Anda di halaman 1dari 12

MANAJEMEN PESANTREN

ANDY ANDRIANSYAH, M.PdI


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah
Pesantren sebagai model lembaga pendidikan Islam pertama yang
mendukung kelangsungan sistem pendidikan nasional, selama ini tidak
diragukan lagi kontribusinya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
sekaligus mencetak kader-kader intelektual yang siap untuk mengapresiasikan
potensi keilmuannya di masyarakat (Tolkhah dan Barizi: 2004: 49). Dalam
perjalanan misi kependidikannya, pesantren mengalami banyak sekali hambatan
yang sering kali membuat laju perjalanan ilmiah pesantren menjadi pasang surut.
Hal ini tidak terlepas dari peran dan ketokohan seorang kiai sebagai
pemegang otoritas utama dalam pengambilan setiap kebijakan pesantren.
Sebagai seorang top leader, kiai diharapkan mampu membawa pesantren untuk
mencapai tujuannya dalam mentransformasikan nilai-nilai ilmiah (terutama ilmu
keagamaan) terhadap umat (baca: santri) sehingga nilai-nilai tersebut dapat
mengilhami setiap kiprah santri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Dalam sejarahnya di masa yang lalu, pesantren telah mampu mencetak
kader-kader handal yang tidak hanya dikenal potensial, akan tetapi mereka telah
mampu mereproduksi potensi yang dimiliki menjadi sebuah keahlian yang layak
jual. Seperti halnya di era pertama munculnya pesantren, yaitu pada masa
kepemimpinan wali songo pesantren telah mampu melahirkan kader-kader
seperti Sunan Kudus (Fuqoha), Sunan Bonang (Seniman), Sunan Gunung Jati
(Ahli Strategi Perang), Sunan Drajat (Ekonom), Raden Fatah (Politikus dan
Negarawan), dan para wali yang lain(.Ala, 2006: 17). Mereka telah mampu
menundukkan dominasi peradaban Majapahit yang telah berkuasa selama
berabad-abad, yang dikenal sebagai suatu kerajaan dengan struktur
pemerintahan dan pertahanan negara yang cukup disegani di kawasan Asia
Tenggara.
Hal ini menjadi sangat logis sekali ketika hampir semua lembaga
pendidikan di Indonesia termasuk sebagian pesantren yang mulai berlomba-
lomba mencetak teknokrat dan ilmuan dengan berbagai gelar akademis,
sementara disisi yang lain tugas utama pesantren untuk mencetak kader-
kader fuqoha dan pemuka agama mulai kurang mendapat perhatian. Akankah
pesantren harus mendukung realitas kehampaan spritual yang sedang
menggejala di masyarakat modern saat ini?
Menurut K.H.R. Asad Syamsul Arifin, saat ini ternyata pesantren
seolah sudah mulai kehilangan daya kekebalannya untuk membendung arus
modernisasi dan westernisasi yang sudah mulai menggejala sejak pertengahan
abad ke XX. Banyak sekali pesantren-pesantren salaf yang mulai merubah
orientasi pendidikannya menjadi pola pendidikan kebarat-baratan. Menurut Kiai
Asad bukannya pesantren tidak boleh modern, akan tetapi semangat untuk
mengakomodir tuntutan zaman (baca: Modernisasi) haruslah disertai dengan
konsistensi terhadap nilai-nilai yang dianut, yakni nilai-nilaisalafiyah. (Arifin, 2000;
45)
Ditilik dari sejarah pendidikan Islam di Indonesia, pesantren sebagi sistem
pendidikan Islam Tradisional telah memainkan peran cukup penting dalam
membentuk kualitas sumber daya manusiaIndonesia. Tetapi dalam pandangan
Cak Nur lembaga ini telah banyak memiliki sisi kelemahan. Dalam makalah ini,
pembahasan akan difokuskan dalam membahas tentang manajemen peantren.
