Anda di halaman 1dari 22

MASTITIS

I. Pendahuluan
Mastitis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai
infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional
atau mastitis puerperalis. Mastitis infeksi dapat terjadi ketika bakteri memasuki payudara
sementara menyusui. Puting susu dapat menjadi retak atau sakit akibat menyusui. Hal ini
dapat terjadi bila posisi bayi pada saat menyusui tidak sesuai. Mastitis dapat
mempengaruhi satu atau kedua payudara. Kadang-kadang keadaan ini dapat menjadi fatal
bila tidak diberi tindakan yang adekuat. Abses payudara, pengumpulan nanah lokal di
dalam payudara, merupakan komplikasi berat dari mastitis. Keadaan ini menyebabkan
beban penyakit yang berat dan memerlukan biaya yang sangat besar.
Semakin disadari bahwa pengeluaran AS yang tidak efisien akibat teknik
menyusui yang buruk merupakan penyebab yang penting.
!
Sementara itu, mastitis
nonlaktasi disebabkan oleh infeksi pada kulit sekitar areola dan puting. Penanganan
mastitis yang tidak adekuat atau lambat menyebabkan kerusakan jaringan payudara yang
lebih luas atau terjadinya abses. Abses yang luas dapat mempengaruhi laktasi selanjutnya
pada !"# perempuan, bahkan dapat menghasilkan bentuk payudara yang tidak baik atau
kehilangan payudara akibat reseksi payudara atau mastektomi
$
II. Epidemiologi
a. Insiden
Mastitis dan abses payudara terjadi pada semua populasi, dengan atau tanpa
kebiasaan menyusui. nsiden yang dilaporkan ber%ariasi dari sedikit sampai &&# wanita
menyusui, tetapi biasanya di bawah !"#.
b. Mula Timbul
Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pas'a kelahiran,
dengan sebagian besar laporan menunjukkan bahwa ()# sampai *+# kasus terjadi
dalam !$ minggu pertama. ,amun, mastitis dapat terjadi pada setiap tahap laktasi,
termasuk pada tahun kedua. Abses payudara juga paling sering terjadi pada - minggu
pertama pas'a kelahiran.
!

!
III. Etiologi
.ua penyebab utama mastitis adalah stasis AS dan infeksi. Stasis AS biasanya
merupakan penyebab primer, yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi.
/unther pada tahun !*+0 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis
diakibatkan oleh stagnasi AS di dalam payudara, dan bahwa pengeluaran AS yang
efisien dapat men'egah keadaan tersebut. a menyatakan bahwa infeksi, bila terjadi,
bukan primer, tetapi diakibatkan oleh stagnasi AS sebagai media pertumbuhan bakteri.
1homsen dan kawan-kawan pada tahun !*0) menghasilkan bukti tambahan tentang
pentingnya stasis AS. Mereka menghitung leukosit dan bakteri dalam AS dari payudara
dengan tanda klinis mastitis dan mengajukan klasifikasi berikut ini 2
- stasis AS, didapatkan 3!"
-
leukosit dan bakteri 3!"
&
4 membaik hanya dengan terus
menyusui atau pengeluaran AS.
- inflamasi noninfeksiosa 5atau mastitis noninfeksiosa4, didapatkan leukosit 6!"
-
dan
bakteri 3!"
&
yang diterapi dengan sesering mungkin pengeluaran AS atau dengan
tindakan pemerasan AS setelah menyusui, tanpa diobati.
- mastitis infeksiosa, didapatkan leukosit 6!"- dan bakteri 6!"&, yang hanya dapat
diobati dengan efektif dengan pemerasan AS dan antibiotik sistemik
Keterlambatan terapi menyebabkan pembentukan abses pada !!# kasus, dan
hanya !+# kembali ke laktasi normal. Sering mengosongkan payudara yang terinfeksi
dengan perawatan lanjut mengurangi resiko pembentukan abses, namun hanya +!#
kembali ke laktasi normal. 1erapi antibiotik tambahan meningkatkan kembali laktasi
normal pada *(# dengan resolusi gejala dalam $! hari. 1anpa pengeluaran AS yang
efektif, mastitis noninfeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan
mastitis infeksiosa menjadi pembentukan abses.
7erikut ini keterangan mengenai $ penyebab utama mastitis 2
a. Stasis AS
Stasis AS terjadi jika AS tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini
dapat terjadi bila payudara terbendung segera setelah melahirkan atau saat bayi tidak
mengisap AS, yang dihasilkan oleh sebagian atau seluruh payudara. Penyebabnya
termasuk pengisapan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif,
$
pembatasan frekuensi atau durasi menyusui dan sumbatan pada saluran AS. Situasi lain
yang mempengaruhi predisposisi terhadap stasis AS, termasuk suplai AS yang sangat
berlebihan, atau menyusui untuk kembar dua atau lebih. 7erikut faktor-faktor penyebab
stasis asi 2
1. Bendungan payudara
Kondisi ini tidak terjadi bila bayi disusui segera setelah lahir, sehingga stasis AS
terhindarkan. Pentingnya pengeluaran AS yang segera pada tahap awal mastitis,
atau kongesti, untuk men'egah perkembangan penyakit dan pernbentukan abses.
sapan bayi adalah sarana pengeluaran AS yang efektif.
