Anda di halaman 1dari 14

OKSIGEN REAKTIF PADA MUTASI

Mutasi Gen
Mutasi gen disebut juga mutasi titik (point mutation). Mutasi ini terjadi karena
adanya perubahan struktur gen (DNA), akibatnya asam amino yang dikodekan berubah
sehingga terbentuk protein yang salah.
Ada beberapa macam jenis mutasi gen, antara lain sebagai berikut:

Addisi / insersi Delesi

Substitusi
1. Delesi : hilangnya satu atau beberapa basa nitrogen
2. Addisi : penambahan satu atau beberapa basa nitrogen (sering disebut juga
insersi)
3. Substitusi : pertukaran pasangan basa nitrogen. Bila pertukaran terjadi antar
pasangan basa nitrogen purin-pirimidin dengan purin-pirimidin yang lain
disebut transisi. Misalnya pasangan AT digantikan pasangan GS. Bila pertukaran
terjadi antar pasangan basa nitrogen purin-pirimidin dengan pirimidin-purin
disebut transversi. Misalnya AT digantikan pasangan TA. Perhatikan bagan di
bawah.

Mutasi Alami dan Mutasi Buatan
Berdasarkan faktor penyebabnya, mutasi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
1. Mutasi Alami (Mutasi Spontan) : yaitu mutasi yang disebabkan oleh alam,
misalnya oleh:
sinar kosmis (foton, positron, proton) yang berasal dari angkasa luar
batuan radioaktif (thorium, uranium, radium)
sinar ultraviolet matahari
sesuatu yang tak jelas dalam metabolisme sehingga terjadi kekeliruan
dalam sintesis bahan genetis
radiasi ionisasi internal dari bahan radioaktif yang mungkin terkandung
dalam jaringan lewat makanan atau minuman yang kena pencemaran
radioaktif
Mutasi alam sangat jarang terjadi dan bila terjadi adalah secara kebetulan, amat lambat
tetapi pasti. Penelitian mengenai mutasi ini sangat sulit karena terjadinya sangat jarang
dan lambat.
2. Mutasi Buatan (Induksi) : mutasi yang sengaja dilakukan manusia untuk
tujuan tertentu. Mutasi buatan dapat disebabkan oleh beberapa mutagen, diantaranya
adalah:
a. Bahan Fisika, terdiri dari:
Sinar X, sinar gamma, isotop radioaktif
Partikel yang dapat mengionisasi (netron, elektron, proton, partikel alva,
dan ion-ion berat)
Sinar ultra violet
Suhu yang tinggi
b. Bahan kimia, terdiri dari:
Pestisida (DDT, aziridin)
Makanan/minuman (kafein, siklamat, asam nitrit, natrium nitrit)
Agen alkilasi (gas mustard, dimetil dan dietil sulfat)
Kolkisin, digitonin
c. Bahan Biologi
Lebih dari 20 macam virus penyebab kerusakan kromosom. Virus
campak dan cacar juga dapat menimbulkan aberasi. Diduga ada banyak jenis
kanker dan tumor yang disebabkan karena inveksi virus. Saat ini mutasi buatan
telah banyak dimanfaatkan untuk memperoleh tanaman yang poliploid.
Misalnya dengan jalan induksi kolkisin pada tanaman kol, tomat, anggur, dan
semangka.












Oksigen Reaktif
Oksigen reaktif merupakan suatu oksidan yang dapat mengganggu integritas sel
karena dapat bereaksi dengan komponen-komponen sel yang penting untuk
mempertahankan kehidupan sel, baik komponen struktural (misalnya molekul-molekul
penyusun membran) maupun komponen-komponen fungsional (misalnya enzim-enzim
dan DNA). Oksidan dapat menimbulkan kerusakan sel, dan menjadi penyebab atau
mendasari berbagai keadaan patologik seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit
respiratorik, gangguan sistem tanggap kebal, karsinogenesis, bahkan dicurigai ikut
berperan dalam proses penuaan (aging). Sebagian mekanisme kerusakan oleh oksidan
telah diketahui, tetapi sebagian lagi karena rumitnya proses proses yang terkait, masih
belum sepenuhnya jelas. Spesies oksigen reaktif (ROS) seperti anion radikal superoksida
(O
2
-
) (. OH); hidrogen peroksida (H
2
O
2
) dan radikal hidroksil telah terlibat dalam
patofisiologi di berbagai negara, termasuk cedera reperfusi iskemia, shock hemoragik,
aterosklerosis, gagal jantung, hipertensi akut dan kanker. Radikal bebas, oksida nitrat
(NO) dan O
2
-
bereaksi membentuk peroxynitrite (ONOO
-
), yang merupakan suatu
oksidan sitotoksik kuat. Sebuah mekanisme potensial dari kerusakan oksidatif adalah
nitrasi residu tirosin protein, peroksidasi lipid, degradasi fragmen DNA dan
oligonucleosomal.
Ada beberapa mekanisme yang bertanggung jawab untuk melindungi sel-sel dari
potensial kerusakan sitotoksik yang disebabkan oleh radikal bebas. Sel telah
mengembangkan berbagai sistem pertahanan enzimatik dan nonenzimatik untuk
mengendalikan spesies oksigen yang berkembang dengan cepat. Namun, sebagian
tertentu dapat lolos dari pertahanan seluler dan dapat menyebabkan kerusakan permanen
atau sementara bagi asam nukleat dalam sel, yang mengarah kepada kerusakan rantai
DNA dan gangguan metabolisme Ca
2+
. Saat ini kemungkinan peran ROS sangat besar
dalam menyebabkan kerusakan DNA yang mengarah kepada kanker dan mutasi spontan.
Tingkat tinggi dari kerusakan oksidatif pada DNA mamalia telah dibuktikan dengan
mengukur basa DNA teroksidasi yang diekskresikan dalam urin setelah perbaikan DNA.
Tingkat kerusakan DNA oksidatif secara langsung berkaitan dengan tingkat metabolisme
dan berbanding terbalik dengan masa hidup organisme.


Oksidan yang dapat merusak sel berasal dari berbagai sumber, yaitu :
a. yang berasal dari tubuh sendiri, yaitu senyawa-senyawa yang sebenarnya berasal
dari proses-proses biologik normal (fisiologis), namun oleh suatu sebab terdapat
dalam jumlah besar
b. yang berasal dari proses-proses peradangan.
c. yang berasal dari luar tubuh, seperti misalnya obat-obatan dan senyawa pencemar
d. yang berasal dari akibat radiasi

Oksidan yang terlibat dalam berbagai proses patologis sebagian besar justru berasal
dari proses-proses biologis alami. Dan melibatkan apa yang disebut sebagai senyawa
oksigen reaktif (reactive oxygen compounds ). Sebagian diantaranya berbentuk radikal
seperti radikal hidroksil (OH), radikal peroksil (OOH), dan ion superoksida (O
2
-
).
Sebagian yang lain bukan radikal, seperti singlet oksigen (O
2
), hidrogen peroksida
(H
2
O
2
) dan ion hipoklorit (ClO
-
). Senyawa oksigen reaktif, sesuai dengan namanya,
berasal dari oksigen (O
2
), senyawa yang diperlukan oleh semua organisma airobik
termasuk manusia.

Organisme aerobik memerlukan oksigen untuk menghasilkan ATP, suatu senyawa
yang merupakan sumber enrgi bagi kebanyakan mahluk hidup, melalui fosforilasi
oksidatif yang terjadi di mitokondria. Proses tersebut secara sederhana dapat
digambarkan sebagai berikut :
NADH + H
+
+ O
2
NAD
+
+ H
2
O + energi
ADP + P + energi ATP

Pada proses tersebut terjadi reduksi O
2
menjadi H
2
O yang secara sederhana dapat
ditulis sebagai berikut :
O
2
+ 4H
+
+ 4 e
-
H
2
O
Dari persamaan tersebut diatas mudah dilihat bahwa reduksi oksigen menjadi
H
2
O merupakan pengalihan 4 (empat) elektron (4 electron transfer). Dalam keadaan
tertentu pengalihan elektron tersebut berjalan kurang sempurna sehingga terjadi
senyawa-senyawa oksigen reaktif yang sangat berbahaya, yang akan merusak sel
apabila tak diredam. Hal seperti itu terjadi dalam keadaan-keadaan yang disebut jejas
oksidatif (oxidative stress).
Senyawa oksigen reaktif yang berperan sebagai oksidan adalah : hidrogen
peroksida, (H
2
O
2
), ion superoksida (O
2

), radikal peroksil ( OOH), radikal hidroksil


(OH) dan singlet oksigen. Hidrogen peroksida terutama terbentuk karena aktifitas
enzim-enzim oksidase yang terdapat dalam retikulum endoplasmik (mikrosom) dan
peroksisom. Enzim-enzim tersebut mengkatalisis reaksi :
RH
2
+ O
2
R + H
2
O
2


H
2
O
2
merupakan merupakan oksidan yang kuat dan dapat mengoksidasi berbagai
senyawa yang terdapat di dalam sel, misalnya :glutation :
2 GSH + H
2
O
2
GSSG + 2H
2
O

Daya rusak H
2
O
2
bukan hanya karena senyawa tersebut merupakan oksidan yang
kuat, tetapi juga karena H
2
O
2
dapat menghasilkan radikal hidroksil bila H
2
O
2
bereaksi
dengan logam transisi (transitional metals ), Fe
++
dan Cu
+


Fe
++
(Cu
+
) + H
2
O
2
Fe
+++
(Cu
++
) + OH

+ OH
(reaksi Fenton)

H
2
O
2
juga dapat menghasilkan oksidan kuat yang lain, yaitu ion hipoklorit (ClO

)
melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim mieloperoksidase yang terdapat dalam sel-
sel radang. Seperti granulosit, monosit dan makrofag :

H
2
O
2
+ Cl

H
2
O + ClO


Ion hipoklorit dapat mengoksidasi berbagai senyawa :
R + ClO

RO + Cl





Ion Superoksida (O
2

)
Ion superoksida dapat terbentuk melalui beberapa cara, antara lain :
1. Sebagai reaksi sampingan yang melibatkan Fe
++
seperti misalnya :
Proses fosforilasi
Proses oksigenasi Hemoglobin
Proses hidroksilasi oleh enzim mono oksigenase (sitokrom P450 dan
sitokrom b4)
Ion Fe bebas

Reaksi tersebut dapat ditulis sebagai berikut :
Fe
++
+ O
2


Fe
+++
+ O


Ion superoksida sendiri sebenarnya tak terlalu reaktif. Bentuk reaktifnya ialah
radikal peroksida yang terbentuk melalui reaksi sebagai berikut :
O
2

+ H

OOH
Radikal peroksil
Seperti halnya radikal lain, radikal inipun sangat reaktif dan akan membentuk radikal
baru serta H
2
O
2
:
XH + OOH X + H
2
O
2

Dari reaksi diatas kiranya jelas bahwa radikal peroksil jauh lebih berbahaya
dibandingkan dengan H
2
O
2
. Ion superoksida akan sangat berbahaya apabila terdapat
bersamaan dengan H
2
O
2
karena akan membentuk radikal hidroksil (OH) :
O
2

+ H
2
O
2
O
2
+ OH

+ OH
(Reaksi Haber Weiss)
Reaksi ini memerlukan ion Fe
+++
atau Cu
++
dan diperkirakan terjadi melalui dua
tahap, yaitu :
Fe
+++
/ Cu
++
+ O
2

Fe
++
/ Cu
+
+ O
2

Fe
++
/ Cu
+
+ H
2
O
2
Fe
+++
/ Cu
++
+ OH

+ OH
Diantara senyawa-senyawa oksigen reaktif, radikal hidroksil adalah yang paling
reaktif, oleh karena itu paling berbahaya.. Namun radikal hidroksil bukan merupakan
produk primer proses biologik, tetapi berasal dari H
2
O
2
dan O
2


Senyawa-senyawa oksigen reaktif semuanya merupakan oksidan yang kuat, walaupun
derajat kekuatannya berbeda-beda. Dampak negatif tersebut timbul karena reaktifitasnya
sehingga dapat merusak komponen-komponen sel yang penting untuk mempertahankan
integritas dan kehidupan sel. Aktifitas oksidan dapat menjadi penyebab atau mendasari
berbagai keadaan patologis. Dampak aktifitas oksidan dapat sangat luas, dan sering
mekanisma molekulernya masih belum terkuak secara jelas. Diantara senyawa-senyawa
oksigen reaktif, radikal hidroksil merupakan senyawa yang paling berbahaya karena
reaktifitasnya sangat tinggi.
Radikal hidroksil dapat merusak tiga jenis senyawa yang penting untuk
mempertahankan integritas sel, yaitu :
1. asam lemak, khususnya asam lemak tak jenuhyang merupakan komponen
penting fosfolipid penyusun membran sel.
2. DNA, yang merupakan perangkat genetik sel.
3. Protein yang memegang berbagai peran penting seperti enzim, reseptor,
antibodi dan pembentuk matriks serta sitoskeleton.


Mekanisme Mutasi oleh Spesies Oksigen Reaktif
DNA terus diserang oleh spesies reaktif yang dapat mempengaruhi struktur dan
fungsinya dengan parah. Modifikasi struktural DNA terutama timbul dari modifikasi di
basa yang terutama terjadi karena eksposur mereka terhadap spesies reaktif yang berbeda.
Selain itu, pemisahan untai DNA, ikatan silang antar-dan intra-untai dan crosslink antara
DNA-protein juga dapat mempengaruhi struktur DNA secara signifikan. modifikasi
struktural inilah yang terlibat dalam mutasi, kanker dan banyak penyakit lainnya. Karena
memiliki oksidasi paling potensial di antara semua basa DNA, guanin sering diserang
oleh spesies reaktif, sehingga menghasilkan sejumlah besar lesi yang mematikan.
Untungnya, sel-sel hidup yang berevolusi dengan enzim dengan baik terus menerus
melindungi DNA dari kerusakan tersebut.
Spesies oksigen reaktif (ROS) yang dihasilkan dalam sel tidak hanya di bawah
pengaruh zat xenobiotik (peroksida, photosensitizers, oksidan lainnya) dan radiasi (UV,
sinar-X), tetapi juga endogen, misalnya sebagai produk hasil dari metabolisme oksigen
(Gambar 1). Spesies oksigen reaktif memiliki sifat genotoksik, yaitu mereka menginduksi
modifikasi DNA sehingga terjadi mutasi. Oleh karena itu, generasi seluler ROS
merupakan ancaman serius terhadap integritas genom seluler, mengabaikan adanya
mekanisme pertahanan yang efisien (antioksidan, perbaikan DNA spesifik) dan
seharusnya secara kausal terlibat dalam perkembangan kanker dan penyakit lainnya yang
berhubungan dengan usia (Gambar 2).








Gambar 1 : Mekanisme kerusakan DNA oleh Spesies oksigen reaktif. Spesies oksigen
reaktif berkembang di dalam sel secara endogen (metabolisme oksigen) dan eksogen
(obat, radiasi).













Gambar 2 : Level stabil dari modifikasi DNA oksidatif berkontribusi terhadap
perkembangan kanker dan penyakit lainnya. Perkembangan yang berkelanjutan dari
modifikasi DNA oksidatif oleh spesies oksigen reaktif dari metabolisme oksigen dan
perbaikan stimultan dari mekanisme spesifik menghasilkan level stabil dari modifikasi,
yang mana ditunjukkan dengan cairan merah di dalam kotak. Modifikasi DNA
berkontribusi pada frekuensi mutasi secara spontan dari sel selama replikasi, di mana
hal tersebut dapat mengaktifkan gen tumor dan menginisiasi adanya karsinogenesis.
Mutasi yang lain, sebagai contoh dalam DNA mitokondria, mungkin berefek terhadap
suplai energi sel dan mengakibatkan penyakit degeneratif.


Mekanisme perbaikan modifikasi basa DNA oksidatif
Modifikasi basa DNA oksidatif seperti 7,8-dihidro-8-oxoguanine (8-oxoG) diperbaiki
secara dominan oleh perbaikan dasar eksisi. Namun, ditunjukkan relevansi yang tak
terduga dari protein lain, khususnya protein Cockayne Syndrome B (CSB) dan poli
(ADP-ribosyl) polymerase 1 (PARP1).
Mekanisme dan konsekuensi dari kerusakan DNA oksidatif yang disebabkan oleh
radiasi ultraviolet dan cahaya tampak
Sinar matahari menimbulkan kerusakan DNA oleh dua mekanisme. Di satu sisi, DNA
langsung menyerap radiasi di UVC dan jangkauan spekteum UVB (hingga ~ 320 nm).
Penyerapan menimbulkan karakteristik produk cahaya, terutama pembentukan dimer
pirimidin. Sifat mutagenik mereka telah mandiri. Di sisi lain, beberapa unsur yang belum
teridentifikasi sejauh ini (mungkin porfirin atau flavin) bertindak sebagai photosensitizers
endogen yang bereaksi secara langsung dengan DNA atau menimbulkan pembentukan
ROS. Reaksi ini menyebabkan kerusakan DNA oksidatif yang juga mutagenik.
Kontribusi mekanisme tidak langsung (yang dimediasi fotosensitizer) untuk risiko kanker
yang disebabkan oleh sinar matahari langsung belum diketahui dan karena itu sedang
diselidiki. Hal ini diantisipasi bahwa mekanisme tidak langsung tidak akan seefektif
eksitasi DNA langsung, tetapi mereka akan membuat kontribusi penting untuk
genotoksisitas sinar matahari dalam kisaran panjang gelombang di mana DNA memiliki
sedikit atau tidak ada penyerapan.

Dampak Negatif Terhadap Membran Sel
Komponen terpenting membran sel adalah fosfolipid, glikolipid dan kolesterol. Dua
komponen pertama mengandung asam lemak tak jenuh. Justru asam lemak tak jenuh ini
(asam-asam linoleat, linolenat dan arakidonat) sangat rawan terhadap serangan-serangan
radikal, terutama radikal hidroksil. Radikal hidroksil dapat menimbulkan reaksi rantai
yang dikenal dengan nama peroksidasi lipid

LH + OH L + H
2
O
Asam lemak. Radikal lipid

L + O
2
LOO
Radikal peroksilipid

LOO + RH L + LOOH
dan seterusnya.

Akibat akhir dari rantai reaksi ini adalah terputusnya rantai asam lemak menjadi
berbagai senyawa yang bersifat toksis terhadap sel, antara lain berbagai macam aldehida,
seperti malondialdehida, 9-hidroksi-nonenal serta bermacam-macam hidrokarbon seperti
etana (C
2
H
6
) dan pentana (C
5
H
12
). Dapat pula terjadi ikatan silang (cross-linking) antara
dua rantai asam lemak atau antara asam lemak dan rantai peptida (protein) yang timbul
karena reaksi dua radikal :
R
1
+ R
2


R
1
R
2

Semuanya itu menyebabkan kerusakan kerusakan parah membran sel sehingga
membahayakan kehidupan sel


Dampak Negatif Terhadap DNA
Radikal bebas dapat menimbulkan berbagai perubahan pada DNA yang antara lain
.berupa : hidroksilasi basa timin dan sitosin, pembukaan inti purin dan pirimidin serta
terputusnya rantai fosfodiester DNA
Bila kerusakan tak terlalu parah, maka masih bisa diperbaiki oleh sistem perbaikan
DNA (DNA repair system ). Namun apabila kerusakan terlalu parah, misalnya rantai
DNA terputus-putus diberbagai tempat, maka kerusakan tersebut tak dapat diperbaiki dan
replikasi sel akan terganggu.. Susahnya, perbaikan DNA ini sering justru menimbulkan
mutasi, karena dalam memperbaiki DNA tersebut sistem perbaikan DNA cenderung
membuat kesalahan (error prone ), dan apabila mutasi ini mengenai gen-gen tertentu yang
disebut onkogen, maka mutasi tersebut dapat menimbulkan kanker.


Dampak Negatif Terhadap Protein
Oksidan dapat merusak protein karena dapat mengadakan reaksi dengan asam-asam
amino yang menyusun protein tersebut. Diantara asm-asam amino penyusun protein yang
paling rawan adalah sistein. Sistein mengandung gugusan sulfidril (SH) dan justru
gugusan inilah yang paling peka terhadap serangan radikal bebas seperti radikal hidroksil
:
RSH + OH RS + H
2
O
RS + RS RSSR
Pembentukan ikatan disulfida (-S-S-) menimbulkan ikatan intra atau antar molekul
protein tersebut kehilangan fungsi biologisnya (misalnya enzim kehilangan aktivitasnya).








Gambar 3. Akibat dari adanya oksigen reaktif pada konsentrasi tinggi sehingga
menyebabkan adanya kerusakan oksidatif bagi lemak, protein dan DNA.





DAFTAR PUSTAKA

Biofiles. 2007. DNA Damage and Repair Mechanisms. Diakses di
http://www.sigmaaldrich.com/technical-documents/articles/biofiles/dna-damage-
and-repair.html (9 Juli 2014 pukul 8.07)
Cooke, MS. 2003. Oxidative DNA damage: mechanisms, mutation, and disease. Diakses
di http://www.fasebj.org/content/17/10/1195.full (8 Juli 2014 pukul 19.35)
Forschung. 2011. DNA Damage by Reactive Oxygen Species (ROS) and its Biological
Consequences. Diakses di http://www.pharmazie.uni-mainz.de/AK-Epe/44.php (8
Juli 2014 pukul 20.14)
Isahi, Dosso Sang. 2014. Mutasi. Diakses di http://biologimediacentre.com/mutasi/ (8
Juli 2014 pukul 19.41)
NR, Jena. 2012. DNA Damage by Reactive Species: Mechanisms, Mutation and Repair.
Diakses di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22750987 (8 Juli 2014 pukul
21.42)
T, Hemnani., Parihar MS. 1998. Reactive Oxygen Species and Oxidative DNA Damage.
Diakses di http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10874342 (8 Juli 2014 pukul
20.33)

Wulandari, Eka. 2014. Resume Seminar. Diakses di
http://old.analytical.chem.itb.ac.id/coursesdata/16/moddata/assignment/33/532/resu
me_seminar.doc (8 Juli 2014 pukul 21.17)