Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUKURAN KONDUKTIVITAS

Disusun Oleh :
Kelompok

: II (Dua)

Nama Kelompok

: 1. Rita P. Mendrova (1107035609)


2. Ryan Tito
3. Yakub J. Silaen

(1107021186)
(1107036648)

Dosen Pembimbing : Drs. Syamsu Herman, MT

LABORATORIUM TEKNIK I DAN II


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013

Abstrak
Konduktivitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan
arus listrik. Pengukuran konduktivitas dapat dilakukan dengan menggunakan arus
listrik yang dialirkan pada dua elektroda yang dicelupkan kedalam air/larutan kimia,
dan tegangan yang dihasilkan diukur. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari

dasar-dasar pengukuran dengan menggunakan konduktometer dan pengaruh


perubahan konsentrasi terhadap konduktivitas suatu larutan. Parameter utama
yang dipelajari dalam percobaan ini adalah dengan menvariasikan konsentrasi NaCl
0,25%; 0,5%; 0,75%; 1%. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa
semakin besar konsentrasi suatu larutan maka semakin besar nilai konduktivitas
yang dihasilkan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Tujuan
1. Mempelajari dasar-dasar pengukuran dengan menggunakan
konduktometer
2. Mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi terhadap konduktivitas suatu
larutan.
1.2. Dasar Teori
Konduktivitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu bahan (larutan, gas,
atau logam) untuk menghantarkan arus listrik. Dalam suatu larutan, arus listrik
dibawa oleh kation-kation dan anion-anion, sedangkan dalam logam arus listrik
dibawa oleh elekton-elektron.
Konduktivitas suatu larutan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

Konsentrasi
Pergerakan ion-ion
Valensi ion
Suhu

1.2.1. Pengaruh Konsentrasi dan Suhu


Setiap unsur/senyawa kimia mempunyai derajat konduktivitas yang
berbeda. Air murni mempunyai konduktivitas yang sangat rendah dan beberapa
senyawa/unsur kimia yang terlarut dalam air dapat meningkatkan konduktivitas
air. Pada umumnya peningkatan konsentrasi zat kimia dalam suatu larutan akan
meningkatkan konduktivitas (Tim Penyusun, 2013).
Perubahan suhu suatu larutan juga mempengaruhi konduktivitasnya,
kenaikan suhu akan meningkatkan pergerakan ion-ion dalam larutan, sehingga
konduktivitas larutan meningkat. Temperatur juga berhubungan secara linier
dengan konduktivitas, peningkatan konduktivitas akibat kenaikan tamperatur
dapat dinyatakan dalam persen per derajat Celsius (slope). Air murni mempunyai
slope yang relatif besar yaitu 5,2 %/0C. Air pada umumnya mempunyai slope

antara 1,8 2 %/0C, larutan garam, asam, atau alkali mempunyai slope sekitar 1,5
%/0C (Tim Penyusun, 2013).
1.2.2. Aplikasi Pengukuran Konduktivitas
Pengukuran konduktivitas dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan kimia atau elektrolit seperti larutan NaCl, HCl, H 2SO4, dan NaOH.
Pengukuran konduktivitas secara luas digunakan dalam industri pengolahan air,
pengolahan air limbah industri untuk menentukan tingkat kontaminasi air dan
lain-lain (Tim Penyusun, 2013).
1.2.3. Satuan Konduktivitas
Hantaran listik (conductance) merupakan kebalikan dari tahanan
(resistance), bila tahanan mempunyai satuan dasar ohm, maka satuan dasar
hantaran adalah mho atau biasa ditulis dengan siemen (S). Konduktivitas
adalah hantaran spesifik yang dinyatakan dengan satuan siemen/cm, pada
pengukuran konduktivitas air dan larutan-larutan kimia umumnya digunakan
satuan S/cm dan mS/cm (Tim Penyusun, 2013).
1.2.4. Alat Ukur Konduktivitas (conductivity meter)
Pengukuran konduktivitas dapat dilakukan dengan menggunakan arus
listrik yang dialirkan pada dua elektroda yang dicelupkan kedalam air/larutan
kimia, dan mengukur tegangan yang dihasilkan. Selama proses ini, kation
berpindah ke elektroda negatif, dan anion berpindah ke elektroda positif,
sedangkan larutan bertindak sebagai penghantar listrik (Tim Penyusun, 2013).
Beberapa jenis khusus conductivity meter menggunakan arus listrik bolakbalik (AC) pada frekuensi optimal dengan dua elektroda aktif dan mengukur beda
tegangan yang dihasilkan suatu larutan. Kuat arus dan beda tegangan digunakan
untuk menghitung hantaran listrik (conductance).
Conductance = l/V
Conduktivity meter kemudian menggunakan conductance dan cell constant untuk
menampilkan nilai konduktivitas.

