Anda di halaman 1dari 26

1

LOGGING

1. Pengertian Logging
Logging adalah teknik untuk mengambil data-data dari formasi dan
lubang sumur dengan menggunakan peralatan khusus. Pekerjaan yang dapat
dilakukan meliputi pengukuran data-data property electrical (resistivity dan
conductivity), data nuklir aktif dan pasif, ukuran lubang sumur, pengambilan
sample fluida formasi, pengukuran tekanan formasi, coring dari dinding
sumur, dsb.

2. Tujuan Logging
Tujuan logging sendiri yaitu untuk menentukan besaran-besaran fisik
batuan reservoir (porositas, saturasi air formasi,ketebalan formasi produktif,
lithologi batuan) maka dasar dari logging itu sendiri adalah sifat-sifat fisik
atau petrofisik dari batuan reservoir itu sendiri, meliputi sifat listrik, sifat
radioaktif, dan sifat rambat suara (gelombang) elastis dari batuan reservoir

3. Jenis - jenis Logging
Berdasarkan kemampuan, kegunaan, dan prinsip kerja maka jenis
logging ini dibagi menjadi log listrik, log radioaktif, log sonic, dan log caliper
3.1. Log Listrik
Log listrik merupakan suatu plot antara sifat-sifat listrik lapisan
yang ditembus lubang bor dengan kedalaman. Sifat-sifat ini diukur
dengan berbagai variasi konfigurasi elektrode yang diturunkan ke dalam
lubang bor. Untuk batuan yang pori-porinya terisi mineral-mineral air
asin atau clay maka akan menghantarkan listrik dan mempunyai
resistivity yang rendah dibandingkan dengan pori-pori yang terisi
minyak, gas maupun air tawar. Oleh karena itu lumpur pemboran yang
banyak mengandung garam akan bersifat konduktif dan sebaliknya.
2

Untuk formasi clean sand yang mengandung air garam, tahanan
formasinya dapat dinyatakan dengan suatu faktor tahanan formasi (F),
yang dinyatakan dengan persamaan :
R
o
= F x R
w
. (3-1)
dimana :
F = faktor formasi
R
o
= tahanan formasi dengan saturasi air formasi 100 %
R
w
= tahanan air garam (air formasi)
Hubungan antara tahanan formasi, porositas dan faktor sementasi
dikemukakan oleh G.E. Archie dan Humble sebagai berikut :
Persamaan Archie : F =
-m
.. (3-2)
Persamaan Humble : F = 0,62 x
-2,15
.... (3-3)
dimana :
m = faktor sementasi batuan
F = faktor formasi
= porositas
Resistivity Index (I) adalah perbandingan antara tahanan listrik
batuan sebenarnya (R
t
) dengan tahanan yang dijenuhi air formasi 100 %
(R
o
), yaitu sesuai dengan persamaan berikut :

n
Sw Ro
Rt
I

=
1
. (3-4)
dimana :
n = eksponen saturasi, untuk batupasir besarnya sama dengan 2.
Untuk formasi clean sand, terdapat hubungan antara saturasi air
formasi (S
w
), porositas (), tahanan formasi sebenarnya (R
t
), tahanan air
formasi (R
w
) serta eksponen saturasi (n). Secara matematis hubungan ini
dapat dinyatakan sebagai berikut :

n
m
n n
Rt
Rw
Rt
F Rw
Rt
Ro
Sw

= =
|
. (3-5)
Pada umumnya log listrik dapat dibedakan menjadi dua jenis:

3

Spontaneous Potensial Log (SP Log)
Kurva spontaneous potensial (SP) merupakan hasil pencatatan
alat logging karena adanya perbedaan potensial antara elektroda yang
bergerak dalam lubang sumur dengan elektroda tetap di permukaan
terhadap kedalaman lubang sumur.
Spontaneous potensial ini merupakan sirkuit sederhana yang
terdiri dari dua buah elektroda dan sebuah galvanometer. Sebuah
elektroda (M) diturunkan kedalam lubang sumur dan elektroda yang
lain (N) ditanamkan di permukaan. Disamping itu masih juga terdapat
sebuah baterai dan sebuah potensiometer untuk mengatur potensial
diantara kedua elektroda tersebut. Bentuk defleksi positif ataupun
negatif terjadi karena adanya perbedaan salinitas antara kandungan
dalam batuan dengan lumpur. Bentuk ini disebabkan oleh karena
adanya hubungan antara arus listrik dengan gaya-gaya
elektromagnetik (elektrokimia dan elektrokinetik) dalam batuan.
Gambaran skematis dari gejala SP pada formasi degan resistivity
tinggi dapat dilihat pada gambar 1.










Gambar 1. Gambaran Skematis dari Gejala SP pada Formasi dengan
Resistivity Tinggi
(Adi Harsono:Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger,
Edisi-8, Jakarta, 1 Mei 1997)
4

Adapun komponen elektromagnetik dari SP tersebut adalah sebagai
berikut:
A. Elektrokimia, dibagi menjadi dua bagian,yaitu:
Membran Potensial, terjadi karena adanya struktur dan muatan
maka lapisan shale bersifat permeable terhadap kation Na
+
dan
kedap terhadap anion Cl
-
. Jika lapisan shale memisahkan dua
larutan yang mempunyai perbedaan konsentrasi NaCl, maka
kation Na
+
bergerak menembus shale dari larutan yang
mempunyai konsentrasi tinggi ke larutan yang mempunyai
konsentrasi rendah, sehingga terjadi suatu potensial.
Liquid Junction Potential, terjadi karena adanya perbedaan
salinitas antara air filtrat dengan air formasi, sehingga kation
Na
+
dan ion Cl
-
dapat saling berpindah selama ion Cl
-

mempunyai mobilitas yang lebih besar dari Na
+
, maka terjadi
aliran muatan negatif Cl
-
dari larutan yang berkonsentrasi tinggi
ke larutan yang berkonsentrasi rendah.
B. Elektrokinetik
Potensial elektrokinetik merupakan hasil suatu aliran elektrolit
yang melewati unsure-unsur dalam media berpori. Besarnya
elektrokinetik ini tergantung dari perbedaan tekanan yang
menghasilkan aliran dan tahanan dari elektrolit pada suatu media
porous. Potensial elektrolit disini dapat diabaikan karena pada
umumnya perbadaan tekanan hidrostatik lumpur dengan tekanan
formasi tidak begitu besar dan untuk lapisan shale pengaruh
filtrasi dari alir lumpur kecil.
Jika pengaruh SP log melalui lapisan cukup tebal dan kondisinya
bersih dari clay, maka defleksi kurva SP akan mencapai
maksimum. Defleksi SP yang demikian disebut statik SP atau
SSP, yang dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut:

5


weq
mfeq
c
R
R
K SSP log =
(3-6)
dimana :
SSP = statik spontaneous potensial, mv
K
c
= konstanta lithologi batuan
=
( ) T + 133 . 0 61
, dalam
o
F
=
( ) T + 24 . 0 65
, dalam
o
C
R
mfeq
= tahanan filtrat air lumpur, ohm-m
R
weq
= tahanan air formasi, ohm-m
SP log berguna untuk mendeteksi lapisan-lapisan yang porous dan
permeabel, menentukan batas-batas lapisan, menentukan harga
tahanan air formasi (R
w
) dan dapat juga untuk korelasi batuan dari
beberapa sumur di dekatnya.
Defleksi kurva SP selalu dibaca dari shale base line yang mana
bentuk dan besar defleksi tersebut dapat dipengaruhi oleh
ketebalan lapisan batuan formasi, tahanan lapisan batuan, tahanan
shale dalam lapisan batuan, diameter lubang bor, dan invasi air
filtrat lumpur. Satuan ukuran dalam spontaneous potensial adalah
millivolt (mv).
Resistivity Log
Resistivity log adalah suatu alat yang dapat mengukur tahanan
batuan formasi beserta isinya, yang mana tahanan ini tergantung pada
porositas efektif, salinitas air formasi, dan banyaknya hidrokarbon
dalam pori-pori batuan. Gambar resistivity log dapat dilihat pada
gambar 2.
6



Gambar 2. Kurva Resistivity Log
(Adi Harsono:Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger, Edisi-8,
Jakarta, 1 Mei 1997)

3.2. Log Radioaktif
Log radioaktif dapat digunakan pada sumur yang dicasing (cased
hole) maupun yang tidak dicasing (open hole). Keuntungan dari log
radioaktif ini dibandingkan dengan log listrik adalah tidak banyak
dipengaruhi oleh keadaan lubang bor dan jenis lumpur. Dari tujuan
pengukuran, Log Radioaktif dapat dibedakan menjadi: alat pengukur
lithologi seperti Gamma Ray Log, alat pengukur porositas seperti
Neutron Log dan Density Log. Hasil pengukuran alat porositas dapat
digunakan pula untuk mengidentifikasi lithologi dengan hasil yang
memadai.

7

3.2.1 Gamma Ray Log
Prinsip pengukurannya adalah mendeteksi arus yang
ditimbulkan oleh ionisasi yang terjadi karena adanya interaksi sinar
gamma dari formasi dengan gas ideal yang terdapat didalam kamar
ionisasi yang ditempatkan pada sonde. Besarnya arus yang
diberikan sebanding dengan intensitas sinar gamma yang
bersangkutan.
Didalam formasi hampir semua batuan sedimen mempunyai
sifat radioaktif yang tinggi, terutama terkonsentrasi pada mineral
clay. Formasi yang bersih (clean formasi) biasanya mengandung
sifat radioaktif yang kecil, kecuali lapisan tersebut mengandung
mineral-mineral tertentu yang bersifat radioaktif atau lapisan berisi
air asin yang mengandung garam-garam potassium yang
terlarutkan (sangat jarang), sehingga harga sinar gamma akan
tinggi.
Dengan adanya perbedaan sifat radioaktif dari setiap batuan,
maka dapat digunakan untuk membedakan jenis batuan yang
terdapat pada suatu formasi. Selain itu pada formasi shaly sand,
sifat radioaktif ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kadar
kandungan clay yang dapat berkaitan dengan penilaian produktif
suatu lapisan berdasarkan intrepretasi data logging. Besarnya
volume shale dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

min max
min log
GR GR
GR GR
V
sh

= ..... (3-7)
dimana :
GR
log
= hasil pembacaan GR log pada lapisan yang bersangkutan
GR
max
= hasil pembacaan GR log maksimal pada lapisan shale
GR
min
= hasil pembacaan GR log maksimal pada lapisan non shale
Dengan pertimbangan adanya efek densitas formasi, maka
untuk formasi dengan kandungan satu mineral, gamma ray yang
terbaca pada log adalah :
8


1
1 1
A
V
GR
b


= . (3-8)
dimana :

1
= densitas dari mineral radioaktif
V
1
= volume batuan mineral
A
1
= faktor perimbangan radioaktif dari mineral

b
V

1 1
= konsentrasi berat dari mineral
Untuk formasi yang mengandung lebih dari satu mineral
radioaktif, respon GR adalah penjumlahan dari beberapa mineral
tersebut dengan menggunakan persamaan (3-12). Sedangkan untuk
formasi dengan kandungan dua mineral radioaktif, densitas dan
kekuatannya berbeda, serta keberadaannya dalam jumlah yang
berbeda maka GR yang terbaca pada log adalah :

1
1 1
1
1 1
A
V
A
V
GR
b b

+ = .. (3-9)
persamaan (3-12) diatas dapat disamakan dengan mengalikan
dengan
b
sehingga persamaannya dapat ditulis menjadi :

b
.GR = B
1
V
1
+ B
2
V
2
(3-10)
dimana :
B
1
=
1
A
1
B
2
=
2
A
2

Secara khusus Gamma Ray Log berguna untuk identifikasi
lapisan permeabel disaat SP Log tidak berfungsi karena formasi
yang resistif atau bila kurva SP kehilangan karakternya (R
mf
=
R
w
), atau ketika SP tidak dapat merekam karena lumpur yang
yang digunakan tidak konduktif (oil base mud). Hal tersebut dapat
dilihat pada gambar 3. Selain itu Gamma Ray Log juga dapat
digunakan untuk mendeteksi dan evaluasi terhadap mineral
radioaktif (potassium dan uranium), mendeteksi mineral tidak
radioaktif (batubara), dan dapat juga untuk korelasi antar sumur.
9












Gambar 3. Respon Gamma Ray pada Suatu Formasi
(Dewan, T.J.:Essential of Modern Open-Hole Log
Interpretation, Pennwell Publishing Company, Tulsa-Oklahoma,
USA, 1983)

3.2.2 Neutron Log
Neutron Log direncanakan untuk menentukan porositas total
batuan tanpa melihat atau memandang apakah pori-pori diisi oleh
hidrokarbon maupun air formasi. Neutron terdapat didalam inti
elemen, kecuali hidrokarbon. Neutron merupakan partikel netral
yang mempunyai massa sama dengan atom hidrogen.






Gambar 4. Proses Pelemahan Partikel Neutron
(Adi Harsono:Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger,
Edisi-8, Jakarta, 1 Mei 1997)
10

Prinsip kerja dari neutron log adalah sebagai berikut, energi
tinggi dari neutron dipancarkan secara kontinyu dari sebuah
sumber radioaktif yang ditempatkan didalam sonde logging yang
diletakkan pada jarak spacing pendek sekitar 10-18 inch dari
detektor gamma ray. Pada operasi logging, neutron meninggalkan
sumbernya dengan energi tinggi, tetapi dengan cepat akan
berkurang karena bertumbukan dengan inti-inti elemen didalam
formasi. Semua inti-inti elemen turut serta dalam pengurangan
energi ini, tetapi yang paling dominan adalah atom dengan massa
atom yang sama dengan neutron yaitu hidrogen. Setelah energi
neutron banyak berkurang kemudian neutron tersebut akan
menyebar didalam formasi tanpa kehilangan energi lagi sampai
tertangkap dan terintegrasi dengan inti-inti elemen batuan
formasi, seperti klorine dan silikon. Inti-inti ini akan terangsang
untuk memancarkan sinar gamma. Kemudian detektor sinar
gamma akan merekam radiasi sinar gamma tersebut.
Bila kerapatan dialam formasi cukup tinggi, yaitu
mengandung air, minyak dan gas atau didalam lapisan shale maka
energi neutron akan diperlambat pada jarak yang sangat dekat
dengan sumber dan akibatnya hanya sedikit radiasi sinar gamma
yang direkam oleh detektor. Hal ini yang menjadi dasar hubungan
antara jumlah sinar gamma per detik dengan porositas. Hubungan
ini menunjukkan apabila jumlah sinar gamma per detik cukup
tinggi maka porositasnya rendah. Porositas dari neutron log (
N
u )
dalam satuan limestone dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan dibawah ini:
( ) 0425 . 0 02 . 1 + u = u
NLog N
...... (3-11)
dimana:

NLog
u = porositas terbaca pada kurva neutron log
Terdapat beberapa jenis neutron log yang dapat digunakan, yaitu:
11

Thermal neutron log, digunakan secara optimal untuk formasi
non shaly yang mengandung liquid dengan porositas antara 1
% 10 %.
Sidewall neutron porosity log (SNP), yang mempunyai
kondisi optimum pada formasi non shaly yang mengandung
liquid dengan porositas kurang dari 30%.
Compensated neutron log (CNL), merupakan pengembangan
dari kedua alat sebelumnya.

3.2.3 Density Log
Tujuan utama dari density log adalah menentukan porositas
dengan mengukur density bulk batuan, disamping itu dapat juga
digunakan untuk mendeteksi adanya hidrokarbon atau air,
digunakan besama-sama dengan neutron log, juga menentukan
densitas hidrokarbon (
h
) dan membantu didalam evaluasi lapisan
shaly.
Prinsip kerja density log adalah dengan jalan memancarkan
sinar gamma dari sumber radiasi sinar gamma yang diletakkan
pada dinding lubang bor. Pada saat sinar gamma menembus
batuan, sinar tersebut akan bertumbukkan dengan elektron pada
batuan tersebut, yang mengakibatkan sinar gamma akan
kehilangan sebagian dari energinya dan yang sebagian lagi akan
dipantulkan kembali, yang kemudian akan ditangkap oleh
detektor yang diletakkan diatas sumber radiasi. Intensitas sinar
gamma yang dipantulkan tergantung dari densitas batuan formasi.
Skema rangkaian dasar density log dapat dilihat pada gambar 5.
Berkurangnya energi sinar gamma tersebut sesuai dengan
persamaan:
S k
N
N
t
o
= ln ........ (3-12)
dimana:
12

N
o
= intensitas sumber energi
N
t
= intensitas sinar gamma yang ditangkap detektor
= densitas batuam formasi
k = konstanta
S = jarak yang ditembus sinar gamma
Gambar 5. Skema Rangkaian Dasar Density Log
(Dewan, T.J.:Essential of Modern Open-Hole Log Interpretation,
Pennwell Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, USA, 1983)
Sinar gamma yang menyebar dan mencapai detektor dihitung
dan akan menunjukkan besarnya densitas batuan formasi. Formasi
dengan densitas tinggi akan menghasilkan jumlah elektron yang
rendah pada detektor. Densitas elektron merupakan hal yang
penting disini, hal ini disebabkan yang diukur adalah densitas
elektron, yaitu jumlah elektron per cm
3
. Densitas elektron akan
berhubungan dengan densitas batuan sebenarnya,
b
yang
besarnya tergantung pada densitas matrik, porositas dan densitas
fluida yang mengisi pori-porinya. Kondisi penggunaan untuk
density log adalah pada formasi dengan densitas rendah dimana
tidak ada pembatasan penggunaan lumpur bor tetapi tidak dapat
digunakan pada lubang bor yang sudah di casing. Kurva density
log hanya terpengaruh sedikit oleh salinitas maupun ukuran
lubang bor.
13

Kondisi optimum dari density log adalah pada formasi
unconsolidated sand dengan porositas 20 % - 40 %. Kondisi
optimum ini akan diperoleh dengan baik apabila operasi
penurunan peralatan kedalam lubang bor dilakukan secara
perlahan agar alat tetap menempel pada dinding bor, sehingga
pada rangkaian tersebut biasanya dilengkapi dengan spring.
Hubungan antara densitas batuan sebebnarnya dengan
porositas dan lithologi batuan dapat dinyatakan dalam persamaan
berikut:

f ma
b ma
D

= u ......... (3-13)
dimana:

b
= densitas batuan (dari hasil pembacaan log), gr/cc

f
= densitas fluida rata-rata, gr/cc
= 1 untuk fresh water, 1.1 untuk salt water

ma
= densitas matrik batuan (dapat dilihat pada tabel
III-1), gr/cc
D
u = porositas dari density log , fraksi
Tabel 1. Harga Density Matrik Batuan
(Adi Harsono:Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger, Edisi-8,
Jakarta, 1 Mei 1997)


14

Adanya pengotoran clay dalam formasi akan
mempengaruhi ketelitian, oleh karena itu dalam pembacaan
b

perlu dikoreksi. Sehingga persamaan dapat ditulis sebagai berikut:
( )
ma clay D clay clay f D b
V V u + + u = 1 . . .. (3-14)
dimana:

clay
= densitas clay, gr/cc
V
clay
= volume clay, %

3.3. Log Sonic
Log ini merupakan jenis log yang digunakan untuk mengukur
porositas, selain density log dan neutron log dengan cara mengukur
interval transite time (t), yaitu waktu yang dibutuhkan oleh gelombang
suara untuk merambat didalam batuan formasi sejauh 1 ft. Peralatan
sonic log menggunakan sebuah transmitter (pemancar gelombang suara)
dan dua buah receiver (penerima). Jarak antar keduanya adalah 1 ft.
Bila pada transmitter dipancarkan gelombang suara, maka
gelombang tersebut akan merambat kedalam batuan formasi dengan
kecepatan tertentu yang akan tergantung pada sifat elastisitas batuan,
kandungan fluida, porositas dan tekanan formasi. Kemudian gelombang
ini akan terpantul kembali menuju lubang bor dan akan diterima oleh
kedua receiver. Selisih waktu penerimaan ini direkam oleh log dengan
satuan microsecond per feet (sec/ft) yang dapat dikonversikan dari
kecepatan rambat gelombang suara dalan ft/sec.
Interval transite time (t) suatu batuan formasi tergantung dari
lithologi dan porositasnya. Sehingga bila lithologinya diketahui maka
tinggal tergantung pada porositasnya. Pada tabel III-2. dapat dilihat
beberapa harga transite time matrik (t
ma
) dengan berbagai lithologi.




15

Tabel 2. Transite Time Matrik untuk Beberapa Jenis Batuan
(Adi Harsono:Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger,
Edisi-8, Jakarta, 1 Mei 1997)

Untuk menghitung porositas sonic dari pembacaan log t harus
terdapat hubungan antara transit time dengan porositas. Seorang sarjana
teknik, Wyllie mengajukan persamaan waktu rata-rata yang merupakan
hubungan linier antara waktu dan porositas. Persamaan tesebut dapat
dilihat dibawah ini :
ma f
ma
S
t t
t t
A A
A A
= u
log
..................................................................... (3-15)
dimana :
t
log
= transite time yang dibaca dari log, sec/ft
t
f
= transite time fluida, sec/ft
= 189 sec/ft untuk air dengan kecepatan 5300 ft/sec
t
ma
= transite time matrik batuan (lihat table III-2), sec/ft

S
= porositas dari sonic log, fraksi
Selain digunakan untuk menentukan porositas batuan, Sonic log
juga dapat digunakan sebagai indentifikasi lithologi.

3.4. Log Caliper
Caliper log merupakan suatu kurva yang memberikan gambaran
kondisi (diameter) dan lithologi terhadap kedalaman lubang bor.
Peralatan dasar caliper log dapat dilihat pada gambar 6. Untuk
menyesuaikan dengan kondisi lubang bor, peralatan caliper log
16

dilengkapi dengan pegas yang dapat mengembang secara fleksibel.
Ujung paling bawah dari pegas tersebut dihubungkan dengan rod. Posisi
rod ini tergantung pada kompresi dari spring dan ukuran lubang bor.
Manfaat caliper log sangat banyak, yang paling utama adalah untuk
menghitung volume lubang bor guna menentukan volume semen pada
operasi cementing, selain itu dapat berguna untuk pemilihan bagian
gauge yang tepat untuk setting packer (misalnya operasi DST),
interpretasi log listrik akan mengalami kesalahan apabila asumsi ukuran
lubang bor sebanding dengan ukuran pahat (bit) oleh karena itu perlu
diketahui ukuran lubang bor dengan sebenarnya, perhitungan kecepatan
lumpur di annulus yang berhubungan dengan pengangkatan cutting,
untuk korelasi lithologi karena caliper log dapat membedakan lapisan
permeabel dengan lapisan consolidated.

Gambar 6. Skema Peralatan Dasar Caliper Log
(Lynch J. S.:Formation Evaluation, Harper & Row Publisher, New
York, Evanston and London, First Edition, 1962)



17

DAFTAR PUSTAKA

http://adungrahma.blogspot.com/2012/05/instrumentasi-perekaman-lubang-
bor.html
http://alfhadlyblog.blogspot.com/2013/04/metode-logging-geofisika.html
http://dirgamining.blogspot.com/2012/12/logging-kuantitatif-resistivitasair.html
http://hidayatardiansyah.wordpress.com/2008/03/09/mengenal-macam-macam-
logging/
http://shantamaria.wordpress.com/2013/05/29/interpretasi-data-logging-geofisika-
di-daerah-tambang-batubara/
http://www.scribd.com/doc/65086299/Teori-Dasar-Logging

















18

LAMPIRAN
INTERPRETASI DATA LOGGING GEOFISIKA
DI DAERAH TAMBANG BATUBARA
MEI 29, 2013BR766HI TINGGALKAN KOMENTAR

1 Pengertian Logging
Logging merupakan metode pengukuran besaran-besaran fisik batuan reservoir terhadap
kedalaman lubang bor. Loging sumur (well logging) juga dikenal dengan borehole logging adalah
cara untuk mendapatkan rekaman log yang detail mengenai formasi geologi yang terpenetrasi
dalam lubang bor. Log dapat berupa pengamatan visual sampel yang diambil dari lubang bor
(geological log), atau dalam pengukuran fisika yang dieroleh dari respon piranti instrumen yang di
pasang didalam sumur (geohysical log). Well loging dapat digunakan dalam bidang eksplorasi
minyak dan gas, batubara, air bawah tanah dan geoteknik.
Logging sumur adalah pengukuran dalam lubang sumur menggunakan instrumen yang
ditempatkan pada ujung kabel wireline dalam lubang bor. Sensor yang terletak diujung kabel
wireline akan mendeteksi keadaan dalm sumur. Loging sumur dilakukan setelah drill string
dikeluarkan dari sumur. Terdapat dua kabel yang terkoneksi dengan permukaan, kedalaman sumur
direkam ketika sensor turun dan diangkat kembali untuk memulai pendeteksian. Subset kecil dari
data pengukuran dapat ditransmisikan ke permukaan real time menggunakan pressure pulses
dalam wells mud fluid colomn. Data telemetri dari dalam tanah mempunyai bandwidth yang kecil
kurang dari 100bit per detik, sehingga informasi dapat didapat real time dengan bandwidth yang
kecil.

2 Konsep Dasar Logging
Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka hadirlah survey geofisika
tahanan jenis yang merupakan suatu metode yang dapat memberikan gambaran susunan dan
kedalaman lapisan batuan dengan mengukur sifat kelistrikan batuan. Loke (1999) mengungkapkan
bahwa survey geofisika tahanan jenis dapat menghasilkan informasi perubahan variasi harga
resistivitas baik arah lateral maupun arah vertical. Metode ini memberikan injeksi listrik ke dalam
bumi, dari injeksi tersebut maka akan mengakibatkan medan potensial sehingga yang terukur
adalah besarnya kuat arus (I) dan potensial (V), dengan menggunakan survey ini maka dapat
memudahkan para geologist dalam melakukan interpretasi keberadaan cebakan-cebakan batubara
dengan biaya eksplorasi yang relatif murah.
Logging geofisik untuk eksplorasi batubara dirancang tidak hanya untuk mendapatkan informasi
geologi, tetapi untuk memperoleh berbagai data lain, seperti kedalaman, ketebalan dan kualitas
lapisn batubara, dan sifat geomekanik batuan yang menyertai penambahan batubara. Dan juga
mengkompensasi berbagai masalah yang tidak terhindar apabila hanya dilakukan pengeboran,
yaitu pengecekan kedalaman sesungguhnya dari lapisan penting, terutama lapisan batubara atau
sequence rinci dari lapisan batubara termasuk parting dan lain-lain.

2.1 Log Sinar Gamma
Log Sinar Gamma adalah log yang digunakan untuk mengukur tingkat radioaktivitas suatu batuan.
Radioaktivitas tersebut disebabkan karena adanya unsur Uraniun, Thorium, Kalium pada batuan.
Ketiga elemen ini secara terus menerus memancarkan gamma ray yang memiliki energi radiasi
yang tinggi. Kekuatan radiasi sinar gamma yang paling kuat dipancarkan oleh mudstone dan yang
paling lemah dipancarkan batubara. Terutama yang dari mudstone laut menunjukan nilai yang
ekstra tinggi, sedangkan radiasi dari lapisan sandstone lebih tinggi disbanding batubara. Log sinar
gamma dikombinasikan dengan log utama, seperti log densitas, netron dan gelombang bunyi,
digunakan untuk memastikan batas antara lapisan penting, seperti antara lapisan batubara dengan
langit-langit atau lantai.
Skala log gamma ray dalam satuan API unit (APIU). Log gamma ray biasanya ditampilkan pada
kolom pertama, bersama sama dengan kurva SP dan Kaliper. Skala log gamma ray dari kiri ke
19

kanan biasanya 0 100 atau 0 150 API. Walaupun terdapat juga suatu kasus dengan nilai gamma
ray sampai 200 API untuk jenis organic rich shale.
Log gamma ray sangat efektif dalam menentukan zona permeable, dengan dasar bahwa elemen
radioaktif banyak terkonsentrasi pada shale yang impermeable, dan hanya sedikit pada batuan
yang permeable. Pada formasi yang impermeable kurva gamma ray akan menyimpang ke kanan,
dan pada formasi yang permeable kurva gamma ray akan menyimpang ke kiri. Log gamma ray
memiliki jangkauan pengukuran 6 12 in. Dengan ketebalan pengukuran sekitar 3 ft.
Pengukuran dilakukan dengan jalan memasukkan alat detektor ke dalam lubang bor. Oleh karena
sinar gamma dapat menembus logam dan semen, maka logging gamma ray dapat dilakukan pada
lubang bor yang telah dipasang casing ataupun telah dilakukan cementing. Walaupun terjadi
atenuasi sinar gamma karena casing dan semen, akan tetapi energinya masih cukup kuat untuk
mengukur sifat radiasi gamma pada formasi batuan disampingnya. Formasi yang mengandung
unsur-unsur radioaktif akan memancarkan radiasi radioaktif dimana intensitasnya akan di terima
oleh detektor dan di catat di permukaan.
Untuk memisahkan jenis-jenis bahan radioaktif yang berpengaruh pada bacaan gamma ray
dilakukan gamma ray spectroscopy. Karena pada hakikatnya besarnya energy dan intensitas setiap
material radioaktif tersebut berbeda-beda. Spectroscopy ini penting dilakukan ketika kita
berhadapan dengan batuan non-shale yang memungkinkan untuk memiliki unsur radioaktif, seperti
mineralisasi uranium pada sandstone, potassium feldsfar atau uranium yang mungkin terdapat
pada coal dan dolomite.
Beberapa jenis batuan dapat dikenal dari variasi kandungan fraksi lempungnya, misalnya batu
lempung hamper seluruh terdiri dari mineral lempung, batu pasir kwarsa sangat sedikit
mengandung mineral lempung, batu lanau cukup banyak mengandung mineral lempung dan
sebagainya. Oleh karena itu respo gamma dapat digunakan untuk menafsirkan jenis litologinya.
Beberapa contoh batuan sesuai sifat radioaktifnya adalah sebagai berikut:
- Radioaktifnya sangat rendah
Anhidrid, garam, batubara dan nodule silica. Silica yang berlapis mengandung radioaktif lebih
tinggi dari berbentuk nodule.
- Radioaktif rendah
Batu gamping murni, dolomite dan batu pasir. Batu gamping dan dolomite yang berwarna gelap
lebih tinggi radioaktifnya daripada yang berwarna terang.
- Radioaktif menengah
Arkosa, pelapukan granit, batu lanau, batu gamping lempunagn dan napal. Batu yang berwarna
gelap lebih tinggi radioaktifnya daripada yang berwarna terang.
- Radioaktif sangat tinggi
Serpih, batu lempung dan abu gunung api.
Tabel 3.1. Karakteristik Respon Sinar Gamma
Radioaktif sangat
rendah
(0 32,5 API)
Radioaktif rendah
(32,5 60 API)
Radioaktif
menengah
(60 100 API)
Radioaktif
sangat tinggi
(>100 API)
AnhidritSalt
Batubara
BatupasirBatugamping
Dolomit
ArkoseBatuan
granit
Lempungan
Pasiran
gamping
Batuan
serpihAbu
vulkanik
bentonit
Cara membaca repon gamma untuk mendapatkan batas litologi adalah dengan cara mengambil
sepertiga antara respon maksimal dan respon minimal. Cara ini merupakan aturan yang ditara-
ratakan untuk mendapat ketelitian batas litologi. Biasanya aturan demikian cukup teliti untuk
lapisan batubara yang tidak banyak mengandung lapisan pemisah (parting) di dalamnya.
Suatu hal yang perlu diperhatikan untuk dapat mengkorelasi respon gamma dari beberapa lubang
bor adalah panjang probe selama pengukuran harus tetap dan kecepatan penaikan probe ari dalam
lubang harus tetap. Selain itu perlu pula ditinjau pengarh chasing walaupun kecil akan tetap ada.
20

Sebelum bekerja dengan alat pngukur radiasi gamma harus diadakan kalibrasi alat tersebut
terhadap sumber radiasi sinar gamma yang telah diketahui dan pembacaannya disesuaikan dengan
selang waktu ynag sesuai. Apabila selang waktu tersebut terlalu cepat respon cenderung menjadi
rata dan kurang peka terhadap perubahan litologi yang kecil. Sebaliknya apabila selang waktu
tersebut terlalu lambat perbedaan yang kecil terekam pada respon sehingga perbedaan besar sukar
terlihat.
2.2 Log Densitas
Awalnya penggunaan log ini dipakai dalam industri explorasi minyak sebagai alat bantu
interpretasi porositas. Kemudian dalam explorasi batubara malah dikembangkan menjadi unsur
utama dalam identifikasi ketebalan bahkan qualitas seam batubara. Dimana rapat masa batubara
sangat khas yang hampir hanya setengah kali rapat masa batuan lain pada umumnya. Lebih extrem
lagi dalam aplikasinya pada idustri batubara karena sifat fisik ini (rapat masa) hampir linier dengan
kandungan abu sehingga pemakaian log ini akan memberikan gambaran khas bagi tiap daerah
dengan karakteristik lingkungan pengendapannya.
Dalam operasinya logging rapat masa dilakukan dengan mengukur sinar g yang ditembakan dari
sumber melewati dan dipantulkan formasi batuan kemudian direkam kembali oleh dua detector
yang ditempatkan dalam satu probe dengan jarak satu sama lain diatur sedemikan rupa. Kedua
detector short dan long space diamankan dari pengaruh sinar g yang datang langsung dari
sumber radiasi. Sehingga yang terekam oleh kedua detector hanya sinar yang telah melewati
formasi saja. Dalam hal ini efek pemendaran sinar radiasi seperti ditentukan dalam efek
pemendaran Compton.
Sinar gamma dari sumber radioaktif dipancar oleh tumbukan dengan elektron di dalam lapisan
tanah dan energi sinar gamma akan hilang kepada elektron untuk setiap tumbukan (efek compton).
Densitas elektron di dalam material sebanding dengan densitas curahan atau massa (bulk or mass
density) material.
Logging densitas dilakukan untuk mengukur densitas batuan disepanjang lubang bor. Densitas
yang diukur adalah densitas keseluruhan dari matriks batuan dan fluida yang terdapat pada pori.
Prinsip kerja alatnya adalah dengan emisi sumber radioaktif. Semakin padat batuan semakin sulit
sinar radioaktif tersebut ter-emisi dan semakin sedikit emisi radioaktif yang terhitung oleh
penerima (counter).
Density Log menunjukkan besarnya densitas lapisan yang ditembus oleh lubang bor sehingga
berhubungan dengan porositas batuan. Besar kecilnya density juga dipengaruhi oleh kekompakan
batuan dengan derajat kekompakan yang variatif, dimana semakin kompak batuan maka porositas
batuan tersebut akan semakin kecil. Pada batuan yang sangat kompak, harga porositasnya
mendekati harga nol sehingga densitasnya mendekati densitas matrik. Log density adalah kurva
yang menunjukkan besarnya densitas bulk density (rb) dari batuan yang ditembus oleh lubang
bor. Log densitas digunakan untuk mengukur densitas semu formasi menggunakan sumber
radioaktif yang ditembakkan ke formasi dengan sinar gammayang tinggi dan mengukur jumlah
sinar gamma rendah yang kembali ke detektor.
Karakteristik masing-masing batuan pada log densitas adalah sebagai berikut:
- Batubara mempunyai densitas yang rendah (1,20 1,80 gr/cc)
- Konglomerat mempunyai densitas menegah (2,25 gr/cc)
- Mudstone, batupasir, batugamping mempunyai densitas menengah sampai tinggi (2,65
2,71 gr/cc)
- Batuan vulkanik basa dan batuan vulkanik non basa mempunyai densitas tinggi (2,7
2,85 gr/cc)
Tabel 3.2. Nilai Rapat Massa Batuan
Jenis batuan
Rapat massa sebenarnya
(gr/cc)
Rapat massa saat logging
(gr/cc)
Sandstone 2,650 2,684
Limestone 2,710 2,710
21

Dolomites 2,870 2,876
Anhidrid 2,960 2,977
Antrasite coal 1,400-1,800 1,355-1,796
Bituminous coal 1,200-1,500 1,173-1,514

3 Perekaman Data Logging
Perekaman data logging menggunakan software WellCad. Data logging yang telah diperoleh
kemudian dicetak dalam lembaran data logging dimana terdapat nama perusahaan, nomor lubang
bor, lokasi pengeboran, jenis log, kedalaman pengeboran, kedalaman alat logging, batas atas
logging mulai dieksekusi, batas bawah logging selesai dieksekusi, nama perekam log, nama
geologist penanggung jawab serta kedalaman penggunaan chasing. Selain itu lembar data logging
juga memuat informasi mengenai grafik hasil pembacaan log gamma dan log densitas yag
kemudian dilakukan interpretasi jenis lapisan batuan beserta kedalaman dan ketebalannya.

4 Interpretasi Data Logging
Interpretasi didefenisikan sebagai suatu kegiatan untuk menjelaskan arti dari sesuatu. Sedangkan
interpretasi log merupakan suatu kegiatan untuk menjelaskan hasi perekaman mengenai berat jenis
elektron. Interpretasi log dapat menyediakan jawaban mengenai ketebalan lapisan batubara,
kedalamannya, korelasi lapisan batubara, jenis batuan roof (20 cm di atas lapisan batubara),
jenis floor (20 cm di bawah lapisan batubara), mengetahui kondisilubang bor dan sebagainya. Log
gamma digunakan bersamaan dengan log densitas yang merupakan log geofisika yang utama
dalam eksplorasi batubara.


MACAM MACAM LOGGING
Resistiving Log
Conventional Resistiving Log
Induction Log
Lasero Log

Micro Resistivity Log
Micro Log
Micro Laterolog
Proximity Log
Porosity Log
Neutron Log
Density Log
Sonic Log
Permeable Log
Calipper Log
Sonic Log
Gamma Ray Log



22

Mengenal Macam-Macam Logging
Maret 9, 2008 in geologi | Tags: Logging
Logging adalah teknik untuk mengambil data-data dari formasi dan lubang sumur
dengan menggunakan instrumen khusus. Pekerjaan yang dapat dilakukan meliputi
pengukuran data-data properti elektrikal (resistivitas dan konduktivitas pada
berbagai frekuensi), data nuklir secara aktif dan pasif, ukuran lubang sumur,
pengambilan sampel fluida formasi, pengukuran tekanan formasi, pengambilan
material formasi (coring) dari dinding sumur, dsb.
Logging tool (peralatan utama logging, berbentuk pipa pejal berisi alat pengirim dan
sensor penerima sinyal) diturunkan ke dalam sumur melalui tali baja berisi kabel listrik
ke kedalaman yang diinginkan. Biasanya pengukuran dilakukan pada saat logging tool ini
ditarik ke atas. Logging tool akan mengirim sesuatu sinyal (gelombang suara, arus
listrik, tegangan listrik, medan magnet, partikel nuklir, dsb.) ke dalam formasi lewat
dinding sumur. Sinyal tersebut akan dipantulkan oleh berbagai macam material di dalam
formasi dan juga material dinding sumur. Pantulan sinyal kemudian ditangkap oleh
sensor penerima di dalam logging tool lalu dikonversi menjadi data digital dan
ditransmisikan lewat kabel logging ke unit di permukaan. Sinyal digital tersebut lalu
diolah oleh seperangkat komputer menjadi berbagai macam grafik dan tabulasi data
yang diprint pada continuos paper yang dinamakan log. Kemudian log tersebut akan
diintepretasikan dan dievaluasi oleh geologis dan ahli geofisika. Hasilnya sangat penting
untuk pengambilan keputusan baik pada saat pemboran ataupun untuk tahap produksi
nanti.
Logging-While-Drilling (LWD) adalah pengerjaan logging yang dilakukan bersamaan pada
saat membor. Alatnya dipasang di dekat mata bor. Data dikirimkan melalui pulsa
tekanan lewat lumpur pemboran ke sensor di permukaan. Setelah diolah lewat
serangkaian komputer, hasilnya juga berupa grafik log di atas kertas. LWD berguna
untuk memberi informasi formasi (resistivitas, porositas,sonic dan gamma-ray) sedini
mungkin pada saat pemboran.
Mud logging adalah pekerjaan mengumpulkan, menganalisis dan merekam semua
informasi dari partikel solid, cairan dan gas yang terbawa ke permukaan oleh lumpur
pada saat pemboran. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui berbagai parameter
pemboran dan formasi sumur yang sedang dibor.


23




24




25




26