Anda di halaman 1dari 21

16

BAB II
KONSEP GOOD CORPORATE GOVERNANCE


2.1 Konsep Good Corporate Governance

Good Corporate Governance yang sudah semakin dikenal sekarang ini
ternyata mempunyai beberapa definisi yang tidak sama. Ada banyak lembaga
yang mengeluarkan definisi tentang Good Corporate Governance. Banyaknya
lembaga yang mengeluarkan definisi tentang Good Corporate Governance ini
mengakibatkan tidak adanya keseragaman dalam definisi tentang Good Corporate
Governance. Tidak saja lembaga-lembaga namun berbagai Negara juga
mempunyai definisi sendiri tentang Good Corporate Governance.

Menurut Komite Cadburry, GCG adalah prinsip
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai
keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan
dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para
shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya.
Sedangkan menurut Center for European Policy Studies (CEPS)
GCG ialah merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak
(right), proses serta pengendalian, baik yang ada di dalam maupun
diluar manajemen perusahaan.. Sejumlah negara juga mempunyai
definisi tersendiri tentang GCG. Beberapa negara
mendefinisikannya dengan pengertian yang agak mirip walaupun
ada sedikit perbedaan istilah. Kelompok negara maju (OECD),
umpamanya mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen
perusahaan bertanggung jawab pada shareholdernya.
32

Namun banyaknya definisi tentang Good Corporate Governance ini tidak
menjadi penghambat dalam mempelajari Good Corporate Governance. Hal ini
dikarenakan dari setiap definisi tersebut dapat ditarik beberapa prinsip yang utama
yang terdapat dalam Good Corporate Governance yaitu transparency,
responsibility, accountability dan fairness. Hal yang serupa lainnya ialah adanya


32
Mas Achmad Daniri, Good Corporate Governance: Konsep Dan Penerapannya
Dalam Konteks Indonesia, cet. I, (Ray Indonesia: J akarta, 2006), hal. 7.


Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
17
perlindungan terhadap stakeholders perusahaan. Stakeholders ini mempunyai
kepentingan dalam perusahaan, sehingga sudah selayaknya kepentingan
stakeholders ini dilindungi juga.


2.2 Sejarah Good Corporate Governance

Good Corporate Governance muncul sekitar tahun 1990-an. Pada saat itu
terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin. Krisis ini terjadi
karena adanya kegagalan GCG yang diterapkan oleh perusahaan. Beberapa hal
yang menyebabkan kegagalan GCG pada saat itu yaitu diantaranya sistem hukum
yang buruk, tidak konsistennya standar akuntansi dan audit, praktek-praktek
perbankan yang lemah dan kurangnya perhatian Board of Directors (BOD)
terhadap hak-hak pemegang saham minoritas.
33

Karena hal-hal tersebut diatas maka pada dasarwarsa 1990-an muncullah
tuntutan-tuntutan agar GCG diterapkan secara konsisten dan komprehensif.
Tuntutan ini datang secara beruntun. Tuntutan ini disuarakan oleh berbagai
lembaga investasi baik domestik maupun mancanegara. Diantara lembaga-
lembaga tersebut termasuk didalamnya ialah World Bank, IMF, OECD, dan
APEC. Lembaga-lembaga ini berkesimpulan bahwa prinsip-prinsip dasar GCG
seperti fairness, transparency, accountability, dan stakeholder concern dapat
menolong perusahaan dan membantu perekonomian negara yang sedang tertimpa
krisis agar dapat bangkit kearah yang lebih sehat dan mampu bersaing serta
dikelola dengan dinamis dan profesional. Tujuannya adalah agar mempunyai daya
saing yang tangguh dan untuk mengembalikan kepercayaan investor. GCG
diyakini sebagai kunci sukses bagi suatu perusahaan untuk tumbuh dan
berkembang serta menguntungkan dalam jangka panjang.
34


Isu corporate governance itu sendiri muncul sejak
diperkenalkannya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan (J il and Aris Solomon, 2004). Namun istilah corporate


33
Ibid., hal.3.


34
Ibid., hal.4.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
18
governance secara eksplisit baru muncul pertama kali pada tahun 1984
dalam tulisan Robert I. Tricker. Di dalam bukunya, Tricker memandang
corporate governance memiliki empat kegiatan utama sebagai berikut:

Direction [Mengarahkan]
Formulating the strategic direction from the future of the enterprise
in the long term. [Membuat kebijakan strategis jangka panjang
perusahaan]

Executive Action [Tindakan Eksekutif]
Involvement in crucial executive decisions [Turut campur dalam
pengambilan keputusan penting].

Supervision [Pengawasan]
Monitoring and oversight of management performance, and [Memonitor
dan mengawasi kinerja manajemen, dan].

Accountability [Akuntabilitas]
Recognizing responsibilities to those making legitimate demand for
accountability.
35
[Mengenali tanggungjawab bagi mereka yang
menginginkan akuntabilitas]

Di Indonesia, terutama dalam aktivitas bisnis, istilah Good Corporate
Governance (tata kelola perusahaan yang baik) baru dikenal sejak satu dekade
terakhir. Peraturan perundang-undangan di Indonesia seperti Undang-undang
Perseroan Terbatas, Undang-undang Pasar Modal pun belum mengenal istilah
Good Corporate Governance. Namun istilah Good Coorporate Governance ini
sudah sangat dikenal di dalam aktivitas bisnis di Eropa dan Amerika Serikat.
36

Sejak ambruknya beberapa perusahaan dunia seperti Enron, WorldCom di
AS, HIH Insurance dan One-tel di Australia pada awal dekade 2000-an mulailah
perbincangan dan perdebatan mengenai prinsip-prinsip GCG. Kejadian
ambruknya beberapa perusahaan dunia ini menyadarkan kalangan bisnis dan
pemerintahan terutama negara-negara maju seperti Amreika Serikat, Inggris dan
Australia betapa pentingnya penerapan prinsip GCG dalam kegiatan bisnis.
37



35
Ibid., hal. 4.


36
J oni Emirzon, Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance: Paradigma Baru Dalam
Praktik Bisnis Indonesia, cet. I, (Genta Press: Yogyakarta, 2007), hal. 75.


