Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM SISTEM TELEKOMUNIKASI


SEMESTER III TH 2013/2014

JUDUL
PAM T-MUX
GRUP
1

3A
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA


2013

PEMBUAT LAPORAN : Aurora Nur Anggraini


NAMA PRAKTIKAN

1.Ali Mahfudz.
2. Andri Faridza Rachman
3. Ardelia Cindy Wulandari
4. Aurora Nur Anggraini

TGL. SELESAI PRAKTIKUM

: Oktober 2013

TGL. PENYERAHAN LAPORAN : Oktober 2013

N I L A I

:..........

KETERANGAN

: .................................................
..................................................
..................................................

PAM T-MUX

1. Tujuan Percobaan
- Mengerti fungsi dan prinsip kerja dari PAM time multiplex sistem.
- Memperbaiki kesalahan kesalahan yang diakibatkan kesalahan
-

pengaturan dari posisi pulsa sampling


Menunjukkan crosstalk yang diakibatkan oleh kanal yang berdekatan
Menentukan kelebihan dan kekurangan dari sistem PAM time multiplex.

2. Alat dan komponen


- 1 DC Power Supply 15 V SO 3538 8D
- 2 Pulse Amplitude Modulator SO 3537 7G
- 2 Pulse Amplitude Demodulator SO 3537 7H
- 1 C lock Generator SO 3537 8C
- 2 Function Generator SO 5127 2R
- 1 Osillosope
- 3 BNC to Banana Cable

3. Diagram Rangkaian

4. TEORI DASAR

4 .1. Agar lebih efisien dalam mentransmisikan beberapa sinyal secara serempak
dalam satu saluran transmisi maka kita kenal metoda atau sistem multiplex.
Sistem Multiplex dapat menggunakan multiplex frekuensi atau waktu.
Multiplex waktu digunakan pada apa yang kita kenal dengan transmisi
digital.
4.2. Fungsi waktu

Sn (t), untuk sampling transmisi ditentukan oleh internal

waktu Tp. Menurut teorema sampling.


4.3. Sebagai contoh dapat digambarkan bentuk rangkaian Switch Electronic
dengan frekuensi Clock Fp. Sampling Amplitudo dari sumber sinyal, secara
berturut-turut dihubungkan ke saluran transmisi. Pada penerimaan akhir
switch distribusi tadi secara terus-menerus di sinkronisasi dengan frekuensi
clock fp (keduanya pada waktu dan phase). Selanjutnya sinyal multiplex
disambungkan pada masing-masing kanal (bermultiplex). Sistem ini
merupakan gambaran secara sederhana dari bentuk transmisi multiplex
waktu, pengertian ini dikenal sebagai PAM Time Multiplex (PAM T
MUX).

4.4. Karakteristik transmisi dari saluran PAM ditentukan oleh faktor kualitas dari
band filter maupun efisiensi dari sampling danmultiplexing. Komponenkomponen frekuensi yang berada di luar bandwidth pemancar dan tidak
mengalami penekanan (suppressed), menghasilkan intermodulasi dimana
tidak dihilangkan oleh band filter. Pada penerima akan terdengar sebagai
noise interference. Kerusakan ini terutama disebabkan sampling dan
multiplexen akibat crosstalk antara kanal kanal.

4.5. Kualitas transmisi menjadi berkurang sesuai dengan panjang saluran di PAM.
Untuk mengurangi hal ini, maka diperlukan repeater, untuk memperbaiki
sinyal to noise ratio dan pengaruh interferensi sepanjang saluran.
4.6. Pada percobaan ini dibuat saluran PAM dengan menggunakan 2 kanal
pembicaraan. Pada output PAM dapat dihubungkan bersama dengan clock
generator sengan perubahan AP, dimana posisi pulsa sampling dapat digeser
antara kanal yanbg satu dengan yang lainnya. Hal ini demungkinkan untuk
memperbaiki kesalahan yang di akibatkan oleh sampling yang dibuat.