Conductivity = Cell Constan x Conductance

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1. Alat dan Bahan
Alat:

Konduktometer
Beaker glass
Gelas ukur
Timbangan digital
Batang pengaduk

Bahan :

Aquadest
NaCl

2.2. Cara Kerja


1. Buat larutan NaCl 0,25% dengan menimbang NaCl sebanyak 0,25 gram
2.
3.
4.
5.

dan dilarutkan dalam 100 ml aquadest.


Elektroda dari konduktometer dicelupkan kedalam aquadest.
Elektroda dari konduktometer dicelupkan kedalam larutan NaCl.
Konduktivitas yang ditunjukkan konduktometer dicatat.
Elektroda dari konduktometer dicelupkan kembali kedalam aquadest.
6. Langkah 2-5 diulakukan kembali dengan konsentrasi larutan 0,5%; 0,75%;
dan 1%.
7. Buat grafik antara konsentrasi NaCl dengan konduktivitas yang didapat.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
3.1.1

Penentuan Normalitas HCl 37% dan H2SO4 98%


Normalitas HCl 37% dengan rapat massa 1,19 kg/L yaitu sebesar 1,206 N;

sedangkan Normalitas H2SO4 98% dengan rapat massa 1,84 kg/L yaitu sebesar
3,677 N.
3.1.2

Pengukuran Konduktivitas Larutan NaCl


Tabel 3.1 Hubungan antara konsentrasi dengan konduktivitas
Konsentrasi NaCl (%)

Konduktivitas (mV)

0,25

0,03

0,5

0,27

0,75

0,37

0,37

f(x) = - 0.96x^2 + 1.65x - 0.32


R = 1

Konduktivitas
(mV)

0.25

0.5

0.75

Konsentrasi
(%)

Gambar 3.1 Grafik hubungan antara konsentrasi NaCl dengan konduktivitas.

3.2. Pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui daya hantar
suatu larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Larutan
yang digunakan yaitu larutan NaCl dengan empat macam variasi
konsentrasi (%). Keempat larutan tersebut memiliki konsentrasi
0,25%; 0,5%; 0,75% dan 1%. Pengukuran keempat larutan
tersebut dilakukan berturut-turut dari konsentrasi yang rendah ke
konsentrasi

yang

tinggi,

dimana

masing-masing

larutan

dilakukan pengukuran sebanyak satu kali.


Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah konduktivity
meter.

Konduktivity

meter

adalah

metode

analisis

kimia

berdasarkan hubungan antara konduktansi listrik dan konsentrasi


larutan. Sel terdiri dari sepasang elektroda yang dilapisi dengan
logam untuk menahan efektivitas permukaan elektroda. Pada
larutan yang memiliki konduktivitas atau elektrolitik, ion positif
(kation) akan bergerak kearah katoda, dan ion negatif (anion)
bergerak kearah anoda. Reduksi dan oksidasi akan terjadi pada
katoda dan anoda. Pada reaksi ini, elektron akan berpindah dari
anoda ke katoda dengan dihantarkan listrik (Hidayatullah dkk.,
2012)
Larutan yang diukur konduktivitasnya adalah larutan NaCl.
Larutan NaCl merupakan larutan elektrolit. NaCl merupakan
senyawa ionik yang bila dilarutkan dalam air, maka menjadi
larutan elektrolit. Larutan NaCl akan terionisasi sempurna dan
berubah menjadi ion-ion dalam larutannya yaitu ion Na + dan Cl-,
sehingga larutan NaCl ini memiliki muatan-muatan negatif dan
positif yang dapat menghantarkan listrik. Dikarenakan NaCl
dapat terionisasi sempurna, maka larutan NaCl merupakan
larutan elektrolit kuat. Senyawa yang termasuk elektrolit kuat

mempunyai daya hantar listrik yang relatif baik walaupun


memiliki konsentrasi yang kecil.
Pada percobaan ini dilakukan pengukuran daya hantar listrik
larutan NaCl dengan berbagai konsentrasi. Pengaruh konsentrasi
pada pengukuran daya hantar listrik ini adalah semakin besar
konsentrasi larutan, maka daya hantar listriknya semakin besar
pula. Hal ini dikarenakan semakin pekat konsentrasi larutan,
maka semakin banyak NaCl yang terlarut dalam air sehingga
menyebabkan

semakin

banyak

menghasilkan

muatan-muatan

NaCl

yang

negatif

dan

terionisasi
positif.

dan

Apabila

semakin banyak muatan-muatan dalam larutan maka semakin


banyak arus listrik yang dihantarkan. Hal ini tentunya akan
menyebabkan nilai daya hantar listrik suatu larutan akan
semakin besar pula. Begitupun sebaliknya dengan larutan yang
memiliki konsentrasi rendah, maka semakin sedikit muatanmuatan yang ada pada larutan, sehingga semakin kecil daya
hantar listrik larutan tersebut.
Berdasarkan hasil percobaan pada Gambar 3.1, dapat dilihat
adanya peningkatan nilai konduktivitas larutan NaCl ketika
konsentrasinya dinaikkan. Larutan NaCl dengan konsentrasi
0,25%; 0,5%; 0,75% dan 1% berturut-turut memiliki nilai
konduktivitas

sebesar

0,03;

0,27;

0,37;

dan

0,37

mV.

Peningkatan konduktiviti terlihat jelas pada konsentrasi 0,25%


hingga 0,75%. Namun konduktivitas NaCl 1% sama dengan
konduktivitas NaCl 0,75% (yaitu sebesar 0,37 mV), yang mana
seharusnya memiliki nilai konduktivitas yang lebih besar. Hal ini
terjadi karena muatan-muatan negatif dan positif yang terdapat
di dalam larutan NaCl 1% sudah terlalu banyak, sehingga
kemampuan muatan-muatan tersebut untuk bergerak semakin

kecil. Akibatnya, daya hantar listrik larutan tersebut tidak dapat


terukur dengan baik.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1. Normalitas HCl 37% dengan rapat massa 1,19 kg/L yaitu sebesar 1,206 N;
sedangkan Normalitas H2SO4 98% dengan rapat massa 1,84 kg/L yaitu
sebesar 3,677 N.
2. Semakin besar konsentrasi suatu larutan maka semakin besar nilai
konduktivitas yang dihasilkan.
4.2. Saran
1.

Pengukuran

konduktivitas

sebaiknya

dilakukan

dari

konsentrasi kecil ke konsentrasi besar. Hal ini untuk


mencegah banyaknya ion-ion yang menempel pada logam
konduktivitimeter,

sehingga

terkontaminasinya

ion-ion

pada larutan lain juga semakin kecil.


2. Sel elektroda konduktivity meter harus tercelup seluruhnya
ke dalam larutan, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan
keakuratan hasil pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA
Amrida. 2011. Pembuatan Larutan dengan Konsentrasi Tertentu. [online].
Tersedia : http://www.amrida-akkas.blogspot.com [Diakses pada tanggal 21
September 2013, 23:17 WIB]
Hidayatullah, M.Syarif. Nuran, Nadia Lutfi. Komala, Neng Teti. Puspitasari,
Nevy.

2012.

Laporan

Praktikum

Instrumentasi

dan

Pengukuran

Konduktivitas. Teknik Kimia D3 Analis Kimia. Politeknik Negeri Bandung.


doc.word [online]. Tersedia : http://www.himka1polban.wordpress.com
[Diakses pada tanggal 14 September 2013, 19:32 WIB]
Himmelblau, David M. 1999. Prinsip Dasar dan Kalkulasi dalam Teknik Kimia.
PT Prenhallindo. Jakarta
Tim penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Instrumentasi dan Pengendalian
Proses. Program Studi DIII Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Pekanbaru

LAMPIRAN
A.

Perhitungan Normalitas HCl 37% dan H2SO4 98%


1. Normalitas HCl 37%, massa jenis = 1,19 kg/L
HCl 37% menyatakan konsentrasi HCl dalam persentase volume per volume
(%v/v), artinya di dalam 100 ml larutan HCl 37% terdapat 37 ml zat terlarut, atau
di dalam 1 Liter larutan HCl 37% terdapat 37x10-3 Liter zat terlarut (Amrida,
2011). Massa HCl dapat ditentukan dengan persamaan berikut :
Massa terlarut (HCl)

=xV
= 1,19 kg/L x 37 x 10-3 L
= 44,03 x 10-3 kg
= 44,03 gram

Normalitas HCl 37% (Mr = 36,5 gram/mol) :


NHCl

mol ekivalen
Volume

gram
berat ekivalen
Volume

valensi HCl
Mr HCl /

gram

gram x valensi
Volume x Mr HCl

44,03 gram x 1
1 L x 36,5 gram/mol

= 1,206 mol/L
= 1,206 N

2. Normalitas H2SO4 98%, massa jenis = 1,84 kg/L


H2SO4 98% menyatakan konsentrasi H2SO4 dalam persentase volume per
volume (%v/v), artinya di dalam 100 ml larutan H2SO4 98% terdapat 98 ml zat
terlarut, atau di dalam 1 Liter larutan H2SO4 98% terdapat 98x10-3 Liter zat
terlarut. Massa H2SO4 dapat ditentukan dengan persamaan berikut :
Massa terlarut (H2SO4) = x V
= 1,84 kg/L x 98 x 10-3 L
= 180,32 x 10-3 kg
= 180,32 gram
Normalitas H2SO4 98% (Mr = 98,079 gram/mol) :
NH2SO4

mol ekivalen
Volume

gram
berat ekivalen
Volume

valensi H 2 SO 4
Mr H 2 SO 4 /

gram

gram x valensi
Volume x Mr H 2 SO 4

180,32 gram x 2
1 L x 98,079 gram/mol

= 3,677 mol/L
= 3,677 N
B. Perhitungan pembuatan larutan NaCl dengan berbagai variasi
konsentrasi dalam 100 ml aquadest.
Massa jenis pelarut (aquadest) pada suhu 40C = 1,00 g/ml (Himmelblau, 1999).
Massa pelarut (aquadest) = x V

= 1 g/ml x 100 ml
= 100 gram
1. Pembuatan larutan NaCl 0,25% dalam 100 ml aquadest
nt
nt +n p

. 100% = 0,25%

x
x +100 gr

. 100%

100% x
100x
99,75x
x

= 0,25%

= 0,25% (x + 100)
= 0,25x + 25
= 25
= 0,2506266 gram

NaCl ditimbang sebanyak 0,2506266 gram kemudian dimasukkan kedalam


gelas kimia yang telah diisi dengan 100 ml aquadest. Larutan diaduk
menggunakan batang pengaduk sampai NaCl larut.
2. Pembuatan larutan NaCl 0,5% dalam 100 ml aquadest
nt
nt +n p

. 100% = 0,5%

x
x +100 gr

. 100%

100% x
100x
99,50x
x

= 0,5%

= 0,5% (x + 100)
= 0,5x + 50
= 50
= 0,5025126 gram

NaCl ditimbang sebanyak 0,5025126 gram kemudian dimasukkan kedalam


gelas kimia yang telah diisi dengan 100 ml aquadest. Larutan diaduk
menggunakan batang pengaduk sampai NaCl larut.
3. Pembuatan larutan NaCl 0,75% dalam 100 ml aquadest
nt
nt +n p

. 100% = 0,75%

x
x +100 gr

. 100%

100% x
100x
99,25x
x

= 0,75%

= 0,75% (x + 100)
= 0,75x + 75
= 75
= 0,7556675 gram

NaCl ditimbang sebanyak 0,75566755 gram kemudian dimasukkan kedalam


gelas kimia yang telah diisi dengan 100 ml aquadest. Larutan diaduk
menggunakan batang pengaduk sampai NaCl larut.
4. Pembuatan larutan NaCl 1% dalam 100 ml aquadest
nt
nt +n p

. 100% = 1%

x
x +100 gr

. 100%

100% x
100x
99x
x

= 1%

= 1% (x + 100)
= x + 100
= 100
= 1,010101 gram

NaCl ditimbang sebanyak 1,010101 gram kemudian dimasukkan kedalam


gelas kimia yang telah diisi dengan 100 ml aquadest. Larutan diaduk
menggunakan batang pengaduk sampai NaCl larut.