Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Penyakit berbasis lingkungan masih menjadi permasalahan hingga saat
ini.ISPA dan diare yang merupakan penyakit berbasis lingkungan selalu masuk dalam
10 besar penyakt di hampir seluruh Puskesmas di Indonesia.
Menurut Profil Ditjen PP&PL thn 2006, 22,30% kematian bayi di Indonesia
akibat pneumonia. sedangkan morbiditas penyakit diare dari tahun ketahun kian
meningkat dimana pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk, lalu meningkat
menjadi 301 per 1000 penduduk pada tahun 2000 dan 347 per 1000 penduduk pada
tahun 2003. Pada tahun 2006 angka tersebut kembali meningkat menjadi 423 per
1000 penduduk.
Menurut hasil survei mortalitas Subdit ISPA pada tahu 2005 di 10 provinsi
diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi
(22,3%) dan pada balita (23,6%). Diare, juga menjadi persoalan tersendiri dimana di
tahun 2009 terjadi KLB diare di 38 lokasi yang tersebar pada 22 Kabupaten/kota dan
14 provinsi dengan angka kematian akibat diare (CFR) saat KLB 1,74%. Pada tahun
2007 angka kematian akibat TBC paru adalah 250 orang per hari. Prevalensi
kecacingan pada anak SD di kabupaten terpilih pada tahun 2009 sebesar 22,6%.
Angka kesakitan DBD pada tahun 2009 sebesar 67/100.000 penduduk dengan angka
kematian 0,9%. Kejadian chikungunya pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 83.533
kasus tanpa kematian. Jumlah kasus flu burung di tahun 2009 di indonesia sejumlah
21, menurun dibanding tahun 2008 sebanyak 24 kasus namun angka kematiannya
meningkat menjadi 90,48%.
Menurut Pedoman Arah Kebijakan Program Kesehatan Lingkungan Pada
Tahun 2008 menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki penyakit menular yang
berbasis lingkungan yang masih menonjol seperti DBD, TB paru, malaria, diare,
infeksi saluran pernafasan, HIV/AIDS, Filariasis, Cacingan, Penyakit Kulit,
Keracunan dan Keluhan akibat Lingkungan Kerja yang buruk.. Pada tahun 2006,
sekitar 55 kasus yang terkonfirmasi dan 45 meninggal (CFR 81,8%), sedangkan tahun
2007 - 12 Februari dinyatakan 9 kasus yang terkonfirmasi dan diantaranya 6
2

meninggal (CFR 66,7%). Adapun hal - hal yang masih dijadikan tantangan yang
perlu ditangani lebih baik oleh pemerintah yaitu terutama dalam hal survailans,
penanganan pasien/penderita, penyediaan obat, sarana dan prasarana rumah sakit.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang makalah telah dijelaskan bahwa penyakit berbasis
lingkungan mencapai angka yang cukup tinggi untuk tingkat kematian pada penduduk
Indonesia, untuk itu penulis mengambil perumusan masalah mengenai apa itu
penyakit berbasis lingkungan? apakah faktor-faktor yang mempengaruhinya,
penyebabnya dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia juga
bagaimana cara mengatasinya?

C. TUJUAN DAN MANFAAT
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai penyakit berbasis lingkungan dan
agar kita bisa mempelajari, mengatasi, menghindari bahkan mencegah terjadinya
penyakit berbasis lingkungan.


















3

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1. Penyakit
Penyakit adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan
/atau morfologi suatu organ dan/atau jar tubuh. (Achmadi05)
Penyakit merupakan suatu keadaan abnormal dari tubuh atau
pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran
terhadap orang yang dipengaruhinya.Penyakit merupakan respon tubuh akibat
menurunnya energi dalam tubuh karena berkurangnya kemampuan tubuh
untuk mengeliminasi dan membuang racun.
2. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yg ada disekitarnya (benda hidup,
mati, nyata, abstrak) serta suasana yg terbentuk karena terjadi interaksi antara
elemen-elemen di alam tersebut. (Sumirat96)
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup
keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energy surya, mineral, serta flora
dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan yang terdiri dari
komponen abiotik dan biotik.

