Anda di halaman 1dari 9

PENURUNAN KONSENTRASI TOTAL PETROLEUM HYDROCARBON PADA TANAH YANG

TERKONTAMINASI MINYAK BUMI MENGGUNAKAN ACTIVATED SLUDGE DENGAN


METODE BIOREMEDIASI
Sasqia Orina Safitri
1)
, Chandra Deasy Kusuma Wardani
2)
, Abubakar Tuhuloula, ST, MT
3)*
Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat
*Email: abubakarkulur@yahoo.com
Abstrak- Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, salah satunya adalah minyak
bumi. Banyak sumur-sumur yang dibuat untuk mengambil minyak bumi tersebut. Semakin banyaknya
kilang minyak tersebut, maka semakin banyak pula pencemaran yang terjadi akibat tumpahnya minyak
bumi ke permukaan tanah di sekitar sumur. Maka diperlukan suatu penanganan khusus untuk
meminimalisir dampak negatif akibat tumpahan minyak pada tanah yang dapat merugikan makhluk hidup
mengingat kandungannya yang bersifat toksik.
Penelitian ini bertujuan untuk mendegradasi limbah minyak bumi pada tanah di sekitar kilang
minyak bumi dengan menggunakan metode bioremediasi. Bioremediasi merupakan suatu metode
alternatif yang memanfaatkan proses metabolisme dari mikroorganisme dalam mendegradasi kandungan
minyak bumi atau Total Petroleum Hydrocarbon yang terkandung dalam tanah terkontaminasi minyak
bumi.
Penelitian ini berlangsung dalam tiga tahapan, yaitu persiapan pembuatan slurry, tahap persiapan
reaktor bioslurry dan tahap bioremediasi. Persiapan bahan baku dilakukan dengan cara mencampur tanah
terkontaminasi minyak bumi dengan akuades. Penelitian ini menggunakan 3 buah reaktor berupa silinder
drum dengan volume 4 liter dan dilengkapi dengan pengaduk dan sistem aerasi. Sistem aerasi dilakukan
secara kontinyu untuk menjaga kelangsungan hidup mikroorganisme yang terkandung dalam activated
sludge atau mixed culture. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi activated sludge 5%
dan 10% v/v.
Kata kunci: Total Petroleum Hydrocarbon, activated sludge, bioremediasi.
Abstract- Indonesia is the country rich in natural resources, one of which is petroleum. Many wells are
made to take the oil. The increasing number of oil refineries, the more the pollution caused by the oil spill
to the ground surface around the well. It would require a special handling to minimize the negative
impact of oil spills on land that can harm living things considering abortion that are toxic.
This study aimed to degrade petroleum waste on land around petroleum refinery using
bioremediation. Bioremediation is an alternative method that utilizes the metabolic processes of
microorganisms to degrade petroleum content or Total Petroleum Hydrocarbon embodied in petroleum
contaminated soil.
The study took place in three stages, namely slurry preparation, the preparation phase and phase
bioremediation bioslurry reactor. Preparation of raw materials made by mixing petroleum contaminated
soil with distilled water. This study used 3 pieces in the form of cylindrical drum reactor with a volume of
4 liters and equipped with a stirrer and aeration systems. Are continuous aeration system to maintain the
viability of microorganisms contained in activated sludge or mixed culture. The study was conducted by
varying the concentration of activated sludge 5% and 10% v / v.
Key Words: Total Petroleum Hydrocarbon, activated sludge, bioremediation.
PENDAHULUAN
Lumpur aktif (activated sludge) adalah
proses pertumbuhan mikroba tersuspensi yang
pertama kali dilakukan di Ingris pada awal abad
19. Sejak itu proses ini diadopsi seluruh dunia
sebagai pengolah air limbah domestik sekunder
secara biologi. Proses ini pada dasarnya
merupakan pengolahan aerobik yang mengoksidasi
material organik menjadi CO
2
dan H
2
O, NH
4
. dan
sel biomassa baru. Udara disalurkan melalui
pompa blower (diffused) atau melalui aerasi
mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan
mengendap di tangki penjernihan (Bitton, 1994).
