Anda di halaman 1dari 26

Laporan Praktikum

Dosen Pembimbing

Teknik Reaksi Kimia

Sri Helianty, ST., M.T

NERACA MASSA PADA REAKTOR TUBULAR

Kelompok

: II (Dua)

Nama Kelompok

: 1. Rita P. Mendrova

Tanggal Praktikum

(1107035609)

2. Ryan Tito

(1107021186)

3. Yakub J. Silaen

(1107036648)

: 30 September 2013

Tanggal Pemasukan Laporan : 4 Oktober 2013

LABORATORIUM INSTRUKSIONAL DASAR PROSES


DAN OPERASI PABRIK PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS RIAU
2013

ABSTRAK
Untuk menyusun neraca massa pada sistem yang bereaksi, dikenal istilah
reaktan pembatas, reaktan ekses, dan konversi reaksi. Konversi reaksi merupakan
ukuran sejauh mana suatu reaksi telah berlangsung. Tujuan dari percobaan ini
yaitu melakukan kalibrasi laju alir pompa yang digunakan pada reaktor,
mengetahui pengaruh laju alir terhadap kondisi steady-state dan membandingkan
hasil konversi antara titrasi dengan konduktivitas. Metode pengkalibrasian
dilakukan dengan menampung air yang dialirkan menggunakan pompa speed 4,
6, 8, 10 dan 12 untuk masing-masing pompa 1 dan 2 selama 1 menit. Langkah
selanjutnya yaitu mereaksikan NaOH (pompa 1, speed 5) dengan etil asetat
(pompa 2, speed 7) ke dalam reaktor tubular sampai didapat kondisi steady state
(ditandai dengan konstannya konduktivitas), kemudian campuran dititrasi dengan
HCl 0,01 N. Konduktivitas yang didapat yaitu sebesar 0,73 mS selama 22 menit,
sedangkan konsentrasi NaOH yang keluar dari reaktor didapat sebesar 0,00083
N. Hasil konversi NaOH secara titrasi dan konduktivitas berturut-turut didapat
sebesar 0,95 dan 0,625. Perbedaan ini terjadi karena reaktor tubular yang
digunakan dalam kondisi yang tidak baik.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Percobaan
1. Melakukan kalibrasi laju alir pompa yang digunakan pada reaktor.
2. Mengetahui pengaruh laju alir terhadap kondisi steady-state.
3. Membandingkan hasil konversi antara titrasi dengan konduktivitas.
1.2 Dasar Teori
Teknik kimia berpusat pada operasi-operasi seperti reaksi kimia, neraca
massa perpindahan bahan, neraca energi dan sebagainya. Neraca massa dan
neraca energi sangat berperan dalam perubahan materi dengan menggunakan
sistem aliran sebagai transportasi unsteady state (variabel dalam sistem berubahubah terhadap waktu) dan dalam keadaan steady state (variabel tidak berubah
terhadap waktu).
1.2.1

Kalibrasi
Kalibrasi merupakan perbandingan kinerja instrumen dengan suatu standar

akurat telah spakati. Kalibrasi menjamin bahwa pengukuran yang akurat dan
dalam batas spesifikasi yang disyaratkan dari instrumen proses. Kalibrasi secara
singkat dapat digambarkan sebagai suatu aktivitas pengujian instrumen dengan
cara membandingkan hasil penunjukkan instrument tersebut dengan nilai/referensi
yang telah diketahui. Referensi merupakan nilai acuan /nilai pembanding yang
standarnya sudah ditetapkan. Alasan utama untuk kalibrasi adalah bahwa
instrumen yang paling baik pun juga mengalami drift serta akan kehilangan
kemampuan untuk memberikan pengukuran yang akurat.
Sumber-sumber yang mempengaruhi hasil kalibrasi:

Prosedur
Kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan prosedur standar yang telah
diakui. Kesalahan pemahaman prosedur akan membuahkan hasil yang

kurang benar dan tidak dapat dipercaya. Pengesetan sistem harus teliti
sesuai dengan aturan pemakaian alat, agar kesalahan dapat dihindari.

