Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kista barhtolini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli anatomi Belanda pada
tahun 1677 bernama Casper Bartholin. Kelenjar ini merupakan kelenjar vestibuler terbesar
menyerupai kelenjar cowper (kelenjar bulbouretral) pada laki-laki, yang letaknya tertutup dan
berpasangan. Kelenjar ini berfungsi untuk mensekresi cairan pembersih, mukus yang alkalis
kedalam duktus yang bagian dalamnyatersusun atas sel kolumner dan bagian luar tersusun
atas epitel transisional.
Kista barhtolini adalah tersumbatnya saluran lubrikasi pada vagina atau membesarnya
muara saluran lubrikasi, yang berakibat tidak keluarnya cairan lubrikasi yang mestinya keluar
(perempuan yang belum 40 tahun). Kondisi ini disebabkan oleh adanya bakteri, yang antara
lain adalah E-coli, kuman/bakteri penyakit kelamin, dll.
Kista bartholini merupakan masalah yang sering didapatkan pada wanita usia
reproduksi, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam
50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini
merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Hal ini berhubungan dengan aktifitas
kelenjar bartholin yang berkurang pada masa menopause. Kista bartholini terbentuk akibat
tersumbatnya kelenjar minyak dibibir kemaluan bagian dalam (ada dua, di kiri dan kanan)
akibat adanya infeksi. Untukmenghindari timbulnya kista dengan menjaga kebersihan
(hygienis). Selama kista ini tidak terinfeksi oleh virus, bakteri, jamur kista ini tidak
menimbulkan masalah, si wanita tidak akan merasa sakit hanya saja akan ada rasa benjolon di
labia mayoravagina.( bibir bagian luar vagina) Tapi seandainya kista ini terinfeksi maka
disebut dengan abses bartholini. Kelenjar Bartholini berkembang dari epithelium pada area
posterior dari vestibula. Kelenjar bartholin terletak bilateral pada sepertiga bawah labia
minora dan mempunyai saluran kelenjar bartholin panjangnya 2 cm- 2,5 cm dengan posisi
pada jam 4 dan jam 8, bermuara pada vestibula. Kelenjar tersebut biasanya hanya berukuran
sebesar kacang polong dan jarang melebihi ukuran 1 cm .



2

1.2. Tujuan
A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan kebidanan yang akan diberikan kepada pasien yang
menderita kista bartolini perineum.
B. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi kista bartolini
2. Untuk mengetahui etiologi kista bartolini
3.Untuk mengetahui patofisiologi kista bartolini
4. Untuk mengetahui Gejala klinis
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan kista bartolini
6. Untuk mengetahui komplikasi kista bartolini

1.3. Manfaat penulisan
1.3.1 Manfaat Bagi Mahasiswa
Untuk mengetahui danj menambah pengetahuan Asuhan kebidanan yang
harus diberikan pada klien yang menderita kista bartolini.
1.3.2 Manfaat bagi Institusi
Untuk menjadi sumber referensi bahan bacaan mahasiswa di pustaka, sehingga
dapat menambah pengetahuan bagi pembaca
1.3.3 Manfaat Bagi Lahan Praktek
Menjadi acuan memberikan pelayanan yang lebih baik lagi sehubungan
dengan kasus klien dengan kista bartolini.






3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KONSEP DASAR KISTA BARTHOLINI

2.1.1 DEFINISI
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah
kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini
menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi,
peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka
saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan.
Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.
Kista bartolini adalah suatu kista duktus bartoliniterinfeksi yang disebabkan oleh
infeksi gonokokus,basal koliformis atau organism lainnya (kedaruratan obstetric dan
ginekologi,1994).
Kista bartolini adalah infeksi kista duktus bartolini yang ditandai dengan berbagai
derajat nyeri dan perlunakan diatas kelenjer yang terinfeksi. (kedaruratan dan obstetric dan
ginekologi,1994).
Kista bartolini adalah bentuk radang menahun kelenjer bartholini,abses bertolini
diserap,isinya sehingga tinggal kantung yang mengandung cairan .(ilmu kebidanan penyakit
kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan,1998).


2.1.2 EPIDEMIOLOGI
Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat
dalam kehidupannya. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak daripada kista.
Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang
lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini atau abses bartolini daripada wanita
hispanik, dan bahwa perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Kista
Bartolini, yang paling umum terjadi pada labia majora. Involusi bertahap dari kelenjar
4

Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin
menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia reproduksi. Biopsi
eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada wanita pascamenopause dapat
berkembang menjadi kanker. Beberapa penelitian telah menyarankan bahwa eksisi
pembedahan tidak diperlukan karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0,114
kanker per 100.000 wanita-tahun). Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat
menjadi lebih buruk. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di
dalam hidup mereka. Jadi, hal ini adalah masalah yang perlu dicermati. Kebanyakan kasus
terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan
dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau lebih muda.

