Anda di halaman 1dari 95

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PONDOK PESANTREN KHOZINATUL ULUM BLORA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam

Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam Oleh : IMAM MASYHURI NIM : 073111060 FAKULTAS

Oleh :

IMAM MASYHURI NIM : 073111060

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2011

Islam Oleh : IMAM MASYHURI NIM : 073111060 FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama NIM Jurusan/Program Studi

: Imam Masyhuri : 073111060 : Pendidikan Agama Islam

menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.
KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II)

KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185

(Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185 Naskah skripsi dengan: PENGESAHAN Judul : Perkembangan
(Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185 Naskah skripsi dengan: PENGESAHAN Judul : Perkembangan

Naskah skripsi dengan:

PENGESAHAN

Judul

: Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di

Nama

Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora : Imam Masyhuri

NIM

: 073111060

Jurusan

: Pendidikan Agama Islam

Program Studi

: Pendidikan Agama Islam

telah diujikan dalam sidang munaqasah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam.

Semarang, 15 Desember 2011

DEWAN PENGUJI

sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Semarang, 15 Desember 2011 DEWAN
KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II)

KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185

(Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185 NOTA PEMBIMBING Kepada Yth. Dekan Fakultas Taarbiyah
(Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185 NOTA PEMBIMBING Kepada Yth. Dekan Fakultas Taarbiyah

NOTA PEMBIMBING

Kepada Yth. Dekan Fakultas Taarbiyah IAIN Walisongo Di Semarang

Assalamu‟alaikum wr. wb.

Semarang, 28 November 2011

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul

: Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di

Nama

Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora : Imam Masyhuri

NIM

: 073111060

Jurusan

: Pendidikan Agama Islam

Program Studi

: Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang Munaqasah.

Wassalamu‟alaikum wr. wb.

dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam sidang Munaqasah. Wassalamu‟alaikum wr. wb.
KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II)

KEMENTERIAN AGAMA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185

(Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185 NOTA PEMBIMBING Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah
(Kampus II) Ngaliyan Telp. 024 - 7601295 Semarang 50185 NOTA PEMBIMBING Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah

NOTA PEMBIMBING

Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Di Semarang

Assalamu‟alaikum wr. wb.

Semarang, 28 November 2011

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora Nama : Imam Masyhuri NIM : 073111060 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam siding Munaqasah.

Wassalamu‟alaikum wr. wb.

dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam siding Munaqasah. Wassalamu‟alaikum wr. wb.

ABSTRAK

Judul

: Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

Nama : Imam Masyhuri

NIM

: 073111060

Skripsi ini membahas tentang perkembangan pelaksanaan pendidikan agama Islam yang dikategorisasikan dalam perkembangan lembaga, kurikulum, dan sarana prasarana di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora, serta faktor- faktor terjadinya perkembangan dalam satu dekade terakhir, yaitu mulai tahun 2000 sampai tahun 2010. Kajian ini dilatar belakangi oleh maraknya pembaharuan atau perkembangan pendidikan di pesantren dengan mengacu pada profil pendidikan pesantren ideal. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan : (1) Bagaimanakah perkembangan pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora? (2) Apa faktor perkembangan pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora? Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora. Pesantren tersebut dijadikan sebagai obyek penelitian untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan lembaga, kurikulum, dan sarana prasarana serta faktor-faktor terjadinya perkembangan. Datanya diperoleh dari hasil wawancara bebas terpimpin, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Semua data dianalisis dengan analisis deskriptif, data tersebut dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan sesuai kenyataan realita yang ada di lapangan. Hasil analisa berupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif. Uraian pemaparan harus sistematik dan menyeluruh sebagai satu kesatuan dalam konteks lingkungannya juga sistematik dalam penggunaannya sehingga urutan pemaparannya logis dan mudah diikuti maknanya. Adapun langkah-langkah analisis yang peneliti lakukan selama di lapangan adalah sebagai berikut: (1) Mereduksi atau merangkum data, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting. (2) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data, sehingga data dapat terorganisasikan dan dapat semakin mudah dipahami. (3) Conclution atau penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Kajian ini menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan pendidikan agama di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora dalam satu dekade terakhir secara garis besar dapat dikatakan berkembang. Hal ini dapat dilihat dari lembaga pendidikan, kurikulum, dan sarana prasarannya yang hampir semuanya mengalami perkembangan. Pertama, Perkembangan lembaga pendidikan dalam satu dekade terakhir adalah munculnya Madrasah Ibtidaiyyah sebagai pelengkap lembaga pendidikan yang lebih dulu ada dan Sekolah tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) sebagai lanjutan dari lembaga pendidikan sebelumnya (MTs dan MA). Kedua, kurikulum pendidikan agama Islam dalam satu dekade terakhir juga mengalami perkembangan, seperti penguasaan komputer atau internet, tataboga, bordir atau

menjahid, pelatihan-pelatihan kepemimpinan dan jurnalistik, kursus bahasa Arab dan Inggris. Ketiga, Sarana prasarana sebagai salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu pendidikan dalam satu dekade terakhir juga mengalami perkembangan yang tergolong baru. Hal ini terlihat dari hampir seluruh sarana prasarana yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum ini banyak yang mulai dikembangkan setelah tahun 2001 sampai sekarang. (2) Perkembangan- perkembangan di atas hampir seluruhnya terjadi karena faktor-faktor internal, seperti halnya: (1) Keinginan dari pengasuh pribadi untuk mengembangkan pesantren agar pesantren tersebut dapat dijangkau oleh semua kalangan. Sebab embrio pondok pesantren Khozinatul Ulum tersebut adalah pondok pesantren Qur‟an. (2) Agar dapat menyesuaikan dengan zaman, dalam arti kebutuhan santri dalam hal pengetahuan - menurut pengasuh - di era globalisasi ini tidak sama dengan kebutuhan santri 50 tahun yang lalu. (3) Mengembangkan bakat dan minat santri agar setidaknya nantinya alumni pondok pesantren Khozinatul Ulum ini bisa ikut serta berperan di masyarakat, sebab menurut pengasuh tidak semua yang nyantri di pondok pesantren tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang kyai. (4) Banyaknya santri kecil yang masih se-usia SD juga menjadi salah satu faktor terjadinya perkembangan. (5) Ingin menciptakan lembaga pendidikan yang dapat memberikan berbagai bidang ilmu agama maupun umum untuk semua usia.

TRANSLITERASI ARAB LATIN

Penelitian transliterasi huruf-huruf Arab Latin dalam skripsi ini berpedoman pada

SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Nomor:

158/1987 dan Nomor: 0543b/Untuk1987. Penyimpangan penelitian kata sandang

(al-) disengaja secara konsisten agar sesuai teks Arabnya.

ا

a

ط

t}

ة

b

ظ

z}

ت

t

ع

ث

s|

غ

gh

ج

j

ف

f

ح

h}

ق

q

خ

kh

ك

k

د

d

ل

l

ذ

z|

و

m

ر

r

ٌ

n

ز

z

ً

w

س

s

ه

h

ش

sy

ء

ص

s}

ي

y

ض

d}

   

Bacaan madd:

Bacaan diftong:

a>

= a panjang

ًوْ اَ ا = au

i>

= I panjang

يوْ

اَ ا = a

u>

= u panjang

KATA PENGANTAR





Alhamdulillâhi rabbill „aalamiin. Segenap puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Allah swt, yang telah melimpahkan petunjuk, bimbingan dan kekuatan lahir batin kepada peneliti, sehingga penelitian hasil dari sebuah usaha ilmiah yang sederhana ini guna menyelesaikan tugas akhir kesarjanaan terselesaikan dengan sebagaimana mestinya. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan oleh-Nya kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, sosok historis yang membawa proses transformasi dari masa yang gelap gulita ke zaman yang penuh peradaban ini, juga kepada para keluarga, sahabat serta semua pengikutnya yang setia disepanjang zaman. Penelitian yang berjudul Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Bloraini pada dasarnya disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Karya ini merupakan salah satu sudut pandang bagi kita dalam melihat suatu fenomena yang ada dalam dunia pendidikan, Karena dengan ini peneliti telah banyak belajar, berfikir, berimajinasi, mencurahkan segenap kemampuan dalam hal pemikiran, kreativitas dan ketelitian untuk memenuhi kebutuhan curiosity (rasa ingin tahu) peneliti. Usaha dalam menyelesaikan skripsi ini memang tidak bisa lepas dari berbagai kendala dan hambatan, tetapi dapat peneliti selesaikan juga walaupun masih banyak kekurangan yang ada. Oleh karena itu izinkan peneliti mengucapkan terima kasih kepada hamba-hamba Allah yang membantu peneliti sehingga karya sederhana ini bisa menjadi kenyataan, bukan hanya angan dan keinginan semata, diantaranya kepada:

1. Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag. Rektor IAIN Walisongo Semarang.

2. Dr. Sudja`i, M.Ag. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

3. Nasirudin, M.Ag. Ketua Jurusan dan H. Mursid, M.Ag. selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Walisongo yang telah membantu dalam kelancaran pembuatan skripsi ini.

4. Isma‟il SM, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing I dan Dr. Musthofa, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan motivasi kepada peneliti sampai skripsi ini selesai.

5. Ani Hidayati, M.Pd. dosen wali studi peneliti dan seluruh Bapak/Ibu Dosen, karyawan, pegawai IAIN Walisongo, yang telah memberikan ilmunya kepada peneliti, serta kepada seluruh civitas akademika Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

6. KH. Muharror Ali, selaku pengasuh pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora yang telah memberikan izin dan informasi kepada peneliti atas selesainya skripsi ini.

7. Bapak/ibuku tercinta (Bpk. Nur Sholihin dan Ibu Mursyidah) yang telah berjuang dan tiada henti-hentinya selalu mendoakan dengan tulus selama peneliti studi.

8. Istriku tercinta Hj. Umroh Abdul Wachid yang tak henti-hentinya selalu mendoakan dan memberikan dukungan dengan ikhlas.

9. Adek-adekku (Masyruhatun, Mustaqim, Hamdan Adib, Rohmah Arofah) yang aku sayangi dan aku banggakan, semoga kalian menjadi anak yang sholeh dan solehah sehingga menjadi generasi bangsa yang berguna bagi agama, orang tua, bangsa dan Negara.

10. Keluarga Besarku (mertua, kakak, dan adik-adikku) yang ada di Bandungsari, yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan dengan ikhlas.

11. Seluruh teman-temanku paket B Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI angkatan tahun 2007 dan khususnya kepada Dzannurain, Ahmad Sholihin, dan Gendut, yang tak henti-hentinya selalu memberikan masukan-masukan atas penelitian skripsi ini, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan balasan yang setimpal.

12. Serta berbagai pihak yang tidak mungkin peneliti sebutkan satu persatu hanya ucapan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam peneliti haturkan dan semoga amal dan jasa baik sahabat-sahabat akan dicatat sebagai amal kebajikan dan dibalas sesuai amal perbuatan oleh Allah SWT.

Akhirnya, peneliti sadar bahwa dalam penelitian skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, kritik dan saran yang konstruktif sangat peneliti harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang. Besar harapan peneliti, skripsi ini dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

yang akan datang. Besar harapan peneliti, skripsi ini dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

PERNYATAAN KEASLIAN

ii

PENGESAHAN

 

iv

NOTA PEMBIMBING

v

ABSTRAK

 

vii

TRANSLITERASI ARAB LATIN

viii

KATA PENGANTAR

ix

DAFTAR ISI

 

xii

BAB I : PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

9

C. Manfaat Penelitian

9

BAB II

: LANDASAN TEORI

 

A. Kajian Pustaka

11

B. Kerangka Teoritik : Profil Pendidikan Pesantren Ideal

13

 

1. Hasil Pendidikan Pesantren

28

2. Urgensi Pendidikan Pesantren

31

BAB III : METODE PENITIAN

 

A. Jenis Penelitian

39

B. Tempat dan Waktu Penelitian

39

C. Sumber Data

40

D. Fokus Penelitian

40

E. Teknik Pengumpulan Data

41

F. Teknik Analisis Data

43

BAB IV : Analisis Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama

 

Islam Di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

 

A.

Profil Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

45

 

1. Sejarah Singkat Berdirinya

45

2. Letak Geografis

48

3. Struktur Kepengurusan

49

4.

Keadaan Santri dan Tenaga Pengajar

53

 

5. Kegiatan Santri

55

6. Metode Pembelajaran

57

B. Perkembangan Lembaga Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

60

C. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

63

D. Perkembangan Sarana Prasarana Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

67

E. Faktor-faktor Terjadinya Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora

70

BAB V

: PENUTUP

A. Simpulan

72

B. Saran-saran

73

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lembaga pendidikan yang memainkan perannya di Indonesia jika dilihat dari struktur internal pendidikan Islam serta praktek-praktek pendidikan yang dilaksanakan, ada empat kategori. 1 Pertama, pendidikan pondok pesantren, 2 yaitu pendidikan Islam yang diselenggarakan secara tradisional, bertolak dari pengajaran secara Qur‟an dan Hadis dan merancang segenap kegiatan pendidikannya. Kedua, pendidikan madrasah, yakni pendidikan Islam yang diselenggarakan di lembaga-lembaga model Barat yang mempergunakan metode pengajaran klasikal, dan berusaha menanamkan Islam sebagai landasan hidup ke dalam diri para siswa. Ketiga, pendidikan umum yang bernafaskan Islam, yaitu pendidikan Islam yang dilakukan melalui pengembangan suasana pendidikan yang bernafaskan Islam dilembaga- lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan yang bersifat umum. Keempat, pelajaran agama Islam yang diselenggarakan di lembaga- lembaga pendidikan umum sebagai suatu mata pelajaran atau mata kuliah saja. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, akhir-akhir ini menarik untuk dicermati kembali. 3 M. Dian Nafi‟ dkk, dalam bukunya yang berjudul “Praksis Pembelajaran Pasantren”, menjelaskan bahwa sejumlah pesantren ada yang mengambil model kembali perawatan tradisi dan ada pula yang memilih ke pembaruan. Dan di antara dua kutub itu ada beberapa pesantren yang mengambil jalan tengah.

1 Yasmadi, Modernisasi Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional), (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 58.

2 Selain istilah “pesantren” (Jawa, Sunda, dan Madura), ditemukan juga istilah lain dengan makna yang sama, yakni “dayah” atau “rangkang” (Aceh), dan “surau” (Minangkabau). Lihat Dawam Raharjo (ed), dalam Pesantren dan Pembaruan, cet, ke-V, (Jakarta : Penerbit LP3ES, 1995), hlm. 2.

3 Yasmadi, Modernisasi Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional), hlm. 59.

Masing-masing dengan pertimbangan dan konsekuensinya. Jika dilihat dari segi kurikulum, maka penyesuaian yang ditempuh pesantren adalah:

1. Melengkapi diri dengan madrasah/sekolah berkurikulum pemerintah. Konsekuensinya adalah kekhasan pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang mencetak mutafaqqih fi ad-din berkurang intensitasnya.

2. Mengembangkan kurikulum sendiri dan tidak mengadopsi kurikulum pemerintah.

3. Menggabungkan kurikulum pesantren dengan kurikulum pemerintah.

4. Menyelenggarakan dua jalur pendidikan yang masing-masing dirancang

untuk melayani kelompok santri yang berbeda. Satu jalur dengan kurikulum pesantren, dan satu jalur lainnya dengan kurikulum pemerintah. Konsekuensinya, pesantren harus rela mengelola segi-segi menejerial yang lebih rumit. 4 Pada awal perkembangannya dan bahkan hingga awal era 70-an, 5 pesantren pada umumnya dipahami sebagai lembaga pendidikan agama yang bersifat tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan melalui suatu proses sosial yang unik. Saat itu, dan bahkan hingga sekarang, selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren juga berperan sebagai lembaga sosial yang berpengaruh, keberadaannya memberikan pengaruh dan warna keberagamaan dalam kehidupan masyarakat sekitarnya; tidak hanya di wilayah administrasi pedesaan, tetapi tidak jarang hingga melintasi daerah kabupaten di mana pesantren itu berada. 6

4 M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Jogjakarta: Instite For Trining and Development (ITD) Amhers MA, Forum Pesantren Yayasan Salasih, 2007), hlm. 1-2.

5 Seiring dengan maraknya gejala responsibilitas-reaksionis masyarkat pesantren terhadap Keputusan Presiden (Keppres) NO 34 Tahun 1972 dan Intruksi Presiden (Inpres) No. 15 Tahun 1974 yang ditindaklanjuti dengan lahirnya Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri; Mendigbud, Menag, dan Mendagri, yang pada intinya mempertahankan eksisitensi madrasah dan pesantren, walau dengan ketentuan mengikuti kurikulum nasional, era 70-an kemudian dipahami sebagai awal maraknya pergerakan santri urban. Sejak itu, diakuinya eksistensi madrasah dan pesantren, secara tidak langsung telah memberikan pengaruh kepada pelaku pendidikan pesantren untuk meninggalkan sumberdaya manusiannya dengan cara melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, di samping urbanisasi juga diorientasikan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

6 HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta: Ird Press, 2004), hlm. 80-81.

dan

Untuk itu terlihat beberapa model pengembangan pesantren. Pertama, mengembangkan keanekaragaman pendidikan, sesuai dengan pilihan, minat dan bakat santri yang beraneka ragam. Ini kelebihan sistem pesantren, yang perlu dikembangkan secara kreatif. Kedua mengembangkan pendidikan yang bukan menghasilkan tamatan yang siap pakai (ready for use), yang pada dasarnya tidak ada, karena lembaga pendidikan bukan sebuah pabrik, atau siap belajar lagi (ready to learn) saja; melainkan pendidikan yang menyiapkan tamatan yang siap untuk dilatih kembali dengan keahlian yang berbeda (re-trainable). Ketiga, mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan keilmuan. Di sini pendidikan bahasa, pengembangan metodologi, dan penelitian menjadi sangat penting. Keempat, mengembangkan pendidikan yang beraspek pelayanan dan bimbingan sosial keagamaan, termasuk menyiapkan da‟i dan guru agama yang mumpuni sesuai dengan kebutuhan umat. 7 Suyoto juga menegaskan bahwa semula pondok pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga yang dipergunakan untuk penyebaran agama dan tempat mempelajari agama Islam. Selanjutnya lembaga ini selain sebagai pusat penyebaran dan belajar agama mengusahakan tenaga-tenaga bagi pengembangan agama. Agama Islam mengatur bukan saja amalan-amalan peribadatan, apalagi sekedar hubungan orang dengan tuhannya, melainkan juga kelakuan orang dalam berhubungan dengan sesama dan duniannya. Hal-hal ini segera pula berpengaruh terhadap usaha-usaha pondok pesantren untuk menghasilkan pemuka-pemuka dalam kehidupan kemasyarakatan. Gerakan bagi penyebaran agama, gerakan bagi pemahaman kehidupan keagamaan dan gerakan- gerakan sosial, terpadu dalam pekerjaan pondok pesantren. Kemampuan pondok bukan saja dalam pembinaan pribadi Muslim, melainkan bagi usaha mengadakan perubahan dan perbaikan sosial dan kemasyarakatan. Pengaruh pondok pesantren

7 M. Habib Chirzin, “Pesantren Selalu Tumbuh dan Berkembang”, dalam Kata Pengantar M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Yogyakarta: Instite For Trining and Development (ITD) Amhers MA, Forum Pesantren Yayasan Salasih, 2007), hlm. ix.

tidak saja terlihat pada kehidupan santri dan alumninya, melainkan juga meliputi kehidupan masyarakat sekitarnya. 8 Meskipun setiap pesantren mempunyai ciri-ciri dan penekanan tersendiri, hal itu tidaklah berarti bahwa lembaga-lembaga pesantren tersebut benar-benar berbeda satu sama lain, sebab antara yang satu dengan yang lain masih saling kait mengait. Sistem yang digunakan pada suatu pesantren juga diterapkan di pesantren lain. 9 Salah satu komponen penting pada lembaga pendidikan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan, adalah kurikulum. 10 Namun demikian, kurikulum seringkali tidak mampu mengikuti kecepatan laju perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan dan pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan. Pembaharuan suatu kurikulum perlu dilakukan mengingat kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan, harus menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat yang senantiasa berubah dan terus berkembang. Nilai- nilai sosial, kebutuhan dan tuntutan masyarakat cenderung mengalami perubahan akibat kemajuan di lapangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 11 Setiap anak harus dilayani dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Kurikulum juga mengalami perubahan dalam memandang kebutuhan dan tuntutan individu pada suatu masyarakat. Anak yang tadinya makhluk individual harus dipandang juga sebagai makhluk sosial. Sebagai

8 Suyoto, “Pondok Pesantren dalam Alam Pendidikan Nasional”, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, cet. V, (Jakarta: LP3ES, 1995), hlm. 61.