Kalibrator
Kalibrator harus mampu telusur

ke standar Nasional dan atau

Internasional. Tanpa memiliki ketelusuran, hasil kalibrasi tidak akan diakui


oleh pihak lain. Demikian pula ketelitian, kecermatan dan kestabilan
kalibrator harus setingkat lebih baik dari pada alat yang dikalibrasi.

Tenaga pengkalibrasi
Tenaga pengkalibrasi harus memiliki keahlian dan keterampilan yang
memadai,

karena

hasil

kalibrasi

sangat

tergantung

kepadanya.

Kemampuan mengoperasikan alat dan kemampuan visualnya, umumnya


sangat diperlukan, terutama untuk menghindari kesalahan yang disebabkan
oleh penalaran posisi skala.

Periode kalibrasi
Periode kalibrasi adalah selang waktu antara satu kalibrasi suatu alat ukur
dengan kalibrasi berikutnya. Periode kalibrasi tergantung pada beberapa
faktor antara lain pada kualitas metrologis alat ukur tersebut, frekuensi
pemakaian, pemeliharaan atau penyimpanan dan tiingkat ketelitiannya.
Periode kalibrasi dapat ditetapkan berdasarkan lamanya pemakaian alat,
waktu kalender atau gabungan dari keduanya.

Lingkungan
Lingkungan dapat menyebabkan pengaruh yang sangat besar terhadap
kalibrasi terutama untuk mengkalibrasi kalibrator. Misalnya kondisi suhu,
kelembaban, getaran mekanik medan listrik, medan magnetik, medan
elektromagnetik, tingkat penerangan dan sebagainya.

Alat yang dikalibrasi


Alat yang dikalibrasi harus dalam keadaan maksimal, artinya dalam
kondisi jalan dengan baik, stabil dan tidak terdapat kerusakan yang
mengganggu.

1.2.2

Pengertian Konversi
Konversi memiliki pengertian bahwa untuk mengetahui sejauh mana

reaksi telah berlangsung atau untuk mengetahui jumlah mol hasil untuk setiap
penggunaan mol salah satu pereaksi atau basis.
Secara rumus dinyatakan:
mol A reaktan
mol A feed

Xa =
1.2.3

Reaktor Tubular
Untuk menyusun neraca massa pada sistem yang bereaksi, dikenal istilah

reaktan pembatas, reaktan ekses (reaktan berlebih) dan konversi reaksi serta yield.
Dua reaktan A dan B berada dalam perbandingan stoikiometri jika perbandingan
mol A yang ada dengan mol B yang ada sama dengan perbandingan stoikiometri
dari persamaan reaksi. Jika reaktan yang ada tersebut tidak dalam perbandingan
stoikiometri, berarti salah satu berupa reaktan pembatas dan yang lainnya adalah
reaktan ekses (reaktan berlebih). Reaktan pembatas adalah reaktan yang pertama
kali habis bereaksi untuk reaksi yang sempurna atau reaktan tersebut berada dalam
jumlah yang lebih kecil dibandingkan perbandingan stoikiometri dengan reaktan
lainnya. Konversi reaksi adalah perbandingan mol dari suatu reaktan yang
bereaksi dengan mol umpan reaktan tersebut. Sedangkan yield adalah
perbandingan berat hasil dengan berat umpan.
Reaktan disuplai ke dalam reaktor kemudian reaktan ditutup dan reaksi
berlangsung. Tidak ada penambahan reaktan dan pelepasan produk dalam reaktor.
Temperatur di dalam reaktor dijaga konstan dan pencampuran larutan dapat
dilakukan secara pengadukan. Neraca massa di dalam reaktor terjadi saat
pelepasan produk dari reaktan. Produk dari reaksi ini akan memperlihatkan
penggunaan mol reaktan yang berfungsi sebagai basis.
Persamaan neraca massa secara umum untuk sistem yang melibatkan
reaksi pada reaktor kontinyu:

