Anda di halaman 1dari 31

Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi (Kapita

Selekta Pendidikan Islam)


http://hardjasapoetra.blogspot.com/2010/03/pendidikan-agama-
islam-di-perguruan.html
Kamis, 28 gust 201! jam 08.1" #ib
$udul : %endidikan gama &slam di %erguruan 'inggi
(ata Kuliah : Kapita )elekta %endidikan
** &
%+,-./0/,
. 0atar *elakang
%elajaran agama #ajib dalam kurikulum sekolah dasar hingga perguruan tinggi. ,amun, pelajaran itu
sepertin1a tidak berdampak pada perilaku ta#uran antarpelajar, pemakaian narkoba, dan gejala seks bebas di
kalangan muda. *ahkan
diperhadapkan dengan problem nasional 1ang lebih luas seperti pertikaian antaretnis, pertikaian antarumat,
kekerasan hori2ontal, teror, dan buda1a korupsi, kita patut bertan1a-tan1a 3pakah e4ek pendidikan agama53
)emua imoralitas itu berlangsung kian intensi4 berbarengan dengan kemandulan pendidikan agama di sekolah.
6enomena pendidikan agama itu tidak lain cerminan problem hidup keberagamaan di 'anah ir 1ang telah
terjebak ke dalam 4ormalisme agama. %emerintah merasa puas sudah mens1aratkan agama sebagai #ajib
dalam kurikulum. 7uru agama / dosen merasa puas sudah mengajarkan materi pelajaran sesuai kurikulum.
%eserta didik merasa sudah beragama dengan mengha4al materi pelajaran agama. )emua pihak merasa puas
dengan ob1ekti4ikasi agama dalam bentuk kurikulum dan nilai rapor atau nilai mata kuliah.
*. 8umusan (asalah
)elanjutn1a makalah ini akan membahas mengenai kedudukan dan rele9ansi pendidikan agama &slam di
perguruan tinggi, 1ang dibagi kedalam rumusan masalah sebagai berikut :
1. *agaimana kedudukan pendidikan agama &slam di perguruan tinggi 5
2. *agaimana pandangan mahasis#a tentang pendidikan agama &slam di perguruan tinggi 5
3. pa keuntungan dan 4ungsi adan1a pendidikan agama &slam diperguruan tinggi 5
:. 'ujuan %en1usunan
(akalah ini disusun untuk melengkapi tugas mandiri mata kuliah Kapita )elekta %endidikan &slam. )elain itu
juga bertujuan :
1. (enambah kha2anah intelektual mahasis#a tentang peranan pendidikan agama &slam di perguruan tinggi.
2. (engkaji mengenai kedudukan pendidikan agama &slam di perguruan tinggi .
** &&
%+(*.),
. %endidikan gama &slam di %erguruan 'inggi
%endidikan gama &slam ;%&< di %erguruan 'inggi /mum ;%'/< merupakan kelanjutan dari pengajaran 1ang
diterima oleh peserta didik mulai dari 'ingkat -asar, )ekolah (enegah %ertama dan tas. ,amun berbagai
persoalan muncul dalam proses pembelajaran %&. (ateri 1ang diajarkan boleh dikatakan sama secara
nasional. *an1akn1a materi ajar dan kurang ber4ariasin1a pengajar dalam men1ampaikann1a, ditambah lagi
dengan alokasi #aktu 1ang kurang memadai, menjadikan peserta didik ;mahasis#a< kurang bergairah dalam
men1erap perkuliahan. Kesan 1ang sering muncul di kalangan mahasis#a adalah mata kuliah =#ajib lulus3 ini
seakan berubah menjadi =#ajib diluluskan3 karena kalau tidak lulus akan menjadi hambatan bagi mata kuliah di
atasn1a. )ecara sederhana bisa juga dikatakan bah#a mahasis#a =#ajib lulus3 dan sang dosen =#ajib
meluluskan3.
'entu ini menjadi masalah 1ang cukup serius. )epanjang 1ang sa1a ketahui, sudah sering dilakukan upa1a
peningkatan mutu %& di %'/, baik bagi sta4 pengajarn1a, materi kurikulum dan usulan penambahan jumlah
)K)-n1a. ,amun selalu terkendala dilapangan oleh berbagai 4aktor, misaln1a sta4 pengajar 1ang belum
seragam dalam pendekatan pembelajaran %& karena perbedaan latar belakang disiplin ilmu masing-masing
dalam bidang keagamaan. (ateri kurikulum 1ang ditetapkan secara nasional sering kali membuat sta4
pengajar tidak mampu melakukan impro4isasi sehingga tidak jarang kelas menjadi monoton. -ilihat dari jumlah
tatap muka sudah jelas tidak memadai han1a dengan 2 sks. *erbagai upa1a dilakukan untuk menambah jam
pelajaran %&, namun ja#aban 1ang sering didengar adalah =sudah begitu ban1ak beban mata kuliah masis#a
1ang harus diselesaikan, terutama mata kuliah $urusan, sehingga tidak perlu diberi beban tambahan3.
(elihat perubahan pola pikir mahasis#a dan berkembangn1a ilmu pengetahuan, perlu berbagai upa1a untuk
untuk mengoptimalkan buku &-& ;&slam dan -isiplin &lmu<, perlu pengembangan %& melalui pendekatan ilmu
1ang ditekuni oleh masing-masing program studi mahasis#a dengan melihat masing-masing sub pokok
bahasan melalui disiplin ilmu tertentu sebagai penga1aan %& di %'/. /ntuk mahasis#a %oliteknik, hal ini
dirasakan masih belum memadai dan perlu dikembangkan.
%endidikan agama merupakan upa1a sadar untuk mentaati ketentuan llah sebagai guidance dan dasar para
peserta didik agar berpengetahuan keagamaan dan handal dalam menjalankan ketentuan-ketentuan llah
secara keseluruhan. )ebagian dari ketentuan-ketentuan llah itu adalah memahami hukum-hukum-,1a di
bumi ini 1ang disebut dengan a1at-a1at kauni1ah. 1at-a1at kauni1ah itu dalam aktualisasin1a akan bermakna
)unanatullah ;hukum-hukum 'uhan< 1ang terdapat di alam semesta. -alam a1at-a1at kauni1ah itu terdapat
ketentuan llah 1ang berlaku sepenuhn1a bagi alam semesta dan melahirkan ketertiban hubungan antara
benda-benda 1ang ada di alam ra1a.;-ep. gama, &-& +&&&, 1>>?, h..!<.
/ntuk memahami hukum-hukum 'uhan itu, manusia perlu menggunakan akaln1a 1ang dibimbing oleh tauhid
sebagai pembeda manusia dengan makhluk lain ;@). ":1>><. Karena itu pula han1a manusia 1ang
dipersiapkan oleh llah menjadi khali4ah di muka bumi ;@). 2:30<.
*. Kedudukan %endidikan gama di %erguruan 'inggi
%eran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini ber4okus pada lingkungan lembaga pendidikan,
khususn1a perguruan tinggi. )alah satu mata kuliah dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, 1ang
sangat berkaitan dengan perkembangan moral dan perilaku adalah %endidikan gama. (ata kuliah %endidikan
gama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok (K/ ;(ata Kuliah /mum< 1aitu kelompok mata
kuliah 1ang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahasis#a memasuki kehidupan
bermas1arakat. (ata kuliah ini merupakan pendamping bagi mahasis#a agar bertumbuh dan kokoh dalam
moral dan karakter agamaisn1a sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekia#an 1ang tinggi moraln1a
dalam me#ujudkan keberadaann1a di tengah mas1arakat.

'ujuan mata kuliah %endidikan gama pada %erguruan 'inggi ini amat sesuai dengan dasar dan tujuan
pendidikan nasional dan pembangunan nasional. 7*., 1>88 menggariskan bah#a pendidikan nasional 1ang
berdasarkan %ancasila =bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia &ndonesia, 1aitu manusia 1ang
beriman dan bertak#a terhadap 'uhan Aang (aha +sa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin,
bekerja keras, bertanggung ja#ab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohaniB dengan
demikian pendidikan nasional akan membangun dirin1a sendiri serta bersama-sama bertanggung ja#ab atas
pembangunan bangsa3.

Kualitas manusia 1ang ingin dicapai adalah kualitas seutuhn1a 1ang mencakup tidak saja aspek rasio, intelek
atau akal budin1a dan aspek 4isik atau jasmanin1a, tetapi juga aspek psikis atau mentaln1a, aspek sosial 1aitu
dalam hubungann1a dengan sesama manusia lain dalam mas1arakat dan lingkungann1a, serta aspek spiritual
1aitu dalam hubungann1a dengan 'uhan Aang (aha +sa, )ang %encipta. %endidikan 'inggi merupakan aras1
tertinggi dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan menghasilkan sarjana-sarjana 1ang
pro4esional, 1ang bukan saja berpengetahuan luas dan ahli serta terampil dalam bidangn1a, serta kritis, kreati4
dan ino9ati4, tetapi juga beriman dan bertaC#a kepada 'uhan 1ang (aha +sa, berkepribadian nasional 1ang
kuat, berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirin1a, memiliki rasa solidaritas sosial
1ang tangguh dan ber#a#asan lingkungan. %endidikan nasional 1ang seperti inilah 1ang diharapkan akan
memba#a bangsa kita kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional 1akni =Bmas1arakat adil dan
makmur 1ang merata material dan spiritual...3.
:. %aradigma *aru %endidikan gama )ebagai (ata Kuliah %engembang Kepribadian
-alam era global dan teknik in4ormasi 1ang sarat dengan masalah-masalah etis dan moral ini, mas1arakat
&ndonesia khususn1a kaum muda memerlukan pengenalan 1ang benar akan nilai-nilai kemanusiaan diri. 0ee
Kuan Ae# mengatakan =Kita telah meninggalkan masa lalu dan selalu ada kekha#atiran bah#a tak akan ada
sesuatu 1ang tersisa dalam diri kita 1ang merupakan bagian dari #arisan masa silam3. )elain pengenalan 1ang
benar akan kemanusiaan diri orang muda juga membutuhkan suatu pendasaran moral 1ang benar untuk
pembentukan tingkah laku. %erlu ada perobahan sikap mental 1ang drastis dalam mas1arakat &ndonesia 1ang
1ang penuh dengan pelbagai krisis moral, etis, dan spiritual.
-alam hal ini 1ang dibutuhkan adalah agama. Kebuda1aan nasional modern &ndonesia sekarang haruslah
didasarkan kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama 1ang spiritual dan religious. )eperti dikemukakan
sebelumn1a, jati diri dan pendasaran moral 1ang benar tentun1a berasal dari agama dan pendidikan agama.
