Anda di halaman 1dari 12

1

KONSEP PERILAKU MANUSIA



A. Pengertian Perilaku
Menurut Pieter dan Lubis (2010) perilaku adalah totalitas dari
penghayatan dan reaksi seseorang yang langsung terlihat atau yang tidak
tampak. Timbulnya perilaku akibat interelasi stimulus internal dan eksternal
yang diproses melalui kognitif, afektif, dan motorik. Sunaryo (2004)
menyatakan perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya
stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak
langsung. Perilaku individu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi akibat
adanya rangsangan (stimulus), baik dari dalam diri (internal) maupun dari luar
diri individu (eksternal). Pada hakekatnya perilaku individu mencakup perilaku
yang tampak (overt behavior) dan atau perilaku yang tidak tampak (innert
behavior atau covert behavior). Menurut Purwanto (2012) perilaku manusia
berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia, sedangkan dorongan
merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia.
Perilaku timbul karena dorongan dalam rangka pemenuhan kebutuhan.
Wijayaningsih (2014) mengemukakan perilaku manusia adalah sekumpulan
perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi,
nilai, etika, kekuasaan, persuasi, atau genetika.
Jadi, perilaku adalah semua kegiatan baik yang dapat diamati langsung
atau tidak langsung, yang timbul akibat interelasi stimulus eksternal dengan
2

stimulus internal sehingga menimbulkan respons eksternal dan dipengaruhi
oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, atau genetika.

B. Proses Pembentukan Perilaku
Perilaku manusia terbentuk karena adanya kebutuhan. Menurut Abraham
Harold Maslow, manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yakni :
1. Kebutuhan fisiologis/biologis, yang merupakan kebutuhan pokok
utama, yaitu H2, H2O, cairan elektrolit, makanan dan seks. Apabila
kebutuhan ini tidak terpenuhi akan terjadi ketidakseimbangan fisiologis.
Seperti kekurangan O2 yang menimbulkan sesak nafas dan kekurangan
H2O dan elektrolit yang menyebabkan dehidrasi.
2. Kebutuhan rasa aman seperti rasa aman terhindar dari pencurian,
penodongan, perampokan dan kejahatan lain, rasa aman terhindar dari
konflik, tawuran, kerusuhan, peperangan dan lain-lain, rasa aman
terhindar dari sakit dan penyakit, serta rasa aman memperoleh
perlindungan hukum.
3. Kebutuhan mencintai dan dicintai, seperti mendambakan kasih
sayang/cinta kasih orang lain baik dari orang tua, saudara, teman,
kekasih, dan lain-lain, ingin dicintai atau mencintai orang lain, serta
ingin diterima oleh kelompok tempat ia berada.
4. Kebutuhan harga diri, seperti ingin dihargai dan menghargai orang lain,
adanya respek atau perhatian dari orang lain, serta toleransi atau saling
menghargai dalam hidup berdampingan.
3

5. Kebutuhan aktualisasi diri, seperti ingin dipuja atau disanjung oleh
orang lain, ingin sukses atau berhasil dalam mencapai cita-cita, ingin
menonjol dan lebih dari orang lain, baik dalam karier, usaha, kekayaan,
dan lain-lain.
Dalam memenuhi kebutuhan, tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan
yang lain, seperti memenuhi kebutuhan fisiologis dulu, kemudian kebutuhan
rasa aman, dan seterusnya. Perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan
adalah secara simultan.
Menurut Walgito (2010) ada beberapa cara untuk membentuk perilaku
sesuai dengan yang diharapkan, diantaranya yaitu :
1. Pembentukan Perilaku dengan Kondisioning atau Kebiasaan
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan
kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk
berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuk
perilaku tersebut. Misal anak membiasakan diri untuk bangun pagi,
atau menggosok gigi sebelum tidur, sarapan, dan tidak terlambat
datang ke sekolah. Cara ini didasarkan atas teori belajar
kondisioning baik yang dikemukakan oleh Pavlov maupun oleh
Thorndike dan Skinner.
2. Pembentukan Perilaku dengan Pengertian (insight)
Pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian atau
insight. Misal datang kuliah jangan sampai terlambat, karena hal
tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain. Saat menaiki
4

motor harus menggunakan helm, karena helm tersebut untuk
keamanan diri. Cara ini berdasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu
belajar dengan disertai adanya pengertian.
3. Pembentukan Perilaku dengan Menggunakan Model
Pembentukan perilaku dapat juga ditempuh dengan
menggunakan model atau contoh. Orang bicara bahwa orang tua
sebagai contoh anak-anaknya, pemimpin sebagai panutan yang
dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan pembentukan perilaku
dengan menggunakan model. Orang tua dijadikan model atau contoh
bagi anak-anaknya, sedangkan pemimpin dijadikan model atau
contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan atas teori belajar
sosial (social learning theory).
Perilaku terbentuk karena adanya kebutuhan. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, seseorang atau individu akan terdorong untuk berperilaku.
Perilaku timbul karena adanya dorongan dalam rangka pemenuhan kebutuhan.
Perilaku merupakan suatu perwujudan dari adanya kebutuhan. Timbulnya
perilaku dalam rangka pemenuhan kebutuhan dapat juga dibentuk dengan cara
kondisioning atau kebiasaan, pengertian, atau model/contoh seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Cara-cara tersebut dapat digunakan secara bersama-
sama atau dapat menggunakan salah satunya.
C. Perubahan Perilaku
Perilaku manusia dapat dibagi menjadi tiga domain, yaitu cognitive
domain, affective domain, dan psychomotor domain. Cognitive domain diukur
5

