Anda di halaman 1dari 16

1

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Vitamin K merupakan mikronutrien yang penting bagi sistem
pembekuan darah. Vitamin ini diperlukan di hati untuk sintesa faktor II
(protombin), faktor VII (prokonvertin), faktor IX (thromboplastin), dan faktor
X. Defisiensi vitamin K dan gangguan pada hati dapat menyebabkan
terjadinya defisiensi faktor-faktor pembekuan darah, karena hampir seluruh
faktor pembekuan darah diproduksi di hati.
Dalam keadaan normal setiap bayi baru lahir mengalami penurunan
faktor-faktor pembekuan darah yang tergantung vitamin K, yaitu faktor
pembekuan II, VII, IX, dan X. Kadar faktor-faktor pembekuan ini dalam
plasma menurun sampai mencapai kadar terendah pada hari ke 2-5 kehidupan,
kemudian meningkat kembali pada umur 7-14 hari dan mendekati kadar
normal orang dewasa setelah bayi berumur sekitar 3 bulan. Rangkaian
fenomena ini adalah normal dan tidak menimbulkan gangguan proses
pembekuan darah yang berakibat perdarahan. Keadaan transien ini mungkin
diakibatkan karena kurangnya vitamin K pada ibu dan tidak adanya flora
normal usus yang bertanggung jawab terhadap sintesis vitamin K.
Gangguan pada pr os es pembekuan dar ah dapat ber upa
kel ai nan yang di t ur unkan secara genetik atau kelainan yang
didapat. Gangguan pembekuan yang didapat salah satuya bisa
disebabkan oleh adanya gangguan faktor koagulasi karena kekurangan faktor
pembekuan yang tergantung vitamin K.Bayi biasanya memiliki kadar
vitamin K yang rendah di dalam tubuhnya akibat beberapa faktor.
Vitamin K tidak dapat dengan mudah melewati plasenta dari ibu ke
bayi sehingga bayi baru lahir tidak memiliki cadangan vitamin K
dalam jumlah banyak. Selain itu, tidak banyak vitamin K yang terkandung
2

di dalam air susu ibu sehingga penting bagi bayi untuk mendapatkan
profilaksis vitamin K segera setelah lahir.
Namun dalam keadaan tertentu pada bayi baru lahir, penurunan kadar
faktor-faktor pembekuan darah tersebut lebih besar daripada penurunan
fisiologik serta peningkatannya lambat dan tidak sempurna sehingga
mengakibatkan gangguan pembekuan dan perdarahan. Keadaan inilah yang
disebut dengan Penyakit Perdarahan pada Bayi Baru Lahir atau Hemorrhagic
Disease of The Newborn (HDN).
HDN adalah penyakit perdarahan yang terjadi pada bayi baru lahir
yang disebabkan karena berkurangnya faktor pembekuan (koagulasi) yang
tergantung pada vitamin K.
Permasalahan akibat Perdarahan akibat Defisiensi Vitamin K (PDVK)
adalah terjadinya perdarahan otak dengan angka kematian 10 50% yang
umumnya terjadi pada bayi dalam rentang umur 2 minggu sampai 6 bulan,
dengan akibat angka kecacatan 30 50%. Secara nasional belum ada data
PDVK, sedangkan data dari bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM (tahun
1990-2000) menunjukkan terdapatnya 21 kasus, diantaranya 17 (81%)
mengalami komplikasi perdarahan intrakranial (catatan medik IKA RSCM
2000). Selain itu, salah satu akibat defisiensi vitamin K terlihat pada kejadian
ikutan pasca imunisasi (KIPI) berupa perdarahan yang timbul sekitar 2 jam
sampai 8 hari paska imunisasi. Dari data Komnas KIPI jumlah kasus
perdarahan paska imunisasi yang diduga karena defisiensi vitamin K selama
tahun 2003 sampai 2006 sebanyak 42 kasus, dimana 27 kasus (65%)
diantaranya meninggal.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan defisiensi vitamin K pada bayi?
2. Bagaimana cara mendiagnosis dan tata laksananya?
C. Tujuan
1. Mengetahui tentang defisiensi vitamin K pada bayi
3

2. Mampu mendiagnosis dan tatalaksana dari defisiensi vitamin K pada
bayi
D. Manfaat Penulisan
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang defisiensi vitamin K pada
bayi.


