Didalam mixed culture hasil proses
metabolis dari satu spesies dapat didegradasi oleh
spesies lainnya didalam culture berturut-turut
hingga mixed culture itu dapat mendegradasi
hidrokarbon. Spesies mikroba yang mendegradasi
terdistribusi luas di alam dan tidak terpaku pada
satu jenis saja. Beberapa jenis dari bakteri yang
dapat mendegradasi hidrokarbon adalah:
Pseudomonas, Brevundimonas, Sphingomonas,
Acinetobacter, Rhodococcus, Arthrobacter,
Corynebacterium, Bacillus, Ochrobacterium,
Stenotrophomonas, Burkholderia, Xanthomonas
dan Hyphomicrobium. Sedangkan untuk jamur
adalah Aspergillus, Penicillium, Beauveria,
Acremonium, Cladosporium, Fusarium,
Trichordema, Amorphoteca, Neosartorya,
Paecylomyces, Talaromyces dan Graphium, serta
lainnya lagi ( Morais et al, 2009).
Menurut Anna dan Malte (1994)
keberhasilan pengolahan limbah secara biologi
dalam batas tertentu diatur oleh kemampuan
bakteri untuk membentuk flok, dengan demikian
akan memudahkan pemisahan partikel dan air
limbah. Lumpur aktif adalah ekosistem yang
komplek yang terdiri dari bakteri, protozoa, virus,
dan organisme-organisme lain. Lumpur aktif
dicirikan oleh beberapa parameter, antara lain,
Indeks Volume Lumpur (Sludge Volume Index =
SVI) dan Stirred Sludge Volume Index
(SSVI). Perbedaan antara dua indeks tersebut
tergantung dari bentuk flok, yang diwakili oleh
faktor bentuk (Shape Factor = S).
Proses lumpur aktif dalam pengolahan air
limbah tergantung pada pembentukan flok lumpur
aktif yang terbentuk oleh mikroorganisme
(terutama bakteri), partikel inorganik, dan polimer
exoselular. Selama pengendapan flok, material
yang terdispersi, seperti sel bakteri dan flok kecil,
menempel pada permukaan flok. Pembentukan
flok lumpur aktif dan penjernihan dengan
pengendapan flok akibat agregasi bakteri dan
mekanisme adesi. Selanjutnya dinyatakan pula
bahwa flokulasi dan sedimentasi flok tergantung
pada hypobisitas internal dan eksternal dari flok
dan material exopolimer dalam flok, dan tegangan
permukaan larutan mempengaruhi hydropobisitas
lumpur granular dari reaktor lumpur anaerobik.
MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid)
dan MLVSS (Mixed Liqour Volatile Suspended
Solid), keduanya digunakan untuk mengukur
konsentrasi mikroorganisme didalam sistem
lumpur aktif. MLSS terkandung padatan volatil
dan inert didalam campuran larutan. MLVSS lebih
dikenal dengan bagian biologis yang aktif dalam
padatan didalam larutan campuran, seperti materi
selular mikroba yang organik dan menguap atau
terbakar pada 550
0
C. Total Suspended Solid (TSS)
dan Volatil Suspended Solid (VSS) yang ditentukan
melalui dengan metode standar 2540 D dan E yang
dilakukan berturut-turut. SVI dianalisis sebelum
reaksi berakhir dengan mengukur volume dalam
mililiter yang berada dalam 1 gr suspensi setelah
30 menit waktu pengendapan
(Malakahmad et al , 2011).
Minyak bumi didefinisikan sebagai
campuran dari gas alami, kondensat dan minyak
mentah. Minyak mentah biasanya adalah campuran
heterogen yang terdiri dari hampir keseluruhannya
adalah hidrokarbon yaitu dimana elemen
penyusunnya yaitu hidrogen dan karbon dengan
rasio 2 atom hidrogen dengan 1 atom karbon.
Minyak mentah ini juga mengandung elemen
seperti nitrogen, sulfur dan oksigen, semua
penyusun itu kurang dari 3% (v/v). Untuk ini juga
ditemukan penyusun yang sama, dengan
perbandingan kurang dari 1% (v/v), mengandung
posfor dan logam berat seperti vanadium dan nikel.
Minyak mentah dapat diklasifikasikan menurut
residu distilasi berturut-turut adalah adalah parafin,
naftalen atau aromatis dan berdasarkan berat
molekul penyusunnya, yaitu ringan, sedang atau
berat (Okoh, 2006).
Hidrokarbon petroleum dapat dibagi
menjadi empat bagian: senyawa jenuh, senyawa
aromatis, senyawa aspal (fenol, asam lemak, keton,
ester dan porfirin) dan resin (piridin, quinolines,
carbazoles, sulfoksida dan amida). Hidrokarbon-
hidrokarbon tersebut berbeda kerentanannya
terhadap serangan mikroba dan dulunya umunya
urutan dari penurunan tingkat kerentanan adalah
sebagai berikut: n-alkana > alkana rantai cabang >
senyawa aromatis dengan berat molekul rendah >
alkana siklik. Tingkat biodegradasi terlihat paling
tinggi pada senyawa jenuh, diikuti oleh senyawa
arometis yang ringan, kemudian senyawa aromatis
dengan berat molekul besar, dan senyawa polar
menunjukkan tingkat pendegradasian yang sangat
rendah (Leahy et al, 1990).
