Anda di halaman 1dari 16

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 1

DISUSUN OLEH :
Nama










Dosen
:










:
1. Suraya Atika
2. Mawar Vinka Putri
3. Rahmat Wijaya
4. Sindi Anjali Putri
5. Dwi Putriyanti
6. Qurrota Ayuni
7. Nursajidah Muttawaddiin
8. Rani Yunita
9. Lailatus Sadiyah
10. Arta Trinanda
11. Putri Juwita
Sri Sumarni

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Atas
Berkat dan rahmatnyalah kami bisa menyelesaikan tugas Makalah ini dengan
Tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akademik Psikologi
Perkembangan 1 tahun ajaran 2014/2015. Adapun topik yang dibahas didalam
makalah ini adalah mengenai psikologi perkembangan anak usia dini.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sri Sumarni sebagai
dosen pembimbing yang telah membimbing penulis didalam menyusun makalah
ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi untuk tersajinya makalah ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal
itu dikarenakan keterbatasan yang ada. Sehingga kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca.
Kiranya makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita
semua. Sehingga permasalahan perkembangan psikologi anak dapat terselesaikan.
Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.












PENDAHULUAN
Manusia sebagai objek ilmu pengetahuan, dan dibicarakannya dari sejak
munculnya filsafat dan ilmu, hingga sekarang dan pada masa mendatang, tidak
pernah kehabisan materi atau problematiknya. Telaah tersebut akan selalu saja
menarik bagi manusia yang mau mempelajarinya. Hal tersebut dapat terjadi
karena kompleksitas manusia itu sendiri sebagai objek garapan ilmu pengetahuan.
Termasuk juga psikologi perkembangan yang memiliki objek garapnya adalah
manusia, seringkali menemukan problematika yang sangat menarik, malah
terkadang cenderung terasa berat untuk dipecahkan. Hal ini disebabkan karena
kompleks dan uniknya manusia baik ditinjau dari sudut pandang biologis maupun
psikologis.
Apabila dikembalikan pada konsep dasar keberadaan psikologi
pekembangan yang merupakan ilmu pengetahuan terapan, maka kepentingan
penerapan ilmu tersebut sebaiknya diambil jalan tengahnya untuk mengatasi
kedua pertentangan pendapat tersebut, konsep-konsep psikologi perkembangan
perlu disadari bahwa : Tidak ada seorang anakpun didunia yang memiliki
kesamaan todal dengan lainnya. Konsepsi-konsepsi didalam psikologi
pekembangan bukanlah pembatasan mutlak atau pasti sifatnya. Konsepsi-konsepsi
yang ada hanyalah lebih bersifat garis-garis besar atau pedoman umum yang
berlaku bagi perkembangan kejiwaan anak.
Konsepsi atau teori-teori tentang kejiwaan pada hakikatnya sangat banyak
dan beragam sekali sifat serta pandangannya, sebagaimana banyaknya
kemungkinan perkembangan jiwa seorang manusia yang kompleks dan unik.
Untuk memudahkan mempelajari dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok
pandangan disebut dengan istilah periodisasi perkembangan.





PERMASALAHAN

Adaapun permasalahan yang kita dapat melalui latar belakang tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah perkembangan anak?
2. Apa pengertian psikologi di psikologi perkembangan?
3. Apa yang dimaksud dengan hukum konvergensi dan tempo perkembangan?
4. Apa yang dimaksud dengan masa peka dan kepribadian?
5. Bagaimana cara bertahan dan mengembangkan diri, irama perkembangan?
6. Bagaimana aliran-aliran perkembangan, natilisme, empirisme, dan
konvergensi?
7. Bagaimana teori perkembangan Sigmund Freud?



