4

BAB II
DAFTAR PUSTAKA
A. Vitamin K
Vitamin K ditemukan oleh Dam seorang ilmuwan Denmark. Yang
diperlukan untuk proses pembekuan darah (koagulation). Vitamin K penting
untuk pembentukan protrombin, factor VII (prokonvertin), factor IX, dan
factor X oleh hati, yang semuanya penting pada koagulasi darah. Oleh karna
itu, bila terjadi defisiensi vitamin K, maka pembekuan darah terhambat.
Fungsi vitamin ini dan hubungannya dengan beberapa antikoagulan. Beberapa
senyawa lainnya, baik yang alami maupun yang sintetik, juga memperlihatkan
aktivitas vitamin K. karena vitamin K disintesis oleh bakteri dalam kolon,
sangat jarang di jumpai seseorang yang mempunyai kecenderungan
perdarahan karna defisiensi vitamin K didalam makanan. Akan tetapi, jika
bakteri kolon dihancurkan akibat pemberian sejumlah besar obat anti-biotik,
maka defisiensi vitamin K segera terjadi karena tidak ada senyawa ini dalam
makanan normal.
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu
naftokuinon yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein
yang berperan dalam pembekuan darah, seperti faktor II,VII,IX,X dan
antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein lain seperti protein Z dan
M yang belum banyak diketahui peranannya dalam pembekuan darah.
Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu:
Vitamin K1 (phytomenadione), terdapat pada sayuran hijau.
Sediaan yang ada saat ini adalah cremophor dan vitamin K
mixed micelles (KMM).
Vitamin K2 (menaquinone) disintesis oleh flora usus normal
seperti Bacteriodes fragilis dan beberapa strain E. coli.
5

Vitamin K3 (menadione) yang sering dipakai sekarang
merupakan vitamin K sintetik tetapi jarang diberikan lagi pada
neonatus karena dilaporkan dapat menyebabkan anemia
hemolitik.
Secara fisiologis kadar faktor koagulasi yang tergantung vitamin K
dalam tali pusat sekitar 50% dan akan menurun dengan cepat mencapai titik
terendah dalam 48-72 jam setelah kelahiran. Kemudian kadar faktor ini akan
bertambah secara perlahan selama beberapa minggu tetap berada dibawah
kadar orang dewasa. Peningkatan ini disebabkan oleh absorpsi vitamin K dari
makanan. Sedangkan bayi baru lahir relatif kekurangan vitamin K karena
berbagai alasan, antara lain karena simpanan vitamin K yang rendah pada
waktu lahir, sedikitnya transfer vitamin K melalui plasenta, rendahnya kadar
vitamin K pada ASI dan sterilitas saluran cerna.
Untuk memenuhi kebutuhan vitamin K terbilang cukup mudah karena
selain jumlahnya terbilang kecil, sistem pencernaan manusia sudah
mengandung bakteri yang mampu mensintesis vitamin K, yang sebagian
diserap dan disimpan di dalam hati. Namun begitu, tubuh masih perlu
mendapat tambahan vitamin K dari makanan.
Meskipun kebanyakan sumber vitamin K di dalam tubuh adalah hasil
sintesis oleh bakteri di dalam sistem pencernaan, namun Vitamin K juga
terkandung dalam makanan, seperti hati, sayur-sayuran berwarna hijau yang
berdaun banyak dan sayuran sejenis kobis (kol) dan susu. Vitamin K dalam
konsentrasi tinggi juga ditemukan pada susu kedele, teh hijau, susu sapi, serta
daging sapi dan hati. Jenis-jenis makanan probiotik, seperti yoghurt yang
mengandung bakteri sehat aktif, bisa membantu menstimulasi produksi
vitamin ini.


6

B. Defisiensi Vitamin K
1. Definisi
Defisiensi vitamin K adalah keadaan dimana kekurangan vitamin K
yang dapat mengakibatkan perdarahan akibat defisiensi vitamin K,
didefinisikan sebagai perdarahan spontan atau akibat trauma pada bayi
yang berhubungan dengan defisiensi vitamin K dan menurunnya aktivitas
faktor pembekuan II, VII, IX, X dengan fibrinogen dan trombosit normal.
Hal ini dibuktikan bahwa kelainan tersebut akan segera membaik dengan
pemberian vitamin K dan setelah sebab koagulopati lain disingkirkan.
Vitamin K diperlukan untuk sintesis prokoagulan faktor II, VII, IX dan
X (kompleks protrombin) serta protein C dan S yang berperan sebagai
antikoagulan (menghambat proses pembekuan). Selain itu Vitamin K
diperlukan untuk konversi faktor pembekuan tidak aktif menjadi aktif.
Bayi baru lahir mengalami defisiensi faktor pembekuan yang tergantung
vitamin K (vitamin K-dependent coagulation factor), konsentrasi faktor
pembekuan ini rendah dalam plasma beberapa hari setelah lahir dan
mencapai titik terendah pada hari ketiga. hal ini disebabkan karena bayi
baru lahir mengalami defesiensi vitamin K yang disebabkan karena
rendahnya cadangan vitamin k pada saat lahir, rendahnya kadar vitamin k
pada ASI, prematuritas, bayi yang lahir dari ibu yang mendapat
pengobatan luminal, hidantoin, salisilat, kumarin, rifampisin, dan
isoniazid. faktor lain adalah terlambatnya kolonisasi bakteri usus
disebabkan oleh terlambatnya pemberian diet, ASI eksklusif, diare hebat,
pemberian antibiotik dalam jangka yang lama.
Vitamin K sangat sedikit yang dapat melewati sawar plasenta dimana
kadar pada plasma ibu 1-2 mikrogram/l sedangkan kadar pada tali pusat
kurang dari 0,05 mikrogram/l. kadar vitamin K pada ASI 1,5-2,1
mikrogram/l, kolostrum 2,3 mikrogram/l sedangkan pada susu formula 6
mikrogram/l. Kombinasi berbagai keadaan ini menimbulkan gangguan
7

hemostasis pada bayi baru lahir yang menyebabkan perdarahan pada bayi
akibat defisiensi vitamin K.
Defisiensi vitamin K dapat terjadi oleh malabsorbsi lemak yang
mungkin menyertai disfungsi pancreas, penyakit biliaris, atrofi mukosa
intestinal atau penyebab steatore lainnya. Di samping itu, sterilisasi usus
besar oleh antibiotik juga dapat mengakibatkan defisiensi vitamin K

2. Etiologi
Keadaan yang berhubungan dengan defisiensi faktor pembekuan yang
bergantung pada vitamin K adalah :
a. Prematuritas
Kadar faktor pembekuan yang tergantung pada vitamin K pada
waktu lahir berbanding lurus dengan umur kehamilan dan berat
pada waktu lahir.
b. Asupan makanan yang tidak adekuat
c. Terlambatnya kolonisasi kuman
d. Komplikasi obstetric dan perinatal
e. Kekurangan vitamin K pada ibu

Suatu keadaan khusus yang dikenal sebagai Hemorrhagic Disease of
the Newborn (HDN), merupakan suatu keadaan akibat dari kekuranan vitamin
K pada masa neonatus. Terdapat penurunan kadar faktor II, VII, IX, X yang
merupakan faktor pembekuan darah yang tergantung pada vitamin K dalam
derajat sedang pada semua neonatus yang berumur 48-72 jam dan kadar
faktor-faktor tersebut secara berangsur-angsur akan kembali normal pada
umur 7-10 hari. Keadaan transien ini mungkin diakibatkan karena kurangnya
vitamin K pada ibu dan tidak adanya flora normal usus yang bertanggung
jawab terhadap sintesis vitamin K.
8

