Anda di halaman 1dari 28

1

REFERAT
BRONKIEKTASIS DAN ASPEK RADIOLOGI







PEMBIMBING :
dr. Herman W. Hadiprodjo, Sp. Rad
dr. Linda Supardi, Sp. Rad

Disusun Oleh :
SISKA RAHMITA SARI
406138030

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
KEPANITERAAN KLINIK RADIOLOGI
RUMAH SAKIT SUMBER WARAS
PERIODE 2 JUNI 2014 5 JULI 2014



2

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga referat dengan judul Bronkiektasis dan
Aspek Radiologi dapat terselesaikan dengan baik dan pada waktunya.
Adapun maksud dari penyusun referat ini adalah memenuhi syarat Kepaniteraan
Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara di Rumah Sakit Sumber Waras
periode 2 Juni 2014 5 Juli 2014. Selain itu referat ini juga bertujuan sebagai menambah ilmu
pengetahuan dan wawasan bagi kita semua mengenai Bronkiektasis.
Pada kesempatan ini, tidak lupa juga penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sedalam-dalamnya kepada :
1. dr. Med jan Djukardi, selaku Direktur Rumah Sakit Sumber Waras
2. dr. Herman W. Hadiprodjo, Sp. Rad, selaku SMF Kepaniteraan Klinik Radiologi FK
UNTAR
3. dr. Linda Supardi, Sp. Rad, selaku SMF Bagian Radiologi RS. Sumber Waras dan
dokter pembimbing kepaniteraan
4. dr. Sofie Utami, Sp. Rad, selaku dokter pembimbing kepaniteraan
5. seluruh staf medis dan non-medis, serta
6. rekan-rekan anggota Kepaniteraan Klinik Radiologi RS. Sumber Waras periode 2
Juni 2014 5 Juli 2014.
dr. Penulis menyadari bahwa referat ini jauh dari sempurna, maka penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar referat ini menjadi
lebih baik dan dapat berguna bagi semua yang membacanya. Penulis juga ingin meminta maaf
yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kekurangan dalam penulisan referat ini.
Salam Hormat,


Penulis
3

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................ 2
Daftar isi ........................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................. 4
Tujuan .............................................................................................. 4
BAB II Tinjauan Pustaka
I. Anatomi .................................................................................... 6
II. Definisi ..................................................................................... 8
III. Epidemiologi ............................................................................. 8
IV. Etiologi ..................................................................................... 9
V. Klasifikasi ................................................................................. 11
VI. Patofisiologi .............................................................................. 11
VII. Patogenesis ............................................................................... 12
VIII. Patologi Anatomi ................................................................. 12
IX. Diagnosis ..................................................................................
Gambaran Klinis ............................................................. 13
Pemeriksaan Laboratorium ............................................. 15
Gambaran Radiologi ....................................................... 15
Spirometri ........................................................................ 17
X. Diagnosis Banding .................................................................... 17
XI. Penatalaksanaan ........................................................................ 18
XII. Pencegahan ............................................................................... 21
XIII. Komplikasi ........................................................................... 22
XIV. Prognosis ............................................................................. 22
Lampiran ......................................................................................................... 23
Daftar Pustaka .................................................................................................. 28
4

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latarbelakang

Bronkiektasis merupakan pelebaran dan distorsi bronkus ukuran sedang (diameter jalan
nafas >2 mm) yang bersifat permanen dan irreversibel. Dilatasi bronkus sering berhubungan
dengan pneumonia akut dan dengan beberapa tipe atelektasis, tetapi pada pneumonia atau
atelektasis, dilatasi akan sembuh sendiri (90% dalam 3 bulan). Bronkiektasis bukan merupakan
penyakit tunggal, dapat terjadi melalui berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa
keadaan yang mengenai dinding bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang
mengganggu sistem pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas, atau mungkin muncul
di satu atau dua tempat. Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran pada bronkus
yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang berada dibawahnya sering
membentuk jaringan parut dan menyempit. Kadang-kadang bronkiektasis terjadi pada bronkus
yang lebih besar, seperti yang terjadi pada aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatu
keadaan yang disebabkan oleh adanya respon imunologis terhadap jamur Aspergillus).

Di negara barat angka kematian dan kesakitan terus meningkat, kondisi ini tetap menjadi
salah satu alasan untuk menjadi perhatian mengenai angka kesakitan di negara berkembang.
Berbagai macam faktor telah diidentifikasi sebagai predisposisi terjadinya bronkiektasis fibrosis
non kistik (non-CF). Infeksi berulang, defisiensi imun, kemasukan benda asing, asma,
tuberculosis dan diskinesia primer bulu getar adalah beberapa hal yang menjadi faktor resiko.
Bronkiektasis post infeksi pada penderita normal akan sering menyertai dan di negara
berkembang beberapa pasien dengan kelainan tersebut memiliki penyakit sistemik yang
mendasari.