PEMBAHASAN
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN 1

A. Sejarah Perkembangan Anak
Secara historis lahirnya psikologi perkembangan tidak terlepas dari anggapan
terhadap objek bahasannya, yakni manusia dalam berbagai
perkembangannya. Sebelum tahun 1750, para ahli ilmu jiwa menganggap
anak adalah miniature orang dewasa, sehingga sikap dan perlakuan terhadap
mereka disamakan dengana sikap dan perlakuan orang dewasa1[2].
Di akhir abad ke-18, psikologi perkembangan berdiri sendiri menjadi suatu
ilmu, yang sebelumnya masih menyatu dengan filsafat. Laahirnya ilmu ini
diawali dengan timbulnya aliran Philanthropinisme, suatu paham yang
mencintai sesama manusia terutama terhadap anak-anak. Pendiri aliran ini
adalah Johan Bernhard Basedow (1723-1970) dari Jerman. Pendapatnya pada
aliran ini, adalah :
1. Pengajaran harus diselaraskan dengan jalan perkembangan anak.
2. Manusia itu pada dasarnya baik.
3. Pengajaran harus dimulai dengan bendanya (peragaan).
4. Pengajaran harus menggembirakan dan menarik2[3].
Karena pendapat dari Johan Bernhard Basedow atau aliran Philanthropinisme
inilah yang mengantarkan lahirnya psikologi perkembangan. Selain aliran
Philanthropinisme terdapat juga tiga aliran pendidikan yang sangat
berpengaruh. Ketiga aliran itu, ialah: Aliran humanisme yang mengutamakan
kepribadian dan perbedaan individu, aliran reformasi yang lebih





mengutamakan metoda pendekatan terhadap perkembangan anak. Pada
Sekolah Dasar digunakan metode memorisasi dan drill, sedangkan pada
sekolah lanjutan digunakan metode gaya bahasa dan susunan kalimat dan
indoktrinasi agama secara ketat. Sedangkan aliran kontra reformasi
mengutamakan pemilihan calon-calon guru kemudian harus mendapatkan
pendidikan yang cukup.
Ketiga aliran di atas sama-sama mendukung pendapat dari aliran
Philanthropinisme, yang juga menekankan bahwa perlakuan terhadap anak
tidak dapat disamakan dengan perlakuan terhadap orang dewasa.

B. Pengertian Psikologi di Psikologi Perkembangan
1. Definisi Psikologi
Psikologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang aktivitas-aktivitas
atau gejala-gelaja psikis yang tercermin dalam perilaku manusia dan
hewan yang bersifat abstrak atau tidak nyata dan penerapannya dilakukan
untuk mengatasi problem-problem yang dialami oleh manusia di dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Definisi Perkembangan
Perkembangan adalah suatu proses perubahan yang bersifat kualitatif,
proses yang terjadi pada semua makhluk hidup terutama manusia. Proses
perubahan-perubahan dari kematangan dan pengalaman dalam diri
seseorang mulai dari lahir sampai meninggal dunia, proses perubahan ke
arah yang lebih maju dan lebih dewasa. Yang ditunjang oleh faktor
lingkungan dan proses belajar dalam jangka waktu tertentu.
3. Definisi dari Psikologi Perkembangan
Pemahaman diri dan lingkungan menghasilkan berbagai macam ilmu
pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kepentingan dan kebutuhan
hidup manusia itu sendiri, disamping dapat juga membahayakan
eksistensinya. Salah satu cabang ilmu pengetahuan tersebut ialah
psikologi perkembangan. Psikologi perkembangan, yaitu cabang
psikologi yang khusus mempelajari perkembangan psikis manusia mulai
dari masa dalam kandungan (pre-natal) hingga masa lanjut usia.
Menurut Akmal Hawi, Psikologi perkembangan adalah suatu ilmu yang
menyelidiki dan membicarakan tentang perkembangan psikis manusia
selaras dengan pertumbuhan bio-fisiknya, sejak dari kandungan sampai
meninggal dunia.
Menurut Dra. Kartini Kartono di dalam Abu Ahmadi dan Munawar
Sholeh mengatakan bahwa perkembangan adalah suatu ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai dengan periode masa
bayi, anak bermain, anak sekolah, masa remaja, sampai periode adolesens
menjelang dewasa. Sedangkan menurut Abu Ahmadi dan Munawar
Sholeh mengatakan bahwa psikologi perkembangan yaitu suatu cabang
dari psikologi yang membahas tentang gejala jiwa seseorang, baik yang
menyangkut perkembangan ataupun kemunduran perilaku seseorang sejak
masa konsepsi hingga dewasa.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan tersebut, kiranya dapat
disimpulkan bahwa psikologi perkembangan adalah suatu ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang perkembangan individu sejak dari
masa bayi, bahkan sejak pralahir sampai usia tua, baik perkembangan
psikis maupun fisik beserta latar belakang yang mempengaruhinya.

C. Hukum Konvergensi dan Tempo Perkembangan
Hukum Konvergensi
Pandangan pendidikan tradisional di masa lalu berpendapat bahwa hasil
pendidikan yang dicapai anak selalu dihubungkan-hubungkan dengan
status pendidikan orang tuanya. Menurut kenyataan yang ada sekarang
ternyata bahwa pendapat lama itu tidak sesuai lagi dengan keadaan.
Pandangan lama itu dikuasai oleh aliran nativisme yang dipelopori
Schopenhauer yang berpendapat bahwa manusia adalah hasil bentukan
dari pembawaanya. Pembawaan itu akan berkembang sendiri; dalam hal
ini pendidikan tidak mampu untuk mengubahnya. Aliran dalam
pendidikan yang menganut paham nativisme ini disebut aliran pesimis.
Abad ke-19 lahir paham empirisme yang berasal dari John Locke. Ia
memperkenalkan teori tabularasa yang mengatakan bahwa child born
like a sheet of white paper avoid of all aharacters. Ketika anak lahir, ia
diumpamakan sebagai kertas buram yang putih, belum ada ditulisi atau
digoresi dengan bakat apapun. Jiwanya masi bersih dari pengaruh
keturunan sehingga pendidik dapat membentuknya menurut
kehendaknya. Aliran ini termasuk aliran optimis.
Hukum Tempo Perkembangan
Perkembangan anak ada yang cepat (tempo singkat) ada pula yang
lambat. Sebagai contoh keterampilan berbicara dan berjalan.

D. Masa Peka dan Kepribadian
Masa Peka
Tiap-tiap fungsi jiwa mempunyai waktunya untuk berkembang dengan
sebaik-baiknya. Prof. Hugo de Vries (Belanda) memnperkenalkan masa
peka ini dalam ilmu biologi. Prof. Hugo meneliti seekorf lebah betina
(lebah ratu) yang sedang mengalami masa peka. Masa peka adalah suatu
masa ketika fungsi-fungsi jiwa menonjolkan diri keluar, dan peka akan
pengaruh rangsangan yang dating. Apabila saat sang ratu peka, kemudian
ia mendapatkan zat-zat (makananan) tertentu, ia akan berkembang biak
dengan cepat.
Masa peka diperkenalkan dalam dunia pendidikan oleh Dr. Maria
Montessori. Menurut M. Montessori (Italia), masa peka merupakan masa
pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali dipengaruhi dan
dikembangkan. Usia 3-5 tahun adalah masa yang baik sekali untuk
mempelajari bahasa ibu dan bahasa daerahnya.
Kepribadian
Kekuatan tiap-tiap unsur kepribadian tersebut selalu berubah-ubah setiap
saat dan berbeda-beda setiap individu. Karena setiap unsur kepribadian tsb
selalu berubah-ubah kekuatannya, maka kesatuan (konvergensi) dari
unsur-unsur tersebut integritasnya juga selalu berubah-ubah, mengalami
dinamika.
E. Bertahan Dan Mengembangkan Diri, Irama Perkembangan
Bertahan dan Mengembangkan Diri
Dalam kehidupan timbul dorongan dan hasrat untuk mempertahankan diri.
Dorongan yang pertama adalah dorongan mempertahankan diri, kemudian
disusul dengan dorongan mengembangkan diri. Dorongan
mempertahankan diri terwujud misalnya : pada dorongan makan dan
menjaga keselamatan diri sendiri.
Dorongan yang kedua adalah dorongan mengembangkan diri. Dalam
perkembangan jasmani terlihat hasrat dasar untuk mengembangkan
pembawaan. Untuk anak-anak dorongan mengembangkan diri berbentuk
hasrat mengenal lingkungan, usaha belajar berjalan, kegiatan bermain, dan
lain-lain. Dikalangan remaja timbul rasa persaingan dan perasaan belum
puas terhadap apa yang telah dicapai. Hal ini dapat dianggap sebagai
dorongan mengembangkan diri.
Hukum Irama Perkembangan
Disamping perkembangan itu mempunyai tempo, juga mempunyai irama
masing-masing. Irama berarti variasi atau fluktuasi naik turunnya
kecepatan perkembangan individu, baik perkembangan jasmani maupun
rohani. Perkembangan anak itu mengalami gelombang pasang surut,
mulai lahir hingga dewasa, kadangkala anak juga mengalami kemunduran
dalam suatu bidang tertentu

F. Aliran-Aliran Dalam Psikologi Perkembangan
Faktor Hereditas
Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan
individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik
individu yang diwariskan orangtua pada anak, atau segala potensi, baik
fisik maupun psikis yang dimilki individu sejak masa konsepsi
(pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua
melalui gen-gen.

Faktor Lingkungan
lingkungan adalah segala sesuatu yang mengelilingi individu di dalam
hidupnya, baik dalam bentuk lingkungan fisik seperti orangtuanya,
rumahnya, kawan-kawan yang bermain, masyarakat sekitarnya maupun
dalam bentuk lingkungan psikologis.
1. Nativisme
Nativisme (nativism) adalah sebuah doktrin filosofis yang
berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologis. Tokoh utama
aliran ini bernama Arthur Scopenhauer (1788-1860) seorang filosof
Jerman.aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu
ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan
pendidikan tidak berpengaruh apa-apa yang biasanya disebut pesimis
paedagogis.
2. Empirisme
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empirism)
dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Doktrin aliran
empirisme yang amat masyur adalah tabula rasa sebuah istilah bahasa
latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank
slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pada
pengalaman, lingkungan dan pendidikan.
3. Konvergensi
Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran
empirisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti
penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-
faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.

G. Teori Perkembangan Sigmund Freud
Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat
kesadaran, yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar
(unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur
cermati (awareness) dalan setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai
dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur
kesadaran itu. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang
lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama,
tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau
tujuannya.
Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:
1. Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu.
Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja Bari kehidupan mental (fikiran,
persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi
daerah sadar itu merupakan basil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus
atau cue-eksternal. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang
singkat di daerah conscious, dan segera tertekan ke daerah perconscious atau
unconscious, begitu orang memindah perhatiannya ke we yang lain.
2. Prasadar (Preconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang
menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari
conscious dan clan unconscious. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian,
semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke
daerah prasadar. Di sisi lain, isi-materi daerah taksadar dapat muncul ke daerah
prasadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat
kemunculan materi tak sadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran.
Materi taksadar yang sudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran
dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme
pertahanan diri.
3. Tak Sadar (Unconscious)
Tak sadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut
Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud
membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu
adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives
yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada
masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar. Isi
atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan
terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat
kuat namun tetap tidak disadari.
Model perkembangan psikoanalisis dasar, yang terus-menerus dimodifikasi oleh
Freud selama 50 tahun terakhir hidupnya, terdiri atas tiga komponen pokok; (1) satu
komponen dinamik atau ekonomik yang menggambarkan pikiran manusia sebagai
sistem energi yang cair; (2) satu komponen struktural atau topografik berupa sebuah
sistem yang memiliki tiga struktur psikologis berbeda tetapi saling berhubungan
dalam menghasilkan perilaku; dan (3) satu komponen sekuensial (urutan) atau
tahapan yang memastikan langkah maju dari satu tahap perkembangan menuju tahap
lainnya, yang terpusat pada daerah-daerah tubuh yang sensitif, tugas-tugas
perkembangan, dan konflik-konflik psikologis tertentu.
Komponen Dinamik (Energi Psikis)
Semangat (atau arah) perkembangan ilmiah dan intelektual pada akhir abad ke-19
terpusat di sekitar kajian tentang energi, dan Freud menerapkan konsep energi
tersebut terhadap perilaku manusia. Ia menyebut energi ini sebagai energi psikis
(psychic energy atau energy yang mengoperasikan berbagai komponen sistem
psikologis.
Komponen Struktural
a) Id (Das Es)
Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini
kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek
psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan
beroperasi dalam daerah unansdous, mewakili subjektivitas yang tidak pemah
disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk
mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari
b) Ego (Das Ich)
Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita; sehingga ego
