Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Radiologi THT telah berkembang sejak penemuan sinar x pada tahun 1895
oleh Wilhelm Conrad Roentgen
1
(2 !aret 18"5#1$ %ebruari 192&'( seorang ahli
)isika asal *erman+ ,alam beberapa dekade pertama( radiogra)i kon-ensional
adalah modalitas diagnostik untuk e-aluasi pen.akit kepala dan leher+
/emeriksaan radiologis berkembang dengan pesatn.a sejalan dengan kemajuan
ilmu kedokteran dan ilmu#ilmu lain pada umumn.a+ 0emajuan ini dipengaruhi
oleh perkembangan teknologi )isika( kimia( biologi( elektronik( komputer dan
sebagain.a+ Cara#1ara pemeriksaan .ang menghasilkan gambar tubuh manusia
untuk tujuan diagnostik dinamakan pen1itraan diagnostik+ /ro.eksi radiogra)i
khusus diran1ang untuk menunjukkan proses abnormal pada sinus paranasal(
tulang temporal( dasar tengkorak( dan leher+ /emeriksaan barium dengan
)luoroskopi digunakan untuk penilaian )aring dan eso)agus+ Tomogra)i linear(
diperkenalkan pada tahun 19&2 sehinga memungkinkan untuk menggambarkan
kelainan .ang tidak jelas di radiogra)i kon-ensional+ Tomogra)i linear
dikembangkan lebih lanjut menjadi politomogra)i( terutama terhadap tulang
temporal( pada tahun 195"+ CT 21an pada tahun 192 dan !R3 pada tahun 1982
meningkatkan kemampuan diagnostik dengan memungkinkan menentukan lokasi
dan karakterisasi tumor( kista( dan proses in)lamasi di kepala dan leher dan
membantu dalam diagnosis dini serta pengobatan+
1(2
2ebuah hasil pen1itraan diagnostik merupakan sebuah re)erensi .ang paling
berharga bagi ahli bedah kepala dan leher atau otolaryngologist( .ang sangat
dibutuhkan dari pasien+ 0arena ban.akn.a bagian pendukung dan struktur dalam
dari sebuah kepala dan leher .ang pemeriksaann.a bukan han.a sekedar
pemeriksaan .ang bersi)at topogra)i (anatomi atau penentuan letak struktur' saja(
tetapi juga memerlukan pemeriksaan .ang bersi)at )isiologi+ Hal ini bukan berarti
bah4a setiap pasien membutuhkan pen1itraan diagnostik+ 5eberapa pasien
mungkin han.a memerlukan pen1itraan dignostik kon-ensional seperti )ilm tipis
4
sinar#6( atau beberapa justru membutuhkan pen1itraan dengan teknologi tinggi
untuk memperoleh hasil terbaik demi ren1ana terapi .ang akan dia jalani
nantin.a+
1
Hingga saat ini( peralatan pen1itraan kon-ensional .ang masih bertahan dan
paling ban.ak digunakan adalah sinar x atau rontgen+ /eralatan pen1itraan
teknologi tinggi meliputi CT 21an( !R3( angiography, diagnostic ultrasound
(tidak in-asi)'( dan radionuclide scan+ /en1itraan ini biasan.a digunakan sebagai
pelengkap pen1itraan .ang dihasilkan oleh peralatan pen1itraan kon-ensional+
7ain haln.a di 8egara maju( CT s1an dan !R3 lebih sering digunakan serta lebih
diutamakan dalam menentukan diagnosis daripada pen1itraan kon-ensional+
1(&
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2+1 23892 /:R:8:2:7
2inus paranasal adalah rongga berisi udara .ang dikelilingi oleh tulang .ang
tidak dapat terakses se1ara langsung oleh pemeriksaan klinikal semata( ke1uali
dengan meningkatkan penemuan teleskop+ 2e1ara tradisional( )ilm kon-ensional
merupakan pilihan pen1itraan terbaik pada pemeriksaan paranasal sinus+ :kan
tetapi( se1ara perlahan CT mulai menggantikan pen1itraan kon-ensional ini
sebagai peralatan utaman.a+
"
!R3 merupakan metode pen1itraan .ang paling baik pada pemeriksaan
sekitar dan komplikasi intrakranial dari pen.akit radang sinus+ ,ibandingkan
dengan CT( !R3 lebih mampu memberikan -isualisasi .ang lebih baik bagi
jaringan lunak( tapi tidak dapat dengan mudah menunjukan bagian .ang terdapat
batas cortical air-bone+ Hal itulah .ang menjadi alasan mengapa CT masih
menempati urutan prioritas pada pen1itraaan paranasal sinus ini+
1
/ada pasien#pasien dengan keluhan klinis khas .ang mengarah pada dugaan
adan.a sinusitis( antara lain pilek( n.eri kepala( na)as berbau( atau kelainan#
kelainan lain pada sinus paranasal misaln.a mukokel( pembentukan 1airan dalam
sinus#sinus( atau tumor( trauma sekitar sinus paranasal( diperlukan in)ormasi
mengenai keadaan sinus tersebut+
"
/emeriksaan radiologis untuk mendapatkan in)ormasi dan untuk menge-aluasi
sinus paranasal adalah;

