Anda di halaman 1dari 9

2.2.4.

1 Klasifikasi kavitas kelas I


Kavitas kelas I merupakan kavitas atau restorasi pada pit dan fissure gigi posterior. Restorasi
pada kelas I ini paling banyak menggunakan bahan tambal amalgam karena amalgam merupakan
bahan tambal yang paling ekonomis. Tambalan amalgam kelas I yang besar bisa merestorasi
permukaan restorasi permukaan oklusal email dan dentine yang hilang atau rusak pada proses
karies. Tambalan amalgam akan sangat efektif dan email di dekatnya bisa dipertahankan bila
prinsip-prinsip tertentu diikuti dalam desain kavitas. ( Summit, et al, 2006. Hlm 340-344 )
Kavitas ini dapat di kelompokkan menjadi 3 bagian( Summit, et al, 2006. Hlm 340-344 )
yaitu :
a. kavitas/restorasi pada permukaan oklusal gigi premolar atau molar.
b. kavitas/restorasi pada 2/3 oklusal dari permukaan bukal/lingual gigi molar. Umumnya
kavitas ini melibatkan developmental groove gigi molar, baik di bagian bukal atau
lingual.
c. kavitas/restorasi pada permukaan lingual gigi insisif rahang atas.
Indikasi
Oklusal karies
indikasi untuk preparasi amalgam kelas 1 yakni karies struktur gigi di fisura daerah oklusal (atau
di daerah fasial atau di pit daerah lingual pada gigi posterior) yang diketahui secara klinis
maupun dengan bite wing radiografik. Tujuan dari preparasi kelas 1 adalah untuk menghilangkan
lesi karies, untuk membuang enamel yang telah undermined oleh proses karies, untuk
memelihara sebanyak mungkin gigi yang masih sehat, dan untuk membuat restorasi yang kuat
dimana meniru struktur gigi normal dan tidak ada atau mungkin ada sedikit marginal leakage. (
Summit, et al, 2006. Hlm 340-344 )
Biasanya pada preparasi amalgam kelas 1, oklusal fissure atau developmental groove, juga
terkena preparasi meskipun daerah tersebut tidak terkena karies. Suatu kedalaman atau noda
pada fissure bukan merupakan tanda adanya penempatan suatu restorasi. Bila ada kekhawatiran
bahwa dentine di dasar celah bisa menjadi karies , fissure sebaiknya ditutup dengan resin fissure
sealant atau flowable resin composite material. Selain itu, sisa-sisa fissure yang diperkirakan
dapat mudah terkena karies, sebaiknya juga ditutup dengan resin sealant. ( Summit, et al, 2006.
Hlm 340-344 )

Pembersihan Karies
Bila hanya ada sejumlah karies yang tidak terlalu besar biasanya pembuatan outline dasar sudah
dapat menghilangkan karies tersebut. Bila karies terlihat dibawah tonjol, tepi kavitas harus
diperluas lebih jauh ke daerah tonjol sampai diperoleh jalan masuk ke seluruh daerah karies. Bila
outline dasar dari kavitas sudah dibuat, sisa karies dapat dibersihkan baik dengan eskavator atau
dengan bur bulat yang berotasi dengan kecepatan rendah. Semua karies dibersihkan dari bagian
tepi kavitas dengan cermat terutama pada pertautan antara email dan dentine. ( Summit, et al,
2006. Hlm 340-344 )

Desain preparasi
Pada awal dilakukannya preparasi kavitas gigi dibutuhkan suatu outlilne form sebagai desain
awal pada preparasi yang akan dilakukan. Outline form dari gigi yang akan dipreparasi karena
suatu karies berpedoman pada 2 hal,yakni struktur gigi karies harus dihilangkan dan margin
harus ditempatkan pada struktur gigi yang sehat. Enamel pada margin saat preparasi harus
ditopang oleh dentin yang sehat dan email-email yang telah rusak karena karies harus
dihilangkan. Jika fisure noncarious terdapat di dinding suatu preparasi, celah fissure harusnya
ditutup dengan sealed setelah diisi dengan amalgam. Bentuk outline form harus halus untuk
memudahkan undercovering dari margin selama carving amalgam. Oleh karena itu margin
preparasi tidak boleh bergerigi atau kasar karena mempersulit dokter gigi untuk mengetahui
apakah margin restorasi tampak tidak teratur sebab batas enamel yang kasar atau perluasan
amalgam yang melewati permukaan gigi. ( Summit, et al, 2006. Hlm 340-344 )
Sedangkan resistance dan retention form pada desain kavitas ini, Tepi dinding kelas 1 restorasi
oklusal harus paralel satu sama lain atau harus berkumpul secara oklusi . Enamel rods di
sebagian besar permukaan oklusal dibuat kira-kira sejajar dengan sumbu panjang gigi. Untuk
menghindari terjadinya fraktur, margin enamel harus dibuat dengan sudut yang sedikit tumpul
(90 derajat atau lebih besar), hal ini dikarenakan margin enamel yang kurang dari 90 derajat jauh
lebih rentan terhadap fraktur. Bahkan pada preparasi yang kecil sekalipun, cups yang sudah retak
harus dihilangkan untuk menghindari fraktur. Pada restorasi amalgam, oklusal harus memiliki
ketebalan occlusoginggival minimal 1,5 mm atau lebih baik lagi jika ketebalannya 2,0 mm,
untuk mencegah fraktur pada saat restorasi, karena fraktur biasanya akan menimbulkan marginal
gaps, atau celah antara amalgam dan email( Summit, et al, 2006. Hlm 340-344 )
Gambaran lebih jelas untuk desain agar tambalan amalgam efektif dan email di dekatnya bisa
dipertahankan dapat dilihat pada prinsip desain kavitas sebagai berikut:
1. Kedalaman kavitas dijaga keseragamannya dalam setiap gigi : lebih dalam pada gigi
dengan email tebal (molar), dangkal pada gigi dengan email tipis (premolar).
Kedalaman biasanya tepat berada dibawah pertautan dentin-email. ( Baum, 1994. Hlm
335-348 )

2. Kavitas klas I harus cukup lebar sehingga mencakup semua kerusakan atau harus
sesempit mungkin, namun tetap memungkinkan dimasukkannya plugger kecil
(pemampat) untuk menempatkan amalgam ke dalam preparasi. ( Baum, 1994. Hlm 335-
348 )
3. Ragangan kavitas harus merupakan perpaduan harmonis dari lengkungan atau garis-garis
lurus. Bila ada sudut pada ragangan, dapat ditumpulkan dengan menggunakan bur.
(Baum, 1994. Hlm 335-348 )
4. Pinggiran mesial dan distal dibuat sejajar dengan linggir tepi, transversal dan oblik. (
Baum, 1994. Hlm 335-348 )


5. Kontur linggir alami pada email sehat biasanya memisahkan kavitas ceruk dan fisura.
Linggir email alami yang bebas dari kerusakan alur (linggir oblik pada molar atas dan
linggir melintang pada premolar pertama bawah) biasanya dipertahankan dan tidak
dimasukkan pada preparasi. (gambar 1.3) ( Baum, 1994. Hlm 335-348 )
6. Dinding mesial dan distal yang berdekatan dengan linggir tepi harus sedikit meruncing
keluar dan tidak meluas dibawah email. (Gambar 1.1) ( Baum, 1994. Hlm 335-348 )
7. Biasanya dasar pulpa dipotong tegak lurus terhadap sumbu panjang gigi karena
kebanyakan tonjol tingginya hampir setara. Bila sebuah tonjol lebih rendah dari yang
lain, dasar kamar pulpa dimiringkan untuk mensejajarkan tinggi tonjol dan posisi tangkai
bur membagi dua sudut yang dibentuk oleh kemiringan yang berdekatan. ( Baum, 1994.
Hlm 335-348 )
8. Kavitas pada permukaan fasial dan lingual di preparasi sampai dinding-dinding dalamnya
sejajar dengan permukaan luar gigi. ( Baum, 1994. Hlm 335-348 )

2.2.4.2 Preparasi Kelas II
Kavitas yang terdapat pada permukaan aproksimal gigi posterior termasuk kategori Klas II.
Alasan mengapa lesi permukaan proksimal mempunyai klasifikasi khusus tersendiri adalah
karena lesi terjadi pada gigi-gigi molar dan premolar yang saling berdekatan, dan sulit untuk
menjaga kebersihan di daerah bawah titik kontak. Menurut definisi Dr. Black, karies Klas II
dapat mengenai permukaan mesial dan distal atau hanya salah satu permukaan proksimal dari
gigi sehingga dalam praktiknya kavitas ini digolongkan menjadi kavitas MO (mesio-oklusal),
DO (disto-oklusal), dan MOD (mesio-oklusal-distal). Dilihat dari definisinya, kavitas ini adalah
lesi proksimal dan tidak selalu mencakup permukaan oklusal (Baum et al., 1997).
Pada preparasi kavitas ini, kekuatan dan keutuhan bagian tepi merupakan dua kriteria penting
untuk memutuskan apakah cusp akan dipertahankan atau dikorbankan dengan harapan tumpatan
dapat menahan fraktur selama pengunyahan. Beberapa contoh desain kavitas digambarkan
dengan nomenklatur kavitas.
Untuk lebih memahaminya, kavitas Klas II dapat dibagi dalam dua kategori; (1) Klas II
amalgam insipient adalah sedikit banyak menutupi lubang yang dapat dimasuki mikroba yang
dapat menyerang gigi, dan (2) Klas II amalgam yang diperluas merupakan tambalan yang
mengembalikan bagian gigi yang hilang atau rusak. Konsep (1) menambal dengan (2)
membangun, adalah penting untuk dimengerti, karena bisa mengubah perawatan atau tipe dari
prosedur itu sendiri.

Amalgam Kelas II Insipien
Lesi insipient ini biasanya kecil dan terletak tepat di bawah titik kontak dari gigi. Deteksi lesi
karies klas II insipient tidak mudah dilakukan. Proyeksi bitewing merupakan cara yang terbaik,
karena letak gigi-gigi yang berdekatan menghalangi pemeriksaan sonde. Bila lesi telah terdeteksi
pada radiograf bitewing, tindakan perawatan harus diindikasikan walaupun lesi tidak dapat
dideteksi dengan sonde. Gigi harus dipreparasi untuk restorasi Klas II. Lesi proksimal insipient
menembus dentin hanya sekitar 1 mm sehingga tidak ada karies dentin yang perlu diekskavasi
sebab bur secara otomatis sudah menghilangkannya selama preparasi gigi (Baum et al., 1997).

Prosedur preparasi
1. Preparasi melibatkan alur oklusal, seperti dilakukan untuk amalgam Klas I. Preparasi
menggunakan bur bulat (round) no. dan disempurnakan dengan bur no. 330.
2. Langkah ini penting, karena operator harus memutuskan seberapa luas (fasio-lingual)
pemotongan yang dilakukan untuk mendapatkan akses ke lesi proksimal. Setelah
ditentukan, operator membuat takikan dengan menggunakan bur round no. menembus
linger tepi untuk membuka pertautan anatara dento-email. Perlu diingat kembali, kavitas
Klas II tidak selalu melibatkan okusal.
3. Setelah orifis dari fissure terbalik dibuat, preparasi dentin dengan round bur atau bur
bentuk buah pir, dan ptong sebuah alur sempit fasio-lingual di bawah lapisan proksimal
dari email, dan gnakan sebagai pedoman untuk menempatkan bur.Gunakan handpiece
sedemikian rupa sehingga bur bisa bergerak ke sana ke mari seperti pendulum, dengan
perlahan-lahan memperpanjang alur ke bawah ke arah gingiva.
Bila langkah ketiga dilakukan dengan tepat maka, lapisan email masih utuh. Bagian
dalam dari preparasi kavitas diselesaikan, dan semua dentin harus dihilangkan dari bagian
bawah email.
4. Lapisan email ditembus dengan alur vertical. Tindakan ini harus dilakukan dengan hati-
hati agar tidak mengenai permukaan email gigi sebelahnya.
5. Lapisan email yang menjadi lemah karena pembuatan alur bisa dipatahkan dengan bilah
instrument (hatcher atau ekskavator), yang digunakan untuk mengungkitnya. Jika
pengambilan di balik email dilakukan dengan tepat, email rod dapat dipatahkan dengan
rapi dan tepat di daerah pinggiran yang dibentuk bur.
6. Penyempurnaan tepi dilakukan dengan hatcher (instrument pemotong untuk memperluas
amalgam Klas II).
7. Perdalam dinding aksial jika diperlukan, untuk membentuk kembali alur aksial, dan
penyempurnaan tepi sepanjang oklusal. Langkah ini menggunakan bur no. 330.
Penggunaan instrument berputar sepanjang boks terlalu berbahaya. Oleh karena itu disini
hanya digunakan instrument genggam. Akses yang terbatas mengakibatkan bur di lokasi
ini karena dapat tergelincir mengenai gigi tetangganya.

Amalgam Kelas II yang Diperluas
Kasus ini langsung diarahkan ke tambalan Klas II yang besar. Amalgam yang diperluas jelas
lebih besar karena daerah-daerah yang terdapat dalam kavitas atau karies recurrent di sekitar
tambalan lama. Kedalaman dinding aksial tidak ditentukan oleh lesi karies tambalan yang lama.
Tetapi ditentukan secara acak oleh operator dan biasanya lebarnya 1.22 mm untuk gigi premolar
dan 1.8 mm untuk molar.
Komponen retentive dasar dari boks proksimal adalah alur aksial, satu ditempatkan di fasial dan
yang lain ditempatkan di lingual. Alur-alur ini lebih dalam pada ujung gingivanya dan cenderung
menghilang kea rah oklusal. Sebagian besar alur aksial dibuat dengan bur, tetapi beberapa
operator lebih suka membuatnya bebrbentuk segi empat untuk menambah retensi bagi amalgam.
Makin lebar boks, makin besar sudut yang dibentuk oleh dinding fasial dan lingual dan
akibatnya, makin dalam alur yang harus dibuat (Baum et al., 1997).

Prosedur preparasi
Penting bahwa ragangan akhir dari preparasi gigi dibayangkan terlebih dahulu oleh operator
sebelum pemotongan dilakukan. Setelah diputuskan dari pemeriksaan radiografi bagaimana
ukuran dan bentuk akhirnya, restorasi lama dibongkar dan bagian oklusal dari kavitas
dipreparasi.
Di sini tidak digunakan bur kecepatan tinggi, melainkan dilakukan prosedur yang sama seperti
lesi insipient. Dengan bur fisur runcing No. 770 kecepatan rendah, dentin di bawah email
proksimal dibuang, diikuti dengan mencungkil sisa email dan membuat bagian tepi. Kesuksesan
pembuatan preparasi boks tergantung atas ketelitian dan ketepatan pembuatan alur. Berikut
urutan preparasinya :
1. Preparasi dari alur berfissure di bawah email, tidak boleh terlalu ditekankan. Dengan hati-
hati pertimbangkan apakah sudut-sudut tajam dan tegas, apakah fissure cukup diperluas
kea rah fasial dan lingual, apakah dasar gingival dari alur rata dan halus, dan juga apakah
semua dentin telah dihilangkan dari bawah email.
2. Bila operator telah memeriksa fissure dan email sudah dipatahkan, bagian tepi dibuat
dengan instrument genggam.
3. Untuk menambah kesempurnaan pahat dan hatched email digunakan pengasah tepi
gingival untuk menghaluskan dasar gingival dan menghilangkan fragmen email yang
tertinggal. Sebelum digunakan, ujung pemotong harus dites lebih dulu. Fungsi utama dari
instrument pemotong adalah membuat dan menghaluskan tepi pada daerah boks
proksimal. Alat ini juga dipakai untuk mempertegas garis retensi internal dan point-
angle.
4. Pembersihan bagian dalam dari kavitas. Karies dentin sekarang diperiksa dan dibuang.
Pembuangan karies dentin adalah langkah No. 4 dari preparasi Black.
5. Penyempurnaan alur retensi dengan bur fisur runcing cross-cut No. 700 dan round No.
6. Mengubah alur retentive yang bulat menjadi segi empat dengan pengasah tepi gingival.
Jelas bahwa alur retentive segi empat menambah sifat retentive dari restorasi. Hal
tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan pengasah tepi gingival yang tajam. Ini
merupakan langkah No. 5 dalam preparasi Black. Pemeriksaan tepi sebaiknya ditunda
sampai semuanya selesai dilakukan.
7. Perencanaan tepi. Ini merupakan langkah akhir sebelum pemasangan pita matriks dan
pemampatan amalgam. Permukaan ybgtidak teratur sepanjang dasar gingival dapat
dihaluskan dengan instrument genggam dan kurva tebalik dari oklusal dapat dipreparasi
dengan pahat bengkok yang tajam.
8. Pembuangan debris, penghilangan fragmen semen dan membersihkan sisa darah yang
telah mongering. Larutan hydrogen peroksida 3% bisa digunakan untuk membantu
menghilangkan debris. Langkah penyempurnaan akhir dan pembersihan ini termasuk
langkah ke-6 dari preparasi Black (Baum et al., 1997).

2.2.4.3 Preparasi Kelas III
A. Landasan Teori
Karies kelas III merupakan karies yang mengenai gigi gigi anterior. Menurut definisi
dr. Black, kavitas kelas III bisa terjadi pada permukaan mesial atau distal dari insisivus
atau kaninus. Lesi ini juga terjadi di bawah titik kontak, tapi berbeda dengan lesi pada
gigi molar yang bentuknya elips, kelas III bentuknya bulat dan kecil( Baum, 1997. Hlm
50). Karies yang berhubungan dengan daerah kontak gigi anterior normalnya direstorasi
baik melalui permukaan labial maupun lingual gigi, arahnya ditentukan oleh posisi dari
lesi karies( Eclces, 1994. Hlm 115-118 )
Bila jalan masuk dapat diperoleh dari kedua arah, cara lingual biasanya yang dipilih untuk
gigi-gigi anterior atas karena restorasi dapat dibuat terlihat sekecil mungkin dari permukaan
labial. Bila gigi-gigi incisive berjejal, sebuah kavitas dapat dipreparasi dari lingual dan sebuah
lagi dari labial. Pada gigi-gigi incisive bawah, dimana estetik kurang penting dan jalan masuk
ke permukaan lingual gigi lebih sulit diperoleh, preparasi labial umumnya merupakan cara
yang dipilih. Besar lesi juga mempengaruhi bentuk kavitas dan bahan tumpat yang digunakan.
Bila estetik merupakan hal yang sangat penting, gunakan bahan komposit. Bila kavitas dapat
dibuat sekecil mungkin, estetik yang baik dapat diperoleh dengan menggunakan retensi
mekanis tradisional, tetapi pada kavitas yang besar dimana sulit atau bahkan tidak mungkin
untuk membentuk ceruk retensi insisal, harus digunakan teknik etsa asam. Bila estetik tidak
terlalu penting, kavitas yang kecil dapat ditumpat dengan semen glass ionomer. Retensi
mekanis tidak terlalu penting untuk bahan ini dan bahan ini mempunyai efek mengeluarkan
flourida. Preparasi lingual maupun labial pada kavitas kelas III dapat terlihat sangat berbeda
tetapi sebenarnya mempunyai kesamaan. Kesamaan ini dapat dilihat yaitu kavitas dapat
dipreparasi bila ada celah pada rahang dan bila permukaan approksimal dari gigi dapat
dijangkau dengan mudah( Eclces, 1994. Hlm 115-118 )
B. Indikasi
Kelas III biasanya direstorasi dengan komposit. Namun, dalam semua kasus,
daerah tersebut harus dapat terisolasi untuk mencapai suatu ikatan yang efektif. Selain
itu, restorasi yang paling cocok untuk kelas ini adalah komposit atau penggunaan
bahan toothcolored lainnya. penggunaan bahan ini ketika preparasi gigi masih
memiliki email margin. (Sturdevant et al. 1985. Hlm 115-118 )
C. Kontra Indikasi
Kontraindikasi untuk penggunaan komposit untuk restorasi kelas ini meliputi: (1)
daerah operasi yang tidak bisa terisolasi, (2) beberapa restorasi di daerah yang tidak
memerlukan estetik, dan (3) beberapa restorasi yang memanjang ke permukaan akar.
Perpanjangan ke permukaan akar (tidak ada email margin) mungkin terjadi
kontraindikasi, karena bagi banyak ekstensi ke permukaan akar dengan restorasi
komposit, sebuah gap berbentuk V (gap kontraksi) terbentuk antara akar dan komposit.
Gap kontraksi ini "terjadi karena gaya penyusutan polimerisasi dari komposit lebih
besar dari kekuatan ikatan awal komposit ke dentin akar. Kesenjangan berbentuk V
terdiri dari komposit di sisi restorasi dan dentin hibridisasi di sisi akar. Tidak diketahui
apa efek klinis jangka panjang dari gap ini. Apapun, itu harus diakui bahwa setiap kali
restorasi meluas ke permukaan akar, efek samping dapat berhubungan dengan
restorasi, tidak peduli apa bahan restoratif yang digunakan. Sebagai contoh, bahkan
restorasi amalgam tembaga tinggi akan menunjukkan beberapa kebocoran marginal,
paling tidak untuk jangka waktu tertentu. Dengan demikian, setiap ekstensi ke
permukaan akar membutuhkan upaya yang terbaik(Sturdevant et al. 1985. Hlm 115-
118 )