dari knowledge atau pengetahuan. Menurut Sunaryo (2004), pengetahuan
adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan
telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang
didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng. Affective domain diukur dari
attitude atau sikap. Menurut Sunaryo (2004), sikap adalah respons tertutup
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang bersifat intern maupun
ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya
dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap
secara realitas menunjukkan adanya kesesuaian respons terhadap stimulus
tertentu. Psychomotor domain diukur dari psychomotor/practice atau
keterampilan.
Terbentuknya perilaku baru, khususnya pada orang dewasa diawali dari
cognitive domain, yaitu individu tahu terlebih dahulu terhadap stimulus berupa
objek sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada individu. Setelah individu
tahu terhadap stimulus yang berupa objek, berlanjut pada affective domain,
yaitu timbul respons batin dalam bentuk sikap dari individu terhadap objek
yang diketahuinya. Berakhir pada psychomotor domain, yaitu objek yang telah
diketahui dan disadari sepenuhnya yang akhirnya menimbulkan respons yang
berupa tindakan. Dalam kenyataannya, stimulus yang diterima oleh subjek
dapat langsung menimbulkan tindakan, tanpa mengetahui makna stimulus yang
diterima.
6

Menurut Sunaryo (2004), perubahan perilaku dapat berupa konflik,
frustrasi, ataupun marah. Konflik adalah suatu keadaan yang timbul sebagai
akibat adanya dua atau lebih keiinginan, kondisi atau dorongan yang tidak
harmonis. Terdapat tiga jebis konflik, yaitu :
1. Approach-approach conflict, adalah konflik yang terjadi apablia
keinginan, kondisi atau dorongan yang ada, sama-sama
dikehendaki dan akibatnya positif
2. Avoidance-avoidance conflict, adalah konflik yang terjadi apabila
semua keinginan, kondisi, dan dorongan yang ada sama-sama
tidak dikehendaki dan bersifat negatif.
3. Approach-avoidance conflict, adalah konflik yang terjadi apabila
keinginan, kondisi, dan dorongan yang dikehendaki mengandung
risiko positif dan negatif yang seimbang.
Frustasi adalah suatu keadaan yang terjadi akibat konflik berkepanjangan
atau tidak terselesaikan atau ada perasaan kecewa berat karena tujuan yang
dicita-citakan tidak tercapai. Marah adalah frustasi yang dialami oleh seorang
individu tidak dapat dikelola dengan baik, akan timbul perilaku mudah marah.
D. Teori Perilaku
Pieter dan Lubis (2010), menjelaskan bahwa teori perilaku manusia
antara lain, yaitu :
1. Teori Kebutuhan
Pembentukan perilaku manusia adalah akibat kebutuhan-
kebutuhan dalam diri yang dimulai dari kebutuhan fisiologi, harga
7

diri, sosial, dan aktualisasi diri. Apabila usaha dalam memenuhi
kebutuhan tercapai, maka orang itu tidak mengalami ketegangan dan
cenderung mengarah kepada kebahagiaan. Namun sebaliknya jika saat
usaha pemenuhan kebutuhan tidak tercapai akan membuat seseorang
mengalami frustrasi terhadap unsur-unsur kebutuhan. Jadi, kebutuhan
merupakan motif, dorongan ataupun keinginan seseorang dalam
bertingkah laku.
2. Teori Dorongan
Perilaku adalah respons seseorang terhadap stimulus dari luar
(lingkungan). Perilaku muncul akibat stimulus dan organisme
memberikan respons. Respons-respons yang diberikan yaitu :
a. Respondent respons (reflexive), adalah respons yang muncul
akibat stimulus tertentu (eliciting stimulation) yang relatif
menetap. Misalnya melihat makanan yang lezat akan
mendorong makan.
b. Operant respons (instrumental respons), adalah respons yang
timbul akibat ada rangsangan reinforcing stimulation yang
memperkuat respons. Contoh, seorang bidan desa bekerja
dengan baik dan memperoleh penghargaan, maka dia akan
melakukan tugas yang lebih baik dari sebelumnya. Namun
sebaliknya ketika dia tidak memperoleh respons, maka dia
tiddak akan memperkuat stimulus yang telah diterimanya.
8

Faktor-faktor penyebab timbulnya pembentukan perilaku manusia,
yaitu :
a. Meningkatnya kekuatan stimulus. Semakin meningkat
kekuatan stimulus pembentukan perilaku, maka semakin besar
efeknya.
b. Melemahnya kekuatan penahan yang mengubah kepercayaan,
sikap, atau pandangan sehingga membentuk perilaku baru.
c. Hubungan kekuatan stimulus dan kekuatan penahan. Apabila
kekuatan pendorong naik, maka kekuatan penahan melemah.
3. Teori Belajar
Menurut Teori Belajar Sosial Kognitif, perilaku manusia dapat
diprediksi paling baik dengan memahami interaksi manusia dan
lingkungannya yang paling bermakna. Perilaku manusia berasal dari
interaksi antara faktor pribadi dan faktor lingkungan. Faktor-faktor
kognitif (personal) manusia seperti pengetahuan, ekspektansi, persepsi
subyektif, nilai, tujuan, dan standar pribadi berperan penting dalam
membentuk kepribadian, selanjutnya kepribadian akan memengaruhi
perilaku manusia.
4. Teori Sikap
Pembentukan perilaku sangat dipengaruhi perilaku dalam diri
dan perilaku luar diri dari seseorang. Pembentukan perilaku manusia
akibat :
9

a. Faktor predisposisi (predisposing factors), adalah faktor
pencetus terjadinya suatu sebab, seperti pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan sebagainya
b. Faktor pendukung (enabling factors), adalah faktor yang
mendorong timbulnya suatu sebab, seperti lingkungan fisik dan
fasilitas (sarana obat-obatan atau puskesmas).
c. Faktor Pendorong (reinforcing factors) adalah faktor yang
berhubungan dengan referensi sikap dan perilaku secara umum.

Menurut Walgito (2010), ada beberapa teori mengenai perilaku,
diantaranya adalah :
1. Teori Insting
Perilaku itu disebabkan karena insting. Insting merupakan
perilaku yang innate, perilaku yang bawaan, dan insting yang akan
mengalami perubahan karena pengalaman.
2. Teori Dorongan (drive theory)
Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu
mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-
dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang
mendorong organisme berperilaku. Bila organisme itu memiliki
kebutuhan, dan organism ingin memenuhi kebutuhannya maka akan
terjadi ketegangan dalam diri organisme itu. Bila organisme
10

berperilaku dan dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi
pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut.
3. Teori Insentif (incentive theory)
Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku
organisme itu disebabkan karena adanya insentif. Dengan insentif
akan mendorong organisme berbuat atau berperilaku. Insentif atau
juga disebut sebagai reinforcement ada yang positif dan ada yang
negatif. Reinforcement yang positif adalah berkaitan dengan hadiah,
sedangkan reinforcement yang negatif berkaitan dengan hukuman.
Reinforcement yang positif akan mendorong organisme dalam
berbuat, sedangkan reinforcement yang negatif akan dapat
menghambat dalam organisme berperilaku. Ini berarti bahwa perilaku
timbul karena adanya insentif atau reinforcement.
4. Teori Atribusi
Teori ini ingin menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku
orang. Perilaku dapat disebabkan oleh disposisi internal (misal motif,
sikap) atau oleh keadaan eksternal. Pada dasarnya perilaku manusia
itu dapat atribusi internal, tetapi juga dapat atribusi eksternal.
5. Teori Kognitif
Pada umumnya seseorang akan memilih alternatif perilaku
yang akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang
bersangkutan. Ini yang disebut sebagai model subjective expected
utility (SEU). Dengan kemampuan memilih ini berarti faktor berpikir
11

berperan dalam menentukan pilihannya. Dengan kemampuan berpikir
seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi bahan
pertimbangannya di samping melihat apa yang dihadapi di waktu
sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam
seseorang bertindak. Dalam model SEU kepentingan pribadi yang
menonjol. Tetapi dalam seseorang berperilaku kadang-kadang
kepentingan pribadi dapat disingkirkan.
Pada dasarnya teori yang dikemukakan oleh Pieter dan Lubis (2010) serta
Walgito (2010) memiliki kesamaan. Teori-teori yang dikemukakan tersebut
menyatakan bahwa perilaku timbul atau terbentuk karena manusia memiliki
kebutuhan yang harus dipenuhi. Dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut,
manusia akan terdorong untuk berperilaku dengan menggunakan insting dan
pengetahuan atau kognitif yang dimiliki. Menurut teori-teori tersebut,
pembentukan perilaku dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, dan reinforcement.







12

KEPUSTAKAAN

Pieter, H. Z., Lubis, N. L. 2010. Pengantar Psikologi dalam Keperawatan.
Jakarta: Kencana

Purwanto, H. 2012. Pengantar Perilaku Manusia untuk Keperawatan. Jakarta:
EGC

Sunaryo, 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Walgito, B. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: ANDI
Wijayaningsih, K. S. 2014. Psikologi Keperawatan. Jakarta: TIM