%oto kepala dengan berbagai posisi .ang khas


"

Tomogra)i
"

CT 21an
"

!R3
"
6
,engan pemeriksaan radiologis tersebut para ahli radiologi dapat
memberikan gambaran anatomi atau -ariasi anatomi( kelainan#kelainan patologis
pada sinus paranasal dan struktur tulang sekitarn.a( sehingga dapat memberikan
diagnosis .ang lebih dini+
"
2+1+1 /<!<R302::8 %=T= 0</:7:
/emeriksaan )oto polos kepala adalah pemeriksaan .ang paling baik dan
paling utama untuk menge-aluasi sinus paranasal+ 0arena ban.akn.a unsur#unsur
tulang dan jaringan lunak .ang tumpang tindih pada daerah sinus paranasal(
kelainan jaringan lunak( erosi tulang kadang sulit di e-aluasi+ /emeriksaan ini dari
sudut bia.a 1ukup ekonomis dan pasien han.a mendapat radiasi .ang minimal+
"
2emua pemeriksaan harus dilakukan dengan proteksi radiasi .ang baik( arah
sinar .ang 1ukup teliti dan digunakan )okal spot .ang ke1il+ /osisi pasien .ang
paling baik adalah posisi duduk+ :pabila dilakukan pada posisi tiduran( paling
tidak posisi Waters
"
dilakukan pada posisi duduk+ ,iusahakan untuk memperoleh
hasil .ang dapat menge-aluasi adan.a air fluid level dalam sinus# sinus+ :pabila
pasien tidak dapat duduk( dianjurkan untuk melakukan )oto lateral dengan )ilm
diletakkan pada posisi kontralateral dengan sinar x hori>ontal+
"
/emeriksaan kepala untuk menge-aluasi sinus paranasal terdiri atas
berbagai ma1am posisi( antara lain;
a+
%oto 0epala /osisi /osterior#:nterior (/osisi Cald4ell
"
'
%oto ini diambil pada posisi kepala menghadap kaset( bidang midsagital
kepala tegak lurus pada )ilm+ /osisi ini didapat dengan meletakkan hidung dan
dahi diatas meja sedemikian rupa sehingga garis orbito#meatal (.ang
menghubungkan kantus lateralis mata dengan batas superior kanalis auditorius
eksterna' tegak lurus terhadap )ilm+ 2udut sinar rontgen adalah 15 derajat
kraniokaudal dengan titik keluarn.a nasion+
"(5
7
Gambar 1. ?ambaran
/osisi Cald4ell
(@'
Gambar 2. %oto
Cald4ell
(@'
b+
%oto 0epala
7ateral
%oto lateral
kepala
8
dilakukan dengan kaset terletah sebelah lateral dengan sentrasi diluar kantus mata(
sehingga dinding posterior dan dasar sinus maksila berhimpit satu sama lain+