37
Ibid.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
19
A. Davies dalam bukunya yang berjudul Strategic Approach to
Corporate Governance yang diterbitkan tahun 1999 menyatakan istilah
governance dipergunakan pertama kali bukanlah oleh kalangan bisnis namun
terdapat dalam berbagai peraturan gereja. Perkembangan governance awal
mulanya hanya dikenal melalui berbagai peraturan yang dibuat atau dikeluarkan
oleh gereja. Lama kelamaan istilah ini digunakan juga dalam konsep-konsep
revolusi industri sampai dengan kapitalisme. Sejak abad pertengahan,
perdagangan sudah dikenal dan sudah mulai berkembang . Namun pada masa itu
ajaran gereja masih sangat kuat, sehingga paham keagamaan yang dianut pada
waktu itu berpengaruh pada perdagangan. Pedagang yang mengambil banyak
keuntungan dianggap melanggar ajaran agama. Keadaan ini mengakibatkan
perkembangan perdagangan dan aktivitas bisnis terhambat.
38

Menurut Gunardi Endro (1999) setelah revolusi industri ada pergeseran
kekuatan ekonomi dari aristokrat dan tuan tanah penguasa lahan kepada para
pelaku bisnis di kota. Dalam revolusi industri ini diterapkan secara praktis
penemuan-penemuan baru yang mengakibatkan munculnya mekanisasi industri.
Produktivitas industri semakin meningkat sehingga banyak penduduk
berurbanisasi ke kota. Mulai saat itu kekuatan kapitalisme menguasai
perdagangan dan tenaga kerja yang terus berkembang hingga saat ini. Kaum
kapitalis menguasai perekonomian dunia dan dianggap sebagai pelopor bagi
terbentuknya pasar bebas.
39
Menurut Andre Gorz (2005) berkembangnya kekuatan kapitalisme tidak
diikuti dengan kesejahteraan buruh atau pekerja. Pola governance korporasi pada
awal abad ke-19 sangat didominasi oleh kapitalisme. Kapitalisme bertujuan untuk
memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya sesuai dengan sifat kapitalisme
itu sendiri. Namun hal ini menyebabkan kelas pekerja justru semakin ditekan.
Kekuatan produksi yang besar yang seharusnya mensejahterakan kelas pekerja
justru berbalik menekan mereka. Kelas pekerja tidak banyak diuntungkan dengan
besarnya kekuatan produksi tersebut.
40



38
Ibid., hal. 76.


39
Ibid., hal. 77.


40
Ibid.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
20
A. Davies (1999) menyatakan pada abad ini mulai tumbuh serikat pekerja
yang mulai mengimbangi dominasi perusahaan. Dominasi perusahaan ini
sebelumnya mampu menekan tingkat upah buruh serendah mungkin guna
memenangkan pasar bebas. Pada akhir abad ke-19 kekuatan serikat kerja semakin
berkembang dan bertambah kuat. Hal ini tidak terlepas dari dukungan organisasi
internasional seperti International Labour Organization (ILO) dan beberapa
lembaga non pemerintah (NGO) lainnya. Eksistensi buruh atau karyawan semakin
dihargai. Dan sebagai akibat dari bertambahnya kekuatan serikat buruh pekerja
muncullah hubungan antara pemegang saham dan Board of Directors.
Keseluruhan hal ini menambah kompleksitas fenomena governance pada masa
itu.
41

Hubungan antara buruh atau karyawan dengan pemilik perusahaan pada
awalnya adalah hubungan antara atasan dan bawahan, namun karena adanya
penghargaan yang lebih baik pada buruh maka hubungan itu berubah, buruh
dianggap sebagai mitra kerja pemilik atau majikan. Pada saat itu karyawan atau
buruh mulai memiliki kekuatan untuk melakukan negosiasi. Dengan demikian
pemilik atau pemegang saham di perusahaan menyerahkan pengelolaan
perusahaan secara sepenuhnya kepada karyawan atau buruh sebagai agen
(Agency). Dalam hal ini maka terdapat kepentingan, yaitu kepentingan pemilik
perusahaan dan kepentingan agen sebagai pengelola perusahaan.
42
Pada tahun 1970-an kekuatan buruh semakin menguasai governance
dalam organisasi khususnya korporasi, sehingga manajer menghabiskan sebagian
besar waktunya untuk bernegosiasi dengan serikat pekerja. Pada periode ini pula
berkembang era concumerism.
43
Era consumerism yaitu bahwa konsumen sebagai pangsa pasar atau
orang yang akan memanfaatkan hasil kerja produsen atau perusahaan
sangat menentukan apakah hasil atau produk dapat diterima atau tidak oleh
konsumen, karena berbagai perusahaan melakukan hal yang sama untuk
menarik agar produk yang dihasilkan cocok atau dapat diminati oleh
konsumen sebagai pihak pengguna jasa dan barang. Hal ini diindikasikan


41
Ibid. hal. 78.


42
Ibid.


43
Ibid., hal. 78-79.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
21
dengan makin meningkatnya persaingan antara sesama korporasi melalui
peningkatan kekuatan konsumen sebagai salah satu stakeholder dari
sebuah korporasi.
44