5. Langkah Percobaan
5.1

Menyusun

rangkaian

seperti

pada

Diagram

Rangkaian

(poin

3).

5.2

Menghubungkan funtion generator ke masing masing PAM Modulator.


Kanal A : menggunakan gelombang segitiga 2 Vpp, pada 300 Hz.
Kanal B : menggunakan gelombang sinusida 2 Vpp, pada 150 Hz.
Menge-set frekuensi sampling dari clock generator A1 dan B1 pada 8 Khz.
Mengatur pergeseran pulsa sampling (dengan memutar tp), hingga
mendapatkan

posisi

kedua

pulsa

hingga

paling

jauh.

Kemudian

menggambarkan hasilnya pada lembaran kerja 1 dan berikan keterangan .

5.3

Menunjukkan sinyal dalam saluran transmisi (3) dan sinyal input kanal (1),
kemudian gambarkan hasilnya pada lembaran kerja 1 damn berikan

5.4

keterangan.
Menunjukkan sinyal ouput kanan 1 (4) gambatkan hasilnya kemudian

5.5

mengatur tp dari minimum ke maksimum.


Apa yang terjadi ?
Distorsikah?
Lalu berikan keterangan.
Kualitas transmisi dalam sistem multiplex adalah diukur seberapa besar
crosstalk. Dalam pengukuran, matikan salah satu kanal.
Sebagai contoh lepas input kanal 2 (2), kemudian gambarkan output kanal 1
(4) dan output kanal 2 (5). Berikan keterangan!
Hubungkan input kanal 2 ke ground, kemudian gambarkan output kanal 2
dan berikan keterangan!

6. DATA HASIL PERCOBAAN


-

Hasil praktikum 5.1


Kanal A pada 300 Hz : A= y x volt/div = 2 x 1V = 2V ; F = 0,3 Khz
Kanal B pada 150 Hz : B = y x volt/div = 2 x 1V = 2V ; F = 0,15 Khz

Hasil

praktikum

5.2

A1 = y x volt/div = 2,5 x 2 V = 5 V ; F = 8 KHz


B1 = y x volt/div = 2,5 x 2 V = 5 V ; F = 8 KHz
Keterangan :
Dari percobaan pada langkah kerja 5.2, didapatkan bahwa dengan
mengatur pergeseran pulsa sampling (dengan memutar tp) hingga
maksimum maka didapatkan posisi kedua pulsa saling berjauhan.

Gelombang output pada A1 dan B1 terdapat perbedaan yang dibedakan


menurut waktu. Hal ini tidak menyebabkan terjadinya interferensi, karena
interferensi dapat terjadi saat posisi kedua pulsa saling berdekatan.
-

Hasil praktikum 5.3


Channel 1

A1 = y x volt/div = 2 x 1 V = 2 V ; F = 0,3 KHz

Channel 2

B1 = y x volt/div = 2 x 1 V = 2 V ; F = 3,4 KHz


Keterangan :
Pada gambar 5.3 didapatkan gelombang pada channel 1 berupa gelombang
segitiga dan gambar yang kedua yaitu pada channel 2 berupa pulsa yan

Perbedaan ini dikarenakan sudah dimaksukkan ke proses penyamplingan


dilakukan secara bergantian
Hasil praktikum 5.4
Chanel 1

A1 = y x volt/div = 2 x 1 V = 2 V ; F = 0,3 KHz


Channel 2 (output kanal 1)
B1 = y x volt/div = 2 x 1 V = 2 V ; F = 0,3 KHz
Keterangan :
Pada output terdapat noise noise yang berasal dari frekuensi tinggi yang
terbawa. Untuk menghilangkan noise noise tersebut dapat menggunakan
Low Pass Filter.
-

Hasil Praktikum 5.5


Channel 1

A1 = y x volt/div = 1,2 x 2 V = 2,4 V ; F = 0,3 KHz


Channel 2
B1 = y x volt/div = 1,2 x 2 V = 5 V ; F = 0,3 KHz
Keterangan :
Dari gambar diatas dapat diliha bahwa terdapat distorsi. Pada gambar
output (channel 2) diatas juga masih terdapat noise- noise yang berasal
dari frekuensi tinggi yang terbawa. Untuk menghilangkan noise noise
-

yang mengganggu tersebut dapat digunakan Low Pass Filter.


