Anda di halaman 1dari 17

1

Nama : Nadia Aini Putri P.


NIM : 04101401004
PDU NR 2010
Osteoporosis
A. Pengertian
Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai dengan adanya
penurunan masa tulang dan perubahan struktur pada jaringan mikroarsitektur
tulang, yang menyebabkan kerentanan tulang meningkat disertai kecenderungan
terjadinya fraktur, terutama pada proksimal femur, tulang belakang dan pada
tulang radius. Laki-laki dan wanita mempunyai kecenderungan yang sama
terhadap ancaman fraktur tulang tersebut. Walaupun demikian, penyakit ini dapat
dicegah dan diobati.
Hampir separuh masa pada kehidupan terjadi mekanisme kerusakan tulang
(resorpsi) dan pembentukan tulang (formasi). Selama masa anak-anak dan dewasa
muda, pembentukan tulang jauh lebih cepat dibandingkan dengan kerusakan
tulang. Titik puncak massa tulang (Peak bone mass) tercapai pada sekitar usia 30
tahun, dan setelah itu mekanisme resopsi tulang menjadi jauh lebih cepat
dibandingkan dengan pembentukan tulang. Penurunan massa tulang yang cepat
akan menyebabkan kerusakan pada mikroarsitektur tulang khususnya pada tulang
trabekular.
Osteoporosis dibagi dalam 2 bentuk, yaitu primer dan sekunder.
Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang disebabkan oleh usia (senile
osteoporosis), osteoporosis pascamenopause dan osteoporosis yang penyebabnya
tidak diketahui (idiopathic osteoporosis). Pada laki-laki, istilah idiopatik
digunakan hanya pada usia lebih dari 70 tahun, dengan asumsi penyebabnya
adalah berhubungan dengan usia. Progresifitas resorpsi tulang merupakan kondisi
normal dalam penuaan (aging process). Mekanisme ini diawali pada antara usia
dekade 3 sampai 5 kehidupan dimana resopsi tulang terjadi lebih cepat pada
tulang trabelukar daripada pada tulang kortikal, sedangkan pada wanita
2

mekanisme resopsi ini terjadi menjelang menopause.
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh gaya hidup, obat-obatan atau penyakit
tertentu. Penyebab tersering osteoporosis sekunder adalah penggunaan terapi
glukokortikoid (sindroma cushing), tirotoksikosis, alkoholisme, hiperparatiroid,
diabetes melitus, hipogonadisme, perokok, penyakit gastrointestinal, gangguan
nutrisi, hipercalsiuria dan immobilisasi.

B. Etiologi
1. Osteoporosis pascamenopause (osteoporosis tipe 1) terjadi karena kurangnya
hormon estrogen yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam
tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51- 75 tahun,
walaupun dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen
produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus berlangsung
3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang
sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.
2. Osteoporosis senilis terjadi akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan
dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan resorpsi dan formasi.
Osteoporosis jenis ini hanya terjadi pada usia lanjut (usia diatas 70 tahun) dan
terjadi lebih sering pada jenis kelamin wanita. Wanita sering kali menderita
osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya
tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki
kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak
memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.
4. Kurang dari 5% penderita osteoporosis mengalami osteoporosis sekunder yang
disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa
disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid,
3

paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat,
antikejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang
berlebihan dan merokok juga dapat mengakibatkan keadaan ini.

C. Faktor Risiko
Usia
Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara
alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia.
Osteoporosis pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang
yang juga disebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap
kalsium.
Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan Karakteristik biologik yang dikenali dari
penampilan fisik, yaitu laki-laki dan perempuan. Osteoporosis lebih sering
terjadi pada wanita sekitar 80 % daripada laki-laki 20%.
Ras
Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena
osteoporosis. Karena itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark)
dan Asia berisiko lebih tinggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika
hitam. Ras Afrika memiliki massa tulang lebih padat dibanding ras kulit
putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot yang lebih besar sehingga
tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon estrogen
yang lebih tinggi pada ras Afrika.
Keturunan (riwayat keluarga/genetik)
Seperti halnya dengan penyakit yang lain, osteoporosis juga berhubungan
dengan adanya keturunan. Jika memiliki riwayat keluarga yang menderita
osteoporosis, diperkirakan 60 80% salah satu anggota keluarga akan
lebih mudah mengalami osteoporosis.
Aktivitas Fisik
4

Seseorang yang jarang melakukan aktivitas fisik akan mengakibatkan
turunnya massa tulang dan dengan bertambahnya usia terutama pada usia
lanjut, otot pun akan menjadi lemah, sehingga akan berpeluang untuk
timbulnya patah tulang.
Kebiasaan merokok
Dengan merokok, hormon estrogen dalam tubuh akan menurun dan akan
mudah kehilangan masa tulang (BMD rendah/terjadi osteoporosis),
sehingga lebih besar untuk mengalami fraktur tulang.
Kebiasaan Konsumsi Alkohol
Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, akan meningkatkan
terjadinya resiko patah tulang. Hal ini disebabkan alkohol dapat
mengurangi masa tulang, mengganggu metabolisme vitamin D dan
menghambat penyerapan kalsium.
Menopause dini
Menopause merupakan akhir dari masa reproduktif karena telah
berhentinya masa haid, biasanya terjadi usia 50 51 tahun. Biasanya pada
wanita yang merokok akan mengalami menopause 1 tahun lebih cepat dari
wanita yang bukan perokok. Seseorang yang mengalami menopause akan
mengalami fase klimaksterium, yaitu terjadinya peralihan dari reproduktif
akhir ke masa menopause. Fase klimaksterium memiliki 3 masa yaitu
premenopause yang terjadi sekitar 4 5 tahun sebelum menopause, masa
menopause, dan pascamenopause yang terjadi sekitar 3 5 tahun setelah
menopause.

D. Patogenesis
Berbagai macam patogenesis dalam terjadinya osteoporosis telah banyak
berkembang. Oleh karena itu, perlu pemahaman tentang bagaimana pembentukan
tulang dan remodoling terjadi.
Pembentukan dan remodeling tulang normal
5

Tulang akan terus beremodeling sepanjang kehidupan sebagai respon
terhadap microtrauma yang terjadi. Remodeling tulang terjadi pada tempat yang
berbeda didalam skeleton dengan teratur. dan resorpsi tulang selalu diikuti oleh
pembentukan tulang, sebuah fenomena yang disebut sebagai coupling.
Tulang padat kortikal dan spongy trabecular atau tulang kanselus berbeda
dalam segi arsitektur namun serupa dalam komposisi molekul. Kedua jenis tulang
memiliki matriks ekstraseluler dengan komponen mineral dan nonmineral.
Komposisi dan arsitektur dari matriks ekstraselulerlah yang menanamkan sifat
mekanik ke tulang.
Kekuatan tulang ditentukan oleh protein kolagen (kekuatan tarik atau
tensile strength) dan mineralized osteoid (kuat tekan atau compressive strength).
Semakin besar konsentrasi kalsium, semakin besar kuat tekan. Pada orang
dewasa, sekitar 25% dari tulang trabekular diserap dan diganti setiap tahun,
sedangkan tulang cortikal hanya 3%.
Osteoklast berasal dari sel mesenkim yang bertanggung jawab untuk
resorpsi tulang, sedangkan osteoblast berasal dari prekursor hematopoietik,
bertanggung jawab untuk pembentukan tulang (formasi). Dua jenis sel bergantung
pada satu sama lain untuk produksi dan terkait dalam proses remodeling tulang.
Osteoblas tidak hanya mengeluarkan dan memineralkan osteoid tetapi juga
berfungsi untuk mengontrol penyerapan tulang yang dilakukan oleh osteoklas.
Pada osteoporosis, mekanisme coupling antara osteoklas dan osteoblas
dianggap tidak mampu bersaing dengan microtrauma konstan pada tulang
trabekular. Osteoklast memerlukan waktu beberapa minggu untuk menyerap
tulang, sedangkan osteoblast perlu waktu beberapa bulan untuk menghasilkan
tulang baru. Sehingga, setiap proses yang meningkatkan remodeling tulang akan
mengakibatkan tulang keropos dari waktu ke waktu.
Aktivator reseptor nuklir ligan faktor-kappa B (RANKL), aktivator
reseptor faktor-kappa B nuklir (RANK), osteoprotegerin (OPG) sistem adalah
jalur akhir resorpsi tulang. Osteoblast dan sel T aktif dalam sumsum tulang
6

menghasilkan sitokin RANKL. RANKL mengikat RANK dan di ekspresikan oleh
osteoklast dan prekursor osteoklast untuk mempromosikan diferensiasi osteoklas.
Osteoprotegerin melindungi skeleton dari resorpsi tulang yang berlebihan dengan
cara mengikat RANKL dan mencegah ikatannya dengan reseptor RANK.

Puncak massa tulang terjadi pada sekitar dekade ketiga kehidupan dan
perlahan-lahan menurun setelahnya. Kegagalan untuk mencapai kekuatan tulang
yang optimal pada titik ini adalah salah satu faktor yang memberikan kontribusi
terhadap osteoporosis, yang menjelaskan mengapa beberapa wanita muda
pascamenopause memiliki kepadatan mineral tulang (bone mineral density) yang
rendah dan mengapa beberapa orang lain mengalami osteoporosis. Oleh karena
itu, nutrisi dan aktivitas fisik memiliki peranan yang penting selama pertumbuhan
dan perkembangan. Namun demikian, faktor keturunan memainkan peran utama
dalam menentukan kekuatan tulang puncak individu.
Perubahan dalam pembentukan tulang dan resorpsi
Osteoporosis dapat disebabkan baik karena kegagalan pembentukan tulang
dan pencapaian puncak massa tulang saat dewasa muda. Percepatan keropos
tulang dapat dipengaruhi oleh status hormonal, seperti yang terjadi pada wanita
pascamenopause, pria dan wanita lanjut usia; dan dapat terjadi karena penyebab
sekunder untuk berbagai kondisi penyakit dan obat-obatan.
7

Penuaan dan hilangnya fungsi gonad adalah dua faktor yang paling
penting dalam kontribusi terhadap perkembangan osteoporosis. Penelitian telah
menunjukkan bahwa keroposnya tulang pada wanita sangat cepat terjadi di tahun-
tahun pertama setelah menopause. Defisiensi estrogen menyebabkan peningkatan
ekspresi RANKL oleh osteoblast dan penurunan pelepasan OPG.
Berbeda dengan keroposnya tulang pascamenopause yang berhubungan
dengan aktivitas osteoklast yang berlebihan, keroposnya tulang yang berhubungan
dengan penurunan berhubugan dengan progresifitas penurunan suplai osteoblast
yang tidak sebanding dengan kebutuhan.
Setelah dekade ketiga kehidupan, resorpsi tulang melebihi pembentukan
tulang dan menyebabkan osteopenia dan, dalam situasi yang parah, osteoporosis.
Wanita kehilangan 30-40% dari tulang kortikal dan 50% tulang trabekular selama
kehidupan, sedangkan pria kehilangan 15-20% dari tulang kortikal dan 25-30%
tulang trabekular.
Defisiensi Kalsium
Kalsium, vitamin D, dan PTH membantu mempertahankan homeostasis
tulang. Kalsium tidak memadai atau gangguan penyerapan kalsium di
usus akibat penuaan atau penyakit dapat menyebabkan
hiperparatiroidisme sekunder. PTH disekresikan sebagai respon
terhadap kadar kalsium serum yang rendah. Hal ini meningkatkan
kalsium resorpsi dari tulang, menurunkan ekskresi kalsium ginjal, dan
meningkatkan produksi ginjal dari 1,25-dihydroxyvitamin D (1,25
[OH]
2
D) yang merupakan bentuk hormon aktif vitamin D yang
mengoptimalkan penyerapan kalsium dan fosfor, menghambat PTH
sintesis, dan memainkan peran kecil dalam resorpsi tulang.
Defisiensi Vitamin D
Defisiensi vitamin D menyebabkan absorbsi dan reabsorbsi kalsium dan
fosfat tidak adekuat sehingga terjadi penurunan konsentrasi kalsium
plasma. Penurunan konsentrasi kalsium plasma menyebabkan
8

peningkatan sekresi hormon paratiroid yang bertujuan mengembalikan
konsentrasi kalsium plasma tetapi dengan resorpsi dari tulang.

E. Manifestasi Klinis
1. Tanda-tanda fraktur
Pasien dengan fraktur kompresi vertebral dapat menunjukkan kyphosis
toraks dengan lordosis serviks berlebihan (dowager's hump). Hal ini diikuti
dengan hilangnya lordosis lumbal. Setelah setiap episode fraktur kompresi
vertebral dan kyphosis progresif, tinggi pasien dapat berkurang 2-3 cm.
Pasien dengan patah tulang belakang akut mungkin memiliki titik nyeri
tekan di atas vertebra yang terlibat. Pasien dengan fraktur panggul akan merasa
sangat kesakitan pada saat bergerak. Uji sendi pinggul Faber dapat
memperlihatkan keterbatasan ROM dengan nyeri skala akhir. Pasien dengan
fraktur sacrum dan pubic mengalami nyeri saat bergerak, dan tenderness saat
palpasi, perkusi, atau keduanya. Selain itu, pasien dengan patah tulang sakral
mungkin mengalami nyeri dengan teknik pemeriksaan fisik yang digunakan untuk
menilai sacroiliac, seperti tes faber. Fraktur di bagian lain dari tubuh, termasuk
radius distal dan humerus, biasanya nyeri dan terjadi keterbatasan ROM pada
sendi yang terlibat.
2. Tanda-tanda kekurangan kolagen
Pasien dengan osteoporosis mungkin memiliki temuan fisik yang sesuai
dengan tanda-tanda kekurangan kolagen, seperti short fifth digit, dentinogenesis
imperfecta, hyperlaxity, gangguan pendengaran, pes planus, bunions, dan sclera
biru.
3. Ketidakseimbangan
Pasien dengan osteoporosis akan mengalami penurunan keseimbangan,.
Pasien mungkin mengalami kesulitan melakukan tandem gait dan melakukan
9

sikap tegak. Keseimbangan yang buruk dapat dilihat pada pasien dengan kifosis
berat.

4. Tanda-tanda lainnya
Riwayat kehilangan tinggi badan
Berat badan rendah (indeks massa tubuh <19 kg / m2)
Tanda-tanda yang mungkin menunjukkan osteoporosis yang ada
(misalnya, kyphosis, titik nyeri tekan di atas tulang atau fraktur
yang lainnya)
Tanda-tanda sugestif osteoporosis sekunder
Tanda-tanda pada pasien yang tua yang mungkin mengindikasikan
peningkatan risiko jatuh (misalnya, kesulitan mempertahankan
keseimbangan atau gaya berjalan, hipotensi ortostatik, kelemahan
ekstremitas bawah, kesulitan melihat atau mendengar, gangguan
kognitif)

F. Penegakan Diagnosis
Diagnosis yang digunakan yaitu dengan pemeriksaan densitas mineral tulang
(DMT) agar mengetahui kepadatan tulang. Untuk menentukan kepadatan tulang
tersebut, terdapat tiga teknik yang bisa dilakukan.
Densitometri DXA (dual-energy x-ray absorptiometry)
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling tepat dan
mahal. Pemeriksaan ini tidak akan menimbulkan rasa nyeri dan
hanya dilakukan sekitar 5 15 menit. Keuntungan yang didapatkan
jika melakukan pemeriksaan ini yaitu dapat menentukan kepadatan
tulang dengan baik (memprediksi resiko patah tulang pinggul) dan
mempunyai paparan radiasi yang sangat rendah. Akan tetapi alat ini
memiliki kelemahan yaitu membutuhkan koreksi berdasarkan
10

volume tulang (secara bersamaan hanya menghitung 2 dimensi
yaitu tinggi dan lebar) dan jika pada saat seseorang melakukan
pengukuran dalam posisi yang tidak benar, maka akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan tersebut. Hasil dari DXA dapat
dinyatakan dengan T-score, yang dinilai dengan melihat perbedaan
BMD dari hasil pengukuran dengan nilai rata-rata BMD puncak.

T score Diagnosis
+1 to -1 Normal Bones
-1 to -2.5 Osteopenia
-2,5 or lower Osteoporosis

Menurut WHO, kriteria T-score dibagi menjadi 3, yaitu T-score > -
1 SD yang menunjukkan bahwa seseorang masih dalam kategori
normal. T-score <- 1 sampai -2,5 dikategorikan osteopenia, dan < -
2,5 termasuk dalam kategori osteoporosis, apabila disertai fraktur,
maka orang tersebut termasuk dalam osteoporosis berat.
Densitometri US (ultrasound)
Kerusakan yang terjadi pada tulang dapat didiagnosis dengan
pengukuran ultrsound, yaitu dengan mengunakan alat quantitative
ultrasound (QUS). Hasil pemeriksaan ini ditentukan dengan
gelombang suara, karena cepat atau tidaknya gelombang suara
yang bergerak pada tulang dapat terdeteksi dengan alat QUS. Jika
suara terasa lambat, berarti tulang yang dimiliki padat. Akan tetapi,
jika suara cepat, maka tulang kortikal luar dan trabekular interior
tipis. Pada beberapa penelitian,menyatakan bahwa dengan QUS
dapat mengetahui kualitas tulang, akan tetapi QUS dan DXA sama-
11

sama dapat memperkirakan patah tulang .
Dengan alat ini, seseorang tidak akan terpapar radiasi karena tidak
menggunakan sinar X. Kelemahan alat ini, yaitu tidak memiliki
ketelitian yang baik (saat dilakukan pengukuran ulang sering terjadi
kesalahan), tidak baik dalam mengawasi pengobatan (perubahan
massa tulang).
Pemeriksaan CT (computed tomography
Pemeriksaan CT merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium
yang dilakukan dengan memeriksa biokimia CTx (C-Telopeptide).
Dengan pemeriksaan ini dapat menilai kecepatan pada proses
pengeroposan tulang dan pengobatan antiresorpsi oral pun dapat
dipantau. Kelebihan yang didapatkan jika menggunakan alat ini
yaitu kepadatan tulang belakang dan tempat biasanya terjadi patah
tulang dapat diukur dengan akurat. Akan tetapi pada tulang yang
lain sulit diukur kepadatannya dan ketelitian yang dimiliki tidak
baik serta tingginya paparan radiasi.

G. Diagnosis Banding
Diagnosis osteoporosis sangat luas. Ketika berhadapan dengan penurunan
kepadatan tulang, kemungkinan penyebab lain dari gejala harus disingkirkan
sebelum mengobati pasien osteoporosis. Diagnosis fraktur kompresi atraumatic
termasuk osteomalacia, tumor, osteonekrosis, infeksi, dan gangguan tulang-
pelunakan lainnya yang bersifat metabolik.
Osteoporosis mungkin sulit dibedakan dengan osteomalacia. Namun, pada
osteoporosis tulang mengalami keropos dan rapuh, sementara osteomalacia tulang
bersifat lunak. Perbedaan dalam konsistensi tulang terkait dengan rasio mineral
dan organic material. Pada osteoporosis, rasio mineral:kolagen berada dalam
kisaran normal, sedangkan di osteomalacia, proporsi komposisi mineral relatif
berkurang.
12

H. Terapi
Farmakologi
The American College of Physicians telah mengkaji bukti dan
mengusulkan pedoman untuk perawatan farmakologis osteoporosis. Agen yang
tersedia saat ini untuk pengobatan osteoporosis adalah bifosfonat; selektif
modulator reseptor estrogen (SERM) raloxifene, kalsitonin, denosumab, dan agen
anabolik; teriparatide (PTH rekombinan manusia [1-34]). Semua terapi harus
diberikan dengan suplementasi kalsium dan vitamin D.
Agen lini pertama: alendronate, risedronat, asam zoledronic, denosumab
Agen lini kedua: ibandronate
Agen lini kedua atau ketiga: raloxifene
Agen lini terakhir: kalsitonin
Pengobatan untuk pasien dengan risiko patah tulang yang sangat tinggi
atau terapi bifosfonat gagal adalah teriparatide
Salah satu tujuan umum dari pengobatan compresi akut atau fraktur adalah
pemberian analgesik yang memadai. Pemberian analgesik dapat diberikan
menurut WHO Analgesia Ladder:


Rehabilitasi
13

Thermotherapy
Terapi panas dan dingin merupakan cara efektif menghilangkan rasa sakit.
Mandi hangat atau hot packs dapat meringankan otot kaku. Suhu dingin dapat
matikan rasa didaerah yang nyeri dan juga dapat mengurangi pembengkakan dan
peradangan.

Latihan Beban
Latihan beban yang dilakukan secara teratur dan benar gerakannya
bermanfaat bagi penderita osteoporosis. Seorang lanjut usia, sebelum melakukan
latihan, baik sekali apabila memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter.
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Miriam, Ph.D., bersama teman-
temannya di Universitas Tuft Boston. menunjukkan bahwa ada suatu peningkatan
pada daerah tertentu dengan berolahraga. Penelitian tersebut meneliti wanita post
menopause yang berusia 50 sampai 70 tahun, tidak menggunakan estrogen selama
satu tahun selama mengikuti program latihan beban dua hari perminggu dengan
waktu 40 menit sekali berlatih. Kelompok yang mengikuti latihan beban lima
macam rata-rata dapat memelihara kepadatan tulangnya pada daerah pinggul dan
punggung, sedangkan yang tidak mengikuti latihan kepadatan tulangnya menurun
Latihan beban sangat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesehatan
tulang.
Penderita osteoporosis yang ingin tulangnya sehat dapat mengangkat
dumbell dengan berat maksimal untuk masing-masing tangan 1 sampai 3 pon dan
tidak boleh lebih dari 5 pon. Tulang punggung agar tidak menegang dan
keseimbangan tubuh bisa dipertahankan, lutut harus di tekuk sedikit.
14

Latihan untuk menguatkan lengan (otot ekstensor bahu). Latihan ini dapat
dilakukan dengan posisi berdiri atau duduk.
Latihan dengan menggunakan beban dalam (berat badan sendiri) untuk
penderita osteoporosis bervariasi gerakannya. Sebagai contoh adalah latihan untuk
menguatkan otot punggung. Posisi awal latihan back extension untuk otot
punggung, yaitu penderita berbaring menelungkup. Tahap selanjutnya, kepala dan
dada diangkat selama beberapa detik dengan bantuan matras sebagai penopang.
Latihan dilakukan 5 sampai 10 kali dan frekuensinya tiga kali seminggu.
Peningkatan latihan dapat dilakukan setelah penderita merasa terbiasa/ ringan
dalam mengangkat bebannya.

Latihan untuk menguatkan otot punggung. Latihan back extension berguna bagi
penderita osteoporosis, khususnya mencegah proses kyphosis.

15

Penderita osteoporosis pada bagian paha, dapat melakukan latihan beban
dengan leg press machine. Pertama, posisi duduk dengan pengaturan punggung
bersandar ditempat duduk dan lutut menekuk kurang lebih 90 derajat. Tahap
selanjutnya, yaitu meletakkan telapak kaki datar pada bantalan, kemudian
perlahan-lahan mendorong, sehingga lutut hampir lurus (tidak mengunci). Selama
tahap mendorong, napas dikeluarkan dan napas ditarik saat kaki di bantalan
kembali ke posisi semula. Latihan dilakukan dengan repetisi 1-8 ulangan, beban
sedang dan frekuensi 3-4 kali/minggu.


Latihan untuk menguatkan paha. Keterangan: Otot yang terkena adalah
quadriceps dan hamstring.

Jenis latihan beban yang lain, yaitu menggunakan pita elastis, dimana pita
elastis berfungsi sebagai penarik dari beban yang diam. Pita elastis lebar dapat
tahan lama memberikan daya hambat yang memadai untuk menguatkan otot
punggung. Latihan dilakukan dengan meletakkan pita elastis sepanjang 2 kaki
pada palang yang berjarak 2 kaki di atas kepala, kemudian saat menarik ujung pita
16

ke bawah otot latissimus dorsi dan shoulder adductor akan menguat. Pita elastis
juga dapat digunakan dengan memegang ke dua ujungnya dan ke dua kaki
menginjak bagian tengah pita. Selanjutnya lengan menarik pita ke atas melewati
kepala, sehingga otot ekstensor punggung akan menguat.

Latihan untuk menguatkan otot bahu dan otot ekstensor punggung. Latihan ini
dapat juga untuk mencegah postur tubuh kyphosis.

Latihan beban ideal untuk membangun kekuatan tulang, karena latihan
beban dapat menambah kemampuan tulang menahan gravitasi. Latihan beban juga
dapat meningkatkan refleks, sehingga penderita osteoporosis tidak mudah jatuh
atau mengalami patah tulang.

Korset
Korset biasanya dianjurkan untuk membantu mengurangi rasa sakit dan
menstabilkan tulang belakang selama masa penyembuhkan. Korset ini dirancang
untuk memfiksasi belakang agar tetap lurus, menghilangkan tekanan pada tulang
yang rusak dan mengurangi kemungkinan patah lebih lanjut. Korset digunakan
selama 8-12 minggu untuk menunggu stabilisasi fraktur. Selama dua bulan setelah
17

terjadinya fraktur vertebre akut, latihan fisioterapi yang intensif dihindari dan
lebih fokus kepada latihan yang santai, latihan bernapas, dan menjaga mobilisasi
sendi utama.

Edukasi
Menghindari mengangkat sesuatu/barang yang berat
Menghindari jatuh dengan menghindari lantai licin, alas kaki licin, tangga
yang curam, dan penerangan ruangan yang redup. Bila ada gangguan
penglihatan harus dikoreksi (misalnya dengan kacamata), penggunaan
tongkat saat berjalan, penggunaan pegangan tangan di kamar mandi,
penggunaan kloset duduk.
Postur: menghindari postur yang bungkuk, harus tegak, dapat dibantu
dengan korset.
Olahraga: awalnya tanpa beban kemudian bertahap diberikan beban sesuai
toleransi.
- Latihan pembebanan
- Latihan keseimbangan.
- Latihan kelenturan