Di tahap ini bukan hanya ada kepentingan pemegang saham dan
kepentingan buruh (agen), namun ditambah dengan kepentingan konsumen
sebagai salah satu stakeholder yang penting. Sehingga pada tahap ini
permasalahan governance semakin bertambah kompleks. Perkembangan ini
mempunyai akibat yang signifikan bagi iklim pengelolaan korporasi dan berakibat
baik pada perkembangan corporate governance.
45
Perkembangan corporate governance juga merupakan suatu upaya untuk
mengakomodasi berbagai kepentingan stakeholders yang berbeda-beda dalam
suatu korporasi. Keberadaan corporate governance ini dapat ditelusuri hingga ke
abad 18 masehi. Adam Smith (1776) dalam karyanya The Wealth of Nation
dianggap sebagai filosof pertama yang meletakkan dasar dalam upaya formalisasi
konsep corporate governance.
46
DK. Denis dan McConnel (2003) menyatakan ada dua tahap generasi
perkembangan konsep Good Corporate Governance hingga abad ke-21. Generasi
pertama yang dibidangi oleh Berle dan Means (1932) menekankan pada
konsekuensi dari terjadinya pemisahan antara kepemilikan dan kontrol atas suatu
perusahaan modern (the modern corporation). Menurut Berle dan Means jika
perusahaan berkembang semakin besar maka pengelolaan perusahaan yang
dipegang oleh pemilik (owner-manager) harus diserahkan pada profesional.
Menurut mereka ada pemisahan tegas antara kepemilikan dan pengelola usaha.
47

Abdulkadir Muhammad (1993) menyatakan bahwa pada awalnya
pengusaha ialah orang yang menjalankan perusahaan atau menyuruh orang lain
menjalankan perusahaan, baik itu dilakukan sendiri maupun dengan bantuan
pekerja atau pegawai. Maka pengusaha tersebut dalam hal ini berfungsi sebagai
pengusaha dan sebagai pimpinan perusahaan. Kemudian ada juga pengusaha yang


44
Ibid., hal. 79.


45
Ibid.


46
Ibid.


47
Ibid., hal. 80.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
22
tidak turut serta dalam menjalankan perusahaan maka pengusaha tersebut hanya
menyuruh orang lain untuk menjalankan perusahaannya. Orang lain yang
menjalankan perusahaan tersebut diberi kuasa atas nama pemberi kuasa, disebut
juga pimpinan perusahaan atau manajer atau direktur perusahaan. Dari segi
fungsi, seorang pengusaha mempunyai kedudukan sebagai berikut:

1. sebagai pengusaha bekerja sendiri,
2. pengusaha bekerja dengan bantuan pekerja, dan
3. pengusaha yang memberikan kuasa kepada orang lain yang menjalankan
perusahaannya.
48


Menurut Denis dan McConnel (2003) sebagaimana dikutip oleh Ahmad
Syahroza pada tahap generasi pertama perkembangan konsep Good Corporate
Governance muncul pemikir terkenal dalam ilmu manajemen yaitu J ansen
Meckling (1976). Pemikirannya terkenal dengan teori keagenan (Agency Theory)
yang merupakan perkembangan riset yang luar biasa di bidang governance.
Melalui teori keagenan (Agency Theory) ini berbagai bidang ilmu seperti
sosiologi, manajemen strategic, manajemen keuangan, akuntansi, etika bisnis dan
organisasi mulai menggunakan teori keagenan untuk memahami fenomena
corporate governance. Hal ini mengakibatkan perkembangan corporate
governance menjadi multi dimensi. Turnbull menyebutnya sebagai sebuah ilmu
multi disiplin ilmu. Pada periode sebelumnya manfaat dari teori tersebut hanya
didominasi oleh para ahli hukum dan ekonomi. Berbagai teori keagenan hasil dari
sintesis melalui proses dialektika dari berbagai bidang ilmu diatas muncul pada
era generasi pertama ini.
49
Menurut Denis dan McConnel (2003) perkembangan generasi kedua
corporate governance ditandai dengan hasil karya La-Porta dan koleganya pada
tahun 1998. Berbeda dengan Berle dan Means (1932) menurut LLSV (1998,1999)
penerapan corporate governance di suatu negara dipengaruhi oleh perangkat
hukum yang ada pada negara tersebut, bagaimana kondisi perangkat hukum di


48
Ibid. hal. 81.


49
Ibid. hal. 84.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
23
negara tersebut dalam upayanya melindungi kepentingan pihak-pihak yang terkait
dengan perusahaan, khususnya pemilik minoritas. Pada tahap ini perkembangan
corporate governance semakin meluas dan kompleks. Permasalahan beralih dari
konflik kepentingan masing-masing stakeholder pada konsentrasi kepemilikan
saham yaitu pemilik saham mayoritas dan minoritas. Perlindungan terhadap
pemilik saham minoritas atas dominasi pemilik saham mayoritas juga dijadikan
permasalahan. Menurut LLSV, negara lain selain AS dan Inggris, kepemilikan
sahamnya sangat terkonsentrasi. Hal ini mengakibatkan terjadi konflik
kepentingan antara pemilik mayoritas yang kuat dan pemilik minoritas yang
lemah.
50
Menurut Boatright (2000) dalam Emmy Yuhassarie dan Tri Harnowo
pusat perdebatan adalah terjadinya konflik kepentingan antara pemilik mayoritas
dan minoritas, namun terdapat juga beberapa perbuatan yang mengandung konflik
kepentingan, yaitu:
51
1. Penilaian yang bias (exercising biased judgement)
2. Melakukan kompetisi secara langsung
3. Menyalahgunakan jabatan
4. Mengambil manfaat dengan membocorkan rahasia usaha (Emirzon,
2007)

LLSV (1999, 2000) juga berpendapat, konflik yang semakin tajam terjadi
karena sistem hukum yang tidak kondusif dan belum berpihak pada kepentingan
umum. Hal ini berpotensi merusak sistem perekonomian negara.
52
Good Corporate Governance mencapai puncak perkembangannya pada
awal dekade tahun 2000-an, pada saat itu beberapa perusahaan raksasa dunia
bangkrut. Kebangkrutan perusahaan-perusahaan dunia tersebut adalah karena
lemah dan kurangnya penerapan Good Corporate Governance pada perusahaan-
perusahaan tersebut. Semenjak kebangkrutan perusahaan-perusahaan raksasa