Hasil Percobaan 5.6
Chanel 1
A1 = y x volt/div = 2,2 x 1 V = 2,2 V ; F = 0,3 KHz
Chanel 2
B1 = y x volt/div = 1 x 0,5 V = 0,5 V ; F = 0,15 KHz
Keterangan :
Kualitas transmisinya buruk, karena sampling pada salah satu rangkaian
tidak aktif

Hasil Percobaan 5.7


Chanel
A1 = y x volt/div = 0 x 1 V = 0 V ; F = ~ KHz

Keterangan :
Gelombang output tidak muncul, karena salah satu sinyal informasi (kanal
2) dihubungkan ke ground

7. Analisa
Percobaan kali ini merupakan percobaan mengenai cara kerja PAM (Pulse
Amplitude Modulation) Time Multiplexing. Dengan percobaan sebelumnya
adalah pengenalan cara kerja PAM. Pulse Amplitude Modulation merupakan salah
satu teknik modulasi dalam telekomunikasi dimana sinyal input analog (AC)
dikodekan dalam amplitudo dari serangkaian sinyal pulsa (digital). Dalam aplikasi
lebih lanjut, jika terdapat lebih dari 1 kanal dalam komunikasi, penggunaan PAM
secara pair per pair merupakan hal yang terlalu rumit serta membuang banyak
biaya. Salah satu solusi untuk dapat mengefisienkan hal tersebut adalah
penggunaan Multiplexing pada sistem PAM ini.
Sinyal carrier pada PAM merupakan sinyal pulsa digital yang mempunyai
periode waktu yang tetap. Jadi, penggunaan multiplexing pada sistem PAM ini
merupakan multiplex sinyal terhadap waktu atau disebut PAM TIME
MULTIPLEX.
Pada data hasil percobaan, 2 rangkaian PAM diberikan sinyal input berupa
gelombang gergaji pada kanal A dan gelombang sinus pada kanal B. Masing
masing input diberikan besar tegangan sebesar 2 Vpp.

Kemudian pada clock generator dihasilkan sinyal pulsa/pulsa sampling


sebagai sinyal carrier. Penggunaan clock generator pada percobaan kali ini
menggunakan modul tersendiri di luar modul PAM. Fungsi dari penggunaan
modul sendiri ini adalah agar pada output PAM dapat dihubungkan bersama
dengan clock generator yang berbeda, yang berfungsi sebagai multiplexen. Hal ini
dimungkinkan untuk memperbaiki kesalahan yang diakibatkan oleh sampling
yang dibuat pada modul PAM.
Clock generator diatur pada frekuensi 8 kHz, kedua sinyal diatur hingga
didapatkan jarak antara kedua sinyal yang paling jauh. Hal ini dapat
dimungkinkan dengan memutar tp pada posisi maksimum. Pada data hasil
percobaan didapatkan masing masing sinyal mempunyai besar tegangan yang
berbeda dikarenakan pada sinyal kedua terdapat noise yang tidak diinginkan.
Percobaan berlanjut dengan mengamati gambar sinyal pada saluran,
dimana kedua sinyal baik sinyal gergaji maupun sinyal sinus dimodulasikan oleh
masing masing pulsa sampling. Karena sistem yang digunakan adalah
multiplex, maka hasil yang didapatkan dari kedua modulasi ini adalah akumulasi
dari dua sinyal sampling yang memodulasi sinyal gergaji dan sinyal sinus. Seperti
yang diperlihatkan gambar 5.3 (channel 2).
Kemudian pada output atau pada sisi penerima diukur beda tegangan serta
gambar sinyal yang dihasilkan. Pada masing masing penerima didapatkan sinyal
yang sesuai dengan sinyal input sebelumnya yaitu, pada kanal 1 didapatkan
sinyal gergaji sedangkan pada kanal 2 didapatkan sinyal sinus. Hanya saja bentuk
dari masing masing sinyal ini tidak sepenuhnya sempurna seperti pada input,
bentuk gelombang yang dihasilkan menyerupai sinyal ripple yang berjalan pada
bentuk sinyal aslinya. Hal ini disebabkan pada saat multiplexing kedua sinyal ini
mengalami distorsi.
Kemudian jika dilakukan pengetesan dimana tp pada clock generator
diputar ke arah maksimum, distorsi yang terjadi pada sinyal output mengalami
percepatan secara simultan. Hal ini menandakan gelombang distorsi dipengaruhi
oleh pulsa sampling.
8. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