Bagaimanakah sebenarnya pesantren itu dapat berdiri sebagai salah satu
lembaga pendidikan Islam, dan bagaimanakah cara pengelolaannya.
B. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan Pesantren itu?
b. Apa saja kelemahan Pesantren Tradisional?
c. Bagaimanakah posisi dan Kekuasaan Kyai?
d. Bagaimanakah strategi pengelolaan Pesantren?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tentang Pesantren
Perkataan Pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe-dan
akhiran an yang berarti tempat para santri. Sedangkan menurut Nurcholis
Madjid terdapat dua pendapat tentang arti kata santri tersebut. Pertama,
pendapat yang mengatakan berasal dari kata sastri, yaitu sebuah kata
sansekerta yang berarti melek huruf. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa
kata tersebut berasal dari bahasa Jawa cantrik yang berarti seseorang yang
selalu mengikuti seorang gurukemanapun guru ini pergi menetap.
[1]
Selain
itu,Yasamdi mengatakan bahwa nama, pesantren sering kali dikaitkan dengan
kata santri yang mirip dengan istilah bahasa India shastri yang berarti orang
yang mengetahui buku-buku suci agama Hindu atau orang yang ahli tentang
kitab suci.
[2]

Mengenai pendiri pesantren pertama kali, Lembaga Research Islam
(Pesantren Luhur), mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
sebagai peletak dasar berdirinya pesantren, selanjutnya dilanjutkan oleh Raden
Rahmad (Sunan Ampel) dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sehingga
dapat disimpulkan bahwa usia pesantren di Jawa hampir sama dengan usia
Agama Islam di Jawa sendiri.
[3]

Pondok Pesantren memiliki akar tradisi yang sangat kuat di lingkungan
masyarakat Indonesia. M.Dawam Rahardjo menyebutkan bahwa pesantren
merupakan salah satu simbol budaya pendidikan asliIndonesia (Nusantara).
Secara hitoris sistem pendidikan yang berkembang di pesantren memang
berakar pada tradisi pendidikan keagamaan semasa agama Hindu dan Budha
yang berkembang diIndonesia.
[4]
Islamisasi yang berlangsung sangat intensif di
Nusantara sejak awal abad ke XIII telah mentransformasikan budaya pendidikan
tersebut menjadi bentuk pondok pesantren. Dalam hal ini, islamisasi nusantara
memberikan muatan pemaknaan baru dari versi Islam terhadap sistem
pendidikan keagamaan Hindu dan Budha tersebut.
Tentang ciri khas pesantren tradisional dari segi tradisi pendidikannya
terdapat lima unsur utama yang sangat mencolok terutama di daerah
Jawa. Pertama, pondok (asrama untuk para santri).Kedua, masjid ( tempat
melakukan kegiatan ritual dan sekaligus tempat proses belajar). Ketiga, santri
(murid murid yang belajar ilmu agama).Keempat, Kyai (tokoh utama yang
memberikan pengajaran dan bimbingan agama yang dijadikan panutan
santri). Kelima, kitab kuning (kitab-kitab klasik tentang masalah pokok ajaran
agama Islam.
[5]

Kelima unsur pokok diatas merupakan ciri khusus yang dimiliki pesantren
yang membedakannya dengan lembaga pendidikan yang lain.
B. Kelemahan Manajemen Pesantren Tradisional
Nilai-nilai salafiyah harus tetap menjadi prinsip sebagai benteng utama
dalam menetralisir aspek-aspek negatif yang ditimbulkan dari dampak
modernisasi yang saat ini mulai mempopulerkan diri dalam ranah pendidikan di
Indonesia termasuk lembaga pendidikan pesantren. Sehingga pesantren tidak
dikatakan latah dan cenderung menjadi bulan-bulanan peradaban modern yang
kandungan nilai-nilainya tidak kesemuanya sesuai dengan prinsip-prinsip salaf.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sangat tua di
Indonesai. Keberadannya menjadi salah satu wadah dalam dakwah Islam yang
dianggap cukup efektif di dalam menggembleng para santri agar memiliki
pengetahuan agama yang luas. Peran pesantren dalam menciptakan generasi
pelaku dakwah sangatlah menonjol, sehingga pendidikan di pesantren sangat
sangat terfokus pada pengajaran tentang dasar-dasar ajaran Islam yang
bersumber dari kitab-kitab klasik.
Tetapi, dalam perjalanannya yang sudah sangat tua itu, terdapat banyak
kelemahan dalam hal menegerialnya, sehingga hal ini menjadi kendala bagi
pesantren tradisional untuk dapat berkembang dan maju. Sistem tradisional yang
digunakan menjadi bomerang bagi pesantren, sehingga keberadaannya akan
tetap stabil tanpa ada peningkatan.
Dengan kondisi manajemen pesantren yang sangat memprihatinkan ini
sangatlah memprihatinkan, nampak jelas pada kondisi pesantren yang ala
kadarnya itu, selain itu juga banyak pesantren yang merosot jumlah santrinya.
Kenyataan ini menggambarkan bahwa kebanyakan pesantren tradisional dikelola
berdasarkan tradisi, bukan profesionalisme berdasarkan keahlian
(skill), baik human skill, conceptual skill, maupun technical skill secara
terpadu. Akibatnya, tidak ada perencanaan yang matang, distribusi kekuasaan
atau kewenangan yang baik, dan sebagainya.
[6]

Selain itu, faktor yang mempengaruhi kurangnya kemampuan pesantren
mengikuti dan menguasai perkembangan zaman terletak pada
lemahnya visi dan tujuan yang dibawa pendidikan pesantren. Hal ini lebih banyak
disebabkan bahwa pesantren tidak memiliki tujuan yang jelas serta
menuangkannya dalam tahapan-tahapan rencanaa kerja atau program.
[7]

Pelaksanan pendidikan dengan cara tradisional, dan kurang adanya
sistem kurikulum yang baik, mengakibatkan proses pendidikan dan pengajaran di
pesantren terhambat. Proses pengajaran yang simple dan tradisional tersebut
berdampak kepada kelemahan santri dalam mengembangkan dirinya. Tidak ada
kesempatan bagi santri pesantren untuk mengembangkan skill, bakat dan
keahliannya, hal ini juga disebabkan karena minimnya failitas pendidikan di
lingkungan pesantren. Kegiatan di pesantren kebanyakan hanya mengkaji karya-
karya lama, tanpa dapat menghasilkan karya tulis. Santri dan pengajar
kebanyakan hanya dapat mengkaji, tanpa dapat, meneliti dan mengembangkan
teori keagamaan. Hal ini merupakan dampak dari lemahnya manajerial pesantren
selama ini.
Nurkholis madjid menambahkan, bahwa metode yag digunakan kyai
dalam proses belajar mengajar terlalu mengabaikan aspek kognitif yang dapat
berdampak negatif pada output pesantren sendiri. Seorang Kyai menggunakan
metode pengajian, yang mana hal ini kurang menekankan aspek kognitif santri.
Santri hanya dapat mendengarkan tanpa dapat menanggapi atau
mengembangkannya, karena ada konsep suud adab jika melanggar perintah
atau tidak patuh pada perintah seorang kyai.
C. Ciri Khas Pesantren dan Posisi Kekuasaan Kyai
Ciri-ciri pesantren yang masih berpegang teguh pada nilai-
nilai salafiyah dapat di defininisikan sebagai berikut (Sulthon dan Ridlo, 2006: 12-
13):
1. Adanya hubungan yang akrab antara santri dengan kiainya. Kiai sangat
memperhatikan santrinya. Hal ini memungkinkan karena tinggal dalam satu
kompleks dan sering bertemu baik disaat belajar maupun dalam pergaulan
sehari-hari. Bahkan sebagian santri diminta menjadi asisten kiai (Khadam).
2. Kepatuhan santri kepada kiai. Para santri menganggap bahwa menentang
kiai, selain tidak sopan juga dilarang agama. Bahkan tidak memperoleh
berkah karena durhaka kepada sang guru.
3. Hidup hemat dan sederhana benar-benar diwujudkan dalam lingkungan
pesantren. Hidup mewah hampir tidak didapatkan disana.
4. Kemandirian amat terasa di pesantren. Para santri mencuci pakaian sendiri,
membersihkan kamar tidurnya, bahkan sampai memasak sendiri.
5. Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan (Ukhuwwah Islamiyyah)
sangat mewarnai pergaulan di pesantren. Ini disebabkan selain kehidupan
yang mereta dikalangan santri, juga karena mereka harus mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan yang sama, seperti shalat berjamaah, membersihkan
masjid, dan belajar bersama.
6. Disiplin sangat dianjurkan. Untuk menjaga kedisiplinan ini pesantren biasanya
memberikan sanksi-sanksi edukatif.
7. Keprihatinan untuk mencapai tujuan mulia. Hal ini sebaai akibat kebiasaan
puasa sunnah, dzikir, dan itikaf, shalat tahajjud, dan bentuk-
bentuk riyadlah kainnya atau menauladani kiainya yang terbiasa dengan
kehidupan zuhud.
8. Pemberian ijazah. Yaitu pencantuman nama dalam satu daftar mata rantai
pengalihan pengetahuan yang diberikan kepada santri-santri yang
berprestasi. Hal ini menandakan adanya restu kiai kepada santrinya untuk
mengajarkan sebuah teks kitab yang dikuasai penuh.
Para santri menyadari bahwa kyai merupakan sosok insan yang hebat
secara pengetahuan, berakhlak mulia, dan bijaksana sehingga sangat disegani.
Upaya santri untuk berhubungan dengan kyai selalu diwujudkan dalam sikap
hati-hati, penuh seksama dan hormat. Kyai memiliki posisi tinggi di masyarakat,
dan mendapatkan kedudukan yang terhormat. Seorang Kyai berperan besar
terhadap kemajuan dan nilai suatu pesantren. Karena seorang Kyai dijadikan
profil bagi pesantren tersebut. Kebiasaan yang ada bahwa sebuah pesantren
akan ternama sebagaiman nama seorang kyai-nya.
Posisi kyai sebagai seorang tuntunan dan panutan, secara langsung akan
mempengaruhi pola pemikiran para santri. Seorang Kyai ahli Fiqih, akan
mempengaruhi pesantrennya dengan kajian Fiqih, demikian seterusnya, bahwa
keahlian seorang kyai akan berpengaruh terhadap idealisme fokus kajian di
pesantren tersebut.
Seorang Kyai dalam sebuah pesantren memiliki multi fungsi, yaitu;
sebagai guru yang mengajarkan ilmu agama, sebagai mubalighyang
menyampaikan dakwah, dan manajer yang memerankan pengendalian dan
pengaturan pada bawahannya. Dari tiga fungsi tersebut, tampaknya fungsi
sebagai mubaligh yang lebih mempengaruhiperformance-nya, termasuk juga
penampilan ketika mengelola pesantren.
Nur Syam menambahkan lagi tiga fungsi lain: pertama, sebagai agen
budaya. Kyai berperan sebagai penyaring budaya yang merambah
masyarakat. Kedua, sebagai mediator, yakni menjadi penghubung antara
kepentingan berbagai segmen masyarakat. Ketiga, sebagai penyaring makelar
budaya dan mediator, mengajarkan budaya islami pada masyarakat, sekaligus
penghubung berbagai kepentingan masyarakat. Kyai menguasai dan
mengendalikan seluruh sektor kehidupan pesantren, karena memiliki karismatik.
Kerugian kepemimpinan karismatik ini akhirnya mengakibatkan kerugain
pesantren akibat sikap dan penampilan kyai yang membentuk mata rantai
kelemahan nya. Nurkholis Madjid memaparkan sebagai berikut:
a. Karisma
Pola kepemimpinan karismatik sudah cukup menunjukkan segi tidak
demokratis, sebab tidak rasional, hal ini terbukti dengan tindakan kyai yang
menjaga jarak dengan santri.
b. Personal
Karena kepemimpinan kyai merupakan kepemimpinan karismatik maka
dengan sednirinya juga bersifat pribadi dan personal. Kenyataan ini
mengandung implikasi bahwa seorang kyai tidak dapat digantikan oleh orang
lain serta sulit ditundukkan dalam rule of gamesistem administrasi dan
manajemen pesantren
c. Religio-Feodal
Seorang kyai selain menjadi pemimpin agama sekaligus
merupakantradisional mobility dalm masyarakat feodal. Feodalisme yang
terbungkus keagamaaan ini bila disalah gunakan akan jauh lebih berbahaya
dari pada feodalisme biasa.
d. Kecakapan Teknis
Karena dasar kepemimpinan dalam pesantren seperti itu, maka faktor
kecakapan teknis menjadi tidak begitu penting. Kekurangan inimenjadi salah
satu sebab pokok tertinggalnya pesantren dalam perkembangan zaman.
Kelemahan kelemahan kepemimpinan kyai tersebut membutuhkan
solusi yang strategis untuk mengatasinya. Meskipun terasa sulit diperbaiki
karena telah begitu membudaya dan berurat akar hingga sekarang ini. Hal ini
khusunya terjadi di pesantren salafiyah.
D. Strategi Pengelolaan Pesantren
Keberhasilan dan kemajuan sebuah pesantren tidak terlepas dari faktor
manajerial. Jika sebuah pesantren dikelola secara profesional dan dengan
manajemen yang bagus, maka sebuah pesantren akan menjadi berkembang dan
menjadi maju. Sebaliknya, jika sebuah pesantren yang dikelola dengan
manajemen yang rendah dan tidak profesional, maka dapat dipastikan bahwa
sebuah pesantren akan kalah dalam menghadapi tantangan multi dimensi.
Pola kepemimpinan karismatik dalam pesantren menjadi salah satu faktor
kelemahan pesantren, selain faktor lainnya. Perlu diadakan pembaharuan dalam
manajerial pesantren dan membutuhkan solusi-solusi yang lebih komprehensif
dan menyebar ke berbagai komponen pendidikan, untuk mengembangkan dan
memperbaiki kwalitas dan kwantitas pesantren. Solusi beserta langkah-langkah
yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Pertama, menerapkan manajemen secara profesional. Halini dapat
ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengusai ilmu dan praktik tentang pengelolaan pesantren.
b. Menerapkan fungsi-fungsi manajemen, mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan.
c. Mampu menunjukkan skill yang dibutuhkan pesantren.
d. Memiliki pendidikan, pelatihan, atau pengalaman yang memadai
tentang pengelolaan.
e. Memiliki kewajiban moral untuk memajukan pesantren.
f. Memiliki kemiripan yang tinggi terhadap kemajuan pesantren.
g. Memiliki kejujuran dan disiplin tinggi
h. Mampu memberi teladan dalam pelaksanaan dan perbuatan kepada
bawahan.
Kedua, menerapkan kepemimpinan yang kolektif. Strategi ini dapat
diwujudkan melalui langkah-langkah berikut:
a. Mendirikan yayasan
b. Mengadakan pembagian wewenang secara jelas
c. Memberikan tanggung jawab kepada masing-masing pegawai
d. Menjalankan roda organisasi bersama-sama sesuai dengan
kewenangan masing-masing pihak secara proaktif
e. Menanggung resiko bersama-sama
Ketiga, menerapkan demokratisasi kepemimpinan. Strategi ini dapat
ditempuh melalui langkah-langkah berikut:
a. Mengurangi dominasi kiai dlam penentuan kebijakan
b. Menekankan partisipasi masyarakat pesantren dalam menentukan
pilihannya sendiri
c. Keputusan-keputusan yang diambil kiai memnpertimbangkan usaha-
usah dari bawah
d. Memberikan kebebasan kepada bawahan untuk memilih pimpinan unit-
unit kelembagaan secara terbuka dan mandiri
Keempat, menerapkan manajemen struktur. Strategi ini dapat dilalui
sebagai berikut:
a. Menyusun sturktur organisasi secara lengkap
b. Menyusun deskripsi pekerjaan (job description)
c. Menjelaskan hubungan kewenangan antar pegawi dan pimpinan, baik
secara vertikal maupun horizontal
d. Menanamkan komitmen terhadap tugas masing-masing pegawai
e. Menjaga kode etik kewenangan masing-masing pegawai
Kelima,menanamkan sikap sosio-egaliterianisme. Strategi ini dapat
sitempuh melalui langka-langkah berikut:
a. Menggusur sikap feodalisme yang berkedok agama
b. Memandang semua orang memiliki derajat dan martabat sosial yang
sama sesuai amanat al-Quran
c. Menghapus diskriminasi di kalangan santri antara kelompok putra dan
putri kiai dengn santri biasa
d. Menghapus sikap mengkultuskan para kiai
e. Menghapus penghormatan yang berlebih kepada kiai
f. Menghapus sikap mengistewakan seseorang atau kelompok tertentu
g. Membebaskan para santri dari perasaan sebagai hamba dihadapan
kiai sehingga mereka dapat menjadi santri yansg sopan tetapi penuh inisiatif.
Keenam, menghindarkan pemahaman yang menyucikan pemikiran agama
(taqdis afkar al-dini). Strategi ini dapat ditempuh dengan langkah-langkah berikut:
a. Membiasakan telaah terhadap isi kandungan sesuatu kitab
b. Membinasakan pendekatan perbandingan pemikiran para ulama dalam
proses pembelajaran.
c. Membiasakan kritik konstruktif dalm proses pembelajaran
d. Menanamkan kesadaran bahwa pemikiran para penulis kitab sangat
dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terjdai sangat dipengaruhi oleh
situasi dan kondisi yang terjadi pada saat penulisan kitab itu.
e. Menanamkan kesadaran bahwa betapapun hebatnya seoarang penulis
kitab, dia pasti memiliki kelemahan tertentu.
Ketujuh, memperkuat penguasaan epistimologi dan metodologi. Strategi
ini dapat dirinci melalui langkah-langkah berikut:
a. Menyajikan pelajaran teori pengetahuan
b. Memotivasi santri senior untuk mengembangkan pengetahuan
c. Memperkuat ilmu-ilmu wawasan, seperti sejarah, filsafat, mantiq,
perbandingan madzhab, agama dan ilmu-ilmu Al-Quran
d. Memperkuat ilmu-ilmu pendekatan atau metode, seperti ushul fiqh dan
kaidah-kaidah ilmu fikih
e. Mengajarkan metodologi penelitian
f. Mengajarkan metodologi penulisan karya ilmiah
g. Mengajarkan metode berpikir ilmiah
h. Memberikan tugas-tugas penulisan ilmiah
i. Mendorong keberanian para santri-santri senior untuk menulis buku-
buku ilmiah
Kedelapan, mengadakan pembaruan secara berkesinambungan, sebagai
berikut:
a. Mengadakan pembaruan dan/atau penamabahan institusi
b. Mengadakan pembaruan sistem pendidikan
c. Mengadakan pembaruan sistem kepemimpinan
d. Mengadakan pembaruan sistem pembelajaran
e. Mengadakan pembaruan kurikulum
f. Mengadakan pembaruan strategi, pendekatan, dan metodogi
g. Mempurkuat SDM para Ustadz, perpustakaan, dan laboratorium.
Kesembilan, mengembangkan sentra-sentra perekonomian. Strategi ini
dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Mendirikan toko-toko yang menyediakan kebutuhan para santri
b. Mengelola konsumsi para santri (tata boga)
c. Mendirikan koperasi
d. Mendirikan pusat-pusat pelayanan publik yang berorientasi pada
keuntungan finansial
e. Membuat jaringan kerjasama dengan pihak lain yanng saling
menguntungkan
f. Mendirikan usaha-usaha produktif lainnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Usia pesantren di Nusantara hampir seiring dengan usia agama Islam di
Nusantara ini. Pesantren memiliki peranan bear bagi kehidupan umat islam. Karena
pesantren mampu mempertahankan nilai-nilai ajaran agama islam, serta mampu
menghasilkan orang-orang yang memiliki pengetahuan luas tentang agama Islam.
Namun kenyataannya, pesantren memiliki banyak kelemahan dalam
perjalananya, sehingga pesantren tidak mampu menghadapi tantangan zaman yang
kompleks. Dalam segoi manajerialnya, pesantren tidak memiliki aspek manajerial
yang baik dan profesional, sehingga menyebabkan kelemahan dan kemunduran
pesantren sendiri.
Kiai dalam pesantren memiliki posisi dan kedudukan yang tinggi. Pola
kepemimpin kiai adalah pola karismatik, sehingga hal ini berdampak kekurang
dekatan antara para kiai dan santri, seakan-akan terdapa jurang pemisah antara
keduanya. Hal ini mengakibatkan hubungan manajerial kurang terbuka dan
berkesinambungan.
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam usaha pengembangan
dan penataan kembali administrasi pesantren, yaitu:
a. Menerapkan manajemen secara profesional
b. Menerapkan kepemimpinan yang kolektif
c. Menerapkan demokratisasi kepemimpinan
d. Menerapkan manajemen struktur
e. Menanamkan sikap sosi-egaliterainisme
f. Menghindarkan pemahaman yang menyucikan pemikiran agama.
g. Memperkuat penguasaan epistemologi dan metodologi
h. Mengadakan pembaruan secara berkesinambungan
i. Mengembangkan sentre-sentra perekonomian
DAFTAR RUJUKAN
Qomar, Mujamil.Manajemen Pendidikan Islam.2008.Surabaya: Erlangga
Qomar, Mujamil.Pesantren: dari transformasi Metodologi menuju Demokratisasi
Institusi. 2006. Yogyakarta:PT Gelora Aksara Pratama
Azra, Azyumardi.Essei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam.1998.Jakarta:
Logos Wacana Ilmu
Yasmadi.Modernisasi Pesatren.2005.Jakarta:Quantum Teaching
M. Dawam Rahardjo, Pergulatan dunia Pesantren: Membangun dari Bawah
.1985.Jakarta:P3M
Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di
Indonesia.2002.Jakarta:Logos Wacana Ilmu


[1]
Yasmadi, Modernisasi hal.62
[2]
Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (Jakarta:Logos Wacana Ilmu,2002) hal.
94
[3]
Mujamil Qomar. Pesantren: dari Transformasi Metodologi menuju Demokratisasi Institusi (Jakarta: Erlangga,
2002)hal. 9
[4]
M. Dawam Rahardjo, Pergulatan dunia Pesantren: Membangun dari Bawah (Jakarta:P3M,1985) hal.94
[5]
Fuad jabali dan Jamhari, IAIN hal. 95
[6]
Mujamil Qomar. Manajemen Pendidikan Islam (Jakarta: Erlangga, 2007) hal.59
[7]
Nurkholis Madjif. Modernisasi hal. 72