%endidikan gama di perguruan tinggi seharusn1a merupakan pendamping pada mahasis#a agar bertumbuh
dan kokoh dalam karakter agamaisn1a sehingga ia dapat tumbuh sebagai cendekia#an 1ang tinggi moraln1a
dalam me#ujudkan keberadaann1a di tengah mas1arakat. 'etapi ken1ataan sekarang ini, lembaga-lembaga
pendidikan tinggi belum sepenuhn1a berhasil dalam tugas pembentukan tenaga pro4esional 1ang spiritual.
)etelah era re4ormasi muncul =kesadaran baru3 bah#a pendidikan secara umum dan pendidikan agama
khususn1a =kurang berhasil3 dalam pengembangan moral dan pembentukan perilaku mahasis#a, dalam
mengantisipasi masalah-masalah etis dan moral era global dan teknik in4ormasi. 'idak terlihat indikasi
terjadin1a perubahan 1ang signi4ikan antara pengetahuan 1ang tinggi, tingkat kede#asaan menurut usian1a
dan pengaruhn1a pada perkembangan moraln1a. Ken1ataan secara 4aktual ban1ak mahasis#a memiliki
masalah-masalah moral, antara lain:
D E:- porno dua orang mahasis#a di *andung,
D aksi ta#uran,
D perkelahian,
D tindak kriminalitas 1ang tinggi ;seperti pembunuhan 1ang dilakukan mahasis#a terhadap pacarn1a 1ang
sedang hamil<,
D -an menurut laporan 1ang dicetak oleh Kompas :1ber (edia, pada tgl. F 6ebruari 2001, dari dua juta
pecandu narkoba dan obat-obat berbaha1a, >0G adalah generasi muda, termasuk di antaran1a 2F.000
mahasis#a.
-. %aradigma *aru dalam %endidikan gama
Ken1ataan tersebut di atas mendorong pihak-pihak 1ang perduli akan pendidikan untuk mencari paradigma-
paradigma baru 1ang sesuai dengan tuntutan jaman. 'idak mengherankan jika salah satu topik 1ang ramai
dibicarakan dalam bidang pendidikan baik di &ndonesia maupun dunia adalah eHellent school educatioan, 1ang
tidak saja menge9aluasi ulang materi pembelajaran, sumber da1a manusia dalam memberi pembelajaran,
tetapi juga metode pembelajaran. *ahkan komisi internasional dunia 1aitu 'he &nternational :ommission on
+ducation 4or the '#ent1 6irst :entur1, dipimpin oleh $acCues -elors, le#at laporann1a 1ang berjudul
=0earning the 'reasure Iithin3, merekomendasikan agar proses pembelajaran di seluruh dunia pada abad ini
ini diselenggarakan berdasarkan ! pilar. Keempat pilar itu adalah:
D learning to kno#,
D learning to do,
D learning to be,
D dan learning to li9e together.
8ekomendasi ini sangat mempengaruhi restrukturisasi kurikulum pendidikan di &ndonesia 1ang dibutuhkan
demi terjadin1a suatu pembenahan. )K (endiknas ,o.232///2000 dan ,o.0!F///2002 memperlihatkan
terjadin1a restrukturisasi 1ang dimaksud. -alam kurikulum ini %endidikan gama menjadi salah satu mata
kuliah dalam kelompok (%K ;(ata Kuliah %engembangan Kepribadian<. -an dalam kurikulum 1ang
direstrukturisasi ini dipergunakan pendekatan baru 1ang dikenal dengan Kurikulum *erbasis Kompetensi 1ang
sangat mengedepankan kompetensi setiap mata kuliah di perguruan tinggi.

-alam )K ,o.!3/-&K'&/Kep. 200? tercantum rambu-rambu pelaksanaan (%K ini di %erguruan 'inggi,
khususn1a rumusan 9isi, misi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar. Eisi dan misi (%K memberi
penekanan kepada pemantapan kepribadian mahasis#a sebagai manusia &ndonesia seutuhn1a, 1ang secara
konsisten mampu me#ujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebuda1aan.

Kompetensi dasar %endidikan gama adalah menjadi ilmu#an :
D 1ang pro4essional,
D beriman dan bertaC#a kepada 'uhan Aang (aha +sa,
D berakhlak mulia,
D memiliki etos kerja,
D berkepribadian de#asa, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.
** &&&
K+)&(%/0,
. Kesimpulan
gama sebagai pranata sosial berperan sangat penting dalam mempengaruhi perilaku para penganutn1a
dalam kehidupan sehari-hari. %eranan penting agama dan nilai-nilai agama ini antara lain terlihat dalam mata
kuliah %endidikan gama. (ata kuliah ini merupakan pendamping 1ang penting bagi mahasis#a agar
bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agama#in1a sehingga ia dapat berkembang menjadi
cendekia#an 1ang tinggi moraln1a dan benar serta baik perilakun1a.
%erilaku kehidupan beragama di &ndonesia masih kuat diba1ang-ba1angi tradisi4ormalisme dan keberagamaan
belum mempun1ai kekuatan untuk mengoreksi distorsi moral dalam kehidupan sosial. (usuh agama tidak
han1a maksiat, tetapi juga korupsi dan kekerasan. -ari hari ke hari kita semakin biasa mendengar dan melihat
pembakaran, pengrusakan, pengero1okan, pembunuhan, dan teror bom. )ementara itu, mas1arakat semakin
apatis terhadap pemberantasan korupsi 1ang masih berputar-putar pada isu.
)ebagai bangsa 1ang dikenal religius, seharusn1a keberagamaan mempun1ai kontribusi untuk mengurangi
kejahatan sosial di sekitar kita. ,1atan1a, belum ada tanda-tanda demikian. )ebuah pekerjaan rumah 1ang
besar. %ertan1aan 1ang menggelitik, 3pakah ada 1ang salah dengan pendidikan agama di
sekolah sehingga lahir generasi seperti ini53 )ebuah pertan1aan kecil 1ang patut
direnungkan.
*. )aran
%endidikan agama &slam sebagaimana telah ditetapkan sebagai mata kuliah #ajib pada perguruan tinggi,
diharapkan dapat mengembangkan sistem, metode, materi dan dosen 1ang berkomptensi pada pengajaran.
)ehingga diharapkan kedudukan pendidikan agama &slam sebagai mata kuliah pengembang kepribadian di
perguruan tinggi, mampu menghasilkan mahasis#a 1ang berakhlak mulia.
-6'8 %/)'K
ri4in, Kapita )electa %endidikan /mum dan gama, )emarang: 'oha %utra, 1>8?.
*.). (ardiatmaja, 'antangan -unia %endidikan, %enerbit Kanisius, Aog1akarta, 1>>?
-irjen %erguruan 'inggi gama &slam, *uku %endidikan gama &slam -i %erguruan 'inggi /mum, -epag. 8&,
1>88
http://###.sinarharapan.co.id/berita/0212/1!/opi02.html
$ohannes Jentoro, %endidikan di bad ke-21
$udo#ibo#o %oer#o#idagdo, gama, %endikan dan %embangunan ,asional, *%K 7unung (ulia, $akarta,
1>>?
,asir, )ahilun ., %okok-pokok %endidikan gama &slam -i %erguruan 'inggi, )uraba1a: l &khlas, &ndonesia,
1>8!.
Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI
http://duniapai.blogspot.com/2013/01/pendidikan-agama-islam-di-perguruan.html
Kamis, 28 Agus 2014 jam 08.20 wib
BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI
A. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) merupakan kelanjutan dari
pengajaran yang diterima oleh peserta didik mulai dari Tingkat Dasar, Sekolah Menegah Pertama dan
Atas. Namun berbagai persoalan muncul dalam proses pembelajaran PAI. Materi yang diajarkan boleh
dikatakan sama secara nasional. Banyaknya materi ajar dan kurang berfariasinya pengajar dalam
menyampaikannya, ditambah lagi dengan alokasi waktu yang kurang memadai, menjadikan peserta didik
(mahasiswa) kurang bergairah dalam menyerap perkuliahan. Kesan yang sering muncul di kalangan
mahasiswa adalah mata kuliah wajib lulus ini seakan berubah menjadi wajib diluluskan karena kalau tidak
lulus akan menjadi hambatan bagi mata kuliah di atasnya. Secara sederhana bisa juga dikatakan bahwa
mahasiswa wajib lulus dan sang dosen wajib meluluskan.[1]
Tentu ini menjadi masalah yang cukup serius. Sepanjang yang saya ketahui, sudah sering dilakukan
upaya peningkatan mutu PAI di PTU, baik bagi staf pengajarnya, materi kurikulum dan usulan penambahan
jumlah SKS-nya. Namun selalu terkendala dilapangan oleh berbagai faktor, misalnya staf pengajar yang belum
seragam dalam pendekatan pembelajaran PAI karena perbedaan latar belakang disiplin ilmu masing-masing
dalam bidang keagamaan. Materi kurikulum yang ditetapkan secara nasional sering kali membuat staf pengajar
tidak mampu melakukan improfsasi sehingga tidak jarang kelas menjadi monoton. Dilihat dari jumlah tatap
muka sudah jelas tidak memadai hanya dengan 2 sks. Berbagai upaya dilakukan untuk menambah jam
pelajaran PAI, namun jawaban yang sering didengar adalah sudah begitu banyak beban mata kuliah masiswa
yang harus diselesaikan, terutama mata kuliah Jurusan, sehingga tidak perlu diberi beban tambahan.
Melihat perubahan pola pikir mahasiswa dan berkembangnya ilmu pengetahuan, perlu berbagai upaya
untuk untuk mengoptimalkan buku IDI (Islam dan Disiplin Ilmu), perlu pengembangan PAI melalui pendekatan
ilmu yang ditekuni oleh masing-masing program studi mahasiswa dengan melihat masing-masing sub pokok
bahasan melalui disiplin ilmu tertentu sebagai pengayaan PAI di PTU. Untuk mahasiswa Politeknik, hal ini
dirasakan masih belum memadai dan perlu dikembangkan.
Pendidikan agama merupakan upaya sadar untuk mentaati ketentuan Allah sebagai guidance dan
dasar para peserta didik agar berpengetahuan keagamaan dan handal dalam menjalankan ketentuan-
ketentuan Allah secara keseluruhan. Sebagian dari ketentuan-ketentuan Allah itu adalah memahami hukum-
hukum-Nya di bumi ini yang disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah itu dalam aktualisasinya
akan bermakna Sunanatullah (hukum-hukum Tuhan) yang terdapat di alam semesta. Dalam ayat-ayat kauniyah
itu terdapat ketentuan Allah yang berlaku sepenuhnya bagi alam semesta dan melahirkan ketertiban hubungan
antara benda-benda yang ada di alam raya.[2]
Untuk memahami hukum-hukum Tuhan itu, manusia perlu menggunakan akalnya yang dibimbing oleh
tauhid sebagai pembeda manusia dengan makhluk lain (QS. 7:199). Karena itu pula hanya manusia yang
dipersiapkan oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi (QS. 2:30).
B. Kedudukan Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi
Peran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini berfokus pada lingkungan lembaga
pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah dalam lembaga pendidikan di perguruan
tinggi, yang sangat berkaitan dengan perkembangan moral dan perilaku adalah Pendidikan Agama. Mata
kuliah Pendidikan Agama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum) yaitu
kelompok mata kuliah yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai bekal mahasiswa
memasuki kehidupan bermasyarakat. Mata kuliah ini merupakan pendamping bagi mahasiswa agar bertumbuh
dan kokoh dalam moral dan karakter agamaisnya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang
tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat.[3]
Tujuan mata kuliah Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi ini amat sesuai dengan dasar dan
tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. GBHN 1988 menggariskan bahwa pendidikan
nasional yang berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu
manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian,
berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan rohani
dengan demikian pendidikan nasional akan membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung
jawab atas pembangunan bangsa.
Kualitas manusia yang ingin dicapai adalah kualitas seutuhnya yang mencakup tidak saja aspek rasio,
intelek atau akal budinya dan aspek fsik atau jasmaninya, tetapi juga aspek psikis atau mentalnya, aspek
sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama manusia lain dalam masyarakat dan lingkungannya, serta
aspek spiritual yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Pendidikan Tinggi
merupakan arasy tertinggi dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan menghasilkan
sarjana-sarjana yang profesional, yang bukan saja berpengetahuan luas dan ahli serta terampil dalam
bidangnya, serta kritis, kreatif dan inovatif, tetapi juga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
berkepribadian nasional yang kuat, berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirinya,
memiliki rasa solidaritas sosial yang tangguh dan berwawasan lingkungan. Pendidikan nasional yang seperti
inilah yang diharapkan akan membawa bangsa kita kepada pencapaian tujuan pembangunan nasional yakni
masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual....
C. Paradigma Baru Pendidikan Agama Sebagai Mata Kuliah Pengembang Kepribadian
Dalam era global dan teknik informasi yang sarat dengan masalah-masalah etis dan moral ini,
masyarakat Indonesia khususnya kaum muda memerlukan pengenalan yang benar akan nilai-nilai
kemanusiaan diri. Lee Kuan Yew mengatakan Kita telah meninggalkan masa lalu dan selalu ada kekhawatiran
bahwa tak akan ada sesuatu yang tersisa dalam diri kita yang merupakan bagian dari warisan masa silam.
Selain pengenalan yang benar akan kemanusiaan diri orang muda juga membutuhkan suatu pendasaran moral
yang benar untuk pembentukan tingkah laku. Perlu ada perobahan sikap mental yang drastis dalam
masyarakat Indonesia yang yang penuh dengan pelbagai krisis moral, etis, dan spiritual.[4]
Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah agama. Kebudayaan nasional modern Indonesia sekarang
haruslah didasarkan kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama yang spiritual dan religious. Seperti
dikemukakan sebelumnya, jati diri dan pendasaran moral yang benar tentunya berasal dari agama dan
pendidikan agama. Pendidikan Agama di perguruan tinggi seharusnya merupakan pendamping pada
mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam karakter agamaisnya sehingga ia dapat tumbuh sebagai
cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat. Tetapi kenyataan
sekarang ini, lembaga-lembaga pendidikan tinggi belum sepenuhnya berhasil dalam tugas pembentukan
tenaga profesional yang spiritual. Setelah era reformasi muncul kesadaran baru bahwa pendidikan secara
umum dan pendidikan agama khususnya kurang berhasil dalam pengembangan moral dan pembentukan
perilaku mahasiswa, dalam mengantisipasi masalah-masalah etis dan moral era global dan teknik informasi.
Tidak terlihat indikasi terjadinya perubahan yang signifkan antara pengetahuan yang tinggi, tingkat
kedewasaan menurut usianya dan pengaruhnya pada perkembangan moralnya. Kenyataan secara faktual
banyak mahasiswa memiliki masalah-masalah moral, antara lain:
VCD porno dua orang mahasiswa di Bandung,
aksi tawuran,
perkelahian,
tindak kriminalitas yang tinggi (seperti pembunuhan yang dilakukan mahasiswa terhadap pacarnya yang
sedang hamil),
Dan menurut laporan yang dicetak oleh Kompas Cyber Media, pada tgl. 5 Februari 2001, dari dua juta
pecandu narkoba dan obat-obat berbahaya, 90% adalah generasi muda, termasuk di antaranya 25.000
mahasiswa.[5]
D. Paradigma Baru dalam Pendidikan Agama
Kenyataan tersebut di atas mendorong pihak-pihak yang perduli akan pendidikan untuk mencari
paradigma-paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan jaman. Tidak mengherankan jika salah satu topik
yang ramai dibicarakan dalam bidang pendidikan baik di Indonesia maupun dunia adalah exellent school
educatioan, yang tidak saja mengevaluasi ulang materi pembelajaran, sumber daya manusia dalam memberi
pembelajaran, tetapi juga metode pembelajaran. Bahkan komisi internasional dunia yaitu The International
Commission on Education for the Twenty First Century, dipimpin oleh Jacques Delors, lewat laporannya yang
berjudul Learning the Treasure Within, merekomendasikan agar proses pembelajaran di seluruh dunia pada
abad ini ini diselenggarakan berdasarkan 4 pilar. Keempat pilar itu adalah:
learning to know,
learning to do,
learning to be,
dan learning to live together.
Rekomendasi ini sangat mempengaruhi restrukturisasi kurikulum pendidikan di Indonesia yang
dibutuhkan demi terjadinya suatu pembenahan. SK Mendiknas No.232/U/2000 dan No.045/U/2002
memperlihatkan terjadinya restrukturisasi yang dimaksud. Dalam kurikulum ini Pendidikan Agama menjadi
salah satu mata kuliah dalam kelompok MPK (Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian). Dan dalam kurikulum
yang direstrukturisasi ini dipergunakan pendekatan baru yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi
yang sangat mengedepankan kompetensi setiap mata kuliah di perguruan tinggi.
Dalam SK No.43/DIKTI/Kep. 2006 tercantum rambu-rambu pelaksanaan MPK ini di Perguruan Tinggi,
khususnya rumusan visi, misi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar. Visi dan misi MPK memberi
penekanan kepada pemantapan kepribadian mahasiswa sebagai manusia Indonesia seutuhnya, yang secara
konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan.
Kompetensi dasar Pendidikan Agama adalah menjadi ilmuwan :
yang professional,
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia,
memiliki etos kerja,
berkepribadian dewasa, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.[6]
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Agama sebagai pranata sosial berperan sangat penting dalam mempengaruhi perilaku para
penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Peranan penting agama dan nilai-nilai agama ini antara lain terlihat
dalam mata kuliah Pendidikan Agama. Mata kuliah ini merupakan pendamping yang penting bagi mahasiswa
agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter agamawinya sehingga ia dapat berkembang menjadi
cendekiawan yang tinggi moralnya dan benar serta baik perilakunya.
Perilaku kehidupan beragama di Indonesia masih kuat dibayang-bayangi tradisiformalisme dan
keberagamaan belum mempunyai kekuatan untuk mengoreksi distorsi moral dalam kehidupan sosial. Musuh
agama tidak hanya maksiat, tetapi juga korupsi dan kekerasan. Dari hari ke hari kita semakin biasa mendengar
dan melihat pembakaran, pengrusakan, pengeroyokan, pembunuhan, dan teror bom. Sementara itu,
masyarakat semakin apatis terhadap pemberantasan korupsi yang masih berputar-putar pada isu.
Sebagai bangsa yang dikenal religius, seharusnya keberagamaan mempunyai kontribusi untuk
mengurangi kejahatan sosial di sekitar kita. Nyatanya, belum ada tanda-tanda demikian. Sebuah pekerjaan
rumah yang besar. Pertanyaan yang menggelitik, Apakah ada yang salah dengan pendidikan agama
di sekolah sehingga lahir generasi seperti ini? Sebuah pertanyaan kecil yang patut direnungkan.
B. Saran
Pendidikan agama Islam sebagaimana telah ditetapkan sebagai mata kuliah wajib pada perguruan
tinggi, diharapkan dapat mengembangkan sistem, metode, materi dan dosen yang berkomptensi pada
pengajaran. Sehingga diharapkan kedudukan pendidikan agama Islam sebagai mata kuliah pengembang
kepribadian di perguruan tinggi, mampu menghasilkan mahasiswa yang berakhlak mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Arifn, Kapita Selekta Pendidikan Umum dan Agama, Semarang: Toha Putra, 1986.
B.S. Mardiatmaja, Tantangan Dunia Pendidikan, , Yogyakarta: Penerbit Kanisius 1996
Dirjen Perguruan Tinggi Agama Islam, Buku Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum, Depag. RI, 1988
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0212/14/opi02.html

Judowibowo Poerwowidagdo, Agama, Pendikan dan Pembangunan Nasional, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Nasir, Sahilun A., Pokok-pokok Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi, Surabaya: Al Ikhlas, Indonesia, 1984.
[1]B.S. Mardiatmaja, Tantangan Dunia Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996),
[2]Dirjen Perguruan Tinggi Agama Islam, Buku Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Umum,
Depag. RI, 1988), hlm. 7.
[3]Arifn, Kapita Selekta Pendidikan Umum dan Agama, (Semarang: Toha Putra, 1986), hlm. 54.
[4] Nasir, Sahilun A., Pokok-pokok Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi, (Surabaya: Al Ikhlas,
Indonesia, 1984), hlm. 65.
[5] http://www.sinarharapan.co.id/berita/0212/14/opi02.html, diakses tanggal 2 Januari 2012.
[6]Judowibowo Poerwowidagdo, Agama, Pendikan dan Pembangunan Nasional, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1996), hlm. 98.
Pppppppppppppppppppppppppp
Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Perguruan
Tinggi Umum
http://webdav.iainpalu.ac.id/artikel/37-rekonstruksi-kurikulum-pendidikan-agama-islam-di-perguruan-tinggi-umum-
pascapemerintahan-orde-baru.html
Kamis, ! "gustus #$% &am #!.$3 wib
- -~- -=--
- ." ,'" =- - =- - -=-
-=- ~ -~- . .=' _ == -- -=
=- ' .- - -=- - .- -- - .=
.~ .` - 2002
=~ " ,'" - .= .~ .`
2000 .- - - ,- - ~- ,.-
. .=' _ == -- -=`' ~---
Kata Kunci: rekonstruksi kurikulum, Pendidikan "gama Islam, 'rde
(aru, 'rde)e*ormasi
PENDAHULUAN
Perubahan kurikulum merupakan sebuah kenisca+aan
sebagai konsekuensi dari perubahan situasi dan kondisi
mas+arakat tempat berlangsungn+a pendidikan. ,llis, dkk.