2.1.3 ANATOMI
Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna, kelenjar bartolini
atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk bundar, dan berada di
sebelah dorsal dari bulbus vestibulli. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah
yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi hymen. Glandula ini homolog dengan
glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan
sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. kelenjar
bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan
nervushemoroidal inferior. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari
bulbus, jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan kelenjar
ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan. Drainase pada
kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira- kira 2 cm yangterbuka ke arah orificium vagina
sebelah lateral hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan
palapasi.(Ashari,MA,2010)
seperti pada gambar dibawah ini :


5

Histologi
Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel kolumnair atau
kuboid. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel transsisional yang secara embriologi
merupakan daerah transisi abtara traktus urinarius dengan traktus genital.( Norwitz, E.,
Schorge, J. 2008).
Fisiologi
Kelenjar Bartholini berfungsi mensekresikan cairan ke permukaan vagina. Mukosa
kelenjar dilapisi oleh sel-sel epitel kubus. Cairan ini mengalir ke dalam duktus sepanjang 2,5
cm dan dilapisi oleh sel-sel epitel transisional. Duktus ini bermuara diantara labia minor dan
hymen dan dilapisi pada bagian ini terdiri atas epitel skuamosa. Oleh karena itu, kelenjar ini
dapat berkembang menjadi karsinoma sel skuamosa atau adenokarsinoma. Kelenjar ini
mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina. Kelenjar Bartolini mengeluarkan
jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang
wanita orgasme. Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas
vagina, tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina
berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia
vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.( Norwitz,
E., Schorge, J. 2008).

2.1.4 ETIOLOGI
Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat.
Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.
Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk organisme yang
menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang
biasanya ditemukan di saluran pencernaan, seperti Escherichia coli. Umumnya abses ini
melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa
mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan
kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini
tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses
polimikrobial. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang
dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Chlamydia
trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Namun, kista saluran Bartolini dan
abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual.
6

Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut.
(Wiknjosastro,dkk.2002).
Infeksi pada kelenjar ini disebabkan oleh kuman gram negative ,yaitu a.l :



1. Golongan staphylococcus 2. Golongan Gonococcus

Kista Bartolini merupakan tumor kistik jinak. Ditimbulkan akibat saluran kista
Bartolini yang mengalami sumbatan. Sumbatan biasanya disebabkan oleh infeksi. Kuman
yang sering menginfeksi kelenjar Bartolini adalah Neisseria gonorrhoeae.
Pada laki laki kuman ini menyebabkan penyakit kelamin yang disebut kencing nanah
atau gonore,tidak sama dengan sipilis.
Perjalanannya. Karena kelenjar terus menerus menghasilkan cairan,maka lama
kelamaan sejalan dengan membesarnya kista,tekanan didalam kista semakin besar. Dinding
kelenjar/kista mengalami peregangan dan meradang. Demikian juga akibat peregangan pada
dinding kista, pembuluh darah pada dinding kista terjepit mengakibatkan bagian yang lebih
dalam tidak mendapatkan pasokan darah sehingga jaringan menjadi mati (nekrotik).
Dibumbui dengan kuman,maka terjadilah proses pembusukan, bernanah dan menimbulkan
rasa sakit. Karena letaknya di vagina bagian luar,kista akan terjepit terutama saat duduk dan
berdiri menimbulkan rasa nyeri yang terkadang disertai dengan demam. Pasien berjalan
mengegang ibarat menjepit bisul diselangkangan.( Wiknjosastro,dkk.2002).

2.1.5 MANIFESTASI KLINIK
Jika kista duktus Bartholini masih kecil dan belum terjadi inflamasi, penyakit ini bisa
menjadi asimptomatik. Kista biasanya nampak sebagai massa yang menonjol secara medial
dalam introitus posterior pada regio yang duktusnya berakhir di dalam vestibula. Jika kista
menjadi terinfeksi maka bisa terjadi abses pada kelenjar. Indurasi biasa terjadi pada sekitar
7

kelenjar, dan aktivitas seperti berjalan, duduk atau melakukan hubungan seksual bisa
menyebabkan rasa nyeri pada vulva.( Norwitz, E., Schorge, 2008).
Kista duktus Bartholini dan abses glandular harus dibedakan dari massa vulva
lainnya. Karena kelenjar Bartholini biasanya mengecil saat menopause, pertumbuhan vulva
pada wanita postmenopause harus dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya keganasan ,
khususnya jika massa irregular, nodular dan indurasi persisten.




Gejala Klinik
Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang dirasakan
sebagai benda padat dan menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Jika kista bartholini
masih kecil dan tidak terinfeksi, umumnya asimtomatik. Tetapi bila berukuran besar dapat
menyebabkan rasa kurang nyaman saat berjalan atau duduk. Tanda kista Bartholini yang
tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai
kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. (Hacker, 2001 : 374).
Keluhan pasien pada umumnya adalah benjolan, nyeri, dan dispareunia. Penyakit ini
cukup sering rekurens. Bartholinitis sering kali timbul pada gonorrea, akan tetapi
dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya treptokokus. Pada Bartholinitis akuta
kelenjar membesar, merah, nyeri, dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat
menjadi nanah yang dapat keluar melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat,
mengumpul di dalamnya dan menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi
sebesar telur bebek. Jika belum menjadi abses, keadaan bisa di atasi dengan
antibiotika, jika sudah bernanah harus dikeluarkan dengan sayatan.
Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkembang menjadi abses Bartholini dengan gejala
klinik berupa :
8

Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau berhubungan seksual.
Umumnya tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi dengan mikroorganisme yang
ditularkan melalui hubungan seksual atau ditandai dengan adanya perabaan kelenjar
limfe pada inguinal.
Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari.
Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari pasca pembengkakan,
terutama jika infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui hubungan
seksual.
Dapat terjadi ruptur spontan.
Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur ayam, lembut, dan
berfluktuasi, atau terkadang tegang dan keras.
Radang pada glandula Bartolini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi
menahun dalam bentuk kista Bartholini. Kista tidak selalu menyebabkan keluhan, tapi dapat
terasa berat dan mengganggu koitus. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan
gangguan, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa; dalam hal lain perlu dilakukan
pembedahan.( Wiknjosastro, Hanifa. 1999.)

2.1.6 DIAGNOSIS
Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik sangat mendukung suatu diagnosis. Pada
anamnesis ditanyakan tentang gejala seperti :
Panas
Gatal
Sudah berapa lama gejala berlangsung
Kapan mulai muncul
Faktor yang memperberat gejala
Apakah pernah berganti pasangan seks
Keluhan saat berhubungan
Riwayat penyakit menular seks sebelumnya
Riwayat penyakit kulit dalam keluarga
Riwayat keluarga mengidap penyakit kanker kelamin
Riwayat penyakit yang lainnya misalnya diabetes dan hipertensi
Riwayat pengobatan sebelumnya
9

Kista atau abses Bartholini didiagnosis melalui pemeriksaan fisik, khususnya dengan
pemeriksaan ginekologis pelvis. Pada pemeriksaan fisis dengan posisi litotomi, kista terdapat
di bagian unilateral, nyeri, fluktuasi dan terjadi pembengkakan yang eritem pada posisi jam 4
atau 8 pada labium minus posterior. Jika kista terinfeksi, pemeriksaan kultur jaringan
dibutuhkan untuk mengidentifikasikan jenis bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui
ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual seperti Gonorrhea dan Chlamydia.
Untuk kultur diambil swab dari abses atau dari daerah lain seperti serviks. Hasil tes ini baru
dilihat setelah 48 jam kemudian, tetapi hal ini tidak dapat menunda pengobatan. Dari hasil ini
dapat diketahui antibiotik yang tepat yang perlu diberikan. Biopsi dapat dilakukan pada kasus
yang dicurigai keganasan.( Ashley, M.D. 1998)

2.1.7 PENATALAKSANAAN
Tujuan penanganan kista bartholini adalah memelihara dan mengembalikan fungsi
darikelenjar bartholini. Metode penanganan kista bartholini yaitu insersi word catheter untuk
kista dan abses kelenjar bartholini dan marsupialization untuk kista kelenjar bartholini.
Terapiantibiotic spectrum luas diberikan apabila kista atau abses kelenjar bartholini disertai
denganadanya selulitis. Biopsy eksisional dilakukan untuk pengangkatan adenokarsinoma
pada wanitamenopause atau perimenopause yang irregular dan massa kelenjar Bartholini
yang nodular.
Penatalaksanaan dari kista duktus bartholin tergantung dari gejala pada pasien. Kista
yang asimptomatik mungkin tidak memerlukan pengobatan, tetapi symptomatic kista duktus
bartholin dan abses bartholin memerlukan drainage. Kecuali kalau terjadi rupture spontan,
abses jarang sembuh dengan sendirinya.
Insisi dan drainage abses
Tindakan ini dilakukan bila terjadi symptomatic Bartholin's gland abscesses .
Sering terjadi rekurensi
Cara:
Disinfeksi abses dengan betadine
Dilakukan anastesi lokal( khlor etil)
Insisi abses dengan skapel pada titik maksimum fluktuasi
Dilakukan penjahitan



10





Gambar Insisi abses
Definitive drainage menggunakan Word catheter.
Word catheter biasanya digunakan ada penyembuhan kista duktus bartholin dan
abses bartholin. Panjang tangkai catheter 1 inch dan mempunyai diameter seperti foley
catheter no 10. Balon Catheter hanya bias menampung 3 ml normal saline.
Cara:
Disinfeksi dinding abses sampai labia dengan menggunakan betadine.
Dilakukan lokal anastesi dengan menggunakan lidokain 1 %
Fiksasi abses dengan menggunakan forsep kecil sebelum dilakukan tindakan insisi.
Insisi diatas abses dengan menggunakan mass no 11
Insisi dilakukan vertikal di dalam introitus eksternal terletak bagian luar ring himen.
Jika insisi terlalu lebar, word catheter akan kembali keluar.
Selipkan word kateter ke dalam lubang insisi
Pompa balon word kateter dengan injeksi normal salin sebanyak 2-3 cc
Ujung Word kateter diletakkan pada vagina.
Proses epithelisasi pada tindakan bedah terjadi setelah 4-6 minggu, word catheter
akan dilepas setelah 4-6mgg,meskipun epithelisasa bias terbentuk pada 3-4 minggu. Bedrest
selama 2-3 hari mempercepat penyembuhan. Meskipun dapat menimbulkan terjadinya
selulitis, antibiotic tidak
diperlukan. Antibiotik diberikan
bila terjadi selulitis (jarang) .




11



12

Marsupialisasi
Banyak literatur menyebutkan tindakan marsupialisasi hanya digunakan pada kista
bartholin.Namun sekarang digunakan juga untuk abses kelenjar bartholin karena memberi
hasil yang sama efektifnya. Marsupialisasi adalah suatu tehnik membuat muara saluran
kelenjar bartholin yang baru sebagai alternatif lain dari pemasangan word kateter.
(Wiknjosastro,dkk,2002).
Komplikasi berupa dispareuni, hematoma, infeksi.
Cara:
Disinfeksi dinding kista sampai labia dengan menggunakan betadine.
Dilakukan lokal anastesi dengan menggunakan lidokain 1 %.
Dibuat insisi vertikal pada kulit labium sedalam 0,5cm (insisi sampai diantara
jaringan kulit dan kista/ abses) pada sebelah lateral dan sejajar dengan dasar selaput
himen.
Dilakukan insisi pada kista dan dinding kista dijepit dengan klem pada 4 sisi,
sehingga rongga kista terbuka dan kemudian dinding kista diirigasi dengan cairan
salin.
Dinding kista dijahit dengan kulit labium dengan atraumatik catgut. Jika
memungkinkan muara baru dibuat sebesar mungkin(masuk 2 jari tangan), dan dalam
waktu 1 minggu muara baru akan mengecil separuhnya, dan dalam waktu 4 minggu
muara baru akan mempunyai ukuran sama dengan muara saluran kelenjar bartholin
sesungguhnya.








13



Penggunaan antibiotik
Antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab yang diketahui secara pasti dari hasil
pengecatan gram maupun kultur pus dari abses kelenjar bartholin
Infeksi Neisseria gonorrhoe:
Ciprofloxacin 500 mg single dose
Ofloxacin 400 mg single dose
Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil)
Cefritriaxon 200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil)
Infeksi Chlamidia trachomatis:
Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po
Doxycyclin 2 X100 mg/ hari selama 7 hari, po
Infeksi Escherichia coli:
Ciprofoxacin 500 mg oral single dose
Ofloxacin 400 mg oral single dose
Cefixime 400 mg single dose
Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus :
Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari
Ampisilin 250-500 mg/ dosis 4x/hari, po.
Amoksisillin 250-500 mg/dosi, 3x/hari po.(Ashley, M.D. 1998)





14


2.1.8.Komplikasi
Komplikasi yang paling umum dari absesBartholin adalah kekambuhan.
Pada beberapa kasus dilaporkan necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses.
Perdarahan, terutama pada pasien dengan koagulopati
Ibu hamil dengan bartholinis juga rawan terhadap gonore sehingga anak bayi dapat
menderita blenorea neonatorum
Bahaya Peradangan Saat Hamil
Daya tahan tubuh pada wanita hamil biasanya akan menurun. Karena itu, infeksi akan
semakin berkembang lantaran vagina wanita hamil biasanya lebih lembab. Apalagi,
pengobatan pada orang hamil lebih sulit diberikan. Pengobatan harus dilakukan
dengan sangat teliti karena berhubungan dengan kondisi janin. Kuman streptococcus
bisa menyerang selaput ketuban dan mengakibatkan pecahnya ketuban, bahkan bisa
menyerang si bayi. Jika bayi lahir lewat vagina yang memiliki banyak kuman, maka
kuman-kuman itu pun akan ikut dengan si bayi. Akibat lain dari peradangan saat
hamil, bayi bisa lahir prematur, terjadi penyebaran kuman pada tubuh bayi. Dan jika
infeksi parah, bayi dalam rahim bisa meninggal.


2.2. KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN DENGAN PENDOKUMENTASIAN
SOAP

Pada asuhan kebidanan ini penulis menggunakan pendokumentasian 4 langkah
yang menggunakan SOAP. Metode ini merupakan inti sari proses pemikiran
penatalaksanaan kebidanan 7 langkah Varney (JHPIEGO,2003).
Pendokumentasian manajemen kebidanan dengan metode SOAP yaitu :
a. Data Subyektif
Data Subyektif ( S ) merupakan pendokumentasian manajemen
kebidanan menurut Helen Varney langkah pertama (pengkajian data) terutama
data yang diperoleh melalui anamnesis. Data subjektif ini berhubungan dengan
15

masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai kekhawatiran
dan keluhannya yang dicatat sebagai kutipan langsung dengan diagnosis. Data
subjektif ini nantinya akan menguatkan diagnosis yang akan disusun.
b. Data Obyektif
Data Objektif ( O ) merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan
menurut Helen Varney pertama (pengkajian data) terutama data yang
diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien,
pemeriksaan laboratorium atau diagnostic lain. Catatan medic dan informasi
darikeluarga atau orang lain dapat dimasukkan dalam data objektif ini. Data
ini akan memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan
dengan diagnosis.
c. Assesment
Analysis atau assessment ( A ) merupakan pendokumentasian hasil
analisis dan interpretasi (kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. Dalam
pendokumentasian manajemen kebidanan karena keadan pasien yang setiap
saat bisa mengalami perubahan dan akan ditemukan informasi baru dalam data
subjektif maupun data objektif maka proses pengkajian data akan menjadi
sangat dinamis.
Analysis atau assessment ( A ) merupakan pendokumentasian manajemen
kebidanan menurut Helen Varney langkah ke-2, ke-3 dan ke-4 sehingga
mencakup hal-hal berikut ini : diagnosis atau masalah kebidanan, diagnosis
atau masalah potensial serta perlunya mengidentifikasi kebutuhan tindakan
segera untuk antisipasi diagnosis atau masalah potensial dan kebutuhan
tindakan segera harus diidentifikasi menurut kewenangan bidan, meliputi
tindakan mandiri, tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk klien.
d. Planning
Planning atau perencanaan ( P ) adalah membuat rencana asuhan saat ini
dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil analisis dan
interpretasi data. Rencana asuhan ini bertujuan untuk mengusahakan
16

tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan
kesejahteraannya. Rencana asuhan ini harus bisa mencapai kriteria tujuan yang
ingin dicapai dalam batas tertentu. Tindakan yang akan dilaksanakan harus
mampu membantu pasien mencapai kemajuan dan harus sesuai dengan hasil
kolaborasi tenaga kesehatan lain antara lain dokter.
Meskipun secara istilah P adalah Planning atau perencanaan saja, namun P
dalam metode SOAP ini juga merupakan gambaran pendokumentasian
implementasi dan evaluasi. P dalam SOAP meliputi manajemen kebidanan
menurut Helen Varney langkah ke-5, ke-6 dan ke-7. Dalam planning ini juga
harus mencantumkan evaluasi atau evaluation yaitu tafsiran dari efek tindakan
yang telah diambil untuk menilai keefektifan asuhan atau hasil pelaksanaan
tindakan. Evaluasi berisi analisis hasil yang telah dicapai dan merupakan focus
ketepatan nilai tindakan atau asuhan (Muslihatun, 2009).
SOAP merupakan catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis dan
tertulis. Adapun SOAP digunakan untuk pendokumentasian karena :
1) Pendokumentasian metode SOAP merupakan kemajuan informasi yang
sistematis yang mengorganisir penemuan dan kesimpulan menjadi suatu
rencana asuhan.
2) Metode ini merupakan penyaringan dari intisari proses penatalaksanaan
kebidanan untuk tujuan penyediaan dan pendokumentasian asuhan.
3) SOAP merupakan urut-urutan yang membantu dalam mengorganisir pikiran
dan memberikan asuhan yang menyeluruh.










17

BAB III
TINJAUAN KASUS

1. FORMAT PENGKAJIAN GINEKOLOGI
Tanggal Pengkajian : 1 september 2014
No Register : 879082
Pukul : 10.00 wib

I. DATA SUBJEKTIF
A. Identitas / Biodata
Nama : E
Umur :19 tahun
Suku / kebangsaan : Minang / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Mahasiswa
No. Telp. : -

B. Keluhan Utama
Seorang pasien wanita usia 19 tahun masuk bangsal ginekologi RSUP
DR.M.DJAMIL Padang. Tanggal 1 sepetember 2014 kiriman poli genekologi
dengan diagnosa kista bartolini. Pasien mengatakan bahwa ada bengkak di
kemaluan setelah kira kira 3 minggu yang lalu. Kista pecah dan
mengeluarkan nanah 2 minggu yang lalu.
Pasien mengatakan benjolan nya muncul sejak 4 tahun yang lalu, namun
pasien baru meraskan sakit sejak 3 minggu yang lalu.
C. Riwayat Menstruasi
Hari pertama : umur 14 tahun Teratur/Tidak : Teratur
Siklus : >30 hari Lamanya : 6 hari
18

Banyaknya : 1 x ganti duk Sifat Darah : encer
Dismenorrhea : Ada Flour Albus :Ada
HPHT : 15 september 2014

D. Riwayat obstetri yang lalu : Belum Menikah

E. Riwayat Kesehatan / penyakit klien
o TAK
o DM
o Hepatitis
o Penyakit Jantung
o Hipertensi
o TBC
o Ginjal
o Tumor
o Lain lain, sebutkan ...........
F. Riwayat penyakit keluarga
o TAK
o DM
o Hepatitis
o Penyakit Jantung
o Hipertensi
o TBC
o Ginjal
o Tumor
o Lain lain, sebutkan ...........
G. Keluhan yang dirasakan
Pada kemaluan ada bengkak dan benjolan yang bernanah dan berdarah.



19

H. Pola Kehidupan Sehari hari
a. Pola Nutrisi :
o TAK
o Anoreksia
o Neusea
o Vomitus
o Sonde
o Diet
b. Kebiasaan Makan :
o TAK
o Makanan instant
o Penyedap rasa
c. Pola Eliminasi :
o TAK
o Konstipasi
o Diare
o Perdarahan
o Kateter
o Retensi Urin
o Anuri
o Oligo
o Poliuri
o Disuri
d. Pola Istirahat dan tidur :
o TAK
o Insomnia
e. Pola aktivitas / mobilisasi :
o Mandiri
o Tergantung sebagian
o Tergantung penuh
o Seksualitas


20

I. Riwayat Psikososial
o Status Perkawinan : Belum menikah

II. DATA OBJEKTIF
A. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : sedang Suhu : 37 C
Tekanan darah : 120 / 70 mmhg Denyut Nadi : 85 x / i
Pernafasan : 20 x/i BB : 48 kg

B. Pemeriksaan Fisik
1. Wajah
o Oedema : Tidak Ada
o Conjungtiva : Tidak Anemis
o Sklera : Tidak Ikterus
2. Leher
o Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak Ada
o Pembesaran kelenjar Limfe : Tidak Ada
o Pembesaran vena jungularis : Tidak Ada
3. Dada
Payudara
o Bentuk : Simetri
o Benjolan : Tidak Ada
o Nyeri Tekan :Tidak Ada
4. Abdomen
o Bekas luka : Tidak Ada
o Oedema : Tidak ada
o Asites : Tidak ada
o Massa : Tidak ada
o Nyeri Tekan : Tidak ada
5. Genitalia.
Vulva dan Vagina
o Varices : Tidak ada
o Luka : Ada
21

o Kemerahan : Ada, sejak 3 minggu yang lalu.
o Fluxus : Tidak Ada
o Fluor : jernih, tidak berbau, sejak 1 bulan yang lalu.
o VT : Tidak dilakukan

6 . Ekstremitas
Oedema tangan dan jari : Tidak ada
Oedema tibia, kaki : Tidak ada
Betis merah merah/ lembek/ keras : Tidak ada
Varices tungkai : Tidak ada

E. Pemeriksaan Penunjang (09/08/2014)
Hb : 14,1 gr/dl
Normal 12, 0 gr/dl 14,0 gr/dl
Hematokrit : 42 %
Normal 37 % - 42%
Leukosit : 9,1/mm
3

Normal 5,0 /mm
3
- 10,00/ mm
3
Eritrosit : 4,8/mm
3

Normal 4,2/mm
3
5,4/mm
3
Trombosit : 298/mm
3

Normal 150,00 /mm
3
400,00/ mm
3










22


PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA Nn E UMUR 19 TAHUN
DENGAN KISTA BARTOLINI TERINFEKSI DI RSUP DR.M.DJAMIL PADANG
TANGGAL 1-3 SEPTEMBER TAHUN 2014
S O A P
Tanggal,01-09-
2014
Pukul 12.00 wib

Bengkak pada
kemaluan pada
labia majora
sebelah
kiri,seperti
benjolan jika
benjolan pecah
keluar nanah
bercampur
darah,benjolan
berukuran
sebesar kelereng.
Sekarang tidak
merasakan nyeri.
Klien mengalami
keputihan sejak 1
bulan yang lalu
dan terasa sedikit
gatal.
Klien cemas dan
khawatir dengan
kondisinya.

-KU : Sedang
-Kesadaran : CMC
-TTV
TD : 120/70 MmHg
P : 20 kali/menit
N : 85 kali/menit
S : 37
0
C
-Pemeriksaan fisik
Genetalia:
- Pembengkakan :
ada pada labia
majora dan
monira sebelah
kiri.
- Fluor : ada
sejak 1 bulan
yang lalu,gatal
dan tidak
berbau,warna
jernih.
-Pemeriksaan penunjang
(09/08/2014)
- Hb : 14.1 gr/dl
- Hematokrit :42
%
- Leukosit :
9,1/mm
3

Dx : Nn E
umur 19 tahun
dengan kista
bartolini
terinfeksi.

Masalah:
Demam,nyeri,ras
a tidak nyaman.

Tindakan segera:
Marsupialisasi
(04/09/2014)














- Memberitahukan hasil
pemeriksaan kepada
klien dan keluarga
mengenai hasil
pemeriksaan monitor
tanda-tanda vital dan
hasilnya berada dalam
batas normal
TD : 120/70 MmHg
P : 20 kali/menit
N : 85 kali/menit
S : 37
0
C
Klien dan keluarga
paham dengan
informasi yang
diberikan.
- Memberikan
dukungan emosional
dan psikologis kepada
klien untuk tidak perlu
cemas dengan
kondisinya
sekarang,dengan cara
memotivasi klien
untuk terus berusaha
mengobati
penyakitnya. Klien
23


































- Eritrosit :
4,8/mm
3

- Trombosit :
298/mm
3


-Terapi cairan (infuse)
tidak diberikan.
-Terapi obat order dokter
- Ciprofloksasin
2X50mg
- As.mefenamat
3X50 mg






















































merasa senang dengan
dukungan yang
diberikan dan
kekhawatiran klien
sedikit berkurang.
- Memberitahu pasien
untuk selalu menjaga
kesehatan kondisi fisik
tubuh nya agar siap
jasmani untuk
menghadapi tindakan
operasi nanti,dengan
cara selalu
mengkonsumsi
makanan yang bergizi
dan menjaga personal
hygine. Klien
mengerti dengan
informasi yang
diberikan dan mau
mengikuti anjuran
tersebut.
- Memberitahu klien
cara vulva hygine
yang benar agar
infeksi tidak menyebar
luas dan juga tidak
bertambah
parah,dengan cara
memberitahu klien
jika setelah BAB
untuk cebok tangan
membersihkan dari
24




































































































arah depan kebelakang
supaya bakteri dari
anus tidak terbawa ke
vagina. Klien mengerti
dengan informasi yang
diberikan.
- Meberitahu klien
untuk memakai celana
dalam yang berbahan
katun yang dapat
menyerap keringat,dan
juga jika celana dalan
terasa lembab segera
untuk diganti karena
jika lembab akan
menyebabkan kuman
bisa berkembang dan
menyebabkan flour
albus. Klien
memahami informasi
yang diberikan dan
mau mengikuti
anjuran tersebut.
- Kolaborasi
dengan dokter
untuk
memberikan
terapi obat. Obat
yang diorderkan
dokter:
Ciprofloksasin
2X50mg
- As.mefenamat
25




















Tanggal,02/09/201
4
Pukul 14.30 wib.

Benjolan
pada
kemaluann
ya terasa
tidak begitu
nyeri.
.






















-KU : Sedang
-Kesadaran : CMC
- TTV
TD : 120/70 MmHg
N : 86 kali/menit
S : 37.2
0
C
P : 18 kali/menit
-Pemeriksaan penunjang
: tidak ada.
-Terapi cairan (infuse)
tidak ada.
-Terapi lanjut obat order
dokter:
Terapi lanjut:



















Dx: Nn E usia
19 tahun dengan
kista bartolini
terinfeksi.
Masalah:
demam,nyeri,rasa
tidak nyaman.

Tindakan segera:
Marsupialisasi
(04/09/2014)



3X50 mg

Dan memberitahu klien
untuk meminum obat
sesudah makan. Klien
memahami informasi
yang diberikan.
- Memberikan
kenyamanan bagi
klien dengan cara
menjaga kebersihan
dan kerapian
lingkungan pasien.
Klien merasa sengang
dengan tindakan yang
dilakukan.



- Menginformasikan
hasil pemeriksaan
kepada klien dan
keluarga ,hasil
pemeriksaan monitor
tanda-tanda vital dan
berada dalam batas
normal
TD : 120/70 MmHg
N : 86 kali/menit
S : 37.2
0
C
P : 18 kali/menit
Klien dan keluarga
memahami informasi
26


































- Ciprofloksasin
2X50mg
- As.mefenamat
3X50 mg






























































yang diberikan.
- Mengingatkan klien
untuk selalu menjaga
kesehatan dan
kondisi fisik sebelum
tindakan operasi
dengan cara selalu
mengkonsumsi
makanan yang
bergizi,istirahat yang
cukup dan personal
hygine yang baik.
Klien memahami
informasi yang
diberikan.
- Mengingatkan klien
untuk selalu menjaga
kebersihan vaginanya
dengan cara vulva
hygine yang benar
supaya infeksi tidak
bertambah parah.
Klien memahami
informasi yang
diberikan.
- Mengingatkan klien
untuk memakai
celana dalam
berbahan katun dan
jika celana dalam
lembab segera untuk
diganti supaya
kuman tidak bisa
27
































Tanggal,03/09/201
4































-KU : sedang
-kesadaran : CMC































Dx : Nn E
umur 19 tahun
berkembang. Klien
mengerti dengan
informasi yang
diberikan.
- Mengingatkan klien
untuk meminum obat
terapi lanjut yang di
orderkan dokter
- Ciprofloksasin
2X50mg
- As.mefenamat
3X50 mg
Mengingatkan klien
untuk meminum obat
sesudah makan. Klien
memahami informasi
yang diberikan.
- Selalu memberikan
kenyamanan kepada
klien dengan cara
menjaga kerapian dan
kebersihan lingkungan
klien. Klien merasa
senang dengan
tindakan yang
dilakukan.





- Memberitahukan hasil
pemeriksaan kepada
28

Pukul : 15.00 wib

Klien
merasa
cemas dan
khawatir
menghadap
i tindakan
Marsupialis
asi besok.
-TTV
TD :120/80 MmHg.
N : 82 kali/menit.
S : 36,7
0
C.
P : 20 kali/menit.

-Pemeriksaan penunjang
: Tidak ada
_Terapi lanjut obat order
dokter:
- Ciprofloksasin
2X50mg
- As.mefenamat
3X50 mg



dengan kista
bartolini
terinfeksi.

Masalah:
deman,nyeri,rasa
tidak nyaman.

Tindakan segera:
Marsupialisasi
(04/09/2014).
klien dan
keluarga,pemeriksaan
hasil tanda-tanda vital
dan berada dalam
batas normal
TD : 120/80 MmHg
N : 82 kali/menit
S : 36,7
0

P : 20 kali/menit
Klien dan keluarga
memahami informasi
yang diberikan.
- Memberikan
dukungan emosional
dan psikologis
kepada klien untuk
tidak perlu takut
menghadapi operasi
besok,dengan cara
memotivasi pasien
bahwa dengan
tindakan tersebut
penyakit ini bisa
diangkat dan insya
allah bisa sembuh.
Klien merasa senang
dengan dukungan
yang diberikan dan
kekhawatiran sedikit
berkurang.
- Memberitahu klien
bahwa pukul 17.00
wib nanti klien akan
29

dilakukan
klisma,oleh karena
itu pasien dianjurkan
untuk membersihkan
rambut kemaluan
hingga bersih dan
makan terlebih
dahulu sebelum
pukul 17.00 wib
nanti.
- Mengingatkan klien
untuk meminum obat
terapi lanjut order
dokter:
- Ciprofloksasin
2X50mg
- As.mefenamat
3X50 mg
Meminum obat
sesudah makan.
Klien memahami
informasi yang
diberikan.
- Pukul 17.00 wib
melakukan klisma
kepada klien dan
menjelaskan kepada
klien tujuan tindakan
tersebut,bertujuan
untuk merangsang
BAB klien. Klien
mengerti dengan
informasi yang
30

diberikan dan mau
melaksanakan
tindakan tersebut.
- Memberitahu klien
sesudah tindakan
klisma klien harus
berpuasa untuk
persiapan tindakan
operasi besok,klien
tidak boleh makan
dan minum apapun.
Klien memahami
informasi yang
diberikan dan akan
melakukan anjuran
tersebut.
- Memberikan ucapan
doa atau simpati
kepada klien semoga
operasi besok
berjalan dengan
lancar agar klien
merasa senang
karena merasa
diperhatikan. Klien
terlihat senang
dengan ucapan yang
diberikan.





31

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Kista bartolini merupakan penyumbatan yang terjadi pada kelenjar bartolini yang
disebabkan oleh infeksi bakteri sehingga akan menimbulkan pembengkakan dan bisa terasa
nyeri. Pada kasus ini Nn E berumur 19 tahun dengan kista bartolini terinIeksi,pada kasus
ini klien merasa nyeri pada benjolan jika duduk,dan jika benjolan pecah maka keluar nanah
bercampur darah,klien mengatakanjika nyerinya datang ia tidak bisa untuk beraktifitas,klien
mengatakan terdapat benjolan pada labia majora sebelah kiri. Klien mengatakan sekarang
benjolan tersebut tidak terasa begitu nyeri sehingga tidak mengganggu aktifitasnya.
Jika dikaitkan dengan teori terapi yang diberikan oleh dokter sangat sesuai dengan
teori yang ada,disini dokter memberikan terapi obat ciprofloksasin yang merupakan antibiotic
tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri ,dan juga dokter memberikan terapi
asam mefenamat untuk menghilangkan nyeri yang dirasakan oleh klien. Pada kasus ini dokter
melakukan rencana tindakan marsupialisasi kepada pasien dengan tujuan untuk pengangkatan
kista yang terdapat pada kelenjar bartolini tersebut,tindakan ini tidak boleh dilakukan pada
klien dengan tanda-tanda abses akut,pada NnE tidak terdapat tanda-tanda abses akut
sehingga dokter merencanakan tindakan tersebut terhadap Nn E.
Saya sebagai tenaga kesehatan dalam menerapkan asuhan kebidanan,saya melakukan
monitoring tanda-tanda vital terhadap Nn E dan hasil monitoring yang didapatkan tanda-
tanda vital NnE dalam tiga hari pengawasan berada dalam batas normal,memberikan KIE
bagaimana vulva hygine yang benar agar infeksi yang terjadi tidak menyebar luas kedaerah
vagina yang lain,KIE mengenai kebutuhan nutrisi dan kondisi fisik yang harus dipersiapkan
sebelum tindakan operasi,dan memberikan dukungan emosional baik psikologis kepada Nn
E agar ia merasa diberikan empati dan tidak merasakan cemas dan khawatir dalam
menghadapi penyakit dan tindakan operasi yag akan dilakukan.



32

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Kista Bartolini merupakan tumor kistik jinak dan ditimbulkan akibat saluran Bartolini
yang mengalami sumbatan. Sumbatan biasanya disebabkan oleh infeksi. Kuman yang sering
menginfeksi kelenjar Bartolini adalah Neisseria gonorrhoeae. Kista kelenjar bartolini terjadi
ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar bartolini bisa tersumbat karena berbagai
alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Selain itu dapat disebabkan
kuman Streptococcus dan Escherichia coli. Kista Bartholini seringkali bersifat asimptomatis,
tidak ada tanda-tanda infeksi, sehingga pemberian antibiotik tidak diperlukan. Jika terdapat
infeksi sekunder, maka dapat diberikan antibiotik spektrum luas. Diberikan antibiotik yang
sesuai (umumnya terhadap Klamidia, Gonokokus, Bakteroides, dan Escherichia coli) bila
belum terjadi abses. Jika sudah bernanah, harus dikeluarkan dengan sayatan menggunakan
kateter Word, teknik marsupialisasi, maupun eksisi. Metode penanganan kista bartholini yaitu
insersi word catheter untuk kista dan abses kelenjar bartholini dan marsupialization untuk
kista kelenjar bartholini. Insisidan drainase adalah prosedur yang paling mudah dan relatif
cepat dalam kesembuhan pasien,namun prosedur ini mempunyai kecenderungan kista
berulang kembali. Marsupialisasi lebihefektif dibandingkan dengan terapi pembedahan kista
Bartholin lainnya.

5.2. Saran
Dalam upaya meningkatkan kualiatas perawatan pada klien dengan kista bartolini
perlu ditingkatkan pengetahuan tentang perawatan pada klien tersebut,sehingga asuhan yang
diberikan dapat lebih efektif secara komprehensif meliputi bio-psikososial spiritual pada klien
melalui pendekatan proses keperawatan.






33

DAFTAR PUSTAKA
Sarwono Prawiro hardjo, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, 2006,Jakarta
Andhi Juanda, 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. FKUI
Manuaba, Ida Bagus, Gde. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta : EGC.
Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Manuaba, Ida Bagus, Gde. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta : EGC.
Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka