Anda di halaman 1dari 16

1

2

SEJARAH SUNSET POLICY
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 s.t.t.d.d. Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) memberikan kewenangan
kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun data perpajakan dan mewajibkan
instansi pemerintah, lembaga, asosiasi dan pihak lainnya untuk memberikan data kepada
Direktorat Jenderal Pajak. Ketentuan ini memungkinkan Direktorat Jenderal Pajak
mengetahui ketidakbenaran pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan oleh
masyarakat. Untuk menghindari masyarakat dari pengenaan sanksi perpajakan yang timbul
apabila masyarakat tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya secara benar, Direktorat
Jendral Pajak (DJP) di tahun 2008 ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
masyarakat untuk memulai memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela dan
melaksanakannya dengan benar. Sehingga Direktorat Jendral Pajak (DJP) membuat suatu
kebijakan yang hanya berlaku dalam satu tahun, yaitu mulai dari 1 Janurai 2008 sampai 31
Desember 2008 yang disebut dengan Sunset Policy.
Dengan pertimbangan animo masyarakat yang cenderung ramai memanfaatkan
Sunset Policy pada akhir tahun 2008, maka Direktur jendral Pajak mengeluarkan kebijakan
perpanjangan yaitu sampai 28 Februari 2009 untuk Wajib Pajak Pribadi dan 31 Maret 2009
untuk Wajib Pajak Badan. Sunset Policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan,
yang berlaku hanya di tahun 2008, dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi
perpajakan berupa bunga yang diatur.
DEFINISI SUNSET POLICY
Sunset Policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan, yang berlaku hanya
di tahun 2008, dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang
diatur dalam Pasal 37A UU KUP. Pihak-pihak yang dapat memanfaatkan Sunset Policy
adalah:
1. Orang Pribadi yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang dalam
tahun 2008 secara sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan
menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak 2007 dan tahun-tahun pajak
sebelumnya paling lambat 31 Maret 2009.
2. Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang telah memiliki NPWP sebelum tahun 2008,
yang menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2006 dan tahun-tahun
3

pajak sebelumnya untuk melaporkan penghasilan yang belum diperhitungkan dalam
pelaporan SPT Tahunan PPh yang telah disampai kan.
Kebijakan Sunset Policy bersifat khusus yang hanya berlaku dalam jangka waktu
terbatas, sehingga beberapa ketentuan umum KUP tidak berlaku. Ketentuan umum yang
tidak berlaku tersebut seperti Undang-Undang KUP Pasal 8 ayat 1 yaitu :
Pembatasan jangka waktu 2 (dua) tahun untuk pembetulan SPT tahun PPh
Persyaratan belum dilakukan pemeriksaan
Yang menjadi konsep dasar sunset policy adalah prinsip Self Assessment, yaitu
Wajib Pajak mendaftarkan diri, menghitung, memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan
sendiri pajak yang terutang. Dengan kata lain pemerintah dalam hal ini aparat pajak tidak
lagi menetapkan jumlah pajak terutang, tetapi berfungsi untuk melakukan pembinaan,
sosialisasi, penelitian dan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan. Hal ini
dimaksudkan agar dapat menggerakkan peran serta semua lapisan subjek pajak dalam
meningkatkan penerimaan dalam negeri. Untuk itu Wajib Pajak diberi kemudahan-
kemudahan dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Sunset Policy di sini hadir sebagai
fasilitas/kemudahan yang diberikan kepada Wajib Pajak/Subjek Pajak untuk memenuhi
kewajiban perpajakannya.
DASAR HUKUM PELAKSANAAN SUNSET POLICY
Peraturan yang menjadi landasan hukum sunset policy, antara lain:
1. Pasal 37 A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007
2. Pasal 33 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/PMK.03/2008 stdd PMK Nomor
12/PMK.03/2009 tentang Tata Cara Penyampaian atau Pembetulan Surat
Pemberitahuan, dan Persyaratan Wajib Pajak Yang Dapat Diberikan Penghapusan
Sanksi Administrasi Dalam Rangka Penerapan Pasal 37A UU Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan UU Nomor 28 Tahun 2007
4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 27/PJ/2008 stdd Perdirjen 13/PJ/2009
tentang Tata Cara Penyampaian, Pengadministrasian, serta Penghapusan Sanksi
Administrasi Sehubungan dengan Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Untuk Tahun Pajak 2007 dan Sebelumnya,
4

dan Sehubungan dengan Pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi atau Wajib Pajak Badan Untuk Tahun Pajak
Sebelum Tahun Pajak 2007
5. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-33/PJ/2008 tentang Tata Cara
Pemberian NPWP, Penerimaan dan Pengolahan SPT Tahunan PPh, Penghapusan
Sanksi Administrasi, Penghentian Pemeriksaan, dan Pengadministrasian Laporan
Terkait dengan Pelaksanaan Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata
Cara Perpajakan
6. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-34/PJ/2008 tentang Penegasan
Pelaksanaan Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan
Beserta Ketentuan Pelaksanaannya
TEKNIS SUNSET POLICY
Ketentuan sunset policytercantum dalam Undang-undang KUP Nomor 28 Tahun
2007 Pasal 37A, perubahan ketiga atas undang-undang Nomor 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yang ketentuan pelaksanaannya diatur dalam
Peraturan Menteri Keungan Nomor 66/PMK.03/2008, dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor 27/PJ/2008 sebagai mana telah diubah dengan peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor 30/PJ/2008, serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-33/PJ/2008
tanggal 27 Juni 2008.
Ketentuan Sunset Policy bagi Wajib Pajak Baru dan Wajib Pajak Lama
Dalam Undang-undang KUP Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 37A Sunset Policy bisa
dimanfaatkan oleh Wajib Pajak baru dan Wajib Pajak lama. Adapun ketentuan bagi
Wajib Pajak tersebut yaitu:
A. Wajib Pajak Baru.
Wajib Pajak Orang Pribadi yang memperoleh NPWP secara sukarela dalam
tahun 2008 (Wajib Pajak baru) yang memanfaatkan fasilitas sunset policy diberikan
penegasan lebih lanjut yaitu sebagai berikut :
1. Wajib Pajak Baru yang menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk tahun pajak 2007
atau tahun pajak dan sebelumnya dalam kurun waktu mulai tanggal 1 Januari
2008 sampai dengan 31 Maret 2009 diberikan fasilitas Sunset Policy.
5

2. Wajib Pajak Baru yang membetulkan SPT Tahun PPh untuk tahun pajak 2007
atau tahun pajak 2007 dan sebelumnya dalam kurun waktu mulai tanggal 1
Januari 2008 sampai dengan 30 juni 2008 diberikan fasilitas sunset policy.
3. Wajib Pajak Baru yang membetulkan SPT tahunan PPh untuk tahun pajak 2007
atau tahun pajak 2007 dan sebelumnya dalam kurun waktu mulai tanggal 1 Juli
2008 sampai dengan 31 Desember 2008, diberikan fasilitas sunset policy atas
pembetulan yang pertama kali. Namun, apabila pembetulan SPT Tahunan PPh
dilakukan terhadap SPT Tahunan PPh (SPT Lama) yang telah disampaikan dalam
kurun waktu mulai tanggal 1 Juli 2008 sampai dengan 31 desember 2008,
Pembetulan SPT, Tahunan PPh tersebut tidak memperoleh fasilitas sunset policy.
B. Wajib Pajak Lama
Wajib Pajak yang telah memiliki NPWP sebelum tanggal 1 Januari 2008
(Wajib Pajak Lama) yang memanfaatkan sunset policy diberikan penegasan, yaitu:
1. Wajib Pajak Lama yang menyampaikan SPT Tahunan PPh Wajib pajak badan
atau Wajib Pajak Orang Pribadi untuk tahun pajak 2006 dan/atau tahun-tahun
pajak sebelumnya dalam kurun waktu mulai tanggal 1 Januari 2008 sampai
dengan 31 Desember 2008 yang menyatakan kurang bayar dan sekarang di
perpanjang sampai dengan 26 Februari 2009, diberikan fasilitas sunset policy.
2. Wajib Pajak Lama yang membetulkan SPT Tahunan PPh WP badan atau WP
orang pribadi untuk tahun pajak 2006 dan/atau tahun-tahun pajak sebelumnya
dalam kurun waktu mulai tanggal 1 Januari 2008 sampai dengan 31 Juni 2008
menyatakan kurang bayar, diberikan fasilitas sunset policy.
3. Wajib Pajak lama yang membetulkan SPT Tahunan WP badan atau WP orang
pribadi untuk tahun pajak 2006 dan/atau tahun-tahun pajak sebelumnya dalam
kurun waktu mulai tanggal 1 Juli 2008 sampai dengan 31 desember 2008,
pembetulan SPT Tahunan PPh tersebut tidak memperoleh fasilitas sunset policy.
Ketentuan Sunset Policy bagi WP Sedang Dilakukan Pemeriksaan
Wajib Pajak memberitahukan ke KPP domisili dalam waktu paling lama tanggal
22 Agustus 2008 atau paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah SP3 diperlihatkan kepada
wajib pajak. Dalam hal Wajib Pajak yang diperiksa untuk seluruh jenis pajak (all taxes)
membetulkan SPT Tahunan PPh WP Badan atau WP Orang Pribadi, dan SPT untuk jenis
6

pajak lainnya tidak ada yang menyatakan lebih bayar, pemeriksaan untuk jenis pajak
tersebut dihentikan, kecuali :
A. Jika Pajak Penghasilan WP Badan atau WP Orang Pribadi yang terutang
berdasarkan temuan pemeriksaan yang didukung oleh bukti yang akurat/konkrit
(bukan hasil ekualisasi, pengujian arus piutang, pengujian arus utang dan
sebagaimya). Sampai dengan saat Wajib Pajak membetukan SPT Tahunan PPh
WP Badan atau WP Orang Pribadi lebih besar daripada Pajak Penghasilan yang
terutang menurut pembetulan SPT Tahunan WP Badan atau WP orang pribadi,
maka pemeriksaan dilanjutkan setelah mendapat persetujuan dari atasan langsung
kepada Unit Pelaksanaan Pemeriksaan; atau
B. Jika terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan, maka pemeriksaan
tersebut ditindaklanjuti dengan mengusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Temuan pemeriksaan tersebut hanya menyangkut temuan pemeriksaan
yang terkait dengan pemeriksaan atas SPT Tahunan PPh WP Badan atau WP
Orang Pribadi. Dengan demikian, temuan pemeriksaan atas pemeriksaan untuk
jenis pajak lainnya tidak dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
melanjutkan pemeriksaan. Usulan pemeriksaan bukti permulaan dilakukan
dengan tetap memperhatikan kebijakan Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Dalam hal SPT Tahunan PPh WP Badan atau WP Orang Pribadi sedang
dilakukan pemeriksaan, tetapi SPT untuk jenis pajak lainnya tidak diperiksa, dan
Wajib Pajak manfaatkan sunset policy, pemeriksaan tersebut dihentikan dengan
memperhatikan ketentuan sebagaimana dalam huruf (A), sedangkan dalam hal
SPT Tahunan PPh WP badan atau WP Orang Pribadi tidak sedang dilakukan
pemeriksaan tetapi SPT untuk jenis pajak lainnya sedang diperiksa, dan Wajib
Pajak memanfaatkan sunset policy, pemeriksaan ditindaklanjuti sebagai berikut.
1. Jika terdapat pemeriksaan atas SPT jenis pajak lainnya yang menyatakan lebih
bayar (misalnya SPT Masa PPN lebih bayar), pemeriksaan atas SPT lebih
bayar tersebut dilanjutkan tanpa dilakukan dengan pembetulan SPT Tahunan
PPh WP badan atau WP Orang Pribadi.
2. Jika terdapat pemeriksaan atas SPT jenis pajak lainnya yang menyatakan tidak
lebih bayar, pemeriksaan untuk jenis pajak lainnya tersebut dihentikan,
kecuali:
7

a. Terdapat indikasi pidana di bidang perpajakan, maka pemeriksaan
tersebut ditindaklanjuti dengan mengusulkan Pemeriksaan Bukti
Permulaan; atau
b. Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) terkait dengan
pemeriksaan atau SPT jenis pajak lainnya telah disampaikan kepada
Wajib Pajak, maka pemeriksaan tetap dilanjutkan sampai dengan
penerbitan laporan Hasil Pemeriksaan dan Nota Penghitungan.
Untuk pemeriksaan bukti permulaan dilakukan dengan tetap
memperhatikan kebijakan Pemeriksaan Bukti Permulaan
APAKAH SUNSET POLICY TERMASUK DALAM KATEGORI TAX AMNESTY?
Pada saat menjalankan kampanye kebijakan Sunset Policy kepada para pengusaha di
Jakarta, Dirjen Pajak Darmin Nasution mengungkapkan bahwa Sunset Policy bukan
merupakan pengampunan pajak (tax amnesty), karena jaminan dan kepastian pengampunan
pajak lebih tinggi, serta wajib pajak sudah pasti tidak akan diperiksa, sedangkan Sunset
Policy hanya berupa penghapusan sanksi pajak. Terkait pengampunan pajak (Hutagaol,
John, 2007, 27) menyatakan bahwa:
Pengampunan Pajak (tax amnesty) merupakan kebijakan pemerintah di bidang
perpajakan yang memberikan penghapusan pajak yang seharusnya terutang dengan
membayar tebusan dalam jumlah tertentu yang bertujuan untuk memberikan
tambahan penerimaan pajak dan kesempatan bagi Wajib Pajak yang tidak patuh (tax
evaders) menjadi Wajib Pajak yang patuh (honest taxpayers) sehingga diharapkan
akan mendorong peningkatan kepatuhan sukarela Wajib Pajak (taxpayers voluntary
compliance) di masa yang akan datang.

Dari pengertian pengampunan pajak tersebut dapat disimpulkan bahwa
pengampunan pajak cakupannya lebih luas dibandingkan dengan Sunset Policy, karena
Sunset Policy hanya terkait dengan penghapusan sanksi administrasi perpajakan saja. Dalam
menjalankan kebijakan pengampunan pajak di banyak negara, sering mengalami kegagalan
karena pemerintah tidak memiliki kesiapan yang matang baik persiapan, pelaksanaan
maupun pascapelaksanaan tax amnesty, hal ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran
pemerintah dalam menjalankan kebijakan Sunset Policy. Kegiatan pasca kebijakan Sunset
Policy yang dicanangkan oleh pemerintah adalah law enforcement dan pembinaan kepada
Wajib Pajak.
8

ISU TERKINI: PEMBERLAKUAN KEMBALI SUNSET POLICY,
EFEKTIFKAH?
Demi upaya menggenjot penerimaan pajak Direktorat Jenderal Pajak ingin kembali
memberlakukan Sunset Policy yang pernah diluncurkan pada tahun 2008. Berbagai
pertanyaan hadir seputar apakah kebijakan Direktur Jenderal Pajak ini mampu menjadi
solusi bagi terciptanya peningkatan penerimaan pajak sekaligus meningkatkan kepatuhan
Wajib Pajak. Atas hal tersebut, kami dari kelompok 6 akan memberikan analisis kami
seputar efektivitas Sunset Policy yang akan kami paparkan dalam beberapa argumentasi
berikut ini.
1. Tinjauan atas Pengaruh Sunset Policy terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Studi Kasus pada Kanwil DJP Jawa Timur (Jatim) I Tahun 2008
Untuk mengetahui hal ini, perlu ditinjau pengalaman pada saat menerapkan
Sunset Policy tahun 2008, yaitu tentang bagaimana tingkat kepatuhan Wajib Pajak
sebelum menerapkan Sunset Policy tahun 2008, setelah menerapkannya, dan apa upaya
Direktorat Jenderal Pajak dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak pasca Sunset
Policy 2008. Berdasarkan beberapa pengujian terdahulu yang telah dilakukan, di
antaranya melalui studi kasus pada beberapa Kantor Pelayanan Pajak/Kantor Wilayah
Pajak, ditemukan bahwa Sunset Policy mampu meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak
secara signifikan. Hal tersebut digambarkan melalui peningkatan jumlah Wajib Pajak
terdaftar baik Orang Pribadi maupun Badan. Tidak hanya itu, peningkatan kepatuhan
juga diukur dari peningkatan jumlah SPT yang dilaporkan oleh Wajib Pajak selama
periode Sunset Policy.
Sebagai contoh adalah studi kasus di Kanwil DJP Jatim I. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Mira Novana Ardani (2010), terdapat penambahan jumlah Wajib
Pajak dan jumlah SPT yang dilaporkan sebagai dampak Sunset Policy yang telah
dilaksanakan pada tahun 2008, yaitu sebagai berikut.
9


Berdasarkan tabel tersebut di atas, tampak bahwa terdapat peningkatan jumlah
Wajib Pajak yang signifikan sebagai dampak dari Sunset Policy 2008. Wajib Pajak OP
pada Kanwil Jatim I meningkat sejumlah 18,454 Wajib Pajak, sementara Wajib Pajak
Badan meningkat sebesar 2,632 Wajib Pajak. Tidak hanya itu, Sunset Policy 2008 juga
mampu menghadirkan peningkatan jumlah SPT sebesar 90,818 SPT. Berdasarkan data
tersebut, tampak bahwa pengaruh Sunset Policy 2008 terhadap peningkatan tingkat
kepatuhan Wajib Pajak yang diukur melalui peningkatan jumlah Wajib Pajak terdaftar
dan SPT yang dilaporkan adalah cukup besar. Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa
Sunset Policy mempunyai dampak yang cukup signifikan untuk meningkatkan
voluntary complience (kepatuhan sukarela).
Permasalahan yang timbul kemudian adalah apakah peningkatan kepatuhan
Wajib Pajak sebagai dampak dari Sunset Policy ini mampu dipertahankan di masa-masa
setelah setelah periode Sunset Policy? Berdasarkan penelitian yang sama, ditemukan
data bahwa ternyata Sunset Policy turut mempengaruhi tingkat kepatuhan pasca-Sunset
Policy. Hal ini terbukti antara lain dengan peningkatan jumlah Wajib Pajak yang apabila
dibandingkan dengan jumlah sebelum diberlakukannya Sunset Policy. Di samping itu
jumlah Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang diterbitkan juga mengalami penurunan
dibandingkan dengan jumlah SKP sebelum diberlakukannya Sunset Policy. Jumlah SKP
yang telah diterbitkan setelah berlakunya Sunset Policy adalah sebagai berikut.
Tahun 2007 : 54.089 SKP : Rp165.625.101.112,-
Tahun 2008 : 8.929 SKP : Rp59.568.920.530,-
Tahun 2009 : 15730 SKP : Rp70.317.075,-
Sayangnya, peningkatan kepatuhan efek dari Sunset Policy ini tidak berlangsung
lama. Di atas tahun 2010, posisi kepatuhan Wajib Pajak kembali rendah, bahkan
10

menjadi lebih rendah dibandingkan sebelum Sunset Policy dilaksanakan. Ada begitu
banyak Wajib Pajak yang mendaftarkan diri pada saat Sunset Policy menjadi pasif dan
tidak lagi melaksanakan kewajiban perpajakannya. Hal ini mengindikasikan bahwa,
secara jangka pendek, Sunset Policy memang mampu meningkatkan tingkat kepatuhan
Subjek Pajak/Wajib Pajak, namun demikian secara jangka panjang, kebijakan ini
berpotensi menjadi bumerang pada tingkat kepatuhan tersebut.
Tinjauan atas Pengaruh Sunset Policy terhadap Penerimaan Pajak
Studi Kasus Pada Wilayah DI Yogyakarta (DIY) Tahun 2008
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dahliana Hasan (2008) dengan ruang
lingkup KPP yang ada di wilayah DIY pada 2008 menunjukkan bahwa sedikitnya
sunset policy telah mampu menjadi salah satu sarana peningkatan penerimaan pajak,
walaupuan pada akhirnya masih belum menunjukkan hasil yang optimal. berikut
ilustrasi tabel yang kami kutip:

11

Sebagaimana kita ketahui bahwa di tahun 2008 lalu merupakan tahun dimana
subprime mortage crisis melanda Amerika yang menyebabkan munculnya krisis global.
Hal itulah yang menjelaskan mengapa justru penerimaan pajak KPP Pratama
Yogyakarta dan KPP Pratama Sleman justru menunjukkan grafik menurun (walaupun
notabene data tersebut belum data akhir tahun 2008). Namun berdasarkan narasumber
langsung dari kedua KPP tersebut diketahui bahwa sumbangsih Wajib Pajak yang
memanfaatkan Sunset Policy memang nyata adanya dan mampu menopang penerimaan
KPP tersebut di tengah ancaman anjloknya penerimaan pajak karena krisis global.
Sebaliknya di KPP Bantul yang justru menikmati penerimaan yang berlipat-lipat
dibanding tahun sebelumnya, walaupun secara de facto bukan seluruhnya karena
pelaksanaan Sunset Policy namun disadari berkat penerapan program itu membuat ada
beberapa Wajib Pajak dengan tunggakan besar yang melunasi tunggakan-tunggakan
terdahulu dengan nilai yang cukup material sehingga secara otomatis membantu
peningkatan penerimaan KPP Pratama Bantul pada tahun 2008 itu sendiri.
Kurang optimalnya penerimaan pajak yang diharapkan sebagai dampak
pelaksanaan Sunset Policy ini ditengarai karena sosialisasi yang dilakukan belum gencar
dan menyeluruh dan belum mampu meyakinkan masyarakat mengenai benefit yang bisa
mereka terima sebagai fasilitas secara tidak langsung ketika mereka turut andil dalam
program ini. Selain itu, menurut penelitian ini juga kurang optimalnya penerimaan pajak
dari Sunset Policy ini juga setidaknya dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang
menjadi Wajib Pajak di KPP wilayah DIY yang baru menggunakan fasilitas Sunset
Policy ini ketika menjelang program ini akan berakhir.
Tinjauan atas Pemanfaatan Sunset Policy oleh Subjek Pajak/Wajib Pajak
Ada cukup banyak penelitian yang mencoba menemukan pengaruh penerapan
Sunpol ini terhadap sisi WP utamanya terkait upaya peningkatan kesadaran membayar
atau melapor pajak sesuai dengan ketentuan formal yang berlaku. Pada kesempatan kali
ini, kami tidak mempunyai kesempatan langsung untuk melakukan penelitian sendiri
mengenai hal itu, untuk itu kami akan coba mengutip 2 hasil penelitian yang bisa
menggambarkan tinjauan Sunpol ini terhadap sisi Wajib Pajak.
1. Menurut Priyo Ari Hadi sebagimana penelitian yang dilakukannya pada 167
responden di Kota Salatiga pada tahun 2009 menghasilkan kesimpulan-kesimpulan
sebagai berikut:
12

- Sunset Policy dapat meningkatkan kesadaran wajib pajak untuk membayar
pajak;
- Sunset Policy mempengaruhi secara positif pengetahuan dan pemahaman
wajib pajak akan peraturan perpajakan; dan
- Sunset Policy mempengaruhi secara positif faktor persepsi yang baik akan
efektifitas sistem perpajakan yang ada.
2. Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Soraya pada tahun 2010
dengan objek KPP Pratama Cilandak menghasilkan kesimpulan-kesimpulan berikut
ini:
- penerapan sunset policy di KPP Jakarta Cilandak sudah cukup menurut
persepsi Wajib Pajak Orang Pribadi;
- kepatuhan formal Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Jakarta Cilandak cukup
tinggi; dan
- penerapan kebijakan sunset policy memberikan pengaruh terhadap kepatuhan
formal wajib pajak pada KPP Jakarta Cilandak sebesar 49,3%. Sedangkan
sisanya yaitu sebesar 50,7% dijelaskan variabel lain di luar variabel penerapan
kebijakan sunset policy, seperti kemauan Wajib Pajak itu sendiri, compliance
cost, kejelasan peraturan perpajakan, dan sikap dari aparat pajak.
Di samping dua hal tersebut di atas, dalam tesisnya, Mira Novana Ardani (2010)
menjelaskan bahwa terdapat keraguan-keraguan dari sisi Wajib Pajak yang membuat
sebagian besar dari Wajib Pajak enggan memanfaatkan fasilitas Sunset Policy ini.
Keraguan-keraguan tersebut antara lain:
1. Wajib Pajak masih menunggu dikeluarkannya kebijakan Pengampunan Pajak (Tax
Amnesty), karena jaminan dan kepastian Pengampunan Pajak lebih tinggi daripada
Sunset Policy. Pada kebijakan Pengampunan Pajak Wajib Pajak sudah pasti tidak
akan diperiksa, sementara itu Sunset Policy hanya memberikan penghapusan sanksi
pajak jika Wajib Pajak memperbaiki surat pemberitahuan tahunannya. Padahal
menurut Dirjen Pajak dalam kondisi saat ini, pengampunan pajak tidak
dimungkinkan karena membutuhkan pembahasan mendalam atas kategori
pengampunannya, terutama untuk pidana pajak. Kebijakan ini juga sangat sensitif
dan kental muatan politisnya sehingga sulit diterapkan di Indonesia pada saat itu.
2. Adanya kekhawatiran masyarakat bahwa Sunset Policy tidak memberikan kepastian
hukum. Hal ini berkenaan dengan adanya anggapan bahwa apabila pemerintahan
13

berganti maka bisa saja ketentuan Pasal 37A UU KUP tersebut dicabut dan Wajib
Pajak bisa diperiksa lagi atas data yang sudah dilaporkan. Kekhawatiran ini
seharusnya tidak perlu terjadi, karena kalaupun nanti dibuat Undang-undang Pajak
baru, sesuai dengan asas hukumnya Undang-undang tidak boleh berlaku surut
(retroaktif).Oleh karena itu, kebijakan Sunset Policy merupakan kebijakan yang
sudah final. Wajib Pajak tidak perlu khawatir akan diperiksa lagi. Dengan kata lain,
kebijakan Sunset Policy yang dilandasi ketentuan Pasal 37A UU Nomor 28/2007
tersebut sudah mempunyai kekuatan hukum yang pasti, di samping itu kebijakan ini
juga sangat legitimate karena telah melalui proses diskusi cukup panjang dan
persetujuan DPR., pelaksanaannya pun dikawal dengan sejumlah peraturan Menteri
Keuangan dan Peraturan Dirjen Pajak yang telah diterbitkan guna memberi kepastian
bagi Wajib Pajak. Jelas sekali Sunset Policy 2008 ditempatkan pada posisi sangat
strategis dan serius dilaksanakan oleh pemerintah. Hal itu juga menjamin bahwa
seandainya terjadi pergantian pejabat sekalipun, tidak akan mengubah garis
kebijakan yang telah ditetapkan.
3. Adanya kekhawatiran dari Wajib Pajak bahwa Sunset Policy adalah jebakan dari
Pemerintah, sehingga kemudian Wajib Pajak akan lebih mudah untuk diperiksa
karena datanya sudah terkumpul dengan baik. Sebenarnya kebijakan Sunset
Policymerupakan bentuk kepercayaan Direktorat Jenderal Pajak terhadap Wajib
Pajak, sehingga pemerintah sama sekali tidak bermaksud untuk menjebak Wajib
Pajak karena ketentuan/peraturan perundang-undangan perpajakan dibuat untuk
memberikan kepastian hukum dan kemudahan bagi Wajib Pajak dalam
melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Yang terpenting adalah Wajib
Pajak harus jujur dan benar dalam mengisidan melaporkan SPT atau Pembetulan
SPT. Perlu pula diingat bahwa Direktorat Jenderal Pajak tidak dapat menggunakan
data dan/atau informasi yang terdapatdalam SPT Tahunan PPh yang disampaikan
oleh Wajib Pajak dalam rangka memanfaatkan fasilitas Sunset Policytersebut untuk
menerbitkan Ketetapan Pajak atas jenis pajak lainnya. Jadi, Wajib Pajak pada
dasarnya akan dilindungi sepanjang WajibPajak telah membetulkan SPT Tahunan
PPh, dan menyampaikan SPT Tahunan PPhsesuai keadaan yang sebenarnya.
4. Adanya pengaruh atas anggapan yang pesimistis dari beberapa kalangan terhadap
kebijakan Sunset Policy. Ekonom Iman Sugema misalnya, justru menanggapi miring
kebijakan tersebut. Direktur International Center for Applied Finance and Economics
14

(Inter-CAFE) Institut Pertanian Bogor ini mengatakan, tanpa pengawasan ketat,
Sunset Policy hanya menimbulkan masalah. Menurutnya, petugas pajak tetap harus
bisa menelaah laporan yang diberikan Wajib Pajak dengan baik. Jika
disalahgunakan, maka kejahatan perpajakan akan lebih sulit terdeteksi, Serupa
dengan Iman, Guru Besar Hukum Keuangan Negara Universitas Indonesia, Arifin
Soeria Atmadja mengatakan kebijakan ini rawan disalahgunakan oleh para Wajib
Pajak besar. Selain itu, sistem ini diragukan keefektifannya dalam menjaring Wajib
Pajak besar, karena kesadaran hukum Wajib Pajak dan aparat pajak di Indonesia
masih rendah.
Keraguan-keraguan yang timbul di atas pada dasarnya adalah dampak dari
kurang gencarnya kegiatan sosialisasi dari Direktorat Jenderal Pajak terkait Sunset
Policy ini. Informasi mengenai Sunset Policy tidak terdistribusi dengan baik dan
lengkap ke seluruh lapisan Wajib Pajak di seluruh negeri. Akibatnya ada begitu banyak
Wajib Pajak yang tidak mengetahui apa itu Sunset Policy dan bagaimana cara
pemanfaatan Sunset Policy bisa menguntungkan mereka.

Lalu, untuk menjawab pertanyaan apakah kebijakan Sunset Policy efektif untuk
diterapkan kembali saat ini, kami tidak sependapat dengan hal tersebut. Ada dua alasan yang
menjadi dasar ketidaksetujuan kami:
1. Sunset Policy tidak sustainable secara jangka panjang
Hal ini sebenarnya telah digambarkan sebelumnya bahwa Sunset Policy memang
memiliki dampak yang fantastis secara jangka pendek, namun demikian secara jangka
panjang masih dalam tanda tanya besar. Tingkat kepatuhan mungkin dapat ditingkatkan
secara instan dalam wujud semakin banyak Wajib Pajak yang mendaftarkan diri dan
melaporkan SPT-nya, namun sekali lagi hal tersebut hanya sementara. Di masa depan
ketika telah lewat periode Sunset, Wajib Pajak tersebut akan pasif kembali. Tanpa law
enforcement dan sosialisasi yang memadai dan menyeluruh, tingkat kepatuhan Wajib
Pajak ini akan jatuh kembali.
2. Adanya kekhawatiran bahwa Sunset Policy hanya akan dimanfaatkan oleh Wajib Pajak
besar
Alasan ini terus menjadi buah bibir seputar Sunset Policy. Banyak pihak yang
beranggapan bahwa Sunset Policy nantinya hanya akan dimanfaatkan oleh Wajib Pajak
besar. Sementara Wajib Pajak kecil yang sesungguhnya merupakan target utama dari
15

kebijakan ini justru tidak tersentuh. Hal ini serupa dengan pernyataan Arifin Soeria
Atmaja, Guru Besar Hukum Keuangan Negara Universitas Indonesia yang
mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan disalahgunakannya fasilitas
ini oleh Wajib Pajak besar dan kegagalan fasilitas ini dalam menjaring Wajib Pajak
menengah ke bawah.
SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan kami tersebut, kami menyimpulkan hal-hal berikut ini.
1. Sunset Policy adalah kebijakan pemberian fasilitas perpajakan, yang berlaku hanya di
tahun 2008, dalam bentuk penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga
sebagaimana diatur dalam Pasal 37A UU KUP;
2. Sunset Policy bukan merupakan bagian dari Tax Amnesty. Sunset Policy berada pada
lingkup yang sangat kecil, yaitu hanya meliputi penghapusan sanksi administrasi,
sementara Tax Amnesty berada pada lingkup yang jauh lebih luas, meliputi
pengampunan atas seluruh kewajiban perpajakan, baik dalam bentuk pokok pajak,
maupun sanksi atas pajak yang terutang.
3. Berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan, Sunset Policy berkorelasi positif
terhadap peningkatan tingkat kepatuhan Wajib Pajak serta penerimaan pajak negara. Ini
dibuktikan oleh banyak success story yang dirasakan oleh kantor pelayanan pajak di
seluruh pelosok negeri terkait penerapan kebijakan Sunset Policy ini. Hanya saja dampak
yang ditimbulkan ini hanya bersifat jangka pendek, dan secara jangka panjang kebijakan
ini gagal dalam mempertahankan tingkat kepatuhan Wajib Pajak untuk tetap tinggi.
4. Sesungguhnya Sunset Policy ini memiliki banyak keuntungan yang dapat dimanfaatkan
oleh Wajib Pajak/Subjek Pajak. Hanya saja, karena minimnya sosialisasi, fasilitas ini
tidak dimanfaatkan oleh masyarakat secara maksimal. Akibatnya, muncul berbagai
macam keraguan yang seharusnya tidak terjadi apabila proses sosialisasi dapat berjalan
optimal.


16

REFERENSI
Ardani, Mira Novana. 2010. Pengaruh Kebijakan Sunset Policy Terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak (Studi Kasus Di Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur I Surabaya).
Semarang: Universitas Diponegoro.
Booklet Direktorat Jenderal Pajak. Seputar Sunset Policy.
Direktorat Jenderal Pajak. 2008. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor 34/PJ/2008
tentang Penegasan Pelaksanaan Pasal 37A Undang-Undang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan Beserta Ketentuan Pelaksanaannya.
Karim, Azizah. 2010. Persepsi Wajib Pajak Terhadap Penghapusan Sanksi Administrasi
Berupa Bunga pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ilir Barat di Palembang. Dimuat
dalam Majalah Ilmiah Volume 11 No.3, 2010.
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan. Jakarta: Sekretariat Negara.
Soraya. 2010. Penerapan Sunset Policy dalam Meningkatkan Kepatuhan Formal Wajib
Pajak Orang Pribadi Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Cilandak.
Bandung: Universitas Komputer Indonesia.
Winastyo, Ehrmons F.P. 2010. Efektivitas Sunset Policy dalam Meningkatkan Tingkat
Kepatuhan Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Jakarta Sawah Besar Dua. Jakarta: Universitas Indonesia.