-$.!/:7.0, meng-klasi1kasikan beberapa kategori +ang
berpengaruh terhadap kurikulum, +aitu: individu-individu +ang
terlibat dalam komunitas sebuah lembaga pendidikan2
kepentingan-kepentingan kelompok +ang diorganisasikan
secara khusus2 kepentingan-kepentingan komersial2 para
penggagas in*ormasi dan ide-ide baru2 perubahan kondisi
ekonomi dan mas+arakat2 organisasi-organisasi pro*esi dan
mas+arakat terpela&ar2 serta evaluasi dan akreditasi eksternal.
3e&alan dengan hal tersebut, perubahan sistem
pemerintahan memiliki implikasi +ang sangat besar terhadap
dunia pendidikan, khususn+a dalam hal ini kurikulum.
Kebi&akan-kebi&akan Pemerintah dalam bentuk perundang-
undangan, sistem birokrasi dan orientasi politik turut
mewarnai corak kurikulum +ang ada.
4alam konteks Indonesia, khususn+a pascapemerintahan
'rde (aru, ban+ak perubahan +ang ter&adi pada tatanan
sistem ketatanegaraan kita. Peralihan bentuk pemerintahan
dari bentuk sentralistik ke arah desentralistik, perubahan iklim
demokrasi, menguatn+a isu tentang hak-hak asasi manusia,
pengakuan +ang lebih tegas terhadap pluralisme buda+a,
agama dan ras, semua itu berimplikasi terhadap kebi&akan
Pemerintah di bidang pendidikan.
Dalam hubungan tersebut, perubahan yang terjadi pada aspek sosial,
ekonomi dan politik tersebut, perlu dibarengi dengan perubahan kultural, jika
tidak maka perubahan tersebut akan melahirkan instabilitas sosial, karena
berpijak di atas pondasi yang rapuh (Mun`im DZ, 1998:4).
3alah satu media +ang paling tepat dalam upa+a
perubahan kultural ini adalah

pendidikan -)ahman, ##%:!0.
4engan demikian, diperlukan langkah-langkah strategis dalam
upa+a peningkatan mutu pendidikan se&alan dengan tuntutan
dan misi gerakan re*ormasi itu sendiri. "tas dasar inilah maka
pada tanggal 7 5opember $..! 6orum )ektor di (andung
mendeklarasikan perlun+a re*ormasi buda+a melalui re*ormasi
Pendidikan -"ri1n, ##3:$0. 7embaga pendidikan, diharapkan
dapat melakukan rekonstruksi pola pikir mas+arakat.
8saha-usaha Pemerintah dalam meningkatkan mutu
pendidikan di era re*ormasi ini sudah mulai dilakukan, antara
lain dalam bentuk peningkatan anggaran pendidikan dan
rekonstruksi kurikulum.
9erkait dengan rekonstruksi kurikulum ini, perlu kita
cermati secara kritis, apakah perubahan kurikulum tersebut
sudah se&alan dengan tuntutan situasi dan kondisi mas+arakat,
atau han+a bagian dari eporia re*ormasi, sekedar ingin :tampil
beda; dengan model kurikulum 'rde (aru.
3alah satu sasaran utama dalam perubahan kurikulum
tersebut adalah materi pendidikan agama, khususn+a pada
<ata Kuliah Pendidikan "gama di Perguruan 9inggi 8mum,
+ang merupakan salah satu bagian dari komponen <ata Kuliah
Pembinaan Kepribadian -<KPK0.
=al itu dapat dipahami mengingat bahwa agama
merupakan salah satu *aktor +ang sangat menentukan dalam
membentuk kesadaran, cara pandang, dan cara bersikap
terhadap realitas. 4i samping itu, tragedi kemanusiaan +ang
ter&adi di "mbon dan Poso di masa-masa dini 'rde )e*ormasi,
ban+ak melibatkan term dan simbol keagamaan.
"tas dasar itu, penulis akan mengka&i perubahan
kurikulum Pendidikan "gama Islam -P"I0 +ang ter&adi
pascapemerintahan 'rde (aru, +aitu pada masa pemerintahan
'rde )e*ormasi.
Pada tahun ###, Pemerintah, melalui 4irektur >enderal
Perguruan 9inggi -4ikti0 mengeluarkan 3urat Keputusan
5omor: /3/4IK9I/K,P/### tentang Pen+empurnaan
Kurikulum Inti <atakuliah Pengembangan Kepribadian
Pendidikan "gama pada Perguruan 9inggi di Indonesia.
5amun, tidak sampai dua tahun 4ikti kembali melakukan
perombakan terhadap kurikulum Pendidikan "gama di
Perguruan 9inggi 8mum melalui 3urat Keputusan 5omor:
3!/4IK9I/K,P/##. 4alam kurikulum +ang baru ini, tampak
&elas ter&adin+a pergeseran paradigma +ang berimplikasi pada
perubahan materi +ang cukup radikal dari kurikulum
sebelumn+a. Perubahan radikal +ang ter&adi dalam waktu +ang
relati* singkat ini, menarik untuk dicermati. Persoalan inilah
+ang akan men&adi *okus ka&ian dalam penelitian ini.
(erdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah bagaimana bentuk rekonstruksi kurikulum
Pendidikan "gama Islam di Perguruan 9inggi 8mun
pascapemerintahan 'rde (aru? 4an apakah materi kurikulum
P"I tersebut sudah relevan dengan realitas sosial mas+arakat
Indonesia dan kebutuhan peserta didik?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersi*at kualitati*, +akni berupa+a
menghimpun data, mengolah dan menganalisisn+a secara
kualitati* dan mende*enisikann+a secara kualitati* pula
-(achtiar, $..7:$0. Penelitian kualitati* umumn+a lebih
longgar terhadap instrumen pengumpulan data dan lebih
*okus pada proses dari pada produk suatu ob&ek penelitian
-<uhad&ir, ###:%30, sehingga penelitian kualitati* dilakukan
berdasarkan pengumpulan data akurat melalui studi
kepustakaan -(odgan @ 9a+lor, $.7A:%0.
4ata +ang digunakan dalam penelitian ini sepenuhn+a
bersumber dari bahan-bahan kepustakaan. Pengumpulan data
dilakukan melalui telaah pustaka +ang relevan dengan topik
+ang sedang dibahas. 3umber data meliputi: buku-buku
literatur, dokumen, surat kabar, ma&alah, &urnal dan web
site -internet0 +ang memuat in*ormasi +ang diperlukan. 4ata
+ang terkumpul akan diklasi1kasikan berdasarkan &enisn+a
untuk persiapan analisis lebih lan&ut.
4ata-data +ang telah terkumpul dianalisis dengan
menggunakan teknikcontent analysis -analisis isi atau teks0,
+akni pengka&ian terhadap tulisan-tulisan atau buku-buku
secara cermat dengan berpi&ak pada s+arat-s+aratB
sebagaimana +ang dikemukakan 5oeng <uhad&ir -###:/!0B
ob&ekti*, sistematis dan bersi*at generalisasi. Ceneralisasi +ang
dimaksud adalah bahwa temuann+a mempun+ai sumbangan
teoritik.
4alam proses analisis data, digunakan logika indukti* dan
dedukti* secara bervariasi, sebagaimana la+akn+a dalam
penelitian kualitati* pada umumn+a.
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Rekonstruksi Kurikulum PAI di Perguruan Tinggi Umum Pasca pemerintahan
Orde Baru
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum
(PTU) memperoleh landasan yang kokoh sejak dikeluarkan Tap. MPRS No. II
Tahun 1960 dan UU. Perguruan Tinggi No. 22 Tahun 1961, yang mewajibkan
pengajaran mata kuliah agama di perguruan tinggi negeri. Dengan ketetapan
tersebut, eksistensi PAI sebagai sarana pembentukan kepribadian mahasiswa
semakin kuat.
Sebagai bagian dari kurikulum inti perguruan tinggi, mata kuliah PAI
tentu tidak lepas dari kontrol Pemerintah. Kurikulum PAI, dengan demikian,
tidak bisa lepas dari kepentingan politik yang sedang berkembang pada saat
mana kurikulum itu diberlakukan. Sehingga, perbedaan orientasi, visi dan misi
sebuah rezim pemerintahan, akan berimplikasi pada muatan kurikulum PAI itu
sendiri.
Pada masa Orde Baru, PAI di Perguruan Tinggi Umum berorientasi
murni pada konsep-konsep dasar ajaran Islam normatiI. Domain
pembahasannya meliputi tiga pilar utama ajaran Islam, yakni akidah, syariah,
dan akhlak. Inilah yang dijabarkan dalam kurikulum PAI di PTU.
Apakah kurikulum yang demikian masih tetap dipertahankan di era
ReIormasi Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa hingga tahun 2002
muatan kurikulum PAI di Perguruan Tinggi Umum masih meneruskan materi
yang telah diterapkan pada masa Orde Baru, meskipun mata kuliah ini telah
dimasukkan sebagai salah satu kelompok Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian (MPK). Namun, sejak tahun 2002, muatan kurikulum PAI di
Perguruan Tinggi Umum mengalami perubahan yang cukup drastis.
Pada bagian berikut, akan diuraikan tentang bagaimana perbedaan yang
ada antara kurikulum PAI di PTU tahun 2000 dengan kurikulum PAI di PTU
tahun 2002.
Perbedaan Paradigma
Pada dasarnya, penulis tidak menemukan reIerensi khusus yang
membahas paradigma kurikulum PAI, baik kurikulum tahun 2000 maupun
kurikulum tahun 2002. Oleh karena itu, dalam membahas masalah ini, penulis
melakukan analisis terhadap tujuan dan materi PAI pada kedua kurikulum
tersebut untuk menemukan spirit yang dikandungnya dan menjiwai
pelaksanaan pembelajaran. Sehingga dengan demikian kita dapat menemukan
paradigma pemikiran yang melatarinya.
Paradigma Kurikulum PAI di PTU Tahun 2000
Kepmen Diknas Nomor: 22U2000, menetapkan Pedoman Penyusunan
Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian hasil Belajar Mahasiswa. SK ini
menjadi dasar penyelenggaraan program studi di Perguruan Tinggi yang terdiri
atas (a) kurikulum inti, dan (b) kurikulum intruksional. Kurikulum Inti
Pendidikan Tinggi terdiri atas (a) kelompok Matakuliah Pengembangan
Kepribadian (MPK) (b) kelompok Matakulaih Keahlian Berkarya (MKB)
Kelompok Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB). Mata kuliah
Pendidikan Agama termasuk dalam kelompok MPK seperti halnya PPKN.
Seiring dengan itu, dalam rumusan penyempurnaan kurikulum mata
kuliah PAI di Perguruan Tinggi Umum, dijelaskan:
Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi bertujuan untuk membantu
terbinanya mahasiswa yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan ang Maha
Esa, berbudi pekerti luhur, berIikir IilosoIis, bersikap rasional dan dinamis,
berpandangan luas, ikut serta dalam kerjasama antar umat beragama dalam
rangka pengembangan dan pemanIaatan ilmu dan teknologi serta seni untuk
kepentingan manusia dan nasional (Nomor: 26DIKTIKEP2000).
Rumusan di atas tampak berbeda dengan rumusan yang terdapat dalam
kurikulum PAI di masa Orde Baru. Sebagaimana dideskripsikan dalam BPP
PAI bahwa mata kuliah PAI bertujuan:
Mengkaji dan memberi pemahaman tetang hakikat manusia yang membutuhkan
panduan hidup, baik secara individu maupun sosial dalam rangka mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan memahami dirinya dan alam semesta
yang telah diberi aturan oleh Penciptanya, aturan itulah yang disebut ayat
kauniyah dan tanziliyah. Ayat tanziliyah inilah yang dirinci pada bahasan akidah,
syari`ah, akhlak dan sejarah Islam. Penekanan utama ada pada aplikasi ajaran
tersebut pada tingkah laku keseharian, baikyang bersumber dari Al-ur`an
maupun dari sunnah Rasulullah S.A. (BPP PAI dalam http:bima.ipb.ac.id).
Meski demikian pada aspek materi, penyempurnaan kurikulum PAI
tahun 2000 tidak berbeda sama sekali dengan materi kurikulum PAI di masa
Orde Baru. Titik tekan materi PAI lebih berorientasi pada konsep-konsep
keislaman tradisional, yang berkisar pada akidah, syariah (dalam arti Iikih) dan
akhlak. Di samping itu, dalam sejumlah hal tidak ditemukan adanya perbedaan
signiIikan antara materi kurikulum PAI pada Perguruan Tinggi dengan
kurikulum mata pelajaran Agama Islam pada Tingkat Dasar dan Menengah
(Balitbang Depdiknas dalam http:puspendik.com dan Supriyadi
dalam http:digilib.itb.ac.idgdl). Meskipun ada perkembangan materi pada
tingkat perguruan tinggi, perkembangan tersebut lebih bersiIat vertikal yakni
materi yang telah dipelajari pada tingkat sebelumnya lebih dipertajam, dengan
pendekatan rasional IilosoIis. Akan tetapi tidak ada perkembangan yang
bersiIat horizontal, dalam memperluas wilayah kajian pada isu-isu
kontemporer.
Dengan kondisi yang demikian, tidak dapat dihindari dominannya
pendekatan doktriner dalam proses pembelajaran PAI tersebut. Ajaran agama
sebagai sesuatu yang harus diimani, diterima tanpa kritik, dan merupakan
barang jadi yang siap pakai.
Paradigma kurikulum Pendidikan Agama Islam tahun 2000 tersebut
masih merupakan kelanjutan dari paradigma kurikulum Orde Baru. ilayah
keislaman terkesan begitu sempit, seputar rukun iman dan rukun Islam
ditambah dengan seperangkat aturan tata krama dalam pergaulan sehari-hari.
Dengan demikian, konsep keagamaan cenderung bersiIat statis karena sekedar
melanjutkan tradisi teologis dari para ulama terdahulu.
Mungkinkah paradigma yang demikian ini sengaja ditanamkan penguasa
pada masa Orde Baru untuk meredam kekuatan oposisi yang bisa lahir dari
pemahaman keagamaan yang dinamis. Kecurigaan seperti ini tentu cukup
beralasan, mengingat kurikulum merupakan produk dari penguasa, dan bahwa
umat Islam dalam sejarah Indonesia merupakan salah satu kekuatan yang
sangat diperhitungkan.
Paradigma Kurikulum PAI di PTU Tahun 2002
Perubahan iklim politik di Indonesia pada masa-masa awal Orde
ReIormasi, konIlik sosial di berbagai daerah, serta lahirnya semacam Iobia
terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, semua itu
berimplikasi terhadap dunia pendidikan, termasuk dalam hal ini kurikulum PAI
di PTU.
Oleh karena itu, jika pada konsep penyempurnaan kurikulum PAI tahun
2000paradigma yang digunakan masih merupakan warisan Orde Baru maka
pada kurikulum 2002 paradigmanya sangat berbeda. Mata kuliah PAI di PTU
tidak lagi berbicara tentang rukun iman dan rukun Islam belaka (bahkan untuk
materi ini porsinya sangat minim), melainkan lebih dominan mengkaji tentang
Islam dalam kaitannya dengan isu-isu kontemporer, seperti, hak-hak asasi
manusia, demokrasi, hukum, sistem politik, masyarakat madani dan toleransi
antar umat beragama.
Dalam Surat Keputusan Dikti Nomor 8 Tahun 2002 dinyatakan bahwa:
isi Matakuliah Kelompok Pengembagan Kepribadian (MPK) di Perguruan
Tinggi menjadi sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi
dalam mengantar mahasiswa mengembangkan kepribadiannya (Dikti, 2002:
pasal 1).
Misi utamanya adalah membantu mahasiswa agar mampu mewujudkan
nilai dasar agama dan kebudayaan serta kesadaran berbangsa dan bernegara
dalam menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dikuasainya
dengan rasa tanggung jawab kemanusiaan (Dikti, 2002: pasal 2).
Selanjutnya, kompetensi dasar yang ditargetkan adalah menguasai
kemampuan berpikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas
sebagai manusia intelektual (Dikti, 2002: pasal ). Sedangkan, untuk tujuan
PAI di Perguruan Tinggi Umum, adalah:
Mengantarkan mahasiswa sebagai modal (kapital) intelektual melaksanakan
proses belajar sepanjang hayat untuk menjadi ilmuwan yang berkepribadian
dewasa yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan kehidupan (Dikti, 2002, pasal
ayat 1).
Dalam rumusan di atas, tidak lagi ditemukan term iman dan takwa
sebagaimana yang ditekankan pada kurikulum sebelumnya. Sehingga jika
rumusan tersebut dibaca tanpa melihat judulnya, tentu tidak ada kesan yang
mencerminkan bahwa itu merupakan rumusan tujuan mata kuliah PAI.
Namun, dalam materi instruksional PAI yang diterbitkan oleh Dipertais
Departemen Agama RI pada tahun 2004 ditegaskan bahwa kompetensi PAI
adalah mengantar mahasiswa untuk (1) mengusai ajaran agama Islam dan
mampu menjadikannya sebagai sumber nilai dan pedoman serta landasan
berpikir dan berperilaku dalam menerapkan ilmu dan proIesi yang
dikuasainya (2) menjadi intellectual capital yang beriman dan bertakwa
kepada Allah swt, berakhlak mulia dan berkepribadian Islami (Dikti Depag,
2004: vii).
Paradigma yang mendasari kurikulum PAI tahun 2002 ini adalah
paradigma yang melihat agama sebagai sesuatu yang dinamis dan hidup dalam
setiap aspek kehidupan. Agama bukanlah sekedar seperangkat aturan normatiI
untuk memenuhi kebutuhan spritualitas manusia. Agama adalah sebuah
pandangan hidup, dan dengan demikian, agama memiliki pengaruh yang
sangat kuat dalam membentuk cara pandang terhadap realitas kehidupan. Dan
karena realitas selalu dalam proses perubahan maka konsep keagamaan
haruslah bersiIat dinamis dalam merespon kondisi kekinian.
Krisis multidimensi yang melanda Indonesia di era reIormasi,
menghendaki lahirnya perubahan paradigma dalam berbangsa dan bernegara.
Penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, penegakan demokrasi,
supremasi hukum, dan pemberdayaan masyarakat sipil, merupakan agenda
penting reIormasi yang mesti dibudidayakan melalui pendidikan.
Di samping itu, konIlik sosial yang terjadi di berbagai daerah di tanah
air, menuntut peninjauan ulang terhadap cara pandang kita terhadap pluralisme
agama, budaya, suku dan etnik. ang dibutuhkan adalah kesepahaman dalam
perbedaan dan bukannya menciptakan keseragaman dalam keragaman
sebagaimana yang dilakukan di masa Orde Baru.
Berangkat dari paradigma baru ini, muncullah konsep pendidikan agama
yang berwawasan kultural, seperti yang ditawarkan Zakiyuddin Baidhawy
(200) dalam bukunya Pendidikan Agama Beraasan !ultikultural. Konsep
ini menawarkan pendekatan dialogis untuk menanamkan kesadaran hidup
bersama dalam keragaman dan perbedaan, dibangun atas semangat kesetaraan
dan kesederajatan, saling percaya, saling memahami, menghargai persamaan,
perbedaaan, keunikan dan independensi. Model pendidikan semacam ini
memberikan konstruk baru yang bebas dari prasangka dan stere"tipe mengenai
agama orang lain, bebas dari bias dan diskriminasi atas nama apapun, baik itu
agama, jender, ras, warna kulit, kebudayaan, maupun kelas sosial.
Zakiyuddin Baidhawy (200:4-46), menegaskan bahwa:
Sebagai risalah proIetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat
manusia, termasuk mereka para penganut agama-agama menuju satu cita-cita
bersama kesatuan kemanusiaan (united "# mankind) tanpa membedakan ras,
warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama. Pesan kesatuan ini secara tegas
disinyalir dalam Aluran: Katakanlah wahai semua penganut agama (dan
kebudayaan), bergegaslah menuju dialog dan perjumpaan multikultural
(kalimatun saa$) antara kami dengan kalian.Kalimatun saa$ bukan hanya
mengakui pluralitas kehidupan, ia adalah maniIesto dan gerakan yang
mendorong kemajemukan (plurality) dan keragaman (di%ersity) sebagai inti
kehidupan dan mengukuhkan pandangan bahwa semua kelompok multikultral
diperlakukan setara (e&uality) dan sama martabatnya (dignity).
Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa klaim berlebihan tentang
kebenaran absolut kelompok keagamaan sendiri, dan klaim kesesatan atas
kelompok-kelompok agama lain, berpotensi meningkatkan sentiment
permusuhan antar umat beragama. Penganjur-pengajur dengan pendekatan
teologis dogmatis semacam ini dapat dengan mudah membawa dan memicu
konIlik dan kekerasan pada level pengikut. Dan anehnya, semua
mengatasnamakan Tuhan (Baidhawy, 200:48).
Pendekatan multikultural dalam pendidikan agama mendapat dukungan
luas dari kalangan akademis, sebagai sebuah pendekatan yang tepat dalam
merespon konteks sosial masyarakat Indonesia yang pluralis.
Demikianlah, bila dibandingkan dengan kurikulum tahun 2000, dapat
dilihat bahwa telah terjadi pergeseran paradigma yang sangat tajam pada
kurikulum PAI di Perguruan Tinggi Umum tahun 2002.
Kepentingan politik, tentu saja memiliki andil dalam hal ini. Penulis
beranggapan bahwa pembaruan kurikulum ini, di samping diperuntukkan
untuk menyukseskan agenda reIormasi dalam hal penegakan HAM,
demokratisasi, dan pemberdayaan masyarakat sipil, serta memupuk kesadaran
akan pluralisme, juga untuk meredam lahirnya kelompok-kelompok radikal
yang berbasiskan Islam. Seperti diketahui, isu terorisme yang ditujukan kepada
kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia, merupakan salah satu
masalah yang mendapat perhatian ekstra serius dari pemeritah Indonesia di era
reIormasi. Bahkan kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia mendapat
pengawasan khusus dari dunia international.
Perbedaan Materi Kurikulum
!ateri PAI di PTU pada Kurikulum Tahun 2000
Pada penyempurnaan kurikulum Pendidikan Agama Islam di Perguruan
Tinggi Umum, sesuai dengan Keputusan Dikti Nomor:26 tahun 2000, materi
pembahasannya terdiri dari 9 pokok bahasan dengan beberapa sub bahasan
masing-masing, sebagaimana yang terlihat pada tabel 1.
Materi yang disajikan masih terkonsentrasi pada tiga domain utama
ajaran Islam, yakni Akidah, syari`at dan akhlak. Tampak jelas adanya
pengulangan dari materi Pendidikan Agama Islam pada tingkat dasar dan
menengah, sehingga pada dasarnya materi PAI di tingkat perguruan tinggi
dapat dianggap sebagai pematangan dari materi mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam yang telah dipelajari sebelumnya pada tingkat SLTA ke bawah.
Perbedaan yang tampak hanya pada aspek penghayatan terhadap nilai-nilai
(hikmah) yang terkandung dalam ajaran Islam itu, seperti hikmah salat, puasa,
zakat, dan haji. Sedangkan yang terkait dengan akidah masih berkisar pada
persoalan rukun iman.
Meskipun persoalan HAM telah disinggung dalam materi kuruikulum
PAI tahun 2000 tersebut, namun tidak dikaji secara mendalam, melainkan
sekedar pelengkap dalam materi pembahasan tentang akhlak dan takwa.
Dengan memperhatikan pokok bahasan dan sub pokok bahasan pada
tabel 1 di bawah ini, dapat dipahami bahwa mata kuliah PAI dalam kurikulum
tahun 2000 lebih banyak menggunakan pendekatan teologis doktriner.
Tabel 1. Materi Pokok Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum Berdasarkan SK. Dikti No. 26 ta!un
2"""
No. Pokok Bahasan Sub Bahasan
1.
2.
.
4.
.
6.
.
8.
9.
Manusia dan Agama
Agama Islam
Sumber Ajaran Islam
Kerangka Dasar Ajaran Islam
Akidah
Syariat, Ibadah dan Muamalah
Akhlak
Takwa
Ilmu Pengetahuan dalam Islam
a. Macam-macam ciptaan Allah
b. Manusia makhluk Allah yang paling
sempurna
c. Kebutuhan manusia akan pedoman
hidup
a. Macam agama dan kedudukan agama
Islam
b. Peranan agama Islam dalam
menentramkan batin dan membawa
kedamaian
a. Sistematika sumber ajaran Islam
b. Penggunaan akal sebagai sumber
ajaran Islam
a. Akidah, syariat dan akhlak
b. Agama Islam dan Ilmu-ilmu
keislaman
c. ilsaIat, tasawuI dan pembaharuan
dalam Islam
a. Arti dan ruang lingkup akidah
b. Kemaha-esaan Allah
c. Kiamat, hukum alam dan akhirat
d. Peranan malaikat dan makhluk gaib
lainnya serta pengaruhnya terhadap
manusia
e. Tugas dan peranan nabi dan rasul
I. ungsi kitab suci yang dibawa rasul
bagi umatnya
g. Pengertian kada dan kadar
a. Pengertian dan ruang lingkup syariat
Islam
b. Pengertian, tujuan, kedudukan dan
hikmah ibadah dalam Islam
c. Arti salat dan hikmahnya bagi
kehidupan
d. Pelaksanaan dan hikmah puasa
e. Pelaksanaan dan hikmah zakat
I. Pelaksanaan dan hikmah haji
g. Muamalah dalam Islam
h. Kewarisan dalam Islam
i. Prinsip kerja sama umat beragama
a. Pengertian dan ruang lingkup akhlak
yang menghormati HAM, serta
perbedaannya dengan moral dan
etika
b. Akhlak terhadap Allah, manusia dan
HAM serta lingkungan hidup
No. Pokok Bahasan Sub Bahasan
a. Pengertian, ruang lingkup dan
kedudukan takwa yang
menghormati HAM
b. Hubungan manusia dengan Allah
c. Hubungan manusia dengan sesame
manusia
d. Hubungan manusia dengan diri sendiri
e. Hubungan manusia dengan
lingkungan hidup
a. Kedudukan akal, wahyu dan ilmu
dalam Islam
b. KlasiIikasi dan karakteristik ilmu
dalam Islam
c. Kewajiban menuntut ilmu
d. Disiplin ilmu dalam Islam
Sumber data: Keputusan Dikti Nomor:26DIKTIKEP2000 tentang penyempurnaan
kurikulum inti Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama pada
Perguruan Tinggi di Indonesia. Depdiknas, 2000
!ateri PAI di PTU pada Kurikulum Tahun 2002
Berbeda dengan kurikulum PAI sebelumnya, dalam kurikulum PAI tahun
2002 materi yang disajikan lebih responsiI terhadap isu-isu kontemporer yang
berkembang di tengah masyarakat, khususnya di era reIormasi. Untuk lebih
jelasnya, berikut ini dipaparkan pokok bahasan dan sub bahasan dalam mata
kuliah PAI di PTU sesuai yang diamanahkan dalam Keputusan. Dikti No. 8
tahun 2002, tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok mata kuliah
Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, pada pasal 4 dijelaskan
tentang dasar substansi kajian mata kuliah Pendidikan agama, meliputi:
Tuhan ang Maha Esa dan Ketuhanan
o Keimanan dan ketakwaan
o ilsaIat ketuhanan (teologi)
Manusia
o Hakekat dan martabat manusia
o Tanggung jawab manusia
Moral
o Implementasi iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari
Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
o Iman, ilmu, amal sebagai kesatuan
o Kewajiban menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu
o Tanggung jawab ilmuwan terhadap alam dan lingkungan
Kerukunan antar umat beragama
o Agama merupakan rahmat bagi semua
o Hakekat kebersamaan dalam pluralitas beragama
Masyarakat
o Peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat madani yang sejahtera
o Tanggung jawab umat beragama dalam mewujudkan hak-hak asasi manusia
(HAM) dan demokrasi
Budaya
o Tanggung jawab umat beragama dalam mewujudkan cara berpikir kritis,
bekerja keras dan bersiIat #air.
Politik
o Konstribusi agama dalam kehidupan politik berbangsa dan bernegara
Hukum
o Menumbuhkan kesadaran untuk taat hokum Tuhan
o Peran agama dalam perumusan dan penegakan hokum yang adil
o ungsi proIetik agama dalam hukum (Dikti, 2002).
Dasar substansi pokok bahasan tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam
pokok bahasan dalam mata kuliah Pendidikan Agama untuk masing-masing
agama, artinya, Pendidikan Agama di Perguruan Tinggi memiliki topik yang
sama pada masing-masing agama, topik itulah yang akan diterjemahkan
berdasarkan konsep atau persepsi dari setiap agama.
Sehubungan dengan hal tersebut, pada tahun 2004 Dipertais Depag
menerbitkan buku pedoman !ateri Instruksi"nal Pendidikan Agama Islam di
Perguruan Tinggi Umum. Dalam buku ini terdapat 9 materi pokok yang
selanjutnya diuraikan dalam beberapa sub bahasan, sebagaimana yang
dipaparkan pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2. Materi Pokok Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum Berdasarkan SK. Dikti No. # ta!un 2""2
No. Pokok Bahasan Sub Bahasan
1.
2.
.
4.
.
6.
.
8.
9.
Tuhan ang Maha Esa dan Ketuhanan
Hakekat Manusia Menurut Islam
Hukum, HAM dan Demokrasi dalam
Islam
Etika, Moral, dan Akhlak
Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
Kerukunan antar umat beragama
Masyarakat Madani dan
Kesejahteraan Umat
Kebudayaan Islam
Sistem Politik Islam
a. ilsaIat ketuhanan dalam Islam
b. Keimanan dan ketakwaan
c. Implementasi iman dan takwa dalam
kehidupan modern
a. Konsep Manusia
b. Eksisitensi dan martabat manusia
c. Tanggung jawab manusia
a. Hukum Islam merupakan bagian dari
Agama
b. Ruang lingkup hukum Islam
c. Tujuan hukum Islam
d. Sumber hukum Islam
e. Konstribusi umat Islam dalam
perumusan dan penegakan hukum di
Indonesia
I. ungsi hukum Islam dalam kehidupan
bermasyarakat
g. HAM menurut ajaran Islam
h. Demokrasi dalam Islam
a. Konsep etika, moral, dan akhlak
b. Hubungan tasawuI dengan akhlak
c. Indicator manusia berakhlak
d. Akhlak dan aktualisasinya dalam
kehidupan
No. Pokok Bahasan Sub Bahasan
a. Konsep ipteks dalam Islam
b. Integrasi, iman, ilmu dan amal
c. Keutamaan orang beriman dan berilmu
d. Tanggung jawab para ilmuwan terhadap
alam dan lingkungan
a. Agama Islam merupakan rahmat bagi
seluruh alam
b. Ukhuwah islamiyah dan ukhuwah
insaniyah
c. Kebersamaan umat beragama dalam
kehidupan sosial
a. Konsep masyarakat madani
b. Peran umat Islam dalam mewujudkan
masyarakat madani
c. Sistem ekonomi Islam dan
kesejahteraan umat
d. Manajemen zakat
e. Manajemen wakaI
a. DeIinisi kebudayaan Islam
b. Sejarah intelektual Islam
c. Nilai-nilai Islam dalam budaya
Indonesia
d. Masjid sebagai pusat peradaban Islam
a. Pengertian politik Islam
b. Nilai-nilai dasar sistem politik dalam
Aluran
c. Ruang lingkup
pembahasan siy'sahdusturiyyah
Uraian materi PAI di atas menunjukkan wawasan yang lebih luas
sebagai sebuah pandangan hidup yang dinamis dan selalu berdialog dengan
konteks sosial. Tidak lagi mengulang-ulang materi pelajaran SLTA ke bawah
yang terbatas pada persoalan-persoalan rukun iman dan rukun Islam,
sebagaimana halnya pada kurikulum tahun 2000.
Pendidikan Agama Islam di era sekarang, sebagaimana diungkap al-
arui (1968:4), dihadapkan kepada perubahan yang mendasar, terutama
mempersiapkanpeserta didik yang nantinya akan berintegrasi dengan
masyarakat yang berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan
agama. Untuk mendapatkan hasil maksimal dari sebuah proses pendidikan
agama, ada dua hal sebagai pekerjaan rumah (PR), terutama pendidik agama
Islam, yakni: para pendidik tersebut sudah saatnya membutuhkan pengertian
yang mendalam dan harus merasa peka terhadap isu-isu pemahaman
keagamaan yang sedang berkembang dalam masyarakat umum. Selanjutnya,
para pendidik ini harus bisa membantu peserta didik untuk menyadari
pentingnya memahami budaya yang bermacam-macam dalam masyarakat,
khususnya di bidang keagamaan.
ika tidak demikian, tampaknya lembaga pendidikan sulit berpartisipasi
dalam menengahi model-model pemahaman Islam radikal yang sering dituduh
sebagai penyulut munculnya ketidaknyamanan dalam masyarakat beragama.
Lembaga-lembaga pendidikan, terutama di masa akan datang, harus bisa
memproduksi sarjana Islam yang berpikiran moderat untuk mewadahi berbagai
macam pemahaman yang cenderung radikal itu. Untuk mengujudkan itu,
seluruh unsur sistem pendidikan Islam, khususnya pembelajaran agama Islam,
sebaiknya ditelaah kembali (Sangkot, 200 dalam
http:sangkot.wordpress.com).
Berbagai upaya untuk mengembangkan materi PAI di Perguruan Tinggi
Umum saat ini terus digalakkan dengan mengacu pada spirit yang terkandung
dalam kurikulum 2002 tersebut. Salah satu di antaranya adalah Pendidikan
Agama Islam yang berwawasan multikultural.
$ele%ansi Kurikulum PAI Ta!un 2""2 dengan Kebutu!an Mas&arakat
Pembahasan tentang relevansi kurikulum PAI dengan kebutuhan
masyarakat, tidaklah dimaksudkan dengan meminta tanggapan langsung dari
warga masyarakat, melainkan dengan melihat relevansinya dengan tuntutan
sistuasi dan kondisi sosial, politik dan budaya masyarakat Indoneisa,
khususnya di era ReIormasi.
Benturan berbagai ide yang melibatkan elemen-elemen Islam sejak
bergulirnya era reIormasi muncul dalam berbagai aspek sosial, keagamaan dan
poltik. Dalam hal ini yang mengemuka antara lain menanggapi soal perempuan
jadi presiden, pemberlakuan syariat Islam, keabsahan demokrasi, pluralisme
beragama, makna jihad, hingga persoalan-persoalan politik dan teologi yang
lain. Proses dinamis dalam perkembangan kontemporer Islam di Indonesia dan
perwajahan baru radikalisme dalam gerakan Islam yang semakin meningkat
tentu saja menarik untuk dicermati secara seksama (Mubarak, 2008:114-11).
Baju radikalisme dan Iundamentalisme yang dipakai atas nama Islam
oleh kelompok tertentu menjadi boomerang bagi umat Islam sendiri. Di
Indonesia, kedua aliran itu telah menggejala baik secara terang-terangan
maupun tersembunyi. enomena demikian menyebabkan kekhawatiran
berbagai kalangan masyarakat, sebab alur pemikiran semacam itu telah
merasuki anak-anak, pelajar dan mahasiswa.
4alam situs CP "nshor dikemukakan bahwa: <omok ekstrem kanan +ang dulu begitu
diwaspadai oleh 'rde (aru kini hilang dari kamus politik Indonesia. Kelompok Islam radikal memang
berhasil Dditumpas; reEim 'rde (aru pada tahun $.!#-an. 5amun, dalam waktu hampir bersamaan
generasi di bawahn+a diam-diam membangun &aringan di kampus-kampus -http://www.gp-
anshor.org0.
Kemudian disusul dengan munculn+a kelompok-kelompok penga&ian kampus pada akhir
$.!#-an +ang terkenal dengan sebutan Dkelompok tarbi+ah,; melalui kelompok inilah transmisi
Islam radikal di 9imur 9engah berkembang di Indonesia, khususn+a di kampus-kampus perguruan
tinggi umum -http://www.gp-anshor.org0.
3etelah era re*ormasi mereka lebih berani tampil ke permukaan secara terang-terangan.
(agi sebagian kalangan, kemunculann+a dianggap mengkhawatirkan, bukan semata-mata karena
perbedaan ideologis, tetapi lantaran sebagian di antaran+a menggunakan cara-cara kekerasan
memper&uangkan aspirasin+a. Kekerasan di sini tak han+a dalam arti 1sik, tetapi &uga kekerasan
wacana +ang terekspresi melalui kecenderungan mereka +ang dengan mudah mengeluarkan *atwa
murtad, ka1r, s+irik, dan semacamn+a bahkan kepada sesama <uslim -http://www.gp-anshor.org0.
Kita sadari bahwa Indonesia adalah negara plural +ang terdiri dari beragam suku, ras,
agama, buda+a +ang berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia. Pluralisme +ang men&adi ciri bangsa
dan 5egara Indonesia ini, semestin+a diimbangi dengan demokratisasi +ang kuat sehinggaa tidak
menimbulkan ge&olak baru +ang berkembang. Islam sebagai agama +ang matan li al-
,rahlamn se+og+an+a dimaknai oleh penganutn+a dengan penuh keramahan, kedamaian, dan
kasih sa+ang. (ukan sebalikn+a, seolah-olah Islam men&adi sesuatu +ang mengerikan,
men+eramkan, dan menakutkan bagi umat lain, sehingga per*ormen keseluruhan umat Islam pun
turut terpengaruh. "rogansi, kepongahan, serta kecongkakan +ang mementingkan keinginan
kelompokn+a masing-masing adalah benih dari sebuah bentuk radikalisme. Karena itu, di era global
sekarang ini wa&ah seram semacam itu, tak boleh lagi tumbuh berkembang.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh the ahid Institute tentang
persepsi umat Islam Indonesia terhadap agama Islam dan isu terorisme,
diperoleh data bahwa sebanyak 2, dari responden percaya bahwa terorisme
dibolehkan dalam ajaran Islam. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada
pokoknya berpijak pada asumsi-asumsi pluralism. Dan meskipun angka 2,
itu kecil, tetapi untuk jumlah penduduk yang mencapai sekitar 10 juta maka
angka tersebut cukup besar (BP dan uli Ahmada, dalam http:rumahkiri.net).
Oleh karena itu, teramat penting untuk memberikan pemahaman
keislaman yang berwawasan luas kepada para generasi muda sehingga tidak
mudah terjebak dalam radikalisme yang dilatari oleh sempitnya wawasan
keagamaan yang dimilikinya. Tampaknya, Inilah salah satu kebutuhan yang
coba dijawab dalam kurikulum PAI tahun 2002 tersebut.
Dengan melihat setting sosial masyarakat Indonesia di masa awal
reIormasi,materi yang ditawarkan dalam kurikulum PAI tahun 2002 tersebut
sudah relevan. Masyarakat Indonesia di era reIormasi ini membutuhkan
pencerahan pemikiran keagamaan yang lebih luas, terutama menyangkut isu-
isu krusial yang terjadi dalam negeri. Pemahaman yang benar tentang hak asasi
manusia, demokrasi, masyarakat madani, pluralisme agama, ras, budaya, etnik,
dan bahasa.
Perubahan iklim politik di Indonesia ke arah yang lebih demokratis juga
memberi peluang pada umat Islam untuk menyuarakan aspirasinya termasuk
ide-ide yang bernuansa Islami. Oleh karena itu, hubungan Islam dan politik
perlu mendapat perhatian dalam kurikulum PAI, khususnya pada level
Perguruan Tinggi.
Singkatnya, perubahan paradigma dan materi kurikulum PAI di
Perguruan Tinggi tahun 2002, pada dasarnya merupakan reIleksi dari
kebutuhan masyarakat muslim Indonesia di era reIormasi ini. Kurikulum ini
juga memungkinkan pendidikan untuk mengantar mahasiswa memahami
wacana-wacana global dalam perspektiI Islam. Dengan demikian, Pendidikan
Agama Islam diharapkan dapat menumbuhkan cara pandang Islami dalam
melihat realitas, sehingga Islam menjadi agama yang hidup dinamis dalam
berdialog dengan segala bentuk perubahan konteks sosio kultural historis,
tanpa harus kehilangan jati diri dan orisinalitasnya. Bila kita meyakini Islam
sebagai agama yang terakhir dari Allah swt., kita pun harus yakin bahwa
wawasan keislaman akan mampu merespon kebutuhan masyarakat sepanjang
zaman, Islam tidak mungkin statis karena realitas terus mengalami perubahan.
$ele%ansi Kurikulum PAI Ta!un 2""2 dengan Kebutu!an Peserta Didik
Istilah kebutuhan peserta didik di sini bukan diartikan sebagai kebutuhan
yang bersumber dari keinginan peserta didik secara personal, melainkan
kebutuhan berdasarkan asumsi dengan melihat korelasi antara kurikulum PAI
di tingkat Perguruan Tinggi dengan kurikulum PAI di tingkat dasar dan
menengah. Sebagai ilustrasi, jika seorang anak didik telah mempelajari tata
cara berwudu maka kebutuhan selanjutnya adalah materi tentang salat atau
tayammum, bukannya tata cara berwudhu lagi, terlepas dari kenyataan bahwa
di antara siswa masih ada yang belum menguasai tata cara berwudhu.
Demikian juga, jika siswa belum pernah mempelajari tata cara berwuhu lalu
materi yang diberikan langsung membahas tata cara salat maka pada dasarnya
materi tersebut tidak sesuai dengan kebutuhannya, meskipun mereka ingin
mempelajarinya dan secara riil memang membutuhkannya.
Dengan demikian, kebutuhan peserta didik yang dimaksud di sini adalah
kebutuhan dari sudut pandang paedagogik. Secara sederhana, kebutuhan yang
dimaksud adalah korelasi antara materi yang akan dipelajari dengan materi
yang telah dipelajari pada level sebelumnya.
Pada kurikulum PAI untuk tingkat SLTA tahun 2004 ruang lingkup
materinya berIokus pada aspek: Aluranhadis, keimanan, syari`ah, akhlak,
tarikh. Sedangkan kompetensi dasar umum yang harus dicapai meliputi (1)
beriman kepada Allah swt. dan lima rukun iman yang lain dengan mengetahui
Iungsi dan hikmahnya serta tereIleksi dalam sikap, perilaku, dan akhlak peserta
didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal (2) dapat membaca, menulis,
dan memahami ayat-ayat Aluran serta mengetahui hukum bacaannya dan
mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari () mampu
beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syariat Islam, baik ibadah wajib
maupun ibadah sunnah (4) dapat meneladani siIat, sikap, dan kepribadian
Rasulullah, sahabat, dan tabiin serta mampu mengambil hikmah dari sejarah
perkembangan Islam untuk kepentingan hidup sehari-hari masa kini dan masa
depan () mampu mengamalkan sistem mu`amalat Islam dalam tata
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Pusat Kurikulum
Balitbang Depdiknas, 2008: 9-10).
Berdasarkan paparan di atas, dapat diketahui bahwa materi Pendidikan
Agama Islam pada tingkat SLTA telah membahas secara rinci pokok-pokok
ajaran Islam dengan tiga domain utama, yaitu akidah, syariat, dan akhlak. Oleh
karena itu, seyogyanya materi-materi tersebut tidak lagi berulang pada tingkat
Perguruan Tinggi.
Bahkan, di samping materi-materi pokok yang diajarkan dalam kelas,
PAI di tingkat SLTA juga ditunjang dengan kegiatan ekstra-kurikuler. Dalam
pedoman kurikulum PAI untuk SLTA ditegaskan bahwa: kegiatan
ekstrakurikuler PAI dapat mendukung kegiatan intrakurikuler, misalnya
melalui kegiatan pesantren kilat, imta Ramadhan, peringatan hari-hari besar
Islam, bakti sosial, salat umat, tahun baru Islam, lomba baca tulis Aluran
(BTA), dan lain-lain (Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2008:16).
Dengan demikian, kebutuhan peserta didik pada tingkat Perguruan
Tinggi bukan lagi mengarah kepada persoalan-persoalan yang telah mereka
pelajari di bangku SLTA, tetapi perluasan wawasan keislaman terutama yang
berkaitan dengan isu-isu kontemporer, baik yang berkembang di dalam negeri
maupun dalam dunia international.
Bila materi PAI di tingkat Perguruan Tinggi hanya mengulang materi
yang ada pada level sebelumnya, implikasi yang ditimbukan antara lain:
Mahasiswa merasa jenuh dan menganggap remeh mata kuliah PAI. Kesan
yang muncul kemudian adalah mata kuliah ini hanyalah pelengkap SKS dan
tidak memiliki nilai tambah terhadap pengetahuan mereka.
awasan keagamaan mahasiswa menjadi sempit, agama dipahami sekedar
sebagai media pensucian diri, pemuasan spritual, untuk memperoleh
keselamatan di akhirat.
Sempitnya wawasan keagamaan mahasiswa tersebut menjadi sasaran empuk
bagi propaganda kelompok radikal Islam, yang pada akhirnya melahirkan
kelompok-kelompok radikal Islam di Perguruan Tinggi. Perlu dicatat bahwa
kelompok semacam ini, seperti disinyalir oleh Mubarak (2008:114-11),
lebih banyak berkembang di lembaga Perguruan Tinggi Umum.
Pemahaman keagamaan mahasiswa terlepas dari kehidupan riil serta kondisi
sosio kultural masyarakat, sehingga hal ini berpotensi melahirkan
pandangan sekuler.
Untuk menghindari implikasi negatiI di atas, materi PAI pada Perguruan
Tinggi Umum harus dihadirkan dengan wawasan yang luas dan kontekstual.
Pada level inilah sebenarnya Islam dihadirkan dengan dimensi yang dinamis,
moderat, dan peka terhadap pluralitas serta menonjolkan karakteristiknya
sebagai matan li al (alam)n.,rah ika hal ini masih dianggap tabu
dibicarakan pada level Perguruan Tinggi, lalu pada level mana hal itu dianggap
layak. Apakah hanya terbatas pada Perguruan Tinggi Agama Islam ika
demikian cara berpikir kita, pada dasarnya kita sudah tersekulerkan secara
tidak sadar.
Mata kuliah PAI di Perguruan Tinggi semestinya mampu membentuk
wawasan keislaman yang pada akhirnya melahirkan pandangan dunia yang
islami. Inilah yang dibutuhkan anak didik dari proses pembelajaran mata
kuliah PAI.
Atas dasar pemikiran tersebut, materi kurikulum PAI di Perguruan Tinggi
Umum tahun 2002, sudah cukup relevan dengan kebutuhan peserta didik,
terutama bila dibandingkan dengan kurikulum PAI tahun 2000 sebelumnya.
Dari segi koherensinya dengan kurikulum PAI pada tingkat
SLTA, kurikulum PAI pada PTU tahun 2002 tersebut sudah koheren dan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik. Pada tingkat SLTA mereka digembleng
dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, yang meliputi akidah, syariah, dan
akhlak. Sedangkan pada tingkat Perguruan Tinggi mereka dibekali dengan
perluasan wawasan keislaman dalam merespon persoalan-persoalan
kontemporer, seperti: hak asasi manusia (HAM), demokrasi, pluralisme,
masyarakat madani, sistem politik, manajemen zakat dan wakaI, toleransi antar
umat beragama, dan sebagainya.
Dalam melihat persoalan-persoalan kontemporer tersebut, tentu tidak
berarti bahwa mahasiswa digiring untuk mengekor pada ide-ide Barat.
Mengkaji HAM bukan berarti sepakat dengan pelaksanaan HAM yang
dipraktekkan oleh Barat, tetapi memungkinkan untuk mengkritisinya dalam
perspektiI Islam. Begitu juga, membahas demokrasi bukan berarti mereka
dipaksakan untuk menerima konsep demokrasi Barat secara mentah-mentah,
sebaliknya mereka diperkenalkan pada konsep demokrasi dalam perspektiI
Islam yang menempatkan Tuhan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dan
rakyat (manusia) sebagai pemegang mandat kekhaliIahan.
Dengan cara yang demikian, para sarjana muslim di masa depan,
diharapkan memiliki komitmen keislaman yang kuat dengan memahami
kesempurnaan Islam sebagai agama yang tidak hanya berurusan dengan
keselamatan akhirat tetapi juga berkewajiban menciptakan kemakmuran di
bumi (dunia).
P'NUTUP
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa telah
terjadi pergeseran paradigma pada kurikulum PAI di perguruan tinggi umum
pasca pemerintahan Orde Baru, khususnya pada kurikulum PAI tahun 2002.
Paradigma yang dikembangkan melihat Islam sebagai sebuah cara pandang
yang bersiIat dinamis dan responsiI terhadap kekinian.
Pergeseran paradigma ini berimplikasi pada perubahan materi
pembelajaran PAI di perguruan tinggi umum yang tidak lagi mengulang-ulang
materi yang ada pada tingkat dasar dan menengah, melainkan lebih akomodatiI
terhadap isu-isu kontemporer seperti HAM, demokrasi, pluralisme dan
masyarakat madani.
Dengan demikian, materi PAI dalam kurikulum tahun 2002 cukup
relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia di era reIormasi ini, di
samping juga sejalan dengan kebutuhan peserta didik pada tingkat perguruan
tinggi yang memerlukan wawasan keislaman yang lebih luas dan dinamis.
DA(TA$ PUSTAKA
al-arui, 1968. dalam *urnal "# +cumenical ,tudies, volume , No. 1, inter.
AriIin, Anwar. 200. Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam
Undang-undang Sisdiknas. et. ke-. akarta: Ditjen Kelembagaan
Agama Islam Depag.
(achtiar, Fardi. $..7. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Get.ke-$.
>akarta: 7ogos.
Baidhawy, Zakiyuddin. 200. Pendidikan Agama Beraasan
!ultikultural. akarta: Erlangga
Bodgan, Robert dan Steven . Taylor. 19. Instrducti"n t" -ualitati%e
.esearch !eth"d. New ork ohn iley Sons.
Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI,
2004. !ateri Instruksi"nal Pendidikan Agama Islam di Perguruan
Tinggi Umum. akarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam
Departemen Agama RI.
Ellis, Arthur K., et al., 1986. Intr"ducti"n t" the /"undati"n "# +ducati"n. New
ersey: Prentice-Hall, Engliwood liIIs.
aris-garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Agama Islam dalam
http:bima.ipb.ac.id01tpb2ipb0gbpp0gbpp2agamaislam. diakses 11
Oktober 2008
Keputusan Dikti Nomor: 26DIKTIKEP2000 tentang penyempurnaan
kurikulum inti Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan
Agama pada Perguruan Tinggi di Indonesia. Depdiknas, 2000
Keputusan Direktur enderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional RI, Nomor: 8DIKTIKEP2002 Rambu-rambu Pelaksanaan
Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi.
Mubarak, Zaki. 2008. 3ene"l"gi Islam .adikal di Ind"nesia, 3erakan,
Pemikiran dan Pr"spek 4em"krasi. akarta: LPES.
<uhad&ir, 5oeng. ###. Metodologi Penelitian Kualitatif. ,disi ke-%,
Get. ke-$. Hog+akarta: )ake 3arasin.
Munim DZ, Abdul. 28 September, 1998. ReIormasi Budaya untuk ReIormasi
Total. K"mpas.
Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan
Pengembangan. 2004. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Atas dan
Madrasah Aliyah dalamhttp:elcom.umy.ac.id., diakses 11 Oktober
2008
Pusat Penilaian Pendidikan BALITBAN Depdiknas. 200. Panduan Materi
Pendidikan Agama Islam SDMI-Kurikulum 1994
dalam http:puspendik.comebtanasujian200PD PAMSD94ISL0 . diakses
11 Oktober 2008
Rahman, Darmawan Masud, 2004. "Nilai Budaya dan KonIlik: Sebuah Kajian
Singkat Diamati dari Sudut Budaya Kekinian", Makalah disampaikan
dalam seminar sehari STAIN Datokarama Palu, 20 Desember.
Sangkot. 200. Landasan NormatiI Pendidikan Agama Islam Multikultural
dalam http:sangkot.wordpress.com200 1109landasan-normatiI-
pendidikan-agama-islam-multikultural, diakses 10 Oktober 2008
Supriyadi. 200. Studi Tentang Karakteristik Kurikulum Pendidikan Agama
Islam Sekolah Menengah Umum Tahun 1994
dalam http:digilib.itb.ac.idgdl.php
modbrowseopreadidjiptumm-gdl-s1-200-supriyadi9-
262Islam, diakses 11 Oktober 2008

Beri Nilai