Input + produk output zat yang bereaksi = akumulasi ...................................(1)


Pada percobaan ini sistemnya adalah reaksi saponifikasi etil asetat dengan NaOH
dapat di tulis:
NaOH + CH3COOC2H5 CH3COONa + C2H5OH ....(2)
Neraca massa total pada reaktor tubular:
Fa+ Fb = Ft .......(3)
Neraca massa komponen NaOH pada reaktor :
Ft . a0 Ft . a1 Ft . a0 . xa = d ( v . a1 ) / dt ......(4)
Jika tercapai keadaan steady-state, maka akumulasi (da1/dt)= 0,
Sehingga persamaan (4) dapat diubah menjadi:
Xa = (a0 - a1 ) / a0...(5)
a0 pada persamaan (5) merupakan konsentrasi NaOH dalam pencampur
umpan (konsentrasi NaOH masuk reaktor). a1 adalah konsentrasi NaOH sisa
keluar reaktor dan Xa merupakan konversi reaksi. Hubungan a0 dengan konsentrasi
NaOH dalam tangki umpan (a) dapat dinyatakan sebagai berikut:
a0 = ( Fa / Ft ) . a .....(6)
Hubungan konsentrasi etil asetat dalam tangki (b) dengan konsentrasi etil asetat
dalam pencampuran umpan (b0) dinyatakan dengan persamaan berikut:
b0 = ( Fa / Ft) . b ......(7)
Volume reaktor adalah tetap yaitu 0,400 dm3. Dengan metode titrasi
konsentrasi NaOH dalam tangki dan titrasi NaOH sisa keluaran reaktor, maka
konversi reaksi NaOH dapat dilakukan dengan pengukuran konduktivitas produk
reaktor. Adapun persamaan yang digunakan sebagai berikut :

a1 = (a - a0)

A0 A1

a0
A

Aao
0

.............................................................................(8)

a = 0 jika a0 < b0 dan a = (a0 - b0) jika a0 > b0 .................................................(9)


A0 = Aa0 (asumsi c0 = 0) .....................................................................................(10)
A0 = 0,195 (1 + 0,0184 (T 294)) . a0 ; T > 294 ................................................(11)
Aao pada persamaan (8) dapat ditentukan:

Aao = Ac + Aa ..................................................................................................(12)
Ac = 0,070 (1 + 0,0284 (T 294)) . c ; T > 29.................................................(13)
Aa = 0,195 (1 + 0,0184 (T 294 )) . a, jika a 0 .........................................(14)
c = b0, untuk b0 < a0 dan c = a0 untuk b0 > a0 .................................................(15)

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1.

Alat dan Bahan


a. Alat:

1. Reaktor tubular dengan kelengkapan


2. Stopwatch
3. Gelas ukur
4. Labu ukur
5. Beaker glass
6. Corong
7. Neraca digital
8. Buret + statif
9. Erlenmeyer
10. Batang pengaduk
11. Pipet tetes
b. Bahan:
1.

Etil asetat

2.

NaOH

3.

Aquadest

4.

HCL 0,01 N

5.

Indikator PP

2.2.

Prosedur Percobaan
a.

Kalibrasi Pompa Feed

Mengisi kedua tangki feed reagen dengan air hingga penuh

Menghidupkan pompa 1 dengan set kontrol kecepatan 4

Menampung air yang terpompa keluar dengan gelas ukur pada periode
waktu 1 menit.

Mengulang kembali percobaan di atas dengan set kontrol kecepatan 6,


8, 10 dan 12.

Melakukan kalibrasi pada pompa 2 dengan menggunakan set kontrol


kecepatan yang sama seperti pada pompa 1.

b.

Pembuatan Larutan Umpan


Pembuatan larutan NaOH dan etil asetat masing-masing dibuat sebanyak 5
liter dengan konsentrasi 0,05 M. Untuk larutan NaOH ini dititrasi dengan
larutan HCl 0,01 N.

c.

Menentukan Konversi NaOH yang bereaksi


Untuk menentukan konversi dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan
pengukuran konduktivitas dan dengan titrasi. Dengan konduktivitas
diperoleh data konduktivitas pada kondisi steady state. Sedangkan dengan
titrasi diperoleh dari titrasi NaOH pada kondisi steady-state. Dengan
memakai persamaan yang ada, maka konversi dapat ditentukan.

2.3.

Gambar dan keterangan alat (Reaktor Tubular dan Kelengkapannya)

Gambar 1. Reaktor tubular dan kelengkapannya

Alat ini terdiri dari beberapa bagian :

Tangki Reaktan (2)


Tangki reaktan ini terdiri dari dua buah dengan kapasitas volume masingmasing 5 liter. Pada bagian bawah tangki dilengkapi dengan drain valve
yang berfungsi untuk mengosongkan tangki.

Pompa Umpan
Tipe pompa paristaltik dengan kemampuan pada range 0-95 ml per menit.
Operasi normal dilakukan dengan switch toggle (16) pada posisi manual.
Untuk pengaturan kecepatan pompa dapat diatur dengan memutar
potensiometer.

Sirkulator Air Panas


Sirkulator air panas ini digunakan, jika reaktor dioperasikan di atas
temperatur kamar. Air dipanaskan dengan elemen pemanas dalam
sirkulator, dipompa dengan pompa sirkulasi yang terletak dalam sirkulator.
Air dikembalikan ke priming vessel (21) setelah dipanaskan. Sistem
sirkulasi dioperasikan pada tekanan sub-atmosfherik untuk meningkatkan
keamanan. Priming vessel ini digunakan untuk mengisi awal sirkulator dan
reactor serta untuk menghembuskan udara.

Kontrol Temperatur Automatis


Kontrol temperatur dijalankan dengan sirkulasi pemanas atau pendingin
air melalui coil yang terletak dalam reaktor tubular. Sensor temperatur (13)
dirancang dalam reaktor yang berhubungan dengan pengontrol temperatur
otomatis. Temperatur proses diset dengan menekan tombol (23) bersamaan
dengan tombol (24), jika untuk menaikkan temperatur. Sedangkan untuk
menurunkan temperatur dengan menekan tombol (23) bersamaan dengan
tombol (25). Untuk menghidupkan sirkulator dengan cara menekan switch
toggle (26) pada posisi 1.

Pengukur Konduktivitas

Konduktivitas ditunjukkan pada monitor (27) dalam satuan milliSiemen.


Selama bereaksi, konduktivitas dari larutan berubah. Dari data ini dapat
digunakan untuk menentukan tingkat konversi dan kecepatan konversi.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.Kalibrasi Pompa
Percobaan

kalibrasi

pompa

dilakukan

dengan

mengalirkan

air

menggunakan speed pompa 4, 6, 8, 10 dan 12 (untuk masing-masing pompa 1 dan


2), kemudian menampung air yang keluar dari reaktor tubular dengan gelas ukur
selama 1 menit. Hasil pengukuran laju alir air pada masing-masing pompa dapat
dilihat pada Tabel 1, sedangkan grafik hubungan antara speed pompa terhadap laju
alir air pada masing-masing pompa disajikan pada Grafik 1.
Tabel 1. Data hubungan antara speed pompa dengan laju alir air pada pompa
1 dan pompa 2
Laju alir air pada
Laju alir air pada
Speed pompa
pompa 1
pompa 2
( ml/menit )
( ml/menit )
4
9
16
6
28
33
8
47
55
10
67
75
12
86
93

100
90
80
70
60
Pompa 1
50
Laju Alir Air (ml/menit)
40
30
20
Linear (Pompa 2) 10
0

f(x) = 9.7x - 22.8


f(x)
R ==19.65x - 29.8
R = 1
Linear (Pompa 1)

Pompa 2

10

12

14

Speed Pompa
Grafik 1. Hubungan antara speed pompa dengan laju alir air pada pompa 1 dan 2.
Berdasarkan Tabel 1 dan Grafik 1 dapat dilihat bahwa semakin besar
speed setting pompa yang digunakan, baik pada pompa 1 maupun pompa 2, maka
laju alir yang diperoleh akan semakin besar pula. Hal ini disebabkan oleh volume
air yang ditampung pada gelas ukur semakin banyak dalam jangka waktu yang
sama, yaitu 1 menit. Dengan bertambahnya volume air dalam jangka waktu yang
sama berarti laju alirnya semakin cepat. Grafik 1 menunjukkan bahwa untuk
speed pompa yang sama, laju alir air pada pompa 2 lebih besar dibandingkan laju
alir air pada pompa 1. Perbedaan ini bisa jadi dikarenakan spesifikasi pompa yang
digunakan berbeda, sehingga mempengaruhi kinerja dari pompa tersebut.
3.2. Menentukan kondisi steady state
Percobaan ini dilakukan dengan mengalirkan NaOH menggunakan pompa
1 (speed pompa = 5) dan etil asetat menggunakan pompa 2 (speed pompa = 7) ke
dalam reaktor tubular hingga didapat kondisi steady state. Kondisi steady state
ditandai dengan konstannya konduktivitas reaksi yang terbaca pada alat.
Penghitungan konduktivitas dilakukan setiap selang wakti 1 menit. Waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai kondisi steady state dan konduktivitas reaksi selama
mencapai kondisi steady state dicatat.

Tabel 2. Konduktivitas reaksi pada saat steady state (speed pompa 1 (NaOH) = 5
dan pompa 2 (etil asetat) = 7)
Waktu (menit)

Konduktivitas (mS)

0,21

0,20

0,21

0,21

0,20

0,21

0,22

0,21

0,21

0,20

10

0,20

11

0,23

12

0,30

13

0,38

14

0,48

15

0,64

16

0,75

17

0,74

18

0,73

19

0,73

20

0,73

21

0,73

22

0,73

Konduktivitas merupakan kemampuan suatu bahan (larutan, gas atau


logam) untuk menghantarkan listrik. Dalam suatu larutan, arus listrik timbul
karena adanya pergerakan kation-kation dan anion-anion. Semakin besar
konsentrasi suatu larutan, maka semakin banyak ion-ion yang terkandung di
dalamnya, sehingga konduktivitas larutan semakin meningkat.
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat adanya fluktuasi konduktivitas pada
menit-menit awal terjadinya reaksi. Pada menit ke-12, konduktivitas campuran
mulai meningkat hingga menit ke-16. Peningkatan ini terjadi karena semakin
banyaknya NaOH dan etil asetat yang bereaksi. Konduktivitas mulai terlihat
konstan pada menit ke-18 hingga menit ke-22, kondisi ini menunjukkan bahwa
reaksi yang terjadi telah mengalami kondisi steady state. Pengukuran
konduktivitas kemudian dihentikan dan dilanjutkan dengan penentuan konsentrasi
NaOH yang keluar dari reaktor dengan cara titrasi menggunakan HCL 0,01 N dan
indikator PP.
Tabel 3. Titrasi pada keadaan steady-state (speed pompa 1 (NaOH) = 5 dan
pompa 2 (etil asetat) = 7)
Volume NaOH (ml)
10

Volume HCl 0,01 N (ml)


1

10

0,7

10

0,8

Untuk mendapatkan konsentrasi NaOH setelah dalam keadaan steady-state


(konsentrasi NaOH yang keluar dari reaktor tubular), dapat dilakukan dengan
perhitungan rumus pengenceran:
VNaOH . NNaOH
10 . NNaOH

= VHCl . NHCl
=

1+0,7 +0,8
x 0,01
3

NNaOH = 0,00083 N
3.3. Menentukan konversi NaOH yang bereaksi

Kecepatan alir dari


NaOH (Fa)

= 36

ml/menit
= 0,006 L/s

Kecepatan alir
CH3COOC2H5 (Fb)
= 66 ml/menit
= 0,0011 L/s

Konsentrasi NaOH dalam tangki(a) = 0,05 (mol/L)

Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam tangki (b) = 0,05 (mol/L)

3.4. Perbandingan hasil konversi NaOH pada pengukuran titrasi dengan


konduktivitas.
Konversi merupakan ukuran sejauh mana suatu reaksi telah berlangsung.
Semakin besar konversi suatu komponen yang bereaksi, maka semakin banyak
pula komponen tersebut yang telah bereaksi. Hasil konversi NaOH secara titrasi di
dapat sebesar 0,95 sedangkan hasil konversi NaOH secara konduktivitas didapat
sebesar 0,625 (lihat Lampiran A). Perbedaan hasil konversi ini terjadi karena
peralatan reaktor tubular yang digunakan dalam kondisi yang tidak baik, seperti
adanya kebocoran pada sensor konduktivitas dan kebocoran pada selang pengukur
laju alir pompa 1 (NaOH) yang mengakibatkan kualitas kinerja alat menjadi
berkurang. Di samping itu, titrasi NaOH seharusnya menggunakan HCl 0,01 N
yang telah distandarisasi dengan Na Borak 0,1 N. Namun dalam percobaan ini,
tidak dilakukan standarisasi, sehingga kemungkinan konsentrasi HCl yang
digunakan tidak 0,01 N. Ketidakpastian akan konsentrasi HCl ini tentunya akan
berpengaruh terhadap hasil titrasi dan konversi NaOH.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1.

Semakin besar speed pompa, maka laju alirnya


juga akan semakin besar.

2.

Kondisi steady state didapat pada menit ke-22,


dimana konduktivitas campuran telah konstan yaitu sebesar 0,73 mS.
Konsentrasi NaOH yang keluar dari reaktor pada kondisi steady state yang
dititrasi dengan HCL 0,01 N didapat sebesar 0,00083 N.

3.

Hasil konversi NaOH melalui titrasi didapat


sebesar 0,95 sedangkan melaui pengukuran konduktivitas didapat sebesar
0,625. Perbedaan ini terjadi karena peralatan reaktor tubular yang
digunakan dalam kondisi yang tidak baik serta tidak adanya standarisasi
larutan HCl 0,01 N.

4.2 Saran
1.

Praktikan harus teliti dalam membuat


larutan umpan, kesalahan dalam pembuatan larutan akan berpengaruh
terhadap hasil titrasi dan pengukuran konduktivitas.

2.

Pastikan bahwa alat yang digunakan


berada dalam kondisi operasi yang baik, jika ada kebocoran selang segera
laporkan kepada teknisi untuk ditindaklanjuti.

DAFTAR PUSTAKA
Tim penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Instrumentasi dan Pengendalian
Proses. Program Studi DIII Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Pekanbaru

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN
A. Pembuatan Larutan Umpan
1.

NaOH 0,05 M sebanyak 5 Liter.


M
0.05 M

massa
1
x
BM
V ( liter )
massa 1
x
40
5

Massa = 10 gram
Sebanyak 10 gram NaOH dilarutkan kedalam 5 Liter aquadest.
2.

Etil asetat 0,05 M sebanyak 5 Liter.


M =
0,05 M =

Volume acetat x
x
Mr

1
V (liter)

Volume acetat x 0,9


x
88,1

1
5

Vacetat = 24,5 ml
Sebanyak 24,5 ml Etil asetat dicampurkan ke dalam 5 Liter aquadest.
3.

HCL 0.01 N sebanyak 500 ml


V1. N1 = V2 . N2

V 2=

V1x N1
N2

V 2=

500 ml x 0,01 N
10 N

V 2=0,5 ml
Jadi HCl sebanyak 0,5 ml diencerkan kedalam 500 ml aquadest.
B.

Konversi NaOH berdasarkan


pengukuran titrasi

Laju alir NaOH (Fa) = 0,0006 L/s (speed pompa = 5) dan laju alir Etil
asetat (Fb) = 0,0011 L/s (speed pompa = 7), maka nilai konversinya :
Ft = Fa + Fb
= (0,0006 + 0,0011) L/s
= 0,0017 L/s

a0 =

Fa
Ft

x a

0,0006
0,0017

x 0,05

= 0,0176 mol/L
a1 = 0,00083 mol/L (konsentrasi NaOH hasil titrasi)

xa =

a0a1
a0

( 0,01760,00083 ) mol / L
0,0176 mol / L

= 0,95

Konversi NaOH berdasarkan pengukuran konduktivitas

Laju alir NaOH = 0,0006 L/s (speed pompa = 5) dan laju alir Etil asetat =
0,0011 L/s (speed pompa = 7), maka nilai konversinya :
Ft

= Fa + Fb
= (0,0006 + 0,0011) L/s

= 0,0017 L/s

a0 =

Fa
Ft

x a

0,0006
0,0017

x 0,05

= 0,0176 mol/L

b0 =

Fb
Ft

x b

0,0011
0,0017

x 0,05

= 0,032 mol/L
karena a0 < b0, maka a = 0
A0 = 0,195 (1 + 0,0184 (T 294 )) . a0

; T = 303 K

= 0,195 (1 + 0,0184 (303 294)) (0,0176)


= 0,004 Siemens
c = a0, untuk b0 > a0
Ac = 0,07 (1 + 0,0284 (T 294)) . c ;

T = 303 K

= 0,07 (1 + 0,0284 (303 294)) (0,0176)


= 0,0015 Siemens
Aa = 0,195 (1 + 0,0184 (T 294 )) . a
= 0,195 (1 + 0,0184 (303 294)) . 0
= 0 Siemens
Aao = Ac + Aa

= 0,0015 Siemens + 0 Siemens


= 0,0015 Siemens
A1

= Konduktivitas pada saat konstan konduktivitas air murni


= (0,73 0,17) x 10-3
= 0,00056 Siemens

a1

= (a - a0 )

A A
1 a
0
0
A 0 Aao

0,004 0,00056
0,004 - 0,0015

0 0,0176

=
= 0,0066 mol/L

xa =

0,0176

a0a1
a0

( 0,01760,0066 ) mol / L
0,0176 mol / L

= 0,625

LAMPIRAN B
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Neraca Massa Pada Reaktor Tubular

Hari/Tanggal Praktikum

: Senin/30 September 2013

Pembimbing

: Sri Helianty, ST., MT

Asisten Laboratorium

: Bonita Restana M

Nama Kelompok III

: Rita Puriani Mendrova (1107035609)


Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)

Hasil Percobaan

Tabel B.1 Data hasil percobaan kalibrasi pompa 1 dan 2


Laju alir air pada
pompa 1
( ml/menit )
9
28
47
67
86

Speed pompa
4
6
8
10
12

Laju alir air pada


pompa 2
( ml/menit )
16
33
55
75
93

Tabel B.2 Titrasi NaOH yang keluar dari reaktor pada keadaan steady-state.
Volume NaOH (ml)
10

Volume HCl 0,01 N (ml)


1

10

0,7

10

0,8

Adapun speed pompa yang digunakan yaitu :


1. Speed pompa NaOH = 5
2. Speed pompa etil asetat = 7

Tabel B.3 Data hasil pengukuran konduktivitas pada keadaan steady-state.


Waktu (menit)

Konduktivitas (mS)

0,21

0,20

0,21

0,21

0,20

0,21

0,22

0,21

0,21

0,20

10

0,20

11

0,23

12

0,30

13

0,38

14

0,48

15

0,64

16

0,75

17

0,74

18

0,73

19

0,73

20

0,73

21

0,73

22

0,73

Menentukan konversi NaOH yang bereaksi :

Kecepatan alir dari


NaOH (Fa)

= 36

ml/menit
= 0,006 L/s

Kecepatan alir
CH3COOC2H5 (Fb)
= 66 ml/menit
= 0,0011 L/s

Konsentrasi NaOH dalam tangki(a) = 0,05 (mol/L)

Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam tangki (b) = 0,05 (mol/L)

Pekanbaru, 30 September 2013


Asisten

Bonita Restana M