Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Teori
1. Pengertian
Tuberculosis adalah infeksi penyakit menular yang disebabkan oleh
mycobaterium tuberculocis, suatu basil aerobik tahan asam yang ditularkan melalui
udara atau air bone.
2. Klasifikasi
a. Tuberculosis Paru
Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) di bagi dua:
1) Tuberculosis Paru BTA (+), adalah:
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA + dan kelainan
radiologi menunjukkan gambaran tuberculois aktif.
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA + dan biakan
positif
Sekurang-kurangnya dua dari tiga spesimen dahak menunjukkan hasil BTA
positif
2) Tuberculosis paru BTA (-), adalah:
Hasil pemeriksaan dahak tiga kali menunjukkan BTA (-), gambaran klinis
dan kelainan radiologi menunjukkan tuberculosis aktif.
Hasil pemeriksaan dahak tiga kali menunjukkan BTA (-) dan biakan M.tbc.
Berdasarkan tipe pasien:
1) Kasus Baru
Kasus baru adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan
dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
2) Kasus Kambuh (Relaps)
Kasus kambuh adalah pasien tuberculosis yang sebelumnya pernah
mendapatkan pengobatan tuberculosis dan telah dnyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan
dahat BTA + atau biakan positif.
Bila biakan negatif atau BTA negatif tapi gambaran radiologi dicurigai
lesi aktif atau perburukan dan terdapat gejala klinis, maka harus dipikirkan
kemungkinan:
a) Lesi Non tuberkulosis (Pneumonia Brochiektasis, Jamur, Keganasan, dll)
b) TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang berkompeten
mengenai kasus tuberculosis.
3) Kasus drop out atau defaulted
Kasus drop out atau defaulted adalah pasien yang telah menjalani
pengobatan lebih dari 1 bulan dan tidak mengambl obat dua bulan berturut-turut
atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
4) Kasus Gagal
Kasus gagal adalah pasien BTA+ atau kembali menjadi positif pada akhir
bulan kelima (atau bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
5) Kasus Kronik
Kasus kronik adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih +
setelah pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang
baik.
6) Kasus Bekas TB
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran
radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial
menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat
akan lebih mendukung.
Pada kasus gagal dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto thorak ulang tidak ada perubahan
gambaran radiologi

b. Tuberculosis Ekstra Paru
Tuberculosis Ekstra Paru adalah tuberculosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya Kelenjar Getah Bening, Selaput Otak, Tulang, Ginjal,
Salurang kencing, dan lain-lain. Namun tidak dapat menyerang kuku dan rambut.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi dari tempat
lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka
diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.
3. Etiologi
Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang
berukuran panjang 1 sampai 4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Karena ukurannya yang
kecil yaitu < 0,5 mm, maka walaupun kita menggunakan masker bedah tetap bisa
ditularkan. Sebagian besar komponen m.tuberculosis adalah berupa lemak (lipid)
sehingga kuman mampu bertahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia
dan faktor fisik. Mikroorganisme ini bersifat aerob yaki menyukai daerah yang banyak
oksigen. Oleh karena itu, m.tuberculosis senang tinggal di apeks paru-paru yang
kandungan oksigennya tinggi. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk
penyakit tuberculosis. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam
keadaan dingin dan dapat bertahan lama dalam lemari es.
4. Proses Penularan
Tuberculosis tergantung airbone disease yaitu penularan melalui droplet nuklei
yang dikeluarkan ke udara oleh individu yang terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali
penderita batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuklei. Penularan umumnya terjadi
didalam ruangan dimana droplet nuklei dapat tinggal di udara dalam waktu yang lebih
lama. Dibawah sinar matahari langsung hasil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam
ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam.
5. Manifestasi Klinik
Terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
a. Gejala respiratorik, meliputi:
1) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang peling
sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat produktif dan kemudian berdahak bahkan
bercampur darah jika sudah terjadi kerusakan jaringan.
2) Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi mungkin tampak berupa
garis atau bercak-bercak darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah
sangat banyak. Batuk darah terjadi karena pecahnya pemuluh darah.
3) Sesak nafas
Gejala ini ditemukan jika terdapat kerusakan parenkim paru sudah luas
atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura, anemia, dan lain-lain.
4) Nyeri Dada
Nyeri dada pada tuberculosis paru termasuk nyeri pleuritis yang ringan.
b. Gejala Sistemik, meliputi:
1) Demam
Gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari
mirip dengan influenza, hilang timbul, dan makin lama makin panjang.
2) Gejala sistemik lain
Keringat malam, anoreksia, penurunan BB serta malaise.