II. Tujuan

Penulisan refrat tentang bronkiektasis ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi dari Bronkiektasis.
5

2. Mengetahui epidemiologi Bronkiektasis.
3. Memahami faktor risiko yang berpengaruh, etiologi, dan patogenesis dari Bronkiektasis.
4. Mengetahui penatalaksanaan dari Bronkiektasis.
5. Mengetahui komplikasi dan prognosis Bronkiektasis.




























6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI
Cabang utama bronkus kanan dan kiri akan bercabang menjadi bronkus lobaris dan
bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus-menerus menjadi bronkus yang ukurannya
semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu bronkiolus yang tidak
mengandung alveoli. Bronkiolus terminalis mempunyai diameter kurang lebih 1 mm.
Bronkiolus tidak diperkuat oleh kartilago tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya
dapat berubah. Seluruh saluran udara sampai pada tingkat ini disebut saluran penghantar udara
karena fungsinya menghantarkan udara ke tempat pertukaran gas terjadi.
Setelah bronkiolus terdapat asinus yang merupakan unit fungsional dari paruparu.
Asinus terdiri atas bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan sakkus alveolaris terminalis.
Asinus atau kadang disebut lobulus primer memiliki diameter 0,5 sampai 1 cm. Terdapat sekitar
23 percabangan mulai dari trakea sampai sakkus alveolaris terminalis. Alveolus dipisahkan dari
alveolus di dekatnya oleh septum. Lubang pada dinding ini dinamakan pori-pori Kohn yang
memungkinkan komunikasi antara sakkus. Alveolus hanya selapis sel saja, namun jika seluruh
alveolus yang berjumlah sekitar 300 juta itu dibentangkan akan seluas satu lapangan tennis.
Alveolus pada hakikatnya merupakan gelembung yang dikelilingi oleh kapiler-kapiler
darah. Batas antara cairan dengan gas akan membentuk suatu tegangan permukaan yang
cenderung mencegah ekspansi pada saat inspirasi dan cenderung kolaps saat ekspirasi. Di
sinilah letak peranan surfaktan sebagai lipoprotein yang mengurangi tegangan permukaan dan
mengurangi resistensi saat inspirasi sekaligus mencegah kolaps saat ekspirasi.
Pembentukan surfaktan oleh sel pembatas alveolus dipengaruhi oleh kematangan sel-sel
alveolus, enzim biosintetik utamanya alfa anti tripsin, kecepatan regenerasi, ventilasi yang
adekuat serta perfusi ke dinding alveolus. Defisiensi surfaktan, enzim biosintesis serta
mekanisme inflamasi yang berjung pada pelepasan produk yang mempengaruhi elastisitas paru
menjadi dasar patogenesis emphysema, dan penyakit lainnya.
7

Bronkus merupakan percabangan dari trachea. Terdiri dari bronkus dextra dan bronchus
sinistra :
Bronkus Dextra, mempunyai bentuk yang lebih besar, lebih pendek dan letaknya lebih
vertikal daripada bronkus sinistra. Hal ini disebabkan oleh desakan dari arcus aortae pada
ujung caudal trachea ke arah kanan, sehingga benda-benda asing mudah masuk ke dalam
bronkus dextra. Panjangnya kira-kira 2,5 cm dan masuk kedalam hilus pulmonis setinggi
vertebra thoracalis VI. Vena Azygos melengkung di sebelah cranialnya. Ateria pulmonalis
pada mulanya berada di sebelah inferior, kemudian berada di sebelah ventralnya.
Membentuk tiga cabang (bronkus sekunder), masing-masing menuju ke lobus superior,
lobus medius, dan lobus inferior. Bronkus sekunder yang menuju ke ke lobus superior
letaknya di sebelah cranial a.pulmonalis dan disebut bronkus eparterialis. Cabang bronkus
yang menuju ke lobus medius dan lobus inferior berada di sebelah caudal a.pulmonalis
disebut bronkus hyparterialis. Selanjutnya bronkus sekunder tersebut mempercabangkan
bronkus tertier yang menuju ke segmen pulmo.
Bronkus Sinistra, mempunyai diameter yang lebih kecil, tetapi bentuknya lebih panjang
daripada bronkus dextra. Berada di sebelah caudal arcus aortae, menyilang di sebelah
ventral oesophagus, ductus thoracicus, dan aorta thoracalis. Pada mulanya berada di
sebelah superior arteri pulmonalis, lalu di sebelah dorsalnya dan akhirnya berada di sebelah
inferiornya sebelum bronkus bercabang menuju ke lobus superior dan lobus inferior,
disebut letak bronkus hyparterialis. Pada tepi lateral batas trachea dan bronkus terdapat
lymphonodus tracheobronchialis superior dan pada bifurcatio trachea (di sebelah caudal)
terdapat lymphonodus tracheobronchialis inferior.
Bronkus memperoleh vascularisasi dari a.thyroidea inferior. Innervasinya berasal dari
N.vagus, n. Recurrens, dan truncus sympathicus.