3. Abiotik Dan Biotik
Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah,
udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi.Sedangkan komponen biotik
adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan
mikro-organisme (virus dan bakteri).
4

4. Agent Dan Vektor Penyakit
Agent penyakit adalah zat, kekuatan, kehidupn mikro atau komponen
lingkungan lain di alam yang fana ini, baik terukur maupun tidak terukur yng
menjadi penyebab timbulnya gangguan fungsi atau kelainan morfologi pada
spesies manusia atau binatang.
Vektor merupakan binatang pembawa penyakit yang disebabkan oleh
bakteri, ricketsia, virus, protozoa dan cacing, serta menjadi perantara
penularan penyakit tersebut.
5. Penyakit Berbasis Lingkungan
Penyakit berbasis lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa
kelainan fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh
interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi
penyakit

B. FAKTOR MUNCULNYA PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN
Para ahli kesehatan masyarakat pada umumnyasepakat bahwa kualitas
kesehatan lingkungan adalah salah satu dari empat faktor yang mempengaruhi
kesehatan manusia menurutH.L Blum yang merupakan faktor yang memberikan
kontribusi terbesar terhadap pencapaian derajat kesehatan. Memang tidak selalu
lingkungan menjadi faktor penyebab, melainkan juga sebagai penunjang, media
transmisi maupun memperberat penyakit yang telah ada.Faktor yang menunjang
munculnya penyakit berbasis lingkungan antara lain :
1. Ketersediaan dan akses terhadap air yang aman
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya air
dimana ketersediaan air mencapai 15.500 meter kubik per kapita per tahun,
jauh di atas ketersediaan air rata-rata di dunia yang hanya 8.000 meter kubik
per tahun.Namun demikian, Indonesia masih saja mengalami persoalan air
bersih. Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air
bersih, sebagian besar yang memiliki akses mendapatkan air bersih dari
penyalur air, usaha air secara komunitas serta sumur air dalam. Dari data
Bappenas disebutkan bahwa pada tahun 2009 proporsi penduduk dengan akses
air minum yang aman adalah 47,63%. Sumber air minum yang disebut layak
meliputi air ledeng, kran umum, sumur bor atau pompa, sumur terlindung ,
mata air terlindung dan air hujan. Dampak kesehatan dari tidak terpenuhinya
5

kebutuhan dasar terhadap air bersih dan sanitasi diantaranya nampak pada
anak-anak sebagai kelompok usia rentan. WHO memperkirakan pada tahun
2005, sebanyak 1,6 juta balita (rata-rata 4500 setiap tahun) meninggal akibat
air yang tidak aman dan kurangnya higienitas.







2. Akses sanitasi dasar yang layak

Kepemilikan dan penggunaan fasilitas tempat buang air besar
merupakan salah satu isu penting dalam menentukan kualitas sanitasi.Namun
pada kenyataannya dari data Susenas 2009, menunjukkan hampir 49% rakyat
Indonesia belum memiliki akses jamban.Ini berarti ada lebih dari 100 juta
rakyat Indonesia yang BAB sembarangan dan menggunakan jamban yang tak
berkualitas.Angka ini jelas menjadi faktor besar yang mengakibatkan masih
tingginya kejadian diare utamanya pada bayi dan balita di Indonesia.



6


3. Penanganan sampah dan limbah

Tahun 2010 diperkirakan sampah di Indonesia mencapai 200.000 ton
per hari yang berarti 73 juta ton per tahun. Pengelolaan sampah yang belum
tertata akan menimbulkan banyak gangguan baik dari segi estetika berupa
onggokan dan serakan sampah, pencemaran lingkungan udara, tanah dan air,
potensi pelepasan gas metan (CH4) yang memberikan kontribusi terhadap
pemanasan global, pendangkalan sungai yang berujung pada terjadinya banjir
serta gangguan kesehatan seperti diare, kolera, tifus penyakit kulit,
kecacingan, atau keracunan akibat mengkonsumsi makanan
(daging/ikan/tumbuhan) yang tercemar zat beracun dari sampah.
4. Vektor penyaki
Vektor penyakit semakin sulit diberantas, hal ini dikarenakan vektor
penyakit telah beradaptasi sedemikian rupa terhadap kondisi lingkungan,
sehingga kemampuan bertahan hidup mereka pun semakin tinggi. Hal ini
didukung faktor lain yang membuat perkembangbiakan vektor semakin pesat
antara lain : perubahan lingkungan fisik seperti pertambangan, industri dan
pembangunan perumahan; sistem penyediaan air bersih dengan perpipaan
yang belum menjangkau seluruh penduduk sehingga masih diperlukan
container untuk penyediaan air; sistem drainase permukiman dan perkotaan
yang tidak memenuhi syarat; sistem pengelolaan sampah yang belum
memenuhi syarat, penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dalam
pengendalian vektor; pemanasan global yang meningkatkan kelembaban udara
7