2. Frekuensi menyusui
1ahun !*+$, llingworth dan Stone se'ara formal menunjukkan dalam uji 'oba
dengan kontro!, bahwa insiden stasis asi dapat dikurangi hingga setengahnya bila
bayi disusui tanpa batas. Hubungan antara pembatasan frekuensi dan durasi
menyusui dan mastitis telah diuraikan oleh beberapa penulis. 7anyak wanita
menderita mastitis bila mereka tidak menyusui atau bila bayi mereka, tidak seperti
biasanya, tertidur semalaman dan waktu antar menyusui semakin lama.
3. Pengisapan pada payudara
Pengisapan yang buruk sebagai penyebab pengeluaran AS yang tidak efisien,
saat ini dianggap sebagai faktor predisposisi utama mastitis. ,yeri puting dan
puting pe'ah-pe'ah sering ditemukan bersama dengan mastitis. Penyebab nyeri
dan trauma puting yang tersering adalah pengisapan yang buruk pada payudara,
kedua kondisi ini dapat terjadi bersama-sama. Selain itu, nyeri puting akan
menyebabkan ibu menghindar untuk menyusui pada payudara yang sakit dan
karena itu men'etuskan stasis AS dan bendungan.
&
Sumber, Mastitis 2 penyebab dan penatalaksanaan, 8H9.
4. Sisi yang disukai dan pengisapan yang efisien
7anyak ibu merasa lebih mudah untuk menyusui bayinya pada satu sisi payudara
dibandingkan dengan payudara yang lain. Selain itu telah dinyatakan bahwa
pengisapan yang tidak tepat, yang menyebabkan stasis AS dan mastitis, lebih
mungkin terjadi pada sisi payudara yang lebih sulit untuk menyusui.
5. Faktr mekanis lain
- :renulum yang pendek 5tounge tie4 pada bayi mengganggu pengisapan pada
payudara dan menyebabkan puting luka dan pe'ah-pe'ah. Hal ini juga
mengurangi efisiensi pengeluaran AS dan predisposisi untuk mastitis.
Infeksi
1. !rganisme penyebab infeksi
9rganisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara
adalah organisme koagulase-positif Stap"yl###us aureus dan Stap". albus,
)
kadang-kadang ditemukan $s#"eri#"ia #li dan Strept###us, dan organisme
infeksi streptokokal neonatus ditemukan pada sedikit kasus. M.tuber#ulsis
adalah penyebab mastitis lain yang jarang ditemukan. .alam populasi yang
endemik tuberkulosis, M.tuberbulsis dapat ditemukan pada kira-kira !# dari
kasus mastitis dan berkaitan dengan beberapa kasus tonsillitis tuberkulosis pada
bayi.
7akteri sering ditemukan dalam AS dari payudara yang asimtomatik di
negara-negara industri dan berkembang. Spektrum bakteri sering serupa dengan
yang ditemukan di kulit. 7erdasarkan penelitian, hanya +"# biakan AS! bersifat
steril, sedangkan yang lain menunjukkan hitungan koloni ;normal; dari "-$.+""
koloni per ml. 9leh karena itu, adanya bakteri dalam ASl tidak selalu
menunjukkan terjadinya infeksi, bahkan bila bakteri bukan kontaminan dari kulit.
2. %ute infeksi
7agaimana infeksi memasuki payudara belum diketahui. 7eberapa jalur
telah diduga, yaitu melalui duktus laktiferus ke dalam lobus, dengan penyebaran
hematogen dan melalui fisura puting susu ke dalam sistem limfatik periduktal.
:rekuensi fisura puting susu telah dilaporkan meningkat dengan adanya mastitis.
Mastitis dan puting pe'ah-pe'ah terjadi bersamaan karena keduanya dapat
mengakibatkan pengisapan yang buruk pada payudara, selain itu, seringkali fisura
menjadi titik masuk infeksi.
IV. Faktor predisposisi
Ada sejumlah faktor yang telah diduga dapat meningkatkan risiko mastitis.
:aktor-faktor tersebut kurang penting bila dibandingkan dengan teknik menyusui, yaitu
pengisapan yang baik dan pengeluaran AS yang efektif.
1. &mur
Sebuah studi menunjukkan bahwa wanita berumur $!-&+ tahun lebih sering menderita
mastitis daripada wanita di bawah usia $! dan di atas &+ tahun. Studi lain
+
mengidentifikasi wanita berumur &"-&) tahun memiliki insiden mastitis tertinggi, bahkan
bila paritas dan kerja purnawaktu telah dikontrol.
2. Paritas
Primipara ditemukan sebagai faktor risiko pada beberapa studi.
3. Serangan sebelumnya
1erdapat bukti yang kuat bahwa serangan mastitis pertama 'enderung untuk berulang.
Pada beberapa studi, )"-+)# wanita pernah menderita satu atau lebih serangan
sebelumnya. Hal ini merupakan akibat dari teknik menyusui yang buruk yang tidak
diperbaiki.
4. 'i(i
:aktor gi<i sering diduga sebagai predisposisi untuk mastitis, termasuk asupan garam dan
lemak yang tinggi, dan anemia, tetapi bukti yang ada bersifat inkonklusif. /i<i yang
buruk juga telah diduga, khususnya status mikronutrien yang buruk.
5. Stres dan kelela"an
Stres dan kelelahan maternal sering dikaitkan dengan mastitis. bu dengan mastitis
tingkat stres dan kelelahan menjadi faktor utama yang mengarah ke infeksi.
). Peker*aan di luar ruma"
7ekerja purnawaktu di luar rumah berkaitan dengan peningkatan risiko mastitis.
Penjelasan yang diajukan adalah akibat stasis AS karena inter%al antar menyusui yang
panjang dan kekurangan waktu untuk pengeluaran AS yang adekuat.
+. Faktr lkal dalam payudara
:aktor seperti jenis kulit, reaksi kulit terhadap matahari, alergi, ruam, dan pemajanan
terhadap suhu dingin tidak tampak mempengaruhi insiden mastitis. 7eberapa prosedur
seperti penggunaan krim puting susu untuk men'egah mastitis masih tetap bersifat
spekulatif. 1idak ada bukti yang mendukung bahwa ukuran payudara meningkatkan
risiko mastitis.
,. Trauma
1rauma pada payudara karena penyebab apa pun dapat merusak jaringan kelenjar dan
saluran susu dan hal ini dapat menyebabkan mastitis.
-. Puting pe#a".pe#a"/ nyeri puting
-
Kerusakan pada epidermis memberikan jalan masuk ke jaringan payudara, meskipun
kerusakan bukan prasyarat untuk infeksi payudara. Mastitis dari puting susu yang luka
biasanya terjadi di beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
!". Saluran tersumbat
7eberapa wanita berulang kali berkembang menjadi saluran tersumbat, beberapa di
antaranya menyebabkan infeksi penuh. Sumbatan ini terlihat sebagai =kepala; putih dan
terasa tekanan dan tegang disekitar sumbatan. Pijat yang lembut di atas daerah yang
tegang ketika bayi menyusui dari payudara dapat membantu, terutama jika sumbatan baru
saja terbentuk.
11. Paskan susu yang banyak dan 0 atau penurunan *umla" menyusui
Perempuan dengan pasokan susu yang berlimpah lebih menyebabkan saluran tersumbat
dibandingkan dengan pasokan normal.
12. Pembesaran dan stasis
Penurunan frekuensi menyusui menyebabkan pembengkakan atau stasis susu. >arang
menyusui dan stasis susu sering dikaitkan dengan mastitis.
13. Pemakaian bra yang ketat dan psisi tidur, dapat menghambat sirkulasi AS
V. Patologi dan gambaran klinis
a. Bendungan
Sejak hari ketiga sampai hari keenam setelah persalinan, ketika AS se'ara normal
dihasilkan, payudara menjadi sangat penuh. Hal ini bersifat fisiologis, dan dengan
pengisapan yang efektif dan pengeluaran AS oleh bayi, rasa penuh tersebut pulih dengan
'epat. ,amun, dapat berkembang menjadi bendungan, dan kedua kondisi ini sering
membingungkan. Pada bendungan, payudara terisi sangat penuh dengan AS dan 'airan
jaringan. Aliran %ena dan limfatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat, dan tekanan
pada saluran AS dan al%eoli meningkat. Payudara menjadi bengkak dan edematous.
Payudara penuh yang bersifat fisiologis maupun penuh karena bendungan, biasanya
mengenai kedua payudara. ,amun, terdapat beberapa perbedaan penting, yaitu2
- payudara yang perih terasa panas, berat, dan keras. 1idak terlihat mengkilat,
edema, atau merah. AS biasanya mengalir dengan lan'ar, dan kadang-kadang
menetes keluar se'ara spontan. 7ayi mudah mengisap dan mengeluarkan AS.
(
- payudara yang terbendung membesar, membengkak, dan sangat nyeri. Payudara
dapat terlihat mengkilat dan edema dengan daerah eritema difus. Puting susu
teregang menjadi rata. AS tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit untuk
mengisap AS sampai pembengkakan berkurang. 8anita kadang-kadang menjadi
demam. 8alaupun demikian, demam biasanya hilang dalam $) jam.
b. Sumbatan saluran payudara
Stasis AS lokal, mempengaruhi sebagian payudara, seperti sebuah lobus, sering
menunjukkan sumbatan saluran payudara. ;7endungan payudara fokal;, atau ;saluran
payudara tersumbat? merupakan istilah lain yang kadang-kadang digunakan. Kondisi ini
dianggap akibat dari obstruksi benda padat, tetapi dapat pula hanya akibat pengeluaran
AS yang tidak efisien dari bagian payudara tersebut. 1anda klinis berupa benjolan yang
sangat nyeri pada satu payudara, sering dengan ber'ak kemerahan pada kulit di atasnya.
Hanya sebagian dari satu payudara yang terkena. 8anita biasanya tidak demam dan
merasa sehat.