Total Petroleum Hidrokarbon (TPH)
adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan beberapa ratus senyawa kimia
yang awalnya berasal dari minyak mentah. Dalam
pengertian ini TPH merupakan benar-benar
campuran bahan kimia. TPH ini disebut
hidrokarbon karena hampir semua penyusunnya
adalah merupakan hidrogen dan karbon.
Kandungan bahan kimia yang terdapat didalam
minyak mentah adalah bervariasi, dan begitu pula
kandungan minyak bumi yang awalnya juga
merupakan bagian dari minyak mentah. Sebagian
besar produk yang mengandung TPH akan
terbakar. Beberapa cairan bening atau berwarna
terang yang mudah menguap, dan lain-lain yang
tebal, cairan gelap atau semi-padat yang tidak
menguap. Banyak dari produk ini memiliki
karakteristik dari bensin, minyak tanah, atau bau
berminyak. Karena masyarakat modern
menggunakan begitu banyak produk berbasis
minyak bumi (misalnya, bensin, minyak tanah,
bahan bakar minyak, minyak mineral, dan aspal),
kontaminasi lingkungan oleh TPH berpotensi
semakin meluas. Kontaminasi yang disebabkan
oleh produk minyak bumi berisi berbagai
hidrokarbon ini. Karena ada begitu banyak,
biasanya tidak praktis untuk mengukur masing-
masing komponen. Namun, hal ini berguna untuk
mengukur jumlah total dari semua hidrokarbon
ditemukan bersama-sama dalam suatu sampel
tertentu tanah, air, atau udara (Leahy et al, 1990).
Bioremediasi merupakan metode
alternatif yang menawarkan kemungkinan untuk
menghilangkan polutan beracun menggunakan
aktivitas biologis alami. Menurut definisi,
bioremediasi menggunakan organisme hidup,
utamanya mikroorganisme untuk menurunkan
pencemar lingkungan menjadi bentuk yang tidak
beracun. Bioremediasi ini alaminya menggunakan
bakteri atau jamur atau tanaman untuk
menurunkan atau menghilangkan racun yang
mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan
manusia atau lingkungan. Mikroorganisme dapat
ditemukan di area yang terkontaminasi atau
mikroorganisme tersebut diisolasi dari tempat
lainnya dan dibawa ke area yang terkontaminasi.
Komponen kontaminan diubah penyusunnya oleh
organisme hidup melalui reaksi yang bertempat
pada proses metabolis organisme tersebut.
Teknologi biorekator slurry adalah sebuah teknis
yang kompleks yang secara umum merupakan
perbandingan dari empat bagian, yaitu:
Penanganan dan pengkondisian instalasi untuk
tanah yang terkontaminasi, Kemampuan bioreaktor
itu sendiri, penanganan instalasi untuk tanah yang
ditangani dan pembuangannya, dan peralatan
tambahan untuk proses penanganan limbah. Dari
pengoperasiannya, bioreaktor slurry dapat
diklasifikasikan menjadi tiga yaitu batch, semi
kontinyu dan kontinyu. Jenis yang paling banyak
dipakai adalah batch. Klasifikasi lainnya yang
berguna dalam memisahkan akseptor elektron pada
proses biodegradasi adalah : aerobik (molekul
oksigen), anoxic ( nitrat dan bebrapa kation
logam), anaerobik ( reduksi sulfat, metanogenik,
fermentasi) dan campuran atau kombinasi akseptor
elektron (Ireri, 2008).
