Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM KLINIK: PEMERIKSAAN AIR SENI (URINE

ANALYSIS)
Dr, Suparyanto, M.Kes

JENIS URINE





Urine sewaktu: urine yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan (sewaktu-
waktu)
Untuk pemeriksaan warna, kejernihan, bilirubin, pH
Urine pagi: urine yang dikeluarkan pd waktu pagi hari setelah bangun tidur
Untuk pemeriksaan: berat jenis, protein, sedimen
PENGAMBILAN URINE

WADAH
Bermulut lebar dan dapat ditutup rapat
Harus bersih dan kering
Wadah diberi label: nama, nomor dan tanggal


VOLUME
20 ml, kecuali untuk berat jenis = 50 ml
Harus segera diperiksa, jika ditunda simpan di lemari es (4oC), atau dalam termos es

WARNA URINE

Prinsip:
warna urine diuji pada ketebalan 7-10cm dengan cahaya tembus
Tujuan:
mengetahui warna urine
Persiapan:
Px dilarang makan/minum obat yang memberi warna urine: B-komplek, rifampisin,
piramidon dll

Alat yang diperlukan: tabung reaksi

Cara pemeriksaan:
Isi tabung reaksi dengan urine nya
Dilihat dlm posisi miring dng penerangan matahari

Pelaporan:
Tidak berwarna, kuning muda, kuning kemerahan, putih susu
Nilai normal: kuning muda kuning tua

KEJERNIHAN
Prinsip: memeriksa kejernihan urine secara langsung
Tujuan: menentukan apakah urine telah keruh pada saat dikeluarkan atau setelah
didiamkan
Persiapan: pasien jangan terlalu banyak makan protein

Cara pemeriksaan:
Masukan urine kedlm tabung reaksi, nya
Dilihat dng latar belakang hitam, dengan sinar matahari
Dilihat kejernihanya, apakah ada kekeruhan
Pelaporan: jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh
Nilai normal: Tidak berwarna/jernih

PEMERIKSAAN BERAT JENIS URINE
Prinsip: memeriksa berat jenis urine dengan alat urinometer
Tujuan: mengetahui kepekatan urine
Alat yang diperlukan:
1. Urinometer
2. Gelas ukur 50 ml
3. Termometer 0o-50oc

Cara pemeriksaan:
Baca dan catat suhu tera yang tercantum pada alat urinometer, kemudian baca suhu
kamar
Tuang urine ke gelas ukur 50 cc
Masukan urinometer kedlm gelas ukur, usahakan bebas terapung
Baca berat jenis setinggi miniskus bawah (3 angka dibelakang koma)

Perhitungan:
Jika suhu urinometer berbeda dengan suhu kamar, lakukan koreksi perbedaan 3oC,
suhu kamar melebihi sushu tera berat jenis ditambah 0,001, dibawahnya dikurangi
0,001
Contoh: suhu tera 30oC, urine 33oC urinometer 1,004 berat jenis urine 1,004 +
0,001 = 1,005
Nilai normal: 1,003 1,030

PEMERIKSAAN DERAJAT KEASAMAN URINE
Prinsip: perubahan warna kertas lakmus dalam suasana keasaman tertentu
Tujuan: mengetahui pH urine
Alat yang dipakai: kertas lakmus merah biru

Cara pemeriksaan:
Kertas lakmus merah atau biru dibasahi urine
Tunggu 1 menit, perhatikan perubahan warna yang terjadi
Pelaporan:
Urine asam: lakmus biru merah
Urine basa: lakmus merah biru
Urine netral: lakmus merah/biru tidak berubah warna

PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE
Prinsip: Berat jenis unsur organik anorganik > BJ urine dengan sentrifuge zat-zat tsb
akan mengendap
Tujuan: menentukan unsur sedimen organik anorganik dlm urine secara mikroskopis
Persiapan px: dilarang makan obat sulfa

Cara pemeriksaan:
Kocok urine dalam botol agar sedimen merata
Masukan urine dalam tabung sentrifuge 10 15 cc sentrifuge selama 5 menit dengan
kecepatan 2000 rpm
Tuang bagian atas urine tinggal 0,5 1 cc kocok kembali sedimen
Tuang dalam obyek glass, tutup dengan cover glass periksa dibawah mikroskop

Hasil yang mungkin ditemukan:
Sel epitel, eritrosit, lekosit, silinder, kristal, jamur, trikomonas, spermatozoa
Nilai normal:
Eritrosit: 0 1 / LP
Leukosit: 0 3 / LP
Lain lain:
+ : bila jumlahnya sedikit
++ : bila jumlahnya banyak
+++ : bila jumlahnya banyak sekali

PEMERIKSAAN PROTEIN URINE
Prinsip: terjadi endapan urine jika direaksikan dengan asam sulfosalisilat
Tujuan; menentukan adanya protein dalam urine
Alat yang diperlukan:
1. Tabung reaksi dan rak
2. Pipet

Cara pemeriksaan:
2 tabung reaksi A & B diisi urine 2cc
Tabung A + 8 tetes asam sulfosalisilat 20 % goyang perlahan agar campur
Kekeruhan dilihat dengan latar belakang gelap, bandingkan dengan tabung B

Hasil:
1. Negatif : tidak ada kekeruhan
2. Positif + : kekeruhan ringan tanpa butiran
3. Positif ++ : kekeruhan dengan butiran
4. Positif +++ : kekeruhan dengan kepingan
5. Positif ++++ : kekeruhan dengan gumpalan

PEMERIKSAAN BILIRUBINE URINE
Prinsip: oksidasi pigmen empedu oleh asam biliverdin (hijau) atau bilisianin (biru)
atau choletelin (ungu)
Tujuan; mengetahui adanya bilirubin dalam urine
Persiapan px; dilarang minum obat pyridin

Alat yang digunakan:
1. Corong kaca,
2. Kertas saring,
3. Tabung reaksi dan rak
4. Reagen:
5. Barium klorit 10 %
6. Reagen Fouchet

Cara pemeriksaan
Masukan urine dlm tabung reaksi 5cc + 5cc barium klorit 20 %
Campur lalu saring dengan kertas saring
Kertas saring dengan endapan dikeringkan
Tetesi endapan dengan reagen fouchet 2-3 tetes
Perhatikan perubahan warna
Hasil:
Positif : ada warna hijau
Negatif : tidak ada warna hijau

PEMERIKSAAN REDUKSI URINE
Prinsip: glukosa dapat mereduksi ion cupri dalam larutan alkalis terjadi perubahan
warna dari hijau merah
Tujuan: menentukan adanya glukose dalam urine
Persiapan px:
Dilarang minum obat vit.C, salisilat, sterptomisin memberi hasil positif palsu

Alat yang digunakan:
1. Tabung reaksi
2. Pipet
3. Lampu spiritus
4. Penjepit tabung
5. Reagen:
6. Fehling
7. Benedict

Cara pemeriksaan (Metode Benedict):
Masukan 2,5cc reagen benedict kedlm tabung reaksi
Tambahkan urine 4 tetes
Panaskan dalam air mendidih 5 menit atau dengan api spiritus 2 menit, jaga jangan
sampai mendidih
Angkat tabung dan baca hasilnya

Hasil:
1. Negatif : tetap biru atau kehijauan
2. Positif +: hijau kekuningan keruh
3. Positif ++: kuning keruh
4. Positif +++: Jingga atau lumpur keruh
5. Positif ++++: Merah bata keruh

PEMERIKSAAN GALLI MAININI TEST
Prinsip: menemukan spermatozoa dlm urine katak jantan yg dirangsang oleh HCG urine
Tujuan: mengetahui kehamilan dng menggunakan katak jantan
Persiapan: katak jantan yg dipergunakan tidak boleh mengandung sperma dng pipet
diambil cairan di lubang pengeluaran periksa mikroskop jika ada sperma tidak
boleh dipakai

Alat yg digunakan:
Spuit 5cc, Kaca obyek, Mikroskop
Cara pemeriksaan:
Urine 5cc disuntikan sc di perut 1 cm didepan cloaca lepas ditoples berisi air
1 jam kmdn periksa urine katak, jika tdk ada sperma periksa 1 jam lagi
Jika ada sperma GM (+), jika tidak GM (-)

PEMERIKSAAN TES KEHAMILAN IMUNOLOGIK
Tujuan: untuk mengetahui kehamilan dengan tes serologi
Prinsip:
1. Reaksi hambatan aglutinasi antara antibodi HCG dengan lateks (reagen) oleh HCG
2. Lateks akan diendapkan oleh antibodi HCG
3. Adanya HCG bebas dalam urine antibodi akan dinetralkan sehingga pengendapan
tidak terjadi
Alat yg diperlukan:
Kaca obyek, pipet, pengaduk
Reagen:
Antibodi HCG serum, HCG-lateks (antigen)
Cara pemeriksaan:
1 tetes urine + 1 tetes anti serum pada kaca obyek aduk
Tambah 1 tetes antigen goyang baca
Hasil
Positif: tidak ada penggumpalan
Negatif: ada penggumpalan

REFERENSI
1. Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry
2. Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC
3. Wirahadikusumah, 1985, Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid, Bandung, ITB
4. Harjasasmita, 1996, Ikhtisar Biokimia Dasar B, Jakarta, FKUI
5. Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul, Bandung, Alfabeta
6. Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia, Bandung, UI Press
7. Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas,Jakarta,Depkes

MENGUKUR BERAT JENIS URIN
Maret 5, 2012 oleh eviesetya
MENGUKUR BERAT JENIS URIN
Alat :
Urin 24 jam
Urometer berikut tabung
Bengkok
Tisu
Cara kerja :
1. Pegang tabung urometer, letakkan bengkok dibawahnya
2. Tuang urin yang telah diaduk secara berlahan kedalam urometer sambil tabung dimiringkan agar
tidak timbul busa
3. Bila timbul busa, hilangkan dengan tisu
4. Urine dituang sampai urometer bisa mengapung
5. Baca angka yg tertulis dalam urometer tepat pada permukaan urin
Perhatian !
Bila urin tidak mencukupi dapat dilakukan pemeriksaan berat jenis urin campuran
CARA MEMERIKSA BARAT JENIS CAMPURAN
1. Berat campuran ( urin + air ) = ( berat jenis campuran ) x ( volume campuran )
2. Berat urin = (ber at campuran berat air )
3. Berat jenis urin = ( volume urin : berat urin )
Contoh
Volume urin yang ada = 50 cc
Air penambahnya = 25 cc
Bj campuran = 1008
Penghitungannya :
Berat campuran = BJ campuran x volume campuran
= 1008 x 75 = 75.600
Berat urin = berat campuran berat air
= 75.600g 25.000g = 50.600g
Bj urine = 50.600 / 50.000
= 1.012
disebabkan oleh
intake
cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun
( Wi r awan dkk. , 1983) . Ber at j eni s ya ng r endah i ni bi s a di s ebabkan
ol eh banyak minum, udara dingin, dan diabetes insipidus. Berat jenis yang tinggi disebabkan
olehdehidrasi, proteinuria, dan diabetes mellitus (Oka, 1998).Urinomter adalah hidrometer
untuk penentuan bobot jenis dari urine dan diterakhusus untuk penentuan tersebut.
Urinometer memiliki skala 1.0000-1.0060 (tiga desimal)dan umumnya dipergunakan
pada temperatur 60
o
F atau 15,5
o
C. Bila temperatur cairan yangakan dikur bukan 15,5
o
C, maka harus diadakan koreksi. Koreksi tersebut dilakukan dengan j al an
menambah angka s at u pada angka ket i ga di bel akang koma unt uk s et i ap 3
o
di at as temperatur peneraan atau mengurangi 1 angka pada angka ketiga di belakang
koma untuk setiap 3
o
di bawah temperatur peneraan. Rumusnya adalah sebagai berikut.FK =

x 0,001Keterangan :FK = faktor koreksiTk = temperatur cairan yang diukur Tp = temperatur
peneraan (tetera di urinometer)(Cholacha, 2008)
V . A l a t d a n B a h a n
a. Alat- U r o m e t e r - T a b u n g r e a k s i - G e l a s
u k u r - K e r t a s s a r i n g - S a r u n g t a n g a n -
T i s s u e


- M a s k e r b . B a h a n - S a m p e l u r i n -
E t h e r
V I . C a r a K e r j a
1.Urometer yang akan digunakan ditera dengan menggunakan akuadest2.Bila pada
peneraan tidak mendapatkan hasil 1,000 (misalkan 1,005), maka hasil akhir pembacaan
dikurangi 1,0053.Gelas ukur diisi dengan urin hingga bagian4.Buih yang terbentuk
dihilangkan dengan kertas saring atau dengan penambahansatu tetes
eter 5 . Ur o me t e r d i ma s u k k a n k e d a l a m g e l a s u k u r d a n d i p u a r p a d a
s u mb u p a n j a n g . Urometer tidak boleh menyentuh dinding gelas6.Meniskus dibaca
dimana 1 strip = 0,001
V I I . H a s i l
Pembacaan pada meniskus skala : 4 strip = 0,004Hasil akhir = 1,004.Koreksi terhadap suhu
ruangan kerja 32
0
C, yaitu dengan menggunakan rumus :FK =

x 0,001, di mana pada alat, Tp = 20
o
C= x 0,001= 0,004Jadi, BJ urin uji setelah dikoreksi menjadi 1,004 + 0,004 = 1,008.BJ urin
normal = 1,003 1,030


V I I I . P e m b a h a s a n
Pada pengujian berat jenis urin dilakukan dengan menggunakan alat yang
disebuturometer. Tujuan dari pengukuran berat jenis adalah untuk mengetahui
keadaan faal urin,dimana urin yang encer memiliki berat jenis yang rendah dan
sebaliknya urin yang pekatmemiliki berat jenis yang tinggi. Berat jenis yang rendah
ini bisa disebabkan oleh banyak mi num, udar a di ngi n, dan di abet es i ns i pi dus .
Ber at j eni s yang t i nggi di s ebabkan ol eh dehidrasi, proteinuria, dan diabetes
mellitus.Hal pertama yang dilakukan adalah menera urometer dengan menggunakan
akuadest,t u j u a n n y a u n t u k me n g k a l i b r a s i a l a t s e h i n g g a d i d a p a t k a n
d a t a y a n g v a l i d . Ur o me t e r di mas ukkan ke dal am akuades t dan di put ar ,
pengukur an di l akukan dengan pembacaan meniskus. Air memiliki berat jenis
1,000. Jadi jika hasil akhir yang didapatkan 1,000 makaurometer siap digunakan, jika
lebih dari 1,000 (misal 1,005) maka pada hasil akhir dikurangidengan nominal kelebihan tersebut
(dikurangi 0,005). Selanjutnya dilakukan pengujian padaur i n s ampel dengan car a
ur omet er di mas ukkan dan di put ar dal am ur i n s ampel , s et el ah urometer stabil,
lalu pengukuran dilakukan dengan membaca meniskus dan dilakukan padat empat
yang dat ar agar t i dak mempengar uhi has i l pengukur an. Has i l yang di dapat
pada pengukuran adalah 1,004 namun terdapat nilai koreksi pada suhu, dimana
setiap kenaikan3
o
C terdapat penambahan berat jenis sebanyak 0,001. Sehingga hasil akhi r yang
didapatsebesar 1,008. Jika dibandingkan dengan berat jenis urin normal (1,003-
1,030) maka urinsampel berada dalam keadaan normal.
I X . K e s i m p u l a n
Berat jenis urin sampel pada praktikum 1,008 dimana masih dalam rentang
normal(1,003-1,030)
DAFTAR PUSTAKA
Cholacha, Acef. 2010.
Kimia Analitik
. Available at : http://acef-cholacha.blogspot.com/2010/07/kimia-analitik.html (cited 7 Juni
2011)Oka, Tjok Gede. 1998.
Diktat Penuntun Praktikum Patologi Klinik
. Laboratorium PatologiKlinik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar Wirawan,
R., S. Immanuel, R. Dharma. 1983.
Penilaian Hasil Pemeriksaan Urin
. Bagi anPatologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM. Jakarta
Pengukuran Berat Jenis Urin Metode Refraktometer dan carik Celup
Berat jenis adalah perbandingan relatif antara massa jenis sebuah zat dengan massa jenis air
murni. Berat jenis urine tergantung dari jumlah zat yang larut di dalam urine atau terbawa dalam
urine. Berat jenis plasma (tanpa protein) adalah 1010, bila ginjal mengencerkan urine (misalnya
sesudah minum air), maka berat jenisnya kurang dari angka 1010. Bila ginjal memekatkan urine,
sebagaimana fungsi ginjal semestinya, maka berat jenis urine naik di atas 1010.
Pada praktikum kimia klinik kali ini adalah pemeriksaan Glukosa, Protein, Berat Jenis, dan
Enzim diastase dalam urine.
Berikut jurnal hasil praktikum:
1. GLUKOSA
Metoda : Benedict
Prinsip: Glukosa akan mereduksi CuSO4 dalam suasana basa kuat dan panas membentuk Cu2O
yang mengendap dan berwarna kuning sampai merah bata sebanding dengan kadar glukosa
dalam urin.
Pereaksi: Benedict, CuSO4.5H2O 17,3 gram, Na-Sitrat 173 gram, Na2CO3100 gram, Aquades
ad 1000 mL.
Cara Kerja:
1. Memasukkan 0,5 mL urin ke dalam tabung reaksi
2. Menambahkan 5 mL pereaksi Benedict
3. Mencampur sampai homogen dan dipanaskan dalam waterbath mendidih selama 5 menit
4. Diangkat dan disimpan pada rak kemudian didinginkan
5. Mengamati perubahan yang terjadi dan menentukan hasilnya.
Hasil Pemeriksaan yang mungkin terjadi:
1. Untuk kontrol kriterianya: Cairan biru jernih
2. Negatif kriterianya: Cairan biru jernih atau sedikit kehijauan dan tampak agak keruh (kadar 0
0,1)
3. Positif 1 kriterianya: Cairan hijau dengan Endapan Kuning (kadar 0,5 1)
4. Positif 2 kriterianya: Endapan kuning banyak (kadar 1 1,5)
5. Positif 3 kriterianya: Endapan orange (kadar 1,5 2,5)
6. Positif 4 kriterianya: Endapan merah bata (kadar 2,5 4)
Hasil: Cairan biru jernih berarti urin Riska adalah negatif.
2.PROTEIN
Metoda : Bang
Prinsip: Protein dalam urin akan membentuk kekeruhan atau gumpalan oleh asam karena
mendekati titik isoelektrik protein dibantu dengan pemanasan, sehingga terbentuk kekeruhan,
butiran, kepingan, atau gumpalan sesuai dengan banyaknya kandungan protein dalam urin.
Reagen (Bang): Na-Acetat 11,8 gram, Asam asetat pekat 5,85 mL, dan aquadest ad 100 mL.
Cara Kerja:
1. Memasukkan 5 mL urin ke dalam tabung reaksi
2. Menambahkan 0,5 mL pereaksi Bang
3. Mencampurkan sampai homogen dan dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 5
menit.
4. Mengangkat dan menyimpan pada rak kemudian didinginkan
5. Mengamati perubahan yang terjadi dengan menggoyangkan cairan dan mengamati kekeruhan
yang terjadi dan menentukan hasilnya.
Hasil Pemeriksaan yang mungkin:
1. Sebagai kontrol kriterianya: cairan jernih
2. Negatif kriterianya: tidak ada kekeruhan (kadarnya 0,5)
Hasil praktikum: Tidak ada kekeruhan berarti urin Riska adalah negatif.
3. Berat Jenis
cara Kerja:
1. Urin segar dimasukkan ke dalam labu urinometer sebanyak 3/4 bagian
2. Mencatat suhu tera Urinometer
3. Mengamati Skala pada urinometer
4. Mengukur suhu urin dengan thermometer
5. Memasukkan urinometer ke dalam labu urinometer dan diputar
6. Mengamati miniskus cairan pada skala berapa saat urinometer berada di tengah cairan
7. Hitung berat jenis sebenarnya (BJ terukur)
Pengamatan:
1. Temperatur Tera Urinometer (TT) = 20 derajat Celsius
2. Temperatur urin (TU) = 26 derajat Celsius
3. BJ Terukur = 1,012 derajat Celsius
Perhitungan :
BJ sebenarnya = BJ terukur + (TU-TT)/3 x 0,001
= 1,012 + (26-20)/3 x 0,001
= 1,012 + 0,002
= 1,014
4. Pemeriksaan Aktivitas Enzim Diastase Urine
Tujuan: untuk mengetahui aktivitas enzim diastase dalam menghidrolisis amilum. Enzim
diastase dapat ditemukan di dalam air liur di mulut yang dikeluarkan dari kelenjar air liur dan di
dalam usus halus yang dikeluarkan dari pankreas.
metode: Wohlgemuth
Prinsip reaksi:
Diastase adalah enzim yang bekerja memecah amilum. Tahap awal enzim bekerja mengubah
amilum menjadi dekstrin yang berwarna ungu dengan iodium. Kemudian menjadi eritrodekstrin
yang memberikan perubahan warna iodium. Akhirnya diubah menjadi maltosa yang juga tidak
memberikan warna dengan Iodium.
cara Penentuan aktivitasnya dapat dilakukan dengan mengencerkan enzim tersebut agar dapat
diketahui aktivitasnya. Hasilnya dinyatakan dalam satuan unit.
1. Unit diastase, diartikan dengan banyaknya mL amilum yang dapat diuraikan oleh enzim yang
terdapat dalam 1 mL sampel (serum atau urin) pada suhu 37 derajat Celsius selama 30 menit.
Kadar atau aktivitas enzim diastase normal yang terdapat dalam urin adalah 32 U/L, sedangkan
dalam serum adalah 16 U/L
Alat-alat:
1. Tabung reaksi
2. Maat pipet 1, 2, 5, 10
3. Water bath
Bahan-bahan:
1. Larutan NaCl 0,9%
2. Larutan amilum 1% dan buffer phosphat pH 6,8
3. Larutan Iodium 0,1 N
cara Kerja:
1. Menyediakan 12 tabung reaksi, beri nomor secara berurutan.
2. Ke dalam tabung nomor 1 dan 2, masukkan 1 mL urin dan ke dalam tabung nomor 2 sampai
12 masukkan masing-masing 1 mL larutan NaCl 0,9%
3. Mencampur tabung 2 sampai homogen, dipindahkan sebanyak 1 mL dari tabung 2 ke tabung
ke 3.
4. Mencampur tabung 3 sampai homogen, dipindahkan sebanyak 1 mL dari tabung 3 ke tabung
ke 4, dan seterusnya sampai tabung 12. Dari tabung 12 buang sebanyak 1 mL.
5. Ke dalam tiap tabung ditambahkan masing-masing 2 mL larutan amilum 1% dan 2 mL larutan
buffer phosphat pH 6,8 kocok sampai homogen.
6. Memasukkan semua tabung ke dalam penangas air dengan suhu 7 derajat Celsius selama 30
menit.
7.Didinginkan, kemudian pada tabung 1 dan 2 tambahkan 3 tetes larutan iodium 0,1 N,
sedangkan pada tabung lainnya masing-masing ditambahkan 2 tetes larutan iodium 0,1 N.
8. Mengamati perubahan warna yang terjadi.
9. menentukan kadar enzim diastase dalam sampel.
Contoh perhitungan:
misalkan dari tabung 1-4 berwarna merah/ungu, sedangkan pada tabung 5-12 berwarna biru.
Pada tabung 4, terjadi pengenceran urin sebanyak 1/8X. Amilum yang ditambahkan pada tiap
tabung reaksi adalah 2 mL (tiap tabung mengandung 2U enzim diastase). Sehingga kadar
diastasepada tabung 4 adalah 1/ (1/18) x 2 unit = 8 x 2U = 16 unit.
Atau dengan cara melihat pada tabung ke berapa terjadi perubahan. Dalam contoh ini adalah
pada tabung ke-4, jadi kadar diastasenya = 2^4 = 16 unit. Bila terjadi pada tabung nomor 5, maka
kadar diastasenya = 2^5 = 32 unit. Bila terjadi pada tabung nomor X, maka kadar diastasenya =
2^x = unit.
Hasil Pemeriksaan:
Tabung 1 (pengenceran: 1/1): bening
Tabung 2 (pengenceran: 1/2): bening
Tabung 3 (pengenceran: 1/4): bening
Tabung 4 (pengenceran: 1/8): ungu
Tabung 5 (pengenceran: 1/16): biru
Tabung 6 (pengenceran: 1/32): biru
Tabung 7 (pengenceran: 1/64): biru
Tabung 8 (pengenceran: 1/128): biru
Tabung 9 (pengenceran: 1/256): biru
Tabung 10 (pengenceran: 1/512): biru
Tabung 11 (pengenceran: 1/1024): biru
Tabung 12 (pengenceran: 1/2048): biru
Laporan Fisiologi Berat Jenis Urine
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ginjal berfungsi untuk mengatur jumlah air di dalam tubuh agar sesuai dengan kebutuhan.
Jika air dalam tubuh berlebih, maka ginjal akan mengeluarkan air lebih banyak. Jika kekurangan
akan ditahan. Selain itu, ginjal juga berfungsi untuk mengeluarkan racun yang diproduksi tubuh.
Air merupakan sumber kehidupan dan komponen terbesar dalam tubuh. Oleh karena itu
keberadaannya harus diatur sedemikian rupa. Cara mudah mengetahui fungsi ginjal adalah
dengan melihat jumlah urin yang keluar. Dalam keadaan normal, urin berjumlah 1000-1500 cc
dalam 24 jam untuk pria dan wanita. Pemeriksaan yang lebih ilmiah juga dapat dilakukan dengan
memeriksa kadar kreatinin dalam darah. Kreatinin adalah zat yang hanya dibuang oleh ginjal,
bukan organ tubuh lainnya. Jika zat tersebut naik, maka fungsi ginjal pun harus diwaspadai.
Kadar kreatinin dalam darah sebenarnya dapat dikondisikan. Jika kita kurang mengkonsumsi
air putih dan kadar kreatinin naik, maka ada gangguan di dalam ginjal.
Warna urin tidak dapat dijadikan patokan karena terkadang menipu, hal tersebut terkait
dengan banyaknya kita mengkonsumsi air minum. Jika kita minum banyak, maka urin berwarna
jernih. Begitu pula sebaliknya.
Ginjal yang terganggu dapat menyebabkan penyakit pada ginjal dan di luar ginjal, yang
seringkali menjadi sebab terganggunya fungsi ginjal. Misalnya: Diabetes, batu ginjal, dan lain
sebagainya. Terganggunya fungsi ginjal juga berdampak pada semua sistem dalam tubuh, darah
berkurang, kulit gatal, pencernaan terganggu sehingga mengakibatkan mual, muntah, tidak dapat
makan, serta paru tertimbun air karena air tidak dapat keluar.
(1)

B. Tujuan
1. Mengukur berat jenis urine.
2. Melihat fungsi ginjal dalam pemekatan dan pengenceran urine.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Fungsional Ginjal
Ginjal seseorang seukuran kepalan tinju. Jika dicermati secara melintang, ginjal mudah
dibagi menjadi dua wilayah yaitu korteks dan medula. Darah, limfatik, dan suplai saraf yang
masuk ginjal melalui hilus bersama-sama dengan Ureter, yang membawa urin dari ginjal ke
kandung kemih, dimana disimpan sampai dikosongkan dengan buang air kecil.
Dalam ginjal manusia, medula berakhir di beberapa struktur kerucut yang disebut papila.
Pelvis ginjal pada dasarnya adalah perpanjangan ureter. Hal ini dibagi menjadi struktur
berbentuk cangkir yang disebut calyxes papilla yang mengelilingi masing-masing dan membawa
kotoran urin ke ureter.
Sebuah lapisan jaringan ikat disebut kapsult, yang melindungi parenkim lebih lembut,
meliputi ginjal. Sekitar 1 juta nefron sebagian besar terdapat pada parenkim di masing-masing
ginjal manusia. Nefron merupakan unit fungsional yang menghasilkan ultrafiltrate awal plasma
pada titik asalnya dalam glomerulus dan memodifikasi ultrafiltrate oleh proses reabsorpsi dan
sekresi untuk mengendalikan laju ekskresi zat terlarut dan air.
(2 :334)

Tiga mekanisme fungsi utama ginjal yaitu :
(1) Besar jumlah air dan zat terlarut disaring dari darah.
(2) Urin primer memasuki tubulus, di mana sebagian besar diserap kembali, dengan kata lain, ia
keluar dari tubulus dan melewati kembali ke dalam darah.
(3) Zat tertentu (misalnya, racun) tidak hanya tidak diserap tetapi juga secara aktif disekresi ke dalam
tubulus lumen. Non-diserap kembali filtrat residual dikeluarkan bersama-sama dengan zat yang
dikeluarkan dalam urin akhir.
Fungsi ginjal adalah sebagai berikut :
(3 : 148)

(1) Menyesuaikan garam dan ekskresi air untuk menjaga konstan ekstraselular
fluida volume dan osmolalitas;
(2) Membantu untuk mempertahankan homeostasis asam-basa;
(3) Menghilangkan produk akhir metabolisme dan zat asing;
(4) Mempertahankan senyawa berguna (misalnya, glukosa) oleh reabsorpsi;
(5) Memproduksi hormon (misalnya, erythropoietin) dan hormon aktivator (renin), dan
(6) Fungsi metabolisme (katabolisme protein dan peptida, glukoneogenesis, dll).
B. Prinsip Dasar Osmosis dan Tekanan Osmotik
Osmosis adalah difusi netto cairan yang menyeberangi membran permeabel selektif dari
tempat yang konsentrasi airnya tinggi ke tempat yang konsentrasinya tinggi ke tempat yang
konsentrasi airnya lebih rendah. Bila suatu zat terlarut ditambahkan pada air murni, zat ini akan
menurunkan konsentrasi air dalam campuran. Jadi, semakin tinggi konsentrasi zat terlarut dalam
suatu larutan, semakin rendah konsentrasi airnya. Selanjutnya, cairan berdifusi dari daerah
dengan konsentrasi zat terlarut yang tinggi (konsentrasi air yang rendah).
Osmolalitas dan Osmolaritas. Konsentrasi osmol suatu larutan disebut osmolalitas bila
konsentrasi dinyatakan sebagai osmol per kilogram air; dan disebut osmolaritas bila dinyatakan
sebagai osmol per liter larutan. Pada larutan encer seperti cairan tubuh, kedua istilah ini dapat
digunakan hampir secara sinonim karena perbedaannya kecil.
Tekanan osmotik. Osmosis molekul air yang melintasi membran permeabel selektif dapat
dihambat dengan memberi tekanan yang berlawanan arah dengan osmosis. Besar tekanan yang
dibutuhkan untuk mencegah osmosis disebut tekanan osmotik. Karenanya, tekanan osmotik
adalah pengukuran tak langsung air dan konsentrasi zat terlarut pada larutan. Semakin tinggi
tekanan osmotik suatu larutan, semakin rendah konsentrasi air dan konsentrasi zat terlarut
semakin tinggi.
(4 : 296)

C. Pengaruh Gangguan Fungsi Ginjal
Ada beberapa kelaianan yang umum terjadi pada beberapa penyakit ginjal. Sering kali pada
beberapa jenis penyakit ginjal ditemukan adanya protein dalam urine, lekosit, sel darah merah
dan silinder, yaitu potongan-potongan protein yang mengendap di tubulus dan di dorong oleh
urine ke dalam vesika urinaria. Akibat penyakit ginjal lainnya yang juga penting ialah hilangnya
kemampuan pemekatan atau pengenceran urine, uremia, asidosis, dan retensi Na
+
abnormal.
1) Proteinuria
Pada beberapa penyakit ginjal dan pada kelainan ginjal tidak berbahaya, permeabilitas
kapiler glomerulus meningkat, dan protein dapat ditemukan di urine dalam jumlah yang
lebih besar daripada normal (proteinuria). Sebagian besar protein ini berupa albumin, dan
kelainan ini biasanya disebut albuminuria.
2) Hilangnya kemampuan pemekatan dan pengenceran.
Pada penyakit ginjal, urine yang terbentuk mungkin kurang pekat dan volumenya sering
bertambah, yang menimbulkan gejala-gejala poliuria dan nokturia (bangun malam untuk
berkemih) kemampuan untuk membentuk urine encer sering kali tetap ada, tetapi pada
penyakit ginjal yang lanjut, oslmolalitas urine menetap kira-kira sama dengan plasma,
yang menunjukkan bahwa fungsi pengenceran dan pemekatan ginjal sudah tidak ada lagi.
Kehilangan ini sebagian disebabkan oleh kerusakan pada mekanisme countercurrent,
tetapi penyebab yang lebih penting ialah rusaknya nefron-nefron yang berfungsi.
3) Uremia
Bila hasil metabolisme protein menumpuk di dalam darah akan menimbulkan gejala yang
disebut uremia. Gejala uremia antara lain letargia, anoreksia, mual dan muntah,
deteriorasi mental dan kebingungan, kedutan otot, kejang-kejang, dan akhirnya koma.
4) Asidosis
Asidosis sering ditemukan pada penyakit ginjal menahun akibat penurunan kemampuan
ginjal untuk mengeksresikan asam-asam hasil pencernaan dan metabolisme.
5) Gangguan metabolisme Na
+

Sering kali pada penderita penyakit ginjal ditemukan adanya retensi Na
+
yang berlebihan
yang disertai edema.
(5 : 696)

D. Berat Jenis Urine dan Tes Fungsi Ginjal
Berat jenis urine tergantung dari jumlah zat yang terlarut di dalam urine atau terbawa di
dalam urine. Berat jenis plasma (tanpa protein) adalah 1010. Bila ginjal mengencerkan urine
(misalnya sesudah minum air) maka berat jenisnya kurang dari 1010. Bila ginjal memekatkan
urine (sebagaimana fungsinya) maka berat jenis urine naik di atas 1010. Daya pemekatan ginjal
diukur menurut berat jenis tertinggi yang dapat dihasilkan, yang seharusnya dapat lebih dari
1025.
Tes fungsi ginjal. Terdapat banyak macam tes, tetapi beberapa yang sederhana ialah :
1) Tes untuk protein (albumin). Bila ada kerukan pada glomeruli atau tubula, maka protein dapat
membocor masuk urine.
2) Mengukur konsentrasi urea darah. Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka ureum darah
naik di atas kadar normal 20-24 mg per 100 ccm darah. Karena filtrasi glomerulus harus
menurun sampai sebanyak 50 persen sebelum kenaikan urea darah terjadi, maka tes ini bukan tes
yang sangat peka.
3) Tes konsentrasi. Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai berapa tinggi
berat jenis naik.
(6 : 249)

E. Proses Pembentukan Urine
Terdapat tiga proses penting yang berhubungan dengan proses pembentukan urine, yaitu:
1. Filtrasi (Penyaringan)
Kapsula bowmen dari dalam malphigi menyaring darah dalam glomelurus yang
mengandung air, garam, gula, urea, dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah)
sehingga dihasilkan filtrat glomelurus (Urine Primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat
yang masih berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak berguna bagi tubuh, misalnya
glukosa, asam amino, dan garam-garam.
2. Reabsorpsi (Penyerapan Kembali)
Dalam tubulus kontortus proksimal dalam urine primer yang masih berguna akan
direabsorpsi yang dihasilkan oleh filtrat tubulus (Urine Sekunder) dengan kadar urea
yang tinggi.
3. Eksresi (Pengeluaran)
Dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak
dipergunakan dan terjadi reabsorpsi aktif ion NA
+
dan Cl
-
dan sekresi H
+
dan K
+
.
Ditempat ini sudah terbentuk urine yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan
protein lagi, selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis.
Dari kedua ginjal, urine dialirkan oleh pembuluh ureter ke kandung urine (Vesica
Urinaria) kemudian melalui uretra, urine dikeluarkan dari tubuh. Hewan yang
menghasilkan zat sisa dalam bentuk amonia, urea, dan asam urat, berturut-turut disebut
amonotelik, ureotelik, dan urikotelik.
(7)

F. Mekanisme Pemekatan dan Pengenceran Urine.
Bila terdapat kelebihan air dalam tubuh, ginjal dapat mengeluarkan urin encer sebanyak 20
L/hari, dengan konsentrasi sebesar 50 mOsm/L. Ginjal melakukan tugas yang hebat ini dengan
mereabsorpsi zat terlarut terus menerus dan pada saat yang sama, tidak mereabsorpsi sejumlah
besar air di nefron bagian distal, yang meliputi tubulus distal akhir dan duktus koligentes.
Bila terdapat kekurangan air dalam tubuh, ginjal membentuk urin pekat dan pada saat yang
bersamaan juga meningkatkan reabsorpsi air dan menurunkan volume urin yang terbentuk.
Ginjal manusia dapat memroduksi urin pekat dengan konsentrasi maksimal sebesar 1200-1400
mOsm/L, yaitu 4-5 kali osmolaritas plasma.
Hormon yang memengaruhi fungsi sistem urinarius yaitu :
1. Norepinefrin & Epinefrin
Hormon ini dilepaskan dari medula adrenal. Hormon ini memberi sedikit pengaruh pada
hemodinamika ginjal, kecuali pada kondisi ekstrim, seperti pada pendarahan hebat.
Hormon ini memberikan efek berupa konstriksi arteriol aferen dan eferen sehingga
menurunkan GFR dan RBF.
2. Endotelin
Hormon ini dihasilkan oleh sel endotel vaskuler ginjal atau jaringan lain yang rusak. Jika
pembuluh darah rusak, maka endotelnya pun akan rusak dan melepaskan endotelin.
Hormon ini memiliki efek untuk vasokonstriktor kuat sehingga dapat mencegah
hilangnya darah. Efeknya terhadap ginjal adalag menurunkan GFR.
3. Angiotensin II & Aldosteron
Angiotensin II dapat merangsang sekresi hormon aldosteron oleh korteks adrenal.
Keduanya memainkan peranan penting dalam mengatur reabsorpsi natrium oleh tublus
ginjal. Bila asupan natrium rendah, peningkatan kadar kedunya akan merangsang
reabsorpsi natrium oleh ginjal sehingga dapat mencegah kehilangan natrium yang besar.
Sebaliknya, dengan asupan natrium yang tinggi, penurunan pembentukan kedua hormon
ini memungkinkan ginjal mengeluarkan natrium dalam jumlah besar.
4. Prostaglandin & Bradikinin
Kedua hormon ini cenderung mengurangi efek vasokonstriktor ginja akibat aktivitas saraf
simpatis, sehingga meningkatkan GFR.
5. Antidiuretik Hormon/ADH (Vasopresin)
ADH berperan dalam pengaturan konsentrasi urin, sehingga juga turut mengatur
osmolaritas plasma dan konsenrasi natrium. Jika osmolaritas plasma meningkat di atas
normal (zat terlarut dalam cairan tubuh terlaru pekat), kelenjar hipofisis posterior akan
terangsang untuk menyekresikan ADH. ADH akan meningkatkan permeabilitas tubulus
distal dan duktus koligentes terhada air sehingga meningkatkan reabsorpsi air dan
mengurangi volume urin. Sebaliknya, jika terdapat kelebihan air di dalam tubuh
(osmolaritas cairan ekstrasel menurun), sekresi ADH akan dikurangi. Hal ini akan
mengakibatkan menurunnya permeablitas tubulus distal & duktus koligentes terhadap air
sehingga urin menjadi encer.
Saraf yang memengaruhi fungsi sistem urinarius yaitu :
a. Saraf utama yang memengaruhi fungsi sistem urinarius adalah saraf pelvis yang berasal dari
pleksus sakralis dari segemen sakralis 2 & 3 medula spinalis. Saraf ini memiliki 2 bentuk
persarafan, yaitu:
1. Serabut saraf sensorik
Serabut saraf sensorik mendeteksi derajat peregangan dalam kandung kemih,
khususnya uretra posterior sehingga memicu refleks mikturisi.
2. Serabut saraf motorik
Serabut ini berperan sebagai serabut saraf parasimpatis yang berakhir di ganglion
dalam dinding kandung kemih. Saraf ini berperan untuk menginervasi otot detrusor.
b. Serabut saraf lainnya adalah serabut motorik skeletal (melalui saraf pudendus) yang
menginervasi dan mengatur otot rangka volunter sfingter eksterna uretra.
c. Persarafan simpatik berjalan melalui saraf hipogastrik yang berasal dari segmen lumbal 2
dari medula spinalis. Persarafan ini merangsang pembuluh darah dan meberi sedikit efek
terhadap proses kontraksi kandung kemih.
d. Serabut saraf untuk sensasi rasa penuh dan nyeri.
(8)


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Nama Percobaan
Pemeriksaan Berat Jenis Urine
B. Alat dan Bahan
a) Gelas penampung
b) Timbangan
c) Strip untuk urinalis (combistik)
d) Urinometer
e) Urine
f) Tabung reaksi
g) Aquadest
h) Spuit
i) Handscoon
j) Pinset
C. Prosedur Kerja
1. Kita menggunakan orang 2 orang coba percobaan.
2. Kedua orang coba urinenya di tampung pada tempat yang berbeda.
3. Pada orang pertama minum air sebanyak 500 ml tunggu selama 30 menit kemudian miksi
kembali. Sedangkan orang kedua diminta beraktivitas fisik selama 30 menit tanpa minum
air.
4. Ambil 4 cc urine dengan spuit masing-masing urine kemudian simpan dalam tabung reaksi.
5. Masukkan urinometer ke dalam tabung sample urine kemudian ukur berat jenis urinenya.
6. Pada percobaan yang menggunakan combistik masukkan kertas combistik kedalam tabung
yang berisi urine. Tunggu selama 30 detik kemudian lihat perubahannya.
D. Hasil Percobaan
Orang coba pertama : Tn. HR
Umur : 18 Tahun
Berat badan : 55 Kg
Jenis kelamin : Laki-laki
Waktu (menit) 0 30
Volume 4 ml 4 ml
Warna Jernih Bening
Berat jenis 1,046 1,026
Osmolalitas Normal Menurun
Orang coba kedua : Tn. FI
Umur : 19 Tahun
Berat badan : 60 Kg
Jenis kelamin : Laki-laki
Waktu (menit) 0 30
Volume 4 ml 4 ml
Warna Jernih Pekat
Berat jenis 1,026 1,036
Osmolalitas Normal Meningkat
Hasil percobaan pada kedua orang coba :
Pemeriksaan
Tn. HR Tn. FI
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Glukosa (-) 0 0 0 0
Protein (-) 0,15 0,15 0,15 0,15
pH (5) 6 6 5 5
E. Analisis Hasil Percobaan
1) Dari pemeriksaan yang dilakukan didapatkan hasil yaitu : osmolalitas Tn. HR menurun.
Sebelum Tn. HR meminum air mineral sebanyak 500 cc, berat jenis urinenya 1,046
menjadi 1,026 setelah minum air. Hal ini disebabkan karena banyaknya volume air yang
diminum sehingga dapat mempengaruhi osmolalitas, warna pada urinenya berubah
menjadi bening. Hal ini juga di pengaruhi dari volume air yang diminum. Hati tidak
menghasilkan renin, sehingga tidak terjadi pembentukan renin dengan angiotensin.
Sehingga, lubang intra seluler dan Na
+
dengan air dalam tubuh bisa keluar, sehingga urine
yang dihasilkan adalah urine encer.
2) Dari percobaan yang dilakukan pada Tn. FI diperoleh hasil yaitu : osmolalitas pada Tn. FI
meningkat. Sebelum Tn. FI melakukan aktivitas berat jenis urinenya 1,026 tetapi setelah
melakukan aktivitas berat jenis urinenya berubah menjadi 1,036. Hal ini disebabkan
karena dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan selama 30 menit tanpa meminum air
yang menyebabkan pengeluaran keringat yang mempengaruhi osmolalitas, ini juga
disebabkan oleh osmoreseptor yang berada di otak yaitu hipotalamus yang memiliki
kelenjar hipofisis posterior yang menghasilkan ADH. ADH yang meningkat menyebabkan
reabsorpsi air yang meningkat menyebabkan reabsorpsi air meningkat yang menyebabkan
warna pada urine yang dihasilkan menjadi berwarna pekat.
3) Pada tes yang dilakukan saat penggunaan combistik yang dilakukan pada kedua orang coba
Tn.HR dan Tn. FI didapatkan glukosa tidak ditemukan dan ph masih pada ambang batas
normal yaitu antara 4,8-7,5 hal ini berarti orang coba dalam keadaan normal. Tapi pada
pemeriksaan protein didapat 0,15 hal ini disebabkan mungkin karena orang coba kurang
istirahat, penyaringan protein pada glomerulus kurang sempurna, sehingga protein
ditemukan pada urine.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Mengukur berat jenis urine dapat dilakukan dengan menggunakan urinometer, dengan
cara membandingkan berat jenis urine dan H2O pada volume sama, dan dengan
menggunakan reagen strip.
2. Ginjal berperan dalam pemekatan dan pengenceran uirne, hal ini disebabkan oleh adanya
hormon ADH yang mempengaruhi kental/pekat atau tidaknya urine. ADH meningkatkan
permeabilitas tubulus dan duktus kolektivius sehingga menyebabkan meningkatnya
reabsorsi air dan urine menjadi pekat. Sebaliknya kurangnya ADH membuat sedikitnya
air yang terserap kembali sehingga ekskresi urine yang dihasilkan encer.
B. Saran
Sebaiknya pada saat percobaan orang coba dalam keadaan normal dan tanpa pengaruh dari
beberapa faktor seperti kurang tidur, obat dan lain-lain agar hasil yang didapatkan akurat.
Sebaiknya alat yang digunakan dalam praktikum ditambah guna memperlancar proses
praktikum.
Sebaiknya ruangan diperluas agar semua kelompok dapat masuk secara bersamaan untuk
mengifisienkan waktu. Ruangan juga sebaiknya dipasang penyejuk ruangan agar mahasiswa
tidak mengalami kegerahan dalam melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sanya.2010.Cek Fungsi Ginjal.in www.sanya.student.umm.ac.id.Las Update
Minggu, 11 Juli 2010.
2. Johnson, Leonard R.2003.Edisi 3.Essential Medical Physiology.Amerika:
Elsevier.
3. Despopoulos, Agamemnon.2003.Edisi 5.Color Atlas of Physiology.Jerman:
Georg Thieme Verlag.
4. Guyton, Arthur.2006.Edisi 11.Text Book of Medical Physiology.Cina:Elsevier
Saunders.
5. Ganong, William F.2008.Edisi 20.Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC.
6. Pearce, Everlyn C.2008.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta:
Gramedia
7. Tabin Amin.2010.Laporan Praktikum Tentang Uji Amonia dan Glukosa dalam
Urine.in www.lihatkita.co.cc.Last Update Minggu, 11 Juli 2010.
8. Ismidina.2010.Laporan Tutorial Minggu 2 Blok 1.5.in www. islamadinafifa.
wordpress.com.Last Update Minggu 11 Juli 2010.
Diposkan oleh Haerul Rachmat di 5/09/2011 08:44:00 PM
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook