Anda di halaman 1dari 16

UAS Kebijakan Energi Nasional, Semester Ganjil Tahun 2012-2013

Pertanyaan :
Menurut pendapat saudara dan berdasarkan teori yang Saudara ketahui, seperti apakah kondisi energi
di Indonesia. Haruskah penyelesaian permasalahan energi sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Pemerintah? Seperti apakah kebijakan energi nasional sebaiknya disusun dan bagaimana
implementasinya. Bandingkan kebijakan energi nasional kita dengan salah satu kebijakan energi
Negara lain yang saudara anggap berhasil. (Uraian kebijakan dapat didasarkan pada kelembagaan,
paradigma, jenis energi, serta aspek-aspek lain seperti azas dan tujuan pemanfaatan sumber daya
energi, status teknologi, hambatan dan strategi pengelolaannya).

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL: BELAJAR DARI KISAH SUKSES PENGEMBANGAN
ENERGI DI NORWEGIA DAN NEGARA-NEGARA LAINNYA
Asrofi
1. Latar Belakang
Isu ketahanan energi (energy security) menjadi semakin relevan saat ini, terutama disebabkan
peranannya yang sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Ketahanan energi,
diukur dari beberapa aspek, yaitu aspek ketersediaan, daya ungkit ekonomi, keterjangkauan,
keberlanjutan dan kemandirian (sejauh mana sumber daya lokal dimanfaatkan dan dilibatkan
dalam proses penyediaan energi tersebut). Aspek ketersediaan dalam arti sejauh mana kita mampu
menyediakan energi guna mencukupi kebutuhan untuk pembangunan nasional dan tersedianya
infrastruktur energi yang menjangkau segenap lapisan masyarakat dan sektor-sektor
pembangunan. Daya ungkit ekonomi dalam arti sejauh mana energi tersebut kita digunakan untuk
hal-hal yang produktif dan meningkatkan nilai tambah. Keterjangkauan dalam arti diterima oleh
masyarakat dalam kuantitas, kualitas dan harga yang terjangkau. Keberlanjutan dalam arti sumber
energi harus dapat dijamin ketersediaan pasokannya secara jangka panjang dan berkelanjutan
dengan meminimalisir dampak terhadap lingkungan. Dalam hal ini ketergantungan terhadap
sumber energi yang tidak terbarukan harus dikurangi dan pemanfaatan sumber-sumber energi
terbarukan harus lebih diperluas. Sedangkan kemandirian dalam arti sejauh mana sumber daya
lokal dimanfaatkan dan dilibatkan dalam proses penyediaan energi tersebut.
Pertambahan penduduk dan gencarnya industrialisasi dunia di tengah keterbatasan sumber daya
energi khususnya energi fosil, menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dan penawaran.
Diperkirakan hingga tahun 2030 konsumsi energi dunia masih tergantung kepada energi minyak
bumi yang tidak terbarukan. Dalam konteks kawasan, Asia Pasifik dengan pertumbuhan
ekonominya yang dinamis hanya memiliki cadangan minyak yang sedikit dan menyebabkan
kebutuhan minyak kawasan banyak tergantung pada kawasan lain.
Dalam batas tertentu keadaan ini juga dialami Indonesia. Kondisi energi Indonesia saat ini masih
mengandalkan pada migas. Cadangan minyak bumi dalam kondisi menurun, walaupun ekploitasi
cadangan gas bumi cenderung meningkat. Untuk energi baru dan terbarukan, meskipun Indonesia
memiliki potensi beragam, namun pengelolaan dan penggunaannya belum optimal. Berbagai
potensi energi tersebut antara lain: sumber energi nabati, gas, panas bumi, energi nuklir, energi
surya, energi angin dan energi laut. Di sisi lain, Indonesia yang dulu merupakan negara pengekspor
minyak saat ini telah berubah menjadi negara pengimpor minyak. Tantangan Pemerintah ke depan
adalah memperkuat ketahanan energi nasional melalui berbagai perangkat kebijakan yang
ditujukan untuk mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan guna mencapai tingkat
bauran energi yang ditargetkan, meningkatkan efisiensi dan konservasi energi serta memperkuat
peran Pemerintah sebagai regulator kebijakan energi.
Pemerintah Indonesia telah menempuh sejumlah kebijakan untuk memperkuat ketahanan energi
nasional antara lain melalui: pengembangan kebijakan energi yang bertumpu pada kebutuhan,
menekan subsidi minyak bumi seminimal mungkin, pembaharuan kebijakan energi guna
memperkuat good-governance di sektor energi nasional dan memperkuat kerangka legislasi dan
kebijakan diversifikasi energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan dan energi
alternatif. Selain itu, Indonesia harus mengejar ketertinggalannya di dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi terutama yang berhubungan dengan pengelolaan sumber energi baru dan terbarukan.
Proses alih teknologi dimaksud mendesak dilakukan dalam waktu yang relatif cepat dan dapat
dicapai melalui kerjasama strategis dengan mitra dari negara lain tanpa mengganggu kepentingan
nasional.

Indonesia juga mendorong peningkatan kerjasama internasional di sektor energi terbarukan (antara
lain: hydro power, wind power, geothermal dan energi nuklir) dalam rangka memperkuat
ketahanan energi termasuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Indonesia turut
berpartisipasi aktif dalam berbagai forum energi internasional baik di bawah kerangka PBB maupun
di luar PBB untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan kebijakan energi serta mendorong dialog di
antara negara produsen, konsumen, maupun negara perantara energi. Prinsip ini antara lain
diwujudkan melalui: intensifikasi kerjasama dengan International Energy Agency (IEA) melalui
penandatanganan MOU dan menjadi Observer pada Energy Charter. Selain itu Indonesia juga aktif
berpartisipasi pada pembahasan energi pada forum G-20. Dalam rangka pengembangan energi
terbarukan, terutama dalam hal kerja sama untuk pengembangan infrastruktur dan investasi di
bidang tersebut, Indonesia saat ini tengah mengupayakan keanggotaan di International Renewable
Energy Agency (IRENA).