Gambar 3. ?ambaran /osisi 7ateral


(8'
Gambar 4. %oto 7ateral
(9'
1+
%oto 0epala /osisi Waters
/osisi ini .ang paling sering digunakan+ /ada )oto Waters( se1ara ideal
piramid tulang petrosum dipro.eksikan pada dasar sinus maksilaris+ !aksud dari
posisi ini adalah untuk mempro.eksikan tulang petrosus supa.a terletak diba4ah
antrum maksila sehingga kedua sinus maksilaris dapat die-aluasi seluruhn.a+ Hal
ini didapatkan dengan menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga
dagu men.entuh permukaan meja+ 5idang .ang melalui kantus medial mata dan
9
tragus membentuk sudut kurang lebih & derajat dengan )ilm+ %oto Waters
umumn.a dilakukan pada keadaan mulut tertutup+ /ada posisi mulut terbuka akan
dapat menilai daerah dinding posterior sinus sphenoid dengan baik+
"(
Gambar 5. ?ambaran /osisi Waters
(8'
10
Gambar 6. %oto Waters
(1$'
d+
%oto 0epala /osisi 2ubmento-erteks
/osisi submento-erteks diambil dengan meletakkan )ilm pada -erteks(
kepala pasien menengadah sehingga garis in)raorbitomeatal sejajar dengan )ilm+
2entrasi tegak lurus kaset dalam bidang midsagital melalui sella tursika ke arah
-erteks+ 5an.ak -ariasi#-ariasi sudut sentrasi pada posisi submento-erteks( agar
supa.a mendapatkan gambaran .ang baik pada beberapa bagian basis kranii(
khususn.a sinus )rontalis dan dinding posterior sinus maksilaris+
"(
Gambar 7.
11
?ambaran /osisi 2ubmento-erteks
(9'
Gambar 8. %oto
2ubmento-erteks
(11'
e+
%oto 0epala /osisi Rhese
"
/osisi Rhese atau oblik dapat menge-aluasi bagian posterior sinus etmoid(
kanalis optikus dan lantai dasar orbita sisi lain+
"(
12
Gambar 9. ?ambaran /osisi Rhese dan %oto Rhese
(12'
)+
%oto 0epala /osisi To4ne
"
/osisi To4ne diambil denga berbagai -ariasi sudut angulasi antara &$#@$
derajat ke arah garis orbitomeatal+ 2entrasi dari depan kira#kira 8 1m di atas
glabela dari )oto polos kepala dalam bidang midsagital+ /ro.eksi ini adalah posisi
.ang paling baik untuk menganalisis dinding posterior sinus maksilaris( )isura
orbita in)erior( kondilus mandibularis( dan arkus >igomatikus posterior+
"(
Gambar 10. ?ambaran /osisi To4ne
(1&'
13
Gambar 11. %oto To4ne
(11'
2+1+2 /<!<R302::8 T=!=?R:%3
/emeriksaan tomogram pada sinus paranasal biasan.a digunakan
multidirection tomogram. 2ejak digunakann.a CT s1an( pemeriksaan tomogram
sudah jarang digunakan+ Tetapi pada )raktur daerah sinus paranasal( pemeriksaan
tomogram merupakan suatu tehnik .ang terbaik untuk men.ajikan )raktur#)raktur
tersebut dibandingkan dengan pemeriksaan aksial dan 1oronal CT s1an+ /ada
pemeriksaan tomogram biasan.a dilakukan pada kepala dengan posisi :/ atau
Waters+
"
2+1+& /<!<R302::8 CT 2C:8
14
/emeriksaan CT s1an sekarang merupakan pemeriksaan .ang sangat unggul
untuk mempelajari sinus paranasal( karena dapat menganalisis dengan baik
tulang#tulang se1ara rin1i dan bentuk#bentuk jaringan lunak( irisan aksial
merupakan standar pemeriksaan paling baik .ang dilakukan dalam bidang in)erior
orbitomeatal (3=!'+ /emeriksaan ini dapat menganalisis perluasan pen.akit dari
gigi geligi( sinus#sinus dan palatum( termasuk ekstensi intrakranial dari sinus
)rontalis+ /ada kasus#kasus sinusitis sphenoid( kira#kira 5$A )oto polos sinus
sphenoidalis .ang normal( tapi apabila dilakukan pemeriksaan CT s1an( maka
tampak kelainan pada mukosa berupa penebalan+
"(
Gambar 12. CT 21an 2inus /otongan Coronal
(1"'
2+1+" ?:!5:R:8 R:,3=7=?30 238923T32
?ambaran radiologik .ang tampak pada sinusitis seperti;

/enebalan mukosa

15

Air fluid level

/erselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus
paranasal

/enebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus#kasus kronik'

Gambar 13. /enebalan !ukosa dan Air Fluid Level


(15'
/ada sinusitis mula#mula tampak penebalan dinding sinus( dan .ang paling
sering diserang adalah sinus maksilaris( tetapi pada sinusitis kronik tampak juga
sebagai penebalan dinding sinus .ang disebabkan karena timbuln.a jaringan
)ibrosis dan jaringan parut .ang menebal+ %oto polos tak dapat membedakan
antara penebalan mukosa dan gambaran )ibrotik beserta pembentukan jaringan
parut( dimana han.a tampak sebagai penebalan dinding sinus+ CT s1an dengan
pen.untikan kontras dapat digunakan untuk membedakan hal ini+ /ada CT s1an
dengan pen.untikan kontras( apabila terjadi enhancement menunjukan adan.a
in)lamasi akti)( tetapi bila tidak terjadi enhancement biasan.a jaringan )ibrotik
dan jaringan parut+

/ada kasus#kasus sinusitis bakterial akut dengan pemeriksaan posisi Waters(


16
sukar membedakan perselubungan sinus maksilaris .ang disebabkan sinusitis
murni atau disebabkan oleh air fluid level+ 9ntuk kasus sema1am ini perlu
dibuatkan posisi Waters dalam keadaan duduk+ Hampir 5$A kasus#kasus dengan
perselubungan pada salah satu sinus maksilaris pada pemotretan posisi supine
tern.ata setelah di)oto duduk( terdapat air fluid level+

Air fluid level akan tampak pula pada kasus#kasus;

/ada pasien#pasien .ang mengalami pen1u1ian sinus maksilaris( biasan.a


minimal &#" hari setelah pen1u1ian sinus( maka gambaran sinus tersebut
akan tampak suram+ Hal ini dapat didiagnosis sebagai sinusitis karena
rein)eksi

/ada pasien dengan trauma kepala .ang disertai )raktur atau tidak )raktur
pada dinding sinus

/ada pen.akit golongan diskrasia darah seperti pen.akit von Willebrand


dimana terjadi perdarahan pada permukaan mukosa+ Hal ini berbeda pada
pasien#pasien hemophilia( dimana terjadi perdarahan pada ruangan sendi

/ansinusitis adalah suatu keadaan dimana terdapat perselubungan pada


seluruh sinus#sinus( biasan.a sering terjadi pada sinusitis+ :pabila perselubungan
masih tetap ada sampai 2#& minggusetelah terapi konser-ati) perlu dilakukan
pemeriksaan CT s1an+ Hal#hal .ang mungkin terjadi pada kasus tersebut ialah;

0ista retensi .ang luas( pada pemeriksaan CT 21an terlihat gambaran air
fluid level
"(

/olip .ang mengisi ruang sinus


"(

/olip antrakoana
"(

!asa pada ka-um nasi .ang men.umbat sinus


"(

!ukokel( pada )oto polos tampak gambaran radioopak berbatas tegas


17
berbentuk kon-eks dengan penebalan dinding mukosa disekitarn.a+ /ada
mukokel didaerah sinus etmoidalis sukar dideteksi dengan )oto polos(
tetapi dapat dideteksi dengan pemeriksaan CT s1an
"(

Tumor+
"(
2+1+5 %R:0T9R /:,: T97:8? !90:
%raktur tulang muka dapat dibagi 2 kelompok( .aitu )raktur .ang dapat
terjadi pada satu tulang atau dapat terjadi pada beberapa tulang+ %raktur#)raktur ini
meliputi
"
;

%raktur tulang nasal( dimana terjadi gangguan aliran dari sinus#sinus ke


ka-um nasi
"

%raktur tulang )rontal


"

%raktur arkus >igomatikus( dimana sinus makasilaris ikut terlibat


"

%raktur .ang meliputi etmoid atau maksilaris atau keduan.a


"
/ada )oto polos kepala( gambaran .ang tampak han.a garis )raktur dan
perselubungan satu atau dua sisi sinus+ 2edangkan pemeriksaann CT 21an dapat
memperlihatkan gambaran herniasi
"
%raktur kompleks .ang sering terjadi adalah
"
;

%raktur naso#orbital( dapat disebabkan oleh benturan kuat pada dasarhidung


.ang menekan tulang nasal kebelakang sehingga men.ebabkan sinus
etmoidalis kolap+ /ada )oto polos :/ sukar dinilai( pada )oto lateral dapat
dilihat )raktur pada tulang nasal dimana tulang nasal tertekan kedalam dan
perselubungan pada sinus etmoidalis+ /emeriksaann CT s1an khususn.a
irisan koronal( dapat memperlihatkan se1ara tepat kolap sinus etmoid
"

%raktur trimalar( sering terjadi pada olah raga tinju dimana terdapat pukulan
keras pada tulang >igomatikus+ %raktur dapat ditegakkan dengan
18
pemotretan posisi water dan pemeriksaan CT s1an
"