8

II. DEFINISI

Bronkiektasis merupakan pelebaran menetap dari bronkus dan bronkiolus akibat
kerusakan otot dan jaringan elastik penunjang, disebabkan atau berkaitan dengan infeksi
nekrotikans kronis.
Bronkiektasis merupakan penyakit akibat obstruksi atau infeksi persisten yang
ditimbulkan oleh berbagai penyebab. Jika sudah terbentuk, bronkiektasis akan menimbulkan
kompleks gejala yang didominasi oleh batuk dan pengeluaran sputum purulent dalam jumlah
yang besar.
Bronkiektasis adalah pelebaran bronkus yang disebabkan oleh kelemahan dinding
bronkus yang sifatnya permanen. Diagnosis bronkiektasis dibantu dengan pemeriksaan
bronkografi, tapi akhir-akhir ini bronkografi jarang dilakukan dan digantikan dengan
pemeriksaan High Resoluted Computed Tomography (HRCT). Bronkiektasis sering
dikategorikan penyakit infeksi saluran pernapasan dengan diagnosis bronkiektasis terinfeksi.

III. EPIDEMIOLOGI

Bronkiektasis adalah penyebab kematian yang sangat penting pada Negara-negara
berkembang. Di Negara maju seperti AS, bronkiektasis mengalami penurunan sesuai dengan
kemajuan pengobatan. Prevalensi bronkiektasis lebih tinggi pada penduduk dengan golongan
sosial ekonomi yang rendah. Prevalensi bronkiektasis lebih tinggi pada penduduk dengan
golongan sosioekonomi yang rendah.

Bronkiektasis umumnya terjadi pada penderita dengan
umur rata-rata 39 tahun, terbanyak pada usia 60 80 tahun. Sebab kematian yang terbanyak
pada bronkiektasis adalah karena gagal napas. Lebih sering terjadi pada perempuan daripada
laki-laki, dan yang bukan perokok.




9

IV. ETIOLOGI

Bronkiektasis sampai sekarang masih belum jelas. Namun diduga bronkiektasis dapat
timbul secara kongenital maupun didapat.

1. Kelainan Kongenital
Faktor genetik atau faktor pertumbuhan dan perkembangan memegang peranan penting.
Bronkiektasis yang timbul kongenital biasanya mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada
satu atau kedua bronkus. Selain itu, bronkiektasis kongenital biasanya menyertai penyakit-
penyakit kongenital seperti Fibrosis kistik, Kertagener Syndrome, William Campbell
syndrome, Mounier-Kuhn Syndrome, dan lainnya.

2. Kelainan Didapat
Bronkiektasis sering merupakan kelainan didapat dan kebanyakan merupakan proses
berikut:
a. Infeksi Paru Berulang
Infeksi saluran nafas akut, misalnya bronkopneumonia, menyebabkan destruksi jaringan
peribronkial sehingga terjadi penarikan dinding bronkus dan menyebabkan dilatasi bronkus.
Bronkiektasis pada umumnya dijumpai pada individu yang mempunyai rekuren dan
infeksi saluran pernapasan bawah dalam jangka waktu lama.
Infeksi dapat berupa campak, pertusis, infeksi adenovirus, infeksi bakteri contohnya
Klebsiella, Staphylococcus atau Pseudomonas, influenza, tuberkulosa, serta infeksi
mikoplasma.
b. Obstruksi Bronkus
Sebagian besar cabang bronkus yang kecil, akibat adanya aspirasi mukus masuk ke
dalam lumen bronkus yang menyebabkan kolaps bagian distal, keadaan ini menyebabkan
peningkatan tekanan intraluminer proksimal dan terjadi dilatasi bronkus. Bila terjadi infeksi
pada bronkus yang mengalami dilatasi ini serta terjadi destruksi dinding bronkus, maka akan
terjadi dilatasi bronkus yang permanen. Obstruksi dapat disebabkan oleh :
10

Benda asing yang terisap.
Pembesaran kelenjar getah bening di hilus yang menyebabkan bronkiektasis
pada distal bronkus.
Tumor paru.
Sumbatan oleh lender
Kondisi tersebut menyebabkan gangguan mekanisme mucocilliary clearance dan
gangguan ini akan menyebabkan berkembangnya infeksi bakteri.
c. Cedera Penghirupan
Cedera karena asap, gas atau partikel beracun
Menghirup getah lambung dan partikel makanan
d. Kelainan Imunologik
Sindroma kekurangan imunoglobulin
Disfungsi sel darah putih
Defisiensi komplemen
Infeksi HIV
Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti artritis rematoid,
Kolitis ulcerative
e. Keadaan lain
Penyalahgunaan obat (misalnya heroin)






11

V. KLASIFIKASI

Berdasarkan kelainan anatomis bronkiektasis, dibagi 3 variasi:
1. Bronkiektasis tabung (tubular, silindris, fusiformis), merupakan bronkiektasis yang
paling ringan dan sering ditemukan pada bronkiektasis yang menyertai bronchitis
kronik.
2. Bronkiektasis Kantong (saccular) merupakan bentuk bronkiektasis yang klasik, ditandai
dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. Bentuk ini
kadang kadang berbentuk kisata (cystic bronkiektasis).
3. Bronkiektasis varicose merupakan bentuk diantara bentuk tabung dan kantung. Istilah ini
digunakan karena perubahan bentuk bronkus menyerupai varises pembuluh vena.

VI. PATOFISIOLOGI
Bronkiektasis menggambarkan suatu keadaan dimana terjadi dilatasi bronkus yang
ireversibel (> 2 mm dalam diameter) yang merupakan akibat dari destruksi komponen muskular
dan elastis pada dinding bronkus. Rusaknya kedua komponen tersebut adalah akibat dari suatu
proses infeksi, dan juga oleh pengaruh cytokine inflamasi, nitrit okside dan netrophilic protease
yang dilepaskan oleh system imun tubuh sebagai respon terhadap antigen.
Bronkiektasis dapat terjadi pada kerusakan secara langsung dari dinding bronkus atau
secara tidak langsung dari intervensi pada pertahanan normal jalan nafas. Pertahanan jalan nafas
terdiri dari silia yang berukuran kecil pada jalan nafas. Silia tersebut bergerak berulang-ulang,
memindahkan cairan berupa mukus yang normal melapisi jalan nafas. Partikel yang berbahaya
dan bakteri yang terperangkap pada lapisan mukus tersebut akan dipindahkan naik ke
tenggorokan dan kemudian batukkan keluar atau tertelan.
Terlepas dari apakah kerusakan tersebut diakibatkan secara langsung atau tidak langsung,
daerah dinding bronkus mengalami kerusakan dan menjadi inflamasi yang kronik. Bronkus
yang mengalami inflamasi akan kehilangan keelastisannya, sehingga bronkus akan menjadi
lebar dan lembek serta membentuk kantung atau saccus yang menyerupai balon yang kecil.
Inflamasi juga meningkatkan sekresi mukus. Karena sel yang bersilia mengalami kerusakan,
sekret yang dihasilkan akan menumpuk dan memenuhi jalan nafas dan menjadi tempat
12

berkembangnya bakteri. Yang pada akhirnya bakteri-bakteri tersebut akan merusak dinding
bronkus, sehingga menjadi lingkaran setan antara infeksi dan kerusakan jalan nafas.

VII. PATOGENESIS
Kelemahan dinding bronkus pada bronkiektasis dapat kongenital ataupun didapat
(acquired) yang disebabkan karena adanya kerusakan jaringan. Bronkiektasis kongenital sering
berkaitan dengan adanya dekstrokardia dan sinusitis, jika ketika keadaan ini (bronkiektasis,
dekstrokardia dan sinusitis ) hadir bersamaan, keadaan ini disebut sebagai sindrom Kartagener.
Jika disertai pula dengan dilatasi trakea dan bronkus utama maka kelainan ini disebut
trakeobronkomegali.
Bronkiektasis yang didapat sering berkaitan dengan obstruksi bronkus. Dilatasi bronkus
mungkin disebabkan karena kerusakan dinding bronkus akibat peradangan seperti pada penyakit
endobronkial tuberkulosis. Bronkiektasis non-tuberkulosis cenderung terjadi pada bagian paru
yang bergantung (dependent part) yang menyebabkan aliran drainase discharge terhambat.
Gaya berat menyebabkan akumulasi sputum sehingga infeksi dan supurasi lebih mudah terjadi.

VIII. PATOLOGI ANATOMI

Terdapat beberapa perubahan morfologi yang dapat terjadi pada bronkiektasis, antara
lain:
a. Dinding bronkus
Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses inflamasi yang
sifatnya destruktif dan ireversibel. Pada pemeriksaan patologi anatomi sering ditemukan
berbagai tingkatan keaktifan proses inflamasi serta terdapat proses fibrosis. Jaringan
bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen
elastis.



13

b. Mukosa bronkus
Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal, silia pada sel epitel
menghilang,terjadi perubahan metaplasia skuamosa, dan terjadi sebukan hebat sel-sel
inflamasi. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut, pada mukosa akan terjadi
pengelupasan, ulserasi, dan pernanahan.
c. Jaringan paru peribronkial
Pada parenkim paru peribronkial dapat ditemukan kelainan antara lain berupa
pneumonia, fibrosis paru atau pleuritis apabila prosesnya dekat pleura. Pada keadaan
yang berat, jaringan paru distal bronkiektasis akan diganti jaringan fibrotik dengan kista-
kista berisi nanah.

IX. DIAGNOSIS

1. Gambaran Klinis
Manifestasi klasik dari bronkiektasis adalah batuk dan produksi sputum yang banyak
sepanjang hari, terutama pagi hari, yang mukopurulen sering berlangsung bulanan sampai
tahunan. Sputum yang bercampur darah atau hemoptisis dapat menjadi akibat dari kerusakan
jalan nafas dengan infeksi akut.
Variasi yang jarang dari bronkiektasis kering yakni hemoptisis episodik dengan sedikit
atau tanpa produksi sputum. Bronkiektasis kering biasanya merupakan sekuele (gejala sisa) dari
tuberculosis dan biasanya ditemukan pada lobus atas.
Gejala spesifik yang jarang ditemukan antara lain dyspnea, nyeri dada pleuritik,
wheezing, demam, mudah lelah dan berat badan menurun. Pasien relatif mengalami episode
berulang dari bronkitis atau infeksi paru, yang merupakan eksaserbasi dari bronkiektasis dan
sering membutuhkan antibiotik. Infeksi bakteri yang akut ini sering diperberat dengan onsetnya
oleh peningkatan produksi sputum yang berlebihan, peningkatan kekentalan sputum, dan
kadang-kadang disertai dengan sputum yang berbau.
Batuk kronik yang produktif merupakan gejala yang menonjol. Terjadi hampir 90%
pasien. Beberapa pasien hanya menghasilkan sputum dengan infeksi saluran pernafasan atas
14

yang akut. Tetapi sebaliknya, pasien-pasien itu mengalami infeksi yang diam. Sputum yang
dihasilkan dapat berbagai macam, tergantung berat ringannya penyakit dan ada tidaknya infeksi
sekunder. Sputum dapat berupa mukoid, mukopurulen, kental dan purulen. Jika terjadi infeksi
berulang, sputum menjadi purulen dengan bau yang tidak sedap. Dahulu, jumlah total sputum
harian digunakan untuk membagi karakteristik berat ringannya bronkiektasis. Sputum yang
kurang dari 10 ml digolongkan sebagai bronkiektasis ringan, sputum dengan jumlah 10-150 ml
perhari digolongkan sebagai bronkiektasis moderat dan sputum lebih dari 150 ml digolongkan
sebagai bronkiektasis berat. Namun sekarang, berat ringannya bronkiektasis dikalsifikasikan
berdasarkan temuan radiologis. Pada pasien fibrosis kistik, volume sputum pada umumnya lebih
banyak dibanding penyakit penyebab bronkiektasis lainnya.
Hemoptisis terjadi pada 56-92% pasien dengan bronkiektasis. Hemoptisis mungkin
terjadi masif dan berbahaya bila terjadi perdarahan pada arteri bronkial. hemoptisis biasanya
terjadi pada bronkiektasis kering, walaupun angka kejadian dari bronkiektasis tipe ini jarang
ditemukan.
Dyspnea terjadi pada kurang lebih 72% pasien bronkiektasis tapi bukan merupakan
temuan yang universal. Biasanya terjadi pada pasien dengan bronkiektasis luas yang terlihat
pada gambaran radiologisnya.
Wheezing sering dilaporkan dan mungkin akibat obstruksi jalan nafas yang diikuti oleh
destruksi dari cabang bronkus. Seperti dyspnea, ini juga mungkin merupakan kondisi yang
mengiringi, seperti asma.
Nyeri dada pleuritik kadang-kadang ditemukan, terjadi pada 46% pasien pada sekali
observasi. Paling sering merupakan akibat sekunder pada batuk kronik, tetapi juga terjadi pada
eksaserbasi akut.
Penurunan berat badan sering terjadi pada pasien dengan bronkiektasis yang berat. Hal
ini terjadi sekunder akibat peningkatan kebutuhan kalori berkaitan dengan peningkatan kerja
pada batuk dan pembersihan sekret pada jalan nafas. Namun, pada umumnya semua penyakit
kronik disertai dengan penurunan berat badan.
Demam biasanya terjadi akibat infeksi yang berulang

15

2. Pemeriksaan Laboratorium
Sputum ditampung dalam gelas transparan dan didiamkan akan tampak 3 lapisan, yaitu
lapisan atas buih, lapisan tengah cairan jernih / saliva, dan lapisan bawah endapan pus.
Sebaiknya sputum diambil dari aspirasi transtrakeal, kemudian dilakukan pulasan gram,
biakan, serta uji resistensi. Umumnya dijumpai H.influenza dan P.aeroginosa.

3. Gambaran Radiologis
a. Foto thorax
Dengan pemeriksaan foto thoraks, maka pada bronkiektasis dapat ditemukan gambaran
seperti dibawah ini:
Ring Shadow
Terdapat bayangan seperti cincin dengan berbagai ukuran (dapat mencapai diameter
1 cm). dengan jumlah satu atau lebih bayangan cincin sehingga membentuk
gambaran honeycomb appearance atau bounches of grapes. Bayangan cincin
tersebut menunjukkan kelainan yang terjadi pada bronkus.
Tramline Shadow
Gambaran ini dapat terlihat pada bagian perifer paru-paru. Bayangan ini terlihat
terdiri atas dua garis paralel yang putih dan tebal yang dipisahkan oleh daerah
berwarna hitam. Gambaran seperti ini sebenarnya normal ditemukan pada daerah
parahilus. Tramline shadow yang sebenarnya terlihat lebih tebal dan bukan pada
daerah parahilus.
Tubular Shadow
Ini merupakan bayangan yang putih dan tebal. Lebarnya dapat
mencapai 8 mm. gambaran ini sebenarnya menunjukkan bronkus yang penuh
dengan sekret. Gambaran ini jarang ditemukan, namun gambaran ini khas untuk
bronkiektasis.

16

Glove Finger Shadow
Gambaran ini menunjukkan bayangan sekelompok tubulus yang terlihat seperti jari-
jari pada sarung tangan

b. Bronkografi
Bronkografi merupakan pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras ke dalam
sistem saluran bronkus pada berbagai posisi (AP, Lateral, Oblik). Pemeriksaan ini selain dapat
menentukan adanya bronkiektasis, juga dapat menentukan bentuk-bentuk bronkiektasis yang
dibedakan dalam bentuk silindris (tubulus, fusiformis), sakuler (kistik) dan varikosis.
Pemeriksaan bronkografi juga dilakukan pada penderita bronkiektasis yang akan di
lakukan pembedahan pengangkatan untuk menentukan luasnya paru yang mengalami
bronkiektasis yang akan diangkat.
Pemeriksaan bronkografi saat ini mulai jarang dilakukan oleh karena prosedurnya yang
kurang menyenangkan terutama bagi pasien dengan gangguan ventilasi, alergi dan reaksi tubuh
terhadap kontras media.

c. CT-Scan Thorax
CT-Scan dengan resolusi tinggi menjadi pemeriksaan penunjang terbaik untuk
mendiagnosis bronkiektasis, mengklarifikasi temuan dari foto thorax dan melihat letak kelainan
jalan nafas yang tidak dapat terlihat pada foto polos thorax. CT-Scan resolusi tinggi mempunyai
sensitivitas sebesar 97% dan spesifisitas sebesar 93%
CT-Scan resolusi tinggi akan memperlihatkan dilatasi bronkus dan penebalan dinding
bronkus. Modalitas ini juga mampu mengetahui lobus mana yang terkena, terutama penting
untuk menentukan apakah diperlukan pembedahan.



17

4. Spirometri
Pada spirometri sering menunjukkan keterbatasan aliran udara, dengan rasio penurunan
volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV
1
) untuk memaksa volume kapasitas paksa
(FVC), FVC normal atau sedikit berkurang dan FEV
1
menurun. Penurunan FVC menunjukkan
bahwa saluran udara tertutup oleh lendir, dimana saluran napas kolaps saat ekspirasi paksa atau
adanya pneumonitis pada paru. Merokok dapat memperburuk fungsi paru dan mempercepat
kerusakan. Hyperresponsiveness saluran napas dapat ditunjukkan, dimana 40 % pasien memiliki
15 % atau peningkatan yang lebih besar pada FEV
1
setelah pemberian agonis beta-adrenergik,
dan 30 sampai 69 % pasien yang tidak memiliki terlihat penurunan FEV
1
memiliki 20 %
penurunan FEV
1
setelah pemberian histamin atau methacholine.


X. DIAGNOSIS BANDING

Fibrosis Kistik
Kelainan yang ditemukan dapat bervariasi dari pasien yang satu ke pasien yang lain,
namun banyak individu yang memiliki gambaran radiografi yang memperlihatkan bronkiektasis
kronis disertai fibrosis kistik yang meliputi : hiperinflasi, penebalan dan dilatasi bronkus,
peribronkial cuffing, mucoid impaction, kistik radiolusen, peningkatan tanda interstisial dan
penyebaran nodul-nodul.








18

XI. PENATALAKSANAAN

a. Pengelolaan Umum
Pengelolaan ini ditujukan terhadap semua pasien bronkiektasis, meliputi:

1. Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat bagi pasien
Contohnya membuat ruangan hangat, udara ruangan kering, mencegah atau
menghentikan merokok, mencegah atau menghindari debu, asap dan sebagainya.

2. Memperbaiki drainase sekret bronkus
Melakukan drainase portural tindakan ini merupakan cara yang paling efektif untuk
mengurangi gejala, tetapi harus terjadi secara terus-menerus. Pasien diletakkan dengan
posisi tubuh sedemikaian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimal.
Tiap kali melakukan drainase postural dikerjakan selama 10-20 menit samapi sputum
tidak keluar lagi dan tiap hari dikerjakan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase postural ini
adalah usaha mengeluarkan sputum dengan bantuan gravitasi. Untuk keperluan tersebut,
posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak
bronkiektasisnya.
Tujuannya adalah untuk menggerakkan sputum dengan pertolongan gaya gravitasi agar
menuju ke hilus paru bahkan mengalir sampai tenggorokan sehingga mudah dibatukkan
keluar. Apabila dengan mengatur posisi tubuh pasien seperti tersebut diatas belum
diperoleh drainase sputum secara maksimal dapat dibantu dengan tindakan memberikan
ketukan dengan jari pada punggung pasien (tabotage).


b. Pengelolaan Khusus

1. Kemoterapi
Kemoterapi pada bronkiektasis dapat digunakan:
1). Secara kontinyu untuk mengontrol infeksi bronkus (ISPA),
2). Untuk pengobatan eksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru, atau
3). Keduanya.
19

Kemoterapi disini mengunakan obat antibiotik tertentu. Pemilihan antibiotik mana yang
harus dipakai sebaiknya berdasarkan hasil uji sensitivitas kuman terhadap antibiotik.
Antibiotik hanya diberikan kalau diperlukan saja, yaitu apabila terdapat eksaserbasi
infeksi akut. Antibiotik diberikan selama 7-10 hari, terapi tunggal atau kombinasi
beberapa antibiotik, samapai kuman penyebab infeksi terbasmi atau sampai terjadi
konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid (putih
jernih). Selanjutnya ada dosis pemeliharaan.
Ada yang berpendapat bahwa kemoterapi dengan antibiotik ini apabila berhasil akan
dapat mengurangi gejala batuk, jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat
ada eksaserbasi akut, tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara.

2. Drainase sekret dengan bronkoskop
Cara ini penting dikerjakan terutama pada permulaan perawatan pasien. Keperluannya
antara lain adalah untuk:
1). Menentukan darimana asal sekret,
2). Mengidentifikasi lokali stenosis atau obstruksi bronkus, dan
3). Menghilangkan obstruksi bronkus dengan sustion drainage daerah obstruksi tadi
(misalnya pada pengobatan atelektasis paru).

3. Pengobatan simtomatik
Pengobatan ini hanya diberikan jika timbul gejala yang mungkin menganggu atau
membahayakan pasien.

a) Pengobatan obstruksi bronkus
Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal
paru (% VEP
1
< 70%) dapat diberikan obat bronkodilator. Sebaiknya sewaktu
dilakukan uji faal paru dan diketahui adanya tanda obstruksi saluran napas
sekaligus dilakukan tes terhadap obat bronkodilator. Apabila hasil tes
bronkodilator positif, pasien perlu diberikan obat bronkodilator golongan
methylxantine, beta agonis maupun antikolinergik.

20


b) Pengobatan hipoksia
Pada pasien yang mengalami hipoksia (terutama pada waktu terjadinya
eksaserbasi akut) perlu diberikan oksigen. Apabila pada pasien telah terdapat
komplikasi bronkitis kronik, pemberian oksigen harus hati-hati, harus dengan
aliran rendah (cukup 1 liter/menit).

c) Pengobatan hemoptisis
Apabila perdarahan cukup banyak (masif), mungkin merupakan perdarahan
arterial yang memerlukan tidakan operatif segera untuk menghentikan
perdarahannya, dan sementara harus diberikan transfusi darah untuk
menggantikan darah yang hilang.

Hemoptisis yang mengancam kehidupan (lebih dari 600 ml darah per hari) dapat
terjadi pada pasien dengan bronkiektasis. Setelah jalan napas telah dilindungi
dengan pasien berbaring di sisi tempat perdarahan yang dicurigai atau dengan
intubasi endotrakeal, bronkoskopi atau CT dari thoraks diyakinkan membantu
menentukan lobus atau sisi yang mengalami perdarahan.
Jika intervensi radiologi tersedia, aortography dan kanulasi dari arteri bronkial
untuk memgambarkan lokasi ekstravasasi darah atau neovaskularisasi sehingga
embolisasi yang dapat ditunjukan. Pembedahan mungkin masih diperlukan untuk
direseksi daerah yang dicurigai mengalami perdarahan.

d) Pengobatan demam
Pada pasien dengan eksaserbasi akut sering terdapat demam, terlebih jika terjadi
septikemia. Pada keadaan ini selain perlu diberikan antibiotik yang sesuai, dosis
cukup, perlu ditambahkan abat antipiretik lainnya.

e) Mukolitik dan Ekspektoran
Diberikan guna mengencerkan sekret serta merangsang sekresi dahak dari
saluran napas.
.
21

f) Steroid secara inhalasi
Terbukti dalam mengurangi produksi sputum serta menurunkan angka
eksaserbasi.

4. Pembedahan
Peran pembedahan untuk bronkiektasis telah menurun tetapi tidak menghilang. Tujuan
dari operasi pengangkatan tumor termasuk menghilangkan tumor obstruktif atau residu
dari benda asing, pengangkatan segmen atau lobus yang paling rusak dan diduga
berkontribusi terhadap eksaserbasi akut, sekret yang sangat kental, impaksi lendir.
Pengambilan daerah yang memiliki perdarahan abnormal yang tidak terkontrol, dan
pengambilan dari paru rusak yang dicurigai menyembunyikan organisme seperti M.
MDR-TB atau avium M. complex.
Tiga pusat bedah telah menggambarkan pengalaman mereka dengan operasi tersebut
selama dekade terakhir, dengan rata-rata tindak lanjut empat sampai enam tahun.
Mereka telah mencatat perbaikan dalam gejala di lebih dari 90 % pasien, dengan
mortalitas perioperatif kurang dari 3 %.
Indikasi pembedahan berupa pasien bronkiektasis yang terbatas dan resektabel yang
tidak berespon terhadap tindakan konservatif yang adekuat, dan pasien bronkiektasis
yang terbatas tetapi sering mengalami infeksi berulang atau hemoptisis masif.
Kontraindikasi pembedahan berupa pasien bronkiektasis dengan PPOK, pasien
bronkiektasis berat dan pasien dengan komplikasi korpulmonum kronik dekompensata.



XII. PENCEGAHAN

Imunisasi
Menghindari paparan rokok
Pengobatan adekuat pada pneumonia, pertusis, dan morbili.

22

XIII. KOMPLIKASI

Beberapa penyakit yang bisa menjadi komplikasi dari bronkiektasis antara lain:
a. Pneumonia
b. Empiema
c. Septicemia
d. Meningitis
e. Metastasis abses misalnya di otak
f. Pembentukan amiloid
Infeksi yang berulang dan radang menyebabkan berlanjutkan nekrosis saluran nafas dan
destruksi jaringan paru. Tergantung pada perluasan pertumbuhan penyakit, dapat terjadi kor-
pulmonale.


XIV. PROGNOSIS

1. Kelangsungan Hidup
Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada berat-ringannya serta luasnya penyakit
waktu pasien berobat pertama kali. Pemilihan pengobatan secara tepat (konservatif atau
pembedahan) dapat memperbaiki prognosis penyakit. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak
diobati, prognosisnya jelek, survivalnya tidak akan lebih dari 5-15 tahun. Kematian pasien
tersebut biasanya karena pneumonia, empiema, payah jantung kanan, hemoptisis dan lain-lain.
Pada kasus-kasus tanpa komplikasi bronkitis kronik berat dan difus biasanya disabilitasnya
ringan.
2. Kelangsungan Organ
Kelainan pada bronkiektasis biasanya mengenai bronkus dengan ukuran sedang. Adanya
peradangan dapat menyebabkan destruksi lapisan muscular dan elastic dari bronkus serta dapat
pula menyebabkan kerusakan daerah peri bronchial. Kerusakan ini biasanya akan menyebabkan
timbulnya daerah fibrosis terutama pada daerah peribronkial.
23

Lampiran































Perubahan mukosa pada bronkiektasis
Perbedaan paru
normal dan paru
dengan bronkiektasis
24


































Foto thorax pada bronkiektasism (Honey Comb Appearance)
Gambaran Ring Shadow
25



































Bronkiektasis kistik secara CT-Scan
Bronkiektasis kistik secara bronkografi
26


































Bronkiektasis silindrik secara CT-Scan
Bronkiektasis silindrik secara Bronkografi
27



































Bronkiektasis varicose secara CT-Scan
Bronkiektasis varicose secara
bronkografi
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Emmons EE. 2007. Bronchiectasis. available at www.emedicine.com
2. ORegan AW, Berman JS. 2004. Baums Textbook of Pulmonary Disease 7 th Edition .
Editor James D. Crapo, MD. Lippincott Williams & Walkins. Philadelphia. 255-274.
3. Benditt, JO. 2008. Lung and Airway Disorder: Bronchiectasis. available at www.merck.com
4. Maitra A, Kumar V. 2007. Paru dan Saluran Napas Atas. Dalam: Kumar V, Cotran RS,
Robbins SL (eds). Buku Ajar Patologi Robbins. Diterjemahkan oleh: Pendit BU. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
5. Hassan I. 2006. Bronchiectasis. available at www.emedicine.com.
6. Rahmatullah P. 2001. Bronkiektasis. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi
Ketiga. Editor Slamet Suyono. Balai Penerbit FKUI. Jakarta . 861-871.
7. Alsagaff H, Mukty A. 2006. Bronkiektasis. Dalam : Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru.
Airlangga University Press. Surabaya. 256-261
8. Barker AF. 2002. Bronkiektasis . The New English Journal of Medicine. 346:1383-1393.
9. Wilson LM. 2006. Patofisiologi (Proses-Proses Penyakit) Edisi 6. Editor Hartanto
Huriawati, dkk. EGC. Jakarta. 737-740
10. Luhulima JW. 2004. Trachea dan Bronchus. Diktat Anatomi Systema Respiratorius. Bagian
Anatomi FKUH. Makassar.13-14.
11. Meschan I. 1975. Obstrictive Pulmonary Disease. Synopsis of Analysis of Roentgen Signs in
General Radiology. Philadelphia. 55-56
12. Kusumawidjaja K. 2006. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Editor Iwan Ekayuda. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta. 108-115.