2. Mengapa Norwegia?
Kisah seorang visioner Norwegia bermula pada tahun 1964. Karena sumber energi yang dimiliki
Norwegia demikian lemah dan tipis, serta hampir tak ada penopang energi untuk ekonomi mereka
maka Norwegia mengajukan sebuah visi baru sumber energi di laut yang sangat menantang,
Melakukan eksplorasi energi di laut dalam sehingga pada saatnya Norwegia mampu
mengeksplorasi laut dalam di titik manapun di planet ini. Visi gila pada jaman itu ditangkap oleh
berbagai sumber pendanaan dari negara mitra Norwegia, antara lain Perancis. Program itu bukan
hanya menyelamatkan ekonomi namun memasuki abad ke-21 mengantarkan Norwegia menjadi
negara paling kaya di Skandinavia, di Eropa, dan bahkan di dunia. Sehingga mereka berani
membuat suatu klaim: Oil and gas resources in the North Sea have made Norway one of the
richest countries in the world. Karena prestasi Norwegia inilah, dunia disadarkan oleh suatu tema
pendekatan ekonomi baru atau istilah: Knowledge based economy. Ekonomi tumbuh berbasis
pengetahuan. Suatu demonstrasi pemanfaatan pengetahuan untuk menundukkan keganasan laut
dalam di Antartika dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi bangsa Norway.
Pada Desember 2012, Norwegia secara resmi menyetujui target energi terbarukan 67,5% pada
tahun 2020 dengan komisi Uni Eropa. Target ini adalah yang tertinggi di Uni Eropa. Target ini
ditopang oleh energi terbarukan yang dipanen dari lepas pantai (offshore). Sektor energi lepas
pantai di Norwegia ditandai dengan tenaga kerja berkualifikasi tinggi yang berakar pada kuatnya
tradisi pelayaran dan kemudian pada kekuatan migas dari laut dalam. Kompetensi ini sekarang
sedang ditransfer ke sektor energi terbarukan lepas pantai.
3. Lesson Learned dari Norwegia
Dapat disimpulkan faktor-faktor kunci keberhasilan pengembangan energi Norwegia adalah
sebagai berikut:
a) Visi yang jauh ke depan dan tujuan yang SMART (Specific, Measurable, Attainable,
Realistic, and Timely). Visi ini bukan sekedar on paper tetapi tersosialisasikan dan
terinternalisasikan sehingga melembaga dalam setiap kebijakan yang diambil. Tujuan yang
SMART memberi arahan yang jelas dan efektif pada setiap tahap kebijakan energi baik
dalam tataran perencanaan, perumusan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasi.
b) Fokus pada kekuatan yang dimiliki (Strength-based approach).
Norwegia fokus pada potensi sumber daya alam di laut. Pada tahun 2010,
Norwegian Water and Energy Directorate (NVE) mengadakan studi kelayakan awal
(preliminary FS) untuk mengidentifikasi seleksi awal 15 area yang potensial bagi
pengembangan energi angin lepas pantai. Studi tersebut dilanjutkan dengan
Strategic Environmental Assessment dengan tujuan untuk menganalisis tren
teknologi dan ekonomi untuk memilah dan menentukan skala prioritas dari ke-15
area tersebut. Semua pemangku kepentingan (di antaranya Ministry of Petroleum
and Energy, Norwegian Water Resources and Energy Directorate, Statnett -
onshore national grid owner, grid operator and grid regulator, Innovation Norway,
The Research Council, Enova - a public enterprise owned by the Royal Norwegian
Ministry of Petroleum and Energy, INTPOW - sebuah LSM, Investinor - a
government funded venture firm, Eksport Finans - export credit institution for
Export Financing, GIEK - offers guarantees in connection with Norwegian export
and investments abroad) dilibatkan secara aktif untuk mendukungnya.
Fokus pada penguasaan kompetensi SDM. Penguasaan pada sektor energi di lepas
pantai berakar pada ketangguhan pelaut bangsa Viking.
c) Framework yang holistik. Kebijakan energi mengikuti kaidah holistik, dari hulu ke hilir
sepanjang rantai nilai (value chain). Kebijakan energi bersifat membumi dengan orientasi
kepada pasar (demand side) dan rantai pasok (supply side), baik dalam skala lokal (daerah
sampai nasional), regional (Skandinavia sampai Uni Eropa) maupun global (world wide).
d) Good governance. Norwegia menempati ranking ke-8 dari 210 negara dalam Worldwide
Governance Index yang dikeluarkan World Bank pada tahun 2011 sementara Indonesia
menempati ranking 136. Indeks tersebut mencakup aspek Voice and Accountability,
Political Stability and Absence of Violence, Government Effectiveness, Regulatory Quality,
Rule of Law, dan Control of Corruption. Perkembangan tata kelola di Indonesia lebih
bersifat prosedural, sementara di Norwegia sudah di level substansi.
e) Diplomasi energi.
Transfer teknologi. Negara kecil di Eropa ini mewajibkan transfer teknologi dalam
16 tahun sejak kesepakatan ditandatangani dan jangka waktu kontrak. Hasilnya,
sekarang Norwegia merupakan salah satu negara terbaik dalam dalam eksplorasi
mineral dan pengeboran minyak dan gas di laut dalam.
Aliansi energi. Norwegia aktif dalam aliansi dengan pemangku kepentingan penting
dalam bidang energi. Misalnya menjalin aliansi dengan Swedia untuk penyediaan
energi terbarukan berbasis air, aliansi dengan Jepang dalam energi terbarukan,
serta aliansi dengan Jerman dan Inggris untuk memperkuat electricity grid dan
ketahanan energi di Eropa bagian utara.
4. Berkaca Pada Pengalaman Norwegia dan Negara Lainnya
Negara lain banyak yang lebih berhasil daripada Indonesia dalam mengelola kekayaan energinya.
Agar tidak salah urus, negeri ini jangan tabu belajar dari pengalaman negara lain yang terbukti
efektif.
A. Memulai dari penguatan visi bersama melalui kepemimpinan yang efektif
Jika visi energi di Norwegia demikian terinternalisasikan, tidak halnya dengan visi energi di
Indonesia. Hal ini tercermin dari:
masih tersanderanya kebijakan energi oleh vested interest
kebijakan energi nasional tidak konvergen pada satu muara yang sama
antara satu sektor kebijakan dengan sektor lainnya seolah tidak terkait satu sama lain
Kondisi seperti ini jelas tidak kondusif bagi ketahanan energi nasional. Padahal energi menyangkut
hajat hidup orang banyak, meliputi semua pemangku kepentingan dan bersifat multi disiplin.
Mengingat ke depan situasi energi makin kompleks serta memiliki peran yang makin krusial dan
strategis maka hal pertama yang harus segera dimiliki adalah kepemimpinan di bidang energi yang
visioner, sinergistik, strategis dan transformasional. Kepemimpinan (leadership) di bidang energi
yang efektif, yaitu kepemimpinan yang mampu:
menentukan arah perubahan menuju gambaran masa depan yang dicita-citakan
mengkomunikasikan dan membangun jaringan kerjasama internal dan eksternal.
mengantisipasi perubahan lingkungan, menciptakan sense of urgency dan menentukan
prioritas perubahan yang harus dilakukan, serta memberdayakan anggota organisasi untuk
melakukan perubahan
mengorkestrasi semua pemangku kepentingan dan sumber daya lainnya menuju
pencapaian visi bersama.
Tiga poin pertama dapat direalisasikan melalui perumusan, sosialisasi & internalisasi serta
mengawal target yang SMART. Pada 2005, Pusat Penelitian Modernisasi China menerbitkan peta
jalan Modernisasi China untuk abad ke-21. Isinya: tahun 2025 GDP China menyamai Jepang. Tahun
2050 China jadi negara maju secara moderat. Tahun 2080 China menjadi negara maju, sama
dengan AS. Tahun 2100 China menjadi negara paling maju di dunia, melampaui AS. Atas dasar peta
jalan itu, China bergerak menuju masyarakat yang lebih baik secara bersama (xiaokang). Kita, sejak
era reformasi, tahapan pembangunan seperti orde baru (GBHN), tidak mendapatkan titik tekanan.
Sesuai dengan jamannya, kita perlu buku putih garis pembangunan berkelanjutan. Apalagi dengan
pembatasan masa jabatan presiden lewat amandemen. Ganti presiden, ganti lagi kebijakan. Maka
perlu arah kebijakan yang konsisten dan punya visi jauh kedepan. (Kemal, 2010)
B. Menjabarkan Visi dan Target ke dalam Rujukan Bersama
Salah satu bentuk media komunikasi paling mendasar adalah rumusan grand design (peta jalan)
yang progresif sebagai rujukan (common refference). Lewat road map yang progresif, disinilah
national and character building akan kita temukan lagi (sistem). Kepercayaan diri atas kemampuan
bangsa pun akan terbentuk kembali. Simultan tapi progresif. Rumusan yang komprehensif, tidak
hanya normatif tetapi juga substantif dan dikuatkan dengan ketetapan hukum. Produk hukum yang
dapat berperan sebagai payung, yang dibuat tidak untuk dilanggar tetapi:
Menjamin kepastian upaya/usaha (legal bases for all)
Menjamin keadilan bagi semua pemangku kepentingan
Menjadi rujukan bersama dengan satu pengertian yang sama (bukan multi tafsir)
Menyatukan semua upaya menuju pencapaian tujuan bersama (goal congruence)
Ruhnya adalah keberpihakan pada kepentingan nasional
Menjadi dokumen yang mengikat tetapi menjamin adanya ruang fleksibilitas bagi
perubahan (living document)
Poin-poin tersebut hanya dapat dilaksanakan dalam kerangka tata kelola yang baik (good
governance), yang setidaknya harus ditegakkan oleh empat pilar: prinsip kepastian hukum,
transparansi, akuntabilitas dan profesionalisme. Tanpa tata kelola yang baik, tujuan yang dicita-
citakan hanya tinggal mimpi yang tak akan dapat dicapai.
C. Tata Kelola Yang Baik
Visi dan roadmap hanya akan menjadi dokumen semata tanpa diberlakukannya tata kelola yang
baik.
Perubahan rezim dari orde baru ke orde reformasi memungkinkan masyarakat mengkritisi secara
terbuka pengelolaan energi nasional. Beberapa isu yang sering mengemuka antara lain:
pemerintah terlalu mengistimewakan investor maupun pengusaha asing melalui UU PMA
hasil amandemen UUD yang ke empat.
terkait dengan sistem kontrak karya, eksplorasi dan pengolahan sumber energi yang kurang
menguntungkan bagi kepentingan nasional. Sistem kontrak kerjasama antara pemerintah
dengan para pengusaha lokal maupun asing selama ini disinyalir terjadi penyelewengan
baik oleh pengusaha maupun pejabat pemerintah sendiri. Sinyalemen penyelewengan itu
antara lain terkait masalah cost recovery atau pengembalian seluruh biaya operasi para
kontraktor migas yang sebagiannya merupakan perusahaan asing. Banyak pengeluaran
yang tak terkait langsung dengan biaya produksi migas seharusnya menjadi tanggungan
masing-masing pengusaha kontraktor migas, malah dibebankan dan menjadi tanggungan
pemerintah. Meski cost recovery cenderung naik dari tahun ke tahun, tetapi produksi dan
lifting minyak dalam negeri justru berbalik arah mengalami penurunan.
adanya oknum pemerintah yang menjadi komprador kepentingan asing yang sering
menghubungkan kepentingan pengusaha baik lokal maupun asing yang merugikan
kepentingan nasional.
aksi menimbun BBM maupun gas dan menyelundukannya secara ilegal ke luar negeri baik
yang dilakukan oleh swasta maupun pemerintah.
aspirasi daerah yang kurang terakomodir dalam kebijakan energi nasional. Sumatera
Selatan merupakan salah satu daerah yang berkeinginan menjadi lumbung energi nasional.
Keinginan ini pertama kali disampaikan oleh Gubernur Sumsel saat itu, Syahrial Oesman,
kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ketika meresmikan PLTGU Borang pada 9
November 2004. Dengan dukungan Presiden, Program Provinsi Sumsel sebagai lumbung
energi nasional diharapkan dapat dilaksanakan bersama-sama oleh semua stakeholder,
baik Pemerintah Pusat, Pemprov, Pemkab/kota, BUMN, swasta, akademisi, LSM, maupun
masyarakat. Pengembangan potensi sumber daya energi yang akan menjadikan Provinsi
Sumsel sebagai lumbung energi nasional dilakukan melalui perencanaan dan pentahapan
pembangunan keenergian yang disusun dalam suatu Master PlanProvinsi Sumatera Selatan
sebagi Lumbung Energi Nasional Tahun 2006-2025. Master Plan ini akan digunakan sebagai
dasar acuan bagi Pemrov Sumsel untuk merumuskan kebijakan, strategi, dan program
pembangunan daerah, serta sebagai masukan bagi Pemerintah Pusat dalam merumuskan
kebijakan, strategi, dan program pengembangan energi nasional. Faktanya, aspirasi ini
sudah hampir satu dasawarsa tidak mewujud.
Lemahnya koordinasi di kalangan pemerintah dalam kebijakan energi. Dalam rancangan
Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2025 yang dibuat Dewan Energi Nasional (DEN)
disebutkan bahwa kebutuhan gas akan menurun menjadi 19,7 persen. Padahal dalam
Peraturan Presiden (Perpres) nomor 5 tahun 2006 disebutkan bahwa bauran energi gas
harus menjadi lebih dari 30 persen. Kepada pers, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) Jero Wacik meminta kebijakan energi nasional tersebut dikaji ulang, dengan
mengemukakan bahwa peran gas harus naik setiap tahun agar bauran energi gas bumi bisa
mencapai 30 persen di 2025. Padahal, Menteri ESDM adalah Ketua Harian DEN itu sendiri.
Saat ini Indonesia belum memiliki konsep ketahanan energi nasional. Pasalnya, selama ini
pemerintah masih bertindak reaktif hanya ketika terjadi gejolak energi. "Kita memang
belum punya konsep ketahanan energi nasional. Benar-benar hidup adhoc dari hari ke hari,"
ujar Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang
Brodjonegoro.
Disamping itu, terdapat lima tantangan dalam pengelolaan energi nasional, yaitu:
Nilai subsudi energi yang besar dan kerap kali melebihi patokan yang sudah diterapkan
sehingga menyebabkan anggaran negara menjadi kurang fleksibel untuk pembiayaan
lainnya.
Ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan pasokan, dimana kebutuhan energi dalam 5
tahun terakhir tumbuh rata-rata 8% per tahun, sementara kemampuan pasokan energi kita
masih terbatas.
Berdasarkan bauran energi nasional di tahun 2011, ketergantungan terhadap sumber energi
berbasis fosil dalam bauran energi nasional masih tinggi, yaitu minyak bumi sekitar 48%,
gas alam 21% dan batubara 27%.
Pemanfaatan sumber energi alternatif khususnya energi terbarukan masih belum maksimal
disebabkan berbagai hambatan dari sisi infrastruktur dan aspek keekonomian.
Masih adanya beberapa kendala regulasi dalam pengembangan pengusahaan energi,
seperti adanya tumpang tindih kebijakan dan kewenangan, serta penerapankebijakan
fiskal.
Atas semua persoalan energi yang dihadapi, mendesak untuk dilakukannya advokasi kebijakan
energi nasional secara terbuka. Ke depan, pengelolaan energi tidak bisa lagi dijalankan secara
serampangan dan sektoral. Pengelolaan energi nasional jangan sampai reaktif dan sesaat.
Kebijakan energi yang tidak tepat dan tidak didasarkan kepada kepentingan nasional, bersifat
sporadis dan tidak dihasilkan dari pemikiran serius bukannya memperkuat ketahanan energi namun
sebaliknya dapat mengancam ketahanan energi yang pada gilirannya mengancam ketahahanan
nasional. Pemerintah harus benar-benar memprioritaskan pengelolaan energi nasional yang
komprehensif dan berkelanjutan. Pengelolaan energi harus terencana dan terpadu, dengan
mengindahkan tahapan-tahapan tertentu misalnya, pemetaan penyebaran, kebutuhan dan
konsumsi energi perwilayah secara komprehensif. Pengelolaan energi harus didasari atas prinsip
keterbukaan / transparansi dan akses yang seluasnya terhadap masyarakat. Dengan dasar dan
prinsip-prinsip tersebut di atas, pengelolaan energi nasional menjadi lebih terarah dan dapat
menyentuh rasa keadilan bagi semua pihak khususnya bagi rakyat miskin. Sebab, persoalan energi
bukan persoalaan biasa, melainkan persoalan hidup matinya rakyat.
Kekayaan alam sebagai aset publik harus dikelola oleh pemerintah melalui cara yang transparan,
efektif dan efisien, serta mampu menjawab rasa keadilan. Keterlibatan masyarakat di setiap jenjang
dalam proses pengambilan keputusan terutama menyangkut alokasi sumber daya dan dalam
mendefinisikan dampak-dampak pada kelompok masyarakat yang lebih peka, merupakan salah
satu faktor yang menentukan keberadaan good governance. Sehingga tercipta sistem yang padu
dan saling mendukung dalam kebijakan pada bidang energi.
Masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan sumber daya alam akan menjadi semacam
aktivitas pendukung pengelolaan (co-management) yang terdiri atas suara rakyat dan disertai
tindakan-tindakan responsif pemerintah. Hal yang sama berlaku pada aspek pemberdayaan
hukum. Yang dibutuhkan adalah peraturan dan kebijakan, dan sistem peradilan yang independen,
otoritatif dan profesional. Hukum atau peraturan yang jelas dan tidak debatable menciptakan iklim
yang kondusif bagi investasi. Peraturan yang tidak sinergis antara pemerintah pusat dan daerah
membuat ketidakpastian makin melebar bagi dunia investasi. Sebagai contoh UU No. 41 tahun
1999 sempat memancing ricuh antara kalangan usaha pertambangan dengan pemerhati
lingkungan. UU yang membatasi penambangan di hutan lindung tersebut dianggap kurang tegas
diimplementasikan. Sejumlah perusahaan tambang tetap beroperasi di hutan lindung dengan
alasan sudah menandatangani kontrak kerja jauh sebelum UU tersebut ditetapkan. (Fauzi, 2008)
Urutan dari kebijakan energi nasional terbuka tersebut adalah sebagai berikut; pertama,
keterbukaan dalam pengelolaan energi nasional (termasuk kontrak karya, eksplorasi, eksploitasi,
distribusi & pemanfaatannya). Kedua, adanya pemetaan penyebaran, pemanfaatan, kebutuhan dan
target efisiensi energi di seluruh wilayah Indonesia. Ketiga, akses masyarakat terhadap energi.
Keempat, kepastian penyediaan energi bagi masyarakat tidak mampu. Kelima, harga energi yang
terbagi dalam pengelompokan. Kebijakan harga energi seyogyanya tidak terlalu mengikuti
mekanisme pasar semata namun pemerintah harus ikut menetapkan secara administratif dengan
mempertimbangkan efisiensi di segala aspek. Keenam, riset komersialisasi dan pemanfaatan
teknologi energi. Ketujuh, riset komersialisasi dan pemanfaatan teknologi sumbersumber energi
terbarukan. Kedelapan, merumuskan blue-print Pengelolaan Energi Nasional (PEN) sebagai wujud
Ketahanan Energi Nasional (KEN) yang berdampak nyata pada perekonomian nasional guna
mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan, sesuai dengan visi-misi Dewan Energi
Nasional (DEN). (Ghopur, 2013)
Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi perlu ditata dengan tujuan:
Pendapatan negara haruslah lebih besar daripada pendapatan kontraktor. Pemasukan
negeri ini masih bisa dipacu jika bisa meniru langkah Brasil. Negeri di Amerika Selatan ini
meminta 85 persen pendapatan pertambangan untuk negara dan sisanya untuk kontraktor.
Venezuela bahkan lebih berani. Semua perusahaan tambang emas dimiliki negara untuk
digunakan bagi kepentingan rakyat.
Negara pemilik sumber energi baik energi fosil maupun renewable energy mendapatkan
porsi yang lebih besar dibandingkan Kontraktornya. Untuk menjamin ketersediaan pasokan
di dalam negeri, kewajiban DMO Domestic Market Obligation harus ditegakkan dengan
perspektif jangka panjang, jangan hanya per satu tahun.
Cost Recovery dapat diajukan dengan cara yang transparan, akuntabel sehingga tidak
menjadi ajang korupsi
Kontraktor melakukan transfer teknologi atau know how kepada local staff dalam
jangka waktu yang segera
Pembelian barang-barang yang berasal dari negara pemilik sumber energi atau local
content dapat mencapai 70% kecuali Indonesia tidak memiliki barang yang dibutuhkan
Kontraktor tidak memaksakan izin dimana sumber energi ada umpamanya hutan atau
tempat yang dapat merusak lingkungan
Kontraktor segera melakukan perbaikan baik hutan yang berdampak atau lingkungan yang
potensi menjadi rusak
Agar Kontraktor dapat melakukan Community Development bagi masyarakat setempat
local community dengan cara mengajak mereka menjadi staf dengan mendidiknya serta
memberikan bantuan modal bagi usaha kecil menengah atau fasilitas umum dan ibadah
Agar Kontraktor meningkatkan corporate social responsibility atau CSR bagi masyarakat
setempat dan membangun masyarakat setempat secara terukur.
Agar Kontraktor tidak terlibat atau intervensi dalam lobby atau pengaturan perundang-
undangan negara setempat. Dan menghargai Hukum dan Peraturan Perundang-undangan
yang dibuat sepanjang memang hasil dari Pemikiran asli Pemerintah dan DPR.
Agar Kontraktor tidak memaksakan kehendak untuk meneruskan ladang atau sumber
energinya apabila masa kontrak sudah habis sesuai dengan kesepakatan awal dan dapat
memberikan kesempatan kepada perusahaan nasional untuk menggantikannya.
Agar Kontraktor atau sebuah negara lain tidak terlibat dalam dirty politics , kudeta atau
penggulingan Pemerintahan yang sah semata hanya mengincar sumber-sumber energinya
saja.
Agar Kontraktor tidak menghalalkan segala cara demi mendapatkan sumber-sumber energi
yang ada
(Siraj El Munir Bustami, 2013)
D. Pergeseran menuju paradigma yang berkelanjutan
Knowledge-base Economy
Transisi pembangunan dunia saat ini di mulai dari ekonomi pertanian (pre industrial age di sektor
pertanian) ke ekonomi industri (the industrial age di sektor manufaktur) ke ekonomi produksi masal
(post industry di sektor jasa skala besar era 90an) hingga saat ini berada pada tahap ekonomi
pengetahuan yang bertopang pada sektor teknologi dan modal manusia. Era perkembangan
ekonomi pengetahuan ditandai dengan adanya inovasi di bidang teknologi dan kompetisi global
yang membutuhkan inovasi pada produk produk baru dan proses baru. Norwegia dengan visi
energinya yang spektakuler telah menjadi contoh sukses pembangunan ekonomi berbasis
pengetahuan (knowledge base economy), yang mentransformasi dari krisis energi (net energy
importer), kemandirian energi, sampai menjadi negara maju sekaligus pemasok energi global (net
energy exporter). Hal ini berkebalikan dengan fenomena kutukan sumber daya alam (resources curse)
pada negara-negara yang kaya sumber daya tetapi justru ekonominya tidak berkembang (di mana
Indonesia disinyalir berpotensi untuk masuk kategori ini). Jika negara dengan kategori terakhir
cenderung menjual sumber daya energi mentah sebagai komoditas, maka negara dengan paham
knowlegde-based economy menjual produk atau jasa energi dengan nilai tambah yang besar.
Hanya butuh sembilan tahun (1978-1987) saja, China menoreh income perkapita dua kali lipat.
Inggris butuh waktu 100 tahun, Amerika Serikat 47 tahun, Jepang 34 tahun, dan Korea Selatan 11
tahun. Deng Xiaoping pada 1978 mengatakan, Bila China ingin memodernisasi pertanian, industri,
dan pertahanan, yang harus dimodernisasi lebih dahulu adalah sains dan teknologi serta
menjadikannya kekuatan produktif. Jadi ada penekanan sains dan teknologi. Majunya Korea
Selatan, Jepang, Taiwan tak lepas dari sentuhan sains dan teknologi dari produk yang di ekspor
(Kemal, 2010).
Pada prinsipnya, negara dengan paham knowlegde-based economy berbasiskan pengetahuan dan
diimplementasikan dalam industri berteknologi dan tenaga kerja kompeten sebagai sumber
ekonomi pengetahuan negara. Salah satu penopang dalam penerapan konsep knowledge-based
economy menurut World Bank yaitu kebijakan dan regulasi ekonomi dan industri untuk memicu
pertumbuhan pengetahuan / teknologi baru serta entrepreneurship nasional.
Produksi energi di Indonesia sebagian besar dilakukan oleh perusahaan asing. Statistik British
Petroleum mengungkapkan penguasaan cadangan migas oleh perusahaan asing masih dominan.
Saat ini porsi nasional hanya 25%, sementara 75% dikuasai asing. Dari total 225 blok migas yang
dikelola kontraktor kontrak kerja sama non-Pertamina, 120 blok dioperasikan perusahaan asing.
Hanya 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional. Selanjutnya, sekitar 77 blok dioperasikan
perusahaan patungan asing dan lokal. Padahal target pemerintah, pada 2025 porsi operator oleh
perusahaan nasional mencapai 50%. Dan sekitar 70% produksi batubara kita dikuasai asing.
Dominasi inilah yang membuat pemerintah kelimpungan membangun kebijakan energi yang pro
rakyat. Negara ini tersandera oleh kontrak karya dari perusahaan multinasional semacam Shell,
Exxon Mobile, Petronas, Petro China, dan perusahaan asing lainnya. (Thaib & Teja, 2012)
Mereka mendapatkan perlakuan dan insentif khusus. Orientasi mereka adalah pada ekspor. Dengan
meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri dan tuntutan politis yang lebih besar dari pelaku
domestik, perlakuan dan insentif khusus pada perusahaan asing, terutama di bidang migas,
dikurangi. Sementara itu, pelaku domestik belum dapat menggantikannya secara memadai.
Konsekuensinya, kegiatan eksplorasi menurun dan produksi minyak juga terus menurun.
Akibatnya, bukan saja berkaitan dengan permasalahan pasokan energi, tapi juga penerimaan
pemerintah dari migas cenderung menurun. Produksi migas harus dioptimalkan, terutama untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kita harus realistis untuk tetap memberikan insentif yang
memadai bagi perusahaan asing di bidang energi. Secara bersamaan, kita juga harus mendukung
perusahaan domestik untuk dapat berkembang dengan baik di bidang energi dengan insentif dan
pengarahan yang jelas (Juoro, 2013).
Dengan demikian kontrak yang ada ( kontrak konsesi, kontrak karya, ataupun kontrak sharing
produksi) harus ditinjau kembali disesuaikan dengan dengan paradigma ini, apalagi kontrak baru.
Dengan orientasi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, seperti diamanatkan konstitusi. Antara
lain dengan mendorong proses alih teknologi seperti yang dilakukan Norwegia, penguasaan
kompetensi di sektor hulu dan sektor-sektor lain dalam rantai nilai yang memberikan nilai tambah
besar, program hilirisasi untuk pengembangan industri yang bernilai tambah dan juga
pengembangan kewirausahaan di bidang energi.
Ekonomi Pengetahuan Hijau (Green Knowledge Economy)
Di abad ke-21, paradigma pembangunan mulai bergeser ke arah pemikiran yang berkelanjutan,
dimulai sejak 1960-an melalui berbagai upaya pemikiran yang terus berkembang dan berubah di
dunia pada saat itu. Kebijakan konsep pembangunan yang bersifat ekspansif diupayakan berubah
seperti yang tertuang dalam konsep kesepahaman agenda abad 21 global, yakni ke arah
pembangunan yang memikirkan asas pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yakni
pembangunan yang memperhatikan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi hak bagi pemenuhan
kebutuhan generasi mendatang.
Ekonomi Kesejahteraan merupakan pertumbuhan ekonomi yang ditujukan untuk kesejahteraan
semua anggota masyarakat, dan dapat dicapai melalui teknologi yang inovatif berdampak
minimum terhadap lingkungan. Lingkungan berkelanjutan merupakan etika lingkungan non
antroposentris yang menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan
kelestarian dan keseimbangan lingkungan, pentingnya peranan konservasi sumberdaya alam, dan
mengutamakan peningkatan kualitas hidup non material. Keadilan sosial, merupakan perwujudan
dari nilai-nilai keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumberdaya alam dan pelayanan publik,
menghargai diversitas budaya dan kesetaraan jender.
Konsep pembangunan berkelanjutan mengintegrasikan aspek aspek seperti ekonomi, sosial, dan
lingkungan sebagai kesatuan holistik. Dalam upaya mewujudkan konsep pembangunan
berkelanjutan, perlu adanya integrasi antara Ekonomi Pengetahuan (Knowledge Economy) dan
Ekonomi Hijau (Green Economy). Penggabungan dua konsep ini dapat menghasilkan paradigma
baru berupa Ekonomi Pengetahuan Hijau (Green Knowledge Economy). Konsep dasarnya adalah
melakukan upaya penghijauan terhadap konsep ekonomi yang sudah ada (eksisting) melalui
produk dan proses inovasi dengan mengutamakan kesejahteraan yang berkeadilan (sosial
inclusion), efisiensi penggunaan sumber daya alam dan pengolahan pencemaran lingkungan.
Prinsip Eknomoni Pengetahuan Hijau antara lain : mempertahankan nilai guna, nilai intrinsik dan
kualitas, mengikuti aliran alam, sampah (waste) menjadi bahan bagi proses lainnya, dan
keanekaragaman serta kreativitas.
Dalam paradigma ini, tercakup:
Supply side:
o Pembatasan terhadap upaya eksploitasi sumber daya energi agar tidak eksesif.
o Menyimpan dan menghemat cadangan domestik untuk kebutuhan jangka panjang
o Intensifikasi dengan mengeksploitasi dan memproduksi energi yang hemat dan
efisien, dan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Antara lain melalui adopsi
teknologi tepat guna, pemanfaatan sumber energi setempat dan pengolahan lebih
lanjut di dalam negeri. Di antaranya dengan secepatnya memperbanyak dan
meningkatkan kualitas kilang-kilang BBM dan jika memungkinkan kilang-kilang
tersebut dibangun tersebar di seluruh Indonesia pada lokasi-lokasi yang strategis
sehingga distribusi BBM bisa lebih merata di seluruh Indonesia. Brasil dapat
dijadikan benchmark dalam hal ini. Dengan produksi minyak 2,7 juta barel per hari,
sebanyak tiga belas kilang minyak di negara tersebut sedang ditambah sehingga
pada tahun 2020 mengolah 3,1 juta barel minyak per hari.
o Ekstensifikasi eksplorasi dan proses eksploitasi ke area-area baru (misalkan
mengoptimalkan potensi energi di laut dalam)
o Diversifikasi energi dengan mendorong produksi dan ketersediaan energi di dalam
negeri dengan pasokan yang cukup dan harga yang terjangkau dari energi baru dan
terbarukan yang lebih ramah lingkungan, punya multiplier efek, nilai tambah dan
penyerapan tenaga kerja tinggi dan subsidi berkurang. Meskipun masih banyak
kendala seperti: biaya tinggi, siklus alam yang kadang berubah-ubah dengan cepat
serta teknologi, Indonesia harus mampu mengatasinya.
o Merevitalisasi industri biofuel dan menggalakkan pemakaiannya dan mempercepat
pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) selain biofuel seperti energi
surya, angin, hidrogen, air dan hibrida. Campur tangan pemerintah yang lebih besar
dalam sektor industri biofuel sebagaimana BBM. Pemerintah harus cukup terlibat
jauh dalam penyediaan bahan baku (biomassa), pembangunan biorefinery,
distribusi dan penetapan harga biofuel. Sebagai benchmark dapat diambil Brasil.
Berbasis lahan tebu yang luas dan sejarah industri gula yang panjang, dibangunlah
pengolahan gula ke etanol yang komprehensif sehingga menjadikan Brasil sebagai
produsen terbesar etanol di dunia. Lebih dari 10 juta mobil di negara tersebut
menggunakan konverter sehingga dapat menggunakan etanol yang lebih ramah
lingkungan. Kebijakan Arnold Schwarzenegger sebagai Gubernur California yang
sangat mendorong kemajuan energi terbarukan, patut ditiru di Indonesia. Mantan
aktor laga itu mendorong mobil listrik, menyubsidi sebagian biaya pemasangan
solar cell di rumah penduduknya dan penggunaan smart grid,sehingga pemilik
rumah dapat menjadi net produsen listrik dan menjual kelebihannya berperan besar
dalam peningkatan penggunaan energi surya.
o Menyadarkan semua pemangku kepentingan dari mitos bahwa Indonesia adalah
negara yang kaya energi.
o mengeliminir penyelundupan energi
o membangun infrastruktur energi yang efisien dan dan pemerataan pembangunan
untuk kesejahteraan (penguatan domestik). Penerimaan sektor energi merupakan
penerimaan kedua terbesar setelah perpajakan. Pemerintah Australia bisa menjadi
contoh karena menggunakan uang hasil pajak dari sektor pertambangan untuk
diinvestasikan kembali dalam bentuk penyediaan infrastruktur dan sumber daya
lain. Dengan cara ini, hasil tambang yang merupakan salah satu pemasukan utama
Australia bisa dinikmati seluruh warga dan mendukung pertumbuhan ekonomi
Australia secara berkelanjutan.
o Kolaborasi dengan pemangku kepentingan dalam proyek rintisan. Contohnya pilot
project "Sumba Iconic Island" yang hanya akan memanfaatkan energi baru
terbarukan baik energi air, bayu, surya, sampai gelombang laut untuk seluruh
wilayah pulau Sumba yang dimulai setidaknya tahun 2013 kerja sama antara
pemerintah, khususnya KESDM dengan LSM (HIVOS).
o menerapkan prinsip-prinsip partisipasi, konservasi, adil, transparan dan non
komoditi dalam pengadaan energi. Antara lain melalui penguatan pembangunan
infrastuktur EBT yaitu dengan cara menerbitkan regulasi untuk penerapan Feed-In-
Tariff (FIT) untuk harga jual listrik panas bumi dan EBT lainnya.
o Kebijakan harga energi, terutama gas dan batu bara, antara ekspor dan dalam
negeri juga harus diselaraskan dengan harga pasar dan kebutuhan dalam negeri.
Harganya tidak setinggi harga dunia, tetapi tetap menguntungkan bagi pemasok
energi di dalam negeri.
o Diplomasi energi untuk menjamin ketahanan energi nasional. Antara lain melalui
kegiatan promosi investasi di bidang energi (untuk energi baru dan terbarukan,
Indonesia menawarkan konsep investasi bersama), renegosiasi kontrak dengan
pihak asing (kontrak karya aset energi di dalam neger, kontrak penjualan gas ke
negara lain), dan diplomasi dengan negara-negara penghasil minyak (eksportir)
agar pasokan minyak jangka panjang tetap terjamin (Indonesia menawarkan
konsep cadangan bersama antar negara seperti yang dilakukan negara Asia
Tenggara dalam skema ASEAN Petroleum Security Agreement untuk diperluas ke
Asia).
Demand side:
o mengatur pola konsumsi energi
o meningkatkan budaya hemat energi. keberhasilan banyak negara maju dalam
kebijakan penghematan energi ditentukan oleh keberhasilan mereka dalam
melakukan penghematan energi pada sistem infrastruktur energi dan sistem
pengawasannya. Indonesia patut mencotoh keberhasilan ini dengan segera
membuat Standard Operational Procedure hemat energi bagi bangunan komersial,
industri dan perumahan.
o Diversifikasi energi dengan menurunkan kebergantungan pada migas dan
meningkatkan peran sumber energi baru dan terbarukan yang lebih ramah
lingkungan.
o meluruskan kebijakan subsidi energy. Subsidi energi membengkak besar mencapai
sekitar Rp 300 triliun pada 2013 melebihi belanja modal dan bantuan sosial yang
sangat dibutuhkan dalam mendorong pembangunan dan pengurangan kemiskinan.
Kuota BBM selalu terlampaui karena dengan subsidi BBM, konsumsi terus
meningkat tajam, belum lagi terjadinya penyelundupan BBM. Besarnya subsidi ini
mempunyai implikasi luas pada perekonomian. Besarnya impor minyak dan BBM
memberikan sumbangan besar pada defisit neraca perdagangan (ekspor dikurangi
impor). Bagaimanapun, subsidi BBM harus dikurangi. Jika tidak, komplikasi pada
perekonomian akan semakin besar. Pengurangan subsidi BBM ini sebaiknya
dilakukan secara bertahap dan dikompensasi dengan subsidi langsung kepada
golongan miskin untuk transportasi, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja.
Lebih baik kita melakukannya sekarang secara bertahap daripada menunggu pada
saat harga minyak tinggi dan penyesuaian harga BBM juga harus tinggi seperti
2005.
o Penggunaan energi yang optimal secara ekonomi, dengan mendorong kegiatan
ekonomi produktif
o pemilihan dan penggunaan teknologi energi tepat guna dan efisien. Urgensi bagi
efisiensi didasarkan pada fakta bahwa Indonesiadilihat dari pencapaian PDB-
nyamerupakan negara yang sangat boros dalam pemakaian energi, mengalahkan
Thailand dan Malaysia.
5. Kelembagaan Bidang Energi
Energi memiliki domain yang luas (politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan kemanan) dan
meliputi beragam pemangku kepentingan. Para pemangku kepentingan utama di bidang energi
adalah:
Pemerintah (pemerintah pusat: kementerian/lembaga, pemda)
Lembaga legislatif
Komunitas ristek (lembaga litbang/ristek pemerintah/BUMN/swasta, universitas)
Komunitas industri (Industri pemasok energi, industri pendukung, industri pengguna energi;
BUMN, swasta)
Masyarakat (pengguna energi, produsen energi)
LSM
Karena karakteristik tersebut permasalahan energi tidak bisa sepenuhnya dibebankan menjadi
tanggung jawab pemerintah semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama para pemangku
kepentingan. Tanpa dukungan dari para pemangku kepentingan lainnya, hal itu akan sulit untuk
diwujudkan. Dengan demikian diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dan elemen-
elemen pemangku kepentingan lainnya untuk menyelesaiakan permasalahan energi nasional. Perlu
good will dari semua pihak, pemerintah, stakeholder dan konsumen untuk melaksanakan secara
sungguh-sungguh undang-undang, kesepakatan, kebijakan terkait energi.
Sesuai amanat konstitusi, pemerintah menjadi perangkat negara yang menjadi pemegang mandat
untuk mengampu pengelolaan energi nasional. Dalam kapasitas ini, pemerintah bertindak selaku
regulator kebijakan energi nasional, penguasa atas aset energi, fasilitator bagi implementasi
kebijakan energi nasional dan pengontrol dari pelaksanaan kebijakan energi yang dibuatnya.
Dalam pelaksanaannya, masing-masing peran pemerintah ini diampu oleh lembaga yang terpisah
tetapi untuk memastikan goal congruence harus terkoordinir dan sinergistik. Untuk itu diperlukan
dirigen yang mengorkestrasi masing-masing pemain agar tercapai harmoni nada dan irama.
Untuk menjamin efektivitas perannya, yang bertindak selaku dirigen seyogyanya minimal menteri
koordinator.
Tata kelembagaan dalam pengelolaan migas nasional juga masih dalam perdebatan. Dengan
adanya UU Migas (UU no. 12 tahun 2001), Pertamina yang di UU sebelumnya diberi kuasa sebagai
pemegang monopoli kini hanya bertindak sebagai pemain biasa. Sebagai regulator,dibentuklah BP
(Badan Pelaksana) Migas yang berstatus Badan Hukum Milik Negara. Yang paling banyak
dipertanyakan adalah keberadaan BP migas yang justru membuat industri migas tidak efisien. Hal
ini berbeda dengan yang ditempuh Brasil dengan Petrobasnya. Petrobras memegang hak monopoli
eksplorasi dan produksi serta aktivitas terkait, termasuk penjualan, distribusi ritel dan produk
derivatifnya di Brasil selama 1954 sampai 1997. Kompetisi baru dibuka untuk perusahaan asing
ketika Petrobras sudah kuat dan justru akan memacu efisiensinya. Putusan MK Nomor 36/PUU-
X/2012 berujung pada pembubaran BP Migas dan sebagai gantinya pemerintah membentuk
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).
Di sektor kelistrikan ada wacana pemerintah untuk meliberalkan sektor kelistrikan, termasuk proses
pembangunan pembangkit listrik, distribusi dan penjualan listrik. Ironisnya, pemerintah percaya
liberalisasi ini akan menjadi faktor pendorong elektrifikasi di Indonesia. Dalam kasus banyak
negara, liberalisasi justru berdampak buruk, seperti kenaikan tarif listrik. Di California, AS,
liberalisasi listrik berakhir dengan cerita pedih. Di tangan swasta, harga listrik bisa naik kapan saja.
Bahkan, dalam kasus Enron, perusahaan swasta bisa memanipulasi keadaan, termasuk mematikan
aliran listrik, untuk mendorong kenaikan tarif.
Energi sangat vital bagi pembangunan bangsa. Karena itu, pemerintah mestinya punya politik
energi, yang berlandaskan pada pasal 33 UUD 1945. Dengan demikian, kekayaan energi nasional
bisa benar-benar digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Hanya saja, sampai sekarang Indonesia
belum mampu membangun perusahaan migas dan mineral lainnya yang kompetitif, menguasai
teknologi eksplorasi, mengembangkan dan meningkatkan kualitas produk seperti Shell dari
Belanda, BP dari Inggris dan Petronas dari Malaysia.
Pemenuhan terhadap kebutuhan energi akan terwujud jika pengelolaan sumber daya energi
dilakukan dengan benar, mendahulukan kepentingan umum dan profesional, meningkatkan mutu
serta mempertimbangkan laba rugi dalam cakupan luas. Ketersediaan sumber energi sebegai
sebuah produk merupakan rangkaian proses produksi yang membentuk rantai pasok, pada
akhirnya menjadi sebuah industri. Ketersediaan industri dapat terpenuhi bila pemerintah
membangun industri migas yang kompetitif dan memegang kendali penuh atas industri. Untuk
membangun industri migas yang kompetitif dapat dimulai dengan restrukturisasi internal
perusahaan sebagai berikut:
Meningkatkan kinerja perusahaan pemerintah dengan membangun manajemen yang
solid,dan meningktakan sumber daya manusia.
Membangun industri baja, dan konstruksi lainnya yang bermuatan teknologi untuk
meningkatkan eksloprasi dan pengolahan migas.
Membangun holding atau induk perusahaan migas pemerintah. Mengintegrasikan seluruh
perusahaan migas, memingkatkan koordinasi antar lini produksi untuk membentuk ratai
pasok yang efisien dan industri yang kuat.
Pemerintah dapat mengintervensi langsung melalui kebijakan untuk membentuk industri migas
yang kuat. Keadaan yang kondusif dalam restrukturisasi industri adalah keadaan yang kompetitif
dan kondusif, dalam artian persaingan tetap ada dan berjalan wajar, yang dapat tercipta dengan:
Membuka peluang masuk bagi pihak swasta, untuk mengembangkan industri hilir pada
industri migas.
Melakukan partenership atau joint venture dengan pihak swasta asing untuk
mengembangkan industri hilir industri migas.
Melakukan pengawasan terhadap perusahaan di industri migas supaya mentaati regulasi
yang dibuat oleh pemerintah.
Melakukan marger perusahaan-perusahaan kecil migas supaya lebih efisien dan tidak
merusak lingkungan.
6. Daftar Pustaka
Bustami, Siraj E.M. Strategi Kebijakan Energi Indonesia.
http://hukumenergisumberdayamineral.wordpress.com/ 22 Januari 2013
Energi dari Laut Dalam Indonesia Pilihan yang Tak Boleh Diabaikan. 02 Mei 2012.
http://www.sainsindonesia.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=68:energi-dari-
laut-dalam-indonesia-pilihan-yang-tak-boleh-diabaikan&catid=14&Itemid=112. 9 Februari 2013.
Fauzi, Dwi A. 25 November 2008. Good Governance Menuju Ketahanan Energi.
http://poligg.blogspot.com/2008/11/good-governance-menuju-ketahanan-energi.html 9
Februari 2013.
Ghopur, Abdul. Benarkah Indonesia Krisis Energi? Kompasiana. 11 Januari 2013.
Ghopur, Abdul. Paradoks Negeri Kaya Energi. Kompasiana. 29 Januari 2013.
INTPOW. 2012. Offshore Wind Norway: Market and Supply Chain, 2012.
Jero Wacik minta kebijakan energi nasional dikaji ulang. Harian Umum Merdeka. 29 Januari 2013.
http://www.merdeka.com/uang/jero-wacik-minta-kebijakan-energi-nasional-dikaji-ulang.html 9
Februari 2013.
Juoro, Umar. Komplikasi Kebijakan Energi. Harian Umum REPUBLIKA, 28 Januari 2013.
Kemal. 2010. Political Will dan Konsistensi Arah Kebijakan.
http://politik.kompasiana.com/2010/05/14/political-will-dan-konsistensi-arah-kebijakan-
140339.html 9 Februari 2013
Mewujudkan Sumsel sebagai Lumbung Energi Nasional. 6 Februari 2013.
http://energitoday.com/2013/02/06/mewujudkan-sumsel-sebagai-lumbung-energi-nasional/ 9
Februari 2013.
Strategi Indonesia dalam Ketahanan Energi Nasional. 19 Oktober 2012.
http://indonesianvoices.com/index.php/nasionalberita/1327-strategi-indonesia-dalam-ketahanan-
energi-nasional. 9 Februari 2013.
Thaib, Mathiyas, Hendri Teja. 30 Maret 2012. Kenaikan BBM : Pertarungan Pemimpin Ber-mindset
Produktif vs Konsumtif. http://www.alomet.net/?p=1238 9 Februari 2013.
Worldwide Governance Indicator. 2011. http://info.worldbank.org/governance/wgi/index.asp 9
Februari 2013.