%raktur Le Fort( )raktur komplek tulang#tulang muka .ang sering terlihat


pada ke1elakaan+ /emeriksaan )oto polos muka dan CT s1an dapat
memperlihatkan luasn.a daerah .ang terkena( dan tulang#tulang apa saja
.ang )raktur
"
2+1+@ T9!=R /:,: 23892
,elapan puluh persen tumor .ang men.erang sinus paranasal dan ka-um
nasi adalah karsinoma sel skuamosa dan hampir 8$A men.erang sinus maksila+
Tanda#tanda radiologi pada )oto polos kepala dan CT kepala adalah adan.a masa
pada sinus maksilaris disertai dekstruksi tulang akti)( han.a pada CT kepala dapat
ditambahkan e-aluasi tambahan daerah )osa in)ra temporalis dan daerah
para)aringeal+ Hal ini dapat menentukan apakah tumor men.ebar pada daerah
tersebut atau ke atas ke daerah basis kranii+
"
:da sekelompok tumor dengan tanda#tanda radiologik .ang khas( .aitu
adan.a ekspansi akti) meliputi seluruh rongga sinus( dekstruksi tulang dinding
pada sinus .ang diserang( tetapi se1ara garis besar tulang#tulang tersebut
mengalami rekalsi)ikasi lagi( sehingga sering tumor dianggap jinak( tetapi se1ara
patologis prognosisn.a sangat jelek+ 0elompok tumor ini adalah papiloma(
esthesioneuroblastoma( tumor kelenjer sali-a minor termasuk adenokarsinoma(
ekstramedulariplasmasitoma( melanosarkoma( dan rhabdomiosarkoma+
"
2+2 *:R38?:8 798:0 /:,: 7<H<R
!asa kepala dan leher se1ara umum digolongkan atas jaringan normal atau
malignan( primer atau metastasis( .ang sudah ada sejak lahir atau baru timbul
akibat peradangan+ /engelompokan ini kemudian berlanjut menurut usia (anak
dan de4asa'( lokasi (depan( tengah( dan belakang'+ 2ehingga pemeriksaan .ang
penting untuk membedakan mana jaringan normal dan malignan menjadi sangat
penting dalam masalah klinis ini+
1@
19
!etode radiogra)i kon-ensional biasan.a tidak begitu berhasil dalam
membedakan masa jaringan pada leher( ke1uali dalam mengenali tanda#tanda
.ang tidak biasa( seperti pengapuran+ 9ltrasonogra)i adalah metode .ang aman(
relati) murah( sudah ban.ak tersedia( .ang dikategorikan sebagai pen1itraan
beresolusi tinggi .ang memungkinkan >at penerima suara memantulkan kembali
suara ke reseptor+ Teknik ultrasound .ang dikombinasikan dengan lima jarum
penghisap dan pemeriksaan cytologic mempun.ai kemampuan .ang signi)ikan
dalam mengetahui susunan jaringan lunak pada leher+ !R3 penting untuk
mengetahui adan.a node BtitikC abnormalD CT dengan slicing .ang tipis sangat
1o1ok dipakai pada pelebaran ekstra-askular+ Digital substriction angiography
dan conventinal superselective angiography merupakan peralatan diagnostik pada
hemangioma( arterivenous malformations( dan parangangliomas+ CT adalah
peralatan .ang paling penting untuk mendiagnosa masa leher karena alat tersebut
se1ara e)ekti) dapat membedakanEmenentukan tumor utama dan node#node
tertentu+
1@
2+& 7:R38?
/eralatan pen1itraan radiologi penting untuk mengamati dan menentukan
ukuran atau dimensi dari sebuah kelainan pada laring+ !eskipun laring dapat
terlihat dengan mudah menggunakan mata telanjang atau biopsi( akan tetapi(
perluasan daerah diba4ah kelenjar tidak akan terlihat oleh mata telanjang+ 5ila
memungkinkan( studi pen1itraan harus segera dilakukan sebelum pemeriksaan
biopsi apapun dilakukan terhadap laring+ Hal ini untuk men1egah terjadin.a
kesalahpahaman pena)siran antara tumor dan trauma lokal akibat tumor+
1@
/en1itraan kon-ensional menggunakan beberapa kF tegangan dapat
digunakan sebagai in)ormasi a4al+ Xeroradiography( meskipun kapasitasn.a
adalah sebagai pelengkap( akan tetapi peralatan ini dapat membedakan dengan
jelas mana .ang jaringan lunak( stenosa( dan terkadang dapat mengenali adan.a
keganjilan pada tulang lunak+
1@
2ementara itu( ultrasonogra)i mempun.ai keterbatasan karena tulang lunak
20
memantulkan lebih ban.ak suara( .ang akhirn.a akan merusak kualitas pen1itraan
.ang dihasilkan+ !R3 dan CT keduan.a dapat memberikan in)ormasi akurat
mengenai tingkatEle-el dari tumor larink ini( terutama ukuran tumor atau kanker+
1@
9ntuk proses pen1itraann.a sendiri( CT dapat dengan mudah memperoleh
data han.a dengan 4aktu kurang dari 1$ detik( sehingga menghindari kesalahan
.ang diakibatkan oleh gerak pasien+ 2edangkan laring sangat sulit untuk di1itra
dengan !R3 karena adan.a Bmotion artifactC akibat den.ut nadi pasien+
1@
2+" 0<7<8*:R 79,:H
/ada sebagian besar pen1itraan kelenjar ludah( ultrasound sudah 1ukup
akurat untuk membedakan lapisan intrakapsular dan ekstrakapsular+ 9ltrasound
juga dapat membedakan antara daerah .ang padat dan .ang berongga+ 5aik !R3
dan CT keduan.a merupakan metode .ang sempurna untuk mendeteksi adan.a
pen.akit pada kelenjar ludah( terutama )okal( multi)okal( atau pen.ebaran masa+
/emilihan metode pen1itraan .ang akan dipakai pada pemeriksaan kelenjar ludah
ini bergantung pada keadaan klinis pasien( re)erensi penggunan.a .aitu dokter dan
radiologis( serta didukung kemahiran menggunakan alat .ang dipilih+
1@
2+5 0<7<8*:R ?=8,=0
9ntuk kasus kelenjar gondok( pen1itraan kon-ensional bukan merupakan
tahap a4alD ini digunakan untuk membatasi luasan pen1itraan dan menetukan
letak pengapuran .ang terjadi+ adionuclide scan merupakan metode .ang paling
sering dipilih untuk mendeteksi berbagai kelainan pada kelenjar gondok+ :da tiga
jenis radionuclide dalam bentuk sen.a4a kimia .ang sering digunakan untuk
pemeriksaan ini( .aitu; 2odium T1#99m /erte1hnetate( dapat terperangkap di
kelenjar gondok tapi tidak diserap organ( kemudian 3#1&1 .ang dapat terperangkap
di kelenjar gondok tapi men.atu dengan organ+ ,an .ang terakhir adalah 3#12&+
dari ketiga pilihan tersebut( /erte1hnetate merupakan pilihan terbaik karena tidak
men.atu dengan organ dan dapat dibuang segera oleh tubuh sehingga tidak
menimbulkan e)ek samping bagi tubuh pasien+
1@
21
2+@ 0<7<8*:R /:R:T3R=3,
0elenjar paratiroid mengalami ban.ak kontro-ersi baik dari segi istilah
indikasin.a maupun dari segi agen pen1itraan .ang digunakan+ 5an.ak pilihan
tersedia bagi pen1itraan kelenjar paratiroid ini; ultrasound( CT( !R3 angiogra)i(
hingga pen1itraan kedokteran nuklir+ ,ari semua pilihan tersebut( ultrasound
merupakan pilihan .ang paling non#in-asi)+ 9ntuk kedokteran nuklir sendiri( tidak
ada agen kimia atau radinu1lide apapun .ang dapat diserap se1ara baik oleh
kelenjar paratiroid .ang normal( hal ini 1ukup men.ulitkan pemeriksaan+
1@
2+ !:2T=3,
Tulang temporal merupakan bagian paling kompleks dari keseluruhan
struktur tubuh kita+ /emeriksaan gangguan pada tulang temporal se1ara
kon-ensional masih berlaku di seluruh dunia+
1@
CT dan !R3 saat ini sudah menjadi salah satu metode pen1itraan radiologi
untuk sebagian besar pen.akit pada telinga dan bila ada kerusakan pada tulang
temporal+ /ada pen.akit pengikisan tulang( seperti otitis media kronik dengan
kolesteatom( CT dengan pengaturan jendela tertentu akan memberikan sumber
in)ormasi .ang akurat+ CT dengan penggunaan 1airan kontras .ang disuntikan
pada -ena telah digunakan se1ara terus menerus pada pemeriksaan
cerebellopontine angle masses+ /eralatan pen1itraan lain untuk tulang temporal ini
meliputi superlatif angiography+
1@
5erikut jenis#jenis pro.eksi radiologik .ang paling sering dan 1ukup
berman)aat serta dapat mudah dibuat dengan memakai alat rontgen .ang tidak
terlalu besar untuk menilai tulang temporal;
2++1 /=2323 2CH977<R
(1
/osisi ini menggambarkan penampakan lateral dari mastoid+ /ada posisi ini
perluasan pneumatisasi mastoid serta struktur trabekulasi dapat tampak dengan
22
lebih jelas+ /osisi ini juga memberikan in)ormasi dasar tentang besarn.a kanalis
auditorius eksterna+
(1
Gambar 14. %oto 21huller
(1$'
2++2 /=2323 =W<8
(1
/osisi ini juga menggambarkan penampakan lateral mastoid+ 9mumn.a
posisi =4en dibuat untuk memperlihatkan kanalis auditorius eksternus(
epitimpanikum( bagian#bagian tulang pendengaran( dan sel udara mastoid+
(1
2++& /=2323 CH:922< 333
(1
/osisi ini merupakan penampakan )rontal mastoid dan ruang telinga tengah+
/osisi ini merupakan posisi tambahan setelah pemeriksaan posisi lateralmastoid+
/osisi ini merupakan posisi radiologik kon-ensional .ang paling baik untuk
pemeriksaan telinga tengah terutama untuk pemeriksaan otitis kronik dan
kolesteatom+
(1
2++" /R=G<023 2T:8F<R2
18
23
/ro.eksi 2ten-ers diperoleh dengan pasien menghadap )ilm dan kepala
sedikit menekuk dan diputar "5
o
+ 2umbu panjang piramida petrosa sejajar dengan
bidang )ilm( dan piramida keseluruhan( termasuk pun1akn.a( di-isualisasikan
dengan baik+ /andangan ini menunjukkan seluruh piramida( eminensia arkuata(
kanalis auditori internal( porus a1usti1us( kanalis semi1ir1ularis horisontal dan
-ertikal( -estibulum( koklea( dan antrum mastoid+
18
2++5 CT 2C:8 T97:8? T<!/=R:7
/emeriksaan CT s1an bidang aksial dan koronal dilakukan untuk
menge-aluasi os temporal dan ruang telinga tengah+ Tebal irisan .ang dilakukan
berkisar $(5 H 1(5 mm dan area .ang diiris berkisar 9 H 12 1m+
19
2++@ !:2T=3,3T32 :09T
?ambaran dini mastoid akut adalah perselubungan ruang telinga tengah dan
sel udara mastoid( bila proses in)lamasi terus berlanjut akan terjadi perselubungan
.ang di)us pada kedua daerah tersebut+ /ada masa permulaan in)eksi biasan.a
strukrur trabekula dan dan sel udara mastoid masih utuh( tapi kadang#kadang
dengan adan.a edema mukosa dan penumpukan 1airan seropurulen( maka terjadi
kekaburan penampakan trabekulasi sel udara mastoid+ 5ersama dengan
progesi)itas in)eksi( maka akan terjadi demineralisasi diikuti dengan dekstruksi
trabekula dimana pada proses mastoid .ang hebat akan terjadi pen.ebaran kearah
posterior men.ebabkan tromboplebitis kearah posterior+
(1@
24
Gambar 15. CT 21an dan 6#ra. !astoiditis :kut
(2$'
*ika terjadi komplikasi intrakranial pada daerah )osa kranii posterior atau
media( maka pemeriksaan CT merupakan pemeriksaan terpilih untuk mendeteksi
hal tersebut dimana pada pemeriksaan CT dapat ditemui de)ek tulang dengan lesi
intrakranial+
(1@
2++ !:2T=3,3T32 0R=832
?ambaran radiologik pada mastoiditis kronik terdiri atas perselubungan
.ang tidak homogen pada daerah antrum mastoid dan sel udara mastoid( serta
perubahan .ang ber-ariasi pada struktur trabekulasi mastoid+ /roses in)lamasi
pada mastoid akan men.ebabkan penebalan struktur trabekulasi diikuti
demineralisasi trabekula( pada saat ini .ang tampak pada )oto adalah
perselubungan sel udara mastoid dan jumlah sel udara .ang berkurang serta
struktur trabekula .ang tersisa tampak menebal+
(1@
*ika proses in)lamasi terus berlangsung( maka akan terlihat obliterasi sel
udara mastoid dan biasan.a mastoid akan terlihat sklerotik+ 0adang#kadang lumen
antrum mastoidikum dan sisa sel udara mastoid akan terisi jaringan granulasi
sehingga pada )oto akan terlihat pula sebagai perselubungan+
(1@
Gambar 16. CT 21an !astoiditis 0ronis Tanpa 0olesteatoma
(11'
25
2++8 0=7<2T<:T=!:
/ada kolesteatoma .ang men.ebar ke arah mastoid akan men.ebabkan
destruksi struktur trabekula mastoid dan pembentukan ka-itas besar .ang
berselubung dengan dinding .ang li1in+ 0adang#kadang kolesteatoma dapat
meluas ke sel udara mastoid tanpa merusak trabekulasi tulang dan jenis ini sering
dijumpai pada anak#anak( dimana gambaran radiologikn.a berupa perselubungan
pada sel udara mastoid dan sulit dibedakan dengan mastoiditis biasa+

Gambar 17. CT 21an 0olesteatoma


(11'
26