7eberapa wanita dengan sumbatan saluran AS melaporkan adanya bahan partikel
pada air susu yang diperas. Pada kasus ini mungkin terdapat sumbatan sejati pada saluran
AS. /ejala hilang dengan 'epat ketika materi partikel yang keras dikeluarkan, dan AS
keluar dari bagian payudara yang terkena. /ranula putih yang dapat ditemukan pada AS
yang terkumpul diduga terbentuk dari 'ampuran kasein dan materi lain yang mengeras
oleh garam yang mengandung kalsium. Materi yang tampak berlemak atau seperti
benang, kadang-kadang berwarna 'oklat atau kehijauan, juga kadang-kadang keluar dari
saluran yang tampak tersumbat, diikuti dengan hilangnya gejala. Kondisi yang
berhubungan adalah tampaknya bintik putih pada ujung puting susu, biasanya
berdiameter sekitar ! mm pada bagian payudara dengan saluran yang tersumbat. 7intik
putih dapat sangat nyeri selama pengisapan. Sumbatan 'epat hilang bila bintik putih
dibuang, misalnya, dengan menggunakan jarum steril atau diusap dengan handuk. 7intik
putih diduga akibat pertumbuhan epitel yang berlebihan 5membentuk sebuah bula4, atau
akumulasi materi partikel atau berlemak. Keadaan lain yang tidak la<im berhubungan
adalah galaktokel. /alaktokel adalah kista yang terisi susu, diduga merupakan
perkembangan dari saluran AS yang tersumbat. /alaktokel timbul sebagai
pembengkakan yang bulat li'in pada payudara, awalnya hanya terisi dengan susu,
0
kemudian dengan materi yang kental seperti krim bila 'airan diabsorbsi. 7ila
pembengkakan diperas, 'airan seperti susu dapat keluar dari puting susu. .iagnosis dapat
dibuat dengan aspirasi atau ultrasound. AS dapat diaspirasi, tetapi kista biasanya terisi
lagi setelah beberapa hari, dan diperlukan aspirasi ulangan. /alaktokel dapat dibuang
se'ara bedah dengan anestesi lokal. Menyusui tidak perlu dihentikan.
#. Mastitis nninfeksisa
7ila AS tidak dikeluarkan dari sebagian atau seluruh payudara, produksi AS
melambat dan akhirnya berhenti. ,amun, proses ini membutuhkan waktu beberapa hari
dan tidak akan selesai dalam $-& minggu. @ntuk sementara waktu, akumulasi AS dapat
menyebabkan respons peradangan. Sitokin, baik inflamasi dan antiinflamasi normal
ditemukan dalam AS. Sitokin antiinflamasi dan faktor-faktor lain diduga merupakan
pelindung bayi, tetapi sitokin inflamasi, seperti interleukin-0 5A-04, mungkin lebih
penting sebagai pelindung payudara terhadap infeksi. Peningkatan kadar A-0 ditemukan
dalam payudara selama mastitis, dan merupakan tanda respon inflamasi telah terjadi.
Sebagai bagian dari respons inflamasi, jalur paraseluler, yang berhubungan erat, dengan
sel pensekresi AS di al%eoli payudara terbuka, sehingga menyebabkan bahan-bahan dari
plasma masuk ke dalam AS, terutama imunoprotein dan natrium. Pada saat yang sama,
peningkatan tekanan dalam saluran AS dan al%eoli dapat menyebabkan substansi
tersebut kembali masuk ke jaringan sekitar. Sitokin dari AS dapat menginduksi respons
inflamasi di dalam jaringan sekitar, dan sitokin juga membantu komponen lain
menginduksi reaksi antigen. nflamasi juga bertanggung jawab terhadap tanda dan gejala
mastitis. Sebagian payudara sangat nyeri, merah, membengkak, dan keras. 7iasanya
hanya satu payudara yang terkena. 8anita sering demam dan merasa tidak sehat. ,amun,
dalam penelitian diamati bahwa sepertiga sampai setengah wanita dengan mastitis hanya
memiliki tanda lokal. >alur paraseluler yang terbuka mengakibatkan perubahan komposisi
AS, kadar natrium dan klorida meningkat, dan kadar laktosa dan kalium menurun. AS
berubah rasa menjadi lebih asin dan kurang manis. 7iasanya rasa asin ini bersifat
sementara, berlangsung kira-kira satu minggu. Kadang-kadang payudara kurang
digunakan, dan stasis AS serta perubahan rasa menetap. ,amun, kondisi ini bersifat
re%ersibel, dan setelah kehamilan berikutnya, payudara yang terkena kembali berfungsi
normal.
*
d. Mastitis subklinis
Mastitis subklinis didiagnosis dari adanya peningkatan rasio natrium-kalium dalam AS,
dan peningkatan konsentrasi interleukin-0 5A-04, bila tidak ditemukan mastitis se'ara
klinis. Peningkatan kadar natrium dan A-0 diduga menunjukkan bahwa sedang terjadi
respons inflamasi,walaupun tidak ada tanda klinis. Mastitis subklinis sering ditemukan
pada wanita di 7anglades, 1an<ania, Malawi, dan Afrika Selatan. Peningkatan rasio
natrium-kalium dalam AS juga telah diamati berhubungan dengan pertambahan berat
badan yang buruk pada bayi, dan bila makanan tambahan yang diberikan pada bayi, atau
bila frekuensi menyusui berkurang, sehingga produksi AS sangat berkurang sampai di
bawah )"" ml per hari. Hal ini menunjukkan bahwa mastitis subklinis dapat disertai
dengan pengeluaran AS yang tidak adekuat, dan bahwa mastitis subklinis agak sering
terjadi pada situasi ters'but. Morton pada tahun !**) menemukan bahwa pemberian
bimbingan yang benar pada ibu bayi berusia di atas satu bulan, termasuk membantu
mereka agar bayi dapat mengisap payudara dengan baik, berhubungan dengan perbaikan
laktasi dan penurunan kadar natrium AS yang meningkat.
d. Mastitis infeksisa
Mastitis infeksi terjadi bila stasis AS tidak sembuh, dan proteksi oleh faktor imun dalam
AS dan oleh respons inflamasi kalah. Se'ara normal, AS segar bukan merupakan media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri, harus terdapat kondisi yang men'egah payudara
untuk menghan'urkan dan mengeliminasi bakteri. Aliran AS alami sepanjang saluran
payudara, bila dikeluarkan se'ara efisien, diharapkan akan menghanyutkan bakteri keluar
dari payudara. Pengeluaran AS yang tidak efisien, yang menyebabkan akumulasi AS,
membuat suatu keadaan yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri, dan proses antiinfeksi
dapat kalah. 1anda dan gejala mastitis infeksiosa, seperti yang telah didiskusikan diatas,
tidak mungkin dibedakan dari mastitis noninfeksiosa. 7iasanya sebagian dari satu
payudara menjadi merah, sangat nyeri, membengkak, dan keras, dan mungkin terdapat
beberapa gejala umum, seperti demam dan malaise. 1anda yang menyertai mungkin
adalah puting pe'ah-pe'ah. Mastitis infeksiosa telah diklasifikasikan oleh beberapa
penulis dalam beberapa 'ara. Pertama, berdasarkan tempat, yaitu2 mastitis superfisialis
dan mastitis intramamaria yang terletak pada jaringan kelenjar itu sendiri 5parenkimatosa4
atau pada jaringan ikat payudara 5interstisial4. Kedua berdasarkan pola epidemiologis
!"
yaitu epidemik atau sporadik. Penghitungan sel dan koloni bakteri berguna untuk
membedakan antara mastitis infeksiosa dan noninfeksiosa. 7iakan AS dapat membantu
menentukan organisme penyebab infeksi, bila ada, dan sensiti%itasnya terhadap
antibiotik. 7ila biakan tidak mungkin dilakukan se'ara rutin, dapat dilakukan se'ara
selektif pada2
- mastitis yang didapat di rumah sakit, atau kasus berat atau kasus yang tidak biasa
- ketiadaan respons terhadap antibiotik dalam dua hariB
- mastitis berulang.
Mastitis berulang dapat diakibatkan oleh pengobatan yang terlambat atau tidak adekuat
terhadap kondisi awal atau teknik menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki. Kadang-
kadang terdapat keadaan payudara yang menyebabkan drainase yang buruk pada
sebagian payudara, seperti kelainan saluran payudara, kista atau tumor, yang harus
diidentifikasi dan diobati dengan baik.
VI. Diagnosis
Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala sebagai berikut:
Demam dengan suhu lebih dari 38,5oC
Menggigil
Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat
nyeri.
Peningkatan kadar natrium dalam !" yang membuat bayi menolak
menyusu karena !" terasa asin
#imbul garis$garis merah ke arah ketiak.
VII. Pencegahan
Mastitis dan abses payudara sangat mudah di'egah, bila menyusui dilakukan
dengan baik sejak awal untuk men'egah keadaan yang meningkatkan stasis AS, dan bila
tanda dini seperti bendungan, sumbatan saluran payudara, dan nyeri puting susu diobati
dengan 'epat. Hal ini dibutuhkan sebagai bagian dari perawatan kehamilan dan sebagai
bagian yang berkelanjutan pada fasi!itas perawatan berbasis komunitas untuk ibu dan
anak.
!!
a. Perbaikan pema"aman penatalaksanaan menyusui
8anita dan siapa saja yang merawat mereka perlu mengetahui tentang
penatalaksanaan menyusui yang efektif, pemberian makan bayi dengan adekuat dan
tentang pemeliharaan kesehatan payudara. 7utir-butir penting adalah 2
- mulai menyusui dalam satu jam atau lebih setelah melahirkan
- memastikan bahwa bayi mengisap payudara dengan baikB
- menyusui tanpa batas, dalam hal frekuensi atau durasi, dan membiarkan bayi selesai
menyusui satu payudara dulu, sebelum memberikan yang lainB
- menyusui se'ara eksklusif selama minimal ) bulan dan bila mungkin - bulan.
8anita dan orang yang merawatnya juga perlu memahami bahwa hal C hal berikut
ini dapat mengganggu, membatasi, atau mengurangi jumlah isapan dalam proses
menyusui, dan meningkatkan risiko stasis AS, yaitu 2
- Penggunaan dot.
- Pemberian makanan dan minuman lain pada bayi pada bulan-bulan pertama, terutama
dari botol susu.
- 1indakan melepaskan bayi dari payudara pertama sebelum ia siap untuk mengisap
payudara yang lain.
- 7eban kerja yang berat atau penuh tekanan.
- Kealpaan menyusui, termasuk bila bayi mulai tidur sepanjang malam.
- 1rauma pada payudara, karena kekerasan atau penyebab lain,
Hal-hal tersebut harus dihindari atau sedapat mungkin ibu dilindungi dari hal-hal
tersebut, tetapi bila tak terhindarkan, ibu dapat men'egah mastitis bila ia melakukan
perawatan ekstra pada payudaranya.
b. Tindakan rutin sebagai bagian pera1atan ke"amilan
Praktik berikut ini penting untuk men'egah stasis AS dan mastitis. Mereka harus
dilakukan se'ara rutin pada semua tempat di mana ibu melahirkan atau dirawat sebelum
!$
dan setelah persalinan, yaitu rumah sakit bersalin, fasilitas kesehatan yang lebih ke'il
seperti pusat kesehatan, atau di rumah bila ibu melahirkan di sana, atau bila ibu kembali
setelah melahirkan. Praktik tersebut adalah sebagai berikut 2
- 7ayi harus mendapat kontak dini dengan ibunya, dan mulai menyusui segera setelah
tampak tanda-tanda kesiapan, biasanya dalam jam pertama atau lebih.
- 7ayi harus tidur di tempat tidur yang sama dengan ibunya, atau di dekatnya pada kamar
yang sama.
- Semua ibu harus mendapat bantuan dan dukungan yang terlatih dalam teknik menyusui,
baik sudah maupun belum pernah menyusui sebelumnya, untuk menjamin pengisapan
yang baik pada payudara, pengisapan yang efektif, dan pengeluaran AS yang efisien.
- Setiap ibu harus didorong untuk menyusui n demand, kapan saja bayi menunjukkan
tanda-tanda siap menyusui, seperti membuka mulut dan men'ari payudara.
- Setiap ibu harus memahami pentingnya menyusui tanpa batas dan eksklusif, dan
menghindari penggunaan makanan tambahan, botol, dan dot.
- bu harus menerima bantuan yang terlatih untuk mempertahankan laktasi bila bayinya
terlalu ke'il atau lemah untuk mengisap dengan efektif.
- 7ila ibu dirawat di rumah sakit, ia memerlukan bantuan yang terlatih saat menyusui
pertama kali dan sebanyak yang diperlukan pada saat m'nyusui berikutnya.
#. Penatalaksanaan yang efektif pada payudara yang penu" dan ken#ang
7ila payudara ibu menjadi sangat penuh atau terbendung selama minggu pertama,
bila AS ada, penting untuk memastikan bahwa AS dikeluarkan dan kondisi tersebut
diatasi.
- bu harus dibantu untuk memperbaiki isapan pada payudara oleh bayinya, untuk
memperbaiki pengeluaran AS, dan untuk men'egah luka pada puting susu.
- bu harus didorong untuk menyusui sesering mungkin dan selama bayi menghendaki,
tanpa batas.
- 7ila isapan bayi tidak 'ukup mengurangi rasa penuh dan ken'ang pada payudara, atau
bila puting susunya tertarik sampai rata sehingga bayi sulit mengisap, ibu harus memeras
AS-nya.
!&
- Pemerasan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan pompa. 7ila payudara sangat
nyeri, jalan lain untuk memeras AS adalah dengan menggunakan metode botol
d. Per"atian dini ter"adap semua tanda stasis 2SI
Seorang ibu perlu mengetahui bagaimana merawat payudaranya, dan tentang
tanda dini stasis AS atau mastitis sehingga ia dapat mengobati dirinya sendiri di rumah
dan men'ari pertolongan se'epatnya bila keadaan tersebut tidak menghilang. a harus
memeriksa payudaranya untuk melihat adanya benjolan, nyeri, atau panas, atau
kemerahan2
- 7ila ibu mempunyai salah satu faktor risiko, seperti kealpaan menyusuiB
- 7ila ibu mengalami demam atau merasa sakit, 'ontohnya sakit kepala. 7ila ibu
mempunyai satu dan tanda-tanda tersebut, ibu perlu untuk2
!. beristirahat, di tempat tidur bila mungkin
$. sering menyusui pada payudara yang terkena
&. mengompres panas pada payudara yang terkena, berendam dengan air hangat,
atau pan'uran hangatB
). memijat dengan lembut setiap daerah benjolan saat bayi menyusu untuk
membantu AS mengalir dari daerah tersebutB
+. men'ari pertolongan dan petugas kesehatan bila ibu tidak merasa lebih baik
pada keesokan harinya.
e. Per"atian dini pada kesulitan menyusui lain
bu membutuhkan bantuan terlatih dalam menyusui setiap saat ibu menemui
kesulitan yang dapat menyebabkan stasis AS, seperti2
- nyeri atau puting pe'ah-pe'ahB
- ketidaknyamanan payudara setelah menyusuiB
- kompresi puting susu
- bayi yang tidak puas seperti menyusu sangat sering, jarang, atau lama
- kehilangan per'aya diri pada suplai AS sendiri, menganggap AS yang dihasilkan tidak
'ukup
- pengenalan makanan lain se'ara dini
- menggunakan dot
!)
7idan dan petugas kesehatan lain yang berbasis fasilitas memerlukan pengetahuan
dan keterampilan yang sesuai sehingga dapat membantu ibu untuk menyusui pada
periode pas'alahir dini, untuk melanjutkan menyusui setelahnya, dan untuk mengatasi
kesulitan dini sebelum menjadi lebih serius dan membahayakan laktasi.
f. Pengendalian infeksi
Karena penatalaksanaan menyusui yang sesuai merupakan dasar pen'egahan
mastitis, pengurangan risiko infeksi juga penting, terutama dirumah sakit. Petugas
kesehatan dan ibu perlu men'u'i tangan se'ara menyeluruh dan sering. Petugas kesehatan
harus men'u'i tangannya setiap kali setelah kontak dengan ibu atau bayi, atau dengan
semua kemungkinan sumber organisme patogen. Sabun biasa adekuat untuk
menyingkirkan organisme permukaan, tetapi untuk petugas kesehatan yang sering kontak
dengan 'airan tubuh, produk pen'u'i tangan antimikroba lebih efektif, asalkan sabun
kontak dengan kulit minimal !" detik tiap pen'u'ian. Paters menunjukkan bahwa
desinfeksi tangan tambahan pada sisi tempat tidur ibu menyusui di rumah sakit
mengurangi insiden mastitis dari $,0# sampai ",--#. Kontak kulit dini, diikuti dengan
rawat gabung bayi dengan ibu juga merupakan jalan yang penting untuk mengurangi
infeksi rumah sakit.
VIII. Penanganan
@ntuk menangani setiap kondisi yang telah didiskusikan, penting untuk2
!. Menganamnesis ibu, untuk mempelajari adanya penyebab nyata untuk kesulitan ibu,
atau faktor predisposisi.
$. Mengamati 'ara menyusui, dan mengkaji apakah teknik ibu menyusui dan isapan bayi
pada payudara memuaskan, dan bagaimana hal itu dapat diperbaiki.
Sumbatan saluran payudara
Penanganan dilakukan dengan memperbaiki pengeluaran AS, dan men'egah
obstruksi aliran AS.
!+
- Pastikan bahwa bayi mempunyai posisi dan isapan yang baik. 7eberapa penulis
menganjurkan menggendong bayi dengan dagu mendekati bagian payudara yang
terkena, untuk mempermudah pengeluaran AS dari bagian tersebut, sedangkan
yang lain se'ara umum mempertimbangkan perbaikan pengisapan yang adekuat.
- >elaskan perlunya menghindari semua yang dapat menyumbat aliran AS, seperti
pakaian yang ketat, dan yang menyangga payudara terlalu dekat dengan puting
susu.
- Mendorong ibu untuk menyusui sesering dan selama bayi menghendaki, tanpa
pembatasan.
- Menyarankan ibu untuk menggunakan panas basah 5misalnya, kompres hangat
atau pan'uran hangat4
Kadang-kadang, teknik tersebut tidak menghilangkan gejala. Hal ini disebabkan
adanya materi partikel yang menyumbat saluran. Pemijatan payudara, menggunakan
gerakan jempol yang keras pada benjolan ke arah puting susu mungkin membantu.
,amun, hal ini harus dilakukan dengan lembut, karena jika jaringan payudara meradang,
pemijatan, kadang-kadang, memperburuk situasi. 7ila terlihat bintik putih pada ujung
puting susu, bintik tersebut harus disingkirkan, dengan kuku, kain kasar, atau dengan
bantuan jarum steril.
b. Mastitis
>ika dengan semua usaha pen'egahan, mastitis tetap terjadi, maka ia harus ditangani
dengan 'epat dan adekuat. 7ila penanganan ditunda, penyembuhan kurang memuaskan.
1erdapat peningkatan risiko abses payudara dan kekambuhan. Prinsip-prinsip utama
penanganan mastitis adalah2
!. Konseling suportif
Mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan membuat frustrasi, dan
membuat banyak wanita merasa sangat sakit. Selain dengan penanganan yang efektif dan
pengendalian nyeri, wanita membutuhkan dukungan emosional. a mungkin telah
mendapat nasihat yang membingungkan dari petugas kesehatan, mungkin disarankan
!-
untuk berhenti menyusui, atau tidak diberi petunjuk apapun. a dapat menjadi bingung
dan 'emas, dan tidak ingin terus menyusui. bu harus diyakinkan kembali tentang nilai
menyusui yang aman untuk diteruskan, bahwa AS dari payudara yang terkena tidak akan
membahayakan bayinya, dan bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun
fungsinya. a memerlukan dukungan bahwa perlu sekali untuk berusaha melampaui
kesulitan ini. a membutuhkan bimbingan yang jelas tentang semua tindakan yang
dibutuhkan untuk penanganan, dan bagaimana meneruskan menyusui atau memeras AS
dari payudara yang terkena. a akan membutuhkan tindak lanjut untuk mendapat
dukungan terus-menerus dan bimbingan sampai ia benar-benar pulih.
$. Pengeluaran AS dengan efektif
Hal ini merupakan bagian terapi terpenting. Antibiotik dan terapi simtomatik
membuat wanita merasa lebih baik untuk sementara waktu, tetapi kondisi tersebut akan
memburuk atau berulang walaupun sudah diberikan antibiotik ke'uali pengeluaran AS
diperbaiki.
- 7antu ibu memperbaiki pengisapan bayi pada payudara,
- .orong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi menghendaki, tanpa
pembatasan.
- 7ila perlu peras AS dengan tangan atau dengan pompa atau botol panas,
sampai menyusui dapat dimulai lagi.
&. 1erapi Antibiotik
1erapi antibiotik diindikasikan pada2
- hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta menunjukkan infeksi
- gejala berat sejak awal
- terlihat puting pe'ah-pe'ah
- gejala tidak membaik setelah !$-$) jam setelah pengeluaran AS diperbaiki.
Antibiotik yang tepat harus digunakan, Antibiotik 7-laktamase harus ditambahkan
agar efektif terhadap Stap". aureus. @ntuk organisme gram negatif, sefaleksin atau
amoksisilin mungkin paling tepat. >ika mungkin, AS dari payudara yang sakit sebaiknya
!(
dikultur dan sensiti%itas bakteri antibiotik ditentukan. Antibiotik terpilih harus diberikan
dalam jangka panjang. Saat ini dianjurkan pemberian !"-!) hari oleh kebanyakan ahli.
Pemberian jangka pendek berkaitan dengan insiden kekambuhan yang tinggi.
2ntibitik untuk pengbatan mastitis infeksisa
Antibiotik .osis
Dritromisin $+"-+"" mg setiap - jam
:lukloksasilin $+" mg tiap - jam
.ikloksasilin !$+-+"" mg setiap - jam per oral
Amoksasilin $+"-+"" mg setiap 0 jam
Sefaleksin $+"-+"" mg setiap - jam
). 1erapi Simtomatik
,yeri sebaiknya diterapi dengan analgesik. buprofen dipertimbangkan sebagai
obat yang paling efektif, dan dapat membantu mengurangi inflamasi dan nyeri.
Parasetamol merupakan alternatif yang tepat. stirahat sangat penting dipertimbangkan
dan seharusnya ditempat tidur jika mungkin. Selain membantu ibu sendiri, tirah baring
dengan bayinya sangat berguna untuk meningkatkan frekuensi menyusui, sehingga dapat
memperbaiki pengeluaran susu. 1indakan lain yang dianjurkan adalah penggunaan
kompres hangat pada payudara yang akan menghilangkan nyeri dan membantu aliran
AS, dan yakinkan bahwa ibu minum 'ukup 'airan.
!. "omplikasi
a. 2bses payudara
bses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena pengobatan
terlambat atau tidak adekuat. %ila terdapat daerah payudara teraba keras ,
merah dan tegang &alaupun ibu telah diterapi, maka kita harus pikirkan
kemungkinan terjadinya abses. 'urang lebih 3( dari kejadian mastitis berlanjut
menjadi abses. Pemeriksaan )!* payudara diperlukan untuk mengidenti+ikasi
adanya ,airan yang terkumpul. Cairan ini dapat dikeluarkan dengan aspirasi
jarum halus dengan bimbingan )!* karena dapat bersi+at kurati+. -al ini dapat
!0
mengurangi nyeri dibanding insisi dan penyaliran, dan dapat dilakukan dengan
anastesia lokal. Pada abses yang sangat besar terkadang diperlukan tindakan
bedah. !elama tindakan ini dilakukan ibu harus mendapat antibiotik. !" dari
sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar antibiotik yang diberikan sesuai
dengan jenis kumannya. %ila payudara yang dibedah sudah sembuh, maka bayi
di&ajibkan menyusui payudara yang terkena agar men,egah stasis asi atau
menjadi mastitis berulang.
.,3
"esimpulan
Mastitis merupakan proses peradangan payudara yang mungkin disertai in+eksi
atau tanpa in+eksi. !ebagian besar mastitis terjadi dalam / minggu pertama
setelah bayi lahir. Diagnosis mastitis ditegakkan bila ditemukan gejala demam,
menggigil, nyeri seluruh tubuh serta payudara menjadi kemerahan, tegang,
panas dan bengkak. %eberapa +aktor risiko utama timbulnya mastitis adalah
puting le,et, +rekuensi menyusui yang jarang dan pelekatan bayi yang kurang
baik. Melan,arkan aliran !" merupakan hal penting dalam tata laksana mastitis.
!elain itu ibu perlu beristirahat, banyak minum, mengkonsumsi nutrisi
berimbang dan bila perlu mendapat analgesik dan antibiotik.
3
!*
DAFTA# P$STA"A
!. n'h S, Eylander S. Mastitis 3 #auses and management. ,ewyork 2 8orld
Health 9rgani<ation. $""".
$. Hager .. Mastitis. FonlineG $"!". A%ailable from 2 @HA2
http2IIwww.thefreedi'tionary.'omI
&. Hobinson .. Mastitis. FonlineG $"!" April $!. A%ailable from 2 @HA2
http2IIwww.bayisehatbalita'erdas.'omI
). Australian 7reastfeeding Asso'iation. Breastfeeding dealing 1it" mastitis. FonlineG
$""*. A%ailable from 2 @HA2 http2IIwww.betterhealth.%i'.go%.auI
+. Alan H. Mastitis. FonlineG $""( ,o%ember. A%ailable from 2 @HA2
http2IIwww.beliefnet.'omI
-. ,ewton DH. Breast Infe#tin. FonlineG $""* >anuary.
A%ailable from 2 @HA2 http2IIwww.medlineplus.'omI
$"
P#ESE%TASI "AS$S
MASTITIS
&'E( )
(ASITA T.A
I(SA% P.S
PEM*IM*I%+ )
Dr.(.(E##, SET,A ,$D(A $TAMA- Sp.*- M(."es- Fina.S
"EPA%ITE#AA% "'I%I" I'M$ *EDA(
$!
#S$D A#/A0I%A%+$% .I#E*&%
MA#ET 12
$$