lebih dari 60% dan merupakan keadaan dan tempat hidup yang ideal untuk
perkembang-biakan vektor penyakit.
5. Perilaku masyarakat
Perilaku Hidup Bersih san Sehat belum banyak diterapkan masyarakat,
menurut studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku
masyarakat dalam mencuci tangan adalah (1) setelah buang air besar 12%, (2)
setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%, (3) sebelum makan 14%, (4)
sebelum memberi makan bayi 7%, dan (5) sebelum menyiapkan makanan 6
%. Studi BHS lainnya terhadapperilaku pengelolaan air minum rumah tangga
menunjukan 99,20 % merebus air untuk mendapatkan air minum, namun
47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli.Menurut studi
Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006
terdapat 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah,
kolam, kebun dan tempat terbuka.

C. PARADIGMA KESEHATAN LINGKUNGAN
Dalam upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan, maka perlu
diketahui perjalanan penyakit atau patogenesis penyakit tersebut, sehingga kita dapat
melakukan intervensi secara cepat dan tepat.

source : Ahmadi,2005

8


Dengan melihat skema diatas, maka patogenesis penyakit dapat diuraikan
menjadi 4 (empat) simpul, yakni :
1. Simpul 1: Sumber Penyakit
Sumber penyakit adalah sesuatu yang secara konstan mengeluarkan
agent penyakit.Agent penyakit merupakan komponen lingkungan yang dapat
menimbulkan gangguan penyakit baik melalui kontak secara langsung maupun
melalui perantara.
a. Beberapa contoh agent penyakit:
Agent Biologis: Bakteri, Virus, Jamur, Protozoa, Amoeba,
dll
Agent Kimia : Logam berat (Pb, Hg), air pollutants (Irritant:
O3, N2O, SO2, Asphyxiant: CH4, CO), Debu dan seratt
(Asbestos, silicon), Pestisida, dll
Agent Fisika : Radiasi, Suhu, Kebisingan, Pencahayaan, dll
2. Simpul 2: Komponen Lingkungan Sebagai Media Transmisi,
Komponen lingkungan berperan dalam patogenesis penyakit, karna
dapat memindahkan agent penyakit. Komponen lingkungan yang lazim dikena
sebagai media transmisi adalah:
- Udara
- Air
- Makanan
- Binatang
- Manusia / secara langsung
3. Simpul 3: Penduduk
Komponen penduduk yang berperan dalam patogenesis penyakit antara lain:
- Perilaku
- Status gizi
- Pengetahuan
- dll


9


D. Macam-macam penyakit berbasis lingkungan
1. Diare
Diare adalah suatu penyakit yang biasanya ditandai dengan perut mulas,
meningkatnya frekuensi buang air besar, dan konsentrasi tinja yang encer.
Tanda-tanda Diare dapat bervariasi sesuai tingkat keparahannya serta
tergantung pada jenis penyebab diare.
Ada beberapa penyebab diare. Beberapa di antaranya adalah
Cyclospora cayetanensis, total koliform (E. coli, E. aurescens, E. freundii, E.
intermedia, Aerobacter aerogenes), kolera, shigellosis, salmonellosis,
yersiniosis, giardiasis, Enteritis campylobacter, golongan virus dan patogen
perut lainnya.
Penularannya bisa dengan jalan tinja mengontaminasi makanan secara
langsung ataupun tidak langsung (lewat lalat). Untuk beberapa jenis bakteri,
utamanya EHEC (Enterohaemorragic E. coli), ternak merupakan reservoir
terpenting. Akan tetapi, secara umum manusia dapat juga menjadi sumber
penularan dari orang ke orang. Selain itu, makanan juga dapat terkontaminasi
oleh mikroorganisme patogen akibat lingkungan yang tidak sehat, di mana-
mana ada mikroorganisme patogen, sehingga menjaga makanan kita tetap
berseih harus diutamakan.
a. Cara Penularan melalui :
Makanan yang terkontaminasi dengan bakteri E.Coli yang
dibawa oleh lalat yang hinggap pada tinja, karena buang air
besar (BAB) tidak di jamban.
Air minum yang mengandung E. Coli yang tidak direbus
sampai mendidih.
Air sungai yang tercemar bakteri E.coli karena orang diare
buang air besar di sungai digunakan untuk mencuci bahan
makanan, peralatan dapur, sikat gigi, dan lain-lain.
Tangan yang terkontaminasi dengan bakteri E.coli (sesudah
BAB tidak mencuci tangan dengan sabun)
Makanan yang dihinggapi lalat pembawa bakteri E.Coli
kemudian dimakan oleh manusia.
10

b. Cara pencegahan penyakit diare yang disesuaikan dengan faktor
penyebabnya adalah sebagai berikut :
Penyediaan air tidak memenuhi syarat
Gunakan air dari sumber terlindung
Pelihara dan tutup sarana agar terhindar dari pencemaran
Pembuangan kotoran tidak saniter
Buang air besar di jamban
Buang tinja bayi di jamban
Apabila belum punya jamban harus membuatnya baik
sendiri maupun berkelompok dengan tetangga.
Perilaku tidak higienis
Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan
Cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar
Minum air putih yang sudah dimasak
Menutup makanan dengan tudung saji
Cuci alat makan dengan air bersih
Jangan makan jajanan yang kurang bersih
Bila yang diare bayi, cuci botol dan alat makan bayi
dengan air panas/mendidih
c. Sedangkan intervensi pada faktor lingkungan dapat dilakukan antra lain
melalui :
Perbaikan sanitasi lingkungan dan pemberantasan vektor secara
langsung.
Perbaikan sanitasi dapat diharapkan mampu mengurangi tempat
perindukan lalat. Cara yang bisa diambil di antaranya adalah
menjaga kebersihan kandang hewan, buang air besar di jamban
yang sehat, pengelolaan sampah yang baik, dan sebagainya.
Keberadaan lalat sangat berperan dalam penyebaran penyakit diare,
karena lalat dapat berperan sebagai reservoir. Lalat biasanya berkembang biak
di tempat yang basah seperti sampah basah, kotoran hewan, tumbuh-tumbuhan
yang membusuk, dan permukaan air kotor yang terbuka. Pada waktu hinggap,
lalat mengeluarkan ludah dan tinja yang membentuk titik hitam. tanda-tanda
ini merupakan hal yang penting untuk mengenal tempat lalat istirahat. Pada
11

siang hari lalat tidak makan tetapi beristirahat di lantai dinding, langit-langit,
rumput-rumput, dan tempat yang sejuk. Juga menyukai tempat yang
berdekatan dengan makanan dan tempat berbiaknya, serta terlindung dari
angin dan matahari yang terik. Di dalam rumah, lalat istirahat pada pinggiran
tempat makanan, kawat listik dan tidak aktif pada malam hari. Tempat
hinggap lalat biasanya pada ketinggian tidak lebih dari 5 (lima) meter.
Pemberantasan lalat dapat dilakukan dengan 3 cara, fisik (misalnya
penggunaan air curtain), kimia (dengan pestisida), dan biologi (sejenis semut
kecil berwana hitam Phiedoloqelon affinis untuk mengurangi populasi lalat
rumah di tempat-tempat sampah). Lingkungan yang tidak higienis akan
mengundang lalat. Padahal lalat dapat memindahkan mikroorganisme patogen
dari tinja penderita ke makanan atau minuman.
2. ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Atas/ISPA dapat meliputi saluran
pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah, merupakan
infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud
dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung
paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan
selaput paru .
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan
seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Akan
tetapi, anak yang menderita pneumoni bila tidak diobati dengan antibiotik
dapat mengakibat kematian. Di Dinkes/Puskesmas, Program Pemberantasan
Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan, yaitu
pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat
beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat.
Penumonia disebabkan oleh bahaya biologis, yaitu Streptococcus pneumoniae.
Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis, dan penyakit jalan
napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari
sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak
dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang
ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik
penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik. ISPA dapat
12

ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
Sumber penyakit ini adalah manusia. Pneumococci umum ditemukan pada
saluran pernafasan bagian atas dari orang yang sehat di seluruh dunia.
Sedangkan Agen ditularkan ke manusia lewat udara melalui percikan ludah,
kontak langsung lewat mulut atau kontak tidak langsung melalui peralatan
yang terkontaminasi discharge saluran pernafasan. Biasanya penularan
organisme terjadi dari orang ke orang, tetapi penularan melalui kontak sesaat
jarang terjadi.
Manusia yang berada dalam lingkungan yang kumuh dan lembab
memiliki risiko tinggi untuk tertular penyakit ini (intervensi dengan pemberian
genting kaca dan ventilasi padan rumah sering sangat efektif untuk mengatasi
penyakit ini). Setelah terpajan agen, penderita dapat sembuh atau sakit. Seperti
yang diterangkan sebelumnya, untuk agen virus penderita (misalnya flu)
sebenarnya tidak perlu mendapatkan perlakuan khusus. Cukup dijaga kondisi
fisiknya. Penderita yang positif ISPA adalah mereka yang ditandai dengan
serangan mendadak dengan demam menggigil, nyeri pleural, dyspnea,
tachypnea, batuk produktif dengan dahak kemerahan serta lekositosis.
Serangan ini biasanya tidak begitu mendadak, khususnya pada orang tua dan
hasil foto toraks mungkin memberi gambaran awal adanya pneumonia. Pada
bayi dan anak kecil, demam, muntah dan kejang dapat merupakan gejala awal
penyakit. Diagnosa etiologis secara dini sangat penting untuk mengarahkan
pemberian terapi spesifik. Diagnosa pneumoni pneumokokus dapat diduga
apabila ditemukannya diplococci gram positif pada sputum bersamaan dengan
ditemukannya lekosit polymorphonuclear. Diagnosa dapat dipastikan dengan
isolasi pneumococci dari spesimen darah atau sekret yang diambil dari saluran
pernafasan bagian bawah orang dewasa yang diperoleh dengan aspirasi
percutaneous transtracheal.
Secara sederhana penyakit ISPA mempunyai karakteristik sebagai
berikut :
a. Penyebab Penyakit :
Bakteri streptococcus pneumonia (pneumococci)
Hemophilus influenzae
Asap dapur
13

Sirkulasi udara yang tidak sehat
Sedangkan tempat berkembang biak saluran pernafasan,
dengan cara penularan melalui udara (aerogen) berupa
kontak langsung melalui mulut penderita serta cara tidak
langsung melalui udara yang terkontaminasi dengan bakteri
karena penderita batuk.
Cara Pencegahan : Cara efektif mencegah penyakit
ISPA (berdasarkan faktor penyebab penyakit), sebagai
berikut :
b. Tingkat hunian rumah padat
Satu kamar dihuni tidak lebih dari 2 orang atau
sebaiknya luas kamar lebih atau sma dengan 8m2/jiwa.
Plesterisasi lantai rumah
c. Ventilasi rumah/dapur tidak memenuhi syarat
Memperbaiki lubang penghawaan / ventilasi
Selalu membuka pintu/jendela terutama pagi hari
Menambah ventilasi buatan
d. Perilaku
Tidak membawa anak/bayi saat memasak di dapur
Menutup mulut bila batuk
Membuang ludah pada tempatnya
Tidak menggunakan obat anti nyamuk bakar
Tidur sementara terpisah dari penderita
3. Tuberculosis
Tuberculosis (TBC) adalah batuk berdahak lebih dari 3 minggu,
dengan penyebab penyakit adalah kuman / bakteri mikrobakterium
tuberkulosis. Tempat berkembang biak penyakit adalah di paru-paru.
Cara penularan penyakit melalui udara, dengan proses sebagai berikut :
Penderita TBC berbicara, meludah, batuk, dan bersin, maka kuman-
kuman TBC yang berada di paru-paru menyebar ke udara terhirup oleh
orang lain.
Kuman TBC terhirup oleh orang lain yang berada di dekaqt penderita.
14

Cara Pencegahan : Cara efektif mencegah penyakit TBC
(berdasarkan faktor penyebab penyakit), sebagai berikut :
a. Tingkat hunian rumah padat
Satu kamar dihuni tidak lebih dari 2 orang atau
sebaiknya luas kamar lebih atau sma dengan 8m2/jiwaq
Lantai rumah disemen
b. Ventilasi rumah/dapur tidak memenuhi syarat
Memperbaiki lubang penghawaan / ventilasi
Selalu membuka pintu/jendela terutama pagi hari
Menambah ventilasi buatan
c. Perilaku
Menutup mulut bila batuk
Membuang ludah pada tempatnya
Jemur peralatan dapur
Jaga kebersihan diri
Istirahat yang cukup
Makan makan bergizi
Tidur terpisah dari penderita
4. Demam Berdarah Dengue
Penyebab Demam Berdarah Dengue adalah virus dengue yang ditularkan
oleh nyamuk aedes aegypti. Sedangkan tempat berkembang biak dapat didalam
maupun diluar rumah, terutama pada tempat-tempat yang dapat menampung air
bersih seperti :
Di dalam rumah / diluar rumah untuk keperluan sehari-hari seperti ember,
drum, tempayan, tempat penampungan air bersih, bak mandi/WC/ dan lain-
lain
Bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum burung, vas
bunga, perangkap semen, kaleng bekas yang berisi air bersih, dll
Alamiah seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung
kelapa, potongan bambu yang dapat menampung air hujan, dll
a. Cara penularan
Seseaorang yang dalam darahnya mengandung virus
dengue merupakan merupakan sumber penyakit.
15

Bila digigit nyamuk virus terhisap masuk kedalam lambung
nyamuk, berkembang biak, masuk ke dalam kelenjar air
liur nyamuk setelah satu minggu didalam tubuh nyamuk,
bila nyamuk menggigit orang sehat akan menularkan virus
dengue.
Virus dengue tetap berada dalam tubuh nyamuk sehingga
dapat menularkan kepada orang lain, dan seterusnya.
Cara Pencegahan Cara efektif mencegah penyakit
Demam Berdarah (berdasarkan faktor penyebab penyakit),
sebagai berikut :
b. Lingkungan rumah / ventilasi kurang baik :
Menutup tempat penampungan air
Menguras bak mandi 1 minggu sekali
Memasang kawat kasa pada ventilasi dan lubang
penghawaan
Membuka jendela dan pasang genting kaca agar terang
dan tidak lembab
c. Lingkungan sekitar rumah tidak terawatt
Seminggu sekali mengganti air tempat minum burung
dan vas bunga
Menimbun ban, kaleng, dan botol/gelas bekas
Menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air
yang jarang dikuras atau memelihara ikan pemakan
jentik
d. Perilaku tidak sehat
Melipat dan menurunkan kain/baju yang bergantungan
5. Kecacingan
Penyakit kecacingan biasanya menyerang anak-anak dan disebabkan
oleh Cacing Gelang, Cacing Tambang dan Cacing Kremi.
Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides) berkembang biak di dalam
perut manusia dan di tinja. Telur cacing dapat masuk kedalam mulut
melalui makanan yang tercemar atau tangan yang tercemar dengan
16

telur cacing. Telur Cacing menetas menjadi cacing didalam perut,
selanjutnya keluar bersama-sama tinja.
Kecacingan yang disebabkan karena Cacing Kremi (Enterobius
vermicularis). Tempat berkembang biak jenis cacing ini di perut
manusia dan tinja, dengan cara penularan menelan telur cacing yang
telah dibuahi, dapat melalui debu, makanan atau jari tangan (kuku).
Penyakit kecacingan lain, disebabkan oleh Cacing tambang
(Ankylostomiasis Duodenale). Jenis cacing ini mempunyai tempat
berkembang biak Perut manusia dan tinja. Cara Penularan dimulai
ketika telur dalam tinja di tanah yang lembab atau lumpur menetas
menjadi larva. Kemudian larva tersebut masuk melalui kulit, biasanya
pada telapak kaki. Pada saat kita menggaruk anus, telur masuk
kedalam kuku, jatuh ke sprei atau alas tidur dan terhirup mulut. Telur
dapat juga terhirup melaui debu yang ada di udara. atau dengan
reinfeksi (telur larva masuk anus lagi)
Cara efektif mencegah penyakit Kecacingan (berdasarkan
faktor penyebab penyakit), sebagai berikut :
a. Pembuangan Kotoran Tidak Saniter
Buang air besar hanya di jamban
Lubang WC/jamban ditutup
Bila belum punya, anjurkan untuk membangun sendiri
atau berkelompok dengan tetangga
Plesterisasi lantai rumah
b. Pengelolaan makanan tidak saniter
Cuci sayuran dan buanh-buahan yang akan dimakan
dengan air bersih
Masak makanan sampai benar-benar matang
Menutup makanan pakai tudung saji
c. Perilaku Tidak Hygienis
Cuci tangan pakai sabun sebelum makan
Cuci tangan pakai sabun setelah buang air besar
Gunakan selalu alas kaki
Potong pendek kuku
17

Tidak gunakan tinja segar untuk pupuk tanaman
6. Penyakit Kulit
Penyakit kulit biasa dikenal dengan nama kudis, skabies, gudik,
budugen. Penyebab penyakit kulit ini adalah tungau atau sejenis kutu yang
yang sangat kecil yang bernama sorcoptes scabies. Tungau ini berkembang
biak dengan cara menembus lapisan tanduk kulit kita dan membuat
terowongan di bawah kulit sambil bertelur.
Cara penularan penyakit ini dengan cara kontak langsung atau melalui
peralatan seperti baju, handuk, sprei, tikar, bantal, dan lain-lain. Sedangkan
cara pencegahan penyakit ini dengan cara antara lain :
Menjaga kebersihan diri, mandi dengan air bersih minimal 2 kali
sehari dengan sabun, serta hindari kebiasaan tukar menukar baju dan
handuk
Menjaga kebersihan lingkungan, serta biasakan selalu membuka
jendela agar sinar matahari masuk.
Cara efektif mencegah penyakit kulit (berdasarkan faktor penyebab
penyakit), sebagao berikut :
a. Penyediaan air tidak memenuhi syarat
Gunakan air dari sumber yang terlindung
Pelihara dan jaga agar sarana air terhindar dari pencemaran
b. Kesehatan perorangan jelek
Cuci tangan pakai sabun
Mandi 2 kali sehari pakai sabun
Potong pendek kuku jari tangan
c. Perilaku tidak hygienis
Peralatan tidur dijemur
Tidak menggunakan handuk dan sisir secara bersamaan
Sering mengganti pakaian
Pakaian sering dicuci
Buang air besar di jamban
Istirahat yang cukup
Makan makanan bergizi

18

7. Keracunana Makanan
Cara efektif mencegah Keracunan Makanan, berdasarkan faktor
penyebab penyakit, sebagai berikut :
a. Makanan rusak atau kadaluwarsa
Pilih bahan makanan yang baik dan utuh
Makanan yang sudah rusak/kadaluwarsa tidak dimakan
b. Pengolahan Makanan tidak Akurat
Memasak dengan matang dan panas yang cukup
Makan makanan dalam akeadaan panas/hangat
Panaskan makanan bila akan dimakan
c. Lingkungan tidak bersih / higienis
Tempat penyimpanan makanan matang dan mentah terpisah
Simpan makanan pada tempat yang tertutup
Kandang ternak jauh dari rumah
Tempat sampah tertutup
d. Perilaku tidak higienis
Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makan
Cuci tangan pakai sabun sesudah BAB
Bila sedang sakit jangan menjamah makanan atau pakailah
tutup mulut.
8. Penyakit Malaria
Cara efektif mencegah Penyakit Malaria, berdasarkan faktor penyebab
penyakit, sebagai berikut :
a. Lingkungan rumah /ventilasi kurang baik
Memasang kawat kasa pada ventilasi /lubang penghawaan
Jauhkan kandang ternak dari rumah ayau membuat kandang
kolektif
Buka jendela atau buka genting kaca agar terang dan tidak
lembab
b. Lingkungan sekitar rumah tidak terawatt
Sering membersihkan rumput / semak disekitar rumah dan
tepi kolam
Genangan air dialirkan atau ditimbun
Memelihara tambak ikan dan membersihkan rumput
19

Menebar ikan pemakan jentik
c. Perilaku tidak sehat
Melipat dan menurunkan kain/baju yang bergantungan
Tidur dalam kelambu

E. UPAYA MEMINIMALISIR PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya
penyakit berbasis lingkungan, diantaranya :
1. Penyehatan Sumber Air Bersih (SAB), yang dapat dilakukan melalui Surveilans
kualitas air, Inspeksi Sanitasi Sarana Air Bersih, Pemeriksaan kualitas air, dan
Pembinaan kelompok pemakai air.
2. Penyehatan Lingkungan Pemukiman dengan melakukan pemantauan jamban
keluarga (Jaga), saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat pengelolaan
sampah (TPS), penyehatan Tempat-tempat Umum (TTU) meliputi hotel dan
tempat penginapan lain, pasar, kolam renang dan pemandian umum lain, sarana
ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar dan tempat hiburan
lainnya.
3. Dilakukan upaya pembinaan institusi Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain,
sarana pendidikan, dan perkantoran.
4. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM) yang bertujuan untuk melakukan
pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan dan
minuman, kesiap-siagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan
dini serta penyakit bawaan makanan.
5. Pemantauan Jentik Nyamuk dapat dilakukan seluruh pemilik rumah bersama
kader juru pengamatan jentik (jumantik), petugas sanitasi puskesmas, melakukan
pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang mungkin menjadi perindukan nyamuk
dan tumbuhnya jentik.

F. UPAYA PENANGGULANGAN WABAH
Upaya penanggulangan wabah meliputi:
1. penyelidikan epidemiologis, yaitu melakukan penyelidikan untuk mengenal sifat-
sifat penyebabnya serta faktor yang dapat menimbulkan wabah
2. pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderita termasuk tindakan
karantina
20

3. pencegahan dan pengebalan yaitu tindakan yang dilakukan untuk memberikan
perlindungan kepada mereka yang belum sakit tetapi mempunyai risiko terkena
penyakit.
4. pemusnahan penyebab penyakit, yaitu bibit penyakit yang dapat berupa bakteri,
virus dan lain-lain.
5. penanganan jenazah akibat wabah.
6. penyuluhan kepada masyarakat





















21


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penyakit berbasis lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan
fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia
dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi penyakit
kualitas kesehatan lingkungan adalah salah satu dari empat faktor yang
mempengaruhi kesehatan manusia menurut H.L Blum yang merupakan faktor yang
memberikan kontribusi terbesar terhadap pencapaian derajat kesehatan.d
Jenis penyakit berbasis lingkungan yang pertama disebabkan oleh
virus seperti ISPA, TBC paru, Diare, Polio, Campak, dan Kecacingan; yang
kedua disebabkan oleh binatang seperti Flu burung, Pes, Anthrax ; dan yang ketiga
disebabkan oleh vektor nyamuk diantanya DBD, Chikungunya dan Malaria.Penyakit
berbasis lingkungan masih menjadi permasalahan untuk Indonesia
B. SARAN
Ada beberapa saran yang perlu kami sampaikan kepada pihak pihak terkait :
1. Pemerintah perlu mensosialisakan mengenai perilaku hidup sehat yang harus
dijalankan oleh masyarakat, terkait dengan munculnya berbagai penyakit
berbasis lingkungan.
2. Para cendikiawan, seyogyanya perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang
pengaruh lingkungan terhadap munculnya berbagai penyakit baru.
3. Tim Kesehatan Masyarakat perlu melakukan berbagai upaya tindakan
preventif terhadap perkembangan penyakit berbasis lingkungan yang dapat
diikuti oleh seluruh masyarakat.
4. Dan khususnya bagi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih san sehat agar
tidak terkena penyakit berbasis lingkungan yang sudah dibahas sebelumnya.