50
Ibid., hal.84-85.


51
Ibid., hal. 85.


52
Ibid.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
24
dunia tersebut, semakin banyak kalangan yang mulai menyadari pentingnya
penerapan Good Corporate Governance.
53

2.3 Good Corporate Governance Dalam UU No.19 Tahun 2003

Prinsip Good Corporate Governance dalam peraturan perundang-
undangan di Indonesia terdapat dalam UU No.19 Tahun 2003 tentang Badan
Usaha Milik Negara (BUMN). Menurut Penjelasan Umum UU No.19 Tahun 2003
dinyatakan bahwa untuk dapat mengoptimalkan perannya dan mampu
mempertahankan keberadaannya dalam perkembangan ekonomi dunia yang
semakin terbuka dan kompetitif, BUMN perlu menumbuhkan budaya korporasi
dan profesionalisme antara lain melalui pembenahan pengurusan dan
pengawasannya. Pengurusan dan pengawasan BUMN harus dilakukan
berdasarkan prinsip-prinsip tata-kelola perusahaan yang baik (Good Corporate
Governance).
54
Dari Penjelasan Umum tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengelolaan suatu BUMN haruslah dilaksanakan sesuai dengan prinsip Good
Corporate Governance. Kewajiban BUMN untuk menjalankan prinsip Good
Corporate Governance ini dicantumkan juga pada Pasal 5 ayat 3 dan Pasal 6 ayat
3 UU No.19 Tahun 2003.
Pasal 5 ayat 3 UU No.19 Tahun 2003 yaitu:
Dalam melaksanakan tugasnya, anggota direksi harus mematuhi anggaran dasar
BUMN dan peraturan perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsip-
prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, serta kewajaran.
55
Sedangkan Pasal 6 ayat 3 UU No.19 Tahun 2003 yaitu:
Dalam melaksanakan tugasnya, komisaris dan dewan pengawas harus mematuhi
anggaran dasar BUMN dan ketentuan peraturan perundang-undangan serta wajib


53
Ibid., hal.85-87.


54
Indonesia,Undang-Undang Tentang BUMN, UU No.19 Tahun 2003,LN No.70 tahun
2003,TLN No.4297,penjelasan umum.


55
Ibid., pasal 5 ayat 3.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
25
melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi,
kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban serta kewajaran.
56
Dalam kedua Pasal tersebut terdapat prinsip Good Corporate Governance,
yaitu transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan
kewajaran. Berdasarkan kedua Pasal tersebut, direksi dan komisaris suatu BUMN
harus melaksanakan prinsip Good Corporate Governance. Kedua pasal tersebut
merupakan dasar dari penerapan Good Corporate Governance dalam BUMN.
Penjelasan Pasal 5 ayat 3 menyebutkan Direksi selaku organ BUMN yang
ditugasi melakukan pengurusan tunduk pada semua peraturan yang berlaku
terhadap BUMN dan tetap berpegang pada penerapan prinsip-prinsip good
corporate governance yang meliputi:
a. Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan
keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan
relevan mengenai perusahaan;
b. Kemandirian, yaitu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak
manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
prinsip-prinsip korporasi yang sehat;
c. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban Organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana
secara efektif;
d. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat;
e. Kewajaran, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan terhadap
peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
57


Penjelasan Pasal 6 ayat 3 juga sama seperti Penjelasan Pasal 5 ayat 3 UU
No.19 Tahun 2003. Dalam penjelasan kedua pasal tersebut dapat dilihat bahwa


56
Ibid., pasal 6 ayat 3.


57
Ibid., penjelasan pasal 5 ayat 3.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
26
yang dimaksud dengan prinsip Good Corporate Governance menurut UU No.19
Tahun 2003 terdiri dari transparansi, kemandirian, akuntabilitas,
pertanggungjawaban dan kewajaran.
Ketentuan lain yang mengatur mengenai Good Corporate Governance ini
ialah Keputusan Menteri BUMN Nomor 117/2002 menyebutkan pengertian dari
prinsip-prinsip tersebut yaitu:
58
1) Transparency (Keterbukaan), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan
proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan
informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.
2) Accountability (Akuntabilitas), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban organ perseroan sehingga pengelolaan perusahaan
terlaksana secara efektif.
3) Responsibility (Pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian didalam
pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
4) Independency (Kemandirian), adalah suatu keadaan dimana perusahaan
dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan
pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang
sehat.
5) Fairness (Kewajaran), yaitu keadilan dan kesetaraan didalam memenuhi
hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan
perundangan-undangan yang berlaku.

UU No.19 Tahun 2003 secara jelas telah menyebutkan keharusan
penerapan Good Corporate Governance dalam BUMN. Oleh karena itu semua
BUMN harus menyesuaikan pengelolaannya agar sesuai dengan prinsip Good
Corporate Governance.



58
Leo J. Susilo dan Karlen Simarmata, Good Corporate Governance Pada Bank:
Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris Dalam Melaksanakannya, (Bandung: Hikayat Dunia,
2007), hal. 19.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
27
2.4 Kasus Berkaitan Dengan Good Corporate Governance

Sudah banyak perusahaan-perusahaan publik yang terpuruk karena
kesalahan penerapan GCG. Ada banyak kasus yang berkaitan dengan GCG, dan
kasus-kasus ini menarik perhatian publik karena kasus-kasus ini mencerminkan
lemahnya penerapan Good Corporate Governance dalam perusahaan-perusahaan
itu.
Perhatian terhadap corporate governance belakangan ini terutama
juga dipicu oleh skandal spektakuler perusahaanperusahaan publik di
Amerika dan Eropa, seperti Enron, Worldcom, Tyco, London &
Commonwealth, Poly Peck, Maxwell dan lain-lain. Cadbury Report (UK)
dan Treadway Report (US) secara mendasar menyebutkan bahwa
keruntuhan perusahaan-perusahaan publik tersebut dikarenakan oleh
kegagalan strategi maupun praktik curang dari manajemen puncak yang
berlangsung tanpa terdeteksi dalam waktu yang cukup lama karena
lemahnya pengawasan yang independent oleh corporate boards.
59

Pemegang saham, kreditur, perusahaan pemasok dan karyawan perusahaan
di berbagai negara dirugikan oleh kebangkrutan tersebut. Perusahaan-perusahaan
raksasa yang tumbang pada waktu itu antara lain Enron Corporation, Consesco,
Global Crossing, WorldCom dan Tyco di Amerika Serikat. Sedangkan di Inggris
ialah Maxwell Communication Corporation dan Mirror Group Newspaper, di
Italia perusahaan yang bangkrut ialah Parmalat, perusahaan asuransi raksasa HIH
Insurance Ltd dan perusahaan telkom terbesar ketiga One-Tell Ltd Australia,
Swissair di Switzerland, Baring Futures di Singapura dan Peregrime Investment
Ltd di Hongkong. Para regulator pemerintah dan analisis para pakar manajemen
menyimpulkan bahwa penyebab utama tumbangnya perusahaan-perusahaan
raksasa dunia tersebut adalah karena lemahnya penerapan GCG mereka.
Hubungan antara pemegang saham dan manajemen perusahaan pun terpisah.
60




59
Mas Achmad Daniri, Good Corporate Governance: Konsep Dan Penerapannya
Dalam Konteks Indonesia, cet. I, (Ray Indonesia: J akarta, 2006), hal. 4.


60
J oni Emirzon, Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance: Paradigma Baru Dalam
Praktik Bisnis Indonesia, cet. I, (Genta Press: Yogyakarta, 2007), hal. 85-86.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
28
Kelemahan prinsip GCG itu antara lain ditandai oleh empat macam
hal, yaitu:
1. lemahnya peranan the Board of Directors dalam mengendalikan
pengelolaan perusahaan; Board of Directors kurang aktif dalam
menganalisis strategi bisnis perusahaan,
2. semakin bebasnya manajemen perusahaan mengelola harta dan
utang perusahaan dan mengambil keputusan-keputusan penting
yang bersangkutan dengan kelangsungan hidup perusahaan,
3. tidak transparan, akurat dan tepat waktunya pengungkapan laporan
pengembangan bisnis dan keuangan oleh Board of Directors
kepada pemegang saham dan kreditur,
4. dalam banyak kasus auditor yang mengaudit laporan keuangan
perusahaan tidak bekerja di bawah pengawasan langsung komite
audit dan tidak bebas dari pengaruh manajemen senior
perusahaan.
61


Kasus Enron bermula pada 16 Oktober 2001 ketika Enron menerbitkan
laporan keuangan triwulan ketiga. Enron mengumumkan pada pers bahwa pro
forma laba bersih telah meningkat menjadi US$ 393 juta pada triwulan ketiga
tersebut, dibandingkan dengan US$ 292 juta pada tahun sebelumnya. Pimpinan
Enron menyatakan bahwa Enron secara berkesinambungan memberikan prospek
yang sangat baik dan pimpinan Enron tidak menjelaskan secara rinci tentang
pembebanan biaya akuntansi khusus (special accounting charge/expense) sebesar
US$ 1 miliar yang menyebabkan hasil aktual periode tersebut. J ika dilaporkan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP), maka kerugian
menjadi sebesar US$ 644 juta. Pengumuman kepada pers tersebut tentu saja
merupakan informasi yang menyesatkan publik. Belakangan diketahui bahwa
pembebanan US$ 1 miliar tersebut berasal dari transaksi-transaksi yang dilakukan
dengan perusahaan yang dilakukan oleh Direktur Keuangan Enron. Kecurigaaan
makin kuat ketika ditemukan hal-hal yaitu diperolehnya informasi yang rinci
tentang perusahaan yang didirikan oleh Direktur Enron, cara yang digunakan
Enron untuk melaporkan pendapatan, budaya perusahaan secara umum.
62
Enron juga telah menyalahgunakan aturan-aturan akuntansi. Misalnya,
salah satu entitas Enron, yaitu the Raptors dimiliki dan dikelola oleh orang yang


61
Ibid., hal. 86.


62
Ridwan Khairandy dan Camelia Malik, Good Corporate Governance: Perkembangan
Pemikiran dan Implementasinya di Indonesia dalam Perspektif Hukum,cet.I.,(Total Media
Yogyakarta:Yogyakarta,2007), hal.155-156.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
29
pada saat bersamaan bertindak sebagai Direktur Keuangan Enron. Kemudian
Enron juga telah melakukan beberapa transaksi yang mencurigakan dengan the
Raptors. Dalam transaksi tersebut Enron menjual aktiva menjelang
dikeluarkannya laporan triwulanan, dan setelah triwulan berikutnya dimulai,
Enron membeli kembali aktiva tersebut dari the Raptors. Tujuannya adalah agar
Enron dapat mengeluarkan aktiva tersebut dari neraca secara temporer dan
terhindar dari keharusan untuk melaporkan kerugian penurunan nilai aktiva
perusahaan.
63
Karena tindakan Enron tersebut diatas, direksi dan pihak manajemen
masing-masing perusahaan diperiksa atas tindakanya yang telah melakukan
manipulasi terhadap laporan keuangan perusahaan untuk menutup informasi
mengenai kerugian yang luar biasa pada perusahaannya termasuk utang-
utangnya.
64
Dengan terbongkarnya peristiwa tersebut mengakibatkan saham Enron
turun drastis dari US$ 36,00 per lembar saham menjadi US$ 0,26 per lembar
saham. Enron kemudian mengajukan pailit yang merupakan kebangkrutan
terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
65
Dari sekian banyak investor Enron, yang paling dirugikan dalam kasus
Enron tersebut adalah para pegawai Enron. Hal ini disebabkan karena tingginya
animo para pegawai perusahaan untuk menanamkan dana pensiunnya pada saham
perusahaan yang memang tinggi apabila harga saham melonjak. Namun setelah
Enron jatuh maka para pegawai perusahaan tidak saja hanya kehilangan pekerjaan
namun juga kehilangan dana pensiunnya.
66
Akibat dari jatuhnya Enron ini pada tanggal 30 J uli 2002, Presiden
Amerika Serikat George W. Bush menandatangani Sarbanes Oxley Act of 2002
yang mengubah peraturan-peraturan yang terkait dengan tata kelola perusahaan
(corporate governance), termasuk tanggung jawab Dewan Direksi dan karyawan,


63
Ibid., hal.154.


64
Ibid., hal.154.


65
Ibid., hal.154.


66
Ibid., hal.155.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
30
peraturan untuk kantor akuntan yang melakukan audit atas perusahaan publik,
pelaporan perusahaan dan pelaksanaan peraturan lainnya.
67
Sarbanes Oxley Act merupakan asal mula dari perkembangan Good
Corporate Governance di Amerika Serikat. Tujuan dari Sarbanes Oxley Act
antara lain:
68

1. Meningkatkan akuntabilitas manajemen perusahaan publik.
2. Memperbaiki pelaksanaan tata kelola perusahaan.
3. Meningkatkan pengawasan terhadap kantor akuntan publik.
4. Mengembalikan kepercayaan para investor terhadap pasar modal.

GCG haruslah dapat diterapkan dengan baik karena apabila tidak
diterapkan dengan baik dapat mengakibatkan kesulitan dalam kegiatan bisnis.
Perusahaan-perusahaan dunia yang telah ambruk tersebut seharusnya dapat
dijadikan contoh bahwa penerapan GCG ialah suatu keharusan. Menurut Emirzon
(2007) apabila ada negara yang tidak menerapkan prinsip GCG maka negara
tersebut akan menghadapi kesulitan dalam kegiatan perdagangan internasional
dan penanaman modal.
69

Kasus bangkrutnya perusahaan-perusahaan dunia tersebut dapat dijadikan
pelajaran pentingnya penerapan Good Corporate Governance di berbagai negara,
agar kejadian serupa tersebut tidak terulang lagi. Dengan mempelajari penyebab
kejatuhan perusahaan-perusahaan tersebut dapat dicegah kejadian yang serupa.
Di dalam negeri Indonesia pun telah diadakan beberapa studi tentang
penerapan Good Corporate Governance pada beberapa perusahaan publik. Asian
Corporate Governance Association (ACGA), Pricewaterhouse Coopers, dan Mc
Kinsey telah menemukan beberapa persoalan yang menghambat penerapan Good
Corporate Governance di Indonesia, antara lain:
70



67
Amin Widjaja Tunggal, Tata Kelola Perusahaan: Teori Dan Kasus, J akarta:
Harvarindo,2008, hal.165.


68
Ibid.


69
Emirzon, op.cit., hal. 87.


70
Ridwan Khairandy dan Camelia Malik, Good Corporate Governance: Perkembangan
Pemikiran dan Implementasinya di Indonesia dalam Perspektif Hukum,cet.I.,(Total Media
Yogyakarta:Yogyakarta,2007), hal.155-156.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
31
1. Praktik-praktik perusahaan yang dibiayai oleh perbankan milik kelompok
usahanya sendiri serta adanya pinjaman jangka pendek dari luar negeri.
Praktik ini mempengaruhi exchange rate dan pinjaman yang digunakan
untuk spekulasi dalam bidang usaha yang tidak menghasilkan devisa. Hal
ini menyebabkan kesulitan perusahaan dalam mengembalikan utangnya
ketika terjadi krisis moneter;
2. Dominasi pemegang saham;
3. Tidak efektifnya kinerja regulator dan lembaga-lembaga keuangan;
4. Lemahnya perlindungan terhadap kreditor dan investor.

Survey lain yang dilakukan oleh ADB menunjukkan bahwa dari 310
emiten yang tercatat di BEJ pada 20 Oktober 2001, hanya ada 8 emiten yang
memenuhi standar Good Corporate Governance. Kedelapan emiten tersebut yaitu
PT Antam Tbk., PT Bank Universal., PT Unilever Tbk., PT Bank NISP Tbk., PT
Tambang Timah Tbk., PT Bank Niaga Tbk., PT Bank Astra International Tbk.,
dan PT Bank BCA Tbk.
71
Penilaian terhadap perusahaan-perusahaan tersebut dilakukan pada empat
tahap aspek penting, yaitu:
72
1. Hak dan tanggung jawab pemegang saham;
2. Kebijakan-kebijakan pengelolaan perusahaan;
3. Praktik pengelolaan perusahaan;
4. Keterbukaan.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penerapan Good Corporate
Governance di Indonesia, khususnya pada perusahaan publik belum sepenuhnya
diterapkan di Indonesia.Padahal kehadiran Good Corporate Governance di
Indonesia merupakan salah satu solusi untuk menciptakan kegiatan berusaha yang
kondusif dan dapat menghindarkan segala bentuk skandal dalam suatu



71
Ibid., hal.156.


72
Ibid., hal.156.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
32
perusahaan, terutama di Indonesia yang merupakan negara dengan budaya korupsi
yang sangat tinggi.
73
Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai kasus penjualan tanker VLCC
Pertamina yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Kronologis kasus penjualan
tanker VLCC Pertamina yaitu Pertamina pada waktu itu ingin menjual 2 (dua)
unit tanker Very Large Cruide Carrier (VLCC) nomor Hull 1540 dan 1541.
Pertamina kemudian membentuk Tim Divestasi yang mempunyai tugas yaitu:
74
1. Menyusun Term of Reference (TOR), penilaian harga, kriteria penilaian
dibantu konsultan keuangan yang telah ditunjuk;
2. Melaksanakan pemilihan calon pembeli potensial;
3. Menyiapkan Sale & Purchase Agreement (SPA) dibantu konsultan
hukum;
4. Melaksanakan tugas tim selama satu bulan;
5. Melaksanakan tindak lanjut divestasi sesuai SPA yang dilaksanakan oleh
fungsi perkapalan dibantu oleh fungsi terkait;
6. Melaporkan hasil kerja tim kepada Direksi Pertamina melalui Direktur
Keuangan Pertamina.

Pada tanggal 30 April 2004, Tim Divestasi mengirimkan usulan tugas Tim
Divestasi kepada Direksi Pertamina, yaitu:
75
1. Penetapan cara penjualan putus;
2. Pemilihan pembeli potensial melalui mekanisme pemilihan terbatas;
3. Kriteria seleksi calon pembeli;
4. Kriteria pemenang;
5. J adwal pembayaran;
6. Daftar calon pembeli potensial yang diundang;
7. Request for bid;
8. Seluruh proses divestasi akan dilakukan oleh Goldman Sachs.


73
Ibid., hal.156-157.


74
Putusan KPPU Perkara Nomor: 07/KPPU-L/2004,
http://www.KPPU.go.id/docs/Putusan/putusan_VLCC.pdf, 16 September 2008, hal.4.


75
Ibid., hal. 5.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
33

Direksi Pertamina melalui surat nomor 281 tanggal 26 Mei 2004
menyetujui usulan Tim Divestasi mengenai Divestasi VLCC yang sepenuhnya
akan dilaksanakan oleh Goldman Sachs. Tim Divestasi berfungsi sebagai
pendamping atau membantu tugas Goldman Sachs dalam Divestasi VLCC.
76
Kemudian Pertamina menunjuk Goldman Sachs sebagai finansial advisor
dan arranger dalam divestasi VLCC. Namun penunjukan Goldman Sachs sebagai
finansial advisor dan arranger ini tidak melalui proses tender.
Penunjukan ini dilakukan oleh Direksi Pertamina karena rapat direksi
Pertamina dengan dewan komisaris Pertamina memutuskan divestasi VLCC harus
selesai dalam waktu satu bulan, keterbatasan Pertamina untuk menjual tanker
VLCC, Goldman Sachs mempunyai kredibilitas dan kemampuan yang sudah
mendunia serta memiliki jaringan yang luas untuk mencari calon pembeli
potensial di luar negeri dan juga memiliki pengalaman dalam penjualan aset serta
Goldman Sachs telah lama bekerja pada Pertamina tanpa retainer fee. Penunjukan
Goldman Sachs sebagai financial advisor dan arranger oleh Pertamina
dituangkan dalam Engagement Letter pada tanggal 16 Mei 2004.
77
Pertamina tidak mempunyai pedoman khusus yang mengatur tentang
penjualan aset sehingga khusus untuk Divestasi VLCC, Tim Divestasi membuat
prosedur penjualan yang dimasukkan dalam TOR. Term of Conditions yang
diajukan kepada calon pembeli potensial adalah harus memiliki aset sebanyak US
$ 100,000,000 (seratur juta US Dollar), memberikan bid bond sebesar US $
5,000,000 (lima juta US Dollar) per kapal dan sanggup membayar uang muka
sebesar 20 % (dua puluh persen). Bid bond tersebut disetor ke rekening Pertamina,
sedangkan pembayaran uang muka 20% (dua puluh persen) disetor ke rekening
gabungan antara Pertamina dengan peserta yang terpilih sebagai pemenang tender
Divestasi VLCC.
78


76
Ibid., hal. 6.


77
Ibid., hal. 5.


78
Ibid., hal. 6.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
34
Kemudian pada tanggal 14 Mei 2004 dilaksanakan pre-bid meeting yang
diikuti oleh 43 (empat puluh tiga) perusahaan. Selanjutnya dari 43 (empat puluh
tiga) perusahaan tersebut hanya 7 (tujuh) perusahaan yang mengajukan penawaran
dan dari 7 (tujuh) perusahaan tersebut hanya 3 (tiga) perusahaan yang dianggap
paling memenuhi persyaratan, yaitu EssarShipping, Ltd., Frontline, Ltd., dan
Overseas Shipholding Group, Inc (OSG). Lalu diketahui pula bahwa Pertamina
dari awal proses tender mengetahui bahwa PT Perusahaan Pelayaran Equinox
mewakili 6 (enam) perusahaan yang mengajukan penawaran termasuk Frontline,
Ltd. Tim Divestasi mempertimbangkan PT Perusahaan Pelayaran Equinox sebagai
liason (penghubung) dari perusahaan-perusahaan yang diwakilinya.
79
Bid pertama ditutup tanggal 25 Mei 2004, pukul 13.00 waktu Singapura.
Selanjutnya, presentasi hasil evaluasi bid pertama dilakukan oleh Goldman Sachs
dalam rapat tertutup tanggal 26 Mei 2004 dengan hanya dihadiri oleh Direksi
Pertamina, Ketua dan Wakil Ketua Tim Divestasi. Rapat tersebut telah memilih 3
(tiga shortlisted bidder yaitu Essar, Frontline, Ltd dan OSG. Selanjutnya
shortlister bidder ini harus mengajukan bid kedua yang batas akhir pengajuannya
adalah tanggal 7 J uni 2004, pukul 13.00 waktu Singapura.
80
Posisi Essar pada awalnya merupakan ranking 1 (satu) tetapi pada saat
Goldman Sachs melakukan konfirmasi ke State Bank of India terkait dengan
kemampuan pembayaran uang muka ternyata State Bank of India tidak
mempunyai komitmen pada Essar untuk membayar uang muka. Karena hal itulah
maka terjadi perubahan ranking yaitu Frontline, Ltd di urutan pertama, Essar di
urutan kedua dan OSG di urutan ketiga.
81
Pembukaan dokumen penawaran pertama peserta tender dilakukan di
hadapan Notaris, Tim Divestasi dan Goldman Sachs bertindak sebagai saksi,
sedangkan pada pembukaan dokumen penawaran kedua hanya disaksikan oleh
Goldman Sachs. Selanjutnya Goldman Sachs memberitahukan kepada Pertamina
bahwa Frontline, Ltd memasukkan penawaran harga ketiga setelah tanggal 7 J uni


79
Ibid., hal. 6.


80
Ibid., hal. 7.


81
Ibid., hal. 7.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
35
2004 dengan harga yang lebih tinggi dari penawaran kedua Essar. Hal tersebut
sempat dipertanyakan oleh Ketua Tim Divestasi kepada Goldman Sachs karena
nilai penawaran Frontline, Ltd tersebut hanya lebih tinggi US $ 500,000 (lima
ratus ribu US $ Dollar) dari penawaran kedua Essar tetapi Goldman Sachs tidak
mengetahui hal tersebut.
82
Pembukaan dokumen penawaran ketiga Frontline, Ltd dilakukan oleh
Goldman Sachs, penawaran tersebut disampaikan oleh PT Perusahaan Pelayaran
Equinox selaku wakil Frontline, Ltd pada tanggal 9 J uni 2004 malam. Lalu pada
tanggal 10 J uni 2004, Goldman Sachs mempresentasikan kepada Direksi
Pertamina mengenai posisi penawaran dari bidder baik penawaran yang kedua
maupun yang ketiga dari Frontline, Ltd.
83
Direktur Utama Pertamina pernah menyampaikan usulan kepada Goldman
Sachs untuk memberikan kesempatan kepada Essar dan OSG untuk memasukkan
penawaran ketiga, tetapi Goldman Sachs menjelaskan waktu yang terbatas tidak
memungkinkan untuk memberikan kepada peserta yang lain dan Goldman Sachs
menyampaikan bahwa Pertamina memiliki hak untuk tidak memberikan
penjelasan kepada para peserta atas keputusan mengenai proses tender.
Selanjutnya Direksi Pertamina menyetujui Frontline, Ltd sebagai pemenang
berdasarkan penawaran ketiga karena keputusan atas Divestasi VLCC ini
merupakan kewenangan Direksi Pertamina atas dasar analisa dari Goldman
Sachs.
84
Pertamina mengetahui ada protes dari Essar atas pernyataan Direktur
Keuangan Pertamina di media massa tentang ketidakmampuan Essar untuk
membayar uang muka sebesar 20% (dua puluh persen), karena dianggap
menjatuhkan reputasi perusahaan Essar. Kemudian Goldman Sachs tidak pernah
memberitahukan sebelumnya kepada Pertamina tentang kepemilikan sahamnya
pada Frontline, Ltd. Pertamina mengetahui adanya kepemilikan saham Goldman
Sachs pada Frontline, Ltd setelah timbul pemberitaan di media massa yang


82
Ibid., hal. 7.


83
Ibid., hal. 8.


84
Ibid., hal. 8.

Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009
36
menginformasikan bahwa Goldman Sachs memiliki 0,14% (nol koma empat belas
persen) saham pada Frontline, Ltd.
85
Lalu persetujuan dari RUPS Pertamina atas
Divestasi VLCC diterima pada tanggal 11 J uni 2004.
86
Kasus penjualan VLCC Pertamina ini akan diteliti apakah telah sesuai
dengan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance ataukah tidak. Kasus
penjualan tanker VLCC Pertamina ini walaupun telah diputus oleh KPPU namun
putusan KPPU ini ternyata telah dibatalkan oleh Pengadilan Negeri J akarta Pusat.
Tetapi Mahkamah Agung kemudian membatalkan putusan Pengadilan Negeri
J akarta Pusat tersebut, sehingga akibatnya putusan KPPU tetap berlaku.
Kemudian pada November 2007, kejaksaan ikut memeriksa kasus penjualan
tanker VLCC ini. J aksa penyidik menetapkan tiga tersangka dalam perkara
korupsi penjualan dua VLCC Pertamina tahun 2004. Mereka adalah mantan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Laksamana Sukardi, mantan Direktur
Utama Pertamina Arrifi Nawawi, serta mantan Direktur Keuangan Pertamina
Alfred H. Rohimone. Mereka juga dicegah ke luar negeri selama satu tahun.
Namun setelah dilakukan pemeriksaan oleh kejaksaan, meski ada perbuatan
melawan hukum, jaksa penyidik tidak menemukan fakta yang mendukung unsur
kerugian negara.
87
Tetapi bila dilihat pendapat Badan Pemeriksa Keuangan,
Badan Pemeriksa Keuangan tak menyatakan tiada kerugian negara, tetapi perlu
penghitungan kerugian negara oleh penilai independen karena BPK tidak
mempunyai data pembanding. Kejaksaan Agung menyidik kasus penjualan dua
VLCC Pertamina setelah menerima dokumen rekomendasi Pansus di DPR.
88

Kasus penjualan tanker VLCC Pertamina ini menarik untuk diteliti karena untuk
melihat sejauh mana penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance
dilaksanakan dalam sebuah BUMN.




85
Ibid., hal. 8.


86
Ibid., hal. 8.


87
Penyidikan Perkara Korupsi VLCC Dihentikan Kejagung, Kompas, J umat, 21
November 2008.


88
Serahkan VLCC ke Pengadilan, Kompas, Sabtu, 22 November 2008.
Universitas Indonesia
Good corporate..., Shalahuddin S, FHUI, 2009