beroperasi mengikuti prinsip realita (realityprinciple); usaha memperoleh
kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan barn atau
menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat
memuaskan kebutuhan. Prinsip realita itu dikerjakan metalui proses sekunder
(secondaryprocess), yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji
apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses pengujian itu
disebut uji realita (reality testin ; melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana
yang telah difikirkan secara realistik. Dari cara kerjanya dapat difahami sebagian
besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada sebagian kecil ego
beroperasi di daerah prasadar dan daerah taksadar.
c) Superego (Das Ueber I ch)
Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi
memakai prinsip idealistik (idealisticprinciple) sebagai lawan dari prinsip
kepuasan Id dan prinsip realistik dad Ego. Superego berkembang dari ego, dan
seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, superego
beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak
mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan
kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam
memperjuangkan kenikmatan).
d) Komponen Sekuensial (Tahapan)
Bagian ketiga dan terakhir dari model Freud adalah komponen tahapan atau
komponen sekuensial (sequential or stage component). Bagian ini menekankan
pola atau gerak maju organisme melalui tahapan-tahapan perkembangan yang
berbeda dan semakin lama semakin adaptif. Menurut Freud, pintu pertama
menuju kematangan adalah tahapan perkembangan genital, dimana terbentuk
hubungan yang berarti berlangsung terus menerus.
e) Teori Freuds disebut Teori Psikoseksual
Menurut Freud, para bayi terlahir dengan kemampuan untuk merasakan
kenikmatan apabila terjadi kontak kulit, dan para bayi itu memiliki semacam
ketegangan di permukaan kulit mereka yang perlu diredakan melalui kontak
kulit secara langsung dengan orang lain. Freud menyerupakan kenikmatan ini
dengan rangsangan seksual tetapi ia memberi catatan bahwa hal ini berbeda
secara kualitatif dari tipe rangsangan seksual yang dialami oleh orang dewasa
karena kejadian yang dialami bayi ini lebih bersifat umum dan belum
terdiferensiasi. Freud (790511959) menyebut kemampuan untuk mengalami
kenikmatan ini dan kebutuhan untuk meredakannya dengan nama seksualitas
bayi, yang berbeda dari seksualitas orang dewasa.
Implementasi teori Freud dalam Praktik Pendidikan
Berdasarkan konsep kunci dari teori kepribadian freud, berikut ini akan dijelaskan
beberapa teorinya yang dapat diimplemetasikan dalam pendidikan, yaitu:
Pertama, konsep kunci bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan
dan keinginan. Dengan demikian, implementasi pandangan Freud dalam
pendidikan sangat memberikan kontribusi yang signifikan, terutama memberikan
panduan atau acuan pada guru dalam melakukan pembelajaran dan memberikan
bimbingan, sehingga bimbingan benar-benar efektif dan sesuai dengan tingkat
perkembangan mereka. Adapun fungsi-fungsi bimbingan yang dilakukan oleh
guru antara lain:
1) Memahami Individual Siswa
Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika
mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan
kemampuan siswa. Karena itu, bimbingan yang efektif menuntut secara
mutlak pemahaman diri anak secara menyeluruh. Karena tujuan bimbingan
dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman
diri anak didiknya.
2) Preventif dan Pengembangan Individual Siswa
Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang.
Preventive berusaha mencegah kemerosotan perkembangan seseorang dan
minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangannya
melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan
untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap
individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.










PENUTUP

Perkembangan merupakan perubahan yang terus-menerus dialami, tetapi
ia tetap menjadi kesatuan. Perkembangan berlangsung dengan perlahan-lahan
melalui masa demi masa. Kadang-kadang seoarng mengalami masa krisis pada
masa kanak-kanak dan masa pubertas. Menurut hasil penelitian para ahli ternyata
bahwa perkembangan jasmani dan rohani berlangsung menurut hukum-hukum
perkembangan tertentu. Hukum-hukum perkembangan itu terdiri dari: Hukum
Konvergensi; Hukum Tempo Perkembangan; Hukum Irama Perkembangan;
Hukum Masa Peka; Hukum Kesatuan Anggota/ Organis; Hukum Rekapitulasi;
Hukum Bertahan dan Mengembangkan Diri; dan Hukum Trotzalter (Masa
Menentang).
















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT
RINEKA CIPTA.

Akyaz Azhari. 2004. Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: Teraju PT
Mizan Publika.

Desmita, M.Si. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT
REMAJA ROSDAKARYA.

Zulkifli L. 2001. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori. 2010. PSIKOLOGI REMAJA
Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara.

http://www.kosmaext2010.com/psikologi-perkembangan-masalah-teori-hukum-
perkembangan.php.

http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan