jika ikan
meningkatkan mutu dari pakan alami. yang dibudidayakan telah terserang
hama dan penyakit ikan. Hama
adalah makhluk hidup yang

19
menyerang atau memangsa ikan masyarakat akan produk hasil
yang dipelihara sehingga ikan budidaya ikan. Budidaya ikan
tersebut mati. Jenis hama ada sebagai salah satu usaha yang
beberapa macam ada hama yang menghasilkan ikan untuk dijual yang
menyerang larva ikan, benih ikan berarti akan mendapatkan suatu
atau ikan ukuran besar. Penyakit nilah tambah bagi para
ikan adalah suatu akibat dari pembudidayanya. Dalam bab ini
interaksi tiga komponen yaitu akan dibahas tentang persyaratan
lingkungan, ikan itu sendiri dan agen yang harus dipenuhi agar suatu
penyakit yang menyebabkan ikan usaha budidaya ikan
yang dibudidayakan menjadi sakit menguntungkan dikaji dari aspek
dan dapat menyebabkan kematian. ekonomi. Oleh karena itu akan
Penyakit ikan ini dapat disebabkan dibahas tentang pengertian studi
oleh berbagai hal diantaranya adalah kelayakan, Net Present Value (NPV),
penyakit ikan yang disebabkan oleh Net Benefit Cost Ratio (NBC Ratio),
virus, bakteri, jamur, parasit dan Internal Rate of return, Analisis break
makanan. Pada bagian selanjutnya Event Point (BEP), dan aplikasi
akan dibahas secara detail jenis- analisa usaha. Dalam melakukan
jenis penyakit dan cara usaha budidaya ikan diharapkan
penanggulangannya serta produk yang dihasilkan akan terjual
pengobatannya. semua dan mempunyai harga yang
sesuai dengan keinginan penjual
sehingga akan diperoleh keuntungan.
Pemasaran Jika dalam melakukan suatu usaha
tidak mendapatkan keuntungan
Pada bab ini akan dibahas tentang sebagai upah dari mengelola usaha
pengertian pemasaran, ciri-ciri budidaya ikan maka para
pemasaran hasil perikanan, pembudidaya ikan tidak akan tertarik
perencanaan dan target penjualan, untuk membudidayakan komoditas
estimasi harga jual, sistem penjualan perikanan. Seperti kita ketahui
dan strategi promosi. Dengan budidaya ikan pada kondisi lahan
mempelajari materi pemasaran ini yang semakin lama semakin terbatas
diharapkan pembaca dapat karena bertambahnya populasi
memahami tentang pemasaran hasil manusia di bumi harus selalau
produksi budidaya ikan dengan dibudidayakan dan memberikan nilai
berbagai karakteristik produk tambah bagi para pembudidaya.
perikanan yang laku jual
dimasyarakat. Kesehatan dan keselamatan kerja

Pelaksanaan kesehatan dan


Analisa Usaha Budidaya Ikan keselamatan kerja pada suatu usaha
budidaya ikan harus dapat
Dalam suatu kegiatan budidaya diaplikasikan. Dengan melaksanakan
tujuan dilakukannya produksi adalah Kesehatan dan keselamatan kerja
untuk memenuhi kebutuhan merupakan suatu upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang

20
aman, sehat, bebas dari pencemaran sumber-sumber bahaya. Dengan
lingkungaan, sehingga dapat melakukan budidaya ikan secara
mengurangi dan atau bebas dari intensif untuk memperoleh target
kecelakaan kerja yang pada akhirnya produksi yang telah ditetapkan maka
dapat meningkatkan efisiensi dan kesehatan dan keselamatan kerja
produktivitas kerja. harus selalu diperhatikan agar tidak
terjadi kecelakaan kerja yang
Peraturan tentang kesehatan dan diakibatkan oleh kecerobohan atau
keselamatan kerja pada dunia usaha kelalaian manusia.
dan dunia industri telah diatur oleh
negara yang tertuang dalam
Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1970 tentang keselamatan kerja.
Usaha budidaya ikan merupakan
suatu kegiatan yang dapat dilakukan
ditempat tertutup atau terbuka
seperti kolam, tambak, jaring
terapung. Oleh karena itu harus
diperhatikan tentang kesehatan dan
keselamatan kerja selama
melakukan kegiatan budidaya
diberbagai tempat kerja. Tempat
kerja merupakan suatu ruangan atau
lapangan, tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap dimana tenaga
kerja bekerja atausering dimasuki
tempat kerja untuk keperluan usaha
dimana terdapat sumber atau

21
22
BAB II WADAH BUDIDAYA IKAN

2.1. Jenis-Jenis Wadah dapat menampung air dengan bahan


baku yang digunakan untuk
Budidaya Ikan membuat bak tersebut disesuaikan
dengan kebutuhan manusia.
Dalam budidaya ikan air tawar dan
Jenis-jenis kolam dapat dibedakan
laut, ada beberapa jenis wadah yang
berdasarkan sistem budidaya yang
dapat digunakan antara lain adalah
akan diterapkan dan sumber air yang
kolam, bak, akuarium, jaring
digunakan. Sedangkan jenis-jenis
terapung/ karamba jaring apung.
bak atau tanki ini biasanya
Kolam dapat digunakan sebagai
dikelompokkan berdasarkan bahan
wadah untuk budidaya ikan air tawar
baku pembuatannya yaitu yang
sedangkan bak, akuarium, jaring
terbuat dari beton disebut bak beton,
terapung dapat digunakan untuk
yang terbuat dari kayu dilapisi
melakukan budidaya ikan air tawar
dengan plastik disebut bak plastik,
dan laut. Kolam dan bak
yang terbuat dari serat fiber disebut
berdasarkan defenisinya dibedakan
bak fiber. Akuarium merupakan salah
karena kolam dalam bahasa
satu wadah yang digunakan untuk
Inggrisnya pond adalah suatu wadah
budidaya ikan yang terbuat dari kaca
yang dapat menampung air dalam
dan mempunyai ukuran tertentu.
luasan yang terbatas, sengaja dibuat
Jaring terapung merupakan suatu
oleh manusia dengan cara
wadah budidaya ikan air tawar dan
melakukan penggalian tanah pada
laut yang sengaja dibuat oleh
lahan tertentu dengan kedalaman
manusia untuk membatasi air yang
rata-rata berkisar antara 1,5 – 2,0 m
berada dalam suatu perairan umum
dan sumber air bermacam-macam.
(danau, laut, waduk, sungai) agar
Sedangkan bak atau tanki adalah
dapat digunakan untuk
suatu wadah budidaya ikan yang
membudidayakan ikan.
sengaja dibuat oleh manusia yang
berada diatas permukaan tanah yang
23
2.1.1. Kolam

Jenis-jenis kolam yang akan


digunakan sangat tergantung kepada
sistem budidaya yang akan
diterapkan. Ada tiga sistem budidaya
ikan air yang biasa dilakukan yaitu :
1. Tradisional/ekstensif, kolam yang
digunakan adalah kolam tanah
yaitu kolam yang keseluruhan
bagian kolamnya terbuat dari Gambar 2.1. Kolam tanah
tanah (Gambar 2.1).
2. Semi intensif, kolam yang
digunakan adalah kolam yang
bagian kolamnya(dinding
pematang) terbuat dari tembok
sedangkan dasar kolamnya
terbuat dari tanah (Gambar 2.2).
3. Intensif, kolam yang digunakan
adalah kolam yang keseluruhan
bagian kolam terdiri dari tembok
(Gambar 2.3).
Gambar 2.2. Kolam semiintensif
Jenis-jenis kolam berdasarkan
sumber air yang digunakan adalah
kolam air mengalir/running water
dengan sumber air berasal dari
sungai atau saluran irigasi dimana
pada kolam tersebut selalu terjadi
aliran air yang debitnya cukup besar
(50 l/detik) dan kolam air tenang/
stagnant water dengan sumber air
yang digunakan untuk kegiatan
budidaya adalah sungai, saluran
irigasi, mata air, hujan dan lain-lain
tetapi aliran air yang masuk ke dalam
Gambar 2.3. Kolam Intensif
kolam sangat sedikit debit airnya (0,5
– 5 l/detik) dan hanya berfungsi
menggantikan air yang meresap dan
Jenis-jenis kolam yang dibutuhkan
menguap.
untuk membudidayakan ikan
berdasarkan proses budidaya dan
fungsinya dapat dikelompokkan
menjadi beberapa kolam antara lain
adalah kolam pemijahan, kolam

24
penetasan, kolam pemeliharaan/ telur ikan , sebaiknya dasar kolam
pembesaran, kolam pemberokan penetasan terbuat dari semen atau
induk. tanah yang keras agar tidak ada
lumpur yang dapat mengotori telur
Kolam pemijahan adalah kolam yang ikan sehingga telur menjadi buruk
sengaja dibuat sebagai tempat atau rusak. Ukuran kolam
perkawinan induk-induk ikan penetasan disesuaikan juga dengan
budidaya. Ukuran kolam pemijahan skala usaha. Biasanya untuk
ikan bergantung kepada ukuran memudahkan perawatan dan
besar usaha, yaitu jumlah induk ikan pemeliharaan larva, ukurannya
yang akan dipijahkan dalam setiap adalah 3 x 2 m atau 4 x 3 m (Gambar
kali pemijahan. Bentuk kolam 2.5).
pemijahan biasanya empat persegi
panjang dan lebar kolam pemijahan
misalnya untuk kolam pemijahan
ikan mas sebaiknya tidak terlalu
berbeda dengan panjang kakaban.
Sebagai patokan untuk 1 kg induk
ikan mas membutuhkan ukuran
kolam pemijahan 3 x 1,5 m dengan
kedalaman air 0,75 – 1,00 m.

Kolam pemijahan sebaiknya dibuat Gambar 2.5. Kolam Penetasan


dengan sistem pengairan yang baik
yaitu mudah dikeringkan dan pada Kolam pemeliharaan benih adalah
lokasi yang mempunyai air yang kolam yang digunakan untuk
mengalir serta bersih. Selain itu memelihara benih ikan sampai
kolam pemijahan harus tidak bocor ukuran siap jual (dapat berupa benih
dan bersih dari kotoran atau rumput- atau ukuran konsumsi). Kolam
rumput liar (Gambar 2.4). pemeliharaan biasanya dapat
dibedakan menjadi kolam
pendederan dan kolam pembesaran
ikan. Pada kolam semi intensif atau
tradisional sebaiknya tanah dasar
kolam adalah tanah yang subur jika
dipupuk dapat tumbuh pakan alami
yang sangat dibutuhkan oleh benih
ikan (Gambar 2.6).

Gambar 2.4. Kolam Pemijahan

Kolam penetasan adalah kolam yang


khusus dibuat untuk menetaskan
25
Bak yang digunakan untuk
melakukan pemijahan ikan biasanya
adalah bak yang terbuat dari beton
(Gambar 2.8) atau fiber (Gambar
2.9) sedangkan bak plastik (Gambar
2.10) biasanya digunakan untuk
melakukan pemeliharaan larva ikan.

Gambar 2.6. Kolam Pemeliharaan

Kolam pemberokan adalah kolam


yang digunakan untuk menyimpan
induk-induk ikan yang akan
dipijahkan atau ikan yang akan
dijual/angkut ke tempat jauh
(Gambar 2.7)
Gambar 2.8. Bak Beton

Gambar 2.9. Bak fiber


Gambar 2.7. Kolam Pemberokan

2.1.2. Bak

Wadah budidaya ikan selanjutnya


adalah bak atau tanki yang dapat
digunakan untuk melakukan
budidaya ikan. Berdasarkan proses
budidaya ikan, jenis bak yang akan
digunakan disesuaikan dengan skala
produksi budidaya dan hampir sama Gambar 2.10. Bak Plastik
dengan kolam dimana dapat
dikelompokkan menjadi bak 2.1.3. Akuarium
pemijahan, bak penetasan, bak
pemeliharaan dan bak pemberokan.

26
Akuarium merupakan salah satu d. Tanaman disusun dengan
wadah pemeliharaan ikan yang relatif estetika
sangat mudah dalam perawatannya. e. Jenis ikan yang dipelihara harus
Akuarium dapat digunakan untuk harmonis
budidaya ikan tawar dan air laut Jenis akuarium ini biasanya
biasanya pada proses kegiatan digunakan sebagai hiasan bagi
pembenihan ikan atau untuk berbagai jenis ikan yang dapat
pemeliharaan ikan hias. Akuarium ini dinikmati keindahan warna tubuh
terbuat dari bahan kaca dimana ikan baik ikan air tawar maupun ikan
penamaan akuarium ini berasal dari air laut dari jenis ikan hias maupun
bahasa latin yaitu aqua yang berarti ikan konsumsi.
air dan area yang berarti ruang. Jadi
akuarium ini adalah ruangan yang 2.1.3.2. Akuarium Kelompok
terbatas untuk tempat air yang
berpenghuni, yang dapat diawasi Ikan-ikan yang dipelihara di dalam
dan dinikmati. akuarium kelompok harus ikan
sejenis/sekeluarga serta ditanami
Akuarium yang digunakan untuk oleh tanaman air yang tanaman air
budidaya ikan ini dapat dibuat sendiri yang diperlukan oleh kelompok ikan
atau membeli langsung dari toko. yang dipelihara.
Fungsi akuarium sebagai wadah
untuk budidaya ikan juga dapat Syarat akuarium kelompok :
berfungsi sebagai penghias ruangan a. Jenis ikan yang dipelihara harus
dimana akuarium tersebut dapat masih sekarabat
dinikmati keindahannya oleh b. Susunan tanaman air
penggemarnya. Berdasarkan disesuaikan dengan ikan yang
fungsinya, akuarium dapat dipelihara.
dibedakan antara lain adalah :
Jenis akuarium ini biasanya
digunakan untuk memelihara ikan
2.1.3.1. Akuarium Umum dalam satu kelompok baik ikan hias
maupun ikan konsumsi dari ikan air
Akuarium ini diisi dengan berbagai
tawar dan laut (Gambar 2.11).
jenis ikan dan tanaman air yang
bertujuan untuk penghias ruangan.

Syarat akuarium umum :


a. Akuarium akan diletakkan sesuai
dan serasi dengan ruangan.
b. Alat perlengkapan akuarium
meliputi aerator, kabel listrik, pipa
pvc, dan lain-lain yang diletakkan
tersembunyi supaya nampak
alami.
c. Usahakan dasar akuarium
tampak alami

27
Gambar 2.11. Akuarium Kelompok

2.1.4. Keramba Jaring Apung


2.1.3.3. Akuarium Sejenis (KJA)
Dalam akuarium ini, estetika dan Wadah budidaya ikan selanjutnya
dekorasi dikesampingkan, karena yang dapat digunakan oleh
tujuan dari akuarium sejenis untuk masyarakat yang tidak memiliki
mengembang-biakan ikan. Jenis lahan darat dalam bentuk kolam,
akuarium ini yang biasa digunakan masyarakat dapat melakukan
untuk membudidayakan ikan air budidaya ikan di perairan umum.
tawar dan laut (Gambar 2.12). Budidaya ikan dengan menggunakan
karamba merupakan alternatif wadah
budidaya ikan yang sangat potensial
untuk dikembangkan karena seperti
diketahui wilayah Indonesia ini terdiri
dari 70% perairan baik air tawar
maupun air laut. Dengan
menggunakan wadah budidaya
karamba dapat diterapkan beberapa
sistem budidaya ikan yaitu secara
ekstensif, semi intensif maupun
intensif disesuaikan dengan
Gambar 2.12. Akuarium sejenis
kemampuan para pembudidaya ikan.
Jenis-jenis wadah yang dapat
digunakan dalam membudidayakan
2.1.3.4. Akuarium Tanaman
ikan dengan karamba ada beberapa
antara lain adalah karamba jaring
Dalam akuarium ini yang memegang
terapung, karamba bambu tradisional
peranan adalah tanaman air. Ikan
dengan berbagai bentuk bergantung
dimasukan kedalam akuarium untuk
pada kebiasaan masyarakat sekitar.
penghias dan pemelihara tanaman.
Teknologi yang digunakan dalam
membudidayakan ikan dengan
karamba ini relatif tidak mahal dan
sederhana, tidak memerlukan lahan
daratan menjadi badan air yang baru
serta dapat meningkatkan produksi
perikanan budidaya. Jenis karamba
jaring apung yang digunakan untuk
membudidayakan ikan dapat dilihat
pada Gambar 2.14 dan 2.15.

Gambar 2.12. Akuarium Tanaman

28
Konstruksi kolam yang akan
digunakan untuk budidaya ikan
sangat dipengaruhi oleh pemilihan
lokasi yang tepat. Untuk membuat
kolam maka tanah yang akan
dijadikan kolam harus mampu
menyimpan air atau kedap air
sehingga kolam yang akan di buat
tidak bocor. Bentuk kolam yang akan
Gambar 2.14. Kolam jaring terapung digunakan untuk membudidayakan
tampak atas ikan ada beberapa macam antara
lain adalah kolam berbentuk segi
empat/empat persegipanjang,
berbentuk bujur sangkar, berbentuk
lingkaran atau berbentuk segitiga.
Dari berbagai bentuk kolam ini yang
harus diperhatikan adalah tentang
persyaratan teknis konstruksi kolam.
Persyaratan teknis konstruksi suatu
kolam yang akan digunakan untuk
membudidayakan ikan sebaiknya
mempunyai :
Gambar 2.15. Kolam jaring terapung
tampak depan
2.2.1.1. Pematang kolam.

Pematang kolam dibuat untuk


2.2. Konstruksi Wadah menahan massa air didalam kolam
Budidaya agar tidak keluar dari dalam kolam.
Oleh karena itu jenis tanah yang
Dari beberapa jenis wadah budidaya akan digunakan untuk membuat
ikan yang telah dijelaskan pematang kolam harus kompak dan
sebelumnya dapat digunakan untuk kedap air serta tidak mudah bocor.
menentukan jenis wadah yang akan Jenis tanah yang baik untuk
digunakan untuk membudidayakan pematang kolam adalah tanah liat
ikan. Langkah selanjutnya adalah atau liat berpasir. Kedua jenis tanah
memahami konstruksi wadah ini dapat diidentifikasi dengan
budidaya agar wadah budidaya yang memperhatikan tanah yang ciri-
akan dibuat sesuai dengan kaidah cirinya antara lain memiliki sifat
budidaya. lengket, tidak poros, tidak mudah
pecah dan mampu menahan air.
Ukuran pematang disesuaikan
2.2.1. Konstruksi kolam dengan ukuran kolam. Tinggi
pematang ditentukan oleh
kedalaman air kolam, sebaiknya
dasar pematang kolam ini ditanam

29
sedalam r 20 cm dari permukaan sama kaki dan bentuk trapesium
dasar kolam. tidak sama kaki. Bentuk pematang
trapesium sama kaki artinya
Bentuk pematang yang biasa dibuat perbandingan antara kemiringan
dalam kolam budidaya ikan ada dua pematang 1 : 1 (Gambar 2.16),
bentuk yaitu berbentuk trapesium

Gambar 2.16. Bentuk pematang trapesium sama kaki

sedangkan bentuk pematang pematang pada bagian bawahnya


trapesium tidak sama kaki artinya adalah 3 m untuk pematang bentuk
perbandingan antara kemiringan trapesium sama kaki pada
pematang 1 : 1,5 (Gambar 2.17). kedalaman kolam 1m, jika kolam
tersebut dibuat dengan pematang
trapesium tidak sama kaki maka
lebar pematang pada bagian atas
adalah 1 m maka lebar pematang
pada bagian bawahnya adalah 4 m
pada kedalaman kolam 1 m.

Gambar 2.17. Bentuk pematang 2.2.1.2. Dasar kolam dan saluran


trapesium tidak sama
kaki Dasar kolam untuk budidaya ikan ini
dibuat miring ke arah pembuangan
Sebagai acuan dalam membuat air, kemiringan dasar kolam berkisar
pematang kolam untuk kolam yang antara 1-2% yang artinya dalam
berukuran 200 m2 lebar pematang setiap seratus meter panjang dasar
dibagian atas adalah 1 m maka lebar

30
kolam ada perbedaan tinggi Gambar 2.19. Saluran tengah atau
sepanjang 1-2 meter (Gambar 2.18). kemalir

2.2.1.3. Pintu air

Kolam yang baik harus memiliki pintu


pemasukan air dan pintu
Gambar 2.18. Kemiringan dasar pengeluaran air secara terpisah.
kolam Letak pintu pemasukkan dan
Cara pengukuran yang mudah untuk pengeluaran air sebaiknya berada di
mengetahui kemiringan dasar kolam tengah-tengah sisi kolam terpendek
adalah dengan menggunakan selang agar air dalam kolam dapat berganti
air yang kecil. Pada masing-masing seluruhnya (Gambar 2.20).
ujung pintu pemasukan dan pintu
pengeluaran air ditempatkan
sebatang kayu atau bambu yang
sudah diberi ukuran, yang paling
bagus meteran, kemudian selang
kecil yang telah berisi air
direntangkan dan ditempatkan pada
bambu, kayu atau meteran.
Perbedaan tinggi air pada ujung-
ujung selang itu menunjukkan
perbedaan tinggi tanah/ kemiringan
dasar kolam.
Gambar 2.20. Pintu pemasukkan
Saluran didalam kolam budidaya ada air dan pengeluaran
dua macam yaitu saluran keliling air ditengah
atau caren dan saluran tengah atau
kemalir. Saluran didalam kolam ini
dibuat miring ke arah pintu Ada juga letak pintu pengeluaran dan
pengeluaran air. Hal ini untuk pemasukan air berada disudut
memudahkan di dalam pengeringan secara diagonal (Gambar 2.21).
kolam dan pemanenan ikan (Gambar Letak pintu air tersebut ada
2.19). kelemahannya yaitu air dikedua
sudut yang lain tidak berganti dan
memperpanjang saluran
pengeringan sehingga penangkapan
ikan relatif berlangsung agak lama.

31
Pada kolam beton pintu pemasukan
dan pengeluaran air menggunakan
sistem monik. Pada pintu air sistem
monik ini ada celah penyekatnya dan
dapat dibuat lebih dari satu. Celah
penyekat ini berfungsi untuk
menempatkan papan-papan kayu
yang disusun bertumpuk. Papan-
papan kayu ini dapat dibuka dan
diatur yang pengaturannya
disesuaikan dengan kebutuhan.
Gambar 2.21. Pintu pengeluaran Pada pintu air ini papan penyekatnya
dan pemasukan dapat diganti dengan saringan
air berada disudut (Gambar 2.23).

Pada kolam tanah pintu


pemasukan dan pengeluaran air
dibuat dari bambu atau pipa
paralon. Bentuk pintu pemasukan
diletakkan sejajar dengan
permukaan tanggul sedangkan
pintu pengeluaran dapat dibuat
dua model yaitu pertama sama
dengan pintu pemasukkan
dengan ketinggian sesuai
dengan tinggi air kolam dan
kedua dibuat dengan model huruf Gambar 2.23. Pintu pemasukan
L (Gambar 2.22). dan pengeluaran
air menggunakan
sistem monik

Persyaratan konstruksi teknik dalam


membuat bak yang akan digunakan
untuk budidaya ikan secara prinsip
hampir sama dengan kolam dimana
harus mempunyai pintu pemasukan
dan pengeluaran air tetapi dasar bak
pada umumnya adalah rata.
Konstruksi pintu dan pemasukan air
pada bak dapat dibuat dengan model
Gambar 2.22. Pintu pemasukan pembuatan instalasi air untuk
dan pengeluaran pemasukan air dan pengeluaran
air bentuk L airnya menggunakan pipa paralon
(PVC) dengan bentuk huruf L
(Gambar 2.24).

32
sebagai wadah budidaya ikan antara
lain adalah akuarium segiempat,
akuarium trapesium, akuarium
segidelapan, akuarium segienam,
akuarium botol dan akuarium ellips.
Setelah merencanakan bentuk
akuarium kaca yang akan dibuat,
langkah selanjutnya menentukan
ukuran kaca yang akan
Gambar 2.24 Pemasukan dan dipergunakan untuk membuat
pengeluaran air pipa akuarium. Ukuran kaca yang akan
paralon (PVC) digunakan biasanya berkisar antara
3 mm – 16 mm. Sebagai acuan
dalam membuat akuarium, ukuran
2.2.2. Konstruksi Akuarium kaca yang akan digunakan dapat
dilihat pada Tabel 1. Untuk kaca
Konstruksi wadah akuarium sangat yang akan digunakan sebagai dasar
bergantung pada desain yang akan akuarium sebaiknya ketebalannya
dikerjakan berdasarkan bentuk ditambah 1 – 2 mm.
akuarium yang diinginkan. Bentuk
akuarium yang biasa digunakan

Tabel 2.1. Perbandingan antara ukuran akuarium dengan ketebalan kaca

Panjang Lebar Tinggi


Tebal kaca (mm) akuarium (cm) akuarium akuarium
(cm) (cm)
3 30 20 20
3 40 20 30
3 50 30 30
5 70 35 35
5 80 40 40
6 90 45 45
6 120 50 50
10 150 45 50
10 150 45 60
10 180 45 60
12 190 50 60
16 200 70 65

Setelah menentukan bentuk dan adalah memotong kaca. Kaca yang


ukuran kaca yang akan dipergunakan untuk membuat
dipergunakan untuk membuat akuarium masih dalam bentuk
akuarium maka langkah selanjutnya lembaran kaca. Ada beberapa

33
langkah yang harus diperhatikan
dalam memotong kaca antara lain
adalah :

1. Letakkan lembaran kaca pada


meja kerja, meja kerja harus
dalam keadaan datar dan bersih.
Hal ini untuk menghindari
terjadinya keretakan kaca yang
akan dipergunakan.

Gambar 2.26. Mengukur kaca

3. Untuk memotong kaca gunakan


alat pemotong kaca yang banyak
dijual di toko besi.

Gambar 2.25. Meletakan lembaran


kaca

2. Ukuran kaca yang akan dipotong


ini disesuaikan dengan bentuk
akuarium yang akan dibuat.

Dalam membuat potongan-


potongan kaca, lembaran kaca
dibuat polanya terlebih dahulu Gambar 2.27. Memotong kaca
dengan menggunakan spidol dan
penggaris besi. Pola yang sudah 4. Setelah kaca terpotong, bagian
dibentuk dapat langsung pinggir dari potongan-potongan
dipotong. kaca harus dihaluskan dengan
gerinda atau batu asahan
karborondum.

34
agar akuarium yang dibuat tidak
bocor dan tahan lama, yaitu
merancang/mendesain akuarium,
memotong kaca, merakit akuarium
dan melakukan uji coba terhadap
akuarium tersebut.Akuarium yang
akan dirakit sendiri, langkah awal
yang harus dilakukan adalah
menyiapkan kaca sebagai dasar
utama pembuatan akuarium. Kaca
yang akan dirakit menjadi akuarium
ini sudah dalam bentuk potongan-
potongan kaca yang ukurannya
Gambar 2.28. Menghaluskan bagian
disesuaikan dengan ukuran
pinggir kaca
akuarium yang akan dibuat. Sebelum
dirakit kaca-kaca tersebut sebaiknya
Setelah kaca yang dibutuhkan untuk
dilakukan penggosokan dengan
membuat akuarium tersebut
menggunakan batu asahan
disiapkan langkah selanjutnya
karborundum atau gerinda. Hal ini
adalah melakukan perakitan
bertujuan agar akuarium yang dibuat
akuarium. Dalam merakit akuarium
tidak berbahaya bagi pemakainya.
dibutuhkan ketelitian dan ketepatan
dalam merangkainya. Kaca sebagai
Kaca-kaca yang telah dihaluskan
bahan utama dalam pembuatan
seluruh bagian pinggirnya dengan
akuarium dapat diperoleh dengan
gerinda ini telah siap untuk dirakit.
cara membeli lembaran kaca atau
Langkah selanjutnya adalah
membeli potongan kaca sesuai
menyiapkan alat dan bahan lainnya
dengan ukuran yang tepat.
yaitu lem kaca silikon, alat tembak
Akuarium sebagai salah satu wadah
lem, lakban besar dan cutter.
yang dapat digunakan untuk
membudidayakan ikan baik ikan hias
Lem kaca yang digunakan adalah
maupun ikan konsumsi yang berasal
lem silikon yaitu lem khusus untuk
dari perairan tawar dan laut dapat
merekatkan kaca agar melekat
diperoleh dengan cara membeli
dengan baik dan tidak bocor. Alat
langsung ditoko atau membuatnya
tembak lem silikon ini berfungsi
sendiri. Dengan membuat akuarium
untuk memudahkan si pembuat
sendiri akan diperoleh keuntungan
akuarium dalam merakit akuarium,
antara lain adalah harganya relatif
bentuk alat tembak ini seperti pistol
lebih murah, ukuran sesuai dengan
sehingga disebut alat tembak.
kebutuhan dan kaca yang digunakan
mempunyai ketebalan sesuai dengan
luasan akuarium yang dibuat.

Dalam membuat akuarium, ada


beberapa hal yang harus dikuasai

35
Gambar 2.29. Lem silikon dan alat Gambar 2.31. Plakban pada kaca
tembak lem
Pada saat menempelkan lem silikon
ke kaca sebaiknya ketebalan lem
pada seluruh permukaan kaca sama.
Hal ini akan membuat ketebalan lem
sama pada setiap sudut . Setelah
seluruh kaca terakit menjadi
akuarium, langkah selanjutnya
adalah mengeringkan akuarium
tersebut minimal selama 24 jam agar
lem silikon tersebut benar-benar
kering.

Gambar 2.30. Penggunaan alat


tembak lem

Sedangkan lakban yang digunakan


dalam merakit akuarium sebaiknya
lakban plastik yang berwarna colklat
atau hitam dengan ukuran lebar
lakbannya adalah 5 cm. Lakban ini
berfungsi untuk membantu berdirinya
kaca dengan kaca lainnya agar tidak
bergeser yang memudahkan dalam
pemberian lem kaca. Gambar 2.31. Mengeringkan
akuarium

Langkah terakhir dalam merakit


akuarium adalah melakukan uji coba
terhadap akuarium tersebut. Ujicoba
tersebut dilakukan dengan mengisi
air ke dalam akuarium selama 24
jam dan perhatikan apakah ada
bagian yang bocor. Untuk

36
memperoleh akuarium yang rapih memilih lahan yang akan digunakan
setelah diuji coba bersihkan lem untuk melakukan budidaya ikan
yang tidak rapih dengan harus diperhatikan. Aspek sosial
menggunakan cutter. ekonomis yang sangat umum yang
harus dipertimbangkan adalah lokasi
tersebut dekat dengan pusat
2.2.3. Konstruksi Keramba Jaring kegiatan yang mendukung
Apung operasionalisasi suatu usaha seperti
tempat penjualan pakan, pembeli
Wadah budidaya ikan selanjutnya ikan dan lokasi yang dipilih
yang sangat potensial dikembangkan merupakan daerah pengembangan
di Indonesia adalah karamba jaring budidaya ikan sehingga mempunyai
terapung. Agar dapat melakukan prasarana jalan yang baik serta
budidaya ikan dijaring terapung yang keamanan terjamin. Persyaratan
menguntungkan maka konstruksi teknis yang harus diperhatikan dalam
wadah tersebut harus sesuai dengan memilih lokasi usaha budidaya ikan
persyaratan teknis. Konstruksi di karamba jaring terapung antara
wadah jaring terapung pada lain adalah :
dasarnya terdiri dari dua bagian yaitu
kerangka dan kantong jaring. 1. Arus air.
Kerangka berfungsi sebagai tempat Arus air pada lokasi yang dipilih
pemasangan kantong jaring dan diusahakan tidak terlalu kuat
tempat lalu lalang orang pada waktu namun tetap ada arusnya agar
memberi pakan dan saat panen. tetap terjadi pergantian air
Kantong jaring merupakan tempat dengan baik dan kandungan
pemeliharaan ikan yang akan oksigen terlarut dalam wadah
dibudidayakan. Dengan memper- budidaya ikan tercukupi, selain
hitungkan konstruksi wadah secara itu dengan adanya arus maka
baik dan benar akan diperoleh suatu dapat menghanyutkan sisa-sisa
wadah budidaya ikan yang pakan dan kotoran ikan yang
mempunyai masa pakai yang lama. terjatuh di dasar perairan.
Dengan tidak terlalu kuatnya arus
Dalam mendesain konstruksi wadah juga berpengaruh terhadap
budidaya ikan disesuaikan dengan keamanan jaring dari kerusakan
lokasi yang dipilih untuk membuat sehingga masa pakai jaring lebih
budidaya ikan dijaring terapung. lama. Bila pada perairan yang
Budidaya ikan dijaring terapung akan dipilih ternyata tidak ada
dapat dilakukan untuk komoditas arusnya (kondisi air tidak
ikan air tawar dan ikan air laut. mengalir), disarankan agar unit
Sebelum membuat konstruksi wadah budidaya atau jaring dapat
karamba jaring terapung pemilihan diusahakan di perairan tersebut,
lokasi yang tepat dari aspek sosial tetapi jumlahnya tidak boleh lebih
ekonomis dan teknis benar. Sama dari 1% dari luas perairan. Pada
seperti wadah budidaya ikan kondisi perairan yang tidak
sebelumnya persyaratan secara mengalir, unit budidaya
teknis dan sosial ekonomis dalam sebaiknya diletakkan ditengah

37
perairan sejajar dengan garis terurai berupa persenyawaan
pantai. logam berat, sianida, DDT atau
bahan organik sintetis. Contoh
2. Tingkat kesuburan. bahan pencemar yang mudah
Pada perairan umum dan waduk terurai berupa limbah rumah
ditinjau dari tingkat kesuburannya tangga, bakteri, limbah panas
dapat dikelompokkan menjadi atau limbah organik. Kedua jenis
perairan dengan tingkat bahan pencemar tersebut
kesuburan rendah (oligotropik), umumnya disebabkan oleh
sedang (mesotropik) dan tinggi kegiatan manusia, baik secara
(eutropik). Jenis perairan yang langsung maupun tidak langsung.
sangat baik untuk digunakan Penyebab kedua adalah keadaan
dalam budidaya ikan di jaring alam seperti : banjir atau gunung
terapung dengan sistem intensif meletus. Jika lokasi budidaya
adalah perairan dengan tingkat mengandung bahan pencemar
kesuburan rendah hingga maka akan berpengaruh
sedang.Jika perairan dengan terhadap kehidupan ikan yang
tingkat kesuburan tinggi dipelihara didalam wadah
digunakan dalam budidaya ikan budidaya ikan tersebut.
di jaring terapung maka hal ini
sangat beresiko tinggi karena 4. Kualitas air.
pada perairan eutropik Dalam budidaya ikan, secara
kandungan oksigen terlarut pada umum kualitas air dapat diartikan
malam hari sangat rendah dan sebagai setiap perubahan
berpengaruh buruk terhadap ikan (variabel) yang mempengaruhi
yang dipelihara dengan pengelolaan, kelangsungan
kepadatan tinggi. hidup dan produktivitas ikan yang
dibudidayakan. Jadi perairan
3. Bebas dari pencemaran. yang dipilih harus berkualitas air
Dalam dunia perikanan, yang yang memenuhi persyaratan bagi
dimaksud dengan pencemaran kehidupan dan pertumbuhan ikan
perairan adalah penambahan yang akan dibudidayakan.
sesuatu berupa bahan atau Kualitas air meliputi sifat fisika,
energi ke dalam perairan yang kimia dan biologi. Secara detail
menyebabkan perubahan tentang kualitas air ini akan
kualitas air sehingga mengurangi dibahas pada Bab 2.
atau merusak nilai guna air dan
sumber air perairan tersebut. Setelah mendapatkan lokasi yang
Bahan pencemar yang biasa memenuhi persyaratan teknis
masuk kedalam suatu badan maupun sosial ekonomis maka harus
perairan pada prinsipnya dapat dilakukan perencanaan selanjutnya.
dikelompokkan menjadi dua yaitu Perencanaan disesuaikan dengan
bahan pencemar yang sulit data yang diperoleh pada waktu
terurai dan bahan pencemar melakukan survey lokasi.
yang mudah terurai. Contoh Perencanaan tersebut dapat dibuat
bahan pencemar yang sulit dengan membuat gambar dari

38
konstruksi wadah budidaya yang ujungnya berukuran antara 3 – 5
akan dibuat. Konstruksi wadah jaring cm. Jenis bambu yang digunakan
terapung terdiri dari beberapa bagian, adalah bambu tali. Ada juga
antara lain : jenis bambu gombong yang
mempunyai diameter 12 -15 cm
1. Kerangka tetapi jenis bambu ini kurang baik
Kerangka (bingkai) jaring digunakan untuk kerangka
terapung dapat dibuat dari bahan karena cepat lapuk.
kayu, bambu atau besi yang
dilapisi bahan anti karat (cat besi). Ukuran kerangka jaring terapung
Memilih bahan untuk kerangka, berkisar antara 5 X 5 meter
sebaiknya disesuai-kan dengan sampai 10 X 10 meter. Petani
ketersediaan bahan di lokasi ikan jaring terapung di perairan
budidaya dan nilai ekonomis dari cirata pada umumnya
bahan tersebut. menggunakan kerangka dari
bambu dengan ukuran 7 X 7
Kayu atau bambu secara meter. Kerangka dari jaring
ekonomis memang lebih murah apung umumnya dibuat tidak
dibandingkan dengan besi anti hanya satu petak/kantong tetapi
karat, tetapi jika dilihat dari masa satu unit. Satu unit jaring
pakai dengan menggunakan terapung terdiri dari empat buah
kayu atau bambu jangka waktu petak/kantong. Untuk lebih
(usia teknisnya) hanya 1,5–2 jelasnya dapat dilihat pada
tahun. Sesudah 1,5–2 tahun Gambar 2.32.
masa pakai, kerangka yang
terbuat dari kayu atau bambu ini
sudah tidak layak pakai dan
harus direnofasi kembali. Jika
akan memakai besi anti karat
sebagai kerangka jaring pada
umumnya usia ekonomis/ angka
waktu pemakaiannya relatif lebih
lama, yaitu antara 4–5 tahun.

Pada umumnya petani ikan di


jaring terapung menggunakan Gambar 2.32. Kerangka Jaring
bambu sebagai bahan utama Apung
pembuatan kerangka, karena
selain harganya relatif murah 2. Pelampung
juga ketersediaannya di lokasi Pelampung berfungsi untuk
budidaya sangat banyak. mengapungkan kerangka/ jaring
terapung. Bahan yang digunakan
Bambu yang digunakan untuk
sebagai pelampung berupa drum
kerangka sebaiknya mempunyai
(besi atau plastik) yang
garis tengah 5 – 7 cm di bagian
berkapasitas 200 liter, busa
pangkalnya, dan bagian

39
plastik (stryrofoam) atau Jika akan menggunakan
fiberglass. Jenis pelampung yang pelampung dari drum maka drum
akan digunakan biasanya dilihat harus terlebih dahulu dicat
berdasarkan lama pemakaian. dengan menggunakan cat yang
Hal ini dapat dilihat pada Tabel mengandung bahan anti karat.
2.2
Jumlah pelampung yang akan
Tabel 2.2. Jenis pelampung dan digunakan disesuaikan dengan
lama pemakaian besarnya kerangka jaring apung
yang akan dibuat. Jaring
Jenis Lama terapung berukuran 7 X 7 meter,
No. pelampung pemakaian dalam satu unit jaring terapung
(bulan) membutuhkan pelampung antara
33 – 35 buah. Untuk lebih
1. Drum besi 12 – 15 jelasnya dapat dilihat pada
2. Styrofoam 36 – 75 Gambar 2.33.
3. Fiberglass 50 – 75

Gambar 2.33. Pelampung drum besi

3. Pengikat 4. Jangkar
Tali pengikat sebaiknya terbuat Jangkar berfungsi sebagai
dari bahan yang kuat, seperti penahan jaring terapung agar
tambang plastik, kawat ukuran 5 rakit jaring terapung tidak hanyut
mm, besi beton ukuran 8 mm terbawa oleh arus air dan angin
atau 10 mm. Tali pengikat ini yang kencang. Jangkar terbuat
digunakan untuk mengikat dari bahan batu, semen atau besi.
kerangka jaring terapung, Pemberat diberi tali pemberat/tali
pelampung atau jaring. jangkar yang terbuat dari
tambang plastik yang

40
berdiameter sekitar 10 mm – 15 biasanya kantong jaring terapung
mm. Jumlah pemberat untuk satu dipasang rangkap (doubel) yaitu
unit jaring terapung empat kantong jaring luar dan kantong
petak/kantong adalah sebanyak jaring dalam. Ukuran jaring
4 buah. Pemberat diikatkan pada bagian luar biasanya mempunyai
masing-masing sudut dari mata jaring (mesh size) yang
kerangka jaring terapung. Berat lebih besar.
jangkar berkisar antara 50 – 75
kg. Untuk lebih jelasnya dapat Salah satu contohnya adalah
dilihat pada Gambar 2.34. sebagai berikut :
a. Jaring polyethylene no. 380
D/9 dengan ukuran mata
jaring (mesh size) sebesar 2
inch (5,08 cm) yang
dipergunakan sebagai
kantong jaring luar.
b. Jaring polyethylene no. 280
D/12 dengan ukuran mata
jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5
inch (3,81 cm) dipergunakan
sebagai kantong jaring dalam.

Jaring yang mempunyai ukuran


Gambar 2.34. Jangkar
mata jaring lebih kecil dari 1 inch
biasanya digunakan untuk
5. Jaring
memelihara ikan yang berukuran
Jaring yang digunakan untuk lebih kecil. Di perairan umum,
budidaya ikan di perairan umum, khususnya dalam budidaya ikan
biasanya terbuat dari bahan di jaring terapung ukuran jaring
polyethylene atau disebut jaring
yang digunakan adalah ukuran ¾
trawl. Ukuran mata jaring yang
- 1 inch. Untuk lebih jelasnya
digunakan tergantung dari dapat dilihat pada Tabel 2.3.
besarnya ikan yang akan
dibudidayakan. Kantong jaring
terapung ini mempunyai ukuran
bervariasi disesuaikan dengan
jenis ikan yang dibudidayakan,
untuk ikan air laut ukuran
kantong jaring yang biasa Tabel 2.3. Ukuran mata jaring yang
digunakan berukuran mulai 2 X 2 digunakan berdasarkan
X 2 m sampai 5 X 5 x 5 m. ukuran ikan yang
Sedangkan untuk jenis ikan air dibudidayakan.
tawar berkisar antara 3 X 3 X 3 m
sampai 7 X 7 X 2,5 m. Untuk No. Ukuran mata Ukuran ikan
mengurangi resiko kebocoran jaring
akibat gigitan binatang lain,

41
1. 0,5 cm 1 – 2 cm dan (2) melakukan perhitungan
2. 1,0 cm 5 – 10 cm cara di lapangan.
3. 2,5 cm 20 – 30 cm
4. > 2,5 cm > 30 cm Rumus berdasarkan ”Hang In
Ratio” adalah sebagai berikut :
i
Kantong jaring yang digunakan 1. L = -----------
untuk memelihara ikan dapat 1-S
diperoleh dengan membeli jaring
utuh. Dalam hal ini biasanya 2. d = D ¥ 2S – S2
jaring trawl dijual dipasaran
berupa lembaran atau gulungan. Keterangan :
Langkah awal yang harus S : Hang In Ratio
dilakukan untuk membuat L : Panjang jaring sebelum
kantong jaring adalah membuat Hang In atau dalam
desain/rancangan kantong jaring keadaan tertarik
yang akan dipergunakan. Ukuran i : Panjang tali ris
kantong jaring yang akan D : dalam kantong jaring
dipergunakan berkisar antara 2 (jumlah mata jaring
X 2 m sampai dengan 10 X 10 m. dikalikan ukuran mata jaring
Setelah ukuran kantong jaring dalam keadaan tertarik)
yang akan dipergunakan, D : dalam kantong jaring
misalnya akan dibuat kantong sesudah
jaring dengan ukuran 7 X 7 X 2 m,
langkah selanjutnya adalah Contoh penggunaan rumus
memotong jaring. dalam menghitung jaring yang
akan dipotong dengan ukuran 7
Untuk memotong jaring harus X 7 X 2 m adalah sebagai
dilakukan dengan benar berikut:
berdasarkan pada ukuran mata
jaring dan tingkat Misalnya, kantong jaring yang
perenggangannya saat akan dibuat 7 X 7 X 2 m dengan
terpasang di perairan. Menurut ukuran mata jaring (mesh size) 2
hasil penelitian, jaring dalam inch (5,08 cm). Diketahui Hang In
keadaan terpasang atau sudah Ratio (S) adalah 30% = 0,3,
berupa kantong jaring akan Panjang tali ris (i) = 4 X 7 m = 28
mengalami perenggangan atau m. Maka untuk mencari panjang
mata jaring dalam keadaan jaring sebelum Hang In adalah :
tertarik/terbuka (”Hang In Ratio”).
Nilai ”Hang In Ratio” dalam i
membuat kantong jaring terapung L = ------
adalah 30%. Adapun perhitungan 1–S
yang digunakan untuk memotong
jaring ada dua cara, yaitu : (1) 28 28
menggunakan rumus tertentu L = ------- = ------- = 40 m
1 – 0,3 0,7

42
Jadi panjang tiap sisi adalah 40 Sedangkan para petani ikan
m : 4 = 10 m dilapangan biasanya menghitung
Jumlah mata jaring 10 m = 1000 jaring yang akan digunakan
cm : 5,08 cm = 197,04 mata untuk membuat kantong jaring
jaring dibulatkan 197 mata jaring. menggunakan perhitungan
sebagai berikut :
Diketahui dalam jaring sesudah
Hang In (d) adalah 2 m, maka Misalnya kantong jaring yang
dalam kantong jaring sebelum akan dibuat berukuran 7 X 7 X 2
dipotong (D) adalah : m dengan ukuran mata jaring
(mesh size) 2 inch (5,08 cm).
d = D ¥ 2S – S2 Berdasarkan hasil penelitian
panjang jaring akan berkurang
d sebesar 30% dari semula. Maka
D = ------------ secara praktis dilapangan
¥ 2S – S2 diperhitungkan jumlah mata
jaring dalam setiap meter adalah:
2
D = -------------------- 100
¥ 2 (0,3) – 0,32 ------------------------------ =
(100% - 30%) X 2,54
2
= ---------------
¥ 0,6 – 0,09 100
------------------ =
2 0,7 X 2,54
= ----------
¥ 0,51 100
--------- = 56,2 = 56
1,778
2
= --------- = 2,8 m
Jadi dalam satu meter jaring
0,7141
yang berukuran 1 inch terdapat
56 mata jaring, sehingga jika
Jadi jumlah mata jaring 2,8 m =
akan membuat jaring dengan
280 cm : 5,08 cm = 55,1 mata
ukuran 7 X 7 X 2 m, jumlah mata
jaring dibulatkan menjadi 55 mata
jaringnya adalah 392 X 392 X
jaring.
112 mata jaring. Sedangkan
ukuran mata jaring yang akan
Dari hasil perhitungan tersebut
digunakan adalah 2 inch maka
diperoleh ukuran lembaran jaring
jumlah mata jaring yang akan
yang akan dipotong untuk
dipotong adalah 196 X 196 X 56.
kantong jaring berukuran 7 X 7 X
Angka-angka ini diperoleh dari
2 m adalah 197 X 197 X 55 mata
hasil perkalian antara ukuran
jaring.
kantong jaring dengan jumlah

43
mata jaring. Berdasarkan hasil memindahkan pola yang telah
kedua perhitungan tersebut dibuat langsung kejaring. Jaring
memperoleh nilai yang tidak jauh tersebut dibentangkan dan dibuat
berbeda. Langkah selanjutnya pola seperti Gambar 2.35.
yang harus dilakukan adalah

Gambar 2.35. Pola jaring

Sebagai acuan untuk membuat kantong jaring


melakukan pemotongan jaring terapung dapat dilihat pada
yang akan dipergunakan untuk Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Perhitungan jumlah mata jaring yang harus dipotong dalam
berbagai ukuran kantong jaring dan mata jaring.

Ukuran kantong Ukuran mata Ukuran kantong jaring


jaring (p X l X t) jaring (inch) (p X lX t) dalam jumlah mata
(meter) jaring

2 X 2 X2 1 112 X 112 X 112


2 56 X 56 X 56

3X3X2 1 168 X 168 X 112


2 84 X 84 X 56

4X4X2 1 224 X 224 X 112


2 112 X 112 X 56

5X5X2 1 280 X 280 X 112


2 140 X 140 X 56

6X6X2 1 336 X 336 X 112


2 168 X 168 X 56

44
7X7X2 1 392 X 392 X 112
2 196 X 196 X 56

8X8X2 1 448 X 448 X 112


2 224 X 224 X 56

9X9X2 1 504 X 504 X 112


2 252 X 252 X 56

10 X 10 X 2 1 560 X 560 X 112


2 280 X 280 X 56

6. Pemberat Dengan dikalikan empat karena


kantong sisi jaring terapung
Pemberat yang digunakan adalah empat sisi. Khusus untuk
biasanya terbuat dari batu atau tali ris pada bagian atas
timah yang masing-masing sebaiknya dilebihkan 0,5 m untuk
beratnya antara 2–5 kg. Fungsi setiap sudut. Jadi tali risnya
pemberat ini agar jaring tetap mempunyai panjang 28 m +( 4 X
simetris dan pemberat ini 0,5 m) = 30 m. Hal ini untuk
diletakkan pada setiap sudut memudahkan dalam melakukan
kantong jaring terapung. aktivitas kegiatan operasional
7. Tali/tambang pada saat melakukan budidaya
ikan.
Tali/tambang yang digunakan
biasanya disesuaikan dengan
kondisi perairan pada perairan 2.3. PERSIAPAN WADAH
tawar adalah tali plastik yang
mempunyai diameter 5–10 mm,
BUDIDAYA
sedangkan pada perairan laut
Setelah mengetahui bermacam-
tali/tambang yang digunakan
macam wadah budidaya ikan dan
terbuat dari nilon atau tambang
mengetahui konstruksi wadah
yang kuat terhadap salinitas.
tersebut maka langkah selanjutnya
Tali/tambang ini dipergunakan
adalah menyiapkan segalanya agar
sebagai penahan jaring pada
wadah budidaya ikan tersebut dapat
bagian atas dan bawah. Tali
dipergunakan untuk kegiatan
tambang ini mempunyai istilah
budidaya. Dalam membudidayakan
lain yang disebut dengan tali ris.
ikan dengan menggunakan kolam
Panjang tali ris adalah sekeliling
yang biasanya dilakukan untuk
dari kantong jaring terapung.
melakukan budidaya ikan air tawar,
Misalnya, kantong jaring ter-
harus dilakukan persiapan kolam
apung berukuran 7X7X2m maka
agar dapat dipergunakan untuk
tali risnya adalah 7m X 4 =28 m.
membudidayakan ikan. Persiapan

45
kolam meliputi pengeringan kolam, mengakibatkan air kolam tidak
perbaikan pematang, pengolahan stabil dan benih ikan banyak
dasar kolam, perbaikan saluran yang keluar kolam. Perbaikan
pemasukan dan pengeluaran air, pematang ini hanya dilakukan
pemupukan dan pengapuran. pada kolam tanah, sedangkan
pada kolam tembok dilakukan
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan perawatan dan pengecekan
tahapan-tahapan yang harus kebocoran pada setiap bagian
dilakukan meliputi : pematang.

1. Pengeringan 3. Pengolahan dasar kolam


Pengeringan dasar kolam sangat Pengolahan dasar kolam
dibutuhkan oleh ikan agar bakteri dilakukan pada kolam tradisional
pembusuk yang dapat dan kolam semi intensif dimana
menyebabkan ikan sakit, racun dasar kolam berupa tanah.
sisa dekomposisi selama Pengolahan dasar kolam
budidaya terbuang. Pada kolam dilakukan dengan mencangkul
pemijahan pengeringan dasar dasar kolam sedalam 10 – 20 cm.
kolam bertujuan agar ikan dapat Tanah tersebut dibalik dan
memijah karena tanah yang dibiarkan kering sampai 3-5 hari.
dikeringkan dan diairi akan Tujuan pengolahan dasar kolam
melepaskan bau tertentu yang adalah mempercepat
disebut petrichor, selain itu berlangsungnya proses
pengeringan dasar kolam dapat dekomposisi (penguraian)
membunuh hama dan penyakit senyawa-senyawa organik dalam
yang ada di dalam kolam tanah sehingga senyawa-
Gambar 2.36. senyawa yang beracun yang
terdapat di dasar kolam akan
menguap. Tanah yang baru
dicangkul diratakan. Setelah
dasar kolam rata, lalu dibuat
saluran ditengah kolam. Saluran
ini disebut kemalir. Kemalir
berfungsi untuk memudahkan
pemanenan dan sebagai tempat
berlindung benih ikan pada siang
hari. Saluran pemasukan dan
Gambar 2.36. Pengeringan dasar pengeluaran air dilengkapi
kolam dengan saringan. Tujuannya
2. Perbaikan pematang untuk menjaga agar tidak ada
Perbaikan pematang bertujuan hama yang masuk ke dalam
untuk mencegah kebocoran kolam dan benih ikan budidaya
kolam. Kebocoran kolam dapat yang ditebarkan tidak kabur atau
diakibatkan oleh binatang air keluar kolam (Gambar 2.37).
seperti belut, kepiting dan hewan
air lainnya. Pematang bocor

46
sedangkan dolomit bahan
bakunya banyak mengandung
kalsium karbonat dan magnesium
karbonat [CaMg(CO3)]2, Dolomit
merupakan kapur karbonat yang
dimanfaatkan untuk mengapur
lahan bertanah masam. Kapur
tohor adalah kapur yang
pembuatannya lewat proses
pembakaran. Kapur ini dikenal
dengan nama kapur sirih,
bahannya adalah batuan tohor
Gambar 2.37. Pengolahan tanah
dari gunung dan kulit kerang.
dasar kolam
4. Pengapuran. Dosis kapur yang akan
Pengapuran dasar kolam ditebarkan harus tepat ukurannya
sebaiknya dilakukan setelah karena jika berlebihan kapur
pengolahan tanah. Pada saat akan menyebabkan kolam tidak
tanah dibalikkan dan sambil subur, sedangkan bila
menunggu kering tanah dasar, kekurangan kapur dalam kolam
penebaran kapur dapat dilakukan. akan menyebabkan tanah dasar
Pengapuran merupakan salah kolam menjadi masam. Sebagai
satu upaya untuk acuan dalam memberikan kapur
mempertahankan kestabilan pada kolam budidaya ikan dapat
keasaman (pH) tanah dan air, dilihat pada Tabel 2.5. Tetapi ada
sekaligus memberantas hama juga para petani menggunakan
penyakit. Jenis kapur yang dosis kapur berkisar antara 100-
digunakan untuk pengapuran 200gram/m2 hal ini dilakukan
kolam ada beberapa macam bergantung kepada keasaman
diantaranya adalah kapur tanah kolam.
pertanian, yaitu kapur carbonat :
CaCO3 atau [CaMg(CO3)]2, dan
kapur tohor/kapur aktif (CaO).

Kapur pertanian yang biasa


digunakan adalah kapur karbonat
yaitu kapur yang bahannya dari
batuan kapur tanpa lewat proses
pembakaran tapi langsung
digiling. Kapur pertanian ada dua
yaitu Kalsit dan Dolomit. Kalsit
bahan bakunya lebih banyak
mengandung karbonat,
magnesiumnya sedikit (CaCO3),

47
Tabel 2.5. Dosis kapur Tohor (CaO) menurut jenis tanah dan macam
kolam dengan luas 100 meterpersegi

Jenis tanah Jenis tanah Jenis tanah Jenis tanah


Macam kolam berpasir pasir lumpur berlumpur
berlumpur berpasir
Kolam baru 25 kg 30 kg 40 kg 60 kg
Kolam lama 15 kg 20 kg 30 kg 40 kg

5. Pemupukan. ditebarkan kotoran ayam


Pemupukan tanah dasar kolam sebanyak 300 – 500 gr/m2 . Dosis
bertujuan untuk meningkatkan yang digunakan untuk pupuk
kesuburan kolam, memperbaiki buatan biasanya berkisar antara
struktur tanah dan menghambat 200-300 gram/m2. Kolam dapat
peresapan air pada tanah-tanah juga dipupuk menggunakan, TSP
yang porous serta menumbuhkan dan Urea masing-masing
phytoplankton dan zooplankton sebanyak 10 gr/m2 dan kapur
yang digunakan sebagai pakan pertanian sebanyak 25 – 30 gr/
alami benih ikan. Jenis pupuk m2 atau disesuaikan dengan
yang biasa digunakan adalah tingkat kesuburan lahan.
pupuk kandang dan pupuk
buatan. Pupuk kandang adalah 6. Pengairan
pupuk yang berasal dari kotoran Kolam yang telah dikeringkan,
ternak besar (sapi, kerbau, kuda dikapur dan di pupuk tersebut
dan lain-lain) atau kotoran lalu diairi agar pakan alami di
unggas (ayam, itik dan lain-lain) kolam tersebut tumbuh dengan
yang telah dikeringkan. subur. Pengairan ini harus
Sedangkan pupuk buatan berupa dilakukan minimal 4 –7 hari
bahan-bahan kimia yang dibuat sebelum larva/benih ikan di tebar
manusia dipabrik pupuk yang ke dalam kolam pemeliharaan
berguna untuk menyuburkan agar pakan alami tumbuh dengan
tanah. Jenis pupuk buatan yang sempurna.
dapat digunakan antara lain
adalah pupuk nitrogen (urea, ZA), Ketinggian air di kolam ikan ini
pupuk phosphor (TSP), pupuk bergantung pada jenis kolam,
kalium (KCl) dan pupuk NPK untuk kolam pemijahan
yang merupakan gabungan dari ketinggian air 0,75-1,00 m, kolam
ketiga hara tunggal. pemeliharaan 1-1,25 m (Gambar
2.38).
Dosis pupuk kandang juga
bergantung kepada kesuburan
kolam ikan, biasanya berkisar
antara 100-150 gram/m2
sedangkan untuk kolam yang
kurang kesuburannya dapat

48
Pengolahan dasar kolam dengan
cara membalik tanah bagian
dasar kolam yang di lanjutkan
dengan pengapuran dan
pemupukan. Pengolahan dasar
kolam bertujuan untuk
meningkatkan kesuburan dasar
dan perairan kolam sebagai stok
Gambar 2.38. Mengairi kolam pakan alami bagi calon induk.
Pemberian kapur selain dapat
Wadah budidaya ikan (kolam) yang membunuh hama dan parasit
sudah dipersiapkan dan siap untuk ikan juga dapat menaikan pH
dipergunakan sebagai wadah untuk dasar kolam. Sedangkan
kegiatan budidaya. Agar kolam yang pemupukan bertujuan untuk
dipergunakan senantiasa baik untuk memenuhi kebutuhan unsur hara
kegiatan budidaya maka harus selalu yang diperlukan fitoplankton
dilakukan pengelolaan terhadap sebagai makanan zooplankton
kolam budidaya baik kolam maupun ikan. Pemupukan dasar
pemeliharaan, pemijahan, penetasan kolam dapat digunakan pupuk
telur dan lain sebagainya. Pada kandang, pupuk hijau atau pupuk
pengelolaan kolam yang akan buatan. Pemberian pupuk dapat
dipergunakan sebagai wadah dilakukan dengan cara
pemeliharaan induk/calon induk menyebarkan pupuk ke dasar
sebaiknya mempunyai persyaratan kolam dan dilanjutkan dengan
yang sesuai dengan lingkungan yang pemupukan susulan setelah 15
layak bagi kehidupan induk. hari dengan cara memberikan
pupuk yang dibungkus dari
Hal-hal yang harus dilaksanakan karung plastik yang diberi lubang
dalam pengelolaan kolam induk ikan keci-kecil sehingga pupuk akan
ini adalah : terurai secara perlahan.

1. Persiapan wadah 2. Pengairan


Wadah mempunyai pematang Pengairan dimaksudkan untuk
kokoh dan tidak bocor, pintu menjaga kondisi lingkungan bagi
pemasukan, serta pintu induk sesuai dengan persyaratan
pengeluaran yang dipasang yang dibutuhkan yaitu perairan
saringan. Adanya saringan air ini subur, cukup tersedia oksigen
baik pada pintu pemasukan terlarut ( !5 ppm), CO2 (<10 ppm),
maupun pada pintu pengeluaran, NH3 ( <1 ppm). Untuk
untuk menghindari masuknya mendapatkan lingkungan yang
ikan liar, terutama ikan predator demikian, maka air kolam harus
yang dapat mengganggu proses terus menerus mengalir sehingga
pemijahan bahkan dapat tidak ada lagi penimbunan
memangsa induk maupun larva kotoran air akibat dari sisa pakan
yang dihasilkan. atau sampah lainnya.

49
dari kotoran yang menempel,
3. Pengendalian gulma air agar tidak terdapat sisa-sisa
Tanaman air yang dapat kotoran yang dapat
mengganggu lingkungan hidup menyebabkan pembawa penyakit
ikan antara lain adalah eceng Gambar 2.31). Bahan yang
gondok dan kiambang, bila digunakan untuk membersihkan
populasinya banyak sampai wadah dan merupakan
menutupi permukaan air, maka desinfektan antara lain lain
proses difusi oksigen ke dalam adalah Chlorin 200 ppm,
air dan proses fotosintesis Malachite green 100 ppm,
phytoplankton dapat terganggu Formalin 25 ppm dan alkohol
sehingga Oksigen terlarut akan 70%. Wadah yang akan
menurun. Pengendalian gulma dipergunakan setelah disikat,
air ini dapat dilakukan dengan dibersihkan dan diberi
cara memberi saringan pada desinfektan kemudian
pintu pemasukan air dan dibersihkan kembali dan wadah
pengendalian gulma secara tersebut dibiarkan kering udara
mekanis, yaitu dengan cara agar bahan beracun tersebut
mengambil /mencabut gulma telah hilang menguap. Setelah
yang ada di kolam. dilakukan sanitasi diisi dengan air
untuk memeriksa kebocoran bak.
Setelah semua langkah persiapan
dilakukan maka kolam tersebut dapat
digunakan untuk melakukan kegiatan
budidaya.

Wadah budidaya ikan yang lainnya


adalah bak tembok atau bak beton,
bak yang akan digunakan untuk
budidaya ikan harus dilakukan
persiapan wadah sebelum
dipergunakan untuk melakukan
kegiatan budidaya. Persiapan wadah
bertujuan untuk mengkondisikan Gambar 2.39. Sanitasi bak
wadah agar dapat digunakan secara budidaya
efesien dan memenuhi persyaratan
lingkungan yang optimal, sehingga 2. Perbaikan wadah
ikan dapat hidup dengan laju Sebelum wadah digunakan
pertumbuhan yang optimum. dilakukan pemeriksaan apakah
Persiapan bak budidaya ikan bak tersebut siap untuk
meliputi: digunakan untuk budidaya ikan.
Pemeriksaan bertujuan untuk
1. Sanitasi wadah mengetahui apakah bak yang
Wadah yang akan digunakan akan digunakan mengalami
untuk budidaya ikan (bak) kerusakan baik karena
sebelum digunakan dibersihkan kebocoran dasar dan dinding bak

50
maupun karena adanya pada air media tergantung dari
kebocoran pada pipa kekuatan pompa yang ada. Oleh
pengeluaran dan pemasukan. karena itu pompa yang yang
Oleh karena itu kerusakan telah lemah harus segera
tersebut harus diperbaiki dahulu diperbaiki, karena dapat
sebelum digunakan. Bahan untuk berakibat fatal bagi ikan bila
memperbaiki kebocoran bak terhentinya aliran udara dalam
dapat berupa resin serat kaca waktu lama.
untuk bak yang terbuat dari serat
fiber, semen atau lem khusus 4. Perbaikan instalasi air
untuk beton untuk bak yang Pada budidaya ikan
terbuat dari beton, bila bak yang menggunakan wadah bak
akan digunakan terbuat dari biasanya tidak mempunyai pipa
plastik maka dapat digunakan pemasukan air seperti dikolam,
selotip tahan air untuk menutupi pada bak pintu pemasukkan air
kebocoran wadah budidaya. merupakan kran air yang
Setelah kerusakan diperbaiki dimasukkan kedalam bak
maka bak harus dibiarkan budidaya. Sumber air yang
beberapa hari agar bahan digunakan dapat berasal dari
tersebut telah kering dan tidak mata air atau dari sumur yang
membahayakan ikan yang akan dipompakan ke bak-bak melalui
dibudidayakan. pipa pengaturan. Kebocoran
sering terjadi pada pipa
3. Perbaikan instalasi udara penyaluran dan kran pengatur
Pada wadah budidaya ikan yang aliran. Air harus tetap tersedia
menggunakan bak biasanya karena untuk keperluan
menggunakan alat bantu untuk pergantian air pada media
meningkatkan kelarutan oksigen pemeliharaan ikan. Sedangkan
didalam wadah budidaya dengan pintu pengeluarannya berupa
menggunakan aerator ataupun pipa yang terbuat dari pipa PVC
blower. Oleh karena itu harus dalam bentuk L atau lurus. Pintu
dilakukan pemeriksaan terhadap pengeluaran air ini harus
peralatan tersebut. Instalasi diperiksa apakah terjadi
udara terdiri dari pompa udara, penyumbatan pada saluran
penyaring udara, pipa penyalur, pembuangannya.
batu aerasi dan alat pengatur
banyaknya aliran udara (kran). Persiapan wadah budidaya ikan
Peralatan ini sering mengalami yang menggunakan akuarium
kebocoran pada pipa dan tidak jauh berbeda dengan
penyumbatan pada batu aerasi. penggunaan bak.
Ganti atau perbaiki peralatan
yang rusak dan tidak berfungsi Pada wadah budidaya karamba
lagi. Pompa udara merupakan jaring terapung wadah tersebut
alat yang paling penting pada harus disiapkan sebelum
proses budidaya ikan di bak digunakan dengan beberapa
karena banyaknya pengudaraan tahap antara lain adalah :

51
kerusakan. Perbaikan jaring
1. Perbaikan kerangka dapat dilakukan dengan
Pemeriksaan terhadap kerangka melakukan perajutan pada
yang digunakan dalam budidaya bagian jarring yang rusak
ikan di karamba jaring terapung sedangkan pada jaring yang
harus dilakukan, karena masa sudah lapuk harus diganti
pakai kerangka ini tidak bisa dengan jaring yang baru. Hal ini
sepanjang tahun. Masa pakai dilakukan agar ikan yang
kerangka ini sangat bergantung dibudidayakan tidak keluar dari
pada bahan yang digunakannya, wadah budidaya. Pada kantong
ada beberapa macam bahan jaring yang di pergunakan untuk
yang digunakan sebagai budidaya ikan sebelumnya
kerangka antara lain adalah biasanya banyak terdapat
bambu, besi, stainless steel atau hewan-hewan kecil yang
papan. Setiap bahan tersebut menempel pada kantong jaring,
mempunyai masa pakai yang oleh karena itu harus dilakukan
berbeda oleh karena itu harus pembersihan dengan cara
dilakukan perbaikan pada menyikat kantong jaring dan
kerangka jarring apung yang menjemurnya kembali setelah
sudah mengalami kerusakan dibersihkan agar hewan-hewan
agar wadah tersebut dapat kecil tersebut bersih dari jaring.
dipergunakan untuk budidaya
ikan.

2. Perbaikan jaring
Jaring yang akan digunakan
untuk budidaya ikan harus
dilakukan perbaikan dan
pergantian jika telah mengalami

52
BAB III MEDIA BUDIDAYA IKAN

Media budidaya ikan merupakan


primer sebagai pendukung
kesuburan perairan. Oleh karena itu
kondisi perairan/ air harus mampu
suatu tempat hidup bagi ikan untuk
menyiapkan kondisi yang baik,
tumbuh dan berkembang yaitu air.
terutama untuk tumbuhan tingkat
Air yang dapat digunakan sebagai
rendah (Fitoplankton) dalam proses
budidaya ikan harus mempunyai
asimilasi sebagai sumber makanan
standar kuantitas dan kualitas yang
hewan terutama ikan.
sesuai dengan persyaratan hidup
ikan. Air yang dapat digunakan
sebagai media hidup ikan harus
Secara umum air sebagai lingkungan
dipelajari agar ikan sebagai
hidup mempunyai sifat fisik, sifat
organisme air dapat dibudidayakan
kimia dan sifat biologi. Agar dapat
sesuai kebutuhan manusia sebagai
melakukan pengelolaan kualitas air
sumber bahan pangan yang bergizi
dalam budidaya ikan maka harus
dan relatif harganya murah. Air yang
dipahami ketiga parameter kualitas
dapat memenuhi kriteria yang baik
air yang sangat menentukan
untuk hewan dan tumbuhan tingkat
keberhasilan suatu budidaya ikan.
rendah yaitu plankton sebagai
Dalam bab ini akan dibahas tentang
indikator paling mudah bahwa air
kuantitas air dalam hal ini sumber air
tersebut dapat digunakan untuk
yang dapat digunakan untuk
budidaya ikan. Hal ini dikarenakan
kegiatan budidaya, parameter
organisme ini merupakan produsen

51
kualitas air yang akan sangat mempunyai kandungan oksigen yang
menentukan keberhasilan suatu rendah, kadar karbondioksida yang
usaha budidaya ikan dan bagaimana tinggi dan kandungan besi yang
cara melakukan pengukuran relatif tinggi. Solusinya dengan
terhadap parameter kualitas air menggunakan aerator/kincir air
tersebut agar dapat selalu dipantau /blower pada air pemeliharaan dan
perubahan kualitas air dalam wadah yang utama air tanah tersebut harus
budidaya ikan. diinapkan minimal semalam (12 jam)
untuk meningkatkan kadar oksigen
terlarut, selain itu jika air tanah
3.1. Sumber air mengalami kontak dengan udara
akan mengalami proses oksigenasi
Sumber air yang dapat digunakan sehingga ion feri(besi) yang terdapat
untuk kegiatan budidaya ikan ada pada air tanah akan segera
beberapa macam. Berdasarkan mengalami pengendapan dan akan
asalnya sumber air yang dapat membentuk warna kemerahan pada
digunakan untuk kegiatan budidaya air. Air tanah mempunyai kandungan
ikan dapat dikelompokkan menjadi oksigen yang rendah karena air ini
dua yaitu air permukaan dan air pergerakannya didalam tanah sangat
tanah. Air permukaan yaitu air hujan lambat dan sangat dipengaruhi oleh
yang mengalami limpasan/ porositas, permeabilitas dari lapisan
berakumulasi sementara ditempat- tanah dan pengisian kembali air. Jika
tempat rendah misalnya : air sungai, sumber air tanah ini dieksploitasi
waduk, danau dan rawa. Selain itu secara besar-besaran maka jumlah
air permukaan dapat juga air tanah akan semakin berkurang.
didefenisikan sebagai air yang Air tanah berdasarkan kandungan
berada disungai, danau, waduk, salinitasnya merupakan air tawar
rawa dan badan air lainnya yang yang akan dipergunakan untuk
tidak mengalami infiltrasi kedalam. budidaya ikan air tawar. Saat ini
Sumber air permukaan tersebut dibeberapa kota besar yang telah
sudah banyak dipergunakan untuk banyak sekali terjadi pengeboran air
kegiatan budidaya ikan. Sedangkan tanah secara besar-besaran maka
air tanah yaitu air hujan yang kadar salinitas dari air tanah ini
mengendap atau air yang berada mengalami perubahan karena telah
dibawah permukaan tanah. Air tanah tercemar dengan air laut. Oleh
yang saat ini digunakan untuk karena itu sumber air yang biasa
kegiatan budidaya dapat diperoleh digunakan di kota besar adalah air
melalui cara pengeboran air tanah yang berasal dari PAM. Air PAM ini
dengan kedalaman tertentu sampai berasal dari sumber air permukaan
diperoleh titik sumber air yang akan dan mengalami proses tertentu
keluar dan dapat dipergunakan untuk sampai diperoleh kualitas air sesuai
kegiatan budidaya. baku mutu yang diinginkan. Sumber
air tersebut dapat dipergunakan
Air tanah memiliki kelebihan airnya untuk budidaya ikan air tawar karena
bersih, kekurangannya air tanah memiliki kandungan oksigen yang
cukup dan pH yang stabil.

52
Kekurangan air PAM ini biasanya diakibatkan oleh perbedaan
mengandung klorin/kaporit yang intensitas cahaya dan perbedaan
cukup tinggi dan solusinya sama suhu secara vertikal pada kolom air.
seperti pada air tanah cukup Air yang digunakan untuk kegiatan
dilakukan pengendapan air pada budidaya ikan yang berasal dari air
wadah terpisah minimal semalam mengalir dan banyak dipergunakan
yaitu 12 jam. oleh masyarakat adalah air sungai
untuk budidaya ikan air tawar dan air
Air permukaan yang dapat laut untuk budidaya ikan air laut. Air
digunakan untuk kegiatan budidaya sungai merupakan sumber air yang
ikan berdasarkan kadar garamnya murah dan tidak memerlukan biaya
(salinitas) dibagi menjadi tiga yaitu tetapi sumber air ini memiliki
air tawar, air payau dan air laut. Air kandungan lumpur yang cukup tinggi,
tawar adalah air yang memiliki kadar sehingga dalam pemakaiannya
garam (salinitas) antara 0 – 5 ppt. Air sebaiknya dimasukkan terlebih
payau adalah air yang memiliki kadar dahulu pada bak pengendapan.
garam (salinitas) antara 6 – 29 ppt. Keuntungan sumber air ini adalah
Air laut adalah air yang memiliki mempunyai kandungan oksigen yang
kadar garam (salinitas) antara 30 – cukup tinggi.
35 ppt. Ketiga air ini dapat
dipergunakan untuk kegiatan Pemilihan dari berbagai macam
budidaya ikan, pada air tawar sumber air tersebut sangat
dipergunakan untuk membudi- bergantung kepada lokasi dimana
dayakan ikan air tawar, pada air budidaya ikan tawar akan dilakukan ,
payau dipergunakan untuk kuantitas dan kualitas air yang
membudidayakan ikan air payau dan terdapat pada sumber air tersebut.
air laut untuk membudidayakan ikan Walaupun sumber air tersebut
air laut. Air permukaan ini dapat berasal dari alam harus diperhatikan
diklasifikasikan berdasarkan lamanya juga tentang kontinuitas ketersediaan
terakumulasi dalam suatu tempat air tersebut untuk kegiatan budidaya.
dibagi menjadi dua yaitu perairan Pada kegiatan budidaya ikan jumlah
tergenang (Lentik) antara lain adalah air yang dibutuhkan tidak sedikit
danau, waduk dan situ , yang kedua harus tersedia secara terus menerus.
adalah perairan mengalir (Lotik) Jumlah air yang diperlukan untuk
antara lain adalah sungai, saluran mengairi wadah budidaya ikan harus
irigasi, air laut. cukup dan tersedia sepanjang tahun
karena dengan melakukan budidaya
Air yang berasal dari danau, waduk bertujuan untuk memenuhi
dan situ merupakan sumber air tawar kebutuhan pangan manusia. Untuk
yang banyak digunakan oleh mengetahui kebutuhan air pada
kegiatan budidaya ikan dengan wadah budidaya ikan dapat
metode budidaya di perairan umum dilakukan perhitungan jumlah
yaitu karamba jaring apung. Pada persediaan air sumber. Salah satu
perairan tergenang yang perlu cara untuk mengetahui jumlah air
diperhatikan adalah terjadinya yang diperlukan pada kegiatan
stratifikasi secara vertikal yang budidaya adalah dengan mengetahui

53
jumlah air pada saluran sepanjang pada permukaan air. Akan tetapi bila
tahun. Jumlah air yang dapat air membeku jadi es, es tersebut
dipergunakan untuk kegiatan akan terapung. Akibat dari sifat
budidaya dapat diketahui dengan tersebut akan menimbulkan
mengukur debit air saluran. Debit air pergolakan/perpindahan massa air
saluran merupakan jumlah air yang dalam perairan tersebut, baik secara
mengalir dalam saluran yang vertikal maupun horizontal. Sifat air
dinyatakan dengan ukuran liter ini mengakibatkan pada perairan
perdetik. Debit air saluran dapat didaerah yang beriklim dingin yang
diukur dengan cara langsung membeku perairannya hanya pada
maupun secara tidak langsung. bagian atasnya saja sedangkan pada
Pengukuran debit air secara bagian bawahnya masih berupa
langsung dilakukan dengan cairan sehingga kehidupan
menggunakan sekat ukur. organisme akuatik masih tetap
Sedangkan pengukuran debit air berlangsung. Selain itu keuntungan
secara tidak langsung dilakukan adanya gerakan air ini dapat
dengan cara menentukan rata-rata mendistribusikan/ menyebarkan
luas penampang basah saluran berbagai zat ke seluruh perairan,
dikalikan dengan kecepatan aliran air sebagai sumber mineral bagi
rata-rata. Pengukuran secara tidak fitoplankton dan fitoplankton sebagai
langsung inilah yang banyak makanan ikan maupun hewan air
digunakan oleh para pembudidaya lainnya. Dasar perairan adalah
ikan dilapangan karena relatif mudah merupakan akumulasi pengendapan
dilakukan. mineral-mineral yang merupakan
persediaan “nutrient” yang akan
dimanfaatkan oleh mahluk hidup
3.2. Parameter kualitas air (yang pada umumnya tinggal
didaerah permukaan air karena
mendapatkan sinar matahari yang
3.2.1. Sifat Fisik cukup). Pada perairan yang oligotrof
(cukup banyak mengandung mineral),
3.2.1.1. Kepadatan (density/berat
aliran vertikal tidak banyak
jenis)
membawa keberuntungan, justru
sebaliknya dapat mengendapkan
Pada suhu 4 qC (3,95q C ) air murni mineral-mineral yang datang dari
mempunyai kepadatan yang tempat lain kedasar perairan,
maksimum yaitu 1 (satu), sehingga mineral-mineral tersebut akan di
kalau suhu air naik, lebih tinggi dari absorbsi oleh dasar perairan .
4q C kepadatan/berat jenisnya akan Sedangkan kerugian adanya aliran
turun, demikian juga kalau suhunya air ini adalah terutama aliran air yang
lebih rendah dari 4 qC. Sifat air yang vertikal sering menimbulkan
demikian itu, maka akan terjadi “upwalling” pada danau-danau,
pelapisan-pelapisan suhu air pada sehingga menyebabkan keracunan
danau atau perairan dalam, yaitu dan kematian ikan secara masal. Hal
pada lapisan dalam suatu perairan ini disebabkan kondisi air yang
suhu air makin rendah dibanding anaerob (oksigen rendah) dan zat-

54
zat beracun dari dasar perairan akan menarik kesamping dan kedalam
naik kepermukaan air. saja dan sifat itu yang menyebabkan
timbulnya tegangan permukaan.
Akibat adanya tegangan permukaan,
3.2.1.2. Kekentalan ( Viscosity ) maka binatang dan tumbuhan yang
ringan, seperti kimbung akar dapat
Molekul-molekul air mempunyai daya berjalan diatas permukaan air, ada
saling tarik menarik, kalau daya juga plankton yang menggantung
saling tarik menarik tersebut dibawah permukaan air.
mengalami gangguan karena adanya
benda yang bergerak dalam air
seperti benda tenggelam, maka akan 3.2.1.4. Suhu Air
timbul gesekan-gesekan yang
disebut dengan “gesekan intern Air sebagai lingkungan hidup
dalam air“/ Viscosity. organisme air relatif tidak begitu
banyak mengalami fluktuasi suhu
Menurut kesepakatan para ahli fisika, dibandingkan dengan udara, hal ini
pada suhu 0q C, kekentalan air murni disebabkan panas jenis air lebih
mempunyai nilai yang terbesar, dan tinggi daripada udara. Artinya untuk
ditandai dengan angka 100. Makin naik 1q C, setiap satuan volume air
naik suhunya, makin berkurang memerlukan sejumlah panas yang
kekentalannya. Setiap kenaikan suhu lebih banyak dari pada udara. Pada
1q C terjadi penurunan viscosity 2%, perairan dangkal akan menunjukkan
hingga pada suhu 25q C viscositas fluktuasi suhu air yang lebih besar
turun menjadi setengahnya dari nilai dari pada perairan yang dalam.
viscosity pada suhu 0q C. Viscosity Sedangkan organisme memerlukan
ini akan berpengaruh terhadap suhu yang stabil atau fluktuasi suhu
proses pengendapan jasad renik yang rendah. Agar suhu air suatu
(plankton), zat-zat dan benda-benda perairan berfluktuasi rendah maka
yang melayang didalam air. perlu adanya penyebaran suhu. Hal
tersebut tercapai secara sifat alam
antara lain;
3.2.1.3. Tegangan Permukaan x Penyerapan (absorbsi) panas
matahari pada bagian
Molekul-molekul air mempunyai daya permukaan air.
saling tarik menarik terhadap x Angin, sebagai penggerak
molekul-molekul yang ada. Dalam permindahan massa air.
fase cair daya tarik menarik masih x Aliran vertikal dari air itu sendiri,
sedemikian besarnya, sehingga terjadi bila disuatu perairan
molekul-molekul zat cair masih (danau) terdapat lapisan suhu air
mempunyai daya “Kohesi “. yaitu lapisan air yang bersuhu
rendah akan turun mendesak
Daya tarik menarik molekul air ini lapisan air yang bersuhu tinggi
terjadi kesegala penjuru, sedang naik kepermukaan perairan.
dipermukaan hanya terjadi gaya tarik

55
Selain itu suhu air sangat yang mencolok antara siang dan
berpengaruh terhadap jumlah malam (tidak lebih dari 5q C) .
oksigen terlarut didalam air. Jika
suhu tinggi, air akan lebih lekas Pada perairan yang tergenang yang
jenuh dengan oksigen dibanding mempunyai kedalaman air minimal
dengan suhunya rendah. Suhu air 1,5 meter biasanya akan terjadi
pada suatu perairan dapat pelapisan (stratifikasi) suhu.
dipengaruhi oleh musim, lintang Pelapisan ini terjadi karena suhu
(latitude), ketinggian dari permukaan permukaan air lebih tinggi dibanding
laut (altitude), waktu dalam satu hari, dengan suhu air dibagian bawahnya.
penutupan awan, aliran dan Stratifikasi suhu pada kolom air
kedalaman air. Peningkatan suhu air dikelompokkan menjadi tiga yaitu
mengakibatkan peningkatan pertama lapisan epilimnion yaitu
viskositas, reaksi kimia, evaporasi lapisan sebelah atas perairan yang
dan volatisasi serta penurunan hangat dengan penurunan suhu
kelarutan gas dalam air seperti O2, relatif kecil (dari 32q C menjadi 28q
CO2, N2, CH4 dan sebagainya. C). Lapisan kedua disebut dengan
lapisan termoklin yaitu lapisan
Kisaran suhu air yang sangat tengah yang mempunyai penurunan
diperlukan agar pertumbuhan ikan- suhu sangat tajam (dari 28q C
ikan pada perairan tropis dapat menjadi 21q C ). Lapisan ketiga
berlangsung berkisar antara 25q C - disebut lapisan hipolimnion yaitu
32q C. Kisaran suhu tersebut lapisan paling bawah dimana pada
biasanya berlaku di Indonesia lapisan ini perbedaan suhu sangat
sebagai salah satu negara tropis kecil relatif konstan. Stratifikasi suhu
sehingga sangat menguntungkan ini terjadi karena masuknya panas
untuk melakukan kegiatan budidaya dari cahaya matahari kedalam kolom
ikan. Suhu air sangat berpengaruh air yang mengakibatkan terjadinya
terhadap proses kimia, fisika dan gradien suhu yang vertikal. Pada
biologi di dalam perairan, sehingga kolam yang kedalaman airnya
dengan perubahan suhu pada suatu kurang dari 2 meter biasanya terjadi
perairan akan mengakibatkan stratifikasi suhu yang tidak stabil.
berubahnya semua proses didalam Oleh karena itu bagi para
perairan. Hal ini dilihat dari pembudidaya ikan yang melakukan
peningkatan suhu air maka kelarutan kegiatan budidaya ikan kedalaman
oksigen akan berkurang. Dari hasil air tidak boleh lebih dari 2 meter.
penelitian diketahui bahwa Selain itu untuk memecah stratifikasi
peningkatan 10q C suhu perairan suhu pada wadah budidaya ikan
mengakibatkan meningkatnya diperlukan suatu alat bantu dengan
konsumsi oksigen oleh organisme menggunakan aerator/blower/ kincir
akuatik sekitar 2 – 3 kali lipat, air.
sehingga kebutuhan oksigen oleh
organisme akuatik itu berkurang. Berdasarkan hasil penelitian suhu air
Suhu air yang ideal bagi organisme sangat berpengaruh terhadap respon
air yang dibudidayakan sebaiknya ikan dalam mengkonsumsi pakan
adalah tidak terjadi perbedaan suhu

56
yang diberikan selama berlangsung dapat dilihat pada Tabel 3.1
kegiatan budidaya. Respon tersebut

Tabel 3.1. Pengaruh suhu air terhadap respon konsumsi pakan pada ikan

Suhu air (qC) Respon konsumsi pakan

Mendekati 0 Kondisi kritis minimal

8 – 10 Tidak ada respon terhadap pemberian pakan

15 Pemberian pakan berkurang

22 50% optimum

28 – 30 Pemberian pakan optimum

33 50% optimum

35 Pemberian pakan berkurang

36 – 38 Tidak respon terhadap pemberian pakan

38 – 42 Kondisi kritis minimal

Sumber : Tucker and Hargreaves (2004)

3.2.1.5. Kecerahan dan kekeruhan dapat mengetahui sampai


air dimanakah masih ada kemungkinan
terjadinya proses asimilasi didalam
Kecerahan dan kekeruhan air dalam air.
suatu perairan dipengaruhi oleh
jumlah cahaya matahari yang masuk Kecerahan merupakan ukuran
kedalam perairan atau disebut juga transparansi perairan dan
dengan intensitas cahaya matahari. pengukuran cahaya sinar matahari
Cahaya matahari didalam air didalam air dapat dilakukan dengan
berfungsi terutama untuk kegiatan menggunakan lempengan/kepingan
asimilasi fito/tanaman didalam air,. Secchi disk. Satuan untuk nilai
Oleh karena itu daya tembus cahaya kecerahan dari suatu perairan
kedalam air sangat menentukan dengan alat tersebut adalah satuan
tingkat kesuburan air. Dengan meter. Jumlah cahaya yang diterima
diketahuinya intensitas cahaya pada oleh phytoplankton diperairan asli
berbagai kedalaman tertentu, kita bergantung pada intensitas cahaya

57
matahari yang masuk kedalam digunakan untuk kegiatan budidaya
permukaan air dan daya perambatan ikan, karena air yang keruh dapat
cahaya didalam air. Masuknya menyebabkan :
cahaya matahari kedalam air a. Rendahnya kemampuan daya
dipengaruhi juga oleh kekeruhan air ikat oksigen
(turbidity). Sedangkan kekeruhan b. Berkurangnya batas pandang
menggambarkan tentang sifat optik ikan
yang ditentukan berdasarkan c. Selera makan ikan berkurang,
banyaknya cahaya yang diserap dan sehingga efisiensi pakan rendah
dipancarkan oleh bahan-bahan yang d. Ikan sulit bernafas karena
terdapat didalam perairan. Definisi insangnya tertutup oleh partikel-
yang sangat mudah adalah partikel lumpur
kekeruhan merupakan banyaknya
zat yang tersuspensi pada suatu
perairan. Hal ini menyebabkan 3.2.1.6. Salinitas
hamburan dan absorbsi cahaya yang
datang sehingga kekeruhan Salinitas adalah konsentrasi dari total
menyebabkan terhalangnya cahaya ion yang terdapat didalam perairan.
yang menembus air. Faktor-faktor Pengertian salinitas yang sangat
kekeruhan air ditentukan oleh: mudah dipahami adalah jumlah
a. Benda-benda halus yang kadar garam yang terdapat pada
disuspensikan (seperti lumpur suatu perairan. Hal ini dikarenakan
dsb) salinitas ini merupakan gambaran
b. Jasad-jasad renik yang tentang padatan total didalam air
merupakan plankton setelah semua karbonat dikonversi
c. Warna air (yang antara lain menjadi oksida, semua bromida dan
ditimbulkan oleh zat-zat koloid iodida digantikan oleh chlorida dan
berasal dari daun-daun semua bahan organik telah
tumbuhan yang terektrak) dioksidasi. Pengertian salinitas yang
lainnya adalah jumlah segala macam
Faktor-faktor ini dapat menimbulkan garam yang terdapat dalam 1000 gr
warna dalam air. Pengukuran air contoh. Garam-garam yang ada
kekeruhan suatu perairan dapat di air payau atau air laut pada
dilakukan dengan menggunakan alat umumnya adalah Na, Cl, NaCl,
yang disebut dengan Jackson MgSO4 yang menyebabkan rasa
Candler Turbidimeter dengan satuan pahit pada air laut, KNO3 dan lain-
unit turbiditas setara dengan 1 mg/l lain. Salinitas dapat dilakukan
SiO2. Satu unit turbiditas Jackson pengukuran dengan menggunakan
Candler Turbidimeter dinyatakan alat yang disebut dengan
dengan satuan 1 JTU (Jackson Refraktometer atau salinometer.
Turbidity Unit). Satuan untuk pengukuran salinitas
adalah satuan gram per kilogram
Air yang dapat digunakan untuk (ppt) atau promil (o/oo). Nilai salinitas
budidaya ikan selain harus jernih untuk perairan tawar biasanya
tetapi tetap terdapat plankton. Air berkisar antara 0–5 ppt, perairan
yang sangat keruh tidak dapat payau biasanya berkisar antara 6–29

58
ppt dan perairan laut berkisar antara cc O2, sedangkan udara murni
30–35 ppt. suhu pada kamar mengundang
210 cc O2. Dari gambaran
3.2.2. Sifat Kimia tersebut, maka air relatif mudah
melepaskan O2 ke udara. Dari
3.2.2.1. Oksigen imbangan tersebut di atas dapat
di tarik kesimpulan sebagai
Semua makhluk hidup untuk hidup berikut:
sangat membutuhkan oksigen x Tercapainya imbangan O2 di
sebagai faktor penting bagi air dan di udara, tergantung
pernafasan. Ikan sebagai salah satu dari jumlah molekul-molekul
jenis organisme air juga zat (garam-garam) yang larut
membutuhkan oksigen agar proses di dalam air (dalam satuan-
metabolisme dalam tubuhnya satuan tertentu), sebab
berlangsung. Oksigen yang jumlah tersebut yang
dibutuhkan oleh ikan disebut dengan menentukan kemungkinan
oksigen terlarut. Oksigen terlarut terbentuknya molekul-molekul
adalah oksigen dalam bentuk terlarut dan menentukan pula jumlah
didalam air karena ikan tidak dapat banyaknya molekul-molekul
mengambil oksigen dalam perairan gas yang meninggalkan air
dari difusi langsung dengan udara. lagi. Air yang mengandung
Satuan pengukuran oksigen terlarut garam-garam pada kadar O2
adalah mg/l yang berarti jumlah mg/l yang rendah saja sudah
gas oksigen yang terlarut dalam air dapat seimbang dengan
atau dalam satuan internasional udara lebih cepat, bila di
dinyatakan ppm (part per million). Air bandingkan dengan air suling.
mengandung oksigen dalam jumlah x Kemungkinan bertubrukan
yang tertentu, tergantung dari kondisi molekul air di tentukan oleh
air itu sendiri, beberapa proses yang suhu air. Makin tinggi suhu
menyebabkan masuknya oksigen ke air,makin rendah jumlah
dalam air yaitu: oksigen yang dapat di
1. Diffusi oksigen dari udara ke kandung/ di ikat oleh air.
dalam air melalui permukannya, Artinya; jika suhu air tinggi,
yang terjadi karena adanya maka air itu dengan kadar
gerakan molekul-molekul udara oksigen yang rendah saja
yang tidak berurutan karena sudah dapat seimbang
terjadi benturan dengan molekul dengan udara, sehingga
air sehingga O2 terikat didalam penambahan oksigen lebih
air. Proses diffusi ini akan selalu lanjut tidak akan
terjadi bila pergerakan air yang meningkatkan oksigen
mampu mengguncang oksigen, terlarut dalam air. Dalam
karena kandungan O2 didalam kegiatan budidaya ikan sifat
udara jauh lebih banyak. Menurut tersebut penting artinya,
penelitian, air murni 1000 cc terutama dalam
pada suhu kamar mengandung 7 pengangkutan ikan hidup,
pemeliharaan ikan di

59
akuarium, atau pemeliharaan hujan akan mampu
ikan secara tertutup pada meningkatkan O2 di dalam air.
Recyle Sistem. Pada 4. Proses Asimilasi tumbuh-
pengangkutan ikan sebaiknya tumbuhan.
dilakukan pada pagi/sore hari
waktu suhu udara masih Tanaman air yang seluruh
relatif rendah, sehingga batangnya ada didalam air di
goncangan airnya yang waktu siang akan melakukan
terjadi akan mampu proses asimilasi, dan akan
meningkatkan difusi 02 menambah O2 didalam air.
kedalam air. Pada Sedangkan pada malam hari
pemeliharaan ikan tanaman tersebut menggunakan
diakuarium atau pada tempat O2 yang ada didalam air.
yang terbatas, pemberian Pengambilan air O2 didalam air
lampu, yang mengakibatkan disebabkan oleh:
suhu air meningkat, akan x Proses pernafasan binatang
menurunkan kemampuan air dan tanaman air.
mengikat. x Proses pembongkaran
(menetralisasi) bahan-bahan
2. Diperairan umum, pemasukan organik.
oksigen ke dalam air terjadi x Dasar perairan yang bersifat
karena air yang masuk sudah mereduksi, dasar demikian
mengandung oksigen, kecuali itu hanya dapat di tumbuhi
dengan aliran air, mengakibatkan bakteri yang anaerob saja,
gerakan air yang mampu yang dapat menimbulkan
mendorong terjadinya proses hasil pembakaran.
difusi oksigen dari udara ke
dalam air. Menurut Brown (1987)
peningkatan suhu 1o C akan
3. Hujan yang jatuh,secara tidak meningkatkan konsumsi oksigen
langsung akan meningkatkan O2 sekitar 10%. Hubungan antara
di dalam air, pertama suhu air oksigen terlarut dan suhu dapat
akan turun, sehingga dilihat pada Tabel 3.2. yang
kemampuan air mengikat oksigen menggambarkan bahwa semakin
meningkat, selanjutnya bila tinggi suhu, kelarutan oksigen
volume air bertambah dari semakin berkurang.
gerakan air, akibat jatuhnya air

60
Tabel 3.2. Hubungan antara kadar oksigen terlarut jenuh dan suhu pada
tekanan udara 760 mm Hg (Cole, 1983)

Kadar Kadar Kadar


Suhu ( C)o Oksigen o
Suhu ( C) Oksigen o
Suhu ( C) Oksigen
terlarut terlarut terlarut
(mg/l) (mg/l) (mg/l)

0 14,62 14 10,31 28 7,83


1 14,22 15 10,08 29 7,69
2 13,83 16 9,87 30 7,56
3 13,46 17 9,66 31 7,43
4 13,11 18 9,47 32 7,30
5 12,77 19 9,28 33 7,18
6 12,45 20 9,09 34 7,06
7 12,14 21 8,91 35 6,95
8 11,84 22 8,74 36 6,84
9 11,56 23 8,58 37 6,73
10 11,29 24 8,42 38 6,62
11 11,03 25 8,26 39 6,51
12 10,78 26 8,11 40 6,41
13 10,54 27 7,97

Kadar oksigen terlarut dalam suatu adalah karbondioksida dalam bentuk


wadah budidaya ikan sebaiknya gas yang terkandung di dalam air.
berkisar antara 7 – 9 ppm. Gas CO2 memegang peranan
Konsentrasi oksigen terlarut ini sebagai unsur makanan bagi semua
sangat menentukan dalam tumbuhan yang mempunyai
akuakultur. Kadar oksigen terlarut chlorophil, baik tumbuh-tumbuhan
dalam wadah budidaya ikan dapat renik maupun tumbuhan tingkat
ditentukan dengan dua cara yaitu tinggi. Sumber gas CO2 didalam air
dengan cara titrasi atau dengan adalah hasil pernafasan oleh
menggunakan alat ukur yang disebut binatang-binatang air dan tumbuh-
dengan DO meter (Dissolved tumbuhan serta pembakaran bahan
Oxygen). organik didalam air oleh jasad renik.
Bagian air yang banyak mengandung
CO2 adalah didasar perairan, karena
3.2.2.2. Karbondioksida ditempat itu terjadi proses
pembakaran bahan organik yang
Karbondioksida merupakan salah cukup banyak. Untuk kegiatan
satu parameter kimia yang sangat asimilasi bagi tumbuh-tumbuhan,
menentukan dalam kegiatan jumlah CO2 harus cukup, tetapi bila
budidaya ikan. Karbondioksida yang jumlah CO2 melampaui batas akan
dianalisis dalam kegiatan budidaya kritis bagi kehidupan binatang-
61
binatang air. Pengaruh CO2 yang air menjadi mineral-mineral yang
terlalu banyak tidak saja terhadap dapat diasimilasikan oleh tumbuh-
perubahan pH air, tetapi juga bersifat tumbuhan (garam amonia dan nitrat).
racun. Dengan meningkatnya CO2, Pada perairan yang tidak
maka O2 dalam air juga ikut menurun, mengandung bahan organik dengan
sehingga pada level tertentu akan cukup, maka mineral dalam air tidak
berbahaya bagi kehidupan binatang akan ditemukan. Andaikata kedalam
air. Kadar CO2 yang bebas didalam kolam itu kemudian kita bubuhkan
air tidak boleh mencapai batas yang bahan organik seperti pupuk
mematikan (lethal), pada kadar 20 kandang, pupuk hijau dsb dengan
ppm sudah merupakan racun bagi cukup, tetapi kurang mengandung
ikan dan mematikan ikan jika garam-garam bikarbonat yang dapat
kelarutan oksigen didalam air kurang melepaskan kationnya, maka
dari 5 ppm (5 mg/l). mineral-mineral yang mungkin
CO2 yang digunakan oleh organisme terlepas juga tidak akan lama berada
dalam air, mula-mula adalah CO2 didalam air itu. Untuk menciptakan
bebas, bila yang bebas sudah habis, lingkungan air yang bagus, pH air itu
air akan melepaskan CO2 yang sendiri harus mantap dulu (tidak
terikat dalam bentuk Calsium banyak terjadi pergoncangan pH air).
bikarbonat maupun Magnesium Ikan rawa seperti sepat siam
bikarbonat. Air yang banyak (Tricogaster pectoralis), sepat jawa
mengandung persediaan Calsium (Tricogaster tericopterus ) dan ikan
atau Magnesium bikarbonat dalam gabus dapat hidup pada lingkungan
jumlah yang cukup, mempunyai pH air 4-9, untuk ikan lunjar kesan
kapasitas produksi yang baik. pH 5-8 ,ikan karper (Cyprinus carpio)
dan gurami, tidak dapat hidup pada
pH 4-6, tapi pH idealnya 7,2.
3.2.2.3. pH Air Klasifikasi nilai pH dapat
dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
pH (singkatan dari “ puisance negatif x Netral : pH = 7
de H “ ), yaitu logaritma negatif dari x Alkalis (basa) : 7 < pH < 14
kepekatan ion-ion H yang terlepas x Asam : 0 < pH < 7
dalam suatu perairan dan
mempunyai pengaruh besar Derajat keasaman suatu kolam ikan
terhadap kehidupan organisme sangat dipengaruhi oleh keadaan
perairan, sehingga pH perairan tanahnya yang dapat menentukan
dipakai sebagai salah satu untuk kesuburan suatu perairan. Nilai pH
menyatakan baik buruknya sesuatu asam tidak baik untuk budidaya ikan
perairan. dimana produksi ikan dalam suatu
perairan akan rendah. Pada pH
Pada perairan perkolaman pH air netral sangat baik untuk kegiatan
mempunyai arti yang cukup penting budidaya ikan, biasanya berkisar
untuk mendeteksi potensi antara 7 – 8, sedangkan pada pH
produktifitas kolam. Air yang agak basa juga tidak baik untuk kegiatan
basa, dapat mendorong proses budidaya. Pengaruh pH pada
pembongkaran bahan organik dalam perairan dapat berakibat terhadap

62
komunitas biologi perairan, untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3. Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan (Effendi, 2000)


Nilai pH Pengaruh Umum
x Keanekaragaman plankton dan benthos mengalami
6,0 – 6,5 sedikit penurunan
x Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas tak
mengalami perubahan
x Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan
benthos semakin nampak
5,5 – 6,0 x Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas masih
belum mengalami perubahan berarti
x Algae hijau berfilamen mulai nampak pada zona
literal
x Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis
plankton, perifiton dan benthos semakin besar
5,0 – 5,5 x Penurunan kelimpahan total dan biomassa
zooplankton dan benthos
x Algae hijau berfilamen semakin banyak
x Proses nitrifikasi terhambat
x Penurunan keanekaragaman dan komposisi jenis
plankton, perifiton dan benthos semakin besar
4,5 – 5,0 x Penurunan kelimpahan total dan biomassa
zooplankton dan benthos
x Algae hijau berfilamen semakin banyak
x Proses nitrifikasi terhambat

Air kolam yang pH nya bergoncang terbuka, kelebihan CO2 hasil


antara 4,5-6,5 masih dapat diperbaiki pernafasan ikan yang diangkut tidak
dengan menambahkan kapur dalam jadi masalah, sebab CO2 itu
jumlah yang cukup. Agar pH nya senantiasa masih berkesempatan
dapat dinaikan menjadi 8,0 supaya menjadi seimbang dengan udara
pengaruh OH yang rendah bisa terbuka diatasnya, sehingga
ditiadakan. Pada umumnya pada penurunan pH air tidak akan terlalu
pagi hari, waktu air banyak buruk bagi ikan. Pada pengangkutan
mengandung CO2, pH air rendah, tertutup upaya mencegah
pada waktu sore hari air kehabisan penurunan pH air dapat ditambahkan
CO2 untuk asimilasi pH air menjadi larutan buffer seperti Na2HPO4 ,
tinggi. Kondisi pH ini akan sangat sehingga pH yang sedianya akan
penting artinya pada pengangkutan turun dapat dicegah. Dengan
ikan hidup secara tertutup dengan demikian waktu pengangkutan ikan
pemberian gas O2. Pada dapat diupayakan lebih panjang.
pengangkutan ikan hidup secara Metode penentuan pH air dapat

63
menggunakan alat pH meter atau pemecahan itu akan mengendap
dengan menggunakan kertas berupa endapan putih didasar
indikator pH. perairan, pada daun-daun tanaman
air dsb. Sebaliknya, apabila
Diperairan asli, pergoncangan pH terbentuk gas CO2 yang banyak
dari yang tinggi ke pH rendah dapat didalam air maka mula-mula pH air
disanggah oleh unsur calsium yang mempunyai kecenderungan untuk
terdapat dalam air asli itu sendiri. turun akan tetapi dengan segera gas
Apabila suatu perairan kadar calsium CO2 yang berkeliaran bebas itu akan
dalam bentuk Ca(HCO3)2 cukup diikat oleh CaC03 yang sulit larut
tinggi, maka daya menyanggah air dalam air tadi. Menurut persamaan
terhadap pergoncangan pH menjadi reaksi:
besar.
Unsur Ca didalam air membentuk CaCO + CO2 + H2O Ca (HCO3)2.
dua macam senyawa yaitu:
1. Senyawa kalsium carbonat Sehingga jumlah CO2 bebasnya
(CaCO3) yang tidak dapat larut akan berkurang, akibatnya pH air
2. Senyawa kalsium bicarbonat atau mempunyai kecenderungan untuk
kalsium hidrogen karbonat naik, sehingga kecenderungan pH
(Ca(HCO3)2) yang dapat larut untuk turun dapat disanggah.
dalam air.
Proses imbangan pH dapat dituliskan
Faktor yang menentukan besar dengan reaksi sebagai berikut :
kecilnya kemampuan penyanggah
pergoncangan asam (pH) adalah Ca (HCO3)2 CaCO3 + CO2 + H2O
banyaknya Ca (HCO3)2 di dalam air.
Jadi jumlah Ca (HCO3 )2 dalam air
Proses terjadinya penyanggahan merupakan salah satu unsur dari
asam didalam air adalah sbb: baik buruknya perairan sebagai
Kalau dalam suatu perairan, CO2 lingkungan hidup.
terambil, maka mula-mula pH air
akan naik, akan tetapi pada saat
yang bersamaan Ca(HCO3)2 yang 3.2.2.4. Bahan Organik dan garam
larut dalam air itu akan pecah mineral dalam air
menurut persamaan sebagai berikut:
Mineral merupakan salah satu unsur
Ca (HCO3)2 Ca CO3 + H2O + CO2 kimia yang selalu ada dalam suatu
perairan, beberapa jenis mineral
Sehingga dalam air itu terjadi antara lain adalah Kalsium (Ca),
pembentukan CO2 yang baru, Pospor (P), Magnesium (Mg),
selanjutnya pH air mempunyai Potassium (K), Sodium (Na), Sulphur
kecenderungan untuk turun lagi. (S), zat besi (Fe), Tembaga (Cu),
Berdasarkan proses tersebut diatas, Mangan (Mn), Seng (Zn), Florin (F),
kadar Ca yang terkandung dalam air Yodium (I) dan Nikel (Ni). Diperairan
menjadi berkurang. Kalcium umum mineral yang diperlukan oleh
bikarbonat yang terbentuk pada phytoplakton senantiasa diperoleh

64
dari pembongkaran bahan-bahan pembatas bagi kesuburan perairan.
organik sisa dari tumbuhan dan Kandungan H2S - 6 mg/ l sudah
binatang yang sudah mati. Di alam dapat membunuh ikan Cyprinus
mineral tersebut berasal dari air yang carpio dalam beberapa jam saja.
masuk, atau adanya penambahan Untuk mencegah timbulnya H2S
pupuk buatan. Pembongkaran bahan dalam kolam biasanya kolam yang
organik dilakukan oleh jasad renik akan digunakan untuk budidaya ikan
yang terdapat didalam air. Pada harus dilakukan pengolahan tanah
umumnya jasad renik ini dasar dan pengeringan. Jenis gas
menghendaki perairan yang pHnya 7 beracun lainnya yang berasal dari
sedikit mendekati basa. pembongkaran bahan organik adalah
Pembongkaran bahan organik ada gas metana.
yang dilakukan secara anaerob
(tidak memerlukan oksigen). Proses Gas Metana ( CH4 ) adalah gas yang
pembongkaran itu juga dipengaruhi bersifat mereduksi dan dikenal
oleh suhu air. sebagai gas rawa. Metana itu timbul
pada proses pembongkaran hidrat
Bahan organik yang larut didalam air arang dari bahan organik yang
belum dapat dimanfaatkan oleh tertimbun dalam perairan. Hidrat
binatang air secara langsung. arang dalam suasana anaerob mula-
Bahan-bahan organik yang mula dibongkar menjadi asam-asam
mengendap di dasar perairan yang karboksilat. Bila suasana air tetap
dangkal dapat dimakan secara anaerob maka asam-asam
langsung oleh berbagai macam karboksilat direduksikan lebih lanjut
binatang benthos (binatang yaang menjadi Metana. Bila gas Metana ini
hidup didasar perairan) seperti siput berhubungan dengan O2 dalam air
vivipar javanica, cacing tubifex, larva sekelilingnya, maka air itu akan
chironomaus dan sebagainya. berkurang O2, dan sebagai hasilnya
Bagian-bagian dari pada lumpur timbullah gas CO2. Pembongkaran
organik demikian yang tidak dapat dalam suasana anaerob juga dapat
dicernakan, menyisa sebagai detritus dilakukan oleh ragi (Saccharomyces),
di dasar perairan. Jumlah bahan hasil pembongkaran itu adalah
organik yang terdapat dalam suatu alkohol dan lebih lanjut lagi menjadi
perairan dapat digunakan sebagai asam cuka (asam asetat ) oleh
salah satu indikator banyak tidaknya bakterium aceti. Kandungan bahan
mineral yang dapat dibongkar kelak. organik dalam air sangat sulit untuk
Bila suasana perairan anaerob, ditentukan yang biasa disebut
maka protein-protein yang menang dengan kandungan total bahan
mengandung belerang dapat organik (Total Organic Matter/TOM).
dibongkar oleh bakteri anaerob
(diantaranya adalah Bakterium
vulgare). Hasil pembongkaran
tersebut adalah gas hidrogen sulfida
(H2S) dan ditandai bau busuk, air
berwarna kehitaman. Gas itu 3.2.2.5. Nitrogen
merupakan limiting factor/ faktor

65
Nitrogen didalam perairan dapat Bila perairan tersebut cukup
berupa nitrogen organik dan nitrogen mengandung kation-kation maka
anorganik. Nitrogen anorganik dapat asam nitrit yang terbentuk itu dengan
berupa ammonia (NH3), ammonium segera dapat dirubah menjadi
(NH4), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3) dan garam-garam nitrit, oleh bakteri
molekul Nitrogen (N2) dalam bentuk Nitrobacter atau Nitrosomonas,
gas. Sedangkan nitrogen organik garam-garam nitrit itu selanjutnya
adalah nitrogen yang berasal bahan dikerjakan lebih lanjut menjadi
berupa protein, asam amino dan garam-garam nitrit, reaksinya
urea. Bahan organik yang berasal sebagai berikut:
dari binatang yang telah mati akan
mengalami pembusukan mineral 2NaNO2+O2 2NaNO3
yang terlepas dan utama adalah
garam-garam nitrogen (berasal dari Garam-garam nitrit itu penting
asam amino penyusun protein). sebagai mineral yang diasimilasikan
Proses pembusukan tadi mula-mula oleh tumbuh-tumbuhan hijau untuk
terbentuk amoniak (NH3) sebagai menyusun asam amino kembali
hasil perombakan asam amino oleh dalam tubuhnya, untuk menbentuk
berbagai jenis bakteri aerob dan protoplasma itu selanjutnya
anaerob. Pembongkaran itu akan tergantung pada nitrit, phitoplankton
menghasilkan suatu gas CO2 bebas, itu selanjutnya menjadi bahan
menurut persamaan reaksinya makanan bagi organisme yang lebih
adalah: tinggi. Nitrit tersebut pada suatu saat
dapat dibongkar lebih lanjut oleh
R. CH.NH2. COOH +O2 bakteri denitrifikasi (yang terkenal
R. COOH + NH3 + CO2 yaitu Micrococcus denitrifikan),
bakterium nitroxus menjadi nitrogen-
Berdasarkan reaksi kimia tersebut nitrogen bebas, reaksinya sebagai
dapat diperlihatkan bahwa kolam berikut:
yang dipupuk dengan pupuk
kandang/hijau yang masih baru 5 C6H12O0 + 24 HNO3
dalam jumlah banyak dan langsung 24 H2 CO3 + 6 CO3 +18 H2O +12 N2
ditebarkan benih ikan kedalam kolam,
biasanya akan terjadi mortalitas yang Agar supaya phitoplankton dapat
tinggi pada ikan karena kebanyakan tumbuh dan berkembang biak
gas CO2 . Bila keadaan perairan dengan subur dalam suatu perairan,
semakin buruk, sehingga O2 dalam paling sedikit dalam air itu harus
air sampai habis, maka secara tersedia 4 mg/l nitrogen (yang
perlahan proses pembongkaran diperhitungkan dari kadar N dalam
bahan organik akan diambil oleh bentuk nitrat), bersama dengan 1
bakteri lain yang terkenal ialah mg/l P dan 1 mg/l K.
Nitrosomonas menjadi senyawa nitrit.
Reaksi tersebut sebagai berikut: Bila kadar NH3 hasil pembongkaran
2NH3 + 3O2 2HNO2 + H2O bahan organik di dalam air terdapat
dalam jumlah besar, yang
disebabkan proses pembongkaran

66
protein terhenti sehingga tidak jika dalam bentuk amonium tidak
terbentuk nitrat sebagai hasil akhir, begitu berbahaya pada media
maka air tersebut disebut “sedang akuakultur. Amonia yang ada dalam
mengalami pengotoran (Pollution)”. wadah budidaya dapat diukur dan
Kadar N dalam bentuk NH3 dipakai biasanya dalam bentuk ammonia
juga sebagai indikator untuk total. Menurut Boyd (1988), terdapat
menyatakan derajat polusi. Kadar 0,5 hubungan antara kadar ammonia
mg/l merupakan batas maksimum total dengan ammonia bebas pada
yang lazim dianggap sebagai batas berbagai pH dan suhu yang dapat
untuk menyatakan bahan air itu dilihat pada Tabel 3.4. Pada tabel
“unpolluted”. Ikan masih dapat hidup tersebut memperlihatkan daya racun
pada air yang mengandung N 2 mg/l. ammonia yang akan meningkat
Batas letal akan tercapai pada kadar dengan meningkatnya kadar pH dan
5 mg/l. Di perairan kolam nitrogen suhu terhadap organisme perairan
dalam bentuk amonia sangat termasuk ikan.
beracun bagi ikan budidaya, tetapi

Tabel 3.4. Persentase (%) ammonia bebas (NH3) terhadap ammonia total
(Boyd, 1988)

pH 26oC 28oC 30oC 32oC


7,0 0,60 0,70 0,81 0,95
7,2 0,95 1,10 1,27 1,50
7,4 1,50 1,73 2,00 2,36
7,6 2,35 2,72 3,13 3,69
7,8 3,68 4,24 4,88 5,72
8,0 5,71 6,55 7,52 8,77
8,2 8,75 10,00 11,41 13,22
8,4 13,20 14,98 16,96 19,46
8,6 19,42 21,83 24,45 27,68
8,8 27,64 30,68 33,90 37,76
9,0 37,71 41,23 44,84 49,02
9,2 48,96 52,65 56,30 60,38
9,4 60,33 63,79 67,12 70,72
9,6 70,67 73,63 76,39 79,29
9,8 79,25 81,57 83,68 85,85
10,0 85,82 87,52 89,05 90,58
10,2 90,56 91,75 92,80 93,84

wadah budidaya mengandung 0,1 –


Kadar amonia yang dapat 0,3 ppm. Oleh karena itu sebaiknya
mematikan ikan budidaya jika dalam kadar amonia didalam wadah

67
budidaya ikan tidak lebih dari 0,2 (misal kurang dari 15 mg/l) tidak
mg/l (ppm). Kadar amonia yang diinginkan dalam akuakultur karena :
tinggi ini diakibatkan adanya x Perairan tersebut sangat asam
pencemaran bahan organik yang sehingga performansi produksi
berasal dari limbah domestik, industri ikan (Kesehatan umum dan
dan limpasan pupuk pertanian. kelangsungan hidup,
pertumbuhan, hasil dan efisiensi
pakan) dipengaruhi secara
3.2.2.6. Alkalinitas dan negatif.
kesadahan x Produksi phytoplankton dibatasi
oleh ketidakcukupan CO2 dan
Alkalinitas menggambarkan jumlah HCO3 yang cenderung
basa (alkali) yang terkandung dalam menyebabkan rendahnya
air, sedangkan alkalinitas total kelarutan oksigen dan bisa
adalah konsentrasi total dari basa mengakibatkan kematian
yang terkandung dalam air yang plankton.
dinyatakan dalam ppm setara x Pada tanah-tanah asam dapat
dengan kalsium karbonat. Total menyerap fosfor yang akan
alkalinitas biasanya selalu dikaitkan mereduksi efek pemupukan pada
dengan pH karena pH air ini akan tingkat produksi akuakultur
menunjukkan apakah suatu perairan sistem ekstensif, tingkat
itu asam atau basa. Alkalinitas juga pemupukan ekstensif dan
disebut dengan Daya Menggabung pemupukan intensif.
Asam (DMA) atau buffer/penyangga x Fluktuasi pada pH dan faktor-
suatu perairan yang dapat faktor yang berhubungan dapat
menunjukkan kesuburan suatu menyebabkan ketidakstabilan
perairan tersebut. Sedangkan mutu air yang dapat
kesadahan menggambarkan menyebabkan ikan stres.
kandungan Ca, Mg dan ion-ion yang x Pada tingkat pH yang ekstrem
terlarut dalam air. Berdasarkan dapat menyebabkan kondisi-
Effendi (2000) Nilai alkalinitas kondisi stres masam pada pagi
berkaitan jenis perairan yaitu hari dan kondisi stres alkalin
perairan dengan nilai alkalinitas pada senja hari.
kurang dari 40 mg/l CaCO3 disebut
sebagai perairan lunak (Soft water), Untuk meningkatkan kandungan
sedangkan perairan yang nilai alkalinitas total pada kolam
alkalinatasnya lebih dari 40 mg/l pemeliharaan ikan dapat digunakan
CaCO3 disebut sebagai perairan kapur pertanian. Oleh karena itu
keras (Hard water). Perairan dengan dalam kolam pemeliharaan ikan
nilai alkalinitas yang tinggi lebih sebelum digunakan dilakukan proses
produkstif daripada dengan perairan pengapuran dengan menggunakan
yang nilai alkalinitasnya rendah. beberapa jenis batu kapur yang
disesuaikan dengan kualitas tanah
Menurut Schimittou (1991), perairan dasar kolam pemeliharaan.
dengan alkalinitas yang rendah

68
Berdasarkan tempat hidupnya dan
3.2.3. Sifat Biologi daerah penyebarannya, plankton
dapat merupakan :
Parameter biologi dari kualitas air x Limnoplankton (plankton air
yang biasa dilakukan pengukuran tawar/danau)
untuk kegiatan budidaya ikan adalah x Haliplankton (hidup dalam air
tentang kelimpahan plankton, asin)
benthos dan perifiton sebagai x Hypalmyroplankton (khusus
organisme air yang hidup di perairan hidup di air payau)
dan dapat digunakan sebagai pakan x Heleoplankton (khusus hidup
alami bagi ikan budidaya. Kajian dalam kolam-kolam)
secara detail dari ketiga aspek x Petamoplankton atau
tersebut akan dibahas pada Bab 6. rheoplankton (hidup dalam air
Kelimpahan plankton yang terdiri dari mengalir, sungai)
phytoplankton dan zooplankton
sangat diperlukan untuk mengetahui
kesuburan suatu perairan yang akan 3.3. Pengukuran Kualitas
dipergunakan untuk kegiatan air Budidaya Ikan
budidaya. Plankton sebagai
organisme perairan tingkat rendah Parameter kualitas air yang dapat
yang melayang-layang di air dalam digunakan untuk keperluan
waktu yang relatif lama mengikuti perikanan dan peternakan di
pergerakan air. Plankton pada Indonesia sudah dibuat Peraturan
umumnya sangat peka terhadap Pemerintah Republik Indonesia
perubahan lingkungan hidupnya Nomor 20 Tahun 1990, tanggal 5
(suhu, pH, salinitas, gerakan air, Juni 1990 tentang Pengendalian
cahaya matahari dll) baik untuk Pencemaran Air. Dalam peraturan
mempercepat perkembangan atau tersebut dibuat kriteria kualitas air
yang mematikan. berdasarkan golongan yaitu
Golongan A adalah kriteria kualitas
Berdasarkan ukurannya, plankton air yang dapat digunakan sebagai air
dapat dibedakan sebagai berikut : minum secara langsung tanpa
1. Macroplankton (masih dapat pengolahan terlebih dahulu,
dilihat dengan mata telanjang/ Golongan B adalah kriteria kualitas
biasa/tanpa pertolongan air yang dapat digunakan sebagai air
mikroskop). baku air minum, Golongan C adalah
2. Netplankton atau mesoplankton kriteria kualitas air yang dapat
(yang masih dapat disaring oleh digunakan untuk keperluan
plankton net yang mata netnya Perikanan dan Peternakan,
0,03 - 0,04 mm). Golongan D adalah kriteria kualitas
3. Nannoplankton atau air yang dapat digunakan untuk
microplankton (dapat lolos keperluan pertanian, dapat
dengan plankton net diatas). dimanfaatkan untuk usaha perkotaan,
industri dan pembangkit listrik tenaga
air. Berdasarkan peraturan tersebut

69
kriteria kualitas air untuk perikanan dapat dilihat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Kriteria kualitas air Golongan C

Kadar
No. Parameter Satuan Ket.
maksimum

Kimia Anorganik
1. Air raksa mg/l 0.002
2. Ammoniak bebas mg/l 0,02
3. Arsen mg/l 1
4. Fluorida mg/l 1,5
5. Kadmium mg/l 0,01
6. Klorin bebas mg/l 0,003
7. Kromium, valensi 6 mg/l 0,05
8. Nitrit, sebagai N mg/l 0,06
9. Oksigen terlarut (DO) mg/l - >3
10. pH - 6–9
11. Selenium mg/l 0,05
12. Seng mg/l 0,02
13. Sianida mg/l 0,02
14. Sulfida sebagai H2S mg/l 0,002
15. Tembaga mg/l 0,02
16. Timbal mg/l 0,03

Kimia organik
1. BHC mg/l 0,21
2. DDT mg/l 0,002
3. Endrin mg/l 0,004
4. Fenol mg/l 0,001
5. Minyak dan lemak mg/l 1
6. Organofosfat dan karbonat mg/l 0,1
7. Senyawa aktif biru metilen mg/l 0,2
(Surfaktan)

Radioaktivitas
1. Aktivitas Alfa (Gross Alpha Activity) Bq/l 0,1
2. Aktivitas beta (Gross Beta Activity) Bq/l 1,0

Keterangan : Bq : Bequerel

Berdasarkan Tabel 3.6 diatas dilakukan pengukuran beberapa


tersebut jika akan melakukan parameter kualitas air pada air yang
kegiatan budidaya ikan maka harus akan digunakan untuk budidaya.

70
Parameter kualitas air itu dapat pengukuran. Untuk lebih jelasnya
dilakukan pengukuran dengan dapat dilihat pada Tabel 3.6.
menggunakan beberapa peralatan

Tabel 3.6. Parameter kualitas air untuk budidaya ikan dan peralatan
pengukuran yang dapat digunakan.

Nilai kisaran untuk


No. Parameter Peralatan Pengukuran
Budidaya Ikan

Aspek Fisik
1. Suhu 20 – 30 oC Termometer
2. Kecerahan > 10 cm Secchi Disc
3. Kekeruhan 25 – 400 JTU Turbiditymeter
4. Salinitas Air tawar 0 – 5 o/oo Salinometer/
Air payau 6 – 29 o/oo Refraktometer
Air tawar 30 – 35 o/oo

5. Debit air Air deras 50 l/dt Current meter


Air tenang 0,5 – 5 l/dt

Aspek Kimia
1. Oksigen terlarut 5 – 6 ppm DO meter/Metode Winkler
2. Karbondioksida Max 25 ppm CO meter/Metode Titrasi
3. pH 6,5 – 8 pH meter/Kertas Lakmus
4. Alkalinitas 50 – 500 ppm CaCO3
5. Kesadahan 3 – 15 dH dH meter
6. Ammonia < 1,5 ppm Spektrofotometer
7. H2S < 0,1 ppm Spektrofotometer
8. Nitrit < 0,2 ppm Spektrofotometer
9. Nitrat 0 – 1,5 ppm Spektrofotometer
10. Phosphat < 0,02 ppm Spektrofotometer

Aspek Biologi
1. Kelimpahan Plankton Sesuai kebutuhan Planktonnet/
2. Kelimpahan Benthos Haemocytometer
3. Kelimpahan Perifiton Ekman Dredge

Peralatan-peralatan yang dapat


digunakan untuk mengukur
parameter kualitas air dapat dilihat
pada Gambar . 3.1 sampai dengan
Gambar 3.12.

71
Gambar 3.1. Termometer Gambar 3.2. Secchi disc

Gambar 3.3. Salinometer Gambar 3.4. Refraktometer

Gambar 3.5. Flow meter Gambar 3.6. DO meter

72
Gambar 3.7. pH meter Gambar 3.8. Kertas lakmus

Gambar 3.9. Planktonnet Gambar 3.10. Haemocytometer

Gambar 3.11 Ekman dredge Gambar 3.12. Spektrofotometer

73
74
BAB IV. PENGEMBANGBIAKAN IKAN

yang menjamin keunggulan setiap


Pengembangbiakan ikan meru- jenis ikan. Induk ikan yang unggul
pada setiap kegiatan usaha budidaya
pakan salah satu kegiatan dari
proses budidaya ikan. Ikan yang ikan dapat berasal dari hasil
akan dibudidayakan harus dapat budidaya atau menangkap ikan di
tumbuh dan berkembang biak agar alam. Karakteristik induk yang
kontinuitas produksi budidaya dapat unggul untuk setiap jenis ikan sangat
berkelanjutan. Dalam bab ini akan berbeda. Hal-hal yang sangat
dibahas beberapa materi yang terkait penting untuk diperhatikan oleh para
dalam proses pengembangbiakan pembudidaya ikan dalam melakukan
ikan antara lain adalah seleksi induk, seleksi induk agar tidak terjadi
pemijahan, penetasan telur, pemeli- penurunan mutu induk antara lain
haraan larva dan benih ikan, adalah :
pembesaran ikan dan pemanenan. x Mengetahui asal usul induk
x Melakukan pencatatan data
tentang umur induk, masa
reproduksi dan waktu pertama
4.1. SELEKSI INDUK
kali dilakukan pemijahan sampai
Seleksi induk merupakan tahap awal usia produktif.
dalam kegiatan budidaya ikan yang x Melakukan seleksi induk
sangat menentukan keberhasilan berdasarkan kaidah genetik
produksi. Dengan melakukan seleksi x Melakukan pemeliharaan calon
induk yang benar akan diperoleh induk sesuai dengan proses
induk yang sesuai dengan kebutuhan budidaya sehingga kebutuhan
sehingga produktivitas usaha nutrisi induk terpenuhi.
budidaya ikan optimal. Seleksi induk x Mengurangi kemungkinan
ikan budidaya dapat dilakukan perkawinan sedarah
secara mudah dengan Untuk meningkatkan mutu induk
memperhatikan karakter fenotipenya yang akan digunakan dalam proses
atau dengan melakukan program budidaya maka induk yang akan
breeding untuk meningkatkan nilai digunakan harus dilakukan seleksi.
pemuliabiakan ikan budidaya. Seleksi ikan bertujuan untuk
memperbaiki genetik dari induk ikan
Induk ikan yang unggul akan yang akan digunakan. Oleh karena
menghasilkan benih ikan yang itu dengan melakukan seleksi ikan
unggul. Di Indonesia saat ini belum yang benar akan dapat memperbaiki
ada tempat sebagai pusat induk ikan genetik ikan tersebut sehingga dapat
melakukan pemuliaan ikan. Tujuan

75
dari pemuliaan ikan ini adalah Poliploidisasi, level sel misalnya
menghasilkan benih yang unggul dengan melakukan transplantasi
dimana benih yang unggul tersebut sel.
diperoleh dari induk ikan hasil seleksi 3. Rekayasa faktor eksternal dan
agar dapat meningkatkan internal yaitu menggabungkan
produktivitas. antara kedua rekayasa eksternal
dan internal.
Produktivitas dalam budidaya ikan
dapat ditingkatkan dengan beberapa Oleh karena itu agar dapat
cara yaitu : memperoleh produktivitas yang tinggi
1. Ekstensifikasi yaitu mening- dalam budidaya ikan harus dilakukan
katkan produktivitas hasil seleksi terhadap ikan yang akan
budidaya dengan memperluas digunakan. Seleksi menurut Tave
lahan budidaya. (1995) adalah program breeding
2. Intensifikasi yaitu meningkatkan yang memanfaatkan phenotipic
produktivitas hasil dengan variance (keragaman fenotipe) yang
meningkatkan hasil persatuan diteruskan dari tetua kepada
luas dengan melakukan keturunannya. Keragaman fenotipe
manipulasi terhadap faktor merupakan penjumlahan dari
internal dan eksternal. keragaman genetik, keragaman
lingkungan dan interaksi antara
Dengan bertambahnya jumlah variasi lingkungan dan genetik.
penduduk sepanjang tahun dan Seleksi merupakan aplikasi genetik
jumlah lahan budidaya yang tidak dimana informasi genetik dapat
akan bertambah jumlahnya, maka digunakan untuk melakukan seleksi.
untuk meningkatkan produktivitas Seleksi ikan yang paling mudah
budidaya masa yang akan datang dilakukan oleh para pembudidaya
lebih baik menerapkan budidaya ikan ikan adalah melakukan seleksi
yang intensif dengan memperhatikan fenotipe dibandingkan dengan
aspek ramah lingkungan. Program seleksi genotipe. Seleksi fenotipe
intensifikasi dalam bidang budidaya dapat dikelompokkan menjadi dua
ikan dapat dilakukan antara lain yaitu seleksi fenotipe kualitatif dan
adalah : seleksi fenotipe kuantitatif. Menurut
1. Rekayasa faktor eksternal yaitu Tave (1986), seleksi fenotipe
lingkungan hidup ikan dan pakan, kualitatif adalah seleksi ikan
contoh yang sudah dapat berdasarkan sifat kualitatif seperti
diaplikasikan adalah budidaya misalnya warna tubuh, tipe sirip, pola
ikan pada kolam air deras dan sisik ataupun bentuk tubuh dan
membuat pakan ikan ramah bentuk punggung dan sebagainya
lingkungan. yang diinginkan. Fenotipe kualitatif
2. Rekayasa faktor internal yaitu ini merupakan sifat yang tidak dapat
melakukan rekayasa terhadap diukur tetapi dapat dibedakan dan
genetik ikan pada level gen dikelompokkan secara tegas. Sifat ini
misalnya transgenik, level dikendalikan oleh satu atau
kromosom misalnya beberapa gen dan sedikit atau tidak
Gynogenesis, Androgenesis, dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

76
Sedangkan seleksi fenotipe gradasi dari yang rendah sampai
kuantitatif adalah seleksi terhadap yang tinggi (kontinu). Karakter
penampakan ikan atau sifat yang kuanlitatif ditentukan ole satu atau
dapat diukur, dikendalikan oleh dua gen saja sedangkan karakter
banyak pasang gen dan dipengaruhi kuantitatif disebabkan oleh banyak
oleh lingkungan. Adapun ciri-ciri atau gen (tiga atau lebih). Dengan
parameter yang dapat diukur antara melakukan seleksi maka akan
lain adalah panjang tubuh, bobot, menghasilkan suatu karakter yang
persentase daging, daya hidup, mempunyai nilai ekonomis penting
kandungan lemak, protein, dan karakter fenotipe yang terbaik
fekunditas dan lain sebagainya. sesuai dengan keinginan para
pembudidaya.
Fenotipe adalah bentuk luar atau
bagaimana kenyataannya karakter Untuk mendapatkan induk ikan yang
yang dikandung oleh suatu individu unggul dilakukan program seleksi
atau fenotipe adalah setiap dengan menerapkan beberapa
karakteristik yang dapat diukur atau program pengembangbiakan antara
sifat nyata yang dipunyai oleh lain dengan kegiatan selective
organisme. Fenotipe merupakan breeding, hibridisasi/outbreeding/
hasil interaksi antara genotipe dan crossbreeding, inbreeding, mono-
lingkungan serta interaksi antara seks/seks reversal atau kombinasi
genotipe dan lingkungan serta beberapa program breeding. Dalam
merupakan bentuk luar atau sifat- bab ini akan dibahas semua program
sifat yang tampak. Menurut Yatim breeding tersebut sehingga dalam
(1996), genotipe menentukan budidaya ikan akan diperoleh hasil
karakter sedangkan lingkungan baik induk dan benih yang unggul.
menetukan sampai dimana tercapai Induk yang unggul akan
potensi itu. Fenotipe tidak bisa menghasilkan benih yang unggul
melewati kemampuan atau potensi sehingga dengan memelihara benih
genotipe. Yang dimaksud dengan unggul proses budidaya akan
karakter itu adalah sifat fisik dan menguntungkan dengan melihat laju
psikis bagian-bagian tubuh atau pertumbuhan ikan yang optimal
jaringan. Karakter diatur oleh banyak sehingga produktivitas budidaya ikan
macam gen, atau satu gen saja. akan meningkat.
Berhubung dengan banyaknya gen
yang menumbuhkan karakter maka 4.1.1. Selective breeding
dibuat dua kelompok karakter yaitu
karakter kualitatif dan karakter Selective breeding adalah suatu
kuantitatif. Karakter kualitatif adalah program breeding yang mencoba
karakter yang dapat dilihat ada atau untuk memperbaiki nilai
tidaknya suatu karakter. Karakter ini pemuliabiakan (breeding value) dari
tidak dapat diukur atau dibuat suatu populasi dengan melakukan
gradasi (diskontinyu). Sedangkan seleksi dan perkawinan hanya pada
karakter kuantitatif adalah karakter ikan-ikan yang terbaik. Hasil yang
yang dapat diukur nilai atau akan diperoleh adalah induk yang
derajatnya, sehingga ada urutan terseleksi yang mempunyai

77
karakteristik lebih baik dari populasi yang berasal dari satu bapak dengan
sebelumnya. Selective breeding beberapa induk betina (Half sib),
menurut Tave (1995) dapat karena pada ikan satu induk jantan
dilakukan dengan dua cara yaitu : dapat membuahi lebih dari satu
1. Seleksi individu/massa induk betina, maka anak-anak yang
2. Seleksi famili dihasilkan dari bapak yang sama
dengan induk betina yang berbeda
Pada ikan teknik seleksi dapat ini disebut dengan saudara tiri
dilakukan dengan menggunakan dua sebapak. Sedangkan setiap
metode yaitu seleksi massa/individu keluarga/famili yang berasal dari satu
dan seleksi famili. Seleksi induk bapak dengan satu induk disebut
secara individu ini disebut juga saudara sekandung (full sib), dan
dengan seleksi massa. Seleksi pada ikan budidaya ada juga yang
massa/individu adalah seleksi yang melakukan perkawinan dimana satu
dilakukan dengan memilih individu- jantan hanya membuahi satu induk
individu dengan performan terbaik. betina. Seleksi famili dapat
Seleksi ini merupakan teknik seleksi diterapkan untuk ikan jika nilai
yang paling sederhana dengan biaya heritabilitas ikan tersebut lebih kecil
lebih murah dibandingkan seleksi atau sama dengan 0,15. Seleksi
lainnya. Hal ini dikarenakan pada famili merupakan alternatif seleksi
seleksi individu hanya memerlukan yang dapat dilakukan apabila
fasilitas dan peralatan sedikit (kolam, pengaruh lingkungan sulit dikontrol.
jaring, hapa dan lain-lain), Dalam seleksi famili ada dua jenis
pencatatan data lebih singkat seleksi yaitu seleksi dalam famili
sehingga akan lebih mudah (within-family) dan seleksi diantara
dilakukan. Seleksi individu dapat famili (between family). Seleksi within
diterapkan pada ikan nila jika nilai family sebaiknya diterapkan untuk
heritabilitas ikan nila ini lebih besar seleksi pertumbuhan pada ikan ,
dari 0,25, waktu pemijahan harus karena masing-masing famili
bersamaan dan culling top 5 – 10% dipelihara pada kolam terpisah dan
(Tave, 1995). Induk yang baik secara ikan dengan pertumbuhan terbaik
alami dapat dihasilkan melalui dipilih dari masing-masing famili,
seleksi secara ketat dan tepat sehingga semua famili akan terwakili.
terhadap sekelompok ikan, Cara ini dilakukan merupakan salah
pengalaman menunjukan bahwa satu cara untuk mengantisipasi
untuk mendapatkan induk 50 ekor adanya perbedaan umur akibat tidak
yang sesuai kriteria diperlukan 2000 terjadinya proses pemijahan secara
ekor calon induk. serempak. Dari hasil penelitian pada
ikan nila, diantara ketiga teknik
Seleksi famili adalah seleksi dengan
seleksi yaitu seleksi individu, seleksi
mempergunakan performans dari
within family dan between family,
saudaranya baik saudara tiri
ternyata seleksi within family lebih
sebapak (half sib) atau saudara
efisien hasilnya dibandingkan
sekandung (full sib). Saudara tiri
dengan seleksi individu atau
sebapak adalah keluarga (famili)
between family.
yang dibentuk oleh sekelompok anak

78
Pada saat akan membudidayakan Nilai heritabilitas satu berarti karakter
ikan setiap pembudidaya harus yang diwariskan kepada
sudah memahamii karakter fenotipe keturunannya seluruhnya diakibatkan
setiap individu ikan yang akan oleh keragaman genetik tidak ada
dibudidayakan dengan pengaruh lingkungan. Nilai
memperhatikan ciri-ciri morfologinya. heritabilitas nol berarti karakter yang
Ciri-ciri morfologi setiap ikan diwariskan kepada keturunannya
budidaya yang harus diamati adalah seluruhnya diakibatkan oleh
karakter morfometrik dan karakter keragaman lingkungan tidak ada
meristik. Karakter morfometrik pengaruh genetik. Nilai heritabilitas
adalah bentuk tubuh dari setiap ikan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga
budidaya seperti panjang total tubuh, yaitu rendah mempunyai nilai antara
panjang standar, panjang kepala, 0–0,1, medium mempunyai nilai
tinggi badan dan lain-lain, sedangkan antara 0,1–0,3 dan tinggi mempunyai
karakter meristik yang dapat diukur nilai antara 0,3 – 1,0.
antara lain adalah jumlah sisik pada
linea lateralis, jumlah jari-jari sirip Selain itu dalam tabel tersebut
punggung, jumlah jari-jari lemah sirip terdapat istilah asynchronous
dada, jumlah jari-jari lemah sirip spawning, istilah ini merupakan salah
perut, jumlah jari-jari sirip dubur, satu kelompok strategi dalam
jumlah tapis insang pada lengkung reproduksi ikan dimana ada tiga
insang bagian luar (gill racker), strategi reproduksi ikan yaitu
jumlah vertebrae dan jumlah tulang synchronous spawning, synchronous
rusuk. Dengan memahami karakter- spawning kelompok dan
karakter yang harus dipunyai oleh asynchronous spawning.
induk ikan yang unggul berdasarkan Synchronous spawning berarti
karakteristik setiap jenis ikan. proses pemijahan ikan dalam
reproduksi dilakukan dengan cara
Menurut Tave (1995) perbandingan semua telur dipijahkan dan induk
strategi keuntungan serta kerugian ikan akan mati, contohnya pada ikan
dari seleksi individu (A), seleksi salmon. Synchronous spawning
within family (B) dan seleksi between kelompok adalah kelompok ikan
family (C) dapat dilihat pada Tabel yang dapat memijah berkali-kali
4.1. tetapi pemijahannya ini masih
Dalam tabel 4.1 tersebut ada huruf h2,
huruf ini berarti heritabilitas.
Heritabilitas dapat dilakukan
pengukuran yang bertujuan untuk
mengetahui besarnya keragaman
fenotipe yang diakibatkan oleh aksi
genotipe atau menggambarkan
tentang persentase keragaman
fenotipe yang diwariskan dari induk
kepada keturunannya. Nilai
heritabilitas dinotasikan dengan
angka, yang berkisar antara 0 – 1.

79
Tabel 4.1. Perbandingan strategi, keuntungan dan kerugian dari seleksi individu (A), seleksi within family (B) dan
seleksi between family (C) (Tave, 1985)

Tipe Strategi Keuntungan Kerugian

A Memilih individu yang terbaik, Terbaik ketika h2 • 0,25,murah, dapat Tidak efektif ketika h2 ” 0,15, sehingga
hubungan famili tidak penting dilakukan dengan sedikit kolam, relative sangat sukar untuk memilih ikan yang
mudah untuk menggunakan 2-3 fenotipe, terbaik, asynchronous spawning dan
seluruh ikan yang besar terseleksi, menyebabkan masalah.
mudah untuk menahan populasi breeding,
data yang dibutuhkan sedikit jumlah data
yang dikumpulkan sedikit

B Memilih individu yang terbaik Terbaik ketika h2 ” 0,15 dan Moderatly expensive, membutuhkan
dari setiap famili mempengaruhi Ve famili daripada banyak kolam, sukar untuk
individu, dapat digunakan dengan menggabungkan 2-3 fenotipe, ikan kecil
asynchronous spawning, mudah untuk dapat menjadi induk ikan yang terpilih,
memelihara populasi breeding yang membutuhkan banyak data dan banyak
besar, sedikit mahal daripada between data yang harus dikumpulkan.
famili.

C Memilih famili yang terbaik Terbaik ketika h2 ” 0,15 dan Sangat mahal, membutuhkan banyak
berdasarkan nilai rata-rata mempengaruhi Ve individu daripada kolam, sukar untuk menggabungkan 2-3
famili, nilai individual tidak famili, dapat dipergunakan ketika ikan fenotipe, ikan kecil dapat menjadi induk
dipertimbangkan harus dimatikan terpilih dapat mengakibatkan terjadinya
inbreeding, membutuhkan banyak data
dan banyak data yang dikumpulkan.

80
tergantung pada musim pemijahan, dari pemijahan satu pasang
misalnya ikan patin, ikan bawal. induk ikan diperoleh benih ikan
Sedangkan asynchronous spawning sebanyak 200 – 300 ekor, maka
adalah kelompok ikan yang dapat harus selalu dilakukan
memijah berkali-kali dan tidak pemantauan pertumbuhan benih
tergantung pada musim pemijahan ikan tersebut.
karena proses perkembangan 3. Membuat kurva pertumbuhan
oositnya selalu ada, contoh jenis ikan dari data pertumbuhan benih ikan
kelompok ini adalah ikan nila. dan lakukan pemanenan pada
individu yang terbaik sebanyak
Program selective breeding di 5–10% dari ukuran populasi yang
lakukan untuk memperbaiki karakter tertinggi nilai pertumbuhannya.
fenotipe terutama laju pertumbuhan. 4. Benih ikan yang terpilih pada
Laju pertumbuhan yang tinggi pada tahap ketiga tersebut dipelihara
populasi ikan budidaya akan secara terpisah sebagai calon
meningkatkan produksi ikan yang induk yang akan digunakan untuk
dibudidayakan dan biasanya proses pemijahan selanjutnya.
berkaitan dengan peningkatan dalam Menurut Tave (1995) dalam
produksi pakan bila ikan yang program seleksi individu akan
dibudidayakan mengkonsumsi pakan diperoleh induk yang unggul
buatan. Dengan produktivitas yang dengan melakukan perkawinan
tinggi dalam budidaya ikan maka pada populasi terpilih sebanyak
pendapatan para pembudidaya ikan empat generasi.
akan meningkat. Dengan melakukan 5. Dari calon induk yang dipelihara
seleksi ikan berdasarkan selective pada tahap keempat akan
breeding ini akan diperoleh individu diperoleh induk ikan yang dapat
ikan yang mempunyai karakter digunakan untuk proses
fenotipe terbaik sehingga dapat pemijahan selanjutnya , dan akan
meningkatkan laju pertumbuhan diperoleh larva dan benih ikan.
pada saat dibudidayakan. Kemudian proses selanjutnya
dilakukan pemeliharaan sampai
Prosedur yang harus dilakukan bagi diperoleh kurva pertumbuhan
para pembudidaya yang akan dan lakukan pemilihan dari
melakukan seleksi individu dengan populasi individu sebanyak 5 –
strategi memilih individu yang terbaik 10% dari populasi yang terbaik
dalam suatu populasi adalah sebagai yang mempunyai ukuran tertinggi.
berikut : Lakukan kegiatan tersebut
1. Dalam suatu usaha budidaya sampai empat generasi dan akan
ikan jika akan melakukan diperoleh calon induk yang telah
program seleksi individu minimal terseleksi secara individu
harus mempunyai 25 pasang
induk yaitu 25 ekor induk jantan Berikut ini adalah contoh seleksi
dan 25 ekor induk betina. calon induk pada ikan nila meliputi
2. Melakukan pemijahan ikan dan beberapa kriteria yaitu :
mengamati pertumbuhan ikan x Tingkat pertumbuhan ikan, calon
dari setiap pasangan. Misalnya induk mempunyai tingkat

81
pertumbuhan yang paling cepat 32 yaitu 1 jantan dapat
diantara kelompok ikan. membuahi 4 betina sehingga
x Warna ikan nila yang masih satu jantan dapat membuat famili
mempunyai tingkat kemurnian halfsib dan full sib sebanyak 32
yang baik dapat di identifikasi famili fullsib dan 8 famili haflsib
dengan adanya warna garis karena dari satu jantan akan
hitam tegas dan jelas terletak dihasilkan empat keluarga fullsib
secara horisontal di bagian tubuh maka 8 jantan akan ada 32 famili
ikan. fullsib atau 8 famili halfsib.
x Bentuk badan melebar, mata 2. Melakukan pemijahan untuk ke
relatif besar, dan sisik teratur. 32 famili tersebut dan lakukan
x Konversi pakannya baik, yang pengamatan intensif dan cermat
dapat di identifikasikan dengan setiap hari untuk mengamati
pertumbuhan bobot badan ! pasangan-pasangan ikan yang
70 % dari jumlah pakan yang sudah memijah.
diberikan 3 - 5 % perhari dari 3. Melakukan pemeliharaan larva
bobot ikan. ikan pada setiap famili pada hapa
x Waktu matang gonad induk yang terpisah dengan
berumur 7 - 8 bulan, dengan memberikan pakan dan
berat badan rata-rata 300 gram pengelolaan kualitas air sesuai
per ekor untuk jantan dan 250 - prosedur.
300 gram per ekor untuk betina. 4. Melakukan pemeliharaan benih
x Produktifitas dalam menghasilkan ikan pada setiap famili pada
telur cukup tinggi (induk dengan waring yang terpisah, hitung
panjang badan 6 cm dapat jumlah benih yang dihasilkan dari
menghasilkan 200 telur, sedang setiap famili. Pada ikan nila
induk yang panjang badannya 20 misalnya satu ekor induk betina
cm menghasilkan 1500 butir menghasilkan 2000 – 3000 ekor.
telur). Pendederan dilakukan pada
padat penbaran yang rendah
untuk setiap famili pada kolam
Prosedur yang dapat dilakukan oleh pendederan minimal 2 bulan.
para pembudidaya ikan yang akan 5. Menghitung jumlah ikan yang
melakukan seleksi famili adalah diperoleh dari hasil pendederan
sebagai berikut : dan lakukan pengukuran berat
1. Menyiapkan ikan yang akan dan panjang tubuhnya sebanyak
dipijahkan dari beberapa famili 30% dari jumlah populasi setiap
yang dimiliki, minimal jumlah famili,misalnya dalam satu famili
famili yang harus dikumpulkan ada 2000 ekor maka jumlah
adalah 30 famili. Pada ikan nila sampel yang dihitung adalah 600
dimana pemijahan dapat ekor.
dilakukan dengan perbandingan 6. Melakukan pemilhan ukuran dari
jantan dan betina adalah 1 : 4 seluruh populasi dan ambil
maka dalam perkawinan 8 jantan individu dari setiap famili yang
akan diperoleh famili sebanyak mempunyai pertumbuhan yang
terbaik, kurang lebih 8 minggu

82
kemudian tentukan 50% dari organisma untuk bertahan hidup dan
populasi yang terbaik pemindahan gen untuk generasi
pertumbuhannya untuk dipelihara berikutnya. Individu yang mempunyai
lebih lanjut menjadi calon induk heterosigositas yang tinggi maka
dan sisanya dijual. akan mempunyai fitness yang tinggi
7. Melakukan pemeliharaan pada pula. Oleh karena itu untuk
kolam pembesaran ikan sampai memperoleh induk ikan yang
ikan-ikan pada setiap famili mempunyai kemampuan hidup yang
berukuran induk dan lakukan tinggi sebaiknya dalam proses
pengukuran satu persatu pada budidaya harus dilakukan
setiap famili dan pilih sebanyak perkawinan yang terseleksi.
20-30 ekor betina terbesar dan
jantan terbesar sebanyak 10-20
ekor dari setiap famili. Sedangkan crossbreeding atau
8. Sisanya dibuang atau dijual hibridisasi merupakan program
sebagai ikan ukuran besar dan persilangan yang dapat diaplikasikan
induk yang terpilih dapat pada ikan, udang, kerang-kerangan
dilakukan untuk seleksi induk maupun rumput laut. Hasil dari
selanjutnya dengan melakukan program ini dapat menghasilkan
pemijahan massal. Pada individu-individu yang unggul,
beberapa spesies ikan sangat kadang-kadang ada juga yang steril
berbeda untuk diperoleh induk dan dapat menghasilkan strain baru
unggulnya. Pada jenis ikan nila (Rustidja, 2005). Hibridisasi akan
wanayasa dapat diperoleh induk mudah dilakukan apabila dapat
yang terseleksi secara famili dilakukan reproduksi buatan seperti
dengan melakukan pemijahan halnya ikan mas dan ikan nila,
ikan yang terpilih pada generasi dimana dapat dilakukan striping telur
ke tiga. dan sperma. Selain itu ada defenisi
lain dari hibridisasi yang sebenarnya
tidak jauh berbeda. Hibridisasi
adalah perkawinan antara spesies
4.1.2. Outbreeding/Hibridisasi/ yang berbeda. Hibridisasi atau
Crossbreeding persilangan merupakan suatu upaya
untuk mendapatkan kombinasi
antara populasi yang berbeda untuk
Outbreeding adalah perkawinan
menghasilkan keturunan yang
antara individu-individu yang tidak
memiliki sifat unggul. Berdasarkan
sekerabat (berbeda induknya), masih
hal tersebut para ahli genetika
dalam satu varietas atau beda
perikanan membagai hibridisasi ke
varietas. Outbreeding ini akan
dalam dua macam yaitu :
menghasilkan heterozigositas yang
akan menguatkan individu- 1. Interspecifik hibridisasi yaitu
individunya terhadap perubahan perkawinan antara spesies yang
lingkungan yang biasa disebut juga berbeda.
mempunyai fitnes yang tinggi. Fitnes 2. Intraspecipik hibridisasi yaitu
yaitu kemampuan relative pada perkawinan dalam satu species.

83
persilangan antara ikan nila hitam
dengan ikan nila putih akan
Hasil dari beberapa jenis ikan yang
dihasilkan ikan nila yang berwarna
dilakukan persilangan biasanya
tubuh ikan merah. Pada umumnya
paling mudah memperhatikan
jenis-jenis ikan hias yang dihasilkan
karakter fenotipe kualitatif misalnya :
oleh para pembudidaya ikan banyak
1. Warna tubuh, dimana dapat yang diperoleh dari hasil persilangan.
dilakukan persilangan antara ikan Salah satu pendekatan yang dapat
yang mempunyai warna antara digunakan dalam produksi benih ikan
lain : hias baru-baru ini dari suatu populasi
x Ikan warna tubuh Albino yakni persilangan antar varitas atau
disilangkan dengan ikan strain (hibridisasi intervaritas) yang
berpigmen normal memiliki tampilan morfologi dari
x Ikan berwarna spesies yang sama. Hibridsasi
kuning/merah/putih intervaritas adalah mempersilangkan
disilangkan dengan ikan antara induk jantan dan induk betina
berwarna hijau/biru/abu-abu yang berasal dari spesies yang sama
x Ikan berwarna bintik namun minimal memiliki dua karakter
disilangkan dengan ikan fenotipe tampilan morfologi yang
tanpa bintik berbeda (Kirpichnikov, 1981).
2. Tipe sirip pada ikan dapat Disamping itu, karakter lain dari hasil
dilakukan persilangan antara ikan persilangan antara varitas adalah
yang mempunyai sirip antara lain: fertile yakni dari masing-masing jenis
x Ikan bersirip kumpay kelamin masih tetap mampu untuk
disilangkan dengan ikan menghasilkan keturunan walaupun
bersirip normal peluang dari benih keturunan
x Ikan bersirip kumpay tersebut cenderung memiliki karakter
disilangkan dengan ikan yang fenotipe tampilan morfologi yang
ekornya membundar bervariasi.
3. Pola sisik pada ikan dapat
dilakukan persilangan antara ikan Hibridisasi merupakan persilangan
yang mempunyai sisik antara antara varitas atau spesies yang
lain: secara morfologis memiliki
x Ikan bersisik bergaris perbedaan. Kirpichnikov (1981),
disilangkan dengan ikan yang menyatakan bahwa perbedaan yang
tidak mempunyai sisik paling menonjol yang digunakan
x Ikan bersisik menyebar/kaca dalam hibridisasi intervaritas adalah
disilangkan dengan ikan yang perbedaan warna, bentuk, ukuran
bersisik penuh dan kelengkapan biologis lain yang
4. Bentuk tubuh ikan melekat pada organ tubuh.
Perolehan ikan hybrid sangat
bergantung pada karakter dari induk.
Dalam kegiatan hibridisasi ini Waynorovich dan Horvarth (1980)
biasanya akan dihasilkan individu menyatakan bahwa ikan hasil
baru pada ikan konsumsi yang sudah hibridisasi interspesies adalah steril.
dilakukan misalnya melakukan Disamping itu rata-rata ukuran

84
morfometrik dan meristik dari ikan ekor pedang (Xyphophorus
hibrid kebanyakan berada pada maculatus), ikan guppi (Poecilia
pertengahan (intermediate) diantara reticulata) dan ikan maskoki
nilai rata-rata morfometerik dan (Carassius auratus). Sementara
meristik induk. pada spesies ikan konsumsi, adalah
ikan mas (Cyprinus carpio), ikan nila
Hibridisasi merupakan metode yang (Oreochromis niloticus) dan spesies
digunakan dalam upaya memperoleh ikan konsumsi lain karena disamping
ikan keturunan baru. Matsui (1935) memiliki berbagai varitas juga
menyatakan bahwa banyaknya keturunan hibrid telah mampu untuk
varitas pada ikan maskoki dibudidayakan.
merupakan akibat dari perkawinan
antara mutan dengan induk asal atau
Pengertian tentang persilangan ikan
antara mutan dengan mutan dari
ini ada berbagai pendapat misalnya
induk yang sama sehingga secara
crossbreeding merupakan
morfologi terdapat varitas ikan
persilangan juga tetapi bukan
maskoki baru. Hibridisasi didasarkan
persilangan seperti hibridisasi,
pada perbedaan tampilan
melainkan persilangan balik. Jenis
morfometrik dan meristik. Metode
ikan konsumsi yang merupakan hasil
paling banyak dilakukan oleh petani
persilangan balik adalah lele
ikan maskoki adalah hibridisasi
sangkuriang yang telah direlease
karena disamping memiliki varitas
oleh Menteri Perikanan dan Kelautan
yang banyak, pada ikan keturunan
pada tahun 2004. Jenis ikan ini
sering diperoleh warna, bentuk dan
merupakan hasil persilangan balik
ukuran tubuh yang berbeda sehingga
antara ikan lele generasi ke dua
jumlah varitas akan lebih banyak.
dengan ikan lele generasi ke enam
Kirpichnikov (1981) menyatakan
yang telah dibuat oleh Balai Besar
bahwa hasil perlakuan hibridisasi
Pengembangan Budidaa Air Tawar,
tidak hanya dilihat dari tampilan
Sukabumi.
morfologi namun harus dilakukan
pula pengukuran morfometrik dan
meristik karena data yang diperoleh
merupakan refleksi dari kekuatan
penurunan karakter dari sumber 4.1.3. Seks reversal
gamet disamping kondisi lingkungan
terjadi pada saat pembelahan sel Seks reversal (monosex) adalah
mulai bekerja. suatu teknologi yang membalikan
arah perkembangan kelamin menjadi
Beberapa spesies ikan air tawar berlawanan. Cara ini dilakukan pada
yang sering digunakan dalam waktu menetas gonad ikan belum
kegiatan persilangan adalah spesies- berdiferensiasi secara jelas menjadi
spesies ikan yang memiliki varitas jantan atau betina tanpa merubah
yang banyak dan memiliki karakter genotipenya. Tujuan dari penerapan
morfologi yang dapat dibedakan sek reversal adalah menghasilkan
secara jelas seperti populasi spesies
ikan hias yang terdiri dari spesies

85
populasi monoseks (tunggal kelamin),
yang sangat bermanfaat dalam : 3. Mendapatkan penampilan yang
1. Mendapatkan ikan dengan baik
pertumbuhan yang cepat Ikan yang dinikamati keindahan
Pada beberapa jenis ikan warna tubuhnya adalah ikan hias,
konsumsi ada beberapa jenis hampir semua jenis ikan hias
ikan dimana pertumbuhan ikan yang berkelamin jantan
jantan mempunyai pertumbuhan mempunyai warna tubuh yang
yang lebih cepat daripada ikan lebih indah dibandingkan dengan
betina, misalnya ikan nila jantan ikan bentinanya. Oleh karena itu
mempunyai pertumbuhan lebih jika yang dipelihara pada ikan
cepat pada ikan bentina, tetapi hias adalah ikan jantan maka
pada jenis ikan lainnya yaitu ikan akan diperoleh hasil yang lebih
mas pertumbuhan ikan betinanya menguntungkan karena nilai
justru lebih cepat dibandingkan jualnya lebih mahal.
dengan ikan jantan. Pada
kelompok udang-udangan 4. Menunjang genetika ikan yaitu
khususnya lobster untuk yang teknik pemurnian ras ikan
berjenis kelamin jantan Pada kegiatan rekayasa genetika
mempunyai pertumbuhan lebih misalnya ginogenesi akan
cepat dibandingkan dengan diperoleh induk ikan yang
betina. Oleh karena itu bagi para mempunyai galur murni. Induk
pembudidaya yang akan ikan yang galur murni ini akan
memelihara jenis ikan tersebut mempunyai gen yang homozigot
dengan menggunakan populasi sehingga untuk melakukan
tunggal kelamin akan lebih perkawinan pada induk yang
menguntungkan dibandingkan homozigot tanpa mempengaruhi
jika memelihara ikan dengan karakter jenis kelamin ikan
populasi dua kelamin, selain itu tersebut dilakukan aplikasi seks
waktu yang dibutuhkan untuk reversal pada induk galur murni
memelihara ikan tersebut lebih sehingga pemurnian gen itu
cepat sehingga terjadi efisiensi masih tetap bertahan.
biaya produksi dan keuntungan
akan meningkat. Teknologi seks reversal dapat
dilakukan dengan menggunakan dua
2. Mencegah pemijahan liar metode yaitu :
Dalam kegiatan budidaya ikan 1. Terapi hormon yaitu dengan
jika memelihara ikan jantan dan menggunakan hormon steroid
betina dalam satu wadah 2. Rekayasa kromosom
budidaya maka tidak menutup
kemungkinan ikan tersebut pada Teknologi seks reversal dengan
saat matang gonad akan rekayasa kromosom akan dibahas
melakukan pemijahan yang tidak pada bab IX secara detail pada
diinginkan pada beberapa jenis subbab ini akan dibahas teknologi
ikan yang memijahnya sepanjang seks reversal dengan menggunakan
masa, seperti ikan nila, ikan mas. terapi hormon. Menurut Koolman &

86
Rohm (2001) hormon adalah bahan atau pembetinaan dengan
kimia pembawa sinyal yang dibentuk (feminisasi).
dalam sel-sel khusus pada kelenjar
endokrin. Hormon disekresikan ke Berdasarkan tipe reproduksinya, ikan
dalam darah kemudian disalurkan ke dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu :
organ-organ yang menjalankan 1. Gonokhorisme (gonochorism),
fungsi-fungsi regulasi tertentu secara yaitu memiliki jenis kelamin yang
fisiologik dan biokimia. Sel-sel terpisah
sasaran pada organ sasaran 2. Hermaprodit (hermaphroditism),
memiliki reseptor yang dapat yaitu kedua jenis kelamin berada
mengikat hormon, sehingga pada individu yang sama.
informasi yang diperoleh dapat 3. Uniseksualitas (unizexuality),
diteruskan ke sel-sel akhirnya yaitu spesies yang semua
menghasilkan suatu respon. Pesan individunya betina
hormon disampaikan pada sel-sel
sasaran menurut dua prinsip yang Ekspresi atau perwujudan seks
berbeda. Hormon lipofilik masuk bergantung pada dua proses, yaitu
kedalam sel dan bekerja pada inti sel, determinasi seks dan diferensiasi
sedangkan hormone hidrofilik seks. Determinasi seks bertaggung
bekerja pada membran sel. jawab pada seks genetik (seks
genotipe), sedangkan diferensiasi
Teknik sex reversal mulai dikenal seks bertanggung jawab pada
tahun 1937 ketika estradiol 17E perkembangan yang nyata dari
disintesis untuk pertama kalinya. kedua jenis gonad (seks genotipe),
Dalam perjalanannya teknik sex yaitu jantan dan betina. Kedua
reversal telah mengalami beberapa proses tersebut secara bersama-
perbaikan berawal dari perlakuan sama bertanggung jawab pada
sex reversal yang baik dilakukan timbulnya dua kemungkinan
pada saat beberapa hari setelah morfologi, fungsional, serta perilaku
menetas, yaitu sebelum gonad pada individu jantan dan betina.
berdiferensiasi, terus berkembang
hingga penerapanyang dilakukan Penentu seks merupakan sejumlah
pada induk yang sedang bunting. unsur genetik yang bertanggung
Teknik sex reversal berbeda dengan jawab terhadap keberadaan gonad,
hermaprodit, pada ikan hermaprodit atau sekumpulan gen yang
setelah melewati rentang waktu bertanggungjawab terhadap
tertentu, gonad secara alamiah akan pembentukan gonad. Terdapat tiga
berubah menjadi jenis kelamin yang model penentu seks yang dapat
berlawanan, fungsi hormon hanya diterapkan pada ikan, yaitu :
mempercepat proses perubahan x Kromosom, yang merupakan
tersebut. Sedangkan pada teknik sex pewarisan seks atau
reversal perubahan jenis kelamin heterokromosom. Sistem
ikan sangat dipaksakan dengan kromosom determinasi seks
membelokkan perkembangan gonad betina atau jantan XX/XY.
menjadi jantan atau betina dengan x Penentu seks poligenik
proses penjantanan (maskulinisasi) (polifaktorial) adalah suatu sistem

87
penentuan seks dimana terdapat hormon steroid yang dapat
gen penentu seks jantan dan digunakan dalam terapi hormon
betina epistatik (superior) yang antara lain adalah :
berada pada autosom maupun 1. Estrogen (hormon betina) :
heterokromosom. Estradiol-17 ȕ, esteron, estriol
x Penentu seks oleh lingkungan, atau ethynil estradiol. Hormon ini
melibatkan interaksi antar memberikan efek perubahan dari
genotipe dan lingkungan, jantan menjadi betina (feminisasi).
terutama suhu media selama 2. Androgen (hormon jantan) :
perkembangan larva. Testoteron, 17 Į-Methyl Testo-
teron, androstendion. Hormon ini
Proses diferensiasi seks adalah memberikan efek perubahan dari
suatu proses perkembangan gonad betina menjadi jantan
ikan menjadi suatu jaringan yang (maskulinisasi).
definitif (pasti), yang terjadi terlebih
dahulu pada betina dan kemudian Pada sex reversal terkadang terjadi
baru terjadi pada jantan. Gonad ikan penyimpangan ekstrim yang dialami,
pada saat baru menetas masih hal ini dapat terjadi karena pada
berupa benang yang sangat halus beberapa jenis ikan (lele amerika)
dan belum berdiferensiasi menjadi terdapat suatu zat yang menyerupai
jantan atau betina. Proses enzim aromaterase sehingga hormon
diferensiasi seks pada betina 17D metiltestosteron yang masuk ke
ditandai dengan meiosis oogonia dalam tubuh terlebih dahulu
dan/atau perbanyakan sel-sel dikonversi menjadi estradiol 17E dan
somatik membentuk rongga ovari, berfungsi sebagai hormon sehingga
sebaliknya pada diferensiasi seks terjadi penyimpangan hingga 100%.
pada jantan ditandai dengan
muculnya spermatoonia serta Dalam penerapan sex reversal
pembentukan sistem vaskular pada dengan menggunakan terapi hormon
testis. dapat diberikan beberapa cara yang
didasarkan pada efektifitas, efisiensi,
Hormon steroid secara alamiah kemungkinan polusi dan biaya. Cara
terlibat dalam proses diferensiasi pemberian hormone dalam teknologi
seks. Upaya pengontrolan proses seks reversal dapat dilakukan
diferensiasi seks dilakukan dengan dengan beberapa cara antara alin
pemberian steroid seks dari luar adalah :
tubuh (eksogenous) pada ikan yang 1. Oral
belum berdiferensiasi. Ikan-ikan hasil Metoda oral adalah metode
sex reversal pada umumnya pemberian hormon melalui mulut
mengalami perubahan kelamin yang yang dapat dilakukan dengan
bersifat permanen dan berfungsi pemberian pakan alami maupun
normal. Pemberian steroid seks pakan butan. Pada pakan buatan,
sebaiknya diberikan sebelum muncul hormon dilarutkan dalam pelarut
tanda-tanda diferensiasi gonad polar seperti alkohol. Cara yang
dengan menggunakan hormon dilakukan adalah dengan
estrogen atau androgen. Jenis-jenis mencampur hormon 17 Į

88
metyltestoesteron secara merata Kemudian larutan hormon
dengan pakan dengan dosis dicampurkan dengan pakan
disesuaikan jenis ikan yang akan buatan berupa pellet serbuk
diaplikasikan. Pemberian hormon dengan cara menyemprotkan
pada pakan alami dapat larutan hormon secara merata
dilakukan dengan teknik kepermukaan pakan dengan
bioenkapsulasi. Secara detail menggunakan sprayer. Setelah
teknik tentang bioenkapsulasi ini tercampur dengan merata, pakan
dijelaskan secara detail pada bab dibiarkan di udara terbuka di
VII. tempat yang tidak terkena sinar
matahari (di angin-anginkan)
Selanjutnya Anonim, (2001), agar alkohol dapat menguap.
mengatakan bahwa berdasarkan Selanjutnya pakan yang telah
penelitian sampai saat ini teknik tercamput hormon dimasukkan
penghormonan melalui oral ke dalam wadah tertutup dan di
paling banyak digunakan para simpan di dalam lemari pendingin
pembudidaya ikan karena hasil
yang diperoleh lebih dari 95 2. Perendaman (dipping/bathing)
sampai 100% bila dibandingkan Metoda perendaman (dipping),
dengan perendaman yang yaitu dengan cara merendamkan
menghasilkan 70 – 80%. Dengan larva ikan ke dalam larutan air
pencampuran hormon pada yang mengandung 17 Į
pakan juga sangat efisien dalam metyltestoesteron dengan dosis
pemakaian dosis hormon dan 1,0 gram/liter air. Metode ini
kemudahan memperoleh pakan dapat diaplikasikan pada embrio,
ikan. Sedangkan kelemahan dan pada larva ikan yang masih
metoda oral ini adalah pada awal belum mengalami diferensiasi
pemberian pakan, larva perlu jenis kelamin (sex), dan lama
menyesuaikan jenis pakan perendaman tergantung dosis
buatan sehingga apabila pakan hormon yang diaplikasikan,
tidak segera dimakan maka dimana semakin banyak dosis
kemungkinan besar hormon akan hormon maka semakin singkat
tercuci kedalam media budidaya. waktu perendaman dan demikian
juga sebaliknya.
Menurut Muhammmad Zairin Jr.
(2002), pemberian akriflavin Perendaman yang dilakukan
dengan dosis 15 mg/kg pakan pada fase embrio dilakukan pada
dengan frekwensi pemberian saat fase bintik mata mulai
pakan 3 – 4 kali sehari terbentuk, karena dinggap embrio
menghasilkan 89% ikan jantan telah kuat dalam menerima
dengan survival rate 88%. perlakuan. Kelemahan cara ini
adalah obat atau hormone terlau
Prinsip kerja pencampuran jauh mengenai target gonad,
hormon pada pakan yakni namun lebih hemat pada
hormon dilarutkan dan penggunaan hormone.
diencerkan dalam alkohol. Perendaman juga dapat

89
dilakukan pada umur larva yang bakal testis dan sekaligus bakal ovari.
telah habis kuning telurnya, Selain itu mungkin saja dijumpai
karena ada anggapan pada individu yang steril/abnormal karena
stadia ini gonad masih berada gonadnya tidak dapat berkembang.
pada fase labil sehingga mudah Hal ini biasanya berhubungan
dipengaruhi oleh rangsangan luar. dengan kesesuaian dosis yang
Kelemahannya adalah efektifitas diberikan. Menurut Zairin Jr (2002)
hormone berkurang karena jauh Secara umum dosis yang terlalu
mengenai target gonad. Larva tinggi akan mendorong sterilitas dan
yang dipergunakan dalam dosis yang terlalu rendah akan
penerapan teknologi sex reversal mendorong sex reversal yang tidak
ini adalah larva yang berumur sempurna sehingga bakal testis dan
antara 5 – 10 hari setelah ovari dapat dijumpai pada saat
menetas atau pada saat tersebut bersamaan.
panjang total larva berkisar
antara 9,0 sampai 13 mm , Setelah dilakukan aplikasi teknologi
dimana ikan dengan umur serta seks reversal pada individu ikan,
ukuran seperti tersebut di atas maka harus dilakukan uji progeni. Uji
secara morfologis masih belum progeni ini untuk menentukan
mengalami diferensiasi apakah ikan yang telah ditreatment
kelamin.(Anonim, 2001). tersebut sudah berubah kelamin.
Terdapat dua metode yang
Perendaman induk betina yang digunakan dalam identifikasi jenis
sedang bunting juga merupakan kelamin, antara lain adalah :
salah satu alternative pada 1. Metode asetokarmin
metode dipping namun harus Identifikasi gonad dengan
dipertimbangkan efektifitas dan metode asetokarmin dilakukan
efesiensinya sehingga induk hanya untuk keperluan penelitian,
yang direndam sebaiknya induk- karena ikan harus dimatikan
induk yang berukuran kecil. terlebih dahulu untuk diambil
gonadnya. Asetokarmin adalah
3. Suntikan/implantasi larutan pewarna yang digunakan
Metode suntikan atau implantasi untuk mewarnai jaringan gonad.
ini biasanya hanya dapat Larutan ini dibuat dengan cara
dilakukan pada ikan yang melautkan 0,6 g bubuk karmin
berukuran dewasa. Proses didalam 100 ml asam asetat 45%.
penyuntikan dilakukan pada Larutan dididihkan selama 2 – 4
bagian punggung ikan dengan menit kemudian didinginkan,
dosis yang disesuaikan dengan kemudian disaring dengan kertas
jenis dan ukuran ikan. saring dan disimpan dalam botol
yang tertutup rapat pada suhu
Perlu diperhatikan bahwa ruang.
pengubahan jantanisasi
(maskulinisasi) kadang-kadang Pemeriksaan gonad dilakukan
menunjukkan penyimpangan seperti dengan cara membedah ikan
ditemukan individu yang memiliki terlebih dahulu yang kemudian

90
diambil gonadnya secara hati-hati. akan digunakan. Wadah-wadah yang
Gonad yang sudah terambil digunakan yang mendasar adalah
diletakkan pada gelas objek dan wadah pemeliharaan induk dapat
diberi larutan asetokarmin 2 – 3 berupa kolam semen atau bak-bak
tetes, kemudian dicincang plastik, wadah perlakuan yang
dengan pisau skalpel sampai berupa akuarium dengan ukuran
halus, lalu tutup dengan gelas yang menyesuaikan dengan
penutup dan siap diamati di kepadatan ikan yang akan diberi
bawah mikroskop. perlakuan, dan wadah pemeliharaan
larva.
2. Metode morfologi
Identifikasi kelamin dengan Peralatan yang digunakan pada
pengamatan morfologi adalah teknik sex reversal adalah peralatan
cara terhemat karena tidak harus lapangan pemeliharaan ikan yang
mematikan ikan yang akan berupa seser, selang sipon, aerator,
diamati. Cara ini apat dilakukan selang aerasi, dan batu aerasi.
pada ikan-ikan yang memiliki Peralatan yang akan digunakan
dimorfisme seksual yang jelas sebaiknya disanitasi terlebih dahulu
antara jantan dan betina. dengan menggunakan larutan
desinfektan atau sabun cuci untuk
Aplikasi seks reversal telah berhasil menghindari ikan yang akan
dilakukan pada beberapa jenis ikan dipelihara dari hama penyakit yang
berdasarkan hasil penelitian antara kemungkinan terbawa pada wadah.
lain adalah : Selain peralatan lapangan, untuk
1. Ikan hias : ikan guppy, cupang, melakukan teknik sex reversal juga
tetra kongo dan rainbow trout diperlukan peralatan dalam
dengan menggunakan metode perlakuan melalui pakan yaitu,
perendaman embrio untuk ikan baskom yang digunakan sebagai
cupang dan tetra kongo, wadah dalam pembuatan ramuan
perendaman induk untuk ikan pakan, sendok kayu digunakan untuk
guppy, perendaman larva untuk mengaduk dan meratakan larutan
rainbow dan pemberian pakan. hormon, hand sprayer digunakan
2. Ikan konsumsi : nila dan mas, untuk menyemprotkan larutan
dengan perendaman embrio, hormon dalam pakan, spuit suntik
larva dan pemberian pakan. sebagai alat untuk mengambil
larutan hormon dan botol gelas yang
Langkah awal dalam melakukan berwarna gelap sebagai wadah
seks reversal adalah menyiapkan pelarutan hormon dengan alcohol.
wadah yang akan digunakan. Wadah Sedangkan peralatan yang
yang dapat digunakan untuk diperlukan pada perlakuan melalui
melakukan teknik sex reversal antara rendaman antara lain, baskom
lain adalah akuarium, bak fiber, bak plastik sebagai wadah perendaman
semen, bak plastik. Wadah untuk induk atau larva, aerator sebagai
teknik sex reversal dapat penyuplai udara, spuit suntik sebagai
dikelompokan berdasarkan alat untuk mengambil larutan hormon
kebutuhan dan jenis metode yang dan botol gelas yang berwarna gelap

91
sebagai wadah pelarutan hormon larva untuk mendapatkan berat
dengan alcohol total larva.
4. Timbanglah pakan yang
Bahan-bahan yang harus disediakan dibutuhkan untuk larva sesuai
antara lain hormon 17D dengan dosis yang sudah
metiltestosteron atau estradiol 17E ditentukan (Feeding rate 30 –
sesuai dengan kebutuhan dan tujuan 40% per bobot biomassa/hari)
sex reversal, alcohol sebagai pelarut dikalikan selama 10 hari
hormon, pakan alami atau buatan pemberian pakan.
(bila melalui metode oral) dan air 5. Siapkanlah larutan alkohol
bersih yang telah diendapkan selama dengan konsentrasi 70% sesuai
12 – 24 jam sebagai media dengan kebutuhan.
perendaman (bila menggunakan 6. Siapkanlah hormon yang akan
metode dipping) digunakan sesuai kebutuhan.
Misalnya jumlah kebutuhan
Pembuatan pakan berhormon pakan 250 gram, dosis
Dalam aplikasi seks reversal dengan penghormonan 40 mg/kg pakan,
metode oral melalui pemberian maka timbanglah hormon
pakan berhormon maka dosis sebanyak 10 mg.
hormon yang digunakan akan sangat 7. Larutkanlah hormon tadi ke
spesifik untuk jenis ikan tertentu. dalam alkohol tersebut sebanyak
Dalam prosedur ini akan dibuat 10 ml ( 1mg/ml), lalu simpan
pakan berhormon untuk jenis ikan dalam botol berwarna gelap
nila. Adapun prosedur yang (tidak bening).
dilakukan adalah sebagai berikut : 8. Campurlah larutan hormon
1. Tangkaplah larva ikan yang akan dengan pakan dengan cara
diberikan perlakuan dari menggunakan hand sprayer
kolam/bak pemijahan disemprotkan secara merata
2. Pilihlah larva yang masih pada pakan. Untuk
berumur di bawah 10 hari menghilangkan alkohol angin-
dengan melihat kriteria yang anginkanlah pakan tersebut
sesuai dengan ciri-ciri yang sampai bau alkoholnya sudah
sudah ditentukan. tidak menyengat lagi.
3. Timbanglah biomassa larva yang 9. Simpanlah hormon yang sudah
akan diberi perlakuan dianginkan pada kantong plastik
penghormonan yaitu dengan yang berwarna gelap dengan
cara mengambil dan menimbang ditutp rapat-rapat baik sebelum
beberapa sampel untuk maupun sesudah dipakan, atau
kemudian hasil penimbangan dapat juga disimpan dalam
sampel dibagi dengan jumlah reprigrator (+ 4o C)
rata-rata larva sampel untuk 10. Diskusikan secara berkelompok
mendapatkan berat rata-rata tentang prosedur pembuatan
larva, selanjutnya hitunglah pakan berhormon
jumlah populasi larva, lalu
kalikan dengan berat rata-rata
Pembuatan larutan perendaman

92
4. Masukkan induk tersebut
Aplikasi seks reversal pada ikan kedalam larutan hormon dan
guppy bertujuan untuk menghasilkan rendam selama 24 jam.
ikan berjenis kelamin jantan. Pada 5. Pindahkan induk ikan guppy
ikan guppy jenis kelamin jantan yang telah direndam ke dalam
mempunyai warna dan bentuk tubuh akuarium dan amati proses
yang lebih indah dibandingkan kelahiran anak dan hitung jumlah
dengan ikan betina. Teknik seks anak yang dihasilkan
reversal pada ikan guppy dapat 6. peliharalah anak yang dihasilkan
dilakukan dengan dua metode yaitu sampai berumur 2-3 bulan dan
perendaman induk dan pemberian diidentifikasi jenis kelaminnya
pakan berhormon. Pada metode secara morfologis dan histologis.
perendaman, dosis yang digunakan
adalah 2 mg/l air dan lama Penerapan seks reversal yang telah
perendaman selama 12 jam sampai dilakukan penelitian oleh beberapa
24 jam pada induk ikan yang sedang peneliti yang telah disusun dalam
bunting dan memberikan hasil 100% Zairin (2002) sangat berbeda untuk
jantan. Sedangkan dengan metode jenis ikan tentang dosis dan hasil
pemberian pakan dengan dosis 400 yang diperoleh antara lain adalah :
mg/l dengan lama perlakuan 10 hari x Ikan mas : 100 mg/kg pakan
hanya menghasilkan 58% jantan selama 36 hari pada larva 8 – 63
(Zairin, 2002). Adapun prosedur hari, pada suhu 20 – 25 oC,
pembuatan larutan perendaman menghasilkan 71 – 90% betina
adalah sebagai berikut : x Ikan mas : 100 mg/kg pakan
1. Siapkan alat dan bahan yang selama 36 hari, pakan
akan diperlukan berhormon-cacing-pakan
2. Buatlah larutan hormon dengan berhormon, menghasilkan 97%
cara timbang hormon sebanyak betina
20 mg dan masukkan dalam x Ikan nila 10 – 60 mg /kg pakan,
tabung polietilen dan tambhakan selama 10 – 15 hari, umur 21-28
0,5 ml larutan alkohol 70%. Tutup hari, hasilnya 95-100% jantan
dan kocok sampai hormon larut, x Ikan guppy, 400 mg mt/kg pakan,
kemudian tuangkan hormon selama 10-15 hari pada betina
kedalam wadah berisi 10 liter air bunting, hasil 70% jantan
pemeliharaan , beri aerasi dan x Ikan guppy, 1-2 mg/liter media
siap untuk digunakan. selama 24 jam pada betina
3. Pilihlah induk ikan guppy yang bunting, hasil 100% jantan
sedang bunting dengan melihat x Congo tetra fase bintik mata, 25
bentuk tubuhnya dan pilihlah mg/liter media selama 8 jam,
induk yang akan melahirkan 8 hasil 89% jantan
hari kemudian sebanyak 50 ekor. x Betta splendens/cupang fase
Ikan guppy biasanya mengalami bintik mata, 20 mg/liter media
masa bunting selama 40 hari. selama 8 jam, hasil 85% jantan

93
Keberhasilan teknik sex reversal dapat diketahui melalui beberapa parameter
antara lain :

a. Daya tetas telur atau kualitas larva yang dihasilkan

Jumlah telur yang menetas


Perhitungan daya tetas telur = x 100%
Jumlah telur awal

b. Derajat kelangsungan hidup larva yang dihitung setelah beberapa hari


pemeliharan
Jumlah larva yang hidup
Derajat kelangsungan hidup = x 100%
Jumlah larva awal
c. Nisbah kelamin, perbandingan jenis kelamin yang dihasilkan. Hal ini
dapat dihitung setelah 2-3 bulan pemeliharaan larva.

perhitungan nisbah kelamin untuk mengetahui keberhasilan teknik sex


reversal dengan rumus :

jumlah individu jantan


% jantan = x 100%
jumlah individu total

jumlah individu betina


% betina = x 100%
jumlah individu total

4.1.4. Inbreeding peningkatan frekuensi ketidak


normalan bentuk dan penurunan laju
Inbreeding adalah perkawinan antara pertumbuhan ikan.
individu-individu yang sekerabat
yaitu berasal dari jantan dan betina Silang dalam menyebabkan
yang sama induknya dan pada heterozigositas ikan berkurang dan
varietas yang sama. Inbreeding atau keragaman genetik menjadi rendah.
silang dalam akan menghasilkan Menurut Nurhidayat (2000), lele
individu yang homozigositas. dumbo yang berasal dari Sleman,
Kehomozigotan ini akan Tulung Agung dan Bogor mempunyai
melemahkan individu-individunya stabilitas perkembangan yang
terhadap perubahan lingkungan. rendah akibat telah mengalami
Homozigositas ini berari hanya ada tekanan silang dalam yang
satu tipe alel untuk satu atau lebih ditunjukkan dengan tingginya nilai
lokus. Selain itu silang dalam akan fluktuasi asimetri dan adanya
menyebabkan penurunan individu yang tidak tumbuh sirip dada
kelangsungan hidup telur dan larva, dan sirip perut pada kedua sisinya

94
(abnormal). Menurut Leary et al dibutuhkan suatu penerapan
(1985), individu yang homozigot effective breeding number (Ne) pada
kurang mampu mengimbangi ikan budidaya. Berdasarkan hasil
keragaman lingkungan dan penelitian nilai Ne untuk setiap jenis
memproduksi energi untuk ikan berbeda, misalnya pada ikan
pertumbuhan dan perkembangan. mas nilai Nenya adalah > 50 ekor
Oleh karena itu fluktuasi asimetri yang berarti jika para pembudidaya
merupakan indikator untuk akan melakukan program
mengetahui adanya silang dalam. pembenihan ikan mas dalam suatu
Fluktuasi asimetri ini merupakan hatchery, minimal harus mempunyai
perubahan organ atau bagian tubuh induk dengan jumlah lebih dari 25
sebelah kiri dan kanan yang pasang agar tidak terjadi inbreeding.
menyebar normal dengan rataan Pada ikan nila, nilai Nenya adalah >
mendekati nol. Selain itu individu 133 ekor , sedangkan pada ikan lele
yang mengalami tekanan silang adalah 50 ekor.
dalam mempunyai ketahanan
terhadap perubahan lingkungan yang Dalam memperoleh induk ikan yang
rendah. mempunyai galur murni dapat
dilakukan dengan dua metode yaitu :
Berdasarkan beberapa parameter
pengukuran dalam menentukan 1. Closed breeding.
apakah pada suatu populasi telah Closed breeding berarti
mengalami tekanan silang dalam, perkawinan yang tertutup, yang
memperlihatkan bahwa silang dalam mempunyai arti lain yaitu
memberikan dampak negatif dalam melakukan perkawinan yang
budidaya ikan. Tetapi dalam program dekat sekali kaitan
untuk memperoleh individu galur kekeluargaannya misalnya anak
murni hanya dapat dilakukan dengan dan tetua atau antar saudara
menerapkan program breeding sekandung. Perkawinan antara
ini.Jadi tujuan penerapan silang saudara sekandung atau antara
dalam (inbreeding) hanya bertujuan individu-individu yang sefamili
untuk memperoleh induk ikan yang akan mengakibatkan pembagian
mempunyai galur murni, individu alel-alel melalui satu atau lebih
galur murni mempunyai dari leluhur yang sama. Bila
homozigositas yang tinggi. Program perkawinan individu ini terjadi
breeding ini merupakan program maka alel-alel yang mereka
konvensional dalam memperoleh dapatkan dari leluhur yang sama
induk ikan yang galur murni. akan diperoleh kembali. Maka hal
ini akan mengakibatkan
Perkawinan antara individu-individu keturunan yang dihasilkan adalah
yang sekerabat ini yang sangat dekat individu-individu yang homozigot
kekerabatannya biasa terjadi dalam dari satu atau lebih lokus.
suatu populasi ikan yang sangat kecil. Dengan melakukan silang dalam,
Oleh karena itu untuk menghindari ferkuensi gen tidak berubah
terjadinya silang dalam pada tetapi homosigositas meningkat.
program penegmbangbiakan ikan Menurut Tave (1986) pengaruh

95
silang dalam terhadap frekuensi untuk beberapa generasi.
genotipe dan frekuensi alel Menurut Tave (1986) prosedur
dalam lokus dapat dilihat pada linebreeding dapat dilakukan
Tabel 4.2. dengan dua tipe yaitu Mild
Linebreeding dan Intense
2. Line breeding. Linebreeding. Untuk
Line breeding berarti perkawinan membedakan kedua program
satu jalur yaitu perkawinan linebreeding ini menurut Tave
keluarga yang bertujuan untuk (1986) dapat dilihat pada Gambar
meningkatkan sifat-sifat tertentu 4.1. Dari hasil mild linebreeding
baik yang berasal dari nenek bertujuan untuk individu A
moyang bersama yang jantan berkontribusi 53,12% pada gen
maupun betina terhadap kostitusi individu K, sedangkan pada
genetik pada progeninya. Bentuk intense linebreeding individu A
line breeding yang sering berkontribusi 93,75% pada gen
dilakukan adalah backcross individu G.
kepada orangtuanya yang sama

Tabel 4.2. Pengaruh silang dalam terhadap frekuensi genotipe dan frekuensi
alel dalam lokus. Perkawinan setiap generasi : AA X AA; Aa X Aa;
aa X aa (Tave, 1986)

Frekuensi genotipe Frekuensi Alel


Generasi
f(AA) f(Aa) f (aa) f(A) f(a)

P1 0,25 0,5 0,25 0,5 0,5


F1 0,375 0,25 0,375 0,5 0,5
F2 0,4375 0,125 0,4375 0,5 0,5
F3 0,46875 0,0625 0,46875 0,5 0,5
F4 0,48437 0,3125 0,48437 0,5 0,5
F5 0,49218 0,15625 0,49218 0,5 0,5
F6 0,49609 0,007812 0,49609 0,5 0,5
F7 0,49804 0,003906 0,49804 0,5 0,5
F8 0,49902 0,001953 0,49902 0,5 0,5
F9 0,49951 0,000976 0,49951 0,5 0,5
Fn 0,5 0,0 0,5 0,5 0,5

96
Mild Linebreeding Intense Linebreeding

A X B A X B

Ļ Ļ

C X D A X C

Ļ Ļ

E X G A X D

Ļ Ļ

H X I A X E

Ļ Ļ

A X J G

Gambar 4.1. Diagram skematik perkawinan dua tipe linebreeding yaitu


mildline breeding dan intense line breeding (Tave, 1986).

4.1.5. Aplikasi seleksi induk pada pemeliharaan induk. Biasanya kolam


budidaya induk hanya disesuaikan dengan
kondisi lahan dan keuangan. Untuk
Dalam aplikasi budidaya para petani memudahkan dalam pengelolaan
ikan biasanya melakukan dan efisiensi penggunaan kolam,
pemeliharaan terhadap induk ikan maka luas kolam induk jantan dan
yang diperoleh dari hasil budidaya betina masing-masing berkisar 15 –
dengan cara induk jantan dan betina 30 meter persegi. Setiap kolam
dipelihara secara terpisah. Hal ini dilengkapi dengan saluran
lebih memudahkan dalam pemasukan dan pengeluaran air. Di
pengelolaan, pengontrolan dan yang kedua saluran ini biasanya
terpenting dapat mencegah dilengkapi dengan saringan agar
terjadinya memijah diluar kehendak induk-induk tersebut tidak keluar
“mijah maling”. Kolam induk berupa atau kabur. Kepadatan penebaran
kolam tanah, kolam tembok, atau induk antara 3 – 4 kg/m2, sedangkan
kolam tanah dengan pematang dari ketinggian air dikolam induk antara
tembok. Tidak ada ketentuan khusus 60 – 75 cm. Agar diperoleh
tentang ukuran kolam untuk kematangan induk yang memadai,

97
setiap hari induk di beri pakan bergizi. secara berkala sampai mendapat
Jenis pakan yang diberikan berupa induk yang benar-benar baik dan
pakan buatan berupa pelet sebanyak sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan
3 – 5 % perhari dari bobot induk pembenihan ikan lele diawali dengan
yang dipelihara. Ada juga induk ikan seleksi induk. Induk yang akan dipilih
yang diberikan pakan berupa limbah adalah induk jantan dan betina yang
peternakan ayam (ayam yang mati) matang gonad. Ciri-ciri induk betina
yang dibakar atau direbus terlebih ikan lele adalah genital papila
dahulu. berbentuk bundar (oval), bagian
perut relatif lebih besar, gerakan
4.1.5.1. Seleksi Induk Ikan Lele lambat, jika di raba bagian perut
terasa lembek dan alat kelamin
Seleksi induk ikan lele secara umum berwarna kemerah merahan.
di mulai dari ikan ukuran benih (5-10 sedangkan induk jantan dicirikan
cm ). Benih ikan yang baik untuk dengan genitalnya meruncing ke
induk di pilih dengan ciri-ciri antara arah ekor, perut ramping dan pada
lain adalah memiliki pertumbuhan ujung alat kelamin berwarna
yang lebih cepat, tidak cacat, kemerahan selain itu ada perubahan
gerakan lincah dan memiliki bentuk warna tubuh menjadi coklat
tubuh yang baik. Benih/calon induk kemerahan. Untuk lebih jelasnya
tersebut dipelihara didalam kolam dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan
dengan baik, selanjutnya calon induk Gambar 4.3.
tersebut dilakukan seleksi induk

Gambar 4.2. Induk ikan lele betina tampak atas (kiri) dan genital papilla
(kanan)

98
Gambar 4.3. Induk ikan lele jantan tampak atas (kiri), genital papilla (kanan)

Induk yang sudah dipilih x Lubang kelamin berwarna


berdasarkan matang gonadnya, kemerahan dan tampak agak
kemudian diberok (dipuasakan) membesar.
selama 2 hari. Selama pemberokan x Jika bagian perut secara
induk jantan dan betina dipisahkan. perlahan diurut ke arah anus,
Tujuan dari pemberokan ini adalah akan keluar beberapa butir telur
untuk mengurangi kandungan lemak berwarna hijau tua dan
pada tubuh ikan. Hal ini disebabkan ukurannya relatif besar.
lemak pada tubuh ikan dapat x Gerakannya lambat.
menghambat ovulasi telur pada
betina dan pengeluaran sperma Ciri-ciri induk jantan lele dumbo
pada induk jantan. Induk yang akan jantan yang telah siap untuk
diberok dipisahkan antara induk dipijahkan sebagai berikut :
jantan dan betina. Hal ini bertujuan x Alat kelamin tampak jelas
untuk menghindari mijah maling. memerah
Selain itu, pemisahan induk tersebut x Warna tubuh agak kemerah-
bertujuan mempercepat pemijahan merahan
ikan. x Tubuh ramping dan gerakannya
lincah.
Ciri-ciri induk betina lele dumbo yang
siap untuk dipijahkan sebagai
berikut: 4.1.5.2. Seleksi induk ikan Mas
x Bagian perut tampak membesar
ke arah anus dan jika diraba
terasa lembek. Induk ikan Mas yang akan dipijahkan
sebaiknya dipelihara dalam tempat

99
yang terpisah antara jantan dan x Calon induk harus berasal dari
betina agar pertumbuhan induk ikan keturunan yang berbeda, baik
opimal dan tidak terjadi perkawinan jantan maupun ikan betina.
yang tidak diinginkan. Dalam x Calon induk harus mempunyai
pemeliharaan induk ikan Mas harus sifat cepat tumbuh, sehat, tahan
dilakukan dengan baik dan benar terhadap penyakit dan
agar diperoleh induk yang siap dan perubahan lingkungan serta
unggul untuk dikawinkan. responsive terhadap pakan.

Pemeliharaan induk ikan Mas Calon-calon induk yang telah di


merupakan salah satu aspek penting seleksi dipelihara di kolam
yang harus dilaksanakan dalam pemeliharaan induk sampai siap
program pengembangbiakan ikan untuk dipijahkan. Agar diperoleh
Mas. Induk ikan Mas yang dipelihara induk yang berkualitas dan dapat
dengan baik akan menghasilkan telur menghasilkan telur dalam jumlah
dan benih ikan dalam jumlah dan yang maksimal, yang harus
kualitas yang diharapkan. diperhatikan adalah:
x Pemeliharaan pakan yang teratur,
Induk ikan yang baik sebaiknya pakan yang diberikan harus
dipelihara dari masa benih, hal mempunyai kadar protein 30-
tersebut dapat dilihat dari gerakan 35%, jumalh pakan yang
yang incah, tumbuh bongsor, sehat diberikan per hari berkisar antara
dan mempunyai nafsu makan yang 2-3% dan frekuensi pemberian
baik. Pemeliharaan benih calon pakan sebanyak 2-3 kali.
induk sebaiknya dilakukan sejak x Kondisi kolam pemeliharaan
pemanenan, benih umur 1 bulan. harus optimal, yaitu kandungan
Dalam pemeliharaan calon induk ini oksigen terlarut minimal 5 ppm,
harus diberi pakan yang cukup dan suhu air berkisar25-300C dan air
bergizi. Calon-calon induk yang tidak tercemar.
dipelihara tersebut selanjutnya di x Padat penebaran calon induk
seleksi kembali pada saat berukuran berkisar antara 0,1 kg/m2 – 0,25
100-200 gram. Calon induk jantan kg/m2.
dan betina dipilih berdasarkan ciri-iri
morfologisnya yang baik, diantaranya Calon-calon induk tersebut dipelihara
adalah: sampai mencapai ukuran tertentu
x Calon induk harus mempunyai untuk dipijahkan. Induk ikan Mas
karakter morfologis dengan jantan lebih cepat matang gonad
kriteria sebagai berikut: bentuk dibandingkan dengan ikan Mas
tubuh kekar, pangkal ekor kuat betina. Umur ikan Mas jantan 10-12
dan lebar, sisik besar dan teratur, bulan dengan bobot 0,6-0,75 kg
warna cerah, kepala lancip dan sudah sampai matang kelamin,
lebih kecil dari lebar tubuh (1 : sedangkan induk betina yang ideal
1,5), daerah perut melebar dan mencapai matang gonad pada umur
datar, badan tebal dan 1,5-2 tahun dengan berat 2-3 kg.
berpunggung tinggi. Induk ikan Mas yang akan dipijahkan

100
harus benar-benar dapat dibedakan ciri-ciri induk jantan dan betina ikan
antara jantan dan betina. Adapun Mas dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Ciri-ciri Induk Jantan dan Betina Ikan Mas

No Jantan Betina

1. Sirip dada relatif panjang, jari-jari Sirip dada relatif pendek, lunak,
luar tebal lemah, jari-jari luar tipis
2. Lapisan sirip dada kasar Lapisan dalam sirip dada licin
3. Kepala tidak melebar Kepala relatif kecil, bentuk agak
meruncing
4. Tubuh lebih tipis/langsing, Tubuh lebih tebal/gemuk
ramping dibandingkan betina dibandingkan jantan pada umur
pada umur yang sama yang sama
5. Gerakannya gesit Gerakannya lamban dan jinak
6. Sehat dan tidak cacat Sehat dan tidak cacat
7. Sisik teratur dan warna cerah Sisik teratur dan warna cerah

Induk ikan Mas jantan dan betina baik akan dapat mencapai matang
harus dipelihara dalam kolam yang gonad. Adapun ciri-ciri induk ikan
terpisah agar ikan cepat matang Mas yang matang gonad dapat
kelamin dan tidak terjadi perkawinan dilihat pada Tabel 4.2. dan Gambar
liar. Induk yang dipelihara dengan 4.3 dan Gambar 4.4.

Tabel 4.2 . Ciri-ciri Induk Jantan dan Betina Matang Gonad

No Jantan Betina

1. Tubuh ramping Perut membulat dan lunak jika


diraba
2. Mengeluarkan cairan putih/ Genital papilla mengembang,
sperma bila perut ditekan ke arah agak terbuka dan berwarna
anus kemerahan
3. Lubang anus melebar dan
menonjol (agak membengkak)

101
Gambar 4.3. Induk ikan mas betina tampak atas (kiri) dan genital papilla
(kanan)

Gambar 4.4. Induk ikan mas jantan tampak atas (kiri), genital papilla (kanan)

4.1.5.3. Seleksi induk ikan nila induk agar mampu hidup dan
berkembang-biak secara optimal.
Pengelolaan induk dalam kegiatan
Ruang lingkup pengelolaan induk
usaha pembenihan mempunyai
dengan mengacu pada ketercapaian
peran yang sangat penting dalam
efisiensi suatu usaha pembenihan
menunjang keberhasilan, karena
ikan dapat di kelompokan ke dalam
induk merupakan salah satu faktor
tiga kelompok yaitu pengadaan induk,
utama yang akan menentukan
pemeliharaan calon induk, dan
kualitas dan kuantitas benih yang
peningkatan mutu induk atau
dihasilkan.
mempertahankan mutu induk.
Pengelolaan induk dilakukan atas
Untuk dapat mencapai efisiensi
dasar sifat induk dan kebutuhan
suatu usaha pembenihan, dalam

102
pengadaan induk ada dua hal yang pemeliharaan (umur produktif)
harus diperhatikan yaitu kuantitas baik yang disebabkan oleh
calon induk dan kualitas calon induk. kematian/hilang atau sesuatu hal
Perhitungan untuk menentukan sehingga induk tersebut tidak
berapa jumlah induk yang harus berproduksi untuk menghasilkan
tersedia dalam suatu unit telur.
pembenihan, agar dapat
menghasilkan benih sesuai dengan Dari aspek tersebut diatas secara
peluang atau pangsa pasar yang ada, praktis jumlah induk ikan nila pada
maka dalam menghitung jumlah suatu areal/kolam pemijahan
induk harus mempertimbangkan 4 ditentukan oleh induk jantan dan
aspek yaitu : ukuran induk. Hal ini disebabkan sifat
x Skala usaha, yaitu satuan unit ikan nila memijah adalah dimana
usaha terkecil dalam pembenihan induk jantan akan membuat suatu
ikan nila yang secara ekonomis daerah teritorial yang tidak boleh
masih mampu memberikan digangggu ikan lain. Dengan
efisiensi dan keuntungan yang demikian jumlah ikan betina
optimal. umumnya lebih banyak dari pada
x Kuantitas dan kontinuitas ikan jantan agar mudah memberi
produksi, yaitu banyaknya produk kesempatan pada jantan untuk dapat
(benih) yang harus dihasilkan menemukan betina yang matang
sesuai dengan kriteria yang gonad.
ditentukan dalam periode dan
interval waktu tertentu secara
terus menerus sesuai dengan Setelah mengetahui tanda-tanda
target yang telah ditentukan. calon induk yang baik pada ikan nila,
x Produktifitas induk, yaitu selanjutnya kita harus mampu
kemampuan induk betina dari membedakan induk jantan dan induk
setiap pemijahan untuk betina. Untuk dapat membedakan
menghasilkan benih ikan nila antara induk jantan dan betina dapat
sesuai dengan kriteria yang dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar
ditentukan. 4.5.
x Mortalitas induk, yaitu prosentase
jumlah induk yang hilang selama

Tabel 4.3 . Ciri-ciri Induk Jantan dan Betina

CIRI-CIRI INDUK BETINA CIRI-CIRI INDUK JANTAN


x Dagu relatif kecil berwarna putih. x Dagu menonjol berwarna merah.
x Sirip dada berwarna hitam dan x Sirip dada berwarna coklat
pendek. kemerahan dan relatif panjang.
x Perut melebar berwarna putih. x Perut pipih warna hitam.

103
x Bila perut diurut dari dada ke x Bila perut diurut dari dada ke
genitalia keluar cairan bening. genitalia tidak keluar cairan.

menonjol serta jika diraba bagian


perut terasa lembek. Sedangkan
ciri-ciri induk jantan ikan patin yang
dapat dipijahkan adalah bila bagian
perut diurut ke arah anus akan keluar
cairan putih dan kental. Untuk dapat
membedakan induk ikan patin jantan
dan betina yang matang gonad dapat
dilihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6. Induk ikan patin jantan


(atas) dan betina
Gambar 4.5. Induk ikan nila
(bawah)

Induk ikan yang telah diseleksi


4.1.5.4. Seleksi induk ikan patin
selanjutnya diberok (dipuasakan)
selama 1-2 hari. Selama
Induk ikan patin dapat dipijahkan
pemberokan induk ikan, air terus
setelah umur 2-3 tahun. Pada umur
menerus dialirkan ke kolam/wadah
tersebut induk ikan patin telah
pemberokan. Tujuan pemberokan
memiliki berat badan 3-5 kg/ekor.
adalah untuk mengurangi kadar
Ciri-ciri induk betina adalah memiliki
lemak pada saluran pengeluaran
bentuk urogenital bulat dan perut
telur. Oleh sebab itu selama
relatif lebih mengembang
pemberokan induk ikan tidak diberi
dibandingkan induk jantan.
makan. Bila bagian perut induk ikan
Sedangkan induk jantan memiliki
betina masih tampak membesar
papila dan bagian perut lebih
setelah pemberokan, induk ikan
ramping.
tersebut dikanulasi (dilakukan
penyedotan telur ikan dengan
Induk betina ikan patin yang matang
kateter) untuk menetukan apakah
gonad mempunyai ciri-ciri bagian
induk ikan tersebut sudah siap
perut membesar ke arah lubang
dipijahkan. Untuk lebih jelasnya
genital berwarna merah,
dapat dilihat pada Gambar 4.6.
membengkak dan mengkilat agak

104
Kanulasi bertujuan untuk mengetahui Pemijahan adalah proses
derajat kematangan gonad induk perkawinan antara ikan jantan dan
betina dengan mengukur betina. Dalam budidaya ikan teknik
keseragaman diameter telur. pemijahan ikan dapat dilakukan
Kanulasi dilakukan dengan cara dengan 3 macam cara, yaitu:
menyedot telur dengan 1. Pemijahan ikan secara alami,
menggunakan selang kecil (kateter) yaitu pemijahan ikan tanpa
berdiameter 2-2,5 mm. Selang kecil campur tangan manusia, terjadi
tersebut dimasukkan ke dalam secara alamiah (tanpa pemberian
lubang urogenital sedalam 4 - 6 cm rangsangan hormon).
ke dalam ovarium. Ujung selang 2. Pemijahan ikan secara semi
yang lain dihisap dengan mulut intensif, yaitu pemijahan ikan
selanjutnya selang tadi ditarik keluar yang terjadi dengan memberikan
dari lubang urogenital, lalu ditiup rangsangan hormon untuk
untuk mendorong telur keluar dari mempercepat kematangan gonad,
selang. Telur yang keluar dari selang tetapi proses ovulasinya terjadi
ditampung pada lempeng kaca tipis secara alamiah di kolam.
atau pada wadah lain. Selanjutnya 3. Pemijahan ikan secara intensif,
telur tersebut diukur garis tengahnya yaitu pemijahan ikan yang terjadi
menggunakan penggaris. Bila 90 - dengan memberikan rangsangan
95% telur memiliki garis tengah 1,0 – hormon untuk mempercepat
1,2 mm, berarti induk betina tersebut kematangan gonad serta proses
dapat dipijahkan. Selain itu ciri-ciri ovulasinya dilakukan secara
telur yang telah matang adalah akan buatan dengan teknik stripping/
cepat mengering atau saling pengurutan.
berpisah bila diletakkan dipunggung
tangan. Untuk dapat melakukan pemijahan
ikan pada beberapa jenis ikan
budidaya maka harus memahami
tentang tingkat kematangan gonad
dan faktor-faktor yang sangat
berpengaruh terhadap kematangan
gonad. Hal ini harus dipelajari karena
tingkat kematangan gonad ikan
sangat mempengaruhi keberhasilan
pemijahan ikan. Walaupun saat ini
telah banyak diketemukan hormon–
hormon perangsang pertumbuhan
dan pematangan gonad, namun
tetap saja membutuhkan waktu
Gambar 4.7. Kanulasi induk ikan
dalam proses pertumbuhan dan
patin
pematangannya.

Tingkat kematangan gonad ikan


4.2. TEKNIK PEMIJAHAN IKAN
dapat dideteksi dengan melihat

105
tanda-tanda morfologi dan fisiologi ikan akan terserap kembali atau
sel telur atau sel sperma. Tanda- atresia.
tanda morfologis ikan matang gonad
untuk ikan betina antara lain adalah :
4.2.1. Perkembangan dan
gerakannya lamban, perut gembung,
pematangan gonad
perut bila diraba terasa lunak, kulit
kadang kelihatan memerah, kadang-
Perkembangan telur dipengaruhi
kadang telur telah keluar pada
oleh faktor dalam dan luar dari ikan
lubang genital, lubang genital
(lingkungan dan pakan). Pengaruh
memerah. Dan tanda-tanda sel telur
faktor lingkungan terhadap
matang secara fisiologis adalah:
gametogenesis dibantu oleh
Polar Body I telah keluar, Germinal
hubungan antara poros Hipotalamus-
Vesicle/GV (Inti sel) telah menepi
Pituitary-Gonad melalui proses
berada di depan microfile, warna
stimulisasi atau rangsangan.
telur telah transparan, ukuran telur
Hormon-hormon yang ikut dalam
mendekati 1 mm. Sejenak sebelum
proses ini adalah GnRH dan Steroid.
ovulasi GV akan melebur sehingga
Keadaan ini memungkinkan untuk
disebut Germinal Vesicle Break
perlakuan pemberian hormone baik
Down (GVBD).
melaui penyuntikan, implantasi dan
pakan.
Sedangkan tanda-tanda ikan jantan
matang gonad secara morfologis
Hormon sangat penting dalam
antara lain adalah : ikan lebih
pengaturan reproduksi dan sistem
langsing dibanding ikan betina,
endocrine yang ada dalam tubuh,
gerakannya lincah, bila diurut kearah
yang reaksinya lambat untuk
lubang genital cairan seperti susu
menyesuaikan dengan keadaan luar.
akan keluar. Dan tanda-tanda sel
Hasil kegiatan sistem endocrine
sperma matang antara lain adalah :
adalah terjadinya keselarasan yang
warna kental seperti susu/santan,
baik antara kematangan gonad
organ sperma telah lengkap,
dengan kondisi di luar, yang cocok
motilitas tinggi, kenormalan lebih dari
untuk mengadakan perkawinan.
90%. Disamping kesehatan,
Aktivitas gonadotropin terhadap
kenormalan ikan merupakan unsur
perkembangan gonad tidak langsung
yang penting juga, karena faktor ini
tetapi melalui biosintesis hormon
akan diturunkan kepada anaknya.
steroid gonad pada media stadia
gametogenesis, termasuk
perkembangan oosit (vitelogenesis)
Pada saat pemilihan induk ikan
pematangan oosit, spermato-genesis
matang gonad usahakan induk ikan
dan spermiasi.
tidak stress. Jika induk ikan stress
walaupun kematangan gonadnya
Hormon gonadotropin dengan
sudah memenuhi, ikan tersebut
glicoprotein rendah dapat mengontrol
biasanya tidak akan memijah. Jika
vitelogenesis, sedangkan yang tinggi
demikian keadaannya pemijahan
mengakibatkan aksi ovulasi. Hormon
ikan bisa tertunda atau malah tidak
tiroid akan aktif bersinergi dengan
jadi memijah, yang akhirnya telur

106
gonadotropin untuk mempengaruhi antar organ dan sel, dan juga antar
perkembangan ovari dan generasi pada kasus hormon di
kemungkinan lain juga untuk dalam telur. Hormon sebagai
meningkatkan sensitivitas pengaruh mediator biokimiawi dilepas dari
gonadotropin. Sel target hormon tempat produksinya menuju organ
gonadotropin adalah sel teka yang target melalui beberapa cara, yaitu
merupakan bagian luar dari lapisan (a) difusi sederhana di dalam sel
folikel. Pada ikan goldfish dan atau dari satu sel ke sel lainnya di
rainbowtrout dihasilkan 17D- dalam organ; (b) transportasi melalui
hidrokxy-20E-dihidroxyprogresterone darah atau berbagai cairan tubuh
(17 D, 20E-Pg) oleh lapisan folikel sehingga langsung mencapai organ
sebagai respon terhadap aktifitas atau sel; atau (c) secara tidak
gonadotropin untuk merangsang langsung melalui lingkungan luarnya.
kematangan telur. Teori yang lain
kontrol endokrin terhadap Sistem endokrin didalam tubuh
kematangan oosit dan ovulasi pada sangat kompleks tetapi biasanya
teleostei adalah GTH merangsang mengikuti dua prinsip. Pertama
(a) sintesa steroid pematangan pada berdasarkan responnya dibagi
dinding folikel (ovari) dan (b) sekresi menjadi dua kelenjar endokrin, yaitu
mediator ovulasi. pituitary dan beberapa kelenjar
dibawah kontrol pituitary. Kedua,
Sistem endokrin dan sistem saraf hormone yang dihasilkan oleh
merupakan sistem kontrol pada kelenjar tersebut seringkali
semua makhluk hidup tidak menghambat produksi hormone
terkecuali ikan, sistem ini adalah pituitary, proses ini disebut
cara utama tubuh untuk penghambatan feedback. Adanya
menyampaikan informasi antar sel bentuk kombinasi sistem
dan jaringan yang berbeda. Dalam penghambatan feedback ini
sistem endokrin dilakukan sekresi menyebabkan terjadinya
internal dari substansi aktif biologik. keseimbangan respons. Jadi sistem
Sistem endokrin menggunakan endokrin mengontrol dirinya sendiri
messenger kimia yang disebut sebagaimana halnya mengontrol
hormone yang ditransportasikan oleh sistem organ yang lain. Skema
sistem pembuluh darah. Sistem pengaturan sekresi hormone
endokrin lebih lambat daripada diilustrasikan pada Gambar 4.8.
sistem saraf karena hormone harus
melalui perjalanan ke sistem
memutar untuk mencapai organ
target.

Berdasarkan dari sudut ilmu,


endokrin merupakan mediasi
biokimia pada proses fisiologis.
Mediasi ini dapat terjadi antar
populasi, antar organisma, antar
jaringan di dalam suatu organisma,

107
endokrin juga memungkinkan tubuh
untuk dapat mengatasi stress.

Kelenjar endokrin dilihat dari asal


embrionya berdiferensiasi dari
seluruh lapisan germinal. Untuk yang
berasal dari mesoderm (korteks
adrenal, gonad) menghasilkan
hormone-hormon steroid; dan yang
berkembang dari ectoderm atau
endoderm mensekresikan hormone
amino termodifikasi, peptid atau
protein.

Gambar 4.8. Skema pengaturan Kelenjar endokrin pada ikan menurut


sekresi hormone, + menunjukkan Lagler et al (1962) terdapat pada
sekresi hormone; - menunjukkan beberapa organ antara lain adalah
mekanisme feedback pituitary, pineal, thymus, jaringan
ginjal, jaringan kromaffin, interregnal
Secara umum sistem endokrin ikan tissue, corpuscles of stannous,
sama dengan vertebrata lainnya. thyroid, ultibranchial, pancreatic
Ikan memiliki urofisis yang terletak islets, intestinal tissue, interstitial
pada pangkal ekor, tetapi tidak tissue of gonads dan urohypophysis.
memiliki kelenjar paratiroid. Sistem Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 4.9.

Gambar 4.9. Letak dan jenis kelenjar endokrin ikan dari arah depan ke arah
belakang (Lagler et al.,1962)

108
Kelenjar endokrin pada ikan Stimulating Hormone (FSH) yang
menghasilkan jenis hormone tertentu, merangsang produksi gamet oleh
seperti pada kelenjar utama pada gonad atau merangsang
ikan adalah pituitary dimana pada pematangan gonad (vitellogenesis),
kelenjar tersebut menghasilkan Luteinezing Hormone (LH) yang
sembilan macam sel penghasil merangsang produksi sex hormone
hormone yaitu prolactin (PL), yaitu testosterone, estrogen,
corticotrophs (CT), Gonadotrophs progesterone atau merangsang
(GTH), Somatotrophs (STH), pematangan akhir.
Thyrotrophs (TSH), Melanotrophs
(MSH) dan Neurosecretory nerve Kelenjar lainnya penghasil hormon
ending (NS). Hormon yang terdapat adalah kelenjar Thyroid antara lain
pada kelenjar pituitary antara lain adalah Tiroksin Tetraiodothyronine
adalah Oxytocin yang berfungsi (T4), Triidothyronine (T3) dan
merangsang konstraksi urine dan Calcitonin. Fungsi dari hormon
kelenjar susu, Anti Diuretic Hormone tersebut antara lain adalah
(ADH) yang berfungsi menaikkan meningkatkan laju metabolisme,
tekanan darah lewat aksinya pada esensial untuk pertumbuhan dan
arteriola dan menggiatkan reabsorbsi perkembangan normal. Hormon
air dari tubuli ginjal serta hormon ini Thyroid pada ikan selalu berasosiasi
sangat penting dalam osmoregulasi dengan hormone pertumbuhan dan
yaitu pengaturan tekanan osmosis cortisol memberikan kontribusi pada
cairan tubuh. Kedua hormon tersebut kontrol pertumbuhan dan
terdapat pada bagian posterior perkembangan, metabolisme dan
pituitary. Pada bagian anterior osmoregulasi. Sedangkan Calcitonin
pituitary terdapat beberapa macam merangsang penyimpanan kalsium
hormon diantaranya adalah hormon pada tulang, sekresi calcitonin
pertumbuhan yang berfungsi dirangsang oleh tingginya kalsium
merangsang pertumbuhan dan dalam darah.
mengontrol proses osmoregulasi;
hormon prolactin pada mamalia Pada kelenjar adrenal cortex yang
menstimulasi aksi produksi susu, merupakan lapisan luar dari kelenjar
pada ikan kontrol hidromineral (air adrenal menghasilkan beberapa
tawar) hyperosmotic regulation pada jenis hormone antara lain adalah
ikan teleost selain itu prolactin pada cortisol (A. Glucocorticoid),
ikan air tawar berfungsi untuk Aldoserone (Mineralocorticoid),
maintannce ion dan water kortikosterone. Produksi cortisol
permeability pada ephitelium dari meningkat sebagai akibat dari
organ osmoregulasi, dan pada berbagai stimulant stress yaitu
beberapa ikan prolactin memberikan rendahnya kualitas air, penanganan,
efek dalam mengontrol gonadal kenyamanan ikan, pollutant dan
steroidogenesis, metabolisme lemak water acidification. Fungsi utama
dan parental panning. cortisol ini berkaitan dengan
metabolisme energi, ion regulation
Hormon selanjutnya yang dihasilkan dan respon terhadap stress.
dari anterior pituitary adalah Follicle

109
Kelenjar adrenal medulla atau sel
kromaffin menghasilkan hormone Pada kelenjar pineal dihasilkan
antara lain adalah ephineprin dan hormone melatonin, sedangkan pada
norephinephrin. Epinephrin berfungsi kelenjar thymus dihasilkan hormone
mobilisasi glikogen, bertambahnya Thymosin, Pada gastrointestinal
aliran darah lewat otot skeletal, endocrine cels dihasilkan beberapa
bertambahnya konsumsi oksigen hormone utama antara lain adalah
denyut jantung, sedangkan Glucagon, Glucagon Like Peptide,
norephineprin berfungsi pada Somatostantin, Pancratic
neurotransmitter adrenergic, naiknya Polypeptide, Gastrin, Sekretin,
tekanan darah dan konstraksi Cholecytokin, Bombensin,
arteriola dan venula. Enkephalin, Tachikinins, Serotonin,
Vasoactive Intestinal Peptida,
Hormon yang dihasilkan oleh neuropeptide, Gatric Inhibitory
kelenjar endocrine pancreas pada peptide. Sedangkan pada Urophysis
kebanyakan vertebrata terdapat dihasilkan hormone Urotensin I dan
pada pulau-pulau individu dari sel Urotensin II yang secara fisiologis
sekresi yang diliputi oleh connective masih belum jelas fungsinya namun
tissue dan terbenam dalam exocrine diduga berperan dalam
tissue dari pancreas. Pada Islet of osmoregulator dan fisiologi
Langerhans ini mengandung 4 tipe reproduksi, ekstrak urophysis
sel endocrine yaitu A cell (Glucagon), menyebabkan konstraksi gonadal
B cell (Insulin), D cell smooth muscle. Hal ini dimungkinkan
(Somatostantin) dan F cell atau PP Urotensin mensikronisasi
(Pancreatic Polypeptide). Glucagon osmoregulasi dan reproduksi pada
berfungsi meningkatkan glukosa ikan matang gonad. Urotensin II
darah, merangsang katabolisme mempunyai fungsi antara lain adalah
protein, selain itu dapat menstimulasi kontraksi jantung, kantung kemih,
lipolysis pada ikan atau memobilisasi usus, penyerapan ion di usus.
lemak. Insulin pada ikan berfungsi
untuk menurunkan glukosa darah, Pada jaringan chromaffin juga
menambahkan pemakaian glukosa dihasilkan hormone antara lain
dan sintesis protein serta lemak dan adalah catecholamines, adrenalin
menurunkan glukoneogenesis dan dan nor adrenalin. Pada teleost
merangsang glikogenesisi. katekolamin memiliki pengaruh
Somotostantin merupakan hormone penting pada peredaran oksigen ke
yang menghambat pertumbuhan, jaringan, mempengaruhi pergerakan
peran pada ikan secara fisiologis ion pada ikan yang meningkatkan
belum jelas tetapi dengan pertukaran ion melalui insang
menyuntikkan somatostantin pada dengan menstimulasi peningkatan
coho salmon dapat menyebabkan luar area gill lamella dalam kontak
penurunan insulin, plasma, dengan lingkungan.
glucagons menurun dan level GLP
serta berhubungan dengan Pada subbab ini akan dibahas
penurunan glikogen hati dan tentang mekanisme aksi-aksi
hyperglycemia. hormone steroid pada ikan. Hormon

110
steroid adalah hormone yang masuk kedalam nucleus dimana
memiliki struktur kimia berdasarkan akan berikatan dengan chromatin
pada inti steroid, yang mirip dengan dan mengaktivasi gen yang spesifik.
cholesterol dan sebagian besar jenis Gen (DNA) yang mengandung
hormone ini berasal dari kolesterol informasi akan memproduksi protein.
itu sendiri, disekresi oleh korteks Ketika gen aktif maka protein akan
adrenal (kortisol dan aldosteron), dihasilkan secara diagram dapat
ovarium (estrogen : estradiol-17ß, dilihat pada Gambar 4.10.
esteron, estriol dan lain-lain,
progesterone), testis (androgen :
androstendion, testosterone, 11-
ketotestosteron dan lain-lain) dan
plasenta (estrogen dan
progesterone). Menurut Koolman &
Rohm (2001) hormone adalah bahan
kimia pembawa sinyal yang dibentuk
dalam sel-sel khusus pada kelenjar
endokrin. Hormon disekresikan ke
dalam darah kemudian disalurkan ke Gambar 4.10. Mekanisme hormone
organ-organ yang menjalankan steroid
fungsi-fungsi regulasi tertentu secara
fisiologik dan biokimia. Sel-sel Teori lain untuk pematangan sel telur
sasaran pada organ sasaran adalah adanya hubungan erat antara
memiliki reseptor yang dapat poros Hipotalamus-Pituitary-Gonad.
mengikat hormone, sehingga Hipotalamus akan melepas GnRH
informasi yang diperoleh dapat jika dopamin tidak aktif. Fungsi
diteruskan ke sel-sel akhirnya GnRH adalah merangsang keluarnya
menghasilkan suatu respon. Pesan GtH (Gondotropin) yang berada pada
hormone disampaikan pada sel-sel Hipofisa. Jika GtH keluar maka
sasaran menurut dua prinsip yang hormon Testosteron yang berada
berbeda. Hormon lipofilik masuk pada sel theca keluar, sedangkan
kedalam sel dan bekerja pada inti sel, hormon Testosteron akan
sedangkan hormone hidrofilik merangsang dikeluarkannya hormon
bekerja pada membrane sel. Hormon
Estradiol-17E yang berada pada sel
steroid dan tiroksin termasuk
granulose. Hormon Estradiol-17E ini
kedalam kelompok hormone lipofilik.
akan menggertak kerja liver untuk
Hormon ini menembus membrane
memproses precursor kuning telur
sel dan berikatan pada suatu
(vitellogen) untuk dikirimkan ke sel
reseptor spesifik didalam sasaran.
telur sebagai kuning telur. Dengan
demikian pertumbuhan telur terjadi.
Berdasarkan uraian diatas maka
mekanisme hormone steroid adalah
dengan cara hormone steroid masuk
Sebagai pematang sel telur
kedalam sel dan berikatan dengan
diperlukan media MIH (Maturtaion
reseptor didalam sitoplasma.
Inducing Hormon) dan MPF
Hormon reseptor yang kompleks

111
(Maturation Promoting Factor) untuk adalah Gonadotropin yaitu GTH I
hormon 17D,20E-dyhidroxy-4- dan GTH II, sehingga ekstrak
pregnen-3-one yang bersumber dari kelenjar hipofisa sering digunakan
sel granulose. sebagai perangsang pematangan
gonad. Letak kelenjar hipofisa ini
terdapat pada bagian otak sebelah
depan. Kelenjar ini menempel pada
4.2.2. Kelenjar hipofisa, HCG dan
infundubulum dengan suatu tangkai
ovaprim
yang pendek, agak panjang atau
pipih bergantung pada jenis ikannya.
Kelenjar hipofisa banyak sekali
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
mengandung hormon terutama
pada Gambar 4.11 tentang otak dan
hormon yang berhubungan dengan
bagian-bagian pada ikan maskoki
perkembangan dan pematangan
dan hampir sama untuk semua ikan.
gonad. Hormon tersebut diantaranya

Gambar 4.11. Representasi diagram pada penampang sagittal dari otak goldfish sebagai dasar
penampang seri menggambarkan topografi dari GHRH-ir perikarya pada otak, pinealocytes
dalam pineal dan corticotrophs pada pituitary (siklus yang gelap). Garis putus-putus
mengindikasikan GHRH-ir fiber tract. Catatan bahwa GHRH-ir fiber pada area NPO dan PVO
tidak asli pada nuclei ini., tetapi area transverse. AVT, Area Ventralis Telencephali, CBL,
Cerebellum, FL, Facial Lobes, GNC, Glomerular Nuclear Complex, INF, Hypothalamic Inferior
Lobe, LR, Lateral Recess, NLL, Nucleus of the Lateral Lemniscus, NLTi Nucleus Lateralis
Tuberis pars Lateralis, NLTp, Nucleus Lateralis Tuberis pars posterioris, NPO, Nucleus
Preopticus, NPP, Nucleus Preopticus Periventricularis; OLB, Olfactory Bulb; ON, Optic Nerve;
OT, Optic Tectum; PIN, pineal; PIT, Pituitary; PVO, Paraventricular Organ; SGN, Secondary
Gustatory Nucleus; TEL, Telencephalon. (Rao, et al., 1995).

Pematangan oosit dan ovulasi telur (1) hilangnya ikan donor karena
dengan menggunakan ekstraksi diambil kelenjar hipofisanya.
kelenjar hipofisa banyak (2) standarisasi ekstrak kelenjar
mengandung kelemahan diantaranya hipofisa ikan sebagai bahan suntikan
adalah:

112
untuk induksi pematangan akhir sel titik pemotongan dibagian
telur dan sel sperma tidak tepat. belakang tutup insangnya hingga
(3) belum diketahui dengan pasti kepala ikan putus atau terpisah
hormon mana yang sebenarnya dari badannya (Gambar 4.12, kiri
berpotensi untuk ovulasi dan atas).
kematangan gonad. 4. Kepala ikan yang terpotong
(4) penyakit mudah menular. dihadapkan keatas dan disayat
Bagi para pembudidaya ikan yang dari pangkal hidung ke bawah
akan melakukan pemijahan ikan bagian potongan pertama hingga
secara buatan dengan menggunakan tulang tengkorak ikan terbuka
kelenjar hipofisa dapat dengan dan otak kelihatan jelas (Gambar
mudah membuatnya. Adapun cara 4.12 kiri tengah dan bawah).
membuat kelenjar hipofisa ini adalah 5. Kemudian kelenjar otak
sebagai berikut : disingkap/diangkat dan akan
1. Menentukan dosis yang akan tampak kelenjar hipofisa
digunakan dalam proses dibawah kelenjar otak (Gambar
pemijahan. 4.12, kanan).
2. Menimbang ikan donor dan ikan 6. Dengan menggunakan pinset,
resipien . kelenjar hipofisa diambil dan
3. Ikan donor diletakkan di atas diletakkan di dalam cawan
talenan yang tidak licin dan (Gambar 4.12, kanan)
dipotong secara vertikal dengan

113
Gambar 4.11. Pengambilan kelenjar hipofisa
7. Selanjutnya dibersihkan dengan
aquadest hingga kotoran dan
darah yang melekat hilang.
8. Kelenjar hipofisa dimasukkan ke
dalam tabung pengerus. Kelenjar
hipofisa digerus menggunakan
alu kaca hingga hancur (Gambar
4.12)

Gambar 4.12. Penggerusan kelenjar


hipofisa
9. Larutan hipofisa diambil dari
gelas pengerus menggunakan

114
alat suntik/spuit Dimasukkan ke
dalam tabung reaksi/tabung
sentrifuse (Gambar 4.13)

Gambar 4.13. Pembuatan ekstrak


Gambar 4.15. Pengambilan ekstrak
kelenjar hipofisa
kelenjar hipofisa
11. Larutan hipofisa disentrifuse dan
didiamkan selama satu menit
sampai terbentuk dua lapisan 11. Larutan siap disuntikkan pada
pada larutan tersebut. Larutan ikan yang akan dipijahkan
yang agak keruh dibagian atas (Gambar 4.16)
endapan diambil dengan jarum
suntik (Gambar 4.14 dan Gambar
4.15).

Gambar 4.16. Ekstrak kelenjar


hipofisa siap disuntikkan pada ikan

Hormon Chorionic Gonadotropin


(hCG) adalah hormon gonadotropin
yang disekresi oleh wanita hamil dan
Gambar 4.14. Pemutaran alat disintesa oleh sel-sel sintitio
sentrifuse tropoblas dari placenta. HCG
mempunyai dua rangkaian rantai
peptida yaitu D yang mengandung
92 asam amino dan E mengandung

115
145 asam amino. Pada beberapa bergantung pada jenis ikan yang
spesies menggunakan hCG sebagai akan dibudidayakan, harga ekonomis
pemacu merangsang pematangan dan efisiensi dalam penggunaannya.
gonad sangat efektif, bisa sebagai Ketiga hormon tersebut prinsipnya
pengganti ekstrak kelenjar hipofisa adalah membantu proses
tetapi pada beberapa spesies kematangan gonad ikan yang akan
penggunaan hCG kurang efektif menentukan keberhasilan proses
mesti dikombinasikan dengan pemijahan.
Pregnan Mare Serum Gonadotropin
(PMSG) atau ovaprim. HCG
berperan dalam pemecahan dinding 4.2.3. Perjalanan hormon ke sel
folikel saat akann terjadi ovulasi. LH target
(Litunuising Hormon) adalah hormon
perangsang ovulasi yang kuat, hCG Bagaimana hormon yang disuntikan
memiliki potensi LH. Fungsi LH itu mencapai sel target. Hormon
dalam sel theca akan merangsang tersebut mencapai sel target melalui
PGE (prostaglandin) dan PGF2D dari komunikasi antar sel. Ada tiga cara
asam arachidonad. PGF2D juga sel-sel itu berkomunikasi yaitu :
mempunyai peran penting dalam 1. Sel menskresikan senyawa kimia
pecahnya folikel dan pengeluaran (chemical signaling) kepada sel
oosit yang telah matang. lain ditempat yang berjauhan.
2. Sel mengekspresikan molekul
OVAPRIM adalah campuran analog permukaan yang mempengaruhi
salmon GnRH dan Anti dopamine sel lainnya yang berkontak fisik
dinyatakan bahwa setiap 1 ml dengan sel tersebut.
ovaprim mengandung 20 ug sGnRH- 3. Sel membentuk ’gap juction’ yang
a(D-Arg6-Trp7, Lcu8, Pro9-NET) – menghubungkan masing-masing
LHRH dan 10 mg anti dopamine. sitoplasma sehingga dapat terjadi
Ovaprim juga berperan dalam pertukaran molekul-molekul kecil.
memacu terjadinya ovulasi. Pada
proses pematangan gonad GnRH Sedangkan komunikasi antar sel
analog yang terkandung didalamnya dengan cara sekresi kimia dapat
berperan merangsang hipofisa untuk dibagi berdasarkan jauhnya jarak
melepaskan gonadotropin. yang dirempuh senyawa kimia
Sedangkan sekresi gonadotropin tersebut yaitu:
akan dihambat oleh dopamine. Bila
dopamine dihalangi dengan 1. Sinyal endokrin (Endocrine
antagonisnya maka peran dopamine signaling), dimana sel kelenjar
akan terhenti, sehingga sekresi endokrin akan mensekresikan
gonadotropin akan meningkat. hormon yang akan dibawa aliran
darah ke sel target yang
Dari ketiga macam hormon yang terdistribusi di bagian lain dari
dapat digunakan untuk melakukan tubuh.
pemijahan ikan seperti yang telah 2. Sinyal parakrin (Paracrine
dijelaskan, maka pemilihan hormon signaling), dimana sel
yang akan digunakan sangat menskresikan senyawa kimia

116
(local chemical mediator) yang pada subbab ini. Telur atau sperma
mempunyai efek terhadap sel tidak akan bisa distripping jika proses
yang berada disekelilingnya. fisiologis ovulasi belum sempurna.
Senyawa kimia yang diskresikan
ini akan diserap dan diserap
dengan cepat. Pembuahan secara buatan dilakukan
3. Sinyal sinaptik (Synaptic dengan bantuan manusia, dengan
signaling), merupakan suatu cara mempertemukan sel telur
neurotransmitter dan bekerja dengan sel sperma pada suatu
khusus untuk sel syaraf pada tempat tertentu dan dengan alat
suatu daerah khusus yang tertentu. Proses melakukan
disebut chemical synapses. pembuahan buatan ini diperlukan
Sel-sel target akan memberikan sikap kehati-hatian agar telur tidak
respon terhadap sinyal yang datang luka, sperma tidak luka atau proses
melalui protein khusus yang disebut penempelan sperma pada sel telur
receptor. merata. Meratanya sperma
menempel pada telur akan
menambah jumlah pembuahan
4.2.4. Stripping dan pembuahan sperma pada sel telur. Proses
buatan pembuahan buatan ini membutuhkan
waktu tertentu, maksudnya jika
terlalu lama maka sperma atau sel
Stripping adalah proses telur bisa mati atau terganggu. Jika
dikeluarkannya telur atau sperma demikian keadaannya proses
ikan dengan bantuan manusia/bukan pembuahan tidak akan berhasil
secara alamiah. Proses pengeluaran dengan baik. Ingat telur dan sperma
telur atau sperma tersebut tentu saja itu hidup sehingga bermetabolisme.
menghendaki cara tertentu agar telur
atau sperma tidak rusak ataupun
Kematangan telur dan sperma ikan
justru induk ikan yang akan
dipastikan diperiksa dibawah
rusak/mati. Seseorang yang akan
mikroskop, jika telah memenuhi
melakukan stripping telur atau
tanda-tanda tersebut di atas maka
sperma ikan mesti harus telah tahu
segeralah dilakukan stripping.
cara stripping yang baik, dan tahu
Langkah pertama lakukan stripping
posisi gonad ikan, dengan demikian
induk jantan terlebih dahulu dengan
arah urutan/stripping akan benar
prosedur yang telah ditentukan.
atau organ yang diurut tidak salah.
Sperma adalah gamet jantan yang
Feeling seorang pengurut sebaiknya
dihasilkan oleh testis. Cairan sperma
telah menyatu dengan induk ikan
adalah larutan spermatozoa yang
tersebut. Kenapa demikian karena
berada dalam cairan seminal dan
seseorang tersebut akan mengerti
dihasilkan oleh hidrasi testis.
kapan pengurutan diberhentikan dan
Campuran antara seminal plasma
kapan akan dimulai lagi. Oleh karena
dengan spermatozoa disebut semen.
itu seorang pembudidaya harus
Dalam setiap testis semen terdapat
memahami tentang proses secara
jutaan spermatozoa.
fisiologis ovulasi dan akan dibahas

117
Sperma ikan yang sudah matang Komposisi kimiawi sperma pada
terdiri dari kepala, leher dan ekor. plasma inti (nukleoplasma)
Ada sperma yang mempunyai diantaranya adalah DNA, Protamine,
“middel Piece” sebagai penghubung Non Basik Protein. Sedangkan
antara leher dan ekor. Di dalam seminal plasma mengandung protein,
middle piece ini berisi mitokondria potassium, sodium, calsium,
yang akan berfungsi untuk magnesium, posfat, klarida.
metabolisme sperma. Sedangkan komposisi kimia ekor
sperma adalah protein, lecithin dan
Kepala sperma, kepala sperma cholesterol.
terisi materi inti, chromosom terdiri
dari DNA yang bersenyawa dengan Sperma tidak bergerak dalam
protein. Informasi genetika yang semen/air mani, tetapi akan segera
dibawa oleh spermatozoa bergerak ketika bersentuhan dengan
diterjemahkan dan disimpan di dalam air. Fruktosa dan galaktosa
nolekul DNA. Sperma yang merupakan sumber energi utama
didalamnya terkandung chromosom- bagi sperma ikan mas. Gardiner
X akan menghasilkan embrio betina dalam Norman (1995) menyatakan
sedangkan sperma mengandung semen yang encer banyak
chromosom-Y akan menghasilkan mengandung glukosa sehingga
embrio jantan. memberikan motilitas yang lebih baik.
Sedangkan semen yang kental
Ekor sperma, ekor sperma berfungsi banyak mengandung potassium
memberi gerak maju seperti gerak sehingga akan menghambat motilitas
cambuk. Selubung mitokondria sperma. Motilitas sperma banyak
berasal dari pangkal kepala dipengaruhi oleh konsentrasi glukosa,
membentuk dua struktur spiral NaCl, KCl, serta Osmolitas media.
kearah berlawanan dengan arah
jarum jam. Bagian tengah ekor Daya tahan hidup sperma
merupakan gudang energi untuk dipengaruhi oleh pH, tekanan
kehidupan dan pergerakan osmotik , elektrolit, non elektrolit,
spermatozoa oleh proses-proses suhu dan cahaya. Pada umumnya
metabolik yang berlangsung di dalam sperma than hidup dan aktif pada pH
helix mitokondria. Mitokondria 7. Sperma tetap motil untuk waktu
mengandung enzim-enzim yang lama di dalam media yang isotonik
berhubungan dengan metabolisme dengan darah. Pada umumknya
spermatozoa. Bagian ini banyak sperma mudah dipengaruhi oleh
mengandung fosfolipid, lecithin dan keadaan hipertonik dari pada
plasmalogen.Plasmalogen hipotonik.
mengandung satu aldehid lemak dan
satu asam lemak yang berhubungan Larutan elektrolit sperti kalium,
dengan glicerol maupun cholin. magnesium, dapat dipergunakan
Asam lemak dapat dioksidasi dan sebagai pengencer sperma tetapi
sebagai sumber energi untuk aktifitas Calsium, pospor dan kalium yang
sperma. tinggi dapat menghambat motilitas

118
sperma. Sedangkan cuprum dan hingga pecah dan terbentuk
besi merupakan racun bagi sperma. lubang pelepasan hingga telur
Larutan non elektrolit dalam bentuk keluar.
gula, sperti fruktosa, glukosa dapat
dipergunakan sebagai pengencer Enzim yang berperan dalam
sperma. pemecahan dinding folikel: protease
Prinsip dasar untuk iplasmin kemudian diikuti oleh
mempertahankan agar sperma tetap hormon Prostaglandin F2D (PGF2D)
hidup adalah dengan menambahkan atau Cotecholamin yang
sesuatu kedalam semen yang merangsang konstraksi aktif dari
berintikan mempertahankan pH, folikel
tekanan osmotik serta menekan
pertumbuhan kuman. Untuk Setelah ovulasi kemudian akan
keperluan yang sesuai bagi diikuti oleh ikan jantan untuk
kebutuhan sperma dipergunakan mengeluarkan sperma. Sperma
bahan glukosa, kuning telur, air susu yang tadinya bergerak lamban
yang mengandung lippoprotein dan menjadi bergerak cepat (motilitas
lecithin. Sedangkan untuk tinggi) dikarenakan bersentuhan
mempertahankan pH semen dengan air. Pergerakan sperma
dipergunakan sitrat, fosfat dan tris. tersebut akan mengarah pada sel
Untuk menghambat pertumbuhan telur kerena distimulasi oleh adanya
kuman dipergunakan penicilin, Gimnogamon I yang dieksresikan
streptomicin, sedangkan untuk oleh telur. Setelah sperma
pembekuan diperlukan glicerol. menempel pada telur, telur akan
mengeluarkan Androgamon I untuk
menekan motilitas sperma dan
4.2.5. Ovulasi dan fertilisasi Gymnogamon II untuk
menggumpalkan sperma.

Setelah telur matang maka telur


akan diovulasikan oleh ikan betina. Berjuta-juta sperma menempel pada
Ovulasi itu adalah proses keluarnya sel telur tetapi hanya satu sperma
sel telur (oosit) yang telah matang yang bisa masuk melalui micropil.
dari folikel dan masuk ke dalam Kepala sperma masuk dan ekornya
rongga ovarium atau rongga perut tertinggal diluar, sebagai sumbat
(Nagahama, 1990). micropile sehingga yang lain tidak
bisa masuk. Berjuta-juta sperma
yang menempel pada telur
Pelepasan sel telur terjadi akibat: disingkirkan oleh telur dengan reaksi
1. Telur membesar. kortek. Karena apabila tidak
2. Adanya konstraksi aktif dari disingkirkan akan mengganggu
folikel (bertindak sebagai otot metabolisme zigot.
halus) yang menekan sel telur
keluar.
3. Daerah tertentu pada folikel Pembuahan sel telur merupakan
melemah, membentuk benjolan awal dari perkembangan embrio ikan.

119
Pembuahan merupakan (1983) dapat dilakukan secara alami
penggabungan sel telur dengan dan secara buatan. Pemijahan
spermatozoa sehingga membentuk secara alami setiap daerah memiliki
zygote. Pembuahan pada ikan ciri khas dalam cara memijahkan
umumnya terjadi di luar tubuh, ikan Mas. Pemijahan ikan Mas
dimana induk betina mengeluarkan secara alami yang banyak dikenal di
telur dan induk jantan mengeluarkan masyarakat adalah cara Sunda,
spermatozoa. Cimindi, Rancapaku, Magek,
Telur yang tidak dibuahi akan mati Kantong, Dubisch dan Hofer.
dan berwarna putih air susu. Menurut 1. Pemijahan cara Sunda
Nesler dalam Sumantadinata (1983),
suatu substansi yang disebut Pemijahan ikan Mas cara Sunda
fertilizing merangsang spermatozoa merupakan cara pemijahan yang
untuk berenang berusaha mencapai banyak digunakan petani,
telur. Telur akan mengeluarkan khususnya di Jawa Barat. Cara
fertilizing pada saat-saat terakhir ini menggunakan kolam
ketika dilepas dan siap dibuahi. pemijahan dan kolam penetasan
secara terpisah. Kolam
Pembuahan satu telur hanya pemijahan dipersiapkan secara
membutuhkan satu spermatozoa khusus, yaitu dengan
bagian kepalanya masuk Kedalam mengeringkan dasar kolam,
telur melalui mycropyle, sedangkan membersihkan kolam dari rumput
bagian ekornya tetap berada atau sampah, memasang
tertinggal di luar. Cytoplasma dan substrat dan mengairi kolam.
chorion merenggang dan semakin Pemijahan cara ini menggunakan
tersumbat yang akan segera kakaban sebagai substrat untuk
menutup mycropyle untuk menempelkan telur. Kakaban
menghalangi masuknya tersebut dipasang berderet-deret
spermatozoa lainnya. Sumantadinata dan terapung 5-10 cm di bawah
(1983) mengatakan, setelah permukaan air. Induk ikan yang
memasuki telur, inti spermatozoa siap dipijahkan dilepaskan secara
mulai membesar dan chromosomnya hati-hati ke dalam kolam
mengalami perubahan sehingga pemijahan. Pelepasan induk
memungkinkan untuk berhimpun dilakukan + pukul 16.00-17.00.
dengan chromosom dari sel telur Proses pemijahan biasanya
fase awal pembelahan. terjadi mulai tengah malam pukul
01.00-06.00 yang ditandai
dengan gerakan ikan yang saling
4.2.6. Aplikasi teknik pemijahan berkejaran dan timbulnya bau
pada ikan budidaya anyir pada air kolam pemijahan.

4.2.6.1. Pemijahan ikan Mas

Macam-macam Metode Pemijahan


Ikan Mas menurut Sumantadinata

120
3
2

1. Kakaban 2. Bilah bambu penahan 3. Patok bambu

Gambar 4.17. Pemasangan kakaban di kolam pemijahan pada


pemijahan cara Sunda (Sumantadinata, 1983).

Sehari setelah induk ikan dilepas 2. Pemijahan cara Cimindi


pada kolam pemijahan dilakukan
Persiapan kolam pemijahan cara
pengamatan terhadap kakaban.
Sunda dan Cimindi pada
Kakaban yang telah berisi telur
dasarnya adalah sama, hanya
segera diangkat dan dipindahkan
terdapat perbedaan induk kolam.
ke kolam penetasan. Sebelum
Pada pemijahan cara Cimindi,
kakaban disusun di kolam
kolam pemijahan merupakan
penetasan, terlebih dahulu
bagian dari kolam penetasan dan
dibersihkan dari Lumpur dengan
kolam pendederan. Kolam
menggoyang-goyangkan secara
pemijahan terletak pada salah
perlahan di kolam pemijahan.
satu sudut kolam penetasan
Kakaban tersebut dipasang
dengan pematang dari tanah
berderet-deret di kolam
sebagai pembatas sementara.
penetasan 3-5 cm di bawah
Bila induk ikan telah memijah,
permukaan air. Telur akan
kakaban tetap berada di kolam
menetas setelah 36-48 jam pada
pemijahan, sedangkan induk ikan
suhu 28-300C. Pemijahan cara
dibiarkan masuk ke kolam
Sunda menggunakan kolam
penetasan melalui lubang
penetasan sekaligus sebagai
pematang sementara. Telur ikan
kolam pendederan. Persiapan
pada kakaban ditetaskan pada
kolam penetasan meliputi
kolam pemijahan. Setelah benih
pengolahan dasar kolam,
berumur 7 hari, pematang
pembuatan kamalir, pemupukan,
sementara dibongkar dan benih
pengapuran dan mengairi.
ikan akan menyebar ke kolam
Persiapan kolam tersebut
besar. Pada kolam besar ini
dilakukan beberapa hari sebelum
benih ikan didederkan.
pemijahan induk.

121
4

1
3

1. Kolam pemijahan
2. Pematang sementara
3. Kolam penetasan/pendederan
4. Saluran pemasukan air
5. Saluran pengeluaran air

Gambar 4.18. Kolam pemijahan cara Cimindi (Sumantadinata, 1983).

3. Pemijahan cara Rancapaku Benih ikan tersebut dipelihara


sampai umur 2-3 minggu.
Pemijahan cara Rancapaku
hampir sama dengan cara
Cimindi, yaitu kolam pemijahan
4. Pemijahan cara Magek
merupakan bagian kolam
penetasan. Perbedaannya Pemijahan ikan Mas di Sumatera
adalah petak pemijahan dengan Barat dikenal dengan cara Magek.
cara Rancapaku terbuat dari Pemijahan dengan cara ini
tumpukan batu atau bambu. diperlukan kolam seluas 3-4 m2
Penetasan telur dilakukan pada dengan kedalaman air 0,75 m.
kolam pemijahan. Setelah selesai dinding kolam tegak lurus
memijah, induk ikan dipindahkan diperkuat papan. Dasar kolam
ke kolam besar atau ke kolam ditebari pasir yang telah dicuci
pemeliharaan induk, sedangkan bersih dari tanah dan bahan-
kakaban tetap di kolam bahan lain yang berbahaya. Di
pemijahan. Telur ikan Mas akan atas pasir ini dhamparkan ijuk
menetas setelah 36-48 jam pada yang dijepit dengan belahan
suhu 28-300C. anak ikan Mas bambu. Setelah induk ikan
yang mulai mencari makan akan selesai memijah, ijuk tersebut
menyebar ke kolam besar melalui tetap berada di kolam pemijahan,
celah tumpukan batu atau bambu. sedangkan induk ditangkap dan
dikembalikan ke kolam induk.

122
Telur-telur ikan Mas ditetaskan dengan kantong yang terbuat
padakolam pemijahan. Benih dengan bahan kain halus.
ikan ditangkap setelah berumur 1 Selanjutnya benih tersebut
minggu. Pemanenan benih dipindahkan ke wadah lain untuk
dilakukan dengan mengalirkan air didederkan atau dipasarkan.
dari dasar kolam dan ditampung

c d b a

P2
P1 0,5-0,6 m
P3

1,5-2,0 m

a. papan P1 pipa pemasukan


b. penyekat papan P2 pipa pelimpasan
c. belahan bambu P3 pipa pengurasan
d. ijuk

Gambar 4.19. Kolam pemijahan cara Magek (Sumantadinata, 1983).

5. Pemijahan cara Kantong di air. Rumput tersebut disebar di


kolam pemijahan, induk yang
Pada beberapa daerah di Jawa
telah selesai memijah ditangkap
Barat, pemijahan ikan Mas
dan dikembalikan ke kolam induk,
dilakukan dengan cara Kantong.
sedangkan telur-telurnya
Pemijahan cara Kantong mirip
dibiarkan di kolam pemijahan
dengan cara Magek. Kolam
untuk ditetaskan. Kolam
pemijahan berbentuk segi empat
pemijahan dialiri air secara
dengan kedalaman air sekiatr 60
perlahan. Telur ikan akan
cm. Dasar kolam diberi lapisan
menetas setelah 36-48 jam pada
kerikil dan pasir agar airnya tetap
suhu 28-300C. benih yang
jernih. Bentuk dasar kolam dibuat
berumur 5-7 hari dipungut/panen.
miring ke arah pengeluaran air
Benih –benih ikan akan hanyut
untuk memudahkan pengaturan
bersama air melalui pintu
air dalam penangkapan anak
pengeluaran yang dialirkan ke
ikan. Pemijahan cara Kantong
bentangan kain yang
menggunakan rumput sebagai
direntangkan pada dua buah
tempat menempelkan telur.
bambu. Bentangan kain tersebut
Rumput yang digunakan adalah
berupa kantong yang terendam
rumput yang tidak mudah busuk
setengah bagian pada genangan

123
air tenang. Selanjutnya benih- tersebut dikumpulkan dan
benih yang ditampung pada kain didederkan di sawah/kolam.

A 1

2 B

Keterangan:
A. Kolam pemijahan K. kantong
B. Kolam kecil tempat kantong 1. pipa
pelimpasan

Gambar 4.20. Kolam pemijahan cara Kantong (Sumantadinata, 1983).

6. Pemijahan cara Dubisch dan Ketinggian air kolam adalah 10


Hofer cm di atas pucuk rumput. Bagian
tengah dasar kolam miring ke
Pemijahan ikan cara Dubisch dan
arah saluran pengeluaran air dan
Hofer menggunakan rumput
ditanami rumput yang tahan
sebagai tempat meletakkan telur.
tergenang air. Dasar tengah yang
Dubisch adalah seorang ahli
miring memudahkan turunnya air
perikanan berasal dari Jerman.
dalam pemanenan benih ikan.
Oleh sebab itu cara pemijahan
Induk ikan yang selesai memijah
ikan yang diperkenalkan Dubisch
ditangkap dan dipindahkan ke
disebut cara Dubisch. Cara ini
kolam pemeliharaan induk,
banyak digunakan di Jawa
sedangkan telur dibiarkan untuk
Tengah dan Jawa Timur. Kolam
ditetaskan.
pemijahan cara Dubisch
berbentuk empat persegi panjang
dengan ukuran 8 x 8 atau 10 x 10
meter. Kedalaman air kolam
pemijahan adalah 30 cm. Pada
bagian tengah dasar kolam lebih
tinggi daripada bagian tepi/sisi
kolam. Pada dasar kolam
sekeliling petakan terdapat
saluran keliling dengan lebar 60
cm dn kedalaman 30-40 cm.
Saluran keliling berfungsi untuk
memudahkan penangkapan
induk setelah selesai memijah.

124
Ardiwinata (1971) Huet (1970)

A
A
B B
A. Rumput B B
B. Saluran

Gambar 4.21. Kolam pemijahan cara Dubisch (Sumantadinata, 1983)

Hofer seorang ahli perikanan stress ini mengurangi keinginan


melihat beberapa kelemahan/ ikan untuk memijah.
kekurangan pemijahan cara
Dubisch. Kelemahan tersebut Berdasarkan kelemahan tersebut,
terletak pada dasar kolam yang Hofer memodifikasi dasar kolam
dapat menimbulkan stress bagi pemijahan cara Dubisch. Pada kolam
induk ikan. Hal ini disebabkan pemijahan cara Hofer tidak terdapat
adanya perubahan drastic saluran keliling kolam, tetapi seluruh
antara bentuk saluran dengan petakan kolam dibagi menjadi dua
bentuk pelataran (bagian tengah bagian, yaitu setengah bagian yang
kolam) yang ditumbuhi rumput dangkal dan setengah bagian lebih
tempat memijah. Induk ikan dalam. Bagian yang dangkal
istirahat di saluran merasa ditanami rumput sebagai tempat
tempat/kolam tersebut kecil, menempelkan telur, sedangkan
tidak ada rumput dan gelap, bagian lebih dalam digunakan untuk
tetapi setelah keluar dari saluran berkumpulnya benih ikan Mas
menuju bagian tengah kolam sehingga memudahkan pemungutan
yang ditumbuhi rumput dan benih ikan.
terang menyebabkan induk agak
ketakutan. Masa takut dan

125
A B
C

Cara Hofer
A. Pipa pemasukan air
B. Bagian dasar yang dangkal ditanami
rumput
C. Pipa pngeluaran air

Gambar 4.22. Kolam pemijahan cara Hofer (Sumantadinata, 1983)

Pelepasan induk ke kolam pemijahan dengan sikat kawat. Jumlah kakaban


dilakukan dengan hati-hati. Hindari yang diletakkan pada kolam
induk terkena benturan. pemijahan tergantung pada jumlah
Perbandingan induk jantan dan induk yang dipijahkan. Untuk
betina adalah 1 : 1 dalam satuan memijahkan satu pasang induk
berat 3 : 1 dalam satuan ekor. jumlah kakaban yang dibutuhkan
adalah 5-8 buah. Satu pasang induk
Pemilihan sistem pemijahan ini
ikan Mas adalah perbandingan
bergantung kepada skala usaha
jumlah induk jantan dan betina yang
yang dilakukan. Pada pemijahan ikan
akan dipijahkan berdasarkan bobot
secara alami, pemilihan induk yang
badan 1 : 1, sedangkan berdasarkan
matang kelamin harus tepat dan
jumlah ikan adalah 2 : 1 atau 3 : 1.
benar. Dalam pemijahan ikan Mas
secara alami dan semi buatan Sebelum ikan Mas jantan dan betina
dibutuhkan media/substrat dipijahkan sebaiknya induk ikan
pemijahan yang disebut dengan tersebut diberok terlebih dahulu di
kakaban. Kakaban ini adalah tempat dalam kolam pemberokan selama 1-
meletakkan telur ikan Mas yang 2 hari dan dipisahkan antara jantan
terbuat dari ijuk pohon enau. dan betina. Selama dalam
Kakaban ini biasanya berukuran pemberokan, induk ikan ini tidak
panjang 1-1,5 m dengan lebar sekitar diberi pakan, oleh karena itu kondisi
0,5 m. ijuk yang digunakan sebagai kualitas air kolam pemberokan harus
bahan pembuat kakaban ini harus optimal.
dibersihkan dengan membuang
Pemberokan ikan Mas ini bertujuan
serat-serat yang kasar dan disisir
untuk :

126
1. Mengurangi lemak pada daerah ikan Mas yang telah dicampur
kantong pembungkus telur sperma ditebar ke dalam akuarium
(ovarium), karena lemak yang dan dipelihara sampai menetas dan
terlalu banyak dapat berumur 2-4 minggu.
mengganggu kelancaran
pelepasa telur.
4.2.6.2. Pemijahan Ikan Lele
2. Memisahkan induk jantan dan
betina untuk menahan sementara
1. Persiapan wadah dan substrat
keinginan memijah sehingga
(kakaban)
pada saat pemijahan di kolam
pemijahan kedua induk ikan
Persiapan bak pemijahan dilakukan
saling tertarik untuk memijah.
sebelum dilakukan pemijahan. Untuk
Pemijahan ikan Mas secara buatan setiap pasang induk yang beratnya
biasanya dilakukan oleh para petani antara 0,5 – 1 kg diperlukan satu
ikan yang membutuhkan buah bak pemijahan dengan ukuran
ketersediaan benih yang kontinu 1 x 2 x 0,5 meter atau 1 x 1 x 0,5
dalam jumlah dan mutu. Pemijahan meter. Sebelum kolam atau bak
secara buatan ini dilakukan dengan digunakan, bak dicuci bersih agar
memberikan suntikan hormon kotoran-kotoran dan lumut yang
kepada induk ikan Mas jantan dan menempel terlepas dan dasar bak
betina agar cepat mengalami menjadi bersih dan benih lele
kematangan gonad. Setelah terhindar dari serangan penyakit.
dilakukan penyuntikan hormon, induk
ikan Mas jantan dan betina akan di Selanjutnya bak diisi air bersih
stripping, yaitu dilakukan pengurutan setinggi 30 – 40 cm. Sebagai tempat
agar telur dan sperma keluar dari atau media menempelnya telur, di
tubuh induk ikan Mas dan dilakukan dasar bak dipasang kakaban yang
pembuahan ikan Mas secara buatan. terbuat dari ijuk. Ukuran kakaban
Hormon yang digunakan antara lain disesuaikan dengan ukuran bak
adalah ovaprim, pregnil, HCG atau pemijahan. Namun, ukuran yang
kelenjar hipofisa ikan Mas itu sendiri. biasa digunakan panjangnya 75 –
100 cm dan lebarnya 30 – 40 cm.
Ikan Mas jantan dan betina siap Sebagai patokan, untuk 1 pasang
memijah dan matang gonad induk lele dumbo dengan berat induk
dimasukkan ke dalam kolam betina 500 gram, dibutuhkan
pemijahan. Jumlah induk yang kakaban sebanyak 3 – 4 buah. Jika
ditebar bergantung pada luas ukuran kurang, dikhawatirkan telur yang
kolam pemijahan. Ikan Mas akan dikeluarkan ketika pemijahan tidak
meletakkan telur pada kakaban. tertampung seluruhnya atau
Kakaban yang berisi telur ikan Mas menumpuk di kakaban, sehingga
selanjutnya dipindahkan ke kolam mudah membusuk dan tidak
pemeliharaan larva/benih. Hal ini jika menetas. Kakaban harus menutupi
pemijahan dilakukan alami dan semi seluruh permukaan dasar bak
intensif. Jika pemijahan ikan Mas pemijahan, sehingga semua telur lele
dilakukan secara buatan, maka telur dumbo tertampung di kakaban.

127
Bagian atas bak pemijahan di tutup ikan induk lele dumbo yang akan
dengan seng atau triplek atau disuntik. Namun, jika menggunakan
anyaman bambu untuk mencegah ovaprim, penyuntikan cukup
induk lele dumbo yang sedang dilakukan satu kali dengan dosis
dipijahkan meloncat keluar. untuk induk betina 0,2 ml dan untuk
induk jantan sebanyak 0,1 ml.
Sebagai bahan pelarut digunakan air
2. Pemilihan induk siap pijah untuk injeksi berupa aquabidest
sebanyak 0,3 – 0,4 ml. Penyuntikan
Tidak semua induk yang dipelihara dapat dilakukan pada 3 tempat, yaitu
dapat dipijahkan. Hal ini disebabkan pada otot punggung, batang ekor
belum tentu semua induk telah dan sirip perut. Akan tetapi pada
matang kelamin dan siap dipijahkan. umumnya dilakukan pada otot
Sebelum dipijahkan, induk dipilih punggung dengan kemiringan alat
yang sesuai dengan persyaratan. suntik 45q.
Salah satu persyaratan yang mutlak
adalah induk telah berumur 1 tahun,
baik jantan maupun betina. 4. Pemijahan
Pemilihan induk dilakukan dengan
cara mengeringkan kolam induk, baik Induk lele dumbo yang telah disuntik
kolam induk jantan mapun betina, selanjutnya dipijahkan secara alami,
sehingga induk – induk ikan lele atau dipijahkan secara buatan. Jika
dumbo akan terkumpul. Selanjutnya akan dilakukan secara semi buatan,
induk – induk tersebut ditangkap setelah induk ikan lele disuntik
dengan menggunakan seser atau dengan hormon maka induk tersebut
serokan dan ditampung dalam dimasukan ke dalam bak pemijahan
wadah seperti tong plastik. yang telah disiapkan. Induk akan
memijah setelah 8 – 12 jam dari
penyuntikan. Selama proses
3. Penyuntikan hormon pemijahan berlangsung dilakukan
pengontrolan agar induk yang
Untuk merangsang induk lele dumbo sedang memijah tidak melompat
agar memijah sesuai dengan yang keluar tempat pemijahan.
diharapkan, sebelumnya induk harus
disuntik menggunakan zat
Pemijahan ikan lele dapat dilakukan
perangsang berupa kelenjar hipofisa
secara alami, semi buatan dan
atau HCG (Human Chlorionic
buatan (induced breeding).
Gonadotropine) atau ovaprim.
Pemijahan ikan lele secara alami
Kelenjar hipofisa dapat diambil dari
dapat dilakukan dengan memijahkan
donor ikan lele dumbo yang telah
induk jantan dan betina tanpa
matang kelamin dan telah berumur
perlakuan khusus. Induk ikan lele
minimal 1 tahun. Penyuntikan
memijah berdasarkan kondisi alam
menggunakan kelenjar hipofisa
dan ikan itu sendiri. Kelemahan
cukup dengan 1 dosis. Artinya, ikan
pemijahan secara alami adalah
donor yang akan diambil kelenjar
pemijahan induk belum dapat
hipofisanya, beratnya sama dengan

128
diperkirakan waktunya sehingga tersebut ditampung dalam baki dan
ketersediaan telur juga belum dapat pada waktu yang bersamaan sperma
di perkirakan. Pemijahan secara yang telah disiapkan sebelumnya
semi buatan adalah pemijahan dicampur dengan telur. Telur dan
dengan cara memberi perlakuan sperma diaduk menggunakan bulu
khusus yaitu dengan menyuntik ayam. Setelah telur dan sperma
induk ikan menggunakan hormon. tercampur merata, lalu ditambah air
Hormon yang digunakan adalah sampai semua telur terendam dan
hormon sintetis atau hormon biarkan beberapa menit agar semua
hypofisa. Jika Induk disuntik telur terbuahi oleh sperma. Air
menggunakan hormon sintetis rendaman yang berwarna putih
(Ovaprim) dapat dilakukan dengan selanjutnya di buang,
dosis 0,1-0,2 ml di tambah
aquabides sebanyak 1-2 ml. Telur yang telah dibuahi disebarkan
Pemijahan secara semi buatan induk kepermukaan substrat “kakaban” dan
jantan dan betina disuntik. Induk direndam dalam bak sampai
yang telah disuntik dimasukkan menetas. Untuk mencegah infeksi
kedalam kolam/bak pemijahan. pada induk, maka setelah dilakukan
Pemijahan secara buatan yaitu pengurutan induk ikan ditreatment
dengan menyuntikan hormon dengan cara direndam dalam larutan
gonadotropin kedalam tubuh induk formalin 50 – 150 ppm selama 3 jam,
betina. Untuk mendapatkan hormon kemudian induk ikan di lepas ke
ini ada yang sudah dalam bentuk dalam bak fiber penampungan induk
cairan hormon siap pakai, ada pula yang sudah disediakan.
yang harus di ekstrak dari kelenjar
horman ikan tertentu.
4.2.6.3. Pemijahan ikan nila
Pada ikan lele yang akan dilakukan
Ikan Nila dapat berkembang biak
pemijahan secara buatan maka
secara optimal pada suhu 20 - 30
pengambilan sperma dilakukan
derajat celsius. Pada umumnya nila
dengan pembedahan perut induk
bersifat mengerami telurnya di dalam
jantan. Selanjutnya sperma diambil
mulut sampai menetas kurang lebih
dan dibersihkan dari darah dengan
menggunakan tissue. Kelenjar 4 hari dan mengasuh larvanya r 14
hari sampai larva dapat berenang
sperma dipotong-potong dengan
bebas diperairan, mengerami telur
menggunakan gunting kemudian
ditekan secara halus untuk dan mengasuh larva dilakukan oleh
mengeluarkan sel sperma dari induk betina. Nila dapat dipijahkan
setelah mencapai berat 100 gr/ekor.
kelenjar sperma tersebut, lalu
Secara alami nila memijah pada
diencerkan di dalam larutan sodium
sarang yang dibuat oleh ikan jantan
clorida 0.9 % dalam mangkuk plastik
yang bersih. di dasar kolam, sehingga diperlukan
dasar kolam yang berlumpur. Untuk
menjaga induk hidup optimal, maka
Pengurutan induk betina dilakukan
parameter kualitas air dipertahankan
dengan hati-hati agar induk tersebut
dalam kondisi yang layak bagi
tidak terluka. Telur induk betina

129
kehidupan induk, terutama lain. Kegiatan pemijahan alami
kandungan oksigen terlarut (> 5 meliputi antara lain;
ppm) dan suhu tidak berfluktuasi.
Padat penebaran induk tergantung Persiapan Kolam
dari ukuran induk dan sistem
pemijahan yang dilakukan. Selama Kolam pemijahan luasnya harus
proses pemijahan air kolam harus disesuaikan dengan jumlah induk
tetap berganti, dengan cara yang akan dipijahkan. Perbandingan
mengalirkan air pemasukan ke kolam jantan dan betina adalah 1 : 3 ukuran
secara kontinu melalui pipa yang ada 250 - 500 gr perekor. Dengan padat
saringannya. Air dijatuhkan penebaran 1 ekor/m2. Hal ini
kepermukaan kolam agar terjadi berdasarkan sifat ikan jantan yang
percikan air untuk proses difusi membuat sarang berbentuk kobakan
oksigen. didasar kolam dengan diameter
kira-kira 50 cm dan akan
Pemijahan ikan nila dengan mempertahankan kobakan tersebut
menggunakan hapa (kantung jaring dari ikan jantan lainnya. Kobakan
dengan mata jaring yang lembut tersebut akan digunakan ikan jantan
lebih kecil dari ukuran larva) hanya untuk memikat ikan betina dalam
pada ikan nila yang sudah diadaptasi pemijahan. Oleh karena itu jumlah
pada kondisi tersebut. Kantung jaring ikan jantan setiap luasan kolam
dapat digunakan beberapa bulan tergantung pada berapa banyak
saja paling lama 6 bulan, karena kemungkinan kobakan yang dapat
mata jaring mudah sekali tertutup dibuat oleh ikan jantan pada dasar
baik oleh lumpur maupun organisme kolam tersebut. Biasanya jarak
yang menempel pada jaring antara kobakan satu dengan yang
sehingga dapat mengganggu lainnya kira-kira 25 cm. Bila
sirkulasi air. areal/kolam mempunyai luasan 100
m2 (1000 x 1000 cm2), maka satu
Pemijahan ikan nila berdasarkan baris panjang didapat 1000:100 cm =
pengelolaannya dibedakan beberapa 10 dan satu baris lebar 1000:100 =
sistim antara lain: 10, jadi banyaknya kobakan 10 x 10
= 100 atau banyaknya ikan jantan
1. Pemijahan Secara Tradisional/ adalah 100 ekor. Sedangkan yang
Alami betina adalah 3 x 100 = 300 ekor.
Induk betina yang lebih banyak 3 x
Pemijahan secara alami dapat jantan adalah agar mudah memberi
dilakukan di kolam. Ikan nila kesempatan pada jantan untuk dapat
membutuhkan sarang dalam proses menemukan betina yang matang
pemijahan. Sarang di buat di dasar gonad. Dinding kolam diupayakan
kolam oleh induk jantan untuk kokoh dan tidak ada yang bocor agar
memikat induk betina tempat mampu menahan air kolam.
bercumbu dan memijah, sekaligus Kedalam air kolam 70 cm. Dasar
merupakan wilayah teritorialnya yang kolam dilakukan pengolahan,
tidak boleh diganggu oleh pasangan pembuatan kemalir, pemupukan dan
pengapuran. Kegiatan ini

130
dimaksudkan untuk menciptakan Pengapuran dilakukan untuk
suasana dasar kolam berlumpur mengendalikan hama, penyakit dan
untuk pembuatan sarang dan parasit larva ikan serta meningkatkan
meningkatkan kesuburannya agar pH dasar kolam. Dosis pengapuran
cukup tersedia pakan alami untuk untuk menetralkan berbagai
konsumsi induk dan larva hasil tingkatan pH dan jenis tekstur tanah
pemijahan. dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Dosis Pengapuran untuk Menetralkan dari Berbagai Jenis Tekstur
Tanah dan pH Awal yang Berbeda
Kebutuhan Kapur CaCO3 (kg/Ha)
NO pH Awal
Lempung berliat Lempung berpasir Pasir

1 < 4,0 14.320 7.160 4.475


2 4,0 - 4,5 10.740 5.370 4.475
3 4,6 - 5,0 8.950 4.975 3.580
4 5,1 - 5,5 5.370 3.580 1.790
5 5,6 - 6,0 3.580 1.790 895
6 6,1 - 6,5 1.790 1.790 0

Pemupukan dapat diberikan pupuk lamtoro dan lain- lain. Selanjutnya


kandang, pupuk hijau dan pupuk kolam diairi r 70 cm. Pemupukan
buatan atau kombinasi dari ketiga susulan dapat diberikan 2 minggu
macam pupuk tersebut. kemudian dengan cara memasukan
Jenis pupuk yang biasa digunakan pupuk kandang/hijau ke dalam
terdiri dari : karung plastik yang diberi lubang
secara merata dan direndam di dekat
x Kotoran ternak besar (sapi,
pintu pemasukan air kolam. Cara ini
kerbau, kuda dll) dengan dosis
akan memberikan pengaruh
1500 kg/ha atau kotoran ayam
penguraian pupuk secara bertahap
sebanyak 600- 1200 kg/ha
dan terus menerus sehingga
x TSP dosis 100 kg/ha
pertumbuhan pakan alami dapat
x Urea dosis 150 kg/ha stabil dan tidak terjadi blooming
Dosis tersebut tidak mutlak , tetapi plankton yang merugikan.
bisa disesuaikan dengan tingkat
kesuburan tanah kolam perairan.
Cara pemberian pupuk kandang bisa Pengairan
dionggokan dibeberapa tepi kolam.
Sedang untuk pupuk anorganik Selama proses pemijahan ikan
disebarkan pada dasar kolam. Agar membutuhkan suasana parameter
kolam bisa menjadi subur lagi bisa kualitas air yang sesuai yaitu oksigen
ditambah dengan pupuk hijau,
terlarut ! 5 ppm, pH ! 5, suhu 20 -
misalnya daun orok-orok, daun
30 qC dan NH3  1 ppm. Untuk

131
menciptakan kondisi seperti tersebut, sehingga setelah pemijahan selesai
pengairan kolam harus dilakukan dapat dipisahkan antara induk jantan,
dengan pengaturan yang baik. Air induk betina dan larva ikan dalam
pemasukan terus menerus dialirkan kolam yang berbeda, dengan
dengan debit 2 - 5 liter/ menit untuk demikian pemanenan larva relatif
luasan kolam 200 m2. mudah dilakukan dan induk akan
lebih produktif karena tidak sering
terganggu yang dapat menimbulkan
Pemberian pakan stres dan kematian pada induk.
Desain kolam pemijahan dapat
Meskipun kolam telah di pupuk dan dilihat pada Gambar .
tumbuh subur pakan alami,
pemberian pakan tambahan mutlak x Persiapan kolam
di perlukan. Pemberian pakan Kolam pemijahan dibuat dari
tambahan dimaksudkan untuk pagar bambu yang bersekat-
menjaga stabilitas produktifitas induk sekat antara kolam jantan, kolam
karena selama masa inkubasi telur betina dan kolam larva
3-4 hari induk berpuasa sehingga (gambar.1). Kolam induk jantan
pada proses pemijahan harus cukup (lingkaran I) hanya dapat
cadangan energi dari pakan ikan. dimasuki ikan betina yang
Pakan tambahan dapat berbentuk berukuran lebih kecil dari ikan
dedak, bungkil kedelai, bungkil jantan, kolam induk betina
kacang atau pellet. Pellet dapat (lingkaran II) hanya dapat dilalui
diberikan 3 - 6 % per hari dari bobot larva sedang induk betina tidak
induk. Selama proses pemijahan r 7 dapat keluar dari sekat, dan
hari dan pasca inkubasi telur yaitu kolam larva (III) untuk
setelah hari ke 8 - 12. menangkap larva yang dihasilkan.
Pengolahan dasar kolam
dilakukan seperti pada persiapan
2. Pemijahan secara intensif kolam pemijahan alami.

Dari sifat perilaku ikan nila maka


untuk meningkatkan hasil dan
produktifitas induk ikan nila di dalam
menghasilkan larva, pemijahan ikan
dapat dilakukan dengan melakukan
manipulasi lingkungan yang sesuai
dengan sifat memijah ikan.
Pemijahan secara buatan dapat
dilakukan dengan dua cara :

Pemijahan Intensif Yang


Sepenuhnya Dilakukan Di Kolam Gambar 4.23. Diagram susunan
kolam pemijahan bersekat
Metoda ini dilakukan pada kolam
yang didesain sedemikian rupa x Proses pemijahan

132
Apabila konstruksi kolam Pengambilan telur dilakukan pada
berbentuk lingkaran dengan hari ke 8 - 10 dengan cara
diameter kolam I adalah 4 meter mengumpulkan induk-induk pada
dan kolam II adalah 10 meter, satu sudut hapa untuk memperkecil
serta luas kolam III adalah 44 ruang gerak induk dan memudahkan
meter persegi, maka padat penangkapan. Induk betina di
penebaran induk adalah antara tangkap satu persatu di pegang
250 -300 ekor induk betina bobot bagian kepala, mulut di buka dan di
r 250 gr/ekor dan 40 ekor jantan goyang-goyang di dalam air atau
bobot > 500 gr/ekor. Induk- dialiri air yang bagian bawahnya
induk ikan pada saat pemijahan sudah dipasang lambit/seser halus.
menempati kolam I. Setelah Telur yang ada pada mulut induk nila
proses pemijahan berlangsung akan keluar dan tertampung di lambit
dan telur telah menetas, induk dan selanjutnya di tampung pada
betina akan keluar dari kolam I ke wadah (ember/baki) untuk di bawa
kolam II untuk mengasuh ke tempat penetasan. Setelah
anaknya. Di kolam II ini larva selesai pengambilan telur, induk
tumbuh sampai ukuran r 1 cm, dipelihara di kolam secara terpisah
selanjutnya larva akan masuk ke antara jantan dan betina dan setelah
kolam III, sedangkan induk betina r 14 hari sudah dapat dipijahkan
tetap pada kolam II karena ada kembali. Setelah pemijahan induk
sekat. Kolam III hanya dapat di jantan dan induk betina di ambil dan
masuki oleh larva dari kolam II ke di pelihara pada kolam induk yang
kolam III, larva akan terusir dari berbeda, untuk persiapan pemijahan
kolam II, karena terganggu oleh berikutnya.
induk betina yang ada.

x Pemeliharaan 4.3 Penetasan telur


Pemeliharaan induk dilakukan
dengan pemberian pakan Setelah induk ikan melakukan
tambahan 3 - 6 % perhari dari pemijahan maka sel telur dan sel
bobot ikan. Pemberian pakan sperma akan bertemu dan
dilakukan sesuai yang mengalami proses pembuahan
dibutuhkan oleh induk dan larva. (fertilisasi) yang akan membentuk
zygot. Oleh karena itu pembuahan ini
merupakan proses peleburan antara
Pemijahan Dilakukan Di Hapa, sel telur dan sel sperma untuk
Penetasan Telur Dilakukan Pada membentuk zygot. Pembuahan
Corong Tetas terjadi ditandai dengan masuknya
spermatozoa ke dalam telur lewat
Induk yang sudah siap dipijahkan micropyle. Tiap sel sperma cukup
(matang gonad) di masukkan ke untuk membuahi satu butir telur.
dalam hapa pemijahan dan Pada saat pembuahan spermatozoa
dipelihara dengan memberikan masuk yaitu hanya kepalanya saja
pakan tambahan serta pengaturan sedangkan ekornya tinggal di luar,
air yang baik sampai hari ke 7.

133
cytoplasma dan chorion merenggang menghasilkan sejumlah blastomer
dan semacam sumbat segera yang berukuran sama akan tetapi
menutup micropyle untuk ukurannya lebih kecil. Sel tersebut
menghalangi masuknya memadat untuk menjadi blastodik
spermatozoa lain. Pengerasan kecil yang membentuk dua lapisan
chorion disebabkan oleh enzim sel. Pada saat ini ukuran sel mulai
pengeras yang terdapat pada bagian beragam. Sel membelah secara
dalam lapisan chorion. Pengerasan melintang dan mulai membentuk
chorion berguna untuk melindungi formasi lapisan kedua secara samar
embrio yang masih sangat sensitif. pada kutup anima. Stadia morula
Setelah membentuk zygot maka berakhir apabila pembelahan sel
setiap individu akan mengalami sudah menghasilkan blastomer.
proses embriogenesis sebelum Blastomer kemudian memadat
menetas. Untuk memahami tentang menjadi blastodisk kecil membentuk
proses penetasan telur maka harus dua lapis sel. Pada akhir
dipahami proses tentang pembelahan akan dihasilkan dua
embryogenesis. kelompok sel. Pertama kelompok
sel-sel utama (blastoderm), yang
meliputi sel-sel formatik atau
4.3.1. Perkembangan embrio gumpalan sel-sel dalam (inner mass
cells), fungsinya adalah membentuk
tubuh embrio. Kedua adalah adalah
Perkembangan embrio dimulai dari kelompok sel-sel pelengkap, yang
pembelahan zygote (cleavage), meliputi trophoblast, periblast,
stadia morula (morulasi), stadia auxilliary cells, fungsinya adalah
blastula (blastulasi), stadia gastrula melindungi dan menghubungi antara
(gastrulasi) dan stadia embrio dengan induk atau
organogenesis. lingkungan luar. Kelompok sel-sel
yang terdiri dari jaringan embrio
(blastodic) dan jaringan periblas,
Stadia Cleavage pada ikan, reptil dan burug disebut
Cleavage adalah pembelahan zygote cakram kecambah (germinal disc).
secara cepat menjadi unit-unit yang
lebih kecil yang di sebut blastomer.
Stadium cleavage merupakan Stadia blastula
rangkaian mitosis yang berlangsung Blastulasi adalah proses yang
berturut-turut segera setelah terjadi menghasilkan blastula yaitu
pembuahan yang menghasilkan campuran sel-sel blastoderm yang
morula dan blastomer. membentuk rongga penuh cairan
sebagai blastocoel. Pada akhir
blastulasi, sel-sel blastoderm akan
Stadia morula terdiri dari neural, epidermal,
Morula merupakan pembelahan sel notochordal, meso-dermal, dan
yang terjadi setelah sel berjumlah 32 endodermal yang merupakan bakal
sel dan berakhir bila sel sudah pembentuk organ-organ. dicirikan

134
dua lapisan yang sangat nyata dari notochord disusun menjadi segmen-
sel-sel datar membentuk blastocoel segmen yang disebut somit yaitu
dan blastodisk berada di lubang ruas yang terdapat pada embrio.
vegetal berpindah menutupi
sebagian besar kuning telur. Pada
blastula sudah terdapat daerah yang Stadia organogenesis
berdifferensiasi membentuk organ- Organogenesis merupakan stadia
organ tertentu seperti sel saluran terakhir dari proses perkembangan
pencernaan, notochorda, syaraf, embrio. Stadia ini merupakan proses
epiderm, ektoderm, mesoderm dan pembentukan organ-organ tubuh
endoderm. makhluk hidup yang sedang
berkembang. Dalam proses
organogenesis terbentuk berturut-
Stadia gastrula
turut bakal organ yaitu syaraf,
Gastrulasi adalah proses notochorda, mata, somit, rongga
perkembangan embrio, dimana sel kuffer, kantong alfaktori, rongga
bakal organ yang telah terbentuk ginjal, usus, tulang subnotochord,
pada stadia blastula mengalami linea lateralis, jantung, aorta, insang,
perkembangan lebih lanjut. Proses infundibullum dan lipatan-lipatan sirip.
perkembangan sel bakal organ ada Sistem organ-organ tubuh berasal
dua, yaitu epiboli dan emboli. Epiboli dari tiga buah daun kecambah, yaitu
adalah proses pertumbuhan sel yang ektodermal, endodermal dan
bergerak ke arah depan, belakang mesodermal. Pada ektodermal akan
dan kesamping dari sumbu embrio membentuk organ-organ susunan
dan akan membentuk epidermal, (sistem) saraf dan epidermis kulit.
sedangkan emboli adalah proses Endodermal akan membentuk
pertumbuhan sel yang bergerak ke saluran pencernaan beserta kelenjar-
arah dalam terutama diujung sumbu kelenjar pencernaan dan alat
embrio. pernafasan, dan mesodermal akan
membentuk rangka, otot, alat-alat
peredaran darah, alat eksresi, alat-
Stadia gastrula ini merupakan alat reproduksi dan korium (chorium)
proses pembentukan ketiga daun kulit. Jika proses organogenesis ini
kecambah yaitu ektoderm, telah sempurna maka akan
mesoderm dan endoderm. Pada dilanjutkan dengan proses
proses gastrula ini terjadi penetasan telur.
perpindahan ektoderm, mesoderm,
endoderm dan notochord menuju
tempat yang definitif. Pada periode
ini erat hubungannya dengan proses
4.3.2. Proses penetasan telur
pembentukan susunan syaraf.
Gastrulasi berakhir pada saat kuning
telur telah tertutupi oleh lapisan sel. Penetasan adalah perubahan
Dan beberapa jaringan mesoderm intracapsular (tempat yang terbatas)
yang berada disepanjang kedua sisi ke fase kehidupan (tempat luas), hal

135
ini penting dalam perubahan- faktor luar yang berpengaruh adalah
perubahan morfologi hewan. suhu, oksigen, pH salinitas dan
Penetasan merupakann saat terakhir intensitas cahaya.
masa pengeraman sebagai hasil
beberapa proses sehingga embrio
Penetasan telur terjadi bila embrio
keluar dari cangkangnya.
telah menjadi lebih panjang dari
pada lingkaran kuning dan telah
terbentuk sirip ekor. Penetasan
Penetasan terjadi karena 1) kerja
terjadi dengan cara pelunakan
mekanik, oleh karena embrio sering
chorion oleh suatu enzim atau
mengubah posisinya karena
substansi kimia lainnya hasil sekresi
kekurangan ruang dalam
kelenjar ekstoderm. Selain itu
cangkangnya, atau karena embrio
penetasan juga disebabkan oleh
telah lebih panjang dari lingkungan
gerakan-gerakan larva akibat
dalam cangkangnya (Lagler et al.
peningkatan suhu, intensitas cahaya
1962). Dengan pergerakan-
dan pengurangan tekanan oksigen.
pergerakan tersebut bagian telur
lembek dan tipis akan pecah
4.3.3. Aplikasi Penetasan Telur
sehingga embrio akan keluar dari
ikan
cangkangnya. 2) Kerja enzimatik,
yaitu enzim dan zat kimia lainnya
Penetasan telur pada ikan budidaya
yang dikeluarkan oleh kelenjar
dapat dilakukan dengan berbagai
endodermal di daerah pharink
wadah. Wadah penetasan telur ikan
embrio. Enzim ini disebut chorionase
dapat digunakan antara lain adalah
yang kerjanya bersifat mereduksi
akuarium, kolam, bak atau fiber
chorion yang terdiri dari
glass. Wadah yang di gunakan harus
pseudokeratine menjadi lembek.
bersih. Sebelum penetasan telur, air
Sehingga pada bagian cangkang
wadah penetasan di sanitasi
yang tipis dan terkena chorionase
menggunakan methalyne blue (MB).
akan pecah dan ekor embrio keluar
Jika penetasan telur dilakukan di
dari cangkang kemudian diikuti tubuh
kolam harus menggunakan hapa.
dan kepalanya.
Hapa yang digunakan dengan mata
jaring 1 mm atau lebih kecil dari
Semakin aktif embrio bergerak akan butiran telur. Air pada wadah
semakin cepat penetasan terjadi. penetasan harus mengalir terus
Aktifitas embrio dan pembentukan menerus. Salah satu sumber oksigen
chorionase dipengaruhi oleh faktor terlarut di dalam wadah penetasan
dalam dan luar. Faktor dalam antara berasal dari difusi air langsung
lain hormon dan volume kuning telur. dengan udara. Kadar oksigen terlarut
Hormon tersebut adalah hormon di dalam wadah adalah 6 - 8 ppm.
yang dihasilkan kelenjar hipofisa dan
tyroid sebagai hormon metamorfosa, Pada ikan lele biasanya telurnya
sedang volume kuning telur dilekatkan pada substrat. Telur yang
berhubungan dengan energi telah menempel pada kakaban dapat
perkembangan embrio. Sedangkan ditetaskan dalam wadah budidaya

136
disesuaikan dengan sistem budidaya Tabel 4.7. Perkembangan stadia
yang akan diaplikasikan. Selama embrio ikan lele pada
penetasan telur, air dialirkan terus suhu 28oC
menerus. Seluruh telur yang akan Waktu (jam) Stadia embrionik
ditetaskan harus terendam air,
kakaban yang penuh dengan telur 0 : 45 2 sel
diletakan terbalik sehingga telur 1 : 00 4 sel
menghadap ke dasar bak. Dengan 1 : 15 16 sel
demikian telur akan terendam air 1 : 30 32 sel
seluruhnya. Telur yang telah dibuahi 1 : 45 64 sel
berwarna kuning cerah kecoklatan, 2 : 00 128 sel
sedangkan telur yang tidak dibuahi 2 : 15 Morula
berwarna putih pucat. Di dalam 2 : 30 Awal Blastula
proses penetasan telur diperlukan 2 : 45 Akhir Blastula
suplai oksigen yang cukup. Untuk 4 : 15 Dimulainya epiboly
memenuhi kebutuhan akan oksigen 4 : 45 30% epiboly
terlarut dalam air, setiap bak 5 : 15 Germinal disk
penetasan di pasang aerasi. Telur 7 : 00 60% epiboly
akan menetas tergantung dari suhu 8 : 15 90% epiboly
air wadah penetasan dan suhu udara. 12 : 00 1 – 10 somite
Jika suhu semakin panas, telur akan 24 : 00 80–100% menetas
menetas semakin cepat. Begitu juga
sebaliknya, jika suhu rendah, Pada ikan nila penetasan telur dapat
menetasnya semakin lama. dilakukan dengan dua metode yaitu
penetasan dengan menggunakan
Telur ikan lele akan menetas corong penetasan dan metode
berkisar antara 24-57 jam dari konvensional. Pada metode
pembuahan. Selama penetasan telur konvensional dari induk ikan nila
harus selalu dicek, telur yang sehat yang mempunyai bobot 250 - 300 gr
berwarna hijau kecoklatan, bila ada dapat menghasilkan 300 - 800 butir
telur yang berwarna putih harus telur. Telur ikan nila akan menetas
segera dibuang untuk menghindari setelah 4 - 6 hari. Telur yang telah
berkembangnya jamur. menetas tidak langsung dilepaskan
Perkembangan stadia embrio pada induknya melainkan tetap dimulutnya.
ikan lele telah diamati oleh Volkaert Induk betina melepas larva jika
et al (1994) yang melakukan sudah dapat berenang. Pada tahap
pengamatan pada suhu penetasan awal larva dilepaskan, induk betina
telur yang optimal adalah 28oC masih menjaganya. Di alam, induk
(Tabel 4.7). Telur ikan lele (African betina ikan nila mulai melepaskan
catfish) akan menetas setelah 24 jam larva dari mulutnya pada umur 4 - 5
dengan derajat penetasan 80–100%. hari. Pada umur tersebut induk
betina masih menjaga larva-larva
tersebut. Jika keadaan lingkungan
larva kurang aman, induk ikan
menghisap kembali larvanya. Kuning
telur larva akan habis setelah

137
berumur 5 - 7 hari. Setelah kuning itu direndam pada larutan malachyte
telur habis, larva akan mencari green atau methalyn blue 10 ppm
makanan disekitarnya. Biasanya selama 15 - 30 menit.
induk betina menjaganya dengan
mengikuti kelompok larva tersebut Selama kegiatan penetasan telur air
berenang. Jika ada ikan lain yang terus menerus dialirkan ke corong
mendekati kelompok larva atau penetasan. Agar penggunaan air
keadaan perairan kurang aman lebih efisien, sebaiknya memakai
maka induk tersebut memasukkan sistem resirkulasi air. Dengan sistem
kembali larva-larva tersebut kedalam ini air yang telah digunakan akan
mulutnya. Selanjutnya larva melalui saringan terlebih dahulu baik
dilepaskan kembali pada perairan secara fisis, biologis mapun khemis
yang relatif aman dari gangguan ikan sebelum digunakan selanjutnya ke
lainnya. Secara keseluruhan proses corong tetas. Dengan menggunakan
ini memerlukan waktu kurang lebih saringan tersebut, sistem resirkulasi
18 hari. air dapat digunakan selama lebih
dari 6 bulan, selain lebih efisien, juga
Sedangkan penetasan telur ikan nila mudah dalam pengontrolan
secara intensif dilakukan pada parameter kualitas air yang sesuai
corong tetas, yang merupakan dengan kebutuhan telur dan larva.
modifikasi dari penetasan telur Bak penampungan air dan saringan
secara alami. Modifikasi tersebut yang digunakan secara berkala kira-
terlihat pada kondisi lingkungan, kira 6 bulan sekali dibersihkan. Hal
suplai air untuk gerakan telur, ini untuk menghindari penyumbatan
oksigen terlarut dan sebagainya. Air aliran air oleh kotoran.
yang dialirkan ke corong penetasan
selain agar telur-telur tetap bergerak Tujuan penetasan telur meggunakan
juga untuk mempertahankan kualitas corong tetas adalah untuk
air tetap baik. Corong tetas yang meningkatkan daya tetas telur.
digunakan berbentuk kerucut terbuat Tahap awal perkembangan telur,
dari bahan fibre glass atau bahan telur sangat rentan terhadap
lain. Pada corong tetas terdapat gangguan khususnya gangguan
pipa- pemasukan dan pengeluaran secara mekanik. Gangguan secara
air. Pipa pemasukan terletak di dasar mekanik umumnya terjadi pada saat
corong tetas sedangkan pipa membersihkan telur dari kotoran,
pengeluaran terletak di bagian atas memasukkan telur ke corong
corong tetas. Corong yang berukuran penetasan dan gerakan telur akibat
tinggi 45 cm, diameter atas 30 cm, debit air yang terlalu besar. Oleh
diameter bawah 15 cm dapat sebab itu penanganan telur harus
menetaskan telur sebanyak r 15.000 dilakukan secara hati-hati. Debit air
butir telur/corong. yang terlalu besar dapat
menyebabkan telur membentur
Corong tetas sebelum digunakan dinding atau telur lainnya dengan
terlebih dahulu dibersihkan dari keras sehingga dapat
endapan kotoran, sisa telur dan mengakibatkan kematian. Pada saat
lumut kemudian dikeringkan. Setelah panen, sering terdapat perbedaan

138
umur larva. Perbedaan ini karena Masa inkubasi telur ikan nila
pemijahan induk tidak serentak berhubungan dengan warna telur.
sehingga perkembangan embrio telur Telur yang baru dibuahi memiliki
setiap induk pada kolam pemijahan warna kuning muda. Sedangkan telur
yang sama sering berbeda. Demikian yang akan menetas berwarna kuning
juga ukuran telur setiap induk kecoklatan. Telur yang berwarna
berbeda-beda. Sebelum dimasukkan putih susu adalah telur mati.
ke corong penetasan, telur yang
berbeda baik masa inkubasi maupun Telur hasil seleksi dibersihkan dan
ukuran telur harus dipisahkan dipisahkan, dimasukkan ke dalam
terlebih dahulu. Pemisahan telur corong tetas. Air terus menerus
bertujuan untuk memudahkan dialirkan ke dalam corong tetas.
pemanenan larva. Besar kecilnya debit air yang masuk
ke dalam corong tetas di atur
Pemisahan atau pemilihan telur menggunakan kran. Debit air untuk
dapat dilakukan pada saat telur penetasan telur ikan sebesar 0,8 liter
diambil dari mulut induk dan pada perdetik. Debit air yang terlalu besar
saat telur ditampung. Umumnya telur dapat mengakibatkan kematian telur
pada satu induk seragam baik masa karena tekanan air sehingga telur
inkubasi maupun ukuran. Oleh sebab dapat terbentur ke dinding corong
itu pemisahan telur lebih baik dan tetas atau terbawa air keluar corong
lebih cepat dilakukan dilakukan tetas. Sebaliknya debit air yang
pada saat telur diambil dari mulut terlalu kecil dapat mengakibatkan
induk. Setiap telur yang diambil dari telur tidak bergerak dan kekurangan
mulut induk ditampung dalam satu oksigen. Telur yang tidak bergerak
wadah. Sedangkan telur dari induk dan kekurang oksigen akan mati.
lain yang berbeda masa inkubasi dan Oleh sebab itu kegiatan sehari-hari
ukuran telurnya ditampung pada pada saat penetasan telur adalah
wadah yang lain. Selanjutnya setelah mengontrol debit air dan
dibersihkan, telur yang sama masa membersihkan corong tetas. Corong
inkubasi dan ukuran dari induk yang tetas dapat dibersihkan dengan
lain di tetaskan pada corong tetas menyipon kotoran atau telur yang
yang sama. Sedangkan telur yang mati. Pada saat pengontrolan debit
lain ditetaskan pada corong tetas air di dalam corong tetas harus
yang berbeda. Jika pemisahan telur selalu stabil sehingga tidak
pada wadah penampungan dinama mengganggu gerakan telur.
seluruh telur ditampung dalam satu
wadah kemudian dilakukan Air yang masuk pada corong tetas
pemisahan akan lebih rumit dan memiliki tekanan yang merata
lama sehingga dapat mengakibatkan diseluruh bagian corong tetas agar
telur mati. Kematian telur tersebut telur yang ada semua bergerak. Jika
dapat karena telur tidak bergerak, tekanan aliran air hanya terdapat
benturan dan sinar matahari pada beberapa begian corong tetas
langsung. saja mengakibatkan terdapat titik
mati tekanan air. Telur yang terdapat

139
pada tekanan titik mati tersebut tidak telur dan pemeliharaan larva, induk
bergerak dan mati. betina akan terhambat
perkembangan gonadnya.
Telur ditetaskan pada corong tetas Sedangkan pada pemijahan intensif
selama 5 - 7 hari. Selama penetasan proses tersebut dilakukan secara
telur, air terus menerus dialirkan. buatan (corong tetas). Dengan
Hari ke dua penetasan telur akan demikian induk betina dapat bebas
terlihat telur yang mati dan hidup. dari tugas tersebut dan segera
Telur yang mati segera dibuang menyiapkan kembali untuk
karena akan mempengaruhi kualitas pemijahan berikutnya dalam waktu
air. Sumantadinata (1983) yang relatif cepat.
mengatakan faktor-faktor yang
mempengaruhi daya tetas telur
Pada ikan nila yang telurnya akan
adalah :
ditetaskan pada corong penetasan
1. Kualitas telur. Kualitas telur
harus dilakukan pemanenan telur.
dipengaruhi oleh kualitas pakan
Pemanenan telur ikan nila ini
yang diberikan pada induk dan
dilakukan pada hari ke 9.
tingkat kematangan telur.
Pemanenan dilakukan dengan cara
2. Lingkungan yaitu kualitas air
mengambil telur dari mulut induk
terdiri dari suhu, oksigen, karbon-
betina ikan nila. Sebelum
dioksida, amonia, dll.
pemanenan terlebih dahulu
3. Gerakan air yang terlalu kuat
permukaan air kolam diturunkan
yang menyebabkan terjadinya
sampai ketinggian 10 - 20 cm. Jika
benturan yang keras di antara
pemijahan dilakukan di hapa (waring),
telur atau benda lainnya
maka caranya adalah dengan
sehingga mengakibatkan telur
menarik salah satu ujung hapa ke
pecah.
salah satu sudut hapa. dengan hati-
hati untuk menghindari induk
Blaxter dalam Sumantadinata (1983),
mengeluarkan telur. Karena induk
penetasan telur dapat disebabkan
ikan nila jika merasa dalam bahaya
oleh gerakan telur, peningkatan suhu,
atau terdesak akan mengeluarkan
intensitas cahaya atau pengurangan
telur di sembarang tempat. Hal ini
tekanan oksigen. Dalam penekanan
akan menyulitkan dalam
mortalitas telur, yang banyak
mengumpulkan telur ikan nila.
berperan adalah faktor kualitas air
dan kualitas telur selain penanganan
Pengambilan telur ikan nila dilakukan
secara intensif.
dengan menangkap induk satu
persatu. Penangkapan induk
Oleh karena itu induk betina hanya
dilakukan menggunakan seser kasar
dapat memijah perlu waktu lama.
dan seser halus. Kedua seser ini
Akan tetapi pada pemijahan secara
digunakan pada saat bersamaan.
intensif, induk ikan nila betina dapat
Seser kasar berfungsi untuk
dipijahkan setiap 2 - 4 minggu. Hal
menangkap induk sedangkan seser
ini dapat dijelaskan secara fisiologis
halus berfungsi untuk menampung
ikan sebagai berikut; pada pemijahan
telur ikan. Seser kasar terletak
alami, selama proses pengeraman

140
dibagian atas dan seser halus Lagler (1956), larva adalah
terletak dibagian bawah. Pada saat organisme yang masih berbentuk
menangkap induk dilakukan dengan primitif atau belum mempunyai organ
hati-hati agar telur tidak dikeluarkan. tubuh lengkap seperti induknya untuk
menjadi bentuk definitif yaitu
Cara mengambil telur dari induk metamorfosa. Perkembangan stadia
betina yaitu dengan memegang larva meliputi stadia pro-larva dan
bagian kepala ikan. Pada saat stadia pasca larva. Stadia pro-larva
bersamaan salah satu jari tangan merupakan tahap larva yang masih
membuka mulut dan tutup insang. memiliki kuning telur, sedangkan
Selanjutnya tutup insang di siram air stadia pasca larva merupakan tahap
sehingga telur keluar melalui rongga larva yang telah habis kuning
mulut. Selanjutnya telur-telur telurnya dan masa penyempurnaan
tersebut ditampung dalam wadah. organ-organ tubuh yang ada. Akhir
Hal yang perlu diperhatikan adalah stadia ini ditandai dengan bentuk
menghindari gerakan induk sekecil larva yang sama dengan induknya
mungkin agar telur yang telah keluar yang biasa disebut dengan juvenil
tidak berserakan. Induk yang telah atau benih ikan.
diambil telurnya dan yang belum
memijah dikembalikan ke kolam Larva ikan yang baru menetas
pemeliharaan induk. memiliki kuning telur. Larva tersebut
Telur pada wadah penampungan mengambil makanan dari kuning
jangan terkena sinar matahari telur. Kuning telur akan habis setelah
langsung dan diupayakan telur selalu larva berumur 3 hari. Setelah kuning
bergerak. Telur yang terlalu lama telur habis, larva mengambil
diam serta kena sinar matahari makanan dari luar atau lingkungan
langsung dapat menimbulkan hidupnya. Larva ikan yang
kematian. Selanjutnya sebelum dibudidayakan harus dilakukan
dimasukkan ke corong tetas, telur pemeliharaan untuk mencapai stadia
terlebih dahulu dibersihkan dari benih. Wadah yang dapat digunkan
kotoran berupa lumpur, lumut, sisa untuk melakukan pemeliharaan larva
pakan dan sebagainya. Telur yang ini bermacam-macam.
telah bersih dari kotoran dapat Wadah pemeliharaan larva ini
dimasukkan ke dalam corong antara lain dapat berupa bak atau
penetasan. kolam. Pada pemeliharaan di bak
yang perlu diperhatikan adalah
sanitasi wadah sebelum digunakan
untuk pemeliharaan dengan cara
4. 4. Pemeliharaan larva dan wadah direndam menggunakan
benih ikan larutan Methilen Blue 100 ppm
selama 24 jam, kemudian dikuras
Larva adalah anak hewan dan diisi air bersih. Sedangkan
avertebrata yang masih harus wadah yang menggunakan kolam,
mengalami modifikasi menjadi lebih sebelum digunakan harus disiapkan
besar atau lebih kecil untuk terlebih dahulu. Persiapan kolam
mencapai bentuk dewasa. Menurut pemeliharaan larva/pendederan

141
meliputi perbaikan pematang, perbaikan pematang, kemudian
pengolahan dasar kolam, perbaikan dilakukan pengapuran.
pipa pemasukan dan pengeluaran,
pemupukan dan pengapuran. Pengapuran bertujuan untuk
Perbaikan pematang bertujuan untuk membasmi bibit penyakit dan
mencegah kebocoran kolam. meningkatkan kadar pH tanah. Kapur
Kebocoran kolam dapat diakibatkan di tebar merata di dasar kolam. Dosis
oleh binatang air seperti belut, ular, kapur yang di tebar adalah 10 - 50
kepiting dan lain-lain. Pematang gr/m2 . Untuk kolam baru diperlukan
yang bocor mengakibatkan air kolam 50 - 150 kg kapur/m2 Kapur
tidak stabil dan benih ikan lolos ditebarkan pada dasar kolam lalu
keluar kolam. Perbaikan pematang dicampur dengan lapisan lumpur
yang bocor dilakukan dengan paling atas sedalam 5 cm .
menyumbat bagian yang bocor Seminggu kemudian lakukan
menggunakan tanah atau ijuk. pemupukan dengan 50 - 100 kg
pupuk kandang/100 m2, TSP 0,25
Pengolahan dasar kolam dilakukan kg/100 m2, dan urea 0,25 kg/100 m2.
dengan mencangkul dasar kolam. Semprot kolam dengan
Tujuan mengolah dasar kolam menggunakan pestisida golongan
adalah untuk menguapkan gas organophosphat seperti Sumithion,
beracun yang terdapat di dasar Argothion, dan Diazinon dengan
kolam. Tanah yang baru dicangkul konsentrasi 3 - 4 ppm. Kolam sudah
diratakan. Setelah dasar kolam rata, dapat diairi 5 - 7 hari setelah semua
lalu dibuat saluran ditengah kolam. rangkaian kegiatan tersebut diatas
Saluran ini disebut kemalir. Kemalir dilakukan. Kolam yang telah di pupuk
berfungsi untuk memudahkan dan dikapur segera ditutup pipa
pemanenan dan sebagai tempat pengeluaran air. Selanjutnya pipa
berlindung benih ikan pada siang pemasukan air di buka. Setelah
hari dan jika ada predator ketinggian air 20 - 30 cm, tutup pipa
(pemangsa). Kemalir dibuat mulai pemasukan air. Biarkan kolam
dari pipa pemasukan air sampai pipa selama 5 - 7 hari. Hari ke - 8 benih
pengeluaran air. Kemalir dibuat ikan dapat di tebar ke kolam untuk
dengan ukuran lebar 0,5 meter dan didederkan.
kedalaman 0,3 meter.
Setelah dipastikan hampir semua
Pipa pemasukan dan pengeluaran telur menetas, kakaban diangkat
air dilengkapi saringan. Fungsi untuk menghindari penurunan
saringan pada pipa pemasukanan kualitas air akibat adanya
adalah untuk menghindari masuknya pembusukan dari telur – telur yang
ikan liar atau sampah, sedangkan tidak menetas. Disamping itu juga
fungsi saringan pada pipa dilakukan pergantian air bak
pengeluaran adalah untuk penetasan dengan membuang air
menghindari lolosnya benih ikan sampai ¾ bagian volume air dan
keluar kolam. Setelah melakukan kemudian diisi kembali dengan air
pengolahan dasar kolam dan yang baru. Larva ikan lele yang baru
menetas akan berwarna hijau dan

142
berkumpul di dasar bak penetasan Agar benih lele tidak mengalami
dibagian yang gelap. Ukuran larva stres, pemanenan dilakukan pada
lebih kurang 5 – 7 mm dengan berat pagi atau sore hari saat suhu rendah.
1,2 – 3 mg. Setelah berumur 2 hari, Cara memanennya adalah air dalam
larva mulai bergerak dan menyebar bak disurutkan secara perlahan,
ke seluruh bak penetasan. Sampai selanjutnya benih ditangkap secara
umur 3 hari larva tidak perlu diberi hati hati menggunakan seser
pakan tambahan, karena masih (serokan) halus. Benih dapat
memanfaatkan cadangan makanan langsung dipasarkan (dijual)
yang dibawa di dalam tubuhnya, langsung kepada pembeli atau
yakni yang dikenal dengan “kuning didederkan pada kolam pendederan.
telur”. Larva ikan lele dumbo baru
diberikan pakan tambahan setelah Larva yang akan didederkan
berumur 4 hari dengan memberikan sebaiknya jangan ditebarkan
emulsi kuning telur ayam. Pemberian langsung ke dalam kolam namun
pakan tersebut sampai umur 5 hari. terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi
Setelah menginjak umur 6 hari, larva untuk menghindarkan perubahan
diberi pakan alami (makanan hidup) suhu ekstrim antara suhu kolam
yang berukuran kecil, seperti kutu air dengan suhu air pada wadah
(daphnia sp) atau cacing sutera pengangkutan. Padat penebaran
(tubifex). Pakan buatan kurang baik larva 10.000–15.000 ekor/m2.
diberikan karena jika tidak habis Selama masa pendederan (28 - 30
akan membusuk sehingga hari) pemupukan ulang perlu
menurunkan kualitas air pada bak dilakukan untuk menjamin
pemeliharaan. Pakan alami diberikan tersedianya makanan alami yang
3 kali sehari, pagi, siang dan sore cukup. Pemupukan dapat dilakukan
hari atau sesuai dengan kebutuhan. 1 - 2 kali seminggu, menggunakan
pupuk kandang (25 kg kotoran sapi
Faktor lain yang perlu diperhatikan atau 3 kg kotoran ayam/100 m2).
selama pemeliharaan benih atau
larva adalah kualitas air. Pergantian Pada saat pemeliharaan dapat diberi
air dilakukan setiap 2 – 3 hari sekali makanan tambahan berupa
atau tergantung dari kebutuhan. makanan halus seperti bekatul,
Jumlah air yang diganti sebanyak konsentrat, atau pakan buatan
50–70 % dengan cara menyipon bentuk tepung. Pengelolaan kualitas
(mengeluarkan air secara selektif air dapat dilakukan berupa
dengan selang) sambil membuang pengontrolan sistem pemasukan air
kotoran yang mengendap pada agar tetap mengalir untuk
dasar bak pemeliharaan larva. mempertahankan tinggi air di kolam
Selang yang digunakan adalah serta menjamin difusi oksigen terlarut
selang plastik yang lentur dan biasa kedalam kolam. Sedangkan
digunakan sebagai selang air. pengendalian hama penyakit dapat
dilakukan dengan cara mencegah
Setelah benih lele berumur 2 – 3 hama atau hewan liar masuk ke
minggu dan mencapai ukuran 0,5 – 2 kolam seperti: membersihkan
cm, benih sudah siap untuk dipanen. lingkungan sekitar kolam, memasang

143
saringan pada pipa inlet, memasang Cara penebaran untuk proses
pagar sekeliling kolam, memasang adaptasi (aklimatisasi) benih lele
lampu perangkap, dan lain dumbo cukup mudah. Benih lele
sebagainya. dumbo yang masih berada di dalam
wadah pengangkutan di biarkan
terapung-apung diatas permukaan
Pendederan adalah pemeliharaan
air selama 5 menit. Selanjutnya
benih lele dumbo yang berasal dari
ditambahkan air dari kolam ke wadah
hasil pembenihan sehingga
pengangkutan sedikit demi sedikit.
mencapai ukuran tertentu.
Dengan cara ini diharapkan kualitas
Pendederan dilakukan dalam dua
air yang ada di dalam wadah
tahap, yakni pendederan pertama
pengangkutan tersebut akan sama
dan pendederan kedua. Pada
dengan yang ada di kolam.
pendederan pertama, benih lele
dumbo yang dipelihara adalah benih
Kegiatan pemeliharaan benih
yang berasal dari pembenihan yang
merupakan kegiatan inti dari
berukuran 1 – 3 cm. Benih ini
pendederan. Selama pemeliharaan,
dipeliharan selama 12 – 15 hari
benih harus diberi pakan tambahan.
sehingga saat panen akan diperoleh
Pakan tambahan berupa tepung
lele dumbo berukuran kurang lebih 5
pelet sebanyak 3 – 5 % dari jumlah
– 6 cm perekornya. Pada
total benih yang dipelihara. Pakan
pendederan ke dua, benih yang
diberikan 3 – 4 kali sehari. Agar
dipelihara berasal dari hasil
pemberian pakan lebih efektif,
pendederan pertama. Pemeliharaan
sebaiknya pemberian pakan
dilakukan selama 12 – 15 hari
disebarkan merata pada kolam
sehingga diperoleh benih lele dumbo
pendederan.
berukuran 8 – 12 cm perekornya.
Pendederan ini dapat dilakukan di
Untuk memperkecil mortalitas atau
kolam tanah atau kolam tembok.
kehilangan benih, selama
pemeliharaan harus dilakukan
Penebaran benih dilakukan setelah 6
pengontrolan terhadap serangan
hari dari pemupukan atau saat
hama dan penyakit. Hama yang
pakan alami telah tersedia.
menyerang benih lele berupa belut,
Penebaran benih dilakukan pada
ular, ikan gabus. Tindakan
pagi atau sore hari dengan
pencegahan penyakit cukup dengan
kepadatan 200 – 300 ekor/M2
menjaga kualitas dan kuatitas air
berukuran 1 - 3 cm per ekornya.
kolam, yakni dengan menghindarkan
Penebaran harus dilakukan dengan
pemberian pakan yang berlebihan.
hati-hati agar benih lele dumbo tidak
Karena pakan yang berlebihan akan
mengalami stress. Benih yang akan
menumpuk di dasar kolam dan bisa
didederkan sebaiknya jangan ditebar
membusuk yang akhirnya menjadi
langsung ke kolam namun terlebih
salah satu sumber penyakit.
dahulu dilakukan aklimatisasi untuk
menghindari perubahan suhu yang
Pada ikan nila pemeliharaan larva
mencolok antara suhu air kolam dan
dan benih ikan dapat dilakukan pada
suhu air pada wadah pengangkutan.
wadah pemeliharaan larva antara

144
lain adalah akuarium, fibre glass, bak ditampung di wadah. Selanjutnya
dan sebagainya. Sebelum larva benih tersebut ditebar di kolam.
dimasukkan, wadah pemeliharaan Sebelum ditebar terlebih dahulu di
larva terlebih dahulu dibersihkan dan lakukan aklimatisasi dengan cara
dilakukan sanitasi. Sanitasi dapat wadah yang berisi larva dimasukkan
menggunakan malachyte green atau ke dalam air kolam. Jika suhu air
methalyn blue 10 ppm dengan cara wadah penampungan larva lebih
dibilas keseluruh permukaan wadah. rendah dari suhu air kolam maka air
kolam dimasukkan sedikit demi
Pemeliharaan larva dilakukan sedikit ke wadah penampungan
selama 6 - 8 hari, larva berumur 3 sampai suhu kedua air tersebut
hari sudah dapat berenang di dasar sama. Selanjutnya larva ditebar
wadah pemeliharaan. Sedangkan dengan cara memiringkan wadah
larva umur 5 hari sudah dapat penampungan larva sehingga larva
berenang dipermukaan air. dapat keluar dengan sendirinya
berenang ke kolam. Penebaran larva
Pemeliharaan larva meliputi sebaiknya dilakukan pagi atau sore
pemberian pakan dan pengelolaan hari pada saat suhu udara rendah.
kualitas air. Selama pemeliharaan,
larva dapat diberi pakan berupa Pendederan dilakukan selama 3 - 4
pakan alami, tepung ikan, dedak minggu. Pada umur tersebut benih
halus dan sebagainya. Pakan yang ikan sudah men-capai ukuran 3 - 5
diberikan harus lebih kecil dari cm. Selama pendederan benih ikan
bukaan mulut larva dan jumlah selain mendapatkan makanan alami
pakan. Ukuran butiran pakan harus di kolam juga diberi pakan tambahan
lebih kecil dari bukuaan mulut larva. yang halus seperti dedak. Pakan
Demikian pula jumlah pakan harus tambahan tersebut ditebar di
sesuai dengan jumlah larva. Pakan sepanjang kolam. Frekuensi
yang tersisa di wadah pemeliharaan pemberian pakan sebanyak 2 - 3 kali
dapat mengakibatkan kualitas air perhari. Kandungan protein pakan
kurang baik. Oleh sebab itu setiap benih ikan sebesar t 30 %. Jumlah
hari dilakukan penyiponan terhadap pakan yang diberikan 10 % dari
kotoran atau sisa pakan. Air harus biomasa.
terus menerus mengalir di wadah.
Selain itu sebaiknya diberi aerasi Kualitas air sangat penting
pada wadah pemeliharaan larva. diperhatikan dalam kegiatan
pendederan. Suhu yang baik untuk
Benih yang telah berumur 7 - 8 hari pendederan ikan nila adalah 28 - 30
ditebar di kolam pendederan. qC. Sedangkan oksigen terlarut
Diharapkan pada saat penebaran sebesar 6 - 8 ppm. Pertumbuhan
pakan alami sudah tersedia di kolam. ikan mulai terganggu pada suhu d 18
Padat penebaran benih ikan nila qC dan t 30 qC.
sebanyak 75 - 100 ekor/m2. Benih
dari wadah pemeliharaan larva Pada suhu optimum, pertumbuhan
ditangkap menggunakan seser halus. ikan normal. Suhu air sangat
Larva yang tertangkap tersebut

145
berpengaruh pada laju metabolisme
ikan. Perubahan temperatur yang Pengelolaan kualitas air mutlak perlu
terlalu drastis dapat menimbulkan diperlukan karena benih patin sangat
gangguan fisiologis ikan yang dapat peka terhadap perubahan lingkungan
menyebabkan ikan stress. khususnya kualitas air. Pada
pemeliharaan benih ikan patin
Pencegahan hama dan penyakit secara intensif yang dilakukan di
pada kegiatan pendederan sangat bak atau akuarium perlu dilakukan
perlu dilakukan. Pencegahan pembersihan kotoran dan
tersebut dapat dilakukan dengan penggantian air di wadah
pengeringan dan pengapuran dasar pemeliharaan. Pembersihan wadah
kolam serta pergantian air kolam, dilakukan dengan menyipon kotoran
membuat saringan air sebelum air dan sisa makanan menggunakan
masuk ke kolam. Hama yang sering selang. Pada saat menyipon harus
menyerang benih ikan nila adalah dilakukan dengan hati-hati agar
belut, ular, burung, ikan gabus dan benih ikan tidak ikut keluar.
ikan lele. Penyakit yang menyerang Penyiponan dapat juga dilakukan
terutama penyakit parasitik seperti juga sekaligus dengan penggantian
Ichthyophthirius multifilis yang air. Air yang dikeluarkan pada saat
mengakibatkan bintik putih penyiponan segera diganti dengan
dipermukaan tubuh ikan dan air bersih. Air yang dikeluarkan
mengakibatkan kematian masal. sebanyak 25 - 50%. Sehingga air
Pencegahan penyakit ini dilakukan yang diganti sebanyak air yang
dengan menambahkan garam dapur dikeluarkan. Hal yang perlu
di kolam media pendederan diperhatikan pada saat penggantian
sebanyak 200 gr/m3. air adalah suhu air. Suhu air yang
akan dimasukkan ke dalam wadah
Pemeliharaan benih pada ikan patin pemeliharan. Selain itu air baru yang
meliputi pemberian pakan, akan dimasukkan sebaiknya telah
pengelolaan kualitas air serta diendapkan terlebih dahulu.
pengendalian/hama penyakit ikan.
Pemberian pakan yang perlu Pengendalian hama dan penyakit
diperhatikan adalah jenis pakan, benih ikan patin lebih ditekankan
kadar protein, jumlah ukuran, dan pada pencegahan. Pencegahan
frekuensi pemberian pakan. dapat dilakukan dengan sanitasi
Pemberian pakan benih ikan patin lingkungan seperti wadah dan air.
yang dipelihara secara intensif dapat Demikian juga air yang akan
diberikan jenis cacing tubifex, digunakan sebaiknya disanitasi
daphnia, rotifera dan lain-lain. demgan menggunakan methylen
Pemberian pakan benih ikan harus blue, malachyte green, Kalium
disesuaikan ukuran benih ikan permanganat dan sebagainya.
dengan ukuran pakan. Pakan yang Wadah yang akan digunakan
diberikan untuk benih ikan sesuai sebaiknya terlebih dahulu
dengan bukaan mulut benih ikan. dibersihkan menggunakan deterjen.
Pakan yang diberikan harus lebih Hama dan penyakit ikan timbul
kecil dengan bukaan mulut ikan. disebabkan oleh kondisi lingkungan,

146
kondisi benih ikan dan bibit penyakit.
Ketiga bibit penyakit tersebut Selanjutnya kolam diisi dengan air
menjadi suatu sistem sehingga benih setinggi 40 cm. Pakan alami akan
ikan terserang penyakit. Kondisi mencapai puncaknya aetelah 10 –
lingkungan yang kotor 14 hari dari pemupukan. Pada hari
menyebabkan benih ikan lemah, ke 10 air kolam dinaikkan menjadi
kurang nafsu makan. Pada kondisi 50-70 cm. Selanjutnya benih ikan
tersebut benih ikan mudah terserang dapat dilepas ke kolam. Pelepasan
bibit penyakit. Parasit/penyebab benih sebaiknya dilakukan sore hari
penyakit sering menyerang bibit agar suhu air kolam sudah menurun.
benih ikan patin adalah Pelepasan benih ikan menggunakan
Ichthyopthirius mulitifilis atau white metode aklimatisasi. Demikian juga
spot, gyrodactius sp, dactilogyrus sp, untuk pelepasan benih ikan patin ini
aeromonas sp dan sebagainya. juga menggunakan metode
Ichthyopthirius sp sering menyerang aklimatisasi. Metode aklimatisasi
pada bagian sisik dan sirip benih adalah suatu cara memberikan
ikan. Benih ikan yang terserang kesempatan kepada ikan untuk
penyakit ich biasanya menggosok- menyesuaikan diri terhadap
gosokkan bagian tubuhnya ke lingkungan baru. Lingkungan baru
dinding atau dasar wadah. tersebut adalah suhu, pH dan
salinitas. Suhu
Pemeliharan benih ikan patin merupakan ”Controling factor” yaitu
dilakukan secara intensif di bak, apabila suhu air berubah maka faktor
akuarium, fiberglass dan dapat juga yang lain akan berubah. Sedangkan
dilakukan dipeliharaan di kolam. Jika pH termasuk ”Masking factor” yaitu
pemeliharan benih ikan patin di sebagai faktor pengendali perubahan
kolam harus dilakukan persiapan. kimia dalam air. Ikan mempunyai alat
Persiapan tersebut meliputi dan cara untuk beradaptasi terhadap
pengolahan dasar kolam, lingkungannya. Alat-alat tersebut
pemupukan dan pengapuran, akan dipergunakan pada saat
pembuatan kamalir, perbaikan sedang mengadakan proses
saluran dan sebagainya. osmoregulasi. Alat-alat tersebut
antara lain kulit, insang, ginjal.
Pengolahan dasar kolam berfungsi Namun demikian ikan mempunyai
untuk mengoksidasi gas beracun batas toleransi terhadap perubahan
yang terdapat di dasar kolam. lingkungannya. Begitu juga ikan
Pengolahan dasar kolam meliputi mempunyai batas toleransi terhadap
pencangkul tanah dasar kolam. perubahan lingkungannya. Sebagai
Selanjutnya dilakukan pemerataan contoh ikan hanya mampu mentolerir
dasar kolam. Pemupukan bertujuan perubahan suhu hanya ± 5 0C,
untuk menumbuhkan pakan alami perubahan ini mampu ditolerir 0,5 0C
dikolam. Pakan alami ini diharapkan permenit. Betapa pentingnya kehati-
menjadi pakan utama bagi benih ikan. hatian saat pelepasan benih ikan
Pupuk ditebar merata di dasar kolam. patin.
Dosis pupuk yang ditebar sebanyak
0,3 - 0,5 kg/m2.

147
Padat penebaran sangat tergantung pendekatan jumlah pakan yang
kepada ”Caryng Capacity” kolam diberikan per hari adalah 3% dari
tersebut dan sifat serta ukuran ikan. total bobot ikan. Frekuensi
Caryng capacity bisa diartikan daya pemberian pakannya 3 kali yaitu pagi,
dukung kolam yang menyangkut siang dan sore hari dengan jumlah
kelimpahan pakan alami, yang sama. Tetapi kondisi
ketersediaan oksigen serta permintaan pakan akan berubah-
minimalnya faktor penggangu ubah tergantung suhu air. Apabila
hidupnya ikan. Caryng capacity bisa cuaca cerah, matahari bersinar
dihitung, contoh : ada beberapa juta terang maka suhu air akan naik
sel per ml kelimpahan planktonnya, segala proses/metabolisme
ada berapa ppm kandungan dipercepat. Barangkali apabila
oksigennya atau berapa kapasitas kondisi demikian frekuensi
oksigen per volume kolam tersebut. pemberian pakan akan lebih dari 2
Kemudian dengan menggunakan kali. Tetapi apabila cuaca mendung,
metode sampling ada berapa juta sel matahari tidak bersinar otomatis
plankton yang terdapat dalam perut suhu akan menurun, kondisi ini
ikan dan berapa laju kecepatan dibarengi dengan fotosintesis
respirasi ikan tersebut dalam plankton terhambat. Sehingga
menyerap oksigen. produksi oksigen menurun sebagai
akibat nafsu makan ikan menurun
permintaan ikan akan pakan juga
Hal ini bisa digunakan rumus
menurun. Ada suatu teori bahwa
Schroeder (1975), respirasi ikan
untuk mengatasi ikan kekurangan
pada suhu 20-30 0C.
oksigen disamping melakukan aerasi
Y= 0.001 W0,82 air, diusahakan ikan selalu berenang
Y= Konsumsi O2/ikan (gr)/jam dipermukaan air. Hal ini terjadi
W= Berat ikan apabila ikan dipuasakan.
R= 0.99
Pakan yang diberikan selama
pendederan benih ikan patin adalah
Dengan membandingkan caryng
campuran tepung pelet dengan
capacity dengan jumlah plankton isi
bekatul dengan perbandingan 1 : 2.
perut ikan dan laju respirasi ikan
Tetapi sebenarnya jenis ikan ini
maka padat penebaran bisa dicari.
sangat menyukai pakan alami. Jika
Secara singkat caryng capacity
kombinasi kedua jenis pakan yaitu
biasanya telah diketemukan
pakan buatan dan pakan alami
berdasarkan pengalaman atas
diberikan bersama adalah sangat
beberapa kali pendederan ikan atau
baik, karena unsur gizinya saling
pemeliharaan ikan pada kolam
melengkapi. Dari hari kehari ikan
tersebut. Contoh kolam A seluas 200
hidup itu tumbuh, baik bertambah
m2 biasanya ditebar ikan 100 ekor/
panjang maupun bertambah berat.
m2 atau menghasilkan ikan 300 kg.
Begitu pula dari hari ke hari populasi
ikan semakin berkurang ada
Dalam pemeliharaan benih ikan patin
beberapa ikan yang mati. Atas dasar
harus dilakukan pemberian pakan.
kejadian ini maka untuk menetukan
Menurut beberapa penelitian bahwa

148
jumlah pakan pada hari-hari pencegahan terhadap hama dan
berikutnya perlu diadakan sampling penyakit ikan, pengontrolan
ikan (Gambar 4.24). Jika total bobot pertumbuhan (sampling, grading dan
ikan diketahui maka jumlah pakan sortasi) serta pengelolaan kualitas air.
yang dibutuhkan dapat dihitung.
Konversi/efesiensi pakan akan dapat Berdasarkan jenis pakan yang
dihitung apabila jumlah pakan yang digunakan dalam melakukan proses
diberikan serta bobot total ikan pembesaran ikan dapat
diketahui. Untuk itu pendataan hal ini dikelompokkan menjadi tiga
perlu ketekunan. kelompok yaitu :
1. Pembesaran ikan secara
tradisional yaitu pembesaran ikan
yang hanya mengandalkan
pakan alami yang terdapat dalam
kolam budidaya. Padat
penebaran disesuaikan dengan
daya dukung kolam dan pakan
yang tersedia di kolam
pembesaran. Dalam pembesaran
tradisional ini kesuburan perairan
Gambar 4.24. Sampling benih ikan akan sangat menentukan
tumbuhnya pakan alami.
Misalnya pembesaran ikan pada
kolam tergenang, pembesaran
ikan disawah.
2. Pembesaran ikan semiintensif
4.5. Pembesaran Ikan yaitu pembesaran ikan yang lebih
Pembesaran ikan merupakan salah mengutamakan pakan alami
satu proses dalam budidaya ikan yang terdapat pada kolam dan
yang bertujuan untuk memperoleh diberi pakan tambahan yang
ikan ukuran konsumsi. Pada usaha tidak lengkap kandungan gizi dari
budidaya ikan pembesaran pakan tersebut. Pada
merupakan segmen usaha yang pembesaran semi intensif ini
banyak dilakukan oleh para padat penebaran lebih tinggi
pembudidaya ikan. Dalam dibandingkan dengan tradisional.
melakukan pembesaran ikan ini Misalnya melakukan pembesaran
relatif tidak terlalu sulit karena ikan pada kolam air tenang
ketrampilan yang dibutuhkan tidak dengan memberikan pakan
sesulit dalam melakukan tambahan berupa dedak selain
pembenihan ikan. Pada kegiatan pakan alami yang terdapat pada
pembesaran ikan yang perlu kolam pembesaran.
diperhatikan antara lain adalah 3. Pembesaran ikan intensif yaitu
wadah yang akan digunakan dalam pembesaran ikan yang dalam
proses pembesaran, padat proses pemeliharaannya
penebaran, pola pemberian pakan, mengandalkan pakan buatan
dalam pemberian pakannya serta

149
dilakukan pada wadah yang satu contoh pembesaran ikan mas
terbatas dengan kepadatan secara semi intensif.
maksimal. Dalam pembesaran
secara intensif ini harus Pembesaran ikan mas secara
diperhitungkan kualitas dan intensif adalah ikan mas dalam air
kuantitas air yang masuk yang mengalir, ukuran kolam
kedalam kolam pembesaran. pemeliharaan relatif kecil (kurang
dari 100m2) dan sangat bergantung
pada pakan buatan. Pakan buatan
4.5.1. Pembesaran ikan mas yang diberikan biasanya adalah
pellet. Salah satu contoh
Pembesaran ikan mas dapat
pembesaran ikan mas secara intensif
dibedakan menjadi 3 kelompok
adalah pembesaran ikan mas di
berdasarkan penyediaan pakan dan
kolam air deras (running water) atau
luas lahan pemeliharaan, yaitu :
jaring terapung.
1. Pembesaran ikan mas secara
ekstensif/tradisional. Berdasarkan jenis ikan yang
2. Pembesaran ikan secara semi dipelihara dalam kolam
intensif. pemeliharaan/pembesaran ikan mas
3. Pembesaran ikan mas secara di kelompokkan menjadi 2, yaitu :
intensif. 1. Mono kultur, yaitu pemeliharaan
ikan mas dalam wadah
Pembesaran ikan mas secara pembesaran yang hanya diisi
tradisional adalah pembesaran ikan oleh ikan mas saja. Dalam
mas dalam kolam yang tenang pemeliharaan ikan mas secara
airnya dan dalam pemeliharaannya monokultur dapat dikelompokkan
hanya mengandalakan pakan yang menjadi tunggal kelamin dan
ada didalam kolam pemeliharaan, campur kelamin.
tidak ada pakan tambahan. Biasanya
ukuran kolam pembesaran relatif Pemeliharaan ikan mas tunggal
luas (lebih dari 200m2). kelamin adalah pemeliharaan
ikan mas yang menggunakan
Pembesaran secara semi intensif
ikan jantan atau ikan betina saja.
adalah pembesaran ikan mas dalam
Pemeliharaan ikan mas campur
kolam air tenang tetapi dalam
kelamin adalah pemeliharaan
pemeliharannya diberi makanan
ikan mas dengan menggunakan
tambahan. Makanan tambahan ini
ikan jantan dan betina bersama-
dapat berupa dedak, limbah rumah
sama dalam wadah
tangga, daun-daunan dan
pemeliharaan. Hal ini muncul
sebagainya. Selain itu dapat juga
karena adanya kecenderungan
ditambahkan pakan buatan (pellet)
pada ikan mas betina untuk
tetapi jumlahnya sedikit.
tumbuh lebih cepat dibandingkan
dengan ikan jantan.
Pembesaran ikan mas di sawah dan
di dalam kerambah merupakan salah

150
2. Polikultur yaitu pemeliharaan ikan adalah pakan alami, pakan
mas dengan mempergunakan buatan dan pakan tambahan.
lebih dari satu jenis ikan dalam
wadah pemeliharaan. Ikan mas Pakan alami adalah makanan
dapat dipelihara secara polikultur hidup bagi larva dan benih ikan
dengan ikan mas atau ikan nila, yang diperoleh dari
karena jenis ikan ini bukan perairan/kolam atau
merupakan pesaing makanan membudidayakannya secara
dalam kolam pemeliharaan. terpisah. Ikan mas merupakan
ikan pemakan segala (omaevora),
Dalam melakukan usaha oleh karena itu sebaiknya pada
pembesaran ikan mas, ukuran benih kolam pemeliharaan harus
yang akan digunakan sangat dilakukan pemupukan awal 3-5
bergantung kepada sistem budidaya hari sebelum penebaran benih
yang akan ditetapkan. Pada dan pemupukan susulan agar
budidaya ikan mas di kolam air deras, ketersediaan pakan alami di
ukuran benih yang dapat digunakan dalam kolam pemeliharaan selalu
sebaiknya berukuran 100 gram/ekor. ada. Ketersediaan pakan alami
yang melimpah akan
Sedangkan pembesaran ikan mas di
menguntungkan bagi ikan dan
jaring terapung saat ini sudah dapat
petani itu sendiri karena tidak lagi
menggunakan benih ikan mas yang
membutuhkan pakan tambahan
berukuran lebih dari 5 – 8 cm.
dalam pemeliharaannya.
Padat penebaran benih ikan mas di
kolam pemeliharaan harus dilakukan
Pakan tambahan yang diberikan
dengan hati-hati dan biasanya di
dalam bentuk apa adanya
tebar pada saat matahari belum
kepada ikan pemeliharaan
bersinar. Agar benih yang ditebar
seperti daun-daunnan, keong,
tidak mengalami stress atau tingkat
limbah rumah tangga dan lain-
kematian yang tinggi. Sebaiknya
lain. Pakan tambahan
benih ikan mas tersebut dibiarkan
dibutuhkan oleh ikan mas dalam
keluar dengan sendirinya dari tempat
pemeliharaan ikan mas secara
penampungan benih (plastik)
semi intensif.
kedalam pemeliharaan.
Pakan buatan adalah pakan yang
Hal-hal yang harus diperhatikan
dibuat dengan susunan bahan
dalam melakukan pembesaran ikan
tertentu dengan gizi sesuai
mas sampai mencapai ukuran
keperluan ikan. Pakan buatan
konsumsi adalah :
dapat berbentuk pellet, larutan
(emulsi dan suspensi), lembaran
1. Pakan.
(flake atau waren) dan remahan.
Pakan merupakan suatu sumber
Ikan mas yang dipelihara secara
energi bagi ikan. Tanpa makanan
intensif dan semi intensif
ikan tidak akan tumbuh dan
memerlukan pakan buatan.
berkembang biak. Pakan yang
Bentuk pakan buatan yang biasa
dapat diberikan untuk ikan mas
diberikan adalah pellet. Garis

151
tengah pellet berkisar antara 2-4 membutuhkan oksigen dalam
mm. bentuk terlarut dalam air untuk
proses metabolisme di dalam
2. Pengelolaan kualitas air. tubuhnya dan untuk bernafas.
Pengelolaan kualitas air adalah Kandungan oksigen terlarut di
cara pengendalian kondisi air di dalam air agar ikan mas tumbuh
dalam kolam budidaya dan berkembang minimal 3 ppm.
sedemikian rupa sehingga Kebutuhan oksigen terlarut ini
memenuhi persyaratan hidup sangat dipengaruhi oleh suhu air,
bagi ikan yang akan di pelihara. biasanya suhu air meningkat
maka kandungan oksigen terlarut
Dalam pembesaran ikan mas agar menurun (berkurang).
dapat tumbuh dengan optimal maka
kondisi air kolam pembesaran harus x Kadar CO2
sesuai dengan kebutuhan ikan mas. Sumber air yang akan digunakan
Variable kualitas air yang sangat untuk budidaya ikan mas antara
berpengaruh pada ikan mas antara lain adalah air tanah, air sungai
lain : atau air hujan. Air tanah adalah
salah satu sumber air yang
x Suhu air banyak digunakan untuk
Suhu air merupakan faktor budidaya. Jika menggunakan
penting yang harus diperhatikan maka harus di tampung terlebih
karena dapat mempengaruhi laju dahulu dalam bak penampung air
metabolisme dalam tubuh ikan. minimal 24 jam, karena air tanah
Pada suhu air yang tinggi maka tersebut mengandung CO2 yang
laju metabolisme akan meningkat, tinggi berkaitan erat dengan
sedangkan pada suhu yang kadar O2 yang terlarut yang
rendah maka laju metabolisme rendah. Oleh karena itu kadar
akan menurun. Dengan suhu CO2 yang layak untuk budidaya
yang optimal maka laju ikan mas sebaiknya < 5mg/l
metabolisme akan optimal.
x Volume air
Pertumbuhan ikan mas sangat Ikan mas yang dipelihara di
dipengaruhi oleh suhu air, baik dalam kolam air deras
dalam usaha pembesaran ikan mempunyai pertumbuhan yang
mas atau pembenihan ikan mas. lebih cepat dibandingkan dengan
Suhu yang optimal untuk ikan mas yang dipelihara d kolam
pertumbuhan ikan mas berkisar air tenang. Pada pemeliharaan
antara 25-30oC ikan mas di kolam air deras
membtuhkan volume air yang
x Kadar oksigen terlarut. besar, dimana debit air yang
Untuk dapat hidup manusia masuk ke dalam kolam
membutuhkan oksigen yang pemeliharaan berkisar antara 75-
dibutuhkan ikan yang hidup di 300 liter/detik.
dalam air disebut dengan
oksigen terlarut. Ikan mas

152
Pada kolam air deras dengan larva sampai konsumsi dapat
debit air yang tinggi maka dikelompokkan menjadi 4
kandungan oksigen terlarut di golongan, yaitu :
dalam kolam pemeliharaan cukup x Hama, misalnya huhurangan,
tinggi. Dengan oksigen yang notorecta sp, eybister sp dsb.
cukup maka proses metabolisme x Parasit, misalnya
ikan akan optimal maka ichthyoptherius multifiliis
pertumbuhan ikan pun akan berbentuk bulat putih yang
optimal. menempel pada badab ikan,
trichodina sp dsb.
x Kekeruhan air x Cendawan
Dalam membesarkan ikan mas di x Bakteri dan virus.
kolam pemeliharaan harus
diperhatikan juga tentang Hama yang menyerang ikan pilihan
kekeruhan air. Kekeruhan air dapat diatasi dengan melakukan
menggambarkan tentang banyak penyaringan terhadap air yang
cahaya yang dapat masuk ke masuk ke dalam kolam pemeliharaan.
dalam perairan. Kekeruhan air Penyakit ikan di kolam pemeliharaan
ini disebabkan oleh bahan ikan mas akan muncul jika kondisi
organic dan anorganik yang perairan kolam (kualitas air kolam)
terlarut di dalam kolam. Air yang rendah, hal ini dapat menyebabkan
jernih biasanya miskin akan daya tahan tubuh ikan menurun.
mineral, air yang terlalu keruhpun Penyakit ikan ini dapat terjadi akibat
tidak baik untuk budidaya ikan interaksi antar ikan itu sendiri,
karena banyak mengandung penyakit dan lingkungan yang buruk.
Lumpur. Air yang baik untuk Lingkungan yang uruk sangat
budidaya ikan yang mempunyai berpengaruh terhadap kondisi
warna air tidak keruh dan tidak kesehatan ikan. Dengan lingkungan
jernih. Untuk mengukur yang buruk maka daya tahan tubuh
kekeruhan biasanya dilakukan ikan menurun sehingga penyakit
pengukuran kecerahan air akan mudah menyerang ikan.
karena kecerahan air sangat
bergantung kepada warna iar Setelah ketiga hal tersebut di
dan kekeruhan. Nilai kecerahan jelaskan di atas di lakukan dengan
yang ideal untuk pertumbuhan air baik, maka dalam memelihara ikan
sebaiknya berkisar antara 25 – mas akan memperoleh produksi ikan
40 cm. mas yang cukup tinggi dan efisien.
Lama pemeliharaan ikan mas sangat
3. Pengelolaan Kesehatan Ikan tergantung kepada ukuran ikan yang
Salah satu kendala dalam digunakan, padat penebaran dan
membudidayakan ikan mas luas kolam yang digunakan serta
adalah terserangnya ikan mas sistem pemeliharaan yang digunakan.
yang dibudidayakan dari hama Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
dan penyakit. Jenis hama dan pada Tabel 4.8.
penyakit yang biasanya
menyerang ikan mas ukuran

153
Tabel 4.8. Lama pemeliharaan ikan mas berdasarkan sistem pemeliharaan.

Ukuran Padat Lama


No. Sistem Pembesaran
Benih Penebaran Pemeliharaan
1. Pembesaran Tradisional 50-80 1-2 kg/m2 6 bulan
(ekstensif) gram/ekor
2. Pembesaran Semi Intensif 50-80 3-5 kg/m2 5 bulan
di Kolam/ sawah gram/ekor
3. Pembesaran Ikan Intensif 50-100 5-10 kg/m2 4 bulan
di Jaring Terapung gram/ekor

4.5.2. Pembesaran ikan nila Pakan tambahan adalah pakan


yang diberikan dalam bentuk apa
Hal-hal yang harus diperhatikan
adanya kepada ikan seperti daun-
dalam melakukan pembesaran/
daunan, limbah rumah tangga,
pemeliharaan ikan nila sampai
keong dan lain-lain.
mencapai ukuran konsumsi adalah :
Sedangkan pakan buatan adalah
4. Pakan
pakan yang dibuat dengan
Pakan merupakan sumber energi
susunan bahan tertentu dengan
bagi ikan. Tanpa makanan ikan
gizi sesuai keperluan. Pakan
tidak akan tumbuh dan
buatan dapat berbentuk pellet,
berkembang biak. Pakan yang
larutan (emulsi dan suspensi),
dapat diberikan untuk ikan nila
lembaran (flake atau waver) dan
adalah pakan alami, pakan buatan
remahan.
dan pakan tambahan.
Ikan nila yang dipelihara secara
Pakan alami adalah makanan
intensif dan semi intensif
hidup bagi larva dan benih ikan
memerlukan pakan buatan.
yang diperoleh dari
Bentuk pakan buatan yang biasa
perairan/kolam atau
diberikan adalah pellet. Garis
membudidayakannya secara
tengah pellet berkisar antara 2-4
terpisah. Ikan nila merupakan
mm.
ikan pemakan plankton yang
tumbuh disekitarnya. Persiapan 5. Pengelolaan kualitas air
pakan alami di kolam Pengelolaan kualitas adalah cara
pemeliharaan dilakukan dengan pengendalian kondisi air di dalam
pemupukan awal 3-5 hari sebelum kolam budidaya sedemikian rupa
penebaran benih dan pemupukan sehingga memenuhi persyaratan
susulan setelah pemeliharaan hidup bagi ikan yang akan
berjalan agar ketersediaan pakan dipelihara.
alami di kolam tersebut tetap ada.
Dalam budidaya ikan nila di kolam
agar ikan dapat tumbuh dan

154
berkembang maka kondisi air kolam diberi pakan pellet 25% protein
budidaya harus sesuai dengan dan feeding ratenya 3,5% dalam
kebutuhan ikan nila. Variabel waktu seminggu akan mencapai
kualitas air yang sangat berpengaruh bobot 34,2 gram. Selain itu
terhadap ikan nila antara lain adalah: volume air sangat menentukan
padat penebaran ikan nila yang
x Suhu air.
optimal. Padat penebaran ikan
Suhu air merupakan faktor
nila di kolam adalah 30 ekor/m2.
penting yang harus diperhatikan
karena dapat mempengaruhi laju x Kadar oksigen terlarut
metabolisme dalam tubuh ikan. Untuk dapat hidup manusia
Pada suhu air yang tinggi maka membutuhkan oksigen begitu juga
laju metabolisme akan meningkat, dengan ikan. Oksigen yang
sedangkan pada suhu yang dibutuhkan ikan yang hidup
rendah maka laju metabolisme didalam air disebut dengan
akan menurun. Dengan suhu oksigen terlarut. Ikan nila
yang optimal maka laju merupakan ikan yang tahan
metabolisme akan optimal. terhadap kekurangan oksigen
terlarut dalam air, namun
Pertumbuhan ikan nila sangat
pertumbuhan ikan ini akan optimal
dipengaruhi oleh suhu air dalam
jika kandungan oksigen terlarut
usaha pembesaran atau
lebih dari 3 ppm. Kandungan
pembenihan. Suhu air sangat
oksigen terlarut kurang dari 3 ppm
berpengaruh terhadap aktifitas
dapat menyebabkan ikan tidak
saluran pencernaan benih ikan
dapat tumbuh dan akhirnya mati.
nila. Makanan alami yang berupa
detritus dan fauna dasar selesai x Kadar garam (salinitas)
dicerna dalam waktu 1,68 jam Ikan nila mempunyai toleransi
pada suhu 27 – 28oC dan 1,31 salinitas yang cukup luas, tetapi
jam pada suhu 32-33 oC. Pada pertumbuhan ikan nila pada kadar
suhu 27 – 28oC pakan garam lebih dari 30% akan
zooplankton dapat dicernakan terhambat. Pada kadar garam
dalam waktu 2,2 jam. Ikan dapat yang tinggi ikan membutuhkan
mencernakan makanannya energi yang minim untuk
selama 2,5 – 3 jam pada suhu osmoregulasi sehingga energi
30oC. Berdasarkan hasil yang digunakan untuk
penelitian tersebut maka suhu pertumbuhan berkurang.
optimum untuk pertumbuhan ikan
nila adalah 25 – 30oC. x Cemaran
Ikan nila yang dipelihara pada
x Volume air musim kemarau banyak yang mati.
Pertumbuhan ikan nila yang Hal ini diakibatkan oleh pengaruh
dipelihara dalam air mengalir lebih secara tidak langsung dari sinar
cepat daripada yang dipelihara matahari yang dapat
dalam air tergenang. Dalam meningkatkan keasaman (pH)
kondisi air mengalir, ikan nila perairan.
dengan bobot awal 9,1 gram

155
Gejala mabuk pada ikan nila diantaranya adalah terhadap
dapat diakibatkan dari akitifitas hama dan penyakit dalam kolam
berenang ikan yang cepat pemeliharaan. Hama yang biasa
dipermukaan dengan gerakan terdapat dikolam pemeliharaan
tidak beraturan dan tutup insang adalah cladocera sebagai
bergerak aktif. Selain itu air pesaing/kompetitor, copepoda
budidaya yang tercemar minyak sebagai predator benih, larva,
akan menyebabkan kerusakan kumbang air, serangga air dan
sel-sel saluran pencernaan. Oleh lain-lain.
karena itu agar ikan nila tunbuh
Hama tersebut kadang-kadang
dengan cepat air budidayanya
sulit untuk dihilangkan.
tidak boleh tercemar baik oleh
Pengendalian hama yang paling
limbah industri maupun rumah
mudah melakukan penyaringan
tangga.
terhadap air yang masuk kedalam
Dalam air budidaya ikan yang baik kolam pemeliharaan.
sepintas dapat dilihat dari keruh
Penyakit ikan dikolam
atau tidaknya air kolam. Untuk
pemeliharaan akan muncul jika
mengetahui tingkat kekeruhan air
kondisi perairan kolam (kualitas
kolam dapat dilihat dari tingkat
air kolam) rendah, hal ini dapat
kecerahan air kolam dengan
menyebabkan daya tahan tubuh
menggunakan alat pengukur yang
ikan menurun. Penyakit ikan ini
disebut secchi disk atau keeping
dapat terjadi akibat interaksi antar
secchi.
ikan itu sendiri, penyakit dan
Kecerahan yang baik untuk lingkungan yang buruk.
kehidupan ikan nila di kolam Lingkungan yang buruk sangat
berkisar antara 25-40 cm. Artinya berpengaruh terhadap kondisi
jarak batas pengelihatan terhadap kesehatan ikan. Dengan
keeping secchi adalah berkisar lingkungan yang buruk maka daya
antara 25-40 cm dari atas tahan tubuh ikan menurun
permukaan perairan. Kecerahan sehingga penyakit akan mudah
kurang dari 25 cm tidak menyerang ikan. Jenis-jenis
menguntungkan karena penyakit ikan antara lain adalah
mengakibatkan rendahnya penyakit pendarahan, penyakit
kandungan oksigen terlarut di jamur, penyakit bakteri.
kolam. Pada kolam budidaya
Setelah ketiga hal utama yang
yang keruh maka jarak batas
telah di jelaskan diatas dilakukan
penglihatan terhadap keeping
dengan baik maka dalam
secchi rendah yang berarti kolam
memelihara ikan nila akan
tercemar bahan organik atau
diperoleh produksi ikan nila yang
Lumpur.
cukup tinggi dan efisien. Lama
pemeliharaan ikan nila sangat
6. Pengelolaan kesehatan ikan bergantung kepada ukuran ikan
Dalam memelihara ikan nila di yang akan dipanen. Sebagai
kolam selalu ada saja kendalanya bahan pertimbangan ada 4 ukuran

156
ikan nila yang diproduksi 4. Mina padi yaitu pemeliharaan
dipasaran yaitu : ikan nila disawah.
x Ukuran 100 gram, umurnya
kurang lebih 3-4 bulan Penebaran benih pada pemeliharaan
x Ukuran 250 gram, umurnya ikan nila di kolam berukuran 10 gram
kurang lebih 4-6 bulan. per ekor, sedangkan untuk jenis
x Ukuran 500 gram, umurnya terapung biasanya 25 gram per ekor,
kurang lebih 6–8 bulan. intensitas berbudidaya yang dapat
x Ukuran diatas 800 gram dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
umurnya kurang lebih 9-12 1. Pemeliharaan secara ekstensif
bulan. Pada pemeliharaan ini kolam
yang digunakan relatif cukup
Ikan nila mempunyai ciri khas besar dari 200m2, kepadatan ikan
tersendiri dimana pertumbuhan ikan relatif rendah (1 ekor per m2) dan
nila yang dipelihara secara tunggal pakan yang diberikan hanya
kelamin yaitu ikan jantan lebih cepat mengandalkan pakan yang
tumbuh dibandingkan ikan nila yang tumbuh dari kolam. Benih yang
dipelihara secara campuran (jantan ditebarkan biasanya campur
dan betina). Oleh karena itu banyak kelamin dan berukuran 10 gram
petani ikan yang lebih suka per ekor.
memelihara ikan nila jantan. Sistem 2. Pemeliharaan semi intensif
pemeliharaan ikan nila berdasarkan Perbedaan utama dalam
jenis kelamin ini disebut monokultur pemeliharaan ekstensif adalah
sedangkan untuk pemeliharaan ikan kepadatan benih yang ditebar,
nila dengan jenis ikan lainnya disebut dimana untuk semi intensif padat
dengan polikultur. penebarannya 5-10 ekor per m2
dan kolam diberi pupuk dan pakan
tambahan kepada ikan nila
Pada pemeliharaan ikan untuk berupa dedak atau ampas tahu,
mencapai ukuran konsumsi dapat daun sente sebanyak 5-10% dari
digunakan beberapa macam kolam bobot ikan setiap hari
pemeliharaan : 3. Pemeliharaan secara intensif
1. Kolam empat persegi panjang Pemeliharaan ikan nila secara
dengan luas 200-500m2, intensif ini biasanya dilakukan di
kedalaman air 1-1,25m, dasar jaring terapung atau kolam air
kolam dapat tanah atau beton. deras.
2. Kolam jaring terapung yang Padat penebaran ikan nila di jaring
berbentuk bujur sangkar dengan terapung adalah 400-500 ekor per m3
ukuran minimal 1-4 m2 dan dengan bobot awal benih 15-25 gram
maksimal 9 – 49 m2 , yang per ekor, sedangkan di kolam air
terbuat dari bahan jaring dengan deras kepadatan tebarnya 10-20
kedalaman air 1,5 – 2 m. ekor per m2.
3. Hampang atau keramba yang Pada pemeliharaan ini sumber
dapat dilakukan diperairan dasar energi bagi ikan untuk tumbuh dan
yang dangkal dengan kedalaman berkembang adalah pakan buatan
air 1-2m. dalam bentuk pellet yang diberikan

157
sebanyak 3-5% sehari dan frekuensi
pemberian pakan 3-5 kali sehari. Nener ikan bandeng yang diperoleh
Pakan buatan tersebut harus dari alam ditangkap oleh pencari
mengandung protein 20-30%. nener sangat bergantung kepada
musim, lokasi, cara dan waktu
penangkapan. Pada musim nener
4.5.3 Pembesaran ikan bandeng jumlah nener cukup melimpah yang
dapat mengakibatkan menurunnya
Ikan bandeng merupakan salah satu
harga nener. Selain itu waktu
jenis ikan laut yang dapat
penangkapan yang tepat yaitu diawal
dibudidayakan oleh manusia
musim penangkapan mempunyai
ditambak. Jenis Ikan ini saat ini juga
daya tahan dan vitalitas yang tinggi
sudah dapat dibudidayakan di
dalam pengangkutan serta
keramba jaring apung pada air tawar,
mempunyai harga jual yang lebih
hal ini dikarenakan sifat ikan ini yang
mahal.
euryhaline (tahan terhadap
perubahan yang besar dari kadar
Tetapi ketersediaan nener dari alam
garam dalam air)
ini tidak bersifat kontinue sehingga
untuk mengusahakan pembesaran
Ikan bandeng dapat dipelihara
ikan bandeng secara intensif
ditambak yang mempunyai kadar
dibutuhkan nener bandeng yang
garam relatif berfluktuasi. Ikan
berasal dari panti
bandeng dapat dipijahkan secara
pembenihan/hatchery. Nener dari
buatan di panti pembenihan/hatchery
alam selain tidak tersedia secara
dengan cara implementasi atau
kontinue juga mempunyai ukuran
hypofisasi. Oleh karena itu benih
yang sangat beragam. Oleh karena
ikan bandeng yang disebut nener ini
itu nener yang berasal dari panti
dapat diperoleh dari alam atau panti
pembenihan sangat dibutuhkan
pembenihan/hatchery.
untuk memenuhi kekurangan nener
ditambak-tambak pembesaran.
Nener bandeng yang berasal dari
Nener yang dihasilkan dari panti
pantai/alam ini merupakan hasil
pembenihan mempunyai keunggulan.
pemijahan ikan bandeng secara
Karena kemurnian nener dapat
alami dilaut. Ikan bandeng yang telah
dijamin 100% dan umurnya diketahui
matang kelamin akan memijah
secara tepat.
secara alami dan akan menghasilkan
telur sebanyak 5.700.000 butir dalam
tubuhnya. Pelepasan telur ini terjadi Nener yang berasal dari alam atau
pada malam hari dan akan menetas hatchery, yang akan digunakan
dalam waktu 24 jam menjadi nener untuk usaha pembesaran ikan
yang berukuran 5 mm. Nener ini bandeng ditambak, haruslah nener
akan terbawa oleh arus air yang sehat. Nener yang sehat dapat
mendekati pantai dan kemudian dilihat dari ciri-ciri umurnya yaitu :
akan ditangkap oleh para penyeser. 1. Tidak terdapat luka atau lecet
Ukuran nener yang ditangkap ini 2. Tidak cacat pada organ tubuh
kurang lebih 13 mm. 3. Warnanya tidak kusam

158
4. Gerakannya aktif
Nener bandeng yang telah dipilih
Dengan menggunakan nener yang
selanjutnya akan ditebar kedalam
sehat maka akan diperoleh target
tambak pembesaran. Sebelum
produksi yang sesuai dengan
nener tersebut ditebar harus dihitung
rencana. Selain nener yang sehat
terlebih dahulu padat penebaran
dalam pemilihan benih ikan bandeng
nener ditambak pembesaran dan
(nener) juga harus diperhatikan
dilakukan aklimatisasi.
ukuran benih. Ukuran benih yang
akan ditebar ke dalam tambak
Nener ikan bandeng yang akan
pembesaran sebaiknya seragam. Hal
ditebar kedalam tambak pembesaran
ini akan menguntungkan dalam
sebaiknya ditentukan terlebih dahulu
pemeliharaan, karena ikan tidak
tentang jumlah nener yang akan
akan berebut makanan sehingga
ditebar. Nener bandeng yang akan
pertumbuhan ikan seragam,
ditebarkan dan dipelihara ditambak
kekuatan makanpun seragam.
pembesaran harus diketahui
jumahnya agar dapat diketahui
Ukuran nener yang ditebar ke
jumah ikan bandeng yang akan
tambak pembesaran bisa dimulai
dipanen. Istilah dalam perikan
dari ukuran nener sampai
disebut dengan padat penebaran.
gelondongan yang dapat
membedakannya adalah cara
Padat penebaran adalah
pemeliharaan ditambak
perbandingan jumlah ikan-ikan/nener
pembesarannya.
yang akan ditebar dengan luas
tambak pembesaran. Dengan
Jika yang ditebar adalah nener kecil
mengetahui padat penebaran pada
maka waktu yang dibutuhkan untuk
awal pemeliharaan akan diperoleh
mencapai ukuran konsumsi yaitu 4 –
manfaat antara lain adalah :
6 ekor/kg bisa mencapai lebih dari 6
x Dapat menentukan jumlah pakan
bulan sedangkan jika yang ditebar
yang akan diberikan
adalah gelondongan maka waktu
yang dibutuhkan untuk mencapai x Dapat mengoptimalkan tambak
ukuran konsumsi berkisar antara 4 – pembesaran sesuai dengan
6 bulan. daya dukung tambak
pembesaran tersebut.
Dalam memilih nener yang berasal x Dapat mengurangi timbulnya
dari alam maupun hatchery dapat penyakit ditambak pembesaran
dilakukan dengan menghitung jumlah karena kepadatan tinggi.
ruas tulang belakang. Nener yang x Dapat menetukan target produksi
berkualitas prima memiliki jumlah pada akhir pemeliharaan.
ruas tulang belakang antara 44 – 45.
Jumlah ruas tulang belakang dapat Masa pemeliharaan nener bandeng
dihitung menggunakan mikroskop ditambak pembesaran sangat
sederhana pada pembesaran 10 kali bergantung kepada ukuran nener
atau nener ditempatkan pada yang ditebar pada awal
sumber cahaya seperti lampu senter. pemeliharaan. Ukuran nener yang

159
ditebar kedalam tambak pembesaran matahari tenggelam. Hal ini untuk
bervariasi antara 1–15 cm. Padat menghindari kematian nener akibat
penebaran nener ditambak stress karena tingginya suhu
pembesaran juga ditentukan oleh dilingkungan. Lakukan penebaran
ukuran nener, lama pemeliharaan, nener dengan hati-hati !
mutu nener dan daya dukung
kesuburan tambak pembesaran. Langkah selanjutnya setelah
dilakukan penebaran nener bandeng
Padat penebaran nener ditambak adalah melakukan proses
pembesaran berkisar antara 5 – 6 pemeliharaan nener sampai
ekor/m2 untuk ukuran nener bandeng mencapai ukuran konsumsi. Proses
3 – 5 cm. Sedangkan untuk nener yang dilakukan selama pemeliharaan
yang berukuran 1 – 3 cm, padat sama persis dalam melakukan
penebarannya berkisar antara 2 – 3 budidaya ikan lainnya meliputi
ekor/m2. Untuk benih bandeng yang pemberian pakan, pengelolaan
berukuran 12 – 15 cm yang disebut kualitas air, pengendalian hama dan
gelondongan ditebar ke tambak penyakit, pemantauan pertumbuhan.
pembesaran dengan padat Perlakuan selama pemeliharaan
penebaran 1.500 ekor/ha. Nener sangat ditentukan oleh sistem
bandeng yang akan ditebar kedalam budidaya yang diterapkan.
tambak pembesaran. Setelah
menghitung jumlah yang akan
ditebar lalu dipersiapkan nener 4.6. Pemanenan
tersebut. Nener bandeng untuk
sementara diaklimatisasi selama Pemanenan dilakukan pada setiap
satu hari dalam bak plastik. akhir siklus budidaya. Dalam
Aklimatisasi ini bertujuan untuk budidaya ikan ada dua siklus
menyesuaikan kondisi lingkungan produksi yaitu pada usaha
dimana nener itu berada dengan pembenihan ikan maka yang akan
kondisi lingkungan tambak dipanen adalah benih ikan.
pembesaran. Penyesuaian suhu, Sedangkan pada usaha pembesaran
salinitas dan pH dapat dilakukan juga ikan yang akan dipanen adalah ikan
begitu nener bandeng yang dikemas ukuran konsumsi. Prisnsip
dalam kantong plastik dating. pemanenan benih ikan dan ikan
Caranya kantong plastik yang terisi ukuran konsumsi pada umumnya
nener diisi penuh dengan air yang adalah sama. Dalam subbab ini akan
ada dalam tambak pembesaran, diuraikan proses pemanenan ikan
maka secara perlahan-lahan nener pada stadia benih. Pemanenan benih
bandeng yang ada didalam kantong ikan harus dilakukan dengan hati-hati.
platik akan keluar kedalam tambak Selain itu waktu dan cuaca pada saat
pembesaran jika sudah terjadi panen perlu diperhatikan. Banyak
penyesuaian. petani pembenih yang gagal karena
kurang hati-hati pada saat panen.
Penebaran nener ditambak
pembesaran sebaiknya dilakukan,
pada pagi atau sore hari pada saat

160
4.6.1. Pemanenan benih ikan nila pasang saringan untuk
mencegah benih ikan keluar
Kegiatan pemanenan benih meliputi kolam. Setelah di pasang
persiapan penampungan benih, saringan, pintu pengeluaran air di
pengeringan kolam, penangkapan buka sedikit demi sedikit agar
benih dan pengangkutan. benih ikan tidak terbawa arus air.
Pemanenan benih ikan sebaiknya
dilakukan pagi atau sore hari. 3. Penangkapan benih
Setelah air kolam kering, benih
1. Penampungan benih ikan berkumpul di kamalir.
Sebelum pengeringan kolam, Penangkapan benih dilakukan
terlebih dahulu dilakukan menggunakan seser atau ancho.
persiapan penampung benih. Penangkapan benih di mulai dari
Penampung benih dapat berupa hilir atau di depan pintu
hapa atau bak. Air pada pengeluaran air. Benih ikan di
penampungan harus terus depan pintu pengeluaran harus
menerus mengalir, hal ini habis di tangkap. Jika benih ikan
bertujuan untuk mensuplai di hilir telah habis dilanjutkan ke
oksigen ke dalam air wadah lebih hulu sampai habis di depan
penampungan. Hapa yang akan pintu pemasukkan air (hulu).
digunakan untuk menampung
benih di pasang didepan pipa Penangkapan benih ikan yang di
pemasukkan air. Sebaiknya mulai dari hilir bertujuan agar
hapa di pasang di kolam yang benih ikan tidak stres akibat
paling dekat dengan kolam yang kualitas air. Jika penangkapan
akan dipanen. Hal ini bertujuan benih di mulai dari hulu (depan
untuk memudahkan pintu pemasukkan) maka benih
pengangkutan benih yang telah ikan yang terdapat di hilir akan
di tangkap. Pemasangan hapa stres atau mabuk karena air dari
dilakukan dengan mengikat ke hulu sudah kotor akibat lumpur.
empat sudutnya ke patok Pada saat panen sering terlihat
bambu/kayu. ikan mengalami stres atau mabuk.
Hal ini diakibatkan kualitas air
2. Pengeringan Kolam kurang baik khusunya suhu,
Pengeringan kolam sebaiknya oksigen dan lumpur. Untuk
dilakukan pada pagi hari agar mengatasi hal tersebut dapat
penangkapan benih dapat dilakukan dengan mengalirkan air
dilakukan sebelum suhu air naik. dari pipa pemasukkan. Jika
Pengeringan kolam harus masih terlihat benih ikan stres
dilakukan dengan hati-hati agar atau mabuk pemanenan
benih ikan dapat berkumpul pada dihentikan dan di tunda sampai
kamalir sehingga memudahkan besok atau hari lainnya.
pemanenan. Pengeringan kolam
diawali dengan menutup pintu Benih yang telah ditangkap di
pemasukkan air. Selanjutnya tampung dalam wadah
pada pintu pengeluaran air di pengangkutan berupa ember

161
atau alat lainnya. Benih pada tersebut. Tetapi adakalanya jika
wadah pengangkutan segera kondisi ikan serta lingkungan ikan
dikumpulkan di hapa tempat baik, ukuran benih ikan akan tercapai
penampungan benih. Benih yang pada periode waktu pemeliharaan
cacat, luka dan mati lebih banyak ikan tersebut seperti biasanya.
akibat penanganan. Penanganan Ukuran benih ikan dipanen adalah 2
tersebut biasa terjadi pada saat inci (5 cm) setelah dipelihara selam 3
penangkapan dan pengangkutan minggu dimulai dari ukuran ikan 1
benih ke tempat penampungan inci. Pemenenan benih ikan patin
benih. dilakukan seperti memanen benih
ikan lainnya. Setelah benih ikan
tersebut dipanen, benih ikan
4.6.2. Pemanenan benih ikan ditampung dalam tempat
patin penampungan baik berupa bak
maupun fiberglass. Jangan lupa
Tahap akhir dari pekerjaan teknik aklimatisasi tetap dilakukan
memelihara benih ikan patin adalah pada saat memasukkan benih ikan
memanen. Hasil dari memanen tersebut ke dalam tempat
benih ikan tersebut merupakan penampungan. Sebelum benih ikan
evaluasi terhadap pekerjaan patin diangkut ke tempat lain yang
memelihara benih ikan patin tersebut. relatif jauh, benih ikan tersebut
Jika hasilnya benih ikan banyak dipuasakan terlebih dahulu selama 1
maka secara teknik produksi hari. Pemuasaan tersebut
pekerjaan memelihara benih ikan dimaksudkan agar benih ikan
tersebut dapat dikatakan berhasil. mengeluarkan kotoran dari dalam
Tetapi kebalikannya jika hasilnya perutnya, agar nanti pada saat benih
benih ikan sedikit maka pekerjaan ikan diangkut sudah tidak
memelihara benih ikan patin tersebut mengelurkan kotoran lagi. Jika benih
secara teknik produksi dapat ikan masih mengeluarkan kotoran
dikatakan gagal. pada saat pengangkutan maka
kondisi kualitas air media
Kapan benih ikan patin dipanen? pengangkutan benih ikan akan
Menentukan waktu/saat panen benih dengan segera menurun sehingga
ikan patin biasanya tergantung dari tidak mustahil benih ikan akan
lamanya memelihara benih ikan segera mati.
tersebut atau ukuran benih ikan

162
Gambar 4.26. Pengemasan benih
Pengemasan benih ikan hasil pembesaran ini sebaiknya harus memperhatikan
faktor-faktor sebagai berikut :
x Jarak dan waktu tempuh
x Jumlah benih yang diangkut dalam wadah
x Kondisi kuailtas air selama pengangkutan yang terpenting yaitu suhu air,
salinitas air, pH dan oksigen didalam wadah pengangkutan. Suhu air yang
baik untuk pengemasan ikan hidup adalah 15 – 200C. Oleh karena itu
sebaiknya pengangkutan dilakukan pada pagi atau malam hari, pH air yang
baik adalah 7 – 8, jumlah oksigen didalam pengangkutan harus 3 kali
jumlah air.

Pengemasan benih ikan dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu :

1. Sistem Tertutup
Sistem tertutup yaitu sistem pengemasan benih ikan dalam wadah tertutup
seperti kantong plastik.
Cara yang dilakukan untuk pengangkutan benih ikan dengan kantong
plastik adalah :
x Kantong plastik yang digunakan harus cukup air agar mata ikan
tenggelam
x Rasio oksigen = air sekitar 3:1
x Plastik harus terikat dengan baik
x Masukkan plastik dalam Styrofoam dan tambahkan es batu yang
terbungkus plastik lalu diselipkan diantara plastik dalam Styrofoam.

163
2. Sistem terbuka
Pengangkutan benih ikan sistem terbuka biasanya dilakukan untuk
mengangkut benih ke lokasi yang dekat. Benih ikan tersebut dimasukkan
kedalam wadah dan diberi aerasi selama pengangkutan. Dan suhu air
diusahakan berkisar antara 15 – 200C .

4.6.3. Pemanenan ikan mas

Panen merupakan tahap akhir dari suatu proses produksi dalam budidaya ikan.
Tidak sedikit petani atau pengusaha ikan yang gagal dalam usaha budidaya
ikan dikarenakan pada waktu panen, penanganan dan alat kelengkapannya
kurang tepat. Penangganan ikan pada waktu panen bertujuan untuk :
1. Mengurangi atau menghindari kehilangan, kematian dan kerusakan ikan.
2. Mempertahankan kesegaran ikan setelah dipanen sampai tiba di
konsumen.
Hasil panen ikan yang akan dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat dijual
dalam dua cara :
1. Ikan dalam keadaan hidup sampai ketangan konsumen.
2. Ikan dalam keadaan mati tetapi masih dalam kondisi segar.

Penentuan waktu panen biasanya diperoleh setelah dilakukan pengukuran


berat badan ikan yang dipelihara. Berat badan ikan yang akan dijual sangat
tergantung pada selera konsumen. Oleh karena itu sebelum melakukan panen
harus dilakukan pengamatan terhadap permintaan pasar tersebut.
Dengan mengetahui data mengenai permintaan konsumen tentang ukuran ikan
dan keadaan ikan (mati segar atau masih hidup) maka akan dapat dilakukan
waktu pemanenan dan penentuan cara panen yang sesuai.
Waktu panen yang tepat adalah pada pagi hari atau sore hari. Hal ini
dilakukan karena pada waktu pagi atau sore hari suhu air di kolam rendah
sehingga ikan tidak stress pada saat dilakukan pemanenan.
Cara panen pada prinsipnya dapat dilakukan dengan dua cara :
1. Panen selektif
Panen selektif biasa dilakukan jika pada waktu tebar ukuran ikan tidak
seragam atau keinginan petani untuk menjual ikan dengan ukuran yang
berbeda-beda. Alat yang digunakan biasanya lambit dan hapa/waring.

2. Panen total
Panen total dilakukan secara sekaligus dengan cara menguras air kolam
dan di depan pintu pengeluaran telah dipasang waring atau hapa untuk
memudahkan penangkapan ikan pada saat panen.

164
Untuk menghindari kematian ikan mas pada saat pemanenan, hal yang harus
dilakukan jangan terjadi luka atau banyak sisik lepas karena penggunaan alat
saat panen adalah:
1. Jagalah kondisi air agar tidak terlalu keruh, karena kotoran seperti lumpur
atau larutan suspensi lainnya dapat menutupi labirin pada insang lele
sehingga ikan tidak dapat bernafas.
2. Pemanenan tidak dilakukan pada saat hujan.
3. Waktu pemanenan tidak melebihi dari jam 10.00 atau bila cuaca panas
sebaiknya pada sore hari (lebih dari jam 16.00).

Gunakan alat-alat pemanenan yang terbuat dari bahan halus seperti : seser,
hapa agar tidak melukai ikan.

165
166
LAMPIRAN A

DAFTAR PUSTAKA

Abel. 1989. Water Pollutin Biology. Dept of Biology. Sunderland Polytechnic.


Halsted Press. New York.

Affandi,R., DS Sjafei, MF Rahardjo dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan. Pusat


Antar universitas Ilmu Hayati. IPB. Bogor.

Agrara T. 1976. Endokrinologi Umum. Airlangga University Press.


Yogyakarta.
Alimuddin. 1994. Pengaruh waktu awal kejutan panas terhadap
keberhasilan Triploidisasi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus L).
Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ath_Thar.M.H.F. 2007. Efektivitas promoter ȕ-actin ikan medaka Oryzias


latipes dengan penanda gen hrGFP (humanized Renilla reniformis
Green Fluorescent Protein) pada ikan lele Clarias sp keturunan F0.
Skripsi. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Andarwulan, dan S.Koswara. 1992. Kimia Vitamin. Rajawali Press. Jakarta.


Anonymous. 1985. Budidaya Rotifera (Brachionus plicatilis OF Muller) Seri
Ke Tiga. Proyek Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut. Serang.

Antik, E dan Hastuti,W. 1986. Kultur Plankton. Direktorat Jenderal Perikanan


bekerjasama dengan International Development Research Centre.
Jakarta.

Andrew JW, Sick LV. 1972. Studies on the nutritional requirement of


dietary penaeid shrimp. Proceedings of the World Mariculture Society
3:403-414.

Alava VR, Lim C. 1983. The quantitative dietary protein requirement of


Penaeus monodon juveniles in controlled environment.
Aquaculture 30:53-61.

A1
LAMPIRAN A

Avers CG. 1986. molecular cell biology. Rutgers University. The Benjamin
Cummings Publising Co. Inc. 832 p.

Baustista-Teruel MN, Millamena OM. 1999. Diet development and evaluation


for juvenile abalone, Haliotis asinine: protein to energi levels.
Aquaculture 178:117-126.

Bonyaratpalin.M. 1989. Methodologies for vitamin requirement studies.


Fish Nutrition research in Asia. Edited by S.S de Silva. Proceeding of
Third Asian Fish Nutrition Network Meeting International Development.
Reseach Center of Canada. 58 – 67

Boyd. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Auburn
University. Alabama. USA

Borgstrom G. 1962. Fish as Food Volume III. Nutrition, Sanitation and


Utilization. Academic Press, New York and London.

Bongers ABJ, EPC in’t Veld, K Abo-Hashema, IM Bremmer, EH Eding,


J.Komen, CJJ Richter. 1994. Androgenesis in common carp
(Cyprinus carpio) using UV irradiation in synthetic ovarian fluid
and heat shocks. Aquaculture, 122 : 119 – 132.

Catacuta,M.R and Coloso. 1997. Growth of juvenile Asian Seabass, Lates


calcarifer fed varyng carbohydrate and lipid levels. Aquculture, 149:
137-144.

Calduch-Giner. J.A, Duval H, Chesnel F, Boeuf G, Perez-Sanches J and


Boujard D. 2000. Fish Growth Hormone Receptor : Molecular
Characterization of Two Membrane-Anchored Forms. Journal of the
Endocrine Society : 3269 – 3273.

Campbell.N.A; Reece. J.N; Mitchell. L.G. 2002. Biologi. Edisi Kelima. Erlangga.
Jakarta.

Carman O. 1990. Ploidy manipulation in some warm water fish. Master’s


Thesis. Departement of Aquatic Biosciences. Tokyo University of
Fisheries. Japan.

Carman O. 1992. Chromosome set manipulation in some warm water fish.


A Dissertation. Departement of Aquatic Biosciences. Tokyo University
of Fisheries. Japan.

Chumadi dkk. 1992. Pedoman Teknis Budidaya Pakan Alami Ikan dan
Udang. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat
penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta.

A2
LAMPIRAN A

Cole, G.A. 1988. Textbook of Limnology. Third Edition. Waveland Press, Inc.
Illionis, USA.

Cowey,C.B and Walton,M.J. 1989. Intermedier metabolism, p : 259-329. In.


J.E Halver (Ed.), Fish Nutrition,2nd. Academic Press. New York.

Chris Andrews, Adrian Exell and Neville Carrington., 1988. The Manual of
Fish Health. New Jersey: Tetra Press,

Davis, D.A and Delhert MG III. 1991. Dietary Mineral Requirment of Fish and
Shrimp. Pages : 49 – 65. In : Proceedings of The Aquaculture Feed
Processing and Nutrition Workshop. Akimaya, D.M and Ronni K.H.T.
Singapore.

Davis, C.C. 1955. The marine and freshwater plankton. Michigan state
University Press. Chicago.

De Silva,S and T.A. Anderson. 1995. Fish Nutrition in Aquaculture.


Chapman & Hall, London.

Dieter Untergasser Translation by Howard H. Hirschhorn, 1989. Handbook of


Fish Diseases. T.F.H. Publications, Inc

Devlin,R.H, C.A. Biagi, T.Y. Yaseki. 2004. Growth, viability and genetic
characteristic of GH transgenic coho salmon strains. Aquaculture
236 : 607 – 632.

Dunham RA. 2003. Aquaculture and Fisheries Biotechnology Genetic


Approaches. CABI Publishing. Wallingford, Oxfordshire Ox 10.8 DE.
UK.

Effendi, H. 2000. Telaahan Kualitas Air. Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan


Lingkungan Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Effendi. M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama.


Yogyakarta.

Fujaya. Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan.


Rineka Cipta. Jakarta.

Gong Wu, Yonghua Sun & Zuayan Zhu. 2003. Growth hormone gene
transfer in common carp. Aquatic Living Resources 16 : 416-420.

A3
LAMPIRAN A

Glick. B.R and Pasternak.J.J. 2003. Molecular Biotechnology : Principles


and Applications of Recombinant DNA (Third Edition). ASM Press.
Washington, D.C.

Halver, J.E. 1988. Fish Nutrition. Academic Press. San Diego.

Hamre,K; B.Hjeltne; H.Kryi; S. Sandberg; M.Lorentzen; and O.Lie. 1994.


Decesed Concentration of Haemoglobin, Accumulation of Lipid
Oxidation Product”s and unchanged Skeletal Muscel in Atlantik
Salmon. Salmo salar Fed Low Dietary Vitamine E. Physiology and
Biochemistry. 12 (5) : 421 – 429.

Harper. 1990. Biokimia. EGC (Penerbit Buku Kedokteran). Jakarta.

Hepher B. 1988. Nutrition of Pond Fish. Cambridge University Press.


Cambridge.

Halver JE. 1989. Fish Nutritiion 2nd edition. Academic Press Inc.

Jean L Marx. 1991. Revolusi Bioteknologi, diterjemahkan oleh Wildan Yatim .


Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 513 hal.

Jusuf.M. 2001. Genetika I. Struktur dan Ekspresi Gen. Sagung Seto. Jakarta.

Kobayashi S, Alimuddin, Tetsuro Morita, Misako Miwa, Jun Lu, Masato Endo,
Toshio Takeuci dan Goro Yoshikazi. 2006. Transgenic nile Tilapia
(Oreochromis niloticus) over-expressing growth hormone show
reduced ammonia excretion. Departement of Marine Biosciences
Tokyo University of Marine Science and Technology. Tokyo. Japan.

Koolman J and Rohm KH. 2001. Atlas berwarna dan teks biokimia. Wanadi
SI penerjemah. Sadikin M , editor. Jakarta : Hipokrates 2000.

Kebijakan DKP: Perikanan Budidaya 2003 Pedoman Teknis


Penanggulangan Penyakit Ikan Budidaya Laut. Departemen
Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Kurniastuty, dkk., 2004. Hama dan Penyakit Ikan. Balai budidaya Laut
Lampung. Lampung.

Kuksis,A dan S. Mookerjea. 1991. Kolin. Vitamin. In Robert E. Olson (Eds),


Jilid II. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Lewin, R.A. 1976. The Genetic of Algae.Blackwell scientific Publications Oxford.
London. Edinburg.

A4
LAMPIRAN A

Linder,M.C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme (Alih bahasa : A.


Parakkasi dan A.Y. Amwila). UI Press. Jakarta.

Linder, M.C. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Mikromineral. Hal : 261-344.


Dalam : Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan pemakaian secara
klinis. Penerbit Universitas Indonesia. UI Press. Jakarta.

Lovel T. 1988. Nutrition and feeding of fish. An AVI Book. Published by Van
Nostrad Reinhold. New York.

Machin,L.J. 1990. Handbook of Vitamin. Second Edition Rivised and


Expanded.

Mc Vey,J.P and J.R.Moore. 1983. CRC Handbook of Marine Culture. Vol I.


Crustacean Aquaculture. CRC Press. Inc.Boca. Raton . Florida.

Millamena,M.O, R.m. Coloso and F.P. Pascual. 2002. Nutrition in Tropical


Aquaculture. Essential of fish nutrition, feeds and feeding of
tropical aquatic species. Aquaculture Departemen. Southeast Asian
Fisheries Development Center. Tingbauan. Iloilo, Philipines.

Muchtadi,D., Nurheni S.P, dan Made A. 1993. Metabolisme zat gizi : sumber,
fungsi dan kebutuhan bagi tubuh manusia. J.2. Pustaka Sinar Harapan.
Jakarta

Murray,R.K; D.K.Granner; P.A. Mayes; and V.W. Rodwell. 1999. Biokimia


Harper. Edisi 24. Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta.

Mujiman, A. 1987. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Matty. AS. 1985. Fish Endocrinology. Croom Helm London & Sydney Timber
Press. Portland. Oregon. 267p.

Morales et all. 2001. Tilapia chromosomal growth hormone gene


expression accelerates growth in transgenic zebra fish (Danio
rerio). Marine Biotechnology. Vol 4. No.2.

Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Pustaka Wirausaha


Muda. Bogor. 123 hal.

NRC. 1993. Nutrient Requirement of Fish. Water Fishes and Shellfish.


National Academy of Sciencess. Washington DC.
O.A Conroy and R.L Herman 1966. Textbook Of Fish Diseases. Eastern
Fish Disease. Laboratory, Bureau of Sport Fisheries and Wildlife
Leetown, West Virginia.

A5
LAMPIRAN A

Prentis. S. 1990. Bioteknologi, diterjemahkan oleh Wildan Yatim. Yayasan


Obor Indonesia. Jakarta 513 hal.

Promega. 1999. Technical Manual. pGEM – T and pGEM – T easy Vector


System. Instruction for use of products. USA.

Pennak,R.W. 1978. Freshwater Invertebrae of the United State.2nd ed. John


Wiley and Sons. New york.

Prawirokusumo,S. 1991. Biokimia Nutrisi (Vitamin). BPFE. Yogyakarta.

Purdom. C.E. 1993. Genetics and Fish Breeding. Chapman & Hall. London.

Randall, J.E., 1987. A Pliraninary synopsis of the Grouper (Perciformes;


Serranidae; epinephelinae)of the Indo – Pacific regionin J.J.
Polavina, S. Raiston (editors). Tropical Sappers and Grouper ;
Biologi and Fisheries Management. Westview Press inc., Boulder and
London.

Rahman. MA and Maclean N. 1992. Production of transgenic tilapia


(Oreochromis niloticus) by one-cell-stage microinjection.
Aquaculture, 105 (1992) 219 – 232. Elsivier Science Publisher B.V.
Amsterdam.

Rocha A, S Ruiz, A Estepa and J.M Coll. 2004. Application of Inducible and
Targeted Gene Strategies to produce Transgenic Fish : A review.
Marine Biotechnology 6, 118 – 127. Springet-Verlag. New York. LLC.

Sambrook.J, Fritssch, E.F, Maniatis,T. 1989. Molecular Cloning. A


Laboratory Manual. Second edition. Cold Spring Harbor Lobaratory
Press. USA.

Suharsono dan Widyastuti,U. 2006. Penuntun Praktikum Pelatihan Teknik


Dasar Pengklonan Gen. Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan
Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor.

Suharsono. 2006. Prinsip Pengklonan Gen Melalui Teknologi DNA


Rekombinan. Pelatihan Teknik Dasar Pengklonan Gen. Bogor.

Sumantri.D. 2006. Efektifitas ovaprim dan aromatase inhibitor dalam


mempercepat pemijahan pada ikan lele dumbo Clarias sp. Skripsi.
Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 37 hal.

Sumantadinata,K. 2005. Materi narasumber Diklat Guru perikanan se


Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional.

A6
LAMPIRAN A

Suyanto.R.S. 1999. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sandness,K. 1991. Studies on Vitamin C in Fish Nutrition Dept of Fisheries


and Marine Biologi. University of Bergen Norway.

Shiau,S.Y and C.W.Lan. 1996. Optimum dietary protein level and protein to
energy ratio for growth of grouper (Epinephelus malabaricus).
Aquaculture, 145: 259 – 266

Shimeno,S.H, Hosokawa and M.Takeda. 1996. Metabolic response of


juvenile yellowtail to dietary carbohidrat to lipid ratios. Fisheries
Science, 62 : 945 - 949

Sumantadinata, K., 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di


Indonesia. Sastra Hudaya.

Sukma, O.M., 1987. Budidaya Ikan. Jakarta: Depdikbud.

Suseno, 1994. Pengelolaan Usaha Pembenihan Ikan Mas. Jakarta: Penebar


Swadaya.

Shepherd,J and Bromage, N. 2001. Intensive Fish Farming. Blackwell Sciene


Ltd. London.

Steffens W. 1989. Principles of Fish Nutrition. Ellis Horwood Limited. John


Wiley & Sons. England.

Stephen Goddard. 1996. Feed Management In : Intensive Aquaculture.


Chapman & Hall, New York.

Syarizal. 1988. Kadar optimum Vitamin E ( Į-Tocoferol) dalam Pakan Induk


ikan (Clarias batracus Linn). Thesis. IPB. Bogor.

Smith. 1982. Introduction to Fish Physiology. Publication Inc. England. P.


115.

Tacon,A.G.J. 1987. The Nutrition and Feeding of Farmed Fish and Shrimp
a Training Manual. FAO. Brazil.

Tacon,A.G.j. 1991. Proceeding of The Nutrition Workshop. American


Soybeen Association. Singapore.

Takeuchi W. 1988. Fish Nutrition and mariculture. Departemen of aquatic


Biosc. Tokyo University of Fisheries. JICA.

A7
LAMPIRAN A

Takeuchi; T.K. Watanabe; S. Satoh and T. Watanabe. 1992. Requirements of


Grass Carp Fingerling for Į-Tocoferol. Nipon. Suisan Galakkashi.
58 (9) : 743 – 1749.

Teknologi Tepat Guna, 2005. Pedoman Teknis Penanggulangan Penyakit


Ikan Budidaya Laut. Menteri Negara Riset dan Teknologi

Taufik Ahmad, Erna Ratnawati, dan M. Jamil R. Yakob. 2002, Budi Daya
Bandeng Secara Intensif. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tucker, C.S and Hargreaves, J.A. 2004. Biology and culture of Channel
Catfish. Elsevier. B.V. Amsterdam.

Volckaert.F.A, Hellemans.B.A, Galbusera.P, and Ollevier. F. 1994.


Replication, expression, and fate of foreign DNA during
embryonic and larval development of the African catfish (Clarias
gariepinus). Molecular Marine Biology and Biotechnology 3(2) 57 –
69.

Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA Texbook The


General Aquaculture Course. Kanagawa International Fisheries
Training Centre Japan International Cooperation agency.

Wilson,R.P. 1994. Utilization of dietary carbohydrate by fish. Aquaculture,


124 : 67 – 80.

Yoshimatsu, dkk., 1986. Grouper final Report Marine Culture Research and
Development in Indonesia. ATA 192, JICA. P 103 – 129.

Yatim W. 1996. Genetika. Tarsito . bandung . 124 hal.

Zairin.M.J. 2003. Endokrinologi dan perannya bagi masa depan Perikanan


Indonesia. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Fisiologi
Reproduksi dan Endokrinologi Hewan Air. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Zairin.M.J. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan dan Betina.
Penebar Swadaya. Jakarta.

A8
LAMPIRAN B

GLOSARI

Adenohipofisa : salah satu bagian dari kelenjar hipofisa yang


mengandung sel-sel pensekresi hormon
prolaktin, hormon Adrenocorticotropic (ACTH),
hormon pelepas tiroid (Thyroid Stimulating
Hormone), hormon pertumbuhan (STH-
Somatotropin) dan Gonadotropin. Pars intermedia
mensekresi hormon pelepas melanosit
(Melanocyte Stimulating Hormone).

Adaptasi : Masa penyesuaian suatu organisme dalam


lingkungan baru.

Aerasi : Pemberian udara ke dalam air untuk penambahan


oksigen

Akrosom : Organel penghujung pada kepala spema yang


dikeluarkan yang berfungsi membantu sperma
menembus sel telur.

Aksi gen aditif : aksi gen yang mana fenotipe heterosigot


merupakan intermedit antara kedua fenotipe
homosigot, kedua alel tidak memperlihatkan
dominansi, keduanya memberikan konstribusi
yang seimbang dalam menghasilkan suatu
fenotipe

Aklimatisasi : Penyesuaian fisiologis terhadap perubahan salah


satu faktor lingkungan

Albinisme : kondisi genetik yang tidak sempurna yang


menyebabkan organisme tidak membentuk
pigmen

Alel : Bentuk alternatif suatu gen

Alel dominan : Alel yang diekspresikan secara penuh dalam


fenotipe itu

Alel resesif : Alel yang pemunculan fenotipenya ditutupi secara


sempurna

Aldehida : Molekul organik dengan gugus karbonil yang

B1
LAMPIRAN B

terletak pada ujung kerangka karbon

Anabolisme : Pembentukan zat organik kompleks dari yang


sederhana, asimilasi zat makanan oleh organisme
untuk membangun atau memulihkan jaringan dan
bagian-bagian hidup lainnya.

Anadromus : Ikan-ikan yang sebagian besar hidupnya


dihabiskan dilaut dan bermigrasi ke air tawar untuk
memijah.

Anafase : Tahap mitosis dan meiosis yang mengikuti


metafase ketika separuh kromosom atau
kromosom homolog memisah dan bergerak ke
arah kutub gelendong.

Androgen : Hormon steroid jantan utama, misalnya testoteron

Androgenesis : Proses penjantanan

Antibiotik : Bahan kimiawi yang membunuh bakteri atau


menghambat pertumbuhannya.

Antibodi : Imunoglobin pengikat antigen yang dihasilkan oleh


sel limfosit B, berfungsi sebagai efektor dalam
suatu respon imun.

Antigen : Makromolekul asing yang bukan merupakan


bagian dari organisme inang dan yang memicu
munculnya respon imun.

Asam amino : Molekul organik yang memiliki gugus karboksil


maupun gugus amino. Asam amino berfungsi
sebagai monomer protein.

Asam : Suatu molekul asam nukleat berbentuk heliks dan


deoksiribonukleat beruntai ganda yang mampu bereplikasi dan
menentukan struktur protein sel yang diwariskan.

Asam lemak (fatty : Asam karboksilik dengan rantai karbon panjang.


acid) Asam lemak bervariasi panjang dan jumlah dan
lokasi ikatan gandanya, tiga asam lemak berikatan
dengan satu molekul gliserol akan membentuk
lemak.

B2
LAMPIRAN B

Asam lemak jenuh : Asam lemak dimana semua karbon dalam ekor
(Saturated fatty hidrokarbonnya dihubungkan oleh ikatan tunggal,
acid) sehingga memaksimumkan jumlah atom hidrogen
yang dapat berikatan dengan kerangka karbon.

Asam lemak tak : Asam lemak yang memiliki satu atau lebih ikatan
jenuh (Unsaturated ganda antara karbon-karbon dalam ekor
fatty acid) hidrokarbon. Ikatan seperti itu mengurangi jumlah
atom hidrogen yang terikat ke kerangka karbon.

Asam nukleat : Suatu polimer yang terdiri atas banyak monomer


nukleotida, yang berfungsi sebagai cetak biru
untuk protein dan melalui kerja protein, untuk
semua aktivitas seluler. Ada dua jenis yaitu DNA
dan RNA.

Asam amino : Asam amino yang tidak dapat disintesis sendiri


essensial oleh tubuh hewan sehingga harus tersedia dalam
makanan.

Aseksual : Perkembangbiakan tidak melalui perkawinan

Autosom : Kromosom yang secara tidak langsung terlibat


dalam penentuan jenis kelamin, sebagai kebalikan
dari kromosom seks.

Auksospora : Sel-sel yang besar berasal dari


perkembangbiakan zigot baru

Backross : Bentuk perkawinan yang sering digunakan dalam


pemuliaan yaitu mengawinkan kembali antara
anak dan orangtuanya yang sama untuk beberapa
generasi.

Basofil : Bersifat menyerap basa.

Benthos : Organisme yang hidup di dasar perairan

Blastomer : Sel-sel anak yang dihasilkan selama pembelahan


zygot.

Blastula : Rongga yang terbentuk selama fase pembelahan


zigot.

Blastulasi : Proses pembentukan blastula

B3
LAMPIRAN B

Biomassa : Bobot kering bahan organik yang terdiri atas


sekelompok organisme di dalam suatu habitat
tertentu atau bobot seluruh bahan organik pada
satuan luas dalam suatu waktu tertentu.

Budidaya : Usaha yang bermanfaat dan memberi hasil, suatu


sistem yang digunakan untuk memproduksi
sesuatu dibawah kondisi buatan.

Closed Breeding : Perkawinan yang dekat sekali kaitan keluarganya,


misalnya antara anak dan tetua atau antara antar
saudara sekandung.

Cyste : Fase dorman dari crustacea karena kondisi


lingkungan yang tidak sesuai

Dekomposer : Fungi dan bakteri saprotropik yang menyerap


nutrien dari materi organik yang tidak hidup seperti
bangkai, materi tumbuhan yang telah jatuh dan
buangan organisme hidup dan mengubahnya
menjadi bentuk anorganik.

Densitas : Jumlah individu persatuan luas atau volume atau


masa persatuan volume yang biasanya dihitung
dalam gram/cm3 atau jumlah sel/ml.

Deoksiribosa : Komponen gula pada DNA, yang gugus


hidroksilnya kurang satu dibandingkan dengan
ribosa, komponen gula pada RNA

Detritus : Materi organik yang telah mati atau hancuran


bahan organik yang berasal dari proses
penguraian secara biologis.

Disipon : Membersihkan badan air dengan mengeluarkan


kotoran bersama sebagian jumlah air.

Disucihamakan : Disterilkan dari jasad pengganggu.

Dorsal : Bagian punggung

Diagnosis : Proses pemeriksaan terhadap suatu hal

Diferensiasi gonad : Proses penentuan kelamin dengan pernyataan


fenotipe melalui perkembangan alat kelamin dan
ciri-ciri kelamin.

B4
LAMPIRAN B

Diploid : Keadaan perangkat kromosom bila setiap


kromosomnya diwakili dua kali (2n)

Diploidisasi : Penggandaan jumlah kromosom pada sel-sel


haploid

Donor : Pemberi sumbangan

Dormant : Telur yang dibuahi dan merupakan dinding tebal


dan jika menetas menjadi betina amiktik.

Ekspresi gen : Pengejewantahan bahan genetik pada suatu


makhluk hidup sebagai keseluruhan jumlah tabiat
yang khas.

Elektroforesis gel : Pemisahan asam nukleat atau protein


berdasarkan ukuran dan muatan listriknya,
dengan cara mengukur laju pergerakkannya
melalui suatu medan listrik dalam suatu gel.

Embriogenesis : Proses perkembangan embrio

Endokrin : Kelenjar/sel yang menghasilkan hormon

Enzim : Molekul protein komplek yang dihasilkan oleh sel


dan bekerja sebagai katalisator dalam berbagai
proses kimia didalam tubuh makhluk hidup.

Enzim restriksi : Enzim yang digunakan untuk memotong fragmen


DNA yang memiliki sekuen tertentu.

Estrogen : Hormon seks steroid betina yang utama.

Eukaryot : Makhluk yang sel-selnya mengandung inti sejati


yang diselimuti selaput inti, mengalami meiosis,
membelah dengan mitosis dan enzim oksidatifnya
dikemas dalam mitokondria.

Fekunditas : Jumlah sel telur yang dihasilkan oleh seekor


hewan betina pertahun atau persatuan berat
hewan.

Feminisasi : Proses pembetinaan

B5
LAMPIRAN B

Fenotipe : Ciri fisik dan fisiologis pada suatu organisme atau


sifat yang terlihat pada makhluk hidup yang
dihasilkan oleh genotipe bersama-sama dengan
faktor lingkungan.

Feromon : Sinyal kimiawi atsiri dan kecil yang berfungsi


dalam komunikasi diantara hewan-hewan dan
bertindak sangat mirip dengan hormon dalam
mempengaruhi fisiologi dan tingkah laku.

Fertilisasi : Penyatuan gamet haploid untuk menghasilkan


suatu zigot diploid.

Flagella : Tonjolan berbentuk cambuk pada salah satu sel


untuk alat gerak.

Fotosintesis : Pengubahan energi cahaya menjadi energi


kimiawi yang disimpan dalam glukosa atau
senyawa organik lainnya.

Galur : Pengelompokkan anggota-anggota jenis yang


hanya memiliki satu atau sejumput ciri, biasanya
bersifat homozigot dan dipertahankan untuk
keperluan percobaan genetika.

Gamet : Sel sperma atau telur haploid, gamet menyatu


selama reproduksi seksual untuk menghasilkan
suatu zigot diploid.

Gastrula : Tahapan pembentukan embrio berlapis dua dan


berbentuk piala.

Gastrulasi : Proses pembentukan gastrula dari blastula atau


proses pembentukan tiga daun kecambah
ektoderm, mesoderm dan endoderm.

Gelendong : Kumpulan mikrotubula yang menyelaraskan


pergerakan kromosom selama pembelahan
eukariotik.

Gen : Bagian kromosom yang mengatur sifat-sifat


keturunan tertentu atau satuan informasi yang
terdiri atas suatu urutan nukleotida spesifik dalam
DNA.

B6
LAMPIRAN B

Generasi F1 : Turunan pertama atau turunan hibrid dalam


fertilisasi-silang genetik.

Generasi F2 : Keturunan yang dihasilkan dari perkawinan


generasi hibrid F1.

Genom : Komplemen lengkap gen-gen suatu organisme,


materi genetik suatu organisme.

Genotipe : Kandungan genetik suatu organisme.

Ginogenesis : Proses perkembangan embrio yang berasal dari


telur tanpa kontribusi material genetik jantan

Gonad : Organ seks jantan dan betina, organ penghasil


gamet pada sebagian besar hewan.

Gonadotropin : Hormon yang merangsang aktivitas testes dan


ovarium.

Haploid : Memiliki jumlah kromosom yang khas untuk gamet


makhluknya.

Heritabilitas : Keragaman fenotipe yang diakibatkan oleh aksi


genotipe atau menggambarkan tentang
persentase keragaman fenotipe yang diwariskan
dari induk kepada keturunannya. Dinotasikan
dengan huruf h2 dengan nilai berkisar antara 0 – 1.

Hermaphrodit : Individu yang mempunyai alat kelamin jantan dan


betina.

Heliks ganda : Bentuk DNA asli

Haemoglobin : Protein mengandung besi dalam sel darah merah


yang berikatan secara reversibel dengan oksigen.

Herbivora : Hewan heterotropik yang memakan tumbuhan.

Heterozigot : Mempunyai dua alel yang berbeda untuk suatu


sifat genetik tertentu.

Heterosis : Suatu ukuran untuk menilai keunggulan dan


ketidakunggulan hibrid

B7
LAMPIRAN B

Hibrid : Turunan dari tetua yang secara genetik sangat


berbeda, bahkan mungkin berlainan jenis atau
marga.

Hibridisasi : Perkawinan antara individu yang berbeda atau


persilangan.

Hipofisasi : Salah satu teknik dalam pengembangbiakan ikan


dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar
hipofisa kepada induk ikan untuk mempercepat
tingkat kematangan gonad.

Hipotalamus : Bagian ventral otak depan vertebrata, yang


berfungsi dalam mempertahankan homeostasis,
khususnya dalam mengkoordinasikan sistem
endokrin dengan sistem saraf.

Histon : Protein kecil dengan porsi besar yang terdiri dari


asam amino bermuatan positif yang berikatan
dengan DNA bermuatan negatif dan berperan
penting dalam struktur kromatinnya.

Homeostasis : Kondisi fisiologis yang mantap dalam tubuh.

Homozigot : Mempunyai dua alel yang identik untuk suatu sifat


tertentu.

Hormon : Bahan kimia pembawa sinyal yang dibentuk dalam


sel-sel khusus pada kelenjar endokrin. Hormon
disekresikan ke dalam darah kemudian disalurkan
ke organ-organ yang menjalankan fungsi-fungsi
regulasi tertentu secara fisiologik dan biokimia.

Ikan transgenik : Ikan yang memiliki DNA asing didalam tubuhnya

Inaktivasi sperma : Menonaktifkan sperma

Inbreeding : Perkawinan antara individu-individu yang


sekerabat yaitu berasal dari jantan dan betina
yang sama.

Infeksi Retroviral : Salah satu metode transfer gen. Metode ini


menggunakan gen-gen heterogen yang
dimasukkan ke dalam genome virus dan dapat
dipindahkan kepada inang yang terinfeksi virus
tersebut.

B8
LAMPIRAN B

Inkubasi : Masa penyimpanan

Interfase : Fase dimana tidak ada perubahan pada inti sel,


waktu istirahat.

Karakter kuantitatif : Suatu ciri yang dapat diturunkan dalam suatu


populasi yang bervariasi secara kontinu sebagai
akibat pengaruh lingkungan dan pengaruh
tambahan dua atau lebih gen.

Kariotipe : Metode pengorganisasian kromosom suatu sel


dalam kaitannya dengan jumlah, ukuran dan jenis.

Katadromus : Ikan-ikan yang sebagian besar hidupnya


dihabiskan di perairan tawar dan bermigrasi ke
laut untuk memijah.

Kelenjar hipofisa : Kelenjar kecil dibagian otak bawah yang


menghasilkan berbagai macam hormon yang
dibutuhkan pada makhluk hidup .

Kromosom : Struktur pembawa gen yang mirip benang yang


terdapat di dalam nukleus.

Kopulasi : Proses perkawinan

Kista : Suatu stadia istirahat pada hewan cladosera atau


crustacea tingkat rendah.

Larva : Organisme yang belum dewasa yang baru keluar


dari telur atau stadia setelah telur menetas.

Larutan hipoklorit : Larutan yang mengandung HClO

Lokus : Tempat khusus disepanjang kromosom tertentu


dimana gen tertentu berada.

Maskul;inisasi : Penjantanan.

Meiosis : Tipe pembelahan sel dan nukleous ketika jumlah


kromosom direduksi dari diploid ke haploid.

Metasentrik : Kromosom yang sentromernya terletak ditengah-


tengah.

B9
LAMPIRAN B

Metafase : Tahapan mitosis dan meiosis ketika kromosom


mencapai keseimbangan posisi pada bidang
ekuator.

Metamormofose : Perubahan bentuk organisme dalam daur hidup

Mikropil : Lubang kecil pada telur tempat masuknya sperma.

Mikroinjeksi : Metode yang digunakan dalam mengintroduksi


DNA asing ke dalam pronukleus atau sitoplasma
telur yang telah terbuahi. DNA asing disuntikkan
pada saat fase 1-2 sel.

Mitosis : Proses pembelahan nukleus pada sel eukariotik


yang secara konvensional dibagi menjadi lima
tahapan : profase, prometafase, metafase,
anafase, dan telofase. Mitosis mempertahankan
jumlah kromosom dengan cara mengalokasikan
kromosom yang direplikasikan secara sama ke
masing-masing nukleus anak.

Morula : Sekelompok sel anak (blastomer) yang terbentuk


selama fase pembelahan zygot.

Nauplii : Bentuk stadia setelah menetas pada crustacea


atau copepoda.

Neurohipofisa : Bagian dari kelenjar hipofisa, terdiri dari pars


nervosa yang berfungsi mensekresi Oxytoxin,
Arginin Vasotocin dan Isotocin

Omnivore : Organisme pemakan segala

Ovarium : Kelenjar kelamin betina yang menghasilkan ovum.

Ovipar : Berkembangbiak dengan menghasilkan telur.

Ovivipar : Berkembangbiak dengan menghasilkan telur


tetapi telur tersebut menetas dalam tubuh
induknya.

Outbreeding : Perkawinan antara individu-individu yang tidak


sekerabat (berbeda induknya), masih dalam satu
varietas atau beda varietas.

B10
LAMPIRAN B

Ovulasi : Proses terlepasnya sel telur dari folikel.

Partenogenesis : Perkembangbiakan telur menjadi individu baru


tanpa pembuahan telur dan menghasilkan telur
diploid.

Pemijahan : Proses peletakan telur atau perkawinan

Pigmen : Zat warna tubuh

Plasmid : Molekul DNA sirkular yang bereplikasi pada sel-sel


bakteri secara independent.

Polar body : Sel telur hasil pembelahan meiosis yang tidak


memiliki sitoplasma.

Profase : Tahap pertama meiosis dan mitosis ketika


kromosom mulai jelas terlihat.

Progeni : Keturunan yang berasal dari sumber yang sama,


anak cucu

Poliploidisasi : Proses pergantian kromosom dimana individu


yang dihasilkan mempunyai lebih dari dua set
kromosom.

Reproduksi : Proses perkembangbiakan baik secara aseksual


maupun seksual.

Seleksi : Pemisahan populasi dasar yang digunakan ke


dalam kedua kelompok, yaitu kelompok terpilih
dan kelompok yang harus terbuang.

Sentromer : Bagian kromosom yang terletak pada titik ekuator


kumparan pada metafase, tempat melekat benang
penarik gelendong, posisi sentromer menentukan
bentuk kromosom.

Seks reversal : Proses pembalikan kelamin dengan menggunakan


metode tertentu.

Spermatogenesis : Proses perkembangan spermatogonium menjadi


spermatis

Spermatogonium : Sel-sel kecambah untuk membentuk sperma

B11
LAMPIRAN B

Spermatozoa : Sel gamet jantan dengan inti haploid yang


ememiliki bentuk berekor.

Spermiasi : Proses dimana spermatozoa dilepaskan dari cyste


dan masuk kedalam lumen.

Spermiogenesis : Proses metamorfosa spermatid menjadi


spermatozoa

Submetacentrik : Sentromer terletak pada ujung kromosom yang


memiliki dua lengan yang tidak sama panjangnya.

Subtelocentrik : Sentromer juga terletak pada ujung kromosom


namun masih jelas terlihat adanya lengan pendek.

Spektrofotometer : Suatu instrumen yang mengukur porsi dari cahaya


dengan panjang gelombang yang berbeda yang
diserap dan dihantarkan oleh suatu larutan
berpigmen.

Telofase : Tahap akhir dari mitosis atau meiosis ketika


pembagian sitoplasma dan penyusunan inti
selesai.

Testis : Gonad yang berperan menghasilkan sperma

Tetraploid : Individu yang mempunyai empat perangkat


kromosom haploid pada nukleusnya.

Triploid : Individu yang mempunyai tiga perangkat


kromosom haploid pada nukleusnya.

Triploidisasi : Proses pembuatan organisme triploid dengan


menggunakan kejutan suhu untuk menahan polar
body II atau menahan pembelahan mitosis awal.

Vitellogenesis : Proses deposisi kuning telur, dicirikan oleh


bertambah banyaknya volume sitoplasma yang
berasal dari vitelogenin eksogen yang membentuk
kuning telur.

Zygot Sel diploid sebagai hasil perpaduan gamet jantan


dan gamet betina haploid.

B12
LAMPIRAN C

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman


1.1. Ikan Mas (Cyprinus carpio) 4
1.2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) 4
1.3. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) 4
1.4. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) 4
1.5. Ikan Patin (Pangasius hiphothalamus) 4
1.6. Ikan Bawal (Colosoma brachyponum) 5
1.7. Ikan Tawes (Puntius gonionotus) 5
1.8. Ikan Tambakan (Helostoma temmincki) 5
1.9. Ikan Sepat (Trichogaster pectolaris) 5
1.10. Ikan Kowan (Ctenopharyngodon idella) 5
1.11. Ikan Lele (Clarias sp) 5
1.12. Ikan Sidat (Anguilla sp) 6
1.13. Udang vanamei (Penaeus vannamei) 6
1.14. Ikan Bandeng (Chanos chanos) 6
1.15. Kerapu Merah (Plectopomus maculates) 6
1.16. Ikan Kakap putih (Lates calcarifer) 6
1.17. Ikan Kerapu (Chromileptes altivelis) 6
1.18. Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata) 6
1.19. Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) 6
1.20. Ikan Beronang (Siganus gutatus) 7
2.1 Kolam tanah 22
2.2 Kolam semiintensif 22
2.3 Kolam intensif 22
2.4 Kolam Pemijahan 23
2.5 Kolam Penetasan 23
2.6 Kolam Pemeliharaan 23
2.7 Kolam Pemberokan 24
2.8 Bak beton 24
2.9 Bak Fiber 24
2.10 Bak Plastik 24
2.11 Akuarium Kelompok 25
2.12 Akuarium sejenis 26
2.13 Akuarium Tanaman 26
2.14 Kolam jaring terapung tampak atas 26
2.15 Kolam jaring terapung tampak depan 27
2.16 Bentuk pematang trapesium sama kaki 28
2.17 Bentuk pematang trapesium tidak sama kaki 28
2.18 Kemiringan dasar kolam 28
2.19 Saluran tengah atau kemalir 29
2.20 Pintu pemasukan dan pengeluaran air di tengah 29
2.21 Pintu pemasukan dan pengeluaran air di sudut 29

C1
LAMPIRAN C

2.22 Pintu pemasukan dan pengeluaran air bentuk L 30


2.23 Pintu pemasukan dan pengeluaran air system monik 30
2.24 Pemasukan dan pengeluaran air pipa paralon 30
2.25 Meletakkan lembaran kaca 32
2.26 Mengukur kaca 32
2.27 Memotong kaca 32
2.28 Menghaluskan bagian pinggir kaca 32
2.29 Lem silicon dan alat tembak lem 33
2.30 Penggunaan alat tembak lem 33
2.31 Lakban pada kaca 34
2.32 Mengeringkan akuarium 34
2.33 Kerangka jarring apung 37
2.34 Pelampung drum besi 38
2.35 Jangkar 38
2.36 Pola jarring 41
2.37 Pengeringan dasar kolam 43
2.38 Mengairi kolam 46
2.39 Sanitasi bak budidaya 48
3.1 Termometer 71
3.2 Secchi disk 71
3.3 Salinometer 71
3.4 Refraktometer 71
3.5 Flow meter 71
3.6 DO meter 71
3.7 pH meter 72
3.8 Kerta Lakmus 72
3.9 Planktonnet 72
3.10 Haemocytometer 72
3.11 Ekman Dredge 72
3.12 Spektrofotometer 72
4.1 Diagram skematik perkawinan dua tipe linebreeding 95
4.2 Induk ikan lele betina dan genital papilla 96
4.3 Induk ikan lele jantan dan genital papilla 97
4.4 Induk ikan mas betina dan genital papilla 100
4.5 Induk ikan mas jantan dan genital papilla 100
4.6 Induk ikan nila 102
4.7 Induk ikan patin jantan dan betina 102
4.8 Kanulasi induk ikan patin 103
4.9 Skema pengaturan sekresi hormone 105
4.10 Letak dan jenis kelenjar endokrin ikan dari arah depan 106
4.11 Mekanisme hormone steroid 109
4.12 Representasi diagram pada penempang sagital otak 110
4.13 Pengambilan kelenjar hipofisa 111
4.14 Penggerusan kelenjar hipofisa 112
4.15 Pemutaran alat sentrifuse 112
4.16 Pembuatan ekstrak kelenjar hipofisa 112

C2
LAMPIRAN C

4.17 Pengambilan kelenjar ekstrak hipofisa 112


4.18 Penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa 113
4.19 Pemasangan kakaban dikolam pemijahan cara Sunda 118
4.20 Kolam pemijahan cara Cimindi 119
4.21 Kolam pemijahan cara Magek 120
4.22 Kolam pemijahan cara Kantong 121
4.23 Kolam pemijahan cara Dubish 122
4.24 Kolam pemijahan cara Hofer 123
4.25 Diagram susunan kolam pemijahan bersekat 129
4.26 Sampling benih ikan 145
4.27 Pengemasan benih 159
6.1 Disk mill 283
6.2 Hammer mill 283
6.3 Vertical mixer 284
6.4 Horizontal mixer 284
6.5 Alat penggiling daging 286
6.6 Alur proses pembuatan pakan skala pabrikasi 287
6.7 Silo 287
6.8 Alat pengukur kadar air 293
6.9 Peralatan pengukuran kadar protein 294
6.10 Peralatan pengukuran kadar lemak 294
6.11 Peralatan pengukuran kadar serat kasar 295
6.12 Peralatan pengukuran kadar abu 296
6.13 Metode pemberian pakan dengan tangan 323
6.14 Ametode pemberian pakan dengan demand feeder 323
7.1 Chlorella sp 331
7.2 Tetrasemis sp 332
7.3 Scenedesmus sp 332
7.4 Skeletonema costatum 333
7.5 Spirulina sp 333
7.6 Brachionus sp 334
7.7 Artemia salina 334
7.8 Moina sp 335
7.9 Daphnia sp 335
7.10 Paramecium 335
7.11 Tubifex sp 335
7.12 Erlemeyer 336
7.13 Cawan Petri 337
7.14 Jarum ose 337
7.15 Pipet kaca 337
7.16 Tabung reaksi 337
7.17 Mikroskop 337
7.18 Bak fiber 338
7.19 Aerator 338
7.20 Daphnia sp (bagian-bagian tubuh) 360
7.21 Kemasan cyst Artemia 367

C3
LAMPIRAN C

7.22 Perkembangbiakan Artemia 373


7.23 Rotifera 382
7.24 Daur hidup rotifer 384
7.25 Tubifex 391
7.26 Daur hidup tubifex 392
8.1 Ichthyophthirius multifiliis 405
8.2 Siklus hidup Ichthyophthirius multifiliis 406
8.3 Trichodina tampak bawah 407
8.4 Trichodina tampak atas 407
8.5 Myxobolus sp 407
8.6 Myxosoma sp 408
8.7 Thellohanellus sp 408
8.8 Henneguya sp 408
8.9 Dactylogyrus sp 409
8.10 Gyrodactilus sp 409
8.11 Lernea sp 410
8.12 Argulus indicus tampak bawah 411
8.13 Saprolegnia sp 411
8.14 Achlya sp 411
8.15 Aeromonas sp 412
8.16 Mekanisme kerja mekanik 413
8.17 Penumpukan partikel pada media filter mekanik 414
8.18 Filter air 415
8.19 Dropsy pada ikan plati dan cupang 418
8.20 Dropsy tampak samping 419
8.21 Akumulasi cairan 419
8.22 Contoh kasus kelainan gelembung renang 420
8.23 Gejala umum ulcer 421
8.24 Ikan terserang white spot 422

C4
LAMPIRAN C

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman


1.1 Komoditas akuakultur yang sudah lazim 3
dibudidayakan dalam system budidaya di Indonesia
2.1 Perbandingan antara ukuran akuarium dengan 31
ketebalan kaca
2.2 Jenis pelampung dan lama pemakaian 37
2.3 Ukuran mata jaring yang digunakan berdasarkan 39
ukuran ikan yang dibudidayakan
2.4 Perbandingan jumlah mata jarring yang harus 42
dipotong dalam berbagai ukuran kantong jarring dan
mata jaring.
2.5 Dosis kapur tohor (CaO) 45
3.1 Pengaruh suhu air terhadap respon konsumsi pakan 56
3.2 Hubungan antara kadar oksigen terlarut dan suhu 60
3.3 Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan 62
3.4 Presentase ammonia bebas terhadap ammonia total 66
3.5 Kriteria kualitas air Golongan C 69
3.6 Parameter kualitas air untuk budidaya ikan dan 70
peralatan pengukuran yang dapat digunakan
4.1 Perbandingan strategi, keuntungan dan kerugian dari 78
seleksi individu (A), seleksi within family (B) dan
seleksi between family (C)
4.2 Pengaruh silang dalam terhadap frekuensi genotype 94
dan frekuensi alel dalam lokus
4.3 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan mas 99
4.4 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan mas matang 99
gonad
4.5 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan nila 101
4.6 Dosis pengapuran untuk menetralkan dari berbagai 128
jenis tekstur tanah dan pH awal yang berbeda
4.7 Perkembangan stadia embrio ikan lele pada suhu 28 134
o
C
4.8 Lama pemeliharaan ikan mas berdasarkan sistem 150
pemeliharaan
5.1 Kebutuhan energi untuk ikan Salmon 166
5.2 Kebutuhan energi untuk Catfish 166
5.3 Nama dan singkatan asam amino 171
5.4 Kebutuhan asam amino essensial pada beberapa 178
jenis ikan dalam % protein pakan
5.5 Tingkat kebutuhan protein optimal (% berat kering 182
pakan) pada beberapa jenis ikan budidaya
5.6 Klasifikasi karbohidrat 184

C5
LAMPIRAN C

5.7 Nilai kecernaan karbohidrat berdasarkan kadar dan 188


sumbernya oleh beberapa ikan budidaya
5.8 Kebutuhan optimum karbohidrat dalam pakan untuk 190
pertumbuhan beberapa ikan budidaya
5.9 Nama umum asam lemak 194
5.10 Kelompok asam lemak unsaturated jenuh 195
5.11 Kebutuhan asam lemak essensial pada ikan 196
5.12 Komposisi asam lemak essensial pada berbagai 197
sumber lipid (g/100 g asam lemak)
5.13 Penggolongan beberapa sumber vitamin A 202
5.14 Kebutuhan vitamin A beberapa spesies ikan budidaya 203
5.15 Kekurangan vitamin A pada beberapa jenis ikan 203
5.16 Kebutuhan vitamin D beberapa spesies ikan budidaya 205
5.17 Kebutuhan vitamin E beberapa spesies ikan budidaya 207
5.18 Kriteria respon ikan terhadap pemberian vitamin E 208
sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya
5.19 Gejala kekurangan vitamin E pada beberapa ikan 209
budidaya
5.20 Kebutuhan tiamin dalam pakan 211
5.21 Tanda-tanda kekurangan tiamin A pada ikan budidaya 212
5.22 Kebutuhan vitamin B2 dalam pakan ikan 213
5.23 Tanda-tanda kekurangan riboflavin pada ikan 214
budidaya
5.24 Kebutuhan vitamin B6 dalam pakan ikan 215
5.25 Tanda-tanda kekurangan piridoksin pada ikan 216
budidaya
5.26 Kebutuhan vitamin B5 dalam pakan ikan 218
5.27 Tanda-tanda kekurangan asam pantotenat pada ikan 218
budidaya
5.28 Kebutuhan biotin dalam pakan ikan 220
5.29 Tanda-tanda kekurangan biotin pada ikan budidaya 220
5.30 Kebutuhan asam folat dalam pakan ikan 221
5.31 Tanda-tanda kekurangan asam folat pada ikan 222
budidaya
5.32 Kebutuhan vitamin B12 dalam pakan ikan 223
5.33 Tanda-tanda kekurangan vitamin B12 pada ikan 223
budidaya
5.34 Kebutuhan Niasin dalam pakan ikan 224
5.35 Tanda-tanda kekurangan Niasin pada ikan budidaya 225
5.36 Kebutuhan inositol dalam pakan ikan 226
5.37 Tanda-tanda kekurangan inositol pada ikan budidaya 226
5.38 Kebutuhan Kolin dalam pakan ikan 227
5.39 Tanda-tanda kekurangan kolin pada ikan budidaya 228
5.40 Kebutuhan vitamin C dalam pakan ikan 229
5.41 Tanda-tanda kekurangan vitamin C pada ikan 230
budidaya

C6
LAMPIRAN C

5.42 Kebutuhan mineral makro dalam pakan pada 237


berbagai jenis ikan air tawar (mg/kg atau g/kg berat
kering)
5.43 Kebutuhan mineral mikro dalam pakan pada berbagai 237
jenis ikan air tawar (mg/kg atau g/kg berat kering)
5.44 Kebutuhan zat besi pada beberapa jenis ikan 238
5.45 Kebutuhan mineral seng pada beberapa jenis ikan 239
5.46 Kebutuhan mangan pada beberapa jenis ikan 240
5.47 Kebutuhan mineral tembaga pada beberapa jenis ikan 241
6.1 Beberapa jenis ikan berdasarkan kebiasaan 247
makannya
6.2 Kandungan nutrisi bahan baku nabati 251
6.3 Kandungan nutrisi bahan baku hewani 252
6.4 Kandungan nutrisi bahan baku limbah pertanian 252
6.5 Rekomendasi penggunaan bahan baku untuk pakan 254
ikan dan udang dalam %
6.6 Jenis dan kandungan nutrisi bahan baku ikan 255
karnivora
6.7 Hasil analisa proksimat bahan baku 256
6.8 Bahan baku pakan yang mengandung zat antinutrisi
dan cara menghilangkan zat antinutrisi 285
6.9 Acuan bentuk dan tipe pakan buatan untuk ikan 291
budidaya
6.10 Skedul pemberian pakan dalam usaha budidaya ikan 320
6.11 Skedul pemberian pakan pada udang 321
6.12 Jumlah pakan harian pudang dengan kelangsungan 322
hidup 80%
7.1 Komposisi pupuk pada media stok murni kultur algae 341
7.2 Komposisi Trace Metal Solution 341
7.3 Komposisi pupuk pada phytoplankton air tawar 342
7.4 Komposisi pupuk phytoplankton semi masal 346
7.5 Komposisi pupuk kultur missal 347
7.6 Komposisi campuran vitamin pada media Dphnia 363
7.7 Komposisi bahan kimia untuk membuat air laut kadar 371
garam 5 permill
7.8 Komposisi bahan kimia untuk membuat air laut kadar 372
garam 30 permill
7.9 Ukuran badan dan nilai kalori rotifer 383
7.10 Kandungan komposisi beberapa bahan 398
bioenkapsulasi
8.1 Bahan ekstrak dari tumbuh-tumbuhan serta dosisnya 402
8.2 Obat dan bahan kimia yang digunakan pengobatan 443
penyakit ikan

C7
LAMPIRAN C

C8