6. Pathway

























Droplet
mengandung
m.tuberkulosis
Udara
tercemar
m.tuberkulosis
Terhirup lewat
saluran
pernapasan
Masuk ke
paru
Alveoli
Proses
peradangan
Tuberkel
Produksi sekret
berlebih
Sekret sukar
dikeluarkan
Sekret keluar
saat batuk
Batuk terus
menerus
Bersihan
Jalan Nafas
Inefektif
Gangguan
Pola Tidur
Terhirup orang
sehat
Resiko Penyebaran
Infeksi/ Aktivasi Ulang
Infeksi
Infeksi
Primer
(ghon) pada
alveoli
Mengalami
Perkejuan
Kalsifikasi
Mengganggu
Perfusi dan
Difusi O2
Suplai O2
menurun
Gangguan
Pertukaran Gas
TB Primer
Sembuh dengan
sarang ghon
Meluas
Hematogen
Bakterimia
Peritonium
As. Lambung
meningkat
Pleura
Pleuritis
Nyeri Dada
Mual, Muntah,
Anoreksia
Gangguan Nutrisi Kurang
Dari Kebutuhan Tubuh
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Sputum (S-P-S)
Pemeriksaan sputum penting untuk dilakukan karena dengan pemeriksaan
tersebut akan ditemukan kuman BTA. Disamping itu, pemeriksaan sputum juga
dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang telah diberikan. Pemeriksaan
ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di puskesmas. Tetapi kadang-
kadang tidak mudah untuk mendapat sputum, terutama pada pasien yang tidak
masuk atau batuk nonproduktif. Dalam hal ini dianjurkan satu hari sebelum
pemeriksaan sputum, pasien dianjurkan minum air sebanyak 2 L dan dianjurkan
melakukan refleks batuk. Dapat juga dengan memberikan tambahan obat-obat
mukolitik contohnya ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik
selama 20 sampai 30 menit. Bila masih sulit, sputum dapat diperoleh dengan cara
bronchoskopi diambil dengan brushing atau bronkial washing atau bal (broncho
alveolar lavage).
Kriteria Sputum BTA positif:
Bila sekurang-kurangnya ditemukan tiga batang kuman BTA pada satu sediaan
dengan kata lain diperlukan 5000 kuman dalam satu ml sputum. Hasil pemeriksaan
BTA (+) dibawah mikroskop memerlukan kurang lebih 5000 kuman/ml sputum,
sedangkan untuk mendapatkan kuman (+) pada biakan yang merupakan diagnosis
pasti, dibutuhkan sekitar 50 sampai 100 ml/sputum. Hasil kultur memerlukan waktu
tidak kurang dari 6 sampai 8 minggu dengan angka sensitivitas 18 sampai 30 %.
Rekomendasi WHO Skala IUATLD:
1. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang: Negatif
2. Ditemukan 1-9 BTA: Tulis Jumlah Kuman
3. Ditemukan 10-99 BTA: 1 +
4. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang: 2+
5. Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang : 3+

b. Pemeriksaan Rontgen Thorak
Pada hasil pemeriksaan rontgen thorak sering didapatkan adanya suatu lesi
sebelum ditemukan adanya gejala subjektif awal dan sebelum pemeriksaan fisik
menemukan kelainan pada paru. Bila pemeriksaan rontgen menemukan suatu
kelainan, tidak ada gambaran khusus mengenai TB paru awal kecuali di lobus bawah
dan biasanya berada di sekitar hilus. Di karakteristik kelainan ini terlihat sebagai
daerah bergaris-garis opaque yang ukurannya bervariasi dengan bata lesi yang tidak
jelas. Kriteria yang kabur dan gambar yang kurang jelas ini sering diduga sebagai
pneumonia atau suatu proses edukatif yang akan tampak lebih jelas dengan
pemberian kontras.
Pemberian rontgen thoraks sangat berguna untuk mengevaluasi hasil
pengobatan dan ini bergantung pada tipe keterlibatan dan kerentanan bakteri
tuberkel terhadap obat antituberkulosis, apakah sama baiknya dengan respon dari
pasien. Penyembuhan yang lengkap sering kali terjadi di beberapa area dan ini
adalah observasi yang dapat terjadi pada penyembuhan yang lengkap. Hal ini
tampak paling menyolok pada klien dengan penyakit akut yang relatif dimana
prosesnya dianggap berasal dari tingkat eksudatif yang besar.

c. Pemeriksaan CT Scan
Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB
inaktif atau stabil yang ditunjukkan dengan adanya gambaran garis-garis fibrotik
irreguler, pita parenkimal, klasifikasi nodul dan adenopati, perubahan kelengkungan
beras bronkhovaskuler, ronkhi, atelektasis, emfisema, perisikatrisial. Sebagaimana
pemeriksaan rontgen thorak, penentuan bahwa kelainan inaktif tidak dapat hanya
berdasarkan pada temuan ct scan pada pemeriksaan tunggal, namun selalu
dihubungkan dengan kultur sputum yang negatif dan pemeriksaan secara serial
setiap saat. Pemeriksaan ct scan sangat bermanfaat untuk mendeteksi adanya
pembentuk cavasitas dan lebih dapat diandalkan daripada pemeriksaan rontgen
thorak biasa.

d. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis terbaik dari penyakit diperoleh dengan pemeriksaan mkrobiologi
melalui isolasi bakteri. Untuk membedakan spesies mycobacterium antara yang satu
dengan yang lainnya harus dilihat sifat koloni, waktu pertumbuhan, sifat biokimia
pada berbagai media, perbedaan kepekaan terhadap OAT dan kemotherapetik
perbedaan kepekaan terhadap binatang percobaan, dan percobaan kepekaan kulit
terhadap berbagai jenis antigen mycobacterium. Pemeriksaan darah yang dapat
menunjang diagnosis tb paru walaupun kurang sensitive adalah pemeriksaan LED.
Adanya peningkatan LED biasanya disebabkan peningkatan imunoglobulin terutama
IgG dan IgA.

8. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan tuberculosis terbagi menjadi dua fase yaitu:
a. Fase Intensif (2-3 bulan)
Tujuan tahapan awal adalah membunuh kuman yang aktif membelah
sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dengan obat yang bersifat bakterisidal.
Selama fase intensif yang terdiri dari 4 obat, terjadi pengurangan jumlah kuman
disertai perbaikan klinis. Pasien yang infeksi menjadi non infeksi dalam waktu 2
minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negatif
dalam waktu dua bulan. Menurut The Joint Tuberculosic Committe of the British
Thoracic Society, fase awal diberikan selama dua bulan yaitu INH 5mg/kgBB,
Rifampicin 10mg/KgBB, Pirazinamid 35mg/kgBB, ethambuthol 15mg/kgBB.
b. Fase Intermitten/Lanjutan (4-7 bulan)
Selama fase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam waktu yang
lebih panjang. Penggunaan 4 obat selama fase awal dan dua obat selama fase
lanjutan aka mengurangi resistensi selektif. besar pasien dengan sputum BTA positif
akan menjadi negatif dalam waktu dua bulan. Menurut The Joint Tuberculosic
Committe of the British Thoracic Society, fase lanjutan selama 4 bulan dengan INH
dan Rifampicin untuk tuberculosis paru dan ekstra paru, dan ethambuthol dapat
diberikan pada pasien dengan resistensi terhadap INH. Pada pasien yang pernah
diobati memiliki resiko terjadinya resistensi. Paduan pengobatan ulang terdiri dari 5
obat untuk fase awal dan 3 obat untuk fase lanjutan. Selama fase awal sekurang-
kurangnya 2 diantara obat yang diberikan haruslah yang masih efektif.
9. Pengobatan Tuberculosis
a. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT.
b. Jenis, Sifat dan Dosis OAT
Jenis OAT Sifat
Dosis yang direkomendasikan
Harian 3 x Seminggu
Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10 (8-12)
Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10 (8-12)
Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40)
Streptomysin (S) Bakterisid 15 (12-18) 15 (12-18)
Ethambuthol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) 30 (20-35)

c. Prinsip Pengobatan
1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesua dengan kategori penyebab. Jangan gunakan
OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-
KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang pengawas menelan
obat (PMO).
3. Pengobatan TB diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
a) Tahap awal (Intensif)
Pada tahap intensif pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat
Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan
Jika setelah pengobatan dua bulan pasien TB BTA positif belum menjadi
BTA negatif (tidak konversi) makan diberikan OAT sisipan (HRZE) sama
seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan
selama 1 bulan (28 hari).
b) Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama.
Tahap lanjutan untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan

d. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
1) Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis di Indonesia
a). Kategori 1: 2 (HRZE)/4 (HR)
b). Kategori 2: 2 (HRZE)S/(HRZE)/S (HR)3E3
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
c). Kategori anak: 2 HRZ/ 4HR
2. Paduan OAT kategori 1 dan kategori 2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat
kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini
disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT-KDT ini terdiri dari
kombinasi dua atau empat jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan
berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
3. Paket Kombipak
Paket kombipak adalah paket obat lepas yang terdiri dari isoniazid, rifampicin,
pirazinamid dan ethambuthol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini
disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami
efek samping OAT-KDT.
Paduan OAT disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan
pemberian obat dan menjamin kelangungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai.
Satu paket untuk satu pasien dalam satu masa pengobatan. Adapun paket obat KDT
mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
a. Dosis obat dapat disesuaikan dengan BB sehingga menjamin efektivitas obat dan
mengurangi efek samping
b. Mencegah penggunaan obat tunggal sehingga menurunkan resiko terjadinya
resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep
c. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

e. Paduan OAT dan Peruntukannya
1) Kategori I (2 HRZE/4 H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a. Pasien baru TB paru BTA positif
b. Pasien TB paru BTA negatif foto thoraks positif
c. Pasien TB ekstra paru

Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori I
Berat Badan Tahap Intensif Tiap Hari Selama 56 Hari
RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan
3x/Seminggu
Selama 16 Minggu RH
(150/150)
30-37 Kg 2 tablet 4 KDT 2 Tablet 2 KDT
38-54 Kg 3 Tablet 4 KDT 3 Tablet 2 KDT
55-70 Kg 4 Tablet 4 KDT 4 Tablet 2 KDT
>71 Kg 5 Tablet 4 KDT 5 Tablet 2 KDT

Dosis Paduan OAT-Kombipak untuk Kategori I
Tahap
Pengoba
tan
Lama
Pengoba
tan
Dosis Perhari/Kali Jumlah
Hari/Kali
Menelan Obat
Tablet
Isoniazid
@ 300 mgr
Kaplet
Rifampicin
@ 400 mgr
Tablet
Pirazinami
d @ 500
mgr
Tablet
Ethambuto
l @250 mgr
Intesif 2 bulan 1 1 3 3 56
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 48

2) Kategori 2 ( 2 HRZES/ HRZE/ S H3R3E)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya.
a. Pasien kambuh
b. Pasien gagal
c. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (defaulted)
Berat
Badan
Tahap Intensif Tiap Hari
RHZE (150/70/400/275) + S
Tahap Lanjutan 3x seminggu
RH (150/150) + E (400) selama 20
minggu
30-37 kg 2 tab 4 KDT +
500mg Streptomicin
inj
2 tab 4 KDT 2 tab 2 KDT + 2 Tab ethambutol
38-54 kg 3 tab 4 KDT +
750mg Streptomicin
inj
3 tab 4 KDT 3 tab 2 KDT + 3 tab ethambutol
55-70 kg 4 tab 4 KDT +
1000mg Streptomicin
inj
4 tab 4 KDT 4 tab 2 KDT + 4 tab ethambutol
>71 kg 5 tab 4 KDT +
1000mg Streptomicin
inj
5 tab 4 KDT 5 tab 2 KDT + 5 tab ethambutol

Dosis Paduan OAT Kombipak Untuk Kategori 2
Tahap
Pengo
batan
Lama
Pengoba
tan
Tablet
Isoniazi
d @ 300
mg
Tablet
Rifamp
icin @
400 mg
Tablet
Pirazina
mid @
500 mg
Ethambutol

Streptom
ysin Inj
Jumlah
hari/kal
i
menela
n obat
Tabl
et @
250
mg
Table
t @
400
mg
Tahap 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 gr 56
Intensif
(dosis
harian)
1 bulan 1 1 3 3 - - 28
Tahap
Lanjuta
n (dosis
3x
seming
gu)
4 bulan 2 1 - 1 2 - 60

3) OAT Sisipan (HRZE)
Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif
kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Dosis KDT untuk sisipan
Berat Badan Tahap Intensif Tiap Hari Selama 28 Hari RHZE (150/75/400/275)
30-37 Kg 2 Tablet 4 KDT
38-54 Kg 3 Tablet 4 KDT
55-70 Kg 4 Tablet 4 KDT
>71 Kg 5 Tablet 4 KDT

Dosis OAT KDT untuk Sisipan
Tahap
Pengobata
n
Lama
Pengobata
n
Tablet
Isoniazi
d @ 300
mg
Tablet
Rifampici
n @ 400
mg
Tablet
Pirazinami
d @ 500 mg
Tablet
Ethambuto
l @ 250 mg
Jumlah
hari/kal
i
menela
n obat
Tahap
Intensif
(dosis
harian)
1 bulan 1 1 3 3 28

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya
kanamisin) dan golongan kuionolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru
tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada
OAT lapis pertama disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya resiko
resistensi pada OAT.


10. Hasil Pengobatan Pasien TB BTA Positif
a. Sembuh
Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan
pemeriksaan ulang dahak (follow up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu
pemeriksaan follow up sebelumnya.
b. Pengobatan Lengkap
Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak
memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.
c. Meninggal
Adalah pasien yang meninggal pada masa pengobatan karena sebab apapun.
d. Pindah
Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TBO3 yang lain dan
hasil pengobatannya tidak diketahui.
e. Default (Putus Berobat)
Adalah pasien yang tidak berobat selama 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum
masa pengobatannya selesai.
f. Gagal
Adalah pasien dengan pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan

11. Komplikasi
a. Batuk darah
b. Pneumothorak
c. Gagal Nafas
d. Gagal Jantung
e. Efusi Pleura