Anda di halaman 1dari 31

Laporan Praktikum

Teknik Reaksi Kimia

Dosen Pembimbing
Dra.Yelmida, Msi

METANOLISIS MINYAK NABATI

Kelompok

: II (Dua)

Nama

: Rita P. Mendrova

(1107035609)

Ryan Tito

(1107021186)

Yakub J. Silaen

(1107036648)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES KIMIA


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013

Abstrak
Biodiesel merupakan sumber bahan bakar alternatif pengganti solar yang
terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani, tidak mengandung sulfur dan
tidak beraroma. Biodiesel dihasilkan dengan mereaksikan minyak nabati dengan
alkohol menggunakan basa sebagai katalis pada suhu dan komposisi tertentu
atau reaksi transesterifikasi. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari
pengaruh waktu reaksi terhadap konversi minyak nabati menjadi biodiesel.
Percobaan ini dilakukan dengan menvariasikan waktu reaksi yaitu 30, 45, dan 60
menit, serta menentukan karakteristik biodiesel yaitu kadar air, densitas,
viskositas, dan uji nyala. Berdasarkan hasil percobaan semakin lama waktu
reaksi maka konversi biodiesel yang didapat semakin besar. Konversi yang
dihasilkan pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit secara berturut-turut didapat
sebesar 24%, 34% dan 76%. Berat jenis biodiesel yang diperoleh pada waktu
reaksi 30, 45 dan 60 menit secara berturut-turut yaitu sebesar 0,832 gr/cm3; 0,82
gr/cm3 dan 0,83 gr/cm3. Viskositas biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30,
45 dan 60 menit secara berturut-turut yaitu sebesar 8,58 mm/s; 9,97 mm/s dan
10,7 mm/s. Kadar air biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30, 45 dan 60
menit secara berturut-turut yaitu sebesar 0,6%; 0,5% dan 0,42%. Titik nyala
biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit secara berturutturut berada pada suhu 155 0C, 145 0C dan 140 0C.
Kata Kunci : Biodiesel, minyak nabati, transesterifikasi, konversi, kadar air,
Berat jenis, viskositas, titik nyala

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan metanolisis minyak nabati yaitu untuk
mempelajari pengaruh waktu reaksi terhadap konversi minyak nabati menjadi
biodiesel.
1.2

Landasan Teori

1.2.1 Sejarah Biodiesel


Biodiesel merupakan sejenis bahan bakar diesel yang diproses dari bahan
hayati terutama minyak nabati dan lemak hewan dan secara kimiawi dinyatakan
sebagai monoalkil ester dari asam lemak rantai panjang yang bersumber dari
golongan lipida. Biodiesel pertama kali dikenalkan di Afrika Selatan sebelum
perang dunia II sebagai bahan bakar kenderaan berat. Biodiesel didefinisikan
sebagai metil/etil ester yang diproduksi dari minyak tumbuhan atau hewan dan
memenuhi kualitas untuk digunakan sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel.
Sedangkan minyak yang didapatkan langsung dari pemerahan atau pengempaan
biji sumber minyak (oilseed), yang kemudian disaring dan dikeringkan (untuk
mengurangi kadar air), disebut sebagai minyak lemak mentah.
Pada umumnya, orang lebih memilih untuk melakukan proses kimiawi pada
minyak mentah atau refined fatty oil/SVO untuk menghasilkan metil ester asam
lemak (fatty acid methyl ester - FAME) yang memiliki berat molekul lebih kecil
dan viskositas setara dengan solar sehingga bisa langsung digunakan dalam mesin
diesel konvensional. Biodiesel umumnya diproduksi dari refined vegetable oil
menggunakan proses transesterifikasi. Proses ini pada dasarnya bertujuan
mengubah [tri, di, mono] gliserida berberat molekul dan berviskositas tinggi yang
mendominasi komposisi refined fatty oil menjadi asam lemak metil ester (FAME).
Konsep penggunaan minyak tumbuh-tumbuhan sebagai bahan pembuatan
bahan bakar sudah dimulai pada tahun 1895 saat Dr. Rudolf Christian Karl Diesel

(Jerman, 1858-1913) mengembangkan mesin kompresi pertama yang secara


khusus dijalankan dengan minyak tumbuh-tumbuhan. Mesin diesel atau biasa juga
disebut Compression Ignition Engine yang ditemukannya itu merupakan suatu
mesin motor penyalaan yang mempunyai konsep penyalaan diakibatkan oleh
kompressi atau penekanan campuran antara bahan bakar dan oksigen di dalam
suatu mesin motor, pada suatu kondisi tertentu. Konsepnya adalah bila suatu
bahan bakar dicampur dengan oksigen (dari udara) maka pada suhu dan tekanan
tertentu bahan bakar tersebut akan menyala dan menimbulkan tenaga atau panas.
Pada saat itu, minyak untuk mesin diesel yang dibuat oleh Dr. Rudolf Christian
Karl Diesel tersebut berasal dari minyak sayuran. Tetapi karena pada saat itu
produksi minyak bumi (petroleum) sangat melimpah dan murah, maka minyak
untuk mesin diesel tersebut digunakan minyak solar dari minyak bumi. Hal ini
menjadi inspirasi terhadap penerus Karl Diesel yang mendesain motor diesel
dengan spesifikasi minyak diesel.
Bahan bakar nabati bioetanol dan biodiesel merupakan dua kandidat kuat
pengganti bensin dan solar yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin
diesel.

Pemerintah

implementasi

dua

Indonesia
macam

telah

bahan

mencanangkan

bakar

tersebut,

pengembangan
bukan

hanya

dan
untuk

menanggulangi krisis energi yang mendera bangsa namun juga sebagai salah satu
solusi kebangkitan ekonomi masyarakat.
1.2.2 Perkembangan Biodiesel
Peningkatan kebutuhan energi (BBM) yang sangat tinggi dewasa ini
mendorong

industri-industri

pengeboran

dan

pengolahan

minyak

untuk

meningkatkan produksi mereka. Peningkatan ini akan terus terjadi setiap


tahunnya seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dan jumlah
penduduk yang semakin meningkat. Sayangnya, BBM yang tetap menjadi
tumpuan pemenuhan kebutuhan tersebut merupakan energi tak terbarukan. Hal ini
berdampak besar bagi ketersediaan energi tersebut di masa depan. Oleh karena itu,
penelitian mengenai energi alternatif yang terbarukan serta penerapannya
berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Biodiesel adalah suatu energi alternatif yang telah dikembangkan secara


luas untuk mengurangi ketergantungan kepada BBM. Biodiesel merupakan bahan
bakar berupa metil ester asam lemak yang dihasilkan dari proses kimia antara
minyak nabati dan alkohol. Sebagai bahan bakar, biodiesel mampu mengurangi
emisi hidrokarbon tak terbakar, karbon monoksida, sulfat, hidrokarbon polisiklik
aromatik, nitrat hidrokarbon polisiklik aromatik dan partikel padatan sehingga
biodiesel merupakan bahan bakar yang disukai disebabkan oleh sifatnya yang
ramah lingkungan. Di beberapa negara, biodiesel telah diproduksi dan dikonsumsi
dalam jumlah banyak. Pada tahun 2008 produksi biodiesel Amerika Serikat
mencapai 700 juta gallon. Sebagian besar bahan baku yang digunakan dalam
produksi biodiesel di negara-negara tersebut adalah minyak kedelai, minyak
kanola, minyak kelapa sawit, dan minyak biji bunga matahari. Namun,
penggunaan bahan baku tersebut menjadi kendala baru bagi pemenuhan
kebutuhan pangan. Selain itu, minyak jarak yang telah dikembangkan untuk
mengatasi masalah tersebut secara ekonomi belum layak untuk dikembangkan
lebih lanjut dalam skala besar disebabkan oleh diskontinuitas suplai. Oleh karena
itu, pencarian bahan baku baru untuk biodiesel sangat diperlukan. Keuntungan
lain dari biodiesel antara lain :
a.
b.
c.
d.

Termasuk bahan bakar yang dapat diperbarui.


Tidak memerlukan modifikasi mesin diesel yang telah ada.
Tidak memperparah efek rumah kaca karena siklus karbon yang terlibat.
Kandungan energi yang hampir sama dengan kandungan energi

petroleum diesel.
e. Penggunaan biodiesel dapat memperpanjang usia mesin diesel karena
memberikan lubrikasi lebih daripada bahan bakar petroleum.
f. Memiliki flash point yang tinggi, yaitu sekitar 200 0C, sedangkan bahan
bakar petroleum diesel flash pointnya hanya 70 0C.
g. Bilangan setana (cetane number) yang lebih tinggi daripada petroleum
diesel .
Biodiesel tergolong bahan bakar yang dapat diperbarui karena diproduksi
dari hasil pertanian, antara lain : jarak pagar, kelapa, sawit, kedele, jagung, rape
seed, kapas, kacang tanah, dan sebagainya. Selain itu biodiesel juga bisa
dihasilkan dari lemak hewan dan minyak ikan. Penggunaan biodiesel cukup

sederhana, dapat terurai (biodegradable), tidak beracun dan pada dasarnya bebas
kandungan belerang (sulfur).
1.2.3 Pembuatan Biodiesel
Biodiesel dapat berupa metil ester ataupun etil ester tergantung dari jenis
alkohol yang digunakan. Tetapi yang paling sering diproduksi adalah metil ester
karena metanol mudah didapat dan tidak mahal. Kondisi proses produksi
biodiesel dengan menggunakan katalis basa adalah :
a. Reaksi berlangsung pada temperatur dan tekanan yang rendah (150F
dan 2 psi).
b. Menghasilkan konversi yang tinggi (98%) dengan waktu reaksi dan
terjadinya reaksi samping yang minimal.
c. Konversi langsung menjadi biodiesel tanpa tahap intermediate.
d. Tidak memerlukan konstruksi peralatan yang mahal.
Berdasarkan kandungan FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan
biodiesel secara komersial dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan
kalium hidroksida) untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati
dengan kandungan FFA rendah.
2. Esterifikasi dengan katalis asam (umumnya menggunakan asam sulfat)
untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi dilanjutkan dengan
transesterifikasi dengan katalis basa
Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika minyak nabati
mengandung FFA di atas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi (>5%) langsung
ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi dengan katalis
membentuk sabun. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup besar dapat
menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat terbentuknya
emulsi selama proses pencucian.
Reaksi kimia yang terjadi pada pembuatan biodiesel adalah sebagai
berikut:

Gambar 1.1 Reaksi Transesterifikasi


(Sumber : Ketaren, 1986)

Adapun faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi antara lain :


1. Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin
besar sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan reaksi
sudah

tercapai

maka

dengan

bertambahnya

waktu

reaksi

tidak

akan

menguntungkan karena tidak memperbesar hasil.


2. Pengadukan
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat
pereaksi dengan zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan reaksi terjadi
sempurna. Sesuai dengan persamaan Archenius :
k = A e(-Ea/RT)
dimana, T = Suhu absolut (K)
R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)
Ea = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A = Faktor tumbukan (t-1)
k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)
Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta
kecepatan reaksi. Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting mengingat
larutan minyak-katalis-metanol merupakan larutan yang immiscible.
3. Katalisator

Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi


sehingga pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar. Pada
reaksi esterifikasi yang sudah dilakukan biasanya menggunakan konsentrasi
katalis antara 1 - 4 % berat sampai 10 % berat campuran pereaksi.
4. Suhu Reaksi
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi
yang dihasilkan, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Bila suhu naik maka
harga k makin besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi makin
besar.
1.2.4 Sifat Fisik Biodiesel
Adapun sifat fisik dari biodiesel dapat dilihat pada Tabel 1.1 :
Tabel 1.1 Spesifikasi Bio-diesel Sesuai Standar Indonesia RSNI EB 020551
Parameter Kualitas
dan Units
Density at 40 oC, kg/m3
Kinem. Visc. at 40 oC,
mm/s (cSt)

Batas

Test Method

850 890

ASTM D 1298

2,3 6,0

ASTM D 445

Cetane number

min. 51

ASTM D 613

Flash point (closed cup)


(oC)

min. 100

ASTM D 93

Cloud point (oC)

max. 18

ASTM D 2500

Cu strip corrosion
(3 hr, 50 oC)
Carbon residue (%-b),
- in original sample
- in 10 % distillation
residue
Water and sediment, %vol.
90 % distillation
temperature, oC

max. no. 3

Alternative
Method
ISO 3675
ISO 3104
ISO 5165
ISO 2710
ISO 2160

ASTM D 130

max. 0,05
(max. 0,3)

ASTM D 4530

ISO 10370

max. 0,05

ASTM D 2709

max. 360

ASTM D 1160

Sulfated ash, %-w

max. 0,02

ASTM D 874

Sulfur, ppm-w (mg/kg)

max. 100

ASTM D 5453

ISO 3987
ISO 20884

prEN
Phosphorous, ppm-w
(mg/kg)

max. 10

AOCS Ca 12-55

Acid value, mg-KOH/g

max. 0,8

AOCS Cd 3-63

Free glycerol, %-w

max. 0,02

AOCS Ca 14-56

FBI-A02-03

Total glycerol, %-w

max. 0,24

AOCS Ca 14-56

FBI-A02-03

Alkyl ester content, %-w

min. 96,5

calculated

FBI-A03-03

Iodine value, %-b (gI2/100 g)

max. 115

AOCS Cd 1-25

FBI-A04-03

negative

AOCS Cb 1-25

FBI-A06-03

Halphen test

FBI-A05-03
FBI-A01-03

Sumber: T.H. Soerawidjaja, Raw Material Aspects of Biodiesel Production in Indonesia, 8 Maret
2006, BPPT

1.2.5 Macam-Macam Katalis yang digunakan


Sesuai dengan fungsinya, katalis dimanfaatkan untuk mempercepat suatu
reaksi, ikut bereaksi tetapi tidak ikut terkonsumsi menjadi produk. Percobaan
untuk menguji performa beberapa katalis telah dilakukan pada proses pembuatan
biodiesel dan disajikan pada Tabel 1.2 yang menunjukkan bahwa kandungan silika
yang banyak bersifat tidak aktif pada reaksi metanolisis dan yang sangat aktif
adalah katalis dengan kandungan senyawa komponen Kalsium dan Natrium.
Senyawa dengan nilai 10 memberi arti katalis mampu mengkonversi hingga 95%,
tetapi pada kenyataannya katalis tersebut juga banyak sekali menghasilkan sabun.
Tabel 1.2. Katalis metanolisis dan produksi metil ester asam-asam lemak relatif.
Katalis
MgO
SiO2
CaO
CaO.MgO
CaO. Al2O3
CaO.SiO2
CaO bubuk

Komposisi
9,8 % MgO
93% SiO2 ; 3 % Al2O3
7% CaO ; 72% Al2O3
9,22% CaO ; 91% MgO
14,8% CaO ; 85,2%Al2O3
12,6% CaO ; 87,4%SiO2

Produksi metil ester


asam lemak relatif
10
3

CaO.MgO. Al2O3
K2CO3.MgO
K2CO3.Al2O3
K2CO3 bubuk
Na2CO3 bubuk
Fe2O3.MgO
CH3ONa.SiO2

6,34% CaO ; 5,64% MgO ;


86% Al2O3
4,76% K2CO3 ; 95,2% MgO
14,2% K2CO3 ;85% Al2O3
2,73% Fe2O3 .SiO2O; 97,3%
MgO
1,5% - 3,6% CH3ONa ; 98,5%
- 96,5% SiO2

0,5
5
4
6
0,8
2

Sumber : Peterson dan Scarrah, 1984 (dikutip dari Zahrina, 2000)

Katalis-katalis dengan komponen Kalsium dan Magnesium kurang baik


digunakan sebagai katalis karena cenderung membentuk sabun (memiliki sifat
ganda). Senyawa yang mengikat komponen Si, Mg dan Al cenderung berfungsi
sebagai penyangga katalis. Katalis logam seperti Cu dan Sn pada reaksi
metanolisis tidak ditemukan hasil berupa metil ester. Katalis yang bersumber dari
limbah seperti janjang sawit dan limbah sekam padi juga dapat digunakan sebagai
katalis. Sekam padi mengandung senyawa dengan komponen K dan Na, janjang
sawit banyak mengandung komponen K yang baik sebagai katalis.
1.2.6 Minyak Nabati Sebagai Komponen Biodiesel
Industri pengolahan minyak sawit menghasilkan fraksi olein dan stearin.
Fraksi olein lebih baik digunakan untuk pembuatan minyak goreng, karena asam
lemak tak jenuh yang terkandung di dalamnya lebih mudah dihancurkan di dalam
tubuh. Fraksi stearin biasanya digunakan sebagai bahan baku pada pabrik
oleokimia dan untuk diekspor. Akan tetapi, saat ini ekspor stearin mendapat
saingan dari negara lain yang juga penghasil kelapa sawit seperti Malaysia.
Akibatnya, fraksi stearin akan terus berlimpah karena produksi oleokimia dalam
negeri sampai kini juga masih sangat sedikit dibanding produksi bahan baku yang
terus meningkat. Stearin memiliki asam lemak jenuh yang lebih banyak daripada
fraksi olein, karena itu fraksi stearin memiliki bilangan setana lebih besar. Kedua
alasan di atas menjadikan fraksi stearin sebagai sumber yang tepat untuk dijadikan
bahan baku pembuatan biodiesel .

BAB II
PERCOBAAN

1.1. Alat dan bahan


Alat-alat yang digunakan pada percobaan metanolisis minyak nabati adalah
heating mantel, magnetic stirrer, labu alas bulat kapasitas 250 ml, corong pisah,
termometer, erlenmeyer, picnometer, viskosmeter oswald, penangas air, pipet
takar dan almunium foil. Sedangkan bahan yang digunakan adalah metanol p.a,
minyak goreng nabati Sania dan KOH p.a.
2.2. Prosedur Kerja
a. Kandungan asam lemak bebas dan kadar air dalam minyak nabati diuji.
b. Katalis KOH pellet (0,75 gram) dilarutkan ke dalam 63,5 ml metanol
dengan menggunakan pengaduk magnetic atau agitator standar.
c. Campuran metanol dan katalis dimasukkan ke dalam reaktor tertutup,
selanjutnya ditambahkan minyak nabati sebanyak 50 ml, dan kemudian
ditambahkan lagi 20 ml metanol. Sistem dalam keadaan tertutup total
untuk menghindari penguapan metanol.
d. Campuran reaksi dipanaskan dan dijaga pada suhu sekitar titik didih
alkohol (sekitar 65-70oC) guna mempercepat reaksi. Pemanasan dilakukan
dengan variasi waktu: 30, 45, dan 60 menit. Pemberian metanol berlebih
diperlukan untuk memastikan konversi yang sempurna. Hasil reaksi
didinginkan, kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah sampai
terbentuk lapisan.
e. Hasil pemisahan berupa ester metil (biodiesel) dan gliserol. Gliserol
dimasukkan ke dalam wadah dan disimpan, sedangkan biodiesel dibiarkan
di dalam corong pisah.
f. Biodiesel dimurnikan dengan air hangat untuk membuang sisa-sisa katalis
atau sabun.
g. Biodiesel yang didapat diukur volumenya untuk mengetahui konversinya.
h. Biodiesel yang didapat dikeringkan di dalam oven (105 oC).

i. Sifat-sifat fisika dari biodiesel yang diperoleh diuji, berupa berat jenis,
viskositas, kadar air dan uji nyala. Kemudian hasil yang didapat
dibandingkan dengan spesifikasi biodiesel.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1

Hasil Percobaan
Hasil percobaan metanolisis minyak nabati pada berbagai variasi waktu

reaksi (30, 45 dan 60 menit) disajikan pada Tabel 3.1.


Tabel 3.1. Hasil Percobaan

Sampel
Minyak
uji
Biodiese
l

3.2

Konvers
i (%)

Berat
Jenis,
(gr/cm3
)

30
45
60

24
34
76

Waktu
reaksi
(menit)

Viskositas
(mm/s)

Kada
r air
(%)

Uji
nyal
a
0
( C)

Asam
Lemak
Bebas
(%)

0,857

1,25

0,014

0,49

0,832
0,82
0,83

8,58
9,97
10,7

0,6
0,5
0,42

155
145
140

Pembahasan
Tahapan proses dari pembuatan biodiesel ini yaitu dimulai dengan

pengujian kandungan asam lemak bebas dan kadar air yang terdapat di dalam
minyak nabati. Minyak nabati yang digunakan adalah minyak dalam kemasan
Sania. Pengujian kadar asam lemak bebas dilakukan dengan metode titrasi
menggunakan larutan basa kuat KOH 0,1 N. Larutan KOH 0,1 N dibuat dengan
melarutkan sebanyak 5,6 gram KOH pellet ke dalam 1 liter aquades. Larutan ini
kemudian distandarisasi dengan menggunakan larutan asam oksalat 0,1 N.
Larutan asam oksalat dibuat dengan melarutkan sebanyak 6,3 gram asam oksalat
pellet ke dalam 1 liter aquadest. Larutan asam oksalat kemudian dititrasi dengan
menggunakan KOH sehingga didapat konsentrasi KOH sebesar 0,0917 N.
Minyak uji ditimbang sebanyak 10 gram dan ditambahkan pelarut etanol
95% sebanyak 50 ml ke dalam erlenmeyer. Minyak uji kemudian dipanaskan di
atas penangas air pada suhu 400C hingga larut dan ditambahkan indikator
fenolftalein sebanyak 2-3 tetes. Minyak uji kemudian dititrasi dengan

menggunakan larutan titar KOH 0,0917 N, volume larutan titar yang digunakan
sebesar 2,1 ml. Selanjutnya dilakukan pengujian kadar ALB. Hasil perhitungan
(lihat Lampiran A) didapat kadar ALB minyak uji yang digunakan sebesar 0,49%.
Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi,
dimana reaksi antara senyawa ester (CPO/minyak kelapa sawit) dengan senyawa
alkohol (metanol). Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil ester
(biodiesel) dan gliserin (Tim Penyusun, 2013). Proses transesterifikasi yang
umum untuk membuat biodiesel dari minyak nabati (biolipid) ada tiga macam,
yaitu:

Transesterifikasi dengan katalis basa


Transesterifikasi dengan katalis asam langsung
Transesterifikasi minyak/lemak nabati menjadi asam lemak dilanjutkan
menjadi biodiesel (Tim Penyusun, 2013).

Percobaan metanolisis minyak nabati ini dilakukan dengan menggunakan katalis


basa. Artinya, kandungan asam lemak bebas di dalam minyak nabati yang
digunakan harus sangat kecil, yaitu kurang dari 1%. Jika minyak nabati yang
digunakan memiliki kadar ALB lebih dari 1% maka harus menggunakan katalis
asam, sehingga terjadi proses esterifikasi untuk kemudian dilanjutkan dengan
proses transesterifikasi menggunakan katalis basa. Hal ini tentu saja akan
memakan waktu yang lebih lama. Oleh karena itu digunakan minyak nabati yang
memiliki kadar ALB kurang dari 1%. Hasil pengujian terhadap kadar ALB
minyak nabati yang digunakan yaitu hanya 0,49%, sehingga minyak yang
digunakan bisa langsung dilakukan proses transesterifikasi.
Selain pengujian kadar ALB juga dilakukan pengujian kadar air yang
terkandung di dalam minyak nabati yang digunakan. Pengujian kadar air
dilakukan dengan metode pengovenan. Minyak uji dimasukkan ke dalam wadah
kemudian ditimbang beratnya sebagai berat awal. Minyak uji kemudian
dipanaskan di dalam oven pada suhu di atas 1000C ( 130 0C selama 30 menit).
Pemberian suhu di atas 1000C bertujuan agar kandungan air di dalam minyak
dapat menguap dengan cepat (titik didih air 1000C). Setelah selesai pengovenan,
minyak uji ditimbang kembali, dicatat, kemudian dilakukan pengovenan kembali

hingga selisih berat antara dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,02%
(beratnya hampir konstan). Berat minyak + wadah setelah pengovenan dicatat
sebagai berat akhir untuk kemudian dilakukan penghitungan kadar airnya.
Berdasarkan hasil perhitungan percobaan (lihat Lampiran A) didapat kadar air
minyak uji yang digunakan sebesar 0,014%. Minyak yang digunakan dalam
percobaan ini memiliki mutu yang bagus, karena menurut Ketaren (1986), kadar
air maksimal pada CPO yang diolah yaitu sebesar 0,1%.
Tahapan proses pembuatan biodiesel selanjutnya yaitu dengan melarutkan
KOH pellet sebanyak 0,75 gram dengan menggunakan metanol sebanyak 63,5 ml
di dalam labu alas bulat (sistem tertutup total) yang telah diberi magnetik stirer
dan dipanaskan di atas heating mantle. KOH berfungsi sebagai katalis yang akan
menurunkan energi aktivasi, sehingga mempercepat suatu reaksi. Katalis ini ikut
bereaksi, namun tidak ikut terkonsumsi menjadi produk. Katalis yang tepat
digunakan untuk mengkonversi minyak nabati menjadi biodiesel adalah katalis
heterogen, yaitu katalis yang berbeda fasa dengan reaktan dan produknya untuk
memudahkan proses pemisahan (Tim Penyusun, 2013). Oleh karena itu katalis
yang digunakan dalam percobaan ini berfasa padat. Di samping itu, jika katalis
yang digunakan berada dalam fasa cair, maka akan terdapat sejumlah air di dalam
sistem. Hal ini sangat tidak diinginkan, karena minyak akan terhidrolisis jika
bereaksi dengan air. Reaksi hidrolisis ini akan meningkatkan kadar ALB sehingga
akan terbentuk sabun.
KOH pada dasarnya merupakan senyawa anorganik, sedangkan metanol
merupakan senyawa organik. Karena adanya ikatan hidrogen diantara keduanya
maka metanol dapat melarutkan KOH dengan mudah. Campuran minyak-katalismetanol merupakan campuran yang immiscible (tidak saling larut), oleh karena itu
penggunaan magnetic stirer sebagai pengaduk serta proses pemanasan akan
mempercepat proses pencampuran antarsenyawa tersebut.
Minyak nabati (sabanyak 50 ml) dipanaskan terlebih dahulu di atas
penangas air sebelum dimasukkan ke dalam labu alas bulat, hal ini bertujuan
untuk mempercepat reaksi. Metanol ditambahkan kembali ke dalam labu alas
bulat sebanyak 15 ml. Apabila salah satu konsentrasi zat diperbesar, maka

kesetimbangan mengalami pergeseran yang berlawanan arah dengan zat tersebut


(Yohanes, 2009). Pemberian metanol berlebih ini bertujuan untuk memperbesar
konsentrasinya, sehingga kesetimbangan akan bergeser ke kanan, laju reaksi ke
kanan semakin cepat dan konversinya semakin besar. Di samping itu, pemberian
metanol berlebih ini juga agar metanol yang berada di dalam sistem tidak habis
(jika terjadi penguapan metanol akibat sistem yang tidak tertutup dengan baik).
Campuran reaksi dipanaskan pada suhu sekitar titik didih alkohol, yaitu
sekitar 65 - 70 0C guna mempercepat reaksi. Labu alas bulat harus benar-benar
tertutup (ditutup dengan gabus lalu dilapisi alumunium foil) agar tidak terjadi
penguapan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Sistem tertutup pada metanolisis minyak nabati


(Sumber: Arsip pribadi)

Pemanasan dilakukan dengan memvariasikan waktu reaksi, yaitu selama 30 menit,


45 menit dan 60 menit. Variasi waktu reaksi ini dilakukan guna mengetahui
karakterisitik biodiesel yang akan diperoleh serta konversinya.
Setelah proses pemanasan, hasil reaksi didiamkan di dalam corong pisah
hingga terbentuk dua lapisan, lapisan atas berwarna kuning keruh, sedangkan
lapisan bawah berwarna kuning jernih. Lapisan atas merupakan metil ester
(biodiesel) sedangkan lapisan bawah merupakan gliserol. Keduanya dapat terpisah
secara gravitasi karena adanya perbedaan densitas, dimana densitas gliserol lebih
besar dibandingkan densitas metil ester (gliserol 10 lbs/gal dan metil ester 7,35
lbs/gal). Gliserol kemudian dimasukkan ke wadah dan di simpan, mengingat
tingginya nilai ekonomis dari gliserol ini.

Gambar 3.2 Pemisahan biodiesel dan gliserol di dalam corong pisah


(Sumber: Arsip pribadi)

Biodiesel yang didapat bukanlah biodiesel murni, melainkan masih terdapat sisasisa katalis, air dan sabun didalamnya. Oleh karena itu, dilakukan pencucian
dengan menggunakan air hangat agar biodiesel yang didapat lebih murni.
Pencucian dilakukan beberapa kali sampai lapisan bawah tidak berwarna lagi
(bening), seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Proses pemurnian biodiesel


(Sumber: Arsip pribadi)

Biodiesel yang terbentuk kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur, dihitung


volumenya guna mengetahui konversi biodiesel. Biodiesel yang didapat pada
waktu reaksi 30 menit sebanyak 12 ml, pada waktu reaksi 45 menit didapat
sebanyak 17 ml, sedangkan pada waktu reaksi 60 menit didapat sebanyak 38 ml.
Biodiesel kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan dilakukan proses

pengovenan pada suhu 1050C. Pengovenan dilakukan guna mengetahui persen


kadar air yang terkandung di dalam biodiesel yang didapat.

Gambar 3.4 Biodiesel hasil percobaan pada waktu reaksi 60 menit


(Sumber: Arsip pribadi)

Langkah selanjutnya yaitu melakukan uji fisika terhadap biodiesel yang didapat,
yaitu berat jenis dan viskositas.
3.2.1 Konversi biodiesel yang dihasilkan
Percobaan metanolisis minyak nabati dilakukan dengan memvariasikan
waktu reaksi yaitu 30, 45, dan 60 menit. Biodiesel yang didapat pada waktu reaksi
30 menit sebanyak 12 ml, pada waktu reaksi 45 menit didapat sebanyak 17 ml,
sedangkan pada waktu reaksi 60 menit didapat sebanyak 38 ml.
Konversi memiliki pengertian bahwa untuk mengetahui sejauh mana reaksi
telah berlangsung atau untuk mengetahui jumlah mol hasil untuk setiap
penggunaan mol salah satu pereaksi atau basis (Tim Penyusun, 2013). Secara
rumus dinyatakan:
Xa=

mol A reactan
mol A feed

Pada percobaan ini, konversi didapat melalui perbandingan antara volume


biodiesel yang didapat dengan volume minyak nabati yang digunakan (sebanyak
50 ml) dikali 100%. Hasil konversi minyak nabati menjadi biodiesel yang didapat
dengan variasi waktu disajikan pada Gambar 3.5.

80
70
60
50

Konversi (%)

40
30
20
10
0
0

10

20

30

40

50

60

70

Waktu reaksi (menit)

Gambar 3.5 Kurva Hubungan antara variasi waktu reaksi dengan konversi
minyak nabati menjadi biodiesel
Berdasarkan Gambar 3.5 dapat dilihat bahwa hasil konversi minyak nabati
menjadi biodiesel semakin meningkat seiring bertambahnya waktu reaksi.
Konversi yang dihasilkan pada waktu reaksi 30 menit adalah sebesar 24%, pada
waktu reaksi 45 menit sebesar 34% sedangkan pada waktu reaksi 60 menit
konversi yang dihasilkan sebesar 76%. Semakin lama waktu reaksi maka
kemungkinan kontak antar zat semakin besar sehingga akan menghasilkan
konversi yang semakin besar (Zahrina, 2000).
3.2.2 Berat Jenis biodiesel
Pada percobaan ini ada beberapa uji sifat fisika dari biodiesel yang
diperoleh, berupa berat jenis dan viskositas. Massa jenis merupakan sifat fisik
yang berkaitan dengan nilai kalori dan daya yang dihasilkan oleh mesin diesel per
satuan volume bahan bakar. Makin ringan bahan bakar semakin rendah pula
massa jenisnya dan sebaliknya makin berat bahan bakar semakin tinggi massa
jenisnya. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, berat jenis biodiesel yang
diperoleh pada waktu reaksi 30 menit 0,832 gr/cm 3, pada waktu reaksi 45 menit

yaitu 0,82 gr/cm3, dan pada waktu reaksi 60 menit yaitu 0,83 gr/cm 3. Semakin
lama waktu reaksi maka semakin banyak cabang rantai karbon yang diputuskan
oleh metanol, sehingga berat jenisnya juga akan semakin berkurang. Namun pada
hasil percobaan didapatkan berat jenis yang menurun pada waktu reaksi 45 menit
dan meningkat pada waktu reaksi 60 menit. Hasil berat jenis biodiesel yang
didapatkan ini juga tidak sesuai dengan teori yang ada yaitu standar ASTM untuk
massa jenis biodiesel antara 0,850 gr/cm3 0,890 gr/cm3 (pada suhu 400C).
Ketidakakuratan ini terjadi karena pengujian berat jenis biodiesel tidak dilakukan
pada suhu 400C. Pengujian berat jenis biodiesel percobaan dilakukan langsung
ketika selesai pengujian kadar air (menggunakan suhu 130 0C). Salah satu faktor
yang mempengaruhi berat jenis yaitu suhu. Semakin besar suhu maka berat jenis
akan semakin berkurang, begitupun sebaliknya. Kemungkinan suhu biodiesel
hasil percobaan berada diatas 400C, oleh karena itu berat jenis bioediesel yang
didapat jauh dibawah standar ASTM. Namun jika dibandingkan dengan berat
jenis minyak uji (yaitu sebesar 0,857 gr/cm 3), berat jenis biodiesel yang didapat
pada berbagai variasi waktu reaksi lebih rendah. Ini berarti terjadi penurunan berat
jenis. Reaksi metanolisis akan menyebabkan terputusnya rantai-rantai karbon
minyak nabati oleh metanol sehingga dihasilkan biodiesel dengan berat jenis yang
lebih rendah dibandingkan berat jenis minyak nabati.
3.2.3 Viskositas biodiesel
Proses pemurnian biodiesel yang didapat dengan pencucian menggunakan
air hangat belum sepenuhnya menghasilkan biodiesel yang murni. Untuk menguji
kandungan yang terdapat di dalam biodiesel tersebut dapat dilakukan dengan
pengujian menggunakan gas chromatography (GC). Metode lain yang lebih
mudah dan murah yang dapat digunakan yaitu dengan membandingkan viskositas
biodiesel yang diperoleh dengan viskositas minyak nabati yang digunakan.
Viskositas merupakan tahanan yang dimiliki fluida yang dialirkan dalam pipa
kapiler terhadap gaya gravitasi yang biasanya dinyatakan dalam waktu yang
diperlukan untuk mengalir pada jarak tertentu (Prihandana, 2006).

Minyak nabati memiliki viskositas/ kekentalan yang relatif tinggi dibanding


minyak yang berasal dari fraksi minyak bumi, karena adanya percabangan pada
rantai karbonnya yang cenderung panjang (Tim Penyusun, 2013). Reaksi
metanolisis akan menyebabkan terputusnya rantai-rantai karbon tersebut oleh
metanol sehingga dihasilkan biodiesel dengan viskositas yang lebih rendah
dibandingkan viskositas minyak nabati.
Berdasarkan hasil pengujian, viskositas biodiesel yang diperoleh pada waktu
reaksi 30 menit yaitu sebesar 8,58 mm/s, pada waktu reaksi 45 menit sebesar 9,97
mm/s, dan pada waktu reaksi 60 menit sebesar 10,7 mm/s. Nilai viskositas
biodiesel yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar STM yaitu 2,3 6,0 mm/s.
Namun jika dibandingkan dengan viskositas minyak uji (yaitu sebesar 1,25
mm/s), viskositas biodiesel yang didapat pada berbagai variasi waktu reaksi jauh
lebih tinggi (ini berarti terjadi penurunan kekentalan, sehingga viskositas biodiesel
yang didapat lebih rendah daripada minyak uji).
3.2.4 Kadar air biodiesel
Tahap proses pengujian kadar air biodiesel sama dengan pengujian kadar air
minyak nabati. Berdasarkan hasil percobaan, kadar air biodiesel yang diperoleh
pada waktu reaksi 30 menit yaitu sebesar 0,6%, pada waktu reaksi 45 menit
sebesar 0,5% sedangkan pada waktu reaksi 60 menit didapat sebesar 0,42%. Hasil
yang didapatkan tersebut tidak sesuai dengan standar kadar air biodiesel ASTM
yaitu

maksimal 0,05%. Kadar air biodiesel yang didapat sangat besar dan

melebihi standar ASTM, oleh karena itulah konversi minyak nabati menjadi
biodiesel pada berbagai variasi waktu reaksi pada percobaan ini sangat kecil.
Kadar air yang besar menyebabkan peningkatan pembentukan sabun, hal ini
dibuktikan dengan banyaknya pengulangan proses pencucian atau pemurnian
biodiesel yang didapat.

3.2.5 Uji nyala (flash point) biodiesel

Flash point (titik nyala atau titik kilat) adalah titik suhu terendah yang
menyebabkan bahan bakar dapat menyala. Penentuan titik nyala ini berkaitan
dengan keamanan dalam penyimpanan dan penanganan bahan bakar. Pada
standart ASTM biodiesel nilai flash point minimal 100oC karena untuk
mengeliminasi kontaminasi metanol akibat proses konversi minyak nabati yang
tidak sempurna (Prihandana, 2006:67).

Gambar 3.6 Uji nyala biodiesel


(Sumber: Arsip pribadi)

Titik nyala biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30 menit yaitu pada
suhu 155oC, pada waktu reaksi 45 menit dapat menyala pada suhu 145 oC,
sedangkan pada waktu reaksi 60 menit biodiesel yang diperoleh dapat menyala
pada suhu 140oC. Berdasarkan hasil percobaan, semakin lama waktu reaksi, maka
semakin rendah suhu nyalanya. Semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak
rantai karbon yang terputus oleh metanol, sehingga biodiesel yang dihasilkan
lebih ringan dan titik nyalanya semakin rendah (lebih cepat dan mudah terbakar).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1. Semakin lama waktu reaksi maka konversi biodiesel yang didapat semakin
besar. Konversi yang dihasilkan pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit
secara berturut-turut didapat sebesar 24%, 34% dan 76%.
2. Berat jenis biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit
secara berturut-turut yaitu sebesar 0,832 gr/cm3; 0,82 gr/cm3 dan 0,83
gr/cm3.
3. Viskositas biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit
secara berturut-turut yaitu sebesar 8,58 mm/s; 9,97 mm/s dan 10,7 mm/s.
4. Kadar air biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit
secara berturut-turut yaitu sebesar 0,6%; 0,5% dan 0,42%.
5. Titik nyala biodiesel yang diperoleh pada waktu reaksi 30, 45 dan 60 menit
secara berturut-turut berada pada suhu 155 0C, 145 0C dan 140 0C.
4.2. Saran
Labu alas bulat yang tersedia hanya satu buah, sementara percobaan ini
dilakukan sebanyak 3 run. Sebaiknya dilakukan penambahan jumlah labu alas
bulat yang dipakai guna menghemat waktu percobaan.

DAFTAR PUSTAKA
ASTM. 2002. Annual Book of ASTM Standar Section Five Petroleum Products,
Lubrication, and fossil fuels.ASTM, America.
Biodiesel Technology, A patented biodiesel technology, Developed at the
University of Toronto.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press.
Jakarta
Prihandana, Rama dan Hendroko, Roy, 2006. Energi Hijau Pilihan Bijak Menuju
Negeri MandiriEnergi. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.
Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Teknik Reaksi Kimia. Pekanbaru :
Program Studi D-III Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Yohannes S, Krisbiyantoro, Adi. 2009. Mahir Kimia SMA X, XI,XII. Kendi Mas
Media. Yogyakarta
Zahrina. 2002. Bahan Bakar Alternatif Biodiesel. Jurusan Teknik Kimia Fakulitas
Teknik : USU. Medan

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN
A.1. Uji Kadar Asam Lemak Bebas (ALB) Minyak Nabati
-

Volume KOH yang digunakan (V)


Normalitas larutan KOH (N)
Berat sampel minyak uji (W)
25,6 x N x V
ALB =
x 100
W

= 2,1 ml
= 0,0917 N
= 10 gr

25,6 x 0,917 N x 2,1 ml


x 100
10 gr
= 0,49 %

A.2. Konversi (%)


Waktu reaksi
(menit)
30
45
60
konversi=

Volume minyak nabati


(ml)
50
50
50

Volume biodiesel
(ml)
12
17
38

Konversi
(%)
24
34
76

volume biodiesel yang dihasilkan


x 100
volume minyak nabati yang digunakan

Waktu reaksi 30 menit


12ml
konversi=
x 100 =24
50 ml

Waktu reaksi 45 menit


17 ml
konversi=
x 100 =34
50 ml

Waktu reaksi 60 menit


38 ml
konversi=
x 100 =76
50 ml

A.3. Berat Jenis


Sampel

Waktu

Volume

Berat

Berat

Berat

reaksi
(menit)

picnometer
(ml)

picnometer
kosong
(gram)

picnometer +
biodiesel
(gram)

jenis
(gr/ml)

11,76

16,043

0,857

30
45
60

5
5
5

11,76
11,79
11,78

15,92
15,89
15,93

0,832
0,82
0,83

Minyak
Uji
Biodiesel

berat jenis=

( Berat picno+ biodiesel )(Berat picno kosong)


volume picnometer

Minyak uji
berat jenis=

( 16,04311,76 ) gram
=0,857 gr /ml
5 ml

Waktu reaksi 30 menit


( 15,9211,76 ) gram
berat jenis=
=0,832 gr /ml
5 ml

Waktu reaksi 45 menit


(15,8911,79) gram
berat jenis=
=0,82 gr /ml
5 ml

Waktu reaksi 60 menit


( 15,9311,78 ) gram
berat jenis=
=0,83 gr / ml
5 ml

A.4. Viskositas

Sampel
Minyak
uji
Biodiesel

Waktu
reaksi
(menit)

Jarak tanda batas atas


hingga tanda batas
bawah
(mm)

Eflux time
(sekon)

Viskositas
(mm/s)

30

24

1,25

30
45
60

30
30
30

3,51
3,01
2,80

8,58
9,97
10,7

Minyak Uji
viskositas=

jarak 30 mm
=
=1,25 mm/det
waktu 24 detik

Waktu reaksi 30 menit


jarak
30 mm
viskositas=
=
=8,58 mm/det
waktu 3,51 detik

Waktu reaksi 45 menit


jarak
30 mm
viskositas=
=
=9,97 mm /det
waktu 3,01 detik

Waktu reaksi 60 menit


jarak
30 mm
viskositas=
=
=10,7 mm /det
waktu 2,80 detik

A.5. Uji kadar air

Sampel

Waktu
reaksi
(menit)

Berat wadah +
biodiesel sebelum di
oven
(gram)

Berat wadah +
biodiesel setelah di
oven
(gram)

Kadar
air
(%)

70,35

70,34

0,014

30
45
60

33,42
77,06
137,58

33,22
76,67
137,00

0,6
0,5
0,42

Minyak
Uji
Biodiesel

kadar air=

berat awalberat akhir


x 100
berat akhir

Minyak uji
kadar air=

( 70,3570,34 ) gr
x 100 =0,014
70,34 gr

waktu reaksi
kadar air=

(33,4233,22)gr
x 100 =0,6
33,22 gr

waktu reaksi 45 menit


(77,0676,67) gr
kadar air=
x 100 =0,5
76,67 gr

waktu reaksi 60 menit


(137,58137,00) gr
kadar air=
x 100 =0,42
137,00 gr

A.6. Uji Nyala Biodiesel

Untuk waktu reaksi 30 menit, biodiesel menyala pada suhu 155oC


Untuk waktu reaksi 45 menit, biodiesel menyala pada suhu 145oC
Untuk waktu reaksi 60 menit, biodiesel menyala pada suhu 140oC

LAMPIRAN B
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Metanolisis Minyak Nabati

Hari/Tanggal Praktikum

: Senin/11 November 2013

Pembimbing

: Dra. Yelmida, M.Si

Asisten Laboratorium

: M. Asyraf. H

Nama Kelompok II

: Rita Puriani Mendrova (1107035609)


Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)

Hasil Percobaan

Uji Kadar Asam Lemak Bebas (ALB) Minyak Nabati


-

Volume KOH yang digunakan (V)


Normalitas larutan KOH (N)
Berat sampel minyak uji (W)
25,6 x N x V
ALB =
x 100
W

= 2,1 ml
= 0,0917 N
= 10 gr

25,6 x 0,917 N x 2,1 ml


x 100
10 gr
= 0,49 %

Tabel B.1 Data hasil konversi biodiesel yang diperoleh pada berbagai variasi
waktu reaksi (30, 45 dan 60 menit)
Waktu reaksi
(menit)
30
45
60

Volume minyak nabati


(ml)
50
50
50

Volume biodiesel
(ml)
12
17
38

Konversi
(%)
24
34
76

Tabel B.2 Data hasil perhitungan berat jenis biodiesel pada berbagai variasi waktu
reaksi (30, 45 dan 60 menit)
Sampel

Waktu
reaksi
(menit)

Volume
picnometer
(ml)

Berat
picnometer
kosong

Berat
picnometer +
biodiesel

Berat
jenis
(gr/ml)

Minyak
uji
Biodiesel

(gram)

(gram)

11,76

16,043

0,857

30
45
60

5
5
5

11,76
11,79
11,78

15,92
15,89
15,93

0,832
0,82
0,83

Tabel B.3 Data hasil perhitungan viskositas minyak uji dan biodiesel pada
berbagai variasi waktu reaksi (30, 45 dan 60 menit)

Sampel
Minyak
uji
Biodiesel

Waktu
reaksi
(menit)

Jarak tanda batas atas


hingga tanda batas
bawah
(mm)

Eflux time
(sekon)

Viskositas
(mm/s)

30

24

1,25

30
45
60

30
30
30

3,51
3,01
2,80

8,58
9,97
10,7

Tabel B.4 Data hasil perhitungan kadar air minyak uji dan biodiesel pada berbagai
variasi waktu reaksi (30, 45 dan 60 menit)

Sampel
Minyak
uji
Biodiesel

Waktu
reaksi
(menit)

Berat wadah +
biodiesel sebelum di
oven
(gram)

Berat wadah +
biodiesel setelah di
oven
(gram)

Kadar
air
(%)

70,35

70,34

0,014

30
45
60

33,42
77,06
137,58

33,22
76,67
137,00

0,6
0,5
0,42

Tabel B.5 Data hasil penentuan titik nyala (flash point) biodiesel pada berbagai
variasi waktu reaksi (30, 45 dan 60 menit)
Waktu reaksi
(menit)
30
45
60

Flash point
(0C)
155
145
140

Pekanbaru, 14 November 2013


Teknisi Laboratorium,

Asisten Laboratorium,

Gustina, S.Pd

M. Asyraf. H