Pada keadaan obstruksi billiaris baik intrahepatik maupun
ekstrahepatik akan terjadi kekurangan vitamin K karena tidak adanya garam
empedu pada usus yangdiperlukan untuk absorpsi vitamin K, terutama vitamin
K1 dan K2. Obstruksi yang komplit akan mengakibatkan gangguan proses
pembekuan dan perdarahan setelah 2-4 minggu.
Sindrom malabsorpsi serta gangguan saluran cerna kronis dapat
menyebabkan kekurangan vitamin K akibat dari berkurangnya absorpsi
vitamin K.
Obat yang bersifat antagonis terhadap vitamin K seperti coumarin,
menghambat kerja vitamin K secara kompetetif, yaitu dengan cara
menghambat siklus vitamin K antara bentuk teroksidasi dan tereduksi
sehingga terjadi akumulasi dari vitamin K2 dan K3, epokside dan pelepasan g-
karboksilasi yang hasil akhirnya akan menghambat pembentukan faktor
pembekuan.
Pemberian antibiotic yang lama menyebabkan penurunan produksi
vitamin K dengan cara menghambat sintesis vitamin K2 oleh bakteri, atau
dapat juga secara langsung mempengaruhi reaksi karboksilase.
Kekurangan vitamin K dapat juga disebabkan penggunaan obat
kolestiramin yang efek kerjanya mengikat garam empedu sehingga akan
mengurangi absorpsi vitamin K yang memerlukan garam empedu pada proses
absorbsinya.
3. Klasifikasi
Perdarahan Defisiensi Vitamin K (PDVK) dibagi menjadi early,
clasiccal dan late berdasarkan pada umur saat kelainan tersebut
bermanifestasi
1. Early Vitamin K defisience bleeding (VKDB) (PDVK dini), timbul pada hari
pertama kehidupan. Kelainan ini jarang sekali dan biasanya terjadi pada bayi
dari ibu yang mengkonsumsi obat-obatan yang dapat mengganggu
9

metabolisme vitamin K. Insidens yang dilaporkan atas bayi dari ibu yang
tidak mendapat suplementasi vitamin K adalah antara 6 hingga 12% 7,8.
2. Classical VKDB (PDVK klasik), timbul pada hari ke 1 sampai 7 setelah lahir
dan lebih sering terjadi pada bayi yang kondisinya tidak optimal pada waktu
lahir atau yang terlambat mendapatkan suplementasi makanan. Insidens
dilaporkan bervariasi, antara 0 sampai 0,44% kelahiran. Tidak adanya angka
rata-rata kejadian PDVK klasik yang pasti karena jarang ditemukan kriteria
diagnosis yang menyeluruh
3. Late VKDB (PDVK lambat), timbul pada hari ke 8 sampai 6 bulan setelah
lahir, sebagian besar timbul pada umur 1 sampai 3 bulan. Kira-kira setengah
dari pasien ini mempunyai kelainan hati sebagai penyakit dasar atau kelainan
malabsorpsi. Perdarahan intrakranial yang serius timbul pada 30-50%. Pada
bayi berisiko mungkin ditemukan tanda-tanda penyakit hati atau kolestasis
seperti ikterus yang memanjang, warna feses pucat, dan hepatosplenomegali.
Angka rata-rata kejadian PDVK pada bayi yang tidak mendapatkan profilaksis
vitamin K adalah 5-20 per 100.000 kelahiran dengan angka mortalitas sebesar
30%
10



4. Manifestasi Klinis
Manifestasi perdarahan akibat defisiensi vitamin K tidak spesifik dan
bervariasi mulai dari memar ringan sampai dengan ekimosis generalisata,
perdarahan kullit, gastrointestinal, vagina sampai perdarahan intracranial
yang dapat mengancam jiwa.
Manifestasi klinis yang sering ditemukan adalah perdarahan, pucat dan
hepatomegali ringan. Perdarahan dapat terjadi spontan atau akibat trauma,terutama
trauma lahir. Pada kebanyakan kasus perdarahan terjadi di kulit,mata,
hidung dan saluran cerna. Perdarahan kulit sering berupa purpura,ekimosis atau
perdarahan melalui bekas tusukan jarum suntik.
Pada neonatus perdarahan dapat timbul dalam bentuk perdarahan di scalp,
hematoma sefal yang besar, perdarahan intracranial, perdarahan dari tali pusat,
11

perdarahan pada bekas sirkumsisi, oozing pada bekas suntikan dan terkadang
perdarahan gastrointestinal.

5. Diagnosis
Pendekatan diagnosis VKDB melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan laboratorium. Anamnesis dilakukan untuk mencari informasi tentang
onset perdarahan, lokasi perdarahan, pola pemberian makanan, serta
riwayat pemberian obat-obatan pada ibu selama kehamilan. Pemeriksaan
fisik ditujukan untuk melihat keadaan umum bayi dan lokasi perdarahan
pada tempat-tempat tertentu seperti GIT, umbilikus, hidung, bekas
sirkumsisi, dan lain sebagainya.

Anamnesis
Bayi kecil (usia 1-6 bulan) yang sebelumnya sehat, tiba-tiba
tampak pucat, malas minum, lemah, banyak tidur.
Minum ASI, tidak mendapat vitamin K1 saat lahir.
Kejang fokal
Pemeriksaan Fisis
Pucat tanpa perdarahan yang nyata.
Peningkatan tekanan intrakranial: UUB membonjol, penurunan
kesadaran, papil edema.
Defisit neurologi: kejang fokal, hemiparesis, paresis nervus
kranialis
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap: anemia berat dengan jumlah trombosit
normal
Pemeriksaan PT memanjang dan APTT dapat normal atau
memanjang
12

USG kepala/CTScan kepala: perdarahan intrakranial
Pemeriksaan laboratorim menunjukkan penurunan aktivitas faktor II,
VII, IX, dan X sedangkan faktor koagulasi lain normal sesuai dengan
usia. Terdapat pemanjangan waktu pembekuan, Prothrombin Time (PT)
dan Partial Thromboplastin Time (PTT), sedangkan Thrombin Time (TT)
dan masa perdarahan normal. Pemeriksaan lain seperti USG, CT scan
atau MRI dapat dilakukan untuk melihat lokasi perdarahan misalnya jika
dicurigai adanya perdarahan misalnya jika dicurigai adanya perdarahan
intrakranial. Selain itu respon yang baik terhadap pemberian vitamin K
memperkuat diagnosis VKDB.
6. Diagnosis banding
Terdapat banyak penyebab lain yang dapat mengakibatkan gangguan
pembekuan darah yang didapat, tetapi pada bayi dan anak kelainan
tersering yang perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding sebelum
kita mendiagnosis suatu kelainan pembekuan darah akibat kekurangan
vitamin K adalah penyakit hati dan Disseminated Intravaskular
Coagulation (DIC). Ketiga keadaan tersebut dapat dibedakan dengan
gambaran laboratorium
Komponen HDN Penyakit Hati DIC
Morfologi
Eritrosit
Normal Sel Target Sel target, sel
burr,
fragmentosit,
sferosit
PTT Memanjang Memanjang Memanjang
PT Memanjang Memanjang Memanjang
Fibrin Split
Product
Normal Normal/Naik
sedikit
Naik
13

Trombosit Normal Normal Menurun
Faktor yang
menurun
II, VII, IX, X I, II, V, VII, IX,
X
I, II, V, VIII, XIII

7. Tata Laksana
Vitamin K1 dosis 1-2 mg/hari selama 1-3 hari
Fresh frozen plasma (FFP) dosis 10-15 ml/kg
Pemberian Vit K tidak boleh diberikan secara IM karena dari tempat
suntikan akan timbul hematoma yang besar, sebaiknya diberikan suntikan
secara subcutan karena absorbsinya cepat dan efeknya hanya sedikit lebih
lambat dibanding dengan cara pemberian sistemik. Pemberian secara
intravena dapat juga dilakukan, tetapi harus hati-hati.
Respon cepat setelah pemberian FFP terjadi dalam waktu 4-6 jam,
ditandai dengan terhentinya perdarahan dan membaiknya mekanisme
pembekuan darah. Pada bayi cukup bulan, jika factor kompleks
protrombin tidak membaik dalam 24 jam dan perdarahan berlanjut, maka
harus dipikirkan diagnosis lain, misalnya penyakit hati.

8. Pencegahan
Health Technology Assessment (HTA) Departemen kesehatan RI
(2003) mengajukan rekomendasi sebagai berikut :
1. Semua bayi baru lahir harus mendapat profilaksis vitamin K
2. Jenis Vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1
3. Cara pemberian vitamin K1 adalah secara IM dan Oral
4. Dosis yang diberikan untuk semua bayi baru lahir adalah:
- IM, 1 mg Dosis tunggal
14

- Oral, 3 kali @ 2 mg, diberikan pada waktu bayi baru lahir, umur 3-7
hari dan pada saat bayi berumur 1-2 tahun.
5. Untuk bayi yang ditolong oleh dukun bayi maka diwajibkan pemberian
profilaksis vitamin K1 secara oral.
6. Kebijakan ini harus dikoordinasikan bersama directorat pelayanan farmasi
dan peralatan dalam penyediaan vit K1 dosis injeksi 2mg/ml/ampul,
vitamin K1 dosis 2mg/tablet yang dikemas dalam bentuk strip 3 tablet dan
kelipatannya.
7. Profilaksis vitamin K1 pada bayi baru lahir dijadikan sebagai program
nasional.
Ibu hamil yang mendapat pengobatan antikonvulsan harus mendapat
vitamin K profilaksis 5 mg sehari selama trimester 3 atau 24 jam sebelum
melahirkan diberi vitamin K 10 mg IM. Kemudian kepada bayinya
diberikan vitamin K 1 mg IM dan diulang 24 jam kemudian.
9. Prognosis
Bila cepat diterapi dengan pemberian vitamin K, penyakit gangguan
pembekuan darah akibat kekurangan vitamin K prognosisnya sangat baik.
Gejala klinis biasanya menghilang setelah pemberian vitamin K paling
lambat 24 jam pasca pemberian terapi.









15

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Perdarahan akibat kekurangan vitamin K adalah terjadinya perdarahan
spontan atau perdarahan karena proses lain seperti pengambilan darah
vena atau operasi yang disebabkan karena berkurangnya aktivitas faktor
koagulasi yang tergantung vitamin K (faktor II, VII, IX dan X)
2. Klasifikasi perdarahan akibat kekurang vitamin K antara lain adalah
bentuk perdarahan dini, klasik dan lambat.
3. Dignosis perdarahan akibat kekurangan vitamin K dapat dilakukan dengan
cara anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
4. B a y i - b a y i y a n g d i c u r i g a i me n g a l a mi P D VK
b e r d a s a r k a n h a s i l k o n f i r ma s i laboratorium, harus segera
mendapat pengobatan vitamin K. Selain pemberian vitamin K, bayi yang
mengalami PDVK dengan perdarahan yang luas juga harus mendapat
plasma. Plasma yang diberikan adalah fresh frozen plasma
dengan dosis 10-15 ml/kg.
5. Bila cepat diterapi dengan pemberian vitamin K, penyakit gangguan
pembekuan darah akibat kekurangan vitamin K prognosisnya sangat baik.
Gejala klinis biasanya menghilang setelah pemberian vitamin K paling
lambat 24 jam pasca pemberian terapi.

B. Saran
Pada semua bayi yang baru lahir disarankan untuk mendapatkan
injeksi vitamin K.
16

DAFTAR PUSTAKA
Andrew M,Brooker LA.Hemostatci disorder in newborns. Dalam: Mc Millan
JA.,DeAngelis CD,PelginRD,WarshawJB.,penyunting.Oskis pediatric
principles and practice,edisi ke-3.Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins,2007. H. 1481-91

Behrman Richard, Kliegman Robert, Arvin Ann. Nelson. Ilmu Kesehatan
Anak. Jilid II. Edisi 15. EGC. Jakarta, 2000.

Respati H, Reniarti L, Susanah S. Hemorrhagic Disease of the Newborn.
Dalam: Permono B, Sutaryo, Ugrasena IDG, Windiastuti E, Abdulsalam M,
Eds. Buku Ajar Hematologi-onkologi Anak. Jakarta : Badan Penerbit IDAI,
2005

Permana, Bambang et al.Perdarahan Akibat Defisiensi Vitamin K.2008.
FKUNAIR.Surabaya