Biodegradasi minyak bumi dengan
menggunakan mikroorganisme dapat terjadi
dengan kondisi aerobik dan nonaerobik, sekalipun
ada gerakan yang berbeda dari masing-masing
organisme. Dibawah permukaan tanah,
biodegradasi minyak bumi terjadi utamanya
dibawah kondisi anaerobik. Keberhasilan
biodegradasi hidrokarbon minyak bumi tergantung
kepada aktivitas mikroorganisme dan kondisi
lingkungannya. Menurut Kadarwati et al (1994)
dalam Herdiyantoro (2005), mikroorganisme yang
banyak hidup dan berperan di lingkungan
hidrokarbon minyak bumi sebagian besar adalah
bakteri. Bakteri yang sesuai harus mempunyai
kemampuan fisiologi dan metabolik untuk
mendegradasi bahan pencemar. Menurut Mille
(1995) dalam Herdiyantoro (2005) bakteri mampu
beradaptasi pada lingkungan hidrokarbon melalui
beberapa cara, yaitu: (i) pembentukan bagian
hidrofobik pada dinding sel sehingga
meningkatkan afinitas sel terhadap hidrokarbon,
(ii) dihasilkannya surfaktan ekstraselular membran
sitoplasmik yang dapat menurangi toksisitas
hidrokarbon terhadap bakteri.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan secara batch di
Laboratorium Operasi Teknik Kimia/Laboratorium
Teknologi, Program Studi Teknik Kimia,
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru,
dengan menggunakan sampel tanah terkontaminasi
minyak bumi yang diperoleh dari lokasi
pengeboran minyak PT. PERTAMINA UBEP,
Tanjung-Tabalong, Kalimantan Selatan.
Sedangkan activated sludge yang digunakan dalam
penelitian ini diperoleh dari PT. Bridgestone
Kalimantan Plantation, Kalimantan Selatan.
ALAT
Bioreaktor aerobik dilengkapi dengan motor
pengaduk dan Sistem aerasi (aerator dan sparger),
oven, neraca analitik, pH meter, DO meter, cawan,
penyaring Buchner, aluminium foil, desikator,
furnace, shaker, seperangkat alat distilasi, corong
pemisah.
Gambar 1. Rangkaian Alat Bioreaktor
Keterangan Alat:
1. Motor Penggerak
2. Pipa pemasukan
Nutrient
3. Kontrol Suhu dan pH
4. Pengaduk
5. Kran
6. Aerator
BAHAN
Tanah terkontaminasi minyak bumi, activated
sludge (mix culture), glukosa, KH
2
PO
4
, Urea, N-
Hexane, Akuades, Na
2
SO
4
, kertas Saring
Gambar 2. Blok diagram prosedur bioremediasi
PROSEDUR KERJA
Pada proses bioremediasi, slurry yang berisi
campuran tanah dan air dengan perbandingan
20:80 dimasukkan ke dalam reaktor bioslurry (A
dan B). Kemudian dilakukan pengadukan dengan
kecepatan agitasi 90 rpm pada suhu ruang (28-
32
0
C) serta dilakukan penambahan aerasi pada
bioreaktor tersebut. Untuk bioreakto
r A kedalamnya masing-masing ditambahkan
suspensi activated sludge dengan konsentrasi 15%
(v/v), sedangkan untuk bioreaktor B konsentrasi
suspensi activated sludge yang ditambahkan
sebesar 20% (v/v). Secara periodik dilakukan
pengukuran temperatur, pH, DO (Dissolved
Oxygen), MLSS, MLVSS dan TPH sesuai dengan
ketentuan waktu pengukuran seperti tersebut
diatas. Setelah proses bioremediasi selesai maka
dilakukan pemisahan antara tanah dengan airnya
untuk selanjutnya dilakukan analisa akhir dari hasil
bioremediasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Waktu Terhadap Konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon Pada Variasi Konsentrasi
Activated Sludge (Mixed Culture)
Total Petroleum Hydrocarbon merupakan
suatu parameter pencemaran yang sangat
berbahaya pada ekosistim lingkungan disekitarnya.
Lahan yang tercemar minyak bumi juga berbahaya
terhadap kualitas air tanah. Pada penelitian ini
dilakukan pengamatan terhadap konsentrasi Total
Petroleum Hydrocarbon yang dilakukan proses
bioremediasi dengan variasi konsentrasi activated
sludge 15% dan 20%, berikut adalah grafik
hubungan antara waktu dengan Total Petroleum
Hydrocarbon:
Tanah tercemar minyak bumi
(Campuran air dan tanah dengan rasio 80:20)
Analisa pH, DO, MLSS, MLVSS
TPH
Proses Bioremediasi
Udara
Starter nutrient + Suspensi
activated sludge
Pemisahan tanah dan air
(dengan vacuum filter)
Analisa hasil
(TPH, MLVSS, MLSS)
Gambar 3. Hubungan Waktu dengan Total Petroleum Hydrocarbon
Dari gambar 3 Terlihat bahwa konsentrasi Total
Petroleum Hydrocarbon di dalam slurry berkurang
seiring bertambahnya waktu. Pada penambahan
konsentrasi activated sludge 15% (v/v) terlihat
bahwa konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon
mengalami penurunan pada minggu pertama
sampai minggu ke dua (interval hari ke-0 sampai
hari ke-14) cukup signifikan yaitu dari 9.990 g/g
menjadi 4.150 g/g. Dan pada minggu ke-6
konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon akhir
olahan sebesar 2.870 g/g.
Konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon
pada konsentrasi activated sludge 20% mengalami
penurunan lebih besar dibandingkan dengan
konsentrasi activated sludge 15%, ini disebabkan
mikroorganisme yang terkandung dalam activated
sludge 20% lebih banyak sehingga dapat lebih
baik dalam mereduksi limbah minyak bumi pada
lahan yang tercemar. Terlihat penurunan secara
signifikan pada hari ke-7 sebesar 14.247 g/g
menjadi 6.290 g/g dan pada hari ke-21 dari 4.610
g/g turun menjadi 2.880 g/g.
Proses ini menunjukan bahwa
mikroorganisme yang terdapat dalam activated
sludge merombak struktur minyak bumi dengan
cara memasukkan slurry yang mengandung limbah
minyak bumi ke dalam badan mikroorganisme itu
sendiri. Limbah minyak bumi tersebut akan
dirombak oleh mikroorganisme dengan
menggunakan proses metabolisme. Didalam tubuh
mikroorganisme terdapat enzim yang berperan
sebagai perombak limbah minyak bumi, kemudian
minyak bumi di keluarkan lagi dari badan
mikroorganisme menjadi bentuk yang lebih tidak
berbahaya. Dalam kondisi operasi yang dijaga,
proses perombakan Total Petroleum Hydrocarbon
akan maksimal. Mikroorganisme yang hidup
didalam campuran akan dapat memaksimalkan
kerja metabolisme dalam mendegradasi limbah
minyak bumi menjadi bentuk yang tidak berbahaya
di alam sehingga tidak ada pencemar lingkungan
yang perlu ditangani dengan serius kembali.
Hasil degradasi Total Petroleum
Hydrocarbon ini menunjukan bahwa proses
bioremediasi dengan memanfaatkan activated
sludge sudah sesuai dengan persyaratan baku mutu
yang ditetapkan oleh pemerintah. Penurunan ini
menunjukan bahwa mikroorganisme yang terdapat
di dalam activated sludge bekerja secara baik
dalam mereduksi tanah yang terkontaminasi
minyak bumi.
Pengaruh Konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon Terhadap Waktu untuk Konsentrasi MLVSS
dan Activated Sludge 15% (v/v)
Gambar 4. Hubungan antara Waktu Terhadap Konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon untuk Konsentrasi MLVSS
dan Activated Sludge 15% (v/v)
1000
5000
9000
13000
17000
0 7 14 21 28 35
T
P
H

(

g
/
g
)
Hari
15%
20%
0
2000
4000
6000
8000
10000
0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33
T
P
H

(

g
/
g
)
Waktu (hari)
Berdasarkan gambar 4. Terlihat bahwa
konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon
menurun seiring dengan meningkatnya nilai
MLVSS berarti meningkatnya jumlah
mikroorganisme di dalam activated sludge
tersebut. Menurunnya konsentrasi Total Petroleum
Hydrocarbon ini disebabkan terdegradasinya
komponen penyusun minyak bumi tersebut
menjadi bentuk yang lebih tidak berbahaya.
Kemudian terlihat bahwa nilai dari MLVSS
mengalami fluktuasi. Pada hari ke-27 nilai
MLVSS mengalami penurunan, ini dikarenakan
kondisi operasi yang terkadang berubah sehingga
pertumbuhan mikroorganisme di dalam activated
sludge mengalami perubahan. Pertumbuhan
mikroorganisme tergantung pada kondisi dimana
mikroorganisme tersebut hidup (Herdiyantoro,
2005; Basharudin, 2008; Shukla, 2010; Ireri,
2008). Proses aerasi dilakukan agar asupan
oksigen untuk mikroorganisme terpenuhi sehingga
proses metabolisme menjadi lancar. Bakteri
aerobik menggunakan oksigen untuk
metabolismenya. Enzim oksigenase dan
monooksigenase diperlukan dalam mendegradasi
limbah minyak bumi. Dimana enzim
monoksigenase mendegradasi rantai alkana
menjadi bentuk alkohol dan dioksidasi lanjut
hingga terbentuk asam lemak. Terhambatnya
pertumbuhan mikroorganisme tersebut
dikarenakan terganggunya asupan oksigen atau
nutrisi sehingga mikroorganisme memasuki fase
lag yaitu fase dimana mikroorganisme tidak
berkembang biak karena mempertahankan
kehidupannya. Jika kondisi operasi kembali
normal, mikroorganisme tersebut kembali
melakukan proses metabolisme dan berkembang
biak dengan baik. Mikroorganisme menggunakan
oksigen untuk membantunya menggabungkan
enzim-enzim yang ada di dalam mikroorganisme
itu sendiri untuk menghancurkan lapisan minyak.
Selain menjaga ketersediaan oksigen terlarut,
temperatur operasi juga diperhatikan. Umumnya
proses bioremediasi berlangsung pada suhu kamar,
yaitu sekitar 20-35
0
C. Dimana bakteri yang
umumnya adalah golongan mesofilik bekerja
optimal pada suhu tersebut. Pada suhu yang
rendah, viskositas minyak bumi meningkat dan
volatilitas dari alkana rantai pendek menurun
sehingga menurunkan kemampuan
mikroorganisme dalam mendegradasi limbah
minyak bumi walaupun ada pula bakteri yang
bekerja pada kondisi suhu rendah, namun akan
lebih optimum pada suhu kamar. Begitupula jika
suhu terlalu tinggi, kemungkinan bakteri akan
bermutasi atau bakteri mesofilik mati akan lebih
besar walaupun ada beberapa bakteri yang tahan
hidup pada suhu tinggi. Pada suhu kamar, bakteri
mesofilik dapat berkembang biak dengan baik
yang diindikasikan dengan meningkatnya nilai
MLVSS. Ketersediaan nutrisi juga berpengaruh
terhadap konsentrasi mikroorganisme, jika nutrisi
yang tersedia mencukupi, mikrroganisme akan
dapat berkembang biak dengan baik sehingga akan
lebih optimal dalam mendegradasi limbah minyak
bumi.
pH yang sesuai pada kondisi bioremediasi
dengan suhu kamar adalah sekitar 6-9. Jika range
pH masih berada dicakupan nilai tersebut maka
proses bioremediasi masih dapat berjalan
optimum. Pada hasil pengamatan nilai pH yang
didapat sekitar 5-9 yang mengindikasikan bahwa
kondisi operasi masih cocok untuk lingkungan
hidup bateri mesofilik. Perubahan pH dimana
semakin tinggi nilai MLVSS maka pH akan
mengalami penurunan. Bertambahnya nilai
MLVSS yang berarti konsentrasi mikroorganisme
didalam activated sludge yang semakin meningkat
menyebabkan proses degradasi Total Petroleum
Hydrocarbon akan semakin optimal karena
banyaknya konsentrasi mikroorganisme yang
melakukan aktivitas metabolisme dalam
merombak limbah minyak bumi menjadi bentuk
yang tidak berbahaya seperti asam lemak dan
kemudian menjadi asam asetat dan asam
propionat. Terbentuknya asam asetat dan asam
propionat hasil degradasi alkana yang
menyebabkan nilai pH medium menurun
(Rosenberg, E., Legmann,R., Kushmaro, A.,
Taube, R., dan Ron, E.Z. 1992, Nugroho, 2006
didalam Aliyanta, dkk, 2011).
Pengaruh Waktu Terhadap Konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon dan MLVSS untuk
Konsentrasi Activated Sludge 20% (v/v)
Gambar 5. Hubungan Waktu Terhadap Konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon untuk Konsentrasi MLVSS dan
Activated Sludge 20% (v/v)
Dari gambar 5. Terlihat bahwa konsentrasi
Total Petroleum Hydrocarbon pada konsentrasi
activated sludge 20% juga menurun seiring dengan
meningkatnya nilai MLVSS seperti pada
konsentrasi activated sludge 15%. Sama halnya
seperti sebelumnya, menurunnya kadar Total
Petroleum Hydrocarbon ini juga dikarenakan
terdegradasinya komponen penyusun minyak bumi
tersebut menjadi bentuk yang lebih tidak
berbahaya. Dimana semakin banyak
mikroorganisme yang terkandung didalam suatu
campuran, maka kemampuan dalam mendegradasi
polutan minyak bumi juga akan semakin
maksimal. Konsentrasi Total Petroleum
Hydrocarbon yang menurun drastis pada minggu
pertama menunjukkan keberhasilan activated
sludge dalam mereduksi kandungan limbah
minyak bumi tersebut. Konsentrasi activated
sludge sebesar 20% memberikan efek yang lebih
optimal dalam mendegradasi Total Petroleum
Hydrocarbon. Lebih banyaknya konsentrasi
activated sludge didalam campuran menyebabkan
Total Petroleum Hydrocarbon yang terkandung
didalam campuran juga lebih cepat terdegradasi
sebab mikroorganisme tersebut memaksimalkan
kerja metabolismenya dalam mengolah limbah
minyak bumi tersebut.
Pada hari ke-27 nilai MLVSS mengalami
penurunan, ini dikarenakan kondisi operasi yang
terkadang berubah sehingga pertumbuhan
mikroorganisme di dalam activated sludge
mengalami fluktuasi. Pertumbuhan
mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan atau kondisi lingkungan dimana
mikroorganisme tersebut hidup (Herdiyantoro,
2005; Basharudin, 2008; Shukla, 2010; Ireri,
2008). Penurunan nilai MLVSS disebabkan
terganggunya asupan oksigen atau nutrisi sehingga
pertumbuhan mikroorganisme tersebut terhambat
dan memasuki fase lag yaitu fase dimana
mikroorganisme tidak berkembang biak karena
mempertahankan kehidupannya. Mikroorganisme
ini menggunakan oksigen untuk membantunya
menggabungkan enzim-enzim yang ada didalam
mikroorganisme itu sendiri untuk menghancurkan
lapisan minyak. Pertumbuhan mikrorganisme yang
semakin meningkat yang tidak dibarengi dengan
kontrol kondisi yang maksimal menyebabkan nilai
MLVSS yang fluktuatif. Mikroorganisme yang
umumnya bakteri aerobik akan mempertahankan
kehidupannya dengan menggunakan oksigen
terlarut yang tersedia. Semakin banyak
mikroorganisme yang terdapat didalam campuran,
maka kebutuhan oksigen terlarut juga semakin
meningkat, yang jika tidak dipenuhi, maka
mikroorganisme akan berusaha untuk
mempertahakan hidupnya saja tanpa berkembang
bia. Kemungkinan sebagian bakteri mengalami
fase kematian juga tinggi sehingga nilai MLVSS
menurun.
Selain asupan oksigen terlarut, asupan
nutrisi juga berpengaruh terhadap kelangsungan
hidup mikroorganisme. Asupan nutrisi yang
mengandung komponen yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme dengan jumlah terbatas akan
membatasi pula terhadap perkembangbiakan
mikroorganisme tersebut. Dimana senyawa-
senyawa seperti karbon, nitrogen dan posfor
berfungsi terhadap perkembangbiakan
mikroorganisme. Jika jumlahnya terbatas maka
kemampuan mikroorganisme dalam
memperbanyak diri juga menurun, sehingga
diindikasikan dengan menurunnya nilai MLVSS.
Semua kondisi operasi berhubungan yang intinya
jika tidak terkondisikan dengan baik sesuai dengan
kebutuhan mikroorganisme untuk berkembang
biak dan bertahan hidup, maka konsentrasi
mikroorganisme didalam campuran dapat
menurun. Jika kondisi operasi kembali normal,
mikroorganisme tersebut kembali melakukan
1000
5000
9000
13000
17000
0 10 20 30 40
T
P
H

(

g
/
g
)
Waktu (hari)
metabolisme dan berkembang biak dengan baik.
Suhu dan pH juga merupakan kondisi operasi yang
harus dijaga untuk proses bioremediasi yang
optimal.
Sama halnya dengan konsentrasi
activated sludge 15%, bertambahnya nilai
MLVSS yang berarti konsentrasi mikroorganisme
didalam activated sludge yang semakin meningkat
menyebabkan proses degradasi Total Petroleum
Hydrocarbon akan semakin optimal karena
banyaknya konsentrasi mikroorganisme yang
melakukan aktivitas metabolisme dalam
merombak limbah minyak bumi menjadi bentuk
yang tidak berbahaya seperti asam lemak dan
kemudian menjadi asam asetat dan asam
propionat. Terbentuknya asam asetat dan asam
propionat hasil degradasi alkana yang
menyebabkan nilai pH medium menurun
(Rosenberg, E., Legmann,R., Kushmaro, A.,
Taube, R., dan Ron, E.Z. 1992, Nugroho, 2006
didalam Aliyanta, dkk, 2011).
Terlihat bahwa penurunan konsentrasi
Total Petroleum Hydrocarbon pada konsentrasi
activated sludge 20% lebih signifikan
dibandingkan dengan konsentrasi activated sludge
15%. Hal ini menunjukkan bahwa proses
bioremediasi lebih optimum dengan konsentrasi
activated sludge 20% dimana nilai konsentrasi
Total Petroleum Hydrocarbon menurun lebih
signifikan dengan lebih banyak konsentrasi
mikroorganisme yang ada didalam campuran
untuk mengurai limbah minyak bumi
menggunakan proses metabolismenya.
KESIMPULAN
Efek lumpur aktif dalam penurunan konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon pada tanah yang tercemar
minyak bumi dengan metode bioremediasi menunjukkan penurunan yang signifikan, lumpur aktif mampu
mereduksi limbah minyak bumi dengan baik. Hasil konsentrasi Total Petroleum Hydrocarbon untuk
variasi lumpur aktif 15% dari 9.990 g/g turun hingga 2.870 g/g dan variasi lumpur aktif 20% dari
16.170 g/g turun hingga 1.970 g/g.
DAFTAR PUSTAKA
Aliyanta, Barokah; Sumardin, La Ode; Mujab, Ahmad Saepul. 2011. Penggunaan Biokompos dalam
Bioremediasi Lahan Tercemar Limbah Minyak Bumi. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi
Badan Tenaga Nuklir Nasional: Jakarta Selatan.
Alloway, B. J and Ayres, D. C. 1993. Chemical Principles of Environmental Pollution. University of
London: UK.
Anna, Zitta and Malte, Hermansson. 1994. Effects of Ionic Strength on Bacterial Adhesion and Stability
of Flocs in a Wastewater Activated Sludge System. America Society for biology: United State of
America.
Astri, Nugroho. 2006. Biodegradasi Sludge Minyak Bumi dalam Skala Mikrokosmos. Universitas
Trisakti: Jakarta.
Atlas. M, Ronald. 1981. Bioremediation Of Pertroleum Pollutants. Department of Biology, University of
Louisville: USA .
Bitton, G. 1994. Wastewater Microbiology. Wiley-Liss Pub: New York.
Budianto, Hery. 2009. Perbaikan Lahan Terkontaminasi Minyak Bumi Secara
Bioremediasi.http://www.iec.co.id/artikel/perbaikan-lahanterkontaminasi-minyak-bumi-secara
bioremediasi.
Herdiyantoro, Diyan. 2005. Biodegradasi Hidrokarbon Minyak Bumi oleh Bacillus sp. Galur ICBB 7859
dan ICBB 7865 dari Ekosistem Air Hitam Kalimantan Tengan dengan Penambahan Surfaktan.
Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Ireri, V Robles-Gonzlez, Fabio Fava and Hctor M Poggi-Varaldo. 2008. A Review On Slurry
Bioreactor For Bioremediation Of Soil And Sediments. Enviromental Biotechnology R&D group:
Italy.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.123. 2003.
Leahy, Joseph G and Colwell, Rita R. 1990. Microbial Degradation Of Hydrocarbons In The
Enviroment. Univesity of Maryland: Maryland.
Morais , Eduardo Beraldo de and Maria, Samia Tauk-Tornisielo. 2009. Biodegradation Of Oil Refinery
Residues Using Mixed Culture Of Microorganisms Isolated From Landfarming. Estadual Paulista
University: Brasil.
Malakahmad, Amirhossein., Eisakhani, Amirhesam Hasani., Mahdieh, Isa,. Mohamed Hasnain. 2011.
Sequencing Batch Reactor (SBR) For Removal Of Hg
2+
And Cd
2+
From Synthetic Petrochemical
Factory Wastewater. Islamic Azad University: Iran.
Nano, G; Borroni, A; Rota, R. 2003. Combined Slurry and Solid-Phase Bioremediation of Diesel
Contaminated Soils. Politecnico Di Milano: Italy.
Okoh, Anthony. 2006. Biodegradation Alternative In The Cleanup Of Petroleum Hydrocarbon Pollutant.
University of Port Hare : South Africa.
Peng, Jian and Xue, Gaogao. 2006. Mathematical Modeling of Hollow-fiber Membrane System in
Biological Wastewater Treatment. University of Saskatchewan: Kanada.
Risk Reduction Engineering Laboratory. Pilot-Scale Demontration of a Slurry Phase Biological Reactor
for Creosote-Contaminated Soil. U.S Enviromental Protection Agency: Ohio
Shukla, Khesav Prrasad., Singh, Nand Kumar., dan Sharma, Shives. 2010.
Bioremediation: Developments, Current Practices and Perspectives, Motilal Nehru National
Institute of Technology: India.
Wijhar Utami, Ayu Azhar. 2010. Pengelolaan Kualitas Lingkungan Bioremediasi Minyak Bumi.
Universitas Lambung Mangkurat: Banjarbaru.

Anda mungkin juga menyukai