Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen.
Gelatin merupakan protien yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent
(bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku gelatin
dapat berasal dari sapi (tulang dan kulit jangat), babi (hanya (kulit) dan ikan
(kulit). Karena gelatin merupakan produk alami, maka diklasifikasikan sebagai
bahan bangan bukan bahan tambahan pangan.
Gelatin sangat penting dalam rangka diversifikasi bahan makanan, karena
nilai gizinya yang tinggi yaitu terutama akan tingginya kadar protein khususnya
asam amino dan rendahnya kadar lemak. Gelatin juga sangat penting untuk bahan
pembuatan kapsul pada obat. Indonesia menggunakan kapsul keras, bahan baku
untuk membuat kapsul keras adalah gelatin. Kapsul keras (hard capsule)
merupakan pengembangan obat yang isinya dalam bentuk serbuk. Bahan baku
utama untuk membuat kapsul keras adalah gelatin. Gelatin kering mengandung
kira-kira 84 - 86 % protein, 8 - 12 % air dan 2 - 4 % mineral, dari 10 asam amino
essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin mengandung 9 asam amino essensial,
satu asam amino essensial yang hampir tidak terkandung dalam gelatin yaitu
triptofan (Fauzi, 2007). Gelatin mempunyai sifat mudah larut dengan air liur dan
juga kenyal.
Umumnya gelatin diproduksi dari bahan yang kaya akan kolagen baik
tulang maupun kulit. Kulit dan tulang dapat diperoleh dari hewan seperti babi atau
sapi. Akan tetapi, apabila gelatin dibuat dengan menggunakan kulit atau tulang
sapi akan memerlukan proses lama dan butuh bahan kimia untuk penetral lebih
banyak sehingga memerlukan biaya yang sangat mahal (Fauzi, 2007). Babi
merupakan salah satu bahan baku yang sangat mudah dimanfaatkan untuk bahan
baku gelatin. Mengingat babi mudah dibudidayakan pada kondisi yang fleksibel
dan kandungan kolagen dalam babi sangat besar, maka banyak perusahaan atau
masyarakat yang menggunakan babi sebagai bahan baku pembuatan gelatin
(Anonim, 2009).
Banyaknya pembuatan gelatin dari bahan baku babi membuat sebagian
orang khususnya yang beragama Islam menjadi khawatir akan kehalalan dari
produk tersebut (Jannah, 2008). Selain itu Negara Indonesia sendiri tidak bisa
memproduksi gelatin di dalam negeri, melainkan harus banyak mengimpor dari
Negara tetangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007,
jumlah impor gelatin mencapai 2.715.782 kg senilai 9.535.128 dolar AS (BPS,
2009). Mengingat banyaknya produsen luar negeri yang sering menggunakan
bahan baku babi untuk memproduksi gelatin, maka kehalalan dari produk tersebut
diragukan. Oleh karena itu diperlukan berbagai solusi alternatif untuk mengatasi
masalah tersebut.
Di Indonesia yang mayoritas warganya menganut agam Islam,
penggunaan cangkang kapsul yang bahan bakunya dari babi tentu sangat
dihindari. Masa kini, para peneliti sedang meupayakan agar terciptanya inovasi
dalam pembuatan cangkang kapsul agar didapatkan bahan baku alternatif selain
dari hewan babi dengan bahan baku yang mudah didapat dan dengan kualitas
yang sama bahkan jauh lenih baik.

I.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sediaan kapsul dan jenis-jenisnya ?
2. Apa kelebihan dan kekurangan sediaan kapsul ?
2. Mengapa gelati dari ubikayu dapat dijadikan alternatif bahan baku cangkang
kapsul selain dari gelatin babi ?
3. Bagaimana proses pengolahan amilopektin ubi kayu menjadi cangkang kapsul

I. 3. Tujuan
Pembaca mampu memahami kelebihan dan kekurangan kapsul serta
proses pembuatan cangkang kapsul dari bahan baku berupa gelatin dari ubi kayu





BAB II
ISI

II. 1. Pengertian Kapsul
Kapsul adalah sediaaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras
atau lunak yang dapat larut. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bisa
juga dari pati atau bahan lain yang sesuai. ( Farmakope Indonesia ed. IV ).
Kapsul terbagi atas kapsul cangkang keras (capsulae durae,hard capsule)
dan kapsul cangkang lunak (capsulae molles). Cangkang kapsul dibuat dari
Gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. Cangkang dapat pula dibuat dari
Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. Capsulae Gelatinosae
operculatae atau kapsul keras. dibuat dari campuran gelatin, gula, dan air dan
merupakan cangkang kapsul yang bening tak bewarna dan tak berasa. Kapsul
lunak merupakan satu kesatuan berbentuk bulat atau silindris (pearl) atau bulat
telur (globula) yang dibuat dari gelatin (kadang disebut dengan gel lunak) atau
bahan lain yang sesuai. Biasanya lebih tebal dari pada cangkang kapsul keras dan
dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol, seperti sorbitol atau
gliserin. (Anief, 2007).

II. 2. Macam-macam Kapsul
a. Capsulae Gelatinosae opercultae (kapsul keras).
Kapsul keras terdiri dari wadah dan tutup. Cangkang kapsul keras dibuat
dari campuran Gelatin, gula dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening
tak berwarna dan tak berasa. Ukuran kapsul keras menurut besarnya dapat diberi
nomor urut dari besar ke kecil sebagai berikut : no. 000; 00; 0; 1; 2; 3. Kapsul
harus disimpan pada tempat yang tidak lembab dan sebaiknya disimpan di wadah
yang diberi zat pengering. Kapsul dapat diberi warna macam-macam agar menarik
dan dapat dibedakan dengan kapsul yang mengandung obat lain. Kapsul keras
sering digunakan di apotik dalam pelayanan campuran obat yang ditulis dokter
(Anief, 2007).
b. Soft capsule atau kapsul lunak
Merupakan kapsul tertutup dan berisi obat yang pembuatan dan pengisian
obatnya dilakukan dengan alat khusus. Cangkang kapsul lunak dibuat dari Gelatin
ditambah Gliserin atau alkohol polihidris seperti Sorbitol untuk melunakan
gelatinnya. Kapsul ini biasanya mengandung air 6 13%, diisi dengan bahan
cairan bukan air seperti polietilglikol (PEG) berbobot molekul rendah, atau juga
dapat diisi dengan bahan padat , serbuk atau zat padat kering. Kapsul cangkang
lunak memiliki bermacam-macam bentuk dan biasanya dapat dipakai untuk rute
oral, vaginal, rektal atau topikal. Kapsul lunak dapat pula diberi warna macam-
macam (Anief, 2007).

II. 3. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul
a. Keuntungan Bentuk Sediaan Kapsul
Bentuk menarik dan praktis
Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang
enak.
Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut, sehingga bahan cepat
segera diabsorbsi (diserap) usus.
Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam
bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan
seorang pasien.
Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti
pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi
bahan obatnya.
b. Kerugian Bentuk Sediaan Kapsul
Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak
menahan penguapan
Tidak untuk zat-zat yang higroskopis
Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul
Tidak untuk Balita
Tidak bisa dibagi ( misal kapsul)

Faktor-Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul
Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut :
1. Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis)
Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap
air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Penambahan
lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. Contohnya
kapsul yang mengandung KI, NaI, NaNO
2
dan sebagainya.
2. Mengandung campuran eutecticum
Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik
lebur semula, sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. Contohnya kapsul
yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. Hal
ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru
keduanya dicampur.
3. Mengandung minyak menguap, kreosot dan alkohol.
4. Penyimpanan yang salah
Di tempat lembab, cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka
karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut.Di tempat
terlalu kering, kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah
pecah. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :
Dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering
Dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)
Dalam wadah plastik yang diberi pengering

II. 5. Pengolahan Cangkang Kapsul Dar Bahan Baku Amilopektin dari Ubi
Kayu
Gelatin adalah suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen
kulit, tulang, atau ligamen (jaringan ikat) hewan. Gelatin digunakan sebagai bahan
baku utama untuk membuat kapsul. Kapsul sangat penting sekali di dunia medis,
yaitu digunakan sebagai pembungkus obat. Kapsul yang terbuat dari gelatin
sangat sempurna dan fleksibel. Kapsul yang terbuat dari gelatin mudah larut
dalam air liur dan rasanya kenyal sehingga obat yang rasanya pahit tidak terasa di
lidah.
Konsumen yang mengkonsumsi obat dengan kapsul lebih nyaman
daripada menggunakan tablet. Gelatin yang dibuat sebagai bahan baku kapsul
masih diragukan kehalalannya, karena gelatin yang digunakan diproduksi dari
tulang atau kulit babi. Sehingga bagi umat muslim produk tersebut dianggap
haram. Solusi untuk mengganti gelatin pada pembuatan kapsul adalah dengan
menggunakan amilopektin yang berasal dari pati ubi kayu. Ubi kayu merupakan
tanaman produktif yang sangat potensi ditanam di seluruh wilayah yang ada di
Indonesia karena bisa tumbuh di wilayah tropis. Ubi kayu bisa dimanfaatkan
untuk menggantikan fungsi gelatin dalam pembuatan kapsul karena kandungan
amilopektin yang sangat tinggi. Ubi kayu mempunyai kandungan amilopektin
sebesar 2530 kg per ton (Wagiono, 2006).
Amilopektin merupakan suatu biomassa yang bisa mempunyai bentuk
granula. Amilopektin bisa diperoleh dengan cara memanaskan ubi kayu yang
berbentuk serbuk dan dimasukkan enzim -amilase. Enzim akan bekerja
memisahkan zat pati yang ada pada ubi kayu yang nantinya dilakukan proses lebih
lanjut. Zat pati bisa diperoleh pada semua tumbuhan. Kadar amilopektin tertinggi
terdapat pada ubi kayu, ubi jalar, tepung sagu, biji jagung, biji sorgum, gandum,
kentang, ganyong, garut, dan umbi dahlia. Untuk mengeluarkan amilopektin ubi
kayu dilakukan perlakuan awal (pretreatment) yakni melakukan penggilingan
pada ubi kayu sehingga struktur menjadi seperti serbuk. Ubi kayu merupakan
bahan makanan pokok masyarakat yang sudah lumrah dikonsumsi. Masyarakat
umumnya tidak bisa memanfaatkan ubi kayu dengan baik. Kebanyakan mereka
hanya mengelola menjadi kripik, kue, tepung, bioetanol dan ubi rebus. Ubi kayu
berpotensi untuk dijadikan sebagai pengganti
fungsi gelatin pada pembuatan kapsul karena menggandung amilopektin yang
sangat tinggi. Amilopektin dapat diperoleh dari pati ubi kayu. Komposisi kimia
konversi ubi kayu menjadi pati dapat di lihat pada :
Tabel 1.1. Komposisi Kimia Konversi Ubi Kayu Menjadi Pati

Sumber : Lidia Sari E, Indriyani M, Friska S. Pengaruh Perbedaan Suhu Tepung
Tapai Ubi Kayu Terhadap Mutu Fisik dan Kimia yang Dihasilkan. Jurnal Ilmu-
Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 8, No. 2, 2006Hlm. 141-146. ISSN 1411-0067.

Pati merupakan homopolimer glukosa dengan ikatan -glikosidik. Pati
terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air dingin. Fraksi terlarut
tersebut disebut amilopektin dan fraksi tidak terlarut disebut amilosa
(Jannah,2008). Untuk menggantikan fungsi gelatin, digunakan pati yang
mempunyai fraksi tidak terlarut, yaitu amilopektin.
Amilopektin dalam ubi kayu mempunyai bentuk granula. Granula amilopektin
akan membengkak apabila ditambah volumenya dengan air. Peningkatan volume
dengan air pada suhu antara 550C dan 650C merupakan pembengkakan yang
disebut dengan keadaan gelatinasi. Penambahan air dapat dilakukan di luar seperti
halnya pada pembuatan kanji atau puding. Setelah penambahan air maka
terbentuklah suatu suspensi yang apabila dipanaskan akan terjadi perubahan
berupa pembentukan struktur gelatinasi. Mula-mula suspensi amilopektin akan
terlihat keruh, tetapi lama-kelamaan akan berubah menjadi jernih pada suhu
tertentu. Terjadinya translusi larutan amilopektin tersebut akan diikuti
pembengkakan granula. Energi kinetik molekul pada molekul air berubah menjadi
lebih kuat sehingga timbul gaya tarik menarik antar molekul amilopektin di dalam
granula yang menyebabkan air masuk di dalam granula. Untuk lebih jernih
dilakukan penyaringan dengan karbon aktif sehingga dapat diperoleh suspensi
amilopektin yang jernih.
Ditinjau dari bentuk struktur, gelatin dan glukosa yang dipanaskan
memiliki bentuk yang hampir sama sehingga glukosa yang dipanaskan memiliki
sifat mirip dengan gelatin. Gelatin mempunyai bentuk ikatan dengan asam amino
essensial yang kental sehingga dapat menciptakan kekenyalan yang sangat
sempurna. Glukosa ketika dipanaskan membentuk struktur amilopektin yang
mana antar glukosa berkumpul membentuk ikatan hidrogen yang sangat kuat,
sehingga mempunyai bentuk kental seperti gelatin. Keduanya membentuk struktur
siklo seperti cincin. Bedanya struktur gelatin siklo diputus oleh ikatan asam
amino. Keduanya memiliki struktur yang mirip. Untuk lebih jelasnya akan
dijelaskan dengan gambar berikut.


Untuk menggeluarkan amilopektin pada ubi kayu dilakukan perlakuan
awal (pretreatment) yakni melakukan penggilingan pada ubi kayu sehingga
struktur menjadi seperti serbuk. Berikut merupakan langkah langkah pengolahan
amilopektin untuk dijadikan sebagai pengganti gelatin pada pembuatan kapsul
dengan menggunakan bahan baku ubi kayu :

a. Proses Pretreatment
Proses pretreatment adalah sutu perlakuan awal terhadap ubi kayu segar agar pati
bisa diambil. Prosesnya adalah sebagai berikut :
1. Mengupas ubi kayu segar.
2. Menggiling ubi kayu dengan menggunakan mesin penggiling.
3. Menyaring hasil penggilingan untuk memperoleh bubur ubi kayu.
4. Memasukkan bubur ubi kayu ke dalam tangki.
5. Menambahkan air sampai pada setengah volume tangki.
6. Dipanaskan di atas tungku.
7. Ditambahkan enzim -amilase pada tangki yang berada pada suhu kurang lebih
60-66
0
C (Liquifaksi).
8. Pati yang sudah terbentuk sudah berupa bubur.

Pada kondisi tersebut zat pati akan terbentuk, dan zat pati siap untuk
diencerkan dengan air.

b. Proses Pengenceran
Proses pengenceran adalah proses yang dilakukan untuk menambah volume
granula sehingga nantinya granula bisa membesar ketika dipanaskan. Proses
pengenceran adalah sebagai berikut :
1. Bubur pati tersebut kita perlakukan dengan cara menambahkan sedikit air yaitu
sekitar 30% dari jumlah volume bubur.
2. Dipanaskan sampai suhu 650C.
3. Bubur akan sedikit demi sedikit akan memadat.
4. Setelah itu taruh bubur di dalam loyang atau sejenis panci.
5. Setelah agak dingin, tambahkan air sedikit demi sedikit seperti halnya membuat
puding sehingga terbentuk suatu suspensi.
6. Kemudian dipanaskan pada suhu 550C.
7. Pati akan mengalami gelatinasi (Transluen).

c. Pemisahan
1. Pati yang sudah mengalami gelatinasi dipisahkan dengan ditambahkan air
dingin.
2. Akan terbentuk fase terlarut dan tidak larut. Yang tidak larut adalah
amilosa,sedangkan yang terlarut adalah amilopektin.
3. Selanjutnya adalah memisahkan amilopektin dengan air, yaitu dengan cara
penguapan menggunakan Fresh Dryer.
4. Setelah terpisahkan air dengan pati amilopektin akan terbentuk serbuk.
5. Serbuk diuapkan sebentar dan siap untuk digunakan sebagai pengganti fungsi
gelatin.

d. Pencampuran Terhadap Pembuatan Kapsul
Setelah terbentuk struktur gelatinasi yang kuat, maka amilopektin siap untuk
menggantikan gelatin sebagai penguat. Proses pencampuran adalah setelah bahan-
bahan pembentuk kapsul sudah siap. Tahapannya adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan larutan amilopektin dengan melarutkan 20-45% amilopektin ke
dalam air dingin yang telah dimineralisasi.
2. Bahan tambahan seperti pengawet dan pewarna dicampurkan kedalam larutan
amilopektin sehingga membentuk campuran homogen.
3. Bahan dasar ini dicampur dan dimasukkan ke dalam pencetak cangkang kapsul
sehingga cangkang kapsul terbentuk.

4. Kemudian dilakukan sortir pada cangkang kapsul. Cangkang kapsul yang sudah
jadi akan diperiksa sesuai dengan standar Cgmp. Selain pemeriksaan itu dimensi
kapsul seperti ketebalan, diameter, dan tinggi kapsul akan diperiksa untuk
memastikan cangkang kapsul siap digunakan pada proses pengisian kapsul.

5. Kapsul bisa terbentuk dan siap diisi dengan bahan obat.
























BAB III
PENUTUP

III. 1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Kapsul adalah sediaaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau
lunak yang dapat larut. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bisa juga
dari pati atau bahan lain yang sesuai.
2. Ada 2 macam kapsul berdasarkan cangkangnya, saitu kapsul keras dan lunak.
Kapsul keras terdiri dari wadah dan tutup. Cangkang kapsul keras dibuat dari
campuran Gelatin, gula dan air dan merupakan cangkang kapsul yang bening tak
berwarna dan tak berasa. Ukuran kapsul keras menurut besarnya dapat diberi
nomor urut dari besar ke kecil sebagai berikut : no. 000; 00; 0; 1; 2; 3. Sedangkan
kapsul lunak merupakan kapsul tertutup dan berisi obat yang pembuatan dan
pengisian obatnya dilakukan dengan alat khusus. Cangkang kapsul lunak dibuat
dari Gelatin ditambah Gliserin atau alkohol polihidris seperti Sorbitol untuk
melunakan gelatinnya
3. Pembuatan kapsul dengan bahan baku ubi kayu sangat berpotensi
karenamenggandung amilopektin yang sangat tinggi. Ubi kayu mengandung
amilopektin yang cukup besar yang mana ubi kayu masih mempunyai nilai
ekonomis rendah. Amilopektin diperoleh dari pati ubi kayu. Kalau ditinjau dari
berbagai teori, amilopektin mempunyai bentuk granula yang dapat
mengembang apabila ditambahkan air. Mengembangnya granula pada
amilopektin merupakan suatu bentuk yang mempunyai sifat seperti gelatin. Oleh
karena itu amilopektin dari ubi kayu sangat efektif untuk dijadikan sebagai bahan
pengganti gelatin pada pembuatan kapsul.
4. Proses pengolahan amilopektin untuk dijadikan sebagai bahan pengganti gelatin
pada pembuatan kapsul dari ubi kayu meliputi proses pretreatmen dengan tujuan
agar ubi kayu bisa dipisahkan zat patinya, selanjutnya adalah proses pengenceran
dengan tujuan agar amilopektin yang sudah terbentuk struktur granulanya bisa
dikembangkan sehingga terbentuk gelatin, selanjutnya adalah proses penguatan
dengan tujuan agar amilopektin dapat bertahan lama dalam bentuk struktur
gelatinasi.

III. 2. Saran
Penelitian lebih lanjut pembuatan cangkang kapsul perlu didukung oleh
BPOM maupun perusahaan yang memperoduksi sediaan kapsul karena ubi kayu
merupakan bahan baku yang mudah didapat, murah serta halal.

























DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2007. Farmasetika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Baily, A. J., & Paul. (1998). Journal of The Society of Leather Technologysts And
Chemists. pp.104 - 110 , 6. BPS. (2009, Mei 13). Impor Gelatin. Dipetik
Mei Kamis, 2009, dari www.republikaonline.com
Departemen Pertanian. 2005. Data Base Pemasaran International Ubi Kayu.
Dipetik Mei Kamis, 2009, dari www.republikaonline.com
Effendy. 2010. Pembuatan Cangkang Kapsul. (online).
(http://cloudcyber.blogspot.com/2010/01/proses-pembuatan-cangkang-
kapsul.html , diakses pada 05/05/2014 pukul 22 : 45)
Fauzi, R. (2007, Oktober 30). Gelatin. Dipetik Mei 14, 2009, dari www.chem-
istry.com
Hakim, Agus Lukman, Vritta Amroini V dan Muhammad Rizal P. 2010. Jurnal
Pemanfaatan Ubi Kayu Sebagai Pengganti Gelatin dalam Pembuatan
Cangkang Kapsul yang Terjamin Halal. Malang : Universitas Negeri
Malang.
Jannah, A. (2008). Gelatin. Malang: UIN.
Lidia Sari E,dkk. 2006. Jurnal Pengaruh Perbedaan Suhu Tepung Tapai UbiKayu
Terhadap Mutu Fisik dan Kimia yang Dihasilkan. Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia. Volume 8, No. 2, 2006 Hlm. 141-146. ISSN 1411-
0067.










KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan
makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada semua yang telah memberikan
dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan teman-teman semua.
Indralaya, 6 Mei 2014
Penulis



















TUGAS BIOKIMIA KLINIK
MAKALAH PEMBUATAN CANGKANG KAPSUL DARI
GELATIN UBI KAYU












NAMA : ELVARINA PERMATA SARI
NIM : 081201006056
JURUSAN / KELOMPOK : FARMASI / B
DOSEN PEMBIMBING :Dr.rer.nat MARDIYANTO, MSi, Apt


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014