9 Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren (Pendidikan Alternatif Masa Depan), Cet. I, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 82.

10 S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 13.

11 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996), Cet.3, hlm. 145.

makhluk sosial ia harus mampu mewujudkan pribadinya di masyarakat, sehingga ia siap menghadapi kehidupan masyarakat yang serba kompleks. 12 Menurut M. Habib Chirzin, istilah kurikulum tidak ditemukan dalam kamus sebagian pesantren terutama pada masa sebelum perang walaupun materinya ada di dalam praktek pengajaran. Bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan sehari-hari di pesantren yang merupakan kesatuan dalam proses pendidikan dalam pesantren. Ini disebabkan karena pondok pesantren lama mempunyai kebiasaan untuk tidak merumuskan dasar dan tujuan pendidikannya secara eksplisit, ataupun meruncingkan secara tajam dalam bentuk kurikulum dengan rencana pengajarannya dan masa belajarnya, hal itu terbawa oleh sifat kesederhanaan pesantren yang sesuai dengan dorongan berdirinya di mana kyainya mengajar dan santrinya belajar, semata-mata untuk ibadah lillahi ta‟ala dan tidak pernah dihubungkan dengan tujuan tertentu dalam lapangan penghidupan atau tingkat dan jabatan tertentu dalam hirarki sosial atau birokrasi kepegawaian. Kalaupun ada target yang akan dicapai maka satu-satunya adalah tercapainya “titel” MMAS (Mukmin, Muslim, Alim dan Sholeh). 13 Adapun mata pelajaran sebagian besar pesantren menurut M. Habib Chirzin, terbatas pada pemberian ilmu yang secara langsung membahas masalah „aqidah, syari‟ah dan bahasa arab, antara lain: al-Qur‟an dengan tajwid dan tafsirnya; aqaid dan ilmu kalam; fiqih, dengan ushul fiqh; hadits dengan musthlah hadits; bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwu, sharaf, bayan, ma‟ani, badi‟ dan arudl; tirikh; manthiq dan tasawuf. 14 Mencermati hal di atas, bentuk pendidikan pesantren yang hanya mendasarkan pada kurikulum “salafi” dan mempunyai ketergantungan yang berlebihan pada kyai tampaknya merupakan persoalan tersendiri, jika dikaitkan dengan tuntutan perubahan zaman yang senantiasa melaju dengan cepat ini.

12 Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, hlm. 146.

13 M. Habib Chirzin, “Agama dan Ilmu dalam Pesantren”, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, cet. V, (Jakarta: LP3ES, 1995), hlm. 86.

14

M. Habib Chirzin, “Agama dan Ilmu dalam Pesantren”, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, hlm. 86.

Bentuk pesantren yang demikian akan mengarah pada pemahaman Islam yang parsial karena Islam hanya dipahami dengan pendekatan normatif semata. Belum lagi output (alumni) yang tidak dipersiapkan untuk menghadapi problematika modern, mereka cenderung mengambil jarak dengan proses perkembangan zaman yang serba cepat ini. Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan, termasuk di dalamnya modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal, sistem dan kelembagaan pesantren telah dimodernisasi dan disesuaikan dengan tuntutan pembangunan, terutama dalam aspek kelembagaan yang secara otomatis akan mempengaruhi penetapan kurikulum yang mengacu pada tujuan institusional lembaga tersebut. Selanjutnya, persoalan yang muncul adalah apakah pesantren dalam menentukan kurikulum harus melebur pada tuntutan zaman sekarang, atau justru ia harus mampu mempertahankannya sebagai ciri khas pesantren yang banyak hal justru lebih mampu mengaktualisasikan eksistensinya di tengah-tengah tuntutan masyarakat. Format kurikulum pesantren bagaimanakah yang memungkinkan bisa menjadi alternatif tawaran untuk masa yang akan datang? Adapun karakteristik kurikulum yang ada pada pondok pesantren modern mulai diadaptasikan dengan kurikulum pendidikan Islam yang disponsori oleh Departemen Agama melalui sekolah formal (madrasah). Kurikulum khusus pesantren dialokasikan dalam muatan lokal atau diterapkan melalui kebijaksanaan sendiri. Gambaran kurikulum lainnya adalah pada pembagian waktu belajar, yaitu mereka belajar keilmuan sesuai dengan kurikulum yang ada di perguruan tinggi (sekolah) pada waktu-waktu kuliah. Waktu selebihnya dengan jam pelajaran yang padat dari pagi sampai malam untuk mengkaji ilmu Islam khas pesantren (pengajian kitab klasik). Sebagaimana disinggung di depan bahwa kurikulum merupakan salah satu instrumen dari suatu lembaga pendidikan, termasuk pendidikan pesantren. Untuk mendapatkan gambaran tentang pengertian kurikulum, akan disinggung terlebih dahulu definisi tentang kurikulum. Seperti halnya dengan istilah-istilah lain yang banyak digunakan, kurikulum juga mengalami perkembangan dan tafsiran yang berbagai ragam. Hampir setiap ahli kurikulum mempunyai rumusan sendiri,

walaupun di antara berbagai definisi itu terdapat aspek-aspek persamaan. Menurut S. Nasution secara tradisional kurikulum diartikan sebagai matapelajaran yang diajarkan di sekolah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradisional ini masih banyak dianut sampai sekarang, juga di Indonesia. 15 Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa kurikulum pada dasarnya merupakan seperangkat perencanaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang diidamkan. Pesantren dalam kelembagaannya, mulai mengembangkan diri dengan jenis dan corak pendidikannya yang bermacam-macam. Pesantren Khozinatul Ulum misalnya, di dalamnya telah berkembang madrasah, sampai perguruan tinggi yang dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi, pesantren yang mengikuti pola salafi (tradisional), mungkin kurikulum belum dirumuskan secara baik. Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya merupakan pusat pengembangan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam, dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama, pesantren diharapkan mampu melahirkan alumni yang kelak diharapkan mampu menjadi figur agamawan yang demikian tangguh dan mampu memainkan dan membiasakan peran propetiknya pada masyarakat secara umum, artinya ekselarasi mobilitas vertikal dengan penjejalan materi keagamaan menjadi prioritas untuk tidak mengatakan satu- satunya prioritas dalam pendidikan pesantren. 16 Kelembagaan pesantren menemukan polanya yang tidak berbeda jauh sejak akhir abad ke-15 hingga dewasa ini. Pembaruan yang ada menemukan bentuknya pada replikasi Madrasah Nidhamiyah yang berkembang di Baghdad sejak 459 H/1067 M. Keberhasilan model Nidhamiyah di pesantren ditujukan oleh pesantren Tebu Ireng Jombang yang sudah mapan pada tahun 1934. Bedanya adalah bahwa yang di Baghdad itu didirikan untuk memasok pegawai dan hakim

15 S. Nasution, Pengembangan Kurikilum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hlm.

9.

16 HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, hlm. 127.

dalam pemerintahan Nidham al-Mulk, sementara yang ada di Indonesia didirikan sebagai bentuk alternasi pesantren terhadap sekolah model Barat yang didirikan oleh Hindia Belanda. Sejak Indonesia merdeka berangsur-angsur berdiri universitas dan perguruan tinggi Islam yang dapat dikatakan justru sebagai kelanjutan Madrasah Nidhamiyah di Baghdad. Dalam situasi itu, peran apakah yang masih dapat dilaksanakan oleh pesantren tanpa menghilangkan ciri khas kelembagaannya yang berbasis komunitas?. 17 Namun demikian dengan perjalanan waktu, watak mandiri yang menjadi ciri pembeda pesantren itu lambat laun tergerus. Orientasi meraih ijazah sebagai simbol keberhasilan dan prasyarat mengisi lowongan kerja mulai menggejala. Belum lagi pesantren melalui madrasah yang didirikannya juga memburu akreditasi pemerintah sebagai wujud pengakuan pemerintah terhadap madrasah bersangkutan. Dengan pengakuan pemerintah, ijazah yang dikeluarkan madrasah menjadi „layak jual‟ dalam kompetisi mencari kerja. Seiring dengan gagap gempita dan kompetisi sistem pendidikan yang ada, disamping orientasi mencari kerja dikalangan alumni pesantren, pesantren pun mulai berfikir untuk merespon proyeksi mencari kerja dikalangan alumninya. 18 Pengembangan apapun yang dilakukan dan dijalani oleh pesantren tidak mengubah ciri pokoknya sebagai lembaga pendidikan dalam arti luas. Ciri inilah yang menjadikannya tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Disebut dalam arti luas, karena tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah, dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Keteraturan pendidikan di dalamnya terbentuk karena pengajian yang bahannya diatur sesuai urutan penjenjangan kitab. Penjenjangan itu diterapkan secara turun menurun membentuk tradisi kurikuler yang terlihat dari segi standar-standar isi, kualifikasi pengajar, dan santri lulusannya. 19

17 M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, hlm. 6.

18 HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, hlm. 129.

19 M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, hlm. 12.

Sebagai lembaga pendidikan agama, pesantren menghadapi persoalan komposisi muatan kurikulum; biasanya yang dipilih adalah 70%:30% untuk muatan keagamaan dan non-keagamaan atau 50%:50%. Persoalan komposisi ini juga terjadi pada pesantren yang sudah membuka jalur kejuruan ditingkat menengah, antara lain adalah Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dan Pesantren An-Najah Gondang Sragen, Pesantren Al-Asy‟ariyah Kalibeber Mojotengah Wonosobo, mendirikan jalur kejuruan sejak jenjang menengah sampai perguruan tinggi. Ketiganya dapat mengatur terselenggaranya madrasah berkurikulum pemerintah, madrasah diniyyah berkurikulum pesantren, dan pembelajaran pesantren sebagaimana mestinya. Segmentasi masyarakat tampak sudah mulai terbentuk dengan kehadiran jalur yang beragam di pesantren.

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah merupakan bentuk pertanyaan yang dapat memandu

peneliti untuk mengumpulkan data di lapangan 20 . Uraian latar belakang masalah tersebut dapat penulis rumuskan sebagai berikut :

1.

Bagaimanakah perkembangan pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora?

2.

Apa faktor perkembangan pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora?

C.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat praktis, yaitu hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan

terhadap lembaga pendidikan khususnya pondok pesantren, bahwa perkembangan pelaksanaan pendidikan perlu dilakukan jika dirasa akan membawa dampak keberhasilan dengan meninggalkan kurikulum lama

20 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 228.

dengan mengganti kurikulum baru yang lebih menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.

2. Manfaat teoritis, yaitu hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan telaah khususnya pada peneliti sendiri dan umumnya kepada para pendidik, untuk meningkatkan dedikasi dan loyalitas terhadap tugas dan tanggungjawab sebagai pendidik, terutama di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora.

BAB II PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PONDOK PESANTREN KHOZINATUL ULUM BLORA

A. Kajian Pustaka

Di antara alasan kenapa dunia pesantren selalu menarik untuk diteliti yaitu:

Pertama, pesantren dinilai tetap eksis sejak ratusan tahun di Indonesia meskipun tergerus oleh arus modernisme. Kedua, pesantren mempunyai keunikan tersendiri di mana antara satu pesantren dengan pesantren yang lain mempunyai kekhasan masing-masing serta sama-sama dapat mempertahankan karakter khasnya. Ketiga, definisi tentang tradisional dan modern yang ditujukan pada pesantren kurang komprehensif sehingga menarik untuk terus diteliti. Keempat, perkembangan pesantren semakin kompleks dan multidimensi. 21 Alasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang dimaksud merupakan tantangan tersendiri karena bahan kajiannya selalu berkembang dinamis mengikuti deras laju kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, studi yang peneliti lakukan ini tak lepas dari jasa-jasa peneliti terdahulu yang telah memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Berkaitan dengan fokus kajian penelitian ini, maka berikut ini peneliti paparkan hasil studi tentang pesantren khususnya sebagai acuan dalam penelitian ini, antara lain :

“Studi Analisis Tentang Proses Pembaharuan Pendidikan di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus,” penelitian tersebut dilakukan oleh Siti

Malikatun pada tahun 2004, yang menjelaskan bahwa dengan berputar majunya zaman, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan manusia pada umumnya, maka pendidikan dituntut untuk bisa menjawab hal tersebut secara nyata dan tuntas, demi eksistensi pendidikan itu sendiri bagi kehidupan manusia sepanjang masa. Sebagai konsekuensi logis dari hal tersebut, maka setiap lembaga pendidikan harus membaharui sistem pendidikannya dan diterapkan secara nyata

21 Ahmad Muthohar, AR., Ideologi Pendidikan Pesantren; Pesantren Di Tengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2007), hlm. 5.

dalam segala faktor dalam proses belajar mengajar dan termasuk pula dalam kubu pesantren. 22 Kemudian penelitian dengan judul “Profil Pondok Pesantren Pendidikan Islam (PPPI) Miftahussalam Banyumas (Analisis Relevansi Kurikulum Pesantren dengan Kebutuhan Masyarakat),” penelitian tersebut dilakukan oleh Sri Yanto pada tahun 2002, yang menjelaskan bahwa pesantren adalah salah satu bentuk pendidikan Islam yang bertujuan untuk membentuk manusia-manusia yang baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan manusia. Untuk itu pesantren memberikan bekal yang dibutuhkan untuk bisa berhubungan baik dengan Allah dalam bentuk pelaksanaan ibadah-ibadah ritual seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan ibadah sunah yang lainnya. Di samping itu pesantren harus dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan (sains dan teknologi) yang diperlukan oleh santri agar mampu mengatasi persoalan dan kendala keduniaan dalam berhubungan dengan sesama manusia. Dalam kaitan itu maka pendidikan agama di pesantren berpadu dengan pendidikan-pendidikan lainnya dalam rangka pembentukan manusia yang sempurna. 23 Dari beberapa penelitian tersebut di atas sekilas memang ada persamaan dengan permasalahan yang peneliti kaji, yaitu sama-sama mengkaji tentang perkembangan atau pembaruan sistem pendidikan khususnya yang ada di pondok pesantren agar nantinya kubu pesantren dapat memenuhi kebutuhan manusia dalam mengatasi persoalan dan kendala-kendala yang berhubungan dengan sesama manusia dan tuhannya, namun dalam skripsi ini peneliti lebih menekankan pada perkembangan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, yang tidak hanya fokus mengkaji tentang perkembangan kurikulumnya saja, akan tetapi juga mengkaji tentang perkembangan lembaga pendidikan, sarana prasarana dan faktor-faktor terjadinya perkembangan.

22 Malikatun, “Studi Analisis Tentang Proses Pembaharuan

Pendidikan di Pondok

Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus”, Skripsi ( Kudus: Jurusan Tarbiyah STAIN, 2000), hlm. 28.

23 Sri

Yanto,

“Profil

Pondok

Pesantren

Pendidikan

Islam

(PPPI)

Miftahussalam

Banyumas (Analisis Relevansi Kurikulum Pesantren dengan Kebutuhan Masyarakat)”, Skripsi, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2002), hlm. 80.

B. Kerangka Teoritik : Profil Pendidikan Pesantren Ideal

Dalam pepatah Arab disebutkan bahwa “al-insanu „aduw-un maa jahilahu (manusia menjadi musuh dari apa yang tidak diketahuinya)” berkaitan dengan hal ini banyak sekali kasus yang dapat dijadikan contoh: seorang kyai yang kebetulan tidak dapat membaca-menulis huruf Latin mempunyai kecenderungan lebih besar untuk menolak atau menghambat dimasukkannya pengetahuan baca-tulis Latin ke dalam kurikulum pengajaran pesantrennya. Itu adalah kasus kecil dan sederhana, sehingga mudah terlihat. Kasus lain yang lebih kompleks: seorang tokoh pesantren yang tidak mampu lagi mengikuti dan menguasai perkembangan zaman mutakhir tentu cenderung untuk menolak mengubah pesantrennya mengikuti zaman tersebut, meskipun dengan begitu pesantrennya akan lebih berjasa kepada masyarakat. Kurangnya kemampuan pesantren dalam meresponi dan mengimbangi perkembangan zaman tersebut, ditambah dengan faktor lain yang sangat beragam, membuat produk-produk pesantren dianggap kurang siap untuk “lebur” dan mewarnai kehidupan modern. 24 Menurut Nurcholis Madjid, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang bertahan dengan konsentrasi keilmuan tradisional, saat sekarang sedang menghadapi dua pilihan dilematis. Menurut Nurcholis Madjid sebagaimana yang dikutip oleh Yasmadi, pesantren harus mengambil sikap apakah akan tetap mempertahankan tradisinya, yang mungkin dapat menjaga nilai-nilai agama; ataukah mengikuti perkembangan dengan resiko kehilangan asetnya. Tetapi, sebenarnya ada jalan ketiga, hanya saja menuntut kreativitas dan kemampuan rekayasa pendidikan yang tinggi melalui pengenalan aset-asetnya atau identitasnya terlebih dahulu, kemudian melakukan pengembangan secara modern. 25

24

Nurcholish

Madjid,

Paramadina, 2007), hlm. 7.

Bilik-bilik

Pesantren

Sebuah

Potret

Perjalanan,

(Jakarta:

25 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, ( Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 99.

Menurut KH. Abdullah Syafi‟ie seperti yang di jelaskan oleh Hasbi Indra,

dalam pendidikan pesantren yang ideal setidaknya harus ada beberapa komponen:

1. Tujuan Pendidikan

Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan. 26 Tujuan pendidikan pesantren yang akan menentukan kearah mana pasantren tetap dapat relevan dan memperkuat akar sosialnya di masyarakat menjadi hal yang harus diperhatikan oleh pesantren dalam proses modernisasi. Hal ini penting karena tujuan ini berasal dari pandangan hidup yang secara kontekstual berkembang sesuai dengan realitas sosial. 27 Lahirnya ulama tetap menjadi tujuan pesantren hingga sekarang, tetapi ulama dalam pengertian yang luas; ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama sekaligus memahami pengetahuan umum sehingga mereka tidak terisolasi dalam dunianya sendiri. Jadi secara esensial, tujuan pesantren relatif konstan. 28 Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, seperti para pakar pendidikan lainnya, tampaknya Abdullah Syafi‟ie dipengaruhi oleh bagaimana pemahamannya terhadap esensi penciptaan manusia dan proses kehidupannya menurut ajaran Islam, di mana manusia diciptakan dari segumpal darah, kemudian ia diberi ruh oleh Allah SWT. 29 Dan juga manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk mengabdi kepadanya.

26 Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I (IPI), Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 33.

27 Ahmad Muthohar, AR., Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren Di Tengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan, hlm. 110.

28 Mujamil Qomar, Pesantren Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2002), hlm. 6.

29 Dalam merumuskan tujuan pendidikan hendaklah diambil dari falsafah hidup. Penyusunan tujuan pendidikan menurut ajaran Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi empat aspek. Pertama, aspek tujuan dan tugas hidup manusia dimana manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Kedua, memperhatikan sifat dasar manusia, bahwa manusia diciptakan sebagai kholifah Allah dimuka bumi. Ketiga, tuntutan masyarakat, baik berupa pelestarian nilai budaya yang telah melembaga dalam kehidupan masyarakat maupun pemenuhan terhadap tuntutan kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan dan tuntutan dunia modern. Keempat, memperhatikan kehidupan ideal Islam yang mengandung nilai

Dari rumusan yang bersifat global itu, Abdullah Syafi‟ie membuat rumusan tujuan pendidikan dalam bentuk yang lebih operasional. Pada pendidikan pesantren misalnya, Abdullah Syafi‟ie membuat rumusan tujuan pendidikan yaitu: “ingin membentuk siswa siswi yang menguasai ilmu pengetahuan agama setingkat Tsanawiyah dan Aliyah, dan pengetahuan umum setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Lebih jauh lagi pesantren putra putri ingin menciptakan kader ulama' dan zu‟ama' Islam, pewaris bumi tercinta dimasa mendatang. Dengan kata lain, ia bermaksud membentuk manusia yang memilki kualifikasi ulama' plus, yaitu seseorang yang benar-benar menguasai ilmu agama juga sekaligus menguasai ilmu umum. 30 Menurut S. Nasution seperti yang dikutip oleh Mujamil Qomar, bahwa tujuan institusional pesantren yang lebih luas dengan tetap mempertahankan hakikatnya dan diharapkan menjadi tujuan pesantren secara nasional pernah diputuskan dalam Musyawarah/Lokakarya Intensifikasi Pengembangan Pondok Pesantrten di Jakarta yang berlangsung pada 2-6 Mei 1978:

Tujuan umum pesantren adalah membina warga negara agar berkepribadian Muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupan serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara. Adapun tujuan khusus pesantren adalah sebagai berikut :

a) Mendidik siswa/santri anggota masyarakat untuk menjadi seorang Muslim yang taqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warga negara yang berpancasila;

b) Mendidik siswa/santri untuk menjadikan manusia Muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan sejarah Islam secara utuh dan dinamis;

untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia serta mendorong manusia untuk berusaha keras meraih kehidupan di dunia maupun di akhirat serta berusaha memberantas kemiskinan.

30 Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta: Penamadani, 2003), hlm.

166-170.

c) Mendidik siswa/santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggungjawab kepada pembangunan bangsa dan negara;

d) Mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/masyarakat lingkungannya);

e) Mendidik siswa/santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, khususnya pembangunan mental-spiritual;

f) Mendidik siswa/santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial

masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa. 31 Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu pendidikan harus memberikan pelayanan bagi pertumbuhan masyarakat dalam segala aspeknya yang meliputi : fisik, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif. Di samping memotivasi semua aspek tersebut ke arah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan terealisasinya ketundukan kepada Allah SWT, baik dalam level individu, komunitas dan manusia secara luas. Dalam dunia pendidikan, baik formal maupun non formal tujuan adalah salah satu hal pokok dan penting. Dari penjelasan di atas bisa diketahui bahwa

pada tataran ideal tujuan pesantren sangat komprehensif. Pesantren tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, bertakwa, beretika, berestetika, dan juga mengikuti perkembangan masyarakat dan budaya, berpengetahuan serta berketerampilan sehingga menjadi manusia yang paripurna dan berguna bagi masyarakatnya, atau sering disebut juga cerdas secara moral dan spiritual, menyebarkan agama dan menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam, mencintai ilmu dalam rangka

31 Mujamil Qomar, Pesantren Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hlm. 6-7.

mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya yaitu kepribadian yang muhsin,

bukan sekedar Muslim

2. Materi Pendidikan

Dalam konteks ilmu pengetahuan, Abdullah Syafi‟ie memandang semua

ilmu dapat dipelajari baik ilmu agama maupun ilmu umum seperti ilmu

kedokteran. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan materi pendidikan Islam, ia

melihat luas atau mencakup disiplin ilmu agama maupun disiplin ilmu umum.

Pendidikan Islam tidak cukup hanya mengajarkan satu bidang ilmu agama saja,

tetapi juga hendaklah mengajarkan bidang ilmu umum pula, bahkan diajarkan

pula hal-hal yang bersifat seni dan keterampilan. 32

Pandangan Abdullah Syafi‟ie tentang materi pendidikan Islam mencakup materi

pendidikan yang luas yang tampaknya telah mencakup semua kebutuhan bagi

kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut sangat sejalan

dengan pandangan Al-Qur‟an yang tidak pernah meletakkan batas atau

penghalang jalan bagi manusia untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dalam al-

Qur‟an surat Fushilat ayat 53 Allah bersabda:

                  

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushilat: 53). 33

Ayat ini menerangkan bahwa orang musyrik yang ragu-ragu kepada Al-

Qur'an dan Rasulullah itu akan melihat dengan mata kepala mereka bukti-bukti

kebenaran ayat-ayat Allah di segenap penjuru dunia dan pada diri mereka sendiri.

32 Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, hlm. 175.

33 Khadim Al Haramain

Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah,

(Madinah

Al-

Munawwarah : Li Tiba'at Al Mush-haf Asy Syarif), hlm. 781

Banyak orang mengatakan bahwa dengan mempelajari alam, termasuk diri kita

sendiri dapat membawa dalam pemahaman tentang adanya Tuhan. Alam adalah

buku yang menanti untuk dipelajari. Akan tetapi, harapan Tuhan dalam

menurunkan ayat di atas tidak selalu dipahami manusia. Surah Yunus/ 10: 101

adalah salah satu di antara banyak ayat yang memberitahu kita bahwa hanya

ilmuan yang memiliki keimananlah yang dapat memahami Tuhan dengan

memahami alam. 34

   

     

   

Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS. Yunus : 101). 35



Dalam ayat ini Allah menjelaskan perintah-Nya kepada Rasul-Nya, agar

dia menyeru kaumnya untuk memperhatikan dengan mata kepala dan akal mereka

segala kejadian di langit dan di bumi. Mereka diperintahkan agar merenungkan

keajaiban langit yang penuh dengan bintang-bintang, matahari, dan bulan,

kehidupan pergantian malam dan siang, air hujan yang turun ke bumi,

menghidupkan bumi yang mati dan menumbuhkan tanaman-tanaman dan pohon-

pohonan dan buah-buahan yang beraneka warna rasanya. 36

Mulai separuh pertengahan abad ke 20, beberapa pesantren mulai

menambah materi subjek-subjek sekuler kedalam kurikulum mereka sebagai

sebuah cara untuk melakukan negosiasi terhadap modernitas. Penambahan

kurikulum-kurikulum yang diakui negara telah mempengaruhi pesantren

tradisional dalam banyak hal. Hal itu telah mengakibatkan adanya kontrol yang

lebih besar dari pemerintah dan membatasi jumlah jam yang ada bagi subjek

34 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid IX, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010), hlm 14-15.

35 Khadim Al Haramain Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah, hlm. 322.

36 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid IV, hlm. 369.

tradisional yang membuat keputusan-keputusan sulit. Banyak pemimpin- pemimpin pesantren memutuskan bahwa pelatihan pemimpin agama adalah tidak murni tujuan mereka dan sekarang sudah cukup untuk meluluskan santri dan santriwati yang memiliki moralitas kyai. Menurut Nur Cholis Madjid, yang paling penting untuk direvisi adalah kurikulum pesantren yang biasanya mengalami penyempitan orientasi kurikulum. Maksudnya, dalam pesantren terlihat materinya hanya khusus yang disajikan dalam bahasa Arab. Mata pelajarannya meliputi fiqh, aqa‟id, nahwu-sharf, dan lain-lain. Sedangkan tasawuf dan semangat keagamaan yang merupakan inti dari kurikulum keagamaan cenderung terabaikan. Tasawuf hanya dipelajari sambil lalu saja, tidak secara sungguh-sungguh. Padahal justru inilah yang lebih berfungsi dalam masyarakat zaman modern. Disisi lain, pengetahuan umum nampaknya masih dilaksanakan secara setengah-setengah, sehingga kemampuan santri biasanya sangat terbatas dan kurang mendapat pengakuan dari masyarakat umum. Maka dari itu, Cak Nur menawarkan kurikulum pesantren modern Gontor sebagai model modernisasi pendidikan pesantren. 37 Dari materi pelajaran dan kitab-kitab yang dibaca di pesantren, jelas terlihat bahwa orientasi keilmuan yang dikembangkan adalah terpusat pada pengembangan ilmu-ilmu agama lewat pengajaran kitab-kitab klasik. Dekotomi kurikulum, inilah yang harus dihilangkan dan anggapan ilmu agama lebih penting dari ilmu umum juga harus dibuang jauh-jauh. Akhir-akhir ini semakin banyak pondok pesantren yang menyadari akan hal itu, pentingnya membekali santri dengan ilmu umum memaksa pondok pesantren untuk merevisi kurikulum yang telah ada. Pandangan Abdullah Syafi‟ie tentang semua ilmu dapat dipelajari baik ilmu agama maupun ilmu umum dan pendapatnya tentang pendidikan Islam tidak cukup hanya dengan mengajarkan satu bidang ilmu agama saja, dapat menjadi acuan dari perlunya merevisi kurikulum pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama saja. Kemudian tawaran Cak Nur tentang kurikulum pesantren modern Gontor - yang lebih dulu memadukan antara ilmu agama dan ilmu umum - sebagai

37 Yasmadi, Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, hlm. 7.

model modernisasi pendidikan pesantren cukup memberikan kesimpulan bahwa ilmu agama dan ilmu umum sama-sama diperlukan.

3. Metode Pendidikan/Pengajaran

Dalam rangkaian sistem pengajaran, metode menempati urutan setelah materi (kurikulum). Penyampaian materi tidak berarti apapun tanpa melibatkan metode. Metode selalu mengikuti materi, dalam arti menyesuaikan dalam bentuk dan coraknya, sehingga metode mengalami transformasi bila materi yang disampaikan berubah. Akan tetapi, materi yang sama bisa dipakai metode yang berbeda-beda. Seperti halnya materi, hakikat metode hanya sebagai alat, bukan tujuan. Untuk merealisir tujuan sangat dibutuhkan alat. Bahkan alat merupakan syarat mutlak bagi setiap kegiatan pendidikan dan pengajaran. Bila kyai maupun ustadz mampu memilih metode dengan tepat dan mampu menggunakannya dengan baik, maka mereka memiliki harapan besar terhadap hasil pendidikan dan pengajaran yang dilakukan. Proses belajar mengajar bisa berlangsung secara efektif dan efisien, yang menjadi pusat perhatian pendidikan modern sekarang ini. Seperti halnya yang dikutip oleh Ismail SM, metode adalah “cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai apa yang telah ditentukan.” Dengan kata lain metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. 38 Dalam pandangan kyai Zarkasyi, pendiri PP. Gontor, metode pembalajaran di pesantren merupakan hal yang setiap kali mengalami pengembangan dan

perubahan sesuai dengan penemuan metode yang lebih efektif dan efisien untuk mengajarkan masing-masing cabang ilmu pengetahuan. Sebagai seorang pendidik dan sekaligus da‟i, Abdullah Syafi‟ie tentu saja menggunakan metode pendidikan yang tidak jauh dari semangat ayat al-Qur‟an yang mengajak umat manusia dengan cara bil al-hikmati wal mau‟izhatil al-

38 Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, (Semarang: RaSAIL Media Group, 2008), hlm. 8.

hasanah (QS. al-Nahl, 125). Pada tingkat penerapan, metode yang digunakannya adalah metode talqin, diskusi, penugasan, bimbingan, dll. 39 a. Metode talqin, metode ini dilakukan dengan terlebih dahulu memperdengarkan bacaan oleh salah seorang murid yang agak pandai baru diikuti oleh yang lainnya. b. Metode diskusi, diskusi pada dasarnya adalah saling menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. 40 Metode ini sering digunakan oleh Abdullah Syafi‟ie pada siswa siswi tingkat akhir di kelas, untuk mendiskusikan suatu masalah yang sedang dibaca disuatu kitab. c. Metode penugasan, yang dimaksud dengan metode ini adalah suatu cara dalam proses pembalajaran bilamana guru memberi tugas tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru. 41 Abdullah Syafi‟ie terkadang menggunakan metode ini kepada anak didik. Dengan melakukan metode ini, dia sangat mengharapkan anak didiknya benar-benar menguasai materi-materi yang sudah dipelajarinya. d. Metode bimbingan dan teladan, metode ini sangat melekat dalam dirinya sebagai seorang ulama, yang senantiasa memberi bimbingan dan teladan bagi anak didik dan umat sekitarnya. Metode yang digunakan Abdullah Syafi‟ie terkesan humanis, demokratis dan penuh kebijaksanaan. Dengan berbagai metode yang digunakan itu seorang guru tidak akan bertindak otoriter atau diktator atau memaksakan kehendak dan kemauannya terhadap anak didik. Dengan metode itu pula seorang guru tidak melihat muridnya seperti majikan melihat pembantunya, tidak juga melihat murid sebagai obyek sekaligus menjadi subyek. Hal tersebut sangat sejalan dengan visi

39 Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, hlm. 186.

40 Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, hlm. 20.

41 Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, hlm. 21.

pendidikan dunia modern yang melihat guru tidak lagi sepenuhnya mempunyai tanggungjawab dalam belajar mengajar, tetapi tanggungjawab itu diserahkan pula kepada si murid. 42 Selama ini, metodologi pembelajaran agama Islam yang diterapkan di pondok pesantren masih mempertahankan cara-cara lama (tradisional). Cara-cara tradisional ini diakui atau tidak sering membuat santri tampak bosan, jenuh, dan kurang bersemangat dalam belajar. Dipilihnya beberapa metode tertentu dalam suatu pembelajaran bertujuan untuk memberi jalan atau cara sebaik mungkin bagi pelaksanaan dan kesuksesan operasional pembelajaran. Pada intinya metode harus bertujuan mengantarkan sebuah pembelajaran ke arah tujuan tertentu yang ideal sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam proses belajar mengajar, para pendidik selalu berpijak pada satu hikmah yang berbunyi ”At-toriqotu ahammu min al- maadati (metode itu lebih penting daripada materi).” Dengan demikian, jelaslah bahwa pembelajaran di pondok pesantren juga harus menggunakan beberapa metode seperti halnya yang diterapkan oleh Abdullah Syafi‟ie yang sangat berfungsi untuk menyampaikan materi pembelajaran. Banyaknya metode yang ditawarkan oleh para ahli sebagaimana disebutkan dalam buku-buku kependidikan merupakan satu usaha untuk mempermudah yang paling sesuai dengan perkembangan jiwa santri dalam proses pembelajaran.

4. Karakteristik Pendidik

Istilah lain yang lazim dipergunakan untuk pendidik ialah guru. Kedua istilah tersebut berhampiran artinya. Bedanya ialah istilah guru seringkali dipakai di lingkungan pendidikan formal, sedangkan pendidik dipakai di lingkungan formal, informal maupun nonformal. 43 Guru atau ustadz merupakan komponen yang sangat penting dan menentukan dalam proses pendidikan Islam. Menurut Abdullah Syafi‟ie guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk watak, karakter dan kepribadian anak didik. Selain itu, untuk dapat mencapai tujuan pendidikan di

42 Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, hlm. 186-191.

43 Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I (IPI), hlm.71.

perguruannya, menurutnya sangat dibutuhkan guru-guru yang berpaham agama,

beraqidah yang jelas, berilmu serta senantiasa meningkatkan ilmunya, memiliki

jiwa yang ikhlas, dan bersikap bijak. 44

Dalam pendidikan Islam, pendidik memiliki arti dan peranan yang sangat

penting. Hal ini disebabkan ia memiliki tanggungjawab dan menentukan arah

pendidikan. Itulah sebabnya pula Islam menghargai dan menghormati orang-orang

yang berilmu pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik. Islam mengangkat

derajat mereka dan memulyakan mereka melebihi dari orang Islam lainnya yang

tidak berilmu pengetahuan dan bukan pendidik. 45

Allah berfirman :

         ……

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah :

11). 46

Ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang

beriman, taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi

larangan-Nya, berusaha menciptakan suasana damai, aman, dan tentram dalam

masyarakat, demikian pula orang-orang berilmu yang menggunakan ilmunya

untuk menegakkan kalimat Allah. Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang

mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman dan

berilmu. Ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan

Rasul-Nya.

Kemudian Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang

dilakukan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Dia akan memberi

balasan yang adil sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan

44 Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, hlm. 192.

45 Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I (IPI), hlm.91.

46 Khadim Al Haramain Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah, hlm. 910-911

baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan jahat dan terlarang akan dibalas dengan azab neraka. 47 Abdurrahman An Nahlawi, seperti yang dikutip oleh Nur Uhbiyati menyarankan agar guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik supaya memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

a. Tingkahlaku dan pola pikir guru harus bersifat Robbani;

b. Guru seorang yang ikhlas, sifat ini termasuk kesempurnaan sifat Rabbaniyah;

c. Guru bersabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada anak-anak;

d. Guru jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya;

e. Guru senantiasa membekali diri dengan ilmu dan kesediaan membiasakan untuk terus mengkajinya;

f. Guru mampu menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi menguasainya dengan baik serta mampu menentukan dan memilih metode mengajar yang selaras bagi materi pengajaran serta situasi belajar mengajarnya;

g. Guru mampu mengelola siswa, tegas dalam bertindak serta meletakkan berbagai perkara secara proporsional;

h. Guru bersikap adil di antara para pelajarnya. 48

Selain dari yang telah disebutkan di atas, pendidik juga harus pula memiliki pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan, pengetahuan-pengetahuan keagamaan dan lain-lainnya. Pengetahuan ini jangan sekedar diketahui tetapi juga diamalkan dan diyakininya sendiri. Dan yang perlu diingat bahwa kedudukan

pendidik adalah pihak yang lebih dalam situasi pendidikan. Dan harus pula diingat bahwa pendidik adalah manusia dengan sifat-sifatnya yang tidak sempurna. Oleh karena itu maka menjadi tugas pula bagi pendidik untuk selalau meninjau diri

sendiri.

5. Perilaku Anak Didik

Dalam membentuk potensi yang ada di dalam diri anak didik, Abdullah Syafi‟ie pada tingkat operasionalnya menginginkan anak didik yang memiliki

47 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid X, hlm. 25

48 Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I (IPI), hlm. 88-90.

paham keagamaan ahl al-sunnah wa al-jama‟ah, berakidah Islam yang kuat,

memiliki niat yang ikhlas, memiliki keberanian, memiliki etos keilmuan, memiliki keterampilan, dan berakhlak. 49 Bagi Abdullah Syafi‟ie anak didik merupakan amanah yang harus dibina potensi-potensinya. Sebagaimana yang ia pahami bahwa di dalam diri manusia ada dua unsur yaitu unsur jasmani dan unsur ruh atau rohani. Pandangan ini sangat berbeda dengan pandangan Barat yang sangat menekankan kepada unsur jasmani manusia.

6. Lembaga Pendidikan

Pendidikan Islam termasuk masalah sosial, sehingga dalam perkembangannya tidak lepas dari lembaga sosial yang ada. Lembaga, disebut juga dengan institusi atau paranata, sedangkan lembaga sosial adalah suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan- peranan yang terarah dalam mengikat individu yang mempunyai otoritas formal dan sanksi hukum, guna tercapainya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar. Sebagai suatu proses, pendidikan membutuhkan lembaga (institusi), yang salah satu artinya adalah badan (organisasi) yang tujuannya melakukan penyelidikan keilmuan atau melakukan suatu usaha. Oleh karena itu lembaga pendidikan merupakan organisasi yang bertugas menyelenggarakan kegiatan proses belajar mengajar. Penularan ilmu atau pemindahan pengalaman kepada orang lain tanpa melalui suatu organisasi dalam pengertian yang luas termasuk pendidikan, tetapi sebagai suatu proses yang berlangsung secara kontinyuitas, eksistensi pendidikan memerlukan kelembagaan. Lebih lanjut, kemajuan pendidikan juga ditentukan oleh kualitas suatu konstitusi. Oleh karena itu, institusi menempati posisi penentu terhadap kelangsungan dan kemajuan pendidikan, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting. Seperti bentuk pendidikan lain, pendidikan santri mengenai ajaran-ajaran Islam juga membutuhkan lembaga yang terkenal dengan nama pesantren. Pesantren telah mengalami perubahan dan pengembangan format yang bermacam-

49 Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, hlm. 202.

macam mulai dari surau (langgar) atau masjid hingga pesantren yang makin lengkap. Lembaga ini telah bergumul selama enam abad (mulai abad ke-15 sampai sekarang). 50 Sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tidak sedikit pesantren yang menerapkan pendidikan dengan sistem madrasah, dan kini terus berkembang sejalan dengan perkembangan sosial yang ada. Sejak dasawarsa 1970-an sejumlah pesantren bahkan membuka sekolah-sekolah umum (SD, SLTP, SMU dan SMK). Hal ini terjadi karena adanya kesadaran di lingkungan pengasuh pesantren, bahwa tidak semua alumni pesantren ingin menjadi ulama, ustadz maupun da‟i. Banyak dari mereka justru menjadi warga biasa yang tidak terlepas dari kebutuhan mencari pekerjaan yang tentu saja memerlukan pengetahuan dan ketrampilan tertentu. Bahkan sejak dasawarsa 1970-an banyak pesantren memberikan pembekalan dan ketrampilan ekonomi bagi santrinya, serta terlibat dalam upaya pemberdayaan ekonomi bagi rakyat di lingkungannya. 51 Menurut Zamakhsyari Dhofir tradisi pesantren berupaya memberdayakan dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan di pesantrennya dengan mendirikan berbagai sekolah, madrasah dan perguruan tinggi pada semua jenjang dan jenis (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK dan PTAI/PTS) dalam lingkungan pesantren. Kecepatannya menambah jumlah pesantren dan fasilitas gedung- gedung bagi murid mencapai lebih dari 4.000 pada tahun 2008. 52 Dewasa ini hampir setiap pesantren terdapat jenis-jenis pendidikan: (1) pesantren, yang hanya mempelajari agama dan kitab-kitab keagamaan klisik atau kitab kuning dan berbentuk non-formal, (2) madrasah (sekolah agama), (3) sekolah

50 Mujamil Qomar, Pesantren Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hlm. 86.

51 Ahmad Qodri Abdillah Azizy, “Memberdayakan Pesantren dan Madrasah”, dalam Pengantar Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. viii.

52 Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Memadu Modernitas Untuk Kemajuan Bangsa,

hlm. 17.

umum, dan beberapa diantaranya, (4) perguruan tinggi, baik agama maupun umum. 53 Banyak hal-hal positif yang dapat ditarik dari perkembangan pondok pesantren bagi pendidikan bangsa kita. Pondok telah membuka kesempatan belajar bagi kalangan luas rakyat, dikala pendidikan mengabdi kepada kelompok elit. Hal ini tetap dilaksanakan sekarang. Pendidikan bangsa perlu mempelajari lebih banyak tentang lembaga pendidikan ini, baik sumbangannya bagi dunia pendidikan maupun bagi pembangunan masyarakat bangsa. 54 Eksistensi masdrasah di dalam pesantren makin mempertegas keterlibatan lembaga pendidikan Islam tertua ini dalam memperbaiki sistem pendidikannya, dan menunjukkan adanya persaingan menghadapi model pendidikan yang dikembangkan Belanda. Berbeda dengan pesantren, madrasah merupakan lembaga pendidikan yang lebih modern dari sudut metodologi dan kurikulum pengajarannya. Dengan keberadaan madrasah di pesantren diharapkan mampu menunjukkan gambaran baru tentang bentuk lembaga pendidikan yang lebih modern. Selanjutnya lembaga ini dapat diadaptasi oleh pesantren dalam memajukan lembaga pendidikan yang dikendalikan kyai ini. Dengan tetap mempertahankan lembaga yang lama, selanjutnya pesantren mengembangkan institusi pendidikan dengan mendirikan perguruan tinggi. Keberadaan perguruan tinggi makin memperkaya lembaga pendidikan pesantren sehingga lembaga pendidikan yang cikal bakalnya dirintis Syaikh Maulana Malik Ibrahim ini menyajikan berbagai model pendidikan.

1. Hasil Pendidikan Pesantren

Tujuan pokok pesantren tidak lain adalah mencetak ulama, yaitu orang yang mutafaqqih fi ad-din atau mendalam ilmu agamanya. 55 Namun saat ini

53 Mujamil Qomar, Pesantren Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hlm. 101.

54 Suyoto, “Pondok Pesantren dalam Alam Pendidikan Nasional”, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1995), hlm. 76.

55 M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Jogjakarta: Instite For Trining and Development (ITD) Amhers MA, Forum Pesantren Yayasan Salasih, 2007), hlm. 5.

bangsa Indonesia sedang mengembangkan demokrasi sebagai tata pemerintahan bangsa. Untuk itu, masyarakat pesantren sebenarnya sangat diuntungkan oleh tata kehidupan demokrasi. Pemimpin-pemimpin dipilih atas dasar hak setiap pemilih sama nilainya, nilai pemilih yang bergelar profesor sama dengan tukang becak atau nelayan atau petani yang tidak memiliki sawah sekalipun. Oleh karena itu, format subtansi pendidikan ideal pesantren adalah format yang memungkinkan lulusannya untuk terus dapat menjalankan perannya di atas pada masa-masa mendatang, peran tersebut selama 600 tahun telah berjalan dengan baik. Kalau selama beberapa (puluh) tahun terakhir ini terseok-seok, maka hal itu disebabkan karena dua hal. Pertama, perubahan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia dalam berbagai kehidupan berjalan terlalu cepat, yang sulit dipahami oleh pimpinan pesantren. Kedua, pedoman penting yang diajarkan oleh para pendahulu kurang dipahami juga. Pedoman yang dimaksud ialah: “al- muhafadzah „alal qadimis sholeh wal ahdzu min jadidil ashlah.” Namun demikian, pada kenyataannya para pimpinan pesantren terus menerus terlambat dalam upaya memadu tradisi pesantren dengan modernisasi pendidikan. Sebenarnya, ambisi untuk memodernisir lembaga-lembaga pendidikannya cukup kuat, tetapi “educational resources” yang mereka miliki sangat minim. 56 Djohan Effendi mengemukakan bahwa gejala pesantren sebagai “kampung peradaban” mulai terasa sejak beberapa alumninya mampu menjadi pioner intlektual di tanah air. Mereka telah memberikan godaan cerdas terhadap publik Indonesia bahwa dunia pesantren - dengan segala kesederhanaan dan kekurangannya - justru menyimpan potensi besar untuk melakukan transformasi peradaban Islam yang lebih kosmopolit. Caranya, bisa melalui jalur politik, dunia bisnis, lembaga pendidikan, apalagi terjun ke dunia dakwah (jurnalis). 57 Pesantren Sunan Drajat adalah contoh sebuah pesantren yang berkembang dengan pesat, meskipun pada awal berdirinya tidak memiliki modal fasilitas

56

Zamakhsyari

Dhofier,

Tradisi

Pesantren

Memadu

Modernitas Untuk

Kemajuan

Bangsa, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009), hlm. 260-261.

57 Djohan Effendi, “Pesantren dan Kampung Peradaban”, dalam Pengantar Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta: PT. Permadani, 2003), hlm. xviii-xix.

apapun kecuali semangat dan keyakinan diri serta potensi kepemimpinan pendirinya. Pesantren ini didirikan oleh KH. Abdul Ghofur pada tanggal 7 September 1977 di Dusun Banjar Anyar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sebagai seorang pemuda lulusan pesantren dan memiliki garis keturunan dengan Sunan Drajat. 58 Berbekal wibawa nama leluhur yang sangat berpengaruh dalam dunia kepasantrenan, kyai yang lahir 12 Februari 1949 ini berhasil mengembangkan pesantrennya. Dalam rentang waktu 31 tahun pesantrennya telah memiliki santri sebanyak 10.000. 59 Kawasan pondok yang semula gersang dan tidak produktif, kini ditanami mengkudu sabagai sumber penghasilan. Selain itu, juga memproduksi pupuk majemuk, pupuk organik, mengembangkan koperasi dan industri bordir. Lahan yang dimiliki 40 hektar dimanfaatkan untuk budidaya mengkudu. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh santri pesantren, tetapi juga oleh masyarakat. Perubahan secara sosial dan ekonomi pada masyarakat sekitar dan dampaknya yang positif mengantarkan KH. Abdul Ghofur mendapat kalpataru 2006. Sebagai Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Agrebisnis se - Indonesia. KH. Abdul Ghofur mempunyai cita-cita untuk mengembangkan pertanian, industri dan perikanan. Pondok pesantren yang dipimpinnya tidak hanya memberikan ilmu agama “ngaji, mikir akhirat, tetapi juga memikirkan dunia sebagai wujud pelaksanaan perintah Al-Qur‟an dan Hadis. Cita-cita yang hendak diraih berikutnya ialah membangun universitas di pesantren. Banyak alumni dari pondok pesantren Sunan Drajat ini yang telah sukses manjadi anggota legislatif maupun eksekutif yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan, tidak sedikit yang mampu mendirikan pondok pesantren di Bali, Lampung, Kalimantan Timur, sampai Malaysia. Institut Tegnologi Surabaya, bekerjasama dengan pondok pesantren Sunan Drajat, mendirikan

58 Sunan Drajat adalah nama kehormatan salah seorang wali dari 9 wali yang dalam tradisi pesantren dan Sejarah Jawa dikenal dengan sebutan Walisongo (Sembilan Wali). Mereka memegang peranan penting dalam proses awal Islamisasi diseluruh pulau Jawa. Rentang waktu hidup mereka diperhitungkan (dari yang paling senior sampai dengan yang terakhir) antara tahun 1410 sampai tahun 1570.

59 Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Memadu Modernitas Untuk Kemajuan Bangsa, hlm, 245.

politeknik yang terdiri dari lima jurusan yang berhubungan dengan kekapalan dan industri perikanan. Pengaruh pondok pesantren Sunan Drajat memiliki obsesi untuk mewujudkan pesantren multidimensi dan bersifat universal. Diharapkan pesantren dapat membentuk pribadi yang tangguh, berbudi luhur dan berwawasan agama yang baik. Harapannya agar generasi penerus pondok mampu berkiprah dan berperan aktif dalam berbagai lapangan kehidupan yang Islami. 60 Pondok pesantren Sunan Drajat di atas dapat dijadikan sebagai contoh pondok pesantren lain yang ada diseluruh Indonesia untuk mengembangkan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Ketrampilan, kreatifitas, potensi yang ada harus dikembangkang dan dibina semaksimal mungkin, pesantren setidaknya harus mampu membuat terobosan baru agar tidak terkesan monoton. Pada saat-saat seperti sekarang ini setidaknya pondok pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama saja, akan tetapi juga mampu memanfaatkan situasi agar dapat bersaing dengan dunia luar. Dengan demikian image pesantren - yang hanya mengotak atik fiqh dan nahwu saja - cepat atau lambat akan sirna. Sebagai langkah awal pemanfaatan teknologi dirasa dapat dijadikan salah satu bahan masukan bagi pondok pesantren untuk merealisasikan pemberdayaaan sumber daya alam atau manusia tersebut. Dengan demikian diharapkan nantinya alumni-alumni pondok pesantren tidak hanya mahir dalam hal agama akan tetapi juga mampu berkiprah dan mengaktualisasikan dirinya dalam dunia bisnis dan politik.

2. Urgensi Pendidikan Pesantren

Pendidikan bagi umat manusia adalah merupakan kebutuhan yang hakiki, sedangkan bagi suatu bangsa, pendidikan bermakna strategis bagi kemajuan dan

perkembangan. Dengan kata lain pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemajuan dan keterbelakangan dari suatu bangsa. Bangsa yang maju biasanya ditandai dengan hebatnya sistem pendidikan yang dimilikinya, demikian

60 Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Memadu Modernitas Untuk Kemajuan Bangsa, hlm. 248.

sebaliknya, bangsa yang terbelakang dibarengi dengan rendahnya kualitas pendidikan yang dikelolanya. Sebagaimana diketahui, dunia pesantren adalah institusi sosial yang berjuang keras melakukan transformasi nilai-nilai transeden maupun imanen yang menjadi kompetensi masyarakat modern. Pesantren adalah wadah anak-anak bangsa untuk menuntut ilmu, kemudian mengamalkan ilmunya pada masyarakat. Di tangan merekalah terletak nasib transformasi sosial. Mereka adalah simbol dari kekuatan cultural yang akan melesat ke masa depan. Mereka bukanlah “bara api” yang siap memanggang siapa pun, melainkan “mata air” yang siap menghidupi dunia. 61 Berapa banyak orang yang berubah jalan hidup dan keyakinannya dalam waktu yang sangat pendek, dari seorang penjahat besar, tiba-tiba menjadi seorang yang baik, rajin, dan tekun beribadah. Seolah-olah ia dalam waktu singkat dapat berubah menjadi orang lain. Dan sebaliknya juga ada yang terjadi, orang yang berubah dari patuh dan tunduk kepada agama, menjadi orang yang lalai atau suka menentang agama. Sesungguhnya pertumbuhan kesadaran moral pada anak menyebabkan anak mendapat pencerahan baru sehingga menambah perhatiannya terhadap nasehat-nasehat agama, dan kitab suci baginya tidak lagi merupakan kumpulan undang-undang yang dengan itu Allah menghukum dan mengatur dunia guna menunjukkan kita kepada kebaikan. 62 Di tengah-tengah meningkatnya kesadaran keagamaan dewasa ini pesantren tetap menjadi tujuan orang tua untuk memenuhi tuntutan kependidikan bagi anak-anaknya. Kesungguhan dan ketulusan orang tua itu bisa ditangkap sebagai suara hati nurani akan masa depan umat Islam Indonesia. Respons yang memadai atas suara hati nurani itu menjadi tanggugjawab yang sangat besar bagi

61 Djohan Effendi, “Pesantren dan Kampung Peradaban”, dalam Pengantar Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, hlm. xx.

62 Abdul Madjid, dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: PT. Rosda Karya, 2006), Cet. III, hlm.

129.

kalangan pesantren untuk meningkatkan kualitas perkhidmatannya dibidang pendidikan. 63 Dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pembangunan nasional dibidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Dalam uraian tersebut dapat dipahami dengan jelas bahwa pendidikan nasional yang sedang dijalankan oleh bangsa Indonesia adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia baik jasmaniah maupun rohaniahnya. Pendidikan pondok pesantren sebagai bagian integral dari sistem pendidikan bangsa memiliki posisi strategis untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional, yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, berdisiplin, trampil, beretos kerja, profesional, bertanggungjawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Potensi yang dimiliki pondok pesantren dalam hal ini adalah keunggulan pendidikan keimanan dan akhlaq, di samping aspek yang lain seperti kemandirian, kedisiplinan, dan lain sebagainya yang tercakup dalam lingkup pendidikan pesantren. Dengan memperhatikan tujuan pendidikan nasional, menunjukkan bahwa pendidikan pondok pesantren menempati posisi yang sangat penting dan tak dapat dipisahkan dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya. 64 Kurikulum pesantren sebenarnya meliputi seluruh kegiatan yang dilakukan di pesantren selama sehari semalam. Di luar pelajaran banyak kegiatan yang bernilai pendidikan dilakukan di pondok berupa latihan hidup sederhana, mengatur kepentingan bersama, mengurusi kebutuhan sendiri, latihan bela diri, ibadah dengan tertib dan riyadlah. Di pondok lama, para santri sendiri yang

63 M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, hlm. 7. 64 Mahfud Junaedi, Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan, (Semarang:

RaSAIL Media Group, 2010), hlm. 198-200.

mendirikan pondok baik dalam pembiayaan dan penukangannya (meskipun dibantu oleh tukang ahli), menanak nasi sendiri, mencuci pakaian dan mengatur kamar sendiri, mengatur keuangan sendiri, bahkan ada santri yang membiayai diri sendiri dengan mengambil upah membantu masyarakat bertani atau membantu kyai dan kawan sepesantrennya. Kehidupan di pesantren diatur oleh santri sendiri dengan aturan yang dibuat sendiri dan iuran yang ditetapkan sendiri. Hal lain yang penting, di pesanren biasanya para santri melakukan ibadah dengan tertib dan khusyu bahkan tidak sedikit yang melakukan riyadlah atas kehendak sendiri. 65 Dasar ideal pendidikan pesantren adalah falsafah Negara Pancasila, yakni sila pertama yang berbunyi: ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama. Dasar konstitusional pendidikan pesantren adalah pasal 26 ayat 1 dan ayat 4 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada ayat 1 disebutkan bahwa “pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.” Selanjutnya, pada pasal 26 ayat 4 dinyatakan, “Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majlis ta‟lim, serta satuan pendidikan yang sejenis.” 66 Sedangkan dasar teologis pesantren adalah ajaran Islam, yakni bahwa melaksanakan pendidikan agama merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam surat an-Nahl ayat 125:

        

65 M. Habib Chirzin, “Agama dan Ilmu dalam Pesantren”, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, cet. V, (Jakarta: LP3ES, 1995), hlm. 76.

66 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hlm. 8-9.

    



    

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An- Nahl: 125). 67







Dalam ayat ini, Allah swt memberikan pedoman kepada Rasul-Nya

tentang cara mengajak manusia (dakwah) ke jalan Allah. Jalan Allah di sini

maksudnya ialah agama Allah yakni syari‟at Islam yang diturunkan kepada Nabi

Muhammad saw. Allah meletakkan dasar-dasar dakwah untuk pegangan bagi

umatnya di kemudian hari dalam mengemban tugas dakwah.

Pertama, Allah saw menjelaskan kepada Rasul-Nya bahwa sesungguhnya

dakwah ini adalah dakwah untuk agama Allah sebagai jalan menuju rida-Nya,

bukan dakwah untuk pribadi dai (yang berdakwah) ataupun untuk golongan dan

kaumnya. Rasul saw diperintahkan untuk membawa manusia ke jalan Allah dan

untuk agama Allah semata.

Kedua, Allah menjelaskan kepada Rasul saw agar berdakwah dengan

hikmah. Hikmah itu mengandung beberapa arti:

a. Pengetahuan tentang rahasia dan faedah segala sesuatu. Dengan pengetahuan

itu sesuatu dapat diyakini keberadaannya.

b. Perkataan yang tepat dan benar yang menjadi dalil (argumen) untuk

menjelaskan mana yang hak dan mana yang batil atau syubhat (meragukan).

c. Mengetahui hukum-hukum Al-Qur‟an, paham Al-Qur‟an, paham agama,

takut kepada Allah, serta benar perkataan dan perbuatan.

Ketiga, Allah swt menjelaskan kepada Rasul agar dakwah itu dijalankan

dengan pengajaran yang baik, lemah lembut, dan menyejukkan, sehingga dapat

diterima dengan baik.

67 Khadim Al Haramain Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah, hlm. 421

Keempat, Allah swt menjelaskan bahwa bila terjadi perdebatan dengan

kaum musyrikin atau ahli kitab, hendaklah Rasul membantah mereka dengan cara

yang baik.

Kelima, akhir dari segala usaha dan perjuangan itu adalah iman kepada

Allah swt, karena hanya Dialah yang menganugerahkan iman kepada jiwa

manusia, bukan orang lain ataupun dai itu sendiri. Dialah Tuhan Yang Maha

Mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang tidak dapat mempertahankan fitrah

insaniahnya (iman kepada Allah) dari pengaruh-pengaruh yang menyesatkan,

hingga dia menjadi sesat, dan siapa pula di antara hamba yang fitrah insaniahnya

tetap terpelihara sehingga dia terbuka menerima petunjuk (hidayah) Allah swt. 68

Disamping itu, pendidikan pesantren didirikan atas dasar tafaqquh fi al-

din, yaitu kepentingan umat untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama, dasar

pemikiran ini relevan dengan firman Allah SWT:

          



        

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122). 69



Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa tidak semua orang mukmin

harus berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh

sebagian kaum Muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam

masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi harus

68 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid V, hlm. 418-419.

69 Khadim Al Haramain Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah, hlm. 301-302.

menuntut ilmu dan mendalami agama Islam, supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat sehingga kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan. Perang bertujuan untuk mengalahkan musuh-musuh Islam serta mengamankan jalan dakwah Islamiah. Sedang menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama bertujuan untuk mencerdaskan umat dan mengembangkan agama Islam, agar dapat disebarluaskan dan dipahami oleh semua macam lapisan masyarakat. 70 Menurut Zamakhsyari Dhofir seperti yang dikutip oleh Ahmad Muthohar AR., menyebutkan bahwa ayat tersebut di atas menjiwai dan mendasari pendidikan pesantren, sehingga seluruh aktifitas keilmuan di dalam pesantren pada dasarnya ditujukan untuk mempertahankan dan menyebarkan agama Islam. 71 Pesantren mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat, dan sekaligus menjadi simpul budaya, maka itulah pondok pesantren. Biasanya peran-peran itu tidak langsung terbentuk, melainkan melewati tahap demi tahap. Setelah sukses sebagai lembaga pendidikan pesantren bisa pula menjadi lembaga keilmuan, kepelatihan, dan pemberdayaan masyarakat. Keberhasilannya membangun integrasi dengan masyarakat barulah memberinya mandat sebagai lembaga bimbingan keagamaan dan simpul budaya. 72 Muhtarom HM, pengantarnya dalam buku “Dinamika Pesantren dan Madrasah”, yang ditulis oleh Abdurrahman Mas‟ud, dkk., menegaskan tentang urgensi pesantren dalam pembentukan kepribadian Muslim. Melalui pendidikan pesantren, dapat disiapkan pribadi Muslim yang tangguh, harmonis, mampu mengatur kehidupan pribadinya, mengatasi persoalan-persoalannya, mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dan mengendalikan serta mengarahkan tujuan hidupnya.

70 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid IV, hlm. 232.

71 Ahmad Muthohar, AR., Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren Di Tengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan, hlm. 14-15.

72 M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, hlm. 11.

Hal itu menurutnya, karena pesantren memiliki multifungsi dan multidimensi dalam proses pendidiknnya, seperti dimensi psikologis, filosofis, relijius, ekonomis, politis, dan sebagainya. 73 Pesantren adalah lembaga pendidikan yang sistemik, di dalamnya memuat tujuan, nilai dan berbagai unsur yang bekerja secara terpadu satu sama lain dan tak terpisahkan. Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “sistema”, yang berarti sehimpunan kegiatan atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Dengan demikian, sistem pendidikan adalah totalitas interaksi seperangkat unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama secara terpadu dan saling melengkapi satu sama lain menuju tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Begitu halnya dengan pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bertujuan untuk mendalami ilmu agama Islam (tafaqquh fi al-din) dengan menekankan pentingnya moral dan pengamalan ajaran Islam dalam hidup bermasyarakat, maka harus ada sinkronisasi antara beberapa unsur pesantren. Ini dilakukan dalam rangka mewujudkan nilai-nilai luhur yang mendasari, menjiwai, menggerakkan, dan mengarahkan kerja sama antar unsur yang ada di dalam pesantren. 74 Saat ini pondok pesantren mulai menampakkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mumpuni, yaitu di dalamnya didirikan sekolah baik secara formal maupun nonformal. Akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan, yaitu :

1. Mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern.

2. Semakin berorientasi pada pendidikan dan fungsional, artinya terbuka atas perkembangan di luar dirinya.

3. Program dan kegiatan yang dilakukan makin terbuka, dan ketergantungannya pun absolut dengan kyai, dan sekaligus dapat membekali para santri dengan

73 Ismail SM, dkk, “Mengurai Anatomi Pesantren dan Madrasah”, dalam Pengantar Editor Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. xiii-xiv.

74 Ahmad Muthohar, AR., Ideologi Pendidikan Pesantren ; Pesantren Di Tengah Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan, hlm. 16.

berbagai pengetahuan di luar mata pelajaran agama maupun ketrampilan yang diperlukan di lapangan kerja.

4. Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.

Karena pondok pesantren merupakan salah satu sub sistem pendidikan di Indoensia, maka gerak dan usaha serta arah pengembangannya berada di dalam ruang lingkup tujuan pendidikan nasional itu.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini digunakan jenis penelitian lapangan (field research), yaitu riset yang dilakukan dikancah atau medan terjadinya gejala- gejala. 75 Di sini peneliti mengumpulkan data dari lapangan dengan mengadakan penyelidikan secara langsung di lapangan untuk mencari berbagai masalah yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, disebut kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. 76 Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian. 77 Penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka, atau metode statistik. Pembicaraan yang sebenarnya, isyarat dan

75 Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM, 1997), hlm. 10.

76 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 8.

77 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. XXII, (Bandung : PT. Pemaja Rosdakarya, 2006), hlm. 6.

tindakan sosial lainnya adalah bahan mental untuk analisis kualitatif. 78 Oleh karena itu penelitian ini tidak melibatkan perhitungan, maka hasil yang diperoleh berupa data yang berwujud kata-kata tertulis atau lisan orang yang diamati.

B. Waktu dan tempat Penelitian

Penelitian dengan judul Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora ini dilaksanakan dari tanggal 01 Oktober 2011 sampai dengan tanggal 10 Oktober 2011 bertempat di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora. Namun sebelum penelitian ini dilakukan peneliti telah lebih dulu melaksanakan pengamatan-pengamatan dan mencari informasi tentang seputar perkembangan yang terjadi (pra riset), tepatnya pada bulan Agustus dan September 2011.

C. Sumber Data

Sumber data adalah subyek di mana data dapat diperoleh. 79 Data yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber data yaitu primer dan skunder.

1. Sumber Data Primer Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. 80 Sumber data yang akan dijadikan bahan penulisan skripsi diantaranya adalah orang-orang kunci (key person) yang meliputi: pengasuh pesantren, dewan pengurus, dan masyarakat setempat. Peneliti beranggapan bahwa orang-orang kunci tersebut di atas adalah orang- orang yang dirasa lebih mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan penelitian yang peneliti lakukan.

2. Sumber Data Skunder

78 Deddy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif, Cet. VII, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 150.

79 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet 12, (Jakarta:

PT. Rineka Cipta, 2002), hlm. 213.

80 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 225.

Sumber data skunder adalah sumber data yang didapat tidak langsung, yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip atau arsip resmi maupun buku-buku yang ditulis orang lain yang berkaitan dengan judul yang penulis teliti. 81 Yang peneliti maksud dalam penelitian ini adalah data yang mendukung baik berasal dari buku, dokumentasi, arsip, maupun informasi lain yang relevan dengan penelitian ini.

D. Fokus Penelitian Dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah seputar perkembangan

pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora, yang berdiri pada tahun 1981, didirikan oleh KH. Muharror Ali. Perkembangan yang akan peneliti kaji adalah seputar perkembangan yang terjadi di pesantren tersebut dalam satu dekade terakhir. Yaitu antara tahun 2000 sampai tahun 2010, yang meliputi:

1. Perkembangan lembaga pendidikan;

2. Perkembangan kurikulum;

3. Sarana prasarana; serta

4. Faktor terjadinya perkembangan

Kemudian untuk alasan dikhususkannya penelitian ini pada satu dekade terakhir adalah mempertimbangkan banyaknya perkembangan-perkembangan yang terjadi di pondok pesantren dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

E. Teknik Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik atau cara sebagai berikut:

a) Metode Observasi Partisipatif Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan

81 Azwar Saifuddin, M.A., Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset IKAPI, 1998), hlm. 91.

oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. 82 Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik observasi partisipan, dan yang diterapkan untuk memperoleh data-data tentang perkembangan kurikulum yang digunakan, salah satunya dengan cara mengikuti proses belajar mengajar (PBM) yang dilaksanakan di pondok pesantren tersebut, kemudian perkembangan sarana prasarana dan perkembangan lembaga pendidikan dengan mengamati.

b) Metode Wawancara (Interview) Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang membarikan jawaban atas pertanyaan itu. 83 Dalam hal ini peneliti menggunakan bentuk bebas terpimpin, dan ditujukan kepada informan untuk meminta keterangan tentang seputar perkembangan lembaga, kurikulum, dan sarana prasarana, serta faktor-faktor terjadinya perkembangan di pondok pesantren tersebut. Informan yang peneliti maksud adalah orang-orang kunci (key person) yang meliputi: pengasuh pondok pesantren, dewan pengurus, dan masyarakat setempat. Langkah- langkah yang peneliti lakukan dalam metode wawancara ini adalah sebagai berikut:

1. Menetapkan kepada siapa wawancara ini dilakukan;

2. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang menjadi bahan pembicaraan;

3. Mengawali atau membuka alur wawancara;

4. Melangsungkan alur wawancara;

5. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya;

6. Menuliskan hasil wawancara kedalam catatan lapangan;

82 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 227.

83 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, hlm. 186.

7. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh. c) Metode Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah lalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. 84 Hasil penelitian akan lebih kredibel/dapat dipercaya apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada. Data-data dokumentasi tersebut dapat berupa arsip-arsip yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data tentang sejarah dan memperjelas perkembangan pondok pesantren yang meliputi perkembangan lembaga, kurikulum, dan sarana prasarana, mulai dari tahun 2000 sampai dengan tahun

2010.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain. 85 Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan teknik deskriptif analitik, yaitu data yang diperoleh tidak dianalisa menggunakan rumusan statistika, namun data tersebut dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan sesuai kenyataan realita yang ada di lapangan. Hasil analisa berupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif. Uraian pemaparan harus sistematik dan menyeluruh sebagai satu kesatuan dalam konteks

84 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 240.

85 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 244.

lingkungannya juga sistematik dalam penggunaannya sehingga urutan

pemaparannya logis dan mudah diikuti maknanya. Jadi analisis ini peneliti gunakan untuk menganalisa tentang perkembangan pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora khususnya perkembangan dalam lembaga, kurikulum, dan sarana prasarananya serta faktor- faktor terjadinya perkembangan. Adapun langkah-langkah analisis yang peneliti lakukan selama di lapangan adalah:

a) Data Reduction (Reduksi Data) Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. 86 Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

b) Data Display (Penyajian Data) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data, sehingga data dapat terorganisasikan dan dapat semakin mudah dipahami. Dengan mendisplay data, maka akan memudahlan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang yang telah difahami tersebut. 87

c) Kesimpulan (Conclution) Langkah ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat

86 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 247.

87 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D),

hlm. 249.

peneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. 88 Jadi setelah peneliti mencari, mereduksi dan mendisplay data tentang perkembagan pelaksanaan pendidikan agama Islam di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora yang dikategorikan dalam perkembangan lembaga, kurikulum, dan sarana prasarana, kemudian langkah selanjutnya adalah memberikan kesimpulan dari data-data yang sudah didisplay tersebut, yang setidaknya dapat menjawab rumusan masalah di atas mulai dari mendapatkan gambaran tentang perkembangan-perkembangan yang terjadi sampai menemukan faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan itu terjadi. BAB IV ANALISIS TENTANG PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PONDOK PESANTREN KHOZINATUL ULUM BLORA

A. Profil Pondok Pesantren Khozinatul Ulum

1. Sejarah Singkat Berdirinya

Sejarah berdirinya pondok pesantren Khozinatul Ulum ini bermula dari keprihatinan yang sangat serta kepedulian sosial dari usahawan H. Muhammad Jais yang melihat kanan kiri ternyata belum ada satupun lembaga pendidikan pondok pesantren yang berdiri di tengah kota yang dikelilingi hutan jati ini. Keprihatinan dan kepedulian bapak H. Muhammad Jais tersebut dengan seiring

keinginan putrinya yang bernama Ummi Hani‟ yang baru saja menyelesaikan studinya menghafal Al-Qur‟an 30 juz di pesantren Al-Muayyad Surakarta yang diasuh oleh KH. Umar bin Abdul Mannan, untuk dibuatkan sebuah pesantren walaupun hanya sangat sederhana. Selanjutnya bapak H. Muhammad Jais dengan penuh semangat berusaha mencari calon suami yang sesuai dengan putrinya tersebut, agar kelak dapat mengelola serta me-menage pondok pesantren yang dicita-citakan.

88 Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D), hlm. 252.

Alhamdulillah berkat pertolongan dan izin Allah SWT serta do‟a restu tiga

orang ulama yaitu, KH. M. Arwani Amin dari Kudus, KH. Abdullah Salam dari

Pati, KH. MA. Sahal Mahfudz dari Kajen, keinginan tersebut terpenuhi dengan

mendapatkan seorang menantu dari Jepara yang bernama Muharror Ali dan

kebetulan beliau juga baru saja menyelesaikan studi non formalnya dari pesantren

Yanba‟ul Qur‟an Kudus di bawah asuhan KH. M. Arwani Amin.

Setelah itu, pada tahun 1981 beliau nawaitu membangun dan mendirikan

pesantren dengan memilih Khozinatul Ulum sebagai nama dari pesantren ini.

Nama Khozinatul Ulum itu sendiri dipilih berdasarkan pemberian dari seorang

ulama ahlul Qur‟an KH. M. Arwani Amin. Kata “khozin” berarti tempat

penyimpanan, dan kata “ulum” sendiri berarti beberapa ilmu. Pemberian nama

tersebut terkandung maksud tafa‟ulan (mengharap) supaya pesantren ini menjadi

gudang dan tempat penyimpanan beberapa ilmu yang dirasakan manfaatnya oleh

umat.

Pada sejarah perkembangan awal pesantren Khozinatul Ulum ini, sistem

yang digunakan hanya bersifat tradisional dengan mengacu pada sistem sorogan

dan pengajaran wetonan. Dalam perkembangan selanjutnya pondok pesantren

mengadopsi sistem klasikal dengan membuka pendidikan formal maupun non

formal. Namun dalam menyesuaikan perkembangan ini pondok pesantren

Khozinatul Ulum mempunyai prinsip yang sangat mendasar, yaitu:

لَا

Memelihara unsur-unsur lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih

baik.

Prinsip pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora adalah mengupayakan

dan berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan beberapa tujuan luhur

yang menjadi cita-cita pondok pesantren dengan cara yang sehat dan dengan cara

sebaik-baiknya. Di sini peneliti menganggap perlu menegaskan beberapa hal yang

dianggap sebagai tujuan pokok pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora.

a. Menyiapkan manusia Muslim yang As-Sholih dan Al-Akrom sebagaimana

َ

ح لصْ

ِ

َ

لأ ْ ا دِيْدِجَ لا ب ذ خ لأ ْ و حِلاصَّ

ْ

ِ

ُ

ْ

َ

ا

َ

ِ

لا ميْدِ َ لا ْ ىلعَ

ِ

ق

َ

ُ ة ظ َ فاحَ َ

ُ

م

ْ

yang termaktub dalam Al-Qur‟an:

   

    



Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujarat : 13). 89

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemooh, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia pada sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Kebiasaan manusia memandang kemuliaan itu selalu ada sangkut pautnya dengan kebangsaan dan kekayaan. Padahal menurut pandangan Allah orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling takwa kepada- Nya. 90

Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kemudian sholih dalam arti baik di sisi Allah SWT, dan yang baik di sisi masyarakat, baik dalam kehidupan agamanya dan kehidupan dunianya, dan sholih dengan pengertian patut dan pantas sebagai kholifatullah di bumi, begitu pula sholih dalam pengertian mampu mewarisi apa saja yang ada di bumi. Sebagaimana firman Allah:

 

     









89 Khadim Al Haramain Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah, hlm. 847

90 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid IX, hlm. 420.

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (QS. Al-Anbiya‟ : 105). 91

Ayat ini menerangkan bahwa jika diperhatikan sejarah dunia dan sejarah umat manusia, maka orang-orang yang dijadikan Allah sebagai penguasa di bumi ini, ialah orang-orang yang sanggup mengatur dan memimpin masyarakat, mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, sanggup mempertahankan diri dari serangan luar dan dapat mengokohkan persatuan rakyat yang ada di negaranya. Pemberian kekuasaan oleh Allah kepada orang-orang tersebut bukanlah berarti Allah telah meridai tindakan- tindakan mereka; karena kehidupan duniawi lain halnya dengan kehidupan ukhrawi. Ada orang yang hidup bahagia di akhirat saja, dan ada pula yang bahagia hidup di dunia saja. Sedangkan yang dicita-citakan seorang Muslim ialah bahagia hidup di dunia dan di akhirat.

Apabila orang muslim ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat, mereka harus mungikuti Sunnatullah di atas, yaitu taat beribadah kepada Allah, sanggup memimpin umat manusia dengan baik, sanggup mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, menggalang persatuan dan kesatuan yang kuat di antara mereka sehingga tidak mudah dipecah belah oleh musuh. 92 b. Pondok pesantren berpandangan perlunya mengatur dan merealisasikan keseimbangan antara beberapa ilmu tentang ajaran syari‟at agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum dan tegnologi modern. Untuk tujuan ini, pondok pesantren berupaya memberikan bekal kepada santri dengan berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun umum, sehingga mereka dapat menyiapkan diri sebagai da‟i-da‟i Muslim yang tangguh yang dapat menyesuaikan dengan masyarakat dengan corak tertentu dan dapat

91 Khadim Al Haramain Asy Syarifain, Al-Qur‟an dan Terjemah, hlm. 508.

92 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid VI, hlm, 335.

menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi modern yang bersifat umum.

c.

Pesantren merasa perlu memberikan bekal ilmu Al-Qur‟an, mulai bacaan, hafalan, ilmu qira‟ah, dan tafsir, latar belakang turunnya ayat Al-Qur‟an (asbabun nuzul) kepada santri dan pengalamannya dalam kehidupan sehari- hari sehingga mereka layak dikatakan seorang Muslim yang ahlul qur‟an dengan pengertian yang sesengguhnya. 93

2.

Letak Geografis

Pondok pesantren Khozinatul Ulum yang menjadi obyek penelitian ini adalah lembaga pendidikan non formal. Adapun letak pesantren tersebut di dukuh Mlangsen kecamatan Blora kota atau tepatnya di jalan Mr. Iskandar gang XII No. 02. Letak pondok pesantren Khozinatul Ulum ini cukup strategis karena melalui

jalan raya jurusan Blora Randublatung dan Blora Banjarrejo kurang lebih hanya 700 M ke arah selatan, di situ terpampang papan identitas yang menunjukkan lokasi pondok pesantren.

Ditinjau dari kenyamanan belajar mengajar (KBM) pondok pesantren Khozinatul Ulum Kaliwangan Blora ini cukup memberikan ketenangan dan kesejukan. Hal itu disebabkan karena letaknya yang agak masuk kurang lebih 50 M dari jalan raya. Pondok pesantren Khozinatul Ulum ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 3215 M 2 , berada dalam lingkungan Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah yang menjadi satu lingkungan yang masing-masing gedung untuk dua gedung tiga lantai.

Adapun batas wilayah pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora adalah sebagai berikut: 94

a. Sebelah Barat berbatasan dengan dukuh Karkaran Jetis dan desa Sasak;

b. Sebelah Utara berbatasan dengan dukuh Ndukuan;

93 Hasil Dokumentasi Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 4 Oktober

2011.

94 Hasil Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip pada tgl 2 Oktober 2011

c.

Sebelah Timur berbatasan dengan desa Jenar;

d.

Sebelah Selatan persawahan yang berbatasan dengan desa Kamolan.

3.

Struktur Kepengurusan

Struktur kepengurusan pondok pesantren adalah suatu tatanan dalam satu kelompok yang sesuai dengan hak dan tanggung jawab masing-masing yang telah ditentukan bersama. Sebagaimana pondok pesantren lain, pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora yang merupakan lembaga pendidikan non formal, juga mempunyai kepengurusan pondok pesantren. Dengan kepengurusan tersebut dimaksudkan agar dalam pembagian tugas, hak dan tanggungjawab dapat merata kepada semua personal, sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing-masing. Struktur kepengurusan dapat disusun setelah terbentuknyanya keputusan- keputusan yang dihasilkan dari musyawarah bersama.

Surat keputusan dan format struktur kepengurusan yang dihasilkan bukan semata-mata sebuah kebijakan individu dari pengasuh pondok pesantren, untuk menetapkan dan memutuskan serta memformat struktur kepengurusan harus melibatkan semua kepala di lembaga-lembaga yang ada. Mulai dari pengasuh Pondok Pesantren, ketua Pondok Pesantren, ketua Diniyyah (Awwaliyah, Wustho, „Ulya), ketua Madrasah Ibtidaiyyah (MI), ketua Madrasah Tsanawiyah (MTs), ketua Madraasah Aliyah (MA). 95

Adapun struktur kepengurusan pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora tahun ajaran 1432-1433 H/2011-2012 M untuk santri putra 96 dan putri 97 adalah sebagai berikut:

95 Hasil Dokumentasi Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 4 Oktober

2011.

96 Hasil Dokumentasi Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora Tentang Surat Keputusan dan Stuktur Kepengurusan Santri Putra, dikutip tgl 5 Oktober 2011.

97 Hasil Dokumentasi Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora Tentang Surat Keputusan dan Stuktur Kepengurusan Santri Putra, dikutip tgl 6 Oktober 2011.

Bagan 4.1

SUSUNAN KEPENGURUSAN SANTRI PUTRA

PONDOK PESANTREN KHOZINATUL ULUM BLORA

Masa Khidmat 1432-1433 H/2011-2012 M

Pengasuh KH. Muharror Ali
Pengasuh
KH. Muharror Ali
Ketua Umum Tri Sugiyanto Ketua I Kamil Khoiri Ketua II A. Sholihin
Ketua Umum
Tri Sugiyanto
Ketua I
Kamil Khoiri
Ketua II
A. Sholihin
Wakil Pengasuh H. Ahmad Zakky Fuad H. Ahmad Labib Hilmy H. Ahmad Fahim Mulabby
Wakil Pengasuh
H. Ahmad Zakky Fuad
H. Ahmad Labib Hilmy
H. Ahmad Fahim Mulabby
Zakky Fuad H. Ahmad Labib Hilmy H. Ahmad Fahim Mulabby Pembina KH. Muhtadi Nur K. Abdul
Pembina KH. Muhtadi Nur K. Abdul Khobir K. Nur Rohim, S.Pd.I H. Nur Salim Kasmani,
Pembina
KH. Muhtadi Nur
K. Abdul Khobir
K. Nur Rohim, S.Pd.I
H. Nur Salim Kasmani, Lc.,
M.Sy
H. M. Nur Ihsan, Lc
Bendahara Umum Qithfirul Azis
Bendahara Umum
Qithfirul Azis
Bendahara I M. Amin Bendahara II Shoim Daiman Sekretaris Umum M. Abd. Karim Sekretaris I
Bendahara I M. Amin Bendahara II Shoim Daiman
Bendahara I
M. Amin
Bendahara II
Shoim Daiman
Sekretaris Umum M. Abd. Karim Sekretaris I Matori SekretarisII Alfian Rohim
Sekretaris Umum
M. Abd. Karim
Sekretaris I
Matori
SekretarisII
Alfian Rohim

Lebih lengkap tentang surat keputusan dan struktur kepengurusan pondok

pesantren Khozinatul Ulum Blora santri putra dapat dilihat sebagaimana

terlampir.

Bagan 4.2

SUSUNAN KEPENGURUSAN SANTRI PUTRI

PONDOK PESANTREN KHOZINATUL ULUM BLORA

Masa Khidmat 1432-1433 H/2011-2012 M

Pengasuh KH. Muharror Ali Ibu Nyai Hj. Umi Hani‟ SM
Pengasuh
KH. Muharror Ali
Ibu Nyai Hj. Umi Hani‟ SM
Pembina K. Muhtarom AM, S.Pd.I K. Nur Rohim, S.Pd.I Gus H. A. Zakky Fuad Gus
Pembina
K. Muhtarom AM, S.Pd.I
K. Nur Rohim, S.Pd.I
Gus H. A. Zakky Fuad
Gus H. A. Labib Hilmy
Gus H. A. Fahim M
Gus H. A. Nur Ihsan, Lc
Neng Mas‟ul „Aini
Neng Hj. Nurul Inayah
Neng Hj. Nur Hilwa Layyina
Pembimbing Elly Masruroh Afifatul Musyafa‟ah
Pembimbing
Elly Masruroh
Afifatul Musyafa‟ah
Sekretaris Nurul Ida Fitriana Ida Khoirotun Naimah Nurul Layli Mukarromah
Sekretaris
Nurul Ida Fitriana
Ida Khoirotun Naimah
Nurul Layli Mukarromah
Ketua Naili Syifa Dwi Mahmudah Bendahara Mita Zain Zahrotun Nafi‟ah Sri Miyati
Ketua
Naili Syifa
Dwi Mahmudah
Bendahara
Mita Zain
Zahrotun Nafi‟ah
Sri Miyati

Lebih lengkap tentang surat keputusan dan struktur kepengurusan pondok

pesantren Khozinatul Ulum Blora santri putri dapat dilihat sebagaimana terlampir.

4. Keadaan Santri dan Tenaga Pengajar

Santri merupakan elemen penting dalam pesantren. Jika didasarkan pada

konsep manusia menurut Islam yaitu fitrah, maka pendidikan pesantren dalam

memandang santri masuk dalam semua ideologi karena santri tetap dipandang

mempunyai daya kelebihan dan kelemahan yang perlu diperbaiki dalam

pendidikan, yang dalam hal ini adalah pendidikan pesantren. Kalaupun ada

perbedaan kecenderungan pandangan antar ideologi, hal ini lebih disebabkan cara

pandang yang berbeda.

Para santri yang menetap di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini

berasal dari berbagai daerah, seperti: Jepara, Pati, Purwodadi, Demak, Kendal,

Jawa Barat, Jawa Timur dan ada juga yang berasal dari luar jawa seperti Sumatra

dan Kalimantan. Dengan masuk menjadi santri Khozinatul Ulum Blora, maka

mereka berarti harus taat dan patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan di

pesantren ini. Baik peraturan itu berupa kewajiban ataupun peraturan-peraturan

yang berupa larangan. Lebih jelasnya tentang peraturan yang berupa kewajiban dan larangan dapat dilihat sebagaimana terlampir. 98

Pondok pesantren Khozinatul Ulum yang berada di dukuh Mlangsen kecamatan Blora kota atau tepatnya di jalan Mr. Iskandar gang XII No. 02 ini merupakan satu-satunya pondok pesantren yang ada di kota Blora. Adanya santri atau siswa pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora berjumlah sekitar 878 santri, dengan perincian sebagai berikut : 99

Tabel 4.1 Keadaan Santri Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora Tahun Ajaran 2011/2012

No

Status

L

P

Jumlah

1

Santri Tahfidz

43

46

89

2

Santri Non Tahfidz

225

475

700

3

Santri Anak-anak

15

12

27

4

Mahasiswa

37

25

62

Jumlah

320

558

878

Para santri yang belajar di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini hampir seluruhnya mukim di asrama pondok pesantren, hanya ada beberapa santri saja yang tidak menetap di asrama. Lain halnya santri yang belajar di sekolah-

98

Hasil

Wawancara

Dengan

Tri

Sugiyanto

Sebagai

Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 8 Oktober 2011.

Ketua

di

Pondok

Pesantern

99 Hasil Dokumentasi Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 5 Oktober

2011.

sekolah formal yang ada di bawah naungan pondok pesantren, yang belajar di sekolah-sekolah tersebut didominasi oleh pelajar-pelajar dari luar pesantren.

Santri yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum ini terbagi menjadi beberapa jenis:

a. Santri yang menghafal Al-Qur‟an 30 juz, sekolah formal (MI, MTs, MA), dan mengkaji kitab-kitab salaf di Diniyyah dan di luar Diniyyah;

b. Santri yang menghafal Al-Qur‟an 30 juz, kuliah dan mengkaji kitab-kitab salaf diluar jam kuliah;

c. Santri yang menghafal Al-Qur‟an 30 juz dan mengkaji kitab-kitab salaf saja;

d. Santri yang hanya sekolah formal (MI, MTs, MA), dan mengkaji kitab-kitab salaf; dan

e. Santri yang hanya mengkaji kitab-kitab salaf saja. Akan tetapi untuk jenis yang ketiga dan kelima ini biasanya dilakukan

oleh para santri yang telah menamatkan sekoahnya di Madrasah (MI, MTs, MA),

atau di Diniyyah. 100

Tenaga pengajar di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini kurang lebih berjumlah 45 orang dan hampir semuanya alumni dari pondok pesantren. Namun ada juga sebagian dari mereka yang telah menamatkan studinya di Al- Azhar Kairo Mesir. Lebih jelasnya tentang perincian tenaga pengajar dapat dilihat sebagaimana terlampir.

5. Kegiatan Santri

Kegiatan santri khususnya dalam hal pendidikan di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini dilaksanakan dalam beberapa pendidikan baik formal maupun non formal dengan menggunakan kurikulum yang bervariasi pula : 101 Pertama, Madrasah Diniyyah yang meliputi, (1) Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA), setingkat dengan SD. Dengan menggunakan sistem

100 Hasil Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip pada tgl 3 Oktober 2011.

101 Hasil Dokumentasi Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 5 Oktober

2011.

kholafiyah dan kurikulum LP Ma‟arif. Dilaksanakan pada malam hari mulai pukul 18.00 s/d 20.30 WIB dan dapat ditempuh selama 6 tahun. (2) Madrasah Diniyyah Wustho (MDW), setingkat dengan SMP. Dengan menggunakan sistem kholafiyah dan kurikulum LP Ma‟arif. Dilaksanakan pada siang hari mulai pukul 14.00 s/d 16.30 WIB, dan dapat ditempuh selama 3 tahun. (3) Madrasah Diniyyah „Ulya (MDU), setingkat SMA. Dengan menggunakan sistem kholafiyah dan kurikulum LP Ma‟arif. Dilaksanakan pada siang hari mulai pukul 14.00 s/d 16.30 WIB, dan dapat ditempuh selama 3 tahun. Kedua, Madrasah yang meliputi (1) Madrasah Ibtidaiyyah, (2) Madrasah Tsanawiyyah, (3) Madrasah Aliyah, yang memakai standar kurikulum Depertemen Agama yang ditambah dengan muatan lokal dan dengan sistem pengajaran ala pesantren. Masuk pada siang hari mulai jam 07.00 s/d 13.00 WIB, dan dapat ditempuh selama 6 tahun untuk (MI), 3 tahun untuk (MTs), dan 3 tahun untuk (MA). Ketiga, Pendidikan Al-Quran yang meliputi (1) Taman Pendidikan Al- Qur‟an, masuk pada pukul 15.00 s/d 17.00 WIB, dengan menggunakan sistem metode yambu‟a ditambah dengan tajwid dan bacaan-bacaan yang ghorib, ditargetkan dalam waktu 1,5 tahun siswa dapat membaca Al-Qur‟an dengan fasih dan benar. (2) Hafalan juz „amma, santri baru diwajibkan hafalan juz „amma dan mengikuti hataman bersama-sama sebelum melanjutkan pengajian bin nazdri. (3) Pengajian Al-Qur‟an bin nadzri 30 juz, dengan menggunakan sistem sorogan dan waktu yang dibutuhkan tergantung dari kefasihan dan kelancaran santri dalam membaca Al-Qur‟an. (4) Tahfidzul Qur‟an 30 juz, dengan menggunakan sistem sorogan dengan ketentuan setiap tahunnya santri wajib mengikuti tes hafalan, dan setiap santri wajib ikut ujian setelah mendapatkan minimal 1/3 juz dari Al-Qur‟an untuk dapat melanjutkan hafalan juz seterusnya, kemudian setelah hatam hafalan 30 juz santri wajib ikut ujian hafalan 30 juz untuk diwisuda. Keempat, pengajian kitab-kitab salaf, dan inilah yang menjadi ciri khas dari semua pondok pesantren di seluruh Indonesia. Pengajian-pengajian kitab ini

ada yang bersifat harian dan bersifat mingguan, dilaksanakan pada jam-jam tertentu, yaitu pada jam: 102

a. 09.00 s/d 10.00 WIB

b. 10.00 s/d 11.00 WIB

c. 19.00 s/d 21.00 WIB Adapun pengajian kitab-kitab salaf yang diajarkan di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini terbatas pada pemberian ilmu yang secara langsung membahas masalah „aqidah, syari‟ah dan bahasa arab, antara lain: al-Qur‟an dengan tajwid dan tafsirnya; aqaid dan ilmu kalam; fiqih, dengan ushul fiqh; hadits dengan musthlah hadits; bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwu, sharaf, bayan, ma‟ani, badi‟ dan arudl; tirikh; manthiq dan tasawuf. Hal ini senada dengan apa yang di contohkan oleh M. Habib Chirzin dalam dalam M. Dawam Rahardjo, “Pesantren dan Pembaharuan.” Adapun daftar kitab-kitab salaf yang diajarkan di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini adalah sebagai berikut: 103

102 Hasil Dokumentasi Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 6 Oktober

2011

103 Hasil Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, pada tgl 1-3 Oktober

2011

Tabel 4.2

Daftar Kitab-kitab Salaf Yang Diajarkan di Pondok Pesantren

Khozinatul Ulum Blora

Proses

Sasaran

Target

 

Waktu

 

ٍينلاجنا ريسفت

Semua Santri.

Pengajian

bisa

Ahad

Pagi

ba'da

terlaksana

dengan

Shubuh.

 

Semua santri Wustho dan „Ulya.

baik

dan

bisa

Malam Sabtu pukul 20.00 WIB.

ٍيحنبصنا ضبير

menambah refrensi

ىهع ميقع ٍبا حرش ةيفنلأا

 

serta

wawasan

Malam Ahad pukul 19.30 WIB.

santri.

ٍيعًنا ختف

Malam Senin pukul 20.00 WIB.

 

Malam Selasa pukul 20.00 WIB.

ةبىٌنا ختف

Malam Rabu pukul 20.00 WIB.

ٍيدببعنا جيني

Malam Kamis pukul 20.00 WIB.

كيفٌت ىهس حرش

Semua Santri Madin yang tidak sekolah formal atau santri yang sekolah formal pada hari libur.

Sabtu pukul 09.00 WIB.

ٍيئشبننا ةظع

Ahad pukul 09.00 WIB.

ةيربنا ةر ختف

Senin pukul 09.00 WIB.

ٍيهفبغنا ويبنت

 

Selasa

pukul

09.00 WIB.

ىهعتًنا ىيهعت

 

Rabu pukul 09.00 WIB.

ةًكحنا

Kamis

pukul

09.00

WIB.

وقفنا لٌصأ

Semua Santri Wustho dan „Ulya yang tidak sekolah formal atau santri yang sekolah formal pada hari libur.

Sabtu pukul 10.00 WIB.

بجسنا ةفشبك

Ahad & Senin pukul 10.00 WIB.

دببعنا دبشرإ

Selasa & Rabu pukul 10.00 WIB.

ةييًرجنا ةًًتي

Kamis

pukul

 

10.00

WIB.

6. Metode Pembelajaran

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur

manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.

Pendidik dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi

peserta didik. Dengan seperangkat teori dan pengalamannya pendidik gunakan

untuk bagaimana mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis.

Salah satu usaha yang tidak pernah pendidik tinggalkan adalah bagaimana

memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil

bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berfikir yang

demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata dan memang betul dipikirkan

oleh seorang pendidik

Dalam penggunaan metode terkadang pendidik harus menyesuaikan

dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak mempengaruhi penggunaan

metode. Tujuan instruksional adalah pedoman yang mutlak dalam pemilihan

metode. Dalam perumusan tujuan, pendidik perlu merumuskan dan menentukan

metode yang bagaimana dipilih guna menunjang pencapaian tujuan yang telah

dirumuskan tersebut.

Adapun

metode

pengajaran

yang

diterapkan

di

Pondok

Pesantren

Khozinatul Ulum secara umum meliputi 4 metode, yaitu : 104

104 Hasil Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, pada tgl 1-3 Oktober

2011.

a. Metode Ceramah Metode ceramah ini adalah salah satu metode yang digunakan di pondok pesantren tersebut. Penggunaan metode ini adalah dengan penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak senantiasa jelek bila penggunaanya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya.

b. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara pendidik dan peserta didik. Pendidik bertanya peserta didik menjawab atau peserta didik bertanya dan pendidik menjawab.

c. Metode Resitasi (tugas belajar) Tugas atau resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, dan di tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang peserta didik untuk aktif belajar baik secara individual maupun secara kelompok.

d. Metode Kerja Kelompok Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa peserta didik dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok- kelompok kecil (sub-sub kelompok) Metode-metode di atas adalah metode yang hampir sering digunakan

dalam proses pembelajaran khususnya di Madrasah (MI, MTs, MA) dan Madrasah Diniyyah (Awwaliyah, Wustho, „Ulya). Selain metode umum di atas, pembelajaran yang digunakan di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini adalah sebagaimana pembelajaran yang ada di pondok pesantren lain, yaitu meliputi sebagai berikut : 105

a. Metode Wetonan

105 Hasil Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, pada tgl 1-3 Oktober

2011.

Metode ini sampai sekarang masih digunakan di lembaga di mana penelitian ini dilakukan, namun biasanya dalam pelaksanaannya dikombinasikan dengan metode-metode lain. Gambaran pelaksanaan metode ini adalah dengan cara seorang ustadz/ustadzah duduk dilingkari santri-santri, kemudian ustadz/ustadzah terebut membaca dan kemudian santri mendengar dan menyimak bacaan ustadz/ustadzah tersebut.

b. Metode Sorogan Selain metode wetonan di atas, metode sorogan di lembaga ini juga masih eksis sampai sekarang. Dalam pelaksanaanya juga hampir sama dengan metode wetonan, yaitu dikombinasikan dengan motode-metode lain seperti metode tanya jawab dan resitasi. Dalam pelaksanaan metode ini santri mengajukan sebuah kitab kepada ustadz/ustadzah untuk dibaca dihadapan ustadz/ustadzah. Dan kalau dalam membaca kitab tersebut terdapat kesalahan,

maka santri akan langsung ditegur dan dibenarkan oleh ustadz/ustadzah. Seluruh sistem pengajaran yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum ini tidak lepas dari Tri Darma yang ada di pensantren tersebut. Adapun Tri Darma tersebut adalah :

a. Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

b. Pengembangan keilmuan yang bermanfaat.

c. Pengabdian terhadap agama, masyarakat dan negara. Dengan memperhatikan fungsi dan peranan pondok pesantren yang sangat penting dalam pembangunan, maka pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam akan lebih mampu berperan apabila sistem dan metode pembelajarannya dapat dikaitkan dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan/teknologi modern serta tuntutan dinamika masyarakat. Untuk itu perlu diintrodusir sistem dan metode yang efektif dan efisien diukur menurut lamanya waktu tempat atau lingkungan, pengembangan sikap dan kemampuan kreativitas serta budi luhur dengan ajaran agama dan sesuai aspirasi nasional.

B. Perkembangan Lembaga Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum

1.

Perkembangan Lembaga Pendidikan Mulai Tahun 1981-1999

Bila dilihat dari awal berdirinya hingga perkembangannya sampai saat ini pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora telah melengkapinya dengan berbagai macam lembaga pendidikan formal maupun nonformal yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan agama, masyarakat dan sekaligus sesuai dengan tuntutan

zaman.

Lembaga-lembaga pendidikan tersebut adalah:

a. Pendidikan Al-Qur‟an yang meliputi:

1)

Taman Pendidikan Al-Qur‟an;

2)

Hafalan Al-Qur‟an Bin Nadlri 30 juz;

3)

Pengajian Al-Qur‟an 30 juz.

b. Madrasah Diniyyah yang meliputi:

1)

Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA);

2)

Madrasah Diniyyah Wustho (MDW);

3)

Madrasah Diniyyah „Ulya (MDU);

c. Madrasah Tsanawiyyah (MTs);

d. Madrasah Aliiyyah (MA);

e. Pengkajian Kitab Salaf . 106 Dilihat dari lembaga pendidikan yang telah didirikan oleh pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini dapat dikatakan lengkap, karena pondok pesantren tersebut telah mendirikan lembaga pendidikan mulai dari MI sampai Perguruan Tinggi (STIU), walaupun perguruan tinggi yang ada baru membuka satu jurusan yaitu tafsir hadis (TH). Namun pihak pondok pesantren sampai saat ini masih berupaya untuk membuka jurusan lain selain Tafsir Hadis yaitu Tarbiyah dan Syari‟ah dengan mengganti nama STIU menjadi STAIKHU (Sekolah Tinggi Agama Islam Khozinatul Ulum). 107

106 Hasil Dekumentasi Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 6 Oktober

2011.

107 Hasi Wawancara Dengan H. A. Zakky Fuad Sebagai Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 7 Oktober 2011.

Terkait dengan perkembangan lembaga pendidikan agama Islam yang ada, pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini dilihat dari hasil penelitian dapat dianalisis bahwa perkembangan yang sudah ada mengarah pada pola perkembangan profil lembaga pendidikan agama yang ideal sebagaimana Zamakhsari Dhofir dalam menggambarkan profil pondok pesantren ideal yang sesuai dengan tuntutan kekinian. Profil pondok pesantren ideal bisa dilihat dari profil pondok pesantren Sunan Drajat yang berupaya memberdayakan dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan di pesantrennya dengan mendirikan berbagai sekolah, madrasah dan perguruan tinggi pada semua jenjang dan jenis (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK dan PTAI/PTS) dalam lingkungan pondok pesantren.

2. Perkembangan Lembaga Pendidikan Mulai Tahun 2000-2010

Seperti halnya pondok pesantren lain (pesantren An-Najah Gondang Sragen, pesantren Al-Asy‟ariyah Kalibeber Mojotengah Wonosobo), yang telah lebih dulu mengembangkan dan meningkatkan kualitas lembaga pendidikan di pesantrennya dengan mendirikan madrasah dan perguruan tinggi pada semua jenjang dan jenis, demikian pula dengan pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora. Pondok pesantren ini dalam satu dekade terakhir (2000-2010) telah mendirikan dua lembaga pendidikan baru, yaitu : 108

a) Perguruan Tinggi Agama yaitu Sekolah Tinggi Islam Ushuluddin (STIU) berdiri pada tahun 2008; dan

b) Lembaga Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) berdiri pada tahun 2009.

Untuk melengkapi lembaga pendidikan yang telah ada, dan memenuhi kebutuhan santri yang telah menamatkan studinya dilembaga-lembaga yang ada di bawah naungan pondok pesantren di atas, maka dianggap perlu bagi pondok

pesantren untuk mendirikan lembaga pendidikan lanjutan dengan membuka jurusan yang dianggap sesuai dengan apa yang telah didapatkan oleh santri sebelumnaya. Sekolah Tinggi Ilmu Ushuludin (STIU) adalah sebuah lembaga

108 Hasil Wawancara Dengan KH. Muharror Ali Sebagai Pengasuh Pondok Pesantern Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 7 Oktober 2011.

lanjutan yang diharapkan mampu menjadi terobosan baru bagi pondok pesantren untuk menjawab sebuah perkembangan. 109 Untuk saat ini STIU baru membuka satu jurusan saja yaitu Tafsir Hadis (TH), namun masih ada sebuah keinginan yang belum tercapai, menurut keterangan yang peneliti dapatkan dari wakil pengasuh pondok pesantren, STIU masih akan membuka jurusan-jurusan lain seperti syari‟ah dan tarbiyah, hal ini dimaksudkan agar nantinya lulusan-lulusan dari STIU bisa ikut serta menjadi tenaga-tenaga pengajar di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan pondok pesantren tersebut. Sebab tegasnya tenaga-tenaga pengajar yang ada sampai saat ini masih mengambil dari luar, khususnya tenaga pengajar Madrasah Aliyah. 110 Kemudian Madrasah Ibtidaiyah yang berdiri pada tahun 2009 ini berawal dari keinginan salah satu putra KH. Muharror Ali yaitu H. Ahmad Zakky Fuad yang baru saja menyelesaikan studinya dari Al-Azhar Kairo Mesir. Beliau menganggap perlu adanya lembaga tersebut karena semakin banyaknya santri yang masih anak-anak (masa-masa SD). Alhamdulillah pada tahun 2009 berdirilah Madrasah Ibtidaiyyah yang sekaligus menjadi pelengkap lembaga- lembaga yang telah ada, dengan mengacu pada kurikulum Depertemen Agama. Sampai saat ini siswa yang ada di MI tersebut sudah mencapai kurang lebih 70 siswa/siswi dan sudah mencapai jenjang kelas tiga. 111

C. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum

1. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Mulai Tahun 1981-1999

Kurikulum pendidikan yang diajarkan di pondok pesantren di mana penelitian ini dilakukan mulai awal berdirinya yaitu mulai tahun 1981 sampai

109 Hasil Wawancara Dengan KH. Muharror Ali Sebagai Pengasuh Pondok Pesantern Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 7 Oktober 2011.

110 Hasi Wawancara Dengan H. A. Zakky Fuad Sebagai Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 7 Oktober 2011.

111 Hasi Wawancara Dengan H. A. Zakky Fuad Sebagai Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 7 Oktober 2011.

tahun 1999 telah mengalami beragam macam variasi, karena - seperti halnya yang dijelaskan oleh pengasuh - bahwa emberio pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini adalah pondok pesantren Qur'an. 112 Materi-materi yang di ajarkan ialah seputar pembahasan tentang Al-Qur‟an dan sedikit membahas tentang fiqh dan nahwu. Namun dalam perkembangan selanjutnya, pondok pesantren yang telah berdiri kurang lebih 30 tahun ini melebarkan sayapnya dengan mendirikan lembaga-lembaga baru baik formal maupun nonformal, yaitu MTs, MA, Awwaliyah, Wustho, dan „Ulya, hal ini dengan mempertimbangankan bahwa semakin banyaknya santri yang mondok di pondok pesantren ini. Dengan penambahan lambaga-lembaga di atas, menuntut pihak pondok pesantren untuk menambah/mengembangkan kurikulumnya, seperti MTs dan MA yang mengikuti kurikulum yang dikembangkan oleh Depertemen Agama yang sekarang menjadi Kementrian Agama, kemudian Awwaliyah, Wustho, dan „Ulya yang mengikuti kurikulum dari LP. Ma‟arif. Dengan penambahan-penambahan kurikulum di atas, pondok pesantren di mana penelitian ini dilakukan sampai sekarang masih eksis mempertahankan ciri khas yang dimilikinya, yaitu dengan mempertahankan kurikulum lama yang ada lebih dulu yaitu pengkajian materi-materi yang berhubungan dengan Al-Qur‟an.

2. Perkembangan Kurikulum Pendidikan Mulai Tahun 2000-2010

Untuk merealisir tujuan pondok pesantren, maka tidak lain harus melalui suatu tindakan yang baik. Dalam arti harus menerapkan suatu konsep dan langkah

kebijaksanaan dengan penuh pertimbangan, perhitungan, dan perencanaan serta

langkah yang sangat tepat. Menurut Eisner, seperti yang dikutip oleh S. Nasution kurikulum dapat dipandang sebagai : 113

a) Pengembangan proses kognitif;

b) Teknologi;

c) Humanistis atau aktualisasi diri anak;

112 Hasil Wawancara Dengan KH. Muharror Ali Sebagai Pengasuh Pondok Pesantern Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 7 Oktober 2011.

113 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993), Cet

d)

Rekontruksi sosial;

e) Akademik.

Berbicara tentang kurikulum memang tidak pernah ada henti-hentinya karena ia merupakan segenap pengalaman belajar yang harus dilalui dalam proses pendidikan. Sedangkan pengalaman belajar itu sendiri senantiasa mengalami

penyempurnaan selaras dengan perkembangan zaman serta tantangan-tantangan yang bakal dihadapi di masa depan. Kurikulum yang digunakan di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini tidak jauh beda dari kurikulum yang digunakan di pondok pesantren pada

umumnya. Akan tetapi dalam perkembangan yang terjadi dalam satu dekade terakhir (2000-2010) memunculkan kurikulum baru yang menjadi salah satu kebutuhan bagi santri-santri Khozinatul Ulum dan yang bertujuan agar nantinya setelah keluar dari pondok pesantren santri-santri tersebut mempunyai tidak hanya kemampuan dalam hal agama saja akan tetapi juga ketrampilan-ketrampilan yang sesuai dengan skill dan bakat masing-masing. 114 Dalam satu dekade terakhir pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini telah melengkapi kurikulumnya sebagai berikut:

a) Seni baca Al-Qur‟an, ada pada tahun 2001;

b) Menjahid/Bordir, ada pada tahun 2005;

c) Tataboga ada pada tahun 2005;

d) Kursus Elektronik, ada pada 2008;

e) Kursus Bahasa Arab, ada pada tahun 2008;

f) Kursus Bahasa Inggris ada pada tahun 2008.

g) Computer dan Internet, ada pada tahun 2009;

h) Pelatihan Kepemimpinan, Jurnalistik dan Pelatihan-pelatihan lain, ada pada

tahun 2010. Sebelumnya, pondok pesantren ini juga telah melengkapi lembaganya dengan penyuluhan-penyuluhan tentang peternakan dan mengadakan seni hadroh. Seni baca Al-Qur‟an atau qiro‟ah yang biasanya dilaksanakan setelah santri

114 Hasil Wawancara Dengan Moh. Ma‟shum Aly Sebagai Seksi Pendidikan, di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 8 Oktober 2011.

melaksanakan shalat jum‟ah dalam rangka mengisi waktu luang, sebab pada hari itu umumnya pondok pesantren diliburkan. Kemudian pembelajaran komputer dan internet dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan, pembalajaran komputer ini diprioritaskan pada santri Khozinatul Ulum yang masih sekolah dijenjang MTs atau MA. Menjahid, bordir dan tataboga ini khusus diberikan pada santri putri. Pelatihan kepemimpinan, jurnalistik, dan pelatihan-pelatihan lain ini biasanya dilaksanakan pada hari libur semesteran atau peringatan hari besar Islam. 115 Kursus elektronik, kursus bahasa Arab dan Inggris juga menjadi pelengkap lembaga pendidikan yang sudah berdiri kurang lebih 30 tahun ini, kursus dilakukan di luar jam sekolah dan waktu yang telah ditentukan, tujuannya agar santri yang mempunyai bakat dalam bidang tersebut dapat mengembangkan dan memaksikalkan kemampuannya semaksimal mungkin dan tentu saja nantinya agar dapat menjadi orang yang benar-benar mahir dalam bidang yang ditekuninya. Tenaga-tenaga pendidiknya juga diambil dari sebagian santri senior yang ada di pondok pesantren tersebut yang dulunya pernah dikirim ke Pare Kediri untuk mendalami bahasa Arab dan Inggris tentunya. 116 Kurikulum yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora secara menyeluruh dapat dikatakan berkembang, karena tidak hanya materi tentang ilmu agama saja yang diajarkan akan tetapi juga menganggap perlu adanya materi tentang ilmu umum, bahkan ketrampilan-ketrampilan serta pengembangan bakat dan minat. Semua ini tidak lain adalah untuk membekali santri bila kelak mereka di masyarakat. Namun waktu pelaksanaan proses pembelajaran yang disediakan di pondok pesantren ini masih kurang seimbang antara ilmu-ilmu keislaman (kajian kitab-kitab salaf, Al-Qur‟an, dsb.) dengan ilmu-ilmu umum, ini terlihat dari pelaksanaan pembelajaran - komputer dan internet, menjahid/bordir, tataboga, pelatihan kepemimpinan, jurnalistik dan pelatihan-pelatihan lain, kursus elektronik, kursus bahasa Arab dan Inggris - yang hanya dilaksanakan pada

115 Hasil Wawancara Dengan Moh. Ma‟shum Aly Sebagai Seksi Pendidikan, di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 8 Oktober 2011. 116 Hasil Wawancara Dengan Tri Sugiyanto Sebagai Ketua di Pondok Pesantern Khozinatul Ulum Blora, dikutip tgl 8 Oktober 2011.

waktu-waktu tertentu saja. Seperti contoh pelatihan kepemimpinan, jurnalistik dan pelatihan-pelatihan lain hanya dilaksanakan pada hari libur semesteran dan hari besar Islam saja. Sedangkan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin, menurut M. Sulthon Masyhud, dkk. kurikulum pendidikan agama Islam harus seimbang antara ilmu agama dan ilmu umum. 117

D. Perkembangan Sarana Prasarana Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum

1. Perkembangan Sarana Prasarana Pendidikan Mulai Tahun 1981-1999

Pada awal berdirinya pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini yaitu pada tahun 1981 sarana prasarana yang ada hanyalah kediaman pengasuh pondok pesantren (ndalem), masjid, dua asrama yaitu satu untuk santri putra dan satu lagi untuk santri putri dan satu kamar mandi. Masjid adalah satu-satunya tempat untuk melaksanakan semua kegiatan pendidikan. Seperti halnya aula/auditorium, gedung-gedung pendidikan, pelebaran masjid, penambahan asrama, ikut berkembang seiring dengan adanya lembaga- lembaga pendidikan yang berdiri di bawah naungan pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini. Sarana prasarana yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini

secara keseluruhan mulai dari awal berdiri yaitu tahun 1981 sampai tahun 1999 mencerminkan suatu tatanan lembaga pendidikan yang ideal, perkembangannya sangat pesat sekali, hal ini terlihat dari semua sarana prasarana yang ada sudah dapat dikatakan lengkap seiring dengan berdirinya lembaga-lembaga baru seperti tersebut di atas. Dalam rentang kurun waktu kurang lebih 3 tahun dari awal berdirinya, pondok pesantren ini telah melengkapi lembaga-lembaga

117 M. Shulthon Masyhud, dkk., Manajemen Pondok Pesantren, Cet. II, (Jakarta : Diva Pustaka, 2004), hlm. 73

pendidikannya dengan sarana prasarana yang dapat dianggap cukup lengkap dan memadahi.

2. Perkembangan Sarana Prasarana Pendidikan Mulai Tahun 2000-2010

Sarana dan prasarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu pendidikan dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih. Manajemen prasarana dan sarana sangat diperlukan dalam menunjang tujuan pendidikan yang sekaligus menunjang pembangunan nasional, oleh karena itu diperlukan pengetahuan dan pemahaman konseptual yang jelas agar dalam implementasinya tidak salah arah dan dapat menunjang proses belajar mengajar. Sarana dan prasarana diibaratkan sebagai motor penggerak yang dapat berjalan dengan kecepatan sesuai dengan keinginan oleh penggeraknya. Begitu pula dengan pendidikan, sarana dan prasarana sangat penting karena dibutuhkan. Sarana dan prasarana pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar. Sarana prasarana yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum ini dapat dikatakan hampir semuanya berkembang dan hanya sebagian kecil saja yang belum. Di sini peneliti hanya menganalisis sarana prasarana yang peneliti anggap perlu saja, seperti halnya masjid, asrama santri, perpustakaan, gedung-gedung, dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya dalam tabel sebagai berikut: 118

118 Hasil Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, dikutip pada tgl 3 Oktober 2011.

Tabel 4. 3

Sarana Prasarana Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren

Khozinatul Ulum Blora

   

Berkembang

No

Uraian

Pada Tahun

1

Masjid

2010

2

Asrama Santri Putra Non Tahfidz

2009

3

Aula Santri Putra

2006

4

Aula Santri Putri

2002

5

Perpustakaan Multimedia

2001

6

Perpustakaan Non Multimedia (Umum)

2001

7

Koperasi Santri Putra

2008

8

Koperasi Santri Putri

2001

9

Asrama Santri Putra Tahfidz

2010

10

Asrama Santri Putri Tahfidz

2004

11

Asrama Mahasiswa Putra

2010

12

Asrama Mahasiswa Putri

2010

13

Asrama Anak-anak Purta/Putri

2010

14

Gudang Penyimpanan

2009

15

Gedung MI

2011

16

Gedung MTs

2005

17

Gedung MA

2005

18

Gedung Sekolah Tinggi Agama

2010

19

Kantor MI

2011

20

Kantor MTs

2005

21

Kantor MA

2005

22

Laboratorium Bahasa

2011

23

Laboratorium Komputer

2011

24

Poskestren

2008

25

Kandang Ternak

2006

26

Pabrik Tahu

2008

Namun dengan adanya perkembangan tersebut di atas tidak serta merta di barengi dengan perawatan dan perhatian khusus. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya gedung yang rusak ringan, banyaknya coratan di dinding-dinding gedung, bangku dan meja sekolah yang tak terawat serta masih banyak lagi, khususnya yang berkaitan dengan perawatan. Pemanfaatan wifi selain untuk mengakses informasi-informasi dari luar, juga untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah, karena LKS yang digunakan di sekolah tersebut untuk saat ini sudah memakai LKS yang sebagian materinya mengharuskan menggunakan wifi. Namun pemanfaatan wifi tersebut belum bisa dimaksimalkan. Salah satu faktornya adalah tidak semua tenaga pengajar di sekolah memiliki kemampuan untuk mengoprasikannya.

E. Faktor-faktor Terjadinya Perkembangan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa perkembangan-perkembangan yang terjadi mulai dari perkembangan lembaga, kurikulum, dan sarana prasarana tidak terjadi begitu saja, akan tetapi perkembangan tersebut didasari oleh beberapa faktor : 119

1. Keinginan dari pengasuh pribadi untuk mengembangkan pesantren agar pesantren tersebut dapat dijangkau oleh semua kalangan. Sebab embrio pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini adalah pondok pesantren Qur‟an.

2. Agar dapat menyesuaikan dengan zaman, dalam arti kebutuhan santri dalam hal pengetahuan - menurut pengasuh - di era globalisasi ini tidak sama dengan kebutuhan santri 50 tahun yang lalu.

3. Mengembangkan bakat dan minat santri agar setidaknya nantinya alumni pondok pesantren Khozinatul Ulum ini bisa ikut serta berperan di masyarakat, sebab menurut pengasuh tidak semua santri yang nyantri di pondok pesantren tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang kyai.

119 Hasil Wawancara Dengan Beberapa Informan di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora dan Masyarakat Setempat, dikutip tgl 7, 8, dan 9 Oktober 2011.

4. Desakan masyarakat setempat agar pondok pesantren Khozinatul Ulum tersebut untuk melengkapi lembaga pendidikannya sampai ke perguruan tinggi.

5. Belum adanya lembaga pendidikan agama Islam yang setingkat dengan SD di sekitar pondok pesantren.

6. Banyaknya santri kecil yang masih se-usia SD juga menjadi salah satu faktor terjadinya perkembangan.

7. Ingin menciptakan lembaga pendidikan yang dapat memberikan berbagai bidang ilmu agama maupun umum untuk semua usia.

8. Mengingat banyaknya santri yang telah menamatkan studinya dan ingin meneruskan ke perguruan tinggi.

9. Ingin memberikan bekal kepada santri, yaitu bekal ijasah agar nantinya para alumni bisa ikut serta berperan dan tentunya berguna bagi agama bangsa dan Negara.

10. Kenyamanan dalam melaksanakan pendidikan agama juga menjadi salah satu

faktor terjadinya perkembangan. Karena nyaman dan tidaknya proses belajar mengajar juga menjadi faktor tercapainya tujuan pendidikan. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan faktor terjadinya perkembangan tersebut di atas lebih didominasi oleh faktor internal saja, sebab menurut pengasuh, masyarakat di sekitar pondok pesantren masih belum banyak yang ikut serta menyumbangkan pikiran-pikiran mereka dalam memajukan pendidikan di pondok pesantren, masyarakat di sekitar pondok pesantren lebih

banyak yang sekedar ikut saja dalam hal tersebut, namun hampir semua anak-anak mereka bertholabul ilmi di pondok pesantren ini.

Kurangnya ikut serta masyarakat dalam perkembangan-perkembangan di atas dapat menjadikan keterlambatan pondok pesantren dalam pengembangan- pengembangan lebih lanjut, dalam hal ini setidaknya pondok pesantren harus dapat menampung aspirasi masyarakat untuk memajukan pendidikan agama di pondok pesantren Khozinatul Ulum ini.

Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora sebagai lembaga pendidikan

Islam memiliki peranan penting untuk mencetak kader-kader mendatang para

pemuda yang benar-benar ahli dalam bidang agama dan umum. Untuk itu, di

pesantren ini sebagian besar mengajarkan ilmu-ilmu agama dan umum kepada

santri untuk membekali santri bila kelak mereka di masyarakat.

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti laksanakan di lapangan,

maka peneliti dapat menyimpulkan tentang “Perkembangan Pelaksanaan

Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora” sebagai

berikut:

1. Perkembangan lembaga pendidikan agama Islam di pondok pesatren

Khozinatul Ulum Blora ini bisa dakatakan sangat pesat dan hampir mendekati

kesempurnaan. Dalam satu dekade terakhir ada dua lembaga pendidikan yang

berdiri yaitu MI (madrasah ibtidaiyyah) dan STIU (sekolah tinggi ilmu

ushuluddin). Dalam jangka waktu kurang lebih tiga dekade 1981-2011

pondok pesantren tersebut telah dilengkapi dengan beberapa lembaga

pendidikan agama, mulai dari Madrasah Diniyyah (awwaliyah, wustha, ulya),

Madrasah (MI, MTs, MA), sampai jenjang perguruan tinggi agama. Namun.

2. Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora tersebut tidak hanya berkembangan

dalam hal lembaga saja, akan tetapi kurikulum dan sarana prasarana juga ikut

berkembang. Saat ini pendidikan yang disuguhkan tidak hanya seputar

pendidikan agama saja akan tetapi juga pendidikan umum, ketrampilan,

pelatihan-pelatihan dan kursus-kursus. Sarana prasarana pun ikut berkembang

untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan.

3.

Perkembangan yang ada di pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora ini

tidak semata-mata terjadi dengan sendirinya, akan tetapi semua itu terjadi karena adanya beberapa faktor :

a. Keinginan dari pengasuh pribadi untuk mengembangkan pesantren agar pesantren tersebut dapat dijangkau oleh semua kalangan. Sebab embrio pondok pesantren Khozinatul Ulum tersebut adalah pondok pesantren Qur‟an.

b. Mengembangkan bakat dan minat santri agar nantinya setidaknya alumni pondok pesantren Khozinatul Ulum ini bisa ikut serta berperan di masyarakat, sebab menurut pengasuh tidak semua santri yang nyantri di pondok pesantren tersebut bercita-cita ingin menjadi seorang kyai.

c. Belum adanya lembaga pendidikan agama setingkat SD di sekitar pondok pesantren.

d. Banyaknya santri kecil yang masih se-usia SD juga menjadi salah satu

faktor terjadinya perkembangan.

e. Ingin menciptakan lembaga pendidikan yang dapat memberikan berbagai bidang ilmu agama maupun umum untuk semua usia. Pondok pesantren seperti di atas menurut peneliti berorientasi pada pendidikan sepanjang waktu (full day learning), berkomitmen tafaqquh fi al-din, menerapkan metode-metode transformatif, dan pendidikan yang berbasis pada masyarakat (community based education). Demikian, format ini ditemukan pada pondok pesantren yang menyeimbangkan antara pendidikan agama dan

pendidikan umum serta dilengkapi dengan berbagai pendidikan ketrampilan di dalamnya. Pondok pesantren demikian yang menggunakan pendekatan integratif akan mampu memenuhi tuntutan dan permintaan masyarakat berkembang sekarang ini karena hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan dan keselarasan antara aspek dunia dan akhirat.

B. Saran-saran Setelah selesai dari penyusunan skripsi ini, berdasarkan hasil dari observasi di lapangan, berikut ini akan peneliti cantumkan beberapa saran dalam

rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik pada pondok

pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Adapun saran-saran dari penulis adalah sebagai berikut:

1. Melihat berbagai faktor yang memotivasi lahirnya ide-ide perkembangan

sekarang ini, hendaknya pihak pesantren mampu menyerap secara positif dan

mampu mengambil keputusan secara bijak hal-hal apa saja yang menuntut

harus diperbaharui dan hal-hal apa-apa saja pula yang mesti di pertahankan.

Semangat دِ اَ لْ اَ لْ دِ لْ دِ اَ لْا دِ مُ لْ اَ لْ اَ دِ دِ ا لصَّ ا دِ لْ دِ اَ لْا

ل اَ اَ

مُ اَ اَا اَ

مُ لْا اَ

harus terus digelorakan

supaya nilai-nilai dan tradisi pesantren yang sudah ada tidak tergerus oleh

arus perubahan.

2. Pondok pesantren merupakan lembaga pusat penyebaran dan pendidikan

Islam, serta sebagai lembaga sosial kemayarakatan, sangat diharapkan agar

senantiasa memperbarui sistem pendidikannya yang diterapkan secara praktis

dalam proses belajar mengajarnya, sesuai dengan kemajuan jaman, ilmu

pengetahuan, teknologi dan kebutuhan manusia pada umumnya. Agar tetap

mampu melaksanakan tugas, fungsi dan peranannya sesuai dengan

kedudukannya dan eksistensinya untuk sepanjang masa.

3. Di dalam pesantren banyak mengandung nilai-nilai positif dan potensial. Oleh

karena itu sangat perlu untuk diteruskembangkan agar lebih berdaya dan

berhasil guna. Dengan demikian, maka akan lebih mencerminkan

kedudukannya baik sebagai sistem pendidikan Islam maupun sebagai mata

rantai sistem pendidikan nasional, secara utuh dan menyeluruh.

4. Dalam melaksanakan perkembangan pendidikan di pesantren hendaknya

selalu mendasarkan pada konsep-konsep serta amanat yang telah digariskan

oleh para ahli maupun pemerintah. Dan harus memperhatikan pula nilai dan

kultus pesantren itu sendiri, sehingga dengan keberhasilan yang dicapai tidak

akan memusnahkan ciri kepesantrenannya.

5. Melihat parameter tujuan setiap santri berbeda-beda, meskipun mereka semua

awal niatnya adalah tholabul „ilmi, maka sebenarnya faktor ini juga

membawa pengaruh terhadap maju atau mundurnya sebuah pesantren. Para

santri yang kukuh dalam niatnya, berdisiplin tinggi, ikhlas, mandiri, dan aktif

dalam kegiatan pesantren akan mudah untuk diajak kearah pembaharuan, namun sebaliknya jika para santri yang tidak jelas niat mondok-nya, tidak disiplin, pamrih, tidak mandiri dan malas mengikuti kegiatan pesantren akan menjadi penghambat pesantren menuju pembaharuan. Oleh sebab itu langkah taktisnya adalah lebih menekankan pada aspek kedisiplinan, misalnya tata tertib yang efektif dan lain sebagainya.

6. Mengingat cara pandang masyarakat sekarang ini yang belum sepenuhnya percaya pada pendidikan pesantren, maka perlu diupayakan sebuah pola komunikasi interaktif yang mengatur hubungan pesantren dan masyarakat pada umumnya. Demikian, akan terjalin hubungan yang harmonis diantara keduanya yang diharapkan pendidikan pesantren akan mendapatkan dukungan penuh dari mereka.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Madjid, dan Dian Andayani, S.Pd, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung :

PT. Rosda Karya, 2006)

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet 12, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002)

Chirzin, M. Habib, “Pesantren Selalu Tumbuh dan Berkembang”, dalam Kata Pengantar M. Dian Nafi‟, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Yogyakarta : Instite For Trining and Development (ITD) Amhers MA, Forum Pesantren Yayasan Salasih, 2007)

, “Agama dan Ilmu dalam Pesantren”, dalam M. Dawam Rahardjo,

Pesantren dan Pembaharuan, cet. V, (Jakarta : LP3ES, 1995)

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren Memadu Modernitas Untuk Kemajuan Bangsa, (Yogyakarta : Pesantren Nawesea Press, 2009)

Khodim Al-Haramain Asy Syarifain, Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Madinah Al- Munawwarah : Lit Tiba't Al-Mush-haf Asy Syarif, 1990)

Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid IV, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010)

, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid V, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010)

, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid VI, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010)

, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid IX, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010)

, Al-Qur'an dan Tafsirnya Jilid X, (Jakarta : Lentera Abadi, 2010)

Effendi, Djohan, “Pesantren dan Kampung Peradaban”, dalam Pengantar Hasbi Indra, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta : PT. Permadani,

2003)

Haedari, HM. Amin, dkk, Masa Depan Pesantren dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta : Ird Press, 2004)

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research I, (Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM, 1997)

Indra, Hasbi, Pesantren dan Transformasi Sosial, (Jakarta : Penamadani, 2003)

Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, (Semarang :

RaSAIL Media Group, 2008)

,

dkk,

“Mengurai

Anatomi

Pesantren

dan

Madrasah”,

dalam

Pengantar Editor Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta :

Pustaka Pelajar, 2002)

J. Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. XXII, (Bandung : PT. Pemaja Rosdakarya, 2006)

Junaedi,

Mahfud,

Ilmu

Pendidikan

Islam:

Filsafat

dan

(Semarang : RaSAIL Media Group, 2010)

Pengembangan,

Madjid, Nurcholish, Bilik-bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta :

Paramadina, 2007)

Malikatun, “Studi Analisis Tentang Proses Pembaharuan Pendidikan di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus”, Skripsi ( Kudus: Jurusan Tarbiyah STAIN, 2000)

Muthohar, AR. Ahmad, Ideologi Pendidikan Pesantren; Pesantren di Tengah

(Semarang : Pustaka Rizki Putra,

Arus Ideologi-Ideologi Pendidikan,

2007)

Masyhud, M. Shulthon, dkk., Manajemen Pondok Pesantren, Cet. II, (Jakarta :

Diva Pustaka, 2004)

Mulyana, Deddy, Metode Penelitian Kualitatif, Cet. VII, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010)

Nafi‟, M. Dian, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Jogjakarta : Instite For Trining and Development (ITD) Amhers MA, Forum Pesantren Yayasan Salasih, 2007)

Nur Uhbiyati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam I (IPI), (Bandung :

Pustaka Setia, 1997)

Qodri Abdillah Azizy,

“Memberdayakan Pesantren dan Madrasah”,

dalam Pengantar Dinamika Pesantren dan Madrasah, (Yogyakarta :

Pustaka Pelajar, 2002)

Ahmad,

Qomar, Mujamil, Pesantren Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta : Erlangga, 2002)

Saifuddin,

Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset IKAPI, 1998)

Suyoto, “Pondok Pesantren dalam Alam Pendidikan Nasional”, dalam M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, cet. V, (Jakarta : LP3ES, 1995)

Sudjana, Nana,

Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Cet. III,

(Bandung : Sinar Baru Algesindo, 1996)

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D), (Bandung : Alfabeta, 2008)

S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995)

, Pengembangan Kurikilum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,

1993)

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, (Pendidikan Alternatif Masa Depan), Cet. I, (Jakarta : Gema Insani Press, 1997)

Yanto, Sri, “Profil Pondok Pesantren Pendidikan Islam (PPPI) Miftahussalam Banyumas (Analisis Relevansi Kurikulum Pesantren dengan Kebutuhan Masyarakat)”, Skripsi, (Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo,

2002)

Yasmadi, Modernisasi Pesantren (Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional), (Jakarta : Quantum Teaching, 2005)

Dokumentasi Pondok pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Observasi di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Wawancara Dengan KH. Muharror Ali, Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Wawancara

Dengan

H.

A.

Zakky

Fuad,

Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Sebagai

Wakil

Pengasuh

Pondok

Wawancara Dengan Tri Sugiyanto, Sebagai Ketua Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Wawancara Dengan Moh. Ma‟shum Aly, Sebagai Seksi Pendidikan Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

Wawancara Dengan Bp.

Lilik

Mahzun dan

Bp.

M.

Ali

Ma‟mun,

Sebagai

Masyarakat Sekitar Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1

: Keadaan Santri di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum

Table 4.2

Blora. : Daftar Kitab-kitab Salaf Yang Diajarkan di Pondok

Table 4.3

Pesantren Khozinatul Ulum Blora. : Sarana Prasarana Pendidikan Agama Islam di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Surat Keputusan dan Susunan Kepengurusan Santri Putra Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora Masa Khidmat 1432-

1433

H/2011-2012 M.

Lampiran 2

: Surat Keputusan dan Susunan Kepengurusan Santri Putri

Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora Masa Khidmat 1432-

1433

H/2011-2012 M.

Lampiran 3

: Undang-undang (tata tertib) Pondok Pesantren khozinatul Ulum

: Surat Penunjukan Pembimbing

Lampiran 4

Blora. : Daftar Tenaga Pengajar di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum

Lampiran 5

Blora. : Chek List Observasi Lembaga Pendidikan Agama di Pondok

Lampiran 6

Pesantren Khozinatul Ulum Blora. : Chek List Observasi Kurikulum Pendidikan Agama di Pondok

Lampiran 7

Pesantren Khozinatul Ulum Blora. : Chek List Observasi Sarana Prasarana Pendidikan Agama di

Lampiran 8

Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora. : Bukti dan Hasil Wawancara di Pondok Pesantren Khozinatul

Lampiran 9

Ulum Blora.

Lampiran 10

: Surat Izin Riset

Lampiran 11

: Surat Keterangan Riset

Lampiran 12

: Sertifikat PASSKA Institut

Lampiran 13

: Sertifikat PASSKA Fakultas

Lampiran 14

: Sertifikat KKN

Lampiran 15

: Sertifikat Kursus Bahasa Inggris