Anda di halaman 1dari 4

Konflik Rwanda

Rwanda adalah salah satu negara yang berada di benua Afrika, dan negara yang penduduknya
berkulit hitam ini memiliki sebuah sejarah yang tidak akan pernah dilupakan Rwanda. Konflik ini
menyebabkan terjadinya genosida terhadap suku lain yang dilakukan salah satu suku di Rwanda, yang
memakan banyak sekali korban. Konflik dan gesekan yang terjadi antara dua suku ini sudah berakar
dimulai dari saat mereka dijajah oleh Belgia. Saat penjajahan Belgia di Rwanda, Belgia menstratifikasi
atau membedabedakan suku Hutu, Tutsi dan juga sekelompok suku kecil yaitu Twa. Belgia membuat
suku Tutsi menjadi suku yang lebih superior. Mereka diberikan kewenangan untuk berkuasa dan
memerintah.
1
Setelah kemerdekaan dari penjajahan Belgia, mayoritas suku Hutu merebut kekuasaan dan
membalik peran, dengan menindas suku Tutsi melalui diskriminasi sistematis dan kekerasan.
Lebih dari 200.000 orang Tutsi melarikan diri ke negara tetangga seperti Burundi, Uganda, Zaire,
dan Tanzania serta membentuk pasukan gerilya pemberontak, Front Patriotik Rwanda.
2
Pada tahun 1988,
Front Patriotik Rwanda (RPF) didirikan di Kampala, Uganda yang di pimpin oleh Paul Kagame sebagai
gerakan politik dan militer dengan tujuan untuk mengusahakan reformasi dari pemerintah Rwanda,
termasuk pembagian kekuasaan politik. Pada 1990 RPF menginvasi Rwanda dan meminta posisi dalam
pemerintahan. Namun Rwanda masih menolaknya. Pada 1993, Juvenal Habyarimana yaitu Presiden
Rwanda dari kalangan Hutu yang saat itu berkuasa ingin memberikan posisi bagi para Tutsi serta
melakukan perjanjian perdamaian.
RPF meminta dibentuknya Arusha Accords, yaitu perjanjian di mana Presiden akan memberikan
kesempatan dan juga tempat untuk orang Tutsi memiliki posisi dalam pemerintahan. Namun para Hutu
ekstrimis menolak kebijakan itu mentah-mentah. Akhirnya pada saat Presiden Juvenal Habyarimana
terbunuh saat pesawatnya melintasi Kigali pada 6 April 1994, ini menjadi sebuah momentum bagi Hutu
ekstrimis dan menjadikannya alasan untuk menyerang para Tutsi dan Hutu moderat yang memang
berlawanan dengan Hutu.
3
Sejak peristiwa tersebut, pembantaian suku Tutsi oleh suku Hutu dimulai.
Tutsi. Pembantaian dilakukan oleh para Hutu sekitar 100 hari. Jumlah korban diperkirakan sekitar
800.000 orang, dibunuh dengan brutal dengan golok atau alatalat pertanian lain oleh para Hutu
ekstrimis, bahkan pembunuhan yang mereka lakukan tidak segan segan dilakukan di gereja.
4
Keadaaan

1
Kompasiana.com, Tentang Konflik Rwanda, 2012, (http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/26/tentang-konflik-
rwanda-488087.html) diakses pada 17 Maret 2013 pukul 19.27
2
Faculty of Polytechnic, A Summary of Rwandan Genocide
(http://faculty.polytechnic.org/gfeldmeth/rwandabackground.pdf) diakses pada 17 Maret 2013 pukul 19.23
3
Helen M Hintjens. Explaining 1994 Rwanda In Genocide, 1999, h.242,
(http://www.fes.de/themen/menschenrechtspreis/common/pdf/Explaining_the_1994_Genocide_in_Rwanda.pdf)
diakses pada 117 Maret 2013 pukul 20.01
4
Billy Barware, Rwandan Ethnic Conflicts, 2012, (http://acuns.org/wp-
content/uploads/2012/06/RwandanConflictRootCauses.pdf) diakses pada 17 Maret 2013 pukul 20.17
Rwanda pada saat itu memang benarbenar memprihatinkan. PBB pun akhirnya turun tangan untuk
mengatasi masalah ini. Negara-negara lainnya seperti Amerika Serikat dan Perancis juga mendukung
evakuasi warga asing dari Rwanda.
PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Rwanda. PBB membentuk pasukan dengan
misi menjaga perdamaian di Rwanda. Misi ini bernama United Nations Assistance Mission for Rwanda,
atau biasa disebut UNAMIR. UNAMIR dibentuk berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 872
(1993) pada 5 Oktober 1993 untuk membantu mengimplementasikan perjanjian Arusha. Namun, misi
perdamaian ini dianggap gagal, karena tidak dapat mencegah terjadinya genosida dan jatuhnya korban
jiwa di Rwanda. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 912 dan mengurangi jumlah personel
UNAMIR menjadi 270 personel.
5

Akhirnya, Genosida ini berakhir ketika RPF berhasil mengambil-alih ibukota Rwanda yaitu
Kigali pada Juli 1994. Tentara Perancis yang dikirim ke Rwanda juga berhasil membuat zona aman di
bagian barat daya Rwanda. 17 Juli 1994, RPF mengalahkan pemerintahan Rwanda dan menyatakan akhir
perang.
6
PBB membentuk Pengadilan Pidana Internasional [Internationan Criminal Tribunal for Rwanda
(ICTR)] melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB No. S/RES/955 tahun 1994. ICTR bertujuan untuk
menuntut dan mengadili orang-orang yang bertanggung jawab atas terjadinya genosida dan kejahatan
berat lain yang melanggar hukum humaniter internasional di Rwanda atau oleh orang Rwanda di negara-
negara tetangga selama tahun 1994. Berdasarkan resolusi 977 pada 22 Februari 1995, DK PBB
menetapkan lokasi ICTR di Arusha, Tanzania.
7


Analisa:
Dalam kasus ini, tercermin hubungan antara Hubungan Internasional, Hukum Internasional, dan
Hukum Humaniter, yaitu dalam konflik yang menimpa Rwanda ini, menimbulkan reaksi keras terhadap
dunia internasional. Amerika Serikat dan Perancis pun ikut membantu Rwanda dengan mengirimkan
pasukan untuk membantu mengevakuasi korban konflik ini. Perancis, disinyalir ingin mempertahankan
pengaruh di Afrika, mulai menyediakan senjata dan mendukung pemerintah Rwanda, dan tentara
meningkat dari 5000 menjadi 40.000 di bulan Oktober 1992. Mereka turut membantu Habyarimana untuk
melakukan aksi penahanan terhadap 1000 lawan politik dan pembunuhan atas 350 Tutsi di perbatasan,
bahkan melindungi pemberontak yang melakukan aksi genosida.

5
Faculty of Polytechnic, Loc. Cit
6
United Nations, UNAMIR, 1999, (http://www.un.org/en/peacekeeping/missions/past/unamirS.htm) diakses pada
17 Maret 2013 pukul 20.43
7
Kompasiana, Loc. Cit
Adanya peran media yang signifikan dalam genosida di Rwanda, media lokal seperti surat kabar dan
radio Radio Rwanda dan Radio Television Libre des Mille Collines (RTLM) dipercaya memulai pidato
dan dialog-dialog yang berisi kebencian terhadap suku Tutsi, propaganda ini kemudian menjadi sangat
sistematis dan berubah menjadi sebuah norma. Amerika serikat sebagai pemegang kekuasaan penuh
media internasional , terkesan membiarkan radio dan surat kabar lokal melakukan propaganda terus
menerus tanpa adanya sanksi yang tegas. Dan terlihat sekali tindakan AS ini berlawanan dengan prinsip
demokrasi yang dianutnya dan menyangkut masalah HAM juga.
Selain kedua negara tersebut, PBB yang merupakan Organisasi Internasional merasa ikut
bertanggungjawab untuk menyelesaikan konflik ini, serta mencegah terulangnya peristiwa ini dengan
mengirimkan pasukan perdamaian ke Rwanda yang bernama UNAMIR (United Nations Assistance
Mission for Rwanda). UNAMIR ditujukan untuk membantu mengimplementasikan Arusha Accord,
namun karena gagal, akhirnya PBB melalui Dewan Keamanannya mengeluarkan Resolusi 912.
Konflik yang terjadi di Rwanda dapat dikatakan sebagai salah satu pelanggaran terhadap hukum
humaniter internasional yang juga merupakan bagian dari Hukum Internasional, karena pembunuhan
massal yang dilakukan terhadap warga yang tak terkait dalam perang tidak dapat dibenarkan.
Pembantaian suku Hutu terhadap 800.000 orang lebih dengan cara keji telah melanggar aturan dasar
dalam hukum humaniter internasional, yaitu membedakan antara warga sipil dengan prajurit perang
(combatant). Setelah masa genosida berakhir PBB membentuk Pengadilan Pidana Internasional
[Internationan Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR)] melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB No.
S/RES/955 tahun 1994. Dalam statutanya menyatakan bahwa lingkup kewenangan pengadilan tersebut
adalah mengadili mereka yang bertanggung tindak kejahatan internasional yang masuk dalam yurisdiksi
ICTR ini adalah: genosida (pasal 2); kejahatan terhadap kemanusiaan (pasal 3); dan pelanggaran pasal 3
seluruh Konvensi-konvensi Geneva 1949 beserta Protokol tambahan II tahun 1977 (pasal 4).Berikutnya
pada tahun 1994, Draft Statute for an International Criminal Court.
Tindakan-tindakan berikut dilarang dan akan tetap dilarang untuk dilakukan terhadap orang
orang tersebut di atas pada waktu dan di tempat apapun juga :
a. Tindakan kekerasan atas jiwa dan raga, terutama setiap macam pembunuhan, penyekapan,
perlakuan kejam dan penganiayaan;
b. Penyanderaan;
c. Perkosaan atas kehormatan pribadi, terutama perlakuan yang menghina dan merendahkan
martabat;
d. Menghukum dan menjalankan hukuman mati tanpa didahului keputusan yang dijatuhkan oleh
suatu pengadilan yang dibentuk secara teratur, yang memberikan segenap jaminan peradilan yang
diakui sebagai keharusan oleh bangsa-bangsa beradab.
8



8
ICRC Jakarta, Konvensi Jenewa 1949, (http://icrcjakarta.info/download/Konvensi%20Jenewa%201949.pdf)
diakses pada 19 Maret 2013 pukul 22.23