Anda di halaman 1dari 5

1

ABSES TUBO OVARIUM



Golongan penyakit: 3B
Nama: Fitria Rizky
NIM: 0807101010076

A. Definisi
Abses tubo ovarium adalah radang bernanah yang terjadi pada ovarium
dan atau tuba fallopii pada satu sisi ataukedua sisi adneksa (Mudgil, 2009).
Abses tuboovarium (pelvis) terbentuk bila tuba yang terinfeksi melekat
dengan ovarium sehingga muncul proses peradangan tuba dan ovarium. Abses
tuboovarium dapat terjadi sebagai akibat dari infeksi pelvis puerperalis atau
sebagai suatu komplikasi dari pembedahan pelvis, maupun dari penyebaran ke
ovarium organism-organisme piogenik. Akumulasi pus yang banyak
menimbulkan pembentukan massa yang sangat nyeri, tidak dapat digerakkan,
batas tidak jelas di dalam regio adneksa atau di dalam kavum douglasi (Taber,
1994).
B. Insidensi
Abses tubo ovarium sering terjadi pada wanita fase seksual aktif yakni
antara usia 20-40 tahun (Mudgil, 2009).

C. Etiologi dan Faktor Resiko
Abses tubo ovarium disebabkan oleh infeksi berbagai bakteri seperti
spesies Streptococcus, E.Coli, spesies Bacteroides, spesies Prevotella, spesies
Peptostreptococcuss (Landers dan Sweet, 1983).
Beberapa faktor resiko yang terkait adalah (Mudgil, 2009):
1. Pasangan seksual multipel
2. Riwayat penyakit peradangan panggul
3. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
4. Status sosioekonomi bawah
5. Riwayat terkena penyakit menular seksual seperti gonorhea dan chlamidia

2



D. Patofisiologi
Dengan adanya penyebaran bakteri dari vagina ke uterus lalu ke tuba dan
atau parametrium, terjadilah salpingitis dengan atau tanpa ooforitis, keadaan ini
bisa terjadi pada pasca abortus, pasca persalinan atau setelah tindakan
genekologik sebelumnya(Mudgil, 2009).
Mekanisme pembentukan ATO yang pasti sukar ditentukan, tergantung
sampai dimana keterlibatan tuba infeksinya sendiri. Pada permulaan proses
penyakit, lumen tuba masih terbuka mengeluarkan eksudat yang purulent dari
febriae dan menyebabkan peritonitis, ovarium sebagaimana struktur lain dalam
pelvis mengalami peradangan, tempat ovulasi dapat sebagai tempat masuk infeksi.
Abses masih bisa terbatas mengenai tempat masuk infeksi. Abses masih bisa
terbatas mengenai tuba dan ovarium saja, dapatpula melibatkan struktur pelvis
yang lain seperti usus besar, buli-buli atau adneksa yang lain. Proses peradangan
dapat mereda spontan atau sebagai respon pengobatan, keadaan ini biasanya
memberi perubahan anatomi disertai perlekatan fibrin terhadap organ terdekatnya.
Apabila prosesnya menghebat dapat terjadi pecahnya abses (Mudgil, 2009).
E. Gambaran Klinis
Pasien mungkin tanpa gejala atau jelas mengalami syok sepsis. Biasanya
terdapat riwayat infeksi panggul sebelumnya, usia muda, dengan paritas rendah
dan pernah mempunyai gejala selama <1 minggu. Onset biasanya 2 minggu
setelah menstruasi, dengan nyeri panggul dan perut (dengan derajat bervariasi),
mual, muntah, demam, takikardi. Seluruh bagian abdomen terdapat nyeri tekan
dan mungkin terdapat defans muscular. Karena nyeri tekan adneksa yang hebat,
pemeriksaan panggul mungkin sulit dilakukan. Kuldesentesis dapat menyebabkan
ruptur abses, karena itu lebih baik dilakukan ultrasonografi untuk diagnosis.
Jumlah sel darah putih mungkin rendah, normal atau sangat meningkat.
Pemeriksaan sinar X abdomen dapat memperlihatkan adanya ileus adinamik atau
udara bebas di bawah diafragma jika terjadi ruptur (Benson dan Pernoll, 2009).
F. Pemeriksaan Penunjang
Tes terpilih untuk abses tuba ovarium adalah ultrasonografi (USG). USG
memiliki kelebihan yaitu ketersediaan, kemudahan, dan cepat digunakan serta
3



harga yang murah dibandingkan dengan CT-Scan dan MRI (Moir dan Robin,
1982). USG juga merupakan prosedur terbaik untuk membedakan antara TOA
dan komplek tuboovarian (TOC) (Hager, 1983).
G. Diagnosis
Toucher :
- Nyeri kalau portio digoyangkan.
- Nyeri kiri dan kanan dari uterus.
- Kadang-kadang ada penebalan dari tuba. Tuba yang sehat tak teraba.
- Nyeri pada ovarium karena meradang (Mudgil, 2009).
H. Differensial Diagnosis
Diagnosis banding pada pasien tanpa gejala adalah kista ovarii, neoplasma
ovarii, kehamilan ektopik yang tidak rupture, leiomioma uteri, hidrosalping atau
abses periapendiks. Pada pasien yang bergejala dengan abses ngovarii yang tetap
tidak rupture, diagnosis bandingnya meliputi abses apendiks, rupture apendiks,
abses divertikuler, divertikulum perforasi, ulkus peptik perforasi, porfiria dan
diabetes mellitus (Benson dan Pernoll, 2009).
I. Penatalaksanaan
a. Curiga ATO utuh tanpa gejala :
Antibotika dengan masih dipertimbangkan pemakaian golongan :
doksiklin 2x / 100 mg /hari selama 1 minggu atau ampisilin 4 x 500 mg /
hari, selama 1 minggu.
Pengawasan lanjut, bila massa tak mengecil dalam 14 hari atau mungkin
membesar adalah indikasi untuk penanganan lebih lanjut dengan
kemungkinan untuk laparatomi.
b. ATO utuh dengan gejala :
Masuk rumah sakit, tirah baring posisi semi fowler, observasi ketat tanda
vital dan produksi urine, periksa lingkar abdomen, jika perlu pasang infuse
P2
Antibiotika massif (bila mungkin gol beta lactar) minimal 48-72 jam Gol
ampisilin 4 x 1-2 gram IV 5-7 hari dan gentamisin 5 mg / kg BB /
4



hari,IV/im terbagi dalam 2x1 hari selama 5-7 hari dan metronida xole 1 gr
reksup 2x / hari atau kloramfenikol 50 mg / kb BB / hari, IV selama 5 hari
metronidzal atau sefaloosporingenerasi III 2-3x/1gr/sehari dan
metronidazol 2 x1 gr selama 5-7 hari
Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi
Jika perlu dilanjutkan laparatomi, SO unilateral, atau pengangkatan
seluruh organ genetalia interna.
c. ATO yang pecah, merupakan kasus darurat :
Dilakukan laporatomi pasang drain kultur nanah
Setelah dilakukan laparatomi, diberikan sefalosporin generasi III dan
metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari (1 minggu) (Mudgil, 2009).
J. Komplikasi
Komplikasi meliputi syok sepsis, emboli sepsis, peritonitis, sumbatan
usus, infeksi berulang, kehamilan ektopik dan infertilitas (Benson dan Pernoll,
2009).

K. Prognosis
a. ATO yang utuh
Pada umumnya prognosa baik, apabila dengan pengobatan medidinaslis
tidak ada perbaikan keluhan dan gejalanya maupun pengecilan tumornya lebih
baik dikerjakanlaparatomi jangan ditunggu abses menjadi pecah yang mungkin
perlu tindakan lebih luas. Kemampuan fertilitas jelas menurun kemungkinan
reinfeksi harus diperhitungan apabila terapi pembedahan tak dikerjakan.
b. ATO yang pecah
Kemungkinan septisemia besar oleh karenanya perlu penanganan dini dan
tindakan pembedahan untuk menurunkan angka mortalitasnya (Mudgil, 2009).





5



DAFTAR PUSTAKA
Benson R.C dan Pernoll M.L. 2009. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi.
EGC. Jakarta.

Hager, WD. 1983. Follow Up of Patients With Tubo-Ovarian Abscess in
Association With Salphingitis. Obstet Gynecol. 61:680.

Landers, D.V dan Sweet, R.L. 1983. Tubo Ovarian Abscess: Contemporary
Approach to Management. Rev Infect Dis. 5:876.
Moir, C dan Robin, R.E. 1982. Role of Ultrasound, Gallium Scanning, and
Computed Tomography in The Diagnosis of Intra-Abdominal Abscess. Am J
Surg. 143:582.
Mudgil, S. 2009. Tubo Ovarian Abscess. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/404537-overview. [Diakses: 12 April
2013].
Taber, Ben-Zion. 1994. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. EGC. Jakarta.