Fungsi dan cara kerja dari PAM time multiplexing adalah menyatukan
beberapa kanal dari PAM menjadi 1 saluran dengan multiplex fungsi
waktu guna mengefisiensikan jumlah saluran yang tersedia serta waktu

yang digunakan dalam mentransmisikan suatu sinyal.


Untuk mengurangi kesalahan kesalahan pada sistem multiplex ini maka
jarak periode waktu antara sinyal

- sinyal sampling diatur hingga

mencapai titik terjauhnya.


Jika kedua kanal mempunyai jarak yang berdekatan maka pada sisi output

atau penerima akan terdapat distorsi pada sinyak yang dihasilkan.


Menghemat biaya penggunaan saluran komunikasi.
Menggunakan kapasitas saluran semaximum mungkin.

Referensi
PAM T - MUX
Pulse Amplitudo Modulation (PAM) adalah bentuk sederhana dari modulasi
pulsa. Teknik ini mengirimkan data dengan memvariasikan tegangan atau kekuatan
amplitudo pulsa individu dalam urutan waktunya pulsa elektromagnetik. Dengan kata
lain, data yang akan dikirim dikodekan dalam amplitudo dari serangkaian pulsa
sinyal. PAM dapat juga digunakan untuk menghasilkan modulasi pulsa tambahan.

Amplitudo pulsa mungkin dalam modulasi pulsa amplitudo dapat tak terbatas. Ini
adalah kasus dengan modulasi amplitudo pulsa analog. Sebuah modulasi pulsa
amplitudo 2 tingkat menyebabkan sinyal yang dihasilkan menjadi didigitalkan
sementara modulasi pulsa amplitudo 4 level memiliki 22 kemungkinan amplitudo

pulsa diskret. Sebuah modulasi pulsa amplitudo 8-tingkat memiliki 23, dan 16-tingkat
modulasi pulsa amplitudo memiliki 24 amplitudo pulsa diskret.
Mengenai berbagai amplitudo modulasi pulsa, beberapa sistem menjaga setiap
pulsa amplitudo berbanding lurus dengan amplitudo modulasi sinyal sesaat pada saat
terjadinya pulsa. Dalam sistem modulasi pulsa amplitudo lain, sebaliknya benar yaitu, berbanding terbalik dengan amplitudo modulasi-sinyal sesaat pada saat
terjadinya pulsa. Pada sistem modulasi pulsa amplitudo lain, amplitudo tergantung
pada faktor-faktor tambahan yang berhubungan dengan sinyal modulasi, seperti
frekuensi seketika dan fase, yang mungkin berbeda dari kekuatannya.
Namun, dalam aplikasi telekomunikasi praktis, pulsa modulasi amplitudo adalah
teknologi jarang digunakan, karena telah superceded dengan teknik lain seperti
modulasi pulsa posisi dan modulasi kode pulsa. Selain itu, teknologi yang disebut
modulasi amplitudo quadrature secara luas digunakan dalam telepon modem dengan
kecepatan transfer data lebih dari 300 Kbps.
Bentuk murni dari suatu sinussoida signal analog tidak perlu dikirimkan murni
seperti asalnya, tapi cukup dikirimkan sample-nya saja yang dibuat pada waktu
tertentu (setiap interval 125 ms), periodik terus menerus. Untuk itu signal sinusoida
amalog di-sampling setiap interval 125 ms. Hasil dari pengubahan bentuk signal
analog secara sampling akan menghasilkan signal PAM.
Multiplexing : rangkaian yang memiliki banyak input tetapi hanya 1 output dan
dengan menggunakan sinyal-sinyal kendali, kita dapat mengatur penyaluran input
tertentu kepada outputnya, sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sinyal yang
banyak melalui media tunggal. (penggabungan 2 sinyal atau lebih untuk disalurkan ke
dalam 1 saluran komunikasi).
Keuntungannya :
host hanya butuh satu port I/O untuk n terminal
hanya satu line transmisi yang dibutuhkan
menghemat biaya penggunaan saluran komunikasi
memanfaatkan sumberdaya seefisien mungkin
Menggunakan kapasitas saluran semaximum mungkin.

Karakteristik permintaan komunikasi pada umum- nya memerlukan penyaluran


data dari beberapa terminal ke titik yang sama.
Teknik Multiplexing :
frequency-division multiplexing (FDM)
time-division multiplexing (TDM)

statistical time division multiplexing (STDM)

Pemilihan FDM, TDM dan STDM ditentukan oleh :


kapasitas kanal,
harga peralatan
konfigurasinya.
Frequency Division Multiplexing (FDM)
Adalah mux yang paling umum dan banyak dipakai, dengan menumpuk sinyal
pada bidang frekuensi. Data yang dikirimkan akan dicampur berdasarkan frekuensi.
Banyak digunakan pada pengiriman sinyal analog. Data tiap kanal dimodulasikan
dengan FSK untuk voice grade channel.

a). FDM dan b).TDM


FDM disebut "code transparent" artinya

sistem sandi yang dipakai oleh

data tidak memberi pengaruh. FDM dapat beroperasi secara full duplex 2 atau 4
kawat. Contoh FDM adalah pada penggunaan radio dan TV.
Enam sumber sinyal dimasukkan ke dalam suatu multiplexer, yang
memodulasi tiap sinyal ke dalam frekuensi yang berbeda (f1,...,f6). Tiap sinyal
modulasi memerlukan bandwidth center tertentu disekitar frekuensi carriernya,
dinyatakan sebagai suatu channel.
Sinyal input (analog / digital) akan ditransmisikan melalui medium dengan
sinyal analog. Contohnya yaitu transmisi full-duplex FSK (Frequency Shift Keying),
broadcast dan TV kabel.
Synchronous Time-Division Multiplexing
Pengiriman data dengan mencampur data berdasarkan waktu sinyal data
tersebut dikirimkan. Digunakan untuk transmisi sinyal digital, bit data dari terminal
secara bergantian diselipkan diantara bit data dari terminal lain. Pemancar dan
penerima harus sinkron agar masing-masing penerima menerima data yang ditujukan
kepadanya. TDM hanya digunakan untuk komunikasi titik ke

titik. TDM lebih

efesien daripada FDM karena 1 saluran komunikasi telepon dapat dipakai sampai
dengan 30 terminal sekaligus.
Sinyal digital yang banyak (sinyal analog yang membawa data digital)
melewati transmisi tunggal dengan cara pembagian (=interlaving) porsi yang dapat
berupa level bit atau dalam blok-blok byte atau yang lebih besar dari tiap sinyal pada
suatu waktu.
TDM lebih efisien daripada FDM karena 1 saluran komunikasi telpon
misalnya, dapat dipakai sampai dengan 30 terminal sekaligus. TDM yang umum
dikenal adalah PCM. Terdapat 4 metode untuk coding amplitudo yaitu :
a. PAM (Pulse Amplitudo Modulation)
b. PPM (Pulse Position Modulation)
c. PCM (Pulse Code Modulation)
d. PDM (Pulse Duration Modulation)
Yang paling umum digunakan adalah PCM. Perkembangan terakhir dari
tehnik multiplexing ialah Statistical Time Division Multiplexing (STDM) yang
mempunyai keuntungan dalam efesiensi penggunaan saluran secara lebih baik.
Statistical Time-Division Multiplexing
Statistical TDM dikenal juga sebagai asynchronous TDM dan intelligent
TDM, sebagai alternatif synchronous TDM.
Efisiensi penggunaan saluran secara lebih baik dibandingkan FDM dan TDM.
Memberikan kanal hanya pada terminal yang membutuhkannya dan memanfaatkan
sifat lalu lintas yang mengikuti karakteristik statistik. STDM dapat mengidentifikasi
terminal mana yang mengganggur / terminal mana yang membutuhkan transmisi dan
mengalokasikan waktu pada jalur yang dibutuhkannya.
Untuk input, fungsi multiplexer ini untuk men-scan buffer-buffer input,
mengumpulkan data sampai penuh, dan kemudian mengirim frame tersebut. Dan

untuk output, multiplexer menerima suatu frame dan mendistribusikan slot-slot data
ke buffer output tertentu.
Jenis-jenis MUX :
1. Mux inversi, dilengkapi path data antara komputer dan mengambil jalur
berkecepatan tinggi dan memisahkan menjadi beberapa jalur yang berkecepatan
rendah yang akan dikombinasikan dengan mux inversi lain yang telah tersambung
dengan komputer lain.
2. Mux T-1, Mux khusus yang dikombinasikan dengan unit pelayanan data
berkapasitas tinggi yang mengoperasi-kan ujung sambungan mux T-1 (sambungan
komunikasi yang bertransmisi pada 1,544 juta bps yang dibagi menjadi sirkuit
tingkat suara 24, 48, 96.
3. Mux multiport, mengkombinasikan modem dan peralatan mux divisi waktu
menjadi peralatan tunggal. Jalur input modem mempunyai kecepatan transmisi
beraneka ragam.
4. Mux Fiber Optik, berorientasi pada beberapa chanel data dimana tiap channel
bertransmisi pada 64000 bps per channel dan melakukan multiplex pada channel
menjadi 14 juta bps pada jalur fiber optik.

M
Host

Mux

Modem

Modem

U
X

M
U

Mux

Modem

Modem

Konsentrator / pengumpul
Merupakan antarmuka antara sejumlah terminal dengan saluran ke komputer
pusat. Digunakan sebagai pengganti/ bersama dengan mux. Seperti mux, tapi pada
mux, data yang diterima segera diteruskan ke tujuan. Konsen-trator akan
mengumpulkan semua data yang diterimanya sampai batas waktu tertentu dan
kemudian baru disalurkan secara bersamaan ke tujuan.
Sering mempunyai prosesor dan memori sendiri sehingga membebaskan
komputer utama dari masalah komunikasi data dan melakukan pemeriksaan data yang
diterima / dikirim dan bila perlu melakukan koreksi.
Tugas konsentrator :
1. Line servicing, membentuk hubungan, identifikasi terminal, menentukan kecepatan
dan pelayanan yang dibutuhkan dan polling.
2. Konversi kecepatan dan kode, dapat melacak sinyal masuk dan mengetahui
kecepatannya, dan kecepatan / kode akan dikonversi sesuai dengan kebutuhan.
3. Meratakan traffic, menggunakan saluran secara efisien. Contohnya tiap terminal
dapat mengirimkan datanya walaupun pihak yang dituju masih sibuk. Data yang
dikirimkan akan disimpan untuk sementara waktu dan dikirimkan ke tujuan
bilamana tempat yang dituju bebas.
4. Error control, data yang masuk diperiksa keandalannya dan memberikan kode untuk
pengiriman data ke komputer pusat. Dan dapat melayani permintaan pengulangan
pengiriman data karena terjadi kesalahan. Memungkinkan ekspansi sistem tanpa
perlu mengganggu pusat. Dapat mengganti jenis terminal dengan yang lebih effisien
tanpa modifikasi pada pusat.

Anda mungkin juga menyukai